Komunitas Antourage Bali memperkenalkan lomba lari khusus untuk digital nomad asing, yang menimbulkan kebencian dan tuduhan rasis dari masyarakat Indonesia karena mengecualikan peserta lokal. Meskipun penyelenggara menjelaskan bahwa acara ini ditujukan bagi orang-orang yang bekerja secara digital dari luar negeri, banyak warga Indonesia merasa dihakimi dan diasingkan. Fakta menunjukkan bahwa Antourage memiliki acara lain yang inklusif, namun acara digital nomad ini menjadi pusat perdebatan karena eksklusi eksplisit. Perilaku orang asing di Bali, seperti tidak membayar atau mengganggu masyarakat lokal, menunjukkan tren ketidakpatuhan dan rasis yang memperparah situasi. Ini menunjukkan bahwa kebijakan eksklusif tersebut bukan hanya masalah satu acara, melainkan bagian dari tren lebih besar yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap aturan dan kultur lokal. Sebagai respons, Festival Hidup Lah Indonesia Maya hadir sebagai ruang diskusi terbuka tentang isu-isu sosial dan inklusi, memperkuat kesadaran akan keadilan dan keberagaman di Indonesia.
disini arhitu pelayan Indonesia mai kali ini kita akan ngomongin sesuatu yang sedang rame
jadi ada sebuah raning kelapat, komenitas selain namanya antourage bali
mereka ini bikin lombal hari
lombal harinya ini katanya mereka untuk digital nomet
kemudian lombal harinya ini tidak mengijinkan orang-orang Indonesia untuk ikutan
acara ini bikin mereka mulai
di Indonesia, orang Indonesia tidak bisa ikutan
langsung lah orang-orang ini dituduh rasis
oleh banyak sekali orang di Indonesia
kok bisa sih
boleh-buleh ini bikin acara lari di Indonesia
tapi orang Indonesia tidak boleh ikutan
cuman boleh-buleh doang, kok bisa
ini kan Indonesia
masa Indonesianya di exclude gitu
ini rame sekali, dan ini kontroversial sekali
jadi mari kita bahas selamat datang di hidup lah
Indonesia mayan
udah lama sekali gue gak bikin siner hidup lah Indonesia mayan dalam format video
tapi ini timingnya pas, waktu ini juga ada
dan kelihatannya bisa langsung gue naikin ke platform-platform
baik itu di Youtube atau pun di Spotify
kita akan ngomongin soal kasus yang tadi baru aja gue bahas
kasus ini viral sekali, rame sekali
dan bahkan sampai titik dimana
organisernya yang adalah dua orang belanda
itu kabur kesingapur, katanya disingapur
dan gak bisa balik ke Indonesia
di larang oleh dirjian ke emigrasian
untuk kembali ke Indonesia
gue cuman untuk cerita narasi uturnya
jadi ada sebuah komunitas, namanya Anturaj
Anturaj ini bikin banyak acara
ada beberapa acara, mereka bikin
acaranya berbagai macam
kegiatan, gak cuman lari doang
lari adalah salah satunya
yang lainnya gak pernah jadi masalah
yang ini jadi masalah
mereka bikin
salen tranning gitu lah
intinya mereka lari entah 5k entah 10k
kemudian sumahnya, sumah peserta itu
pada pakai headphone
headphone-nya ini isinya musik-musik dugem
tapi kalau dari keluar kayak asik sendiri gitu
pernah musiknya dari sini
ratusan orang ikutan lari ini
dan
lari ini jadi rami
bukan cuman kara dia kemudian nutup jalan
