Renungan ini membahas pentingnya tidak menjadi "batu sandungan" yang menghalangi orang lain untuk datang kepada Tuhan. Hal ini dapat terjadi melalui perkataan, perbuatan, atau sikap yang dianggap remeh, seperti canda sembarangan atau mengabaikan orang yang dianggap kecil, yang justru berpotensi menyakiti dan menciptakan kesalahpahaman tentang Tuhan. Untuk menghindarinya, kita diajak untuk setia dalam perkara-perkara kecil, karena kesetiaan ini adalah ujian dari Tuhan dan dapat menjadi "batu loncatan" bagi keselamatan orang lain, seperti ilustrasi pendeta yang menjadi berkat melalui sikap sabarnya di bandara.
Selanjutnya, kita diajak meneladani Yesus sebagai Raja Damai dengan memaksimalkan perdamaian dan menghindari konflik yang tidak perlu, meskipun kita berada di pihak yang benar. Tindakan Yesus membayar pajak Bait Allah, meski tidak wajib, menunjukkan kesediaan untuk mengutamakan damai demi misi yang lebih besar. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi duta damai dan saluran berkat dalam setiap kesempatan, karena tidak ada perkara yang benar-benar remeh ketika hidup sebagai saksi Tuhan. Setiap keputusan dan sikap kita memiliki dampak bagi orang di sekitar.
Hai, pendengar. Salam sejatera buat Anda dan keluarga dimana pun berada. Kembali Anda menyimak program Voice of Yaski, sebuah renungan untuk Anda memulai hari dan pekan yang baru bersama Tuhannya Suskristus. Masih bersama dengan pendeta Wilson Suantoh, selamat menengarkan Tuhannya Sus memberkati. Sudah renterkasih, hidalam Matius 17 ayat yang ke 27. Jesus berkata, tetapi supaya kita jangan menjadi batusan dengan bagi mereka. Pergilah memanching ke Danau, dan ikanin pertama yang kau pancing, tangkaplah dan buka lah mulutnya. Maka-ankau akan menemukan mata uang patir hamdi dalamnya, ambilah itu dan bayarkan lah kepada mereka, bagiku dan bagi mujuga. Sudahlah, kita sudah belajar apa itu artinya menjadi batusan dengan, dan bagaimana agar kita tidak menjadi batusan dengan kita. Kita sudah belajar, pawak kita harus mengingat, ternyata selamatkan Tuhan. Tuhan tetap mau menyeramakan begitu banyak jiwa, dan dia mau memakai kita sebagai saksinya, sebagai saluran berkat. Menjadi batusan dengan adalah menghalangi orang untuk datang kepada Tuhan, untuk diselamatkan. Bagi dengan perkatan kita, mau pun perbuatan kita, dan semua itu belum tentu sesuatu yang selalu melanggar hukum. Tetapi sesuatu yang menjadi batusan dengan membuat orang salah mengerti tentang Tuhan dan tidak mau berpaling kepada Tuhan. Jadi kita harus ingat ternyata selamatkan, dan kita juga belajar memhormati aturan dan mereka mereka yang diberikan otoritas oleh Tuhan untuk menegakan peraturan itu. Dan kita juga diminta, seperti mingikuti telah dan jesus, iaitu melakukan lebih dari yang diminta, demi menjadi kesaksian yang baik. Bukan berarti kita membiarkan diri kita di tindas, kemudian diperbudak, dan kita tidak memiliki hak sama sekali, tentu tidak. Tetapi ada moment-moment di mana? Kita rela berjalan 2 mil, sekalipun kawajapan kita hanya 1 mil. Intinya adalah di dalam kita mengambil keputusan. Soal hak dan kawajapan kita, mari kita ingat bahwa kita adalah saksit Tuhan. Dan ada moment di mana Tuhan mau kita memikul beban yang lebih dari biasanya, lebih dari seharusnya, demi membawa orang lebih dekat kepada Tuhan, atau supaya dia jangan sampai jauh dari Tuhan dan salah mengerti. Dan itu kita rela lakukan. Kita tidak mau menjadi batu sandu kan? Dan apalagi yang kita bisa pelajari, yang kita bisa lakukan, agar kita tidak menjadi batu sandu kan? Belajar setia dalam perkara kecil. Sering kalian menjadi batu sandu kan, menciptakan batu sandu kan itu bukan hal hal yang besar. Kita melihat memang ada skandal, ada krisis, ada berbagai macam kontroversi tetapi