Marketing Cerdas Yang Paling Kemakan di 2025! | SUARA BERKELAS #24
0m 0s
Dalam podcast ini, pembicara membahas konsep pemasaran yang mendalam, dimulai dari prinsip bahwa orang membeli karena hati dan menolak karena otak. Artinya, konsumen tertarik secara emosional terlebih dahulu, tetapi keputusan akhir selalu melalui pertimbangan rasional, seperti harga, manfaat, atau faktor lain seperti ketersediaan parkir. Pembicara juga menjelaskan perbedaan antara branding dan performance marketing: branding adalah investasi jangka panjang untuk membangun kesadaran, sedangkan performance marketing adalah alat untuk mendorong penjualan pada momen tertentu, seperti saat ada stok berlebih atau kebutuhan modal. Storytelling menjadi kunci, di mana brand harus menjadi pemandu yang membantu konsumen menjadi pahlawan dalam cerita mereka sendiri, bukan sekadar menonjolkan keunggulan produk. Selain itu, model AIDA dinilai masih relevan, tetapi AISAS yang menekankan pencarian (search) sudah mulai usang karena konsumen kini bisa langsung membeli dari platform media sosial. Untuk mendorong berbagi, penting menciptakan "relevan value for money"—produk yang sesuai kebutuhan dan bernilai, seperti layanan after-hour yang ditawarkan pembicara, sehingga konsumen merasa terbantu dan merekomendasikannya kepada orang lain.
Pembicara 1
Hanya tetap harus ada tukang yang ahli baru bisa menggunakan tools yang canggih.
Kita enggak bisa.
Pembicara 2
Membuangkan hati semua.
Pembicara 1
Orang jadi branding itu istilahnya kita menuangkan ke kolam.
Pembicara 2
Lah mending lu belajar aisyah gitu terus level.
Pembicara 1
Itu akan menurun ketika kita tahu uang dan jabatan itu hanya kepercayaan dikasih ke kita dari yang maha kuasa.
Pembicara 2
Halo semuanya kembali lagi di podcast suara berkelas dan hari ini tamunya berkelas banget.
Idola aku di ngomongin marketing ada varian mintaullah.
Saya datang.
Selamat datang merian.
Pembicara 1
Thank you udah diundang.
Pembicara 2
Aku pernah ketemu di Instagram konten kontennya pak ryan.
Itu ngomongin tentang marketing bisnis dan aku sebagai orang awam yang enggak paham bisnis.
Kayak dapat insight menarik karena mungkin story tellingnya yang lebih simple kali ya bisa menyongsar karena ranah muda yang apalagi gak paham seperti aku gitu.
Dan ya aku periate banget, tapi ada satu konten yang aku ingat varian um waktu itu kalau enggak salah ya korea fam wrong.
Orang membeli karena hati ya dan menolak karena otak itu.
Pembicara 1
Oke pernah dengar istilah love in first site?
Pembicara 2
Perah ya.
Pembicara 1
Begitu lihat langsung jatuh cinta.
Habis itu kan jarang langsung nikah.
Kebanyakan pacaran dulu cari tahu bibit bobotnya sukanya apa sesuai atau enggak.
Tapi ya kita enggak munafik juga rata rata dari pandangan 1 itu yang bikin kita tertarik untuk kenal orang itu lebih dan setelah kita kenal orang itu lebih ternyata orang ini ngerokok, ternyata orang ini.
Bangunnya siang kita jadi enggak suka.
Nah itu kita membeli karena otak menolak membeli karena hati menolak karena otak jadi kita 1 interested untuk cari tahu lebih banyak karena dada hati dulu.
Tapi kita memutuskan nih mau beli atau enggak kita mempelajari produknya.
Nah ada produk yang memang impulsif buying.
Biasanya harganya 100.000 ke bawah yang relatif lebih murah.
Begitu lihat suka beli tapi mayoritas barang yang kita beli dalam hidup itu kita ada proses suka dulu.
Kita design mau atau enggak?
Nah itu karena apa orang membeli ke anak hati menolak karena otak.
Pembicara 2
Misalnya, beliau mau beli satu produk hari ini les produk smartphone ya.
Itu alasan bila beli karena ya butuh cctv enggak sih di rumah, tapi enggak ada uang itu kasusnya apa toh enggak ada uang ah kayak beliau murah aja deh.
Padahal bila pengen produk itu itu kenapa?
Pembicara 1
Jadi 1 pengen mau beli smartphone itu kan dari hati emang pengin beli dulu ada niat ada minat, nah itu membeli karena hati tapi menolak karena otak itu kita pikir balik dong kayak.
Saya beli smart home apakah di rumah kita ada biaya listrik yang sudah cukup besar?
Misalnya kita di rumah biaya listrik 2 juta dengan smartphone mungkin kita bisa hemat 100.000 200.000 sebulan dalam setahun bisa hemat 2 juta.
Kalau kita beli smart home 2 juta bisa hemat listrik 2 juta.
Oh udah terjtify itu, jadi ya udah pasti kita langsung check out, tapi kalau 1 kita cuma tertarik terus kita pikir pikir.
Ah masa kalau fungsinya aku suka cuma bisa habis Netflix kan matiin lampu enggak usah turun dari ranjang.
Kayaknya enggak usah dulu deh.
Tapi kalau tahu dengan uh, barang yang sama juga sebenarnya bisa menghemat dia bisa amati sendiri nyala sendiri sesuai waktu yang kita gunakan sehingga bisa hemat sekian biaya dalam waktu jangka panjang.
Khusus konsep smart home itu ada uh membantu dari segi ketika orang konsider mau beli atau enggak ada unsur investmentnya, tapi ada juga yang konsidernya.
Oh aku mau beli mobil ini nih, aku suka.
Uh tapi aku beli enggak ya ada faktor ini.
Faktor itu enggak jadi beli mobil deh.
Takut ganjil genap misalnya seperti itu.
Nah jadi enggak selalu itu karena faktor harganya tinggi, jadi kita menimbang ulang ada beberapa faktor juga yang uh contoh kayak aku di rumah garasi cuman satu.
Oke, aku mau beli rumah yang lebih gede mahal mau beli mobil, kebetulan ada uangnya tapi kan enggak ada tempat parkir ya ya jadinya enggak jadi beli mobil, padahal sudah lihat mobil lu sudah suka mau beli tapi enggak ada parkiran gitu.
Jadi ya kadang kita sudah interest udah tertarik mau beli cuman ya karena otak kita bisa menolak gitu.
Pembicara 2
Ya juga ya, jadi tadi alasan gauli mobil bukan karena enggak ada uang tapi.
Pembicara 1
Enggak ada enggak ada uang juga enggak ada uang beli rumah yang lebih gede kok supaya parkirannya 2.
Pembicara 2
Oke oke itu aku baru paham.
Menolak karena otak oke benar aku setuju sih.
Tapi kan kalau ngomongin bisnis ya branding ya lebih ngerti di sana.
Itu kan orang setahu aku beli barang itu bukan sekedar beli barang atau beli produknya.
Orang biasanya beli storia juga baru dan kalau enggak salah sekarang pak rio sudah 13 perusahaan.
Pembicara 1
Yes.
Pembicara 2
Salah satunya aku tahu itu di bardi ya bahasa maruf karena aku pakai juga.
Itu kan mungkin orang di luar sana beli juga bukan karena barbie nya, tapi karena storynya bardi itu gimana caranya atau prosesnya bangun story itu.
Pembicara 1
Ada 2 story satu story adalah story dari brand.
Satu lagi adalah story dari pembeli story dari pembeli itu ada masanya di mana aku belum terkenal sebagai pemilik dari barbie.
