Go back

Selayang Pandang Pemikiran Talcott Parsons: Fungsionalisme Struktural

from SOSIOLOGI KOPI

33m 6s

Selayang Pandang Pemikiran Talcott Parsons: Fungsionalisme Struktural

Talcott Parsons adalah tokoh utama dalam teori fungsionalisme struktural yang memposisikan masyarakat sebagai sistem terintegrasi, seperti tubuh manusia, di mana setiap bagian saling tergantung dan mengalami dampak jika salah satu mengalami gangguan. Menurut Parsons, individu membentuk identitas sosial melalui proses sosialisasi dan internalisasi nilai, norma, dan tradisi dari keluarga dan lingkungan. Ia mengusulkan model agil yang terdiri dari empat subsistem—ekonomi, politik, sosial, dan budaya—yang saling bekerja untuk menjaga stabilitas dan keharmonisan sosial. Subsistem ekonomi beradaptasi, politik mengatur kekuasaan, sistem hukum memperkuat integrasi, dan sistem budaya mempertahankan nilai-nilai masyarakat. Keluarga dianggap sebagai miniatur masyarakat yang memperkuat keharmonisan melalui transmisi nilai. Teori ini diterapkan secara kuat di era Orde Baru Indonesia untuk menekan tindakan resisten dan menciptakan ketertiban sosial melalui kontrol dan program paksaan. Meski kritis terhadap aspek otoriter, teori ini tetap memengaruhi pemahaman tentang kewajiban individu dan peran sistem sosial dalam menjaga kestabilan. Dengan memahami pemikiran Parsons, individu dapat memahami mengapa penting untuk mematuhi nilai dan norma agar dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang harmonis.