sering kali, yang menjadi batu sandu kan adalah hal hal kecil. Perkara-perkara yang kita anggap sepele. Dan justru karena di anggap sepele, di anggap tidak penting, maka kita sering kali lupa dan sembarangan. Semarangan berkata, sembarangan bercanda, sembarangan bertindak, tanpa sadar itu sudah melukai orang lain. Dan kita mengatakan mungkin di dalam pembelan diri, ah begitu sahaja terluka, begitu sahaja tersinggu. Ini kan hanya bercanda, betul sudah eskalian. Bagi kita itu perkara remi. Tetapi sekali pun demikian, kita mengatakan bahkan dalam perkara-perkara remi atau perkara kecil. Atau kita berkata hendaklah kamu belajar setia dalam perkara kecil. Dari tutur kata kita, dari tindakan kita, dari cara kita mengucap, kan membuat janji. Dari cara kita menempati janji, dari cara kita menghargai dan bersikap kepada orang lain, bahkan orangnya di anggap remi atau di anggap kecil dalam masyarakat. Kita melihat sering kali ada orang menjadi orang tersandung ketika dia melihat ada seorang kristan, tidak menganggapnya sama sekali. Dan hanya menganggap mereka mereka yang status sosialnya, status ekonominia, kelas tinggi. Sedangkan orang-orang biasa ini di anggap remi, mungkin bagi orang terserbut, hal itu adalah sesuatu yang biasa. Sesuatu yang biasa, tetapi, bagi orang terserbut, sama sekali, menyakitkan, sama sekali bukan perkara yang kecil. Bagaimana rasanya di tolak? Bagaimana rasanya tidak di sapak? Bagaimana rasanya tidak dianggap? Nah ini adalah perkara- perkara yang nampaknya kecil, tetapi punya potensi, menjadi batusan, sebaliknya. Ketika kita setia dalam perkara kecil, kita bisa menjadi batuloncatan untuk orang yang biasa-biasa, yang tidak terlalu perdulituhan, menjadi orang yang mencari tuhan dan diselamatkan. Ada seorang hambatuhan, benar-benar mencakol sen, ketika dia masih hidup, karena dalam satu perjalanan, mengalami penundahan penerbangan atau dilei. Dan itu terjadi di Jakarta, di Bandara Suka Nohata. Saat itu dilei cukup panjang, dan banyak orang mengaluh, dan banyak orang komplem kepada dan marah-marah dan kemudian mengluarkan kata-kata yang tidak mengenakan di dalam penantian itu selama berjam-jam. Tetapi, peneta Charleston, bahwa bahkan di kala semuah merasa, marah semuah merasa, lelah menanti, mungkin juga hawannya cukup panas, itu adalah hal hal yang kelihatannya reme, justru di situ dia harus, memastikan bahwa sikapnya dan kata-katanya, menjadi berkat bukan menjadi batusan, maka dia mulai bercanda dengan timisinya, di Bandara Suka Nohata, dia mulai sambil menunggu, sambil menunggu kapan dilei itu berakhir, dia bercanda, dia melontarkan humu, orna sebagainya, dan akhirnya singkat cerita, dilei itu berakhir, mereka bisa berangkat lagi. Tetapi, ada satu hal yang tidak terduga. Selama dia itu bercanda, atau bersenda guraud dengan teman-teman, rekan pelayanan misinya itu, ada seorang dari Singapur, mengamati. Saya pakeyanya pernah lihat orang ini, dan mengapa orang ini bisa bercanda, dan tidak marah-marah, seperti banyak orang lainnya. Ketika sedang menanti di Suka Nohata, dan kemudian juga waktu itu dilei, dan waktu itu juga panas hawanya, padahal dia bukan orang Indonesia, artinya semestinya, dia merasakan jauh lebih panas dan lebih sulit, bukan orang asiat tenggara. Sudah terkasi kemudian, karena businessman Singapur ini, ingin tahu, maka dia pulang, dia cari-cari di mana dia pernah ketemu ujah, perneta cakol sen. Ota nya tak ada satu buku, yang memang ada ujahnya, kemudian dia ketemu buku itu dia baca bukunya. Dan selada dia baca buku itu, dia menarik matuhan Jesus sebagai Tuhan Anjur Selamat. Kemudian dia mencerita, akan cerita ini kepada peneta cahol sen, dan peneta cahol sen terkenju sekali. Karena dia bercanda-bercanda, bersenda gural, dia pikir itu hanya