Go back

376. SAMBA PARIA SANG PENAKLUK RAJA

64m 59s

376. SAMBA PARIA SANG PENAKLUK RAJA

Transkrip ini mencatat sesi diskusi santai dalam sebuah podcast yang disebut "Rapor Berdongeng." Para peserta, termasuk Reza dan Awi, memulai dengan canda tentang pekerjaan, seperti rapor, KPI, dan bonus, sebelum beralih ke topik utama: sebuah dongeng interaktif. Mereka memeriksa kostum satu sama lain, dengan beberapa peserta berperan sebagai karakter seperti abang-abang atau putri, sambil bercanda tentang penampilan dan peran. Cerita yang mereka bangun berlatar di Bumi Mandar, sebuah kerajaan fiktif yang kaya akan rempah cengkih. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang kejam dan serakah, yang melarang rakyatnya berdagang secara bebas dan memonopoli semua hasil panen untuk dijual mahal ke pedagang asing. Rakyat hidup dalam ketakutan, dan raja juga dikenal suka menculik perempuan cantik untuk dijadikan permaisuri tanpa persetujuan. Seorang nenek sakti kemudian meramalkan bahwa seorang gadis biasa akan lahir dan menggulingkan kekuasaan raja. Ramalan ini memicu keinginan raja untuk menemukan gadis tersebut, yang diyakini tinggal di hutan. Di dalam hutan, hiduplah dua kakak-beradik, Samba Peria dan adiknya yang tidak disebutkan namanya, yang hidup sederhana namun penuh kasih. Seekor anjing milik raja menemukan mereka setelah memakan talas yang jatuh, dan situasi ini mulai mengarah pada pertemuan dengan raja. Diskusi diwarnai humor dan interaksi spontan, dengan peserta sesekali menyela untuk bercanda tentang kehidupan pribadi atau pengalaman serupa.

