Go back

Seniman Sejati Tidak Kelaparan

0m 0s

Seniman Sejati Tidak Kelaparan

Raditya Dika membahas pentingnya membaca buku, terutama non-fiksi, sebagai investasi berharga karena memungkinkan pembaca menyerap riset bertahun-tahun dalam hitungan minggu atau hari. Ia kemudian merekomendasikan buku "Real Artists Don't Starve" karya Jeff Goins, yang membantah mitos bahwa hidup sebagai seniman harus susah. Buku ini menekankan bahwa seniman dapat sejahtera tanpa mengkompromikan kreativitas dengan membangun berbagai sumber pendapatan, mencari mentor, dan memiliki pola pikir jangka panjang. Contohnya, sebagai penulis, Raditya tidak hanya mengandalkan royalti buku tetapi juga mengembangkan sumber pendapatan lain seperti pertunjukan stand-up comedy. Buku ini juga menyarankan seniman untuk memahami pemasaran, berani meminta bayaran (sekecil apa pun), belajar dari industri lain, dan menjaga reputasi dengan mengutamakan keuntungan berkelanjutan daripada keuntungan instan. Raditya menyoroti gaya penulisan buku yang mirip dengan Ryan Holiday, yang menggabungkan cerita sejarah dengan konteks modern, dan merasa buku ini cocok bagi siapa pun yang ingin berkarya di bidang seni namun masih diliputi keraguan.