untuk membuat suasa nak caria di antara tim. Tapi di luar juga, dia Tuhan memakai. Semua itu untuk menyelamatkan seorang yang ada di Singapur, yang waktu itu juga ada di bandara sukar nohata. Itu sebabnya satu hal kita belajar dari sini. Kita tidak bisa meremehkan perkara perkara yang kita anggap kecil atau reme. Tidak ada sebetulnya, di dalam hidup orang krisentu perkara reme. Kalau kita ingat atau kita saksi Tuhan, dan setiap moment adalah moment kita melayani, menjadi berkat, maka sebetulnya tidak ada perkara reme. Semuanya adalah perkara yang penting, meskipun, satu lebih penting dari yang lain. Tetapi tidak ada yang namanya perkara, tidak signifikan, dan apa-apa pun yang kita lakukan tidak ada efeknya. Tidak ada. Apa yang kita katakan? Apa yang kita lakukan? Apa yang kita tidak katakan atau tidak lakukan? Semua itu mempunyai dampa. Agi orang-orang di sekitar kita. Memang orang tidak sengaja menonton, orang tidak sengaja menengaharkan, tetapi mereka spading sedikit tahu kita adalah orang kristan. Dan karena itu kita mau setia dalam perkara kecil dan Tuhan, sudah memberi tahu tentang hal ini. Perkara kecil itu adalah suatu ujihan yang Tuhan berikan dan ketika kita itu setia, Tuhan mempercayakan kepada kita perkara lebih besar, dia memberkati kita. Demikian juga di dalam kisa, "Jesus ketika ada orang menagi, Pajak baik alah supaya dia bayar." Jesus mengatakan supaya kita jangan jadhi batusan dengan kita bayar. Dan kalau dia pikir-pikir, ini bukan perkara yang penting. Pajak baik alah berbeda dengan pajak negara, pajak negara dipungut oleh, kayak, sekaisa Romawi, yang menuruh orang-orang seperti sakai, ios, matius dan sejenisnya untuk memungut. Pajak baik alah itu bukan perkara resmi, itu lebih merupakan peraturan keagamaan. Seharusnya.
itu bukan mulut bahkan satu hal yang penting tetapi kita melihat Tuhan Jesus tidak mahan gak pernya, bahkan perkara kecil seperti ini dan maka dia berkata kepada Petrus angka pelakikan, ikan yang pertama yang kamu tangkap itu buka mulutnya kamu akan menemukan 4 dirham, 4 dirham artinya bisa membayar 2 untuk Jesus dan 2 untuk Petrus artinya ketika kita setiah dalam perkara kecil Tuhan dengan ajaip menyediakan segala yang kita perlukan banyak orang angka pera emeh, menganggap kecil apalagi perkara-perkara yang melibatkan uang yang kecil atau tidak melibatkan uang sama sekali tetapi mereka sering kali lupa, bahwa itu adalah ujihan yang Tuhan pakai untuk melihat apakah sesuatu orang setiah dalam perkara kecil atau tidak sebelum Tuhan membekah tidia lebih lanjut ada orang yang merasa bahwa pelainan di gereja itu adalah sukarela sehingga dia asal-asalan, dia merasa itu perkara kecil, perkara reme tidak perlu serius, berbeda dengan dia bekerja dimana dia mendapatkan gaji, mendapatkan posisi, mendapatkan facilitas itu perkara besar, diakan suku-suku di sipliin, diakan tekun disana tetapi untuk pelayanan di gereja di asal-asalan karena dia merasa itu perkara reme, karena tidak melibatkan banyak uang atau memberikan dia status sama sekali dia sudah gagal di dalam ujihan tersebut dan kalau dia lakukan itu pasti dia menjadi batu sandukan untuk sudara seiman yang mungkin sedang lemah, yang mungkin baru percaya oh mengapa pelayanan seperti itu kalau untuk pekerjaan sangat sangat luar diasa untuk acara-acara publik luar biasa tapi kalau untuk pelayanan seperti asal-asalan bahkan sering kali pada waktu nya jatuan dia harus datang dia tidak datang sama sekali nah ini menjadi batu sandukan bukan menjadi saluran berkat nah itu sebabnya sudah raskalin kita tidak bisa menilai sesuatu dari angka tidak bisa menilai sesuatu dari status duniawi kita menilai sesuatu dari kebenaran firman Tuhan bahkan dalam perkara, perkara reme, perkara perkara kecil pun Tuhan mau kita