Go back

Post-Structuralism

75m 48s

Post-Structuralism

Transkrip ini membahas kritik post-strukturalisme terhadap strukturalisme Ferdinand de Saussure, khususnya konsep penanda dan petanda yang dianggap arbitrer namun dipaksakan sebagai sesuatu yang pasti dan mutlak. Kritik ini berakar pada linguistik Saussure yang selalu mengunggulkan salah satu sisi dari dikotomi seperti signifier atas signified, langue atas parole, dan sinkronik atas diakronik. Roland Barthes memperluas kritik ini dengan menolak konsep pengarang (author) sebagai pusat makna. Menurut Barthes, teks bukanlah hasil karya orisinal seorang pengarang, melainkan "jaringan kutipan" yang terdiri dari pengaruh berbagai teks sebelumnya. Prinsip intertekstualitas ini menghancurkan otoritas pengarang dan membuka teks pada multiplisitas makna. Lebih lanjut, Derrida melalui dekonstruksi mempertanyakan apakah ada pusat makna sama sekali, bahkan hingga ke ranah teologi dan kebenaran absolut. Perbedaan utama antara intertekstualitas Barthes dan teori reader-response adalah bahwa Barthes menekankan ketidakaslian teks itu sendiri, bukan proses psikologis pembaca. Dengan demikian, post-strukturalisme menolak gagasan tentang makna tunggal, pusat, dan kebenaran absolut, serta merayakan keberagaman interpretasi yang tak terbatas.