tapi karena ternyata orang Indonesia
gak bisa ikutan
ada banyak screen capture dari
pembicaran yang terjadi di WhatsApp
yang naya ke permukaan
di situ ada di alok orang modaftar
suksitanya lo orang mana
orang Indonesia oh gak bisa
harinya adalah untuk digital nomet
dan ini membuat banyak sekali
orang marah, oh kok rasis banget sih
gimana ceritanya
acara lo dibali
Indonesia
orang Indonesia gak boleh kita
yang boleh kita cuman boleh doang
wani gak bener ini
rame banget
saking rame nya kayak yang tadi gue bilang
dua penyelengarannya
kabur
ke singapur
dan akhirnya bukan cuman komentar itu
jadi gak aktif
semua acara-acara lari lain
yang lagukan oleh
gue juga
organizer-organizer yang juga boleh
akhirnya dibatalkan
atau ditunya hingga waktu yang tidak bisa ditentukan
itu yang terjadi
sekarang kita akan ngomongin
sebenarnya rasis ngasih yang merekalah kukan
benar atau salah
yang merekalah kukan
bolehkah
orang-orang boleh ini
bikin acara lari yang
tidak mengijinkan orang Indonesia untuk ikutan
atau yang harus benar gak boleh
nah itu yang akan kita bahas
nah
informasi tambahan yang penggukasi tau
terungkaplah
fakta di media sosial
yang bisa kumpulin, yang bisa lihat
bahwa memang
acara-acara lain yang di selenggerakan
sama antorasi ini ada banyak
dan acara-acara lain itu
mengijinkan orang Indonesia untuk ikutan
dan menurut orang Indonesia yang ikutan
orang-orang antorasi ini
gak rasis
sebenarnya gak ada
gak ada perasaan rasis
gak ada indikasi
mereka di rasisin
normal-normal aja
yang digital nometron ini
akhirnya jadi masalah
karena yang inilah orang-orang
Indonesia gak boleh ikutan
pada akhirnya
antorasi sempet bikin penyataan
kami muhon maaf
kalau
kami menyinggung perasaan banyak sekali orang
tidak di niatkan seperti itu
kami memang punya banyak acara
acara-acara lain orang Indonesia boleh ikutan
cuma acara ini memang di niatkan
untuk
digital nomets
kurang lebihnya itu
kayak ada orang dari luar negeri
tinggalnya di Indonesia
tapi sebenarnya kerjanya di luar
dan mereka kerja secara digital gitu
jadi kayak
ada orang Australia tinggalnya di Bali
tapi kerjanya di Australia
dia kerjanya secara online
terus
mungkin ada designer yang tinggalnya di Bali
jadi di Indonesia
dari mereka serikat
atau kerjanya
ada orang yang
kerjanya gig ekonomi
jadi gitu di akuntan gitu
tapi dia kerjanya dari Indonesia
sebenarnya
kerjanya di Inggris
di UK gitu misalnya
dia bilang
acara ini tuh khusus untuk orang-orang itu
untuk kata-kata
ekspat-ekspat
yang berkomunitas
dan punya satu kersahan gitu
kami juga pernah
waktu itu bikin acara
khusus perempuan
dan tentukan
nama acara itu perempuan
laki-laki yang nggak bisa ikutan
terbuka karena kami
seksis
acara yang mendidisan
untuk perempuan
gitu kan lebihnya
nah
dari penjelasan ini
sebenarnya
kita bisa menilai
ogong artisi
maksudnya seperti apa?
ya kan
misalnya
dalam rangka
hari kartini
ada lari 10K
untuk para perempuan
laki-laki naftar
saya pengen ikutan dong
namanya siapa
namanya owan-kurnyawan
sorry, gendernya apa?
