Go back

RASIS BERLARIAN DI BALI

from Hiduplah Indonesia Maya

18m 17s

RASIS BERLARIAN DI BALI

Komunitas Antourage Bali memperkenalkan lomba lari khusus untuk digital nomad asing, yang menimbulkan kebencian dan tuduhan rasis dari masyarakat Indonesia karena mengecualikan peserta lokal. Meskipun penyelenggara menjelaskan bahwa acara ini ditujukan bagi orang-orang yang bekerja secara digital dari luar negeri, banyak warga Indonesia merasa dihakimi dan diasingkan. Fakta menunjukkan bahwa Antourage memiliki acara lain yang inklusif, namun acara digital nomad ini menjadi pusat perdebatan karena eksklusi eksplisit. Perilaku orang asing di Bali, seperti tidak membayar atau mengganggu masyarakat lokal, menunjukkan tren ketidakpatuhan dan rasis yang memperparah situasi. Ini menunjukkan bahwa kebijakan eksklusif tersebut bukan hanya masalah satu acara, melainkan bagian dari tren lebih besar yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap aturan dan kultur lokal. Sebagai respons, Festival Hidup Lah Indonesia Maya hadir sebagai ruang diskusi terbuka tentang isu-isu sosial dan inklusi, memperkuat kesadaran akan keadilan dan keberagaman di Indonesia.