Transcription

2980 Words, 17994 Characters

Indonesian
Show stand up comedy Raditya dika yang terbaru cerita anehku akan hadir di Bali, Pontianak, Bandung, Surabaya dan Samarinda. Penjolan tiket dibuka tanggal 28 November 2002. 5 2:00 siang WIB di www.ceritaaneh.com sampai bertemu di kota tersebut. Sesungguhnya orang kalau enggak rajin baca buku mereka itu rugi. Karena kalau argumen gue baca buku terutama non fiksi ya itu adalah return on investment terbesar yang kita bisa lakuin. Karena biasanya kalau penulis itu. Bikin sebuah buku dia riset bertahun tahun kita bisa konsumsi hanya dalam hitungan Minggu saja atau bahkan hari itu. Kalau non fiksi fiksi juga bisa membuat kita jadi lebih kaya juga. Karena selain ngebangun empati karena kita hidup di karakter karakter yang kita baca. Jadi kita tahu rasanya menjadi orang lain juga. Kadang juga ada pengetahuan foto yang kita bisa dapatin dari baca buku fiksi juga. Nah di youtube gua ini gua sering bahas soal buku nyimpulin atau ngebedah buku yang gua baca kali ini gua. Mau ngomongin buku yang baru kelar gue. Baca juga, namanya real artis don't starf ini masih masuk sama argumen gue di awal risetnya banyak banget yang dilakuin oleh si penulisnya, namanya jeff goins. Dia sudah ngiset, banyak banget materi materi untuk membuat sebuah buku yang punya argumen bahwa kalau mau jadi seniman lo enggak perlu kelaperan. Enggak tahu ya gue juga hidup di zaman di mana orang orang merasa dulu ya dulu nih ya sebelum zaman modern kayak sekarang ini, tapi zaman zaman gue, SDSMP bahkan SMA awal itu banyak. Saya ngerasa bahwa kalau jadi seniman itu hidupnya enggak terlalu baik gitu loh. Kadang ada orang yang mikir daripada jadi seniman mending jadi ABC dan lain lain. Gua pada saat muda pun juga ngerasa bahwa bisa kok kita hidup dari hasil seni kita, asal kita tahu caranya gimana. Kebetulan gue kulinya sempat kuliah finance juga jadi gue gue juga belajar dapat beberapa kelas bisnis ketika gue kuliah, gue ngerasa bahwa seni dan commerce seni dan mendapatkan uang atau kegiatan ekonomi itu bisa digabungin. Argumen itu cocok banget sama buku ini bahwa real artis seniman sejati ini argumen dia ya bukan argumen gua real artis seniman sejati tidak kelaparan real artis donst dia berangkat dari mitos yang ngomongin bahwa kalau kita mau. Hidup idealis. Hidup dari karya hidup dari pemikiran kreativitas itu biasanya hidupnya susah. Enggak dia ngebantah itu di sini dia tuh narik ke belakang dari sineman namanya Michael angello Michael angello itu ratusan tahun yang lalu dia bikin seni, ternyata pas dia meninggal ditemukan di estate nya. Dia di propertinya. Dia tuh ada banyak uang di dalamnya, jadi dari zaman dulu pun bisa sebenarnya lu jadi seniman yang uangnya banyak. Jadi tuh itu ankernya dia tuh dia ngomongnya dari Michael angel baru dikembangin ke mana mana. Dalam buku ini ada beberapa argumen dalam buku ini yang gue mau share. Tentu kalau mau tahu, lebih lengkapnya baca bukunya aja real artis donst ini argumen yang 1 adalah untuk menjadi seniman yang tidak kelaparan itu cari banyak cara buat dapetin income streams. Lagi lagi nih brosonansi ke gue juga karena zaman dulu itu gua penulis dari tahun 2005 terus gue hidup dari royalti gue dan ternyata untuk ngecrack gimana caranya kita bisa hidup dari seni kita itu kerannya harus banyak keran penghasilannya harus banyak jadi sebagai penulis. Enggak cuma dari buku doang, tapi lu harus punya keran keran yang lain sehingga aliran uang itu masuk bukan hanya dari satu pintu doang. Nah dia juga bilang kayak gitu bahwa menjadi seorang seniman di zaman sekarang lu harus punya income streams yang beraneka ragam terutama di era era sekarang ini. Era digital sekarang ini kemungkinan untuk mencari penghasilan tambahan dari pekerjaan kita, terutama di bidang seni itu bisa mereka ragam lu bisa jalan buku digital. Kalau lo penulis lo bisa jual jasa menulis. Lo bisa jual konsultasi, lo bisa jual karakter lo sebagai IP dan lain lain. Kalau mau jadi seniman yang tidak kelaparan, cari banyak cara untuk dapatin dari satu karya lu itu sumber penghasilan bisa banyak atau satu pekerjaan. Sumber penghasilan bisa banyak oke terus argumen berikutnya yang dia bilang di buku ini itu harus sering belajar dari mentor atau harus punya mentor. Kalau istilah gua, kita harus hidup dari guru ke guru, which is itu yang gua lakuin juga menarik banget karena. Gua tuh selalu dalam state di mana gua merasa gua harus punya guru atau mentor yang bisa ngajarin gua. Dari mulai gue belajar nulis dengan mas AS laksana mas ulak sama mas alam habis itu gua belajar ke papar west produser dari starvision. Habis itu belajar sama pak sunni soraya sampai sekarang pun