saya laki-laki
omak-af nggak bisa ikutan
ini untuk perempuan
aja
apakah acara itu
kemudian seksis
yang nggak
karena memang
dalam rangka hari kartini
atau mesakan
dalam rangka hari ibu deh
kita ngomongin perempuan
ke perempuan deh
dalam rangka hari ibu
ada lari 5K
untuk para ibu
terus
yang single-single
perempuan-perempuan
juga yang pencengel
mau ikutan
yang nggak bisa
karena memang acara ini
untuk orang yang
udah punya anak
atau misalnya
nih
contohnya
di jepang di Tokyo
ada komunitas
Indonesia dong
orang Indonesia
ini berkumpul
misalkan
jadi kayak
asosiasi diaspora
Indonesia
Tokyo gitu
asosiasi diaspora
Indonesia Tokyo
asosiasi diaspora
Indonesia
adit
namakan komunitas adit
ada komunitas
adit namanya
ya itu diaspora
Indonesia
yang ada di Tokyo
adit ini
bikin acara
halal-bihalal
isinya
ya orang Indonesia kan
karena
dihalal-bihalnya
mereka kan ngomongin
soal udah lama
udah berapa lama di Tokyo
sekolahnya
di mana di Indonesia
oh mungkin
sama
mau gue juga
gue keledi bukian juga
sama ut
gue baru tahu gitu
terus itu di jepang
kerjanya apa
ini adalah
asosiasi
orang Indonesia
yang ada di Tokyo
orang lain
mau ikutan nih
orang Tokyo bilang
ada
hitoshi
hidomi gitu
saya mau ikutan dong
halal-bihalal adit gitu
ya komunitas
asiat adit ini
asiat adit ini
bisa bilang
lain ini kan
ini tempat
orang Indonesia
pada ngumpul gitu
apakah kemudian
siadit ini
jadi salah
sebenernya
enggak juga
karena kita ngerti gitu
dan asosiasi
kayak gitu
ada banyak sekali di Indonesia
nah
apakah
serta merta
adit itu rasis
orang yang mengijinkan orang Indonesia
itu kekukutan
enggak karena
karena ini peruntukannya
untuk orang Indonesia gitu
kalau misalkan ada orang jepang ya
ya bukan adit namanya
nanti adit
bikin acara juga
adit bikin acara di mana
misalnya acaranya
adalah
Indonesian Culture Night di mana
si adit ini
mengundang
seniman
dari Indonesia
misalkan ada
sterampu mudion
panji-preguaksoro dateng
terus ya gitu
hidian dateng
terus menganggung
terus udah mengundang semua orang
untuk ngasih adni Culture Indonesia seperti ini
ada juga kayak gitu
yang bisa mengelibatkan
orang orang jepang
untuk ikutan acaranya
adit
tapi yang ini tuh
halal lebih halal
orang Indonesia gitu
sehingga
lah kalau misalkan
misalkan disini ada orang jepang
juga berarti enggak
cocok gitu
enggak sesuai dengan konsepnya
ya
sampai titik ini
kita bisa ngerasa
hmm
gua ngerti kenapa anturas
bikin acar seperti itu
namun
ya
udah udah ebu
oh gua supaya cukup benar-benar
oh gitu
namun
yang kita musti liat
acara ini
dari konteks besarnya
yang jadi masalah
di Bali
selama ini
adalah orang-orang asing
yang
tidak menghormati
tidak mengindahkan
dan tidak peduli
dengan masyarakat Bali
ini
nyata dan sudah terjadi
begitu lama
orang-orang asing
yang ada di Bali
kelakuannya
emang
udah mulai kurang ajar
udah bukan
cuma 1-2 kejadian
ada orang asing
makan di restoran
atau di warong Indonesia
nggak mau bayar
bukan cuma 1-2 kali
ada orang asing
tinggal di subokos-kosan
kabur nggak mau bayar
bukan 1-2 kali
ada orang asing
nyuri baju atau nyuri
sesuatu nyuri barang-barang
dari warong-barang Indonesia
dari toko-toko di Indonesia
nggak ada di Bali
ini kejadian berkali-kali
dan kejadian berkali-kali
juga
acara-acara
dilakukan tanpa ijin
acara-acara dilakukan tanpa
secera tidak rasmi
dan mereka lakukan itu
karena mereka
memang tidak peduli
dengan otoritas
dan otorannya
nggak ada di
Bali, ini adalah sebuah tren, dan ini yang musik kita sadari dari perspektif yang lebih besar.
Karena dari perspektif yang lebih besar, kita bisa menilai,
emang orang-orang bule yang banyak ada di Bali ini, banyak yang rasis dan banyak yang kurang agar.
Dugaan gue ini diperkuat dengan banyaknya orang-orang bule yang ada di Bali, bule Bali.
Orang-orang yang ada di Bali, dan yang ada di Bali, yang menyadari tren ini.
Mereka jusru jaring gak enak, karena mereka jadi keletan jelak.
Gue juga orang bule, gue juga orang ngasih, tapi gue gak kayak gitu,
telakon-telakon lo yang kayak gitu membuat gue terancam di generalisir, seperti itu.
Perlukan gue menghormati kultur Bali, gue menghormati aturan Bali,
gue gak pernah makan gak bayar, gue gak pernah ngontrak gak bayar.
Cuman orang-orang ini tuh berantakan kelakwanya dan sembarangan.
