SENI MEMPENGARUHI ORANG Kurang Dari 10 Detik! | SUARA BERKELAS #27
0m 0s
Dalam podcast ini, pembicara Ricky dan Didi, yang merupakan pelatih public speaking, berbagi wawasan tentang seni komunikasi dan tampil di depan umum. Mereka menekankan bahwa public speaking adalah keterampilan yang dapat diasah melalui latihan, bukan bakat bawaan. Salah satu poin penting adalah menghindari penggunaan kata pengisi seperti "gitu" atau "luar biasa" yang berlebihan, karena dapat mengganggu audiens meskipun wajar dalam percakapan sehari-hari. Mereka juga menyoroti pentingnya kepercayaan diri yang berasal dari mengenal diri sendiri dan membawa cerita pribadi yang autentik, bukan mencoba menjadi orang lain.
Mereka menjelaskan bahwa gestur tangan, ekspresi wajah, dan senyum memiliki dampak besar dalam menyampaikan pesan, bahkan dalam konteks non-visual seperti radio. Ricky dan Didi juga mengajarkan bahwa setiap kesempatan tampil harus dianggap sebagai pertunjukan terakhir, sehingga kita memberikan yang terbaik kepada audiens. Mereka menggunakan contoh tokoh seperti Soekarno dan John McCain untuk menunjukkan bahwa orasi yang efektif membutuhkan konteks, keberanian, dan ketulusan untuk kepentingan publik. Selain itu, storytelling yang baik harus memiliki struktur yang jelas—setting, karakter, dan konflik—serta berasal dari pengalaman hidup sendiri.
Mereka juga membahas cara mengatasi rasa grogi sebelum presentasi, seperti mengatur napas, mendengarkan musik, dan mengubah pola pikir. Pesan utamanya adalah jangan berhenti berkarya, terus belajar, dan gunakan cerita hidup sendiri sebagai kekuatan untuk berkomunikasi secara autentik dan berdampak.
Pembicara 1
Lu ngomong luar biasa aja enggak luar biasa karena mungkin lu enggak ngikut kan.
Pembicara 2
Every show is our live show.
Pembicara 3
Every show is our lass.
Pembicara 2
Show karena kita enggak pernah tahu besok dikasih lagi enggak sama tuhan.
Kesempatannya kobby brian every game is like my last game karena gue paling sebal kalau dengar orang yang maju public speaking kayak misalnya contoh lah pejabat atau siapa bilang ya saya disuruh nih untuk menyampaikan ini?
Gmailnya kalau.
Pembicara 1
Disuruh kalau dibilang wah lu subjektif lo emang karena kita manusia kok.
Ya lu pakai pakaian compang camping taruhlah gitu masuk bang di stop satpam.
Pembicara 3
Enggak lu walaupun nasabah prioritas nih.
Oh iya.
Pembicara 1
Bisa jadi dia adalah ketua.
Pembicara 2
Dengan kartu baru orang percaya.
Tapi sebelumnya kan enggak?
Pembicara 1
Gue enggak suka ya?
Lo bilang katanya tampil mesti percaya diri.
Rut tampil jadi diri sendiri apa adanya.
Otentik aja ini bukan bilal yang gue kenal.
Pembicara 3
Masih kurang pecah diri mas penipu loh masih kayak mau podcast tegang gitu ya.
Kasihan.
Pembicara 4
Ya.
Pembicara 3
Oke selamat datang mas didi muridnya dan mas ricky di.
Pembicara 2
Ya tadi hanya sebuah dramatisir ya jangan.
Pembicara 3
Ya karena karena kadang susah banget jadi diri sendiri.
Apalagi di depan kamera gitu loh.
Pembicara 2
Wajar karena kita pasti ada ekspektasi pengin dilihat keren oleh orang yang nonton kita kan.
Pembicara 3
Dan makanya ini set up terbaru dari surba kelas aku undang 2 orang sekaligus guys karena aku kalau mau ajak satu orang kayaknya ada yang kurang harus ada satu orang lagi jadi kayak makanya aku special hari ini apa kabar mas ricky dan mas didi?
Pembicara 2
Great thank you bill of foreving us.
Thank you teman teman buat ada kita di sini hari ini dia.
Pembicara 1
Selamat apa namanya?
Makanya gue selamat apa ya?
Karena kalau enggak ada gini gua jadi bingung di luar tuh pagi sih yang sore malam ini 1 kali kita podcast dengan settingan seperti ini.
Pembicara 2
Ya.
Pembicara 1
Iya sih jadi kekurangan.
Pembicara 2
Polisi gitu loh.
Pembicara 1
Pada nyuri apa kok pernah?
Pembicara 2
Kita mencuri apa mencuri perhatian dalam for tim?
Pembicara 1
Benar benar benar benar benar benar.
Pembicara 3
Jadi aku ajak mas ricky dan mas didi otomatis sebagai orang yang aku anggap itu lebih senior dari sisi komunikasi.
Oke keret umur.
Pembicara 2
Saya takut umur juga pasti ya.
Pembicara 1
Yang pikir.
Pembicara 2
Dan jumlah follower bro dia followernya.
Pembicara 3
Banyak kita itu bukan di luar topik sih.
Jadi jadi selama ini aku mulai podcast berkelas selama satu tahun terakhir.
Aku kan enggak ada background public speaking.
Aku enggak ada background seorang radio mungkin.
Tapi aku punya crisis untuk belajar.
Makanya aku masih diproses kayak ketemu orang baru aku belajar dan hari ini aku belajar sama kalian.
Selama ini banyak yang komen lu bi kalau speaker ngomong lu tiba tiba.
Padahal itu cara aku untuk memahami apa yang disampaikan oleh audience itu.
Kira kira apa yang harus aku perbaiki dari po v nya mas ricky dan mas didi.
Pembicara 1
Lu omnya great tadi.
Pembicara 3
Misalnya mas ricky ngomong.
Pembicara 1
Kita cek dulu kalau kita lihat dari muke aja dulu waktu lo melakukan oh gitu.
Uh masih aman sih sebenarnya, cuma gua curiganya pada saat gitu kebanyakan.
Pembicara 4
Oke.
Pembicara 1
Kebanyakan itu artinya jadi ganggu sekali 2 kali.
Mungkin oke, tapi pada saat every time kayak begitu, akhirnya jadi gangges ganggu ya kalau gangges bahasa baci jadi gangges.
Jadi ganggu buat orang yang nonton buat orang yang dengar itu keganggu.
Nah pada saat ke ganggu entah kenapa tuh proses ngedownloadin dia mungkin juga akhirnya jadi enggak sesempurna yang lu pengin gitu.
Yang lo harapin akhirnya ada keganggu.
Gitu sih.
Pembicara 2
Itu namanya filler words.
Kalau dalam bahasa public speaking atau ketemu presentasi orang, jadi kita kadang kadang suka pakai kata kata yang mengisi kekosongan kita.
Pasal kita berkomunikasi contoh lo mungkin dia itu gitu.
Coba tadi dia ngomong lu dihitung berapa kali dia ngomong gitu itu filler awards susah banget dihilangin atau bahkan ada teman gue yang kalau ngomong bahasa Inggris dia pakai you know you know gitu you know nah itu filler awards.
Actually actually like like like like jadi gini itu enggak salah itu Ronaldo kita untuk coba komunikasi.
Jadi buat teman teman mau nih maafin kalau bila punya karena itu filler words orang mungkin akan lebih enak kalau memang billar bisa mengulangi, tapi buat gue itu bukan berarti menunjukkan bahwa itu sebuah apa ya sebuah sebuah apa tuh sebuah ketidaksempurnaan enggak enggak orang pasti belajar untuk mengurangi fluers itu by natur menurut gua.
Pembicara 1
Secara natural kan manusia memang enggak tahan ya kelas sepi itu kan enggak tahan lebih banyak orang enggak tahan sepi daripada iya kan?
Jadi pada saat ada keheningan kekosongan tuh enggak tahan, jadi kayak mau desi gitu.
Iu ah gitu.
Gitu seperti itu.
Pembicara 2
Dan orang Indonesia kalau gue perhatiin paling banyak pasti katanya gitu.
Pembicara 1
Seperti itu sekarang.
Pembicara 2
Seperti itu.
Pembicara 1
Ya kaku enggak sih seperti itu gengges bukan kaku tapi seperti itu kalau keseringan kan jadi ganggu buat orang yang dengar ya.
Pembicara 2
Masa jauh jauh deh buat para MC gue tanya sekarang kata paling sering apa luar biasa luar biasa mencoba lihat MC kalau lagi mimpin lu lihat berapa kali kata luar biasa keluar ya kalau luar biasa jadi sering sudah enggak luar biasa lagi doang.
Pembicara 1
Itu.
Pembicara 3
Film biasa ya?
Pembicara 2
Dalam dunia per m can.
Bisa enggak ada kata kata tentang keren hebat wow inspiring cool habis mantap banget you have so many options.
Tapi karena kita terbiasa dengan sebuah failure, kita sudah pakai kata yang namanya go jemput adalah naluri survival.
Yang paling basic adalah menggunakan kata yang paling aman itu luar biasa.
Pembicara 1
Luar biasa luar biasa aja lu ngomong luar biasa aja enggak luar biasa karena mungkin lu enggak ikut kan.
Pembicara 3
Luar biasa luar biasa.
Pembicara 1
Ya luar biasa ya.
Apa yang sudah kita saksikan?
Pembicara 2
Barusan.
Kalau apel apel korporat yes bisa bisa, tapi tangannya bisa bisa.
Nah itu maksud gua sesuatu tidak ditampilkan dengan optimum itu kenapa gua dan didi?
Kenapa kita di shio time kita mau make sure orang tuh pas komunikasi impact for karena audience lo udah ngasih waktu buat lu kalau lu enggak kasih yang terbaik dalam versi lu audience lu rugi dong waktu kan enggak berasa balik lagi kayak kita nih sekarang kita lagi ngobrol kan ada waktu dari tim kru yang di dedikasikan buat kita kalau kita enggak menggunakan orang yang terbaik, kita kan sayang kesen waktu mereka.
Udah nonton aja udah juga nonton udah bandwidth internet.
Udah waktu jadi spending buat kita kan.
Akhirnya sebenarnya terbaik dong.
Nah itu kenapa gua bilang gua dan didi make sure kita bisa komunikasi secara impact itu kenapa kita bikin show time?
Pembicara 3
Ini.
Keren aku pernah baca data ya dari NBC yang bilang 75% orang dewasa itu punya glosopia.
Publish speaking itu tiba tiba kayak merasa bahwa aduh aku kayaknya enggak punya keapabilitas untuk ngobrol di depan umum gitu itu kenapa?
Dan cara mas ricky dan mas didi menghadapi itu pasti pernah dong pak di fase kayak.
Atau emang enggak pernah ada yang menteri lahir kayak tiba tiba langsung lahir jadi public speaker.
Pembicara 1
Enggak lah gila lo enggak enggak lah.
Pembicara 2
Gimana nih?
Pembicara 1
Ya wajar aja dan itu natural ya naturalnya adalah makanya kan kita terkenal dengan tawuran karena memang kita senangnya ramai ramai kan berani kalau ramai ramai yang maju sendiri sendiri juga sedikit tuh di depan kan di mundur lagi.
Wah maju mundur lagi gitu kenapa ya?
Karena kita itu kan berani kalau ramai ramai itu secara natural.
Makanya gosofobia itu nomor karena pada saat sendirian dilihatin orang orang.
Nah pada saat itulah kita ngerasa waduh kenapa ya gue?
Kenapa ya?
Karena memang kita tidak biasa, tapi bukannya enggak bisa dipelajari ya itu bisa steve jobs segala macam kayak gitu gitu bisa nongol kan enggak dari awal.
Itu latihan ya kan orang masuk kering berani bertinju gitu gitu itu kan latihan.
Sama ini juga gitu, karena memang kita secara natural tidak dibiasakan untuk sendirian under the spotlight.
Maju sendirian tidak dibiasakan.
Jadi makanya kenapa begitu?
Pembicara 2
Misalnya pas zaman kita sekolah aja.
Coba kalau kita yang gurunannya terus kita angkat tangan, selalu ada stigma kayak weh cari muka loh segala macam sehingga kalau misalnya dia maju di masa depan, wajar dong kalau dia merasa takut merasa.
Merasa aduh gua enggak pede nih karena sudah ada stigma otak kecil ah lu kalau misal tunjuk tangan lu berarti cari muka jadi hal seperti itu menurut gue juga selain diri tadi bilang bahwa stigma kita tidak ada biasa kok sejak kecil loh tampil jadi kalau boleh dibilang bahwa kalau kita berdua dari lahir sudah jadi pabrik speaker mah enggak banget gue belajar gue bakal punya kebiasaan gue harus senapan mesin gue kalau ngomong tuh tat.
Pembicara 1
Gitu.
Pembicara 2
Mitra liur nah itu gue juga banyak teknik tentang bagaimana slowing down segala macam.
Dan benar kata didi ini bukan masalah introvert tektr tuh lahir negara mana?
Bisa saja luar di Amerika ya negara yang biasa untuk speak up tapi lu bisa aja tidak punya kemampuan dan sering juga jadi seperti itu.
Jadi its all about skill.
Jadi kalau gue Deddy Corbuzier nge public speaking about skill sama kayak skill berenang kalau terlepas introvert extrovert selama lu paham tekniknya dan melakukannya pasti bisa.
Jadi ibaratnya enggak ada tuh dari lahir tuh public speaker extrovert bon orang bilang oh dia pasti by natural bisa jadi ngomong justru enggak.
Kadang kadang dia masih tahu kapan dia ngerem.
Kadang kadang dia ngomong bubbly ke mana mana harus ada teknik kan dia rapihin seperti itu.
Pembicara 3
Karena dari kecil juga kalau misalnya ada.
Sanksi atau ada hukuman itu terus disuruh maju ke depan untuk nyanyi seolah olah maju ke depan itu bentuk dipermalukan.
