Podcast ini membahas kerangka berpikir yang disebut "for romance" atau empat domain, yang penting untuk menganalisis masalah dan informasi secara tepat. Para pembawa acara menjelaskan bahwa domain-domain ini dibagi menjadi dua kategori utama: absolut (kiri) dan relatif (kanan). Domain absolut terdiri dari logika dan empiris. Logika berfokus pada struktur penalaran, seperti valid atau tidaknya sebuah argumen, bukan pada kebenaran isi pernyataan. Contohnya, dalam silogisme, jika semua A adalah B, dan C adalah A, maka C pasti B—ini soal struktur, bukan fakta. Sementara itu, domain empiris berkaitan dengan fakta objektif yang bisa diuji, seperti apakah hujan turun di Jakarta. Sebaliknya, domain relatif mencakup moral/etika dan estetika. Moral berkaitan dengan penilaian baik atau buruk yang tergantung pada konteks dan tujuan, sedangkan estetika berkaitan dengan keindahan yang subjektif berdasarkan selera individu. Masalah sering muncul ketika orang mencampuradukkan domain ini, misalnya menggunakan kata "pendapat" untuk pertanyaan faktual atau menganggap fakta ilmiah sebagai justifikasi untuk perilaku tertentu. Para pembawa acara menekankan pentingnya menggunakan metodologi yang tepat untuk setiap domain agar jawaban yang diberikan akurat dan relevan. Mereka juga menyoroti bahwa matematika dan logika bersifat konsisten secara internal, tetapi penerapannya pada dunia nyata memerlukan model yang tepat, seperti contoh satu tambah satu bisa menjadi tiga dalam konteks kerja sama. Dengan memahami kerangka ini, diharapkan pendengar dapat berpikir lebih jelas dan menghindari kesalahan penalaran umum.
[Muah] Hai guys, balik lagi di podcast, barang gue Kanya dan Sabda. Kali ini kita bakal bahas topik super penting, tapi juga super berat. Ya, super abstract kan sih itu berat atau nggak tau nih. Iya, jadi. Filosofikal. Very philosophical, dan ini apa? For romance, namanya. Tapi kita pernah bahas ini sebelumnya yang kita. - Mencuman. - Ya, nggak mencari-mencari juga sih. Masih pembasan kita nggak pernah yang komplik di seluruh tempat sebenarnya. Oke, jadi kita pernah bahas, kita ngerasa bahwa ini kan penting banget, tapi orang bahansi salah menangkap. Jadi kita ngerasa perlu diulang untuk supaya lebih. Apa ya, mungkin penjelasan lebih bagus, semoga gitu. Iya, hopefully bisa lebih bagus bahasannya. Dan sebenarnya memang lebih entu-entu aja sih, maksudnya jadi lebih ke seluruh hand dari for romance itu. - Bisa itu. - Oke. Dan juga gini ada hal yang penting juga bahwa. Ini hal yang sangat-sangat-sangat penting banget dalam. dalam berpikir, dalam menganalisi masalah, segala informasi, lalala, itu penting banget. Dan memang karena berat, jadi mungkin kalau nggak ngerti, nanti ini perlu diulang atau bilang kita feedback. - Terlalu, yang kedua, yang kedua adalah. - Iya. Kita akan memakai framework ini, pakai dimana-mana. Jadi ketika kita membahas suatu lagi-suatu lagi, akan kita balik lagi sih nih. Supaya satu itu jadi contoh. Jadi contoh entang-entang ini. Yang kedua supaya juga udah jadi kebiasaan. Jadi kita nelatin kebiasaan untuk kayak gitu. Yang ketiga gini. Ini juga suatu hal yang. bahasa gue tuh but strap in philosophy atnya. But strap in philosophy itu. Dia nge-stop untuk. simple model, simpel model. Yang mungkin belum perfect, tapi dengan itu model itu ada. Jadi lebih gampang dulu dipakai. - It's a start lah, he. - It's a start. - It's a start. - It's a start. - It's a start. - The way it's like a star. - It's like a star. - It's like a star. - Yeah. - Okay. - So. - Yeah. Let's start. dari. Oh, permasalahnya, bani. Kenapa kita. Ya, jadi kalau aku sih personal, nih sering kayak dapet pertanyaan di question box aku di Instagram. Yang kayak apa ya? Kayak gak pas deh gitu ini. Ditanya in kagini gitu loh. - Pertanyaan kagini. - Contohnya apa? Pertanyaan. Contohnya apa ya? Mungkin pertanyaan pertanyaan kayak. - Um. kalau kamu ada contohnya aku jadi bikin. - Kalau aku ada contohnya. - Coba ada di kamu dulu. - Bagaimana bang. - Tentang apa pendapatnya tentang konsep evolution. - Atau pendapatnya tentang evolution manusia. Atau Big Bang. - Pendapatnya gimana bang? - Tentang gimana. Kenapa itu masalah? Karena ini. ketika kita nanti udah ngosin fordomen sih, ini sebenarnya bukan pertanyaan yang pas dengan kata pendapat gitu. Boleh sebenarnya, bang kalau abang melihat ini gimana sih ya, dan masih oke lah gitu ngeliatnya. Apakah benar-benar tesalah apa gimana atau jelasin gitu. Tapi kata pendapat itu kayak nggak pas. Karena itu ada di rana yang bukan rana pendapat gitu. Tapi aku ngerti sih kayaknya maksud dia mau kata pendapat itu bukan pendapat perserian. - Iya. - Tapi gimana kita ngeliatnya sebenarnya gitu kan? - Saya pikir. - Ya, kalau dia aku ya, aku jadi inget gitu sekarang. Pertanyaan pertanyaan kayak misalnya. - Kak boleh nggak sih ngelawan orang tua gitu misalnya. - Iya. - Oke. - Perlayang kayak gitu sih. Ya udah. Jadi semua gue hal-hal yang kayak gini. Atau kecamper aduknya ini dengan fordomen sih. Ini kita akan lebih kler lah ya. Untuk nabagi sesuatu masalah atau pertanyaan atau soal apel ke dalam domen-domennya. Dan kemudian, campurnya dengan tepat, dengan ya lebih oke lah, lebih jelas. Jadi, kenapa dari tiap-tiap nanti domen-domen ini metodologinya beda. - Iya. - Itu yang paling tepat-siap metodologi untuk menjawab pertanyaan ya. Tau jawabannya tepat atau benar atau gimana itu beda gitu kan. Jadi, just make sure that happens. Ya, sekarang juga aku pengen ini juga sih, maksudnya ada konteks juga dimana orang kayak somehow menjadikan hal-hal yang sifatnya opini dari aku sebagai fakta gitu. Jadi kayak misalnya, ngelihat kayak ohm kakannya kayak gini nih. Berarti ini yang benar-gitu, kalau ngerti yang kamu pendahal kayak yang gak selalu itu buka. - Oh sama, sama di aku. Aku ikh ke balik. Agak-agak dari versi aja. Jadi, misalnya ini kita jelasin, kan ilmu-kut nagi memmanusia kan. Faktanya bahwa manusia itu kayak gini kayak gini, karena sekarang ini, nah bukan berarti fakta-faktal tangan manusia itu menjustifat. - Oh, kalau prelaku itu jadi benar-benar kayak gini. - Ya harus kayak gini ya. - Maksudnya itu yang mengini kayak ngubelon nintu gitu. Nah itu juga penting banget. Ya, - Jadi kita mulai lagi mana? - Itu background permasal. Jadi, kita membuat kerasa kenapa for romance itu penting. - Ya, penting banget banget. - Ya, mungkin kamu langsung jelasin aja kayak 4 domain. - Ya udah, 4 domainnya kita 4 domain. - Kita bagi visualized kiri, kanan ilbayangin ada 2 kertasian, 2 kvadran, gitu kan, ada 4 kvadran, - 4 kvadran. - Dapet ada 2 sungbu, gitu kan sungbu ex dan sungbu. Di kiri, ya, kiri atas sama kiri bawah, ya kita sebutnya, "Dera kiri ini, Dera kiri ini adalah, apa, rana-rana yang absolut, gitu orang-orang absolut, kiri atas itu, kita sebutnya logikal, ya, domain logic, kiri bawah itu domain empires, - Iya. - Yang sebelah kanan, itu rana kerasif, yang kanan atas itu moral, atau etiks, yang bawah itu estetiks. - Iya. - Jadi, kiri itu absolut, yang kanan itu halan kerasif, oke, itu dulu. - Mungkin harus dikasih sedikit keterangan sih, kayak absolut sama relative nih, apa? - Nah, - Sederhananya aja. - Sederhananya, gini. - Seperti. - Sesuateng absolut itu, jadi, oh, bisa jadi kita mulai dari sini. - Iya, bisa. - Aku sering nanya, jadi kalau ngeri-ngeri, kanan-geri, kebenaran tuh menurut lo, relative atau absolut, - Oke. - Gak itu itu, kamu baru mulai apa, kelas atau apa langsungannya kayak gitu? - Iya, setahat yang poinnya, gitu. - Iya. - Jere bratat, fuck. - Iya, tapi sulit. - Itu kita pernah poling, aku juga pernah poling gitu, gitu kan? - Iya. - Oke, ke 70% anggeper relative, gitu. - Oke. - Terus 30% anggep, itu absolut, gitu. - Iya, iya. - Terus apetanya gitu kan? Satu-tah me-satunya dengan gue, itu gimana? Relatif atau absolut? Kalo itu absolut, sih bang. Oke, terus, pada masa yang gini sih, anaknya juga, dia itu juga berrelatif, - Berrelatif tadi. - Tapi pas itu yang salah satu-satunya. - Terus, absolut, sih bang, gitu. Nah, terus, yang menurut relative, gimana? Yang menurut gue relative, kayak, jangan muluh gitu. Masanya gimana itu? Ya, karena misalnya, mungkin ada saatnya, kita tepat memuluh, kenal pas lagi perang, misalnya gitu. Nah, tapi itu kan kebenaran juga, gimana? Jadi, intinya di situ, masalah, bahwa, ini ada, ada harus, tepat dulu di sebagian mana, nah. Jadi, yang sebelah kiri tadi, absolut, adalah sesuatu yang emang kita bisa bareng-bareng, ya, spakat nih, bahwa ini rana-rana yang, ya, apaya objektif lah, biasanya. Jadi, gini, pertama asum si dasarnya, ada suatu unifsal logic system, yang kita bisa bilang, bahwa jika AMA KB udah pasti ini, gitu. Contohnya, misalnya semua A, ada lah B, gitu. Nah, kalau ada suatu benda, itu termasuk A, udah pasti B dong, karena logik itu, gitu. Ya, absolut. Nah, kalau rana MPRs itu gini, kita kan menelihat alam seseorang, seseorang ini. Kita asumsikan bahwa alam seseorang, akan berlaku umum buat semua orang, akan seperti ini. Jadi, kalau fakta itu satu, kita gak bisa ungga meleduknya, gak gitu. Ya, kayak di Jakarta lagi ujan, gitu. Ya, ya. Oh, menurut gue gak ujan, gitu. Ya, bisa agak-agak, gak ujan, gitu. Ngeron, itu objektif gitu. Karena bisa-bisa, ukur ujan apa-ngo, ya, tiga, tiga, gak bisa pendapat, gue gak setuju, pendapat lu, ujangan gak ujan, beda, itu rana, yang jelas-jelas, rana fakta, yang rana absolut. Oh ya, barunya namah indik, ya bagian rana, logical. Aku kayak, sempat kayak semacam berkontemplasi, gimana ya, kan, di domen ini. Kalau menurut aku kayak, gampang sih sebenarnya, gak atau sini, gampang atau gak. Tapi kalau aku krucutkan banget, itu fondasinya, persidari domen ini, itu menurut aku definisi, di domen logical, adalah domen di mana, kita memberikan definisi. sebenarnya, definisi, bahas sebenarnya awal, arbitrari, tapi kemudian, dari definisi itu terjadi konsekuan si logis, dan akhirnya, gitu, aturan, gitu. Oke. Seconger tadi, jika, ama kabek, karena kita menurut, itu, kita semua, ada lebih, semua, apa, akhirnya, jadi ada konsekuan si logis, gitu. Oke, gitu, sih. Nanti kita di talent disitu ya. Iya, iya, iya. Tapi ini, kita abstract dulu ya. Yang kiri itu, nanti kita bahas ya. Kita gak bisa pakai opin ini masing-masing, tapi ini, udah ada aturan yang jelas, yang atas itu, cendurkan aturan, yang bawah itu, dan faktar, ada aturan-atakan yang kita hadapi, secara objektif, ya, jadi kebenaran yang, gitu, terenanya, gitu. Ya, ya, ya, ya, relative, itu tadi, soal moral, ateks, ya kan, pastinya nanti, akan ada, ya, pendapatan, itu boleh ini, ya, boleh itu gak, gitu, jangan, gitu, gak, gitu, kan? Atau kalau ya, ateks, atas itu, bilang skindahan, gitu kan? Itu bagus, satu jelaya, atau apa, bagus, S.N. Ini indah, gitu ya. Bagus indah, cantik, apa, sekali macam, ngeralah, nanti, seteks. Bisa beda-beda, gitu ya, berdasarkan slera, orang-orang, atau, "Bisa slera, orang-orang, apa, segala macam, bisa ada yang, punya framework mengututkin deh, moral juga sama, kan? Bisa ada framework untuk mengukur moralitas yang tinggiran dah segala macam, mungkin, apa ya, nah. Tapi ini relatif, karena itu bisa jadi sifatnya, konteks, itu selalu mungkin, sifat tergantung tujuan, mungkin, sifatnya tergantung situasi atau apa-apa, gitu. Nah, jadi kita ada, kita bagi dulu, yang kayak, ini baru habis itu, kita masuk,