Transcription

3385 Words, 23430 Characters

Indonesian
Halo selamat pagi semuanya. Semoga tetap sehat selalu hari ini dan juga tetap jaga kondisi sehatnya patuhi protokol ke sehatan dan jangan lupa 3M. Nah pada hari ini sebelum gue melancutkan pembahasan mengenai materi tentang teori susu lagi moderen, jangan lupa siapkan dulu 11 kopi atau 11th untuk menemani pagi ini supaya kita tetap selalu sehat dan selalu tetap bahagia menatap dunia, walaupun di masa pandemi, kopi 19. nah pada kesempatan kali ini gue mau menjelaskan salah satu toko dari teori susu lagi moderen pemikirannya yang tentu saja bagianaksusulogi jadi nama toko ini sudah tidak simp lagi kalau di bilang anak jaman sekarang ini selep gram lah ya ngalahin hanya geraldin dan juga selep gram selep gram lainnya lagi ya atau ya bisa di bilang dienip publik figurenya orang-orang susu lagi dan juga memang dia ini salah satu toko dari susu lagi yang banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran susu lagi ke susinya pemikiran-pemikiran susu lagi di Amerika Selikat toko ini namanya talket person yang terkenal dengan teori functionalisme strukturalnya, talket person sendiri itu lahir di keloradu pada tahun 19, kosong dua dalam keluarga yang sangat religius dan inklektual nah ayahnya talket person sendiri memang sorang pendeta tapi juga sorang profesor yang kemudian menjadi rektor di sebuah pergulan tinggi atau universitas kecil di keloradu nah pada tahun 19, 24 ketika si person ini sudah tumbuh menjadi anak muda ya kemudian menyelesaikan studinya, studi S1-nya atau Sardina muda di universitas Amherst dan menyapan disertasinya di London School of Economy di Inggris ya kemudian si talket person ini mengajar di Hellenberg dan Harpat di tahun 1927 nah di tahun 1937 kemudian talket person menyusun atau menerbitkan sebuah buku yang diberi nama Disrupture of Social Action dan kemudian si talket person menjadi ketua jurusan atau pertemuan sociologi di universitas Harpat di tahun 1944 atau bisa dibilang di usia muda-nya dia sudah mendapatkan jabatan sebagai kajur sociologi nah kemudian di tahun 1942 si talket person mendirikan di pertemuan hubungan sosial terbitnya buku yang pertama Disrupture of Social Action kemudian membuat talket person menyusun kembali buku terbarunya yang diberi nama di sosial system di tahun 1951, nah si talket person ini kemudian menjadi tokodominan sociologi Amerika dan di tahun 1960, dia mendapat serangan dari komem sayap kiri radikal, karena dianggap terlalu conservatif dan teorinya sulit di Bahami teorinya sulit di Bahami, bahas sedikit lah ini hari ini gue mau jelasin sedikit pemikiran tentang talket person, tentunya memang bisa dibilang sulit di Bahami oleh karya itu nanti kalian semua yang mau tahu lebih banyak pemikiran talket person bisa baca referensi yang lain tentang si talket person ini kemudian talket person meninggal di tahun 1979 tapi teorinya si talket person ini dominan tahun 1980, jadi walaupun dia sudah meninggal diusru yang tadinya teori-tori dia banyak di kritik khususnya oleh komem sayap kiri tapi di tahun 1980 terlaluan teori dia banyak sekali digunakan oleh para sosial-sialok khususnya bagi negara-negara berkembang salah satunya Indonesia yang menggunakan konsep teorinya si talket person lalu asum si dasar dari teorinya talket person tentang fungsinyalisme struktural ini sebenarnya asum si dasar dari teori fungsinyalisme struktural ini menganah logikan seperti sebuah anatomi tubuh manusia jadi bagi person masarakat itu terintegrasi terintegrasi atas desar ke sepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai ke masarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan, maupun hal-hal yang si Patnya itu sangat ajak di dalam masarakat sehingga masarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsiional terintegrasi dalam suatu kesimbangan dengan demikian masarakat bagi person merupakan kumpulan sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ke