Go back

Umar Al Faruqi | Membangun Kebiasaan Produktif

59m 56s

Umar Al Faruqi | Membangun Kebiasaan Produktif

Dalam percakapan ini, Umar Al-Faruki berbagi perjalanan kariernya dari mahasiswa teknik elektro hingga menjadi kreator konten produktivitas. Awalnya, ia bisa menjalani kuliah dengan baik meskipun tidak sepenuhnya menyukainya. Ketertarikan pada pengembangan manusia muncul saat ia aktif berorganisasi dan memimpin divisi pengembangan sumber daya manusia. Setelah lulus S1, ia membuat proyek pribadi berupa sesi coaching untuk menguji apakah bidang ini benar-benar sesuai dengan passion-nya. Meskipun ada ketakutan besar soal stabilitas finansial dan keraguan dari orang tua, ia mengatasinya dengan tetap bekerja sebagai guru les sambil merintis konten produktivitas. Ia memilih fokus pada produktivitas karena merasa topik itu paling ia kuasai dan melihat peluang pasar yang lebih spesifik. Umar menjelaskan bahwa produktivitas bukan sekadar kesibukan, melainkan tentang menghasilkan sesuatu yang bernilai. Ia membedakan antara efisien, yaitu menggunakan waktu dan sumber daya seminimal mungkin, dan efektif, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan. Keduanya penting untuk mencapai produktivitas sejati.

