Go back

Pre-Post Framework: Kenapa Kita Salah Nilai Orang

44m 3s

Pre-Post Framework: Kenapa Kita Salah Nilai Orang

The podcast conversation revolves around a framework introduced by Ken Wilber, focusing on human development. The discussion delves into the concepts of pre, post, and false states within this framework, emphasizing the importance of critical evaluation and understanding individuals' cognitive processes. The conversation highlights the risks of misinterpreting individuals' developmental stages, leading to a pre-post fallacy. By evaluating individuals' progress and considering their cognitive evolution, it becomes crucial to avoid making assumptions about their developmental stages. The dialogue underscores the significance of accurately identifying individuals' states to guide proper educational or activist approaches. The discussion sheds light on the complexity of human development and the need for a nuanced understanding of individuals' cognitive processes to facilitate genuine progress.

Transcription

7177 Words, 44302 Characters

[MUSIK SELESA] Hai guys, balik lagi di podcast, bareng gue kania dan subda. - Gula ya, Yu. - Kaliani kita mau bahas sesuatu yang labelnya nanti dulu ya, belakangan kita muncul ini. Kita berangkat dari background masalahnya dulu, atau ini lah apa yang konteks. - Gak dong, tisat dulu. - Tisat dulu. Jadi ini framework yang dari dulu gue suing maka... Jadi gue pernah baca framework ini dari Ken Wilbert, philosopher ada bukunya, dan kemudian, pas, karena gue udah sangat terbiasa dengan ini, jadi gue sering maka itu, nah, terus gue kasih tau kekannya ya gitu. Nah saat, kalian inget tau tentang framework ini, dia sangat-sangat mindblown, karena enak banget dipakai untuk banyak. Ini untuk dipakai untuk ngalah ni saja gitu. Tapi, sangat powerful dan dia sangat mindblown, jadi kira-kira sepanting itu mungkin ya, mungkin semoga buat begitu. - Iya, iya gue, waktu pertama kali denger kayak... Wow gitu, kayak... Anjiri aja gitu ya. Gak pernah gue pikiran aja sih, kesitu dan ternyata, - it explains lot of things juga sih. - Oke, ya udah. Masalahnya, mau yang mana nih? - Iya. Mungkin aku mau kasih contoh yang... apa yang aku sering denger lah ya, di sekitaran aku gitu. Aku inget ada moment dimana, orang-orang banyak banget ngomongin tentang... cara beragama orang Indonesia yang katanya semakin mundur. Dalam artian semakin mundur disitu adalah karena semakin gasantai katanya gitu. - Oke. - Jadi kayak banyak yang bilang, dulu tuh orang Indonesia gak kayak gini nih beragamanya gitu. Nggak ribet lah gitu, nggak ribet, nggak merecokin orang. Intinya slow gitu ya, chill gitu. Sekarang nih kita mundur nih gitu, beragamnya terlalu serius dan terlalu sibuk merecokin orang kayak gitu. - Terus nasik gitu kan? - Iya, ini ya sih buat orang lain. Iya, buat orang-orang gitu lah, ada yang banyak yang bilang kayak gitu. Dan mereka melihat itu sebagai suatu kemunduran gitu. - Oke. - Jadi kayak kita mundur nih gitu, dulu tuh berarti kita lebih maju lah gitu dari sekarang. Nurut orang-orang ini gitu ya. Nah ketika aku mendengar ini, aku tuh langsung ke inget framework itu yang kamu sebutin ya kan yang dari. - Siapa tadi kan Wilbernya? - Kan Wilbernya. Karena kayak, hmm, wait gitu. Apakah ini ke munduran gitu kayak jadi kepikiran kayak gitu. Nah mungkin disini kita jadi bisa bahas ya. - Oke. - Gimana kita ngeliat issue itu, terus kayak sebenernya nantukin mundur atau maju atau stakat atau gimana tuh gimana. - Ya udah, nah nih. Kan Wilbernya, by the way, disclaimer dikita kan Wilbernya banyak model-model forever tentang mikir dan development. Apa human development yang bagus gitu. Tapi banyak juga yang kalo merut gue menutah aku pribadi sih ya itu kayak. - Nah, sudo science gitu. - Iya, gagah nih. Tapi jadi maksudnya kayak kadang-kadang kalau tiga kita, river atau mempromot satu pemikiran gitu. - Oh, langsung riverannya. - Sepaket. - Semua pemikiran ya. - Iya, ya bener-bener. - So that's a very important disclaimer gitu. - Iya, ini secara specifik yang mau yang kita pakai dan bukan ya kita pakai oleh dalam hal ini bukan promot. - Ada bagian yang bagus, ada bagiannya. - Yang kita angke bagus, yang kita angke bagus, yang ini specifik, bukan berarti semua pemikiran Wilber kita udah stuja atau kita angke bagus. - Iya, soalnya takotinan tepari gitu. Oh, kalo gini, pendeldi orang yang ini, ya apa-apa, bukan orang yang gini-gini tapi ada pemikiran yang bagus. - Yang bagus, ya. - Itu yang bagus. - Nah, terus ini apa gitu. Nah, disini dia sih sebutnya pre-post falsi gitu ya, pre-post falsi, mungkin kita nimbutnya lebih enaknya pre-post framework gitu ya. - Iya, pre-post framework. - Jadi menurut dia, itu dalam tepeng embang apa? - Pembangangan diri. - Pembangangan diri. - Bukan emang diri apa sih, namanya. Pengadopsian suatu nilai nilai atau suatu teknologi, atau suatu konsep atau apa, itu ada 3 state. Ya, yang pertama itu pre, ya, pre itu adalah state ketika belum mengadopsi nilai tersebut, atau belum ngerti, belum tahu, belum lejar, belum ada suatu bukti. Nah, fase kedua, itu adalah state kedua nih, itu fase state-nya ketika, oh sedang apa, mengadopsi lagi, lagi mengaprikasi, lagi udah belajar, mengadopsi segera macam. Dan akhirnya lagi berada di dalam state itu gitu, ya, dari kondisi itu. Nah, fase ketiga, itu adalah fase post, dimana, udah memplejaris halter sebut, udah mengadopsi halter sebut, tapi juga udah melakukan critical evaluation, terhadap halter sebut singga, dia, itu mungkin, apa, udah gak maka lagi, udah gak, apa, udah gak menem, apa ya. Leaving those values atau apa, tapi lebih apa ya, lebih, mungkin lebih, lebih akurat, apa segera macam dalam tau, kapan maka, kapan menggadat sebagainya, gitu. Oke, jadi nih, gue sampe sedikit lagi, ada 3 state, ya, ada pre state sama post, nah, sekarang mungkin bisa diconton konkretnya dulu nih. Canto yang paling gampang, apa ya, canto yang paling gampang, sorry, kalau aku sih paling gampang, gini dulu deh, aku hoho dulu, aku hoho, oke, boleh. Aku hoho, ini ada substance abuse ya, ya, yang, ya, aku mau nak kenain bawah di sini itu, di disclaimer nih guys ya, bahwa bukan berarti kita mendukung atau menolak, atau apa pun, kita ngambil canto-canto itu sebagai phenomenon share, katanya dulu, gitu kan. S-s. Posisi kita dimana itu, berarti cerita gitu, S-sail dulu, aku hoho, berarti state-nya adalah, gini, state adalah