tergantungan jadi sebenarnya hakikatnya masarakat itu memiliki ke terhubungan dan saling ke tergantungan jadi bagi person kalau ada satu problem di masarakat maka anggotan masarat yang lain akan kenal dampaknya karena memang teori fungsinyalisme struktural ini berangkat dari analogi anatomi tubuh manusia sayambil contoh misalnya kalau kepala kita sakit mungkin aktifitas kita yang lain akan sedikit terganggu ya, jadi kalau misalnya kita dalam kondisi yang primer sehat fit bugar kepala kita gak sakit kepala ya mungkin kita semua bisa beraktifitas normal seperti biasanya tetapi ketika kepala kita sakit atau sakit kepala tentu aktifitas kita yang lain akan terganggu kira-kira analoginya seperti itu, itu tadi asumsi dasar dari fungsinyalisme struktural yang berikutnya mengenai pemikiran fungsinyalisme struktural ini gak lepas dari aktor dan sistem sosial, nah dalam konteks aktor dan sistem sosial ini menurut persen aktor itu kombinasi dari pola nilai-nilai dan orientasi yang diproleh pada derajat yang sangat penting dan menjadi fungsin struktural dan nilai-nilai dominan dalam sistem sosial jadi, seorang individu kemudian dia menjadi aktor karena tidak terlepas adanya proses sosialisasi dari anggotan masarakatnya salah satunya yang paling terdekat adalah keluarga ya itu nyokap bokapnya, yang kemudian nanti sih individu ini akan memiliki orientasi atau tujuan terhadap masarakatnya masarakat di sini gak mesti harus kalian lihat sebagai bagian dari tempat tinggal kalian tetapi masarakat di sini juga bisa kalian sekolah, kalian kuliah atau teman kalian juga adalah bagian dari masarakat dan di situ kalian kemudian punya orientasi tertentu dengan derajat tertentu dan tiap orang punya orientasi yang berbeda satu sama lain, tadi aktor, lalu kemudian tentang sistem sosial nah dalam sistem sosial ini terdiri dari sejumlah aktor individu yang saling berinteraksi dalam linkungan tertentu di sini kemudian mereka memiliki motivasi atau yang tadi orientasi untuk mencapai kepuasan yang di definisikan dan di mediasi dalam trem symbol bersama yang terstruktur secara cultural tertentu jadi sistem sosial ini sebenernya bagian dari konsekensi atau kecepatan bersama dari anggota masarakat yang kemudian dihujutkan atau di manifestasi kan dalam symbol bersama di sini bisa berupa aturan, bisa berupa nilai, norma dan juga tradisi nah itu sistem sosial, nah dalam sistem sosial tidak lepas terdapat adanya aktor, interaksi, linkungan, optimalisasi kepuasan dan culture dari aktor nah itu komponen-komponen di dalam sistem sosial, lalu kemudian extensi aktor dalam sistem sosial itu seperti apa sih, nah persaratan kunci bagi terpilinya integrasi pola nilai dalam sistem sosial adalah adanya. proces internalisasi dan sosialisasi. Jadi terpeliharanya sebuah pola nilai itu harus dijaga nih. Jadi biar nggak ditikung dan juga nggak di. ibarat kalau punya pacar itu nggak diambil sama orang. Dia harus dijaga. Untuk menjaganya itu tentu kita ada polanya. Nah, dalam konteks menjaga pola integrasi di dalam sistem sosial. caranya adalah melalui proces internalisasi dan sosialisasi. Nah, namun, persen mengatakan bahwa umumnya dalam sistem sosial aktor bertindak sebagai penerima pasif. Nah, dalam proces sosialisasi. Di sini, maksudnya kenapa pasif karena dia hanya menerima dari. aktor yang lain, ya, itu dalam hal ini orang tuanya. Nah, dalam konteks inilah sosialisasi atau aktor yang menerima sebagai individu yang pasif. ini kemudian persen di kritik, ya oleh prankoes barikaut dengan dialektika sosialisasinya. Kalau menurut prankoes barikaut, mengatakan bahwa enggak son. Si aktor itu aktif kok karena dia tidak hanya merespon. Tetapi dia juga mereproduksi. Tapi lagi-lagi itu perdebatan antara si persen sama si prankoes. Nah, lebih lanjutnya perdebatan itu bisa kalian cari referensi tambahan. Karena segment kali ini, gua enggak membahas mengenai perdebatan si persen dengan si