Go back

Waktu Itu Relatif

34m 2s

Waktu Itu Relatif

Transkripsi ini membahas persepsi manusia terhadap waktu dan bagaimana nilai waktu berbeda-beda tergantung pada situasi dan prioritas individu. Penulis mengawali dengan contoh pengalaman menunggu setengah jam yang terasa lama bagi dirinya, tetapi dianggap sepele oleh sopir angkot. Hal ini menunjukkan relativitas waktu: bagi orang santai, menunggu setengah jam bukan masalah, tetapi bagi orang yang mengejar target, keterlambatan lima menit bisa fatal, seperti ketinggalan pesawat. Penulis kemudian mengkritik fenomena viral yang membuat orang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre makanan, tempat wisata, atau acara seperti fashion week. Ia berargumen bahwa waktu yang dihabiskan untuk hal-hal tersebut tidak sebanding dengan manfaatnya, terutama jika waktu itu bisa digunakan untuk kegiatan produktif seperti membaca, menulis, atau berolahraga. Penulis membandingkan dengan orang sukses seperti Kobe Bryant yang bangun pukul 4 pagi untuk latihan, menunjukkan bahwa produktivitas adalah kunci kesuksesan. Ia menekankan bahwa waktu lebih berharga daripada uang karena uang tidak bisa membeli waktu, tetapi waktu bisa menghasilkan uang. Penulis prihatin melihat masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, terbuai oleh imajinasi tentang gaya hidup orang kaya dan menghabiskan waktu untuk hal-hal tidak produktif. Ia menyarankan agar orang lebih bijak dalam menghargai waktu dan tidak tergoda oleh tren viral yang memakan waktu tanpa nilai sepadan, karena waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali.

