Dalam transkrip ini, Dr. Muhammad Faisal, seorang peneliti kajian generasi, menjelaskan bahwa pemahaman generasi di Indonesia sering keliru karena mengadopsi konsep dari Amerika Serikat tanpa mempertimbangkan peristiwa lokal. Ia membedakan dua pendekatan: generasi sebagai unit (berdasarkan tahun lahir) dan sebagai kohort (berdasarkan critical moment seperti perang, pandemi, atau krisis ekonomi). Di Indonesia, peristiwa penting seperti krisis 1998 membentuk generasi dengan karakter kolektif dan kewirausahaan, sementara pandemi COVID-19 menciptakan generasi pasca-COVID yang mengalami diskoneksi sosial akibat dominasi dunia digital. Diskoneksi ini menyebabkan masalah kesehatan mental, individualisme, dan hilangnya pengetahuan budaya lokal, seperti pemahaman tentang peta Indonesia. Faisal menekankan bahwa generasi tidak bisa disamakan secara global karena respons terhadap peristiwa global bersifat lokal. Ia juga menyoroti fenomena seperti "insel" (jomblo kronis) dan pengaruh budaya populer seperti One Piece yang menjadi simbol bawah sadar generasi. Solusi yang diusulkan adalah menciptakan ruang sosial fisik bagi anak muda untuk berinteraksi dan membangun koneksi yang lebih dalam, mirip dengan semangat founding fathers Indonesia yang lahir dari krisis dan pandemi. Faisal optimis bahwa generasi sekarang dapat melahirkan pemikiran besar jika kembali ke akar kolektif dan kritis.
Pembicara 1
Hari ini kita bertemu dengan doktor Muhammad faisal, seorang peneliti kajian generasi.
Terima kasih sudah mampir ke sini.
Terima.
Pembicara 2
Kasih juga.
Pembicara 1
Ini seru banget sih.
Bukunya sih saya pernah ngelihat kontennya dan saya baru terima bukunya.
Tadi saya sempat skimming sebentar ini menarik banget dan tadi kita sempat ngobrol bentar.
Kalau dokter faisal ini lebih ke soal kajian generasi, tapi sebelum sebelum kita mulai nih yang menelusuri itu semua ya kita mulai dari dari definisi dulu kali ya.
Generasi itu apa sih sebenarnya?
Pembicara 2
Generasi itu sebetulnya dulu ada kajiannya tentang generasi itu baru mulai setelah perang dunia 2.
Jadi ada carmen dulu bahas tentang generasi.
Jadi cara memahami generasi ada bisa dengan berdasarkan unit ada berdasarkan kohot unit itu yang orang awam sering pakai.
Sekarang misalnya lets say milenial milenial lahir 8 1 sampai awal tahun 2000 terus punya karakter ABCDF gitu.
Itu memahami sebagai unit yang sebetulnya agak keliru karena kita melihat generasi seperti baca horoscop.
Jadi terakhir dalam sekian berarti sukanya apa enggak sukanya apa karakternya kayak gimana gitu?
Padahal kalau lahir kita kan enggak bawa sifat sifat bawaan gitu.
Lalu manham bilang uh, ada juga cara memahami berdasarkan koh, jadi generasi itu baru lahir kalau ada peristiwa besar.
Pembicara 1
Kohort itu artinya apa?
Pembicara 2
Jadi ada rentang tertentu dan itu ditentukan oleh peristiwa.
Nah, peristiwa yang disebut sebagai critical moment.
Jadi misalnya lihat saya ada perang, ada pandemi, ada krisis ekonomi itu yang nanti akan membentuk karakter generasi yang berbeda.
Pembicara 1
Berarti ke hotel secara definisi adalah kritikal moment.
Pembicara 2
Ya berdasarkan kritikal moment.
Pembicara 1
Berarti yang datang lebih dulu adalah pemahaman generasi.
Sebagai unit baru ada counter argumennya tadi bahwa enggak kita pahamin sebagai kort atau dia memisahkan keduanya langsung.
Pembicara 2
Sebetulnya secara teori lebih banyak pakar kayak, misalnya nil haw dan William stress itu yang melahirkan istilah generasi milenial, gen y genze dan sebagainya.
Oke dan 2 duanya yang menarik itu sejarawan.
Jadi mereka menulis sejarah uh, generasi Amerika Serikat dari abad uh 16 sampai nanti itu tahun 2030 sekian dan itu mereka sudah mulai tulis tahun 8 puluhan.
Jadi artinya mereka bilang bahwa sebetulnya kalau kita baca pola generasi lalu kita bisa memprediksi prediksi uh memprediksi generasi kemudian hari gitu kan.
Jadi itu pemahamannya kohort kohort itu berdasarkan peristiwa lalu berdasarkan peristiwa mereka bisa menemukan itu ada pola pola generasi di Amerika Serikat.
Nah di di kita nih itu yang menarik adalah kita ngambil itu plekan nih.
Jadi kalau milenial oh berarti milenial ada di Indonesia.
Sedangkan kalau kita buka lets say tanya tent atau wikipedia milenial yang tadi itu lah akhirnya tahun 8, 1 dan sebagainya.
Tanpa memahami kenapa tahun 8 1 jadi patokan bahwa itu lahir regenerasi milenial, sedangkan itu sebetulnya kenapa dipatok tahun 8 1 nilau dan will stress itu menemukan bahwa ada demografi generasi yang menarik di Amerika Serikat yaitu ada peningkatan fertilitas.
Artinya jumlah anak mudanya jadi banyak, sehingga kalau anak muda banyak itu menentukan semua karakter masyarakat Amerika yaitu terjadi kemarin mereka misalnya ada demonstrasi besar besaran anak muda gitu.
Nah di Indonesia kan tahun 8 1 enggak kejadiannya sama gitu kan serta merta gitu.
Jadi kita harus membaca kembali sebetulnya peristiwa yang terjadi di kita apa sehingga itu membentuk generasi yang seperti apa.
Misalnya lets say aku.
Uh remajanya itu remaja menjadi penting karena penentu karakter generasi itu atau remaja.
Karena remaja kita kan menginternalisasi nilai nilai aku remaja itu 9 8 masuk kuliah di Depok itu tahun 9 8 dan itu membentuk karakter agus hari ini kan dalam cara melihat karir keluarga besarin anak gitu kan karena waktu itu krisis moneter.
Di kampus banyak senior senior itu jadi fosil fosil itu pada gitaran karena enggak dapat kerjaan gitu kan itu mewarnai semua karakter kehidupan di kampus gitu kan?
Terus lebih hasil lebih uh pingin cepat mencapai stabilitas pengin cepat jadi dewasa gitu.
Itu yang mem membentuk karakter kita jadi peristiwa akhirnya membentuk karakter yang aku sebut di buku generasi PJ.
Jadi generasi p itu ya millenialnya versi Indonesia.
Penentunya apa ya?
Waktu 9 8 di mana kita mengalami turbulensi sosial, politik, ekonomi?
Nah akhirnya melahirkan generasi versi milenial Indonesia.
Pembicara 1
Nah berarti penentuan generasi sebagai unit tadi.
Kalau kita mau pisahinkan ada sebagai unit atau sebagai kohot penentuan generasi sebagai unit itu memang berangkat dari koht sebenarnya.
Baru diklasifikasi menjadi.
Pembicara 2
Kalau unit itu ada semacam rule of tham jadi melihat generasi itu per 30 tahunan.
Pembicara 1
Jadi.
Pembicara 2
Per 30 tahun lets say itu akan muncul generasi punya karakter baru.
Pembicara 1
Oke berarti itu terpisah dari generasi milenial generasi x generasi y itu itu terpisah dari situ ya.
Pembicara 2
Iya tapi campur baur kan sekarang pemahamannya seakan akan satu ya per berapa tahun berarti ini gensetnya baru lagi berarti generasi baru lagi.
Pembicara 1
Gitu miss konsepsi yang terjadi saat ini.
Seolah olah milenial pemakaian kata kata generasi milenial Indonesia itu tidak tepat karena millenialnya itu sebenarnya milenial Amerika dengan kecemasan dan.
Pembicara 2
Stereotip stigma yang ada di.
Pembicara 1
Sana.
Karena ada satu peristiwa penting atau penanda generasi ya mungkin kita enggak punya enggak punya oh.