ketika melihat bahwa aku hoho itu, berbeda, ya, berbeda ingin habutsu. Jadi mengadopsi aturan tidak mengkonsumsi aku hoho, gitu loh, state-nya. State-nya adalah tidak mengansumsi, mengkonsumsi, phenomenon adalah aku hoho, oke. Tadi inget kan ya state itu, acuan itu mengadopsi suatu nilai, suatu konsep atau suatu teknologi, ya. Jadi yang kita pakai disini adalah, mengadopsi. S-sara yang kita harus stuating poinnya adalah mendifain dulu state-nya di mana. Iya, state-nya apa, ya. State-nya adalah aku hoho itu buruk, kenapa? Ya, karena mungkin ada aturannya begitu, kemudian itu ngurugin orang lain, apa segala macam, adalah macam, itu state-nya. Iya. Nah, ada pre, dimana prenya itu adalah berarti belum tau nih tentang bahwa aku itu buruk, ada aturan itu juga. Karena aku, atau aturan segala macam, prenya itu, ya ikna orang saja, ikna orang belum tau hal tersebut, ya. Nah, jadi dalam pre ini, kelakuannya ya udah berikan minum segala macam, tapi itu bukan berarti karna dia apa ya. Punya. Jangan apa-apa ya. Punya atau apa-apa dodo, mungkin itu juga juga sekarang nggak tau, gitu, tapi kadang-kadang, orang-orang sih ya naïf aja gitu. Polos aja nggak tau, itu semua kuning, nggak tau buat, salah nggak tau itu, itu juga macam, itu pre. Biabilnya, off course minum aku hoho, sekarang pre, gitu kan, nggak tau itu. Nah, di state, udah memang adopsi tersebut, akhirnya ya udah stop doing that, and biasanya ada kecendrungan yang di state ini melakukan semacam jajuman lah gitu, terhadapnya, terhadap orang-orang yang pre, yang minum aku hoho. Oh iya ni mampu, karena ya ni, oke, ini dodo nih, mungkin atau bet guys lah atau buruk nih gitu, ada seteng moral jajuman lah terhadapnya. Nah, yang post, itu bisa jadi orang-orang yang udah mengetahui aturan-aturan itu, udah tau kenapa itu sebatin gitu kan, udah gelas nih oh ternyata apa sih, mungkin buruk, mungkin buruk itu mungkin, oh, off course, kognitif, kognitif abilitinya jadi impert, jadi nggak, nggak maksimal gitu, bisa jadi kalau misalnya, buruk karena kalau lagi nyupir air menilakan orang lain, terang driving, terang driving, bisa jadi, buruk garagara, misalnya kalau ada orang yang jenis semabuknya reset, gitu kan, jenis semabuknya reset, terus kemudian, ya bikin nggak enak situasi, bikin nggak enak suasana, rasing others, bikin orang annoyed gitu, dan sebagainya, nah, itu yang post udah tau buruknya dimana, tapi mungkin juga di bisa ngeliat, ada bayi dimana gitu, siapa bayinya itu bisa jadi sosial, satu sosial katalis, bisa lebih santai, bisa lebih apa, tau kapan, ya mungkin juga fisikli, I don't know ya, mungkin mungkin lagi dingin, pakai minum aku, enak kalau bedanya enak atau sesamping, jadi dia udah padah posisi post, dia tetap minum, tapi tau dimana tempatnya minum itu gunanya dimana, and then avoided the bad things. ya, risiko- risikonya bisa dimitigasi lah, gitu. risiko- risiko dimitigasi, nah yang seluruhnya disini, ya kan, prepos ini kenapa, kenapa dari Wilber itu disebutnya prepos false, kadang gini, prep adalah misalnya ada suatu norma kan, ada suatu norma nilai-nilai, di state itu adalah ketika norma-nilai-nilai ini dia adopsi, dan prep ketika orang-orang ini belum tau ini ada norma-nilai-nilai-nilai-nilai-nilai, tapi yang post bisa jadi mereka udah belajar nang norma tersebut, udah tau nang norma sebut, tapi udah ngeliat, Degut part ada bad part jahat akhirnya Dia go beyond normal know no itu Tapi tetap oke gue akan gak menakon itu kapan Tak mengakin kekapan Tapi ada bagian dimana dia tetap akan menganggar lah gitu Nanggar normal know no itu sebut Tapi Preden post ini bagi C-State Iya kan? Ada manifestasi atau ada behavior yang sama Terhadap hal itu Jadi penampakannya sama Nikoleah Tanya sama sama Maksud saya sama sama melanggar normal know no Nah akhirnya jadi Ada judgment dari state ini yang lihat Preden post Ini sama aja Iya Padahal yang satu ya, karena masih totali Knowledge yang satu, udah justu go beyond Ha ha, sebut udah melampauin gitu Tapi udah bingerti, lebih abis gak menyemui paham Kapan kontek sepat dari sebagainya Nah akhirnya penampakannya sama Orang yang penampakan sama apa yang satu yang Preden post Nah akhirnya satu post, maksudnya sebut di wilber Perak post falsi Di wilber, jadi model wilber Jadi itu falsius ya Karena kayak kita mengimpulkan bahwa Ini mereka di dalam satu kelompok yang sama Padahal beda Karena penalaran yang untuk mereka sampai ke Apa yang mereka lakukan tuh udah beda Enci satu lebih kayak karena gak tau aja Kalau enci satu lagi lebih karena Jadi udah mengevaluasi dan in some cases Mungkin itu tetap bisa dilakukan, gitu kan Dia udah doing critical valuation Norma nya atau aturan itu di langgar Tapi dengan sadar Sedangannya yang satu nya lagi Ignorant Nah kalau balik ke kasus aku yang di awal Jadinya itu dia aku jadi kebikiran kayak Mungkin aja mereka Bukan mundur dalam artian Apa yang memburuk gitu Tapi dalam proses Perkembangan Melihat si norma ini atau si ajaran Jadi konteksnya agama ya Itu justru mengalami kemajuan atau perkembangan Dalam artian yang tadinya ignorant Menjadil lebih sadar gitu Tahu gitu ya Nah jadi gini-gini ceritanya Jadi Wilber by the way in contextnya Itu Wilber itu karena ada integral human development gitu Jadi contigo human development Kalau kita bicara entang Mundur maju tanah kotip nih ya Itu definisi dia atau indikator dia terhadap mundur maju itu adalah Kalau sesuatu orang Otaknya lah gitu ya Ada lebih berisi ada suatu kompleksitas dalam logic Di decision making Itu maju Jadi kalau udah makin entropnya makin rendah Apa lagi nih entropnya Minggi mana nih Oke Gak usah paka ke slide Ga usah paka ke slide Indinya adalah ketika strukturnya makin sophisticated Makin ada suatu struktur baru Gitu kan ada suatu prime stream baru Oh makin banyak hal ini pertimbangkan lah ya Makin banyak dan juga super makin bagus Mengarang makin bagus gitu ya Definisi bagusnya itu mungkin Memang udah punya konsiderasi terhadap Was the good thing, was the bad thing Oke gitu gitu ya Oke Jadi kalau ignorance ya pre-sat masih pre ini Belom ada apa-apa ya Itu dianggap masih state yang kosongan kita masih naif lah gitu Tapi ketika state Apalupun apa kita yang sendiri lihat So suatu nih lain dan itu baik Buruk itu belakang antapnya Tapi yang pasti otaknya udah mulai ada sesuatu Udah mempertimbangan sesuatu Pertimbangan sesuatu itu kunci Ya yang makin ada pertimbangan orang lain Ya pertimbangan