Transcription

8531 Words, 52225 Characters

Indonesian
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, siang, sorry malam, kapan pun kalian lagi nimang video ini, balik lagi di ngobrol ini hidup, barang gue Ali dan juga balik lagi seperti biasa kita kedatakan tamu yang special yang luar biasa. Dan kali ini, sesuatu orang yang juga membahas sesuatu yang punya keahlian pada sebuah bidang kalau gue boleh bilang, yang gue yakin kalian pasti akan tertarik, itu sual produk divitas. Nah, kita kedatakan umar al-Faruki atau yang lebih dikenal dengan pembelajar produk div kalau kalian ada di sosial media-nya di Youtube, di TikTok, di Spotify, di Instagram, semua pembelajar produk div sekarang juga mencinya hashtag #Jadiproduktiv @kombelajarproduktiv - Ubar, makabaren, sehat, sehat, sehat, gue ngali senang, gue senang banget, lu sudah melakukan waktu dari bandung, penyempatkan diri kebintar, kesini, setterima kasih banget, sudah mengolongan waktu, sinimin nyempatkan kesini untuk ngobrol-ngobrol dan gue yakin bukan sepan gue dong yang tertarik sual produk divitas untuk bagaimana bisa melikat produk divitas, tapi sebuah bicara soal gimana di produk divitas, itu sendiri, gue pengen ngulik sedikit mengenai lu aja dulu, itu oke, dan yang gue tau tadi kita sempet ada becuran sebelum kita taping, lo kuliah S1nya engineering, kemudian lo ngambil S2 elektro, dan sekarang yang ngulah waktu kayaknya, sesuatu yang tertelih di firan, - Tari sebelum sual produk divitas, lu masuk belajar engineering itu, apakah memenkanan tertarik atau selalu masuk, kok ternyata bukan ini yang gue inginkan, atau gimana? - Dua-duanya benar, jadi sempat tertarik, tapi bukan yang sepenuhnya, misalnya kalau orang patient itu, ga sepasin itu juga, tapi ada tertarikan, maksud saya makan beratikan, nabil SbMPT yang waktu itu, karena kebetulan secara akan dimisokir, jadi yang mau tau di kafisia kimiya, cukup bagus, ya udah terima lah di STTB, kuliah lah di sana, sepas kuliah juga sambil meranto, karena apa yang sudah di medan, meranto kebandung, kuliah sambil kerja, kerja itu najar juga, najar les perikat mau tau di kafisia kimiya, gitu. - Oke, lebih tepatnya bisa melakukannya dengan baik, di punya skillnya, tapi bukan benar-benar suka, jadi bisa dijalani dengan baik, ya, karena banyak orang salah juru sandangan, stikmanya, di O-ni lainnya jelai, gitu kan, ya pikiran, da. - Gak merana banget, sangat-mangat, tapi ya, gitu. - Tapi gue bisa jalan dengan, ya, enjoy, karena mungkin basiknya ada ya, matu-matu, tiga persikah, dan najar juga secara-hari, jadi bisa jalan dengan baik, gitu. Awalnya tertarik, tapi ya, sekitar semestrali 5-6 mulai rasa, kayaknya bukan ini dari jalan hidup gue, gitu. - Apa yang terjadi yang membuat lo mulai berpikir begitu? - Karena ketika gue berkuliah, gue kan, ya, sebagai manam masyarakuhumnya ikut berbakek wan, ya, nontonisasi, kayak kan komunitas, gue masuk lagi ke tempat yang sama terus, selalu di visi PSDM, gitu, pengen banget sumber daya manusia. - Kenapa, karena lo nye mendapat ratolnya nanti? - Awalnya yang pertama, ya, buat gitu kan, kayaknya ini menarik, gitu. Nggak berolir orang, gitu, kan, pengen banget orang, gitu kan. kayaknya seru. Terus ketika masuk dan emang seru di komunitas berikutnya, organizasi berikutnya, gitu, itu lagi, gitu, bedang, dan bikin gue, "Man, people development, keren banget, barah, gitu." Dari situ, itu seperti itu. - Awalnya dari penasaran, meskipun lo juga fine-fine aja sama bedang lo, engemirin, jadi lo, suka-suka aja, gitu kan. - Tapi ada kuriasi di lah rasa kayak ingin kahwan, untuk pengen temen-temen, pengen people development lah dari pengen manusia, gitu. - Bagaimana? - Dan ternyata setelah, setelah nginchipin, gitu. - Iya. - Sangat, sangat, juga, sangat terlarek juga, gitu. - Nah, excited banget gitu, malah ketika udah mulai setera akhir ya, 5-6-7-8, itu, gue makin hilang tuh ke tertarikan terkait elektro, so, but, tapi, gue bisa ngelapuin dengan baik, tapi gue gak suka gitu, gitu. - Gak suka atau gak suka sama biasa-biasa gitu kan beda, atau ya, oke lah, gitu. - Kalau minus 10-10, gue minus 5 lah, termasuk gak suka, tapi, itu terkait terlimbangnya. - Oke. - Jadi gue gak suka, tapi gue bisa lakukan ingin kan. - Atau karena lo udah semakin banget people development, rasa suka jadi berkurang, karena, - Tapi, tapi, tapi yang bikin gue bertahan terus, ya, bukan karena kuliahnya, gitu. - Tapi karena gue ikut himpuanan, siasua gue ikut olinisasi, gue pengen mulik terus gue pengen bikin nih playground gue, untuk bikin apapun aja project yang seru-seru gitu. - Dan itu selama lo kuliah engine diri, sudah ada kesukaan seperti itu kan. - Betul, nah. - Terus kenapa gak bila sih, gue masih elektro? - Terus tanya banyak orang juga tuh. - Iya, saya terlalu salah tuh dianggar banyak orang. - Jadi waktu itu di gambus gue ada program fast track namanya. - Iya. - Jadi, satu tahun namanya, jadi kalau kuliah 1, 4 tahun nih. Kita bisa selesai, 4 tahun, +1 tahun, jalan 5 tahun itu, 1,2. Jadi, gue pikir dan biasanya juga, gue pikir, 6-6 tahun, 6 tahun era, sabilah ya. - Gitu, ada sebuah era mikirnya. Karena gue ngerasa gue bisa ngajalaninnya. Dan waktu itu gue juga belum tahu proses, mau ngapain arah ke depannya, udah menculta sukan, tapi gue belum. Tahu mau ngapain? Tidak ada alung di teknik elektro yang kerja, di bidang people, leplog, jadi, "Eh, car itu sedikit sekali lah." Dan alung nih, gue nggak ada ya, umumnya yang jenis, 90% menguah, ya, di bidang teknologi kerja-nya. Jadi, dari situ, gue coba ambil, terus, ya, kalau pun gue nggak ketemu jalan ruh hidup gue, seburuk-buruknya gue bisa kecendurasi yang lah. - Keraks luar. - Gitu, mikirnya, gitu. - Oke. - Jadi, sesimpal itu, gue ambil walaupun bukan lah, yang begitu tepat sebenarnya ya. Tapi waktu itu kan kita masih punya keloesan mikir. Karena kalau gue ambil sebuah, setahatnya kan masih sebuah belum pengangguran ya. - Oh. - Dan lu sesadukan, mana lu kerja apa, gitu, "enganggur" gitu, "nganggur." Gue masih, masih sebuah, gitu, masih, ada nambah waktu mikir satu tahunan lagi. - Iya, iya. - Oke. - Eh, dan mulai ada pikiran untuk menjadi kan ini sebagai karir, terkait people level 8 ini, sebelum nanti masuk lebih detail ke produktiviti, gitu, yang produktivitas. Tapi lebih umumnya, people level 8 dulu, mulai ada keinginan untuk fokuskan karir di situ, kekapan? - Di akhir 2019, saya tinggi, jadi itu, ketika gue lulus S1, dan waktu itu sebenarnya gue pinyim yang paling kebayang, bedang people development, jadi HR, yang gue paling kebayang, gitu, gitu. Atau, seengah jadi trainer, gitu. Nah, tapi, pada satu gue ceritah itu, ada apa aja, peran-peran nya ada, bisa jadi coach, mentor, trainer, banyak-banyakan. Dan di 2019, gue bikin personal project aja. Jadi gue bikin kocing. Out of nowhere, gitu, bernak berlulus S1, tiba-tiba gue mau bikin live coaching, gitu, kan. Apa ini, gitu. Ya, gue bikin aja di histori, gue buat poster sederhana, gitu kan. Terus, siapa nih yang mau coaching sama gue? - Iya. - Ada, ada gue, gitu kan di kampus, ada tingkat, ada beberapa yang terkira gue, gitu, beberapa orang. Terus gue coaching, gue udah ke selama satu semester, empat bulan, gitu, gitu. - Iya, itu. - Iya, itu juanya, lo untuk ngelati, diriku untuk ngelati orang, untuk ngomongin-ngomong orang. Dan, untuk gue tau, apakah ini memang jalan-enggua ingin kan atau nggak. Jadi itu, bisa di bilang satu personal project yang gue bikin, untuk discover, gue sebenarnya, senang gak sih di bidang-idang. - Dan terus, apa yang gue rasakan? - Iya, so excited, gitu. - Terus selalu menantikan setiap sensinya, gitu kan? - Iya. - Nah, setiap sensi coaching, 60-90 menit, gue selalu menantikan, menyapkan yang terbaik. Dan, itu yang usah mengisi energi, dia mau capek, full banget, seharian, ya, namanya, masa suara, sambil ada penelitian, leblatorium, gue kerja juga, ngejar, gitu ya. Tapi, di waktu yang sangat penuh, itu justru, setiap sensi coaching, itu mengisi energi, gitu. - Ketika lo memulai, ini ada resaltakot, ya, apa, semua kita mau memulai, apa, bahasa di resaltakot, ngerasih. - Apa kalau lo takut, takut apa? - Gue takutnya, bisa gak sih, gue berkata timbila ini, gue yang bekerhannya anak teknik, elektro-engineering, tiba-tiba, coaching, mentoring, penulis buku, lu siapa, margit lo. Banyak sekali ketaputan, yang pertama, bisa gak gue hidup dari, hidup dari karya, lainnya hidup dengan pengeri gue bikin, yang kedua, gue cukup mampu melawakannya, yang ketiga, kehautiran, umum, apa yang orang lain omongin, ketiga gue merintis ini, gitu ketakutan. - Yang kalau sahannya di rengki, yang mana yang paling menggil, waktu itu atlas, kalau lo reflect lagi. - Sebetulnya paling pertama adalah, apa gue bisa hidup di bidang ini atau gak, hitin paling pertama. - Nah, dan setarap finansial, mau berkata. - Setarap finansial, yes. - Dan kemudian, yang akhirnya membuat lo terus tetap memberan dikandiri, apa yang