bahkan buat youtube sendiri atau mengembangkan bisnis youtube. Gua selalu nyari mentor terakhir gue ketemu sama jean kakaknya jero minta waktu buat ngajarin gua sekarang gua lagi tertarik un. Untuk menginvestasikan beberapa pendapatan gua ke seni, maka kemarin gua minta ketemu sama mas andi Budiman yang punya film fun gitu. Investor di bidang seni juga which is gue pengin pengin tahu gimana sih caranya? Lu invest di bidang seni gua kontak beliau gua kontak doi gua WA mas masih ingat enggak segala macam terus gua minta tour meeting gua ketemu mas andi di pas vicky place sambil ngeteh eh gue dibayarin lagi. Maaf ya enggak enggak bawa cash waktu itu mas sandi dia ngasih tahu gua banyak banget hal tentang invest ke bidang seni. Jadi hidup tuh memang harus kayak gitu. Menurut gua hidup harus belajar dari guru ke guru hidup tuh harus punya mentor. Tapi juga jangan berhenti di kita. Kita juga harus mentoring banyak orang juga. Jadi kapanpun orang pengin nanya ke gua. Biasanya kalau gue ada waktu dan kesempatannya, gue pasti terbuka gitu. Nah, seniman yang tidak kelaparan adalah seniman yang menurut buku ini seniman tidak kelaparan adalah seniman yang punya guru atau punya mentor. Dia juga ngomongin soal seniman harus punya petern itu adalah orang yang mau believe sama lu dan bisa ngebiayain lu gitu. Mungkin kalau dalam konteks industri seni ya sutradara yang punya produser yang bisa biaya india atau penyanyi yang. Punya penyanyi besar lain atau label yang bisa bayarin dia artinya pattern itu adalah orang yang believe sama lo dan punya resource. Mau itu tenaga atau uang untuk mewujudin karya lu gua kalau gua pikir pikir lagi mungkin tuh sama kayak waktu gua memulai karir gua di film ya pak parwez selain mentor gue patron gue juga karena dia orang yang believe sama gue yang mau ngebodalin gua untuk bikin film 1 gue itu marmut merah jambu untuk waktu yang lama, bahkan untuk beberapa film yang patronikin gitu kalau sekarang karena gue sudah punya resource sendiri. Perusahaan sudah jalan, jadi ya udah cukup independen lah untuk membiayai membiayai project project yang mau gue lakuin terus argumen di dalam buku ini lagi real artis don't start. Seniman itu bisa hidup melalui berbagai macam cara tanpa kompromi terhadap kreativitas. Karena banyak banget orang yang ngerasa bahwa pasar tidak siap sama ide gue sering dengar tuh kayak gitu pasar enggak siap sama ide gue pasar enggak siap sama konsep gue pasar enggak gini gini segala macam, tapi menurut gue justru itu challengenya gimana caranya pasar bisa kawin sama ide yang mau lu kembangin contoh ya contoh misalnya. Show stand up comedy lah show stand up comedy waktu zaman gue dulu persoalan paling besar untuk bikin show stand up comedy itu adalah penontonnya enggak terlalu banyak yang mau beli tiket ketika juga enggak terlalu banyak yang beli tiket merasa bahwa show stand up itu enggak bisa di replikasi gitu. Kalau orang sudah nonton satu show, biasanya dia enggak mau nonton show yang sama gitu yang pakai judul yang sama dengan materi yang sama. Makanya inovasi yang coba gue lakuin pada saat itu adalah bikin show stand up yang enggak cuma gue stand up, tapi ada bagian penonton maju ke atas panggung. Jadilah series cerita cintaku sampai sekarang show yang lagi jalan cerita anehku jadi bukan artinya pasar enggak siap nih untuk kita bikin show stand up yang berulang ulang terus. Tapi gimana caranya pasar mau terima show kita dan dan gue mengadjust itu mengejar kalau ada partisipasi dari audience mungkin akan lebih gampang ngromoinnya 1 karena banyak yang bisa kita potong buat di promoin tanpa tanpa harus ngebocorin materinya dan yang 2 juga orang yang dan terjadi juga di show syok gua orang yang udah nonton show gua misalnya cerita aneku sudah sudah sudah nonton satu show. Malah pengen nonton show yang lain karena pasti bagian penonton yang maju kan beda beda gitu materinya mungkin sama materi stand up nya dan menjadi salah satu sumber revenue gede buat perusahaan gue gitu artinya kalau kalian di sini masih bekerja di bidang kreatif dan selalu berpikir bahwa pasar enggak siap pasar ini orang Indonesia kan gini orang Indonesia itu kita enggak enggak akan bisa ke mana mana gitu, karena kita selalu nyalahin adalah orang indonesianya dan pasarnya gitu sementara di tangan kita karena kita orang kreatif, kita seharusnya berpikir bahwa ya gimana caranya ini bisa diterima dengan. Baik tanpa harus mengorbankan ideal sama gue gitu. Kira kira argumen dari Real artis dont starf ini jadi jangan pernah berpikir bahwa kalau kita kreatif kita akan mengorbankan keuntungan yang kita bisa dapat. Kalau kita ideal idealtic pasti ada yang kita korbanin. Enggak juga sih