Go back

Logika dan Iman

93m 36s

Logika dan Iman

Pembicaraan membahas hubungan antara logika dan keimanan, dimulai dengan penjelasan tentang empat domain pemikiran: logika, empiris, moral, dan estetika. Logika formal didefinisikan sebagai alat penalaran yang hanya menilai validitas argumen, terlepas dari kebenaran premisnya. Sementara itu, keimanan dalam agama berdasar pada percaya tanpa bukti, berbeda dengan domain empiris yang memerlukan korespondensi dengan fakta. Diskusi menekankan bahwa meskipun logika dapat digunakan dalam agama untuk menarik kesimpulan dari premis keimanan, premis itu sendiri tidak dapat diuji secara ilmiah. Para peserta juga menyoroti bahwa sains merupakan kombinasi logika dan empiris, sedangkan iman dan empiris adalah dua domain yang berbeda dan sulit disatukan. Kebingungan sering timbul akibat pencampuran logika formal dan informal, serta pertanyaan yang tidak relevan dalam konteks keimanan, seperti mempertanyakan Tuhan dengan pendekatan empiris. Kesimpulannya, logika dapat diterapkan dalam agama selama premisnya diterima sebagai bagian dari iman, tetapi pencampuran dengan empiris justru dapat mengurangi esensi kepercayaan itu sendiri.

Transcription

14118 Words, 83879 Characters

Indonesian
[Muah] Oke, balik ke episode 12 revisi. [Muah] Kekur-kulum 2013 revisi. Logika dan even fast revisi. Nah, cuma bedanya sekarang, gue sama kan ya, di temenin juga sama Esa dan Mira. Jadi kita berhempat nih. Ya, kenalan lu, SAK, silakan. - Cola, bowl, bowl. - Check sound. Ya. Test, test. - Hai guys. - Hai guys. - Nego Esa. - Hai. - Suara beda, udah, gak bisa beda, kan? - Ini kan ya. Ya, udah, oke. So, kita akan basa, soal logika dan niman. Kalo sepikin sih, hampir semua ya di kita ini, ya kita berhempat dapat pertanyaan. Soal, bagian-bagian soal keimanan lah, apakah bisa dipakai logika gitu. Ini logik sih kalau misalnya apa sebut-sautung lu jat, misalnya gitu kan. Atau logik sih kalau gini-gini-gini. Nah, kita mau clarify disini, ya. Based on, apa ya, basa nya, di setera filosofi itu, setemologisnya gitu ya, lu gak harus tau namanya, tapi gira-gira, secara approach ke ilmuan domen ilmu ini, gira-gira pasnya gitu. Interrassinya gira-gira gitu sih. Pas apa, apa yang pas? Ya pas gak sih, ngomong, oh dia bisa logis gitu. - Lagi, lagi, lagi. - Patanyaannya, maksudnya. - Patanyaannya atau kita ngobasnya, ya. - Patat-tong. Patat-tong, gak. Atau mungkin sebelum itu, kayaknya diiman perlu gak sih ada logika. - Oke, itu lebih besar deh pertanyaannya. - Atau pertanyaannya. - Tapi itu disuruh next question, gitu. - Iya, lainnya kayak pas ya plauiknya dulu, kan? Ya, juga, justru itu ini mengantar buat "The whole episode", gira-gira ngafretnya apa sih. - Kami gini pertanyaannya muncul gitu. - Iya, pasti pertamaan. - Kamu dah pertanyaannya apa, gitu kan? - Iya. Kamu dia sedap pertanyaan, kayak apa. - Hmm. - Tak sebenarnya pertanyaannya. - Kalau gue sih, sering ada waktu pertanyaannya, gini. Kan orang tau lah, gue gak jarir di Zenius, guru logikasi sama matematik gitu ya. Nah orang-orang nanya, boleh gak sih kita di agama tuh makyologika. - Uhuh. - Banyakan, banyak yang kayak gitu ya. - Iya. - Uhuh. - Nah itu mulai, mulai. - Hmm. - Nah gue, gue berarti kalau kita short intro, short intro, dating in framework, kita udah bilang soal 4 domain, kan? 4 domain logis, MVRIS, moral, and aesthetics, ya. Nah, gue ngulang dikit bagian yang paling penting, dimana di bagian logis, ya ya logika ini, logika itu urusan soal kenalaran doang. Kenalaran yang doang bukannya isinya, masalah pe makaki kalau pe makaki ke maka air gitu kan. Kalau pe terjadi, maka gitu jadi maka air terjadi, simpelannya kayak gitu. Logikata kayak gitu, semua A adalah B, si ucip adalah A, atau maka sih ucip adalah B gitu. Nah, penalaran kayak gitu, including matematikal model. Jadi, so basically logika kayak gitu doang, urusan penalarannya isinya, bodohama, ternyata bener-besalah. - Hmm. - Gitu kan. - Kalau bilang, masalah masih serifakta. - Iya, serifakta bener atau salah, tapi fallit-infallit nggak tenal-tenal ini, ya, yang lebih penting dari di bagian logika. - Nah, gue ga lalu ngeliat. - Ternyata bilang kayak gitu, terus ada yang nanya, nah, tapi kan mir itu definisi logika formal, kalau logika informa tuh beda lagi. - Iya, kalau logika informa lagi, kan. - Kalau logika informa lagi. - Kalau sih belah-belah, bener-belah. - Iya, jadi gini, gini. Sebenarnya, ini kita ketemu macam 4 domin ini, untuk apa element, apa element paling atomic gitu. Element paling atomic dalam rana pemikiran, di bagi 4 ini simplified jadi memang. Nah, ketika mau-mama logika, ke mana ini udah yang logika apa ya? Dia logika formal, kan. - Moga tuh poin-moga. - Ini logika informa, tapi masih udah tinggi-skil, yang udah lebih tinggi, gitu, itu sih memang lebih tinggi ada kerenpikal tinggi, ya, segaro macam istilahnya lah logikal fallos, ya, apa segaro macam 12 k gitu. Memang, dia udah mulai campur sama empirical, ya gitu, tapi logika ini, kita ngomongin logika di rana ini, kita ngomong itu dulu, kita spakat jadi spayang atau ketukur gitu lah. - Oke. - Ya, - Ini logik domin yang kita ngomongin, itu purely akciomatik di definisiin, dan sebenarnya seberapa akurat dia benar-benar ravelis itu gitu. - Lagi seperti namanya juga, kan, kasi namanya informal juga, - Gara-gara kayak gak bisa rigid juga dia nya juga, meletok-meletok juga, - Ya, bukan gitu formal tuh bahasa di malamatis formal, - Ya kan. - Maka ya dikasih nao, itu kan formal karena memang jelas kan, maksud seruktur malanya udah rigid, gitu, lebih rigid. Nah, kalau informal, memang bisa meletok-meletok tonok sih, nih, jadi gak tau rana-mangan-angan-angan-dua nih modini lain, nah, cuma dicampurnya semuanya ke dalam isilah informal logik gitu. - Jadi kesannya logik udah, buat totalin namanya berfikir itu logik, gitu. - Ya, pandal kan, itu kan, ya, banyak banget, - Karena