Transcription

2564 Words, 16238 Characters

Indonesian
disini arhitu pelayan Indonesia mai kali ini kita akan ngomongin sesuatu yang sedang rame jadi ada sebuah raning kelapat, komenitas selain namanya antourage bali mereka ini bikin lombal hari lombal harinya ini katanya mereka untuk digital nomet kemudian lombal harinya ini tidak mengijinkan orang-orang Indonesia untuk ikutan acara ini bikin mereka mulai di Indonesia, orang Indonesia tidak bisa ikutan langsung lah orang-orang ini dituduh rasis oleh banyak sekali orang di Indonesia kok bisa sih boleh-buleh ini bikin acara lari di Indonesia tapi orang Indonesia tidak boleh ikutan cuman boleh-buleh doang, kok bisa ini kan Indonesia masa Indonesianya di exclude gitu ini rame sekali, dan ini kontroversial sekali jadi mari kita bahas selamat datang di hidup lah Indonesia mayan udah lama sekali gue gak bikin siner hidup lah Indonesia mayan dalam format video tapi ini timingnya pas, waktu ini juga ada dan kelihatannya bisa langsung gue naikin ke platform-platform baik itu di Youtube atau pun di Spotify kita akan ngomongin soal kasus yang tadi baru aja gue bahas kasus ini viral sekali, rame sekali dan bahkan sampai titik dimana organisernya yang adalah dua orang belanda itu kabur kesingapur, katanya disingapur dan gak bisa balik ke Indonesia di larang oleh dirjian ke emigrasian untuk kembali ke Indonesia gue cuman untuk cerita narasi uturnya jadi ada sebuah komunitas, namanya Anturaj Anturaj ini bikin banyak acara ada beberapa acara, mereka bikin acaranya berbagai macam kegiatan, gak cuman lari doang lari adalah salah satunya yang lainnya gak pernah jadi masalah yang ini jadi masalah mereka bikin salen tranning gitu lah intinya mereka lari entah 5k entah 10k kemudian sumahnya, sumah peserta itu pada pakai headphone headphone-nya ini isinya musik-musik dugem tapi kalau dari keluar kayak asik sendiri gitu pernah musiknya dari sini ratusan orang ikutan lari ini dan lari ini jadi rami bukan cuman kara dia kemudian nutup jalan tapi karena ternyata orang Indonesia gak bisa ikutan ada banyak screen capture dari pembicaran yang terjadi di WhatsApp yang naya ke permukaan di situ ada di alok orang modaftar suksitanya lo orang mana orang Indonesia oh gak bisa harinya adalah untuk digital nomet dan ini membuat banyak sekali orang marah, oh kok rasis banget sih gimana ceritanya acara lo dibali Indonesia orang Indonesia gak boleh kita yang boleh kita cuman boleh doang wani gak bener ini rame banget saking rame nya kayak yang tadi gue bilang dua penyelengarannya kabur ke singapur dan akhirnya bukan cuman komentar itu jadi gak aktif semua acara-acara lari lain yang lagukan oleh gue juga organizer-organizer yang juga boleh akhirnya dibatalkan atau ditunya hingga waktu yang tidak bisa ditentukan itu yang terjadi sekarang kita akan ngomongin sebenarnya rasis ngasih yang merekalah kukan benar atau salah yang merekalah kukan bolehkah orang-orang boleh ini bikin acara lari yang tidak mengijinkan orang Indonesia untuk ikutan atau yang harus benar gak boleh nah itu yang akan kita bahas nah informasi tambahan yang penggukasi tau terungkaplah fakta di media sosial yang bisa kumpulin, yang bisa lihat bahwa memang acara-acara lain yang di selenggerakan sama antorasi ini ada banyak dan acara-acara lain itu mengijinkan orang Indonesia untuk ikutan dan menurut orang Indonesia yang ikutan orang-orang antorasi ini gak rasis sebenarnya gak ada gak ada perasaan rasis gak ada indikasi mereka di rasisin normal-normal aja yang digital nometron ini akhirnya jadi masalah karena yang inilah orang-orang Indonesia gak boleh ikutan pada akhirnya antorasi sempet bikin penyataan kami muhon maaf kalau kami menyinggung perasaan banyak sekali orang tidak di niatkan seperti itu kami memang punya banyak acara acara-acara lain orang Indonesia boleh ikutan cuma acara ini memang di niatkan untuk digital nomets kurang lebihnya itu kayak ada orang dari luar negeri tinggalnya di Indonesia tapi sebenarnya kerjanya di luar dan mereka kerja secara digital gitu jadi kayak ada orang Australia tinggalnya di Bali tapi