artiat, overcome that fear, gitu. - Karena gue rasa, ya kalau gue gak jadi kan ini sebagai menjob, gue haping jalanin, gitu. Jadi kayak orang yang lakukan patient, kayak orang yang main futsal tiap hari, jadi kan ada kerja. di situ dia, bersiannya main food sal gitu yang apa-apa waktu itu gue masih nancar less private, nancar less bimbol gitu ya jadi sejak kuliah juga income gue dari sana dan at least gue bisa hidup lah ter situ terus perjalan-perjalanan kan ya udah gue sambil merintis ketika gue nancar, nancar less ya gue nancar gitu dan ketika gue nancar, gue bangun lagi gue percaya nanti soal-soal salkan besar tapi setidaknya ketika gue mau mulai gue juga punya punya kerjaan yang bisa bikin gue atlik hidup dulu gitu jadi, gue pengen jalan ini tapi ini sekarang belum bisa menghasilkan pengen selanjutnya ke dalam silatan, tapi gue jalan ini juga nancar apa-apa les, gitu kan? ini sebagai pakai safety netless, tarik dan siang gitu sambil pelan-pelan membangun ini gitu dimasamasa itu cukup melakon kan atau tergilan karena semua orang mau merintis pasti ngerasa instraggalnya lah ya apa lagi kebetulan orang tua gue kan asian paren siya, artinya ibu gue kebetulan doktor lancar gue engineer, ayah gue elektro juga kebetulan jadi ketika gue lu lu jadi kiri minta di wajah jauh poster ayah ada after sini lah ada after di ululah jadi engineer ija saya itu masa kebuhan gitu aja jadi, itu selalu jadi dilemma juga sebetulnya karena teman-teman gue ya lu, jadi engineer beri-beri di ulang teknologi apapun perangnya tapi gue disisalan my passion gitu gue gak pengen gitu dan akhirnya selama beberapa tahun pertama orang tua gue mau lihat gue apa susah menjelaskan konten-konten kita tertus berti apa ya, buat orang tua kita lihat gue ya, gak ada gak apa-apa yang gitu cuma main-main aja gitu kelihatannya tidak umlah profesi penerator dulu gitu dan terbakan masih belum ada jadi kan background, perindikan formal seperti lo ija gitu, masa modisi, siya iin gitu udah pelajar lo empatahun dulu udah x2 juga itu selalu menjadi dilemma gitu sebenernya itu yang membuat lelah gitu karena gue ngerantau, udah hernya ya udah, gue bisa menghidup diri sendiri jadi kalau misalnya kita gak mau kerja tapi masih menyusakan orang tua gue dulu, setiap gue belum nangkanya tapi setelahnya gue bisa hidup dengan diri sendiri dan mempercayakan apa yang gue pengen gitu dan sekarang apa orang tua juga sudah lebih mulai sudah dan itu bagi mana mau komunikasi kan ya tertama di awal awal gitu sampe akhirnya ya udah jalan gitu karena gue orangnya kan thinking banget gitu ya planning, perencana jadi sebagai mana-manya kita buat yang gimana apa mindset engineer aja ya engineer juga ya udah mau apa bikin flow char segala macam kan udah makanan tiap hari kan jadi gue bikin plannya rencananya terus gue cerita akhirnya tapi mau bagi mana orang tua kita kan melihat kita sebagai anak kecil mereka ya jadi dan gue lawkannya percita selalu fail tapi akhirnya gue coba ceritakan rencananya gue gitu kan perencangin seperti apa tapi juga ceritakan apa yang gue rasa enggak lo gue jadi engineer gue enggak enjoy ya jadi ketika gue menceritakan itu tentunya instant ya ada prosesnya ya berlenghan mereka mau amin sambil seiring ya akan kelihatan hasilnya pelan-pelan terlalu hasilnya ya udah nih nimpocnya juga udah bisa hidup ya ya pasti mereka punya banyak kekhawatiran sampai mungkin titik terakhnya ya ini kamu udah udah lu main lewat itu mantapkan engineer pada umumnya gitu kan dan saat itu gue ada prosesnya list buku orang itu gue kan gak tau ya konten kera turtle kayak gimana kenal buat kestern itu apa tapi penus buku masih masuk lo yang dikupalah ya di oh oke list buku akhirnya ya ya jadi maksenslah pekerjaan gue di matamorek dan ya sekarang udah manangan aja dan kita masih kebid dalam dia kalau tadi kan masih people development yang menemangan manusia itu karabung itu kan luas sekali butuh di dalamnya butuh dan lu fokus lu yang utamanya lah gitu ya itu adalah terkait produk diitas ya betul dari begitu banyak hal kaitan yang mengapa yang menemangan manusia kenapa itu jadi fokus utamal ketika gue baru pertama kali binconten sebenernya gue pinging bikin usernya gue pembelacar doang dan gue pinging bahas self-development tapi sebagai mana kreator pada omongnya bisnis juga kita kan harus tahu nis kita kan di mana gue cari itu gue pikir kreator pembelacar itu belum ah berbanyak-banyak ya kan dan akhirnya gue coba nisjau ke produk diitas terus gue cari juga produk diitas enggak sebanyak pembelacar doang dan gue kreator pada omongnya jadi ketika gue pertama mau libatkan gue lebih tajam lagi hanya membuat standang kebiasaan produktif jadi how to build a habit jadi konten gue ala semua yang tentang jamannya carabangan kebiasaan dan memang gue mau liat kita baca banyak risat banyak itu pasti dari situ ngebantu orang itu bentu habit yang produktif ya semakin maksini semakin banyak biasman yang menwakku maksini fokus kenapa gue pilih produktivitas ya karena dari semua topik self-development itu yang paling gue paham gue paham jangan di situ ya gue senang juga dengan topiknya gue jalan-jalan terus itu apa yang yang paling di antara banyak kalau itu ya pasti banyak ya yang lu terapkan sendiri juga ke daily routine kereger pertamanya sebenarnya timanya cuman karena ketika kuliah itu gue mungkin dari satu waktu yang yang paling sibuk waktu itu ya kuliah layab gue sampai jualan juga waktu itu bisnis kenajar kompetisi gue cuman jualan pokor waktu itu waskul ya ya dan usah nelaki tapi gue diri sendiri terus ya bisnis lesan jadi gue ngejar terus gue cari tukutur juga gue bayar atau ngejar orang jadi fulus kali terus dari saat itu gue udah terbiasa bakal ya sistem gak sekarang sekep orang udah pake lagu-gel kali-endari tapi waktu itu belum cuman gue tuh yang pakai jadi teman-teman gue bilang "Marik ini apa?" ya kan gue jaduh gue full banget terapi banget saat dari pagi sampai malam setiap jam-stiap setengah-stengah-jaman itu benar-benar terhatan kan ya ya gue lo kalian gue tak aja dulu gue ini oh bisa gitu ya aja rindom dari sini itu gue coba share yang keteman-teman dulu ya belum ada lah modul-modul kayak suka orang itu yang terin yang rapi ya udah share dulu ngajar ngajar yang temen perlahan-gerasa oternya sebetulnya yang gue kira semua orang pasti udah waktu itu nggak juga ya terata ada lo orang yang bisa dapat manfaat dengan apa yang gue share ya udah perlahan-gerasa waktu kuliah juga beberapa kali bikin share yang sesuai kereta-teeman cuma ya bikin kadang-kadang jadi pengisi semuinar ala-ala-ala-alama siswa gitu ya dari situ yang menjadih pemicu oke, kayaknya gue bisa abah sinyal-bih luas apa kalau ini kayak pertanyaannya basic banget tapi untuk menahsikan kita semua sebelum maju kedepan aurolannya punya paman-aman yang sama wadahs itu main-tujah produktif produktyv itu apa ya produktyv itu kan sebenarnya dari kata produkci-produk menghasilkan dan ada hasilnya jadi biasanya kita definisikan produktyv itu kalau kita menghasilkan sesuatu menghasilkan ini nggak harus uang bekerja itu produktyv kenapa dia bisa masalah uang belajar itu produktyv karena masalahkan ilmu dan manbaru dalam diri itu berkarya itu produktyv melalikkan ada satu ide kegesan atau karya yang kita buat itu jadi apa pun yang kita rasa masalahkan dan berantah-antah buat diri kita orang lainnya itu produktyv maka aktivitas kita bisa kita nilai ini banyak yang produktyvnya atau sedikit kalau menghasilkan berarti sehan lainnya gue bermalas malasan itu itu bisa nggak dengan definis itu gue bisa bilang "wa gue sangat produktif dalam membuat dalam menghasilkan rasa negatif rasa kaya ingin nggak berguna atau kaya gue "wala saya menggunakan karena gue memang sefalasannya." Nah, itu sesuai nanti kalau sudah ten nomor satu ya, definis itu masalahkannya nah, itu nanti yang nomor 2-3 yang nomor 2-2 yang efisien, nomor 3-nya efisien, artinya kita melakukan sesuatu dan waktu yang lebih sedikit contohnya, efisien pada umumnya ya, itu efisien sesuai dengan gol kita atau nggak? maksudnya, kalau gol memang ingin punya rasa itu itu, itu, itu, itu jadi kita checking ke-outcome kita aja, gitu ke-outcome kita harapan atau nggak? jadi artinya, kalau yang contoh gue bilang tadi, seri-kali orang tanpa sadar, memproduksi si negatif tadi itu, tapi tanpa sadar ya, gitu. walaupun bukan itu dia mau, sebetulnya. tapi sering kali orang, juga belum tahu sebutnya apa yang mereka mau, bener-bener, kalau gue bilang. ya, makanya susah produktif untuk orang yang bukan belum tahu, maksudnya belum, produk siapa kan, betul kan? lu banyak yang menemukan spart ke tui ketika, oke, dalam coaching, atau dalam minor, atau dalam correct apa pun, gitu ya? yang taknya tadi belum tahu apa yang dia mau, begitu. sering sekali, dan walaupun macamnya, alko cing, mau tentang apa, - Maksudnya, "Okey, lu mau waktu lu buat ngapain sih?" "Nggak tahu, ya udah kita menduruh lu nih gitu loh." Jadi lu