Go back

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati | 3. 24 Jam Sebelum Mati

0m 0s

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati | 3. 24 Jam Sebelum Mati

Kisah ini mengikuti seorang pria berusia 37 tahun yang memutuskan untuk bunuh diri dalam waktu 24 jam. Ia menghabiskan hari terakhirnya dengan membersihkan kamar yang kotor, mandi, bersolek, dan menulis surat permintaan maaf untuk orang-orang di sekitarnya. Ia berbagi makan siang dengan satpam yang mengenalnya, mengunjungi psikiater untuk mendapatkan obat dengan dosis tinggi, dan membagikan makanan kepada kucing liar yang ia rasa mirip dengannya. Di malam hari, ia pergi ke karaoke, mabuk, dan berdansa hingga diusir, menikmati kebebasan yang tak pernah ia rasakan. Kembali ke apartemen, ia bersiap untuk mati dengan memakai topi ulang tahun dan meledakkan konfeti, lalu menumpuk obat-obatan di atas kulit lumpia untuk ditelan. Namun, saat hendak menelan, ia membaca label "dikonsumsi sesudah makan" dan teringat seporsi mie ayam langganannya. Ia memutuskan untuk makan dulu sebelum mati, tetapi menemukan gerobak mie ayam tutup. Kekecewaan yang selama ini ia pendam meledak, dan untuk pertama kalinya ia mengumpat dengan marah. Kisah ini menggambarkan perjuangan melawan depresi, kesepian, dan pencarian makna di saat-saat terakhir hidup, dengan akhir yang ironis dan menggugah.