Transcription

9679 Words, 52180 Characters

Indonesian
Reza anggar di ini, Awi Gail podcast, rapor rapor rapor rapor. di mati in melody nya, lu ngomong rapor dan rapor rapor. Selamat siang, galeri ini di Jakaya. Halo, Halo. Selamat siang. Wadua, Wadua. Ini juga seru pries buat kita, lu. Kapan kita namnya ini? Kalau ngelian ijo-jogginikan, kalau dari jauh, $1 ini. -Makasih dari dekat $1. - $1. Selamat siang, terima kasih teman-teman sudah mau hadir di rapot berdonging -Berengen, galeri ini di Jakaya. -Yumat agar abarnya hari ini. -Baii. -Udah padali burung belom. -Oh belom. -Bonus sudah turun belom. -Pantas. -Pantas. -Benar. -KPI sudah padang kecapain belom. -Ooo, udah. -Udah udah. -Udah udah udah racker. -Ohh, ya. -Berengkannya yang masih butuh, habis-ng habisin dan air tahun ga? -Nggak ada. -Nggak ada. -Kirus ini ga ada. Kita mau pijing soalnya. -Nini, habis ini kita mau anuh nunjukin proposal. -Berengkannya. -Kalai kita punya program. -Gedi memang retkart yang kita tunjukin. Ini harga spesial. Di beli hari ini, ini harganya untuk tahun depan lebih murah. -Jangan. -Jangan. Ini kita preskont. Konsemo udah duduk. -Kalai indice ekonomi, di indice ekonomi. -Ya, dari. -Dawis, mau ga kadiran kita berhumpat di siah hari ini. Senjanya bisa bikin bahagiannya naik, dua level. -Ya. -Dengar cerita dong yang sebenarnya udah indah. Tapi kita buat makin ga maksens. -Kalau, betul. -Kita pertanyaan. -Kita pertanyaan. Semua kita pertanyaan. -Ya. -Yang mungkin berawal dari kisa dong yang menjadi kisami tos. -Kinanya, ini kayak ga mungkin. -Kak, takutnya apa jadi kayak kisa penyabar fitna. -Kita ga jangan ujuhi malaknya omama opapa. -Ya. -Kali kedua, kita dong yang langsung di galeri Indonesia kayak dengan busana yang juga menimpa yang sekali pertanyaan mungkin. -Ya. -Mungkin kita bisa tanya dulu nih sebelum kita berdong yang dan mungkin udah ketebak memang judulnya sama pari ya. Cuma ada kayak penasaran ini sebenarnya cerita tentang apa. -Penuhnya kita minta tolong nih kepada Dewi Dewi gue untuk tanya tanya. -Kina-kina kalau dari kostumnya nih kalian tuh jadi apa sih. -Coba. -Kita kita mau outfit check dulu ya. -Outfit check dulu. -Ya, ya. -Radi kita pimpin dong kalau outfit check tuh apa di ya. -Ya. -Gimin ada nanya SOP, field check ya. -Kalem-sarung, kalem-sarung, kan dulu. -Kalem-sarung. -Kalem-sarung. -Okey, 1, 2, 3. -Okey. -Okey. -Kalem-sarung. -Kalem-sarung. -Coba. -Coba di tunjuk aja. -Kina-kina siapa yang apapak tau nih rasanya gitu. -Ada yang mau. -Coba nanya ke pembirsar apapot anka. -Kina-kina. -Yang biata, ada yang bisa nambakkan. -Hey, hey, hey, hey. Predisi. -Kina-kina. -Kina-kina angannya menjadi pribadi yang kayak apa sih? -Kena-kina-kina-kina mulusikan kan kan apa nih. -Ito. -Ito. -Ito yang memang jadi concern kita kenapa setiap jata perinjust cantik tuh. -Ito. -Alung berpual ini. -Dahan kita beauty all-round you. -Ito. -Dahan maksudnya ini selera pasarkan beda-beda. -Ada yang sukanya kecil mungi. -Temkan, ada yang agak ngombo, ada berbombo. -Kasi kesempatan lah. -Buh. -Gitah. -Gitah yang lain. -Diti-diti, Abigail, spik apangat ya. -Hey, radini gue sama Abigail tuh 2-2 lima-nya udah coba olah-raga loh. -Okey. -Okey. -Udah coba fit. -Gak juga dipilih yang merein, zak nggak juga. -Gak dilih-dilih. -Udah pasang bulu mata palsu. -Apa ini ya. -Udah pilih 2 level yang baru lagi. -Dika, Abigail, ini bahas konser terapulu jadi nena-nena lagi. -Apegah boleh pelantanin ke Ariasini. -Joba, okay. -Kira-kira. -Gini, aku jadi apa sih? -Pasangan suami istri deh, gitu. -Aksu sih. -Aksu sih. -Selakan. -Jedi apa ya? -Jedi apa ya? -Saya apa? KKG mengabayan? -Ooh, jadinya sedikit kabe ya. -Mangkabayan. Tapi ada kisi-kisi diatas. -Nik, jadi abang-abang. -Apa. Kita lak di abang. -Apa. -Apa, segoa-segoan kalau lu jadi abang-abang ikajah orang juga. -Apa, abang-abang teater. -Apa, ada adik kelasnya? Ryspek bang. -Pereku pulan aluminis di atat puluh gue. -Aku, ngakur. -Renny Jeyu Smart. -Jujur. -Jujur. -Tanya dulu deh. -Kira-kira gue jadi apa ya? -Joba yang atas-atas. -Pringjes. -Mudia machine. -Namun ya. -Gitu pengen revisi kepanidia. -Apa, kalau prinses itu ramputnya ini blow-anek ke ruang-kurang matang. -Ku udah belo di ija. -Jadi, gue udah udah ke ruang-kurang. -Segu banyak mengharapnya lebih matang lagi blow-anak. -Tempat ini kayak baik pas kita di jepang ya? -Nempat sih, ya. -Jama jeng lah, ya. -Urjeng lah dari segelah gue. -Lum bergera-bergerasa lebih beruntung ya? -Senggak aja sama mereka berdua. -Lum bergera-beruntung. Kau yang udah ending tuh, soal happy. - Di jalan. - Di jalan. - Jalan, menurutkan. - Jalan. - Kutem. - Oke. - Oka baru mulai. - Buyemanda tuh juga terkenal sebagai keren, udah insert banget. - Buyemanda. - Juman gue nanti pertahan. - Jangan gitu terkenal sebagai penghasil, cengkai berkualitas tinggi. Kekayan ini, ini gue sekalian audisiveo. Kekayan ini lah, yang menarik perhatian para pedagang asing. Kapak-apak dari Inggris, Belanda, Portugis, Spano, - India bahkan sampai China. - Oh. - Sili berganti berlabu di pelabuhan Bumi Mandar. - Oke. - Namun, di balik kemakburan tersebut. - Ya. - Rakyat tidak hidup sejarah. - Oh, familiar. - Oh, familiar. - familiar. - Like, like, like, like, like, - Aren't we all? - Aren't we right now? - Kok kayak deja fu ya? - Ya. - Kekayan ini, sorry. - Bumi Mandar atau Bumi Bunder? - Ya. - Bumi Bunder kita nih, sekarang. - Ya. - Nah, kredjian Bumi Mandar ini dipimpin oleh seorang rajai yang kejam, - Oke. - Seraka dan seuan nang-onang. - Jadi itu seorang rajem melarang rakyatnya berdagang cengkai secara bebas. - Oh. - Rakyat hanya boleh menanam dan merawat pohon cengkai. - Tapi tidak memiliki. - Ha! - Ha! - Apak keku. - Ha, kekol lah. - Rakyat, aku tadi ketelan itu tadi. - Menentukan harga jual. Jadi semua sial panen di beli murah oleh rajed dan kerabatnya. - Oke. - Ralu dijual mahal kepada pedagang asing. - Oh! - Oh! - Di dia nih, antak, gua ga sih. - Kalo di film. - Kalo di film itu sebenernya, gede sur kecil aja. - Iya, ya. - Dari ekspresi itu kayak, kayak gua denger di demasutnya. - Cuma yang kita lihat. - Aksotnya. - Aksotnya kita berumpat gimana ya? - Lalu dijual mahal kepada pedagang asing. - Right. - Iya. - Iya, right. Kita tukar asing. Jadi bahasnya bahasnya inggris. - Iya, right. - Kerasanya gua pengen cepet-cep tau azapnya nih. - Daapnya apa di ya? - Iya, iya. - Gua pengennya pasif, oh, kita itu jujus. - Apa, belum japan nih? - Iya. - Rakyat, rakyatnya prouaktif ngak nih, kali yang ini. - Benar. - Rakyatnya prouaktif, ku. - Iya! - Iya, iya. - Iya. Tapi ya, kalau kita berumpat jadi rakyat bumi mandar, merutnya siapa yang bisa gak ketahuan sama raja, jualan cangka di em di em. Kandarinin gak boleh. Tapi kalau kita berumpat nih, kita tunjuk masih masing-masing. Mereka siapa yang bisa menjadi rakyat ini piscik juga ya. - Iya. - Mereka bisa benar-benar jual sendiri. Kita sebut nama personial kita ya, yang bisa. - Oke. - Satu, dua, tiga. - Argan! - Kita sempat nanggan. - Argan! - Karena angkat itu bisa, apa yang menilimuti, suasa sana yang menegangkan. - Iya. - Jemahnya itu dengan kenapa? - Iya, kenapa, nanti. - Suju. - Jadi dia? - Benar, disambil nam nih. Disambil cari koneksi. - Benar. - Boleh bisa kemana nih jual nih. Dan haram leleskan, maksudnya kayak masa, nana-nana kayak gini punya niat buruk. - Iya. - Jalan aja susah. - Apa lagi berbuat buruk? - Tidak mungkin lah terpikir ore. Nenek-neneh dudut ini. - Tak karena kalau nena siir putre sahaja, peot. - Iya. - Kalau ini yang seger. Jadi kalau hanya ada keibuan, gitu, nah mungkin dia menjadi raket dan cula sebelum sebenarnya kayak. - Oh well well. - Mantu siawi juga kan. Semakin tuas, makin dekat sama tuhan. - Ya, akhirin. - Bak, makin baik gitu. - Tak puan, kasih mau berbuat makin buruk. - Itu makin. - Iya. - Ya, ya. - Itu. - Nah, kekayaan kerajaannya bertanggah besar. Semetaran raket hidup dalam kesengsaraan. Sangat, raja memeritakan hukuman mati bagi siapapun yang menentangnya. - Aju. - Aka selamat dong. - Iya, saya mau berkata. - Iya, kan? - Ya, gak ketawan. - Iya. - Banyak raket yang memilih melarikan diri, menggunakan perahu kecil, berharap menemukan negri yang lebih damai. - Mungkin kabur aja dulu ya. - Otau. - Hasteak itu terinspirasi dari lama. - Bari. - Dari bumi mandar. - Dari mungkin memang raket bumi mandar itu udah gini. Kan gue udah bilang. - Iya, ya. - Ya, lalu tuh pada kemana aja sih. - Iya. - Iya. - Atau mereka cuma kayak. - Eh, eh, haki lo, lu cakap makin. - Iya. - Ini bumi mandar dia lagi. - Iya, ya. - Ya, udah ga apa yang mau? - Iya. - Sua, kuliah lu nih, lainnya sekit-kitu aja sih. - Dia ngebesi LPDP ke luar dan menetap di jalan. - Iya, ya. - Rang, ya. - Aduh, rezer, - Risa pengisidang ulang lagi skrimsinya. - Iya. - Itu, kecewa deh. - Dostal banget, lu sekarang tuh. - Ya, selamat. - Lepangan, selalu kan. - Jauh banget dari waktu sidang ulang dulu. - Iya, iya. - Nah, ini