ya, pusing lah lo, mau ngomongin yang mana nih gitu loh, makanya kalau gue sih gak medakan sih logik informal formal, ya gue, - Logik-logik, gitu, - Logik-logik, itu buat itu doang, nah kalau yang bagian informal, ya gue pakai isilah resering, mungkin lebih tepat ya, yang di mana, ya itu dalamnya, semacam-macam, betr-gantung yang mana yang pengen dipake. - Oke ya, so, do men, sama, do men, sama jelas, ya, waktu nama. Do men, kedua empirical, do men, empirical ini, faktaf faktat sesuai gak sih dengan, ya, realitas gitu, nah faktafat sesuai dengan realitas, itu, jadi do men, kedua nih, urusannya buah logik kan, ya, beda-beda faktanya aja, per faktat basis, ya, per faktat basis, sesuai dengan realitas gak, cek. Nah kebenaran di dalam sini, nih, philosophis sebenarnya disebut kebenaran koresponensi ya, apakah pernyataan ini secara primis, empirisnya nyak kenyataannya, itu sesuai gitu. Kalau disuai dengan faktanya, itu ada koresponensi yang telah pengetahuan kita dengan kenyataannya, ya, itu benar lah, sebutnya truffles, kalau dibasih itu sihat, bahas yang itu truffles, yang atas, ya, nah atas, yang logik kan tadi, valitin valitin. Terus, masalahnya memang kata benar salah ini, di kita sering dipakai juga diurangan-anang lain, terutamang moral yang benar salah, sebenarnya itu baik burung, boleh kepengga, nah jadi benar salah di sini, ingat kita sepakat dulu pake-nya ke arah empirical. Pertanya nih adalah science-semas kemana, ada juga yang nanyak gitu, dan science itu masuk memang, dia memutuhkan kebenaran empiris, tapi dia juga lebih dari sekedar itu, gitu. Bukan cuma mengumpulin perangkau, asrnya yang mengumpulin fakta-fakta-fakta-fakta-dohan, tapi dia juga dari fakta-faktah itu, dia ambil polanya, dapat polanya, ada formulanya, di test berkali-kali itu oke, gitu, reliable, jadi usaha terukong, nah, nah, nah, dia bisa di deduksi juga, benar logika, ya, dunah pemakan logika, kita bisa nangbil okonsquensinya, itu bikin prediksi, kalau gini makra gini makra gini makra gini makra gini, ini based on formulasi yang ada. So science, basically, the combination of both, ya, empirisnya harus terpapat, tapi dari situ juga, ya, when you're doing science, of course, long time, as kept from logic and mathematics, gitu. Pana itu. Ya, itu lah definisi, kita clarifat definisi, nah, sekarang siapa yang memulai, soal gimana sih, di bagian sana, gimana aja, warever ini, poor wherever, mulai, lu bisa. Ya, jadi banyak banget yang banyak, bahwa bang boleh gak sih, di agama itu kita berlogika, gitu. Terus lagi, gue juga, gue sempat mikirin juga, bahwa ada, ada filosuf agama, gitu, filosafat agama, ya gue pernah, saran mikirin apa sih, gitu. Gue belum pernah masuk sana sih, gitu, kan. Ya, kalau gue waktu itu jawabnya, sekarang ini agama, based on iman, kan, gitu. Agak, semua yang ada di agama itu, based on iman, based on, apa, kepercaya namanya juga kepercayaan, gitu. Jadi, yaudah lu percaya atau gak, kalau percaya lu berarti beriman, kan. Terus kalau lu mau dipake, lu kalau mau makyelogik buat memfallidasi, itu gitu. Ya, susah karena apa, semua premise-premise di dalam agama itu, gak bisa di test gitu, gak bisa di test cara scientific. Jadi, untuk memfallidasi, siang rana kedua nih, rana kedua, itu susah juga gitu. Cuma kalau lu mau fallidasi, mau bernalar dalam agama itu serah aja gitu. Gak, gak ada yang larang gitu, ya, harus deh. Tapi, juzru itu begitu kita menggunakan penalaran di dalam agama yang basicnya dari iman, based dari keceaan. Kita malah, lo kok gini, lo kok gini. Malah, malah, malahnya ser dalam pikir-ngikir sendiri gitu. Karena kita mempertahanya kan, selalu hal yang, keberadaannya gak tau gitu. Gue dulu ngacau peki dulu. Gak apa-apa yang lu gimana? Gak, ganti ya, open-ing statement auto-canti. Gak mulut. Apaan, masya? Kamu bahas gak? Gak. Gak, ngerti. Kalau menurut gue, ya, antara ini logik itu sebagai apa namanya metodologi berpikir, struktur, strukturnya doang nih bukan mikirin isinya, jadi ya, di dalam agama, dalam konteks berman, ya, bisa-bisa aja, pakai logikah gitu. Tapi yang membedakannya, adalah, apa namanya, fakta-faktak, yang tertolis di kitap atau acuan orang dalam beragama itu, gak bisa dicek secara, ya, secara metodologi science gitu. Karena namanya iman, basisnya kan percaya itu. Justru, kalau lo bertanya, ini isinya benar-benar, gak? Ya, berarti, itu namanya bukan iman, ya, sih. Kalau nanya buktinya apa, gimana-gimana, percatan secaranya gimana. Itu namanya bukan basis kepercayaan lagi, udah lo mencari tau buktinya, udah kayak science gitu. Sense agama itu basisnya iman, percaya, ya, udah, lo terima ini dari kitap, kayak ini, ya, lo percaya aja, ya, tapi dari premise-premise, yang ada di kitap itu, ya, lo bisa pakai logikah untuk menarik kesibulannya gitu. Cuman menurut gue, ada aja, maksudnya, dimana, premise-nya sering ganti-ganti gitu. Atau mungkin banyak yang punya interpretasi yang beda-beda, padahal itu sih. - Satu agama atau satu kepercayaan yang sama gitu? - Gue pengemarikan kemudian. Jadi gue lupa dari kemudian. Walaupun ketika ngomong-ngomong logis, ini bisa logis-nya sih gini-ngini. Memang kebanyakan ada misus, ke salah pemakaian katalogis. Karena mungkin, mereka mungkin masuk akal, mungkin mereka harus ada kemudian. Orang-orang yang menerima, atau mungkin ternyata di atomnya sialat-hatif atau apa. Jadi katalogis ini, karena kalau dengan definisi logika kita tadi, katalogis itu sebenernya kan, basically logis atau ga? Apakah bernalara bener-bener, apakah urutan pengambilan yang simplanya bener? Jadi kan, maka ini, maka ini, oke, kalau bener, oke gitu. Mopreimesnya absorb pun, bodoh amat, asal malara bener. Jadi kalau misalnya, jika pahayung itu kuncup, ga jah ini akan membesar 3 kali ripat. Dan kalau ga jah, membesar 3 kali ripat, maka ujan itu dress banget. Jadi, kalau ujan tidak dress banget, atau kalau misalnya pahayung itu kuncup, ga