menurut gue yang berikutnya adalah selalu berpikir rong term atau jadi profesional dalam buku real artis down start ini juga diajarin bahwa gimana caranya kita jadi profesional gitu loh kita berpikir bahwa. Ada keuntungan yang orang dapatin dengan mengkonsumsi karya kita. Ada keuntungan yang orang bisa dapatin dengan mengikuti kita gitu kita bisa own the audience gitu gimana caranya penonton kita tuh kita bisa milikin penonton kita melalui program program seperti misalnya membership yang gua lakuin atau hal hal lain gitu yang yang bisa kita lakuin melalui dengan karya kita. Jadi selalu berpikir long term jadi profesional harus tahu bahwa karya kita akan dikonsumsi kalau itu beresin banyak orang jadi enggak enggak cuma buat kita doang berikutnya yang. Kasih tahu dalam buku ini adalah paham marketing dan sales itu juga penting. Gimana caranya? Uang itu datang dan gimana menukar nilai yang kita keluarin dari karya kita menjadi uang paham marketing gimana caranya kita memasarkan melalui channel channel yang banyak dan melalui strategi yang seperti apa? Kalau enggak ngerti lagi lagi balik ke poin yang sebelumnya mungkin bisa cari mentor, lanjut di buku ini juga dikasih tahu. Jangan kasih gratis dan berani untuk minta uang di buku ini tuh ngasih tahu bahwa ada satu ilustrasi tentang seorang seniman yang karena ingin dikenal, maka dia jarang menarik uang untuk karyanya dia gitu. Jadi kalau misalnya pemain band diundang ke mana enggak apa apa deh enggak dibayar atau kalau di buku ini tuh kalau enggak salah, aduh gue lupa apa contohnya mungkin seorang penulis kali ya, terus dia dia enggak apa apa untuk enggak dibayar. Nah, argumen dia adalah jangan jangan selalu kasih gratis harus berani untuk minta uang jadi daripada gratis mending minta uang, tapi sedikit itu argumen dia buat gue juga masuk akal karena kalau kita terbiasa untuk menukar jasa kita dengan uang. Ketimbang gratis untuk dipromosikan itu akan lebih ada apa ya? Kita membiasakan diri untuk menukar isi kepala kita dengan uang kita bisa terima. Kalau sekarang sih gue jarang ya untuk ngasih hal hal yang gratis ya paling cerpen cerpen gue itu pun juga. Jadi sudah ada absennya gue dulu minimal kalau diundang jadi pembicara di sebuah kampus minimal banget gue minta uang transport walaupun waktu itu belum ada nama waktu itu cuma 50.000 100.000 atau atau berapa minimal. Gua mau dapat uang itu supaya di diri gue tuh ngerasa kayak. Oh waktu gue masih bisa dihargai, jadi itu argumen dari buku ini untuk punya kebiasaan meminta uang dari karya kita. Meskipun sedikit kayak lalu argumen dari buku ini juga adalah belajar dari yang udah ada. Nah gimana caranya kita bisa belajar dari yang udah ada, enggak perlu membuat sesuatu dari nol lagi, tapi belajar dari yang udah ada lalu kita bisa berinovasi dari apa yang udah ada tersebut. Buat gue tuh juga argumen yang menarik juga karena gue termasuk orang yang senang menggabungkan. Karya seni gue dengan sesuatu yang sudah ada tapi diusir lain. Jadi gue tuh paling suka gitu tuh eh musik tuh kalau bikin event kayak gini mungkin bisa masuk ke event gua kali ya. Eh kalau industri film tuh kayak gini, mungkin di youtube kita bisa pakai yang sama kali ya, jadi gue senang banget untuk ngambil dari industri industri lain untuk dimasukkan ke apa yang gua lagi lakuin cerita sialku show stand up gua yang kemarin yang terakhir sebelum ini kan cerita anehku itu gua mulai belajar banyak dari teater. Bagaimana teater itu? Bisa memainkan sebuah jadi kalau di teater tuh ada yang namanya one man show biasanya lebih deeply, emosional dan dan lebih dikit lucunya gitu dibandingin dibandingin senang komedi. Cuma ya gue ambil dari situ untuk gue masukin ke sendok komedi adalah gimana caranya ngebangun narasi yang bisa membangkitkan emosi gitu ketimbang kita cuma jokes, jokes, jokes, jokes, jokes dan itu akhirnya gue pakai di cerita sialku elemen itu. Makanya kalau ada yang tahu san peras stand up comedyan dari jogja waktu ngereview cerita sialku dia bilang oh ternyata aspek stand up comedy itu bisa ada. Tegangnya bisa ada marahnya bisa ada ininya. Jadi penampilan yang cukup komplit gitu dan dia dia senang nih dia suka pas nonton cerita sialku which is ya itu gua gua belajarnya dari justru dari teater gitu dari one man show gitu. Jadi artinya adalah gua tipe yang suka belajar dari hal yang sudah ada. Tapi kalau gue nge twist nya belajarnya tuh dari industri yang lain. Kadang kadang kalau kita sudah lama di industri kita ya lama di stand up comedy lama di youtube lama di mana mana udah udah ngelihat semua gitu udah udah belajar dari banyak hal, sudah sudah ngelihat semuanya. Jadi untuk dapat pukulan inovasinya itu kita harus