ga bisa langsung belajar tendangan sabuk hitam, kalo sabut putih, kondingnya belum tamat gitu. Jadi kita tak setiap bag dan bahas itu apa sih sebenarnya yang lu ingin-ingin gitu? - Jadi yang pertama, di cari soal produktivitas yang ingin produk si itu apa? - Ya, gitu kan, apakah tadi, cari tertentu, gaga tertentu, apa rasa tertentu, betul-betul bias ini ya? - Betul. - Soal nggak pertama-nya adalah beclear yang jelas sama apa yang mau lu hasilkan. - Yup, betul. - Nah kemudian tadi, lu sebut menyentuh soal time management sebagai salah satu hal yang kalo kita baik jalan-hal moment waktu itu logikannya akan membantu kita untuk bisa menjadi lebih produktiv. - Tuk. - Disisilain, feeling good nih. Kayaknya bukan soal time management doang. - Itu, kan, banyak, kan? - Apa aja? - Ya sebenarnya gue bilang bikin gambar main-main, dan itu 2 sekali gitu ya. Jadi biasanya untuk memudahkan gue bagi ke 2 tadi dulu, namun satu kan produktivitas sebagai defisi. Terstitutnya 2 efisien dan 3 efektif. - Membedakannya gimana kalo biar orang kadang punya interpretasi masalah singga. - Dan seniknya kebalif juga. - Jadi lu menjelaskannya kebalif. - Jadi efisien itu gimana caranya kita gunakan risau lebih sedikit, untuk hasil lebih banyak. Ada yang unkit di sana. Salah satu konteksnya waktu, gimana caranya orang kerja 3 jam, kita cuma kerja 1 jam, tapi hasilnya sama. - Or sama-sama kerja 1 jam kita bisa generasi yang lebih, itu masalah efisien. Nah kalo efektif tercapai, gue liat diinginkan. Jadi kita punya gol outcome, itu bisa tercapai, itu nanya efektif. - Kalo efisien itu berarti pasti efektif? - Belum itu. - Bisa efisien tidak efektif, bisa efektif tidak efisien. Senterai kita butuh 2-2nya untuk produk. - Kalau contoh efisien tidak efektif itu gimana? - Contoh. - Enya efisien mercanya. Bisa bikin laporan, laporan kewangan, misalnya kerja 1 bikin laporan kewangan, orang-orang bikinnya 3 jam. Dia bisa bikin 1 jam, beres, ya kan? Dia bikin 1 jam, 2-3 jam, tapi ternyata gak sesuadengan yang diinginkan, terakhir hasilnya gelak itu. Jadi efisien cepat ngerjainnya. Apabila yang bagus hasilnya, efisien tidak efektif. - Oke, oke, oke. Gue balik ke tadi, makanya ternyata yang menatikin jadi penting. - Nah jadi kalo yang efektif ini, nanti, ya cabangnya ada, ada gol setting, ada gol kita, tahu lef berpos kita, yang populer sekarang dengan iki-gai. Jadi berbagai hal yang terkait dengan tujuan dan target, biasanya gue mulai dari sini dulu, semantara kalo yang efisien, itu yang biasanya gue cabang kajer 3. Senar cabangnya dimalian lagi, tapi umumnya 3. Itu bagaimana kita pertama management waktu, yang kedua kita management energi, dan yang ketiga kita management focus. - Waktu energi, setelah tahu apa gue, gitu ya, management waktu, management energi, dan management focus. - Waktu itu tadi kelihatan, jadi di luar yang terlalu terlalu, bagaimana mengelok itu, ada agen yang terlalu, jam scan-bajian, gue mengelokkan ini, maka dia terus ya. - Betul. - Dan memang bener sih kalo gue begitu-betul lagi, kadang gue juga pernah, udah mengaginkan, tapi saat di waktunya, energinya pas lagi lo, gitu kan. Sehingga hasilnya, jadi tidak seprodukting di mau padahal, dari 10 menit, udah oke gitu. - Betul. - Aluh boleh terita ga, mana energin-menit, bener-bener. - Banyak itu ga ya, kayak gitu ya, artinya kita udah plan waktunya, tapi energinya udah abis, ya, sayang ga yang tadinya bisa bersa-bersa, dia malah, ga bereskan dalam satu. Jadi energi banyak yang perlu kita management saja, tapi biasanya gerbang awal, ngerjivisi. Karena kan nanti ada energi emosional, mental energi, tapi gerbangnya itu, energi visik, yang mana? Simple kita bener-bener, 3 pilihan energi visik, matanya terlalu trisi, tidur atau isterah, tenuh warna ga. - Oh. - Jadi kalau india ga bener aja, 80% masalah energi, mencuman-mencuman soal flas bener-bener. - Hmm. - Nah jadi, kita ga ga, ga nonton cek aja, gitu. Apakah kita udah emangkan dengan nautursi yang bagus atau ga? Jadi, gini-gini, kelihatan-kelihat luat banyak layang situas terus tidur, terhadap cukup atau ga? cukup secara kuantitas jamnya dan kuantitas tidurnya. Dan banyak orang tu ya, tidur cukup, takut ga berkuantitas. Dan Allah raga, gitu. Ini di managed rule, gitu. Itu untuk manajaman energi. - Oke, kalau en 20% ya? - Kalau en 20% ya, ada lagi energi. Menjagkan energi kita, apakah kita bekerja di environment yang, kita suka atau ga, terus emosional energi, kita apakah, kita ga giri masalah, hubungan dengan soarang, kita juga perlu gisol, gitu. Tapi ada kalahnya orang bukan sejarah fisik sedang capek, tapi dia bisa punya energi untuk yang mungkin ga terus trusansi memang. Tapi, untuk seteng period waktu itu. Apakah itu artinya ada kalahnya yang rakyang yang sekolongis lagi yang mental gitu ya? Itu ada kalahnya itu bisa takeover juga, gitu. Bisa takeover itu, tapi ga ada lemok tu yang lama. Jadi sebenarnya, kita bisa hangup energi kita itu kayak baterai aja. Artinya, udah capek banget ya, tapi bukan 0, masa ada 20% ya, kita masih di pakai. Tapi pada akhirnya, kalau kita apak sayang, kita kerja ketika baterai kita nol, ya udah stress dan bernaul, kan? - Ya, ya. Oke. Tadi ngesok al tidur, tadi nge-tidur pun, tidur lama, tapi belum untuk kualitasnya, kalau kualitasnya ga bagus, belum terus hasilnya. - Buat itu. Sebay kengketamau gitu, kan? Biasanya, kalau dari lo plajari, fanya bapunnya orang bisa tidurnya sudah lama, secara kualitas jamnya. - Iya, betul. - Tetapi dari sisi kualitas tidurnya, terakhir, masih kurang, serenda. - Jadi lebih sering orang, bahkan kualitasnya pun, ga cukup, ya, biar nasi. - Iya, kan? - Yoti. - Nah, jadi, sering sekali, kerjadi ini udah yang disop. Tapi kalau masalah kualitas, macam-macam banyak sekali, ya, bisa jadi memang, atika tidur tidak dikondisikan sesuai dengan charit jariampas, sebaik contoh. - Iya. - Tidur dengan lampu dimatian, lebih bagus daripada tidur lampu terang. Sangat contoh, gitu kan? Terkain juga dengan suara, berisik atau ga, aroma juga nanti umpaharuhi, bahkan gir tidur, asur bantal, itu juga bisa ngaruh, gitu, kekuantas tidur kita. Nah, kemudian bagi mana banyak pikiran atau ga juga semuanya kan berpengaruh, jadi, faktornya itu, number of factors, dan kita harus tekni, yang kita masalah itu yang mana, sebetulnya. Jadi kalau misalnya, oke, ini kita, awatin-awatin, awatin-awatin kalau misalnya udah kita, ya, tidur kita perlahan-lahan, jadit lebih rupualitas, gitu. - Gue nanya, lu dalam penerapannya, apa, tau? Boleh ga lu, kerita, kayak day-to-day lu, gitu, daril lu bangun tidur, sampai lu tidur lagi. - Alright, jadi, kalau gue sebetulnya, kan, keren jenian bebas ya sebenarnya. Jadi, bisa gue atur sendiri. Gue biasanya mulai, ya, bauan subuh stander, gitu, kan. Kalau dihan, Morning Routine, set of morning Routine, set of morning Routine, set gue sebenarnya cukup banyak juga, baru, mulai gue start kerjaan di setarjam jalan 8 jamas 9 pagi. Nah, di set of morning Routine, sebuah itu, ya, ada termasuk, macabuk, meditasi, jurnaling, malah raga, singkat, jadi itu semua ada disana, lu. - Itu, itu rutitas, tuh. - Itu rutitas, itu. - Balu kerjaan gue, ya, udah, dari jalan 8 sais nul, biasanya ada meeting morning, tapi sempat sampai jam 9 sorry, ya, beda-beda, tiap hari nya, ada hari yang khosus meeting, ada hari khosus shooting, kerekaman, ada hari yang, biasanya gue penuhin dengan coaching, ada hari yang gue bikin model training, jadi, bisa beda-beda, sebetulnya. - Tapi yang sifatnya, bisa di bilang Routine, taslah itu yang dipagi. - Yang dipagi itu. Sama gue jaga, gue tidurnya, jual-jual waktu itu. Jadi sebenarnya, yang paling pertama, kita tanya mana-mana cuma, lu harus masukkan dujatwal tidur, bukan jatwal meeting. Kita ngejatwalin meeting dong di calendar, tapi kita ngejatwalin di atasnya waktu, untuk kita olah raga, untuk kita tidur, itu sering kali kita lupa, kan kan? Senangnya kita gak rasa, ya, ini gak terlalu penting, lagi kita lewatin, gak masa, tapi kalau kita gak anggap itu penting, kita mau anggap penting ditandai, dengan kita memasukkan yang ke calendar. Kalau kita anggap penting, ya kita kan jaga itu, bahwa waktu yang penting, untuk diri kita. - Very interesting. Terkait tadi lu punya morning routine, ada beberapa tadi lu bilang, termasuk tadi, mau ada buku, terus meditasi, luar raga, di awal, itu buat lu sulit gak membangun habit-habit itu. Membangun itu sebagai habit. - Mertil, sulit banget gitu. - Apa yang paling sulit kalau lu liang darati, beberapa hal tadi, apa, dimording routine. - Yang sulit itu, yang gue bentuk alah raga. - Alah raga? - Lari lagi, ya itu. Sekarang, karena gue udah gantinya, jadi ngajem, jadi gue gak ngarutin lari lagi. Tapi dulu, lari lagi, termasuk yang sulit, senar tergantung ke durasnya, luktu berapa lama, ifort kita yang berut, berapa banyak ifberkan. buat gue luar, itu termasuk ifort gitu. Jadi, ketika kita mau bentuk moring routine, biasanya tipsnya, jangan