jadi buat teman-teman, FYA aja ya. Orang-orang tuh juga udah mencoba untuk kabur dengan perahu kecil. - Iya. - Tapi gloang bang besar laut mandar sering menelan mereka. - Iya. - Iya. - Jadi ya, ya, lu ga bisa kemana-mana. - Ya, ga. - Kesian banget sih di raket mandar. - Iya. - Perahal dong, FYA. - Pake kebercermin deh rasanya. - Kita mau kasihan sama dia disindir dulu, udah diberi. - Iya, gue. - Nah, nah, nah. - Nah, nah. - Waktu-waktu-waktu. - Selain kejam dalam kekuasaan. San Raja juga terkenal raku sakan perompuan. - Oh, oh. - Iya. - Anjana. - Ada satu bagian dari perompuan. - Iya. - Lagi. - Nah, ada dia laguari rasanya gong-gong. - Iya. - Iya. - Kita mau masukin unsur hip hop disitu. - Iya. - Kita udah siap-siap tadi. - Iya, mesti lagi. - Mesti apa-apa di koplo ini ga boleh di rata. - Iya, lalu, mesti berarti kalau hidupnya gimana? - Nusia tuluh. - Iya. - Agar susah dibuka rong ga mulut nih. - Iya, seret ya. Nah, jadi Raja ini memiliki 13 permainan surik 13. - Oh, haria aja cuma 7 julaza. - Iya. - Masuk gua 7 juh tuh, tim managementnya gimana? - Udah ada ada ada. - Gak usah ngomongin tim management. - Iya. - Karena memang ga cuma kita. - Iya. - Ise bagi pendong, ya? Atau pun temen-temen sebagai pemirsa. - Iya. - Raja pun juga punya KPI. - Oh, wow. - Gimana ini KPI? - Dia memengen punya 40. - Apa? - Perpung, wantung, pak. - Pemputin 40. - Pemain suri sebagai bukti kesaktiannya. - Wow. - Gila itu bener-bener definisi buktiin apa ke siapa ya? - Iya. - Housfali dasi banget, Nira. - Bukan. - Cuma ini ga lewat cinta nih masalahnya. - Oh, Pak. - Dibelangin nih. Setiap gua disanti yang menarik perhatiannya, bisa saja diculik dan dipaksat tinggal di istana. - Oh. - Gak sama, gak berdasarkan konsen. - Oh. - Sekarang sih generasi wuk, gak bakalan mau. - Oh. - Gak mau. - Udah ada sosial media, gak pahir alin Raja. - Ini sesuatu sekarang. - Tengkah langsung buat karusel. - Tidak. - Iya. - Pak ke foto-foto yang background-duang. - Iya. - Iya. - Iya. - Terlalu gitu biasanya, - Bekrennya. - Iya. - Jadi, para orang tua tuh cemas, para jadi semen orang diri dan kegelisan menyelimuti seluruh nagri. - Agak gila. - Karena kayak, "Ah, gila nih gua cantik dikit takut dipaksa untuk jadi permain surinya." - Itu ngat siapi banget situ. - Iya. - Gak perdahanan gua, makanya kenapa orang tuh pengen punya pacar banyak? - Gak tau. - Kenapa ya? - Karena ada gak disini yang pacar banyak, - waktu dulu. - Malu pun ada gak aku sih, - gak aku. - Raya orang aku. - P.R.A ini lu boleh bertanya bebas. - Betul. - Kepetulan ini, - terlalu bebas nih nanya disini. - Betul. - Sola gini, ada contoh kasus, - konser kual play. - Iya. - Ketawan viral. - Iya. - Maka ga mungkin gak aku. - Gak, sorry. - Gue tuh jom, gue gini, - Anuh, jom, jom. - Kaga usah lu punya istri banyak. - Iya. - Perkara lu lagi explore Instagram lu nih pas. - Eh. - Eh. - C-c-c-u lagi mantep kan pasangan lu kayak? - Winten. - Winten, ya. - Ada kayak yang base-nya bahwa perkara gitu. Punya temen ga yang kayak gitu? - Iya. - Ada ya. - Oh batu, kayak batu. - Gak berhut gue temen-temen - berhut gue udah bayak, ga mau spikap. - Iya. - Gak mau cepuin, ga mau cepuin. - Gak, tapi kese dari situ gert. - Iya. - Iya. - Jadi, ga apa-apa merut gue, - kalian ga apa-apa ngaku. Tapi kalau besok kayak, - Perungkongan lu asem, itu gert. - Iya. - Iya. - Bahan ras, ya temen lu. - Iya, kan yang risau udah nanya, lo. - Iya. - Iya. - Lagi alas di kesempatan ya, saya ti. - Ga ini udah udah banyak kamera lo. - Iya. - Di kesempatan banget. - Monga mau ngingetin. - Ini udah makin jenong. - Iya. - Mundernya, ya. - Mundernya. - Kita udah sebagai sahabat, - Pak, harus-harusnya tin. - Nah, ya. - Bicapetan di mundurnya. - Iya, ya. - Setelah umur 40-an baru mundur. - Iya, ya. - Ini kecepetan ini. - Ini kecepetan. - Ini kecepetan. - Masa, bukan herlan yang mundur uik. - Kostom apapun. - Salah ya. - Kalo mundur maju, ada aja, bawa nya ada aja. - Ada aja. - Oke. - Nerti ya. - Jadi kita punya raja, raja suka banget amat coca-uik. Nah, disembuha kampung di Lering Gunung. Di duplah seorang nenek tua yang dihormati oleh banyak orang. - Masa, maksudnya. - Oh, kemarin spek lu. - Tadi berikut kafa, makjil kart ini tuh. - Cajau-jauh, keselesti umur numpuh. - Eh, ya. - Gak kayak oh, ciju-jauh, dia bisa artikat. - Ya, ya. - Maksudnya, 7 di under 70. - Betul. - Fahal ya, nana, nana. - Ya, kan, lu masuk 7 di under 70. - Susah, suatu. - 7 di aja masih pendipu dain. 7 di under, 7 di aja udah. - Serbak. - Jadi nenek nih dihormati. Karena dikenal memiliki kemampuan menerawang masa depan. - Jadi, mak malah orang dikegegan lah. - Benar. - Benar. - Menurut. - Watch out. - Ya. - Nenek nena sakti. - Saktnya. - Saktnya ini adalah. - Ini adalah spasal. - Nenek ini, menyangpakan suatu. - Buharamalan yang kemudian menyebar ke seluruh bumi mander. - Oh, apa kaya itu? Amatuh? - Iya, kan aja lu nene. - Nene, gue sih mau banget. - Nene, duku. - Jadi nene, bilang ini. - Soat tuh hari akan lahir gadi sebelia dari raket biasa. Yang akan mendumbangkan raja dan mengakhiri kekuasaannya. - Adih, oke. - Adih, oke. - Eh, butri ya, bukan radini. - Jangan meton actor, kan? - Aku menjiwai. - Kerasanya lama tinkra aja. - Jangan yang paling penting, Girahi. - Ya, nggak sakit roror, amputin. - Iya, ya. - Gue udah dada di pengen nge-blok-blok kayaknya. - Emang, pengen gue ror rasanya ini rambut gue. - Iya, ibu, ibu, ibu, ibu. - Sementara itu udah mana sinen, eh? - Gila, nene, udah selesai lah. - Seritanya. - Sabar situ aja. - Wadah, saya, saya, saya. - Gue dan dan sejah. - Ija. - Eh, dunia lu gue kasih tuh anka dan sampai ngontong tiktok lu. - Iya, kanan titorial gue nene-nene in. - Iya, lo. - Tapi lu bercakurung, ibu, lu udah paling panjang. - Iya. - Ya kalau cerita panjang disini nggak pahpalah ya. - Atau kita mau panjang panjangin bagian rambalannya. - Iya, ibu. - Rambalan lu. - Awa ng-rambal, meyatode rambalan lu. - Eh, itu lebih kek. - Iya, jauh banget. - Iya, caranya gimana kalau lu di panjangin bisa. - Bisa. - Bisa lu, bahwa star bagian lu. - Iya, ternyum. - Bisa. - Jadi, sementara nene udah prediksi, oh nih ada cewe sabin yang bakal ngancurin kerajaan. - Iya. - Keraja juga dimimpiin. - Oh, iya. - Gitu bahwa oh nih ada cewe cantik yang tempat tinggalnya tuh di dalam hutan, yang bakal ngancurin kerajaan gue. - Oh, itu keraja udah mulai ke tarikapir tuh. - Keraja juga insekior, nantah. - Iya, ternyum. - Alih-alih takut, jadi nyamimpi itu membangkitkan naf susang raja. - Oh, sering berburuk ke hutan. Karena mau nyari, mana nih cewe yang dibelang nih mana? - Keren, te tau. - Oh, iya, dibilangnya di hutan, soalnya. - Oh, iya. - Terus rakia pun sampai di larang masuk ke dalamnya, ke dalam hutan. - No, saya ditonjol, ternyum, dibiru. - Bibiru, maksudnya ini ceritanya. - Oh, ya. - Ceritanya biografi lu. - Iya, sama bari aja. - Jadi rakia bukan radini ya. - Iya, kan. - Sari gedein. - Ternyata di jauh dalam hutan terlalu tersebut, memang tersebutnya sebuah rumah panggung kecil, yang diselimuti tanaman peria. - Oh, kayak gimana tuh tanaman peria ya? - Nah, coba Google deh, kalau beria aja ya. - Apakah ini ya, tanaman peria ya? - Mungkin mungkin mungkin mungkin itu. - Ini lebih ke tanaman rasta ya. - Iya, apa tuh. - Kuali, wow, wow. - Tenggal. Dua kaka beradik ya, timpi itu. - Sangkaka bernama Samba, berusia 16 tahun, cantik, lembut dan penukasi. Nah, dan Sangkadi, bahkan adiknya nih, - Oh, gimana? - Gak ada namanya. - Emang nanti adik. - Iya. - Ibu tau ya. - Oke, nah, jadi event attendance. - Ah. - Cepang barat ada 2 menit. - Ah. - Adiknya memang panjang nanti ceritanya. - Oh. - Siapa namanya? - Adik, gak dikasih, gak punya nam. - Baktain. - Baktain. - Jadi kadiknya. - Jadi. - Mereut gue Samba nih mantepanat. - Baktain. - Baktain karena rumahnya sih Samba tertutup tanaman peria. - Oke. - Orang-orang menyembutnya Samba Peria. - Oh. - Dan adik kepapelah menjadi Samba Peria dan Adik. - Oh, kaya. - Samba, gak ini coba pikir peria tuh adalah Adik Samba dan Peria. - Dan Samba, dan Samba, adiknya juga peria kan. - Iya, jadi kalau dibuat film nih, Samba Peria, radini. Adik satu nasa syarati. - Jadi kalau main film pun juga yang jadi tetapi satu, satu. - Di lalu ada peradaan. - Iya, beneran. - Apa yang ini Adiknya namanya gak ada ya? - Jusul gue pernah, sering ini kalau teman-teman pernah dengerin episode rapot - Iya. - Yang gana-langganan kita. - Iya. - Kan tuh kalau mau cik-langganan, oh namanya Bang Samba. - Bang Samba, Pak. - Iya. - Bener, ju. - Apakah Bang Samba? - Dari pada Bang Samba ini persis seperti apa yang gue deskripsikan. - Oke, mau yang Samba gue, pas Samba lo dulu nih. - Samba yang, misalnya Samba Peria ini? - Samba Peria yang gue ini adalah memang kulitnya jujur. - Hawaknya tuh seperti Mausan Set. - Ah, ah. - Ah, ah. - Bening. - Ah, exotis. - Exotis. - Exotis. - Bener kalau di negri yang tropis, - A bit oily. - Oke. - Jadi