Nah ini lah konteks umum yang musti di sahadari, memang ada praktek rasis dari bule-bule kurang agar ini di Bali.
Dan karena ini lah kelakuan antourage kemudian jadi berbeda, makanya sebuah konteks itu musti punya frame yang jelas gitu.
Sekarang kita ngelati ini, kita menyadari bahwa apa yang antourage lakukan ini bukan insiden tunggal,
tapi bagian dari sebuah kecendurungan yang terjadi di Bali.
Kalau kita ngeliat itu, sendiri terpisah kayak gak salah antourage kayak gitu,
permasalannya orang-orang kayak gini ada banyak dan antourage ini memang gak ngurus ijin.
Ngurus ijin acaranya itu gak ada,
sementara mereka lari nutup jalan dan segala macemnya arrogancinya keliatan
dan arrogancinya mereka itu dengan lari sembarangan, gak ngurus ijin, kemudian nutup jalan,
gak memikirkan persen orang lain, kemudian ekskludin orang Indonesia sesuai dengan trend yang saat ini berjalan di Bali.
Ini lah kemudian yang membuat apa yang antourage lakukan itu berbahaya.
Lagipulah pada saat yang bersamaan,
yang gua ngerti lu bikin komunitas yang isinya orang asing.
Tapi selama itu dulu lakukan di Indonesia, apalagi mengingat ada kecendurungan orang bule yang sembarangan,
sebenernya ruginya dimana sih itu membiarkan orang Indonesia ikut lari juga gitu.
Contoh, tadi gua ngomongin soal di jepang ya.
Di jepang itu udah stand up video Tokyo.
Ada, ada komunitas stand up comedy Indonesia di Tokyo, ada isinya orang-orang Indonesia yang tinggal di Tokyo dan suka stand up.
Tapi, kalau pun itu isinya orang Indonesia, gua cukup yakin.
Kalau ada hidioshi nakatabilan, gua pengen ikutan stand up dong, orang Indonesia pasti akan terbuka, ya buhle, ya ga apa-apa.
Memanginin komunitas kita, tapi dia kan senang hati, itu oke ga apa-apa gitu.
Di masir, di kairu ada stand up panel Egypt, orang-orang Indonesia yang tinggal di masir bikin komunitas stand up.
Isinya memang orang-orang Indonesia semua, tapi, kalau pun ada orang masir yang bilang,
gua pengen ikutan open-mic dong, ya nge-restepping dong sih juga belum.
Ya ga apa, oke aja gitu. Kenapa? Ya karena, kenapa harus ditutup gitu?
Ini open untuk siapa pun, apa lagi, karena gua ada di tempat lu.
Menurut gua, anturas itu bukan cuma tidak sensitif, karena ga ngebaca tren yang sedang berada di Bali.
Karena ga mungkin mereka ga tau, itu sangat sering dibahas lah di Bali.
Gue yakin jadi pemicaran antar expa juga. Bukan cuma mereka insensitif, mereka borderline arrogant.
Dengan berfikir, mereka bisa bikin acara di sebuah pulau, ga mau, dan ga mengijinkan untuk mendapatkan orang-orang yang ada di situ.
Sekarang keduginya apa? Acara nya kan lari, bukan acara sharing gitu, bukan duduk barang-barang segitu.
Hey cerita dong, lu udah berapa lama tinggal di Bali? Gua orang balik, ya lumah, ini kan untuk di. Kenapa kaya gitu, kan acara lari-lari gitu.
Acara lari, bahkan menurut gua dengan mengijinkan orang Indonesia ikutan lari di acara tersebut.
Lu melagi timasi, lu sebagai bagian dari komunitas besar yang ada di Bali.
Nah, arrogant sih ini lah yang menurut gua kelihatan, dan memang harus kita ku.
Gue bilang harus ya, harus kita ku, emang-emangnya orang boleh arrogant, yang berfikir orang Indonesia itu di bawah mereka, secara strata.
Yang berfikir mereka bisa semahunya dan sembarangan. Dan kaya gitu banyak banget, banyak banget, gua mau cerita sesuatu ya.
Yang saksinya banyak, saksinya banyak. Gua titu lagi nonton Fibah World Cup di Indonesia arena.