Nah makanya ketika ketika orang kita memahami bahwa generasi milenial punya punya uh sifat ABCD, bisa jadi kita enggak punya di generasi kita untuk patokan angka lahir itu ya.
Pembicara 2
Sangat berbeda.
Makanya misalnya contoh nih.
Sekitar 2 tahun lalu, pemerintah Prancis itu Kementerian kebudayaannya menganjurkan untuk tidak menggunakan istilah gen y genze milenial.
Jadi kalau nyebut anak muda Perancis itu punya istilah sendiri, namanya long fong the numerik.
Oke jadi enggak boleh kenapa?
Karena takutnya nanti stereotip anak muda di US tuh kebawa semua ke anak muda Perancis dan mereka merasa enggak beda anak muda kita sama anak muda sana beda gitu.
Nah ketika kita terburu buru menggunakan istilah istilah itu akhirnya juga tercampur baur itu kan stereotype stigma tentang anak muda di sini seakan akan sama dengan anak muda di di sana.
Pembicara 1
Kalau kayak gitu, pertanyaan menjadi gini.
Apa penanda generasi?
Yang terlihat yang doktor faisal bisa temukan untuk membagi generasi generasi yang sekarang hidup bersamaan di Indonesia.
Apa saja dan dan generasi seperti apa yang ada sekarang ini?
Pembicara 2
Yang menarik itu kan di Indonesia beda sama di Amerika.
Bangsa Amerika itu didirikan oleh orang orang tua ya tokoh tokoh founding faders Amerika itu kan ada patungnya itu semua orang orang tua gitu.
Indonesia didirikan anak muda jadi 19 kosong satu itu ada politik etis anak anak muda kita akhirnya boleh mengenyam pendidikan tuh anak anak bumi putra tuh akhirnya terpapar ideologi konsep tentang republik konsep demokrasi revolusi gitu kan itu fase 1 tuh melahirnya sebuah generasi founding father sih.
Fase 2 ada era tahun 6 puluhan ada bom pemikiran kiri sosialis ada sohokgi ada kelompok anak anak anak bura baru akhirnya mengumu mengubah pemikiran lalu kita masuk ke era Orde Baru sebagian besar anak anak muda tersebut akhirnya jadi teknokrat yang mendirikan Indonesia dan pembangunan Indonesia.
Itu patahan 2 patahan 3 sebetulnya ya 9 8 yang sebelumnya di tahun 7 puluhan ini juga sudah ada turbulensi itu, tapi enggak sampai kejadian masif seperti tahun 9 8 jadi 98 itu melahirkan generasi yang kita lihat sebagai generasi digital hari ini di Indonesia.
Dengan munculnya misalnya ekonomi kreatif uh, start up gitu kan aspirasi yang berbeda tentang uh, politik gitu.
Lalu terakhir covid 19.
Covid 19 ini banyak mengubah cara berpikir konstalasi generasi.
Generasi yang kita sebut sekarang genze dan alfa karena cara melihat orang tua berbeda melihat orang dewasa beda, melihat otoritas beda melihat sekolah itu dengan cara yang berbeda.
Pembicara 1
Apakah?
Karena itu adalah event global, ada konvergensi Antara kegelisahan yang sama enggak ya di satu dunia sehingga kita bisa sepakat bilang bahwa genze gen alfa itu punya trade yang sama di seluruh dunia.
Pembicara 2
Ada peristiwanya global, tapi cara meresponnya kan menjadi sangat lokal.
Ya kayak waktu covid peristiwa global.
Tapi kita lihat misalnya di Indonesia kan ada dapur umum, terus masyarakatnya lebih saling berbagi satu sama lain gitu kan kolektifitas.
Nah, bagi anak anak muda Indonesia ini yang menarik adalah sebetulnya kan punya kecenderungan dari generasi ke generasi.
Aku tulis juga di generasi kembali ke akar itu kolektifitasnya tinggi.
Lets say waktu tahun 9 8 Indonesia bisa keluar dari relung krisis ekonomi.
Salah satunya kan muncul FOFO muncul usaha usaha kecil yang isinya anak anak muda dan itu tanpa diatur oleh pemerintah.
Jadi artinya kolektifitas itu mendorong satu gerakan ekonomi baru di anak muda.
Kecenderungannya seperti itu waktu terjadi digitalisasi ya mulai bom.
Twitter, awal awal Facebook dan sebagainya itu boom komunitas juga kan boom juga reuni reuni gitu awal awal reuni anak smp tkau di Facebook.
Karena tunggu di Facebook itu kan enggak terjadi di negara lain.
Pembicara 1
Di negara lain ketemu di Facebook enggak pada rio nih.
Pembicara 2
Ya enggak pada reuni gitu kan?
Pembicara 1
Menurut juga ya kenapa ya kita kayak gitu ya?
Pembicara 2
Ada respon lokal yang berbeda karena kita punya dna sosial yang berbeda gitu kan?
Nah ketika terjadi covid itu DNA nya agak terganggu karena pada akhirnya anak anak kan di rumah terus harus menghadapi realita mereka.
Akhirnya online gitu kan lalu.
Uh ketika akhirnya masuk ke sekolah, ya ini proses adaptasi yang masih berlangsung.
Enggak aku lihat.
Makanya muncul fenomena insel juga terjadi di sini.
Pembicara 1
Basi apa?
Pembicara 2
Apa ini voluntary selebrit jadi volunteery salib apa ya?
Jadi kayak semacam jomblo kronis gitu kan.
Pembicara 1
Biar.
Pembicara 2
Karena hidup di internet jadi kesulitan adaptasi enggak bisa engage sama sama lawan jenis terus akhirnya semua uh kompensasi sosialnya ya balik lagi ke dunia online gitu.
Pembicara 1
Install itu kan biasanya dipakai sebagai delegatory remx kan.
Biasanya ya iya enggak juga.
Pembicara 2
Dan sekarang sudah masuk ke istilah kajian uh, kajian formal akademis ya kalau insel itu wow iya iya, karena dikaitkan dengan beberapa perilaku radikal uh remaja itu di sekolah sekolah.
Jadi awalnya karena ketidakmampuan atau untuk bisa engage dengan teman dengan lawan jenis juga terus merasa inferior.
Akhirnya mencari ideologi ideologi di mana mereka merasa superior.
Makanya misalnya ada ada mulai kebangkitan paham paham neo nazi gitu di dunia online itu yang akhirnya menjadi sesuatu yang diadopsi sama anak anak insel.
Dan itu sudah ada kajian kajian ini ya risetnya.
Pembicara 1
Di Indonesia, apakah ada prevelansi ke arah sana?
Atau karena ke dna kita beda?
Seperti tadi dokter bilang malah malah enggak.
Pembicara 2
Ada kan ada peristiwa kemarin sekolah yang akhirnya ada anak merakit bom.
Dan dalam dalam kajian uh kepolisian yang yang sempat aku baca juga arahnya memang ke sana tapi sebetulnya masalahnya kan kalau dibilang radikalisme ini bukan radikalisme yang lahir untuk kepentingan politik, tapi radikalisme karena ada dna sosial yang akhirnya tidak tersalurkan.
Jadi sebetulnya solusinya adalah bagaimana menciptakan ruang sosial bagi anak muda lagi.
Jadi oke di online ya mereka ada hadir beraktivitas.
Tapi ya ruang ruang sosial itu ruang publik itu harus disi anak muda lagi.
Harus mereka interaksi lagi, terus belajar untuk bisa engage lagi dengan teman temannya.
Pembicara 1
Jadi itu terjadi karena covid maksudnya penanda generasi nya karena covid makanya ada akses yang seperti itu.
Pembicara 2
Ada salah satu hal menarik juga yang beriringan dengan covid itu kan ada boom wibu ya.
Pembicara 1
Wibu ya ya saya.
Saya juga suka anime tuh.
Pembicara 2
Tapi kan dulu kalau kita nonton anime enggak seradikal sekarang.
Jadi kalau dulu mungkin kita bisa ngabisin satu episode.
Dulu dragon ball itu nunggu setahun baru bisa karena nunggu akhirnya tayang di TV ataupun misalnya komiknya terbit atau komiknya terbit.
Ketika sekarang ada streaming semua khatam one piece akhirnya.
Lalu kok kita melihat demonstrasi kemarin kan benderanya bukan bendera kiri, bukan bendera ideologis benderanya one piece artinya sebegitu besar pengaruh dari covid ya.