prankoes. Nah, lalu dalam konteks extensi aktor dalam sistem sosial. Setidaknya, tadi yang sudah gua bilang di jaga polanya melalui internalisasi dan sosialisasi. Nah, dalam konteks sosialisasi di sini, individu akan ditanamkan. Berbagai macam polanya, norma, aturan, ada tistiada, tetapi tradisi kepada si individu. Nah, kalau dalam bahasa orang-orang kritis, sosialisasi itu bahasa lainnya adalah penginakan. Jadi, si individu ini diginakan. Tapi sebenernya dalam bahasannya functional semestok total. Proces sosialisasi ini untuk menanamkan hal-hal yang berkaitan dengan identitas dari masyarakat si individu itu tinggal atau hidup. Nah, jadi dalam proses yang pertama itu sosialisasi terjadi pada diri si individu. Nah, setelah kemudian sosialisasi itu ditanamkan nilai norma. Si individu ini akan memiliki nilai, kemudian juga akan memiliki norma, ordor di sini lah proses internalisasi, kemudian makin menguat. Di sini lah kemudian, si individu akan memiliki yang namanya kesadaran kolektip. Nah, kesadaran kolektip ini artinya, si individu itu sudah menjadi bagian yang sangat melakat pada diri masyarakatnya. Jadi, dia sudah menjadi bagian dari anggota masyarakat ketika dia punya nilai norma, ordor yang sama seperti masyarakat di situ lah proses sosialisasi dan internalisasi sudah berlangsung. Nah, itu tadi berkaitan dengan extensi aktor dalam sistem sosial. Lalu kemudian, tindakan sosial aktor. Nah, dalam konteks tindakan sosial aktor, tindakan manusia itu bersipat polontaristik atau sukarela yang dimana polontaristik di sini maksudnya. Ini dengan sukarela atau pasis sosial, tindakan sosial aktor, tindakan manusia itu tersebut, dan tersebut. Terus kemudian hal yang lain-lainya lagi dalam kindakan individu, dia sebagai bagian dari pelaku dengan alat yang akan ada untuk mencapai tujuan dengan berbagai macam-macam cara. Yang juga individu itu kemudian dipengaruhi oleh kondisi yang dapat membantu dalam memilih tujuan yang akan dicapai. Tentunya dengan bimbingan nilai, dan dia serta norma yang sudah di internalisasi pada dirinya. Setuasih dan kondisi di dalam kehidupan atau aktivitasnya yang dimana kemudian dia memiliki tujuan, orientasi atau motivasi, ini kemudian didasarkan pada nilai norma yang sudah ter internalisasi pada dirinya, jadi bukan semata-mata didasarkan pada keinginannya dia. Tapi tanpa sadar dia sudah berpikir panjang tentang nilai dan norma yang sudah melakat pada dirinya. Kemudian, poin yang lain tentang tindakan sosial aktor adalah bahwa tindakan individu manusia itu memiliki kebebasan untuk memiliki atau memilih sarana atau alat dan tujuan yang akan dicapai. Dan di pengaruhi oleh lingkungan atau kondisi kondisi, dan apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma. Contoh sederhana misalnya tujuan kita menjadi orang sukses karena nilai dan norma misalnya yang sudah melakat di masyarakat bahwa orang sukses itu adalah orang yang punya rumah mewa, yang punya mobil fortuner, punya mobil pajero, punya mobil port di garasinya hampir tiga mobil dia punya kemudian punya lapangan golep, kemudian punya kolam renang di rumahnya. Nah itu yang kemudian jadi standard kesuksesan di masyarakat itu yang kemudian ditanamekan melalui proses sosialisasi dan internalisasi kepada diri individu. Akhirnya persepsi tentang sukses adalah yang tadi punya rumah mewa, punya mobil yang banyak dan lain sebagainya. Nah pada hal sukses itu bisa artinya relatif, antar masyarakat juga bisa berbeda misalnya di wilayah ex, artis sukses, dilihat dari segi materi. Itu yang berbakti kepada orang tua atau di wilayah se artis sukses itu dia bisa menjadi seorang yang menjalani perintah agama dengan baik. Jadi tiap tujuan individu itu dilatir belakang dari karakteristik pada suatu antitas masyarakatnya. Berikutnya tindakan individu diarahkan pada tujuan. Jadi memang dalam segala aktivitas kehidupan sektor atau di individu ini selalu diorientasikan pada tujuan. Tujuan di nila