Aku ke rumah teman teman aku dengan bangga banget habis covid waktu itu.
Ini rumah saya sudah smart, dia malah bangga banget lah mengenalkan barbie kepada aku sebagai foundernya yang dia enggak tahu aku foundernya dan story dalam hidup dia adalah dia mau terkenal sebagai orang yang orang yang well preped orang yang hidup dalam kendali.
Nah jadi ketika kita ngomong story itu bagaimana memposisikan brand sebagai guide?
Dan pembeli kita sebagai heronya dalam story dia, apa yang kita bisa transformasi bagi dia?
Dari segi brand kita dan kita memposisikan brand dalam story itu selalu as a guide bukan sebagai hero.
Gitu, jadi ketika ditanya story apa sih yang bardi munculin sebenarnya story kita itu bukan story dari segi oh iya, barbie dari Agustus 2019 cepat gede kita pro produksi dalam negeri itu kalau enggak dijahit ke dalam storynya konsumen.
Juga percuma, kita harus bisa menjahit uh ketika kita bardi di awal awal.
Kita adalah produk inovasi.
Sekarang mungkin udah banyak yang serupa di mana di awal awal itu yang kita gait adalah uh pembeli yang mau diidentifikasikan sebagai seorang yang punya masalah ini pakai produk yang inovasi dia enggak takut resiko mereknya saat itu belum terlalu terkenal tapi dia beli.
Nah kita memposisikan diri sebagai uh katalis perubahan dalam hidup orang lain.
Bagaimana dia bisa transformasi dari zero to hero nya itu?
Nah, ketika kita memberikan cerita dari brand kita sendiri.
Itu harus secara spesifik ke audience tertentu ke spesifik life cycle mereka tertentu posisi hidup mereka lagi dimana dan bagaimana kita bisa menjadi katalis untuk mereka mengubah hidup mereka sekarang menjadi hidup yang mereka hendaki.
Pembicara 2
Mungkin kalau studi kasus paling simpel misalnya di kepalaku tadi ada misalnya ada kasus kdrt ya itu mungkin relate ya ini ada kasus kdrt, tapi salah satu orang di sana yang jadi korban enggak berani speak up ya.
Ada CTV kebetulan.
Pembicara 1
Betul.
Pembicara 2
Dan kemudian viral di Indonesia kemarin itu juga bisa salah satu story dari salah satu produknya abadi.
Pembicara 1
Misalkan ini real case ya real ada real case nya KDRT ini terjadi dari suster kak anak bayinya.
Pembicara 2
Oh ternyata ada aku tadi cuma analogi yang.
Pembicara 1
Aku nonton anak bayi ini diperlakukan dengan buruk oleh susternya mamanya kebetulan seorang working mom.
Uh 2 duanya suami istri bekerja dan meninggalkan anak di rumah bukan atas kemauan tapi memang keharusan.
Nah dari sana dilihat ada perubahan dari perilaku anaknya ya jadi dilihat dari IP camp dan ternyata memang ada perlakuan yang kurang baik.
Lah uh kita enggak endorse enggak apa dan kebetulan yang diupload di sosmed itu ada watermark bardi di atas kirinya.
Jadi kita juga tahunya dari sana dan mungkin dari sana juga ada beberapa yang jadi tahu produk bardi di sana.
Di mana ya?
Tentunya kita paling suka prevention, better dan kior.
Tapi kalau sudah terjadi lebih baik kita tahu dan bisa kior gitu kan.
Dan uh idealnya tentunya bardi ada di posisi bisa preventing kekerasan untuk anak anak.
Tapi dalam posisi yang cerita tadi kita hadir sebagai qr dan kalau memang kita bisa cor its better then nothing gitu.
Jadi dalam posisi itu si sang ibu bisa tahu perilaku suster ke anaknya dari IP cerah bardi dan itu enable dia untuk bisa lanjut kerja dan kemudian hari produk barbie yang tadinya cur bisa menjadi prevention karena dia jadi sering ngelihatin anaknya di rumah melalui IP kamera bardi dari mana saja?
Gitu.
Pembicara 2
Mungkin kalau ngomongin marketing ya kita tiba tiba ngomongin market marketing karena aku tertarik banget kalau ngomongin marketing variannya.
Pembicara 1
Orang kan?
Pembicara 2
Kayak komper sekarang aku mending fokus di ads aja.
Mungkin mereka fokusnya di performance.
Pembicara 1
Marketing dulu di ads.
Pembicara 2
Atau ada juga orang yang fokus mau branding dulu nih mau branding, branding, branding supaya dimaknai ke audience nya.
Ini mungkin membantu teman teman di sana yang untuk berbisnis atau UMKM.
Ya kalau dari kaca varian dari dari dari sekarang ke 5 tahun ke depan itu lebih efektif mana siapa kita fokus perform marketing ads ads terus atau branding dulu nih bikin konten bikin konten aja gitu.
Pembicara 1
Um jadi branding itu istilahnya kita uang ikan ke kolam.
Pembicara 2
Dan tuang ikan ke kolam.
Pembicara 1
Performance marketing itu kita mancing ikan yang sudah ada di kolam kita.
Pembicara 3
Hmm.
Pembicara 1
Kita bayangin di dunia yang belum ada kulkas.
Di mana kalau kita mau makan 5:00 ya kita mancing 3:00 lalu kita masak lalu kita makan malam 5:00.
Um dalam branding and performance marketing itu selama performance marketing itu bukan cuma ngajar oh yang lain.
Double diet kita ikutan dobel det yang lain.
Ada promo flashel kita ikutan flesel tapi beneran ada makna untuk kita menarik balik.
Oke penjualan yang akan terjadi bulan depan.
Kita mau tarik semua di sekarang kenapa?
Karena kebetulan kita lagi butuh clear out stock untuk dapat modal baru misalnya atau kita lagi mau ada investasi mesin dan kita butuh peningkatan volume dalam waktu dekat supaya menyampaikan kosovul yang lebih rendah.
Nah itu ketika kita sudah lakukan branding, jadi ada orang mau beli barang, kita mau beli merek kita dan kita lakukan performance marketing untuk convert yang emang udah ada di kolam kita menjadi pembeli.
Nah jadi kalau ditanya lebih penting, mana lebih penting bisa mengetahui uh kapan saatnya melakukan performance marketing kapan tidak?
Contoh, beberapa perusahaan aku bergerak di bidang install produks jadi kayak tirai horde kita jual produk tapi terpasang harus ada jasa ukurnya sama jasa pemasangan.
Pembicara 2
Misalnya custom itu ya betul.
Pembicara 1
Aku akan menaikkan performance marketing ketika ada tukang aku yang lusa belum ada kerjaan.
Pembicara 3
Um.
Pembicara 1
Tapi di hari hari biasa performance marketing aku bayar minimum.
Kenapa?
Karena aku memahami performance marketing ini, tujuannya adalah tools untuk kita mendapatkan penjualan di saat yang kita mau.
Performance marketing itu bukan sesuatu yang kita bisa jor joran setiap hari.
Sesekali dan di timing yang tepat itu baru performance marketing yang bagus.
Pembicara 3
Hmm.
Pembicara 2
Tapi kalau kayak fokusnya di branding misalnya, aku ada usaha yang geprek.
Misalnya, terus aku mau bikin konten terus kayak ngebranding nih yang geprek ini enak atau anggeprak ini ada kotak kotennya komedi itu menurut varian efektif enggak sih per hari ini?
Uh.
Pembicara 1
Uh jadi uh semakin kita.
Ingat sesuatu ada brand recall.
Kita akan lebih notice brand tersebut.