itu Maksudnya macam udah lebih kompleks Nah pos udah lebih kompleks lagi Jadi di situ kalau kita mau pake isi lah Dia ada kemajuan Jadi kemajuan itu dalam konteks bagaimana Kita tosi individu yang ini Orang ini berpikir gitu Untuk kemudian sampai pada tindakan Kaya sebelum dia bertindak atau sebelum dia bersikap Proces berpikirnya tuh gimana sih Semakin banyak farai belakang udah di pertimbangkan Dan strukturnya udah makin cakap Ya itu namanya makin maju Proces berpikir itu Mukaan berarti kita lagi bahas maju mundurnya Dari si pre-laku itu sendiri Dari pre-laku itu sendiri Sialat tadi kalau dalam coltanya sahabda Mabok misalnya ya kita gak bilang Mabok tu suatu tindakan yang maju atau suatu tindakan yang mudur bukan Tapi kita membahas bagaimana orang berpikir Menuju dia milik itu mabok Nah itu ada yang lebih maju atau lebih mundur Dalam konteks apakah dia mempertimbangkan Banyaknya variable yang pantas di pertimbangkan di situ Kaya gitu kan Oke Nah jadi dalam konteks balik lagi ke yang Soal beragam dengan santai tadi Ya tebakan kok Bisa aja sebenernya banyak orang yang dilihat sebagai Oh nih beragam dengan santai nih Itu jangan-jangan belum beragam Itu sebenernya Indonesia zaman dulu ya misalnya Indonesia sebenernya gitu Kamu tau yang Indonesia zaman dulu ya Indonesia zaman dulu, maksudnya Indonesia zaman dulu itu sebenernya Bisa jadi yang makin tahu orang belum kenal dengan hal Tersebut? Ya, misalnya Ya, dia beragam Tapi dia belum tau sebenernya Ajaran agar-agarannya apa-apa sih - Tersebutnya? - Tersebutnya Nah belum tau ya Ya santai-santai Pelatannya bisa santai Tapi begitu akhirnya mempelajari Ada segala macamlah Oh tau-tawhat orangnya gini-gini Sarsnya kita gak bawa orangnya berarti gini-gini Ya itu sebenernya sebenernya, itu kemajuan dari Indonesia Definisik Wilbur gitu kemajuan bahwa ada variable di pikiran Ada tu ketawan baru suka macamlah Itu maju Tapi tidak ada dalam state gitu Betul Imagian, imagian Berarti ada orang Udah melampaui hal tersebut Dia udah tau Dia udah tau Isti agama kayak gimana segala macam Tapi kemudian dia melakukan critical Critical evolution terakhir agama Sebut Dalai risis dan segala macam pertimbangan dan macam-macam Sampai dia sampai pada posisi Oh terakhir itu bisa kok gue Menjalani ini Tapi dengan santai Salah kayak gini-gini Nah akhirnya Ke luarannya Jadi sama nih Jadi selah itu Di aturannya mungkin kesimpulan dia Mungkin Oh terakhirnya tau Mungkin asensi agama itu Ini ya Itu nyanyi ya Or bahkan melihat bahwa agama itu Bisa jadi salah nih Kita juga macam tapi Memang Agama tuh ada gunanya Buat masyarakat tertentu Gini-gini-gini Tapi We have to past it gitu kan Kita harus kayak gitu Misalnya orang yang melihat kayak gitu Ahirnya Di post ini Of course Bia-ia-birnya Banyak dong Yang melanggar Atau nggak Nurutlah Tetengen agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama-agama Tapi Apa namanya end resultnya Bisa jadi Bagus Samang-bagusnya Atau lebih bagus bahkan Ya gitu kan Ini post Tapi buat yang di state Yang di state ini Mungkin udah Atau Tapi ini kayak udah benar konteks Ini sama yang aku bahas Samat Wet belum nyampa ini Nah di state ini - Ga nulut agama, ga ngga taut deh, orang-orang ngga taut nih gitu kan. Nah orang-orangnya post gitu kan. Melihat orang-orang yang listet ini, kalau dibandingin zaman dulu, yang kebanyakan orang-orang juga di pre, ini ada soet kemuduran. - Oh ya, karena dia ngeliatnya yang pre sama sama dia gitu ya. - Yang, dia ngeliatnya yang pre sama sama dia. Jadi dia ngeliatnya, bahwa harusnya gini, bagusnya gini, gini, gini. - Sampai, sekarang udah lebih ngasantnya, gini, gini, gini, ngeliatnya. - Pada orang yang santa itu, bukan berarti sama sama dia gitu. - Yang santa itu, gak sama sama dia gitu. - Orangnya bisa aja mereka sebenernya di pre. - Kan di pre sebelum melalui proses tersebut gitu. - Iya, belum melalui prosesnya tadi ya, memahami dengan benar dulu si state-nya. Terus sampai melakukan critical evaluation terhadap state itu. - Iya, itu terjadi di banyak banget hal itu sebenernya. - Nah, jadi pre post-phosis ya, tadi pre post-phosis banget gini. Bipakit misalnya kecendungannya adalah orang yang listet, melihat pre, dan post, karena behavior permukaannya sama. - Aina disamangin. - Samangin, kan ngelasa awalnya, dua-dua yang benar-benar es nih gitu kan. - Iya. - Tapi padahal beda ini ya, yang post, ya. Kadang-kadang melihat pre itu sama sama dia. - Oh, ya. - Di behavior permukaannya, oh, lebih keren gini. Padahal ini gak itu melihatnya bisa jadi lebih dari sisi-sisi programnya itu. Lagi di bawah level nya si state, si state ini bisa jadi lagi dalam proses yang yang bagus nih. - Gitu yang lebih bukan bagus nih, dalam proses yang lebih maju nih secara pemikiran kognitifnya gitu. - Iya, jadi fallasnya disitu ya, guys. Fallasnya adalah moment di mana kita menyimpulkan dua orang atau dua kelompok orang berada di state yang sama. Entah itu pre atau state atau post, tapi sebenernya gak sebenernya mereka beda. - Iya. - sebenernya apakah mereka itu pre sama post atau mereka sebenernya state sama pre. Tapi yang post-phosis mereka sama sama state, misalnya atau apa gitu ya. - Iya, bisa juga state, melihat pre-po sama atau gini. Misalnya post itu ya kan, misalnya mengadopsi suatu nilai. Tapi kan dia udah ngerti nilai-nilai itu, udah mulai tau nilai itu aplikable di dalam konteks yang mana dan gak aplikable di dalam konteks yang mana. - Iya. - Singga dia bisa keliatan kadang-kadang kaya lagi di state, kadang-kadang keliatan mirip sama di pre. - Jadi yang pre, melihat yang di state atau di pre, melihat si post ini sama mes state. - Iya, bisa juga kan. - Sistet tuh biasanya yang campurnya. Sistet net, wow ini orang gini-gini sama apa yang kita nih, gini-gini bagus di gini-gini sama. Tapi begitu ngeliat biar, tapi kok di hal lain begitu, di pas lagi dalam konteks yang berbeda, dia kok melanggar yang gini. - Iya. - Iya, karena dia udah post, gitu kan. - Iya, dia bukan state nih, bukan state lagi. - Dia memakai konteks ini berbeda, jadi kalau kadang-kadang keliatan in konsisten bagi sistet misalnya. - Ya, jadi jasmen, jasmen, jasmen, jasmen dalam hal ini ya, apa ya, mungkin moral jasmen, etika jasmen atau apa, itu bisa jadi apa, nggak tepat. - Iya, itu. - Karena itu tadi mengalokannya pre state dan post yang, yang belum, belum sadar lah kan pengalokas kan ini, gitu. - Iya, dan pre post fallacy juga jadi, sorry, ini