Pembicara 2
Gitu loh betul sekali your your remaking yang fair.
Good point.
Pembicara 1
Itu hukuman maju ke depan itu hukuman.
Padahal kalau buat kita berdua nih itu kesempatan.
Pembicara 2
Betul betul karena saat dipanggung itu kan adalah cowok tinggal bilang pakai itu kesempatan atau kesempitan.
Kalau bahasa kita kesempatan misalnya ayo maju ke depan berarti kan ada mata atau orang yang akan memandang gua lebih banyak pada biasanya mau kesempatan enggak atau kesempitan berarti akan ada orang orang yang memberikan image jelek ke gue gitu kayak disuruh kayaknya ngapain sih gitu tinggal lu mau lihat engl yang mana lu akan gunakan sebagai apa.
Makanya kalau gue dan idealnya ngelatih public speaking client atau korporasi kita enggak pernah nunjuk orang buat maju, orang harus maju dengan kemauan dia sendiri.
Karena gue paling sebal kalau dengar orang yang maju public speaking ya misalnya contoh lah pejabat atau siapa bilang ya saya disuruh nih untuk menyampaikan ini gimana?
Pembicara 1
Kalau disuruh ngerti enggak?
Pembicara 2
Karena gue paling sebal kalau ada orang merasa bahwa oh ini bukan gue yang tampil, tapi gue hanya menyampaikan pesan.
Pembicara 1
Dan dan gua yakin pada saat itu terjadi, nanti bapak yang maju untuk pidato mewakili pak bos ya wah itu sebenarnya dalam arti kesal banget kenapa mesti gua sih gitu karena yang ditunggu sama orang orang tuh bosnya sementara dia harus maju ke depan.
Itu mix really ya Antara emang gue too doang ya gitu kan lo kalau enggak bosnya aja direkam pak bapak rekam aja nih saya ini nanti saya kasih ke make nya begini gitu kan bisa saja sebenarnya betul enggak?
Jadi sebenarnya kalau misal pitching saja misalnya gue suka jadi judges untuk pitching pitching start up misalnya gue suka bilang gini lu.
Boleh enggak ide lo bagus nih ide lu gue beli ya, tapi enggak ada lunya di sini gimana nih?
Pembicara 3
Itu itu apa yang dilakuin sehingga kayak terkesan enggak usah di situ deh gitu.
Pembicara 1
Enggak usah karena cara dia ngomong itu kan itu tidak meyakinkan.
Anggaplah lalu investor lu gua lu apa ada yang presentasi sama lo tentang produknya dia ya kan supaya presentasi ini shotami ini gitu shot time book iya kan?
Minta duit untuk nyetak lebih banyak lagi ya kan?
Kalau gue ngomong aja pak ini.
Buku bagus banget pak shot time nih.
Nih lihat nih banyak gambarnya tuh terus pas lo lihat.
Iya sih banyak gambarnya.
Tapi lu ngelihat gue ini enggak meyakinkan nih gue gitu boleh enggak nih show timbook gue beli kata lo gitu ya kan?
Tapi enggak ada lu.
Pembicara 2
Gua cara orang lain lah.
Pembicara 1
Yang cewek orang bukan brand swab ini gimana om iya.
Pembicara 3
Itu itu.
Nah itu.
Pembicara 2
Yang yang kita lakukan pada saat kita lagi ngelatih para start up buat para mereka pitching segala macam produknya bagus.
Tapi karena pembawa produknya memang enggak bagus.
Pembicara 1
Kan itu jadi masalah karena gue akan ngasih duit ke siapa ke orang yang bawa dong.
Tiba tiba cara dia berbicara itu berkorelasi dengan skill yang dia punya kan.
Jadi kenapa kita harus bisa public speaking?
Bisa story telling bisa manggung karena sekarang gini nih kemampuan lo misalnya di sini di 10, tapi cara ngomong lo di sini 5 orang itu mempersepsikan.
Skill yang 10 ini dilimakan berkesal padahal lu jago banget ya.
Tapi lu enggak bisa apa ya?
Quote quote memanggungkannya gitu kan ya?
Pembicara 2
Dan sebaliknya juga gue kenapa sangat senang kita ngobrol hari dengan lo karena konten lo adalah gue konten yang mengedukasi dan sebaliknya banyak orang yang menurut gua esensi kontennya di 3.
Tapi karena kemampuan komunikasi yang di 9 orang jadi dengerin.
Nah ini gue bilang musuhnya adanya sensasi, tapi enggak ada esensi yang gue adalah konten lo banyak esensi which is very good.
Nah itu gue bilang lawannya kita sebenarnya seperti itu orang orang yang jago komunikasi, tapi enggak ada isinya.
Cuman hype doang viral.
Pembicara 1
Doang sama orang istilah akhirnya wah lu tukang obat lu gitu karena tukang obat banyak yang nipu padahal kan belum tentu.
Iya kan?
Makanya ada stigma waktu kang obat loh jago ngibul ya kan gitu lo tidak sesuai dengan apa yang lo omongin tapi dia jago ngomongnya gitu ya kan?
Oh gitu.
Pembicara 2
Lah itunya banyak tuh filler tuh filler tuh lo lihat tuh dia pun yang ngakunya sebagai coach parkir sebelumnya punya filler bro, jadi tolong ya kalau bila banyak jangan dihujat teman teman itu adalah.
Pembicara 3
Filler kalau gitu hal yang wajar kali kayak itu titiknya di situ kayak.
Pembicara 2
Nah.
Pembicara 3
Itulah.
Pembicara 2
Politik kosongnya tuh.
Pembicara 1
Enggak gitu.
Enggak pacar buat penonton buat audience its something yang mengganggu kenikmatan dia menonton.
Kenikmatan dia mendownload proses apa informasi yang sedang dikasih ke teman teman ini kan?
Pembicara 2
Jadi buat para penonton kalau misalnya lu bisa menghitung gitunya diri hari ini gue akan kasih buku show time tepat.
Pembicara 1
Gitu ya eh penonton.
Lu hitung nih gitu gue sudah berapa ya kan kaya lu ya kan bisa juga gitu nah gitu lagi.
Pembicara 2
Maafin ya.
Pembicara 3
Dan aku tahu mas ricky dan mas didi ini kan selama ini dia balik layar ya.
Jadi banyak orang orang yang tampil di publik.
Mungkin banyak orang orang besar itu sebenarnya dibantu oleh mas didi dan mas ricky boleh ceritain enggak proses salah satu tokoh atau siapa gitu?
Cepat cepat tahu teman teman di sini.
Wah ternyata ini di balik ini ada sini loh gitu siapa studi kasusnya dan gimana prosesnya sampai dia tuh jadi retailer atau speaker yang keren gitu.
Pembicara 1
Aku orangnya enggak.
Pembicara 3
Sombong siap ini ini kita buka bukaan di sini siap cepat tahu mereka penasaran siapa sih didi?
Siapa sih ricky gitu ya?
Pembicara 2
Costa sardi jadi didi juga satu coach buat mas sandi nya pas band drummernya pas band yang sebenarnya juga adalah seorang jagoan radio.
Kalau boleh gue bilang setelah dia adalah jagoan musik gimana di sandi?
Pembicara 1
Sandi itu kalau.
Pembicara 2
Menurut aku.
Salam menduduk gede dulu karena.
Pembicara 1
Kalau.
Pembicara 2
Dia repostgap saja lebih banyak.
Pembicara 3
Mengenai.
Pembicara 1
Oh iya benar juga benar juga benar juga.
Jadi kalau jadi gini dulu tuh gua adalah konsultan program radio, salah satunya ya kan program radio yang ratingnya turun.
Gue spesialisasi yang ratingnya turun.
Jadi kalau yang ratingnya turun masuk ke gua.
Tapi gua enggak boleh punya kemerdekaan untuk ini.
Gua ganti ya talentnya gitu enggak bisa jadi lu harus apa apain nih talent.
Nah salah satu talentnya waktu itu adalah sandi pas band nah di sandi pas band ini Gus Dur nih orang gila lu ceritanya banyak banget cerita hidupnya tuh unik banget gitu.
Lo dia pernah dia kita tahunya dia kan drummer ya.
Drummer pas band ya kan rambutnya selalu berwarna terus ke mana mana pakai celana kutung, tapi enggak pernah absen yang namanya sholat wah gokil enggak iya kan?
Terus yang kita tahu dia datangnya dari condet di daerah condet itu isinya adalah saudagar parfum satu jalan tuh pasti kalau enggak saudagar parfum ya saudagar dagang makanan dia kagak dia peternak monyet serius serius.
Pembicara 3
Serius monyet baru dengar nih.
Pembicara 2
Serius ini fakta.
Pembicara 1
Lanjutnya, di peternak monyet gue keluarganya jadi aneh kan peternak monyet bapaknya turunannya adalah drummer ya kan udah gitu dia pernah dagang pasir.
Jadi wah ini ceritanya banyak banget yang bisa kita angkat dan kita gali.
Nah cuma gimana caranya?
Nah orang orang kayak begini nih dia kan apa ya jago jualan tuh orangnya kan jago jualan.
Nah yang kita butuh dari dia adalah struktur karena setiap seorang entertainer itu ngomong itu sebenarnya ada struktur struktur, dalam arti adalah kita harus paham durasinya berapa dalam waktu misalnya durasi durasi lo ngomong 3 menit, iya dalam waktu 3 menit lu harus bisa bikin penonton gertawa atau lo harus bisa bikin penonton nangis atau lo harus bisa bikin penonton mikir. 3 menit ya, nah pada saat itu dia langsung mikir.
Ceritanya udah ada openingnya gimana ya?
Tengahnya gimana ya?
Closingnya gimana ya?
Dia harus tepat tuh jarak dia mikir itu cuma satu lagu, satu lagu itu 3 menit dia langsung mikir gimana ini satu menitnya briefing berarti dia cuma punya waktu 2 menit.
Itu harus ada ku langsung struktur di otaknya.
Nah kayak gitu gitu tuh yang akhirnya kita kita drill ke sandi sama tim waktu itu karena enggak cuman sandi sama partner ya, tapi di belakang layarnya juga ada kan kayak produser, script writer kayak gitu gitu terus satu tim jadi mau enggak mau dia harus punya skill ini.
Nah itu tuh yang enggak gampang untuk seseorang yang sangat tidak terstruktur.
Jadi punya struktur itu sih gokil sampai akhirnya dia bisa dia kan krisis identitas ya jadi jaga jadi dia penginnya dipanggil drummer pas band.
Tapi tiba tiba kan tawaran ng MC banyak ya kan?
Terus jadi host di mana mana dia dipanggil gini weh kang sandi katanya.
Hostnya WWWF ya WWF tahu katanya gula ah gitu terus nih kenapa gue dapat jadi host WF gitu?
Tapi itu adalah konsekuensi sih sampai sekarang gitu ya dia jahe nya jadi ke mana mana gitu?
Corporate corporate justru sekarang banyak yang manggil dia buat jadi MC itu kan aneh ya.
Pembicara 3
Menarik ya.
Padahal modelnya itu modal public speaking.
Tapi kesempatan dia terbuka nggak cuma di satu pintu doang jadi drummer tapi bisa malah jadi MC dan.
Pembicara 1
Lain lain.
Iya.
Pembicara 2
Public speaking bisa buat om saya contoh paling besok jadi MC saja bikin podcast kayak lo menjadi seorang pengajar menjadi seorang host.
Banyak banget the role yang bisa digunakan pada saat lu menguasai public speaking di kantor pak satlo peaching presentasi apakah harus orang sales enggak orang keuangan orang HR gue udah ngelihat sendiri jadi kemampuan public speaking, bahkan harga kemampuan skill yang sangat diperlukan yang tidak bisa digantikan sama ai.
Pembicara 3
Ya setuju.
Pembicara 2
Kalau elu kemampuan menghitung segala macam, mungkin a bisa membantu menulis bahkan masih bisa dibantu EI kita.
Sebab selama penulis buku ya tahu dong susahnya menulis AM kan bisa kayak semacam hack tapi public speaking.
Kan enggak mungkin digantikan sama ya pas ketemu langsung dengan audience lo dalam untuk darah dan daging gitu lo tetap punya kemampuan itu.
Jadi maksud gua kemampuan skripsi speaking tuh sangat krusial bahkan tidak akan menjadi dengan WA selama kita memaknai kita sebagai manusia.
Karena manusia adalah satu satunya spesies yang bisa mewariskan cerita.
Hewan dan tumbuhan tidak membubarkan cerita mereka mewarskan keturunan yes memulik kita mau multiplikasi tentu saja ya.
Tapi kita ada cerita ada story yang dititipkan satu generasi generasi lain dan itu yang membuat nama manusia unik sebagai story teller.
Pembicara 3
Kalau cerita mas ricky ada enggak?
Satu orang yang mas ricky bantu progresnya kayak cerita mas andy tadi.
Pembicara 2
Kalau gue mungkin enggak bisa sebut nama karena banyak gua kebetulan suka membantu para menteti menti gue yang lebih muda kalau didi waktu itu sebagai konteks radio.
Kalau gue lebih banyak mentorship teman teman waktu itu di kampus dan balik lagi di kampus itu baik gua ngeliatnya bawa banyak talent talent yang keren banget, tapi kalau mereka bisa confident PD mereka jadi superstar.
Dan gua bersyukur sejak 2010 gue mementorin cukup banyak anak anak muda.
Nah sekarang mereka jadi Manager jadi leader di perusahaannya masing masing.
Gue enggak bilang bahwa itu semua gara gara gua, tapi boleh dibilang bahwa gue ada dalam berapa fase saat mereka maju saat mereka mencari PD seperti itu.
Jadi gue mau bilang ya sebenarnya mereka yang thanks to them karena mereka mau belajar jadi balik lagi bilang menurut gue orang diajarin is one thing, tapi kalau orang mau untuk ngikutin proses diajarin itu nother thing dan yang gua sayangkan dalam situasi yang sekarang omongin serba instan.