Pada akhirnya bahasa kultur populer yang dikonsumsi bersama itu menjadi bahasa gerakan gitu.
Oke, berangkat dari Indonesia loh itu akhirnya seluruh dunia pakai one piece gitu.
Oke thats sebegitu besar, jadi artinya ini critical moment yang akhirnya menciptakan satu apa ya narasif naratif yang berbeda bagi generasi pos covid ini.
Pembicara 1
Generasi pos covid ini dikategorikan demografi umur berapa?
Pembicara 2
Uh berarti waktu covid mereka melalui fase fase penting kehidupan.
Jadi kayak misalnya remajanya itu waktu covid.
Pembicara 1
Penandanya itu ada peristiwa besar apa ketika remaja gitu kan tentu tadi.
Pembicara 2
Kan.
Jadi itu apapun yang kita alami derajat itu relatif akan stay sama kita sampai kita dewasa apapun.
Jadi kalau misalnya kita suka brand tertentu waktu remaja ya lets say sampai 3 puluhan masih cenderungnya yang mirip mirip atau masih sama.
Musik pun juga sama.
Jadi apa yang terjadi di remaja itu nanti akan membekas cukup dalam sampai ke usia berikutnya.
Pembicara 1
Dan itu dialami satu generasi.
Peristiwa itu betul menjadi trade generasi itu current karena apa?
Karena mereka mencoba berkomunikasi dan membahas kegelisahan itu bersama pirs nya.
Pembicara 2
Nah yang menarik adalah kalau kita baca.
Teori generasi itu kan basenya ke psikologi lagi lagi kan teorinya kargo staff jung tentang arke jadi arket ini yang menarik kargo jung itu terinspirasi peristiwa uh d seven sleeper ya kok di bible.
Kalau di islam itu ashabul kafi jadi anak anak muda yang gelisah sama masyarakatnya lalu akhirnya ketemu terus uh memutuskan ikut masuk ke gua karena enggak mau terpengaruh oleh dekade simal masyarakat dan akhirnya tidur sampai ratusan tahun.
Dari situ ukar gus staff jung percaya bahwa ada namanya bawa sadar generasi.
Bahwa generasi itu juga digerakkan oleh sebuah bawah sadar.
Jadi kalau tadi bang radit nanya ini apa yang karena interaksi atau karena apa ya?
Karena memang ada bahwa sadar yang sama.
Jadi ketika kita ngalamin krisis nih peristiwa yang memukul kita secara mental kita akan kembali ke dunia bawah sadar gitu.
Jadi kayak misalnya contoh one piece itu di akhirnya menjadi bawah sadar bahwa kita butuh sosok heroik seperti yang ada di one piece yang tidak.
Semaskular goku di era dulu kita nonton dragon ball tidak keren tidak estetik tapi pada akhirnya semangatnya itu merepresentasikan bahwa sadar sebuah generasi.
Nah jadi memahami generasi ya kita coba membaca arah bawah.
Sadarnya ke mana?
Pembicara 1
Sekarang bawa sadarnya kemarin kalau kayak gitu.
Pembicara 2
Ya per hari ini pun kit kita mendapat berita kurang bagus tentang ekonomi nasional ini.
Pembicara 1
Iya.
Pembicara 2
Kan.
Pembicara 1
Iya lagi.
Pembicara 2
Jadi ini sedang kita dalam fase mungkin the new critical moment gitu.
Bisa jadi nanti ada bahwa sadar bahwa sadar lama.
Moga moga sebagaimana aku tulis di kembali ke akar arah bawa sadarnya yang yang positif ya artinya kembali ke komunitas berpikir lebih mendalam, lebih kritis, akhirnya lebih independen gitu kan arahnya seperti itu.
Karena dulu fi faders juga sama kan mereka mengalami tekanan sosial politik.
Terus waktu 19 17 mereka mengalami spanish flu.
Pandemi juga.
Pembicara 1
Pandemi juga tuh emang pandemi.
Pembicara 2
Sih emang pandemi.
Pembicara 1
Mau minum dulu.
Pembicara 2
Iya kayaknya ngomongin pandemi.
Jadi takut krisis itu membuat funding fatdes pada akhirnya memutuskan kembali ke diri sendiri.
Itu yang beda kan?
Akhirnya mereka kayak intensif banget baca buku.
Terus melahirkan pemikiran pemikiran besar.
Nah kalau dibilang oh beda dulu itu kan enggak ada sosial media.
Sekarang ada sosial media.
Tapi kalau kita kembali ke era founding fathers itu era mesin cetak itu baru lahir.
Uh uh dan mereka sempat me mentreet itu seperti sosial media kan?
Pada akhirnya Bung Karno bung hatta tuh usia belasan tahun sudah nulis di di harian gitu.
Akhirnya interaksi anak mudanya lahirnya di situ.
Nah aku berpikir kalau kita kembali ke bawah sadar yang seperti itu akan keren banget generasi sekarang sekarang itu bisa lahir pemikiran pemikiran besar juga.
Pembicara 1
Kalau memang setiap generasi pada akhirnya kembali ke akar.
Dengan tadi kita sudah bahas tadi kan krisis 9 8 melahirkan generasi yang 9 8 tuh ketika remaja 9 8 terus kita masuk ke remaja pada 6 tahun yang lalu memasuki fase yang mengalami covid dengan semua percepatan internet itu.
Berarti apakah tiap generasi ini terutama yang sekarang lagi berbaur sama kita itu bisa di.
Diidentifikasi dengan satu kata enggak untuk menjelaskan trade generasinya berdasarkan berdasarkan peristiwa peristiwa itu, misalnya contoh ya misalnya gitu oh, kalau kayak gitu generasi yang lain dari covid enggak sabaran misalnya oh generasi yang 9 8 penuh kecemasan misalnya dalam hidupnya bisa enggak kita begitukan atau memang pada akhirnya semua generasi sama saja.
Pembicara 2
Beda ya tentunya jadi kayak kalau generasi post covid tuh karena sekarang masih dikaji ya permasalahannya adalah diskoneksi ya jadi terkoneksi sama secara online tapi terdiskoneksi pada akhirnya dengan dengan orangtuanya terdiskoneksi dengan apa arti menjadi teman gitu itu juga ada kajian sendiri.
Misalnya bagaimana memaknai teman kalian pada akhirnya teman itu jadi saru dengan friends di digital dan follower gitu kan?
Aparty sahabat gitu tadi diskoneksi dengan menjadi orang Indonesia itu seperti apa sih harusnya?
Bahkan sekarang ada problematika membaca peta Indonesia gitu kan kalau dulu kan gitu waktu itu suruh gambar peta itu pakai skala dan sebagainya.
Ada buku pintar kalau bang radit masih ingat ada rambu rambu lalu lintas ada pakaian daerah dan sebagainya.
Sekarang itu kan enggak jadi general knowledge anak anak muda ya?
Karena pada akhirnya referensinya ke apapun yang mereka algoritma mereka di tiktok ataupun apa browser mereka.
Dulu kita ada majalah majalah remaja.
Kita ada majalah yang kalau beli mungkin satu kelas tuh.
Pada akhirnya minjem baca bareng bareng, akhirnya isi kepalanya tentang kultur yud culture Indonesia itu hampir sama gitu.
Jadi diskoneksi yang aku maksud tuh seperti itu karena akhirnya tidak bisa terkoneksi dengan craud yang lebih luas di sekitarnya gitu dengan anak muda Indonesia yang lain implikasi konkretnya.
Pembicara 1
Apa?
Pembicara 2
Yang menjadi lebih individualis, jadi makanya permasalahannya yang muncul sekarang mental health gitu.
Karena pemda karena sebetulnya anak muda Indonesia itu bisa berfungsi dengan baik.
Kalau dekat sama teman temannya ya sifat kolektifnya itu hidup.
Pembicara 1
Dan sekarang kolektifnya tidak hidup.
Pembicara 2
Menurutku tidak.
Pembicara 1
Karena dia luas tapi tidak dalam ya.
Pembicara 2
Karena tidak dalam.
Pembicara 1
Teman banyak, tapi kedalaman sebagai teman itu tidak seperti yang kita alami dulu.
Pembicara 2
Betul dan itu bisa ditemukan dalam sekarang aktivitas kerumunan kerumunan.