Contoh misalnya kita mau beli mobil warna merah, tiba tiba kita ke jalanan.
Sering lihat mobil warna merah karena ada uh recall itu.
Sama halnya dengan kalau kita sudah pernah lihat uh komedi uh salah satu yang paling uh jelas adalah burger.
Kalau misalnya pernah lihat konten tiktoknya yang joget joget doang, tapi ketika beltue burger membuat sebuah performance campaign dibanding burger yang lain membuat performance campaign aku cukup yakin beltue burger ketika menggunakan.
Talent yang di joget joget itu untuk melakukan performance marketing itu akan serupa dengan brand menggunakan khol untuk iklan mereka.
Kenapa kalau misalnya ada orang endorse kl terus habis itu brand tersebut performancenya marketingnya tiba tiba jadi lebih bagus dibanding talentnya bukan ke OL.
Karena ketika audience nonton iklan tersebut dan lihat ini ada KOL yang ngapain nih dia jadi pengin nonton karena dia kena lama KOL itu.
Ketika kita sudah ada branding yang tadi kayak joget, joget dan komedi yang kita lagi bangun sebenarnya adalah familiary dari calon konsumen terhadap kita supaya performance marketingnya nanti akan lebih bagus.
Pembicara 2
Oke.
Oke aku kalau ngomong apa nonton marketing ngomongin marketing dan segala macam aku juga sering ketemu sama yang namanya aida itu enggak asing lagi kali ya mungkin.
Nah ada yang bilang kalau aida itu udah ketinggalan nyaman, makanya aku ngomong sama teman aku.
Kemungkinan aida lalu ketinggalan nyaman bilang masa sekarang udah ngomongin aida dia.
Pembicara 1
Kebetulan.
Pembicara 2
Karena aku enggak tahu detail utama marketing dan baru belajar.
Jadi aku cuma tahu aida terus ada teman aku bilang lah mending lu belajar aisyah gitu dan katanya aisyah lebih terbaru daripada aida gitu dari kacamata pari ya nih kalau boleh tahu ya.
Apakah aida itu beneran udah ketinggalan, nyaman dan enggak efektif di zaman sekarang untuk teman teman lebih tahu.
Atau sudah kita pakai aisyah saja deh bilang.
Pembicara 1
Gimana aisyah adalah dari peti dari aidah.
Jadi konsep aida tetap masih berlaku sampai sekarang.
Pembicara 2
Kalau boleh tahu attention attention.
Pembicara 1
Interest terus desir dection ya desier ya d nya keluh pakainya desir ya uh aisyah itu lahir kurang lebih 20 tahun lalu uh viralnya baru sekarang ya.
Pembicara 2
Tapi orang yang marketing aisyah sekarang.
Pembicara 1
Aisyah itu sebenarnya dari 20 tahun lalu pada zamannya Google.
Search itu the biggest thinking lah sekarang kan sudah jamannya sosial media sosial calmes ya 2004 betul um sekarang kan sudah jamannya sosial media sosial komes di mana aisyah itu sebenarnya sudah enggak terlalu relevan sekarang.
Tapi memang di Indonesia kita kan rada uh lagging lah ya dari segi teknologi adoption uh jadi aisyah itu sebenarnya s nya sudah mulai hilang tuh jadi ayah.
Enak aisyah itu kan sebenarnya attention, attention, interest search, search action action.
Pembicara 2
Share.
Pembicara 1
Nah search yang di tengah itu udah hilang.
Pembicara 2
Kenapa tuh?
Pembicara 1
Kalau kita lihat dari tik tok langsung kita beli keranjang kuning.
Sekarang di youtube juga udah langsung ada shop betul, jadi search itu sudah menghilang.
Pembicara 3
Hmm.
Pembicara 1
Karena uh ada namanya messi midel look.
Ketika kita tahu orang lihat kontennya bardi dia search bardi smart home mungkin akan muncul smart home smart home lain dan mulai dia jadi confuse.
Jadi beli atau enggak ujung ujungnya mungkin jadi enggak beli.
Tapi begitu dilihat konten bar di langsung di situ ada keranjang kuning, dia langsung beli atau dia nonton youtube langsung dia masuk ke shop dan dia beli.
Nah itu kan s di tengahnya hilang.
Nah jadi kalau ditanya aida itu lebih lama dari aisyah setuju.
Tapi kalau dibilang sekarang ini aisyah banget menurut aku tuh sedikit uh ke belakang juga.
Jadi sekarang tuh ayas tanpa s di tengahnya.
Pembicara 2
Dan kalau ngomongin ais berarti orang nih kerangka kerangka actionnya itu berarti kita dari.
Kita lihat ini barangnya kemudian kita suka.
Kita langsung klik lah kalau di shopee atau di tiketnya.
Sekarang kita klik.
Kalau kita suka kita share ke teman teman kita gitu kalau.
Pembicara 1
Actionnya tuh bisa jadi membeli.
Pembicara 2
Membeli dulu.
Pembicara 1
Ya terus habis itu s nya tuh advokasi itu yang udah paling ultimateum jadi actionnya dia beli dia pakai terus habis itu mengubah hidup dia ketika dia ketemu teman lain yang mengalami hal yang dia alami sebelumnya.
Dia share tentang bagaimana produk ini transformasi hidup dia.
Pembicara 2
Lu harus pakai nih misalnya privirenya barbie itu bikin udara di rumah lu lebih segar atau apa gitu?
Hm.
Nah gimana caranya orang?
Mau ngeshare kita punya produk deh.
Ini ini mungkin untuk teman teman uang umkm atau bis yang bisnis man yang nonton ini ya.
Jadi orang mungkin kita punya audiens atau punya loyal customer ya jangan sampai putus di situ doang kan udah beli ya udah tinggalin kita kita gimana caranya mereka bisa ngeshare juga ke orang lainnya itu bisa di tahap apa.
Paling ada studi kasusnya enggak?
Pembicara 1
Corona nya paling utamanya.
Adalah relevant value for money.
Pembicara 2
Relevans value for man.
Pembicara 1
Kenapa harus relevant?
Karena kalau value for money doang tapi nggak relevan terhadap orangnya.
Percuma dong relevan value for money adalah dia punya masalah mencari solusi kita solusi yang tepat dan solusi kita value for money.
Kita enggak bisa bilang harus jual barang murah, ada yang mau belinya barang mahal.
Murah mahal itu kan subjektif tapi value for money itu mutlak.
Tapi value for money doang tanpa relevy itu juga percuma.
Nah ketika kita ada relevan value for money itu yang akan lebih shareble, apalagi jika itu adalah sesuatu yang tidak mudah ditemukan.
Waktu aku mulai perusahaan 1 aku wahana ciptaan nuansa sebagai distributor terbesarnya onna.
Pembicara 2
Itu itu di bidang apa?
Pembicara 1
Di tirai gorden khasnya nyamuk yang tadi juga betul di get kontak namaku riyono ona weekend rian ona after hour kenapa?
Karena aku showroom yang 1 buka di hari Minggu. 10:00 malam ada direktur baru pulang kerja telfon aku aku jalan langsung ke rumah dia ngukur.
Itu kenapa namaku di giat kontak riyan onna after our yang onona weekend and i was so shareable.
Kenapa?
Karena yang sesama penggila kerja akan share ke sesama penggila kerja dia kita sekarang sudah punya duit nih, tapi enggak punya waktu pakainya.
Hey gua kenal nih ada orang gila 10:00 gue telepon dia datang ke rumah gue ngukur masangnya juga bisa malam malam.
Um wah ini kan sudah mulai shareable gitu kenapa?