Enggak semua orang mulai proses jernih yang gue dan didi suka ajaran ke klien klien kita atau ke teman teman kita mau cepat maunya besok bisa susah.
Pembicara 1
Maunya besok bisa iya kan kalau computer bisa download kalau manusia wah itu ada proses apa ya?
Proses internalisasinya juga lama proses di mana lu nih gue pernah ya mendampingi nge coaching satu orang ada selebritis gitu ya rocker lah.
Gua tuh kalau abis dia manggung show siaran gitu istilahnya.
Pasti ketemu pasti evaluasi dari sejak dan gue selalu evaluasi show nya kan gue tuh dan rata rata tuh yang gue evaluasi sama lu kurang ini kurang ini kurang ini besoknya gitu lebih kurang ini kurang itu hal yang sama sampai dititik dia mau mengeluarkan nota dan ngeluarin boten untuk dia nyatet 3 bulan men 3 bulan.
Pembicara 2
Sih baru 3 bulan baru diri dengerin. 3 bulan 1.
Pembicara 1
Tuh kayak iya tapi.
Pembicara 2
Lama makai crack the crack moment gue yang susah untuk orang mau belajar apa enggak lo.
Pembicara 1
Itu 3 bulan.
Sampai akhirnya dia mau dan nulis apa yang gua omongin tuh 3 bulan take notes tuh dia baru 3 bulan dia mau selama itu.
Oh iya lu ngomong apa iya iya gua dengerin aja gitu, tapi ya lu harus tahan dengan muking ngantuknya dia gitu gitu kan lu harus tahan.
Karena emang ya udah gitu kan dia rocker enggak terbiasa apa namanya bangun pagi.
Bahkan ini baru tidur pagi.
Biasanya ini tiba tiba harus show pagi pagi ya kan gitu disiplin, disiplin di media itu dia harus harus apa namanya dia harus lakukan kan.
Harus ikutin dia tidak terbiasa.
Sampai akhirnya dia mengeluarkan buku notes terus nulis itu 3 bulan kuat kuatannya.
Kita enggak mau datang gitu ya kan?
Kita manusia ya harus paham ya lu emang waktu dibilangin sama nyokap bokap lu langsung iya kan kagak?
Pembicara 3
Kadang mama aku sudah bilang jangan begadang dari SDSMPSMA.
Tapi aku iyain pas dengan.
Pembicara 2
Lagu dari Aceh belakangan ceritanya kan untuk mencoba menchallenge diri lo kalau gue.
Pembicara 3
Pernah benar benar.
Pembicara 2
Banyak loh yang bilang jangan jangan atau gimana.
Pembicara 1
Masa sih gitu ya ada ini di otak lo yang nah itu yang harus kita batlink.
Termasuk ini nih sekarang kita ngomong gini di audience juga.
Wah masa iya?
Oh memang gitu oh ada juga yang ngomong, oh iya juga ya tadi, tapi dari kata ya juga sampai dilakuin itu, nah itu hal yang berbeda.
Dia praktekin.
Pembicara 3
Belum tentu oke, kita tadi sudah ngomongin public speaking dan public speaking kan enggak jauh juga dari kepercayaan diri ya aku penasaran sama konteks kepercayaan diri yang di mana kan kayak budaya kita lebih menghormati yang lebih tua, misalnya kayak mau jalan agak menunduk dikit gitu.
Tapi dalam konteks mau ngelamar kerja misalnya lesti aku mau melamar kerja.
Tiba tiba di depan atasan atau di depan calon senior.
Aku jalan agak menunduk.
Itu mungkin secara budaya ya ya sopan gitu, tapi secara kepercayaan diri menurut mas didi atau mas ricky, apakah itu bagus atau justru membuat kita wah ini orangnya enggak confident nih gitu gimana?
Pembicara 2
Oke kalau menurut gue.
Buat para kandidat ya kepercayaan diri lo sangat penting karena lu harus manggung untuk mendapatkan posisi tersebut.
Lo bersaing ibarat kata kayak Pemilu Amerika Serikat yang barusan selesai nih lu bersaing untuk merupakan suara dari orang hr user lu manajemen gitu kan.
Enggak ada yang salah dengan membubuk rang sopan gue ulangin enggak ada yang salah.
Yang salah adalah kalau lu merasa rendah diri pada saat lu ketemu dengan kandidat lain dan rendah diri itu bisa dimulai dari postur uh.
Dari mulai cara lo memandang diri lo ya gua juga waktu 1 kali cari kerja juga wah sebelah gue lulusan US gula gua lulusan apa kalau lu punya mentalitas bahwa oh iya jiper sih dia lebih pintar, lebih kaya lebih apa.
Ya lu akan punya mentalitas itu, tapi lo harus bisa percaya sama diri lu sendiri.
Dan menurut gue percaya diri adalah tentang kenal diri lu sendiri sebelum lu maju ke pintu wawancara itu.
Nah gimana kenal diri di lesbiarin dan.
Pembicara 1
Sebagainya sama sih kalau di otak gue tuh ujung ujungnya jadi wah kenapa gue enggak percaya diri ya berarti pada saat itu.
Ngedadak lu tidak kenal sama diri lu iya kan.
Padahal kan lu udah pada saat lihat saya misalnya 24 tahun berarti lo kan sudah 24 tahun hidup jadi diri lu masa lu enggak kenal sama diri lu sendiri sih.
Iya kan.
Memang kalau lagi konteksnya adalah lagi interview kerja.
Mohon maaf nih lo emang bersaing mau gimana?
Justru yang terjadi elu harus make sure bahwa lu kelihatan.
Lu stand up bukan berarti enggak sopan ya.
Pembicara 2
Bukan berarti lebah dan norak stand out dan mereka oke lo terlihat lu berbeda di mana.
Pembicara 1
Justru lu perlihatkan bahwa lu yang paling sopan.
Kenapa enggak?
Ini kan yang sopan tapi ceh.
Pembicara 2
Enggak sopan tapi rendah diri tuh berbeda loh.
Dengan sopan yang percaya diri itu adalah berbeda.
Pembicara 3
Berarti berarti enggak apa apa kayak enggak papa enggak apa apa enggak apa apa.
Pembicara 1
Benar.
Pembicara 2
Tapi kalau dalam backbone dalam back of mind lo adalah oh gue cuma kata cuman, nah itu berbahaya banget pas lu lagi interview kerja sama kayak gue setiap hari pitching proposal.
Kalau gue cuma oh gue cuma itu sudah kelar sih.
Karena karena HR atau siapapun karena gue juga pernah jadi HR itu bisa kayak semacam hi dia bisa nyium nih ya orang entar masuk kantor gua gimana kan gitu kalau diajak percaya sama dia dia sendiri gimana gue bisa percayakan pekerjaan gue ini ke ini?
Benar dong.
Pembicara 1
Pada saat lo lagi interview kerja nih jujur sebenarnya di dalam otak lo tuh sebenarnya enggak mau kelihatan kok yang kebanyakan ya jadi.
Pembicara 2
Aduh beda cepat cepatnya cepat cepatnya yang terfilinya.
Aduh cepat.
Pembicara 1
Cepat kelar deh gitu.
Jadi pada saat lo permisi saja perisi.
Pak hafal enggak kedengaran apa permisi pak?
Saya mau permisi apa gitu?
Itu kan beda di Antara.
Eh LM dulu enggak mau kelihatan tapi kalau permisi pak saya mau ke sana.
Its totally different by.
Pembicara 3
Penjelasan ya, bahkan ada orang yang kayak enggak saking enggak banyak dirinya ketemu sama orang baru atau mungkin ketemu sama satpam dulu nih sebelum masuk.
Pembicara 4
He eh ngapain?
Pembicara 1
Terus pas apa nih apa aja.
Iya iya itu tuh jadi show yang bagus sebenarnya bisik bisik show.
Pembicara 2
Bahkan enggak usah jadi aja deh kan seperti enggak usah interview ini.
Kita kan biasa kan interview pasti si HR pegang CV gitu ya?
Bahkan pasti tanya oke cerita tantang diri kamu ya buat semua interve orang pernah introvert pasti tahu dong pertanyaannya.
Nah dia bilang CTN apa oh saya anak 2 dari 3 bersaudara sekuel universitas di Bandung.
Ya kalau gue berada diri berangkat tuh enggak ada rasanya enggak ada visual yang enggak ada pembedanya.
Pembicara 1
Sementara durasi interview kan sangat berharga ya.
Pembicara 2
Setiap menit tuh adalah perjuangan lu untuk kemudian posisi lu kan.
Pembicara 1
Iya, tapi lu malah enggak mau dilihat dan lu bersembunyi di kita.
Pembicara 2
Cuma anak seorang.
Pembicara 1
Iya apa ASNASN saya adalah anak ASNASN.
Apa Kementerian apa kerjanya ngapain oh as ASM pak saya ASN yang itu saya saya bangga sama ya saya karena ayah saya adalah pemburu koruptor.
Lah tapi lo bereaksi.
Pembicara 2
Lo jadi ingat enggak?
Pembicara 1
Jadi ingat gua kan lu tiba tiba ngelihat gue gitu.
Nah itu sebenarnya yang lu kejar perhatian orang untuk ngingat lu gitu.
Pembicara 2
Contoh gue terima civil bilang dari Banda Aceh berarti kalau misalnya gue bilang iya, saya cuma seorang pemuda dari Banda Aceh.
Enggak ada rasanya, tapi gue bilang saya memutuskan untuk meninggalkan kotak kelahiran saya karena saya percaya Indonesia enggak cuma Banda Aceh.
Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan kesempatan sama kayak kesempatan saya kerja di perusahaan ini ceritanya.
Pembicara 3
Beda kan namun terkesan kayak klise banget kayak.
Pembicara 2
No no its not klise tapi cara pasti akan nginget wah cari dia cerita beda.
Tapi again lo cerita juga dengan ada saya hanya saya percaya Indonesia enggak hanya beda dengan saya percaya di Indonesia enggak cuman badan cek.
Pembicara 3
Ini permainan tangan ini sangat.
Pembicara 1
Sangat bang karni.
Pembicara 2
Berapa kali kita pada saat kita online meeting beda impactnya pada saat kamera di madin sama kamera dinyalain.
Kayak orang italy gestur tangan tuh penting banget pilih simo.
Nah itu kan menguatkan pesan kita.
Bahkan gue yakin didik sebagai seorang pelatih buat para orang radio itu walaupun radio itu orangnya enggak kelihatan, tapi tangan senyum tuh tanpa warsemen kan bahkan suara terima teman ada suara senyum ya.
Pembicara 1
Istilahnya voice namanya ada ada tuh yang namanya itu jadi.
Pada saat lu enggak ada ini nih lu enggak lihat muka gue sebenarnya lu manajamkan ini kan kuping ya kan?
Nah pada saat itu sebenarnya ada visual yang dicreate di otak loh.
Jadi pada saat halo lu enggak tahu kan kalau gue senyum sebenarnya halo iya kan.
Tapi kalau halo ada senyum oh senyum dan orang lebih senang ngobrol sama orang senyum daripada orang enggak senyum benar enggak contoh ya misalnya halo mas bilang apa kabar nih kita ketemu dalam ayah terus tiba tiba ada di podcast ini gue senang banget ada di podcast ini sama.
Nih gue enggak ada tangan terus gue enggak ada ekspresi kesal enggak?
Pembicara 3
Ada kayak gue juga bisa ngantuk gitu ya.
Pembicara 1
Tapi kalau gini eh mas bilang apa kabar?
Kita tuh sudah ke apa?
Pembicara 3
Tuh kayak kayak kayak maksud lu tiba tiba.
Pembicara 1
Enggak tiba tiba karena cara otak kita bekerja itu sebenarnya mengerti.
Bukan karena kata yang keluar loh ada micro seconds karena ada istilah micro slip lagi terus.
Pembicara 3
Oke, jadi ini kita kita akan di bagian pintar ini gini.
Pembicara 1
Nih lu tuh mengerti apa yang gue maksud duluan baru sih kata itu keluar baru lu ngerti oh yang dimaksud itu karena ada kata ada geser tangan tuh mancing.
Pembicara 3
Misalnya aku makan masakan enak nih belum bilang enak tuh.
Pembicara 1
Yes.
Pembicara 2
Badan lu udah bereaksi duluan baru bisa orang komunikasi itu.
Pembicara 3
Tapi bisa ketebak enggak sih kayak makanannya?
Asin.
Pembicara 1
Gitu kan bisa aja sebenarnya.
Tapi orang udah bilang ya wah enak banget nih pasti tiba tiba itu ramai kan restoran gara gara asin ya boleh banget tapi enggak mungkin kayak gini.
I love you.
Pembicara 2
Ya enggak enggak matching kan enggak matching iya.
Pembicara 1
Kan enggak matching tapi kalau.
Do i love you mating jadi orang itu matching karena ininya dan apa yang diomongin dan kalimatnya itu matching.
Tapi kalau bilang eh monyet lu gitu.
Nah ini matching tapi boleh monyet loh.
Kan enggak matching ya ini orang marah apa muji apa gimana sih bercanda apa gimana?
Pembicara 2
Nah jadi itu teknik teknik yang gue dan lebih sering ngajarin buat ke para klien kita.
Peserta kelas kita tentang.
Kalau saat lo show time tampil di panggung tuh, bukan cuma public speaking teori yang oke tangan harus gini lah mata mata air mata aku tuh rata rata air itu ya setuju OK itu benar, tapi gue selalu percaya dengan kekuatan impact dari gerakan tangan itu seperti tarian menurut gue its lec its like ASA show makanya dimaksud show time pas lalu ditampilin pun kayak kita.
Sekarang pun itu ada sebuah show yang semoga dinikmati oleh para penonton kita semua itu sebagai satu kesatuan enggak cuma script kata kata saja.
Semua kan menjadi sebuah kesatuan pada satu semua.