Transcription

3553 Words, 21460 Characters

Indonesian
[Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] bisa nonton julah gue bisa hampe 1 set, kaset ambis itu nungguin dia ketem gitu, kalau bener dia niatnya ketemis tengajam gitu jadi, saya nggak tau persis waktu itu, akhirnya berapa lama tapi sih inget saya sih lama juga, lama te doping menit yang saya sadari di situ adalah bahwa kita semua manusia bahwa abis kan waktu yang sama di dunia ini gitu ya, dalam sehari maksudnya sehari itu 24 jam, 24 jam itu sekian menit, sekian detik ya sama aja sebenernya kita, tapi persemsi kita karena waktu itu beda banget gitu ya, ada orang yang beranggapan setengajam itu sementar dan ada orang yang beranggapan setengajam itu gue bisa ngejian banyak hal jadi memang orang itu punya persemsi yang berbeda-beda ada garantung dari kemampuan dia memanfaatkan waktu tersebut makanya kalau bagi orang-orang yang santai hidupnya apa yang gapunya target macam-macam dalam hidupnya setengajam itu apa sih masalahnya gitu, apa sih masalahnya gue lu nunggu setengajam apa sih, kenapa sih lu marah banget gue telat setengajam kenapa sih telat setengajam jadi tiga linh sama pesawat karena orang-orang ini kayak gitu, tapi bagi orang-orang lain terlambat apa, terlambat di ma-menit gitu ya, udah kurang aja kita jajian sama dosen gitu ya, terlambat ma-menit itu udah kurang-kurang bagus itu adapnya gitu ya, atau kita harus membuat dosen kita menunggu itu ga, ga baik gitu ya, kita jajian sama temen kita yang sangat sibuk kita jajian untuk suatu ulusan yang penting sekali gitu ya, misalnya kayak yang menjara pesawat tadi kan, misalnya japan pesawatnya ga ga lucu gitu, kalau lima menin sebelum, apa sebelum bordin kita baru datang gitu ya, masalahnya untuk untuk nanti cekinnya pun, butuh waktu lama gitu ya ngodian lari dari, dari, dari, dari tempat cekin sampai ke pesawatnya juga ga sebenar gitu ya, jadi lima menit itu fatal gitu ya, lima menit, lima menit, terlambat, terlambat lima menit dari jadual yang di pinta itu fatal sekali ya, kalau, kalau, kalau angkot, sih kita bisa selalu bisa naik angkot yang sesudahnya ya, ada angkot berikutnya kok ada angkot berikutnya lagi gitu ya, tapi kalau pesawat gitu ya, kan jam berapa, ada pesawat berikutnya dan apakah tiga yang sudah dibeli akan dikembali kan kan ga, jadi lima menit, ketinggalan pesawat itu fatal, kalau lima menit, lima menit, ketinggalan angkot, ya, whatever lah gitu ya, jadi memang waktu itu punya, punya, apa dipersepsikan dengan cara yang berbeda oleh orang-orang, tergantung kehidupan, tergantung keperluan ya, dan sebagainya gitu, gitu ya, itu yang saya saya dari waktu saya sekolah dulu, gitu ni, itu ni, itu ya, setengah jam yang saya angka plama, gitu ya, setengah jam itu kita udah bisa ngerjain banyak hal gitu ya, bagi orang yang kebetulan waktu itu, sepiran angkot, ya, saya ga tau, sepiran angkot apakah semua sepiran angkot berpikir begitu, menemudan-mudan ga gitu ya, tapi menurut sepiran angkot yang waktu itu ya, dia bilang setengah jam itu ga ada artinya gitu ya, ga apa-apa lah, nunggu setengah jam, masalahnya apa sih gitu ya, terlambat sampe rumah setengah jam aparti, ya sih gitu ya, apa sih lu kenjar gitu ya, dia ga tau, orang-orang tuh bisa jadi banyak yang dia kenjar gitu ya, ya, kayak misalnya orang harus pulang cepet, sepanya bisa ngchebut anaknya, misalnya gitu ya, atau pulang, harus pulang cepet sebelum anaknya pulang gitu ya, karena kalau anaknya pulang dia belum sampe rumah, ga ada orang di rumah, ga ada yang bukain pindrumah, misalnya gitu ya, kan baca kayak kebutan orang ya, saya rasa kita bisa mendulis seri buis satu sekinario lah kenapa orang butuh pulang cepet gitu ya, dan lagi pulang, di angkot angkot juga