exotis oily. - Iya, iya. - Iya, iya. - Karena memang kan terpapar sinar matahari terus ya. - Oke. - Itu nabai juga berjuang di jalanan terus. - Iya. - Namanya juga abang ojek. - Iya, iya. - Kalau di buah kurma ya, kali ya. - Bener. - Bener. - Bener. - Bungkit pernah, makin di kurma. - Bungkit. - Bungkit. - Udah cukup di hadapan kita di otak kita, te. - Coba ya, udah. - Iya, udah cukup di situ sih. - Anyway, anyway mereka berdua tuh, pokoknya iedup aja lah berdua. - Iya, ok. - Kompak berdua. - Ini adalah kakadik yang kompak. - Iya, dulu berarti. - Iya, iedip. - Wow! - Iya, bro. - Aduh. - Aduh. - Emang. - Emang. - Adik ini ada aja keberakannya ya. - Makanya kenapa? Adik dipanggilnya adik aja. - Tapi mungkin emang kalau dibuat silampun, adik suka dibelur. - Iya. - Karena kakak kepatalan. - Iya, gany hidupnya tanggany hidup. - Dengeng. - Iya, iya. - Adik itu udah foto berpombot belum sih. - Iya. - Gak primani gue udah bukan adik ini lebih ke desi anuar. - Gue gak sih tau aja. - Tidak, tiba-tiba aja dia ada news anchor nih. - Sudar. - Oke. - Oke. - Adik sih sekarang ada highlightnya ya. - Iya. - Ramput adik ya. - Adik terilai. - Dia tuh waktu itu waktu itu. - Side fly. - Udah ada uban. - Adik tiba-tiba urban. - Nah. - Kok banyak kita kompak, oke. - Kompak para walaupun kurang. - Iya. - Gukan kurang orang ya. - Maksud kurang harta. - Tapi tetep cintat. - Oh. - Nasi ternik. - Satu hari ini ada anjing. - Ada anjing. - Iya. - Mereka ini anjing. - Siapa jadi anjing disini ga da? - Nah. - Siapa jadi anjing ga da? - Kalau dia mau kasting disaya. - Iya, mana? - Bukan di peranan anjing. - Nah, si anjing ini dia makan sepotong talas yang jatoh ketika lo berdua lagi makan. - Oh. - Pala si atot, tak. Anjing gigita. Anjing ini tertarat anjing, si rajakan. - Oh. - Kay orang herdu nih, nenek. - Eh, man. - Nenek, nena. - Nenek. - Jadi mau dimasukin atau dimasukin? - Jadi, anjing itu karena dia makan talas yang jatoh dari kalian yang berdua. Terus itu anjing keraja, si rajakan, duitannya ga ada talas. - Oh. - Duit. - Jadi kulung, jadi dia buat si rajakan. - Boisi rajakan. Kayak, oh, gue ke temuk, berarti di mana nih perompohan. - Pinterdu keraja tapi. - Nah, akhirnya juga rajakan. - Iya. - Nah, akhirnya si anjing itu dimintain sama si rajakan. - Iya, tentu bukan jing-jing. - Gak, gak gitu. - Gue setahin gimana koryonya. - Iya, ya. - Tuhan jing-anjing, anjing-anjing, kini sama nih. - Beno juga rumah kalian berdua. - Oh, aduh. - Maka-maka. - Taka-maka. - Taka-taka tapi senyum. - Oh. - Senang mau dinakin. - Maka apa sih ya? - Iya. - Lebih kau pengen cekirulah sih, buka rajanya kayak apa nih? - Iya. - Tersiap. - Jadi, kadalok di kolir versi radini. - Iya, gak apa-apa di lu kejam yang penting lu sabi. - Iya. - Iya. - Iya bener. - Iya, kan. - Kata-kata-kata. - Nah, terakhir datang nih, ke rumah lu berdua. - Iya. - Datang. Tapi kan memang sambah nih, ya, cowok ino sen aja kan. - Iya. - Dia udah kayak datang. - Eh ino sen, ino sen. - Gak aku banget kan? - Iya. - Wow. - Iya. - Maka-maka. - Lo kalo ikur jah, iya. - Iya. - Lo jam 12 malam. - Wow. - Ila. - Ila. - Radit dan jadik. - Ah, otur raja ngelasi sambah di sini. - Ini. - Raja gitu. - Nah ini di kepala godok. - Sorry kalo gue fitna raja. - Karena disini tuh kayak. - Aduh hay. - Oh. - Jantik sekali dia. - Oh. - Beznya kan kalo udah aduh, kan? - Oh. - Bukh di sana. - Bukh di sana. - Jantik sekali dia. - Bakan ketika di gituin raja sambah kayak. - Isil akan masuk tuan. - Gak ada tuh sensen. Siapa ini orang? - Ada. - Sambah. - Ada. - Benda-benda dia nggak aware sama ini ya? - Bahaya. - Bahaya. - Benda-bahaya. - Benda-benda. - Nah cuma karena si sambah pas notis gue hadir tuh. Ini dari perkaka senya raja nih. Udah mulai ada jipernya. - Oh. - Karena kan sampai info nya kelo. - Iya. - Kalo ada Cui Sabi, bisa bisa gue nih ya kan di colo. - Apa lagi lu juga ngerasal lu sabi ga? - Iya. - Gue gara banget. - Kacau kan, lu ngerasai mau diri lu kan nyampe ya. - Iya. - Siet gue nyampe lagi. - Iya. - Iya tuh lah. - Boknya ngerdu lu nih raja. - Iya. - Iya. - Nah terus, sampai lebih langkah ya. - Momenum ga? - Iya. - Kita tuh tau hari. - Iya kayaknya haus nih semuanya. - Iya. - Iya boleh-bole-bole. - Iya. - Nah, si sambah pari ya, langsung nyuru adiknya kedapur untuk ngambilin air. - Oke. - Masa, mas ambak diru makanya. - Iya. - Terus rusur. - Namun, presidian air minum mereka telah habis. - Iya. - Ahirnya sambah pari ya, mengutus adiknya untuk mengambil air di sungai. - Oho. - Ini bakal kayak seangat aja kejaujau ini adiknya. - Tak apa-apa. - Iya. - Iya, ini ngekosong. - Nah, ngekosong. - In real life, sebenarnya gue nang pertama. - Iya. - Ayo. - Ayo. - Lu nang terair. Lu gue ga sih disuruh makra-kak lu? - Iya sebenarnya ga mau. Tapi kan kenyataan yang terjadi di lapang. Ada di suruh-suruh maka kasih gitu. Loh, loh. Loh tak no option. Iya dong. Eman gitu yang jadi ada. Iya kan. San Tidok langgup. Eh, kenapa boleh dikeluarin? Boleh, boleh. Takutnya tadi numpuk lagi. Takutnya gue takutnya. Tadi ya, gue cuman pungbal. Karena mau ngapak, ada itu kayak. Iya. Iya aja. Karena di baratnya kayak kakak tuh punya kekuasaan gitu loh. Lepih di banding kita yang adik-adik. Tapi gue anak terakhir ya. Ada buah kakak diang. Dek tolong, beli ini. Dek tolong. Dedi di kasus ini kan? Kakaknya tuh kayak mader-mader isu kan. Iya. Kakak ada orang tua lagi kan. Jadi gue juga lukap tu banget. Oh, malah di sambal periahnya. Disambal periahnya. Gue takutnya radini di judge. Mang, gue mader isu. Gak, gak. Disambal periah. Sambal periah. Dan adik. Dan adik. Karena kita kompak banget ya. Kompak banget. Kompak banget. Kompak banget. Kom. Tomboy. Namun badnya begini. Tomboy. Dan ya akhirnya ya udah deh. Lo chari air disungan. Oke. Cuma kan. Lo chari air kan masih ada kendi. Iya. Iya sih. Itu kendi. Sama sih raja. Raja ini. Badi gue mulai tuh ya sih kendi itu. Iya. Di gitu ini. Oke. Di pikir kan mungkin cuma review doang. Pokok ya gitu. Sama raja nya di bolongin. Jahat raja. Di bolongin. Lu gak notis kan? Ya, lu ga. Karena lu ya udah jadi ada yang. Lugo. Iya. Merti kur sikin. Ini dari tadi udah. Gue tadi belum tau. Kata gue adik yang seperti apa? Kata gue tadi udah di depan. Mereka menihkan pelalunya udah di depan yang pelalunya. Nenek udah lagi mikir apa gue jadi kota yang kreator. Kata yang kreator. Saking dia udah gak ada ceritanya lagi di depan yang lagi mikir. Gue tuh udah nyusun story line gue ya. Iya. Gue udah udah nge-dramat. Gue udah gak punya stok shot. Apa dia bunga praktek ramal lah. Iya. Gak temu dia. Nah itu. Jadi ketika lu jalan kesu gak? Iya. Ini juga berut gue ada ya. Ada berut gue berut gue berut gue berut gue feedback. Pertanya itu. Iya. Iya. Iya. Taruh air kan ini kendi. Iya. Pasti angkat kendi nya lah gue bocor. Ha aku mesti gimana ya. Coba aku isi lagi masuk gue terlalu gue. Iya. Gue terlalu ini. Karena ada terlalu polos. Iya. Kalau ada yang udah bisa spikap pasti dia akan spikap. Du kan di. Iya. Apa kecara-cara ya. Untuk nambil dulu mungkin kendi. Iya. Karena gue aja diadanya. Pasti udah tau gak bisa nih bolot tuh balik ke rumah. Iya. Iya. Ini gak bocor nih. Iya. Iya. Karena lu ada kian. Virgo. Iya. Bener. Kayak. Bagaimana gue gak bikin kendi nya? Lebih tajem gitu. Tapi lu ada visi. Tujuh itu. Tujuh itu. Kalau ada yang ini bocor. Mesti gimana ya. Gue fokus banget untuk to air hadir di dalam kendi. Asaah, ada ngan kepikiran. Di situ lah. Tepat teman. Di situ lah. Tujuh ada. Cara si raja untuk mencuri. Sabah pari ya. Karena kata dia kan. Wah mantep nih. Karena adanya udah cabut. Saatnya gue culik nih perempuan. Iya. Di culik lah lu. Iya. Bener ke angkut nih. Ke angkut. Iya. Ke angkut. Ke angkut. Ke angkut. Ke angkut. Ke angkut. Iya kan. Tapi gue udah angkut sih sama raja yang dudut di selalanya tuh. Iya. Ke angkut. Ke angkut. Raja yang ini. Iya. Kalau raja ini bahwa gue kajon kangs. Ke puter puter. Iya. Ke puter puter. Oh puter. Suka main raja puterin raja puterin raja. Dia maksudnya kan tips rumah tangga harmonis. Saya. Saya. Kita juul. Abis ini jangan di laundry. Iya. Tapi jaminnya. Ya, apa. Tapi dia udah di lu. Nggak ganti baju lah. Lu ben buat konsep di sini. Tahu nggak playground. Udah dia beli ngesarian. Ini. Ini mityp yang old. Ya. Lu ngesarian jangan lupa segelang ya. Kri sejai yang ti udah di beli in makan siang kepermalah. Pajar kacok milan dan minuman randang. Iya. Manakan gue makin satu kurang aja nih. Iya. Maksudnya nge-paz bad. Maksudnya raja yang bukem gitu kan. Iya. Engguh udah tipe. Engguh udah tipe. Manak-nak-nak. Makan langsung ambah-paranya juga ada pintarnya. Dia bilang ini, ampun-ampun-ampun. Tuan sebelum-tuan membawa hamba terlalu feo ya. Terlalu. Sebut tuan membawa hamba. Boy ke hamba mengajukan satu permintaan. Oh, negoh dia. Negoh. Raja bilang, apa? Kesehatan gue sekarang. Kita ya. Tersebut. Tertut. Iya, ingin. Jadi sambah ingin membawa beberapa lembar daun