Transcription

4853 Words, 32193 Characters

Indonesian
[Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] [Music] sebagai tak yang cukup rumin, untuk dipaham. Ya, aram rilah, anda beberapa dari anda, ada yang cukup sukses, memperasan tasikan itu. Terima kasih bagi saya, bagi anda, saya berikan apresiasi sehingga tinggi-tinggi kepada anda yang sudah berusaha, sedang memikian rupa untuk memahami gaya membacaan post-ructuralisme terutama yang dari hijak sederida. Walupun terlaluan bat sudah tidak kalah. Ruminnya, Walupun essay nya pendek, tapi karena justru karena pendek. Hesu, sebenarnya membuat pemahaman kita menjadi rumin itu. Baik itu, kekfres lain saya, post-ructuralisme, semua tentang berikutnya. Kalau di bajar sebagai serasin takmatiknya soh usur, anda membaca semua tentang berikutnya. Kita bisa mendeljem bahkan polisan saya ini, semuanya tentang bagaimana memajahkan struktural. Jadi, memang struktural ini dianggap sebagai soatuhal yang koheren. Sudah terlanjut dianggap soatuhal yang koheren, sebagai soatuhal yang pasti, yang absolut, yang ultimate. Dan itu berkat dari soh surian linguestik. Jadi, kita sedikit review dulu, soh surian linguestiknya karena memang pemahasan post-ructuralisme kita akan pernah bisa dijembatan, secara lengkap kalau kita tidak memahami secara penuh soh surian linguestiknya. Anda silakan buka kembali selagi soh saya terkait soh surian linguestik, yang gelas di soh surian linguestik, itu ada 4 di kotomi, ada 4 banger yokosisings, yang pertama, ada yang paling utama tentunya, adalah banger yokosisir mengenai sign, ada signifier dan signified, yang kedua dan lang paruh, yang ketiga syntekmatik dan paradigmatik, yang kempatnya adalah kafa, sinkronic diikronic, saya selalu menyebutkan bahwa soh sur itu selalu mengunggulkan apa yang disebut pertama. Signify di signify, misalnya signify, itu selalu diunggulkan, ketimbak signify. Lang dan paruh, lang yang diunggulkan, syntekmatik, paradigmatik, syntekmatik, yang diunggulkan, sinkronic dan diikronic, sinkronic yang diunggulkan. Kata-tapi, Anda bisa melihat bahwa di dalam jaringan kemanaan alak soh sur, linguestiknya soh sur ini, antara signify dan signify misalnya, Anda bisa melihat bahwa itu ada sinkronicasi, bahwa betul antara, antara, apakah, konsep dengan signify, itu relatif arbitral. Disrut karena arbitral ini, maka sebetulnya signify itu, itu sebetulnya diragukan kebunculannya. Nah ini gagasan awal dari postropturalisme itu. Sedangkan soh sur, saya boleh pakai sunda dong ya, apaya kalau dalam bahasa Indonesia, kalau bahasa sunda itu, ini, ohm koch mah, apaya ohm koch mah itu di dalam bahasa Indonesia. cari lain, sendiri. Jadi begini, ohm koch mah di atah menerangkan, ada arbitral, si-si arbitrariness, antara signify dan signify tetapi, kok signifynya itu bisa pasti gitu, kok signifynya bisa pasti, bisa ultimate, bisa absolut, gitu ketika kita menyebutkan meja, kok bisa absolut, gitu, ada konsep meja, nah pada harga arbitrar harusnya bisa jadi, bukan harusnya, bisa jadi ketika kita menyebutkan meja, yang tergambar di kepala orang, itu halal, itu bagasan jazat dari bagaimana, post-ructuralism itu menolak, sturalism, itu menolak, mengapa bagaimana sturalism ini sudah, sudah tidak relevant lagi di pertahanan seperti itu, terutama konsep signify dan signify itu. dan ini tentunya ada kaitanya dengan relasi-relasi, filsafat berat, atau perkembangan filsafat berat dari masar renaisang, pascar renaisang, itu di pascar renaisang, sehingga, kita akan memulai konsep signify dan signify di pascar renaisang, terkait dengan intertextualitas yang lorang bas, jadi harus dibedakan, ada dua metodi, kalau saya harus bilang metodi, ini ironin sebenarnya, menjelaskan post-ructuralism itu, tapi dengan gaya sturalis, karena kalau menjelaskan post-ructuralism, dengan gaya post-ructuralism, Anda tidak akan paham-paham, tidak sesuai pahamnya, karena akan selalu acar, jadi tidak paham-paham, kalau ingin paham salah satu teori, tentunya harus dijelaskan digambarkan secara stural, seperti minu kemarin, bukan kemarin, saya menjelaskan maksis, itu terstruktur dari awal, dari material production, apa manusia sebagai yang memproduksi materi, ini sebagai itu dari awal, bangetkan, itu, jadi harus terstruktur, kemasuk ini, jadi, jadi begini, barat di middle age, di abil pertengahan itu, mulai mengkoncepkan adanya author, bapak-bapak greja, itu adalah author, bapak-bapak greja itu author, dan konsep author ini sebagai signifier, dari signify-nya adalah tax, signify-nya adalah karya, jadi, bapak-bapak greja ini memproduksi karya dan sebagainya, dan konsep author, di bawah sampai kerennaisans, konsep author, di bawah sampai kerennaisans, selalu ada relasi antara signifier, kata author sebagai signifier, yang signify-nya, itu selalu adalah karya, itu, yang kemudian di bahagia, di konsep baranya sebagai tax, atau bahkan tulisan saja, writing, di bahagia, Anda bisa buka silakan di slideshow saya post-ructuralism parts intertextuality, tadi saya sebutkan ada dua metodi di post-ructuralismi itu, yang pertama adalah intertextualitas-nya parts, alak-bahagia, yang kedua adalah konstruksinya, alak-baga, di daerah, di burang lebih, sekarang, saya akan melanjutkan dulu intertextualitas-nya alak-bahagia. Terus ada relasi antara signifier, selalu ada relasi antara signifier, selalu ada relasi antara signifier, selalu ada relasi antara signifier, dengan