kayak dikat dulu. Dan pre post fallacy juga jadi ngaruh banget ngurut aku dalam konteks edukasi atau aktifisme gitu ya, maksudnya kayak kita ketika mau mengubah orang, atau mau mengajar orang untuk berubah, gitu kan. Berubah pemikirannya kan, kalau misalnya kita salah mengidentifikasi, dia tuh sebenernya di state mana, kan jadi salah kan. - Yo, iban. - Jadi salah carang agar ini atau kayak narasi narasi untuk mengubahnya itu gitu loh. Karena salah memahami backgroundnya dia sampai ke situ gimana gitu. - Iya, iya. - Ya gitu, kayak chongkan panin sering itu mengurut aku adalah kan sekarang ini banyak banget narasi-narasi dari Amerika ya, dari peradaan barat lah gitu, yang masuk ke sini. Nah mereka ngomongin itu tuh udah post state nih gitu, jadi mereka udah ngelewatin state terus mereka udah post. Nah pas di box ini, disini banyak yang pre nggak pernah tau gitu apaan, jadi, jadi tiba-tiba gue juk-juk post kan jadi lucu kan. - Si kaya buat, emang ada yang pernah mikirin itu gitu, keadaan kayak enggak pernah mikir gitu ya, karena dia belum pernah state tau tau udah langsung post aja. - Iya, gitu sih. - Kita banyak banget dari yang simple-simple juga di Indonesia gitu ya, yang aku yang simpe-simple di matematik nih, gitu. - State lesien matematik yang ikutin aturan gitu ya, nggak tertentu-tentu, nggak tertentu yang pre-belat disini, belum sama sekali tau ngatematik gitu ya, nah di barat gitu kan ada metode-metode matematik aja ya, apa namanya go against the aturan-aturan. - Aturan-aturan. - Gua go against the aturan-aturan, karena matematiknya terkreativitas, karena mereka udah udah udah berada di state banget nih matematik-matematik ya. - Udah kuat lah pemahaman terhadap aturan-aturan matematik gitu ya, gitu. - Ina jatuh, aturan-aturan, namanya kelasar, nah kita dipos, kadang-kadang ada yang, wah di barat gini-gini kita saja ini, nah. - Iya. - Ajarin ke mereka mereka yang masih pre-k, nggak tau, aturan-ajeng nggak tau, nggak mau si pusing-pusing. - Pemahaman kalau misalnya ini, ya dia udah pasik kreativitas yang kaya apa udah kufu, gaya bebas lagi gitu, kayak ini gaya-yang state tuh udah tiga-nya tuh masih ada gaya-gaya yang apa ya, misalnya ada proses doar gitu ya, yang ini udah gaya bebas, nakasi gaya bebas ke yang pre-k. - Iya. - Belum tau aturan-matematik juga macam, ya bu barat-buy. - Iya itu mirip sama logika juga sama, kan juga sekarang lagi hype banget ya, logika post-modern gitu, kayak logika klasik, logika klasik udah ngejaman gitu kan, udah ngejaman nih udah dibantah, udah di-bang gini-gini. ya masalnya logik-klasik itu setate lah ya. -Exactly. -Yi itu setate. Ya kita semua hami setate dulu baru bisa masuk ke post itu. -Logik-logik. Pasik asa setate. -Ya. -Setate-nya harus bisa berlogik-kadasar lah. -Bisa berlogik-kadasar lah. -Ya, bisa berlogik-kadasar lah. Lors, gak bisa berlogik-kadasar. Logik-kadasar lah. Nah baru kita bisa mengkritisi kan. Kamu sih gimana mau mengkritisi dan maafalasi dia yang artis tetanya aja belum gitu kan. Nah ini ngomong ke orang-orang yang belum tak. -Belum-belum. - Ketika belum lalu. - Ketika belum lalu. - Ketika belum lalu. - Ketika belum lalu. - Ketika belum lalu. - Ketika belum lalu. - Ketika belum lalu. - Ketika belum lalu. Karena ini yang pentingnya, nature dari cara otak bekerja di dalam hal itu, memang kadang-kadang kita nggak bisa ngajar yang langsung, langsung ini perfect condition otak itu butuh step by step berkembang. - Betul. - Walaupun dalam step itu kadang-kadang belum sempurna. Tapi mereka harus ngerti dulu, hari itu sebelum masuk ke tahap berikutnya. - Gitu untuk sementara ini aja dulu terima dulu ini. - Hari ini terima dulu. - Ada stand dulu kayak gini dulu. - Sampe ini. - Sampe ini latihan contoh, macam-macamnya salah. Tadi logika, matematika atau... - Economy juga. Economy juga, modding juga, programnya juga, marketing juga. - Banyak lah gitu. - Jadi kalau lagi ajarin yang begitu, ada aja orang yang protest bilangnya. - Iya, ini belum akurat, memang belum tempat. - Pada gusto tapi mereka harus menggembangkan suatu habit-habit, misalnya. Atau perkembangan otaknya membiasakan dulu dengan kayak gitu, supaya discipline ada di situ dulu. Setelah itu baru gobeon itu, itu oke gitu. Kayak ngajaran, kayak misalnya kita pendidikan anak juga gitu. Ada certain aturan dulu yang mungkin nggak usah banyak-banyak, tapi dikit sih anaknya harus bisa discipline di certain things dulu. Misalnya, setelah discipline udah terbangun. Habis itu gobeon itu challenge itu nggak apa-apa. Muka ngujuk-juk langsung, buang semua ke disini. - Buang semua ke disini, apa sih? - Bebas gampu sih nanti. - Iya, ini kan, kita kan harusin justru ngajarin di ngerti sampai situ dulu, baru bisa mengevaluasi gitu. - Exactly. - Di system ekonomi juga cukup gato, ya, sebenernya aku kadang-kadang ya. Kayak misalnya, system ekonomi yang ada sekarang, apa lah kapitalisme atau pasar bebas atau apa ini. Oke, ini banyak yang perlu diperbaikin gitu kan, misalnya. Tapi orang-orang ngajarin kritik terhadap yang ini, ke orang-orang yang masih pre, yang bahkan ini aja belum tau gitu, misalnya dia aja belum ngerti. - Setiapnya belum tau? - Iya, sesimpok supply-demennya belum ngerti gitu. Supply-demen belum ngerti, perbedaan cash-man-atward belum ngerti. Terus udah langsung masuk ke kritik terhadap system yang membangun supply-demen, network-gelam saja. - Dan tetiknya di dengan orang yang ngagi di pre. - Iya itu maksudnya, kayak maksudnya jadi kan lucu gitu. Karena kayak nggak gitu. Iya, salah, tapi bukan gaya-gaya, itu salahnya karena dia belum ngerti, state-nya itu sendiri kan kayak gitu sih. Kalau di aku tuh konteksnya ada juga menarik ya, yang konsep apa namanya? - Nantang apa? - Biar selv. - Biar selv. - Ini suruh nih. - Kanjur ini memalukan ngajarin. - Ini seperti di most embarrassing. Gak, aku ngerti lagi deh. Banyak yang nanya ke aku kenapa sabda bisa mau sama lukan. Karena kayak salah satu itu ini deh. Karena kamu ingetkan di ini di awal banget kita kenal kan. Dan aku sego-block itu. - Iya, jenis. - Jelaskan dulu, jenis. - Ini ada dua bagian. Aga OTnya deh kenapa kamu mau mau mau mau. Ini OTnya nih, OTnya gue punya kemampuan lah ya untuk menganavises mengassask skill otak orang gitu kan. Kecep desantu multidimensional itu ada kecep desan yang spasial lah. Di matik ini lo jiklah verbal apa segala macam salah satu kecep desan lainnya deh. Social learning, social