bentuk semais kali-gus. Tapi habit stacking satu persatu kalau terbiasa tak buat satu lagi, tak buat satu lagi. Apa yang membandut lu? Apa yang ngolah-ngolah lu? Boleh ekon system ben? Satu 3-geru untuk bisa ngelakuin marting-ngoluh tindan baik adalah baman tupat waktu. Salah satu teknik yang gue lakukan adalah habit contract namanya. Jadi tekniknya gue bikin sebuah suara perjanjian, peneran gue ketik benar-benar gue tulis. Ada 2 halaman persisnya, gue bikin perjanjian dengan temen gue yang gue percaya. Gue bakal bilang, coj gue bakal bangan setiap jam, angkala jam 5, setiap jam 5 dan gue bakal pereka lu. Dengan foto in, jam gue di pagi hari. Oke, perjanjian ini selamat 35 hari, setiap satu hari gagal, gue bakal langsung dendah 3 perdibu. Terus kita tantangan secara digital doa doa aja. Ya udah dengan cara itu kan gue jadi punya penyapuan nge-kalus. Gue ga berhasil panggung pagi dan ngolakuin marting-ngoluh tindan. Itu bisa ngobentu kebiasaan, gue saat ini gitu. - Awal lu gue bakal lagi, menurutnya? - Ya makanya cara temennya kita percaya. Dan akhirnya, pas gue bentuk habit-baca gue juga bakal itu dari 35 hari gue gagal-sari luang. Tapi beneran gue bayar, tapi itu lah yang bisa bikin punya habit sampai sekarang kan. Jadi pakai cara itu satu kita punya kan tablet-te partner. Jadi kalau misalnya kita ga ngolakuin kan kita dicap temen kita dan karena itu dia ga akontabel kan. Dan yang kedua ada panas mentadi gitu yang menyakitkan buat kita sehingga kita mau ngolakuin. Terus nih, terus nih. Gue lagi ngeri tadi ada manaj velok itu enther di fokus. Ini yang mau saya gini-gini gini-gini pas berkaitannya. Untuk fokus itu kan gue tuh enther gini juga. - Betul. - Atau mungkin pemahaman menajver fokus dulu kali sebelum masuk gitu. - Oke jadi ada orang yang udah mencua waktu udah enther dengan baik dan udah disediakan waktu nya dan innerinya ada. Mulai yang mengerjakan ya kan. - Tek, tek, tek, bernyata. Cek, ada lu ga ada lu nonton ya kan. - Nah harus kita lihat dulu ya. - Tahan pas ada lu udah buka ija ya. Terus dapu kata ikut kata jadi ga bisa fokus. Nyelasain tugasnya gitu kan. Yang tadi dia mau cek lima menit dong, malah jadi lima 11. Semuanya lima 10. Jadi ketambilan kita untuk fokus, artinya kita bisa concentrasi penuh. Menyalasai kan apa yang mau kita lakukan dan tidak terdistrasi oleh hal lain. Biasanya gitu untuk fokus. - Jadi jah sudayan begini ada dan sampai ke startup sama hal yang bukan ketama menurut hasil kan. - Hati-hati. - Moket itu. - Oke. - Apat mungkin ada tips atau metode yang gue kayak metode sekali-kita banyak pasti. - Ya, banyak. - Mungkin dia bisa lu share gitu. - Alright, jadi yang mungkin gue share dua yang pertama udah juga. Kita mencoba menghalau trigger-terneger external dulu dengan cara hackbait dari awal. Jadi kalau misalnya lu tau handphone lu bikin distraksi, matiin, matiin notif, dunaudi, setelah airplane mode. Kita kan simpen di laci banyak lacarannya. Apalagi yang bisa mengganggu, ngorelain yang mengganggu kita, misalnya kita pakai masalah yang selinghat. - Dan kasih tau kalau gue pakai ini jangan diganggu dulu, jadi halau dulu semua kemungkinan potensi trigger external untuk distraks. - Ini perlu di list dong gak sih berdua listernya lu. - Di idendi dikasih kayaknya yang jadi berpotensi untuk menistrakuan A, D, D, E gitu. - Ketimang disini doang kita kayaknya. - Ga boleh, ga boleh harus di list. - Ga boleh di pikiran doang harus di list. - Oke, nah. - Terakhirnya masih-masing kita cari solusinya. - Ya. - Jadi yang berkawan-kawan dari eksternya. - Nah yang kedua trigger introl yang sebutnya lebih sering terjadi. - Ya, itu buka hentphone kita terkadang, ga ada notif, ga ada pingin, keliang kita pengen buka aja. - Kita kan balah di harus di kekerin, kekerin, kekerin. - Sering terjadi itu. - Jadi caharannya selain tadi kita sinker kan. Kita bisa membuat distraksia nge-shit atau lembar distrasi. Jadi kita pakai satu sticky notes, sambil kita kerja, kita basang satu sticky notes satu warpendi sini. Ketika kita bawa kerja kita teringat sesuatu. Oh, gua belum balah sepasan sih si rudi tadi. Oke, tulis, balah sepasan rudi. Jadi ide nya itu ga hilang. Kadang-kad ada ide brilian, ga? - Hmm. - Kalau ga kita exekusi suka lu, Pak. - Hmm. - Tapi kalau kita exekusi kita terdistrasi ga kerjain. - Ya. - Ya maka simpan itu di parking lot, cahar-tentad di. - Hmm. - Oh, du. - Kadang-kadang belum bersehnya cipiringnya tulis dulu cipiringnya. Apa pun itu yang terjadiin terselampi kerjain kita yang mendistrasi kita tulis di lembar distraksi ini. Sehingga dia ga ngangguni dalam piri kerjain kita tetap bisa fokus. Kalau udah beres, baru kita review, oh, tadi apa aja sih yang setiap kerjain? Nggak, barulah, huang. - Gue teri, itu gue teringat sama bukunya David Allen. - Getting things, dan itu. - Getting things. - Terima kasih, Pak itu jangan dipake buat mengingat. Tapi dipake untuk. - Orbeekir, untuk. - Orbeekir. - Sudah kayak, kalau kita mengalakan untuk mengingat, posibilit untuk lupa itu dan kelewat. Jadi apa pun, sebegitu, apa yang pun perlu diingat bukan diingat. - Aduh. - Tapi itu list, gitu. - Terus, itu. - Eki rannya yang paling jelaskan nih, sekali pun akan kalah sama cetakan yang kita bikin. - Hmm. - Jadi lup. - Oke, oke, oke. - Menarik, dan boleh nggak ledirita David, kalau nggak beratkan mungkin pengapalikasiannya pertama ke diri lu sendiri. Satu hal yang lu merasa gila ini, dan bahwa signifikan banget perubahannya gitu. - Hmm. - Mungkin itu dalam hal-hal apa, gitu, dan apa yang dilakukan. - Oke, favorit gue masih sama sih yang mau buat segala hal-halnya, ketika gue membiasakan mencari walkan setiap lagi yang dah gue di kalender sejak gue kuliah dulu. Bahkan ya, OTW di jalan, makan siang, ya gue taruh semua gitu. Jadi sadital itu, sehingga semuanya tuh, strabzer gitu, ada disana gitu. Eh bahkan kalau gue ngelupin main game juga gue taruh main game gitu, jadi segala-lagalannya, apa pun yang saya tering tas ya itu gue akan taruh disana. Dan sampai sekarang gue bisa menur gue yang juga produktif, milakhsai kan kerjaan-kerjaan gue dengan baik. Dan punya banyak waktu juga untuk diri sendiri, untuk main sama di gue keluarga, dan itu menur gue enak banget sih, jadi gue punya kontrol yang sangat tinggi terkait waktu gue sari hari. - Eh itu mungkin saat ada yang jasin, ada yang mendengar apel lo sampai kentadi. - Tapi kok jadi kena kagu banget ya gue, diri ke semuanya keada flexibilitas gitu. - No real, karena kalau misalnya gue pengen, "Uba ya udah uba ya, udah uba ya." Simple itu, dan enaknya kita punya kalender digital, kita tinggal, "Drekendrop" ya. - Kalau kita masih pakai kalender fisik, kita harus hapus kecoren. Ya udah, sekarang gue misalnya, "Okey gue lagi sofokus, gue lagi gak main." - Yang kedia gue punya main, "Okey ini bisa diri-sialah ke pas kejul ke pesok, ke nanti malam, sini gue taruh, tambah block, main misalnya." Jadi tetapnya tuh yang punya kendiali terhadap jatual kita, kan kita bukan robot juga yang di program, akan melakukan sesuai, yang kalau perubah tetap makin flexibil. - Dan itu yang sangat merasa signifikan, - Norgu itu sih, yang paling kaku dari tetap. - Oke, oke. - Dari pengalaman lu begin, saat lu dengan klient-klient lu gitu ya, saat coaching atau saat lu apa-apa, yang paling sering lu lihat, sebagainya tangan utama orang untuk produknya di antar beberapa hal tadi. - Iya. - Itu yang mana bisa? - Yang sering sekali menjadi teragel, semingguh halur, aja ya konsisten itu paling susah. - Itu yang paling sering ngarang merasa, oke, gomar gue bisanya produktif tapi, harif pertama sama hari ketiga aja gitu kan. - Maksudnya kita resolusi awal tak, kan kan? Harif pertama semangat banget, harif lu masih semangat, harif ketiga, ada muda-mudah lu masih yang berlalu, ada yang pesminggu, ada hilang tuh, habit yang mau diwantuk, itu paling sering gitu saja. - Dan apa menurut lu yang paling sering menjadi, pemicu orang konsisten itu mengurut gitu-dua, karena kita tidak merancang, apa pun yang mau kita bangun, perusahaan cara otak kita bekerja, biar-biral, cyclej ini, urus ayat, karena banyak orang nggak, bener-bener serius ketika gue punya habit disini, merancang habit yang mau diwantuk, itu. Jadi karena gue belajar itu, apa habit yang mau dibantuk, baca buku 30 menit, tiap hari udah hebil udah salah. Bisa secepat itu tau kenapa, karena orangnya tidak terbiasa buat cipku, mau bentuk, buat habit baru 30 menit susah. Mungkin kalau sekarang udah popular oleh atau make habit aja, misalnya, kita ganda poro habit yang carles luhi, kalau lu baru mau mulai, coba gue challenge low, baca buku satu lombar aja minimal tiap hari, kalau mau lebih boleh, tapi memang satu lombar tiap hari, foto ini ke gue, udah 2 minu terjadi, dan bisa baca 30 menit selah itu. Jadi teknik micro habit kan, buat habit yang kecil dulu. Maka kenapa salah satu spesial sego di habit coaching, ya sih habit disini. -Makasih, itu yang