yang kemudian membuat pedomas bagi individu di dalam jalan di kehidupannya. Nah di sini lah posisi-si individu kemudian diatur oleh alat dan tujuan. Kemudian tindakan individu manusia di tentukan oleh orientasi subjektifnya itu berupa orientasi motivasional dan orientasi nilai. Jadi pada hakikatnya dalam konteks tindakan sosial aktor dalam perspektif-pungsionalisme struktural, tindakan aktor selalu memiliki orientasi atau tujuan. Dan orientasi tujuannya itu selalu melakat pada nilai norma aturan, ada istia, ada tradisi yang ada pada masyarakatnya melalui proses sosialisasi dan internalisasi yang sudah ditanamkan pada dirinya. Itu terkait dengan tindakan sosial aktor. Oke, berikutnya masyarakat dalam pungsionalisme struktural. Nah, dalam konteks pungsionalisme struktural itu masyarakat di lihat sebagai bagian dari kompulan dari sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ke tergantungan. Jadi dalam konteks itu masyarakat ini memang di lihat bagian dari kompulan sistem sosial. Kalau kemudian masyarakat merupakan jalanan dari sistem masyarakat juga sebagai organismo biologis. Jadi kalau ada masalah di satu anggota masyarakat, maka anggota masyarakat yang lain juga terkena dampaknya. Lalu kemudian masyarakat sebagai norma nilai kontensus dan bentuk kohesi sosial dan juga masyarakat memiliki ketraturan dan kesiimbangan. Jadi makanya dalam konteks pungsionalisme struktural, melihat masyarakat itu harus berjalan secara harmonis atau rukun atau seimbang. Jadi kalau bisa dihindari yang namanya konflik-conflik. Jadi masyarakat itu supaya ga berkonflik masyarakat harus patuh sama nilai norma yang ada di masyarakat itu supaya masyarakat itu ga mengalami yang namanya dispungsi yang menyalahi nilai dan norma. Jadi kalau ada masyarakat yang dispungsi, artinya ga akan mencapai keharmonisan dan juga akan terjadi yang namanya konflik kalau ada anggota masyarakat yang mengalami dispungsi. Makanya diharapkan masyarakat itu harus patuh terhadap nilai norma aturan, ada istia, ada tradisi yang melihat pada suatu masyarakat melalui mekanisme sosialisasi dan internalisasi. tujuannya supaya apa? supaya. masyarakat itu bisa menjadi bagian dari anggota masyarakat yang menjalankan kehidupan yang harmonis. Nah itu tadi berkaitan dengan masyarakat dalam functionalisme struktural. Nah lalu gimana si cara mempertahankan stabilitas masyarakat agar tetap eksis, agar tetap harmonis, agar tetap stabil. Nah disini lah kemudian si taket persen ngasih solusinya nih, ngasih koalannya, ngasih modelnya nih. Nah ngasih modelnya ini si taket persen tentu kalian sudah tidak asing dengan yang namanya istilahnya agil ya. Nah gil disini tentu nggak lepas dari bagaimana si persen merumuskan dengan jidu ya dari setiap sistem sosial yang dimana memiliki komponensup sistemnya. Nah dalam pemikirannya si taket persen, konsep agil ini pada tahun 1956. Si persen itu berusaha mengoreksi atau revisi atau menginginvaluasi, teori sistemnya tersebut. Kemudian dia menyebutkan ada 4 subsistem dalam sistem masyarakat yang sebelumnya dalam bukunya dia tentang teori sistem ini. Teori sistem ini dia belum menjalaskan secara detail mengenai subsistem ini. Nah ngamun kemudian di tahun 1956 si persen mengoreksinya kembali kemudian merevisinya. Nah lahir lah yang namanya model agil ini atau suburnetic model opsistem regulasi. Nah apa sih agil itu? Agil itu singkatan atau akronin dari adaptasi, goa attachment, integrasi dan latensi. Nah dalam konteks agil ini setidaknya subsistem di dalam sistem sosial itu terbagi menjadi empat. Yang pertama itu ada subsistem ekonomi, subsistem politik, subsistem sosial dan subsistem budayana. Nah subsistem ini yang menurut si persen ini sangat melakat di dalam sistem sosial di masyarakat. Nah menurut persen, setiap masyarakat selayaknya memiliki kempat subsistem ini dan persen juga mengklaim teori ini dapat digunakan untuk menjawab secara konferensiip setiap sistem ke