Karena relevan value for money yang aku tawarkan, the value yang aku tawarkan relevan untuk mereka.
Jualan ona doang franchise sekarang kayaknya ada seratusan 107 puluhan mungkin.
Tapi yang membedakan kita value apa yang kita bawa after hour weekend.
Pembicara 2
Sekarang sekarang masih ada tuh.
Pembicara 1
Sekarang masih tapi bukan aku lagi yang ukur tentu dong.
Tapi udah udah banyak juga showroom yang sekarang sudah buka weekend after hour juga mulai banyak lah.
Pembicara 2
Nah kalau di studi kasusnya.
Brand lain deh yang yang lebih gampang kali ya.
Misalnya lesy di sini yang nonton ini brandnya f and b atau coffee shop atau apa?
Contoh studi kasus relevan value for mania apa misalnya.
Pembicara 3
Hmm.
Pembicara 1
Contoh studi kasus relevant forumnya, contoh dari geografis deh.
Misalnya, kita target marketnya adalah emak emak yang nungguin anaknya pulang sekolah masih kindar gadang yang cuma sekolah satu 2 jam sudah harus dijemput lagi.
Dia mau pulang lagi balik lagi setengah jam dia mau nongkrong di mana juga bingung.
Nah posisi itu kalau kita buka cafe di seberang sekolah.
Lalu di cafe itu kita bikin ruangan sekat sekatan.
Yang sound proof kayak orang mau meeting kita over valuenya adalah privacy.
Kenapa?
Karena kita kadang kalau mau ketemu sama teman ini dari isteri aku kadang kan mau curhat tapi kalau di cafe dia mau curhat, takut kedengaran sama meja sebelah meja sebelah.
Ternyata emaknya teman sekolahnya anaknya gitu.
Nah itu relevan value dan itu shareble karena kalau value for moneynya bagus maksudnya ya enggak mahal mahal banget.
Ya itu sherable dong.
Dalam konteks f and b dan itu value yang kita ngomong enggak cuma copy nya enak makanannya enak, tapi dia menawarkan safe space to gosip.
Pembicara 2
Dan lokasinya juga strategis sambil.
Pembicara 1
Nunggu sekolah ya?
Pembicara 2
Iya juga ya.
Mungkin banyak orang yang buka coffee shop itu ngaku kepikiran ke titik di mana kita punya coffee shop kita punya f and b tuh hanya relevans value for moneynya ya, tapi itu basic enggak sih pak ryan atau semua orang sudah tahu atau sebenarnya ini cuma orang marketing doang yang tahu per relevan.
Pembicara 1
Sesuai money ini banyak orang.
Melalui ini bukan karena kesengajaan mereka melalui ini emang kebetulan dan mereka sebut itu hoki anugerah.
Tapi kalau aku sebagai aku sudah konsultasikan puluhan brand uh yang iklan di aku ada ribuan brand dan aku sendiri punya belasan brand.
Aku mulai nemu pola dan polanya adalah relevant value for money.
Dan yang paling sering terjadi karena ketidaksengajaan itu gimana?
Foundernya 1 punya masalah sendiri setelah foundernya punya masalah sendiri.
Dia lihat tidak ada solusi di luar sana.
Dia yang bikin solusinya.
Dia udah tahu target marketnya siapa?
Dan kebetulan kita sebagai manusia biasanya kita hangout sama orang yang sesama punya masalah kayak kita.
Kita enggak dengerin kata kata orang yang find the five friends yang bring up your great enggak tuh?
Biasanya kita fallback ke teman teman kita yang segitu gitu lagi ketika kita ngalamin problem, ternyata itu bukan problem kita problem banyak orang kita uh mensolusikannya.
Nah itu umumnya akan terjadi relevan value for money.
Pembicara 2
Oke, aku mungkin bisa ngomongin EA kali ya karena banyak orang sekarang ngomongin EA ya dengan marketing gitu.
Kalau varian lihat apa ya teknologi ya sekarang itu apakah sangat membantu marketingnya?
Apalagi kan kalau marketing juga perlu sentuhan manusianya.
Pembicara 1
Gitu.
Pembicara 2
Gimana apa varian emang udah jalanin pakai a atau gimana periode.
Pembicara 1
Hei hai sendiri juga bukan hal yang baru, tapi publik mungkin tahunya sejak caci piti tiba tiba bumi tapi ai sendiri itu udah lama banget dan ei itu kalau kita simplify adalah ketika kita sudah understanding soell enough kita bisa explain dengan cukup simple.
Dan tiba tiba semua akan menjadi ifdh this dan death.
Barulah akan terlahir artificial intelligence.
Ada kategorization kalau misalnya ada apa di titik mana kita ketegrasi ini seperti apa kita mulai bisa uh analyze image kita mulai bisa analyze video.
Dari situ baru kita bisa generate.
Nah EA itu sebenarnya semudah itu.
Tapi AI seperti semua tools harus ada tukang yang jagonya.
Kita kalau ada masalah dengan jantung mau pasang ring tapi dipasang sama tukang sate misalnya tetap aja lewat mau ring sebagus apapun tetap harus dengan sarjan yang sudah ahli.
Nah ai juga sama ai adalah tool dan kita harus menggunakan ai sesuai dengan manfaatnya.
Dan apakah human touch tetap harus ada wajib?
Kenapa?
Karena contoh deh kita kalau mau menggunakan eye untuk di marketing dengan pola manusia marketing. 1 kita akan tanya dulu sama AI aku jualan produk ini kira kira persona yang akan menggunakan produk aku tuh siapa?
Dia keluarin 10 misalnya kita suruh list 10 habis dia keluarin list 10.
Kita baru tanya lagi dengan AI.
Produk ini terhadap persona ini misalnya terhadap persona ibu ibu yang juga bekerja kira kira bisa mensolusikan problem mereka yang apa?
Habis dari situ kita diper lagi bagaimana kita dapat menilustrasikan dalam video 30 detik produk ini bisa mensolusikan problem ini untuk ibu ibu yang sedang bekerja.
Nah dari situ baru muncul skrip.
Buat video.
Tapi kalau kita enggak ngerti prosesnya, kita langsung tanya sama chat cpt uh bikin aku script untuk jual produk ini, enggak akan mendapatkan hasil seperti yang tadi.
Makanya tetap harus ada tukang yang ahli baru bisa menggunakan tools yang canggih.
Pembicara 2
Oke dan semua ini kan yang kita ngomongin dari awal sampai tadi kan udah teori banget ya teori teori dan tujuan kita marketing di bisnis juga tujuannya ke konversi ya.
Pembicara 1
Betul.
Pembicara 2
Ada enggak studi kasus dimana marketing varian dan tim ini efektif banget sehingga ruasnya itu kayak positif gitu loh.
Ada enggak usah di kasusnya dan boleh share ke kita itu kenapa bisa jadi bisa diterapkan ke brand lain gitu ke?
Pembicara 1
Teman teman menggunakan a ya.
Pembicara 2
Bisa jadi menggunakan a.
Satu game marketing lain boleh juga.
Pembicara 1
Aku paling suka kalau ada brand yang pakai agensi digital marketing.
Aku adalah brand yang sudah tenar di offline.
Mereka sudah banyak penjualan di offline dan baru mau masuk ke online.
Aku tinggal tanya ada enggak nomor WhatsApp atau alamat email dari pembeli anda yang sebelumnya?
Kalau dia bisa keluarin 1000 aja.
Paling hebat sih kalau 10.000 setidaknya itu kita feedback kasih data itu ke platform seperti meta, Google dan tiktok.
Lalu kita tinggal iklanin ke locence itu semua based on AI.