peria. Oke. Salah barri itu ngaku keraja bahwa gue tuh suka banget makan daun peria. Oh, ceritanya ngambil dari sini nih. Apa sih kelepapan gitu barri sini? Dan lo bawa ada tu ceritanya. Nah, kata raja kan, approve. Yaudu lu ambil aja tuh daun. Oke. Dp kira tuh daun memang buat dimakan. Oh, sama-sama barri ya. Daunnya di sebab. Dika ya gimana contohnya. Ngambil dari mana tadi tuh? Duh-duh. Dari sini. Tiba-tiba mau jadi jalan. Jalan menuju ke istana kan? Lokasi jajah. Jangan bukan kerasin jalan. Jangan jalan. Gakir-gakir. Semuanya ada bikin video clip gak ya? Kata biasa. Maka di sana. Kata. Gitu. Di masa ini kasih arahin. Kolehnya kayak berserakan. Lu juga sayin adek kalau disurunya. Ada bikin. Gak ada jadi bikin-gak ini oh kurang disapu. Buk, tersi. Tapi gak tau disuruh apa. Haranya sama. Haranya sama. Di arahnya sama. Haranya sama. Haranya sama. Bisa juga disana kesini sih. [Gelok] Tergang kumpen oven. Di mana jauh bacar. Loh, gak setelah kola ini. Dari sini kesana. Itu dia. Kalo betulan batinnya adek sama-sama udah. Stron bawa. Nggak ada batin. Ada pasti tau deh. Maksud gue ke sana. Maka batinnya lu ke batin. Maka batinnya. Pertina-berjalan. Perjalanan. Ada nih. Mungkin gue juga ngangerti di akhirnya gimana supaya tuh kendi. Eh isinya akhir semua nih. Berhasil. Berhasil. Berhasil. Atyku. Ada berhasil. Juman itu problem. Maka itu itu. Maka batinnya. Maka batin. Anak kecil masalahnya cuma perkara gimana nih. Iya. Semuanya sih. Benda. Gak kendi. Bukan di gimana yang indis ekonomi. Kita bisa gaji. Iya. Iya. Jadi kendinya berberber maksimalin banget. Masak kecilnya dia. Danan pola pikir anak kecil. Ah akhirnya nih. Tapi hebat lo. Dia bisa men solv masalah itu. Iya. Maksud gue patut bangga sih. Dan gue patut dikasih namasin. Bermini mumbang. Iya. Atau sprestasi gue. Oke, kita kasih malar galuh. Aik. Masih. Aik. Ada-ada. Patut dikasih namas. Tentu. Tentu. Lu mungkin bisa ga solah sih barat dan lu cari deh. Ya, gue cari. Gue ke dalam mani. Gue ke dalam mani. Gua cari rujah. Gue ke dalam mani. Iya. Udah mana? Apa? Dia cari ide unik supaya tuh kendi. Tata pisi ya bisa air. Iya. Pas yang beruma sepi. Iya. Air buat apa? Pedihe banget. Iya air itu bisa buat ademin umetnya. Ada yang benar-awas sih. Ada yang bisa lebih ke konseran. Ini semua orang pada kemana. Iya. Terus kayak kenapa jadi sepi. Apakah rumpangan raja itu sudah pergi? Kasi ambak kemana? Kaka ada pulang. Ada pulang. Ayo. Ayo. Coba-coba. Kasih di bagian dia triak-triak itu deh. Kasih dia bagian kaka. Iya, coba. Gue suara udah peca belum. Iya. Dia rindu karak terbaang banget nih. Rasa gue masih umur 10, belum akil balik. Oh, belum. Belum. Kaka. Kali itu lebih banyak karak di daftown. Sama semi-ispa. Iya, sama ala sakratu juga sih. Iya. Oke, lebih saya hat kali ya. Kaka di mana? Haa. Kaka. Tidur berunggaga. Kaka, gondong. Gagas. Sardir. Berunggaga. Kaya banyak di bagian berus. Cuman. Dia ngerti ini. Wow. Ada daun berserakan. Yang seperti sebuah tanda. Iya. Tapi itu ada masih belum tau, Cui. Ini tuh kaka. Gue sebenarnya di Culi. Atau air meng dia mau eding atau gimana. Ini banyak spekulasi di situ. Sampai akhirnya ikutin nih. Iya. Sijaknya. Oh, jadi ini. Tunggu. Tahu memang gue reka adegan. Gini ya, gue ikutin. Benar. Gini, kesini, sini. Sini. Pernanyaan gue kalian berarti ga kenapa pakai sendal budget gini sih? Haa. Penarikat. Warga, sendal warga. Iya. Kita suka nraja. Ada malik mandik ya, gini. Sorry, ga ada kastak. Sendal-sendal kalau lagi ke zen. Iya, gue nampak. Tanggini, bisa gini nih. Benar-benar. Biasa lebih dari sini ditanya piminyaknya mau apa? Iya. Iya. Aroma enak sih. Iya. Ini sih dari, ambas ini gue udah los. Iya, udah ga? Iya, ya. Iya, ini nanda ini ga benar. Feedbacknya buat sambal itu. Kalau ada pikir ini, ada pengarang, ada unya. Iya. Tapi-tapi-tapi ada yang tadi. Aya-ya. Lo udah, lo nyampa nih ke kerajan sih, raja. Oh, tengka gue bilang bonding-s bonding. Kera butuh-bonding kan? Lalu, sang addict. Dan ini dua hari ya temen-temen. Dua hari sampai akhirnya, lo nyampa ke istana, tempat sambat. Terus kan luda kayak, kak kasa mbak. Dengar ya, dari kan dia kasa mbak, kasa mbak. Kasi mbak. Ayah anggamang ke bauan Cek. Pemembak. Karena ini gue tuh kenal bang sampa kan di era belum ada aplikasikan. Jadi gue bener-bener yang dari jalan bang bang beneran ini gitu. Dan supaya abang tuh kambak. Itu apakah gue jadi bang sampa. Nah kalau ini kasa mbak-kasa mbak gitu. Nah kok berulang kali dipanggil. Bukan wajah atau pun suara sampa paryayang muncul. Laman. Ini terhadap ya. Safer wajib. Gini nih terhadap kalau stuck dibabalannya sendiri. Siiradah di atas istana. Dia menunjukkan wajah kucing. Kepatannya. Kepatannya. Untuk gue baca diri gini. Kasa mbak. Dan ada kaca di sini. Siiradah di. Dia kucing di gini. Kaya gini. Kanunjukin gini. Tapi bukannya kayak kelihatan gitu ya. Kasi gak kelihatan. Kasa mbak kucing gini. Bungkir banget. Itu raja juga kayak. Aduh, aduh datang lagi nih. Ya. Apa ya? Jumbalnya ya. Jadi ada kucing. Jadi kita kayak pemerpert. Iya. Nah terus ya. Adik sampa paryayah tidak menyerah. Duh, duduk. Tentu deh. Kasa mbak. Kasa mbak. Tolong tunjukkan kaki kasa mbak. Patis kaki begitu. Gak juga gak ngerti nih. Mungkin dia ngeras semua. Gak sab. Nah. Dan ada. Gak ada paragraf kelewat kan? Gak ada. Bukannya ada jom situasian yang memiliki. Mampai entah ditunjukkan kaki kakannya. Dan jadi sampa juga. Eh. Adik sampa paryayah bener-bener dipermainkan oleh sampa raja. Kali ini raja memperlihatkan kaki belakang kucing. Jadi udah dari mukha. [Muah] - Diaишin bukan bakal berkaki-daki-daki. - Kayaknya? Menurut gua kanakannya kenyata. Pertara nom estoy còn мож dam. - Tapi jangan lalu menjadi mencelt. - Mencelt. - Kau bisa bisa ada di otak lo yang lehcik itu? - Aku cing. Kakinya aku cing. - Itu apa ya? - Pertanyaan gue apa sih, Sharad jadi raja? - Iya. - Sharad jadi pemimpin. - Wah! - Wah! - Wah! Wah! - Gue lihat lihat nena abis nonton maten aja. - Iya. - Nena sih di kesempatan terakhir hidupnya dia pengen sih. - Kritis gitu akhirnya. - Kalo nena berbeda-beda gak ada fungsinya. - Itu! Jadi udah gak ada takut. - Iya. - Kalo nena udah nanti. - Udah nating tulu sih. - Tapi dia di sana posisi-sini. Adanya gak tau, kalau sebenarnya sambat itu dijulikan. - Iya. - Iya. - Nenek sambatnya di yang resuara adanya juga ada adanya. - Iy hanga bisa kelihatan untuk juri gitu. - Iya. - Tapi dulu tau apa adanya bilang ini. Baiklah, karena kakak sudah tidak sudi menemui ku, maka aku akan pulang ke rumah. - Aduh! Aduh! - Aduh! - Dekon di sini. - Tahan, tahan ya. Aku akan menanam sebuah pahun keler di sini. Jika bataan pahun keler ini layu, berarti aku sedang sakit kras. Dan jika bataan pahun ini mati, tanda-nya aku sudah tiada pisas. Mereut gua adanya, Zola. - Bersetih. - Benar. - Gue nrayakan sedi gua. - Iya. - Gua aguh diri. - Iya. - Jadi gua berkarya loh, dengan menanam ini. - Iya. - Ini karya gua nih tanaman ini. - Iya. - Iya. - Iya. - Kayaknya lu emang udah ngamau nih, makguin. - Iya. - Jadi adanya, gak ada di pikirannya. - Kalau dia tuh kecilik, Cui. - Gak. - Di pinggirnya, apa sih, kak lu, kita udah ngafit in barang banget. - Iya. - Kalau masih mau tu sini, gitu aja. - Iya. - Tapi di ada itu juga polos ya. - Iya. - Jadi mungkin, gak ada pikiran kecilik gitu tuh. - Iya. - Gak ada. - Gak besok mungkin juga karena nih, gua sebagai adik-nya, kak, gua gini, siapa yang mau nyulik gitu. - Iya. - Iya. - Gak gua kayak gini, apapun tu, kan? - Iya. - Bagaimana ya? - Iya. - Iya. - Iya. - Jadi kayak, "ha, ngapun, tulik sih last option?" - "ha, last option, last option, last thing." - "Last option, last thing." - Gitu. - Nah jadi, si adanya sedi, air adinya bergegas pergi dengan perasaan sedi dan kecewa. Sambah dari gua belum cuma bisa nangis-nangis doang. - Iya. - Nah. - Soat tuh hari kereni. Mungkin kan udah ada luka nih ya. - Iya. - Di hadis Sambah ya dan kayak anjer. Gimana nih supaya adik gua jangan sampai RIP. - Bener. - Soat tuh hari nih, kebetulan raja lagi pergi berburu. - Oke. - Si Sambah, berutahu apa? Dia masak nasi dan lau pahuk sebanyak-banyaknya. - Oke. - Karena dia udah nyata nih. - Ya, kamu tahu apa? - Aset! - Dia udah juga, Tahir, ya. - Nah, udah udah. - Harin kepegiran kan. - Caranya gimana? - Iya. - Pertama dia masak dulu, dia resakan, "Oh, nanti pas pulang, oh, masakan ada, oh dia ada di rumah nih si Sambah." - Oke. - Nah, nah, nah, nah, nah. Dia amat, dayang-dayang yang lain. - Iya. - Mandi, guys. Mandi. - Oh, maver. - Buker. - Karena dulu kalo belum ada internet. - Bela. - Serim jadi pahbarnya di bagi bar. - Iya, saya lalu pahbar gua ada. - Masih diri jauh, oke, kalau ya, guys, pahbar you. - Ayu, ayu. - Di Sambut dengan kembira lagi. - Pahbar. - Iya. Pokoknya mereka mandi ini disungai, emang gak jauh dari istana. - Iya. - Tapi kapa radaya yang sedang asik mandi, Sambah pariah membuka cincin pernikahan pemberian sangraj. Jadi dibuka