beberapa pruba hidup saya pentingnya sedikit ada bisa melihat di halaman 238 sebelumnya bahwa livin di side literature itself saya mungkin akan berkata di luar 2-2 di luar livin di side literature itself selesai di stensi yang berbeza di dalam valiant yang paling berkata di luar 2-2 di luar 2-2 di luar dengan perlukan vali belanelitikannya terlalu di belanelitikannya di luar 2-2 di luar 2-2 di luar LOB Ask handleers link portal saya di zdrowian Osu laksana di那个 tinggi dengan young Universityannya paling setahap. Sammy Bobur Polynes 이상 Lengu yang tahu tentang sancet, bukan percayaan, dan sancet yang sangat mencari kecil yang mencari, dan membuat sancet yang mencari kecil dengan bersama-sama. Lengu yang tahu tentang sancet, ini memang menghendaki, ada yang penghancuran besar-besar terhadap konsep author. Oster itu tidak ada kalau di dalam tulisan, dalam tanks. Kenapa tidak ada? Karena tidak ada yang mau waktili yang dirimakan dengan author. Dan dari mana, ada yang ada yang ada, ketika kita membaca satu tulisan, kaniasa, atau apa-apa, tulisan-apakun. Ada kata aku di situ, aku di situ aku siapa? Jadi, di sini, bisa dikatakan bahwa linguistik, "Felanasi di destruction of the author" melangkapi kehancuran dari konsep author. Rekturalisme yang sosok itu memang menghilangkan seisi author, author, setiap konsep aku, ketak aku di dalam satu tulisan, atau ketak kami di dalam satu tulisan. Itu tidak merujuk pada apa-apa, bahasa saja, itu suje. Satu bisnis itu, "The speech act is enthagi, is a namjuh process". Jadi, tindakan berdutur di dalam bahasa di dalam tulisan, apalagi keseluruhannya itu adalah proses yang kosong. Secara linguistik, author itu tidak ada hanya penulis saja, seperti hanya "I is nothing but the world is I is I" gitu. Jadi, begini, konsep renai sens itu menghendaki adanya bahwa saya yang mencipta pengetahuan gitu loh. Ketika serisaknya tonton, mengungkakan, agak gravitasi, agak gravitasi bumin, agak gravitasinya sebetulnya sudah ada. Jadi, dari sejak umur dicipta, mungkin juga yang telah sudah mendapat gravitas itu, itu adalah akuluh yang mengungkakan, dan itu katasur isetnya tonton. Aku yang mengungkakan, ini adalah yang kemudian menjadi kanyalah, ada konsep author di pulau, ada konsep author. Semuanya, ilmu wanretain sens begitu, makangan kemudian, tidak dalam kelesapat berat untuk renai sens, ada antroposentrik, ada keakuan, aku yang berfikir yang katal di kart itu, aku yang berfikir. Itu, aku yang berfikir itu yang kemudian membuat, ilmu membuat pengetahuan ada, membuat satu pusat, membuat signifain, membuat adanya konsep itu loh. Sehingga, dari sana, untuk yang nanti akan saya bahas kemudian di jari-jari, itu ada ponosentrisem dan logosentrisem, itu. Nanti akan saya bahas, karena itu, contohnya ada dipad. Seperti itu, dan satu miskin di sana, logosentrisem, sehat untuk menjelaskan. Cuma masalahnya ada, makanya saya menolis di slah sosial, logosentik ambikuhiti, nada center. Jadi, ketika bahasa, seharus strukturalis, bahasa itu mengataukan sujek bukan orang. Tapi, masalahnya sujek ini akan tetap menjadi pusat, akan tetap menjadi pusat. MENJADI, sektor yang kemudian memiliki signifainnya tetentu. Makanya, saya kemudian tambahkan di sini bahwa ambik huitas linguestik yang di satu sisi di amem-emang sudah bergahasil, menghanculkan oversip. Tapi, ternyata, umum cula satu pusat yang lain, itu pusat bahasa, pusat, pusat mag, na, samjek itu sendiri. Alainnya, kalibat-kalibat di pahami, betul ozernya sudah hilang, betul ozernya sudah dimatikan oleh pembaca. Tapi, pembaca kemudian terdorong untuk memahami memakna bahasa seceras struktural, nah, itu akhirnya terkonsult lagi sujek yang terpusat. Nah, ini yang ini diserang bar juga sebetulnya. Makanya, kemudian di sisi lain, di sisi lainnya di, kalibat-kalibat-kalibat-kalibat-kalibat di S.A.I.I, itu di video di Oversip. Barts menulis kan seperti ini, ini adalah konsep intertaxualitasnya bahwa atax kemesis not-of-al-line of words, beli singa singa theological meaning, the message of the over-cord. Jadi, bar semua mahami bahwa ketika ada sujek, sujeknya ini kan menjadi pusat lagi, itu pada hal sebuah tak, sepadada sarnya, itu bukan, bukan satu, satu orang keyan kalimat, satu orang keyan kata yang mengeluarkan satu mahna teologi, satu pesan tentang ketuhan, satu pesan tentang absolut, satu hal yang absolut, satu hal yang pasti. Mungkin, kenapa seperti itu karena atax is a multi-domin single space in which the advantage of right-chance, non-no-original plan and clash. Jadi, pada dasarnya, dimana ke aslihan sebuah tak, itu di mana, orang akan tentunya ketika saya, ini adalah karya saya. Karya saya itu seperti apa, toh kita, saya misalnya, ketika saya menulis buis ini, saya akan membaca buisnya karya-karya dari renda, karya taufidisme, karya, karya yang, karya samjanur, karya yang lain, belum lagi karya-karya sesuatu yang ingin, karya robot, fros misalnya, karya wiliam world suit, kaya persimmonial, saya terpengaruh oleh itu, yang terbuka dengan atax is multi-domin single space in which the advantage of right-chance, non-no-original plan and clash, tercampur gitu, saling berbenturan. Jadi, apakah tulisan saya asli gak menjamin tulisan siapapun, gak menjamin, bahwa itu adalah karya ini, tulisan apapun gak menjamin bahwa itu adalah satu hal yang asli original, gak ada, itu yang dimaksudkan intertextualitas, sesuatu yang menulis