saya lihat, gue dulu banyak stickernya tuh ya, anda butuh waktu kami butuh uang, inget banget teset ya, anda butuh waktu kami butuh uang, cakap banget tetapi kenyataannya ga begitu juga, ya, karena waktu itu ya, nilainya berbeda-beda tergantung, tergantung kita ngomong masih apa gitu, ya, dan dari situ lah, saya berpikir, ya apa, dari situ lah, saya bisa mama-mama gitu ya, kenapa saya nunggu 3 jam setengah untuk miha-yam, buat saya itu betul-betul apa ya, walaupun tadi saya bilang, miha-yam itu enak banget, nilainya sebenarnya setengah dari 10 lo, ya, sebenarnya setengah dari 10 tapi saya terus terang ga punya minat lagi untuk beli kesitu gitu, ya, ga ada minat saya untuk kembali kesitu sama sekali, enggak, kalau ada yang mau beli di sana, lalu saya disurunditip, ya, mau nintip apa enggak mau saya, ya, jadi kalau ditanya mau nintip apa enggak mau, ya, siap, insya Allah, gitu ya, tapi kalau disuruh beli sendiri, ga sedikit pun saya kepikiran untuk beli kesana lagi, ya, kenapa ya, karena menurut saya waktu saya 3 jam setengah itu, mahal gitu ya, ya, mahal itu bukan berarti uangkan, mahal itu value, kita bukan price, gitu ya, 3 jam setengah itu saya bisa macem-macem, ya, 3 jam setengah itu berapa boku yang bisa kita baca, 3 jam setengah itu berapa, berapa halaman tulisan yang bisa kita bikin, 3 setengah jam setengah itu barang kali saya bisa bikin 2 file PowerPoint untuk 2 kali prasentasi, ya, 3 setengah jam setengah itu apa saya bisa 3 setengah jam, lahri-lahri 1 jam aja udah, udah kebakar sekian kalau, itu udah, udah, udah banyak sekali lah, halin bisa ke jen, 3 setengah jam setengah itu udah bisa lari, udah bisa pulang, udah bisa belanja, udah bisa, ah, no, macem-macem lah, ya, banyak sekali gitu, ya, ketimbang, 3 setengah jam harus nungguin, ya, kalau di tinggalin kan bahaya juga, kalau di tinggalin, bisa bisa jatah kita diambil orang, kamu mungkin kan, jadi mau-ngamau ya, kita nunggu, jadi situr terus gitu ya, kita menurut bertanya-tanya giliran saya berapa lama lagi, giliran saya berapa lama lagi, di tinggal takutnya tiba-tiba selesai, kalau di tungguin, ga kelar-kelar, ya, jadi kita cuma bisa nunggu dia, ya, kalau ada temen ngomrol yang ngomrol, kalau ada HP buat liat-liat, ya, lama di lah, gitu ya, nah, cuma, ya, lama-lama bosen juga, ya, lama-lama bosen juga, lama-lama merasa sias-sias juga, gitu waktu kita 3 setengah jam, ya, tapi walaupun saya berpikian seperti itu, banyak juga yang tidak berpikianan begitu, banyak juga HP-PIA, ya, gitu sama aja kan, yang lain nasim ini sama juga, kayak saya gitu, 3 setengah jam juga nunggu, kayak gila-kira, ya, jadi banyak juga yang ga merasa kehilangan apa-apa dengan menunggu seperti itu, gitu, ya, seperti itu lah, yang relativitas ya, berangkali ya, relativitas dari persepsi orang terhadap waktu, orang punya persepsi yang beda-beda, ya, terhadap waktu yang dihabiskan walaupun, jumlah quantitas waktu yang dihabiskannya sama-sama aja, ya, ya, ya, ya, ya, dari mungkin mungkin karena yang masalah kayak begitu juga, makanya saya juga bukan, saya terus tahu orang yang, apa yang ga suka sama segala hal yang viral, hal itu terus rangen aja, gitu ya, kalau ada tempat yang viral, gitu ya, akhirnya jadi rame, gitu ya, ada beberapa, ada beberapa object wisata di bandung, ya, yang viral, yang bukan main, dan saya ga berbina sedikit pun datang kesana, kenapa? Karena pernah saya lewat ke derah situ, dan lihat antriannya itu ga lucu, gitu, ga lucu sama sekali gitu, antriannya panjang, betul, cuma buat masuk ke situ doang, ya, jadi jalanan yang, apa, yang saya sebut aja, jalan ke arlembang, jalan ke arlembang yang cuma segede gitu, gitu, ya, macet, itu cuma ga ada-gara ketempat yang itu doang, gitu, ya, begitu