Transcription

2077 Words, 13556 Characters

Indonesian
Seporsi mie ayam sebelum mati bagian 3 20 4 jam sebelum mati. Aku bernyanyi sebuahnya berteriak sekencang kencangnya. Aku juga memesan makanan mahal, mencoba mencicipi sesuatu yang tak pernah aku beli sebelumnya karena tidak punya uang plesetan dengan tabungan. Sebentar lagi aku mati dan uang tidak ikut masuk petih. 7:00 pagi di hari yang sama aku masih terjaga. Aku memutuskan untuk bolos kerja hari ini. Aku bangkit lalu membuka penuh jendela apartemenku untuk 1 kalinya tower lantai 4 a udara yang masih segar dengan sedikit panas dan rasa lengket merangsek masuk menggantikan udara apek di dalam kamar. Aku kembali duduk di tepi kasur dan membiarkan angin yang berembus menyapu wajahku dengan lembut. Aku menarik napas dalam dalam mencoba menikmati sisa waktu yang aku punya dengan paripurna. 22 jam lagi sebelum aku mati, lepas 1 jam aku mengangkat badanku yang berat lalu dengan gerak perlahan bak penyu di lautan. Lepas aku membenarkan pandanganku ke seluruh kamar yang begitu kotor ini. Biasanya pukul segini aku sudah berangkat kerja lalu pulang malam hari. Jadi aku tak terlalu memperhatikan keadaan kamarku sendiri. Dan baru kali ini aku bisa melihat isi kamarku saat sinar matahari menembus masuk daun jendela yang ternyata begitu kotor seperti kampung pemulung. Aku mulai bergerak membersihkan kamarku. Setidaknya jika besok aku mati, aku akan ditemukan di dalam kamar yang bersih. Aku tidak ingin mereka yang menemukanku melihat isi ruangannya kotor sebab pasti orang orang akan bergunjing membicarakan keburukan kamarku di kota ini. Mayat saja masih bisa menerima caci maki dari manusia yang masih hidup. Sudah tidak bernyawa saja, masih tetap dicemooh bagi mereka istilah istirahat dalam damai benar benar hanya omong kosong belaka. Aku membereskan spring bed dan menjemur selimut di teralis besi jendela begitu aku gebrakkan selimut itu segala debu beserta bekas abu rokok berhamburan ke udara. Aku mengambil kain kasar dan mulai mengelap debu. Debu yang sudah berbulan bulan menempel di perabotan. Aku mengganti lampu kamarku yang sudah mati dari seminggu yang lalu. Pilih kotor yang menggunung satu persatu. Aku bersihkan tempat sampahku sudah penuh bahkan sampai berserakan di sekitarnya. Segala bungkus makanan yang selalu aku pesen online. Juga ratusan puntung dan puluhan bungkus rokok berceceran di lantai. Aku mengambil satu kreset besar dan memasukkan semua ke dalam sana. Sisa 21 jam lagi sebelum aku mati. 10:00 pagi aku memutuskan untuk mandi. Kubah suhu seluruh sisi sisi tubuhku yang menggelap juga sela sela di sekitar perut yang tertutup lemak. Aku menggosok badanku dengan keras seperti berharap daging yang menjadikan kulitku gelap ini luntur tapi tetap sama. Kucukur habis bulu kemaluanku ku gosokkan tawas ke ketiakku aku semprot dengan membabi buta seluruh parfum mahal dan juga deodoranku. Aku ambil kemeja paling rapi yang aku punya dan kupakai dengan sempurna. Aku bersolek sebaik mungkin untuk persiapan sebelum berjumpa dengan tuhan. Setidaknya ketika nanti aku menghadapnya, aku akan mengajukan gugatan atas kehidupan busuk yang aku terima selama 37 tahun hidup. Aku benar benar siap menghadap dengan sebaik baiknya. Sisa 19 jam lagi sebelum aku mati. Pukul sebelah siang, aku mengambil bolpoin lalu menulis di atas sejari kertas sebuah surat untuk siapa saja yang kelak akan menemukan bangkai tubuhku. Surat yang berisi permintaan maaf karena sudah menyerah menjadi manusia. Beberapa pesan untuk orang tuaku juga untuk teman teman di kantorku yang tidak menganggap aku sebagai temannya. Aku tidak menuliskan umpatkan atau hal hal buruk di surat ini. Bahkan aku justru meminta maaf dan mengucap. Terima kasih untuk ibuku. Setidaknya nanti ketika tubuhku ditemukan dan surat ini disiarkan di berita. Aku akan terlihat sebagai orang baik yang memilih untuk menyerah. Menyedihkan sekali bukan? Bahkan setelah mati pun aku masih mengkhawatirkan perkataan orang orang tentunya. Sisa 18 jam lagi sebelum aku mati pukul belas aku turun dari apartemenku untuk mencari makan siang. Kali ini aku tak ingin makan sendiri. Aku ingin menghabiskan makan siang terakhirku dengan seseorang yang sudah begitu baik memperlakukanku sebagaimana layaknya manusia. Aku mengajak satu satunya satpam yang mengenalku dan mengingat namaku untuk makan bersama di posat pam. Tak henti hentinya aku mengucapkan terima kasih kepadanya, memberikannya beberapa bungkus rokok dan menikmatinya bersama sama. Sisa 17 jam lagi sebelum aku mati. 1:00 siang aku pergi mengambil seluruh sisa tabunganku lalu pergi mengunjungi psikiater. Aku meminta dibuatkan resep baru dengan dosis yang lebih tinggi sekaligus memutuskan untuk berhenti berkunjung ke sana. Psikiater ku sempat bertanya, aku hendak ke mana aku akan pulang kampung