Apa yang dilakukan sama platform adalah platform akan lihat oh 1000 orang yang kamu kasih ini mereka rata rata cowok tinggal di Jakarta.
Bekerja ini sukanya nonton ini.
Dari sana platform akan mencarikan kita orang yang serupa mereka itu kan sudah AI dan itu yang sudah paling basic dan paling efektif.
Pembicara 2
Dari studi kasusnya misalnya produk apa nih produk sepatu lari gitu ya?
Produk sepatu lari ditujukan ke seorang pria yang suka lari di gym k 25 tahun gitu.
Ya itu kalau di bahasa bisnis apa ya target audience.
Pembicara 1
Ya.
Pembicara 2
Atau audiens personal?
Pembicara 1
Ya betul.
Pembicara 2
Dan itu itu efektif banget produk ini ya dan.
Pembicara 1
Sekarang kita enggak usah lagi setting mereka pria umur berapa atau apa kita cuma tinggal kumpulin nomor WhatsApp sama email mereka masukin ke platform platform yang tahu mereka itu siapa?
Pembicara 2
Jadi kita ngomongin marketing itu kan di stigma orang ah ini mah jualan jualan jualan.
Jadi banyak anak anak muda di usia bilal ya pak ryan itu justru ketika mungkin di podcast ini atau di luar podcast ini.
Kalau kita mau arahin ke marketing itu, mereka enggak mau belajar karena aku enggak enggak enggak pede jualan.
Gue enggak enggak efektif kalau selalu apa.
Apa itu cara pikirnya sudah tepat atau justru itu menghambat diri mereka itu untuk kayak berkembang di dunia di dunia kreatif, kreatif sekarang, karena kan marketing enggak bilang juga bukan sekedar jualan doang.
Marketing juga bisa terakhir error untuk ngeliat kreatifitas kita gimana dari kacamata waria.
Pembicara 1
Marketing akan bantu kita mendapatkan jodoh hidup.
Kita akan dapat pasangan hidup karena marketing kita akan dapat pekerjaan yang kita idami dari marketing.
Kita bisa mengundang idola kita untuk podcast, karena marketing kita bisa makan makanan yang kita mau karena marketing.
Kenapa?
Karena marketing kalau kita.
Dari satu angle misalnya story telling.
Itu akan mengubah sebuah niat baik menjadi hasil yang baik.
Kadang kita niatnya baik nih.
Kita mau mengejar seorang perempuan idaman kita.
Tapi karena kita enggak bisa ngomong sama dia, kita enggak tahu kapan harus ngomong sama dia.
Kita enggak tahu bagaimana mempelajari apa yang dia suka dan ngomong pakai bahasa dia.
Kita enggak dapat wanita idaman kita menjadi istri dan itu semua kan prinsip marketing ya.
Meet your customer wear the are ngomong dengan bahasa mereka.
Datang di waktu yang mereka interested.
Bukan waktu mereka lagi sibuk.
Itu semua kan prinsip marketing.
Jadi kalau kita bilang kita enggak mau marketing deh, bagaimana kita bisa menjual ide ya kita harus go green gimana kita mau menjual ide ya kita enggak boleh menyampah, itu aja harus jago marketing.
Pembicara 3
Hmm.
Pembicara 1
Mau niat sebaik apapun kalau marketingnya enggak jago akan terkesan dimanding akan terkesan orang aneh.
Nah itu marketing itu.
Kalau kita baca, ada satu buku yang cukup bagus dari pak henry.
Mana piring uh marketing apa ya?
Marketing hidup atau.
Pembicara 2
Apa itu nama bukunya ya?
Pembicara 1
Belajar marketing, belajar hidup ya itu menggambarkan banget kita kalau enggak ngerti marketing hidup itu enggak bakal indah lah.
Pembicara 2
Tapi kan di marketing, kata pak rian tadi sebelum podcast ini kan pak rian bilang.
Kita enggak bisa memenangkan semua orang, kan?
Kita enggak bisa memenangkan hati semua orang ya.
Nah.
Di perusahaan perusahaan yang udah varian bangun gitu ya dan ada beberapa perusahaan yang kategori yang sukses di mata pak rian.
Itu.
Kok bisa memenangkan hati sebagian orang itu memang bilang mikirnya kita enggak bisa memenangkan semua hati orang, tapi hati orang orang yang bikin perusahaan varian dan sukses ya jabatannya tinggi itu kok bisa gitu?
Pembicara 1
Itu kayaknya bukan pembahasan kita tadi podcast, tapi aku baru bikin konten di Instagram kayaknya 2 hari lalu.
Nah itu konten itu ngomongin kita jangan mencari jalur tengah.
Kalau suami mau makan rendang istri mau makan sushi nyari jalur tengahnya makan daging Jepang.
Yoshinoya malah suami dan istri 2 duanya enggak dapat apa yang mereka mau dong.
Seharusnya gimana, seharusnya giliran yaudah hari ini makan sushi besok malah rendang atau hari ini makan rendang besok makan sushi.
Tapi harus ada salah satu yang mau ngalah baru 2 duanya akan dapat apa yang mereka mau bahkan bisa makan siang, makan malam enggak usah nunggu besok hari sama halnya dengan marketing kita, kalau dari awal langsung mau target seluruh warga negara Indonesia.
Kita cari jalur tengah yang kira kira semuanya enggak ada ngerasa enggak suka deh.
Ya enggak bakal dapat siapa siapa kita harus milih saya mau target bapak bapak rumah tangga.
Suami suami yang enggak punya pekerjaan dan mereka setiap hari mengurusin anak di rumah.
Very niche sangat dikit pria yang seperti itu, tapi lebih mudah kita menangkap ketika kita sudah menargetkan kepada mereka.
Ketika kita udah dapet audience itu, kita baru bisa buka channel baru ke ibu rumah tangga.
Kita buka lagi channel baru ke asisten rumah tangga, padahal kita jualannya apa sama sama sapu.
Pembicara 2
Kok bisa sapu tadi itu?
Bisa laku dia bapak bapak terus segmen yang ibu ibu itu beda.
Apa yang bisa bikin bedakan sama sama sapu.
Pembicara 1
Betul misal contoh ketika kita ke bapak bapak ini generalisir belum tentu benar.
Tapi misalnya bapak bapak itu lebih suka fitur.
Fitur itu yang kita tonjolin terlebih dahulu sapu ini seperti vakum tanpa butuh ada baterai dan colokan listrik karena ketika kita dorong dia di lantai dia sudah ada penggerakan yang menciptakan angin sehingga menarik debu masuk ke dalam.
Contoh ketika kita jualan ke ibu ibu rumah tangga kita jualnya um sapu ini warna warni tembok karena Anda warna pink kita ada warna pink padahal kita jual sapu yang sama lalu kita masuk ke asisten rumah tangga.
Uh, ketika Anda bisa menyelesaikan lebih banyak kerjaan dalam waktu yang singkat, Anda bisa beristirahat lebih lama.
Nah itu kan sapunya yang sama, tapi kita target 3 orang yang berbeda.
Dan kita enggak bisa nyari jalur tengah semuanya kita ngomongin dalam satu video udah pasti enggak working di sosmed karena pasti lebih dari satu menit.
Kita nyari jalur tengah yang enggak cuma ngomongin fitur ngomongin warna um dan ngomongin bahwa itu bisa menyelesaikan dalam waktu cepat kita lebur menjadi.
Satu message yang jadi amburadul malah 3 tiganya enggak dapat karena kalau kita mau nangkap ayam jangan kejar semuanya kejar satu dulu kan?
Pembicara 2
Berarti poinnya juga story telling nya tadi itu penting banget ya.