ngintip dari industri lain untuk kita taruh di industri kita. Yang berikutnya adalah berpikir jangka panjang itu sama ya kayak sebelumnya. Pada akhirnya untuk menjadi real arteri ya dont start itu kita harus berpikir long term jangan pernah mengorbankan. Kepentingan jangka pendek untuk jangka panjang yang akhirnya dikorbankan. Jangan pernah ngebelain jangka pendek daripada jangka panjang. Contoh apa reputasi contoh reputasi hanya karena lu pengin untung dari sesuatu, maka reputasi lu akhirnya rusak untuk jangka panjang hanya karena lu pengin dibilang jago di suatu bidang. Lu bilang iya, pada akhirnya lu enggak bisa ngerjain orang yang sudah percaya sama lu dan sudah mau ngasih lu project. Akhirnya nama lu jelek. Di lingkungan industri gara gara sempat dikasih kepercayaan terlalu pede malah enggak bisa buat lo. Mungkin secara jangka pendek lu akan dapat project ini. Tapi jangka panjang malah nama malu sendiri yang akan rusak gitu baru viral dan banyak mata tertuju sama lu dan akhirnya lu mau bikin off air gara gara lagi viral nih lu bikin show off air tapi bikinnya setengah matang karena mau dapatin tiketnya doang dan show nya menjadi tidak bagus. Orang yang udah nonton dan bayar tiket keluar dan akan bilang show nya tidak bagus jangka pendek lu mikir dapat duit cepat jangka panjang lagi lagi soal reputasi. Dan brand equity lo yang akan yang akhirnya lu korbanin jadi selalu untuk berpikir apa untungnya di jangka panjang bukan untungnya di jangka pendek itu yang membedakan real artis yang starfing apa triving kalau kan argumen dia tuh kalau enggak striving traving kalau enggak kelaparan ya makmur gitu itu yang gue rasain sih hampir 20 tahun berkarir gimana caranya kita selalu pikir walaupun ada 20 tahun ya kita tetap di sini untuk the long game gitu. Jadi jadi jangan pernah ditukar keuntungan keuntungan jangka pendek dengan keuntungan di jangka panjang karena pada akhirnya jangka panjang itu yang membuat kita bertahan dan seperti argumen buku ini supaya tidak kelaparan ini buku bagus banget. Lagi lagi bagus banget. Yang menarik adalah ketika gue baca buku ini, gue tuh kerasa bahwa ini tuh kok mirip banget dengan cara nulisnya ryan holiday ryan holiday itu adalah penulis toisme favorit gue bukunya banyak gua baca daily dad dan daily stoic dan lain lain ini mirip banget. Gaya nulisnya jadi kalau orang holiday itu dia bawa satu cerita masa lalu ya. Cerita yang ancient banget tentang marcus aurelus lah apa tentang siapa? Terus sama dia dikasih konteks modern. Dulu ada kaisar di yunani. Dia tuh gini gini gini gini. Nah di masa sekarang bla bla bla bla gitu itu gaya dia melalui banyak riset bukunya dia kadang kadang paragraf paragraf narasinya dia tuh juga kayak masukin ceritanya si ini ceritanya situ banyak anekdotnya banyak anekdot yang akhirnya mendukung argumentasi dalam buku mirip banget cara nulisnya, ternyata pas gua baca di belakang ada. Thanks tuh kan ternyata rayan holiday bantuin nulis. Jadi oh jadi make sense buat gue si jeff goin di sini ngomong. Thank you for rain holiday help me writing this book dia bilang gitu oh jadi masuk akal gue sekarang gue enggak tahu di Indonesia ada buku non fiksi dengan gaya serupa apa enggak karena kayak ini ceruk yang menarik untuk diisi sama penulis karena gayanya rain holiday tuh sangat khas dan gue belum pernah lihat ada yang bisa replicatate izactly. Seiamik dan sebagainya itu sampai nontonin podcast podcast yang rain holiday di mana dia cerita yang proses kreatifnya dia dia ngeluarin satu three yang isinya tuh semua notes dia research dia untuk bikin satu buku gua ngerasa ada ada ada vacuum minum market untuk buku kayak gitu di Indonesia sih kalau misalnya ada yang terinspirasi buat nulis dengan gaya kayak gitu boleh silakan aja gitu. Gue juga pengin sebenarnya, tapi gue enggak ada waktu, tapi anyway ini adalah buku yang bagus banget. Cocok buat siapa ini cocok buat teman teman yang mungkin mau jadi seniman. Tapi dipenuhi dengan rasa takut bukunya namanya real artis dont starf yang nulis jeff goins itu dia apa ya nuklilan gue buat buku ini.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Pentingnya membaca buku, terutama non-fiksi, sebagai investasi terbesar karena memungkinkan kita mengonsumsi hasil riset bertahun-tahun dalam waktu singkat.
  2. Buku "Real Artists Don't Starve" berargumen bahwa seniman bisa sukses finansial tanpa mengorbankan kreativitas dengan memiliki berbagai sumber pendapatan, mentor, dan pola pikir jangka panjang.
  3. Seniman perlu memahami pemasaran, berani meminta bayaran atas karya, belajar dari industri lain, serta menjaga reputasi dengan tidak mengorbankan keuntungan jangka panjang untuk keuntungan cepat.