akan selalu terpengaruh oleh tulisan orang yang sebelumnya. baik mentik atau pun tidak gitu sesuatu orang yang menolih sesuatu orang yang mengkapkan pengetahuan mengkapkan kapapun melalui duni melalui suaranya, melalui tulisan misalnya dia tidak akan bisa lepas dari pengaruh pengaruh apa yang sudah diomongkan orang, apa yang sudah dibaca dia apa yang sudah diadengar, diara flexikan kembali dalam semua pengengkapan yang lain nah itu itu yang masuk dengan multi-dimensional space garo yang asli jadi nge-lituloh semua teks, semua teks keen akhirnya ini penolakan terhadap ozerosif yang sangat tinggi di satu sesi di lingkisit, itu sudah menolak ozerosif, menghancurkan ozerosif bahwa ozerosif itu sudah hilang, semenjak bahasa cuma mengenal sujek bukan orang, ay itu adalah sujek di dalam diambilisan tapi di tambah lagi, di aturan hal yang seperti itu ketika akhirnya memunculkan centrer yang lain itu dihancurkan lagi, sudah menolak ozerosif itu segera sujek oleh linguistik ini lebih dihancurkan lagi oleh prinsip intertaxtualitas di topor, bahwa the tax is a tissue of quotations drawn from the innumerable center of culture tidak ada yang asli, mana itu jadi banyak di topor jadi pembaca itu, ini berbeda-beda nya Sisi Reder ala interetek sualitas nya vars dengan reder response nya ala iaus dan iser yai yaus dan iser, jadi begini bahwa kalau iaus dan iser itu lebih memandang waktu pembaca itu punya pengetahuan punya pengetahuan awal, yang kemudian dia memilih dia harapan, dia kemudian mengkonsuksi secara sagar kalau kata iser ada skematik idius, yang kemudian memunjukkan virtual dimension virtual dimension kan menjadi kusat, menjadi magna, menjadi signify, jadi yang pasti yang pasti menurut si pembaca itu kan, tetep ada yang pasti kalau interetek sualitas jangankan apa di antara banyak pembaca di dalam diri kita sebagai pembaca ada yang sangat menurut virtual dimension itu menjadi banyak di situ, apa namanya? makanya itu menjadi banyak, makanya di jadul banget juga kan saya tuliskan di mauke tersiti virtual meaning, textual meaning, dan itu berdasarkan tulisan barcas langsung di 2040, 2040, orang sudan, saya maaf, dan kekalian tot sudannya kepahapan halamanya 20, ini masih berdum yang paragraf, once the author is removed the claim to decipher a text becomes quite futil, to give a text an author is to impose a limit on the path, to further it will final signify to close the writing ini yang disarang oleh bars, itu, luri tangannya, di dalam penjaga multi-precipity of writing, everything is to be disengult, no thing disappeared Contoh^cuz Trevoras dan SDTCft ada perladi rapan. Disathera ter20 agreed dilengkin! Setirapnya dan ada eb片, itu stimulate בע Cir Datung yang lebih berjanji unas gua! Pemparang berungsa berpraya berjalan di DDT181. Respekt� vale attributed melalui sehingga di ke wirklich ber ، lalu saya saya iebak g curl kemungkinan untuk menunjukkan banyak, di sini untuk menunjukkan gulang dan ini adalah postasi, "Risun Science Blow" dan ini adalah kemungkinan kemungkinan dari kari-kari-kari ini, ini adalah kemungkinan tertax. bahaya kalau misalnya anda menggunakan perspektif membaca ala interteksologes bahacini untuk membaca ketam suci misalnya untuk membaca ala kurang jadi ada, jadi ada mak, jadi mananya jadi banyak, mananya ya apa, tuhan jadi ada kan, bahyal tapi memang seperti itu, interteksualitas itu, jadi pemusnahan oversi berdasarkan plinsip bling mesti dan interteksualitas dari tulisan itu sendiri jadi yang namanya tulisan, apa pun tulisan ini sangat radical, bahkan dia sendiri menurut biografi di dunia Roland Bats atau Roland Bats, di dalam bas ini, Roland Bats, di dalam bas ini sangat metaforis, Roland Bats yang pertama di emasurkan sebagai diaya yang berbicara, Roland Bats yang kedua di emasurkan sebagai nipasi apa jadi di janyi sendiri tidak mengau, apa tidak mau mengajak pembaca untuk membangun satu bahna saja untuk terhadap apa yang dia tuniskan juga jadi maknanya itu menjadi banyak, apa pun bisa ditaksirkan, bedanya di tadi bedanya dengan interteksualitas Bats dari Yose dan Isra yang ada respons itu, kalau interteksualitas itu tetap jalanan bahasa, jalanan teksebukan, bukan berdasarkan plinsip kalau dari respons karena ada bagian sikolik mesti, ada bagian kesadaran untuk membuat proses membaca, gitu kan pengetahuan awal kita membuat proses membaca kita, itu sikolik mesti kalau ini, itu lebih sedikit, jadi si teksebukan itu tidak asli, kita bisa memaknai apa pun, kita bisa membaca dari kiri ke kanan, bisa membaca dari kanan kekiri, bisa membaca dari tangga ke atas tapi karena semua ini adalah akutasi, itu aku bilang lebihnya Bats untuk terdeksi, makanya kemudian di akhir, Bats bilang bahwa, Bats dari awal itu terdeksi di atas ke atas dari Oda ke lahiran kebaca, harus dibayar maha dengan kematian sangpengarang sangpengulis, karena memang konsepnya Overset itu memang tidak ada, sudah, satu karya dilamparkan kebaca penulisnya mati, gitu baca, itu boleh mengetak ngatik dari sisi mana pun, boleh mengkritisi dari sisi mana pun sepanjang teksebun bicara itu, itu apakah membacanya dari kanan kekiri dari kanan dari tangga ke atas, dari tangga kebawa, apakah dia membacanya di lewat tekselem yang dia pernah baca, itu kan, dari sebagainya itu yang kemudian di sebut dengan tissue of quotations, itu, tidak ada yang asli semuanya tercamput dan semuanya selik berbentang di sekitar