ke tempat yang jauh. Sebelum pulang aku pergi menuju apotek terdekat dan menebus obat obat itu. Obat yang akan aku tegak habis dalam sekali teguk lalu membiarkan ia bekerja sebagai penutup hidupku. Sebuah peluru terakhir di saku baju. Salib yang aku panggul sisa 16 jam lagi sebelum aku mati. 4:00 sore aku menyempatkan mampir ke petshop dan membeli banyak makanan basah untuk aku bagikan pada kucing kucing liar yang memilih untuk tertidur karena begitu kelaparan. Kucing, kucing yang kesepian dan selalu diperlakukan buruk ditendang dengan kencang sampai menyusut perutnya hanya karena ia berusaha bertahan hidup pencari makan. Aku melihat ada aku pada diri mereka terlantar kesepian dan tidak dipedulikan. Aku memberikan makan yang banyak pada kucing liar yang aku temukan, mengusap mereka dengan lembut. Tolong doakan aku yang bos bisiku dengan suara yang pelan. Sisa 11 jam lagi sebelum aku mati. 5:00 sore alih alih pulang aku memutuskan menyempatkan diri duduk di taman kota setelah mengetahui bahwa hidupmu hanya sisa beberapa jam lagi, kamu akan mulai menyadari hal hal kecil yang selama ini selalu terlewat. Aku mulai memperhatikan seluruh kehidupan di sekitarku dengan seksama. Seperti ada perasaan yang entah seakan aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Dan kini suasana itu menjadi lebih bisa kuning. Aku menatap liat orang orang yang kelelahan sepulang bekerja. Orang orang yang berolahraga berharap jatah hidupnya memanjang atau demi puja puji di media sosial. Aku menatap rerumputan dan menyadari kalau tanaman kecil itu juga hidup. Aku bahkan melihat dengan serius pada dedaunan yang jatuh hal remeh remeh itu sekarang terlihat jauh lebih berwarna. Aku mengambil ponselku, tidak ada notifikasi apapun disana saat bolos bekerja pun tidak ada teman teman yang mencariku. Bahkan bosku sendiri pun rasanya tak acuh. Aku menarik nafas lalu bersiap membakar sebatang rokok sebelum tiba tiba urung ku lakukan. Aku mencoba mengistirahatkan paru paruku dan mengisinya dengan udara senja di kota yang penuh polusi ini. Selepas azan magrib, aku pergi ke tempat karaoke sendirian. Sebuah hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Aku bernyanyi sepuasnya berteriak sekencang kencangnya. Aku juga memesan makanan mahal, mencoba mencicipi sesuatu yang tak pernah aku beli sebelumnya karena tidak punya uang. Persetan dengan tabungan. Bentar lagi aku mati dan uang tidak ikut masuk peti. Jadi mending dinikmati saja iseng punya iseng. Aku juga mampir ke toko toko penjual peralatan pesta untuk membeli satu buah konvti tembak dan topi kerucut berwarna warni untuk diriku sendiri. Ketika malam semakin gelap, aku mulai mabuk sepuasnya. Menari dengan brutal di tengah area dansa, aku tidak pernah menjalani hidup yang seperti ini. Rasanya begitu membebaskan ketika kau sudah tidak peduli dengan apapun lagi. Aku berjoget dengan badan gemuk yang sudah basah oleh keringat bau badanku mencuat hingga orang lain yang berdansa di sekitarku mulai menghindar. Aku tidak peduli. Aku benar benar mau menikmati sisa hariku dengan mabuk dan berjoget sepuasnya sampai muntah dan diusir oleh boncer. Butuh 3 boncer untuk bisa mengeluarkanku dari tempat itu. Aku yang masih mabuk sempat melawan, membuat bonser itu gentar oleh bentuk tubuh dan wajah buruk rupa ku. Mereka pikir aku serupa bandit yang punya ilmu kebal, padahal berkelahi saja. Aku tidak pernah. Hari sudah berganti 1:00 malam sisa 4 jam sebelum aku mati. Setelah pulang aku sempat ketiduran lalu terbangun dengan bengar yang menyengat kepala sudah 4:00 itu berarti hanya sisa jam lagi sebelum mati. Saup saup azan pembuka berkumandang dari pelantang suara mesjid di gang dekat apartemen membuatku semakin terjaga. Lagi lagi aku duduk di tepi kasur menghadap jendela tanpa menyalakan lampu sama sekali. Aku mengambil ponsel dan tetap saja tidak ada satupun pesan masuk yang mencariku. Aku pernah melihat berita di Amerika. Ada seorang wanita yang mati di kubikal kantornya. Ia sudah mati lebih dari 4 hari yang lalu dan tidak ada satupun kolega kerjanya yang menbaha. Tidak ada yang menawarkannya kopi atau mengajaknya makan siang. Tidak ada seorang pun yang memeriksa keadaannya. Mayatnya terus duduk begitu saja selama hari aku bisa membayangkan betapa sepi hidupnya sebelum ia mati dan mungkin itu yang akan terjadi dengan tubuhku beberapa jam lagi. Butuh berapa lama kah sampai aku membusuk di kamar ini dan ditemukan orang. Aku benar benar terdiam kegelapan sudah menyelimuti seluruh isi kepalaku. Aku mengambil bungkusan kresek di atas nakas lalu menumpahkan seluruh isi botol obat di atas kasur. Aku mulai membuka kapsulnya satu persatu dan menaburkannya di atas kulit lumpia matang. Setelah semua obat itu menggunung menjadi 1. Aku membungkus kulit lumpia itu serupa seporsi ekado agar mudah aku telan