kerjanya di Australia dia kerjanya secara online terus mungkin ada designer yang tinggalnya di Bali jadi di Indonesia dari mereka serikat atau kerjanya ada orang yang kerjanya gig ekonomi jadi gitu di akuntan gitu tapi dia kerjanya dari Indonesia sebenarnya kerjanya di Inggris di UK gitu misalnya dia bilang acara ini tuh khusus untuk orang-orang itu untuk kata-kata ekspat-ekspat yang berkomunitas dan punya satu kersahan gitu kami juga pernah waktu itu bikin acara khusus perempuan dan tentukan nama acara itu perempuan laki-laki yang nggak bisa ikutan terbuka karena kami seksis acara yang mendidisan untuk perempuan gitu kan lebihnya nah dari penjelasan ini sebenarnya kita bisa menilai ogong artisi maksudnya seperti apa? ya kan misalnya dalam rangka hari kartini ada lari 10K untuk para perempuan laki-laki naftar saya pengen ikutan dong namanya siapa namanya owan-kurnyawan sorry, gendernya apa? saya laki-laki omak-af nggak bisa ikutan ini untuk perempuan aja apakah acara itu kemudian seksis yang nggak karena memang dalam rangka hari kartini atau mesakan dalam rangka hari ibu deh kita ngomongin perempuan ke perempuan deh dalam rangka hari ibu ada lari 5K untuk para ibu terus yang single-single perempuan-perempuan juga yang pencengel mau ikutan yang nggak bisa karena memang acara ini untuk orang yang udah punya anak atau misalnya nih contohnya di jepang di Tokyo ada komunitas Indonesia dong orang Indonesia ini berkumpul misalkan jadi kayak asosiasi diaspora Indonesia Tokyo gitu asosiasi diaspora Indonesia Tokyo asosiasi diaspora Indonesia adit namakan komunitas adit ada komunitas adit namanya ya itu diaspora Indonesia yang ada di Tokyo adit ini bikin acara halal-bihalal isinya ya orang Indonesia kan karena dihalal-bihalnya mereka kan ngomongin soal udah lama udah berapa lama di Tokyo sekolahnya di mana di Indonesia oh mungkin sama mau gue juga gue keledi bukian juga sama ut gue baru tahu gitu terus itu di jepang kerjanya apa ini adalah asosiasi orang Indonesia yang ada di Tokyo orang lain mau ikutan nih orang Tokyo bilang ada hitoshi hidomi gitu saya mau ikutan dong halal-bihalal adit gitu ya komunitas asiat adit ini asiat adit ini bisa bilang lain ini kan ini tempat orang Indonesia pada ngumpul gitu apakah kemudian siadit ini jadi salah sebenernya enggak juga karena kita ngerti gitu dan asosiasi kayak gitu ada banyak sekali di Indonesia nah apakah serta merta adit itu rasis orang yang mengijinkan orang Indonesia itu kekukutan enggak karena karena ini peruntukannya untuk orang Indonesia gitu kalau misalkan ada orang jepang ya ya bukan adit namanya nanti adit bikin acara juga adit bikin acara di mana misalnya acaranya adalah Indonesian Culture Night di mana si adit ini mengundang seniman dari Indonesia misalkan ada sterampu mudion panji-preguaksoro dateng terus ya gitu hidian dateng terus menganggung terus udah mengundang semua orang untuk ngasih adni Culture Indonesia seperti ini ada juga kayak gitu yang bisa mengelibatkan orang orang jepang untuk ikutan acaranya adit tapi yang ini tuh halal lebih halal orang Indonesia gitu sehingga lah kalau misalkan misalkan disini ada orang jepang juga berarti enggak cocok gitu enggak sesuai dengan konsepnya ya sampai titik ini kita bisa ngerasa hmm gua ngerti kenapa anturas bikin acar seperti itu namun ya udah udah ebu oh gua supaya cukup benar-benar oh gitu namun yang kita musti liat acara ini dari konteks besarnya yang jadi masalah di Bali selama ini adalah orang-orang asing yang tidak menghormati tidak mengindahkan dan tidak peduli dengan masyarakat Bali ini nyata dan sudah terjadi begitu lama orang-orang asing yang ada di Bali kelakuannya emang udah mulai kurang ajar udah bukan cuma 1-2 kejadian ada orang asing makan di restoran atau di warong Indonesia nggak mau bayar bukan cuma 1-2 kali ada orang asing tinggal di subokos-kosan kabur nggak mau bayar bukan 1-2 kali ada orang asing nyuri baju atau nyuri sesuatu nyuri barang-barang dari warong-barang Indonesia dari toko-toko di Indonesia nggak ada di Bali ini kejadian berkali-kali dan kejadian berkali-kali juga