Pembicara 3
Kadang aku pernah juga misalnya besok presentasi nih di kantornya udah bikin presentasinya udah latihan udah bikin deknya tapi pas hari h 15 menit sebelum presentasi itu kayak tiba tiba aduh pusing atau tiba tiba enggak percaya diri atau ketika tampil tidak sesuai dengan ekspektasi gitu itu apakah hal yang normal atau masuk ke paris masih dia juga pernah ngerasain.
Dan cara menghadapinya seperti apa?
Karena ini problem semua orang ya presentasi ingin tampil atau show time yang versi terbaik mereka ya.
Pembicara 1
Itulah hidupnya.
Pembicara 2
Cari cari uang kok gini amat ya gitu.
Gue juga kalau bisa enggak usah presentasi juga pengin sih.
Tapi ya gimana harus gitu loh.
Pembicara 1
Tapi benar benar benar.
Pembicara 2
Kalau maksud gua gini kalau lo tegang lo grogi sebelum presentasi itu wajar badan lu bereaksi terhadap sebuah peluang atau sebuah ancaman.
Kan gini kalau nyata eh bilang datang ke tempat gue gue mau kasih lu satu miliar padahal satu gemetaran dong sama eh bilang datang apalagi kita ada peaching lo mau diundi seleksi tetap gemetar mau respon itu peluang respon itu ancaman badan kita pasti gemeter itu adalah hal yang normal jadi gue pun sama deddy pun kalau kita presentasi atau kita mau ngajar pun kita pasti juga akan tetap grogi kok itu hal yang sangat lumrah seperti sekarangpun kita juga grogi sebagai sebelum ke sini.
Uh jadi tuh lumrah.
Cuman bagaimana mengkondisikan badan supaya siap bertarung?
Nah gimana di.
Pembicara 1
Menembak cewek juga grogi sama kan badan tuh enggak bisa ngebedain kok sebenarnya.
Cuma sih kita suka suka enggak bisa apa namanya enggak enggak.
Yang kita suka lupa adalah itu bahwa sebenarnya jatuh cinta sama presentasi deg degannya sama.
Ya kan mau ngadepin dosen pembimbing skripsi sama menghadapin mertua sama.
Karena apa kita tuh secara natural pada saat itu datang kita tuh.
Pengin menampilkan yang terbaik dari kita.
Makanya kita grogi.
Pembicara 2
Ya justru kita takut kalau kita sebagai trainer atau public speaker.
Kalau kita enggak grogi lagi, berarti lo menganggap itu biasa aja dan itu bahaya.
Pembicara 3
Tapi ada orang kayak gitu yang kayak sudah sudah biasa setiap hari gitu.
Pembicara 2
Buat gua lu jadi tidak menganggap itu sebagai sebuah kesempatan yang yang berharga.
Kalau gua pasti pakai argumen gua.
Gua dan didih selalu punya argumen bahwa ini panggung terakhir kita ini bisa jadi podcast terakhir kita bilang kan tergantung tuhan, mau kasih agent waktu kita udah berapa lama benar enggak dan attitude gua sama dia adalah setiap panggung kita.
Kita akan kasih yang the best karena bisa aja besok.
Kita enggak ada lagi.
Nah kalau itu oh iya nih hal yang biasa ya biar berarti attitude nya adalah audience dong, bukan berarti audience yang terakhir sementara kok dan di didi dan anak anak impact selalu percaya bahwa every show is our laut show.
Pembicara 3
Show is our lah show karena.
Pembicara 2
Kita enggak pernah tahu besok dikasih lagi enggak sama tuhan.
Kesempatannya kayak coby bryan every game is like my last game.
Nah itu adalah mentalitas kita.
Karena itu kita berapa menyiapkan terbaik buat ketemu lo hari ini buat semua pasti kita siapkan.
Pembicara 1
Nya gue antusias di sini kelihatan antusias kan.
Kalau enggak gua bisa ya jadi gini mas bilang short time book nih kita buat ya ini 8 tahun loh in the making dan ya prosesnya 5 bulan.
Pembicara 2
Lagi dia gue gambar tahu gitu ya kan.
Pembicara 1
Enggak antusias lu percaya enggak gua hari ini itu nyiapin pakai kaos ini mas bilang.
Soekarno karena tahu lu dari Aceh.
Sudah Soekarno yang bisa meyakinkan orang aceh sampai akhirnya berinvestasi di kemerdekaan Indonesia.
Kan wakilnya orang.
Yes.
Pembicara 2
Lebih tepatnya kemampuan influenza nih dan public speaking, salah satunya.
Pembicara 1
Dari sebab Soekarno kan bisa menginfluence ini enggak kayak kita yang sekarang hamba allah ini gue kasih sukarela ya ini pas gue lagi bisa nih gitu makanya gue bantu Soekarno itu bisa membuat orang a give my all for Indonesia usee it sudah terbukti raja sri Sri Sultan sama ke buwono 9.
Teman teman apa apa senior senior kita di Aceh menyumbangkan harta bendanya all ya untuk kemerdekaan kita.
Maka kita punya pesawat dulu segala macam gue tuh kepikiran kalau bisa balik lagi ke zaman dulu gua pengin lihat Soekarno lagi nego sih gua pengin lihat gimana sih caranya sampai bisa apa sih yang dia pakai?
Pembicara 2
Pasti orang aceh kan enggak semudah itu di di.
Pembicara 1
Indonesia.
Pembicara 3
Penasaran juga ya juga ya?
Bahkan negara negara sahabat dulu datang ke konferensi Asia Afrika itu kok bisa ya?
Pembicara 1
Yes bisa mengumpulkan orang orang yang senasib dan ngerasa senasib.
Waktu itu kan negara negara yang bekas dijajah atau masih dijajah untuk berkumpul di Asia Afrika, Bandung waktu itu.
Dan kita harus bisa menentukan nasib kita sendiri.
Kita berkolaborasi, kita tuh udah udah tahu yang namanya konsep kolaborasi tuh udah zaman dulu sebenarnya.
Tapi how to convince them gokil bapak bapak bangsa kita dan ibu ibu bangsa kita menurut gua makanya gua pakai kaos ini hari ini karena tahu lu dari Aceh.
Pembicara 3
Oke masuk ya?
Pembicara 1
Ngerti enggak jadi kalau gua enggak ngerasa ini our last show gua enggak akan melakukan itu.
Repot repot ngapain?
Pembicara 3
Aku sudah baca buku show time bu yang salah satu yang aku suka di bagian yang memang pak Soekarno ya bisa speel enggak ke teman teman di sini?
Kenapa mas didi dan mas didi itu mengangkat seorang Soekarno bukan dari POV yang aceh tadi, tapi dari POV.
Seorang influencer atau seorang tokoh.
Pembicara 1
Kalau buat gue sih luar biasa karena di zaman enggak ada sosmed loh.
Enggak ada sosmed ya kalau sekarang kan om telah ngelihat om gitu, tiba tiba bisa langsung satu dunia.
Pembicara 2
Sekarang enggak?
Pembicara 1
Punya duet joget yuk jadi online tangkap.
Pembicara 3
Gitu kan tapi orang ke influence tuh kirim uang loh.
Pembicara 2
Kita bayar zaman dulu.
Pembicara 1
Kita ke zaman dulu nih konteksnya zaman dulu enggak ada sosmed.
Tiba tiba ya kan ayo kita merdeka 17 Agustus 4 5 70 juta rakyat kita yang mayoritas mohon maaf ya enggak bisa baca, tulis surat latin waktu itu dan hidup di bawah garis kemiskinan ekstrim.
Istilahnya gitu.
Tiba tiba pengin merdeka karena Soekarno bilang kita merdeka dari sabang sampai Merauke 17.500 pulau merdeka.
Ayo bisa mati loh enggak apa apa.
Lets go kenapa gila menurut gua?
How we can convence the majority of Indonesian people pada saat itu gua kita sampai research ke mana mana gua ngobrol terutama gua.
Dengar banget cerita almarhumah almarhumah nenek gua pada saat harus experiencing Soekarno tuh seperti apa pada saat itu?
Emang orang luar biasa ya dan kita perhatiin banget di tengah orang enggak bisa pakai baju yang mechis dan bagus kok dia begitu terus rambutnya.
Wah orang orang yang bapak bapak bangsa kita kan kayak pakai pomet semua dulu ya kan?
Pembicara 3
Itu pokoknya menarik tuh pada menarik ya.
Bahkan per hari ini aku notice juga enggak cuma dari kita pintar ngomong.
Bahkan kesiapan pakaiannya.
Rambut bahkan atau emang benar benar lu kita itu sebengaruhi itu ya?
Untuk bisa nge influence orangnya.
Pembicara 1
Yes karena kita jadi debu by cover.
Ya mohon maaf ya manusia itu kan subjektif sebenarnya kalau dibilang wah lu subjektif loh memang karena kita manusia kok.
Ya lu pakai pakaian compang camping taruhlah gitu masuk bang di stop satpam.
Pembicara 3
Enggak lu walaupun nasabah prioritas.
Pembicara 1
Misalnya, jadi bisa jadi dia adalah ketua.
Pembicara 2
Nengarin kartu baru orang percaya, tapi sebelumnya kan enggak?
Pembicara 1
Iya karena apa?
Kita sangat terpengaruh sementara pakai doa shio apa gitu kalau gue.
Pembicara 2
Ngelihatnya gini sebagai orang sales tadi bilang bilang, eh kenapa sih kita harus latih keren segala macam ya gini kalau lu tidak bisa menunjukkan kepada calon klien lo lo bisa taking care diri lo.
Gimana lo bisa taking car dia sebelum menjual kata kata 1 lu mah jualannya sama klien tapi lo kayak lemas capek apalagi kalau sudah enggak kata kata apa.
Tolong dong beli produk saya, kalau enggak saya enggak dapat komisi pak siapa yang mau beli dengan attitude seperti itu.
Tapi kalau nunjukin bahwa lu perhatikan penampilan lo lo nunjukin bahwa oh ini ricky bisa dipercaya karena dia taking care dirinya dia mungkin dia bisa taking car diri gue sebagai klien dan itu adalah pesan subliminal.
Sebelum gue jualan product gua atau apa pun sama dengan Soekarno, dia menunjukkan bahwa ini loh caranya apa tahu ini loh rasanya jadi orang Indonesia yang merdeka tegap baju bagus tanpa mengajarkan kemerdekaan dalam sebuah konteks kata kata yang berat dan rumit, cukup sebuah sensasi yang dilihat dengan mata yang orang Indonesia atau dengan suara yang lentak yang lantang yang bisa dikenakan di radio.
Saat itu pemerintah sosmed.
Jadi itu yang digunakan oleh Soekarno, sebuah rasa yang ditularkan untuk mengubah raga orang Indonesia untuk setuju.
Merdeka.
Pembicara 1
Banget ya gue mau merdeka karena ini rasanya kayak gini ya wah gila enak banget karena.
Pembicara 2
Kalau kita lihat konteks sejarah kan kita waktu itu kan Jepang habis bawa tom tuh kekosongan kekuasaan.
Jepang janjinya sih mau ngasih kemerdekaan, katanya.
Di tanggal 20 gol pak 2 puluhan Januari lah tapi sok karena bilang enggak kelamaan kalau enggak keburu chaos, kalau enggak keburu pecah negara ini menjadi apa tuh fraksi fraksi ataupun menjadi negara negara sempalan?
Nah jadi adalah Soekarno bilang oke kita proklaim.
Makanya kenapa kalau teman teman lihat titlenya Soekarno adalah proklamator, sementara negara negara lain mungkin harus menunggu keberatannya diberi kalau negara lain kalau kita lihat sejarah negara negara rata rata diberi sama negara lain sama negara penjajahannya kita adalah ibaratnya negara yang eh 0 tiba tiba ada yang ngambil mic.
Pembicara 1
Merdeka eh majikan enggak ada nih enggak.
Pembicara 2
Ada nih kita pakai micnya terus sederhana itu guys.
Tapi perlu keberanian buat lo mengambil mac majikan.
Dan itulah contoh yang Soekarno, contoh kegiatan dan hatta dan cuman dorongan berantakan tanda tangan.
Sebenarnya kalau Amerika tuh 56 orang deklarasi of independen 1776 cuma 2 orang ya berarti gini sama keturan kalau dicariin guru mana tadi berantem yang akan tangan cuma 2 yang 40 lin tuh.
Pembicara 1
Berada di.
Yes makanya kenapa buat kita?
Wah ini contoh yang paling konkrit.
Hasilnya kan bangsa Indonesia sampai sekarang.
Pembicara 3
Nih.
Pembicara 1
Kita hidup di bangsa Indonesia.
Hasil dari sebuah sebuah peach yang pendek menurut kita cuma kurang dari satu menit kan proklamasi hasilnya sampai sekarang.
Makanya buat kita tuh Soekarno boki lah menurut gue dan.
Pembicara 2
Menurut gue, itu yang bisa diangkat sebagai cerita bangsa kita.
Gue enggak mau pakai cerita bangsa lain.
Gue pakai cerita bang cerita di buku ini justru.
Pembicara 3
Ngomongin orator ya aku kemarin juga ngikutin pemilunya Amerika itu kan calon presidennya itu otomatis ketika orasi emang ingin mengkonface masyarakatnya.
Pilih aku pilih hakum.
Pembicara 1
Dalam konteks.
Pembicara 3
Secara umum ya enggak cuma di Amerika itu kan terkesan banyak para calon calon ini.
Itu kayak kelihatan pintar.
Ngomong doang nih orang.
Ngomongin.
Pembicara 4
Orinalitas ya.
Pembicara 3
Autentisitas apakah kalau dari people masih tidak mas didi?
Apakah itu memang?
Orang memang peter ngomongin doang gimana kita tahu tuh orang emang pintar ngomongnya doang, tapi secara aksi dia enggak ada gitu.
Bisa enggak kita lihat orang kayak gitu kayak wah ini oma pintar ngomong doang gitu.
Apakah dari cara dia berbicara atau dia menyampaikan gitu?
Mungkin dari po v mas did mas ricky gimana mungkin dari gambaran seorang trump atau mas ricky juga suka sama mekkin ya.
Gue juga enggak heran sih.