- Kami sudah lama semasik. - Oke. - Jadi mari kita mulai menurut pertama. - Dari logic. - Ola logic. - Yang kiri ini, kiri dulu. - Oke. - Kiri dari logic. Nah, tadi kan ini, Rana kiri ya. Bila kiri ini absolut nih, geng-absolut nih. Nah yang logic, aku sebut itu absolutly absolut. Kita karena di situ, totalnya bisa absolut nih. - Tak kenarannya gitu ya. Kita yang salah satu-tama satu, salah satu. - Sama-tama dulu. - Nah. - Moklak ini adalah ini adalah Rana di mana? Itu pure logic. Jadi, ini dari penjasan dari aku nanti kau menjadi asing-sing. - Iya. - Pure logic ini, itu katanya tepat disini. Bukan benar salah. Katanya tepat adalah valid invalid. Nah, kenapa karena disini di bagian Rana ini, itu indyukur itu bukan isinya. - Iya bukan isi dari penyapakan informasinya. Tapi lebih ke struktur penalarannya. - Jadi, struktur penalarannya jadi kayak. semua benda berwarna hitam, itu menyerap cahaya. Pasti menyerap seluruh cahaya apa? Seluruh cahaya gitu. Nah, beleti kalau gitu misalnya ini. - Menyerap seluruh cahaya. - Iya, kan? - Jadi, kalau apa? - Kalau apa? Kalau segoa Rana hitam. Nah, kalau sego menyerap cahaya. Itu kan. Ya, udah kalau semua A ada lebih, kalau segoa ada A. Kalau sego pasti B. Itu ada seturnya. Apakah benda semua benda hitam menyerap cahaya? - Gak tau, kita belum tau. - Benda ceraknya tanya. - Benda kenyataannya. - Benda ceraknya kita belum tau. Apakah seperti itu? Premisnya bener apa? Premis itu banyak statement. Statement yang bisa nanya atakan bener atau salah. Jadi, di situ kita belum masuk ke substansinya bener atau salah. Tapi kita fokus pada penalarannya dulu logikannya. Jadi kalau ada orang bener-bener logik, itu sebenarnya dari struktur yang harus kita lihat. - Iya. - Bukan isi dalamnya. - Iya, kayak contohnya, misalnya orang pernah-prenanya. Semuanya babingnya petul logik, ngasih gitu. - Iya, jekli. - Sebenarnya kurang tepat gitu. - Iya, sekep. - Iya, wapulnya kita ngerti ya, maksudnya itu masuk hatal tu. - Iya, gitu kali ya. - Iya, tapi. - Tapi kita hanya bisa menembak di zum-menernya. Masutnya maksudnya apa-apa? - Udah pasti kayak gitu. - Udah pasti. - Udah pasti. Ini domen lain, ini domen ngerti orang. Jadi ada lagi bagian di podcastnya. - Tapi sebenarnya, tempirnya sebenarnya. - Iya, itu. - Tentang. - Iya, sesuainya. - Tengah, maksudnya. - Oke, guys. - Sera-sera apa, raih, kita semuanya ga. - Bagi kebabinnya pet, jadi sebenarnya kenapa itu kurang tepat pembahasaannya. Karena sebenarnya katal logik itu harusnya ada beberapa primis ya. Mungkin kalau cuma satu primis dong. - Indiknya, ada logik itu yang kita ukur adalah struktur pemikiran. - Iya, untuk bisa menelai struktur. - Terkannya harus ada beberapa ini, domen itu sudah beberapa poin, beberapa pernyataan. - Premis itu artnya soat untuk penyataan, kan? - Ya saya, biologi, ada primis satu, ada primis dua, contoh kayak tadi. Semua yang mendahitam, kita akan menyerap cahaya. Ampli gue, warnanya hitam gitu. - Terus habis ada kesimpulan. - Ampli yang sabda, menyerap cahaya. Itu kan logis. - Itu logis. - Baru bisa ditanya kayak, kalau dari primis-rimis ini kesimpulan, ini logis ga itu baru. - Exakt, kan. - Ini logis-rimis yang boleh, malit atau impalit. Oh, ini penalarnya falit atau impalit. - Iya, kan. - Di sini, rana-rana yang berprani di sini, biasanya memang rana, ya, logika, biologi, gitu. Yang semua ada jika maka, segala macam rana matamatika, aira-rana matamatika, kalau, konsepnya begini, kalau setam bahaya itu begini, kan setam bahaya satu-satunya dua, falitnya ini, falit, karena dengan definisive misalnya ada. Jadi, itu tentang struktur thinking, struktur bernalar berpikir segala macam, bukan isinya itu sendiri. - Baru yang aku tuh masukin bahasa juga di situ sih? - Iya, maksudnya. - Kita benalar, jadi, jadi di barangan-benaran ini, terbatas sama nusiannya ada benar-benaran, pakai bahasa, pakai simul-symbol matamat-matik, gesesimul programming language, termasuk-besi itu. - Sama-sama, setelah aku pernyataan di rana bahasa juga masuk ke turana logika, gitu. Misalnya kayak kamu pernah lihat ngasih soal bahasa Indonesia, misalnya kayak apakah pernyataan ini benar, gitu. - Strukturnya, gitu kan logis-rana-logis juga, gitu. Atau grammar deh, kuali dalam bahasa ngerus, gitu. Misalnya ada kalimat, gitu. - Saya ada dalam dalam, di situ. - Maksudnya, misalnya gitu. Apakah kalimat itu korak? - Itu kan, itu statement, korak, gitu. Apakah pernyataan benar, gitu, secara grammatikalnya. Nah, itu kan semakin rana-logi, kan. Karena kita mengarik kesimpulannya itu benar-atong, ga berdasarkan aturan grammar yang udah ditentukkan, yang mana itu yang balik ke awal, tadi aku bilang sih definisi, gitu. Karena udah definisikan bahwa kalau di masa lampu harus kayak gini, kalau ini harus kayak gini, ya kan, itu kan jika maka juga ya, kayak-kak gini, maka kayak gini, singga kesimpulannya, di dapet dari situ, gitu. - Tapi itu apakah bisa gini versal? Maksudnya kan gini, gini, gini kita memilih ini logika, kalau ini karena gini, ini sih seabsolat-seabsolat yang per. Jadi gini, matematika, bikin aturan-matematika, mendefain selaturnya matematika, itu awalnya arbiter, gitu. - Misa semarangan gitu. Tapi dia harus konsisten dengan seluruh univers, matematik yang lain, gitu. Kalau logik kan juga bisa, bisa kan bikin universal logik semua ada, bejika si jojo nalah, "A, udah pasti jojo nabik." Itu kayak, kayak, "It's, apa ya, self-evident literu." kayak, "Ya udah kita bisa spakat, ngeliat bahwa it's university literu." - Itu, kalau bahasa tadi bisa, kayak gitu. - Iya, jisru itu kalau meruta, gue sebenarnya sama kayak, "How we define jika maka atau tambah kurang sama dengan segala macem kan?" - Oke. - Gini awalnya nggak univers, juga, gitu. - Kita bisa spakat ya. - Iya, kita berspakat. - Tapi gini, "Oke, bisa, aku setuju bisa." Tapi jangan berfikir, "Bau, udah pasti langsung orang udah spakat dengan ini." - Iya, belum. - "It's convention." - Itu kesepakatan, ya. - Benar. Tapi maksudnya karena domen-domen ini kita usahain untuk bisa mengkavir semua, dilema benar-benar salah yang ada. Jadi mau nggak mau tuh rusan bahasa, harus dibawa dong. Karena kan itu ada pertanyaan benar-benar salah disana gitu. - Oke, maksud. - Nah ya, wish, menarbak aku masukin ke. - Lalu mau ke. ini kub jas, arah butuh contoh lagi. - Mungkin butuh dikit lagi kali ya. - Oke. - Kamu nggak contoh lain lagi. - Contoh lain tuh, kadang-kadang gini. - Karena kalau dimatemati-matik itu sekarang juga lagi banyak-kini kan. Ya, bukan dimatemati-matik ada masis, sebenarnya juga juga lagi banyak perdebatan-perdebatan. Yanggal, salah satu-tama-satunya, nggak harus dua-tama-satunya, bisa juga mempat. - Nah itu kejapun. Jadi, oke, dimatemati, kayaknya. Di matemati-matik, sistem matemati-matik sendiri, konsisten dan absolut, dan universitualnya tru. - Cuma kadang-kadang kan matemati-ketan soat untuk aplikasi ya. Kadang-kadang, sorry, bukan. Kita sering menggunakan matemati, kayak untuk kita aplikasi kan ke setuh hal. - Ya. - Jadi, campur nih antar hal tersebutnya dengan model matemati-kini. Cota misalnya gini. - Ya, salah satu-sama-satunya yang nyata bukan untuk dimatemati-ketan. Saluh di dua, jadi mempat bisa ini, gitu. Misalnya, cota-nya apa? Misalnya, gue punya apa-satunya 1 kilo. Itu salah satu lagi 2 kilo. Saluh 1-2, apa-al kan? Tapi ini jadi 3 kilo, jadi lebih gede, gak kayak apa-2, tapi apa-2, jadi 3. - Iya. - Betul-betul. - Itu cota-nya lebih pakai. Itu cota simpelnya gitu. Tapi, kayak misalnya ada 20 saat, kan? Itu kan 1 revenue, 1 revenue, 1 revenue, 1 revenue, 1-2, 2, 2, 2, 2, 2, 2, 3, 4. Tapi, revenue jadi 4 kali. Di ala-lepnya ada kerja sama. Itu mungkin jadi, jadi, 4-100 revenue, jadi mungkin 600. - Ini 7,7 lucu sih. - Tapi, ya, sebenarnya, itu masa 1 orang, 1-1. - 1-1, 2-1, bisa jadi 2, 2-2, bisa jadi 3-4, jadi 1-2. - Iya, aku jadi kayak yang terbuat. Aku enkau liah, jodoh, saya ingin mau politik. Aku inget salah satu materi di awal banget kuliah tuh. Membahas tentang apakah, ilmu politik itu science. Ya, misalnya keluar lah kalimat dari do. Saya enkau yang merutaku sangat lucu. Jadi itu bilang kayak gini. Nah, sebenarnya memang agama mingga, ya, ini bagaimana menempatkan ilmu sosial gitu. Karena kalau misalnya di ilmu alam, itu kan salah satu pas di 2 ya. Tapi kalau di ilmu sosial itu salah satu ya, bisa jadi 5, saja. - Maksudnya. - Exak lu, ya. - Maksudnya, aku fikir ya juga, ini campur. Karena memang benar-benar abis itu omongan selanjutnya. Karena aku pernah makanya yang semingung kan, pas denger itu kan. Nah, terus selanjutnya itu jadi menjelaskan odis. Salah nangkap nih gitu, salah memaham. - Ya, enggak liat, nah. - Odel makanya. - Jadi aku menjelaskan disini di bawah. - Iya, itu sebenarnya itu model yang sederhana ya. Banyaknya ada rumus-rumus matematiknya, atau suka macamnya. Jadi, matematik S-matematik sesuatu secara abstract. Dia akan konsisten akan seperti itu gitu. Cuman, ketika kita memakai matematik itu kita namanya melakukan pemodial matematik. Maksudnya, dari dunia yang atat nih kita modelin, jadi pemodial matematiknya. Nah, di dalam pemodialan itu, itu tepat atau nggak modelnya. Conto tadi, kalau apa kita satu apa, satu apa lagi, dua apa. Ya, siar model matematiknya, salah konsisten satu, satu, dua gitu. - Dengan satu-an apa, ya, benar kan? - Benar, tapi sebenarnya, modelnya nggak tepat, yang lebih tepat, komisnya. - Ini banyak, udah apa, ya? - Iya, sama sih, modelnya, udah apa? - Itu bukan pakai apa, satu apa, tapi kilogramnya gitu kan. - Iya, sama kayak ini, aku jadi ikat-okong aja, kampus merdeka. Ada satu orang yang banyak kayak gini. Kak, bukannya logika-klasik itu dari runtuhkan ya. Jadi logika jika mata gitu, ya, jika makan bit, yang nggak harus lah, jika makan bit, terus, ah, pasti bit gitu, atau di gitu kan. So, kutanya memang, di luntukan ini, kayak gimana gitu? Ya, karena itu kayak nggak sesuai gitu, sama kenyataan tempat kita hidup gitu. Conto ya apa, ya, conto ya, misalnya, tadi kan, kakanya masih kalimat.