jah, atau membesar 3 kali ripat. Simpulannya bener-bener, ketika ternyata ada primis, itu ternyata ada primis satu. Terus, mulai ada primis tambahan, primis tiga-nya, leh, pahayung kuncup. Nah, berarti akan ujan dress banget dan ga jah, akan membesar 3 kali ripat. Logis-ngga illogis, secara aturan logikanya bener. Tapi, ya itu maksial nih, buat. Ya, bodoh amat di logiknya ga ngomong, misalnya, apakah primisnya bener-bener pun ga? Tapi nambah yang sepulanya aja. So mungkin pertanyaannya adalah satu yang bagian setunya, mas apata-apang ga. Yang kayak gitu. Kedua ada juga yang bilang perayanya yang bahwa, tepat ngesi kita memakai logika, atau man irpesti gasi staya stand-up, terdap hal lain begitu. Ya, nah, kalau gue, gue akan mau misalnya. Kalau gue sih memang memframe dulu ya, bahwa konsep iman, apa? Memudian konsep basic tadi definisi saya empiri ya. Iman, jelas bahwa definisi, sorry, iman itu, indian ya, lo percaya sesuatu. Tampa, bukti, pokoknya namanya iman tuh kayak gitu, justru. Kalau lo butuh iman, butuh iman, beriman itu dengan menjari bukti, ya gue harus membutikan iman gue, itu sebenarnya salah total, itu bukan iman lagi. Kalau di dalam pesawat, udah udah udah udah udah udah masuk rana, ke justif, baik-baik-baik, beli flom, menjastifikasi, beli flot, dan cari-cari bukti, wichis udah nolonger, bukan nolonger pure iman. Pure iman ya, udah lo percaya aja, budaya amat isinya apa, dan kayaknya namanya bukti, jadi jari-jari yang teris, ya, itu semuanya gitu. Nah, dan science atau empirical, ya, at least gitu, ya, itu adalah rana dimana, jose bisa mungkin lo terima apa, lo jat, lo gak bualah nih, menrimas waktu premise, sebelum ada buktinya gitu. Science juga gitu, ya, sebelum ada ya, evident, sudah macam, ya kalau udah udah melihat ada efisnya, lo except itu, ya, itu pun cuma bisa bilang oke saat ini gue except ini. At one point, ketika ada perubahan, tuik, segal macam, ya, lo harus menjas, ya, pengatau yang lo tau itu dengan adjustment yang baru nyengkit. Ya, itu kira-kira kayak gitu, jadi kalau misalnya mau campurin, kalau dari gue, itu totali 2 yang berbeda, dan dari gue, gak bisa campur. Ya, kalau mau menyoba-yoba silakan, ya, mungkin infestigasi silakan gitu kan, isi lah kenapa, ya, ini sih, tapi kalau bagian empiris sama jibai-jian iman, itu totali 2 procem berbeda, totali beda, oposite itu ada gue, jangan beda, berkola, dakan banget gitu, yang satu, jangan jusu jangan sampe keberbukti, yang satu, ya harus nambutti. Ya, ini komen, ini komen. Ya, gue sering yang kelejungan juga di Agama itu kalau kita mempertanyakan Tuhan itu, apa ya, kalau misalnya lu jen mempertanyakan Tuhan itu ya begini gitu. Nah, tapi kan kita waktu kecil, gue deh waktu kecil gitu, mempertanyakan Tuhan ya, Tuhan itu ada atau gak sih, dia itu bentuknya gimana sih, yang bejebta kan, dia siapa kalau dia bejebta kan kita, berbela-bela, terus Big Bang buat tau lah, SMP. Big Bang, siapa yang bikin Big Bang, Tuhan ya, betar, gitu kan, nah, terus gue pernah dijelaskan sama guru visi kago bahwa Tuhan itu tidak ada, jadi kalau ditanya sebelum Big Bang ada apa gitu, sebelum itu kan berarti, tata yang menunjukkan waktu ya gitu kan, dia bilang gini, Tuhan itu gak ada di dimensi waktu, gak ada di dimensi ruang kita, alam semestanikan kita, ya, ruang gitu ruang dan waktu, dia berada di luar sana yang tidak ada ruang dan waktu gitu kan, jadi gue jadi pusing gitu, nah ya, maksudnya ini, gue mau pertanyaan-kantung, mempertanyaan-kantung segala suatu gitu, yang pada akhirnya gue sangat memisahkan gue itu bahwa, oke, yang namanya beriman, gue harus ditanya-tanyain gitu, kenapa bikini kamu gini, tapi semua yang hal-hal yang berada di dupe gue, yang konkrrit-yang ada real yang bisa kita kontrol, ya, kita kontrol, yaudah, terus pertanyaan-kantung, punya kan yang bisa dilihat, ya itu eksperians gue dari kecil mempertanyaan suatu gitu, mungkin masih sekarang banyak kelea orang yang bingung gitu, emang ya gitu ya, juga ya, yang yang kita diguchir kita ini, nah ini yang, yang gue jadi bingung, makuannya, ya, ya, kamu lupa komen, kamu lupa komen, untuk berdua, nggak tadi bingung sih sebenarnya terikin kamu yang ngomong, ya, kalau bilang pertama, masuk ke Latong-Gatur, saya ingin kenapa jadi kembicanaan yang niksana, ya, jadi ya, ya, apa karen, ya, kak, orang kamu mau? nggak, jadi kamu ngomongan kamu tadi, poinnya apa yang kamu bilang, tadi ini pertanyaan-kantung, maksudnya, kak, Latong-Gat itu, jadi seperti-kantung, mungkin kita jawab, tapi itu baru mungkin akan jawab itu, ya, itu selama jawab yang mana, kita nantikan, ya, jadi itu simpelannya, cilakan, ya, jadi simpel, lagi kalau gimana, ya, kita nggak titaup premis-premis dong gitu, ya, ada premis, ada penalarin, ya, gue, ya, seksini, ya, ada airnya ke mana, ya, ya, saya sih, gue udah mana komen sih, so far? posisi kamu, gimana, gue, terhadap, terhadap pertanyaan yang, ya, ini logisnya atau, ya, kalau aku sih pertama, nggak ngambung pertanyaan, ya, karena itu nggak ada urusan gitu, misalnya nggak jah terbang logis, nggak, itu nggak ada harin seri jawab, ya, ini tuh nggak ada apa yang mau liat, ya, nggak jah terbang, ya, itu orang belum tahu, ya, belum itu mereka tahun, supaya nggak jah terbang, nggak logis atau nggak, mereka berbenil saja, jadi nggak nyadar, bahwa itu sepung question, ya, dari kanan jauh, semakin ya, udah jauh, ya, gue nggak rekomen lain, terus apa lagi, gue suka minta hari, ya, jadi suka nanya itu, ya, gue ngelari 5, ngelari 5, bahwa itu lagi di verifikasi, dengan contoh yang baru, gitu. Ya kan udah di jelasin, ya, bahwa ya logika, ya, dia kan hari simpul, ada primes primes yang ada, ya, primes yang mau apa, ya, terseberlah, ya, berapa, ya, berapa, ya, berapa, ya, berapa, ya, berapa, primes yang gitu, ya, jadi kalau misalnya saya agak, ya, bisa nggak mau apa-apa, ya, primes yang terlalu, begini primes, apa-apa, ya, bisa semua logika