Apalagi kalau misalnya produk produk kita tuh ada script writingnya tuh script writernya itu juga harus berperan besar ya.
Pembicara 1
Tapi banyak kendala descrip writer yang konsultasi sama aku.
Mereka punya kendala adalah mereka enggak ada audience yang tepat.
Kalau kita bilang guru hidupnya susah kerjanya susah.
Sebenarnya mereka cukup enak dibanding market.
Kenapa?
Karena guru guru itu semua satu kelas ya sd kelas satu sd kelas satu, sedangkan kita ada yang anak sd ada yang baru lulus kuliah, ada yang sudah mau akhir bayar, kita harus communicate ke mereka semua.
Nah itu yang membedakan uh, seorang komunikator, marketing dan guru yang sudah diklasifikasi.
Kamu ngomong sama tipe orang ini?
Pembicara 2
Karena guru sd tiba tiba disuruh ngajar di depan SMA anak anak SMA juga.
Enggak mungkin ya mbak rian.
Pembicara 1
Mungkin sih yang susah, yang susah adalah anak sd dan SMP dicampur gurunya satu di ruangan yang sama.
Pembicara 2
Oh iya.
Gimana cara aku keluar dari zona diskon untuk mengejar target penjualan aku setiap bulannya.
Apakah ada rumus budget marketing yang bisa diterapkan di semua bisnis?
Terima kasih pak ryan.
Pembicara 1
Kalau kamu hanya bisa jual karena diskon.
Aku ada sebuah kisah dari iparku sendiri.
Dia jualan heboh batah ringan.
Ketika dia mau naikin produksinya, dia ada kendala di mobil nggak bisa kirim.
Aku bilang sama ipar aku, kalau enggak bisa kirim sendiri sehingga harganya.
Enggak masuk artinya koko bukan pabrik habel, tapi perusahaan logistik karena jatuhnya kalau dia enggak jalanin ekspedisi dia sendiri harganya, jadi enggak masuk artinya yang dia dapat value for money adalah di ekspedisinya.
Kenapa aku pakai contoh ini?
Karena aku enggak tahu iqbal di bidang apa bilang, tapi di bidang apa pun yang kalian jalanin ketika kamu bisa dapat harga murah menjual barang itu pasti ada satu bagian yang kamu lakukan dengan.
Sangat bagus cari satu bagian itu, misalnya packing kamu very efisien.
Ya jadi fulfilling aja buka gudang bantu orang fulfilling di situ akan nemu value for money kamu ternyata di sana baru nyari audience yang relevan.
Karena ketika sudah bisa melakukan diskon, artinya bisa jual barang dengan lebih murah tanpa rugi.
Artinya ada satu sisi dalam bisnis.
Proses yang dilakukan dengan sangat efisien yang orang lain enggak bisa.
Cari itu apa dan ubah bisnis kamu jadi fokus di situ aja.
Pembicara 3
Hmm.
Pembicara 2
Oke mungkin studi kasusnya kalau dia jualan ayam goreng.
Pembicara 1
Gimana misalnya dia jualan ayam goreng.
Terus dia jual dengan harga diskon.
Tapi besoknya dia tetap harus jual dengan harga diskon.
Dan dia ngerasa itu adalah harga diskon yang beneran diskon bukan diskon yang kayak harga coret harga coret berarti kan dia jual dengan margin yang sangat tipis itu kenapa dia ngerasa dia terperangkap dalam diskon tersebut?
Nah kalau dia bisa jual dengan harga yang murah itu.
Berarti misalnya dia dapat minyak goreng yang murah atau dia dapat tempat yang dia sewa itu sangat murah dan trafiknya banyak atau dia dapat uh pegawai yang sekali masak bisa banyak atau dia kenal sama uh penjual ayam yang jual dengan harga murah apapun yang dalam proses itu.
Misalnya dia dapat penjual ayam yang langsung dari kandangnya.
Ya mungkin jangan fokus jadi penjual ayam goreng, tapi jualan ayam ke pasar aja mungkin harga kamu masuk.
Pembicara 3
Hm.
Pembicara 1
Kalau kita bisa jual dengan harga diskon yang benar benar diskon dan murah banget pasti ada bisnis proses kamu yang sangat bagus dan fokusin di sana aja.
Pembicara 2
Oke menarik jadi itu dia iqbal.
Kalau kalian mau lagi ada problem di diskon bisa terapin kayak varian bilang tadi ini ada pertanyaan yang 2 lebih menarik nih variannya mungkin sangat sangat deep ya dari suci Damayanti bisa ceritain enggak titik terendah varian ketika memulai bisnis sesimpel itu pertanyaan.
Pembicara 1
Tapi iya oke um titik terendah aku dalam memulai bisnis adalah ketika aku menyadari bahwa.
Repetisi membangun ekspektasi.
Pembicara 2
Repetisi.
Pembicara 1
Waktu awal aku bisa menebak kira kira tahun depan apa yang akan terjadi.
Contoh kayak sekarang aku dengan harga baterai yang turun jauh dari $700 per KWH jadi 70 dan akan jadi 50 tahun depan itu pasti banyak barang yang tadinya butuh dicolok.
Sekarang bisa dengan portabel dengan baterai.
Contoh adalah catokan rambut portabel aku sudah fork.
Dan dengan forecas aku ini tadinya kalau beneran terjadi tahun depan catokan portable itu laris manis pasti pada tepuk tangan wih rian hebat cenayang.
Tapi kan aku udah melakukan ini selama 10 tahun ketika aku melakukan forca ini dan itu enggak terjadi malah dinilai ah kali dulu meleset dinilai jelek ketika itu terjadi dinilai biasa aja.
Memahami bahwa.
Ketika kita konsisten melakukan hal yang bagus berulang kali itu tidak dapat.
Pujian adalah pujian terbaik itu yang membebaskan aku dari masa terendah dalam karir aku karena ada masanya aku ngerasa handra appreciate ada masanya aku ngerasa over expected ketika aku deliver return on investment di atas 50% year on year.
Ketika aku deliver di bawah 50% untuk satu perusahaan doang, tiba tiba dinilai ini perusahaannya.
Kenapa nih?
Padahal rata rata 15% ritana equity itu normal dan saat itu di 3 puluhan double the standard.
Tapi di malah dinanya ini perusahaan kenapa?
Aku ngerasa ada tuntutan yang enggak masuk akal.
Aku merasa ketika aku benar juga pujiannya menghilang.
Dan aku sekarang menyadari bahwa ketika aku turun dari panggung sebagai keynote speaker dan enggak ada yang nyalamin, aku lagi bilang, wah tadi ngomongnya bagus itu sebenarnya pujian yang terbagus karena di awal awal waktu aku mulai naik panggung dan jadi keynote speaker.
Tiap kali aku turun pasti ada yang salah, minta kan bilang bagus pak tadi ternyata itu dia cuma iba doang, cuma mau kasih confidence level naikin dikit.
Jadi the moment yang paling rendah dalam karir aku adalah ketika aku ngerasa underevated dan over expected.
Tapi itu udah lewat aku sekarang menyadari bahwa ketika orang expect lebih dari aku itu adalah pujian tertinggi.
Pembicara 2
Oke, tapi di sisi bisnisnya itu di titik terendah apa dari belasan bisnis tadi ya ada enggak satu bisnis?
Yang menurut varian itu wah kalau dilanjutin kayak susah dan kalau dilanjutin ini kategorinya ini cuma terakhir error ini errornya nih ada enggak di tahap salah satunya seperti itu bisa terbuka enggak?
Pembicara 1
Trial dan error dan ini errornya oke.