Pembicara 1
Enggak enggak bagus marvel.
Enggak tapi gini lo mesti lihat ya bahwa.
Amerika itu rata rata orangnya yang maju itu ngerti konteks.
Nah baru gue bilang konteks sama satu ya.
Pembicara 2
Jadi.
Pembicara 1
Yang menurut gua kita suka nguput untuk ngelihat adalah orang orang ini ngerti konteks, makanya dia begitu dulu waktu obama ya kan obama itu adalah presiden calon presiden waktu itu yang mungkin dilihat orang ih dia gulung.
Keterangannya.
Pembicara 2
Oke oke ya gulung kemeja sementara sebelum sebelumnya enggak ada yang kayak gitu.
Pembicara 1
Iya kan.
Terus.
Kok gue.
Pembicara 4
Meja tapi dia.
Pembicara 1
Ngerti dia ngomong ke siapa dia ngomong sama menengah ke bawah.
Dia pengin ngasih tahu gue ini sama dari menengah ke bawah karena yang dia incer adalah suara dari kelas menengah ke bawah yang gede banget.
Makanya cara dia adalah menggulung tangan itu sampai ke tahap itu berarti.
Pembicara 3
Ya baik lagi.
Pembicara 1
Konteks.
Pembicara 2
Lu lagi ngomong ke audience yang lagi dalam situasi apa?
Jangan lupakan 2008 kalau kita melihat obama menang 1 kali itu Amerika lagi crisis.
Lagi ada krisis ekonomi besar, jadi dia menunjukkan bahwa eh gue saya pria keras nih.
Lets love this crisis pesan pesan sebeliminasi ya.
Sementara 11 sebelumnya ke presidennya kan yang.
Pembicara 1
Wah gitu kan yang sangat sophisticated gitu kaku banget ya yang yang ya paling gendong gendong anak lah gitu kan kelihatan nah tapi kalau obama ngepush bounderesnya lebih agak jauh gitu sampai kayak begitu.
Nah, makanya gue bilang lo lihat trump kayak begitu.
Tapi lo lihat konteksnya pidatonya apa segala macam bold banget kayak gitu gitu konteksnya apa ya?
Lo lihat dia ngomong sama masyarakat yang mana sebenarnya yang dia lagi incer suaranya.
Ya karena kan konteksnya.
Pembicara 2
Mungkin saat.
Pembicara 4
Saat ini ya gue.
Pembicara 2
Balik lagi gue bukan orang yang tinggal di Amerika, tapi kan mereka butuh figur yang lebih bold, yang lebih bisa mereka percaya.
Di Antara mereka berdua.
Karena mereka mungkin sudah bosan dengan janji janji mereka butuh orang yang maaf.
Ya Amerika banget lah yang ibaratnya ngeke to the max gitu kan yang kayak berani dulu saja gitu.
Dan gua menurut gua kenapa trump menang kayak dijelaskan juga non konteks itu terlepas dari balik lagi kayak lu bilang mungkin jago ngomong segala macam, tapi jujur saja dalil semua pidato itu masyarakat mungkin cuma ngerti 10%, 50, 20 persennya, tapi mereka berpalang adalah gesture.
Lu seberapa sih relate?
Pembicara 4
Sama gue.
Pembicara 2
Sebagai orang yang nonton itu paling penting kalau film tuh berarti gini gue nonton film terus kayak gue enggak relate nih sama karakternya nih.
Gue enggak dapat nih enggak sama pidato di politik konstelasi apapun adalah lu bisa seberapa relate sama audience masyarakat.
Ya jadi kayak mungkin.
Pembicara 1
Karena kalau ini kasusnya kram trump adalah pada saat dia ditembak ya kan sampai 2 kali lagi ya pada saat dia ditembak dia berhenti jadi calon presiden pada saat itu.
Mungkin dia akan ayah udah orang orang lihat.
Oh ya lu ditembak sih, tapi lu habis ditembak dia terus wah itu gokil sih menurut gua orang orang pasti ke gila ya yang tadinya enggak milih juga mungkin akan mulai gampang tuh ya kan Soekarno?
Pembicara 4
Soekarno itu yang.
Pembicara 1
Kita tahu adalah dulu dia enggak ngomong doang.
Dia dipenjara dia dibuang ya kan dia dibom.
Tapi dia tetap keker merdeka.
Ya gimana orang secara otten city jelas depan layar mau belakang layar.
Nah yang problem sekarang itu adalah di depan layarnya seperti apa di belakang layarnya kayak apa?
Itu masalahnya ya kan di dunia penuh tipu tipu sekarang ini ya kita cari itu adalah apakah public speaking skill lo itu?
Membuat lo jadi sama sama.
Pembicara 4
Orang lain.
Pembicara 1
Atau public speaking lo justru membuat orang orang ngelihat siapa lo sesungguhnya.
Makanya kenapa tadi ada adegan di dimarah ke?
Pembicara 2
Orang orang yang lu mencoba jadi diri orang lain sementara lu bukan itu bedanya sholat yang gue percaya sama diri adalah lu harus tetap jadi diri lo sendiri.
Gue berdua ini kita punya gaya sangat berbeda kita hitam dan putih atau ibaratnya kita sangat berbeda secara derajat.
Ya lo itu lebih, tapi intinya adalah intinya adalah kita punya gaya hal berbeda.
Tapi kita sudah mencoba untuk menjadi orang lain.
Tapi kita percaya ada struktur los percaya orisinalitas lu sendiri baik kenapa gua paling sebal atau orang coba jadi orang lain mas saya mau jadi kayak seperti mas ricky atau mas didi, gue adalah enggak bisa lo pakai cerita loh story lo, tapi lo pakai teknik yang benar.
Thats your time jangan coba jadi orang lain karena banyaknya 24 tahun story hidup lu kan pasti banyak tuh momen momen momen.
Yang bisa dia pakai buat low cerita lo bangun tulisan di buku itu banyak banget dan kita adalah harta karun.
Terasa kita cerita kita sendiri makin di bukit ini cukup bahas bingung kayak nyari inspirasi quotes quotes.
Lihat hidup lo sendiri pasti ada momen momen yang lo bisa ceritakan dan bahkan bisa lo kaitkan sama sebuah konten yang lo mau sampaikan.
Nah itu kalau lakukan IG gue akan selalu.
Karena mungkin kalau dari.
Pembicara 4
POV aku kan anak daerah yang dulu.
Pembicara 3
Pernah ngalamin masa konflik ya?
Oh apalagi masa konflik kan apalagi.
Pembicara 2
Berarti kan cerita lu banyak sebetulnya masa bencana alam.
Pembicara 3
Dulu apalagi masa tsunami kan?
Pembicara 2
Jadi kalau diceritain sih.
Pembicara 3
Ada vest rasa yang kayak oh aku belajar banyak dari pak supratman.
Nah itu yang membuat gue mendekat ke.
Pembicara 1
Lu mas bilang dan itu membuat lo lebih kaya dari gue.
Serius.
Pembicara 2
Cerita gue anak Jakarta gue enggak tahu yang namanya konflik berdarah kecil 9 8 misalnya dan gue enggak tahu namanya tsunami sehebat apa selanjutnya gue lihat kan lu bisa cerita gue enggak?
Pembicara 1
Bisa hitung gue bilang.
Pembicara 2
Kenapa kuning?
Karena dibanding gue, tapi bukan berarti gue lebih rendah dari lo atau lebih tinggi dari lo kasih manusia.
No, karena enggak ada enggak bisa dicompar lo compare.
Pembicara 3
Ya.
Lu dan gue enggak bisa dikoper, tapi bagaimana mengeluarkan?
Pembicara 2
Story lo menjadi sebuah impact presentation dan public speaking.
Itulah shio time.
Kita enggak usah sibuk bertanding, tapi kita sibuk memberikan yang terbaik dari versi kita itu.
Menurut yang gue percaya besok gue gede dengan buku loh enggak usah sibuk komparasi lets the become jadi insipirator tuh sama lain.
Aku notice juga.
Pembicara 4
Enggak cuma di konteks luar.
Pembicara 3
Negeri bahkan di Pilkada di kampung aku sendiri itu ketika kuliah calon pemimpinnya.
Problemnya yaitu ketika maju di depan panggung.
Secara public speaking sorry forsaing itu kayak terbata bata.
Kadang kalau baca aja terbata bata, bahkan aku pernah ketemu langsung sama uh salah satu anggota dewan di Aceh waktu itu.
Uh secara profile okelah kita respect ya.
Tapi ketika maju ke depan panggung itu bisa mengubah persepsi aku terhadap beliau gitu.
Baca terbatah bata tuh.
Dan itu mungkin secara umum aku lihat postingan di tiktok di Instagram sekarang banyak ketika Pilkada juga tokoh tokoh di daerah daerah lain seperti itu.
Jadi bahan jokesnya anak anak 2 puluhan gitu kok udah 40 tahun masih kayak gini baca bacanya gitu.
Dari mas ricky dan mas didi kira kira kesalahan umum yang orang tetap kayak menomalisasi, padahal itu bisa mengubah mindset mereka.
Atau mengubah persepsi orang terhadap mereka yaitu apa kayak apa yang harus mereka perbaiki itu.
Maksudnya yang simpel tahun.
Pembicara 1
Ini secara umum kali ya banyak banyak orang kayak.
Pembicara 3
Manumalisasi ya sudah enggak enggak penting nih public speaking gitu, apa yang harus mereka perbaiki dan si pembicara atau si publik.
Pembicara 2
Pembicaraan para.
Pembicara 3
Orang orang ini.
Pembicara 2
Itu mungkin termasuk aku yang masih belajar.
Pembicara 3
Begini.
Pembicara 1
Lalu kalau pelajarin.
Pembicara 4
Sejarahnya bahkan.
Pembicara 1
Itu ada raja Inggris di perang dunia 2 ya perang dunia 2 waktu dia mau mengumumkan bahwa Inggris.
Kita berperang melawan pasukan Jerman ya.
Dia itu sorry itu.
Pembicara 4
Saya ya ada.
Pembicara 1
Apa gagap gagap dia gagap dia.
Pembicara 2
Gagap.
Pembicara 1
King speech filmnya filmnya namanya king speech.
Pembicara 2
Dia very good movie.
Pembicara 1
Lo kebayang.
Pembicara 2
Ya dia harus mengumumkan.
Pembicara 1
Ke dan bahkan dia tadinya bukan raja.
Bahkan harusnya jadi raja itu kakaknya.
Tapi kakaknya saya memilih kawin sama raja biasa aja.
Jadi akhirnya dia ketiban pulung jadi raja.
Dan pada saat itu dia harus mengumumkan perang.
Ya kebayangan loh gagap.
Dia tuh sampai les public speaking sama satu orang guru ini yang akhirnya ngepush dia untuk terus jangan menyerah untuk.
Ngomong di depan mike kan itu di radio ya waktu itu kan di depan mic untuk mengumumkan keseluruhan negeri bahwa kita berperang.
Kita jangan menyerah, kita harus semangat dan segala macam gagap yuk.
Tapi yang rakyatnya salut adalah justru orang orang tahu dia gagap tapi kok malah.
Jadi yang lebih penting itu sebenarnya adalah apakah lewat.
Your.
Panggung.
Kesempatan.
Pembicara 4
Untuk plling your story.
Pembicara 1
Telling your thought how you feel dan segala macam itu.
Elo benar benar bisa.
Pembicara 4
Dirasakan sama yang.
Pembicara 1
Mendengar what is the real intentions, lalu akhirnya melakukan itu.
Itu sebenarnya yang mahal dan.
Dan orang tahu kok.
Pembicara 4
Nggak mudah untuk.
Pembicara 1
Ke atas panggung tuh enggak muda enggak mudah sama sekali.
Yang penting.
Lu enggak mundur lu enggak kabur.
Finish your speech.
Enggak semua orang bisa.
Pembicara 4
Melakukan itu bahkan.
Pembicara 1
Jerry bruce himmer aja lu tahu kan produsernya sama sutradaranya.
Transformers itu pernah satu kali di panggung gede.
Dia gagap terus dia cabut ditinggal saja kita penontonnya di panggung ini ada satu launching produk.
Kalau tidak salah dia cabut oh itu gokil sih.
Pada saat itu gue langsung drop langsung enggak suka lagi gue sama jari buruh.
Kenapa?
Karena dia cabut enggak respect lah.
Kita kan sudah ngelihat loh kalau perlu yang ya ya kalau perlu ya lu depan ya sudah being vulnerable saja tapi jangan kabur.
Itu.
Pembicara 3
Yang membuat kita akhirnya.
Pembicara 1
Mau mendekat ke lu atau justru ah gue enggak mau dengarlah gitu.
Ah enggak?
Itu sebenarnya.
Pembicara 3
Yang lebih penting.
Pembicara 1
Apakah?
Intentions slow the real intentionsnya tuh bisa dirasakan oleh your audience lu benar benar carama kita enggak sih as audience segimanya sih itu karena being vennerable tadi.
Pembicara 3
Juga jadi original ya jadi authentic gitu ya kayak.
Lu ternyata manusia biasa nih gitu bagi gue kalau punya teman teman tantangan.
Pembicara 2
Teknik terbata bata latihan kita punya prinsip latihan seperti lo manggung dan manggung seperti lo latihan seperti lo manggung dan manggung.
Pembicara 3
Seperti sama lo main basket sensory.
Pembicara 2
Badan lu jadi lebih bagus.
Nah, satu latihan kopi brian untuk bertanding satu pertanian.
Dia kan latihan berapa puluh pertandingan pas di latihan, seorang public speaker yang memang terbukti harus handal harus dia harus latihan banyak sebelum dia di panggung tersebut.
Tapi pasti di bank tersebut ada grogi segala macam membuat dia tidak sempurna dan enggak apa apa.
Tapi publik bisa merasakan oh dia di berusaha terbatas, tetapi dia berusaha menyelesaikan karena ujungnya adalah panggung.