lewat-tempat dari situ, dah kita apa, jalanan lanjar, gitu, bayangin, gitu, ya, jadi betul-betul orang itu mau masuk ke situ tuh ga antri, saking banyaknya sampai yang mau masuk aja, yang ga bisa masuk, gitu, ya, saking viral, saking rame, gitu ya, ya, saya tau itu viral, saya yakin dia pasti bagus, gitu ya, ya viral kan, karena bagus, gitu ya, banyak yang berbina, ya, karena bagus, gitu, kan, tapi kalau udah serama, kayak begitu, saya kaya, saya kaya, saya kaya merasa waktu saya terbuang perjumah sekali, gitu, ya, sayang sekali kalau kita harus, apa, mau bermacet-macet berjam-jam, lu bening mati wahana yang barang kali, cuma satu jam, satu dua jam, gitu, ya, betapa gitu, ya, buat apa ga ada perlu-perlunya, gitu, ya, tapi, sebab-sabaat sekali ya, gitu, ya, bukan kan itu memang, apa, fenomen yang kita jumpa sekarang, gitu, sekarang tuh segalanya kalau udah viral, gitu ya, rame sekali, kalau udah viral rame orang kesana, pokoknya semua orang harus mencipinya, ya, ada bahas so yang enak di sini rame, ada franchise yang bikin di sini rame, ada wahana begini, begitu, ada tempat wisata selfie, begini-begini, begitu rame orang datang kesana, ya, yang dari yang punya duit, sampai yang ga punya duit, ya, datang semua, gitu ya, ada yang datang sampai sana, kalau ternyata ga bisa beli car cheese, ya, bodohama, pokoknya datang ga ya, sama rame-nya, gitu ya, alhasil, macetnya tuh jadi luar biasa, gitu, ya, wakiannya datang kesana tuh waktu yang dihabiskan di jalan, lebih lama daripada kondik mati, wisata, ya, gitu ya, that's ridiculous, no, saya gitu ya, kalau nyongos kali kalau belum saya, gitu, kita kumpen wisata tuh, pengen relax, ya, pengen santa, Kalo akhirnya kenal maca berjam jambia itu nggak ada sensatnya Mendingan kita cari tempat lain aja yang biasa-biasa aja Tapi kita bisa digmati gitu ya, perjalanannya nggak terlalu membuat derita Tapi kita bisa digmati gitu Ya saya tau ada pantai yang bagus, ada dana yang bagus Tapi kalau memang kesana itu maca nya harus lima kali lipet Dari pada waktu kita di situ, ya menikian kita kolom berjalan Kita kolom berjalan aja lah, ya, watch the point Kemarin juga kita ngeliat cita yang fashion week ya Orang berbondong-bondong, ramai-ramai, kesana gitu ya Kalau menurut saya sih terus tanggu di masa lawaktu ya Karena begitu di oancara, ternyata mereka memang nggak punya Banyak yang hadir kesana itu mematuh-tuh menghabiskan waktu seharian Ada yang sampai ginep-ginep, ada yang pergi kesana Kalau nggak punya uang pulang gitu ya Betul-betul mereka ya gamelin aja gitu Sampai sana tidur di mana aja Bola ya gitu ya, yang penting sempet menghadiri Sempet merasakan sensasinya cita yang fashion week Kalau menurut saya, di masalahnya ujujungnya mas lawaktu Ada yang bertanya ke saya Apa, udah penablong malah ke liat cita yang fashion week gitu ya Luka penasaran, melihat kayak begitu Saya bilang, kalau rasa penasaran ingin tausa, sekedar ingin tausa aja gitu ya Saya rasa dengan foto-foto yang ada, video-video yang ada, ada terpwaskan Ya kita dah tahu dia apa yang jadi gitu ya Cuma masalahnya adalah, ya, banyak orang punya waktu gitu Banyak orang punya waktu yang begitu lapeng sekali, begitu low-weng sekali gitu ya Sampai-sampai mereka menghabiskan waktu di situ Dan di iron-nya sih Kalau kita lihat banyak yang ikut di cita yang fashion week itu Jisitu dari temen-temen kita, golongan ekonomi menengah ke bawah Ekonomi menengah ke bawah, tapi bisa beli kostum yang canggi-canggi Mereka punya HP, punya gadget untuk merokam Tindah tandook mereka, gini sana, lega lengkok mereka di sana Dan mereka bermin makanya, mereka punya mudirnya fashion week gitu, bayanggin gitu ya Saya kebayangin, gak apa? Yang gak sih judul kayak begitu aja kan, benar-jukan