dalam sekali percobaan. Masih ada sisa 30 menit lagi sebelum mati. Aku duduk terdiam lalu memutar lagu radio hate lit down dengan mode repetisi tanpa henti. Setelah menarik nafas dalam dalam, aku bangkit mengambil handuk dan mandi untuk terakhir kalinya. Aku tidak tahu kapan mayatku akan ditemukan, jadi lebih baik aku memandikan diriku sendiri dengan bersih. Aku mengganti pakaianku dengan pakaian lain yang tak kalah bagusnya. Kemeja hitam dan celana hitam seperti seseorang yang akan melayat ke pemakamannya sendiri. Aku mengambil benda yang aku beli dari toko pesta sebelumnya. Sebuah topi ulang tahun berbentuk kerucut kupakai. Aku menghadap cermin lalu mulai memutar pangkal konvensi hingga itu meledak dan meletupkan aneka kertas berwarna ke udara. Happy birthday. Lalu aku membersihkannya kembali dan membuang semuanya ke tempat sampah. Mirip dengan hidupku. Tidak menarik, tidak istimewa hambar sebelum kemudian akan berakhir di tempat sampah. Sisa 5 menit lagi sebelum aku mati. Aku mengambil botol obat yang sudah kosong, sebuah botol obat yang akan menjadi algojo subuh ini. Aku terdiam cukup lama sambil memutar mutarkannya menunggu matahari terbit. Orang orang bilang bagian terberat dari menjadi dewasa adalah kamu akan dipaksa untuk selalu berjalan tidak peduli, sedang sesulit apapun keadaanmu saat itu. Kamu harus tetap berjalan sebab hidup memang seperti itu. Hari ini aku telah memutuskan untuk berhenti menjadi dewasa perlahan dari ufuk timur sinar matahari mulai merangsek dari sela sela gedung yang menjulang. Ah tampaknya sudah saatnya aku mati sebelum menaruh botol obat itu ke atas nakas mataku secara tidak sengaja membaca sebuah tulisan kecil di sana dikonsumsi sesudah makan. Aku seketika diam. Kini sudah lepas satu menit dari waktu seharusnya aku mati. Tiba tiba perutku berbunyi. Benar benar manusia tambun tidak tahu diuntung bahkan mau mati saja. Perutmu masih kelaparan. Aku meneguk ludah ketika secara tidak sengaja terbersit seporsi mie ayam yang selalu aku santap sebagai sarapan sebelum berangkat ke kantor. Ayam langgananku di dekat apartemen gurih kuah kaldunya daging ayam yang dipotong berbentuk dadu dengan empuk manis asin dari saus ayam, kenyal bakso dan daging cincang di dalamnya dan pangsit pangsit kecil sebagai teman makan siang. Mulutku berair aku langsung menaruh botol obat itu dan bangkit jika pun aku akan mati. Hari ini aku harus mati dengan tuntas sebagai seorang budak korporat ibu kota mati setelah menyantap sarapan paling khas yang kotak ini ciptakan seporsi mie ayam. Aku mengangguk mantap setidaknya. Meski selama ini semuanya berantakan, harus ada sebuah rencana di dalam hidupku yang berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Aku mengambil selebar uang 50.000 dari dompetku lalu pergi keluar kamar tanpa membawa apapun lagi. Aku berhak bahagia sebelum mati. Lewat 1 jam dari waktu seharusnya aku mati. Aku berjalan menyusuri trotoar dengan jantung yang berdegup kencang membayangkan seporsi mie ayam sebelum mati. Aku berkelok di ujung jalan ke tempat biasa. Gerobak mie ayam berwarna biru dengan terpal sakura yang sudah bolong bolok itu mangkal. Aku sudah siap namun mendadak langkahku terhenti tepat setelah berbelok di ujung jalan. Badanku lemas seada adanya keropet mie ayam yang biasa aku sambangi itu masih terbungkus rapi dengan terpal. Tidak ada pekerja korporat yang mengantri seperti biasanya tempatnya sepi mie ayamnya tutup seumur hidupku. Aku adalah lelaki yang tidak pernah menggompat. Aku selalu menelan segala kekecewaan yang terjadi di hidupku dalam diam. Bahkan ketika aku mendapatkan sp satu dari hrt di kantor pop pun aku tetap diam. Tidak berbicara apa apa. Tetapi untuk kali ini entah kenapa aku benar benar ingin mengumpat bahkan untuk mati dengan cara yang aku inginkan pun aku gagal. Pada akhirnya seluruh rasa kesal dan kekecewaan yang selama ini menumpuk di hatiku berubah. Dari jelaga yang samar menjadi kobar bara api yang membara sambil mengepal tangan kuat kuat untuk 1 kalinya. Aku berhasil mengumpat dengan suara yang nyaris samar jemput firaun.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Narator memutuskan untuk bunuh diri dalam 24 jam dan menghabiskan hari terakhirnya dengan membersihkan kamar, mandi, dan bersolek.
  2. Ia menulis surat permintaan maaf, berbagi makan siang dengan satpam, mengunjungi psikiater untuk mendapatkan obat dosis tinggi, dan memberi makan kucing liar.
  3. Ia menikmati malam dengan karaoke, mabuk, dan berdansa, lalu kembali ke apartemen untuk mempersiapkan kematiannya.
  4. Saat akan menelan obat, ia membaca label "dikonsumsi sesudah makan" dan teringat seporsi mie ayam langganannya.
  5. Ia memutuskan untuk makan mie ayam dulu, tetapi menemukan gerobak mie ayam tutup, yang memicu kemarahan pertamanya dan membuatnya mengumpat.