acara-acara dilakukan tanpa ijin acara-acara dilakukan tanpa secera tidak rasmi dan mereka lakukan itu karena mereka memang tidak peduli dengan otoritas dan otorannya nggak ada di Bali, ini adalah sebuah tren, dan ini yang musik kita sadari dari perspektif yang lebih besar. Karena dari perspektif yang lebih besar, kita bisa menilai, emang orang-orang bule yang banyak ada di Bali ini, banyak yang rasis dan banyak yang kurang agar. Dugaan gue ini diperkuat dengan banyaknya orang-orang bule yang ada di Bali, bule Bali. Orang-orang yang ada di Bali, dan yang ada di Bali, yang menyadari tren ini. Mereka jusru jaring gak enak, karena mereka jadi keletan jelak. Gue juga orang bule, gue juga orang ngasih, tapi gue gak kayak gitu, telakon-telakon lo yang kayak gitu membuat gue terancam di generalisir, seperti itu. Perlukan gue menghormati kultur Bali, gue menghormati aturan Bali, gue gak pernah makan gak bayar, gue gak pernah ngontrak gak bayar. Cuman orang-orang ini tuh berantakan kelakwanya dan sembarangan. Nah ini lah konteks umum yang musti di sahadari, memang ada praktek rasis dari bule-bule kurang agar ini di Bali. Dan karena ini lah kelakuan antourage kemudian jadi berbeda, makanya sebuah konteks itu musti punya frame yang jelas gitu. Sekarang kita ngelati ini, kita menyadari bahwa apa yang antourage lakukan ini bukan insiden tunggal, tapi bagian dari sebuah kecendurungan yang terjadi di Bali. Kalau kita ngeliat itu, sendiri terpisah kayak gak salah antourage kayak gitu, permasalannya orang-orang kayak gini ada banyak dan antourage ini memang gak ngurus ijin. Ngurus ijin acaranya itu gak ada, sementara mereka lari nutup jalan dan segala macemnya arrogancinya keliatan dan arrogancinya mereka itu dengan lari sembarangan, gak ngurus ijin, kemudian nutup jalan, gak memikirkan persen orang lain, kemudian ekskludin orang Indonesia sesuai dengan trend yang saat ini berjalan di Bali. Ini lah kemudian yang membuat apa yang antourage lakukan itu berbahaya. Lagipulah pada saat yang bersamaan, yang gua ngerti lu bikin komunitas yang isinya orang asing. Tapi selama itu dulu lakukan di Indonesia, apalagi mengingat ada kecendurungan orang bule yang sembarangan, sebenernya ruginya dimana sih itu membiarkan orang Indonesia ikut lari juga gitu. Contoh, tadi gua ngomongin soal di jepang ya. Di jepang itu udah stand up video Tokyo. Ada, ada komunitas stand up comedy Indonesia di Tokyo, ada isinya orang-orang Indonesia yang tinggal di Tokyo dan suka stand up. Tapi, kalau pun itu isinya orang Indonesia, gua cukup yakin. Kalau ada hidioshi nakatabilan, gua pengen ikutan stand up dong, orang Indonesia pasti akan terbuka, ya buhle, ya ga apa-apa. Memanginin komunitas kita, tapi dia kan senang hati, itu oke ga apa-apa gitu. Di masir, di kairu ada stand up panel Egypt, orang-orang Indonesia yang tinggal di masir bikin komunitas stand up. Isinya memang orang-orang Indonesia semua, tapi, kalau pun ada orang masir yang bilang, gua pengen ikutan open-mic dong, ya nge-restepping dong sih juga belum. Ya ga apa, oke aja gitu. Kenapa? Ya karena, kenapa harus ditutup gitu? Ini open untuk siapa pun, apa lagi, karena gua ada di tempat lu. Menurut gua, anturas itu bukan cuma tidak sensitif, karena ga ngebaca tren yang sedang berada di Bali. Karena ga mungkin mereka ga tau, itu sangat sering dibahas lah di Bali. Gue yakin jadi pemicaran antar expa juga. Bukan cuma mereka insensitif, mereka borderline arrogant. Dengan berfikir, mereka bisa bikin acara di sebuah pulau, ga mau, dan ga mengijinkan untuk mendapatkan orang-orang yang ada di situ. Sekarang keduginya apa? Acara nya kan lari, bukan acara sharing gitu, bukan duduk barang-barang segitu. Hey cerita dong, lu udah berapa lama tinggal di Bali? Gua orang balik, ya lumah, ini kan untuk di. Kenapa kaya gitu, kan acara lari-lari gitu. Acara lari, bahkan menurut gua dengan mengijinkan orang Indonesia ikutan lari di acara tersebut. Lu melagi timasi, lu sebagai bagian dari komunitas besar yang ada di Bali. Nah, arrogant sih ini lah yang menurut gua kelihatan, dan memang harus kita ku. Gue bilang