Itu yang gua percaya kenapa kita harus cukup jauh time itu buat audience, bukan buat mengentertain ego pantes hebatan lo enggak, maka kenapa gua punya cerita john mekain yang hebat banget sampai hari ini.
John mekkin waktu itu menghadapi penonton di seperti basah.
Ya kalau teman teman tahu yang namanya panggung politik, itu kan kesempatan paling gede buat ego ya lu bilang a pasti orang orang akan mendukung lu iya dong semua fans lo kok lo bilang b semua kan bilang b.
Coba lo bayang waktu itu john makin lihat obama bilang oh obama tuh kayaknya orang arab obama tuh kayaknya bisa dipercaya.
John makin bilang enggak.
Dia orang Amerika dia kepala keluarga yang baik dia rakyat Indonesia.
Sorry dia rakyat Amerika yang baik.
Cuma kita punya perbedaan prinsip.
Tolong hormati dia.
Thats a key.
Pembicara 4
Dia membela lawannya.
Pembicara 2
Di panggung paling besar dengan taruhan porsi apa tuh?
Kursi paling tinggi dalam global dan dia bisa membelain lawannya.
Nah itu gue bilang kalau lu memikirkan lu hati hati dengan panggung ya di ujungnya adalah audience lu itu buat kebaikan audience lo jadi buat gue story of makan is legendaris banget sih.
Bahkan pas dia kalah pun di Amerika itu ada namanya pidato kekalahan yang harus dilakukan kalau lo sudah kalah.
Kemarin juga ke mala sudah melakukan pidato kekalahan itu.
Tapi buat gue jangan makan paling keren karena para ngomong iya saya sudah nelepon senator obama terus mau kayak wuh stop.
Pembicara 4
Dia pemimpin kita sekarang kita hormati dia.
Pembicara 2
Jadi keren banget.
Jadi buat gua orang yang ngerti panggung itu dampaknya sebegitu bahayanya kalau dia enggak bijak itu keren banget itu gua berharap kita bisa belajar, mempolitisi, mempolitisi, bisa belajar dari seorang karakter makin dia mementingkan yang benar untuk publik dan audiensnya dibanding buat dia sendiri yang mendapatkan kesempatan buat menang seperti itu.
Branding gitu kan sekarang.
Pembicara 3
Jadi kita sama branding gitu lo bisa ketahuan branding tahu karena.
Pembicara 2
Dikonsistensi jangan lupakan jejak digital enggak bohong ya teman teman ya tracking ke belakang john makin tuh pahlawan perang.
By the way dia pernah ditangkap sama apa tuh sama Vietnam, jadi dia tuh adalah cucu dari adminal, jadi apa tuh Panglima tinggi di Amerika di angkatan laut dan dia pulau angkatan laut ketangkap di perang Vietnam waktu itu karena tentara Vietnam ton yang anak anak admira dibebasin duluan john makin enggak mau gue enggak akan mau dibebasin kalau gue enggak bareng tim gue yang lain.
Karena dia tahu kalau dia dibebasin, tim yang lain akan dibiasin.
Jadi selama 5 setengah tahun dia sengaja membiarkan diri di penjara di Vietnam melalui neraka.
Makanya pas pulang dia agak agak pincang disiksa.
Enggak lo bayangin seorang karakter kayak gitu ya wakek wajar dia dapat reputasi hero di Amerika dan gokilnya lagi pas dia dapat kesempatan buat dapat kursi itu.
Dia membela obama.
Jadi memang sudah karakter patriotnya yang memang mementingkan rakyat tuh yang gokil banget citra dan pencitraannya.
Pembicara 1
Beda Antara politisi sama negarawan.
Pembicara 2
2 berbeda kita punya banyak banget politisi tapi negarawan cuma tuhan yang tahu.
Gimana?
Pembicara 3
3 cara.
Pembicara 4
Membuat story.
Pembicara 3
Tellingnya bagus oke harus 3 ya.
Pembicara 2
Yang 1 tentukan setting dan konteks karakternya dulu.
Sebuah stories dimulai dengan sebuah keadaan keadaan.
Sebuah pertarungan menang itu adalah rumor story telling paling basic lalu lihat semua film pasti rumus itu itu 1 yang 2 tentukan karakter siapa musuhnya siapa jagoannya, siapa korbannya.
Itu saudara yang 2 jadi kalau lo ngomong ke depan klien pun atau ke depan internal lagi presentasi, lu harus bilang kita jagoannya musuh kita ini yang kita tolong adalah orang ini.
Itu tips yang 2 tentang sore teling.
Tips yang 3 adalah selalu ciptakan sebuah proses pertarungan karena enggak mungkin kalau elu sebuah story kalau enggak ada pertarungannya, enggak ada ups and downnya.
Kita sudah mencoba berbagai cara, tapi ini gagal.
Tapi kita berhasil seperti itu.
Walaupun nih ngomongnya konteks perusahaan ya, tapi gue percaya bostor tank itu dipakai bahkan di bisnis sekarang nike apa tuh has bro toko mainan semua tuh pasti harus punya setoran yang kuat dan sama dengan kita.
Jadi tipsnya menurut gue 3.
Selalu ada flownya kalau Star Wars itu once upon a time gitu kan ini galaxy far faro way harus kasih konteks.
Keadaan.
Pembicara 4
Pertarungan dan akhirnya kemenangan.
Pembicara 2
Yang 2 karakter siapa musuh siapa jagoan dan siapa korban?
Karena enggak mungkin jagoan ngelawan musuh.
Kalau enggak ada korbannya.
Dan yang 3 selalu kasih sebuah episode pertarungan sebelum dan sesudah sama lah kayak pelangsing lah sebelumnya sesudah story harus ada kayak gitu kalau semua sama datarnya.
Jadi enggak ada storynya, jadi semoga itu menjawab eh mas didi mungkin.
Pembicara 3
Kalau story itu.
Pembicara 1
Sebenarnya wanting ya, tapi ya lu harus punya storynya dulu lo kan pengin oh gimana caranya jadi story teller yang hebat gitu ya ya lu satu harus ada storynya dulu, tapi story ini akan ada.
Kalau karakternya ada karakternya ini ada kalau kondisinya ada yang tadi dibilang sama ricky jadi orang orang sekarang wah gimana jadi story telling story telling before kita ngomongin story telling story tellernya dulu.
Elo nya dulu nih.
Pembicara 2
Ya kan?
Pembicara 1
Elu punya cerita enggak ya gitu saja karena kita cerita bisa sama lu enggak cerita cinta ricky gue tapi yang membedakan apa bilal yang bedakan adalah ricky dan yang bedakan yang ada gua.
Nah gitu jadi story tellernya dulu ke 1 kita aja dulu story teller dulu karena banyak orang kayak masih ngerasa bahwa wah.
Pembicara 3
Ceritanya dulu kok enggak menarik ya gue punya hidup, tapi ceritanya yang menarik gitu pada saat lo ngomong gitu emang enggak menarik cerita lu.
Pembicara 1
Karena sudah.
Pembicara 4
Mencap story lo tidak menarik.
Pembicara 2
Sama kayak gue bikin buku bukunya jelek selesai misalnya gini nih kayak ada orang gue dari.
Pembicara 3
Lahir anak orang kaya nih.
Semua ada semua ada semua ada sampai sekarang gue masih hidup serba dikasih sama orang tua.
Ceritanya apa?
Bagus tuh bagus ceritanya.
Pembicara 1
Karena gua kan pengin selalu jadi orang kaya dari lahir tapi jadi orang kaya dia enggak enggak ada.
Pembicara 3
Cerita strugglingnya gitu.
Kalau ngomongin struggling enggak ada, justru kok malah kesehatan sama orang yang seperti itu karena.
Pembicara 2
Dia tidak punya cerita.
Nah itu jadi kayak.
Makanya aku enggak ada.
Pembicara 3
Cerita gitu ya, tapi itu kan menurut dia enggak ada cerita padahal dan enggak ada.
Pembicara 1
Struggling tapi sebenarnya kalau digali lagi dia pasti punya struggling struggling.
Untuk apa struggling untuk keluar dari kekayaannya?
Bisa jadi ada yang lebih menarik.
Bahwasannya kayak terus apa pun.
Gue punya teman orang orang kaya.
Pembicara 2
Apa ketakutan mereka orang berteman sama mereka karena kekayaan mereka bukan karena mereka itu bisa jadi cerita kan.
Iya dong lu ketemu lu orang kaya nih misalnya bilang terus tiba tiba ada yang mau ngajak ketemu lo.
Deep down karena lo kayak lo tahu nih orang karena genuine carama gue seteman atau karena dia pengin ngambil kekayaan gue tantangan orang kaya itu itu loh menurut gue gue bawa rangkaian tapi gue tahu dari cerita orang orang kaya mereka itu itu bisa jadi cerita gue bisa membedakan mana yang peduli mana enggak peduli itu pun sebuah cerita yang mereka sudah punya.
Nah kalau stand up comedy.
Pembicara 1
Berangkatnya dari keresahan ya itu keresahan iya kan?
PR berikutnya adalah apakah lo mau menceritakan ini?
Apa enggak?
Itu PR 2 you have to design.
Do you want to, you know, tell this in front of a let of people or not.
Kalau enggak ya mending enggak usah.
Keputusan keputusan.
Pembicara 4
Itu harus ada.
Pembicara 1
Karena the rest of it itu pekerjaannya panggung panggung itu buat kita faktor pengali.
Meja ini adalah panggung buat driver ojol ini tuh panggung buat kita tuh every business a show bisnis.
Jadi kalau lo manggung aja dong mas enggak ruang meeting lo itu mungkin panggung yes, tapi juga ruang kelas, ruang praktek dokter sapaan ke satpam tuh sama mbak.
Pembicara 2
Baresepsionis wah gue sebagai sales tuh harus belajar itu penting yes pilot.
Pembicara 1
The kokpit asti.
Selamat pagi kita akan menjelajahi.
Pembicara 2
35.000 kaki suara itu menentukan panggungnya dia.
Apakah penumpang itu resah atau enggak negara?
Suara dia komedinya kadang kadang.
Pembicara 3
Kalau kebayang enggak kalau itu aduh ini.
Pembicara 1
Kita mau 35.000 kaki ya penumpang lagi lagi hujan badai ini ini aduh.
Pembicara 2
Kita panik banget gitu atau?
Pembicara 1
Gimana tapi di di akhirnya bilang tapi prank.
Pembicara 3
Gitu tapi prank gue enggak akan pilih bahasa keluar dari.
Pembicara 1
Keluarkan gue iya iya iya.
Tapi bayangkan enggak bawa orang harus street itu kayak.
Pembicara 2
Panggung.
Pembicara 4
Semoga menjawab ya soal story telling.
Pembicara 2
Pertanyaan berikutnya.
Pembicara 3
Dari.
Febby zagra.
How to tabe your hard with.
Pembicara 1
Before the show.
Pembicara 4
Kita tuh.
Pembicara 1
Cara otak kita bekerja adalah kita tidak bisa membedakan Antara yang nyata dan yang maya.
Istilahnya tuh pada saat lu tahu eh lu persentase hari Senin itu harpit sudah duduk duduk karena apa?
Karena si otak udah ngerefer ke pengalaman pengalaman sebelumnya.
Apapun itu ya, tapi yang pasti udah langsung aduh langsung apa yang dibayangkan itu udah udah seperti nyata akan terjadi pada saat itu juga.
Jadi caranya gimana ya?
Balik lagi dulu aja ke dunia nyata.
Set balik lagi nya gimana?
Macam macam caranya hardbit ini adalah reaction dari apapun yang kita bayangkan ya kan jadi apa ya dengerin lagu yang asik kali yang chil ya kan turun lagi.
Kenapa karena nafasnya jadi ikutan ngikut sebenarnya setiap kita ngomong pun ada ketukannya kok ngikutin lagu ya jadi kita ngomong ini sebenarnya ada ketukannya.
Jadi pas bilang semua itu sebenarnya sudah kayak ada rimingnya di sekitar kita.
Jadi apapun itu ya enggak apa apa, kok enggak itu kan sama kan ya jadi mas gudeg gimana nih ya kan?
Jadi apa yang harus diturunkan adalah ketukannya dan ketuhanan itu kan sama napas, jadi ada 20.
Pembicara 2
Antara otak nafas dan jantung.
Nah nafas bisa ngikut kalau.
Pembicara 1
Misalnya lagunya enak.
Kita nyicil duduknya dibenarin poster dulu.
Oke loh ya kan mukel di asikin senyum saja nanti harddisk tiba tiba akan ngikutin.
Ya gue.
Pembicara 4
Mau ngomong gitu gue tahan.
Pembicara 1
Entar gede gitu udah dapat berapa tuh?
Pembicara 2
Iya iya siapakah?
Pembicara 1
Pemenang ya di hari show.
Jadi ada tekniknya ada tekniknya.
Pembicara 2
Jadi bahkan sebaliknya.
Kalau lo ternyata hard be look eh ini mau tampil kok gua kayak merasa biasa aja ya lu kan lu dengarin lagu yang lebih update lu mesti gerak suka menghadapi pertarungan pitching itu misalnya, tapi pada porsi yang tepat enggak kelebihan enggak kekurangan.
Jadi kita kayak atlit.
Sebetulnya kalau seorang public formal itu ya kalau kayak deg degan.
Pembicara 3
Ya banyaknya dia dibilang.
Pembicara 1
Atau.
Pembicara 2
Nafas atur apa yang gua dengar karena suara itu adalah salah satu pembuat uh dopamin yang juga cukup efektif dan olahraga.
Ada sensasi itu pasti datang terus dari lagu sebetulnya.
Pelaku suka nuge juga nonton.
Pembicara 3
Kisaran Ronaldo ketika ambil free kick ya.
Karena dia muncul juga pasti kamera di zoom inka kayak dodi.
Yes dia self tox itu.
Pembicara 2
Kan juga ngaruh ke otak gue dia tuh lagi nge tame otaknya dia gue udah ngelakuinnya ribuan kali di tempat latihan gue harusnya bisa sekarang kan gitu makanya tadi ricky bilang kita tuh.