imaginasi mereka gitu ya Kau ekonomi menengah ke bawah, imaginasinya fashion week ya Apa saya dan beberapa temen saya yang alhamdulillah ekonomi menengah ke atas Kita gak bisa menjemut diri kita miskin gitu ya, tapi olomun kaya juga, gak sih Tapi ekonomi menengah ke atas lah gitu ya Saya rasa kami gak pernah berfantasi itu bikin fashion week gitu Dan di sini saya ngeliat kasi yang sekali gitu, just true segment Sudah-sudah rakyatnya yang rekonomi menengah ke bawah gitu di apa Begitu dimabukkan dengan imaginasi orang kaya gitu Atau imaginasi mereka tentang orang kaya lebih tepatnya gitu Bukan dalam pikir mereka orang kaya itu pakai enak kayak begitu gitu Pake enak kayak begitu, lalu mereka sering ikut acara fashion week dan sebagainya gitu Jadi mereka juga pengen kayak begitu, pengen merasa-kasa sasi jadi orang kaya gitu Lalu mereka habiskan waktu nya di situ Pada orang kaya gak habis waktu untuk kaya begitu gitu Orang kaya gak habis waktu nongkrong-kongkrongnya gak kaya lah Dulu juga saya suka protest itu, film Senator Senator Indonesia itu, senator Indonesia itu Selalu isinya, seolah orang kaya masih muda udah kaya lah ya, 20 tahunan udah jadi manager Dajarin direktor tapi tiap hari, apa simpuk gursi sekandal keluarganya saja Pertengaran di antara keluarganya saja, saya pikir kalau orang hidupnya simpuk Nengin drama-drama, recheh kayak begitu gitu Bisa gak sih dia jalanin perusahaan, saya kayaknya gak bisa gitu Saya kini waktu nya akan habis untuk gursi nya gak produktif kayak begitu Makan dia gak bakal jadi orang sukses dalam bisnis gitu ya Kalau menurut saya sih orang-orang sukses beneran gitu ya Sukses gak mestik kaya juga ya, orangnya sukses itu produktif dengan waktu nya Proroktif dengan waktu nya dan saya melihat Saya follow beberapa akun-akun motivasi kalau di Instagram gitu ya Dan saya juga suka mendengarkan wawancara dengan orang-orang sukses Saya sekali lagi sukses gak mestik kaya ya, itu dua hal yang berbeda Tapi mereka juga menceritakan bagaimana Misalnya atlit ya, atlit ini kan gak mestik diukur dengan kayaan gitu ya Walaupun memang dia kaya gitu ya Kaya misalnya kobi berayang gitu ya, yang baru wafat kemarin ya Berapa tahun ini ya, jadi kobi berayang itu kaya aja lah kaya gitu Tapi orang kagum sama dia tuh karena itu skerjanya terutama gitu kan Karena itu skerjanya bagus makan jadi hebat makan jadi kaya gitu ya Kobi berayang itu bangun bagi jam setengah bat pagi Gayang gitu ya, setengah bat pagi tentunya bukan takajut sayang gitu ya Bukan bukan motor aja, tegimana tapi setengah bat pagi itu dia logikanya simpel aja gitu ya Kata dia kalau saya lebangun lebih pagi Orang lain sehari bisa latihan 3 kali, 4 kali saya liang makali dong Jadi orang lain, dia kan ating profesional ya, setengah profesional itu latihan Gak sekali sehari gitu ya, pagi pagi dia shesutan atau jogi gitu ya Agak siangan dikit di latihan strateginya, gak sorry yang dikit di latihan apa Gitu ya, akan ke tembahannya misalnya gitu ya Ya, 3, 3, 4 kali porcilatian dalam sehari Tapi kobi berayang bisa lima gitu, kenapa? Karena bangun lebih pagi Simpel aja gitu ya, bangun lebih pagi jadi justru orang yang sukses itu gak Gak siimbuk sama hal-hal yang, yang tak penting, gak penting gitu, terus rangan aja gitu ya Ya karena mereka hidupnya siimbuk sama hal-hal yang penting ya makanya mereka jadi orang sukses Ya, sekarang ini ada orang-orang yang berusaha beneru gaya aja gitu ya Tapi pada akhirnya mereka gak bakal pernah sukses orang yang mereka tiru gitu Ya, kenapa kanah sikap mereka terhadap waktu itu beda gitu Ya, orang sukses itu bagi mereka waktu itu mahal Yang saya pernah duner komentar ya, ada sesuatu orang di tanya kenapa sih Lalu beli pesawat jet pribadi, bukannya