sedikit, jalan kawal salitas dari kira sakat barat, tradisitas sakat barat yang ekosentrismu, yang keakuan, aku yang berfikirnya ada kart, itu kanan sebenarnya. Jadi dari dahat, ini lebih dipertajam lagi, analiskan bahwa semua konsep, semua apa yang diungkapkan, boleh para penuhulunya, boleh para ilmuan terdahuluh, itu ahliannya menjadi struktur yang perusahaan serta di setan struktur, dan dia lebih diingin, punya sebagai event, event ini yang terdiri dari setan struktur. Itu, ya, gimana kalau itu cuma akan sebagai peristiwa, atau terasa rala, anda memahami event, atau seperti apa, itu akan berasal terhadapnya, saya tidakkan menguntung jemakannya, event saja. It will be easy enough, haramendos 244 di lupus saya, di cakter yang diri-degat, di centring, dikontraksin struktur di dalam lalu. It will be easy enough to show that the concept structure, and even the words started itself are as old as a epistem, as old as Western science and Western philosophy, that the rules thrust deep into the soil of the little language, into those deep spaces, the epistem plants together, and together, one small, making them part of itself in a metaphorical displacement. Okay, gili. Um, the concept structure, right? It is the same as the concept of the epistem, the way the word "dapat" is used, the word "dapat" is used in the word "barad" and the word "dapat" is used in the word "barad". The word "dapat" is used in the day, in the day, the word "dapat" is used in the day, the word "dapat" is used in the day, the word "dapat" is used in the day, the word "dapat" is used in the day, in the day, the word "dapat" is used in the day, the word "dapat" is used in the day, the word "dapat" is used in the day, saya ikut diskusi di web AG kita, class dari kita misalnya, dan saya ikut mengdilaskan pake chat, metode chat, apa, maksudnya via chat, gitu ya. Setep saja selalu ada yang miss, bedak dengan misalnya, kalau saya bicara begini, yang maksudnya ini, jangan kan tulisan, jangan kan tulisan yang berjara, yang sangat berjara, gitu ya. dengan adanya symbol dengan adanya signifier, karena keyan khurup itu signifier saja, beda dengan anda mendengarkan melalui telingga anda, saya berbicara begini, kan signifiernya, signifiernya langsung, kita langsung digini-gini anda, kalau anda membaca text, karena signifiernya jadi ada jarak lagi, gitu lo maksudnya, ketika saya sembutkan tulisan itu berjara, jangan kan tulisan yang berjara, ketika saya menjelaskan seperti ini pun, bahkan ketika saya menjelaskan diruang kelas pun, bisa jadi ada yang tetep bengmong, tidak berkira, ada yang tidak paham, gitu, gitu, kira-kira, konozentris-muda, logozentris-muda itu, makanya kok, dia dari da itu, geram, kok, bisa bisanya orang, percaya hanya dengan satu kebenaran, gitu, kok, orang itu mempelajari bahasa, mempelajari metahmor, mempelajari yang lain, tapi kenapa hanya memunjukkan satu kebenaran, gitu, jangan-jangan semuanya salah, jangan-jangan, memang tidak ada kebenaran, tidak ada mana, gitu, kalau barc itu merayakan, itu banyak, tidak ada mana yang tunggal, di multiplicitio textual minig, kalau barc, esori kalau dari da, pertanyaannya jangan-jangan, justru, tidak ada mak, sama sekali, gitu, jangan-jangan, tidak ada center, tidak ada pusat, ini lebih radika lagi, memang, jangan-jangan, tidak ada tuhan, gitu, atau ismur, ya, ya, kakil semua, ini di slidesos saya, anda bisa lihat, bahwa phonocentris, logocentris, yang awalnya itu dari center structure epistem knowledge, itu di dia bonus rupsi, di bong, kata konsub itu, bongkara, memetahar seperti halnya breaking, yang namanya membangkara itu, mempreteli, memetahkan itu, tidak berarti merusak, itu, di construction itu bukan de construction, di construction, or de center pada two perspectives, saya senajah, saya ingatakan dengan istilah perspektif, tidak princip, tidak metodi, tidak apa pun, karena dari dannya sendiri, mengandapi, tidak ada metodi, sama sekali, di dalam di construction, ini bukan, bukan, apa ya, satu bentuk penalitian, bukan satu bentuk, apa, cara membaik saja, jadi perspektif, ada dua perspektif, kayak itu, free play, dan different, different, di, apa, di, hampir, di, hampir, di, hampir, di, hampir, di, hampir, di, hampir, keseluruhan tulisannya, di construction and play, di discuss of human sciences, itu ada free play, ada is love free play, oh ya, yang center structure epistem knowledge, itu ada sama dua perspektif, di bawah saja, dari mulai yang, or dua perspektif, di center is epip, di center, di totality, di center, di totality, di center, ya, selakan di baca, jadi penjelasannya tadi sudah, jadi ke terpusatan, ke terpusatan yumuh, tutup ada di mana-mana, yang dia tak, sehingga perjalanan dari, phonesat risk, dan logosat risk, ini adalah, substituisi, perpindahan sahaja dari, dari pusat-satuk ke pusat yang lain, dihara mendun suku nanya, logosat risk, ini menjadi arpeidius, arpeid, nelousin edj, aleghia, dan sebagainya, bahwa, baru kemudian, ada gangguan, itu ternyata, phonesat risk, logosat risk, ilum pengatawan yang terpusat, suku nyang terpusat, terkontradiksi oleh trinsif bahasanya sendiri, jatuh, bahwa bahas itu, sejujurnya, hanya di parami, sebagi permainan tanda, jatuh, jaharan mendun suku nelapan, ada bisa membaca ya? Follessignification sign, has always been comprehended and determined, and it needs sense, the sign of signifying, referring to a