yang juga, ya, ya, ya, ya, ya, ya, sebenarnya pertama nih, so far nih, logika, karena nggak urusan nama primes, jadi benar, itu ya, udah, bisa kemaling aneh lagi, yang paling aneh lagi, dan memutian mp, sebagai logika, itu yang paling aneh lagi, itu ada lebih aneh lagi, itu yang paling aneh dunia, ya, ini nggak bisa bilang kayak gitu, gitu, ke gue, gitu. - Gimana? - Eh, kan, hantu tuh jelas ada lah, logis, gila, ya, pertanyaan ada, atau nggak, jauh logis, supos itu, ya, tapi ya, semua, jika logis lah, ya, gue tinggal bikin nanya primes, gue sendiri gitu, jadi, rana-rana fatta, yang nggak mungkinlah, pakai pemukti yang logis, hantu. Ya, gue sih, gitu, lo, infer, infer bisa, gali, dari apa yang udah ada di sini. - Lasi, kenapa nggak bisa? - Huh? - Lasi, kenapa, ya, kenapa, ya? - Iya. - Ya, kan, nggak menjawab, dong, pertanyaan kan, misalnya suatu secara fakta, ya, suatu itu kayak gimana? Nah, logikan, dijawab, cuma bisa dari primes yang itu sendiri, ya, nah, terus kalau nggak ada primesi apa yang mau dijawab. Gila, gali, ya, primesi apa, ya, kan, lo juga, cuma ngungan-ngungan, kan, tara. - Iya, betul, gitu, gue. - Nah, atau nggak, kan. - Dia kira primesi tersembunyi di otak dia tuh, udah ada di kita, gitu. Nggak, ngertanya. - Iya, primesi tersembunyi apa, nggak ada urusan, ya, itu tuh, - Jadi, lo bisa ternyata sendiri, gitu. - Iya, itu dia, merusih buruh yang sendiri. - Begis mistek, agak-agak lah, bahwa dia memahai katalogis itu pada rana yang, yang apa sih, ya? - Nah, terus gue jadi bingung juga, abis dia yang dimaksut nih, apa nih, ya? Berarti, kan bukan logis, tapi apa nih, lo maksudnya. Nah, terus tadi, kenapa pakai katamas, Nggak iseng, kan. [Nak ternyata] [Nak ternyata] [Nak ternyata] [Nak ternyata] [Nak ternyata] [Nak ternyata] - Jadi, apa yang misalnya apa lagi? - Iya. - Lu mau. - Jual, mungkin semuanya. - Iya, mau nanya nih, lu lagi sepenggak ya. Lo udah soap, karena satu-nya apa, 2-4-4 tau, mungkin lo banyak. Nah, konsep wan silo gisnya bahwa simpulan, ada simpulan penalami benar-benar pesalah gitu ya. Bisa juga untuk modem-modem matikanya, kalau gini-gini, maka gini-gini. Itu lagi sepenggak. Jadi kita lock-masing nih. Itu cojin disini bagian logis-misini. Jadi, kemudian, next question adalah. Kalau soal logika dalam penalaran, eh, logika dalam penalaran ini, kita pakai untuk ketama ilana yang sihatnya, itu tadi. Itu bisa nggak, atau boleh nggak? - Di mana ya? - Iya, tak lah logika ini. - Iya kan tadi aku udah jauh pekolong itu ya. - Jadi, jauh dan ngomong. - Ija bisa, walaupun temes, ya. - Boleh ya, ya boleh. - Walaupun, bisa raksana ya. - Walaupun, ya. - Walaupun, kan? - Semalih terutari. Semalih terutari, mereka seru sedang merah. - Terutamanya, ini ada nanya, kan? - Nah, ada nanya, kan? - Ada nanya, kayak gini. - Kenapa kita alasan, kita kayak gini? Kalau aku sih sangat merekomendasi kan ya? Sama-sama-sama, merekomendasi kan. Dengan loik-embenar, tentunya ya. Bukan misalnya nih, loik-emisalah, contoh loik-emisalah. Semua hal yang ada, ada pejitanya. Pejitanya ada. Pejitanya, nggak ada pejitanya, nah itu, namanya nggak logis. - Jadi? - Ini logis-galo. - Ya, gimana? - Bok, saya nggak. Yang primeis ya harus konsisten, ya? - Oleh itu ya, konsisten. - Betul lagi, apalagi ini. Itu pure logis. Premis bisa dari mana pun, bisa dari keimanan, bisa dari fantasi, cerita. Dan aku jujur ya, aku sih nggak membedakan ya. Maksudnya, gue termasuk orang yang nggak membedakan, ini topik apa ya? Mau topik politik ya, topik hantu, ya. Topik agama, topik apa pun. Ya, gue akan pakai OS yang sama. Itu sih. Jadi, kalau misalnya di topiknya, ya? Semua topik itu yang sama. Iya, yang-bingnya. Setelah terkenalannya, bakal sama aja, mau informasi yang apa, jadi kalau gue nggak pernah membedakan, ini tuh, memang masih rana-nya yang apa, ini semua akan sama. Karena kalau misalnya gue perlalkan soat informasi yang istimewa, itu, gue nggak punya justifikasinya, kenapa itu informasi harus di istimewa, kan, yang bernigak informasi lain. Jadi, intinya kalau ditanya tadi balik awal logika dan iman, boleh nggak sih temen-makal logika di ke imanan? Ya, lagi-lagi, ya boleh aja gitu makal logika di iman. Cuman balik lagi, definisi iman kalau kita mempertanya, kan mau validasi, si iman itu gitu, kan. Ya berarti bukan iman lah, iman nggak bisa divalidasi, gitu kan. Tapi kan, ya, tapi kan, ya, kan, lo gikah rana ya. Kalau di cari muntik, kita mbri rika lagi. Tapi di dalam, di dalam keimanankan, gue nggak tau ya, gue nggak mempelajari agama seri dalam, tapi bisa jen. Itu makal aja. Tapi masih itu ya, bisa jadi ada sesuatu hal yang nggak logis sih, bukan nggak empiris, nggak logis. Kesimpulannya, beda jauh sama apa yang proses-sama sama lagi. Itu nggak konsisten, berarti proses. Berarti lo suggest dong orang pagi logika, ya, di dalam situ, ya. Masih jadi disini ya bisa ngeliat kan. Apakah prosesnya tubur atau nggak, kan. Dia bisa menggup, ya, mau validasi kalau ini nggak valid, ya udah. Iya, ya bisa mau falsifikasi. - Iya, ya. - Stand for me, kan. Iya, sama sih. - Pakai aja logika, ya. - Karena gini kalau stand gue, jelas bahwa kalau lo malas sih, jangan deh, karena gue udah pernah dorek kecil kerjaring gue gini. Memelogi kan proses proses yang ada di paket-paket. Walaupun ketang gue dengan proses proses itu dikit ya, gue nggak mempelajari agama. Ya, misalnya, ada gue banyak yang gue pelajarin tapi nggak menjalam. Tudah, enak sebuah jadi nggak tau proses prosesnya apa. Tapi biasanya paketan, ada satu paket yang dari sini. Paketannya proses prosesnya apa, satu-satuh, ada satu. Paket-paket perumis nih kalau gue sendiri nungguin buzer-nima udah total anjur gitu. - Tabak-tabakan, nggak? - Ya makanya instru itu, pakai aja biar ketabrak semakin. Contradi, terin, ya kan, inconsistent dan sebagainya. - Terut, ya itu banyak lain, kayak gitu. Jadi kalau lo nggak mau busing, ya udah nusah. Kalau lo