itu mahal banget gitu ya Kata dia waktu saya lebih mahal, waktu itu lebih mahal di peda uang di bilang gitu Waktu itu lebih mahal di peda uang Pesawat jet ini kan bisa di beli dengan beberapa skian juta dolar, skian juta dolar itu bisa diperoleh dari mana, misalnya ya Dari bisnis saya yang satu ini, setelah diaraning skian bulan, skian tahun, ada lakuntungan saya bisa beli pesawat jet pribadi, misalnya gitu ya Skian tahun, bisnis yang saya, nah untuk supaya bisnis ini terwujud gitu ya, saya perlu terbang kesana Jadi logikannya begitu gitu ya, jadi kenapa saya boleh pribadi jet gitu ya, karena saya perlu pergi meeting ke daerah sana Gitu ya dengan cepat gitu ya, dan di pulang dari meeting itu Walaupun meetingnya cuma 3 jam, 2 jam gitu ya, yang kita bagi napgini semalam lagi Kata kan lah dia perginya cuma sahari gitu ya Tapi apakah sepakatannya dibuat, deal yang dibuat dari obrolan selama sahari itu ya Bisa apa, berpengaruh sampai berat tahun ke depan Itu lemakannya kata dia waktu terlalu imahal dari pada umang, karena waktu itu menghasilkan umang, umang tidak menghasilkan waktu Jangan salah, gitu ya anda gak bisa beli umang, jadi yang gak bisa beli umang, gak bisa beli waktu gitu ya, sorry ya Anak gak bisa beli waktu, ada punya umang banyak, tapi kalau ada waktu yang mati, mati aja gitu ya, gak bisa, gak bisa di- guysnya di beli waktunya Tapi waktu itu bisa menghasilkan umang, waktu itu bisa menghasilkan umang kita, kita apa, spend time, beberapa saat dengan sesama penggusaha bisa jadi deal Bisa jadi sebuah kerja sama, ya, dan kerja sama itu bisa bertahun-tahun, bisa jadi hubungan yang baik sekali Kalau kita bisa merawat dengan baik, kita menghabiskan waktu beberapa saat, sahari dengan anak-anak kita Bisa berakibat hubungan baik yang permanin di antara kita, anak-anak kita, jadi itu lah, waktu itu mahals kali, waktu itu mahals kali Kalau lekan itu, saya prihatin, gitu terus sanggiri-melihat-melihat orang yang begitu, begitu apa, begitu kekel-kekel, begitu getol yang mengajar segala hal yang viral Demisa suat yang viral, misalnya ada barang yang viral, dia mau ngantri lama sekali untuk beli, ya, lebih konser ben yang viral maka dia mau apa Sebuah ben yang sangat terkenal, gitu ya, dia mau, gitu ngantri dari malam, sampai pagi, soalat gak, gitu ya, apa lagi-gal kayak gitu ya Mau dia tuh mendapatin tikan, ya, lebih hape yang baru muncul, ya dia mau ngantri dari malam, sampai pagi, gitu ya, demis buah hana, yang wahanan di dalamnya, akhirnya kita cuma selfie, selfie doang, gitu ya Orang mau bermaccet-maccet sampai berjam-jam, gitu ya, saya prihatin banget, yang kayak begitu kenapa, karena itu artinya, dia tidak menghargai waktu dengan nilai yang pantas, gitu ya, atau memang waktu dia memang tidak berharga barang kali, ya, sih gak dia mau menghabiskan itu, kayak begitu Jadi, sabat-sabat malah itu di semua, saya sih berharap temen-temen semua, ya, apa, ya, saya gak bisa maksa, gitu ya, tapi saya berharap temen-temen semua, apa yang mau, menerima pandangan saya yang udah menurut suku-sukur kalau semua pada ikutan, gitu ya, jadi, ya, jadi kalau ada sesuatu yang viral, walaupun yang viral itu, oke lah kita huston-zone ya, sesuatu itu viral itu karena dia bagus gitu ya, karena dia kualitasnya bagus gitu. Tapi kalau dia harus mengorbankkan waktu kita begitu banyak, kayaknya nggak worth it deh. Coba kita timang-t timang baik-baik lah, kita pengen liburan, tapi liburan itu tercemari. Karena kita punya waktu liburan berapa lama, dua hari misalnya wikensnya 48 jam, 48 jam bersih perasa, ya, saya kini nggak 48 jam, tapi 10 jamnya habis buat maca. Wad's the point, gitu kan? 10 jam habis buat maca itu udah sepermpat waktu itu, sepermpat dari waktu kotornya ya, kalau