setia karena itu yang menjadi ujihan bagi kita dan apa yang istus lakukan ini supaya tidak menjadi batu sandukan selain dia setia dalam perkara kecil adalah dia menghindari pertikayan konflik yang tidak perlu maka kita sebagai orang krisem belajar supaya kita tidak menjadi batu sandukan mari kita memaksimalkan damai sedapat mungkin menghindari konflik dan pertematannya tidak perlu Jesus bisa menegaskan bahwa dia tidak kua jip bayar pajak bayar alah dia adalah anak alah, dia adalah bayar alah bahkan dia adalah kehadiran alah itu sendiri demikian juga murid muridnya mereka adalah pengikutnya dan ini bukan aturan pemerintah tetapi untuk menghindari kiri butan dan menjaga perdamaian dan fokus pada misinya Jesus memilih untuk tak at dan membayar itu sebabnya firman Tuhan mengatakan jika lo how hal itu tergantung kepada kamu sedapat mungkin kehiduplah dalam damai dengan semua orang jadi kita harus memaksimalkan damai memang tidak selalu damai itu ada tidak selalu orang bisa menghindari konflik atau perdebatan atau pertikaya tapi kita harus dua-hour best kita harus melakukan yang terbaik untuk mengadapkan damai karena orang kristan dikenal sebagai peacemakers orang yang cinta damai bahkan pembawa damai karena itu las misi Tuhan Jesus datang ke dalam dunia dia disebut teraja damai dan melalui kematiannya di salit dia memperdamaikan kita dengan bapa mempertamaikan manusia berdosa dengan alah yang kudus dan itu lah yang harus kita tampilkan kita harus nyatakan di dalam hidup kita bahwa orang-orang kristan adalah orang-orang yang mencintai damai karena mereka percaya kepada raja damai itu juru selamat Tuhan Jesus kristus dan kita adalah duta-duta perdamaian kristus artinya berita perdamaian itu di-tipkan kepada kita dan kita berseruh kepada orang hendaklah kalian memberi diri kalian di perdamai kandangan alah. dan kalau kita ini orang suka konflik suka berdebat senang bertikai orang tidak cinta damai bagaimana kita bisa menjadit duta perdamaian? bagaimana kita bisa menjadi berkat atau batu loncatan untuk orang lebih datang pada Tuhan? yang terjadi sebaliknya kita menjadit batu sanduhan sekalipun di dalam konflik tersebut kita itu benar dan orang lain itu salah. tetapi kalau kita tidak mencoba-mama maksimal kan damai maka kita belum melakukan tugas kita yang terbaik untuk menjadi batu loncatan dan tidak menjadi batu sanduhan. biar kita boleh belajar dari telah dan Tuhan Jesus. dia melakukan apa yang sebetulnya dia tidak wajib lakukan. hal yang sangat ramai dan tidak berarti namun Jesus menunjukkan kesetian dan keseriyusan. bahkan kita melihat semua ini karena dia adalah raja damai dia mau menghindari segala konflik pertikanya debat yang tidak perlu. ada moment di mana? Jesus berbicara dengan terus terang dan konfrontasi terjadi tetapi di dalam situasi situasi yang lain Jesus memaksimalkan damai. hal-hal seperti ini jangan menimbulkan konflik yang menghalangi pekerjaan kerajan Tuhan yang menjadi batu sanduhan dan menjadi distraksi bagi kita yang mengikut Tuhan. Lahuat Tuhan memanggil kita untuk menjadi batu loncatan menjadi saluran berkat, menjadi dutak pedamaian. Bukan batu sanduhan, bukan pemicuk konflik. dan bukan orang-orang yang menghalangi berkat Tuhan lagi orang lain. biar itu lalu ada Jesus Christus, boleh sunggu kita lakukan dengan kekuatannya rohku bat-saluran menjadi batu loncatan dan bukan menjadi batu sanduhan. Demikian tadi "vois of yaski" bersama Pendetau Wilson Suantung. Anda bisa kembali mendengarkan episod kali ini melalui Spotify "vois of yaski" atau Anda juga dapat mendengarkan membagikan bahkan mengunduh episod "vois of yaski" melalui podcast yaski di podcast.yaski.co.id Terima kasih sudah menengarkan Salam sehat selalu dan Tuhan Jesus memelihara Anda dan keluarga.