signifying, signifier different from its signifying. If one you racist, is radical difference between signifier and signifying, it is the word signifying itself, it ought to be abandoned as a metaphysical concept. In the era, yang dimasuk di flit play, jatuh, yang dia juga, yang buruh dengan different house, di masa pratiknya di, bahkannya, pengencapannya different house. Nulisnya, dia bahasa different house. Tapi, yang pertama, itu ada curapnya different house. di berjalannya, di different house. Nah, akhirnya yang menjadi kebenaran, yang menjadi metaphysical concept, dan konsep metaphysis, konsep, di metaphysis itu yang, yang akan mematak fisik, di dalam fisik, di dalam fisik, di dalam fisik, di dalam fisik, di luar fisik. Jadi yang berupa abstract, itu di tumpahkan semua, pada signifier. Itu berarti ada replay, konsep replay, di akhir penjelasan, dari akhir tulisan ini, yang, di disusik kita juga, mengungkapan ini. Freeplay is always an interplay with absence and presence. But, if it is to be ready, click the "C" ihraman 2, nam 2, but if it is to be ready, di akhir penjelasan, harusnya penjelasan di sebelah, di akhir penjelasan dan absence. harusnya penjelasan atau absence, ini adalah penjelasan yang bisa penjelasan, dan tidak terjadi. Jadi, di situ, dari dari itu, di tulisan ini, memang, mengacak-macak, mengenalkan konsep replay, di mengkapan oleh levis rauz. Levis rauz itu mengukakan freeplay di tulisan tulisannya, tulisan tulisan antropologi strukturalnya yang orang banyak menggun, kekagumkan, terhadap tulisan yang Levi's Rose. Pernyata, banyak sekali, kejanggalan dalam tulisan Levi's Rose itu, di akhir penjelasan oleh, bahwa, pernyata, permaninan tanpa, saya yang saling berkontradik di satu sama lain di dalam tekstnya Levi's Rose. di situ, di situ yang dia maksudnya akan freeplay, jadi ada kehadiran, si, si, si logos, tetapi juga akhirnya ada, juga, ada presen, tetapi juga ada absence. ada hilang, itu, dan itu, itu salah satu penyebab adanya freeplay itu, karena ada di farang. kebetulan, di dalam bahasa practice, different, itu maknanya ada dua, yang pertama, di far, di far, membedakan, kemudian yang kedua difer, difer, yang kedua adalah menundan itu nolis yang itu difer, itu defer, d-e-r nah itu kalau di lembas angkis ga ada, konsep ini ga ada kebetulan di lembas aprajus, diferongs itu maknanya ganda, maknanya membedakan dan menundan jadi begini, saya nolih ikan dengan kamus, free play dan diferongs itu yang difer, yang untuk membedakan kalau anda bilang keb, anda bilang keb, karena dia bukan kebet anda bilang kebet karena dia bukan kebet, anda bilang kebet, karena dia bukan kebet terus gitu, sampai kapan ini akan berakhir, gada-gada, akhirnya ada-gada ujungnya, persi seperti kamus, anda membaca atau misalnya, ingin mengapa membayah, ingin mendekinisikan kata kursi, kursi adalah di dalam kamus ada yang, kursi, benda berkaki digunakan untuk duduk, yang memiliki sandaran, misalnya begitu yang maknanya juga, maknanya tidak ada kata duduk, karena ada duduk, duduk, definisinya apa? terus, jadi penjelasan satu kata, itu hanya bisa dijelaskan, oleh kata yang lain kalau signify itu mana, sebetulnya kan gada, jadinya kalau satu kata, satu signifier, hanya bisa dijelaskan, hanya bisa dimunculkan signify-nya oleh signifier yang lain, kan jadi yang ada cuma signif, rakyan signifier itu kan, signif yang lain, di dalam signifier yang perlu dijelaskan, oleh signifier yang lain lagi sampai kapan berakhirkan gada ujung, kamu sih itu gada ujung, gitu, gada ujungnya, nah itu jadi kebenaran itu yang mana, ada gitu kebenaran kan, gada jadinya gitu loh, persi seperti, anda membongkar kursi, tadi saya cantokkan di kamu, sekarang, benda nya, anda bongkar kursi, sandarannya ada bongkar, misalnya kursinya itu gabungan dari kayu, ada kayu, ada apa, gitu kan, bongkar kainnya lucu, baut-bautnya, gitu kan, kursi citos lah, yang ada di kampus itu, anda bayakan, yang suka anda duduk di ruang kelas, kayu nya lepas di bongkar kain, apa, plastik, nya lepas di bongkar, baut-bautnya di lepas, udah kelepas semuanya, ada kursi, saya nanya, ada gak kursi, kan kain kain kain kain ada jadi, yang ada itu ada cuma bauan, jadi berasi, hanya bisa dijelaskan oleh kata yang lain, kan, kan yang bisa dijelaskan oleh benda-benda yang lain, oleh signif air yang lain, community Constantly streams Jacqueline Alejandro jangan belajitos elect שהmengal immer глуб Давайте verge exploring apakah? yang tak patiently saya itu man� terdengah nama toxic handled Substantara dari mana anda bisa menjelaskan itu maksudnya sinifair makanya ada tax comes to hard-kinpaces of meaning impasis itu apa? buntu jalan buntu tax akhirnya memiliki satt, memiliki rangkai yang makna yang buntu jalan buntu jalan buntu terhadap makna banyak kontradiksi di dalam tax dan tidak ada absolut meaning di dalam tax itu kebenaran ada kebenaran di mukabung ini kata dari da bisa yang bisa tidak terjantung yang telah pusat yang dinamakan sebagai kebenaran yang bisa di jelas polerangkai yang kebenaran yang lain yang bisa jadi kebenaran yang itu juga semuanya pasu juga harus ditunda banyak kontradiksi nah begitu jadi kalau saya mengarikan dari pertanyaan ikutan di buku literari di theory jadi begini kata ikutan if meneng signifai itu adalah percayaan di dunia di dalam percayaan di dalam percayaan di dalam percayaan di dalam percayaan di dalam tax di dalam tax di dalam percayaan