Summary:

Raditya Dika membahas pentingnya membaca buku, terutama non-fiksi, sebagai investasi berharga karena memungkinkan pembaca menyerap riset bertahun-tahun dalam hitungan minggu atau hari. Ia kemudian merekomendasikan buku "Real Artists Don't Starve" karya Jeff Goins, yang membantah mitos bahwa hidup sebagai seniman harus susah. Buku ini menekankan bahwa seniman dapat sejahtera tanpa mengkompromikan kreativitas dengan membangun berbagai sumber pendapatan, mencari mentor, dan memiliki pola pikir jangka panjang.

Contohnya, sebagai penulis, Raditya tidak hanya mengandalkan royalti buku tetapi juga mengembangkan sumber pendapatan lain seperti pertunjukan stand-up comedy. Buku ini juga menyarankan seniman untuk memahami pemasaran, berani meminta bayaran (sekecil apa pun), belajar dari industri lain, dan menjaga reputasi dengan mengutamakan keuntungan berkelanjutan daripada keuntungan instan. Raditya menyoroti gaya penulisan buku yang mirip dengan Ryan Holiday, yang menggabungkan cerita sejarah dengan konteks modern, dan merasa buku ini cocok bagi siapa pun yang ingin berkarya di bidang seni namun masih diliputi keraguan.

FAQs

Pertunjukan akan hadir di Bali, Pontianak, Bandung, Surabaya, dan Samarinda. Tiket dibuka pada 28 November 2022 pukul 14:00 WIB di www.ceritaaneh.com.

Membaca buku non-fiksi memberikan return on investment terbesar karena penulis telah melakukan riset bertahun-tahun, yang bisa kita konsumsi hanya dalam hitungan minggu atau hari.

Buku ini membantah mitos bahwa hidup sebagai seniman pasti susah. Seniman sejati bisa sukses secara finansial tanpa mengorbankan kreativitas dengan memiliki berbagai sumber penghasilan dan mentor.

Seniman harus mencari banyak income streams atau sumber penghasilan dari satu karya, memiliki mentor, dan memahami marketing serta sales untuk menukar nilai karya menjadi uang.

Memiliki mentor memungkinkan seniman belajar dari pengalaman orang lain, mempercepat perkembangan, dan mendapatkan dukungan baik berupa pengetahuan, jaringan, atau sumber daya.

Patron adalah orang atau pihak yang percaya pada seniman dan memiliki sumber daya (seperti dana atau tenaga) untuk membantu mewujudkan karya mereka, contohnya produser film yang mendanai sutradara.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.