media. Terus dengan senjata ngejatuhin ke dalam sungai. Terus ngetolong sama dayang. - Oh. - Dito. - Ah, tidak. - Jadi kita hukasi kerjaan itu ya. - Reka, adekan, oh, bawa. - Tidak. Cincin pernikahan pemberian raja terjatu. Tolong, tolong bantu aku carikan. - Pelong. - Ah, ada. - Cincin, cincin aku. - Iya. Kita pasti netre india. - Itu pun dijadin. - Iya. - Gora inspektor Vijay. - Iya. - Datangin, udah tuh. - Iya. - Kasi kasi. Ini sekalian buat casting, loh. - Iya. - Iya. - Lo jatuh. - Terus gimana lo, mengkonfinz, para dayang-dayang itu, - untuk oke deh gue cari in gitu. - Iya. Cincin, cincin aku dari raja jatuh. Tolong aku, tolong aku, aku takut banget. - Nanti raja marah sama aku. - Ibu diri dayang singen. - Mampus gue. - Iya. - Kita singen. - Bukan. - Bukan. - Bukan. - Dan yang ini, dia makanan santik. - Iya. - Gak kalau hasil castingnya kayak gini, gue menuntut yang seri berikutnya ada casting tau utama. - Gue merasa ada peluang sih. - Lo kayak gini. - Lo, lo jadi sambal aja. - Cuma deh. - Dan gimana cara jatuhin, - sampai akhirnya tuh dang dayang mau bentuin lo. - Mulai dari gini. Is. - Ternyata. - Terus. - Mungkin gak dregasta. - Iya. Lo, gini, lo mana ya? - Kaman ya, emang kayaknya lagi. - Gue ga lebih percaya. - Ya, kita lo. - Badi. - Kita tau apa video, kan? - Badi. - Badi. - Badi. - Lalu, gini. - Lalu, gak. - Lalu, bukan dia. - Iya. - Lalu, ada. - Ini lagi yang mendengar dari yang ini. - Sepet. - Iya. - Pernjara lagi sendirian mandi. - Iya. - Pandis sendirian. - Iya. - Neliat. - Iya. Gini, gue mana? Gue penfitinas, bukan dia. Jadi lo, gini. - Gue nari-ari. - Gue nari-ari. - Ini perlu. - Pelo omnya. - Pelo omnya untuk masus dan cinta. - Pelo omnya. - Pelo omnya. - Di sini. - Di sini. - Iya. - Iya. - Terus baru, gue kayak. - Aduh ga, wat nih. - Iya. Kalau rajam, betau, Jinjinilong. - Eh, ini dari pada lu semua kan, nah. - Benar-benar. - Ini lo bantuin gue, deh. - Iya, iya. - Gak lu, kan. - Benar-benar. - Itu gue. - Itu gue jadi daya yang sebelah, kan? - Lo, tahir dimana, Naro. - Itu kayaknya di area sana. Cuman kalau tau sama parengnya radini, eh, tau deh. - Haa. - Ah, lu tau. - Benar sih terlalu sinetronnya. - Ah, pencetihnya di sini. - Ah, ah. - Ah, ah. Terlalu sinetronnya, terlalu hir. - Dan, deh, enggak tuh juga. - Iya, ini kalau ilang, - kita juga bisa berhati. - Iya. Sejujurnya menggitu makanya akhirnya, sedang-dang ini bantuin si sambang. - Oke, oke. - Oke, gue cari. - Iya. - Iya. - Tet gue ada, ya, kita akan balik lagi ke dan, deh, enggak. - Iya. Nah, di kesempatan tersebut lah makanya sih sambang ini. Oke, aku kan kabur sekarang juga. - Kabur lah, ah, enggak. - Iya. Semeternya dayang-dayang inocene itu lagi. - Mana ya, cili. - Iya. - Bereku dayang-dayang, lah ada salahnya sama sekali. - Iya, baik deh. - Tertahket, akan get back lagi ke dayang. - Iya. Lu nyebeker rumah, lu nyebeker rumah, terus lu ngeliat. - Ada lu yang mengsakin, gitu. - Oke, ya. - Ada lu yang mengsakin. - Maksud. - Gue perlu meragain sakit, enggak. - Nah, boleh balikkan lu bisa macam karakter. - Nah, kita apa gue? - Gue tergantung apa kalau cuman lagi tepalkan gini. - Iya. - Iya, ngeliat di perut gini. - Infolain saat. - Asofra, sih. - Asofra, sih. - Tauci itu baik banget, ya. - Jadi jauh paksin he. - Iya, yang baik. - Maksud, ada pesan moral, ya. - Iya, banyak, banyak. - Boil mencakin. - Iya. - Nggak. - Mulu, ya. Sekolah itu mulu deh. Oke, ya, benar. Dan akhirnya sih sama tuh ngejolasin kalau lucu gue sebenernya di Julikogung. - Oke. - Gue ga ada sama sekali penyimpan. Cuma sih sama, ini udah tau wah, ini raja onpinter. - Iya. - Pasi dia akan balik nih keruman ini. - Iya. - Dan ngecek lo ngapain kabur. - Taka-taka. - Cuma memang sama, semakin pintar teman-teman. - Untuk. - Nah, coba disuara-suarain dulu gue liek nih. - Coba ya. - Tidak, gue tuh ternyataunya gini loh. - Nah, gue tuh ternyataunya gini loh. Kenapa ada langsung satu keluarga gini? - Gini. - Yang sama. - Lu pintar gue kaga. - Iya kan? - Tadi kan yang kendi bocor itu lu ada namanya gue kaga. - Iya. - Itu terlalu banyak tuh djenjangnya. - Sarang gue makanya ke luar ngegri. - Iya. - Tadi kerja disitu. - Iya. - Sudah sih? - Gak keletan kayak adekan dong gue sendiri. - Iya. - Ada jatok kasus, kan? - Ada kabur ke luar ngegri. - Iya. - Nah akhirnya sih sambar periyaya itu. Dia meracik berapa busy cabai merah dan daun keleror sebanyak-banyaknya. - Oke. - Lalu mencamperkannya dengan air dan abu dapur. Hingga menyerapai adonan kue. - Oh. - Oke. Nah, sesuai dugaan sambar periyaya datengannya berant si rajat. - Ini dia anak-anak. - Muda bukan caram. - Oh disini. - Bukut-bukut dapur terbang terbang gini. - Cabe di camper dengan daun. - Iya. - Enaknya dia jari-jari jemari di Mplonibusiskan. - Iya. - Agan sebenarnya jari-jemari. - Lagi santa ini. - Agak lembadi duk. - Nah, terus benar-benar rajat dateng ke rumahnya. - Uoi. - Mera dia nih. - Mera sama lu langsung disiram adonan itu kemata-nya rajat. - Wow. - Gila. - Sambah beriyasi agak visioner ya sebelum ada pepper spray. - Dia udah bikin bingin. - Oh my God, dia udah pemerintah. - Jika lupa. - Gila. - Aheerah sekarang udah digunakan sebagai perifantif keselamatan juga ya. - Keran. - Keravo. - Sambah berberapa. - Keran-keran. - Di sini apa? Sambah periyaya namanya Sambah periyaya dan adik adalah adik. - Adik. - Bener. - Bersiom ini juga belum menemukan trobo sana. - Tapi diken di adik sih udah sih. - Adik. - Kaya di mana cara menutup loba diken di ya. - Sekarang ada. - Ada tu menye? Kita nggak tau caranya nih. - Ada. - Kaya ada. - Kaya ada. - Kaya ada. - Kaya ada. - Tiktok emang fokusnya di sustainability. - Ya. - Ya. - Kaya ada. - Ya. - Kaya ada. - Ya. - Ya. - Ya. - Di belakang aja gitu ya. - Ada bagian. - Sama menanam pohon ya adik ya. - Bener. - Bersiom ini bagian. - Tapi semua yang baik-baik sih. - Bermas. - Bermas. - Jee. - Ya. - Bermedan. - Nah, rajapun menjerit menahan rasapri sambil mengusap kedua matanya. - Ini menerit gue emang udah takdir ilahi ya. - Iya. - Karena perkara disemperut kematanya, rajat langsung buta. - Wow. - Wow. - Silah. - Nenek, neneek. Neneek, sumbangsinya apa? - Enek apa yang yang diberisan di zoom jadi kaya pas gitu. - Ya. - Kaya. - Ya. - Ya. - Dabar ada suaranya ini gari di pusatnya. - Iya. - Jadi ini udah berberberber. Apa kalau peribasat jatok ke timpatan ga? - Sudah jatuh terdapatan. - Iya. - Tangan ga? - Bener. - Bener itu ya. - Iya. - Oke, oke. - Ape 2 kali lah ini ya. - Jadi udah ga bisa lihat. Terus sambil terus mengusap matanya, i si Raja Jalan. Tahan pada sadarin, kakinya terpoleset dan dia jatuh terjungkal ketana. - Wow. - Raja yang kej itu, taiwasa ketika. - Wow. - Bentar. - Wow. - Bentar, bentar. - Tidak kalau jadi tips untuk apa ya, kayak tips di TikTok tutorial gitu sih lumayan ya. - Iya. - Cuma gitu aja terus cepet. - Kaya waktu ya sih. - Ini kayak film udah di bil, bil be, endike malas. - Lalu. - Tidak ternyati aja gitu. - Endike banget. - Nah, ini enggak sekelo. - Tapi. Teradanya yang kej itu, taiwas ketika. Karena tulang lehernya patah. Aki banget terbentur, betul besar di bawah tangga rumah sambal. Untungan disibat, berhenti ya. - Persebernya mau. - Jatuh. - Eh dikasih tau ya, siapa enar obat tuh? Jangan jangan adik itu. - Karena jangan dia hubungannya nih ya. - Poho. - Terus dia juga, pokok sestainnya bilang di air. - Pokoknya alam lah. - Alam lah. - Jadi, lalu, lalu, lalu, lalu, lalu. - Jadi, lalu, lalu. - Pokoknya semua yang unsur alam. - Iya. - Kalau bukan belum dicatet, cuman catet nih. - Iya. - Jadi ada sumbasa di iner. - Iya. - Morevisi dong yang yang sudah tercata. - Wow! - Rafiti sejarah. - Jangan ditambah-tambah di burang-burang. Tapi gak sejarah bisa ditulis ulang. - Ah! - Ah! - Keren! - Ah! - Memang mener. - Ah! - Kita kulis sejarah yang baik. - Ah! - Dan sekarang ke depan. - Iya! - Taka, taka. - Taka, taka. - Taka, taka, taka. - Taka, taka. - Taka, taka. - Kalau sejarahnya sama gimana? - Nah. - Diarada sama gimana? - Ketika, rajah itu meninggal. - Iya. - Dan satu raket akhirnya tau. Kalau, rajahnya akhirnya RIP, kan sama. - Iya. - Samba di alu, lekon. - Di alu, kenapa gue ke lulu? - Kenapa gue ke lulu? - Karena lagi mau mau gini-alu kan? - Oh, nanti, senanya. - Di alu, luka. - Iya. - Terus di bilang nih sama satu raket. - Ini lu jadi raja aja. - Iya. - Tahu samba bilang apa? - Apa? - Gak mau. - Gue mau hidup sederhana aja, madih gue. - Agih, lagu. - Aya, sas. - Agih. - Mening banget. - Iya, kan. - Gue banget kan penukas sederhana. - Agih. - Tuh, lu itu lagi lu udah merem. - Meningen. - Lagi. - Lagi lu, lu jangan fitang fina istri gue. - Iya. - Iya, istri gue suka sederhana. - Loli aja. - Iya. - Muka ja, game begini. - Ha, gue ga. - Hame gitu loh. - Gih, apa nya cukup aja? - Iya. - Lo bikin satu orang di ruangan ini ga percaya dongnya Indonesia. - Tapi nya semua ga raba. - Beraka ngerasa war, mereka percuma. - Iya, gitu. - Matakan seberat