ada gitu. -Watuh berapa orang, masalahnya, benar-benar terbesar. -Senggak harus dikecilin. -Batuh berapa orang, terigernya nggak jelas. -Teraal besar itu artinya, gapnya dengan dia sekarang. -Betul. -Watuh berapa orang, kurang riva rambutnya, jadi menemukan itu yang akhirnya menjadi puzzle. -Ini lo solusi buat lo, sehingga ketika kita buat sehabit, banyak sekali, solusi yang personal, apa isk itu. -Solusinya personal, sekarang dari orang-orang yang menjadi situasi dan entangannya bisa beda-beda. -Saya terlalu merasuk. -Lepas itu, sekarang ini, fuul-kain belum langwon. -Sempat terpik atau tergoda untuk melakukan mungkin berkarin dalam hal yang berbeda. -Nggak, di sovetulnya ya. -Tarulah apa yang dikarit itu? -Sympil itu gue pikirnya. -Pernah temen gue nanya. -Marlo kerja sehari berapa saja. -Teraas jawab gue, nol sampai nambles. -Artinya kalau gue ingin, gue libur, udah libur gitu. -Udah bisa kambil tanggal meraah, dan gue bisa pengetahin tas-tas gue ke besok. -Aker, lu harga, "Wa, ex-citing banget, gue seneng banget dengan project ini." -Udah gue kerja nambles jam dari bang, sampai tidur lagi. -It's possible. -Kabibasan dan keluasan itu menurut gue sangat mahal harganya sih. -Ego kenapa gue perjuangkan, kenapa gue ga ingin kerja sama orang, gue bikin jadi buat diri sendiri. -Kabibasannya itu sih yang ngeru gue mahal. -Kalau gue tanya semangal, gue hidup adalah. -Lalah-lalah kita. -Tidak, kita buat lu apa? -Interesting. -Bud gue hidup adalah. -Monik mati setiap hari nya, semuanya mati setiap. -Ohh, itu ngaruh. -Testiap ngaruh. -Dekini selu untuk bisa menikmati. -Kalau-kalaan kanan-kanan mati beda-beda ya. -Oitu. -Kalau lu seperti apa? -Helgar gue. -Yum buat lu merasakan, bisa menikmat itu, kesat-apaket. -Jadi-jadi. -Menurut gue bilang kebahagian itu dari 3 level. -Ohh. -Yum pertama itu buat lagi kenikmatan, -pleasure. -Pleasure, kenikmatan, ketika makan makan enak, ketika dungan, jalan-jalan, dan mendapatuang banyak ke-pleasure. -Ohh. -Dakin, supaya yang besar orang ya, stop level ini, benar-benar ke piram idle. Yang level kedua adalah joy, kekembiraan melakukan apa yang kita suka. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Uhh. -Rasa ketika jitan alakan sesuatu, ada makanya berwarna fat buat orang lain. -Uhh. -Dakin di kerjaan gue sekarang, di kargue sekarang gue punya inkam yang gue, gue sangat lebih dari cukup, gue bisa ngelakannya apa yang gue suka ini, gue kayak orang metfut saltya hari, gue ngisi gini, gue ngeajar, gue ngisi training, seru bat parah gitu. Dan yang gede, bermakna gitu. Banyak banget yang komen, yang kira yang gede, yang banget, gue banget buat podcastnya, dischange, monghila, gitu. Dan ini tuh regular datang, gitu. -Uhh. -Singga ketika 3-3nya nih cantang, gue tuh hidup. -Uhh. -Loh, ada rencan untuk pensin, jadi umur berapa gitu? -Seratus, kan? -Uhh. Gue tak mau pensin, kan? -Tah, kan? -Yah, yang mungkin orang tau, masih o fire, gitu ya. Ya, bener gue, konsep pensin itu bukan berhenti dari bkerja, tapi punya keluasan untuk bisa tidak bekerja jika mau gitu. Tapi kalau misalnya, kerja, gini loh, karena, banyak sekali, konsep konsep yang jadi irrelevant. -Oh. -Sat kerjaan gue tuh, bener-bener menyenangkan, menggambirakan, konsep work-lef-bel sih, di dalam masuk akal lagi, kan? -Rah, ya. -Rah udah integrative, gitu. Terus konsep pensin itu juga, yang gak masuk akal lagi, itu kenapa pensin, gitu. Ketika, ya, karin kerjantu jadi, karin kita senang, jadi bagian dari hidup gitu. Ya udah, wah, ya kenapa harus pensin? -Ya, kan? Jadi, ketika itu panggilan gitu, gitu, gak maksens, -Maksens kan? -Betul. -Konsep itu akan relevant untuk sebagian ser orang, itu yang kerja, ya, capek gitu kan, kerjaan terus, -Tidak. -Tidak. -Interest, ya. -Uhm, dari sepanjang perjalanan lu, sejauh ini gitu ya. -Mhm. -Yang, menjadi tantang-tang terbustaran yang pernah lu ada, ya, apa, kalau boleh siar? -Tantang-tang terbustar, ya. -Segjauh ini. Gue ya, kenapa lu masih ada tantang, ya, -Ya pasti ya. -Sunai kalau yang paling bergesa, lakadika merintis, ketika, -Tidak ada siapa pun yang percaya sama yang mau gue bikin, ketika gue harus berjong sendiri, ketika gue posting setiap hari, tanpa ada hasilnya, ya. -Ohh. -Polehnya cahaya, coi. -Ya kan? -Ya, lu ada reksport kayak asa gitu, seharam, pereksku udah hampir reksport 500, terus postingan udah 2000, ya, tapi en, awal-awal lu bikin podcast, terus bikin episode, terus bikin postingan terus di Instagram, kalau ada hasilnya, ya, ya, itu itu yang paling apa ya. -Ya yang bisa dipegang, yakin bahwa ini ada hasilnya nanti aja, kan? -Apa yang membuat lu yakin dan terus? -Sunder poin pertama, yakin itu penting. Tapi tanpa ada ini, gue punya satu bondasi, ini seru wargian ya. -Uh. -Neh jadi, dua itu sih senjatanya, ya, yakin, karena udah banyak contoh-tontongnya juga, kan beberapa yang berhasil, gitu. Polong banyak juga, tapi kan ada beberapa contoh yang berhasil. Itu yang bikin gue yakin. Tapi, sebenarnya satu gengjata lain lagi adalah, seru aja gitu loh, ngelakuin ini. Jadi, ya udah nggak dibayar juga. -Gepah apa gitu kan? -Gepuin lakuin terus. -Uh. -Anda nggak mau men dimanalo. Lu kan, waktu itu kan, harus sambil beritis loh, penghasilan lu bahas dari, somber lain nih. -Oton. -Makan, sedakan ini, tadil lu belum cukup lama nih. -Oton. -Untuk, bisa dedikan penghasilan, harus menghasilkan syarat penasih apa lagi, dedikan penghasilan utama, gitu kan? -Oton. -Ada nggak mau men dimana? Apa yang ini jadi sampingan aja ya? Itu kayaknya gue, karena kan masih belum menghasilkan syarat cukup nih, atau bahkan lu sama sekali lu dulu. -Semper terpikir nggak gitu? -Nggak sih, karena dari awal mindset gue, yang tadi tuh, penghasilan utama gue di awal, uj, ga najar lahir-lajar pipan. Maksud gue itu kerjaan sampingan, walaupun dia menghasilkan utama. Jadi gue udah, karena mindset dari awal, ya kerjaan utama gue, jadi kreator dulu. -Uh, -Meskipun itu penghasilan, -Pakasinan, -Pakasinan, -Ohh, ya. -Jadi yang mana yang jadi penghasilan utama, beli bentu menjadi pekerjaan utama. -Gitu. -Ohh, oke, benar, terima kasih, benar itu. -Keren beda kan jumlah waktu energi perhatian yang kita berikan ke yang utama dan ke yang sampingan. -Dan RTF, yang tergi yang besar belum tuh penghasilan utama. -Yas. -Adang bisa RTF, yang tergi kecil, kalau kita tahu, kita bisa menghasilkan penghasilan utama. -Yas. -Yai, itu lah, -Fizien sih tadi. -Ya, ya, ya. -Bernarik. -Bernarik sekali. -Thank you. -Dari, -Ohh, -Wa, thank you. -Kita yang Thank you semua. -Dari, perjalanan sejauh ini, ke depannya lu, ada ga, -What's your dream? -Ohh, oke. -Banyak ya, -Of course, ya, setiap orang punya-banyak Google -dan, ya, -Bisice matrix, -Betul, -Betul, -Bisice matrix, -Betul, -Sekian-sekian, -Sekian-sekian, -Tetuh, -Bisa kita, -Bua kita, -Tetuh, -Tapi, -Gol gua sungguhnya, -Selbetulnya adalah, -Bisa bikin substituasi darbundikan format. -Di, kalau misalnya start-up, -Untu punya visi gila, -Visi gila gua adalah, -Maniadakan sekolah di Indonesia. -Rah, jadi, -Bisa punya ke-12 air saat baik, -yang dibunuhkan untuk hidup, -Tanpe perlu sekolah-sakali. -Hidup, apa-apa, -Hitup, -Simpil tahun nanti, tapi ya, -Dekinisi sekolah-sakar juga, -Dekinisi sekolah-sakar, -Sakar ini, -Pada emumnya. -Dan, -Sejauh ini, -Arti-nya, -Bukan berarti, -Gol gua kontrad dengan sekolah, -Nak gua serah 100% tidak akan sekolah, -Bukan juga, -Bil, tapi kalau tidak pun juga, -Nak usah, karena, -Yang gua rasa sangat penting, -Pen dikantu di transform, -Yang bukan hanya, -Bedang materi, -Tunggu basic, -Tunggu tapi, -Bagi mana kita, -Marancang segal selalunya gitu. -Karna yang gua bikin, -Ini merua life skills, -Ini merua temen-temen life skills, -Bagaimana, -Maniasih energi, -Focus, menjok kebiasaan, -Cara bejar efektif, -Semua program-program gua itu, -Life skills gitu. -Saya nggak semua orang bisa, -Undapat ini, -Yang merua lebih relevan, -Dibandingkan yang, -Plejaran-pelajaran spesifik, -Bidang tertentu aja, -Gelaka FIS X, -Kamistri itu kan, -Bidang tertentu saja. -Tidak. -Eitu, -Impi yang gua, -Semutulnya. -Dah, -Punyak kebiasaan, -Muntuk, -Terus kegelakwin apa yang gua mau, -Sesebun, -Tapi, Kalau tuh demoktrans dulu belum anyah Dakan Etaurin Itu hip-j程 seperti jadi弊is visadora nya,退 Eun humming 銬 Graphen Terus bahaya kamu masyarakat, kita bisa berdalam kota-kota bahaya kamu bahaya kamu ke luar kita juga. Itu terus dalam proses mereka belajar dan bertemu separi apa yang ada di visi loh. - Gue nggak beritulis di detail itu, tapi bahaya yang gue mungkin bisa aja dia ada tempat center-center untuk berkumpul juga tapi yang utamanya sebagian besar proses learning bisa dari platform, web satar belikah satu apapun caranya atau metafors, dan yang diperlukan adalah bukan lagi guru-guru, sebutulnya. Tapi coach-coach yang agar untuk mereka, atau fahas-selatuh atau apapunlah namanya sehingga yang memang diajarkan skill-skill yang butuh diutuhkan buat hidup. Yang paling bukulkan