Misalnya dikajian kita di youtube, cara nonton festival jadi beda.
Karena pada akhirnya beda kayak dulu cara ekspresinya nonton festival akhirnya untuk diposting saja.
Lalu datang hanya lagu yang familiar saja di mereka dengar di tiktok gitu.
Selebihnya kayak artisnya.
Oh gue enggak enggak tahu lagu yang lain cabut gitu kan.
Berbeda dengan cara menikmati uh kerumunan generasi sebelumnya gitu kan?
Pembicara 1
Itu kalau di post modern itu kan sudah hiperalitas tuh jadi kayak apa yang dinikmati bukan yang dinikmati jadinya betul jadi festival itu bukan buat.
Nonton festival tapi untuk mendapatkan arti arti lain dari festival itu bahwa gue bisa dapat tiket.
Bahwa gue ada di sana sehingga ada diskoneksi sama apa yang mereka pengin dengan apa yang mereka mau kasih lihat dan itu masalah.
Pembicara 2
Ya jadi masalah kalau dalam seru nih membangun sebuah komunitas LC dulu di eraku bread pop itu lagi boomnya lu OSC apa blur gitu dan itu akhirnya sampai markernya ke apa yang kita pakai gitu kan konsumsi brandnya lalu pakai jaket adidas umum berarti lu ini ya gitu dan itu akhirnya kita.
Terkoneksi ke komunitas yang lebih luas yang suka hal yang sama dan sukanya.
Pada akhirnya kita punya pengetahuan tentang kultur itu.
Tentang sejarah bandnya tentang albumnya dan sebagainya.
Sekarang pun permasalahannya.
Misalnya lagu lagu kan jadi terdiskoneksi dengan albumnya dengan artisnya.
Jadi bahkan cuman ingat judul lagunya itu siapa yang nyanyi ya gitu, enggak tahu juga gitu jadi terkoneksi iya.
Tapi akhirnya terdiskoneksi dengan dengan banyak hal juga gitu.
Pembicara 1
Kadang kadang kalau kita nyusun playlist juga bukan karena kita suka lagu dari playlist itu untuk disebarkan ke orang, tapi untuk.
Kasih lihat eh gue tahu ini loh dan ngasih selera dia terhadap enggak ada seseril dia suka tapi ada penanda penanda simbolis bahwa gue orangnya seperti apa dari playlist yang gue susun apa ya?
Nah karena tidak memahami itu jadi diskoneksi itu terjadi terus setiap hari gitu ya.
Pembicara 2
Sebetulnya iya, makanya muncul di istilah fomo itu kan itu jadi kajian tersendiri sekarang karena ya kita memilih sesuatu based on fear kan itu enggak bagus ya.
Pembicara 1
Oke.
Pembicara 2
Dan kalau fomo berlanjut kan ada fobo istilahnya fear of better option ya.
Jadi kita sudah ngejar nih sesuatu karena kita takut ketinggalan sama yang lain, lalu pas sudah dapat senang, enggak ya?
Senangnya pendek banget karena pada akhirnya ada kita lihat oh ada opsi yang lebih bagus dari ini.
Ternyata setelah gue browsing ada orang yang akhirnya achieve sesuatu yang lebih hebat dari gua.
Akhirnya juga senangnya cuma pendek gitu enggak awet gitu.
Nah kalau itu terus menerus kayak gitu kan akhirnya dispare ya artinya gue tuh learn hapless gua gua kayak akhirnya gua healthess nih gua enggak senang senang itu foda akhirnya masuknya fear of doing anything ya sudah gua enggak memutuskan gua di rumah rebahan aja.
Itu fenomena yang terjadi misalnya di China tuh dan akhirnya pemerintah step in kan.
Jadi ada aparat yang dijadikan petugas khusus untuk menjemput anak anak yang rebahan di rumah tuh.
Pembicara 1
Tapi bukan itu salah satu bentuk protes mereka terhadap kultur terjadi chinanya sampai hari Sabtu itu bukan sih?
Pembicara 2
Ya di ansalah satunya itu salah satunya itu.
Tapi itu kan itu fase fase yang dari fomo kovo ke food gitu.
Pembicara 1
Oke paham paham karena meaning sudah jadi enggak.
Mereka juga sudah enggak dapat meaning lagi karena begitu banyak yang bisa dimaning.
Pembicara 2
Kali ini ya yang aku sering bilang sih juga permasalahan ini.
Makanya terakhir aku nulis buku tentang filsafat kecemasan karena diskoneksi itu nan tambah lama juga diskoneksi dengan diri sendiri.
Sebetulnya karena kita bangun pagi yang 1 kita ambil handphone gitu kan betul akhirnya kalau itu terjadi kan pada akhirnya mindset kita langsung ke dunia eksternal enggak ke dunia internal.
Pembicara 1
Betul kecuali kalau.
Wallpapernya ini.
Nah ini ini menarik nih dari hasil riset pembelajaran pengamatan dari doktor faisal ini.
Menurut doktor faisal.
Bagaimana generasi generasi sekarang?
Mencintai.
Pembicara 2
Generasi sekarang mencintai.
Pembicara 1
Dia soal cinta sesama pasangan, apakah ada kecepatan juga dalam mencari pasangan?
Apakah ada diskoneksi Antara pacar dengan apa itu arti pacar buat mereka itu up apa yang kalau dokter faisalnya?
Pembicara 2
Ya ini menarik ya, karena terakhir kita juga ngobrol sama teman teman malik desential ya.
Uh ada rencana untuk gimana membuat sebuah karya kreasi lagu.
Tapi based on research tentang tadi mungkin ada pergeseran makna cinta di era malik desential dulu nulis hits hits pernamanya dengan bagaimana anak anak sekarang memaknai cinta kan?
Betul.
Pembicara 1
Betul benar itu mereka ngobrol dalam konteks apa mereka mau minta bantuan yang.
Pembicara 2
Memasakkan lagu atau ya ini masih on progress ya.
Jadi berapa bulan lalu kita ngobrol lah.
Tentang tentang itu kaitannya tentang mungkin enggak ini sebetulnya makna cinta tuh udah bergeser jadi Antara pembuat lagu menulis cinta dengan versi anak sekarang alpha itu memakami cinta berbeda.
Pembicara 1
Dan ini untuk konteks apa mereka mau bikin lagu?
Makanya mau gitu.
Pembicara 2
Masih masih brainstorming sih sebetulnya.
Pembicara 1
Nah Anda sudah selangkah lebih awal.
Karena karena pertanyaan saya nanti di ujung ujung tuh mau ke arah sana bagaimana pemanfaatan riset generasi ini untuk kita lakukan secara komersil gitu memasarkan podcast memasarkan barang?
Pasti kan karena kan dokter faisal sendiri banyak klien dari perusahaan juga kan?
Kalau enggak salah ya untuk tap in ke generasi ini, tapi kita elaborasi dulu tadi jadi malik datang minta inside soal generasi sekarang mencintai lalu lalu.
Pembicara 2
Nah yang kita lihat misalnya sekarang itu kan karena dominan imaji tentang cinta itu dari sosial media ya.
Jadi pada akhirnya pressure untuk membangun hubungan cinta itu jadi lebih berat.
Karena untuk ekspresi cinta itu pun harus mendapatkan validasi di sosial media kayak misalnya sekarang ada beberapa postingan uh nembak cewek atau celebrate anniversary itu satu bioskop di dikosongin gitu kan dibayar terus dia ngasih bunga terus ada di layar gitu ya.
Selamat ulang tahun gitu ya itulah bang rajin itu kan sebuah sosial pressure tersendiri.
Dan itu menjadi kelumrahannya.
Standar standar baru, ekspresi cinta gitu yang pada akhirnya makin menjauh sebetulnya dari substansi cinta yang sesungguhnya gitu.
Pembicara 1
Artinya apa ini?
Ini membuat ketidakbahagian.
Pembicara 2
Oh jelas kan ada filsuf alan alan the button misalnya membahas itu kan ketika kamu mengira bahwa cinta itu seperti yang digambarkan film film yang pada akhirnya kamu bisa ngejar pasangan kamu di bandara nyanyiin lagu lalu akhirnya berciuman bersama kita enggak seperti itu gitu kan cinta itu banyak pahitnya banyak pengorbanan.
Pada akhirnya kamu harus merendahkan diri untuk bisa menemukan.