mau cobain, soal cobain gitu ya. - Taksplore aja ya, itu. - Taksplore, ya. Oke, itu ada bagian satu. Berarti kalau memakai logikari itu jelas bisa banget. Buala yang nggak ya, jelas kita bebas, bukan. - Itu kan, itu kan? - Dan bukan cuma bisa dipakai tapi juga bisa logis gitu. - Bisa logis juga ya? - Iya. Bisa sangat, sangat bisa logis lah, ya. Nah, sekarang, alana kedua, "Syut kita di di naik ngetesifikasi di antara kemperikal?" Ini kan logic nih, yaan, di antara kemperikal di antara kemperikal, itu bukan berat apa ya? Ya, udah bukan cuma rana logis, ya. Tapi juga di antara kemperikal di antara kemperikal terhadap rana-rana keimanan. Gimana, Ngier? - Kayak misalnya contoh akhirnya menjadi anggur kita cari efidensi. - Itu benar-benar jadi, nggak? - Iya. Apa kaya, itu benar-benar jadi, apa kaya udah itu, iiman aja, atau iiman kalau itu benar-benar jadi. Ya, gimana mungkin itu jadi? - Balik lagi ya, definisi iman tadi percaya. Ya udah. Terima aja, iya percaya. Tapi kalau lo mau keluar dari definisi iman tadi dan lo pengen tau realitanya gimana ya, lo cari-aya itu pake Science buat nyari tau benar-nyari terjadi terus kredi-bel nggak sumbernya, itu. Ada, ya, banyak juga ya, orang beragama yang pengen cari tau, tapi dari sumber-sumber yang nggak kredi bal, itu juga susahnya kadang disitu. Kayak dari artikel mana, ini udah ada butingnya nih, pada belum tentu itu, emang buting yang bisa kita percayain, kita terima dan itu krelai bal. - Maksa layak sih gitu? - Iman ya, dulu gue pas sekolah belajar tentang atom, pengen ergi segala macam. Atom deh, misalnya kan. Gue tau adanya atom tuh gue beriman pada atom atau gue bisa mungkitkan atom gitu kan. Gue kan nggak bisa yang ngeliat atom gitu, sedangkan pembukti yang pembukti yang aja, sampai sekarang belum ada mikroskop yang bisa ngeliat - Gizekli bentuk atom freeze dia mungkin, elektronnya ini ada nih, liatannya. Maksa buram gitu. Nah, tapi dari pola-pola yang ada, dari sifat-sifat kimi nya dari setiap zatian ada, itu menunjukkan implikasi yang logis gitu terhadap. - Mereka berada-ada, nah. - Keberadaan atom, mau delat. - Model atom. - Tapi belum tentu begitu gitu, tapi begitu kita bikin model-model nya bikin percobaan-percobaan. - Itu infor ya, infor ya. - Bisa di el lebih sedi, infor bisa tau luas. - Dan model-model nya konsisten gitu. Nah, begitu kita nalarnya kita masuk kota kita nih, udah tinggung bukan iman lagi dong terhadap atom. - Iya gue secara empirikal dan secara logis itu udah udah valid bener. - Padaan kalau orang yang belum belajar atom terus, oke ada atom, oke hidrogen begini. Tapi dia gak tau sifat-sifatnya, korelasinya terhadap kimi nya lain-gimana. Berta itu bisa jadi masih imanin dalam bentuk-dia, dalam bentuk imanin yang mencana. - Berima beratom, ya. - Berima beratom gitu. - Ya, kayak ada yang bilang tuh ya, kita kan gak harus ngeliat biar kita percaya itu emang mutinyanya tak. Masak lu harus ngeliat virus korona, biar lu percaya korona gitu, kan. - Tapi pola-polanya ada di dan konsisten. Diti, disis, disis, ada pertama kan. - Bisa kita di di pesan pesan pesan, kepercayaan-sepanakan. - Or something else, I heard reporter whatever. - Dan itu adalah bahwa itu ke kedua. Kita mau mengedres dan dijangan disis, di luar science, di luar, di luar, di luar. - Juga sebenarnya membutuhkan iman, imanin, or is it different atau not? - Sebelum gue belajar analogi, gue beriman lu terdapat ngelogi gitu. - Oh, yang tergitu rumah sih begini, oh definisi-mini, oke. - Misalnya gue enting, saya ketika gue belajar awal, gue kan lu enak-enak. - Ya gue asyumain lu, gue asyum bahwa ini angka-pe bener-lu. - Gue asyum, itu kan. - Atau yang memang sebenarnya udah sebuat apa ya, misalnya ada yang memang kemisi, supaya kita ketika terlalu nasa, sebenarnya cara bergin, kan sih. - Dia salah dong. - Asyum bahwa itu bener, itu sama ga ya, sama percaya dulu deh. - Gue udah jadi mikir. - Karena melihat gue itu ada ini, ada mental kita yang berbeda. - Dan memang salah satu nih ya, nih agak kalau otediknya, tapi salah satu masalah gue ngajar science. - Jadi dia teriting, apa ya, ilmu science, kayak ilmu nih ada merana science. - Dengan cara dia beriman, jadi saya kanakan, saya kanakan itu, - Exak pete setru, udah fatal, udah ga bisa lagi nih. atau yang klik, modifet, atau yang mendifet sesuatu. Soalnya sering dari sekolah orang nanya tentang apa pun lah yang ditel, tentang entropi, apa yang terjadi, segala macem. Yudah kamu telah naja dulu. Nah ini yang terjadi di siswa ini, dia mengimani atau mengasum sikan dulu atau. ya itu kan jadi masalah kan gitu. Itu kan kamu mau komen dulu. Saya tidak tahu deh, saya terlalu banyak yang harus di komentar. Iya, mungkin. Ya, mulai. Get one angle. Yang nggak tahu, itu saja frame work disini aku sama aja. Masih lagi, gue gak ngebedain sih soat informasi itu. Maksud itu, domain science, domain nama gak bedul sih. Gue cuma ini domain empiris, itu mau itu nama science, kenapa nama hantu, kan? Santer, mau apa pun? Ya, selama dia rana empiris, ya udah frame work gue bakal sama aja. Bernopterufnya dia membuat klame net set, kalau misalnya dia menawarkan suatu profe yang gue belum bisa ngerti gue. Itu bukan bisa jadi, menekat nang, kan kan, ngeliat, gue tuh bukan domain nama empiris. Itu domain nama. Itu itu domain imang. Imang cok. Ya apa, dan itu definisional ya, itu domain nama tuh ga gimana. Ya bisa ini apa. abis itu misak, orang misak, apa sih salah satu campahnya dargu yang dengan. Orang misak, hidup 3 hari dalam powers gitu. Ya, terus kenapa itu bukan domain empiris? Ya, exactly, ini kan orang banyak yang beranggapan, bahwa ini domain imang nih, ya udah imangin aja gitu. Gak kalau gak ada indikatungin dirilasi, ya semua-sema juga mas, belum imangin. Kalau gitu, mau misalnya aku bilang, sekarang misap deh gue gory, kelehre nanti gak bakal mati nih, karena dia bakal berubahnya kambing. Nah terus itu