Jika hujan maka jalanan basah gitu. Jadi kalau hujan pasti ini jalanan basah gitu. Nah pada luka kan bisa aja misalnya ada genteng. Jadi kalau hujan yang gak harus basah dong jalanannya misalnya ada genteng disitu. - Iya. - Oke. Oke, terima kasih banyak. Tapi aku langsung pertensi. - Nah ya gitu, maknya gitu. Jisru itu gak masalah gini, ini emang masalah umum yang terjadi di orang-orang bawah. Lalu jika nanteng mati sih itu, jadi karena melihatnya, "nggak enggak enggak gini nih?" gitu. Nah ingat berarti disitu ada pemodialan yang salah, kan? - Iya, jadi mungkin bagian itu ada masalahnya kayak perlu pernah karna. Jadi harus diingat juga guys bahwa sih logika ini tuh kita yang memodialkan ya nih. - Iya, kita yang memodialkan. - Walaupun dia ada sistem universalnya. - Tapi terus kita yang harus menghomilii ya pemodialnya kayak gimana. - Kita yang maka ini harus tepat. - Iya, maka harus tepat. - Iya, maka ini harus tepat. Jadi kayak emisnya pemodialan apa, jelas yang tepat bukan satu-satuan apa-nya. Tapi lebih tepat bagusnya kayak kilogram, karena jelas untuk banyaknya. Ketani ujan tetep basah, ya kalau misalnya emang bener nih dari realitasnya, kalau ujan jalanan basah, ya udah jika ujan maka jalanan basah. Tapi kalau ternyata ada variable, ya memang pengaruh ya apakah jalanan basah? - Penggak, "Ajan pakai model hit tuh." - Iya, ya berarti model, bukan di jalan apa. - Ada nabas, jika A dan B dan C dan C, ya gitu. - Maksudnya, maka, maka. - Jika ujan dan tidak ada gendeng, dan tidak ada apa-apa. - Iya, itu kan. - Dan ambas saya. - Pua nya tergantung ya maka, ya. - Exactly. - Itu kan yang dilakukan di dalam science ya. - Maksudnya kan kita apa, misalnya, hainti scientists lah gitu, maka. - Oke, pua pemodialan F sepat. - Iya, misalnya kayak apa tuh model fisikanya terkenal dengan F/M gitu, - Iya. - Percepatan yang sekian terdigaya bagi masak. Itu kan pasti, dia yang suain dengan realitasnya di modelin gitu. - Yang bukan berarti, kalau misalnya itu salah, ya bukan berarti salah matematikanya, maksudnya bukan berarti tanda periturun tuh begitu. Tapi ya, kita nya nih yang salah berarti membaca di tempat-tempat. - Nelahu wan pemodialan. - Nelahu wan pemodialannya. - Iya, gitu. - Nah, ya udah, habis itu kita masuk dua rana empires. - Iya. - Dan habis itu kita bisa balik lagi mencampur dua hal. - Mencampur antara logika sama empiresnya. - Iya. - Eta rana logis sama empiresnya. - Iya. - Nah, empires itu adalah rana kita punya assumption. - Bawa universe ini objektif akan berlaku sama untuk semua orang. - Iya. - Artinya bahwa kalau kita ngeliat matahari itu ada exist. - Kita gitu. - Nah, ini rana empires ini kita sebutnya relatif liabsolut gitu. Kenapa relatif liabs? - Yang tadi kan absolute absolute. - Iya. - Kalahnya. - Lu pahgu. - Iya tadi diawala kita kasih ini sebutannya. - Itu absolute liabsolut. - Iya. - Sekarang. - Iya ini relatif liabsolut. - Ini bayuruan ini nama-nama aja ya, - speler biang pengayai ya, jadi jenmu. - Ini nama-nama aja, jen, bukan buat diapun. - Gapur diapun ini. - Iya. - Gue supaya kita ga panggup merifernya ya, gitu. - Iya. - Naran empires adalah rana dimana tentang realitas yang objektif. - Ini objektif realiti. - Nah, realitas objektif ini asumsinya bahwa ini universal semua orang akan melihat satu realitas. - Nanti kita akan adress ya, - Pemikiran yang mengkontori itu kan udah ada nih. - Oke. - Nggak objektapin antilah. - Belakang, nanti. Sekarang kita asumsiin lu. - Asumsiin lu, ini apa namanya universal lu. - Karena kalau nggak ada segala. - Kayak di konkrit lu. - Tadi kan kamu ngomong kayak di tataran abstractnya ya, - suetnya universitasnya. - Apa sih di konkritin lu contohnya? - Iya, ya tadi misalnya kita nih, - ini bumi yang kita pijak nih satu nih. - Nggak, jadi oh, yang nggak di bumi gue, - itu bulat bumi lu. - Segeti ga? - Segeti ga, datar atau apa lah. - Nggak, ini ada satu bumi bulat atau nggak segegama macam datar atau tinggi. - Kayak kita nggak bisa berpendapat dan beropin nih di dalam hal ini. - Ini ada faktat gitu lah, ada bumi seperti apa. - Iya. - Bumi seperti apa kita nggak asumnya. - Nah dari bumi seperti apa. - Iya udah. - Dari segala datar, dari segala ini seperti kita simpelnya bumi itu. - Realativnya bulat lah, karena perhatan itu juga nggak perfect banget. - Bulat. - Iya. - Bukan bundar ya, bulat. - Bulat itu. - Bulat lah gitu. - Iya. - Bola lah. - Iya, itu empiris. Nah, itu contoh empiris. Dan empiris ini, kita, basically tentang fakta, fakta, fakta, fakta kutuk kemumpuin fakta, fakta, fakta, fakta. Dari fakta, fakta itu, terus mengulin bisa juga dari pola, dari fakta gitu lah. Masanya apa, pola, dari fakta tuh misalnya kalo gue dormen deh, gitu. Aku dormen deh suat dengan makin quatt dormen deh. - Iya. - Jadi ada ada makin vaktat. - Gue dormen deh, kita, gue dormen deh suat dengan makin quatt dormenya. Makin cepat-eper cepatan dari sebenarnya itu. Dia makan cepatnya, makan cepat gitu. - Iya. - Salah sihnya tinggi gitu. Nah, dari jadi selain faktanya, juga ada pola-pola, pola, pola-pola, ada, apa. How university tuh behave, gitu. Bagaimana alam ini berperilakulah gitu. Nah itu lah, Rana Empires. Nah ini, di Rana ini, ini udah bisa kita bilang benar atau salah. Karena kita ngunggin substance nih. Nah, benar itu dimana, is as well dengan realitas. Salah itu ya, kalo gak soydenya, kan? - Tentu, tentu, tentu, tentu, tentu. - Nah, itu, itu berikutnya, ini Rana ini kita sebutnya relatif-re-absolut. Kenapa relatif-re-absolut, kalo tadi absoluta itu, karena kita define sendiri segala macam. - Realitasnya, kalo tadi kan realitasnya kita di-mind sendiri. - Kita di-mind sendiri kalo di-mind sendiri. - Kalau di Rana, gitu sih ya, guys. - Karena Rana Empires ini harus sesuai dengan realitas. Dan di sini kita gimana punya juga bisa ada imperfection dalam misalnya, mencerap realitasnya. Kita mungkin gak bisa selesuskan akurat banget, karena mungkin ada yang misdikit atau data-data itu kurang cukup, gitu. Tapi misalnya, kita bisa bisa bilang bahwa os mau langsa, misalnya ada putih, karena selama ini datanya semua langsa yang kita lihat, itu warnanya putih gitu. - Tapi sebenarnya, karena kita belum melihat seluruh angsa yang ada di muka bumbi ini, misalnya ketemu, atau angsa, atau. - Tentunya ada yang bukan warna putih gitu. - Nah makanya menjadi relatif ya, karena realitasnya absoluta itu, karena realitasnya absolut, tapi bagaimana kita mencerap realitas itu, - Realitif gitu, bergantung seberapa kita bisa mencerapnya dengan seberapa akurat kita bisa mencerapnya gitu. - Walaupun dengan berbagai macam teknologi-berbagai macam mengatahuan, kayak serses bagaimana kita makin lengkap datanya, tapi ungan aja. - Makin mendekati ini lah, mendekati seru spersen gitu. - Makin berkatanya. - Kita saja kita gak bisa klok spersen gitu. - Karena again juga masih balik lagi juga realitas itu punya kemungkinan berubah juga, gitu kan jadi kayak, gak bisa kita kunci nih suatu faktor itu suami. - Tapi bisa berapa menerimaannya. - Tapi bisa jadi kita akan memu, bisa juga jadi akhirnya jadi punya model tentang bagaimana realitas berubah itu juga bisa. - Oh ya, ya, ya. - Pertahuan ini bahwa kayak mana ya? - Kalau gitu kita bisa bergisih. Nah itu orang-orang yang bergisih. Nah, untuk nyampor dikit dua dikit tadi supaya kita kebayang di bagian logis dan IPS kemana. Karena kan ini logis dan IPS untuk kita mikir bener-dua ya kita butuhin. - Ya, atau? - Harus logis dan IPSnya apa, primis-primisnya tepat. Cotto, misalnya gini. - Ya. - Kalau misalnya aku bilang semua yang hidup di air adalah ikan, itu kan ini contoh paling sering. Apakah, semua yang hidup di air adalah ikan. Premis satu, primis kedua, paus hidup di air. Kesimpulannya apa? Kesimpulannya? - Paus adalah ikan. - Paus adalah ikan. - Nah, sekarang kita lihat dari secara logik itu valid. Karena semua yang hidup di air, diikan, paus adalah ikan dong. Nah secara logik, masuk valid penalarnya tepat. Tapi kesimpulannya salah kan? - Iya. - Paus adalah ikan itu kesimpulannya salah. Kenapa bisa salah? Karena primis satu-nya salah. - Primis satu-nya salah semua yang hidup di air. Ada ikan, ya, jelas-sala ada yang lain-lain. - Premis duanya bener. - Paus, di gelau, ya. - Ada yang hidup di air tapi primis satu-nya yang salah. - Primis satu-nya salah. - Secara empiris. - Secara empiris. - Secara empiris. - Sapsthons yang salah. Nah, jadi kalau gitu memang logic dan empirical ini, logic kalau nampir ini, jadi suatu apa-apa, apa? Nasa seri gitu. Untuk kita, untuk misalnya bisa berpikir benar-akurat dan sebagainya. Itu butuh-duanya. - Ini sekalian aku nampak di design core. Itu kan aku sempet bikin quote saya. Quotsnya kayak gini benar secara logika, bukan berarti benar secara fakta. Terus banyak yang nanya, kayak, "Kai ini masuknya apa sih?" "Masuknya apa sih?" "Masuknya apa sih?" Nah ini sekalian, ya, jadi udah kita jelasin disini ya. Bahwa benar secara logika itu, ya penalarannya benar gitu. Jadi dari primis-ramis yang ada, kita simpulin logis itu kesimpulannya. Nah tapi kalau primisnya salah, nah kan jadi-nya belum tentu benar kan jadi-nya kesimpulan secara fakta gitu. Kita di kesimpulannya pause adalah ikan salah secara fakta, tapi benar secara logika. - Iya. - Kayak gitu sih. - Iya. - Dan sedikit tambahannya mungkin buat yang udah pada makasian quote-tus lihat quote, ya? Nah sekarang aku meja sin, "Buh, Rana Science ini, Rana Science ini, Sian sih yang kita alami itu, kita akan selalu maka Rana Logika, dua-duanya gitu. Ya contoh nih, misalnya, "Simbah Newton" gitu kan. Dia ngeliat pola nih, ngeliat pola kalau misalnya benar dikasih gaya sekian, dengan bermasasian, ternyata percepatannya sekian. Oh, jadi ah, saham dengan FRM gitu. Nah itu adalah fisika, itu adalah suatu du du menilmu yang, suatu kemuan yang mempelajarin naq realitas bagaimana alam bekerja tadi. Nah kemudian untuk. untuk membantu tingkat reliabilitynya, - Realability sebelah ini ya. - Tidak bisa diandalkan ya. - Di mana? - Basing sih. - Diandalkan. - Iya, kanalkan. Kebisah diandalkan. Iya itu maksudnya, - Agil mana? - Seberapa di libel. - Iya, seberapa di