Jadi di setiap um perusahaan yang aku bikin selalu kita masalahnya itu di fulfillment.
Ini kalau dibilang dari segi branding, this is the west story.
Bisnis owner bisa tell anyone.
Silahkan silahkan karena jadinya.
Calon pembelinya nggak percaya aku bisa deliver kan tapi kenyataan dalam hidup aku aku mau buka perusahaan apapun yang kayak terakhir baru buka gerak gerbang reling atap kanopi.
Sekarang itu kalau DP di kita 2 Minggu lagi baru dipasang karena memang tukangnya kurang.
Ya aku bisa cari tukang di bawah kolong jembatan tomang, tapi kan hasilnya enggak sesuai yang kita mau.
Nah jadi kalau ditanya trailan error dan ternyata ini error itu adalah ketika kita enggak bisa fulfill.
The demand.
Itu terjadi di semua perusahaan aku.
Sehingga semuanya bardi ada masanya kita jualan seminggu tutup seminggu barang habis.
Oke oke, karena ya kita enggak expect bakal jualan setinggi itu.
Kita juga maksa produksi dalam negeri.
Kadang juga qualitynya bikin 10 cuma bisa keluar 3 ada momen momen kayak gitu lah um ketika dibilang terawangan error adalah dalam tahap proses tadi.
Ada produk yang aku paksa produksi dalam negeri, contoh kayak elly distrik.
Baru 2 bulan lalu 0 kita mau coba produksi di sini ternyata gagal.
Ya udah kita balik lagi produksi china dengan berat hati banget.
Sekarang kita impor lagi.
Trailent error adalah dalam proses ataupun pilot.
Nggak ada satu perusahaan yang ternyata ini gagal, tapi inovasi inovasi uji coba uji coba yang dilakukan oleh perusahaannya dari 10 biasa yang sukses cuma 3.
Jadi kalau dibilang terlalu error dan ternyata gagal itu justru 70%.
Pembicara 2
Oke menarik.
Kita masuk ke pertanyaan ke 3 ya pertanyaan terakhir ini dari.
Ismayanti.
Dia tanya varian bisa share enggak tips bikin 10 perusahaan lebih.
Ini gimana ini ini sesimpel ini pertanyaannya.
Pembicara 1
Sini.
Pembicara 2
Menurut aku nih pertanyaannya benar karena.
Aku enggak tahu juga secara sistem kerja pak rian kok bisa sih di atas 10 perusahaan seperti ini?
Apa buku waktu jangka panjang di atas 10 tahun atau dalam waktu 5 tahun sambil menjalani ini ngejar ini atau gimana?
Pembicara 1
Um jadi filosofinya gini, orang tua hanya akan membiarkan anaknya lepas dari jangkauannya sejauh kemampuan dia mengejar.
Contoh ketika di rumah.
Ya udah terserah kamu mau jauh dari aku 10m 20m.
Tapi kalau di jalan raya kita pegangin tangannya kenapa?
Karena mobil bergerak segitu cepat dia lepas 1m mobil tiba tiba datang dari jarak pandang kita kita kejar 1m kita enggak keburu ngambil.
Kita hanya bisa mempercayakan kepada orang yang kita mau percayai seperti anak kita semampunya kita untuk menyelesaikan masalah ketika mereka terbentur masalah.
Bener ya ini aku ulang konsepnya rada sulit.
Kita hanya bisa mempercayakan orang sejauh kita mampu menyelesaikan masalah yang akan terjadi dari yang kita percayakan ke mereka.
Artinya aku sendiri harus berkembang.
Ketika aku enggak punya.
Personal branding yang bisa minta bantuan.
Kepada beberapa orang yang aku kenal, jadi sekarang aku dari tahap yang cukup nyaman.
Aku mau buka perusahaan itu, misalnya butuh modal 10 m deh aku tinggal WhatsApp aja aku mau buka perusahaan aku mau bagi 60% siapa yang mau masuk, banyak yang mau masuk, maka ketika ada perusahaan aku yang sampai ada cashflownya macet.
Aku tahu aku tinggal WhatsApp berapa orang dan mereka mau invest.
Kalau mereka tahu aku bakal fokus di perusahaan itu.
Jadi ya ketika aku ada perusahaan, aku bisa lepas kasih kapten, kapten atau itu sebutan kita untuk CEO nya.
Karena kalau cashflownya macet, aku cukup kuat untuk menopang bisnis itu.
Aku bisa kasih mereka jalan karena aku tahu kalau misalnya karyawannya, mereka semua resign karena enggak suka sama kaptennya.
Kita bisa pindahin beberapa karyawan dari perusahaan yang lain ke perusahaan itu untuk mengcover dulu.
Aku bisa kasih mereka kepercayaan karena aku tahu kalau sampai enggak ada penjualan sama sekali.
Entah karena apa aku masih bisa kok jualan untuk maintain fixed cost yang setiap perusahaan itu punya.
Jadi aku bisa buka lebih banyak perusahaan walaupun aku enggak hands on day to day.
Tapi aku tahu.
If all health break close terhadap satu bagian di mana pun aku dalam kapasitas untuk mensolusikannya.
Jadi untuk kita bisa punya perusahaan yang lebih banyak, tentunya kita harus belajar bisa percaya orang 2 adalah kita membangun kita punya kapasitas untuk menanggulangi resiko yang ada kemungkinan terjadi.
Pembicara 2
Berarti ini konteksnya memang nggak 10 sepuluhnya itu hands on setiap hari, karena kalau 10 sepuluhnya es on.
Aneh enggak fari aneh.
Pembicara 1
Iya, kayaknya enggak ada sih.
Pembicara 2
Masa 1 jam di sini 1 jam di sini 1 jam di sini.
Pembicara 1
Aku ada pagi hari jadi kayak kalau Senin itu aku di next digital Selasa aku di pabrik sorenya di buzzoiro pabrik itu bukan pabrik punyaku.
Tapi aku emang passionate terhadap uh produksi dalam negeri.
Jadi tiap Selasa dan Jumat pagi itu aku sudah jadwalin untuk ke pabrik orang dan ya free endorsement aja di Instagram.
Pembicara 2
Aku.
Itu juga customnya salah satu produk pria ada di produk itu enggak mau.
Pembicara 1
Belajar aja di situ ya emang cuma kasih free endorsement aja.
Jadi aku ke sana video uh dengan biaya sendiri tanpa biaya apapun ke mereka posting di Instagram.
Pembicara 2
Aku.
Pembicara 1
Memang mendukung produksi dalam negeri aja.
Jadi Selasa pagi sama Jumat pagi emang aku usia lah lakukan itu Selasa sore aku di buzzhou, rabu aku diwahin itu enabler and fulfillment di sunter.
Hmm disitu juga ada kafa dan beberapa yang uh barengan di sana juga jadi um dalam satu Minggu itu aku akan ngitar ke semuanya.
Tapi aku enggak disana setiap hari.
Pembicara 2
Jadi poin yang mungkin menjawab pertanyaan pertanyaan tadi tuh sebenarnya.
Kepercayaan tadi yang bisa bikin varian itu punya brand brand atau perusahaan tadi kan?
Bukankah tadi aku mikir juga ini sifat ya robah nih kok bisa sehari sebelum berusaha enggak masuk akal juga gitu ya.
Pembicara 1
Oke um kita kasih contoh konkret deh contoh konkret dari segi keuangan.
Kita mau kasih kepercayaan orang bisa tanda tangan ngeluarin uang pasti kita taruh batasnya dong dulu waktu 50 juta itu angka yang sangat gede buat aku.
Pembicara 2
Waktu awal mulai.