Podcast Summary
Key Points:
Menghindari menjadi "batu sandungan" yang menghalangi orang datang kepada Tuhan melalui perkataan dan perbuatan.
Kesetiaan dalam perkara kecil dan remeh adalah ujian penting untuk menjadi berkat dan menghindari menjadi batu sandungan.
Memaksimalkan perdamaian dan menghindari konflik yang tidak perlu, mengikuti teladan Yesus sebagai Raja Damai.
Setiap momen adalah kesempatan untuk menjadi saksi dan saluran berkat, bahkan melalui tindakan sederhana.
Summary:
Renungan ini membahas pentingnya tidak menjadi "batu sandungan" yang menghalangi orang lain untuk datang kepada Tuhan. Hal ini dapat terjadi melalui perkataan, perbuatan, atau sikap yang dianggap remeh, seperti canda sembarangan atau mengabaikan orang yang dianggap kecil, yang justru berpotensi menyakiti dan menciptakan kesalahpahaman tentang Tuhan. Untuk menghindarinya, kita diajak untuk setia dalam perkara-perkara kecil, karena kesetiaan ini adalah ujian dari Tuhan dan dapat menjadi "batu loncatan" bagi keselamatan orang lain, seperti ilustrasi pendeta yang menjadi berkat melalui sikap sabarnya di bandara.
Selanjutnya, kita diajak meneladani Yesus sebagai Raja Damai dengan memaksimalkan perdamaian dan menghindari konflik yang tidak perlu, meskipun kita berada di pihak yang benar. Tindakan Yesus membayar pajak Bait Allah, meski tidak wajib, menunjukkan kesediaan untuk mengutamakan damai demi misi yang lebih besar. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi duta damai dan saluran berkat dalam setiap kesempatan, karena tidak ada perkara yang benar-benar remeh ketika hidup sebagai saksi Tuhan. Setiap keputusan dan sikap kita memiliki dampak bagi orang di sekitar.
FAQs
Menjadi batu sandungan berarti menghalangi orang untuk datang kepada Tuhan dan diselamatkan, baik melalui perkataan, perbuatan, atau sikap yang menyebabkan orang salah mengerti tentang Tuhan.
Dengan setia dalam perkara kecil, seperti tutur kata dan tindakan yang baik, serta memaksimalkan perdamaian dengan menghindari konflik yang tidak perlu.
Perkara kecil seperti candaan atau sikap sembarangan sering dianggap remeh, tetapi dapat melukai orang lain dan menghalangi mereka untuk mengenal Tuhan.
Seperti kisah pendeta yang tetap bersikap positif dan bercanda saat penundaan penerbangan, yang tanpa disadari menjadi kesaksian dan membawa seseorang kepada Tuhan.
Yesus menyuruh Petrus membayar pajak Bait Allah meskipun tidak wajib, untuk menghindari konflik dan menjadi teladan kesetiaan dalam perkara kecil.
Karena orang Kristen percaya kepada Yesus sebagai Raja Damai dan dipanggil untuk membawa perdamaian, mencerminkan kasih Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.