libel. - Seberapa di libel. - Seberapa di bisa akurat, - Seperti di pakket. - Seperti di atik. Terus menurut-tus menurut. Itu di Makay lah, - Memakay lah model, matematika gitu. - Iya. Jadi, fisika tuh bukan intersakshin dengan matematik, tapi fisika itu rana yang urusan dengan dialitas, tapi memakai matematika. Karena dia bisa dimodelkan secara matematik, gitu kan. - Dimodelnya rasanya. - Ini mungkin kita masih pakai sedikit - perbandingan yang sujek lain, - Oke. - Sejara. - Iya. Nah mungkin sejarah nggak ada, apa namanya orang nggak ada kepikiran, - Itu matematika gitu ya. - Iya. Karena fakta-fakta empires dalam sejarah, itu bukan dimodelin gitu, - Gak banyak kan lah, mungkin ada yang maksudnya. - Iya. - Dengan pemodelan matematika yang orang-orang umumnya tahu. Iya, maksudnya contoh-cantuh faktanya kan, kalau yang di sekolah, ya, saya bisa lihat di sekolah, kalau kita lo jerserah kan, misalnya, pada 17-1945 Indonesia memperlukan bomb proplakasi kan kemerikaannya gitu kan. Iya, itu kan udah gitu, ya itu kan nggak bisa dimodelin apa-apa, kan? - Enggaknya. - Enggaknya. Aku mau nakannya. Itu tidak dimodelkan secara matematika, umumnya orang pakai. - Iya. - Aku mempelajari Irmungu Tenggraf. - Oke. - Irmungu Graf itu - Timeline tuh perkof-graf. - Oh, ya. - Misalnya dimodelin, cuma model, ya nggak umum nih kan. Nggak biasanya di pakai, nggak berrajarin sama kita. - Maksudnya kalau itu kalau misalnya asumnya betul-betul prames-prames lainnya. Maksudnya kalau prames-prames-si satu itu aja, kan itu nggak bisa dimodelin. - Iya. - Iya. - Misalnya. - Iya, boi indah, indik, indik, indik, ini nggak umum dimodelkan matematiknya, ini kita kanal lah, gitu. Tapi sebenarnya, banyak model-model matematiknya nggak umum di pakai, bisa sangat membahin tuh, berfikir, berfikir. - Disorikal. - Disorikal lah, apalah, segema-segema. - Iya, tapi masut aku, kalau yang orang belajar yang disekolakan, sejarah tuh nggak ada matematiknya, gitu. - Iya, itu maksudnya. Jadi kayak kalau misalnya. - Kayaknya imum lah, gitu. - Iya, matematiknya yang kayak visika, gitu. Masih yang kayak misalnya. - Ya, mungkalkan. - Semenan FPM, gitu, gitu. Yang ada kali-kalian, atau ada bagi-bagian kan nggak ada, kan. - Iya. - Nah, jadi orang di situ mungkin jadi-nya kepikirnya bahwa, oh kalau visika itu matematika, gitu. Karena ada gitu, tapi kalau sejarah nggak padahal. - Sebernya banyak, sebernya banyak ilmu yang akan mau kayak matematika. Of course, memakai pemodel-mata matematika. Tapi sebernya dia bukan mempelajari matematika, tapi dia memakai aja. - Iya, itu dia mongkalkan. - Mungkalkan. - Iya. - Kimya jelas juga. - Harusnya itu, harusnya mereka tuh ada di kategorin sama, gitu, mau stasi, di arah-kurin sama. - Tiga, kita di kategorin sama. Itu emperis, gitu. - Emperis, ya. - Itu orang-orang yang bertibah. - Biolog. - Beda di sama tematika. - Kalau juga ekonomi, juga, biografi juga ada. Dervol akan selalu ada pemakaian peranaranah matematika yang biasa kita kemal. Tapi sebernya, rana logika juga. - Itu juga, ya, well, matematikologi, itu sepertifat matematik juga. Artinya ketika kita, "Let's see, belajar sejarah." Nah, kalau kada ini begini, kada itu begini. Maka begini. - Jadi jika makan. - Jadi sudah mau di logika. - Jadi mau di logika juga kita pakai. - Iya, benar juga sih. - Jara, dia jalan mau apa, nih, tuh. - Tapi jujur aku jarang sih. - Nandapetin informasi kayak gitu di sejarah sekolah ya, waktu itu. - Biasanya, biasanya kalau, "Ajuswito", ini. - Ya, agar ada peta kosong. - Jadi kalau di luar kan kalau namanya "Ill", biasa belajar kayak gini, itu nanti disurun lu, "SA, argumentatif", - gitu, atau analisi, "Soto", gitu. - Disitu akan ketemu logika, jadi nih. - Pasti gitu, kayak semua ini makin ini, kita maka tegurisasiin "Soto", - Iya. - Atau ada semua, ada beji, - Ini, segala macam, lo jika argument yang kayak gitu, nih, sempat argumentnya, - Iya, ini udah masuk ke laran logika. - Iya, benar sih. - Apa itu, bukan masuk ke laran logika, itu udah pemakaian. - Mata di kan, ya, itu kan. - Logika, ya, dan mati-mati kan, gitu, ya. - Bisa aku. - Jadi, ini lah, Rana, Rana, Rana yang umum kita pakai di tentang faktafaktat, tentang realitas, biasanya kita akan. urusan dengan faktafaktat dan Rana Empires, tapi biasanya itu juga memakai halal logika untuk melakukan itu pemodelen. - Iya, untuk fakta yang memang, ya, mengenai dia bentuknya pemodelen gitu, - Iya, bentuk-benar lah, - Untuk malar, jadi faktafaktat itu dikasih pola, untuk diinalar, gitu kan, mungkin melakukan prediksi. Kalau gini yang tinggi mana, kalau itu makin-gimana, atau mengambil kesimpulan, itu pasti juga akan makin Rana-Rana, logikanya gitu. - Iya, sebenarnya secara spasifik untuk bagian kefisika atau biologi, gitu, kan, memang banyak informasi di dalam itu, yang si Fatem memang aturan alam sebener-bener kan, atau hukum alam, gitu. - Iya. - W which is why dia jadi yang bisa di modelin, ambil semua yang bisa di modelin, karena itu memang bakal konsisten, di setiap kali kejadian. - Iya. - Senarnya in-way kan, kita bikin logika itu, ya, itu aturan main juga ya, gitu. - Iya, gitu. - Kita definisi in jika maka dengan definisi semua apaan artinya, jika artinya apaan, terjadilah suatu aturan, sehingga kita bisa membuat kesimpulan dari aturan itu. Nah, sebenarnya in-way hukum-hukum alam, yang ada di visika biologi segala macam itu, juga gitu, kan. Ya, ya, ya, udah. Tapi bedanya kalau di logika aturan itu, datang dari kita sendiri, kita yang membuat definisi itu. - Iya. - Dan kalau yang ada di visika biologi segala macam, itu aturan itu datang dari alam. - Kita lihat pola dari alam. - Iya, misalnya kita ngambil pola dari alam. - Ya, ya, ya, ya, pola itu segala. - Oh, ternyata dari datain itu, ternyata, ada pola kejadian. - Yoi, ya. - Nah, saat lagi nih, saat lagi yang sering tadi di Rana Emperi sini, kita berusaha dengan statement statement yang bisa di Uji, benar atau salahnya. Bukan berarti di domain ini harus semua yang benar. - Iya, ya, ya, oh ya ini penting. Jadi fakta sama domain fakta tuh beda, gitu ya. - Exactly. - Jadi ini yang sering terjadi juga benar sih, apakah salah pahaman lah orang terhadap domain ya. Jadi ini lu harus bisa beda ini, bahwa si fakta itu kan, berarti yang udah dikitahui benar nih ya. Salah kayak, faktanya Jakarta Hujan, itu benar ini terata, Jakarta Hujan, ya udah itu menjadi fakta. - Jakarta lagi hujan. - Iya, Jakarta lagi hujan. Itu fakta, nah tapi yang kita masuk dengan domain fakta, itu adalah semua informasi yang untuk mengatahui kebenaran ya itu diperlukan pengacakan. - Pengacakan secara MPRI sendiri, yang sebenarnya betul-betul. Tapi bukan berarti dia udah pasti benar. - Iya. - Kita harus keceknya gimana. Jadi domain itu adalah padatitik gimana. Kita jujur belum tau nih, indolans itu benar atau nggak. - Iya. - Tapi kita lagi mau, jujur kita lagi mau menilai dia benar atau nggak. Nah kita butuh tau di domainnya apa? - Exactly. - Karena supaya kita tau bentonnya apa. - Bentonnya benar atau nggak, ya gitu. - Jadi kalau misalnya digetanya, coba kalau misalnya ada pernyataan kayak gini, sukar no pernah bers linkku dengan merlin monro. Itu masuk domain fakta nggak. Kita vesia kanannya, job. - Enggak tanah salah. - Yang ga lemang, perno slingku gitu gitu. - Ini masuk berumain fakta. - Iya, ya. - Bukan berarti itu fakta. - Karena kenapa balik lagi soal metrologik, kalau logika metodologinya adalah aturan-aturan logika dengan tematis. - Dan sesuai ga farit atau fengar-farit, ada nih matematiknya justifi atau suka macam. Kalau ada memberis, jelas cekler-realitas itu metodologinya penyataan bahwa sukar no pernah selingku sama Madan Monro gitu. Itu jelas masuk belomain fakta. Bukan berarti, again, bukan berarti, udah pasti benar. - Kenapa kita masuk di domain fakta dulu supaya kita tau metodnya apa nih? - Iya untuk tau dia benar atau nggak. - Benda-benda, enggak ceknya pakai apa lagi. - Raman ini, ya cek dengan realitas. - Karena itu untuk tau dia benar, apakah disesuai atau nggak dengan realitasnya gitu kan. - Iya. - Jadi ada di domain fakta gitu. Oke, kayak udah cukup le ya. - Iya. - Rana logis sama empires. Again kalau misalnya belum jelas, bisa langsung ditanya-nya aja oleh badui karena kita udah ada di noise. Jadi bisa komen. - Oke, itu. - Itu berapa yang di sana dengan sebelum-sebelumnya. Jadi, gue kembali buatnya ngerin di noise bisa langsung komen. - Atau tanya ke kita via social media juga boleh? - Iya, DM juga boleh. - Oke, lanjut ke domain yang. - Kanan. - Aria kanan ya. - Relatif. - Dari ya, relatif. - Ini yang natas tuh absoluti-relatif. - Absoluti-relatif. - Iya, absoluti-relatif. - Ya udah kamu mau jelasin kamu dulu ya, bahwa kamu dulu ya? - Kamu dulu ya. - Oke, ini rana relatif yang kanan ya. Yang kan natas, ini domain, sebutnya karena mereka mau ral, karena ethics lah. Sebenernya lebih dari juman yaudah kita asum. Kita angka itu satu inlu kita. - Iya, satu gang lu. - Satu gang lu lah. Kita kanan ini, kita sebutnya absoluti-relatif. Kenapa kita sebut absoluti-relatif? Karena ini standar sangat moral lah. Ethics sebenarnya kita bisa untuk totali, arbiter-arbiter itu sembarangan lu gitu. - Susukat ya. - Di rana ini itu lebih tepatnya di apa ya di. Katak-katanya itu bolnya atau nggak. atau ini hal yang baik, ini hal yang buruk. Itu hal yang baik jahat mungkin, baik buruk. Iya kayak gitu. Itu berusaha dengan bisa jadi prilaku kita. Ya, kayak kita di misalnya contohnya di larang memunuh gitu. Memunuh itu bolnya atau nggak gitu. Itu rana. Itu perlanyaan yang tepat untuk dirana moral dan ethics gitu. Nah, ini per debatannya karena absoluti-relatif, per debatan filosofia, poin, jang banget. - Dan memang nggak ada cara. cara untuk menguntukkan. untuk menarik kesimpulan manang yang benar gitu. - Gak, iya, iya, iya, iya, iya, iya. - Karena gue diharusnya. - Dia gak, absolut. Dia gak diharusnya. - Ni, ini dikit. Ini dikit, ya. Masih aku ke konkretnya ya. Kalau di Rana Empiris, misalnya gue sama sabda beda bad nih. Jakarta ujan gak. Nah, kita pasti bisa nge-gak. - Bisa, udah hakim nih. - Ya, udah hakim nih, ya. - Itu realitasnya