sekarang personal finance semua orang bicarain itu harus ada di sekolah, ya kalau yang namanya itu nggak diajarin itu, jadi kita transform itu dan gue bikin dari scope yang kecil dulu kan, bersama yang lama semakin luas gitu, nggak tahu kan, visi gila itu akan terwujud. Tapi yang nor gue asensinya bukan kapan gue bisa meraiisi visi ini, tapi bagaimana, seungrhin gue ngomong perjuangkan apa yang mau gue raih. - Jadi ini itu jadi kayak sesuatu yang bisa berfungsi seperti bahan makar lo gifiling you, tetep menginspirasi untuk terus bergerak gambar itu gitu. - Betul, enggak merik. - Jadi bicarain itu, sebelum situ, selalu gagal sebetulnya, tantangan sudah ketebas. Jadi kalau bicarain itu, selalu gagal dan sukses gitu, lu ngetegakkan seperti apa dan sukses-seperti apa. - Betulnya, agak sulit juga, kalau gue mendekniskan di moment apa gue gul dan di moment apa gue berhasil. Kalau secara definisi, gue pernah, ketika SMP mau merantau SMP ke sebuah sekolah favorit dan gala-lolo, si ada gagal gitu kan. Gak sukses, karena gue ketrimadit, tapi kayaknya nggak seraja itu deh. - Jadi, - Itu buat lu, recemer. - Kalau menurut gue, gagal sukses jadi iralavan gitu. - Iya kan? - Terus, ya udah gue sekolah sih, ya udah, ya udah, gila gue di sini, tapi ya, life mask go on kan, ya gila aja. - Iralavannya karena. Gue bukan sebuah, mau mengguncih gitu kayak. Of course kita belajar dari gagalan gitu kan. Of course kita belajar dari keberhasilan kita, tapi gue nggak, selesai kalau di dayari atunjournali itu tidak begitu tercatat. - Ya, sebenarnya. - Engga tidak cukup signifikan untuk lu, untuk mencatat itu gitu. - Iya. - Karena sesuatu yang kita tulis di dayari, biasanya kan setiap menurut kita tuh signifkan. - Kan untuk sampai akhir bitulis gitu. - Iya, buat lu itu bukan signifikan. - Bukul karena kita bisa melihat sebagai sebuah hasilnya. Kalau misalnya kita bilang sesuatu tuh gagal, berarti kan sebuah hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita ingin, kan, benar gak? - Iya. - Jadi karena menurut gue orang yang fokus tu processnya, alright, gue lu oke, apa yang lu pelajari, ya aku setelah dia gue harus ngapain. Jadi ya, maksudnya terus. Dan sukses gue juga gitu. Oke gue sukses mencambai maybe start shrimp for all. So oke, lah gue apa yang gue pelajari, setelah prosesnya, dan apa yang gue lakukan terus tuh, sampai ke luar shrimp, dan setelah dia setiap memanjang gagal sukses di kacam mata orang lain. Menurut gue itu, titik-titik yang gue laluin aja gitu. - Iya. - Udah. - Udah. - Kalau, oke, sekarang gue mau tajem nih beberapa hal. - Iya, apa hal. - Terifial lah gitu ya. - Oke, sure. - Lo tadi kan belang lu setiap hal lu, macam buku. - Iya. - Sejauh ini, kalau gue tanya apa buku, forward lo pasti ada banyak gue yakin. - Iya. - Tapi yang terinjat saat ini apa? - Yang terinjat saat ini. Kalau hover gue masih dev5M club, perlu di siaromat. - Oh 5M club ya? - Iya, ya. Ya, lah, simple tuh, mengyanyi kita bahwa pagi dan ada set of routine yang saya lakukan di pagi hari, gitu. Tapi yang membuat gue terpukul adalah kok buku ini yang gajarin kok buku penpagi hari saya, gue ada dari dulu selat subu gitu. - Iya. - Tapi gue terpukul banget sih dari situ. Tapi saat memenya pas memang waktu dukung banyak. Jadi gue nanya karena bukunya ya, memenya saat gue baca juga pas. Ya, tapi dia tuh mulai ngebentuk. Ya, tapi dia gue, oh, sekaran gak sempurna masih ada beberapa hal. Tapi itu bikin gue punya moring-roting yang solid sih dari buku itu. - Ya, ya, buku, robin syarfa. - Oke. - Film, lo film mana? - Lo, sebab film. - Gak terus-gak terus film, oke. - Oke. - So, gini, kalau gitu gue ngesel sebelum, sebelum kita closed ya. - Hmm. - Dari apa yang gue tanyakan dan apa yang lu share tadi, ya. Ada ga hal lain yang mungkin menurut lo perlu disambahkan ya, perlu lu share, gue belum tanyakan. - Oh, nari. Apa ya, kalau menurut gue karena, atau peknya ga ngobrolin hidup ya. - Ya. - Kita sering sekali, mwikirin gitu ya, untuk hidup kita, apa, engol gitu, ga ngepermput kita, apa yang kita ngapain. Tapi, setiap sekali, kayaknya kita juga perlu deh ngobrolin mati. Hmm. Ya, sih, ya selain, after life kita di akhirnya. Gimana, masur gue gimana itu penting? Tapi ya, ketika mati kita ingin, nenggalin legasi apa, kita ingin diingat sebagai siapa. Kita ingin, meninggalkan apa buat orang orang yang seri, dan terkaman anak-anak kita. Itu yang sering sekali, menjadi pikiran gue juga, kira di kamar gue, diruang kerja gue, lebih tumpannya. Gue bikin satu kertas, namanya life calendar. Isinya adalah, kota-kota kecil sekali, yang setiap kota kemokiri satu pekan. Totalnya gue bikin sampai 75 tahun. Kami kena jadang 50 sekian, 52 gitu kan, seri tubanya kota. Ya, udah gue udah cantang, sampai umur gue sekarang. Menya, hidup gue udah ke pakai, seperti ganya lah, kenal lebih gitu. Sisi saya yang gue pakai buat apa. Dan itu ga pasti sampe akhir kan? Gue bisa gue ganti umur 70, di nampun, di 50, kadang-kadang tau itu. Maka sering sekali di kerjaan kita, kita punya, yang namanya Deadline. Ya kan, ini Deadline nya kapan, Deadline tuh jelas. Ya kan. Tapi, kita juga punya Deadline. Ya kan, gara-gara sekematnya yang, kita ga tahu kapan. Deadline bisa banyak, kalau kita negok kata, lu bisa dikondur, Deadline kan, ga bisa kita negu sama Israel kan? Lu mati, lu mati gitu. Dan kita sering sekali, mikirin Deadline tapi, jarang mikirin Deadline. Jadi mungkin, sesekali kita perlu ngomprolin mati juga. Dan terata, kalau ngomprolin, ganti aja namat caranya. Ya ngomprolin mati ya. Ganti itu, kan, ini memang, ngomprolin mati. Itu yang sangat, ya, ya. Ya kan, dikaitet baru. Ya, ya. Dikaitet baru. Ngomprolin mati, api lo pertama sama umar. Nice. Tapi, ya, kadang kita perlu melet dari perspektif yang, flip gitu ya, dikaitet-kaitet. Dan bahwa, dengan ngomprolin mati, itu, ustro, insya Allah, bisa membantu kita, untuk hidupkan lebih baik juga. Betul. Jadi, kalau selalu mati sekarang, lu puas gak sisang meletupkan. Kalau, jauh, lu gak, ten out of ten complete lip, lu gak, dev your best life, lip merdua. Oh. Oh. Bang, umar, pembelajar prodofus terima kasih banyak. Thank you juga. Sudah melakukan waktu ini, dan berbagi-bergi itu, banyak ilmu. Thank you. Dan, mencari, cara kita berfigur juga, gue kan bermanfaat buat semua, emang-emang ini. Jadi, kalau yang mau, belajar semula lo, mau tau lebih berjalan-teng lo, itu nyarinya di mana boleh, gak lu share platform- platform lu? Banyak platform-nya. Jadi, tembalin jaman ke Instagram aja, enggak, pembelajar prodoktif. Et pembelajar prodoktif, tadi kan saat namanya, untul, di layar kan, juga ada Instagram juga. Terima kasih juga. Terima kasih. Kalau, buku lo semua itu, ada di. klik link bio, semuanya ada di situ lah. So, okay. Instagram, et pembelajar prodoktif, ada link di bayonnya, itu klik resitu. Ya. Kalau misalnya, lu ngeliat ini, misalnya, karena alasan apapun, tau Instagram sudah nggak ada ya, itu lu search aja di internet, pembelajar prodoktif, rumah raf. Terima kasih banyak sudah. Terima kasih banyak. Terima kasih banyak. Gue belajar bener-bener di lu. Dari konten-tengannya lu juga selama ini, gue juga jauhkan di podcast channel lu juga. Terima kasih. Gue selalu mendeknati konten-konten lu, dan yang lu share di platform-blotern lu. Dan sekarang gue udah subscribe di YouTube juga. Terima kasih. Terima kasih banyak masa aku punya. Atas enterginya, atas share-nya, dan buat kalian juga. Terima kasih banyak udah nonton sampai sini. Share juga di sini di komen juga, pembelajaran kalian apa-apa yang kalian nabatin ada nggak soat yang kenak banget buat kalian itu apa. Share juga di komen, dan juga share video ini juga. Minciolah, ditemukan juga masih pembukannya yang membutuhkan soal jadi bagian dari bagian. Bagaimana kita juga selain tentunya, juga ngebangtuh channel kita juga. Terima kasih banyak sekali lagi. Terima kasih lagi. Terima kasih banyak lagi.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Umar Al-Faruki awalnya kuliah di teknik elektro karena kemampuan akademis, namun mulai merasa itu bukan jalannya di semester 5-
  2. Ketertarikannya pada pengembangan sumber daya manusia (people development) muncul saat aktif di organisasi dan komunitas kampus.
  3. Untuk menguji minat, ia membuat proyek pribadi berupa sesi coaching gratis setelah lulus S1, yang membuatnya semakin yakin.
  4. Ketakutan terbesarnya adalah soal finansial—apakah bisa hidup dari bidang ini—dan ia mengatasinya dengan mempertahankan pekerjaan sampingan sebagai guru les sebagai jaring pengaman.
  5. Ia memilih fokus pada produktivitas karena topik itu paling ia pahami dan kuasai, serta melihat celah pasar yang lebih spesifik dibandingkan self-development umum.
  6. Produktivitas didefinisikan sebagai menghasilkan sesuatu yang bernilai, baik materi maupun non-materi, dan dibagi menjadi efisien (menggunakan sumber daya seminimal mungkin) dan efektif (mencapai tujuan yang diinginkan).