learning itu kemampuan membaca QQ social between the lines lah. - Iya. - Nguansa, konteks apa segala macam itu social learning gitu. Nah, kannya baik-doa itu punya segala- segala yang wating, ini tinggi banget gitu kan. Tapi social learning itu jauh banget ya bahwa rata-rata. Bukan nolaknya minus kalian. Nol itu udah parah sih minus tuh bacanya salah gitu kan. Nah, oke, nah terus abis itu di dalam hari ini ini ada kayak apa? Gue sering liat bahwa kannya dia nge-puh berani banget ke kannya gini-gini-gini berani banget gue ketawa aja gitu. Gue ketawa gitu, gimana apa. Oke, kenapa agak ini sih. - Oke konteksnya orang nge-paku berani dulu kenapa orang nge-paku berani ini mungkin buat yang belum tau aja. Jadi gue tuh dulu banyak beropini atau bikin konten yang apa ya? - Papaya bot lah gitu ya, maksudnya. - Gitu tau orang berani lah. - Iya yang berani karena kayak ini gak umum lah gitu kan. - An popular anti-manstream terus bisa meningbulkan kemarahan segala macam. Tapi gue berani ngomong itu gitu. Nah makanya baik yang bilang gue berani. Nah tapi sebenarnya pada saat gue ngobrolin ini sama-saftet. Sabar itu bilang itu bukan berani namanya apa gitu kamu bilang. - Itu gak dolar-dolar. - Gak tahu. - Di sini apa nih, ini ini soal be yourself gitu. Gue mau jadi disinduri, gak peduli sama pikiran orang lain, gak peduli sama pandangan orang. Gak peduli sama jasmar orang kayak gitu. - Disismi. - Disismi. - I'm not scared to be sin. - State itu apa, kita harus define kan. State ini ada lah. Ketika kita ngerti norma-norma orang. Ketika kita ngerti norma-norma, kita ngerti inilah yang ada. Bagaimana sesuatu statement di perceived. How people think, how people feel, etc., etc. Itu yang dasar-dasar kemampuan orang. - Bukan cuma statement. Mungkin juga penambilan ya. - Penambilan. - Penambilan. - Iya. - Tato, apa segala macam. - Iya. - All this pemikiran statement. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Sebelum itu lu. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Itu beletik belum ngerti itu semua. - Iya. - Itu sihat problem ini. - Itu problem ini. - Iya. - Belum ngerti itu semua. - Ahernya apa? - Garak-garak gak tahu iknuran dengan hajit. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Itu kayak ada orang yang ini. - Iya. - Apa namanya kita ngeliat ada orang yang pelunken dan awah ya. - Iya. - Iya. - Kita tahu di situ ada gue ya. - Iya. - Kita ngeliat kita sebagian-ngeliat kita tahu ini. Bawa dia linyom pelunken dan awah ya. - Iya. - Gitu dan ada gue ya. - Si orang ini gak tahu nih. - Iya. - Orang ini. - Iya. - Orang ini. - Bagi kita. - Iya. - Iya. - Iya, iya. - Bukan mereka. - Iya, iya. - Iya. - Dia gak tahu. - Iya. - Iya. Itu kayak kita ya. Apat analoginya lagi tuh buat kasus aku. - Iya. - Tapi orang ini kan selain normal juga yang saya ini ada. Kalau kita masukin ke apa episode 4 domain kita. - Iya. - Kita akan merikfirst. Itu ada di ranah moral etek. - Iya. - Itu kan ada yang kayak gitu. Ada juga di run aesthetics gitu kan. Ya, kamu gak tahu nih. How this baju di persih. - Iya. - Gila ya. - Ini kayak apa gitu. - Sari kayak gitu. - Sari kayak gitu. - Sari kayak gitu. - Sari kayak gitu. - Iya. - Mau dia rambut juga misalnya. Nah, jadi sekarang gak ngerti. Jadi bi herself. Iya itu ignorance. Apakah salah kayak gitu. Gue gak bilang gitu. - Kita gak bilang. - Iya, kita gak bilang. - Gak ngejacin nih. - Bahwa ini bagus juga. - Is just that bahwa kalau dari stage. Apa stage. Apa stasi? Kalau bahasa Indonesia pasti stasi itu. - Tahapan. - Tahapan. - Tahapan. - Tahapan fasa berkembang. - Perkembang. - Iya itu masih ya di level 1-nya. Kalau satu-3 kita di preknya gitu. Dan bisa juga. Dia kalau punya tujuan yang apa di persif kayak apa. Bisa jadi. Jadi salah. - Tak berapa teman-teman tujuan. - Tak berapa teman-teman tujuan tujuan yang mau. A, gitu, gara-gara dia gak enggak. Kalau melakukan ini efek jadi b. Malah b itu bukan A gitu. Jadi gak mencapai tujuannya gitu. - Iya benar. Dan sebenarnya itu sih yang terjadi in-way dengan aku ya. Aku ingat kamu perananya kayak gini. Eh kan sebenarnya lalu tu tujuan lu beropini apa sih gitu. Lalu tu nyampain pikiran lu di sosmet atau di mana-mana tu buat apa sih gitu. Terus kan aku job. Gak ada sih. Gue pengen nyampain pikiran gue aja. Terus kan gak unanya. Tapi definitly lalu tujuan lu bukan buat ini. Kan lu bukan buat ini kan. Bukan buat bikin orang amuk kan. Terus kayak lu emang pengen. Apalui emang pengen di amukin orang apa gimana gitu. Terus sabusnya kan aku jawab. Yang gala gitu gila. Kalian gue gak ada tujuan gitu lah. Gue gak ada tujuan. Ya bikin orang. Ok kamu sebenarnya juga apat tujuan lu bikin orang salah paham gitu. Yang gala gue gak mau ada tujuan itu. Nah terus kenapa lu tetap lakuin terus yang lu lakuin. Sedangkan itu selalu menghasilkan orang salah paham sama orang amuk. Terus dari situ baru jadi kebuka. Apa namanya? Conversation ke arah. Oternya tak bisa diplajarin nih. Apa sih yang bikin orang amuk gitu loh. Nah lu kan dulu ngiranya aku gak tahu gitu. Masih itu sesuatu yang bisa diplajarin. Jadi aku selalu kayak iudah. I just wanna be myself. I cannot control what everyone thinks gitu. Tapi kan terlihat tuh. Oternya tak how everyone thinks itu. Bisa diplajarin gitu. Ada ilmu nya. Dan waktu itu aku juga inget. Kamu tuh berniat gak sih. Untuk misalnya mengubah memikir orang gitu kan. Mau orang keras-keras gak macam. Untuk lebih jadi spakit kali video-tool lebih kayak gini. Ya ada juga ya. Oh ya ya. Belu-belu kayak ya kalau itu bagus. Kalau itu tetapnya bagus. Kalau itu tetapnya bagus kalau itu ya kan. Kalau efeknya negatif malah itu. Tadi yang rese yang menerima 80 gitu kan. Kalau jadi 120 bagus gitu kan. Kalau jadi 60 jolek gitu kan. Tentu jadi 40 jolek. Nah jadi dari situ gue ngerasa bahwa oke. Betih setetnya adalah ngerti orang lain dulu nih. How people think how they perceive things salahlah. Dan kalau udah ngerti. Itu kan state nih. Kita harus melakukan ini. Itu state. Postnya apa? Postnya bukan berarti kita jadi kaya pleasing everyone. Kaya postnya ada tau nih. Kita mau bingga efektif dimana. Obriety ada ikutin caranya gimana. Delivernya mungkin ini juga macam. Tapi mesesnya tetap sampai gitu kan. Nah postnya di situ bukan berarti kita harus pleasing everyone. Tapi kita tau kapan harus pas masuknya supaya di terima. Tapi kalau misalnya kita punya meses-meses yang... ...atau memang setahal saat tertentu