aja gitu. Kita tinggal cek. Ya udah menurut gue, gak menurut sabda ujan. Ya udah kita tinggal keluar kosan, terus lihat jen, gak gitu, gak? - Iya, udah. - Iya udah. Kalo misalnya ujan, dan selesai. Perdobatannya berakhir sampai di situ gitu. Makanya kalau di dunia empiris, misalnya gue kerja di dunia empiris, baik-baiknya empiris bukan berarti ilmu alam doang. - Iya. - Ini kanan-kanan juga nih. - Mampiritas sosial. - Iya, sosial. - Ilmu komunikasi, ilmu politik, ilmu antropologi, ilmu sosial lagi, segala maco. Ya empiris juga gitu. Nah di situ harusnya ya. Kalau mereka mengerjakan, bukan mereka sih. Orang-orang di dalamnya lah ya, termasuknya kita juga kalau ada di dalam sujek itu, ketika kita melakukan penelitian atau apa kerja-kerja empiris di sana. Harusnya akan selalu makin gak ada berdebatan gitu. Makin kesana, makin gak ada berdebatan harusnya. Makin ke depan, makin menuju ke suatu kesimpulan, realitasin sama. Tapi aku mau apa ya, bener-bener di nikit nih. Kadang-kadang orang selalu ilmu komunikasi, misalnya. - Minta di ngingin-gingin. - Oh ya. Jangan lupa ya, jadi kalau dalam kehilmuan juga ada hal-hal yang kayak ilmu marketing atau ilmu komunikasi atau ilmu apa, yang di dalamnya udah ada. Ada nge-puralnya. - Ya bener-bener. - Itu kayak misalnya, terlalu engini ring, ya. - Ya misalnya bagaimana cara komunikasi yang baik itu, rana moral. - Ya, gitu. Tapi kan ada juga, misalnya. - Stetik cinta, mungkin moral juga. - Ya, tapi kan ada juga misalnya apa namanya sujek. - Ya, yang kayak misalnya, gini. - Cara komunikasi yang lebih efektif untuk masyarakat Indonesia, nah itu berlarafakta, ya kan. Misalnya, oh, efektif udah di definisi ini, efektif artinya gini-gini-gini. - Untuk mecapai itu, caranya apa, berkali pasnya bener-bener gak itu, misalnya itu gitu. - Benda-bener gak kalau komunikasi secara visual, misalnya itu lebih efektif buat masyarakat Indonesia dibanding secara tertulis, misalnya gitu. - Ya kayak gitu, lah ya. - Oke. - Contoh di rana ilmu komunikasi yang rana fakta. - Tapi bener sih caranya dari sab data di karena emang di ilmu ekonomi juga banyak banget, ya. - Exactly. - Hainkan kayak, ya ini preferansi ini gitu, ini bukan rana fakta. - Nah, bagaimana gini, gini, rana moral apa, semacam itu centrunya adalah apa ya itu. - Terit baik buruk apa, semacam efektif atau gak juga bisa jadi kesana gitu. - Ya. - Rukannya efektif atau gak sih, apa ya. - Ya, definisi efektifnya nanti, ya kita rana moral. Nah, contoh-cantoh rana moral itu yang paling gak emang dulu nih, yang kalau baik buruk gitu kan. Kayaknya saya memunuh gimana, selingkuh gimana. Terus apa gimana, ya lo bisa bayangin bahwa di dalam all these things itu tadi ya. Memunuh, kita bisa ngeliat bahwa memunuh ini bisa jadi, ya. Hampir dalam semua kasus bisa jadi memunuh itu kita sepakat nih. - Iya. - Sepakat bahwa itu salah itu juga salah itu. - Itu gak baik lah gitu. - Iya. - Itu salah secara moral. - Secara secara moral, oke. Tapi bisa jadi dalam konteks konteks untuk, mungkin perang apa lah atau segala macam, kita bisa aja sepakat untuk, ya, ya itu benar nih. Kita membunuh berarti bisa benar dalam konteks konteks ini. Ya, bukan berarti nih lagi-lagi dan bukan berarti gue menyerangkan untuk memgunuh. Ini penting banget di sklema, kan. Tapi kita mau menganalyse ya, atau yang hal ini. Nah, tadi pratin, gue makanya kata sepakat. - Iya. - Gitu karena di dalam moral dan etek sih nih kecendungan ya, datengnya itu sesuatu dari kesepakatan. Dan kemudian dateng dari kesepakat lah atau norma-merging, merging norma-merging itu, apaya norma atau kulture yang, ya, carang gak sadar tumuh aja gitu. Jadi ada penila yang baik, buruk, dan sebagai sebagainya. Nah, ini nih, ini lah rana moral. Nah, tadi aku lupa ini maksudnya closing-nya, aku belum closing-nya, aku nganakus sebelumnya tadi. Jadi tadi kan aku bilang bahwa kalau udah subject-sebutnya kempiris, tuh harusnya makin sedikit perduatan. Karena harusnya bisa mencapai suatu realitas yang sama gitu kan, - Gitu kan, yaudus, - Kami sakul aja. - Gitu kan, dari realitas aja gitu, ya udah tinggal perduatan ya, tinggal di check realitas, tinggal di check realitas, gitu kan. Jadi selalu makin sedikit perduatan gitu, di situ. Nah, kalau di dalam moral, ini maksudnya closing-nya, lah kodana moral, ya gitu. Makin gak ada, apa ketemu, ujung-simpulan itu, makanya perduatan itu, akan anggeles gitu lah ya. Karena selalu perduatan yang gak ada ujungnya gitu. Karena tadi, ya, saudara bilang juga bahwa, ya itu bener-bener, sebebas-bebasnya kan, maksudnya sebenarnya kita bisa nantuin sesuka hati gitu. Ya akhirnya, ya orang akan selalu bisa punya panangan yang berbindanya aja sih gitu. Jadi bahkan tentang memgunuh atau tentang, apa tadi perselingkuan atau apa pun itu gitu ya. Bahkan dari definisinya pun definisinya memgunuhnya nih. Jadi misalnya perduatan yang besar banget di dunia itu kan, suara aborsi ya. Karena ada menganggap, ya aborsi bahkan pemgunuhan lah gitu. Kenapa ya, karena kalau fitus mau bukulah menjadi manusia, kayak gitu, selingat pemgunuhan harusnya, itu mengatikan manusia, definisinya. Tapi nah, bilang, gak pemgunuhan tuh, mengatikan kehidupan definisinya. Nah jadi kalau misalnya. Gara-gara definisinya yang berbeda, jadi kita perbatannya, jadi ada, ya, dan yang masuk dari definisinya per debata. Nah, misalnya definisinya udah sama pun, ya per debata juga gitu, karena kayak. Ya kenapa gak boleh ya gitu, karena kan dia parasitik gitu, gak ada yang bilang, ya oke lah misalnya fitus nih manusia. Tapi dia parasitik nih di badan si ibu, ya gitu kan. Kalau dia di. Kan kalau dia di. apa tuh digusur, yang berdiaffek, yang berdikluarin dari rahim, dia gak bisa hidup on its own gitu. Nah jadi dia parasit nih itu kan ya gitu. Ya harusnya gak apa-apa, kalau kita menggunung parasit dari tubuh kita, karena dia yang berad gue menek kayak gitu gitu. Nah kayak udah tuh jadi contoh berarti di dalam moral. Ya. Tapi ini juga, jadi ada yang berarti kalau normal kita besar, sebebas-bebasnya, nah sebebas-bebasnya udah mengatakan mereka, berarti gue boleh kayak berarti moralitas gue. Nah ini yang perlu di semua orang tau nih, kita tuh dalam moralitas, ya kan. moralitas tuh ada sebelurnya, ceritungnya ada itu, karena kita juga ada urusan dengan orang lain. Ada moralitas pribadi lu terhadap diri sendiri, oke selama itu gak harus ada orang lain, itu diri sendiri. Tapi banyak moralitas tuh, karena kita deal with other people. Nah di situ, nanti nya kan ya kenapa moralitasnya penting itu diperdibatkan, dan kita harus sama-sama sadar bahwa integratif dulu, karena nanti nya kan jadi normal yang kita spakati barang, contoh, misalnya ini lain-lain dalam organitasnya kecil, perusahaan atau apa gitu kan. Terus nanti nya juga kalau udah konteks udah masyarakat bersama, ya kita jadi moralitas ini termani festasi dalam hukum. Dimana ketika udah lama hukum-hukum, kita udah ada perjanjian juga, oh kalau kayak gini, ini di larang oleh hukum, ada hukumannya, ada konsekuan-sekuan-sekuan, jadi bukan berarti, "Bee bas dong, kalau gitu gue, gue percaya kayak gini, gue belifik gini, gue gak kenapa hukum gak jat, janupah, kita tuh ber moral itu bersama-sama, dan ada aturan-aturan, ada spakatan kita, dan terwujud dalam itu, yang nyata, yang ada enforcementnya, lo dan sebagai hukumnya sebagainya. Dan lebih penting lagi kalau misalnya mereka nanya, kayak aku personalnya, kayak, "Oh kok berarti gue di sebebasus, yang gak lah, aku punya sikap moral, jadi aku bakal bilang yang gak lah, gue gak setuju lah kalau lu ngelakon ini, gue nurut gue, jadi kayak, ya kita nyisindirnya sebenarnya punya sikap moral tertentu, gitu kan, jadi sebenernya kalau ditanya ke orang, kayak mereka gak akan bilang, "Bembas, karena mereka juga bakal punya preferensi moral, harusnya lu baiknya gimana gitu loh?" itu termasuk misalnya lu nanya ke gue, atau kesabda, ya kita bakal punya preferensi moral. Jadi kita gak bakal bilang yang gak lah, lu gak sebebasnya gitu, kayak gitu kan, jadi itu juga mesti di, apa ya, mesti dilet bahwa maksudnya kita bebasis ini adalah, ya, hakemi kita sendiri, masih yang gimana, hakemi kita manusia sendiri, bisa kita teribah di kalau gak ada lu sene morang lain, bisa aja ketika lesia yang dari gambang deh, gitu kan, misalnya, gue makanya gitu, gue pribari punya main moral standard kayak gini-gini ateks sama moral standard, tapi ketika kita berubungan, kita punya moral standard yang berbarangan dispakati-barangan gue makanya gitu. Nanti kalau misalnya 20 saat, kita ada spakatan dalam satu perusahaan, lebih gede lagi, lebih lu yang keluarga mungkin, gitu ada spakatan juga, ya ada preferensi kita sekawarga, mungkin beda emak luar gangguin, gak gak apa, tapi kita perlu spakat ini, karena kita moral standard gimana, ya, karena itu ada di kita sharing resources sebenernya, kayak misalnya kita satu rumah, atau kita satu negara nih lahannya sama, akhirnya kita jadi butuh aturan moral yang kita spakatin barang gitu. Bisa ya, bisa jadi sharing resources, itu satu-satunya, tapi juga bisa jadi ada emotional bond, oh ya, sih ada bonding, gitu kan, di mana, kayak nama kalau kita bikin orang lain gak happy atau gimana juga, ya, ya terpengaruh, ya kita punya spakatan keluarga, poin jangan ada di dalam keluar, gini, mulut dirik, ga apa, kan, lu bunuh diri, kalau bikin gue susah aja, gue sedigi-sedigi, gue ga tau, gue tau nih, bisa aja, ya punernya juga, gitu, ya, ya, ya, ya, ya, wapun dia sebenernya jadi, "Yau gak makan resources?" ya, ya, ya, ya, ya, bener-bener, ya, ya, bener-bener, nah, terus yang lebih penting lagi juga, kalau mertakuh ada lagi nih, kan karena orang-orangnya membasisnya, apa sih lu nyimpuling kalau itu relatif gitu kan, kan, padahal kan ada nih aturan, ya apa lah gitu yang, agama, gitu kan, apa, apa, normas, gitu, apa yang kayak, berlaku nih versalnya, berlaku, bukan cuma di dunia ini, doang lagi gitu, dan melampau ya, ini kan, musuhnya bukan cuma bangsa manusia, doang ya, bangsa, - kewan. - hantu, hantu, juga, - oh, okay. - maksudnya,