di dalam percayaan di dalam tax di dalam percayaan di dalam tekst itu jika realty was constructed by our discourse dan reflective by Ed jika realitas itu di konstruksi di bangun oleh wajah nah oleh bahasa oleh oleh fikiran oleh signify dan signify itu rather than rather reflective by ketimbang, diriflexikan oleh oleh discourse itu maka how could we ever know reality itself bagaimana kita bisa betul-betul mengatahui kenyataan itu sendiri rather than merely knowing our own discourse ketimbang kita mengatahui wajah-na atau bahasa yang kita miriki sendiri gitu loh was all talk just talk about our talk apakah semua pembincaran kita pembincaran di mukabourmi ini cuma perbincangan cuma pembincaran tentang perbincangan perbincangan atau seberbincangan dan sebagainya jadi peksanin untuk menghantarkan yang tersebut di dalam ini masuk akal jika bahwa satu penafsi dan atas realitas histori orde-ledelit terlihat di taks sejarah dan atas taksastra yang lebih baik dan lain tidak bisa katanya itu tidak bisa seperti itu jadi apakah kita ini jauh lebih paham, apakah saya jauh lebih paham dari anda tentang taksastra, apapun belum tentu belum tentu karena pembincaran atas ruktu bisa berbeda dan jangankan begitu pertanyaannya asumsinya jangan-jangan apa yang saya omongkan di sini itu juga bohong belak jangan-jangan bahas asumiannya ulang-ulang seperti itu adalah-sadalah itu lah di konstruksi bongkar-membongkar atas wajah-na-atas atas wajah-na-atas atas beragam ponosentrisme logosentrism sudah panjang sekali satu jam seperti biasa lebih ternekt mungkin rekaman saya coba lihat satu jam 9 menit dah telup panjang lah terima kasih itu saja yang kemudian bisa saya sampe kan silakan berfigur secara kritis tentunya ada banyak hal yang bisa kita ambil manfaat dari kaya berfikir prohan bus dan jujak sendiri dah dari kegete of the oaster dan serektor saya ingin di skor sosial human sciences tapi juga yang buruk- buruknya karena kita manusia beriman karena kita ada kemat muslim kalau anda masih mengakui sebabnya kemat muslim tentunya ada hal-hal [MENGENI] atau kalau saya sih berpikirnya butuh ini ketika dari mereka mengunggungkan dekonsuksi, posok turalis, intertaxualitas dan sebagainya justru, alkuran sendiri itu bergisaya itu sudah mendahului mendahului teori dekonsuksi ini bagi saya, alkuran itu jauh lebih agung jauh lebih sudah mendahului teori dekonsuksi ini justru alkuran itu di satu sisi strukturalis, di sisi silain, posok turalis di sisi silain lagi sangat kain minis semuanya sudah ada di dalam alkuran contoh kenapa misalnya saya mengibutkan posok turalis atau sudah di konstruktif alkuran itu kan tidak tidak tematis jadi kalau anda mau mencari misalnya ayat tentang tentang surga dan rakan kan itu ada di semua suroh hampir ada di semua suroh seperti itu, itu gaya yang sudah di konstruktif, menolte saya jadi cara berfikirnya tidak tematis makanya kemudian ada tafsi ke bawah ini misalnya ada tafsi ke tematis yang khusus misalnya buat bicara tentang kesahatan di dalam alkuran kebicara tentang kesahatan tafsi ke bawah tafsi ke tematis tafsi ke bawah bukan mau menuhinya atau apa ya, seluruh panagia bukan akhirnya bukan mematis yang mau menuhinya ya seperti itu jadi alkuran yang sendiri sudah mengberlakukan gaya di konstruktif mendahulu-wila sudah mendahulu-wila mau dibajar secara sukturalin disangat bisa alkuran itu dibajar secara ada konstruktif sangat bisa itu ya, ya silakan saja anda membuat sesuruh anur misalnya itu begitu dramatis di awal berbicara tentang hukuman bagi para bezinya misalnya tapi di tengah-tengah ayat misalnya begitu indah, begitu metaforis berbicara tentang perumpamaan Tuhan apa yang Allah unur sama wa atiwal hab mahalun unrui kami sebagi dan sebaginya itu di tengah-tengah surah anur itu sangat poitiskan jadi itu bekonsruktif lagi saya itu pemetahan-pemetahan yang memang bagaimana kemudian manusia suruh di suruh berfikir menguatak nanti beragam tanda di dalam alkuran jadi makna itu sangat kaya makna itu harus ditunda anda membaca membaca satu suruh gak bisa sertamarta langsung satu suruh itu maknanya pusaknya ini gak bisa gak bisa akuran itu sudah sangat dikonsruktif dalam hal ini itu berdizulah keran-keran keuntungannya mungkin membaca nya begitu lah jadi jangan kemudian di baca bahwa kalau baca alkuran lewat dikonsruktif tuhannya gak ada jadi atais bahaya juga ya jadi ambil hitman daripada membaca dengan cara dengan daya seperti ini sudah cukup kita makan si itu saja itu maksudnya saya atas segala perhatian anda semua mudah-mudahan tidak jenuh, tidak bosan mendengarkan posihan saya di anchor FM anda bisa unduh juga di sportify di Google PhoneCats dan semaganya mau anfata segala kekurangan saya semua yang bisa dipahami semua yang benarnya tentunya datang seperti pengatahuan dari Allah Subhan Allah apa yang kapan-kapan saya setunnya itu adalah sahes sendiri steysep semuanya tetap sehat, tetap sehiat, tetap semangat kuasanya lancar jangan bodh cor, jangan godin awas para cowok ini banyak yang godin, jangan godinnya kalau di rumah anda tentu jangan godinnya makanya alam-gulahnya yang suka godin-godin kalau di kosan sekarang di rumah anda bisa godin oke baik dumitian selesodera segala lagi mau anfata segala kekurangan saya terima kasih atas gila-perhatiannya persembahan rakhir sedikit lagu dari keambaris lagi selamat malikum orang-orang tuaai membahar agar tur [mengikirkan kembali]