yang kita gak harus muruh itu. Engga apa-apa juga gitu. Karena di situ oke di situ bisa ini santai. Dan salah satu kebeguan terbesar aku sih di moment-man itu ya. Maksudnya di moment-man aku pre. Itu adalah... I'm such a big believer of... Ya ideal ya harusnya ini dong. Harusnya orang liat isi dong bukan tampilan. Itu kan. Oke. Jadi kayak in-way itu sebenarnya aku rada-rada apa sih secara rada-rada intensional atau... ...sengaja gak mempedulikan penampilan. Maksudnya penampilan itu di asosiasikan dengan apa gitu. Persepsinya apa. Karena aku mikirnya gitu. Karena aku mikirnya ya orang harus dipush untuk melihat isi dong gitu. Bukan tampilan. Tapi kan harusnya aku mikirnya. Nah ya mereka dimana keadaannya gitu kan. Mukan berangkat dari aku ya dong sebagai yang pengen mengedukasi atau pengen menyampaikan suatu pesan gitu. Jadi ceruh aku harus mikirnya dari cara mikir mereka dulu dong. Mereka ngeliatnya gimana ya mereka gak bisa ke luar dari otak mereka yang saat ini ada kan. Untuk mereka bisa berubah kayak ya mereka harus berangkat dari otak yang ada sama. Ya gampang gitu lah. Misalnya ya mereka tuh in-in emotional. Apa statenya tuh ting... ...with feeling. Yeah. Ting with feeling. Kamu mau ngubah mereka jadi rational ting with rationality lah. Kalo punya nih antik kontro-diktari apa gak kita lihat nanti. Kamu mau kayak mereka rationality oh ya udah kalau gitu supaya ting rationality. Latian lah, sapsan-sapsan saja gak bisa peduli sama delivery feeling dan sebagai emotional where no one's such that's bagiannya. Iya betul. Pada hal kamu lagi mau try itu transform mereka dari emotional feeling. Iya, jadi rational. Nah tapi mereka lagi feeling ini. Ajarah pada saat aku ngomong. Bukan mereka nerima apa yang aku mau ngin. Jistru udah against dulu ya. Semoga macam yang di luar mereka kamu jadi gak diterima ya gitu kan. Iya itu tadi maksud aku itu itu kebeguan terbesar sih. Nah. Iya. So preposted postnya dalam hal ini adalah understanding others. Yeah, to be more effective to communicate with others and then. Yeah. Bisa jadi going post, ya udah kapan harus ingin itu. Iya. By the way, di situ ada funnly enough gitu kan sebenarnya. Banyak sapsan-sapsan message message dari kannya yang sama aja dulu sekarang gitu. Nah tapi orang mengenggapnya itu berbeda, gak regara. Iya itu tadi. With a better communication style and delivery. Akhirah lebih di terima. Dan diangup oh karena berubah nih sekarang ya. Nggak isinya gak berubah. Berubah. Pada isinya sama aja tapi lebih bisa di terima dan sebagai sebagainya. Iya. Benar. Gitu. Samusnya dikicatan dulu benar sebelum lanjut. Tadi mungkin kita belum sempat menyembutkan secara eksplisit soal penentuan state. Jadi tadi kan kita nonton insendiri nih sebenernya. Yang menjadi state tuh apa. Jadi ini supaya audince pada nyadur aja sih bahwa si prepos ini kita tuh sebenernya nantuk insyarabe best statenya tuh apa. Jadi suatu hal itu gak berlaku selalu state atau selalu pre atau selalu post. Tergantung lu bikin dulu statenya apaan nih gitu. Kita di contohnya ketika kita barusan bikin statenya understanding othersnya. Ya udah berarti postnya setelah understand ngapain gitu kan prenya belum understand. Tapi bisa gak kita bikin understand itu jadi post ya bisa aja kalau misalnya statenya yang lain kan. Misalnya apa misalnya statenya ignoran gitu. Statenya tuh buduh amat-buduh amat terhadap orang misalnya gitu. Nah kan berarti kalau statenya itu berarti prenya kita gak tahu ada kemampuan untuk buduh amat misalnya gitu kan. Oke. Kita gak punya pilihan untuk buduh amat gitu. Sedangkan postnya kita udah pernah buduh amat tapi kayaknya gak disemok konteks harus buduh amat deh. Nah akhirnya jadi understanding others misalnya gitu. Jadi satu hal yang sama bisa menjadi pre state atau pun post tergantung statenya apa. Iya. Salah falafanya waktu define kalau statenya itu prenya berarti apa gitu. Tadi bener tuh bagus. Bawa statenya adalah buduh amat. Iya. I don't care what people say. Maksudnya statenya itu. Prenya berarti bisa jadi belum tahu ada option untuk bisa buduh amat gitu kan. Maksudnya prenya karena terbiasa di keluarga yang setrek pas gue mau yang kencengan sebagainya. Jadi kayak gak ada pilihan untuk jadi buduh amat-buduh amat tuh bisa jadi state gitu kan. Itu penting dan kemudian post ada understanding others. Betar dan postnya lah oh kapan gue bisa buduh amat. Kapan gue gak bisa buduh amat. The right choices. Benar kayak gitu sih. Oke apa lagi? Ada contoh lain-lain ya. Ya macam-macam sih ya. Itu antik kita bisa kayak yang gitu kan banyak dari hal yang sivatnya norma-norma gitu ya. Bisa jadi hal-hal yang sivatnya nanti teknologi gitu. Atau misalnya suatu metodologi, misalnya management, misalnya management. Itu juga bisa contoh misalnya SOP gitu. Statenya ada SOP. SOP itu apa sih? Standard operation procedure. Boleh yang ikutin SOP gitu maksudnya? State ada SOP itu standard operation procedure. Contoh gitu dia management, reserve lo ngeran suatu company atau being in the company. Statenya adalah ikutin suatu procedure dalam melakuan suatu gitu ya. Nah karena state di situ, prenya apa nih? Prenya belum tahu ada procedure. Kita kan belum tahu ada operation procedure gimana? Aireh semerawat ke kerjaannya. Sembarangan lalala gitu kan? Aireh orang yang di set. Ini orang gak bisa kerja nih? Iya. Macam. Macam ga macam-macam lalala gitu kan? Tapi ada juga yang udah ngerti operation procedure gimana juga macam. Dan bisa ngeliat bahwa oh ini bisa berlaku untuk 80% kasus. Tapi ada 20% kasus. Nggak bisa dengan kegini, malang nggak efisian, malang nggak effektif dan sebagainya. Aireh going post. Jadi dia nggak ikutin procedure. Dia nggak ikutin procedure untuk 50% love things, 80% itu procedure. Atau bahkan bisa jadi punya kemampuan dalam merefici procedure jadi lebih efisian. Lebih apa sih? Macam dengan cara yang lebih bagus misalnya. Itu di management sering ke gitu. Nah ini kenapa aku ceritaknya gitu? Karena saya mavery persen yang rasa udah di post dalam hal ini. Dan kemudian orang-orang suka ngeliat bingung nggak macar aku kerja gitu. Ini dia asiknya. Kenapa? Karena saya mahu aneh-aneh. Jadi cura asiknya. Harus lirin, yang harus lirin. Dan dalam melahuan suatu, gue selalu berusaha merefici yang normal best practice di tempat lain. Misalnya butuh 10 jam. Gimana cara jadi 2,2 jam, 3 jam kita lakukan gitu kan? Nah berarti ya harus nampak masalah merefici. Sega