dongnya Indonesia. - Gitu. - Gak mau dia. - Gak mau orang. - Gak mau dia semakin hidup. - Teran bersama adiknya di rumah peninggalan orang tua. - Back to the old house ya. - Muka aja kayak kecewa. - Kek kecewa. - Tapi udah metode actor sih. - Udah kedalaman, yes aku hero. - A-a-a aku tetep. - Gitu aja. - Gitu aja. - Bagi kecewa. - Patakan harusnya dia bisa. - Take back this palace. - Iya. - Itu lagi tanah aku kuasai. - Iya. - Gue. - Gue enak. - Bukan raja yang kejap ratu. - Dia tuh udah siap ngebayangan dia punya satu ruang herdu. - Ini kan di sana. - Iya. - Bisa kerli-kerli icah herdu. - Itu dia apa yang dia. - Ada walking closet. - Iya. - Spada. - Udah kokotendekku. - Terapi sejak saat itu, umumiman darh akhir kembali dama. - Iya. - Dan kita sambah paryai dikenang sebagai legenda tentang keberanian. - Iya. - Kasih sayang dan keadilan. - Sampai paryai dan. - Bila. - Tapi masih misteri siapa yang selajutnya mau mimpin. - Iya. - Apa ya? - Bisa jadi nana ya? - Bisa nana ya. - Tapi emang udah usia segini masih bisa jadi pemimpin. - Iya. - Memang. - Memang nana Arias. - Nana Arias. - Oke, tebut-tebut. - Surpriz performance. - Effek rumah kaca. - Biar adik dapat perra. - Iya. - Jadi nggak ketemu ya. - Dari yang bisa beri dari donging ini kan yang bisa ditangkap apa sih? - Iya. - Menurut gue kayak obubungan kaka adik ya harmonis. - Iya. - Yang solid. - Bisa jadi. - Biasanya kaka adik itu bisa tercarai hubungannya karena kayaan. Orang tuanya. - Iya. - Kalau ada warisan. - Iya. - Memang kalau ada solid sih. - Karena untuk survive ya. - Untuk menacarannya kita bisa survive. - Kita harus bergantangan. - Itu. - Apalagi mau dalam kalian ini nih pari-apar iya. - Benda. - Mungkin kita beri ke kayaan alam ya. - Iya. - Bala lagi makirah ludik. - Iya. - Ya, menguasai ini semua adik. - Ini ada kasih sama berpariah dua. - Gak ada. - Yang ribom pun juga bingung. - Gak ada. - Bacomah tadi yang gue bilang. Gue mau dong kita gede pek ke daing dayang. - Iya. - Sambal paryat. Harum nih. - Harum guanginya. - Iya. - Ekt namanya. Dia lagi jalan ke desa desa. - Iya. - Ketemu lah dayang dayang. - Yang pati. - Manih ya cincin deh. - Maksin dari dia. - Maksin dari dia. - Pertanyaan gue. - Kamu lu jadi dayang dayang. - Wow. - Yang dia pun juga keculi. - Iya. - Bukut dia disangapang apain. - Iya. - Dan bagi itu dia dengan ketulis ngati mau bantu nih. - Ada cincin pernikan orang itu. - Iya. - Bicani semalamnya gitu di kapur. - Iya. - Dan tau-tau kayak dia terkenal. - Oh lo mau. - Gue. - Gak. - Gue ini. - Oh, di sapan. - Duh, di du, di du. - Garak-garak lu gue masuk. - Angin anjir. - Iya. Gue. - Kalau gue, benar ya. - Kalau gituan lu gimana? - Kalau kan ada pesan gue doba. - Tau. - Iya lah. - Iya lah. - Kada ngapaknya gue mau ngapak. - Kata. - Masuk gue. - Kita sama-sama korban. - Itu dia. - Iya. - Di situ, merdut gue sambah ada manusianya. - Maksudnya manusia kan jadiin sempur. - Iya. - Iya. - Iya. - Mereka mengorbankan. - Daing daing. - Iya. - Daing daing lu berlahuat seperti. - Bayang-bayang. - Daing. - Lu salah, hu. Di amabe. - Tapi kan begitu akhirnya rajanya RIP. - Semua bisa fri lagi. - Lo, tapi daing daing daing. - Bipangnya juga ada yang Virgo, dan dem. - Lu gak tau-tau kan? - Dan gue udah pernah kriput, naya, naya. - Dan gue udah pernah naya. - Kriput para. - Ada beberapa yang deng ini. Itu harum namanya karena gue juga. - Tengoknya yang nabi. - Bisa, saya teredit sih. Tapi di situ gue bisa spikap. Gue aja ngga dengannya. - Iya. - Iya. - Tentu gue ngga panggil. - Jadi, jadi seberai semua tuh adik tau. Kayak kebetulan udah hati. - Iya. - Yang ga persisap. - Tak, tapi pertanyaan gue gini. Dah yang dayang nih, belasan. - Dia ngumpul punya grup WhatsApp. - Iya. - TN-nya. - Judul grup WhatsApp ya, bak. - Ex-corpansi gue. - Ex-daya. - Ex-daya. - Ex-daya. - Ex-daya. - Nol 1 gitu. - Iya, iya. - Lu ketemu amat dangdaya. - Iya. - Lepang-lepang apa. - Iya, coba. - Kau orang orang yang udah lupa ongin, dia minggu ke selamatan peluasan diri. - Iya. - Oke. - Ini cintanya dangdaya ngumpul. - Iya. - Ini juga ada dari dangdang.com. - Iya, apa sih? - Iya. - Oke, apa sih? - Media, media. - Berang di batin temu ya. - Iya. - Gak, gak sih. - Nggak ada yang ini. - Eh, kita nggak temen nana ya. - Iya, iya. - Tapi gue akan fokus. - Iya. - Gue akan fokus, guys. - Piar. - Tertama, thank you banget udah banduin. - Itu itu. - Itu itu. Gue mau terima kasih banget sama kalian semua. Waktu itu gue nggak bisa jelasin bahwa itu adalah strapegi atau gue mau bebaskan kita semua. Gue nggak bisa jelasin itu di awal. Tapi thank you banget dan Alhamdulillah. - Iya. - Iya. - Ada Alhamdulillah. - Iya, iya. - Di resit abis di Alhamdulillah di Cee. - Iya, iya. - Iya, iya. - Iya, dia Cee. - Alhamdulillah. Kita semua udah bebas, guys. - Bebas, mau ngapain? - Loh, liat-ngap. - Udah, udah enggak ada yang tepuk tangan. - Iya. - Karena semua ini, kayak. - Iya. - Nggak. - Semuanya punya konsern masing-masing. - Iya, iya. - Iya. - Buat tangan, ya dulu. - Oke, ini ada pertanyaan dari dangdang. - Iya, jadak. - Ada yang tepuk tangan. - Ada yang tepuk tangan satu. - Oh, iya. - Ya, ini karena anak lupa. - Iya, iya. - Gue sebagai ensin. - Iya. - Mungkin, dayang dayang yang waktu itu sempat nyari. Lelat-muka udah nge-knot banget. Dayang dayang waktu sempat nyari ensin-sin ada pertanyaan. Lu cinta jadi dayang dayang gitu. - Iya, iya. - Ada pertanyaan apa nih? - Hai, hipe untuk orang yang ngebuat lo. - Dari zur, sampai maaf, lu cari. - Iya. - Mereka tuh. - Iya. - Nggak kenal waktu, ampet. - Tapi giminta infois aja lah. - Ah! - Situ jujuh. - Tapi pertanyaan gue lumau di kungkung raja terus-terus. Sandisi, Ksa, Zolimi, Mauungga. Sabar. - Sabar. - Lalu pilih yang mana? - Saj ini ga beneran, Pak. - Jadi apa sih? - Udah bebas lo. - Kita udah bisa ngapain aja loh. - Nggak, berarti ini lebih bagus. Pres convers dari pada video casting. - Iya. - Jadi, ya, setelah dikanya ini. - Ini mungkin gak gini-gini. - Iya-oh. - Pada ujungannya kita bebas. Jadi, apa mungkin cara awalnya aja? - Iya, yang teripo ini ada nipu lo. Tapi kan maksudnya. Dia tuh pengen disajarin sama kayak Judmotiya. - Akart ini gitu. - Kayak di tuh. - Iya, itu udah baru. - Biar ini yang biar kayak nanti tuh dimana di tempat ini nih. - Apa namanya? Sulau, apa yang sih mana? - Udah rak. - Barak. - Barak, barak, barak. - Biar ada patung dia gitu, pama kan. - Kayak, kayak gitu. - Ada sejujnya. - Sejujnya dia lo. - Eh, sejujnya. - Sejujnya. - Iya sejuj. - Gak setiap sejuj, setiap sejuj. - Iya, betul. Tapi yang penting bisa dipetik lah ya. - Iya. - Banyak hal baik dari adiknya. - Juga. - Belika adik. - Terajah jangan diconton. - Iya, jangan diconton. - Oke, kita akan tetap gini. - Apa manfaat menek? - Nah, gitu. Pingin tau banget sih. - Manfaat menek. - Karena menek ini berberberberber. - Iya, ini ada orang yang. - Tapi menek itu berfungsi untuk sugesti. - Sugesti positif ya. - Sugesti positif ke raja. Tapi punya barteror juga ya. - Karena gara-gara ini jadi ati sepulter. - Kali takut ya. - Gak, memang kayak black campaign dong. - Bener. - Iya, bener. Jadi kayaknya diasih. - Masih belum nemu sih yang spesifik guna nena ya. - Selain untuk hasilkan anak dan juju. - Karena apa yang gak nena-nena kan gak dan anak dan juju. - Iya sih. - Gak apa-apa sih ini, - Lu juga gak mas diharus selalu ngambil peran juga kan? - Bener. - Peran di abis itu gak mesti gede ya kan? - Bisa mesti aja. - Iya, ya. - Yang penting ada. - Jadi memang saya ada orang yang memang di depan. - Iya. - Ada yang suportnya dari belakang. - Gak apa-apa, apa-apa. - Dan dia juga akan perwakilan beberapa generasi ya. - Iya. - Iya. - Kayaknya. - Oh, lengkap ini sebagai satu keluarga gitu ya. - Iya. - Dan ada anak-anak ada. - Bapak ada. - Coba juga ya, rajian cerita, rajian mati. - Rajian jahat. - Rajian juga yang musing ambil kesimpulan. - Eh, bagus ada kesimpulan, kan? - Iya, kan. - Coba kesimpulan, ya. - Mab, udah terima rapat episode yang lain belum. Di cek apa di cek? Kita mau di bagi rapat selanjutnya ya. - Main kak. - Rappah.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Diskusi dimulai dengan obrolan ringan tentang rapor, KPI, dan bonus di kantor.
  2. Para peserta memeriksa kostum dan membahas karakter yang akan mereka perankan dalam sebuah dongeng.
  3. Cerita berlatar di Bumi Mandar, sebuah kerajaan kaya rempah yang dipimpin raja kejam dan rakus.
  4. Raja melarang rakyat berdagang cengkih bebas, memonopoli hasil panen, dan menculik perempuan untuk dijadikan permaisuri.
  5. Seorang nenek sakti meramalkan bahwa seorang gadis biasa akan menggulingkan raja.
  6. Ramalan itu terdengar oleh raja, yang kemudian berburu ke hutan mencari gadis tersebut.
  7. Dua kakak-beradik, Samba Peria dan adiknya, hidup sederhana di hutan dan menjadi pusat cerita.
  8. Anjing raja menemukan mereka setelah memakan talas, yang membawa raja ke lokasi mereka.