masyarakatan yang ada di dunia. Oke lalu mempertankan stabilitas masyarakat agar tetap exist. Nah di sini lah kemudian bisa dilihat dalam konteks adaptasi, subsistem ekonomi ini ada dalam proses adaptasi itu konteksnya adalah subsistem ekonomi. Jadi bagaimana subsistem ekonomi ini harus selalu beradaptasi dengan perkembaan situasi kondisi dari masyarakat. Nah dalam proses pungsi adaptasi di sini sebuah sistem harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat dan sistem harus menyesuaikan dengan linkungannya. Nah adaptasi dilaksanakan oleh subsistem ekonomi. Misalnya dengan laksanakan produksi dan distribusi barang dan jasa sehingga pertumbuhan ekonomi tinggi di situ lah kemudian masyarakat bisa hidup sejarah sehingga kondisi yang gawat, kondisi yang. Oke oh si dalam masyarakat itu bisa di stabilakan. Nah itu di pungsi adaptasi. Lalu kemudian dipungsi pencapai yang tujuan atau gue otest men sebuah sistem harus men definisikan dan mencapai tujuan utamanya. Jadi gol atau tujuan ini dilaksanakan oleh subsistem politik. Misalnya melaksanakan distribusi kekuasaan dan monopoli unsur pak saan yang sah dari negara itu. Nah jadi bagi mana dalam kontek subsistem politik supaya masyarakat itu nggak banyak melakukan pindakan yang resistensial atau bahasa kerenya suversip yang berusaha untuk menggulinkan rejim. Maka subsistem politik ini harus main itu mendistribusikan kekuasaan dan memmonopoli unsur pak saan yang sah yang dipegang secara penuh dan secara kendali oleh negara. Nah contohnya apa misalnya layarnya sebuah kebijakan peraturan tertentu yang melarang masyarakat untuk ABC dan seterusnya jadi di kendali kan lah. Kalau dalam bahasa misal fukol itu namanya permainan biopowernya lah biopolitiknya, itu tadi punksi gol atest menjadi untuk bisa tujuan itu tercapai. Maka harus ada distribusi kekuasaan dan monopoli unsur pak saan yang sah. Lalu kemudian punksi integrasi. Nah dalam konteks punksi integrasi sebuah sistem itu harus mengatur antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Nah sistem ini harus antar hubungan yang lain. Jadi punksi integrasi ini juga ada yang namanya punksi adaptasi pencapai yang tujuan. Nah dalam konteks integrasi di sini semua sistem itu harus terintegrasi jadi gak bisa hanya dominan satu subsystem saja semuanya harus bermain. Nah integrasi dilaksanakan oleh subsystem hukum dengan cara mempertahankan ke terpaduan antara komponen yang beda pendapat atau konflik untuk mendorong terbentuknya solidaritas sosial. Jadi pada subsystem hukum ini adanya sangsi kalau di masyarakat adanya sangsi sosial kalau dalam konteks negara adanya sangsi hukum baik itu pidana mau pun perdata. Nah lalu yang kempat adalah latensi. Nah pada latensi ini maksudnya adalah punksi mempertahankan pola dan struktur masyarakat. System itu harus melakapi memlihara dan memperbaiki baik itu motivasi yang siapatnya individual, maupun pola pola yang kultural, yang menciptakan dan menopang motivasi. Nah latensi, maintenance ini dilaksanakan oleh subsystem budaya yang menangani uruskan pemiliaraan nilai-nilai dan norma budaya yang berlaku dengan tujuan kelestarian struktur masyarakat yang dibagi menjadi subsystem keluarga agama dan pendidikan. Jadi sebenernya keluarga itu adalah bagian dari subsystem latensi karena dia yang mendistribusikan nilai norma ke si individu atau si anak itu. Nanti si anak itu akan berkeluarga akan menjadi bagian dari subsystem keluarga lagi dan seterusnya. Bagi itu, instruksi agama juga bagian dari subsystem latensi juga yang di mana dia akan men sosialisasi, menginternalisasi nilai norma, aturan maupun agaran agama tertentu kepada anggota masyarakatnya. Gitu pun instruksi pendidikan juga bagian dari latensi yang dia mendistribusikan nilai norma, aturan etika moral dan juga identitas kebudayaan kepada stiap anggota masyarakat dalam maling ini peserta di kena itu tadi pemikiran tentang model agil yang sangat terkenal dari takut