Latvia lagi bertanding, terus ada pendukung Latvia duduk di area kurus, yang harus dikosongin.
Pertama asyerenya itu nyamperin tuh, "Excuse me, you're not allowed to sit here."
Eh, pergiluh gitu. Asyerenya ngaduk ke security.
Pak, itu mereka ngamau, pindah itu berlanah baru duduk di situ.
Sampai nama security, "Excuse me, you're not allowed to sit here."
Dua kali kayak gitu, "Gua aku tersinggu, gue samparin. Get your ass up, you're not supposed to sit here."
"Who are you? I'm an Indonesian, this is my place, you're not supposed to be here. Get up now."
Get up now! Terusnya gitu, dia sempat ada 3 orang Latvia, mereka nengok ke belakang.
2 orang Latvia semua, kan? Suka bilang, "I don't care, they're not violating the rule, you are violating the rule."
"If you want to sit, you're not allowed to sit here."
Okay, get your ass up, we're gonna go there and I'm going to tell them they're not supposed to go there.
Saya mereka kayak takut dan bingung gitu, bukan takut sih, mereka bingung gitu.
Terusnya mereka satu dunia kita pergi. Terus mereka berdiri gitu.
Terus gue tungguin, mereka kayak yang nunggu gue pergi, dia pikir gue ga pergi, gue tungguin gitu.
Terusnya gitu, "Go, go, but people over there, we're gonna go there, go, let's go together."
Kita jalan gitu, "You're not allowed to sit here" gitu.
Oh, but no, "You're not allowed to sit here" gitu.
Saya bilang, "Apa, ada panital di situ?"
Ini orang-orang ini, 3 orang ini, ini gue usir karena mereka gak boleh duduk sini.
Jangan biar yang orang kita duduk situ, iya bahwa sebenarnya ga bisa kasih tau.
Ya, mereka bisa duduk, enak-enak-enak bisa gue pergi.
Udah susah saya mereka pergi, mereka duduk, terus gue balik lagi.
Terus panital ini, "Bang, makasih, bang banji udah nunggu mereka."
Terus gue, gue bukan menolong mereka.
Gue sembel sama orang arah-orang ini, bule-belai ini arogan, mereka pikir-pikir-pikir,
mereka bulit, sebenarnya kelebih baik daripada kita, sebenarnya kebelingat,
ngelanggar aturan yang ada di negara kita.
Siapa mereka?
Emang banyak orang-orang arah-orang seperti itu.
Dan menurut gue itu lah yang terjadi di sini.
Kalau pun mereka tidak sombong dan tidak arah-orang dan tidak rasis,
mereka tetep lalai untuk menjadi trany yang serang berlaku di bali.
Di bali memang lagi banyak, kayak gini-kini orang-orang kurang agar ini,
yang rasis sama orang Indonesia, memang lagi banyak.
Kobi bisa mereka bikin acara mengaksud orang Indonesia,
disaat mereka tahu kondisi lagi, kayak gitu.
Itu yang jadi masalah.
Dan itu lah kenapa mereka salah.
Itu aja dari gue.
Bener-bener kalau lu suka dengan senior komentar sosial kayak gini,
mungkin lu suka dengan festival hidup lah Indonesia, Maya.
Tangan 15 agus di sini adalah penyelanggaran ke-4 kali ada festival hidup lah Indonesia, Maya.
Festival sosial komentar.
Festival komentar sosial.
Yang akan membahas isu isu sosial yang serang berada di Indonesia.
Festivalnya selalu terdiri dari monolog, selalu terdiri dari musik, stand up dan juga talk show.
Kali ini monolog kebangsanya adalah kondoleh pahok.
Pahok akan bikin monolog minimal 30 menit, memontret fenomena di Indonesia.
Kemudian musiknya dari 2013, stand upnya dari Andri Sakti dan Benar Manalu.
Tok shownya adalah gue akan talk show dengan bagi Lemuria dan Kanya Cita.
Gue akan ngohos dari awal sampai akhir.
Kalau pengen nonton, lebih bisa nonton secara langsung atau nonton secara live streaming,
tiketnya ada di locket.com.
Sekarang lagi tiketnya ada di locket.com.
Untuk nonton langsung isi sasil first, tau gue per video ini dibuat.