macam karena-kana-kana ada orang baru orang dari disabahnya. Ini bos gue nggak bisa kerja atau gimana gitu. Tampilnya sama ya. Kata sama ya. Kata sama ya. Kata sama ya. Kata sama ya. Bisa juga sebenarnya yang mereka itu. Jisru ada yang melihat kayak uhy progresif banget nih orang ya. Gak selalu ngikutin procedur gitu. Bisa juga gitu di pandangan orang-orang yang di set. Aku ngeliat kerja aja semerawat serabutan gitu. Bisa apa ya, basa ya. Kobo ya lah. Kobo ya. Nah buat orang orang yang preya yang belum nak kerja atau fresh kerja sebenarnya. Bisa jadi ngeliatnya apa yang aku kerja ini gitu kan. Wow ini kual banget nih nggak ada turan atau yang gini-gini-gini. Sala juga gitu. Ini nggak ada cara-cara prinsip-prinsip. Ada apa objektifnya, apa petarya alitasnya. And then gimana caranya dari petarya alitasnya kita bisa melakukan sea efisian punya sea efektu mungkin untuk mencapai objektif. Tapi kita nggak harus nguruts sama procedur itu. Tapi tinking process dan petarya alitasi harus akurat. Itu kan objektifnya apa, problemnya apa dan segala macam. Nah jadi, my point is, it's not only about the nilai-nilai. Yang norma atau seapun. Tapi bisa juga kep apa ya, adopsi teknologi, adopsi metodologi, adopsi apa segala macam. Yang bisa ada satu konsep pemikiran dan sebagainya. Itu juga bisa kita apply this prepos framework dan it's a really good framework sih kalau udah pake ini, kita bisa nganalysis banyak hal dengan lebih... Analysa apa analisis sebagainya? Aku sih biasanya pake analisis ya. Tapi KBBinnya nggak tau deh secek lagi. Ya dengan lebih bagus. Jadi lo juga tau gitu kalau misalnya ada yang lo kurang dimana ya, bisa jadi cek critical evolution track jadi kita sendiri, kita berada dimana semuanya. Bisa jadi masih prep gitu. Belum semuanya. Bisa jadi ada postnya apa ya gitu. How can I go beyond these things gitu? Ya bener. Gitu sih. Oke. Oke, cukup ya. Oke ule, oke. Oh paling sedikit ya tambahan sedikit. Masanya maksudnya tambahan agak apa namanya. Specificikit. So belajar juga. Mereut aku sih itu juga yang banyak yang terjadi salah melihat orang di state mana gitu. Dalam kontaks mengadopsi kurik kulung. Jadi kayak ngerti ngasih kamu misalnya di negara mana gitu. Dia ngajarin orang, ngajarin apa namanya IT lah ya attack. Itu mereka misalnya udah pada level oh ngajarin kompetesional thinking aja misalnya kayak gitu. Tapi tenata untuk kompetesional thinking tuh ada statenya dulu apa nih untuk menunjuk kompetesional thinking gitu. Kita belum ada statenya tau tau langsung kompetesional thinking. Jadi kayak dari nggak tau apaan terus langsung post gitu. Postional thinking, nah akhirnya nggak ada fondasinya nih kan dari state kan untuk bisa nyampik situ gitu. Ya gini kita kalau yang bagian prepos dalam pendidikan kita panjang banget. Oh panjang banget. Banyak banget. Itu contoh, gitu banget itu terlalu pentinya. Kenapa kenapa? Kenapa ini sekejara aja supaya pada tau masalahnya lagi nih. Of course, ya sorry tuh sih tapi banyak banget metodologi atau apa pendidikan yang kita pakai disini. Itu cabut deh luar gitu, mau koreku lu, mau koreku lu mau koreku lu mau koreku lu mau apa sekejaman. Tampam mempertimbangkan. Kita ada state mana? Orang orang, orang, orang, orang. Kita ada state mana. Jadi orang-orang umumin state oke dikasih soat-umni dikasih kan supaya bisa masuk kropos bagus dong ya kan. Tapi ada orang-orang, baik, kereta itu di kopi nih. Jadi untuk ngubah dari state kropos. Tapi orang-orang yang tadi pre. Jadi dengan model yang sama ini ya kok hasilnya malah berat pandang. Salat itu contohnya gini. Salat itu contohnya gini. Salat itu contohnya gini. Jadi autonomi. Skol autonomi. Apakah skol dan ticur autonomi? Artinya apa? Bawa apakah skol atau ticur dikasih kebebasan berkulikulum gitu. Nah itu kondisi postnya adalah untuk ngubah dari state kepost, adalah oke dikasih kebebasan ini. Ini denger-enger maju nih kayak di Finland, di Australia, dan itu melakukan skol autonomi. Jadi dengan kebebasan sebut dari skolah maupun dari ticur dikasih autonomi performa. Mungkin bisa gila gitu. Nah statenya apa karena statenya ini adalah bahwa se-ticur dan sekol ini sudah terakhir post. Sudah terakhir post dengan procesnya. Dengar procesnya sudah berhenti. Dan mereka pun menuhih standa tersebut. Jadi mereka sudah skillnya bisa beyond those things gitu. Ya gue udah ngerti ini. Gue mau kevalasi ini secara kritis. Hasilnya jadi berikutnya kita yang postnya. Model ini di research gitu. Dan di coba di tempat di skolah-skol yang belum memunis standa. Akhirnya bukan yang naik, malah drop kualitas dari outcomenya. Karena orang-orang ini event untuk mengikutin standa. Itu belum bisa. Bisa jauh gitu. Dan interestingly ini persen itu toks fama Oxford. Kita melakukan proletian. Ada metodologi kayak gini gitu. Diterapin di cek di sebelah segera gitu. Di sebelah segera hasilnya positif. Di satu segera hasilnya malah lebih jelak hasilnya. Ada di Jannat Hot Camel lebih jelak sebelumnya tebak negara mana. Of course Indonesia gitu. Hahahaha gitu ya. Ada gitu. Iya. Kalo siktau aja gitu. Karena aku ngerti was a problem here gitu. Jadi be very carefulnya kayak gitu-nya pengadopsian tecnologi metodologi gitu. Ya tadi apa juga nih hati yang mengambahin contoh supaya. Orang juga gak terfokus hanya pada urusan moral atau madoan gitu. Orang madoan gitu. Kalo bahaya kita ini rana yang gini ring. Iya. Yang gini ring gak sosial gitu. Semangka yang gini sosial. Society yang gini ring. Masyarakat yang gini ring. Pipol gitu. Pipol di bawah menus bagi. Iya. Dan untuk apapun itu selalu akan bersingungan dengan state ini. Pre-state atau post. Dan itu akan mengaruhi. Jadi nya solusinya. Effektif at all. Hahahaha. Oke cukup dulu berarti. Jangan lupa dengerin episode yang for domains supaya. Supaya lebih cakap juga dalam mana. Karena kita selalu meriver. Iya, dalam memahami bahasan ikutnya sekarang. Oke. Terima kasih sampai ketemu di episode lainnya.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Discussion on a framework introduced by Ken Wilber related to human development.
  2. Exploring the concepts of pre, post, and false states within the framework.
  3. Misinterpretation of individuals' states leading to pre-post fallacy.
  4. Importance of understanding individuals' cognitive processes and evaluating their development stages.
  5. The significance of critical evaluation in determining individuals' progress.