waktu bersinya nggak nggak mampu 48 jam kan, karena ada waktu harus tidurnya, harus istirahatnya, gitu ya harus makannya, gitu ya. Itu nggak diitung lah gitu ya. Angka panya kita punya wikens 48 jam, tapi 48 jam itu kalau maca, 5 jam per gil, 5 jam pulang, itu berarti udah 10 jam, itu udah sepermpatnya nggak worth it kalau menurut saya, kalau cuma tuh satu keperluan doang, gitu ya, nggak worth it sama sekali. Kita harus menunggu sekian jam untuk mendapatkan basuk, sukaan kita, gitu ya, walaupun, ya, memang kualitasnya luar biasa enak gitu ya, tapi nggak worth it gitu ya. Semuanya tekan tung barangnya juga sih, kalau nih ayam gitu ya, kalau nih ayam itu di bilang enak banget, ya baso enak banget, gitu ya, nilanya sebilah setengah dari 10, tapi itu basur dan nih ayam gitu ya, anyway, gitu ya, skenyak-kenyaknya enak, tesendik matik matik kita makan baso nih ayam, somain, burah yang sotomi, whatever, gitu ya, saya enak-enaknya dia, gitu ya, berapa lama sih, enak itu akan berpengaruh sama kita, ya, gala-lama-lama mat kita, ya, jadi kalau menurut saya, kalau mendapatkan makanan cemilan dengan kualitas yang nyaris sempurna sekali pun, gitu ya, nggak worth it sih, kayaknya nggak 3-3 jam, 4 jam, ya, sama sekali nggak worth it, ya, sama sekali nggak sepanjang dengan formor banan, ya, ya lain halnya kalau kita bicara misalnya kualitas apa ya, kualitas rumah, gitu ya, rumah nih, rumah nih, rumah mau dibakuhin cepet, tepengda, kalau mau yang cepet, bisa 2 bulan kelar, tapi kualitas nggak bagus, gitu ya, mau nggak dibekin jadi 3-6 bulan, tapi kualitas saya jamin bagus, gitu ya, seharusnya itu lumayan worth it, ya, karena harganya juga apa, rumah itu nggak burah ya, rumah itu nggak burah, jadi kalau kita rumah tuh rusak, kita rugi besar, ya, jadi kalau kita dijajikan, bisa dapet rumah kualitas bagus, dijamin, nggak buh-cure, nggak lemah-belah, gitu ya, lumayan worth it, tuh, ya, tapi kalau bahas o menggak, serasa sudah sekali ya, gitu ya, bahas o meahaya menggak, gitu ya, enak sih enak, tapi ya, benar-benar lama sih dia akan berpengaruh, ya, kita bawa tidur, bangan baginya juga, kita nggak, nggak bahagia karena itu lagi, kan, ya, ada baju, bisa terselvi, gitu ya, bisa tersesan-sesan, kan, tanya jelas-jelas kita tuh belum bisa atas, karena kita butuh rekreasi, ya, tapi ternyata rekreasinya itu lebih, begin frustasi, ke timbang, bikin bahagia, seharusnya nggak worth it, ya, sama-sama, malten sis mau, menungguhkan kita semua bisa manfaatin waktu kita nalui baik, ya, dan memanfaatkan waktu nalui baik itu dimulai dari menghargai dulu, ya, karena kalau kita nggak menghargai, kita merasa ini nggak ada harganya, nggak ada pentingnya, gitu ya, ya, maka kita akan menghabiskan dengan cara-cara tidak biak sana, ya, menemudah sama-sama, melatur sis mau, udah pengen manfaat dari obron kita kali ini, sampai juba pada pesudah berikutnya, sama maliknya, mau nonton lori, gua barangkat.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Waktu adalah sumber daya yang dipersepsikan berbeda oleh setiap orang, tergantung pada kebutuhan dan tujuan hidup mereka.
  2. Menunggu setengah jam bisa terasa singkat bagi sebagian orang, tetapi fatal bagi yang lain (misalnya ketinggalan pesawat).
  3. Penulis menolak menghabiskan waktu berjam-jam untuk hal viral seperti mengantre makanan atau tempat wisata, karena waktu dianggap lebih berharga.
  4. Orang sukses, seperti atlet Kobe Bryant, memanfaatkan waktu dengan produktif (bangun pagi untuk latihan ekstra), berbeda dengan mereka yang membuang waktu untuk tren.
  5. Waktu lebih berharga daripada uang
  6. Penulis prihatin melihat orang-orang berebut hal viral tanpa menghargai waktu, seperti mengantre berjam-jam untuk makanan atau konser.