Uh sinkronisasi dengan pasangan kamu i itu cinta gitu.
Pembicara 1
Terus cool of life.
Pembicara 2
Ya meanschool of life.
Pembicara 1
Ya enggak salah alhamdulillah oke terus.
Berarti tantangan generasi sekarang untuk mencintai.
Adalah untuk mengenyahkan.
Bahwa pasangan kita tidak cukup.
Karena yang diperlihatkan adalah pasangan yang lain.
Itu lebih baik dari yang dia punya karena semua hal tadi.
Pembicara 2
Iya iya mbak ya pada akhirnya tadi perbandingan sosial itu menjadi sebuah standar baru untuk uh ekspresi cinta gitu.
Pembicara 1
Artinya buat orang yang sedang dicintai di kepalanya akan banyak pertanyaan kenapa dia tidak seperti yang saya lihat.
Pembicara 2
Iya wuh.
Pembicara 1
Itu berat banget.
Pembicara 2
Dan.
Permasalahan hari ini kan ada permasalahan anak anak laki laki yang sekarang tertekan untuk bisa punya relationship dengan perempuan.
Karena sekarang tuntutan lux maxing itu ada dilaki.
Pembicara 1
Apa nih lux maxing?
Pembicara 2
Untuk punya rahang simetri untuk punya sixpack dada lebar gitu untuk bisa punya pakaian yang branded.
Pembicara 1
Oke.
Pembicara 2
Karena dulu lox maxing adanya di perempuan perempuan harus bisa memiliki daya tarik sedemikian rupa agar laki laki mau melihat.
Nah sekarang terbalik sekarang yang dia laki laki laki.
Pembicara 1
Oh karena itu sosmed tadi.
Pembicara 2
Karena sosial media ini kultur baru di sosial media.
Pembicara 1
Gitu.
Oke kalau gitu menghadapinya gimana?
Pembicara 2
Menghadapinya ya harus kembali ke filsafat diri.
Artinya harus nemu jati diri harus menemukan otentisitas.
Pembicara 1
Diri kita pasangan kita tidak memahami itu.
Kalau pasangan kita adalah orang yang ngelihat begitu banyak orang lain yang lebih hebat dari pasangannya.
Pembicara 2
Ya dengan kita mengejar standar pasangan kita yang hanya melihat orang lain itu tentunya kan kita enggak akan bahagia pastinya.
Pembicara 1
Lawan pasangan kita kan iya.
Pembicara 2
Iya ini kan yang disebut sekarang perfeksionism di sosial media semua serba perfect gitu kan artinya kita lupa melihat diri kita bahwa ada hal hal impperfect yang sebetulnya bisa jadi bahan kita untuk bisa bahagia juga.
Bahwa untuk bahagia itu enggak sesulit itu loh enggak harus sampai ke perfect dulu baru bisa bahagia gitu.
Pembicara 1
Nah berarti kalau punya pasangan yang kayak gitu either membantu pasangan kita memahami.
Pembicara 2
Iya.
Pembicara 1
Atau kalau enggak nemu nemu pakai banyak yang putus juga gitu.
Pembicara 2
Uh itu terlalu pesimis sih mbak najwa.
Pembicara 1
Saya lagi mencoba mengurai.
Kegelisahan masa apa yang menarik untuk dimunculkan ke karya karya populer?
Karena mungkin banyak yang mengalami kayak gitu merasa tidak cukup.
Karena saya baru mau ngeluarin lagu soal itu.
Saya ada project band juga namanya timun jelita gitu ya.
Terus ada satu lagu kita yang judulnya tak cukup untukmu gitu.
Terus kalau saya urai urai apa jangan jangan karena menangkap kegelisahan itu juga ya perasaan untuk tidak pernah merasa cukup buat pasangan.
Itu diamplifikasi sama sosial media saat ini punya kan?
Pembicara 2
Ya kita browsing lah.
Misalnya lihat saya di Spotify lagu lagu yang top page sekarang gitu.
Olivia Rodrigo misalnya, teller swift, sabrina karpenter isinya semua patah hati ya.
Makanya ada kecenderungan untuk balik lagi beberapa remaja hari ini agen alfa ke band band tahun 9 puluhan dengarin lagi itu arik mongky lagi oesis dan sebagainya gitu kan karena melihat cinta dengan cara yang berbeda.
Melihat kehidupan dengan sudut pandang lebih optimis gitu.
Dewa 19 didengerin lagi kahitnah kemarin ketemu mas yovie itu kaitnah anak anak sekarang dengerin lagi karena cintanya terkesan lebih manis gitu kan.
Pembicara 1
Berarti mendengarkan lagu lagu itu bukan karena relate tapi mau skcap.
Pembicara 2
Iya karena sekarang terlalu dark cara melihat cintanya kan?
Coba lagu yang melihat cinta dengan cara yang polos manis naif dilagu sekarang apa bang ray?
Agak sulit kan.
Pembicara 1
Iya sih.
Pembicara 2
Bahkan kalau kita lets say buka streaming.
Platform ya nonton film apapun sih Netflix apa itu 80% distopik dan darahkan ya.
Pembicara 1
Um.
Pembicara 2
Atau beli aku kemarin baru main apa namanya game?
5 gitu apa james bone oh itu bagus lagi reviewnya.
Iya bagus.
Pembicara 1
Yang bikin hit man kan?
Pembicara 2
Semua game game sekarang darah mostly enggak ada yang kayak playful kayak mario jaman mario.
Pembicara 1
Mario dulu.
Pembicara 2
Sangat warna warni cerah terus bikin kayak happy mood gitu.
Aduh nonton film romanticomedi rom kom terakhir the drama uh robert pattinson.
Darat banget.
Pembicara 1
Dan dan konkom sekarang juga sudah turun kan dulu kan ada wedding singer.
Pembicara 2
Wah banyak banget.
Gitu jadi semua melihat dunia lebih utopis eh lebih distopik ya lebih pesimis sebetulnya.
Pembicara 1
Nah ini kan pemahaman.
Uh dari generasi saat ini ya bahwa pada kecenderungan melihat dunia lebih distopik apa dan lain lain gitu.
Pemanfaatannya ketika sebuah brand datang atau produk populer datang.
Maksudnya produk populer tuh kayak kayak novel atau apa segala macam berarti apakah ketika development mereka harus tap in sama kegelisahan ini?
Atau justru tadi?
Memberikan tempat lari ke mereka ke masa yang lebih indah.
Seandainya ada klien datang ke dokter faisal gitu misalnya.
Pembicara 2
Yang menarik misalnya contoh gini ya.
Kalau kalau film ini baru kemarin kita bahas ini di di youtube lab di kantor ya.
Dulu kalau kita nonton TV series.
Sebelum merah streaming itu semua hal hal yang sifatnya cerah positif.
Optimis ya.
Dulu zamanku misalnya ada full house, ada growing pain, semua kayak wah isinya keluarganya bahagia ya setong lah sitkom kalau kita mau nonton sesuatu yang lebih deep, lebih agak dark kita pergi ke bioskop ya kan?
Nah sekarang karena semua yang kita tonton di streaming di rumah itu semuanya dark.
Pada akhirnya kita enggak mau nonton ke bioskop.
Kalau enggak itu agak cerah dan bagus dan membuat kita feel good gitu.
Jadi semua film film yang auranya ceria optimis bagus tuh ada di bioskop.
Ya entar itu ada adanya di rumah.
Nah itu bisa menjadi sedikit hin untuk berhenti sebetulnya.
Jadi sehari hari itu sekarang moodnya itu sebetulnya agak agak agak glow agak dark gitu.
Pembicara 1
Artinya brand justru bukan tap in misalnya.
Saya mau jualan sepatu gitu berarti bahasa komunikasinya tuh bukan tap in kegelisahan mereka bahwa hidup ini sulit dan lain lain.
Tapi ngasih dia skate dengan make brand gue atau lihat bahasa komunikasi gua ini akan membuat lu menyenangkan gitu.
Pembicara 2
Iya karena kira kira lets say 4 5 tahun terakhir semua brand itu posisinya intimidatif, intimidatif kayak lu kalau enggak pakai ini kayak lu di bawah banget.
Gitu kan yang mau kita pergi ke mall semua foto foto apa namanya uh model dengan produknya kan?
Tatapan matanya merendahkan gitu kan kayaknya lu enggak sanggup beli gue gitu.