juga domain imang juga gitu. Nah dia semua claim ini bisa apa-nah aja domain dirilasi. Nah, berarti kita harus mendifan kan di masalah. Ya kalau aku sih gak gak pake, ya aku domain aku udah empiris lagi. Selepas itu, mau nanti aku semua informasi masuk situ aja. Definisional, empiris udah tiap. Ya apa pun yang si Fatiria ada dirilasi tak? Nah, exactly. Kita tadi belum mendifan, itu benar-benar nyalas. Ya belum. Boleh. Ya udah jadi kalau selama dia berintraksinya menem-benar dirilasi tak. Ya itu natural lah, karena natural. Ya udah. Ya maksudnya dia pake rana empiris. Jadi kalau misalnya orang bilang, oh ada jin membunuh kuntilanak. Nah ini dua-duanya gak ada benda nancurannya ya, ya udah lah mungkin terserah lah itu domain apa lah ya. Maksud masuk ke nyan empiris. Tapi kalau misalnya ada kuntilanak, nyulik bayi orang. Yang itu satu nyalain benda nyan, itu baru rana empiris gitu. Pokoknya selama ada konser-nancurannya. Dia dalam realitas ini ya udah. Dia malah kumpul kalau mas gira-mari empiris gitu. - Mama ya cerah lah, Pak. Ya realitas tempat kita hidupnya. - Ya walaupun bisa debatin ya orang bilangnya kayak, oh nih janyi ini semangin industri-sini semangin ya terserah lah. Nih harusnya kalau lu mau benda gitu sih gue terserah. Tapi misalnya kita di dalam jangkauan dari observable universe tempat kita hidup ini. I think kita bisa melakukan perbanian-perbanian realibu liki dari sepatu claim. Ya antar satu dengan lainnya gitu. Dengar metode nya itu ya, bum di sana ya itu bum di anjianan empiris sih. Dan kalau misalnya ya tadi ya, again tadi kan sih, asal seperti itu anak atom segala macam. Jujur aja gue adalah orang yang sangat-sangat apa ya. Gue merakmatis. Yang mungkin scientific ya kayak gini. Gue ga oke dengan tahu yang tinggi gitu loh. Gue ga pernah, gue ga ngerasa gue beli in Newton atau whatever. Kalau gue ngerti, proof yang digasih, gue put it in the box of gue ngerti nih. That's it. Gue ga bilang claimnya valid. Dan semua claim lainnya yang gue terima, yang gue juga satu proofnya gue ngerasa ngakward atau belum solid, atau proofnya gue ngerti. Itu sama gue masih di dalam box gue ngerti nih. Ya gitu, atau gue belum tau ini. Dan sisanya yang gue udah tau, yang gue jadi yang suatu pramis dalam otak gue untuk membuat keputusan lain sebagainya adalah pramis-ramiis yang gue udah tau file dikasihnya. Makanya gue banyak banget, ga taunya gitu. Karena emang hal-hal yang proofnya gue ngerti, gue akan taro itu ke dalam gue ga tau. Nah, ya sesuatu gue sering banget nol gitu di gigafi atau di gigafi. Jadi gue perabung media ketika ngan beksi gue, untuk pramis, kenalan kab kare box ini dari ne pasau di. Poh ya, gue ga tau nih. Jadi buku misalnya ada penjelasan entangnya gitu. Tapi gue ngerti nih, gue ngerti kenapa proof ini bisa membuktikan ini. Gue ga bisa mengerti itu gitu. Gue ga bisa komprah yang tahan biaya yang ngga bisa ngajasnya atau gue. Yang yang ngga bisa ngerti. Ya udah gue ngerasa ya, gue ngerti aja ini. Dan ini ga bakal mungkin gue pake dalam decision making gue. Gue cuma make decision based on pram-sramiis yang udah reliable. Yang file dikasih udah jelas. Ya ga otak, tapi nih udah minta sekali itu. Dapikan ketika kamu ngambil simpulan, ada pramis-pramis yang kamu ga tau, kamu meter-sis itu gitu kan. Iya, ya. Ya, memang ada dam pak decision making yes. Ada dam pak aja las. Karena ya kalo semakin banyak yang lu ga tau, ya pasti ada dam pak ya dong. Maksudnya di mana lu ga cukup tenahnya tak parang belanya ketika lu ngejad sesuatu. Ya kan. Tapi gue bakal lebih mungkin, bakal lebih seminifikan lagi. Dan pake kalo lu justru kebayakan pramis, ya kan salah-salah semua gitu. Karena file di tasnya lu ga peduli gitu. Nah jadi, kalo gue lagi-legai konsertan di pertanyaan apakah. Apakah perlu melakukan scientific, kuala-kuala gue ga tau suka ada ngeislas scientific investigation. Mungkin lebih kayak, ya intinya apakah lu perlu ngejad sesuatu bener atau ga di realitas lain. Itu scientific gitu ya. Ya maksudnya labelnya kan mungkin. Dapik first, tu. Iya. Itu ya maksud scientific investigation itu. Cuma mungkin ngan orang kolebel scientific tuh gimana lah ya. Tapi ini ya lu ngejad sesuatu bener atau ga di realitas. Ya kalo gue ga rasa itu perlu buat semua informasi yang ada di duit M.P. Rist, dan gue ga kan bisa pecah orang yang ga ngalak gue gitu. Ada komen lu, gue yakin panjang nih ada segun. Ya, sakurnya. Terima kasih. Terima kasih. Lu ada komen lu. Lu tak gue puset yang meriklorin yang mana dulu gue lagi mikir. Berjani nih. Gue biasanya gitu dengerin. Gue yang jasur framework nih. Orang mas kreb. Jadi lu lah sih. Dulu jelas kan. Karena kita bikin yang lain jelas nih. Jadi. Iya, jadi dulu. Jadi gini ya. Kertika gue bilang scientific investigation two things. Sembernya lebih tepat yang kalo bilang banget enggak. Apa pun itu. Kita sebenernya let's forget ito. Let's forget is still the same. Tapi sebenernya kan kamu fokus pada klang. Iya. Kalo ini ada klang. Kita harus ingin. Ya, kalau kata kata kata kata kata kata. Ya, itu yang lebih tepat. Kata kata kata kata kata. Kata kata kata kata. Nah, klang-klaim ini. Klaim itu maksudnya apa statement lah ya. Setelah menentang rialitas. Atoya segini-sini. Itu bisa lu prioritasin. Kita bisa prioritasin ini penting buat gue enggak penting. Di MZL-1-1-1-1. The higher the score of the claim, itu memutukan investigasi yang jelas makin neurong. Kalau saya ada tiduhan, oh dia memgunuh ribu orang gitu. Ya, well, ini seserih saku seksiin. Betul itu, evidensnya harus juga segitu yang nggak bisa cukup sekudaran. Sekudaran kayak, oh dia kan waktu mereka mati ada dia disana. Ya, ini lalu. Ya, kalau ada segitu orang, soalnya semua. So dari situ, investigasi ini berarti lebih penting buat klang. Betul kita wajar kalau kita menentut evidens yang jauh lebih besar. Saya mencari lebih lengkap, lebih reliability sebagai