harus ya, harus kita ku, emang-emangnya orang boleh arrogant, yang berfikir orang Indonesia itu di bawah mereka, secara strata. Yang berfikir mereka bisa semahunya dan sembarangan. Dan kaya gitu banyak banget, banyak banget, gua mau cerita sesuatu ya. Yang saksinya banyak, saksinya banyak. Gua titu lagi nonton Fibah World Cup di Indonesia arena. Latvia lagi bertanding, terus ada pendukung Latvia duduk di area kurus, yang harus dikosongin. Pertama asyerenya itu nyamperin tuh, "Excuse me, you're not allowed to sit here." Eh, pergiluh gitu. Asyerenya ngaduk ke security. Pak, itu mereka ngamau, pindah itu berlanah baru duduk di situ. Sampai nama security, "Excuse me, you're not allowed to sit here." Dua kali kayak gitu, "Gua aku tersinggu, gue samparin. Get your ass up, you're not supposed to sit here." "Who are you? I'm an Indonesian, this is my place, you're not supposed to be here. Get up now." Get up now! Terusnya gitu, dia sempat ada 3 orang Latvia, mereka nengok ke belakang. 2 orang Latvia semua, kan? Suka bilang, "I don't care, they're not violating the rule, you are violating the rule." "If you want to sit, you're not allowed to sit here." Okay, get your ass up, we're gonna go there and I'm going to tell them they're not supposed to go there. Saya mereka kayak takut dan bingung gitu, bukan takut sih, mereka bingung gitu. Terusnya mereka satu dunia kita pergi. Terus mereka berdiri gitu. Terus gue tungguin, mereka kayak yang nunggu gue pergi, dia pikir gue ga pergi, gue tungguin gitu. Terusnya gitu, "Go, go, but people over there, we're gonna go there, go, let's go together." Kita jalan gitu, "You're not allowed to sit here" gitu. Oh, but no, "You're not allowed to sit here" gitu. Saya bilang, "Apa, ada panital di situ?" Ini orang-orang ini, 3 orang ini, ini gue usir karena mereka gak boleh duduk sini. Jangan biar yang orang kita duduk situ, iya bahwa sebenarnya ga bisa kasih tau. Ya, mereka bisa duduk, enak-enak-enak bisa gue pergi. Udah susah saya mereka pergi, mereka duduk, terus gue balik lagi. Terus panital ini, "Bang, makasih, bang banji udah nunggu mereka." Terus gue, gue bukan menolong mereka. Gue sembel sama orang arah-orang ini, bule-belai ini arogan, mereka pikir-pikir-pikir, mereka bulit, sebenarnya kelebih baik daripada kita, sebenarnya kebelingat, ngelanggar aturan yang ada di negara kita. Siapa mereka? Emang banyak orang-orang arah-orang seperti itu. Dan menurut gue itu lah yang terjadi di sini. Kalau pun mereka tidak sombong dan tidak arah-orang dan tidak rasis, mereka tetep lalai untuk menjadi trany yang serang berlaku di bali. Di bali memang lagi banyak, kayak gini-kini orang-orang kurang agar ini, yang rasis sama orang Indonesia, memang lagi banyak. Kobi bisa mereka bikin acara mengaksud orang Indonesia, disaat mereka tahu kondisi lagi, kayak gitu. Itu yang jadi masalah. Dan itu lah kenapa mereka salah. Itu aja dari gue. Bener-bener kalau lu suka dengan senior komentar sosial kayak gini, mungkin lu suka dengan festival hidup lah Indonesia, Maya. Tangan 15 agus di sini adalah penyelanggaran ke-4 kali ada festival hidup lah Indonesia, Maya. Festival sosial komentar. Festival komentar sosial. Yang akan membahas isu isu sosial yang serang berada di Indonesia. Festivalnya selalu terdiri dari monolog, selalu terdiri dari musik, stand up dan juga talk show. Kali ini monolog kebangsanya adalah kondoleh pahok. Pahok akan bikin monolog minimal 30 menit, memontret fenomena di Indonesia. Kemudian musiknya dari 2013, stand upnya dari Andri Sakti dan Benar Manalu. Tok shownya adalah gue akan talk show dengan bagi Lemuria dan Kanya Cita. Gue akan ngohos dari awal sampai akhir. Kalau pengen nonton, lebih bisa nonton secara langsung atau nonton secara live streaming, tiketnya ada di locket.com. Sekarang lagi tiketnya ada di locket.com. Untuk nonton langsung isi sasil first, tau gue per video ini dibuat. Live streaming masih bisa lalu beli dengan harga 37 menerburu. Sekarang lagi lalu buka locket.com, cari hidup lah Indonesia, Maya. Terima kasih banyak, kita ketemu di episode berikutnya. Bye bye!