Sehingga kita terintimidasi.
Kayaknya gua gua beli nih ya gue dia merasa direndahkan di sini kan?
Jadi ini mungkin saatnya itu kan semua sudah saturated di mana brand itu yang give hope lagi memberikan harapan jadi seperti era era tahun 8 puluhan ketika beberapa brand kayak cooke ya kayak apple itu 1 kali memberi branding kan hope.
Perubahan change.
Jadi itu kata kata kunci hera sekarang.
Pembicara 1
Iya itu terakhir tuh apple bikin laptop warna warni tuh apa macbook neo kalau enggak salah tuh mungkin usaha ke situ juga kali ya.
Pembicara 2
Iya mungkin coba coba juga ke sana campur permasalahan brand hari ini kan juga tidak sepenuhnya mendengarkan riset.
Pembicara 1
Hasil risetnya apa memang.
Pembicara 2
Enggak karena sekarang banyak manajer branding itu.
Akhirnya tanya EA saja.
Jadi gue bikin brandingnya kayak gimana ya?
Sering kali meleset itu karena seperti itu.
Bahkan ya presiden kita tahu Donald Trump itu enggak dengerin riset sama sekali gitu kan?
Pembicara 1
Cuma mau dia.
Pembicara 2
Aja iya, jadi beberapa tahun terakhir ini ya banyak hal hal aneh karena memang tidak besok research jadi mungkin moga moga ya tahun ini ya sudah kembali lagi.
Pembicara 1
Ke hasil risetnya adalah anak muda Indonesia pada saat ini merindukan masa masa yang jauh lebih ringan.
Pembicara 2
Betul sekali.
Pembicara 1
Dan tidak membuat harinya jadi lebih berat.
Apakah itu juga yang membuat karena saya pernah datang ke pameran anak SMP di blok m tuh enggak sengaja saja tuh lagi lewat diajak masuk dimintain saran dia bilang.
Saya dengar dengar dari orang orang sini, katanya.
Kamu orang yang cukup penting dia bilang gitu karena dia enggak kenal saya siapa kan saya dengar dengar dia cukup penting.
Enggak sih enggak penting, penting amat memang kenapa gitu boleh enggak minta saran?
Oh boleh boleh dia ngajak saya masuk ke 1 ruangan ini project art saya dia bilang.
Terus dia ngasih lihat project art nya itu ngasih lihat dia jalan jalan ke Semanggi direkam pakai kamera HP lama banget gitu dengan estetika tahun 2 ribuan awal.
Nah di saat itu ada satu alumni dia datang terus mereka diskusi bareng sebelah saya gitu kan terus alumni yang nanya kenapa sih generasi sekarang tuh?
Ada pengin balik ke masa iya dulu terus saya bilang kan lu lu tahu enggak sih kalau gue tuh zaman dulu saja sudah enggak mau lagi balik ke pasar dulu gue mau ke sekarang dengan HP kamera ada 3 biji dulu satu saja sudah bagus ya gambarnya blur ribu tuh udah udah bagus gitu lu kenapa sih?
Pada pengin balik ke itu saya enggak bisa jawab juga, dia diam juga ya.
Pembicara 2
Kenapa?
Pembicara 1
Ya tapi dia tertarik gitu ya untuk hidup ke situ apa apa memang itu ada ada kecenderungan untuk lari skepisme itu ya.
Pembicara 2
Ya karena semua estetika semua uh lagu pop culture era 89 puluhan itu lebih hopeful lebih melihat optimis memang era era itu ada era secara ekonomi manusia itu merasa oh masa depan cerah ini teknologi belum mencapai puncaknya.
Dan seakan akan teknologi itu akan membuat kita lebih bahagia dan lebih prosper gitu.
Nah, sedangkan kita sekarang tinggal di era seakan akan puncak teknologi kan tinggal nunggu ea aja memiliki badan saja gitu kan enggak ternyata kita enggak happy happy amat ya ini sudah puncak teknologi, jadi kalau.
Pembicara 1
Oke penanda gini rasi ya?
Apakah bisa dibilang akan jadi salah satu penanda generasi yang baru?
Pembicara 2
Uh bisa ketika AI nanti mencapai fase agency agency itu harus.
Pembicara 1
Hidup sendiri gitu.
Pembicara 2
Ya sudah enggak perlu.
Dia sudah tahu bang radit hari ini mau mau ini kan ya gitu.
Jadi enggak usah di pram, jadi sudah tahu kita mau apa hari ini.
Pembicara 1
Gitu kalau sekarang belum bisa jadi kulminasi dari sebuah penanda.
Pembicara 2
Belum?
Belum ya, belum belum karena masih interproses dan cara anak muda kita menggunakan eye itu juga ya lucu lucu sih ya pada akhirnya bikin mi gitu kan.
Pembicara 1
Belum ke belum ke hal yang mengubah sosial dan lain lain itu ya, kita perlu itu ya untuk dia menjadi penting ya.
Pembicara 2
Iya karena memang kalau di dalam kajian riset butuh satu kompetensi tertentu untuk kita capai sampai kita bisa menggunakan AI secara optimal.
Jadi kalau kita enggak paham dasar sebuah bidang tertentu, terus kita langsung lompat pengin bisa dengan ei itu malah jadi jadi enggak enggak optimal gitu.
Malah kita jadi enggak ngerti apa apa.
Pembicara 1
Gitu.
Nah sebagai peneliti kajian generasi meneliti banyak sekali anak muda belajar dari sejarah dan lain lain.
Apa yang terjadi dengan anak anda di rumah anda apakan itu dia.
Pembicara 2
Ya dia jadi.
Anakku ali nih kalau nonton ya.
Pembicara 1
Namanya alli ini namanya alih nambahin dia di rumah.
Pembicara 2
Dia jadi subjek eksperimen kita secara science.
Pembicara 1
Gitu kan jadi objek penelitian.
Pembicara 2
Objeknya penelitian.
Pembicara 1
Dipakai semua tuh semua teori teori generasi itu ke.
Pembicara 2
Dia ya hampir hampir ya jadi kayak misalnya sekarang dia umurnya 17 tahun gitu kan 11 tahun.
Pembicara 1
Usia di mana?
Remaja di mana hal hal yang terjadi sekitar dia akan menghantui dia sampai nanti kan.
Pembicara 2
Nah ini critical moment ya critical moment setiap pulang apa yang kamu sedang pikirkan hari ini gitu kan gitu dan ada selalu ada papan tulis di rumah kayak ya kita bedah isi pikiran kamu hari ini gitu kan bener nih benar nih itu memang selalu.
Pembicara 1
Tulis di rumah ada.
Pembicara 2
Papan tulis selalu kalau ngejelasin tentang apa isu apa yang sedang dialami itu jelasin banyak bapak tulis.
Pembicara 1
Itu dari SMP.
Atau di umur umur critical moment baru terjadi.
Pembicara 2
Kayaknya sejak SMP juga sudah seperti itu sih.
Pembicara 1
Berarti artinya anda baca risetnya terus.
Kayaknya gue harus aplikasi ini kali gitu kan ya beli lah papan tulis.
Pembicara 2
Iya iya kayak.
Pembicara 1
Beli papan tulis dia datang percakapannya seperti apa tadi di sekolah kenapa gitu atau apa?
Pembicara 2
Ya percakapannya misalnya.
Uh kenapa hari ini bangunnya telat gitu?
Pembicara 1
Oh.
Pembicara 2
Dress oke terus oke ada di sosmed ya di sosmed nonton apa gitu?
Pembicara 1
Ada di sosmed maksudnya?
Pembicara 2
Saya iya main sosmed jadi kalau kamu jangan main itu ya enggak bagus itu kan enggak cukup bagi anak sekarang.
Jadi harus kita memberikan satu kuliah nih sesi sendiri tentang.
Pembicara 1
Gimana gimana gimana?
Pembicara 2
Tentang ini final glenn ini cara berpikir kamu dan siklus hidup kamu.
Nah kamu sudah mulai nocturnal misalnya kan ya kalau nocturnal tuh efeknya apa komentar health kamu kemut kamu, akhirnya kamu kayak enggak bisa interaksi yang bagus sama orang lain dan sebagainya.
Itu misalnya satu bab sendiri.
Pembicara 1
Dia memahami itu.