Pembicara 1
Punya punya afirmasi ya istilahnya punya mantra kita latihan kayak manggung dan manggung kayak latihan.
Jadi kita sudah terbiasa sebenarnya.
Jadi ya sudah enggak ada yang enggak ada yang luar biasa banget sih sebenarnya karena ini sudah kita lakukan pada saat latihan kok.
Jadi ya sudah kita anggap pelatihan saja ini, tapi pada saat latihan wah kita benar benar kayak lagi malam banget.
All the best gitu ya karena mindset kita itu sebenarnya bisa kita apa.
Mindset heart set.
Gamet enggak?
Weh udah setnya bisa lah iya kan?
Kita saja ribet mikirnya terlalu kaku kali kayak.
Pembicara 3
Sebelum presentasi kayak aduh pengalaman terakhir kan aku orangnya kurang berhasil kali ya?
Apakah akan berulang lagi?
Mungkin itu PVP orang orang yang kayak tiba tiba jantungnya iya dan POV kan enggak satu.
PV sudah banyak.
Pembicara 1
Ditambahin lah POV lu dengan dan makanya kenapa penting story lo lo pasti pernah dong story lo yang berhasil enggak?
Pembicara 2
Harus pas lagi presentasi keluar dari Aceh misalnya bikin buku 1 atau buku 2 bikin podcast 1.
Gunakan sensasi itu dipakai buat panggung itu.
Kok pernah kok bikin podcast yang enggak ada orangnya sekarang gue pernah kok sampai gue sekarang punya followers 50.000 ngerti enggak POV terus dipakai bukan untuk combong tapi lu perlu POV itu untuk memperkuat POV lu pada saat kami untuk mengimbangi untuk mengimbangi itu benar, kadang orang lebih gampang mengingat.
Pembicara 1
Fase fase buruknya gitu loh.
Pembicara 3
Oh iya jelas luka lebih gampang diingat dibanding kemenangan.
Pembicara 2
Sudah pasti luka lebih lama tinggal.
Karena itu penting untuk lu bisa recovery.
Sebetulnya senyum mas bilang senyum itu.
Pembicara 1
Bisa membantu otak lo yes untuk lebih rileks karena justru mengomandoi otak lo untuk rileks ini.
Justru ini gerakan otot gerakan otot.
Makanya kan kalau tentara.
Pembicara 2
Terpesona.
Pembicara 1
Aku terpaksa padahal itu di tengah medan perang.
Ya coba kan.
Gimana sih?
Pembicara 3
Kok gitu loh.
Pembicara 1
Justru dengan kayak gitu, mereka jadi lebih rileks, lebih akurat, lebih jadi enggak panik enggak apa karena poin of viewnya ditambah.
Referensinya di ditambah gambar yang ada di otak lo lo rubah.
Baru ada afirmasi.
Aneh terus jadi semoga rada ya jadi.
Pembicara 3
Detak jantungnya.
Pembicara 2
Entar aku di akhir bakal.
Pembicara 3
Tanyain deh setelah jempolnya sama aku, apa yang harus aku perbaiki ya?
Tapi entar tapi bentar sebelum sebelum ini.
Satu pertanyaan terakhir dari audiens kita.
Dari krisna Sanjaya dot 18 aku malu bertemu dengan lawan jenis.
Apa yang harus aku lakukan normal malu dengan lawan jenis gitu.
Kalau malu sama beda jenis lah itu agak agak.
Pembicara 1
Kalau jenis kan beda jenis sama jenis nah itu maksud gua.
Pembicara 2
Oke kalau beda jenis itu maksudnya pak mahluk yang berbeda.
Pembicara 1
Iya dong.
Ini malu dengan lawan jenis ya.
Pembicara 3
Beda sama beda.
Pembicara 4
Jenis eh?
Pembicara 1
Beda.
Pembicara 3
Ketemu buaya malu gitu.
Ketemu kucing.
Pembicara 1
Ini nih suatu lagi.
Pembicara 3
Lagi dibangun susah banget ya.
Pembicara 2
Maksud gue enggak?
Pembicara 1
Usah tegang juga.
Nah ini kan cara untuk membuat enggak tegang ya kan malu sama lawan jenis satu berarti apa yah?
Lu bersyukur ribu masih normal.
Bisa normal iya dong.
Lu masih malu ya malu tuh berarti apa sih lu belum pernah ada di situasi itu?
Nah berarti yang harus dilakukan apa?
Deketin dulu salah satunya deketin aja dulu.
Ya kan habis deketin ini apa?
Calaman, kenalan.
Pembicara 4
Oh bukan muridnya udah.
Pembicara 3
Assalamualaikum.
Pembicara 1
Assalamualaikum lah iya kan assalamualaikum waalaikumsalam.
Siapa namanya?
Jadi untuk bisa mengurangi rasa malu itu kalau gua.
Ngepushnya adalah pindah episode dalam kalau di ini gue adalah pindah episode ini sekarang lo lagi episode malu.
Oke lu pindah dong ke episode kenalan.
Untuk itu memang butuh bridging untuk bisa itu apa ya?
Lu kuatin diri lu karena kita takut kalau orang itu risih loh mas orang itu.
Pembicara 3
Risih memang kita itu punya 2.
Pembicara 1
2 ketakutan.
Satu ada bukan 2 kata tuh ketakutan sih satu tuh lu punya keinginan yang kuat banget untuk diperhatikan ya kan lu pengin si cewek ini ngelihat ke lu tapi yang 2 at the same time lu punya ketakutan yang gede banget kalau ditolak.
Itu 2 hal yang terjadi bersamaan mayoritas di kita.
Jadi sebenarnya terjadi adalah aduh kalau ditolak di mana yang dibayanginkan itu kan kalau diterima gimana?
Tambahin dong point of view nya tambahin dong gambarnya kalau diterima lu gimana kuatin seperti tadi, kata ricky tambah dong kalau diterima gimana gimana kan lu jadi orang yang paling happy sedunia daripada mikir worth scenarionya coba mikir best scenario ya.
Pembicara 3
Episodenya mas eddy malu malu kucing.
Pembicara 4
Ini pindah.
Pembicara 1
Di macan yang di macan jangan malu malu kucing lagi.
Malu malu.
Pembicara 2
Macan ya pindahlah.
Pembicara 1
Episodenya.
Ngerti kan maksud gua jadi itu butuh keputusan mas bilal tadi siapa namanya?
Mas krisna lah.
Pembicara 4
Mas krisna Sanjaya uh.
Pembicara 1
Namanya saja sudah.
Pembicara 2
Pewayangan ya.
Pembicara 1
Kan krisna itu artinya tokoh pewayangannya kalau tidak salah sudah mengerti apa yang akan terjadi.
Gitu jadi lu kan harusnya ngerti apa yang akan terjadi.
Anggap saja lu diterima siap.
Siap dong untuk bisa diterima.
Gimana yang terjadi sekarang adalah lu siap siap untuk ditolak sih kayaknya siap siap untuk diterima dong sekarang.
Putuskan sudah maju pindah dulu episodenya nanti habis itu ada episode baru lagi lu pindah lagi itu dari gue ini mungkin konteksnya enggak, cuma dia malu sama.
Orang.
Pembicara 3
Yang dia sukai ya, tapi ketika dia ketemu sama siapa pun dilawan jenis ya mau ibu ibu mungkin tante tante juga malu kali ya itu itu yang enggak bisa kita kontrol ya.
Iyalah, nanti prak kan ada lagi ma.
Pembicara 1
Kalau sudah diterima sama anaknya ketemu sama ibunya.
Benar benar benar ketemu sama mbak ibunya.
Kamu ketemu sama.
Pembicara 3
Keluarga besar.
Pembicara 1
Aku ya wah apa lagi itu?
Ya kan ricky.
Jadi itulah cerita diri tentang mengejar cewek 12 tahun.
Pembicara 2
Pengalaman sepengalaman siapa nih?
Oh 2.
Pembicara 3
Belas tahun.
Pembicara 4
Ya.
Pembicara 3
Tapi tapi berangkat dari malu juga sampai.
Pembicara 1
Sampai.
Pembicara 3
Enggak tahu malu batik berarti krisna ini tanya ke orang tepat.
Makanya itu ilmu tadi yang gue kasih tahu bilang gini jawab pertanyaan ini.
Pembicara 1
Oke oke oke dari malu.
Pembicara 2
Malu sampai malu maluin ya kan?
Pembicara 3
Kita harus.
Pembicara 1
Alami semua.
Tapi akhirnya alhamdulillah.
Jadi kan closing ya 3 tahun terakhir gue ditolak.
Pembicara 3
Sama ini sama.
Pembicara 1
Siapa gimana?
Aduh aduh di sini enggak sih ada di sini ada.
Pembicara 2
Namanya di sini.
Pembicara 3
Nih pak dede pak deddy 8 terima kasih.
Pembicara 1
Ya kan judulnya my sunshine and starbright ya kan di situ istri tercinta maksudnya.
Tuh.
Pembicara 2
Malu tadi.
Pembicara 4
Iya.
Pembicara 1
Tapi memang.
Pembicara 3
Kita itu aduh pengin banget pengin.
Pembicara 1
Diperhatiin banget lo mau introvert mau extrovert lalu punya sosmed buat apa?
Ada yang punya satu satu.
Pembicara 4
Orang punya 3 account.
Pembicara 1
Yang satu supaya bos saya enggak tahu ya kan yang satu yang umum yang satu buat jualan ini buat apa?
Selain untuk supaya dunia memperhatikan loh itu aku introvert lah lu punya punya IG berapa lo mengejar gini, tapi pada saat orang DM lu untuk bilang eh lo kayaknya jago eh.
Soal sosmed.
Apa angle angle lu bagus ajarin gue dong nanti ketemu ya di sini pas lo lihat profilenya maju dia enggak orang kaya ciut.
Ya kan?
Itu yang seringkali.
Pembicara 4
Terjadi.
Pembicara 1
Mungkin juga dari po, v.
Pembicara 4
Gim gimana ya?
Pembicara 3
Aku sendiri kalau ketemu sama orang yang aku sukai juga malu gitu.
Ibaratnya kalau aku punya mimpi, aku takut untuk mengejar mimpi itu ya itu hal yang wajar.
Jadi kalau mimpi lu itu bikin lu takut cewek lu suka bikin lu malu itu justru bagus dan dan kejar gitu ya karena yang 1 bagus lu punya mimpi.
Pembicara 1
Bagus lo punya orang yang disukai itu udah experience yang aduh.
Kalau lubangkan lu gue jomblo nih.
Pembicara 4
Ada yang lu sukain enggak?
Pembicara 1
Enggak ada sih, nah itu aja udah tuh ngeliat nih muka muka ini kayaknya nih ya kan kelihatan nih sama madu banget yang ngelihat gue ternyata iya juga sih mas surya gede.
Iya justru kalau gue melihatnya bahwa penolakan adalah sebuah sumber cerita.
Pembicara 2
Oh mas gua seorang chef gue biasa sama penolakan.
Pembicara 1
Gue malah.
Pembicara 2
Ibaratnya enggak apa tuh kapasitas gue untuk menerima penolakan cukup tinggi karena beberapa penolakan adalah kesempatan belajar.
Jadi buat gua jangan lu akan lebih sedih pas tahun ternyata eh si anjir ternyata suka juga sama gue, tapi karena gue enggak pernah make coach ya nyesal nyesal itu.
Pembicara 3
Di belakang di depan pendaftaran.
Pembicara 2
Nah karena itu.
Oh iya pasti semua laki laki pasti pernah pernah ditolak.
Pernah mencoba tapi gue akan bilang lebih bagus loh mencoba dan ditolak dibanding lu tidak mencoba sama sekali.
Yes itu storynya banyak loh kalau belajar dari ricky.
Pembicara 1
Kan gini lu ditolak?
Tanya tolaknya kenapa perbaiki diri kalau terlalu baik berarti lo busuk aja.
Pembicara 2
Cewek itu lagi playing nice aja mbak kamu sudah kuat banget aku sendiri.
Tapi aku enggak mau.
Pembicara 3
Jadi abang mu.
Pembicara 1
Iya iya iya iya abang abang.
Kasih bintang 5 ya?
Dari mas didi dan mas didi kira kira?
Pembicara 3
Best advice lah untuk anak anak 2 puluhan apa tuh?
Kalau gue selalu percaya bahwa yuk.
Pembicara 2
Jangan menjadi penikmat mulu.
Coba buat sesuatu seperti yang gue lakukan.
Lo bikin buku gue bikin konten seperti ini.
Gue selalu berharap semakin banyak dengan teknologi a segala macam justru membuat teman teman yang lebih mudah untuk lebih berkarya.
Benar gua mencoba berkarir dan cara gue sendiri gue bikin IG segala macam yang no yang ngage cuman 20 segala macam follower kita.
Bahkan nih gue digabungkan cuma 5000 bagus ada buku ini nih kompas pengin ini maksud gua.
Pembicara 1
Jangan jumlah atau apapun itu.
Pembicara 2
Membuat lo berhenti berkarya.
Berkarya tuh dalam arti ya itu lu bikin sesuatu bikin konten IG bikin posting tik tok yang membantu edukasi apa pun buat gue nih kesempatan di mana informasi lagi dalam genggaman lu lu bisa buat apa saja.
Nah teknologi sekarang.
Betul dari gue buat teman teman jangan berhenti berkarya ditolak, enggak ada yang baca segala macam its a story story dengan nunggu waktu menurut gua meledak atau tinggal nunggu.
Pembicara 3
Waktu pada saat yang.
Pembicara 2
Tepat tinggal tunggu timingnya.
Kalau lo enggak pernah naik ke panggung.
Pembicara 3
Lo enggak akan tahu panggung itu akan membantu.
Pembicara 2
Seperti apa?
Jadi maksud gue cobalah buat panggung dengan apa yang bisa dilakukan.
Mumpung masih muda ini yang ngomong.
Pembicara 4
Umur 50 tahun soalnya.