Podcast Summary

Key Points:

  1. Komunitas Antourage Bali mengadakan lomba lari khusus untuk digital nomad, yang menimbulkan kontroversi karena mengecualikan warga Indonesia.
  2. Acara tersebut dituduh rasis karena membatasi peserta Indonesia, meskipun penyelenggara menyatakan tujuannya untuk kelompok digital nomad asing.
  3. Penyelenggaraan acara tersebut tidak melibatkan izin resmi dan mengakibatkan penolakan dari masyarakat lokal, serta batalkan acara lain yang diatur oleh komunitas tersebut.
  4. Fakta menunjukkan bahwa Antourage punya banyak acara yang mengizinkan peserta Indonesia, tetapi acara digital nomad menjadi isu utama karena eksklusi eksplisit.
  5. Perilaku eksklusif dan arah-arah orang asing di Bali, seperti tidak membayar, menyusup ke toko, atau menutup akses publik, menunjukkan tren rasis dan ketidakpatuhan terhadap aturan lokal.
  6. Komunitas seperti diaspora Indonesia di Tokyo atau Jepang justru mengadakan acara terbuka yang inklusif, menunjukkan bahwa eksklusi di Bali tidak sesuai dengan nilai komunitas global.
  7. Penyelenggara Antourage dilihat sebagai tidak sensitif terhadap tren rasial di Bali, bahkan menunjukkan perilaku arrogan dengan mengabaikan aturan dan keberadaan masyarakat lokal.
  8. Festival "Hidup Lah Indonesia Maya" diadakan sebagai respons sosial untuk membahas isu-isu inklusi dan keadilan di Indonesia, menawarkan ruang diskusi terbuka.

Summary:

Komunitas Antourage Bali memperkenalkan lomba lari khusus untuk digital nomad asing, yang menimbulkan kebencian dan tuduhan rasis dari masyarakat Indonesia karena mengecualikan peserta lokal. Meskipun penyelenggara menjelaskan bahwa acara ini ditujukan bagi orang-orang yang bekerja secara digital dari luar negeri, banyak warga Indonesia merasa dihakimi dan diasingkan. Fakta menunjukkan bahwa Antourage memiliki acara lain yang inklusif, namun acara digital nomad ini menjadi pusat perdebatan karena eksklusi eksplisit.

Perilaku orang asing di Bali, seperti tidak membayar atau mengganggu masyarakat lokal, menunjukkan tren ketidakpatuhan dan rasis yang memperparah situasi. Ini menunjukkan bahwa kebijakan eksklusif tersebut bukan hanya masalah satu acara, melainkan bagian dari tren lebih besar yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap aturan dan kultur lokal. Sebagai respons, Festival Hidup Lah Indonesia Maya hadir sebagai ruang diskusi terbuka tentang isu-isu sosial dan inklusi, memperkuat kesadaran akan keadilan dan keberagaman di Indonesia.

FAQs

Acara lari tersebut tidak mengizinkan orang Indonesia ikut, yang memicu keluhan bahwa ada diskriminasi terhadap warga lokal.

Karena acara tersebut dirancang khusus untuk orang asing yang bekerja secara digital, tanpa mengizinkan peserta dari Indonesia, yang dianggap tidak adil dan mengecualikan masyarakat lokal.

Tidak, komunitas tersebut mengatakan acara tersebut khusus untuk digital nomad asing, dan telah memperjelas bahwa banyak acara lainnya mengizinkan peserta Indonesia.

Acara tersebut dirancang khusus untuk orang asing yang tinggal di Indonesia namun bekerja secara online, seperti pekerja digital atau freelancer dari luar negeri.

Tidak, banyak acara lain yang diselenggarakan oleh Antourage memperbolehkan partisipasi dari orang Indonesia, menunjukkan bahwa kecualian hanya ada pada acara lari digital nomad.

Ada tren dari orang asing yang tidak menghormati aturan lokal, kurang peduli terhadap masyarakat, dan melakukan tindakan sembarangan, seperti tidak membayar atau menyalahgunakan ruang publik.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.