Pembicara 2
Lebih bisa terima seperti itu.
Pembicara 1
Karena remajakan biasanya rebel dia biasanya menolak.
Pembicara 2
Rebel sampai dia tidak punya argumen untuk uh mencounter sih.
Sempat juga bahas financial freedom gitu.
Iya jadi dia hasilnya banyak tuh anak itu.
Pembicara 1
Jadi umur 17 tahun.
Pembicara 2
Oh iya dari sejak SD sih SD saja misalnya aku ada peci di rumah itu semuanya lecek koleksi peci ternyata disewain di sekolah sekolah hari Jumat gitu.
Wah satu peci 50.000.
Pembicara 1
Gitu otak ini ya otak bisnis sudah ada ya?
Pembicara 2
Otak bisnis sudah.
Pembicara 1
Tren terus terus.
Pembicara 2
Lalu dia meyakini di hasil sekolah tuh jadi nomor 2 hasil apapun lah joki game lah apa apa gitu terus bahasnya financial freedom.
Papan tulis.
Ini sebuah pernyataan yang riil atau sebetulnya utopia gitu.
Pembicara 1
Oke bener bisa apa enggak sih?
Pembicara 2
Gitu sampai kesimpulan ya tidak ada orang yang betul betul free secara ekonomi tetap harus kerja gitu.
Jadi untuk sampai kamu bisa kerja kamu harus sekolah gitu kan?
Nah itu harus dibedah airnya.
Pembicara 1
Karena argumen dia kalau gua ada duit gua enggak butuh sekolah betul sekali makanya gua milihnya dapat duit aja dapat duit dari sekarang juga.
Oh barulah kita bedah pemikiran dia tumbuh dulu nih itu terlalu utopis buat kamu karena karena kita enggak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan.
Betul sekali i see.
Seru ya menarik ya.
Dia menjadi lebih critical juga dong kalau kayak gitu.
Pembicara 2
Kata teman teman kami sih katanya iya gitu.
Pembicara 1
Teman teman kami itu maksudnya teman teman bapaknya.
Pembicara 2
Ya teman teman teman aku teman ibunya gitu ya cenderung kritis tapi ya itu plus minus sih kritis tuh di hari ini.
Pembicara 1
Kok plus minus minusnya apa?
Pembicara 2
Dia kayak waktu SMPSD itu ya kita sering dipanggil sekolah ya, karena akhirnya dia muncul pertanyaan.
Pertanyaan yang iya ke guru atau dia bikin kayak sesi FGD sama teman temannya yang kayaknya.
Belum belum nyampe gitu mungkin teman.
Pembicara 1
Temannya.
Teman teman temannya mendiskusikan sebuah tema yang sekolah enggak prof maksudnya.
Pembicara 2
Iya misalnya waktu SD tiba tiba dia bikin perkumpulan membahas tentang.
Teori konspirasi gitu bahwa waktu SD waktu ini.
Pembicara 1
Jadi bener enggak sih kayak gini bener enggak?
Pembicara 2
Sih.
Pembicara 1
Seharusnya kalau itu diskusi yang sehat, gurunya enggak masalah dong sebenarnya.
Pembicara 2
Iya tapi kan.
Jadi plus minus lah gitu waktu SMP misalnya dia mengkritisi gurunya bahwa uh akan terjadi krisis air di dunia itu nanti masuk tahun sekian 2025 ke atas selalu gurunya bilang enggak air masih banyak tuh masih banyak dimana mana gitu terus air di mendebat gurunya.
Di kelas iya.
Pembicara 1
Tapi kalau saya melihat itu sebagai.
Sebagai menyenangkan ya karena karena daya nalar berpikir kritis dan dan tidak serta merta menelan mentah mentah dari sosok otoritatif kan modal yang luar biasa dong.
Pembicara 2
Tinggal belajar ini saja kapan menempatkan itu disampaikan karena tidak semua orang siap kan gitu kan.
Pembicara 1
Artinya belajar berkomunikasinya.
Pembicara 2
Komunikasi.
Pembicara 1
Membaca konteks berarti.
Pembicara 2
Nah itu juga pr bagi anak anak sekarang karena membaca konteks reader room ya jadi masuk ruangan tuh paham nih kayaknya lagi suntik nih atau lagi serius atau lagi sebetulnya lagi rileks gitu karena anak anak sekarang butuh dikasih q selagi.
Kalau anakku li ini nih di rumah kita tuh lagi serius, misalnya misalnya ekonomi lagi enggak bagus nih gitu, jadi jangan kamu kayak haha gitu kita lagi serius gitu, jadi harus dikasih ques lagi ke anak anak sekarang ini situasinya apa kita emosinya lagi seperti apa gitu.
Pembicara 1
Oke terinspirasi dari malik di essentials yang nanya nanya anda.
Saya juga mau nanya nanya soal komedi berarti berarti.
Gimana masyarakat kita sekarang memahami dan mengkonsumsi komedi.
Kalau dari sisi penelitian kajian generasi ada perubahan kah dengan pola konsumsi atau melakukannya gitu?
Pembicara 2
Sebetulnya mirip sama karya karya bang rajin awal ya yang kayak serba ren belum kan sekarang misalnya ada cuci lusi burger gitu kan?
Pembicara 1
Alitaer.
Pembicara 2
Ya.
Karena generasi alfa sekarang kita nyebutnya asbunor ya asbun core.
Pembicara 1
Albit taher anda masuk penelitian albitaer asbun jadi asal ngomong gitu uh.
Pembicara 2
Antara emosi kan kita kalau humor itu relate ke emosional gitu.
Ekspresi dan konteks itu sekarang belum tentu nyambung.
Ada misalnya satu video anak gen alfa uh keluarganya ada yang baru meninggal gitu kan di kuburan terus tabur bunga ayah di sawer gitu.
Darah banget sih, tapi itu menggambarkan bagaimana konteks anak gen alfa itu melihat humor hari ini gitu.
Pembicara 1
Artinya.
Apa ada ada batas yang buat mereka enggak apa apa dilewatin atau itu cara coping.
Pembicara 2
Batasnya enggak bisa dilihat karena mereka biasa melihat konteksnya tuh di.
Di konten konten pendek yang sekarang kita sering sebut brand road itu yang lucu dan agak adiktif gitu dan itu akhirnya coba mereka aplikasikan di sehari hari dan menjadi kelucuan beramai ramai ketika di sekolah.
Pembicara 1
Begitu.
Itu kadang enggak usah kan biasanya kelucuan kan datang dari.
Apa namanya?
Patahan dari ekspektasi kan kita ekspetnya apa, tapi ekspektasi kita terhadap hal yang disampaikan tuh patah makanya menjadi lucu gitu.
Sekarang sudah enggak butuh itu lagi ya.
Pembicara 2
Enggak butuh.
Pembicara 1
Menjadi wirness saja yang kita.
Pembicara 2
Jadi wire betul sekali seperti makhluk makhluk AI itu tunggu sahur.
Nah itu apa?
Pembicara 1
Sih saya enggak paham itu kenapa?
Kenapa orang suka banget tuh tunggu itu karena wire gitu ya karena.
Pembicara 2
Weer ya we are this kita kayak merasa terganggu kan terganggu pengin lihat lagi gitu.
Dan itu mengubah ini saja cara kita melihat kategori banyak hal.
Kalau misalnya dulu anak kan kita perkenalkan, ini loh ini ada angsa ini jerapah gitu.
Wah lucu ya jerapah lehernya panjang, tapi kalau makhluk makhluk ea ini kan ada jerapah terus tiba tiba ditangannya ada bazooka gitu kakinya robot gitu kan?
Iya itu jadi jadi muncul sebuah kategori makhluk baru gitu di kepalanya.
Pembicara 1
Menarik.
Pembicara 2
Dan bagi anak alfa menarik ya wow.
Pembicara 1
Gitu wah saya, saya enggak enggak enggak bisa melihat ke depan gitu.
Kira kira komedi komedi seperti apa lagi gitu ya akan muncul dari generasi generasi ini ya, karena karena very very menarik gitu.
Unik banget buat saya untuk memahami gitu.
Oke harus dengan cara seperti apa ya membuat mereka tertawa.
Pembicara 2
Ya kalau anak alpha kan terutama misalnya sekarang banyak konten konten buat anak anak itu sifatnya ASMR itu kan ya balon dipecahin gitu atau ada gundu dipukul jatohin gitu.