sebagainya. Nah, dimana? Nah, problem yang sering gue temukan adalah ketika mereka mau tryin tu justify the belief, atau justify the claim, itu sloppy banget. Pengep apa ya? Perungusan statement itu sloppy gitu. Dan perungusan logikanya nalarnya, oh gini, karena ini, karena sekarang evidensnya suka macam satu penalaran yang bisa jadi sloppy, definisinya sloppy, ini kan, tapi itu yang yang dikator. Ini kan dikator sloppy, kemudian, karena ada evidensnya udah hirarkinya juga, oh, spidermannya nggak nyata, bufinya apa komik spiderman? Bila spiderman ada gitu kan? Iya, itu sih orang-indunya tau spiderman. Tahu, semua orang tau. Semua orang suka misalnya kayak gitu. Nah, ini kan, ya, well, claim-plame itu jelas ada hirarkinya, evidensnya, ya sebagainya. So, if we want to open do some investigation, tergantung claimnya, spending apa kayak itu, ya well, regressnya juga, the level of rigger-rigger itu, rigger-rigger itu rigid. Gini, ya. Gini, ya, solidnya lah. Solid dan lah, solid-git, dan dari logikanya, dari evidensnya, apakah evidensnya pun pada level lagi kita kaya evidensnya yang emang reliable lagi gitu. Ya. That's, I think that's one thing. Dan itu namanya satu, hirarki of claims, hirarki of evidensnya, dan yang berguna berguna. Jadi jangan, ya, kalau misalnya nanti, voodestatinisat besar, ya, wajar, kalau poming, per, apa. di minta untuk pemuktian ini gitu kan? Dan lagi lagi ya, Tanya? Karena sangat ligres. Kalau misalnya lu emang belum tahu, ya emang apa masalah sih? Berasa belum tau gitu. Kenapa sih lebih memilih untuk memakai claim-plame yang yang dajula sih? Saya bahasnya aja segera macam itu. Kenapa lu untuk menerima? Nah, masalahnya ga bisa dikontro. Ya, dia pernah saran masalah, kan? Ini bukan pernah saran. Ini juga di exceptanya claim, bukan pernah saran. Iya, dia pernah saran. Dia beri apa yang pasti nih? Ya, jauh yang pasti nih ya. Itu yang dia tau, ini dulu. Dan dia belum dia tau,nya sebelum. Dia tau bahwa logic, review, sobsob, segal-sego macam satirifroze ya. Udah kebutahu. Kalau aku di material logic atau kerak-kerak aja nih ya, ini orang, ngeljah insok alas, dan kodok terbang sama hujan bahasa aja belum selesai, kan? Mau ngomongin artikore tuh, urnal yang 20 halaman gitu loh. Maksudnya, dua kaling mat dulu udah gitu kan ya. Ibaratnya. Nah, dalam investi kasih video sekarang juga gue juga ngerasa gitu. Lalu saya gini loh, kalau gue, gue aja belum ngerti struktur, kenyataan sarapan ga sih. Itu gue mau so-soan mau di bang gitu. Misalnya model atau misalnya gitu. Maksudnya gimana ya kan, simple thing to judge ya sih, balon sih, men serius nih. Gue untuk kerti model nih ya, belum. Ayo mau mau investi gitu, soal itu yang lebih gila lah, gira-pada itu gitu jauh. Kan, begini ya, gue sih, I think for that kind of things, gue bilang ngerasa, ya gue wajar ya, kalau gue belum ngerti yang level 200 gitu kan ya. Udah gue habis-bis-bis-bis-bis-bis-is-it kan, gue bilang level 2, level 2, gue bilang, "Saya gitu lah, kira-kira." Kaya gitu gimana ya? Masih sih kalau kaya gitu nggak ngerasa ini ya, orang nggak kerasa kayak, "Kaya gue salah nih, like, linggu salah nih gitu, ga ya. Kenapa orang bisa jadi nggak tau apa yang dia nggak tau?" Ya, jadi orang, "Ya, memang orang bisa jadi nggak tau apa yang nggak tau." Cuman kan, kita bisa ngeliat dong dari, kita bisa bisa, bisa dilias dong, misalnya itu dia nggak bisa tau bahwa, dia nggak tau itu, dia nggak tau bahwa dia nggak cukup, misalnya gitu kan. Itu, that's the source of the Lord of God, that's the source of the Lord of God, itu juga sih. Cuman mungkin nangal lebih penting lagi yang lain, yang mungkin juga, mungkin juga nggak ada concern yang terlalu gede, kalau ya apa-apa yang suatu klik itu bener-bener atau nggak juga. Kuala yang penting gitu. Masih. Tak meta lu lagi nggak tau untuk, yang aku ratin gimana gitu. Oh gitu ya. Oh, ya, falsen penting gitu. Coba, "Falsen penting gitu, kan, apa, dari kecil." Nggak kalau ya, ya, ya, ya, ya, ya, itu pengalaman kongajer maudah banyak, sangat concern sesuatu bener. Cuman dia nggak tau metodologi untuk yang jadi bener-bener tinggi mana gitu. Ya, ya, ya. Ya berarti bagus lah, kalau misalnya ada akhari itu ya. Ya, jujur, pas sekolah gue mengik, apa, semua tentang atau malu itu, gue telah naik lu, gue percaya dulu. Tapi setelah gue tau seturuh penalaran, tau sendifik method gitu ya. Ya gue ngetek itu diotak gue sendiri aja, gue pikirin itu. Kuala lasinya apa, terus lu kan, connectnya apa, terus implikasinya apa gitu. Ini menyebapkan apa, belah-belah kalau salahnya kasih gimana. Dan makin long the way, gue mikirin yang dulunya gue percaya, pada airnya gue bisa masuk satu-satunya frameworknya, oke, ini logis. Oke, ini siara yang berikutnya gue bisa kesepe di-stifib. Ya, ya. Ya, ya. Ada satu hal yang sih, yang ada tadi agak misikit belum di-clarif-fi. Jadi gini nih, tadi kita ngomong salah realitas. Ya kan. Kenapa realitas ini? Ini kita ngomong sebenarnya natural world gitu ya. Nah kadang orang tuh suka kejampurnya ada super natural world. Nah tadi kan ada handle ada segal-mengcam. Ya. Nah, claim-claim yang kayak soal hantu, gaya apa segal-mengcam, belah-belah dada ini. Ini, kalau kita mau mitah saya di fikir- fikir, ini pas su sushah banget. Kalau di yang ga berimpirasi di dalam natural world, ya dan yang bikin claim sendiri, jadi kita berhenti gitu gitu loh. Zahaya bisa ngani gue cari di mana jam rapa gitu. Hati jauh bane, oh gak bisa lah, dia kan hanya muncul kalau dia mau, kelajuan, kelajuan, gimana cara gue makan investigasinya hantu? Ya, sebelum sampai itu kalau dia muncul. Ya kalau dia muncul. Ya kalau dia muncul. Udah ada di natural world. Itu gampang udah muncul kan? Ada bati. Ya, ini munculnya kan di natural world lagi ya. Nah, jadi, ya, ini adalah satu hal yang lebih berapura. Kalau science kita muncul world, itu kita bisa insans deh. Tapaknya glombang lah, fom, gak harus nampak di