Summary:

Transkripsi ini membahas persepsi manusia terhadap waktu dan bagaimana nilai waktu berbeda-beda tergantung pada situasi dan prioritas individu. Penulis mengawali dengan contoh pengalaman menunggu setengah jam yang terasa lama bagi dirinya, tetapi dianggap sepele oleh sopir angkot. Hal ini menunjukkan relativitas waktu: bagi orang santai, menunggu setengah jam bukan masalah, tetapi bagi orang yang mengejar target, keterlambatan lima menit bisa fatal, seperti ketinggalan pesawat.

Penulis kemudian mengkritik fenomena viral yang membuat orang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre makanan, tempat wisata, atau acara seperti fashion week. Ia berargumen bahwa waktu yang dihabiskan untuk hal-hal tersebut tidak sebanding dengan manfaatnya, terutama jika waktu itu bisa digunakan untuk kegiatan produktif seperti membaca, menulis, atau berolahraga. Penulis membandingkan dengan orang sukses seperti Kobe Bryant yang bangun pukul 4 pagi untuk latihan, menunjukkan bahwa produktivitas adalah kunci kesuksesan.

Ia menekankan bahwa waktu lebih berharga daripada uang karena uang tidak bisa membeli waktu, tetapi waktu bisa menghasilkan uang. Penulis prihatin melihat masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, terbuai oleh imajinasi tentang gaya hidup orang kaya dan menghabiskan waktu untuk hal-hal tidak produktif. Ia menyarankan agar orang lebih bijak dalam menghargai waktu dan tidak tergoda oleh tren viral yang memakan waktu tanpa nilai sepadan, karena waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali.

FAQs

Relativitas persepsi waktu adalah cara orang memandang durasi waktu secara berbeda, tergantung pada kebutuhan, kesibukan, dan tujuan hidup mereka. Misalnya, setengah jam bisa terasa singkat bagi yang santai, tetapi sangat berharga bagi yang produktif.

Orang sukses menganggap waktu lebih mahal karena waktu bisa menghasilkan uang melalui produktivitas, seperti meeting atau kerja sama, sedangkan uang tidak bisa membeli waktu yang telah berlalu.

Mengikuti tren viral sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk macet dan antre, sehingga waktu liburan atau produktif terbuang sia-sia. Ini tidak sebanding dengan manfaat yang didapat, seperti makanan enak atau foto selfie.

Mereka terpengaruh oleh imajinasi tentang gaya hidup orang kaya, seperti berpakaian mewah dan menghadiri acara eksklusif, sehingga rela menghabiskan waktu dan uang untuk merasakan sensasi tersebut.

Kobe Bryant bangun pukul 4.30 pagi untuk berlatih lebih awal, sehingga ia bisa melakukan 5 sesi latihan sehari, sementara atlet lain hanya 3-4 sesi. Ini menunjukkan bahwa memanfaatkan waktu lebih awal meningkatkan produktivitas.

Menunggu 3,5 jam dianggap tidak sepadan karena waktu tersebut bisa digunakan untuk aktivitas produktif seperti membaca buku, membuat presentasi, atau berolahraga, yang nilainya lebih besar daripada sekadar makanan enak.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.