Jadi hal hal yang membuat mereka merasa nyaman itu ada hal hal yang repetitif.
Terus kayaknya kena kesensori mereka.
Dan ya tadi wearness itu selalu menjadi uh sumber curiosity mereka itu nih.
Apalagi sih nih agak aneh gitu kan.
Pembicara 1
Oke ini kalau buat podcast kalau uh pola konsumsi podcast seperti apa yang anak anak 17 tahun seperti ali di rumah itu bisa nyaman mengikuti kalau.
Pembicara 2
Kemarin kemarin lebih ke cuan cuan cuan gitu.
Cuan cuan ya.
Karena ada tadi narasi tentang financial freedom.
Pembicara 1
Oh dia dia suka nonton yang gitu gitu m.
Pembicara 2
1 gitu.
Tapi karena beberapa influencernya sekarang bermasalah gitu kan akhirnya.
Akhirnya kan juga narasi itu enggak begitu kena lagi gitu kan.
Pembicara 1
Oh karena krisis kepercayaan.
Pembicara 2
Ya jadi sekarang lebih ke ya hal hal filosofis gitu kan yang mereka bisa bawa untuk sehari hari karena banyak kegelisahan ini yang menarik.
Misalnya ali tuh teman temannya sempat ada datang berapa bahwa teman teman yang ke rumah gitu bahwa teman teman mau ke rumah gitu.
Ya boleh pas ke rumah pengen ketemu abah gitu kenapa ada 5 5 temennya cowok cowok gitu?
Kenapa nih bah kita mau konsul gitu mau konsul gitu ya boleh abis itu satu satu konsul sudah kayak mbak dukun saja kita kan mereka duduk sila di bawah gitu mbah saya overthinking bah gitu kan.
Gitu jadi uh ini menggambarkan isu isu anak anak sekarang ini enggak jauh jauh dari overthinking konsultasi dalam masalah ini saja.
Apa yang di kegelisahan mereka aja.
Pembicara 1
Uh ke dokter faisal karena tahu konten kontennya suka bahas soal.
Pembicara 2
Gini karena tahu terus.
Oh ternyata ini ayahmu ya gitu kira kira konsul ke rumah.
Anak anak baik itu uh, jadi itu sih untuk bisa me memberi jawaban kegelisahan sehari hari ya dari mulai takut enggak ditemanin kalau ditolak cewek itu harusnya gimana?
Biar recovernya gitu.
Pembicara 1
Kan seperti itu yang mereka mungkin tertarik artinya itu.
Pembicara 2
Iya.
Pembicara 1
Mengalahkan pikirannya sendiri, mengalahkan pikirannya sendiri.
Oke wah seru banget.
Seru banget kalau ada yang mau tahu lebih banyak soal doktor faisal nih bisa ke mana?
Pembicara 2
Ketemu faisal di youtube ada di youtube lab TV gitu ada podcast kembali ke akar.
Pembicara 1
Kalau Instagramnya at ketemu faisal tadi faisal ya ini bukunya udah bisa dibeli nih tahun 2024 kalau enggak?
Pembicara 2
Salah 2024 ya.
Pembicara 1
Ini sudah 2 tahun bukunya yang ayona begali pola asuh bagi generasi digital.
Katanya ada buku yang baru lagi.
Pembicara 2
Ya filsafat kecemasan judulnya filsafat kecemasan.
Pembicara 1
Ih itu bisa satu podcast sendiri tuh kayak kayaknya banyak yang banyak yang merasakan itu juga ya soal kecemasan sekarang sehari hari ya.
Pembicara 2
Apalagi dolar hari ini ya ada.
Pembicara 1
Lagi dia lagi cuma sebenar tuh dan buat saya menarik.
Karena itu akar dari berkomedi kecemasan itu gitu dia seru juga saya belum punya bukunya sih, nanti saya beli itu baru terbit tahun ini kah?
Pembicara 2
Iya baru terbit 3 bulan lalu.
Pembicara 1
3 bulan lalu filsafat kecemasan.
Terima kasih dokter faisal.
Terima kasih semua yang udah nonton.
Podcast Summary
Key Points:
Generasi dipahami melalui dua cara
Penggunaan istilah generasi seperti milenial di Indonesia sering keliru karena mengadopsi patokan Amerika tanpa mempertimbangkan peristiwa lokal yang membentuk karakter generasi.
Indonesia memiliki penanda generasi unik, seperti peristiwa 1998 yang melahirkan generasi dengan karakter kolektif dan kewirausahaan, serta pandemi COVID-19 yang menciptakan generasi pasca-COVID dengan masalah diskoneksi sosial.
Generasi pasca-COVID mengalami diskoneksi akibat dominasi dunia digital, yang berdampak pada individualisme, masalah kesehatan mental, dan hilangnya pengetahuan budaya lokal.
Arah bawah sadar generasi saat ini, seperti yang tercermin dalam budaya populer (misalnya One Piece), menunjukkan kebutuhan akan koneksi sosial dan pemikiran kritis, mirip dengan semangat founding fathers Indonesia.
Summary:
Dalam transkrip ini, Dr. Muhammad Faisal, seorang peneliti kajian generasi, menjelaskan bahwa pemahaman generasi di Indonesia sering keliru karena mengadopsi konsep dari Amerika Serikat tanpa mempertimbangkan peristiwa lokal. Ia membedakan dua pendekatan: generasi sebagai unit (berdasarkan tahun lahir) dan sebagai kohort (berdasarkan critical moment seperti perang, pandemi, atau krisis ekonomi).
Di Indonesia, peristiwa penting seperti krisis 1998 membentuk generasi dengan karakter kolektif dan kewirausahaan, sementara pandemi COVID-19 menciptakan generasi pasca-COVID yang mengalami diskoneksi sosial akibat dominasi dunia digital. Diskoneksi ini menyebabkan masalah kesehatan mental, individualisme, dan hilangnya pengetahuan budaya lokal, seperti pemahaman tentang peta Indonesia. Faisal menekankan bahwa generasi tidak bisa disamakan secara global karena respons terhadap peristiwa global bersifat lokal.
Ia juga menyoroti fenomena seperti "insel" (jomblo kronis) dan pengaruh budaya populer seperti One Piece yang menjadi simbol bawah sadar generasi. Solusi yang diusulkan adalah menciptakan ruang sosial fisik bagi anak muda untuk berinteraksi dan membangun koneksi yang lebih dalam, mirip dengan semangat founding fathers Indonesia yang lahir dari krisis dan pandemi. Faisal optimis bahwa generasi sekarang dapat melahirkan pemikiran besar jika kembali ke akar kolektif dan kritis.
FAQs
Critical moment adalah peristiwa besar seperti perang, pandemi, atau krisis ekonomi yang membentuk karakter bersama suatu generasi. Peristiwa ini menjadi penanda lahirnya generasi baru, bukan sekadar rentang tahun kelahiran.
Label milenial berasal dari Amerika Serikat berdasarkan peristiwa peningkatan fertilitas tahun 1981. Di Indonesia, peristiwa serupa tidak terjadi, sehingga karakter generasi kita berbeda, seperti Generasi P yang terbentuk dari krisis 1998.
Generasi P adalah versi Indonesia dari milenial, yang terbentuk akibat krisis moneter 1998. Generasi ini cenderung mencari stabilitas, dewasa lebih cepat, dan memiliki jiwa kewirausahaan, seperti munculnya usaha kecil FOFO.
COVID-19 menyebabkan diskoneksi sosial yang mendalam karena interaksi daring masif. Generasi pasca-COVID mengalami kesulitan berinteraksi langsung, memunculkan fenomena seperti incel (jomblo kronis) dan radikalisme akibat ketidakmampuan bersosialisasi.
Budaya populer menjadi bahasa bawah sadar generasi. Demonstrasi dengan bendera One Piece menunjukkan narasi budaya populer menggantikan narasi ideologis tradisional, mencerminkan kebutuhan akan sosok heroik dan solidaritas.
Bawah sadar generasi adalah konsep dari Carl Gustav Jung bahwa generasi digerakkan oleh bawah sadar kolektif. Saat krisis, generasi cenderung kembali ke akar, mencari komunitas, dan berpikir lebih kritis, seperti yang dilakukan founding fathers Indonesia setelah pandemi Spanish Flu.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.