- Ya, kalau aku langsung gama ya, ya sekarang, gini ya, kalau misalnya dirana empires, ya, gue mau nggak setuju sama gravitasi gue bakal tetep jato. - Hmm, dari ketingian, setelah kalau gue. - Oh gue nggak setuju nih, aku mau kemium tentang gravitasi. - Ya, setuju. - Ya, budu, ah mah, dikitin. - Iya, setuju, jatuh, ya. - Sok, sok, silahkan terjun, ya kan? - Ya kan, tetep aja jontor juga, ancur juga gitu kan, kan, "Aspal." Nah, tapi kalau di rana mor, ya sekarang liat aja orang kalau misalnya nggak setuju, sampai ngejadikan nggak ada. - Gak, jisur itu nggak ada hukuman inversal yang mengikat dia gitu. - Ya kan, nggak ada hukuman inversal yang mengikat orang untuk melakukan itu. - Nah, ada pun misalnya, tapi ada konsekwasi yang kan, tapi nanti, di dunia yang berikutnya. - Ya kalau nggak ada di sini, balik kempirisnya, ya terus gimana gitu kan, nggak ada memuktian ada dong nih. - Nah, ya, itu tadi, nggak jalan merah-merahal ini, ini penting banget untuk diketahui, bahwa nge-1, sepaka-lama sepaka-lama yang di dalam dunia ini. - Iya. - Kual sekuasih hukum ada dong, kalau gitu. - Ya ada betul. - Tapi gue nggak setuju banget ini, gue mau beri pastri sini. - Silahkan. - Ada pilihan hukum lain juga kan, kan? - Ada pilihan, nggak gini. Ada pilihan untuk, ya, udah mengubah hukum tersebut gitu kan. - Oh ya, mengubah. atau misalnya melanggar terima konsek mencengkinnya -Langgar terima konsek maksudasi atau finda - lightly, grega impressed / Прosesıyorum sim salted / N SIM ، profis akan menyebabkan benar Poco malah ada banyak orang yang kek司 carry vie itu tadi ada - Bagaimanaan kita kalo enthusiaster kami / venting - Di salah satu contoh dimana - Rana moral, itu penting juga mempertimbangkan - Nantinya Rana, empires dan - Rana kering-nya lah - Supaya apa contoh misalnya - Kalo misalnya kita - Paya tadi ini ada agama - Agama ada - Diga pilihan, selalat lama - Nanti akan senang-senang, akan biasanya saja - Orang akan dihukum - Sengsara - Diga pilihan, selalat lama - Kalo kemelaan ini, lalu akan dapat hukumannya - Deterima di B atau di B - Itu adalah kepecayaan masing-masing orang - Yang berbeda-beda - Bukan, bahkan satu agama yang sama - Ke percayaan, berbeda-beda, aturan ini - Bisa jadi antropratasi aturan ini berbeda-beda - Segangmen cem - Pintingnya Rana empires di sini - Ada apa, bahwa - Kalo kita nggak ada hakinin jelas - Maksudnya kita realitas tadi - Dan kita nggak bisa membukuhkan itu ada - Orang-orang jadi punya hakdom - Untuk nggak percaya sesuatu yang - Yang-yang-yang percaya gitu - Atau bisa jadi tujuan hidup ini juga berbeda - Bere ya, gitu - Iya betul - Misalnya kayak, oh tujuan hidup - Gue masusur, ya udah - Itu suaranya - tujuan hidup - Gue berbeda, gue mau semuanya - Mereka atau lain-melaan gitu - Sampai - Gue nggak percaya seengen gitu - Gama macam - Nah dari situ, kita - Jadi ada - Perdebatan moral yang berat dan - Jadi memang harus liat dress - Iya - Nah, itu lah - Kenapa itu relatif - Karena kita ingin tergirang berbeda-beda - Apa yang kita percaya - Terlalu ada konsekualsinya moral itu berbeda-beda - Dan nggak bisa kayak - Grafikasi tadi gitu - Nah ini perlu - Perlu nih - Ada rana empirisnya untuk nge-check - Untuk nge-check - Segera macam apa - Surtik itu - Iya itu penting masih - Aku juga jadi ingat deh - Walaupun moral itu - Masusnya iaby bas yang seralatif itu kan - Bih bas nih kita moral untuk intapi - Yang sebenarnya kadang-kadang orang - punya basis tujuan sebenernya dalam - Menentukan moral dia itu - Iya - Kayak misalnya conten - Yang paling sering di berdebatkan yang - Aku misalnya sering aku liat gitu ya - Adalah misalnya dalam konteks - La rangan-la rangan terkait - Seks lah - Misalnya la rangan seks bulanika - La rangan homoseksualitas - Seks sama jenis - Biasanya ada argument - Yang berbualan tujuan - Masusnya misalnya kayak gini - Kenapa sih kita nge-la rangan seks sama jenis - Karena itu menimbulkan HIV - Kayak gitu - Nah itu kan seks sama jenis menimbulkan HIV - Itu udah masuk rana empiris - Harusnya butikan benar-benar ga sih - Bawa seks sama jenis itu menimbulkan HIV - Misalnya - Terus apakah seks yang lawan jenis - Karena itu ga dilarang itu ga menimbulkan HIV - Misalnya - Kalau dia menimbulkan HIV juga - Betulnya ada segaran dua-duanya - Apa gimana nih gitu kan? - Nah itu contoh - Dari sisi - Misalnya seks sama jenis tadi konteksnya - Terus yang lain lagi misalnya tadi larangan seks bulanika - Maksudnya misalnya ada yang bilang - Oh seks bulanika itu - Bisa menimbulkan depresi misalnya - Nah kan harus di - Check dirana - Benar-benar - Seks bulanika itu menimbulkan depresi gitu kan - Jadi ini terlepas dari nanti yang perdebatan lagi ya - Apakah kita harus menghindari depresi itu kan - Dara nana, relatif lagi ya - Oke, ya sebenarnya bisa aja - Algo mau ya depresi bisa juga kan - Tapi maksudnya partitik dimana - Even if kita setuju - Bawa kita harus menghindari depresi - Atau tadi kita harus menghindari HIV - Ya, ternyata harus dibukutikan lagi - Apakah tindakan itu menimbulkan itu - Apakah ini ya gitu ya - Karena pakai logikan dan empiris lagi juga gitu - Bertik kalau gitu - Kesepakan sepakan yang akan kita hasil - Kandaran society - Untuk mereka merahin semural - Banyak yang juga menibatkan empiris - Ya, dan logikan - Ya logikan dan empiris - Terakhirnya lah ya - Karena kita perlu untuk ngecek beneran - Ya, kalau tidak ya, apa ya - Kita berbatis itu kan - Iya, karena kan biasanya gitu - Biasanya kan argument ini bahwa kan - Masuknya empiris, masuknya empiris logis gitu - Bawa kalau kayak gini, bakal kayak gini gitu kan - Bisa orang kayak gitu ya - Atau yang contoh ini yang cetak uang sebagai banyaknya kan - Iya - Modern monitor ya apa - Whatever itu lah - MMT apa itu kan - Ya kita sebenarnya ga panggil sih cara menyelesaikan ini - Kita cetak aja uang sebagai banyaknya - Sedangkan kan ada prinsip secara umum - Ga boleh cetak uang sebagai banyak banyaknya gitu kan - Tapi ga bolehnya ini ada - Ada tujuannya gitu - Nah tujuannya harus di buktikan - Si cara empiris bener - Bawa kalau kita nyetak uang sebagai banyaknya - Bakal nimbulin apa - Karena ada konsekvensinya - Iya, seleksi secara yang kita hindari - Ya, maka kita hidari - Ekonomial ya gitu - Itu yang kalau kita ada pris berikutnya - Kalau ini ternyata gini - Di itu gini - Ternyata nimbulkan gini - Ga mengenai - Soft the problem lagi - Iya, ngomongnya saya kamasalah - Misalnya gitu kan - Itu jadi ada bagian empiris logisnya juga - Itu penting banget sih, meletak untuk - Lagil lagi sama ke - Anelogi sama ke - Ketadi empiris memakai rana - Matematik ada logika - Untuk mendapatkan reliability - Moral juga, rana moral dan ethics juga - Penggunakan - Planas kiri - Rana kiri untuk - Apakah bener itu bisa mencapai tujuan tujuan moralnya - Iya - Karena biasanya tadi moral atau ethics ada - Untuk serving apapest untuk menghasilkan suatu juang - Untuk mencapai suatu juang - Walau pun dia bebas, tujuannya itu juga bebas - Itu nantukan - Bisa terbatkan - Iya, bisa berbatkan - Tapi sebenernya sering kali kita cukup spakat - Ya contoh ga mengenai misalnya kita sama-sama mosehat nih - Iya - Tapi atoran seperti apa? Atoran moral seperti apa? - Yang menuju sehat - Nah ini harus dicak lagi empirisnya - Ejak lagi - Gitu sih - Iya, nah - Udah mau yang banyak - Menurutnya kalau kita ada perdebatan, kita harus bisa pisahin dulu - Ini pertanyaan di domen yang mana? - Iya di domen yang mana? - Kemulian di domen itu bisa jadi ga seharus pisahin - Di sana kita pasti mau libatkan - Ya tadi moral, mau libatkan Rana kiri - Iya - Dan ember kealnya, butuh pemodialan di rano logis dan sebagainya - Benar - Tapi ini harus penting nih - Apa penting banget untuk harus bisa - Assign, tu derait domen pertanyaan itu perdebatan, tujuan mana? - Sendikit aja tata terakhir lagi semasih seolah moral - Soalnya ini emparing sering di perdebatan ini social media Terutama yang terkait dengan kebijahan publik lah ya Maksudnya pemerintah bikin aturan apa - Nah karena itu orang-orang udah langsung berdebat aja Padahal dia belum menyamakan tujuan gitu - Iya - Sedangkan tujuan itu kan relatikan - Beda-beda - Jadi kebebaskan sebenarnya tapi Berdebatnya langsung liat tataaran Aturan moralnya gitu Misalnya tadi Jangan cetakkuang sebenarnya banyak-banyak game Misalnya gitu aturan moralnya Tapi mereka belum menyamain ni tujuannya apa Tapi mereka udah berdebat Yang kalau misalnya cesak, "Wangan bakar jadi gini" Bakar jadi gitu Ya kalau kita belum menyamain tujuan - Iya sama kayak gini - Jadi kayak kebijakan aku menyen bagus gini-gini - Sakarakan udah ada suatu tujuan yang sama - Iya - Desa semua orang gitu kan - Sehingga bagus itu ada acuan - Ada yang pengen itu jadi negara - Maju tanda kutip gitu - Ada yang maju nya - Ada yang maju nya apa - Kita gini-gini aja ga apa-apa gitu - Iya - Ada yang mungkin Oh semua orang Aino nya harus Samarata nih Ini kayak aneh - Kayak aneh siara financialnya misalnya gitu - Iya - Bila itu oke tujak apa Langgalan-langain ini bisa Bisa tepat kalau misalnya tujuan itu Tapi ada yang ga dong ga bisa gitu dong Ya orang harus diargai sesuai dengan - Contribusinya - Contribusinya sebagai misalnya gitu Jadi kita harus Apa pendebatan moral kadang-kadang Dengan most important thing Kita Cek Objectiva tujuan ni apa - Iya - Paksa spakat ngani - Iya mau depan-paksa - Mereka mau ngga pahin - Mereka mau ngga pahin - Iya itu ngga pahin - Iya itu ngga pahin - Iya itu ngga pahin - Iya itu ngga pahin - Iya itu ngga pahin - Oh iya, oh iya itu majantannya - Iya tiba-tiba kayak ngomongnya - System korainnya paling bagus gini-gini - Iya bag ini apa dulu tujuannya gitu kan - Karena harus di definisi kan tujuannya dulu - Bagaimana kita ngomong yang mana yang bagus gitu - Tahu, tau langsung ngomong yang bagus aja - Terus gara-gara lucu, maksudnya kayak - Ini di jepang aja orang sekolah cuma 4 jam gitu - Terus kayak apa nih relefansinya gitu kan - Aku bingung kan kayak em apakah berarti - Kita ngomongin durasi ini sebagai tujuan gitu - Bahwa semakin sedikit waktu sekolah semakin bagus - Ibu apa kan tu? - Kalau penuhkan gak main, banyak orang tuh udah - Tapi asamson namanya penuhkan yang bagus tuh gini gitu - Iya - Tujuan menuhkan tuh gini - Waduh kalau udah terjuni penuhkan - Perdebatan dengan tujuan penuhkan sendiri - Udah peribatan ini itself yang ada