Live streaming masih bisa lalu beli dengan harga 37 menerburu.
Sekarang lagi lalu buka locket.com, cari hidup lah Indonesia, Maya.
Terima kasih banyak, kita ketemu di episode berikutnya.
Bye bye!
Podcast Summary
Key Points:
Komunitas Antourage Bali mengadakan lomba lari khusus untuk digital nomad, yang menimbulkan kontroversi karena mengecualikan warga Indonesia.
Acara tersebut dituduh rasis karena membatasi peserta Indonesia, meskipun penyelenggara menyatakan tujuannya untuk kelompok digital nomad asing.
Penyelenggaraan acara tersebut tidak melibatkan izin resmi dan mengakibatkan penolakan dari masyarakat lokal, serta batalkan acara lain yang diatur oleh komunitas tersebut.
Fakta menunjukkan bahwa Antourage punya banyak acara yang mengizinkan peserta Indonesia, tetapi acara digital nomad menjadi isu utama karena eksklusi eksplisit.
Perilaku eksklusif dan arah-arah orang asing di Bali, seperti tidak membayar, menyusup ke toko, atau menutup akses publik, menunjukkan tren rasis dan ketidakpatuhan terhadap aturan lokal.
Komunitas seperti diaspora Indonesia di Tokyo atau Jepang justru mengadakan acara terbuka yang inklusif, menunjukkan bahwa eksklusi di Bali tidak sesuai dengan nilai komunitas global.
Penyelenggara Antourage dilihat sebagai tidak sensitif terhadap tren rasial di Bali, bahkan menunjukkan perilaku arrogan dengan mengabaikan aturan dan keberadaan masyarakat lokal.
Festival "Hidup Lah Indonesia Maya" diadakan sebagai respons sosial untuk membahas isu-isu inklusi dan keadilan di Indonesia, menawarkan ruang diskusi terbuka.
Summary:
Komunitas Antourage Bali memperkenalkan lomba lari khusus untuk digital nomad asing, yang menimbulkan kebencian dan tuduhan rasis dari masyarakat Indonesia karena mengecualikan peserta lokal. Meskipun penyelenggara menjelaskan bahwa acara ini ditujukan bagi orang-orang yang bekerja secara digital dari luar negeri, banyak warga Indonesia merasa dihakimi dan diasingkan. Fakta menunjukkan bahwa Antourage memiliki acara lain yang inklusif, namun acara digital nomad ini menjadi pusat perdebatan karena eksklusi eksplisit.
Perilaku orang asing di Bali, seperti tidak membayar atau mengganggu masyarakat lokal, menunjukkan tren ketidakpatuhan dan rasis yang memperparah situasi. Ini menunjukkan bahwa kebijakan eksklusif tersebut bukan hanya masalah satu acara, melainkan bagian dari tren lebih besar yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap aturan dan kultur lokal. Sebagai respons, Festival Hidup Lah Indonesia Maya hadir sebagai ruang diskusi terbuka tentang isu-isu sosial dan inklusi, memperkuat kesadaran akan keadilan dan keberagaman di Indonesia.
FAQs
Acara lari tersebut tidak mengizinkan orang Indonesia ikut, yang memicu keluhan bahwa ada diskriminasi terhadap warga lokal.
Karena acara tersebut dirancang khusus untuk orang asing yang bekerja secara digital, tanpa mengizinkan peserta dari Indonesia, yang dianggap tidak adil dan mengecualikan masyarakat lokal.
Tidak, komunitas tersebut mengatakan acara tersebut khusus untuk digital nomad asing, dan telah memperjelas bahwa banyak acara lainnya mengizinkan peserta Indonesia.
Acara tersebut dirancang khusus untuk orang asing yang tinggal di Indonesia namun bekerja secara online, seperti pekerja digital atau freelancer dari luar negeri.
Tidak, banyak acara lain yang diselenggarakan oleh Antourage memperbolehkan partisipasi dari orang Indonesia, menunjukkan bahwa kecualian hanya ada pada acara lari digital nomad.
Ada tren dari orang asing yang tidak menghormati aturan lokal, kurang peduli terhadap masyarakat, dan melakukan tindakan sembarangan, seperti tidak membayar atau menyalahgunakan ruang publik.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.