Summary:

Kisah ini mengikuti seorang pria berusia 37 tahun yang memutuskan untuk bunuh diri dalam waktu 24 jam. Ia menghabiskan hari terakhirnya dengan membersihkan kamar yang kotor, mandi, bersolek, dan menulis surat permintaan maaf untuk orang-orang di sekitarnya. Ia berbagi makan siang dengan satpam yang mengenalnya, mengunjungi psikiater untuk mendapatkan obat dengan dosis tinggi, dan membagikan makanan kepada kucing liar yang ia rasa mirip dengannya.

Di malam hari, ia pergi ke karaoke, mabuk, dan berdansa hingga diusir, menikmati kebebasan yang tak pernah ia rasakan. Kembali ke apartemen, ia bersiap untuk mati dengan memakai topi ulang tahun dan meledakkan konfeti, lalu menumpuk obat-obatan di atas kulit lumpia untuk ditelan. Namun, saat hendak menelan, ia membaca label "dikonsumsi sesudah makan" dan teringat seporsi mie ayam langganannya.

Ia memutuskan untuk makan dulu sebelum mati, tetapi menemukan gerobak mie ayam tutup. Kekecewaan yang selama ini ia pendam meledak, dan untuk pertama kalinya ia mengumpat dengan marah. Kisah ini menggambarkan perjuangan melawan depresi, kesepian, dan pencarian makna di saat-saat terakhir hidup, dengan akhir yang ironis dan menggugah.

FAQs

Ia membersihkan kamar, mandi, menulis surat, memberi makan kucing liar, pergi ke karaoke, dan bersiap untuk menelan obat, semuanya dalam 24 jam terakhir hidupnya.

Ia bolos kerja karena ingin menghabiskan hari terakhirnya dengan melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan, seperti membersihkan kamar dan bersolek, tanpa gangguan rutinitas kantor.

Ia merasa sangat kecewa dan marah, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia mengumpat, karena bahkan rencana terakhirnya untuk sarapan gagal.

Ia membaca label obat yang bertuliskan 'dikonsumsi sesudah makan' dan teringat seporsi mie ayam langganannya, sehingga ia memutuskan untuk sarapan terakhir sebelum mati.

Kucing liar melambangkan tokoh utama sendiri: terlantar, kesepian, dan tidak dipedulikan, dan ia memberi mereka makan sambil meminta doa.

Ia ingin ditemukan dalam keadaan bersih dan layak, bukan karena harga diri, tetapi karena takut menjadi bahan gunjingan orang-orang setelah kematiannya.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.