Summary:

The podcast conversation revolves around a framework introduced by Ken Wilber, focusing on human development. The discussion delves into the concepts of pre, post, and false states within this framework, emphasizing the importance of critical evaluation and understanding individuals' cognitive processes. The conversation highlights the risks of misinterpreting individuals' developmental stages, leading to a pre-post fallacy.

By evaluating individuals' progress and considering their cognitive evolution, it becomes crucial to avoid making assumptions about their developmental stages. The dialogue underscores the significance of accurately identifying individuals' states to guide proper educational or activist approaches. The discussion sheds light on the complexity of human development and the need for a nuanced understanding of individuals' cognitive processes to facilitate genuine progress.

FAQs

Framework yang dibahas merupakan konsep atau pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan suatu masalah atau konteks tertentu.

Pre-post framework merujuk pada tahapan sebelum, saat, dan setelah mengadopsi suatu nilai, konsep, atau teknologi, serta melakukan evaluasi kritis terhadapnya.

Pre-post falsi mengacu pada kesalahan dalam menyimpulkan bahwa dua kelompok orang berada dalam state yang sama, padahal sebenarnya berbeda dalam tahapan pemikiran atau pengadopsian nilai.

Integral human development merujuk pada konsep pengembangan manusia yang mencakup aspek pemikiran, tindakan, dan evaluasi kritis terhadap nilai-nilai atau konsep.

Memahami perbedaan antara state pre, post, dan post-phosis penting untuk mencegah kesalahan dalam menilai pemikiran atau perilaku seseorang, serta untuk menghindari pre-post fallacy dalam pendekatan edukasi atau aktivisme.

Transisi dari state pre ke post menunjukkan evolusi pemikiran dan tindakan seseorang, dari ketidaktahuan atau ketidaksadaran hingga pemahaman yang lebih mendalam dan evaluasi kritis terhadap nilai atau ajaran yang dianut.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.