Pembicara 1
Wow gua.
Pembicara 2
Sebut umurnya makanya aku tanya advisenya gitu ya cocok cocok aja pertanyaan bagus banget ya.
Pembicara 3
Aku juga baru baru tahu.
Pembicara 2
Bahwa gue tua setelah gue vaksin.
Pembicara 1
Kemarin waktu covid ya kan?
Gue nganterin bapak gua ada nama gua.
Itu etik sih oh bapak juga.
Pembicara 2
Masuk maroa menolak.
Pembicara 1
Tua oh yang covid.
Pembicara 2
Khusus lansia.
Pembicara 1
Ya atau?
Pembicara 3
Bapaknya.
Ternyata nama.
Pembicara 1
Gue juga ada oke oke.
Ya ngomong.
Pembicara 3
Lu ngomong sama orang tua biar makanya pertanyaan.
Pembicara 1
Gue jangan itu ya.
Pembicara 2
Advice oh sudah sate.
Pembicara 3
Gue bakteri jangan ke orang muda oke?
Pembicara 1
Kalau menurut gue gini gua bahkan gua aja belajar dari anak anak muda selalu maksudnya sekarang teman teman kan lebih jago pegang dunia digital ya segala macam.
Cuma yang gua lihat justru adalah gini guys secanggih canggihnya eye belum bisa bikin seblak sendiri.
Ya kan lu bilang saya mau.
Pembicara 4
Bikin seblak ada.
Pembicara 1
Gitu seblaknya kan enggak mungkin.
Jadi itu masih dunia maya.
Dunia maya itu butuh cerita dari dunia nyata.
Nah kita sering kali hidupnya di dunia maya tapi lupa hidup di dunia nyata.
Padahal segala macam itu adanya di dunia nyata ya kan lo ngomongin crypto apa segala macam itu kan ada bentuknya di dunia nyata juga.
Jadi guys bagus sih lu spending time banyak di dunia maya maya.
Tapi jangan lupain dunia maya itu butuh dunia nyata untuk konten ya jadi lu masih hidup berkelakuanlah kayak orang hidup.
Lu masih bernyawa.
Jangan enggak ada nyawanya dong.
Itu saja kalau dari gua.
Mungkin terakhir ya dari.
Pembicara 4
Pengalaman aku baca buku ini.
Pembicara 3
Aku kayak relate banget sama cita citanya.
Misalnya kayak story telling is a skill of life gitu.
Aku mau tanya nih terbuka dong 1 jam belakangan ini si bilang ini harus apa ke depannya gitu?
Ini si bilang ini the next episode podcast, apa yang harus diperbaiki?
Apa yang harus dikurangi ini ini terbuka jadi teman teman sekelas.
Iya ini pertemuan teman teman sekelas tahu nih wah.
Pembicara 2
Terima kasih masih.
Pembicara 3
Staf belajar ini loh ya ya memang masih belajar gitu sama gue juga masih belajar masih belajar, tapi dari r 2 puluhan yang tanya ke.
Om om iya ke senior senior iya ini.
Pembicara 1
Om gitu.
Pembicara 3
Aduh.
Pembicara 1
Apa ya kalau kalau kalau buat lo bilang justru gue tertarik gini bilang gue tuh tertarik pengin tahu cerita lo anak aceh itu gue ya maksud gue dari perbincangan singkat kita beberapa kali kok gue ngerasa gue pengin tahu bila acehnya gitu karena sering kali anak rantau itu akhirnya yang banyak yang gua kenal ya anak rantau itu akhirnya.
Minder karena enggak enggak bisa jadi.
Pembicara 4
Jaksel gitu.
Pembicara 1
Gue bilang lah.
Gimana sih?
Gua bilang gitu justru tuh.
Pembicara 4
Kita pengin lu.
Pembicara 1
Membawa kerantauan lo itu lo.
Bahwa bahwa lu pernah berenang sama paus ikan paus yang maksudnya berikan paus itu bukan bukan ya nanti dianggap lecehan enggak enggak bukan maksudnya berenang sama ikan paus dan segala macam ada karena teman gue yang sampai kayak gitu.
Tapi.
Harusnya itu gitu.
Tapi kok malah lu?
Ngerasa jadi apa ya jadi setres karena tidak bisa feed in sama anak Jakarta lu jangan berusaha fit in, justru menurut gue jadi anak Jakarta justru gimana caranya kita mendengarkan cerita cerita loh waktu di kampung halaman lo kita tuh anak Jakarta tuh.
Craving for udara bersih bisa berenang bebas di sungai dan lu yakin lu ada pengalaman pengalaman itu ya kan, kita enggak pernah tahu gimana rasanya karena mohon maaf ya karena tsunami gitu gitu yang gua tahu kan?
Ya banyak teman teman gue dari Aceh yang keluarganya sudah habis gitu misalnya gue aduh gue pengin gue sangat Antara gua pengin tahu ceritanya, tapi juga gue enggak pengin membongkar luka lama lu, tapi itu membuat gue mendekat ke lu bilang jadi kenapa enggak lu share itu juga itu yang kalau menurut gue ya karena again public speaking teknik is one thing tapi sumbernya harus authenticity jadi authenticity ini gimana caranya supaya bisa.
Diamplified with your public speaking teknik public speaking skill yang ada jangan jadi malah gayanya sama karena juga pernah di tahap sekitar 3 tahun yang lalu ketika aku mau.
Pembicara 3
Bikin konten itu ada komen ah.
Terlalu aceh nih aksennya gitu.
Kadang itu pernah di tahap apa.
Harus aku bikin versi Indonesia ya gitu padahal bing autentik is something is yang bagus banget gitu ya karena ini dunia panggung kok dunia panggung enggak ada yang bener.
Pembicara 1
Atau salah kalau menurut selama itu make a very positive sensation.
Why not use it?
Mungkin dimasukin masukkan kalau gue sih.
Pembicara 4
Lihat dari interaksi kita enggak ada.
Pembicara 3
Ya pertanyaan lo sangat.
Pembicara 2
Tajam bagus untuk seorang anak muda sih.
Gue sangat melihat gue berharap di banyak anak muda seperti lo di Indonesia ini ya yang punya passion buat edukasi dan membantu orang jadi lebih keren.
Mungkin kalau gue lebih ke flownya, jadi next time akan sangat bagus.
Kalau lo bisa ceritakan sepotong tentang story hidup lu sebelum memulai kita contoh kita hari ini akan menghadirkan ricky dan didi.
Pembicara 1
Tapi gue mau cerita.
Pembicara 2
Dulu nih guys waktu gue kecil waktu gue apa kok pernah cerita bla bla bla bla gue takut banget pas di kelas gini gini waktu di Aceh bagin nah sekarang flashback 20 tahun ke depan gue akhirnya ngobrol sama mereka mendidik jadi orang dikasih kesempatan buat kena lu dulu.
Get a peace of your history.
Pembicara 4
To start a story di.
Pembicara 2
Follow mengguna narasumber misalnya, karena buat kita juga akan membuat konteks dan konteks lewat yang punya ketakutan di kelelahan sebenarnya seperti itu.
Jadi yang gua cuma sayangkan adalah lebih kalau di masa depan.
Kalau misalnya bikin podcast lagi adalah make.
Ruam buat story lo dulu supaya orang semakin mengenal bilal yang bagaimana dengan semua cerita hidupnya itu aja dari doraemon the conversation sih buat gua yang konten creator buat gua lo keren sisanya gua gua enggak ada critik content, tapi lebih kayak ada gua sebutnya adalah opportunity bisa lo pakai pas aku bisa bikin cerita lo lebih orang jadi tahu lagi.
Juga kan gue pakai IG gue untuk cerita tentang gue.
Kalau teman teman follow IG gue banyak cerita hidup gue yang gue gue keluarkan di situ karena buat gue tuh ngebangun connection sama contact seperti aku belajar banyak dari mas deddy dan mas ricky.
Pembicara 4
Yang 1 kayak.
Pembicara 3
Smiling voice tadi penting.
Smiling face ya sorry smiling face dan juga.
Penggunaan Tangerang ini ya itu kadang selama.
Pembicara 4
Ini aku kayak.
Pembicara 3
Gini paling enggak enak lagi ngomong tangannya terkurung.
Pembicara 2
Takutnya nih saking nah iya itu juga.
Pembicara 3
Hati hati kan.
Tapi lu terlatih ini kan.
Pembicara 2
Ke marlo nih ini kan.
Pembicara 1
Teritori loh gitu di ruang.
Pembicara 2
Interogasi.
Pembicara 1
Ajak masih di masih hanya sebelah itu polres benar ya.
Ketahuan ya ketahuan ya.
Eh pak bentar pak.
Pembicara 3
Bentar jadi.
Pembicara 1
Begitu teman teman yang mau.
Pembicara 2
Baca buku show time book ini tersedia di.
Pembicara 3
Toko offline dan toko online favorit kalian aku udah baca dan ini terbantu banget.
Dan ya ini ada kata kata yang aku suka banget.
Jadi setiap orang punya cerita dan latar belakang masing masing.
So what is your story?
Kalian bisa sharing juga story kalian di buku ies dan kita mau kasih 3 buku show time.
Pembicara 1
Buat teman teman.
Pembicara 2
Yang oke kita kasih 3 buku show time kita titip dia lo bagikan buat teman teman yang nonton hari ini jumlah ngitung gitu segala macam terserah lah.
Oke gue silahkan bilang dan pemenangnya adalah nanti teman teman.
Silahkan semoga.
Pembicara 1
Ini menjadi momen buat kita juga berbagi dan buat.
Pembicara 2
Indonesia yang lebih baik.
Terima kasih waktu yang sekali lagi mas ricky mas arief thank you teman teman.
Pembicara 3
Sampai 2 semua ya.
Podcast Summary
Key Points:
Public speaking adalah keterampilan yang bisa dipelajari, bukan bakat bawaan; latihan dan teknik sangat penting.
Penggunaan kata pengisi (filler words) seperti "gitu" atau "luar biasa" yang berlebihan dapat mengganggu audiens, meskipun wajar dalam komunikasi.
Kepercayaan diri berasal dari mengenal diri sendiri dan membawa cerita atau pengalaman pribadi yang autentik, bukan meniru orang lain.
Gestur, ekspresi wajah, dan senyum memiliki dampak besar dalam menyampaikan pesan, bahkan dalam komunikasi non-visual seperti radio.
Setiap kesempatan tampil harus dianggap sebagai pertunjukan terakhir ("every show is our last show") untuk memberikan yang terbaik kepada audiens.
Kisah tokoh seperti Soekarno dan John McCain menunjukkan bahwa orasi yang efektif membutuhkan konteks, keberanian, dan ketulusan untuk kepentingan publik.
Storytelling yang baik memiliki struktur
Rasa grogi sebelum tampil adalah hal normal; mengelola napas, mendengarkan musik, dan mengubah pola pikir dapat membantu mengatasinya.
Summary:
Dalam podcast ini, pembicara Ricky dan Didi, yang merupakan pelatih public speaking, berbagi wawasan tentang seni komunikasi dan tampil di depan umum. Mereka menekankan bahwa public speaking adalah keterampilan yang dapat diasah melalui latihan, bukan bakat bawaan. Salah satu poin penting adalah menghindari penggunaan kata pengisi seperti "gitu" atau "luar biasa" yang berlebihan, karena dapat mengganggu audiens meskipun wajar dalam percakapan sehari-hari. Mereka juga menyoroti pentingnya kepercayaan diri yang berasal dari mengenal diri sendiri dan membawa cerita pribadi yang autentik, bukan mencoba menjadi orang lain.
Mereka menjelaskan bahwa gestur tangan, ekspresi wajah, dan senyum memiliki dampak besar dalam menyampaikan pesan, bahkan dalam konteks non-visual seperti radio. Ricky dan Didi juga mengajarkan bahwa setiap kesempatan tampil harus dianggap sebagai pertunjukan terakhir, sehingga kita memberikan yang terbaik kepada audiens. Mereka menggunakan contoh tokoh seperti Soekarno dan John McCain untuk menunjukkan bahwa orasi yang efektif membutuhkan konteks, keberanian, dan ketulusan untuk kepentingan publik. Selain itu, storytelling yang baik harus memiliki struktur yang jelas—setting, karakter, dan konflik—serta berasal dari pengalaman hidup sendiri.
Mereka juga membahas cara mengatasi rasa grogi sebelum presentasi, seperti mengatur napas, mendengarkan musik, dan mengubah pola pikir. Pesan utamanya adalah jangan berhenti berkarya, terus belajar, dan gunakan cerita hidup sendiri sebagai kekuatan untuk berkomunikasi secara autentik dan berdampak.
FAQs
Filler words adalah kata-kata pengisi seperti 'gitu', 'luar biasa', atau 'you know' yang dipakai untuk mengisi kekosongan saat bicara. Penggunaan berlebihan mengganggu kenyamanan audiens dan membuat pesan kehilangan dampak.
Dengarkan musik yang menenangkan, atur napas, tersenyum, dan ubah pola pikir dari ketakutan menjadi kesempatan. Prinsipnya 'berlatih seperti tampil dan tampil seperti berlatih'.
Glosophobia adalah ketakutan berbicara di depan umum, dan data NBC menunjukkan 75% orang dewasa mengalaminya. Ini wajar karena manusia tidak terbiasa tampil sendirian di bawah sorotan.
Public speaking adalah keterampilan yang bisa dilatih, seperti berenang atau bertinju. Tidak ada yang lahir sebagai public speaker hebat; latihan berulang dan proses belajar yang konsisten adalah kuncinya.
Tentukan setting dan konteks, identifikasi karakter (pahlawan, musuh, korban), dan ciptakan proses pertarungan atau konflik sebelum menuju resolusi. Struktur ini membuat cerita lebih menarik.
Membaca teks dengan terbata-bata atau tidak mempersiapkan diri dengan baik adalah kesalahan yang sering dinormalisasi. Ini bisa mengubah persepsi orang terhadap kredibilitas dan kompetensi seseorang.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.