
Kisah ini mengikuti seorang pria berusia 37 tahun yang memutuskan untuk bunuh diri dalam waktu 24 jam. Ia menghabiskan hari terakhirnya dengan membersihkan kamar yang kotor, mandi, bersolek, dan menulis surat permintaan maaf untuk orang-orang di sekitarnya. Ia berbagi makan siang dengan satpam yang mengenalnya, mengunjungi psikiater untuk mendapatkan obat dengan dosis tinggi, dan membagikan makanan kepada kucing liar yang ia rasa mirip dengannya. Di malam hari, ia pergi ke karaoke, mabuk, dan berdansa hingga diusir, menikmati kebebasan yang tak pernah ia rasakan. Kembali ke apartemen, ia bersiap untuk mati dengan memakai topi ulang tahun dan meledakkan konfeti, lalu menumpuk obat-obatan di atas kulit lumpia untuk ditelan. Namun, saat hendak menelan, ia membaca label "dikonsumsi sesudah makan" dan teringat seporsi mie ayam langganannya. Ia memutuskan untuk makan dulu sebelum mati, tetapi menemukan gerobak mie ayam tutup. Kekecewaan yang selama ini ia pendam meledak, dan untuk pertama kalinya ia mengumpat dengan marah. Kisah ini menggambarkan perjuangan melawan depresi, kesepian, dan pencarian makna di saat-saat terakhir hidup, dengan akhir yang ironis dan menggugah.