Summary:

Dalam percakapan ini, Umar Al-Faruki berbagi perjalanan kariernya dari mahasiswa teknik elektro hingga menjadi kreator konten produktivitas. Awalnya, ia bisa menjalani kuliah dengan baik meskipun tidak sepenuhnya menyukainya. Ketertarikan pada pengembangan manusia muncul saat ia aktif berorganisasi dan memimpin divisi pengembangan sumber daya manusia.

Setelah lulus S1, ia membuat proyek pribadi berupa sesi coaching untuk menguji apakah bidang ini benar-benar sesuai dengan passion-nya. Meskipun ada ketakutan besar soal stabilitas finansial dan keraguan dari orang tua, ia mengatasinya dengan tetap bekerja sebagai guru les sambil merintis konten produktivitas. Ia memilih fokus pada produktivitas karena merasa topik itu paling ia kuasai dan melihat peluang pasar yang lebih spesifik.

Umar menjelaskan bahwa produktivitas bukan sekadar kesibukan, melainkan tentang menghasilkan sesuatu yang bernilai. Ia membedakan antara efisien, yaitu menggunakan waktu dan sumber daya seminimal mungkin, dan efektif, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan. Keduanya penting untuk mencapai produktivitas sejati.

FAQs

Produktivitas adalah kemampuan menghasilkan sesuatu, tidak harus uang, seperti belajar, bekerja, atau berkarya. Aktivitas dinilai produktif jika menghasilkan manfaat bagi diri sendiri atau orang lain.

Efisien adalah cara menggunakan sumber daya lebih sedikit untuk hasil lebih banyak, misalnya kerja 1 jam dengan hasil sama seperti kerja 3 jam. Efektif adalah mencapai tujuan yang diinginkan, meskipun belum tentu efisien. Keduanya diperlukan untuk produktivitas optimal.

Karena dari semua topik self-development, produktivitas adalah yang paling dipahami dan diminati Umar. Ia juga melihat peluang di niche tersebut karena belum banyak kreator yang membahasnya secara spesifik.

Langkah pertama adalah memiliki kejelasan tentang apa yang ingin dihasilkan. Tanpa tujuan yang jelas, sulit untuk menentukan aktivitas produktif yang tepat.

Umar menggunakan pekerjaan les privat sebagai safety net untuk memenuhi kebutuhan hidup sambil merintis karir. Ia juga merencanakan langkah-langkah secara terstruktur dan terus berkomunikasi dengan orang tuanya.

Ketertarikan muncul saat ia aktif di organisasi dan komunitas kampus, terutama di bidang pengembangan sumber daya manusia. Ia merasa excited dan energinya terisi saat melakukan coaching dan mentoring.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.