
Cerita ini dibacakan dalam sebuah podcast dan berasal dari seorang pendengar yang mengirimkan kisahnya melalui email. Penulis mengenal seorang pria sekitar tujuh tahun lalu ketika keduanya masih berseragam sekolah. Meski berbeda sekolah, mereka tinggal di kota yang sama dan mulai dekat melalui pertukaran PIN BBM yang saat itu sedang populer. Pria tersebut digambarkan manis, perhatian, dan humoris, sangat sesuai dengan tipe penulis. Namun setelah beberapa bulan chatting, penulis menyadari bahwa hubungan mereka terasa seperti pacaran padahal statusnya hanya friendzone. Penulis sempat meminta kejelasan, tetapi pria itu selalu beralasan tidak ingin pacaran karena takut hubungan mereka berakhir. Penulis kemudian mengetahui bahwa pria tersebut sebenarnya menyukai cewek lain di sekolahnya, dan hanya tiga hari setelah kejadian itu, mereka resmi berpacaran. Penulis merasa kecewa dan bodoh karena telah percaya. Enam tahun berlalu, keduanya kini kuliah di kota yang sama namun di universitas berbeda. Penulis sempat menjalin hubungan dengan orang lain, tetapi kandas, sementara pria itu kini memiliki pacar yang hubungannya langgeng. Penulis masih sering bertemu dengannya dan menyadari perasaannya belum hilang sepenuhnya. Narator menutup dengan renungan bahwa cinta yang tak pernah dimulai memang menyakitkan, namun pada akhirnya kita harus menerima keadaan dan melangkah sampai menemukan seseorang yang tepat.