- Ada misalnya - Apalagi cara nya ya - Sini ada next step lagi - Buru - Ya, ya - Next - Next, next - Aseatex - Aseatex - Terakhir ya, ini di kanan bawah - Kanan bawah, ya, udah masuk udah domin relatif Kita sebutnya relatif-relatif - Bayu2 kan moral dari absoluter relatif - Total relatif - Relatif relatif, dari basanya banyak yang - Mikir relatif-relatif, lebih relatif - Karena ini relatif-relatif, dua kali, kuala-kuala, nggak bukan - Absolut relatif, itu lebih relatif - Karena relatifnya absolut, ya, udah total relatif Sedangkan relatif-relatif, ya, relatif lagi - Relatifnya relatif sih, gitu, belum - Kenapa kita masuk ke nis itu? Ini randang-rang, atau bagus jelak Indah, kindahan lah, estatex, enak juga estatex Nah, di rana ini kenapa kita sebagai relatif-relatif Nanti ada penjelasan ini Ketika-kita, anustani human Karena gimana pun juga, ya Ada kita berevolusi dengan suatu pola pressure, salak-samprasi yang terlalu Shingga banyak jajmen-jajmen kita tentang estatex Yang cukup universal, gitu Jadi ada yang cukup universal, atau etnis regional Gengan artinya, bahwa kita evolved dari kayak gini, cantungannya Kegini yang kita anggap jadi Indah baik, dari sebagainya - Apa Indah bagus dan sebagainya? - Iya Nah, dari CC, dari CC, ini sih cukup jelasnya kayak baik kok also yang indah atau bagus-nya, film yang bagus-nya apa sih, film yang bagus-nya apa sih, film yang ini. Kenapa kita sebut terlatif, udah jelas itu itu ada prefer�ensi-masih-masih-masih-masih. - Terlarah. - Tapi yang seru nya, ternyata ada hal-halin sih, apa yang diversal apa yang kita angkap, cantik, misalnya kan, tepsek sih gitu, mau cowomah, kecew, adah nih hal-halin kayak gitu-nya. Nah, kemudian bisa juga kita bisa melihat nih lagu yang bisa bagus banget kayak apa gitu. Itu walaupun preferensi-masih-masih-masih. Kau nangka ada aja, bisa lagu yang universali kita bisa, lihat itu bagus-safajernya. - Iya. - Ini seru nih, seru nya kenapa karena disitu ada certain frameworks, ada certain, ada yang mengajukan lah model-model untuk melakukan penghakiman, terhadap ini gimana. Nah, ya, definitly, setelah relatif. - Tapi. - Iya. - Ya, gak seratif itu. - Gak seratif itu. Ada-ada-ada certain parts yang bisa kita perdebatin nanti. Tapi, ya, ini kalau bagi aku sih, ini bukan suatu hal yang sepenting itu ya. - Iya. - Gak sepenting itu untuk perdebatannya, ya, sepenting itu. Tapi, sangat-sangkat, marik. - Iya. - Menarik. - Menarik banget. Karena juga nanti-nya banyak juga yang ulusan dengan publik juga, kan? Contohnya, misalnya. Kita mau nangjang tot kotak seperti apa? - Kotak yang indah. - Kotak indah itu kayak gimana. Kotak yang, ya, itu kayak gitu. Itu bukan, bukan enamorannya ya, tapi indahnya nih. - Iya, indah. - Bisa jadiannya di dalam enamnya ya, ya, bisa aja. - As usual, di rana kanan ini akan selalu juga, cantung memakai juga nanti empiresnya. Atajannya juga mungkin mahalnya gitu kan. Otornya, otornya, otornya indah itu misalnya. Itu meningkatkan ke bagian, ya, ke bagian masyarakat, sebagian, udah nama-laki-sepakatnya, kita mau nanggan ke bagian. - Mau-mau bagian. Itu serana empiresnya bener-bener gak gitu. - Ranta hebret. - Iya, enel-air empires. Bener-bener gak nih, kayak gini, emang meningkatkan ke bagian. - Iya. - Oke. Tapi yang jelas, kita udah tau nih, ya, domen-domen ini ada. Dan mungkin kita kan bisa bagi-bagi, kita gak akan bahas banyak di rana kempat ini asetik, tapi kita akan punya rana khusus. - Apa, apa? - Akan punya episode khusus. - Episod khusus. - Untuk nomba soal ini. Karena ini sangat menarik dan seru dan bisa jadi ya, ini gue ke sekedar kasih epat trailer. - Iya, apa, bahasnya. - Tisar. - Tisar, balik. - Tisar. Di sini tuh biasanya, ya, akan sangat pake kalau misalnya mungkin dalam memilih pasangan. Atau mencari pasangan, kan? Kualiti, becoming a quality male atau female atau apa-apa pun, gitu kan? Bisa jadi kalau lo mau jadi apa mungkin, jadi influencer, jadi apa, segala macam. Ya, effektifly atau beautifully gitu kan? Jadi public speaker gitu kan? Kamu negator yang effektif yang yang yang yang keren, ya apa segala macam. Nah ini bisa nih atau musician atau arts, atau palah gitu. Nah ini seru, tapi. - Nah kita bahas sih sih. - Nah kita bahas sih, tapi gue udah cukup. Sama ya, sedikit aja sih aku terkait aesthetic ya. Sebenarnya kita bisa juga menggeser dia menjadi kerana empires dengan membuat indikator-indikator. - Iya. - Jadi kayak misalnya mungkin lo pada familiar lah dengan awards- awards terhadap seni ya. Misalnya awards, radap film, meleduk-radap musik. Nah itu kan si jurinya itu membuatkan indikator-indikator. Indikator itu bebas, yang indikator-indikator itu relatif. Mereka bikin sendiri ukuran apaan, tapi setelah ada ukuran itu, akhirnya dia jadi masuk kerana empires gitu. Akhirnya dia bisa dihakimi siara empires. - Hmm. - Misalnya kayak kita mengukur rot film yang paling bagus itu adalah yang durasinya antara 1-1,000 jam, gitu kan? Ya udah tinggal semua film yang lebih panjang atau lebih pendek dari sejam, lebih panjang dari 1-1,000 jam. - Gak bagus ya kan? - Gitu aja, nah itu kan, dilihat dari empiresnya kan? - Gitu. - Tahu misalnya film yang melibatkan sebanyak mungkin keragaman warna kulit adalah film yang bagus. - Oke, aku juga bisa nih masukin itu di rana empires gitu ya. Rana empires. Tadi kita belum sempat bahas, tapi ini ada realiti. Itu ada yang siatnya objektif. Objektif tadi, alam. Bagi menalam bukir jalan sebagainya. - Iya. - Nah, tapi kalau ada spesifik mymythric, ada di antropolog itu mungkin juga, nilut montang manusia, ada subjektif realiti, - Iya. - Isipu mikiran orang. - Iya. - Eh isipu mikiran orang, bagaimana mereka merahkan merahkan merahkan merahsat? Itu subjektif realiti itu. Nah bisa jadi, SITG itu bisa juga kita dengan metodeologi emperis dengan cara nacik di orang ini gimana, reaksinya gimana, gimana, contoh misalnya pemilian katak-katak aja. Misalnya contoh, kataribet. Ribet itu kan kalau kusut lah, kalau ada tali, kusut ya, jelas kebayangan, kegulung apa, ke ribet teriap, ke luke-absi, ke slaps lips, kelah itu lah, kusut kita. Tapi kata berkelin dan, berkelin dan sescar konotatif, ada nuan saya, wow, gitu. Padahal isia sama aja, berkelin dan sama kusutnya sama aja. - Itu bener-bener, ya, berkelin dan sama bahasanya. - Itu kan yang gitu, sangat gitu. - Alp, sangat. - Alp, gak berapa kasi, kan? - Iya, berkelin dan kayak saling terkait, saling ini segala macam-macam. Nuan saya udah beda gitu. Nah itu, subjektif realiti berbeda, kita bisa cek denger kata ini, nuan saya gimana, itu salah satu estetix. Nah tapi, defect doa orang itu berasa ini, gitu, gitu, bisa kita cek, rewat metodeologi yang ada di emperis, tapi beda. Metodenya aja ya, sama tapi, apa subjektif berbeda ini bukan realitas alam, tapi realitas isio atak manusia, gitu. - Iya, tapi ya, rata juga, gila, rata sempiris juga, gitu. Nah ini serunya, nanti kenapa itu seru dan menarik, karena ini berubungan-engan subjektif realiti, dan lagi menakit kita, dari situ bisa jadi efektif gitu, dengan tujuan-tujuan yang mau kita capai, bisa jadi mungkin lebih terima kata-kata nya, lebih terima, carang ngomongnya, lebih bisa lebih lah kulah, kalau jualan apalah, gitu kan, marketingnya, gitu, nah itu lah, di Rana-Rana yang estetix yang akan memake campuran 2 mm. - Iya. - Gitu sih? - Terakhir, menurut aku lumayan penting untuk kayak, apa ya, tambahannya sih sebenarnya, ya itu Rana Engineering, yang mencapur semua hal ini, gitu. - Iya. - Oke, misalnya dalam konteks kita mendesan produk, ya. - Iya. - Ya, misalnya kita mendesan. - Baya 2 perlalu terkenanya. - Nanya ini bukan berarti, - Adalah, bukan berarti, kan? - Adalah, bukan berarti, kan? - Adalah, kan? - Iya. - bukan berarti Rana-Rana baru, tapi, - Encherna itu, - Most of our time, ya most of our time, di dalam kehilupan kita, justlah mereka mencamber, kempatnya, - Untuk. - Ya, untuk menuhi kebutuhan kita. - Kemudian kita mencapai 3 juan kita dan sebagai sebagainya. Nah itu, kita sebut encherna, karena kita mereka ya, - Rekalitas. - Rekalitas, untuk mencapai 3 juan kita, kita ada yang ngomong bilang, - Mendi design produk, - Ya, untuk produk. - Nah itu biasanya kan, - Rana-Rana lagi sempirnya jelas. - Oke. - Jangan kayak contoh kita bikin saat, kan? - Ya. - Kita mau terbang nih, - Kita mau terbang. - Kita butuh suatu barang yang bisa bantu kita terbang. - Ya, tujuan moralnya dulu nih. - Iya, tujuannya kan, - Iya, tujuan moralnya kita, - Kita sepakat gak sih kalau kita butuh suatu - atau al-transportasi yang bisa cepat, sampai dimana-wara, - ya sih sepakat, - atau katal, - at least ada market yang suyur dengan itu. - Iya, gue mau lebih cepat, - atau dari sini kesana, gitu kan. - Oke. - Dari kita butuh design suatu terasur rasanya lebih cepat, dan dikatakan, - otor-otor, - panci-patu semaya caranya ada terbang. - Iya. - Bandingin lewat air atau lewat darat, - darat harus panci-patu udara, gitu. - Nah baru, - dari situ kita punya pertanyaan baru dong gimana nih? - Bikin suatu ini bisa terbang ya kan? - Nah, masuk lana-nya empiris. - Dari fisika, otor-otor, - di fisika. - Ini ada nih Bernoli, - Bernoli. - Dan ini, dan ini, - bisa, - Oke. - Ini jauh seterbang, oke. Selah kita ada bikin terbang, - teriata orang ada butuh juga dong, - bagian estetiknya kan? - Iya. - Oke, malas juga nih, - naik pesawat yang nggak bagus lah, - gitu misalnya jelak nih, - bentukan pesawat nih, - atau tempat duduknya atau apa. - Nah, akhirnya dari situ, - di design juga, - dalam misalnya, - maksudnya, - bahan luarnya pun tampak, - mampakan juga. - Sampai, - akhirnya tercipta lah, - produk pesawat yang, - orang terima, - sebagainya itu, - untuk mereka melakukan perjalanan yang cepat tadi, - yang mereka mau tadi, gitu. - Nah itu, - rana yang jenirin itu campuran semuanya gitu, - jadi makanya kan yang-kanang, - orang nggak tau yang mungkin off-ended atau apa, - kalau aku bilang yang jenirin, - itu beda mesai, - yang jenirin, - itu bukan mesai. - Oh ya, beda lah.