pasaran. Kaya itu sekian dari gue penjelasan mengenai pemikiran sinkat untuk takut pasaran. Jadi buat kalian yang mau lebih tahu, lebih banyak mengatau pemikiran yang si takut pasaran bisa baca berbagai macam referensinya si takut pasaran, bisa juga baik cabuknya langsung, baik itu yang ada structure of social action, maupun di sosial sistem itu di situ dijilaskan dengan jitu sekali oleh takut pasaran, dan remastrik juga instruksi keluarga yang di mana peran keluarga itu menurut pasaran ini adalah bagian dari miniatur dari masyarakat. Jadi kalau misalnya di dalam masyarakat itu ada masalah, yang gilihat adalah miniatur keluarganya yang ada di dalam anggota masyarakat sehingga hal yang paling penting adalah bagaimana si instruksi keluarga ini memiliki keharmonik. Dari setiap instruksi keluarga yang memiliki keharmonik. Ini yang kemudian nanti akan membuat keharmonik juga di dalam masyarakat. Di lain sisi juga dia melihat bahwa peran keluarga instruksi keluarga ini sangat strategis sekali oleh kena itulah kemudian persen menganggap bahwa melalui keluargala masyarakat bisa dibentuk, jadi melalui keluargala masyarakat itu bisa dibentuk. Oleh kena itulah persen sangat menyakini bahwa keluarga itu adalah miniatur dari masyarakat. Nah itu bisa kalian baca buku, takut persen langsung. Bagi itu yang ada sosial sistem, mau punya社 op sosial action atau referensi-referensi buku lain yang ditulis oleh orang-orang lain. Nah itu sekian dari gue penjelasan mengenai pemikiran yang takut persen yang tentu masih banyak sekali pemikiran takut persen yang perlu dipaparkan namun itu dulu dari gue mengenai persen. Yang jelas kalau dalam konteks di Indonesia pemikiran takut persen ini pernah digunakan di zaman odobaru yang di mana di zaman odobaru. pemikian tangket persen ini berusaha digunakan tujuannya supaya masyarakat itu tidak melakukan tindakan yang resistensial atau subersip di jaman atau baru siingga masyarakat itu diharapkan harmonis sejatera makanya kemudian di dalam pemerintahnya jaman suharto dibuatlah berbagai macam program program yang menghanjutkan yang menina bubukan masyarakat kemudian juga menciptakan keharmonisan dalam bentuk paksaan, bahkan ada terror seperti misalnya ada petrus, penembak misterius kalau misalnya ada masyarakat yang berusaha untuk melakukan tindakan yang resistensial atau yang subersip teori-teori tangket persen ini di jaman atau baru, maksud dan tujuannya supaya situasi dan kondisi di masyarakat Indonesia itu berjalan dengan harmonis tanpa ada hal-hal yang membahayakan resim atau baru makanya gak heran di jaman atau baru itu bisa sampai bertahan sampai 32 tahun dan itu karena tidak lepas dari jaman atau baru penerapan teori tangket persen tentang keselisme suktural ini sangat kuat sekali, salah satu toko yang mencoba penerapan pemikiran tangket persen ini salah satunya adalah silo sumarjan, yang saat itu memang menjadi pemikir dari tim tennya di jaman atau baru, tapi terlepas dari itu semua pemikiran tangket persen memiliki kontribusi bagi masyarakat walaupun misalnya buat kita sendiri tanpa sadar sebenarnya pemikiran tangket persen itu sudah berlangsung di dalam menggota masyarakat kita, jadi dengan kalian mengenal pemikirannya tangket persen di sini setidaknya kalian sudah bisa memahami kenapa sih kalian harus patuh tunduk, monatih, menjalankan nilai dan norma di masyarakat kalian karena supaya kalian bisa menjadi anggot masyarakat yang turut berpartispasi dan berkontribusi menjetakan keharmonisan di masyarakat kalian kayak itu sekian dari gue untuk sessi kali ini tentang memikiran tangket persen, Mohon maaf kalau ada kesalahan dan juga Mohon maaf kalau ada kekurangan, karena banyak sekali memang pemikiran tangket persen ini dan dengan waktu yang sangat terbatas sekali, dan oleh kan itu bisa baca referensi yang lain kayak sekian dari gue tetap jaga kesehatan, tetap jaga protokol kesehatan, tetap semangat dan jangan lupa seruput kopi