Pembicara 1
Di atas 50 juta harus tanda tangan aku sendiri.
Oke karena hilang di atas 50 juta, misalnya di pilek 70 juta perusahaan.
Aku bisa bangkrut kalau sekarang hilang 50 juta ya nasib besok tetap sama gitu.
Maka sekarang di atas 500 juta baru butuh tanda tangan aku karena kalau hilang 500 juta rada goyang juga.
Nah dengan kapasitas kita bisa meresiko kan 500 juta.
Artinya apa artinya waktu yang aku butuhkan untuk tiap hari tanda tangan kan berkurang.
Konkretnya kurang lebih begitulah.
Pembicara 2
Oke oke make sense.
Tapi kalau sekarang semua perusahaan 50 juta otomatis setiap hari iya iya iya oke, tapi pernah nih orang contact tapi pernah enggak sih level kalau level owner ya milik pemilik perusahaan itu kan stressnya juga tinggi level stressnya.
Apalagi kalau mengharap berharap ke karyawan ya.
Nah.
Tipslah untuk founder atau siapapun di luar sana yang di levelnya pemilik.
Menghadapi karyawan, karyawan atau potensi potasi karyawan yang leseh berbahaya atau negatif seperti apa?
Pembicara 1
Aku enggak tahu penonton di sini seberapa spiritual, tapi mau agama apapun juga sama ketika kita mendapatkan hasil yang bagus kita puji tuhan.
Alhamdulillah.
Tapi ketika ada hal yang buruk, apakah kita juga menaruh beban itu kepada Tuhan yang kita puji ketika kita mendapatkan hasil yang bagus?
Karena enggak fair dong kalau kita dapat piagam kita bilang puji tuhan.
Kita dapat masalah kita enggak nyalahin tuhan itu kita munafik di posisi aku.
Aku sudah berserah sepenuhnya setelah aku melakukan segala yang aku bisa dengan mengetahui kalau ada hal bagus, aku memuji tuhan, ada hal buruk.
Aku mengandalkan tuhan.
Jadi ya stress level itu akan menurun ketika kita tahu uang dan jabatan itu hanya kepercayaan dikasih ke kita dari yang maha kuasa.
Bukan kita bilang hari ini aku bangun dengan kepala sengklek karena tidurnya salah.
Tiba tiba perusahaan bangkrut tetap ada yang jagain juga gitu.
Nah, jadiketika emang kita ada tingkat spiritual tertentu, kita enggak cuma berterima kasih dan memuji.
Tapi kita juga tahu ketika ada masalah kita dapat mengandalkan yang maha kuasa.
Hidup akan lebih tenang sih.
Pembicara 2
Oke menarik.
Thank you banget kemarin atas waktu ya yang di tengah kesibukan ya karena ini aku curi waktu nih aku curiga aku harusnya sekarang ke pabrik kali ya?
Pembicara 1
Tadi aku dari sunter pulang lebih pagi dari gudang yang disunter aja.
Pembicara 2
Aku mau belajar banyak sunter marketing tentang bisnis juga ya, karena mau mungkin ke depannya bakal difil bisnis baru.
Begitu teman teman di luar sana yang mau belajar bisnis juga bisa ke makna bisnis pak rian.
Pembicara 1
Betul makna bisnis tapi.
Sabtu ini di pik udah waktu yang ditinggal dikit.
Jadi mungkin uh bulan depan ada di bsd kita ganjil genap.
Sebulan detik sebulan di.
Pembicara 2
Besok ini bakal tayang juga di Oktober.
Pembicara 1
Jadi oh oke jadi.
Pembicara 2
Di tanggal Oktober tanggal berapa?
Pembicara 1
Aku lupa juga Oktober.
Pembicara 2
Intinya kali bisa cek uh like yang mengenai bisnis ya.
Thank you banget fadh.
Pembicara 1
Thank you.
Thanks.
Pembicara 2
Terima kasih teman teman.
Podcast Summary
Key Points:
Orang membeli karena hati dan menolak karena otak—keputusan pembelian diawali ketertarikan emosional, lalu dipertimbangkan secara rasional.
Strategi pemasaran terdiri dari branding (menuangkan ikan ke kolam) dan performance marketing (mancing ikan yang sudah ada di kolam), yang harus digunakan pada waktu yang tepat.
Storytelling dalam bisnis harus memposisikan brand sebagai "guide" dan konsumen sebagai "hero", dengan fokus pada transformasi hidup konsumen.
Kerangka AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) masih relevan, tetapi model AISAS (dengan Search) sudah mulai usang karena belanja langsung dari media sosial, menjadi AISA tanpa "Search".
Agar konsumen mau membagikan produk, ciptakan "relevan value for money"—solusi yang tepat dan bernilai bagi target pasar, sehingga mudah direkomendasikan.
Summary:
Dalam podcast ini, pembicara membahas konsep pemasaran yang mendalam, dimulai dari prinsip bahwa orang membeli karena hati dan menolak karena otak. Artinya, konsumen tertarik secara emosional terlebih dahulu, tetapi keputusan akhir selalu melalui pertimbangan rasional, seperti harga, manfaat, atau faktor lain seperti ketersediaan parkir. Pembicara juga menjelaskan perbedaan antara branding dan performance marketing: branding adalah investasi jangka panjang untuk membangun kesadaran, sedangkan performance marketing adalah alat untuk mendorong penjualan pada momen tertentu, seperti saat ada stok berlebih atau kebutuhan modal.
Storytelling menjadi kunci, di mana brand harus menjadi pemandu yang membantu konsumen menjadi pahlawan dalam cerita mereka sendiri, bukan sekadar menonjolkan keunggulan produk. Selain itu, model AIDA dinilai masih relevan, tetapi AISAS yang menekankan pencarian (search) sudah mulai usang karena konsumen kini bisa langsung membeli dari platform media sosial. Untuk mendorong berbagi, penting menciptakan "relevan value for money"—produk yang sesuai kebutuhan dan bernilai, seperti layanan after-hour yang ditawarkan pembicara, sehingga konsumen merasa terbantu dan merekomendasikannya kepada orang lain.
FAQs
Ini adalah analogi di mana konsumen pertama kali tertarik secara emosional pada produk, seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah itu, mereka melakukan 'pacaran' dengan mengevaluasi produk secara rasional sebelum memutuskan untuk membeli atau menolak.
Performance marketing sebaiknya dilakukan saat ada kebutuhan mendesak, seperti ingin membersihkan stok atau mengisi kapasitas produksi yang kosong. Contohnya, perusahaan tirai menaikkan performa marketing hanya ketika ada tukang yang belum punya jadwal kerja, bukan setiap hari.
Karena sekarang konsumen bisa langsung membeli dari konten, misalnya melalui keranjang kuning di TikTok atau fitur shop di YouTube, tanpa perlu mencari informasi tambahan melalui mesin pencari. Ini membuat model berubah menjadi 'Attention, Interest, Action, Share'.
Meskipun ada tools canggih, tetap dibutuhkan keahlian dari tukang untuk menggunakannya secara efektif. Ini menekankan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan keterampilan manusia sepenuhnya.
Fokuslah pada cerita konsumen, bukan cerita brand. Posisikan brand sebagai 'panduan' yang membantu konsumen menjadi 'pahlawan' dalam hidup mereka, dengan cerita yang relevan dengan masalah dan transformasi spesifik yang mereka alami.
Ini adalah nilai yang relevan dengan masalah spesifik konsumen dan sesuai dengan anggaran mereka. Ketika nilai ini ada, konsumen lebih cenderung membagikan cerita tentang produk, terutama jika nilai tersebut sulit ditemukan di tempat lain.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.