- Kamu enginir, kan orang yang kadang-kadang memutu. - Mungkin kan rada gimana gitu. Wadah-wadah bener kan? Masanya karena science itu rananya empiris murni. - Rana science, normalnya ada mempelajari. - Iya, pak tanya apa? - Pak tanya apa? Polak kerja yang gimana? - Iya. - Enginir yang udah gobi on itu. - Iya udah rana moral. - Memakai semua fakta dan sebagai model model framework. Apapun yang ada di science muruh itu memilinkan realitas untuk mencapai sesot jual. - Enginir yang ada. - Iya, atau mempunuhis waktu kebutuhan. - Punggis kebutuhan gitu, ywing. Dan ini, ini contoh bagus ya, soal sawat tadi. Karena ada campuran antara moral juga nih. - Iya. - Du lu, zaman dulu solusi pertama ya bukan sawat, yusur malah. Balon udara. - Oh, ya. - Balon udara itu, Pak. Aku lupa itu, Pak. Gaksnya apa? Paknya, gaksnya enteng lah pasti kan. Gaks enteng nih. Udah lumayan efektif, tumbuh orang dalam jarak jauh, kita lumayan cepat dan kalau, tapi itu kasus yaptain ya. Kebakaran, resiko kebakaran, tinggi. - Karena ada gaksnya gitu ya. - Iya, dia berdua dikasih, dia sih tuh kan. - Oh iya, iya, api. - Ahirnya ada resiko untuk kebakaran. - Orang-orang ga mau? - Orang ga mau resiko, ga jadi terima orang. - Iya, itu sangat bagus. - Iya, itu sangat bagus ya. - Jadi, ya udah di lebih kulit lagi. - Apa yang yang paling baik adalah untuk lapan ini dengan. - Bagaimana supaya kita terbangnya dapat, tapi kebakaran ga gitu ya? - Injakli terbangnya dapat, cepat atau segel mahalnya, tapi ini yang ga namanya rana moral tadi. Pinting, akhirnya balik lagi ke rana empiresnya, "Wat is the better way, lalah untuk mencepai tujuan-tujuan moral tadi." gitu kan. Itu seru di situ rana engineering, "How can you achieve something better faster" apa segel mahalnya. Jadi, ada perberbatan moral, ada perberbatan moral, ada perberbatan moral, ada perberbatan asetik, tapi dibantu dengan rana empiresnya. Lalu jauh gitu tadi untuk mencepai tujuan-tujuan sebut. Itu yang penting, penting, pertambahan dengan engineer. Iya, jisru aja, jisru aja, ya udah next step dari sayang sejujur kan. - Gimana tadi dari pake-pake itu, jadi ngulik, gimana nih supaya bisa tercampa tujuan dengan sebaik mungkin caranya. Nah, ini sedikit caranya sih mungkin tadi dari tadi kita ngomong moral, aku lupa sedere kita udah ngomong atau belum moral disini. Karena orang-orang mikirnya moral itu tentang. - Cuma skler baik buruk. - Baya baik buruk yang ngerti ngasih yang kayak, maksudnya jahat, tiyak gitu-kita maksudnya yang kayak mulia, gak mulia gitu. Tapi kan bersen kita ngomong tujuan mungkin jadi bingung ya, kenapa tu rana moral gitu. Jadi, emang kita term moral disini itu sebenernya lebih ke ara baik yang sifati bukan soal baik jahat, tapi lebih ke apa ya. - Eksektif. - Iya bisa juga pokoknya. Apapun, kita anggap sebagai suatu baik. - Kita harus pakat lah, kita harus pakat dengan jatuh yang baik. - Iya, itu segoat yang baik. - Muka dengan maksudnya, segera keting bahagia, kan. - Segoatnya, seperti itu. - Segoatnya, jadi nggak harusnya yang bagus, atau ibel. - Ya. - Suka, tapi bisa juga yang kita dimisahannya, kita punya tujuan transortasi lebih cepat. Itu kita masuking kerana moral. Karena ya itu sebenernya diskosusnya memang bagus atau bed, kan sebenernya baik buruk. - Tapi, karena orang yang membayangin baik buruk, harus ke ibel gitu, baik buruk atau bed. - Ini sedikit cahat dan aja sih, spayang nggak bingung. Jadi kalau kita nyabutin tujuan itu rana moral, karena memang itu concerned with what's good. - Iya, itu setiap abit rari. - Abit rari dan concerning what's good. - Itu sebenernya, kebakaran is bad. - Iya. - Bakaran is bad thing for me, jadi gue nggak mau kebakaran. Tapi gue mau lebih cepat, nah, itu segoat ting. Bagi yang cepat, nah jadi itu rana moral. Itu aja sih. Jadi hofully dengan penjasaan-anaran ini, dan nantinya dengan berbagai macam cotolain, kita akan selalu ngeri versi nih. Semoga perdebatan yang kita lebih sehat dan lebih terara, lebih effektif. - Iya, atau ya sebenernya bahasaannya lebih produktif sih. - Lebih produktif. - Eproduktif tuh artinya lebih ada hasilnya gitu. - Iya. - Permancangan dan perdebatan yang ada. Ada hasilnya karena jelas koridor-koridor. - Iya. - Alright. - Terima kasih, guys. - Terima kasih. - See you next time. - Bye.
Podcast Summary
Key Points:
Podcast membahas pentingnya memahami "for romance" (domain-domain) dalam berpikir dan menganalisis masalah.
Ada empat domain utama
Domain logika fokus pada struktur penalaran (valid/invalid), bukan isi pernyataan (benar/salah).
Domain empiris berkaitan dengan fakta objektif yang bisa diverifikasi, seperti kondisi cuaca.
Domain moral dan estetika bersifat relatif karena tergantung konteks, tujuan, dan selera individu.
Kesalahan umum adalah mencampuradukkan domain, seperti menggunakan kata "pendapat" untuk pertanyaan faktual atau menganggap fakta sebagai justifikasi moral.
Matematika dan logika bersifat konsisten secara internal, tetapi penerapannya pada dunia nyata memerlukan pemodelan yang tepat.
Summary:
Podcast ini membahas kerangka berpikir yang disebut "for romance" atau empat domain, yang penting untuk menganalisis masalah dan informasi secara tepat. Para pembawa acara menjelaskan bahwa domain-domain ini dibagi menjadi dua kategori utama: absolut (kiri) dan relatif (kanan). Domain absolut terdiri dari logika dan empiris.
Logika berfokus pada struktur penalaran, seperti valid atau tidaknya sebuah argumen, bukan pada kebenaran isi pernyataan. Contohnya, dalam silogisme, jika semua A adalah B, dan C adalah A, maka C pasti B—ini soal struktur, bukan fakta. Sementara itu, domain empiris berkaitan dengan fakta objektif yang bisa diuji, seperti apakah hujan turun di Jakarta.
Sebaliknya, domain relatif mencakup moral/etika dan estetika. Moral berkaitan dengan penilaian baik atau buruk yang tergantung pada konteks dan tujuan, sedangkan estetika berkaitan dengan keindahan yang subjektif berdasarkan selera individu. Masalah sering muncul ketika orang mencampuradukkan domain ini, misalnya menggunakan kata "pendapat" untuk pertanyaan faktual atau menganggap fakta ilmiah sebagai justifikasi untuk perilaku tertentu.
Para pembawa acara menekankan pentingnya menggunakan metodologi yang tepat untuk setiap domain agar jawaban yang diberikan akurat dan relevan. Mereka juga menyoroti bahwa matematika dan logika bersifat konsisten secara internal, tetapi penerapannya pada dunia nyata memerlukan model yang tepat, seperti contoh satu tambah satu bisa menjadi tiga dalam konteks kerja sama. Dengan memahami kerangka ini, diharapkan pendengar dapat berpikir lebih jelas dan menghindari kesalahan penalaran umum.
FAQs
Four Domains adalah kerangka berpikir yang membagi permasalahan ke dalam empat ranah: logika, empiris, moral/etika, dan estetika. Ranah kiri (logika dan empiris) bersifat absolut, sedangkan ranah kanan (moral dan estetika) bersifat relatif.
Karena keduanya memiliki metodologi yang berbeda. Logika fokus pada struktur penalaran yang valid atau invalid, sedangkan empiris fokus pada fakta objektif yang bisa diverifikasi, seperti 'di Jakarta sedang hujan'.
Dalam logika, kita tidak menilai isi pernyataan sebagai benar atau salah, melainkan menilai struktur penalarannya sebagai valid atau invalid. Contohnya, dari premis 'semua A adalah B' dan 'ini adalah A', kesimpulan 'ini adalah B' adalah valid secara logika.
Karena topik seperti evolusi berada di ranah empiris yang bersifat absolut dan faktual, bukan ranah opini. Pertanyaan yang lebih tepat adalah meminta penjelasan atau analisis, bukan pendapat pribadi.
Domain moral berkaitan dengan etika dan penilaian baik atau buruk, sedangkan estetika berkaitan dengan keindahan dan selera. Keduanya bersifat relatif karena bergantung pada konteks, tujuan, dan preferensi individu.
Gunakan kerangka ini untuk memisahkan permasalahan ke dalam domain yang tepat, sehingga kita bisa memilih metodologi yang sesuai. Ini membantu menghindari kesalahan seperti mencampuradukkan opini dengan fakta atau menerapkan logika pada hal yang seharusnya empiris.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.