Podcast Summary

Key Points:

  1. Talcott Parsons adalah tokoh utama dalam teori fungsionalisme struktural yang memengaruhi sosialologi Amerika, terutama melalui karya-karyanya seperti *Disrupture of Social Action* dan *Social System*.
  2. Teori fungsionalisme struktural memandang masyarakat sebagai sistem terintegrasi yang saling tergantung, seperti tubuh manusia, di mana gangguan pada satu bagian memengaruhi seluruh sistem.
  3. Aktor dalam masyarakat dibentuk melalui proses sosialisasi dan internalisasi nilai, norma, dan tradisi dari keluarga dan lingkungan sosial.
  4. Masyarakat dicapai stabilitas melalui empat subsistem
  5. Subsistem ekonomi beradaptasi dengan perubahan lingkungan, politik mengatur kekuasaan, hukum mempertahankan integrasi, dan budaya menjaga nilai-nilai untuk kelestarian struktur sosial.
  6. Keluarga dianggap sebagai "miniatur masyarakat" yang memperkuat keharmonisan sosial melalui sosialisasi nilai dan norma.
  7. Teori Parsons digunakan di era Orde Baru Indonesia untuk menekan resistensi dan menciptakan keharmonisan sosial melalui program paksaan dan kontrol.
  8. Meskipun kritis terhadap kekuatan dominan, teori ini tetap memengaruhi pemahaman tentang keharmonisan, kewajiban individu, dan peran sistem sosial dalam menjaga stabilitas.

Summary:

Talcott Parsons adalah tokoh utama dalam teori fungsionalisme struktural yang memposisikan masyarakat sebagai sistem terintegrasi, seperti tubuh manusia, di mana setiap bagian saling tergantung dan mengalami dampak jika salah satu mengalami gangguan. Menurut Parsons, individu membentuk identitas sosial melalui proses sosialisasi dan internalisasi nilai, norma, dan tradisi dari keluarga dan lingkungan. Ia mengusulkan model agil yang terdiri dari empat subsistem—ekonomi, politik, sosial, dan budaya—yang saling bekerja untuk menjaga stabilitas dan keharmonisan sosial.

Subsistem ekonomi beradaptasi, politik mengatur kekuasaan, sistem hukum memperkuat integrasi, dan sistem budaya mempertahankan nilai-nilai masyarakat. Keluarga dianggap sebagai miniatur masyarakat yang memperkuat keharmonisan melalui transmisi nilai. Teori ini diterapkan secara kuat di era Orde Baru Indonesia untuk menekan tindakan resisten dan menciptakan ketertiban sosial melalui kontrol dan program paksaan.

Meski kritis terhadap aspek otoriter, teori ini tetap memengaruhi pemahaman tentang kewajiban individu dan peran sistem sosial dalam menjaga kestabilan. Dengan memahami pemikiran Parsons, individu dapat memahami mengapa penting untuk mematuhi nilai dan norma agar dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang harmonis.

FAQs

Toksok person adalah tokoh utama yang mengembangkan teori fungsionalisme struktural dalam sosialologi Amerika.

Toksok person menggunakan analogi anatomi tubuh manusia, di mana masyarakat dianggap sebagai sistem yang saling terhubung, seperti bagian tubuh yang jika salah satu bagian sakit, akan memengaruhi bagian lainnya.

Sistem sosial adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi dan saling bergantung, dengan nilai, norma, dan tradisi yang menyatukan mereka dalam keharmonisan sosial.

Proses sosialisasi dan internalisasi digunakan untuk menanamkan nilai, norma, dan tradisi ke dalam diri individu, sehingga mereka menjadi bagian dari masyarakat dan memahami keharmonisan sosialnya.

Model AGIL menggambarkan empat subsistem masyarakat yaitu adaptasi, pencapaian, integrasi, dan latensi, yang saling bekerja untuk menjaga stabilitas dan keberlangsungan masyarakat.

Keluarga dianggap sebagai miniatur dari masyarakat dan berperan penting dalam proses sosialisasi, memperkuat nilai dan norma yang mendukung keharmonisan sosial secara keseluruhan.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.