Podcast Summary

Key Points:

  1. Post-strukturalisme muncul sebagai kritik terhadap strukturalisme Saussure, terutama konsep penanda (signifier) dan petanda (signified) yang dianggap arbitrer namun dipaksakan bersifat mutlak.
  2. Roland Barthes menolak konsep pengarang (author) sebagai pusat makna, dengan argumen bahwa teks adalah "jaringan kutipan" (tissue of quotations) dari berbagai sumber budaya, sehingga tidak ada makna asli atau tunggal.
  3. Intertekstualitas Barthes berbeda dari teori reader-response, karena menekankan bahwa teks sendiri bersifat multidimensi dan terbuka terhadap berbagai interpretasi, tanpa pusat makna tetap.
  4. Pemikiran Derrida melanjutkan kritik ini dengan dekonstruksi, mempertanyakan apakah ada pusat makna sama sekali, bahkan hingga ke ranah teologi dan kebenaran absolut.

Summary:

Transkrip ini membahas kritik post-strukturalisme terhadap strukturalisme Ferdinand de Saussure, khususnya konsep penanda dan petanda yang dianggap arbitrer namun dipaksakan sebagai sesuatu yang pasti dan mutlak. Kritik ini berakar pada linguistik Saussure yang selalu mengunggulkan salah satu sisi dari dikotomi seperti signifier atas signified, langue atas parole, dan sinkronik atas diakronik. Roland Barthes memperluas kritik ini dengan menolak konsep pengarang (author) sebagai pusat makna.

Menurut Barthes, teks bukanlah hasil karya orisinal seorang pengarang, melainkan "jaringan kutipan" yang terdiri dari pengaruh berbagai teks sebelumnya. Prinsip intertekstualitas ini menghancurkan otoritas pengarang dan membuka teks pada multiplisitas makna. Lebih lanjut, Derrida melalui dekonstruksi mempertanyakan apakah ada pusat makna sama sekali, bahkan hingga ke ranah teologi dan kebenaran absolut.

Perbedaan utama antara intertekstualitas Barthes dan teori reader-response adalah bahwa Barthes menekankan ketidakaslian teks itu sendiri, bukan proses psikologis pembaca. Dengan demikian, post-strukturalisme menolak gagasan tentang makna tunggal, pusat, dan kebenaran absolut, serta merayakan keberagaman interpretasi yang tak terbatas.

FAQs

Intertekstualitas adalah konsep bahwa setiap teks merupakan jaringan kutipan dari pusat budaya yang tak terhitung jumlahnya, sehingga tidak ada teks yang benar-benar asli.

Post-strukturalisme menolak gagasan strukturalisme tentang makna yang pasti dan absolut, dengan menyoroti sifat arbitrer antara penanda dan petanda serta menolak adanya pusat makna yang tetap.

Kematian pengarang berarti bahwa penulis tidak memiliki otoritas atas makna teks; pembaca bebas menafsirkan teks tanpa terikat pada niat asli penulis.

Logosentrisme dianggap sebagai keyakinan akan adanya kebenaran tunggal dan pusat makna, yang ditolak post-strukturalisme karena bahasa bersifat cair dan makna selalu berubah.

Intertekstualitas Barthes menekankan bahwa teks adalah kumpulan kutipan tanpa makna asli, sedangkan reader-response berfokus pada peran pembaca dalam mengonstruksi makna berdasarkan pengetahuan awal.

Menurut post-strukturalisme, 'aku' dalam tulisan hanyalah subjek linguistik yang tidak merujuk pada penulis nyata, sehingga menghilangkan otoritas penulis dan membuka banyak interpretasi.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.