Summary:

" Para peserta, termasuk Reza dan Awi, memulai dengan canda tentang pekerjaan, seperti rapor, KPI, dan bonus, sebelum beralih ke topik utama: sebuah dongeng interaktif. Mereka memeriksa kostum satu sama lain, dengan beberapa peserta berperan sebagai karakter seperti abang-abang atau putri, sambil bercanda tentang penampilan dan peran. Cerita yang mereka bangun berlatar di Bumi Mandar, sebuah kerajaan fiktif yang kaya akan rempah cengkih.

Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang kejam dan serakah, yang melarang rakyatnya berdagang secara bebas dan memonopoli semua hasil panen untuk dijual mahal ke pedagang asing. Rakyat hidup dalam ketakutan, dan raja juga dikenal suka menculik perempuan cantik untuk dijadikan permaisuri tanpa persetujuan. Seorang nenek sakti kemudian meramalkan bahwa seorang gadis biasa akan lahir dan menggulingkan kekuasaan raja.

Ramalan ini memicu keinginan raja untuk menemukan gadis tersebut, yang diyakini tinggal di hutan. Di dalam hutan, hiduplah dua kakak-beradik, Samba Peria dan adiknya yang tidak disebutkan namanya, yang hidup sederhana namun penuh kasih. Seekor anjing milik raja menemukan mereka setelah memakan talas yang jatuh, dan situasi ini mulai mengarah pada pertemuan dengan raja.

Diskusi diwarnai humor dan interaksi spontan, dengan peserta sesekali menyela untuk bercanda tentang kehidupan pribadi atau pengalaman serupa.

FAQs

Podcast Rapor adalah sebuah acara yang membahas cerita-cerita rakyat atau dongeng, seperti kisah Bumi Mandar, dengan gaya santai dan interaktif.

Tokoh utamanya adalah Raja kejam yang memonopoli perdagangan cengkih, seorang nenek sakti yang meramal, dan Samba Peria beserta adiknya yang tinggal di hutan.

Isu utamanya adalah ketidakadilan dan penindasan rakyat oleh raja yang menguasai perdagangan cengkih, serta perjuangan rakyat untuk bebas.

Seorang nenek sakti meramalkan bahwa seorang gadis biasa akan lahir dan menggulingkan raja.

Raja berburu ke hutan untuk mencari gadis yang disebut dalam ramalan, karena ia penasaran dan bernafsu.

Samba Peria adalah seorang gadis cantik berusia 16 tahun yang tinggal di hutan bersama adiknya, dan menjadi pusat cerita.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.