sinar apa di perspek. Manjiku hibernu. Manjiku hibernu. Seperturnya lebih dari umu warnanya gitu. Iya, gitu. Iya, itu tetap science bisa lihat. Kita bisa lihat dalam perfutup. Atau bisa di detek sih, adanya glombang gini dan sebagai glombang gitu. Atau adanya NRD apa-suga macam itu bisa banget gitu. The problem is the lagian setiapnya ga. Nah, Aireo itu memang di luar rana, macurah lo banyak yang bilangnya. Nah, my problem di situ di bagian soal kegaiban ini bisa ga kita aneh-sega macam. Ya, kalau emang, oke, let's assume that's true. Iya. Dan kemudian, ya, udah, selama dia ga bisa berintrak sama the natural world. Ya, udah lo, ya, klaim itu nonsense gitu, meseh. Ya, mau dipercaya menggap aja irrelevan. Gitu. The problem is banyak yang percayanya bahwa mereka bisa intrak with the natural world. Ya, itu kan yang kalau ga intrak yang terkaya itu bilang kan misalnya, jadi nah kalau di dalam, berantahnya ga ada urusanan, kita kari, ya udah. Ya, itu di dalam, mau ada klaim apa ya? Ya, mereka, oh, terkaya itu sujin, ini namanya si A. Berang akan lebih, ya, tepai sama-sama jenjuk. Or, terkaya mereka, apa yang mereka berti kan ya, abaya cek, ya, nah, ada srebu. Ya, ya, ya, ya, ya. Nah, selama mereka ga duin kelasin dengan natural world. Ya, itu iralopun, ya, ya, ya, ya, ya, ya. Walaupun, walaupun sebenarnya ini misalkan, tau tau, ya, mak, ada di dimensi lain, apa lagi, di dimensi ke sebelahnya itu. Ya, ya, ya, ya, ya. Tapi, ya, ya, ya, ya. Tapi, selama itu ga ada pengarunya sama kita, selama kita ga mengeluarkan mereka juga, ga ada interaction, ga ada, ya, ga ada korelasinya lagi. Ya, ya. Ya, ya. Ya, ya. Ya, ya. Kosoleh ini buat emang, misalkan ada, ada scientist, mau ngecek nih, keberadaan jen, segala macem, gila o persenitikose, gede banget gitu, buat ngedeteksi frequency yang juta-juta harus gitu, ga bisa. Ya, ya, ya, ya, ya. Bara kita masih banyak masalah-masalah naik serongin, beraksi-machir, beraksi-machir, beraksi-machir. Berapa kan, mereka ga ada, mereka juga gimana mau opsa-paknya, ya, ya. Itu kayak di luar dari opsa-paknya. Dan, iber-perstasi. Iya, iber-perstasi. Dan, iber-perstasi. Dan, iber-perstasi. Dan, iber-perstasi. Dan, iber-perstasi. Dan, iber-perstasi. - Ya, mereka bisa mengintrak. - Menekaynya. Menekam menjadi natural. - Udah, itu obser-mobul jadi yang gitu. - Iya. Masuk beneran perangka MPRS kita gitu. - Iya. - Masuk, kita obser-mobul di-opser-mobul yang USB masuk. Ya udah, saya kalau gue percaya ini, gue pas pagi monster atau infisibel ping unicorn. - Ini dia miara nih. - Iya, gue miara nih. - Ini sembla, iya. - Ini disiba. - Dia dalam dimensi yang lain sih. - Iya. - Nah, terus menyen, iya udah selama itu dia oke, dia main sama mereka ya udah. Tapi kalau saya, iya, saya gue percaya gitu bahwa nasi infisibel ping unicorn ini. - Saya ada di tempat apa kepolisinya ya? - Pak, saya sangat bunuh. Unicorn saya. - Ya juga, saya rukuh kan? - Ini gitu, ini. - Atau bisa jadi gue ngubuh orang. - Iya. - Bukan saya. - Bukan saya yang bunuh. - Ini yang bunuh. - Ini yang bunuh. - Usin juga. - Iya. - Hakimnya, butihnya, ya berdamp. - Yang, yang, yang, yang, yang, menariknya, ya, dan jelas ini yang ni poin ini ya. Orang, orang, kalau di urusan dia, enak tu dia, mau memang macam-macam ini ya, Unicorns gala macam ini. Tapi gilden, mau gue bikin itu jadi buku, makanya mau gak? Pas sih pada teman-teman, - harap semua apa sih? - Coba kalau gue jadi itu dalam sistem peradilan. Jadi sistem peradilan, agonologi, Unicorn, apa sih gala macam. Pas sih ribut semua, seluruh satu negara ini. Atau kan aneh, lu udah ngapak. - Bro, penyauhan, jangan, gue sampai-apapin. - Ini berikutnya. Indinya, lakuknya ketika, ketika si dunia yang kita assume ada tadi. Super natural, kadih. Itu masuk perana kita jadi becoming officer. Iya, dia pecah itu, itu bebas. Selama dia gak punya impact. Tapi ketika dia itu berfikir-bawa itu, adapnya impact terlalu natural, buat naik ini, subject to scientific investigation sih sebenarnya. - Iya. - Tapi ada pakai sekarang gitu. Tapi gue masih agar abah gue dibatas antara natural dan super natural. - Ya, natural? - Natural, habis apa-apa. - Osterural bukan cuma maksaya keliatan, tapinya, - well, design, scientific, instrument, - instrument, - dan biasa. - Embi recall instruments lah, in this clip. - Berarti outside universe, super natural, loh. - Iya, that's just assumed, so. - Iya. - Yang gak bisa. - Saka pusura fable, you need to know. - Yang gak tau gitu, musuhnya. - Iya, pokoknya luar teribatas. - Belum bisa kita, - Osterural, - Ditek apa gak bisa kita ditek. - Belum. - Gak bisa. - Kalau belum terbualisan teknologi, kan? - Mhm. Ini gak bisa nih, emang. Ada batas nutembus. - Oh gitu. - Jadi kita ngomongnya sesuatu. - Yang sekarang gak bisa, kan? - Yang saat ini, - saat ini, - saat ini. - Ya saat ini. Kita pakai definisi terlihat set. Side ini gak terbitek sama sekali gitu kan. Tapi, dia assume itu ada gitu. Nah, tapi, kalau selama itu memang konsistently. Nggak ada impactnya sama sekali, kedalam kisi kau di pulau kita, itu ada lafan. Tapi kalau mereka masih cek, punya impact, nanya ini subjectin investigation, yang saya, saya-sadih-sadih-sadih, bisa nih. Itu berarti absorbable dong, impactin bisa absorbable gitu. Sepeng nggak ada tim betul-tibak ujuku, bisa gini oh ada sihan tuh gitu gitu. Minggu nih gitu, siunikuor naak, melakuan ini ya, kan? Ya kayak tim betul-tibak diperut ada pakku gitu gitu gimana sih? Itu kan sudah berinteraksi sama. Iya itu berarti dia udah menjadi natural kan? Tapi kan membiasa nggak nggak mau investigate ini, waih? Nah sebelum hidus itu nih, masker. Tapi ini air yang ke luar dari mata patung apa gitu. Nah itu dia sekarang. Nah air keluar itu nggak boleh investigate, pun. Tapi tadi gue agak belum trink-tink. Jadi bisa gue sering baca-baca lah tentang black hole dar energy gitu gitu ya. Nah itu kan puluh kuluh antonalu belum bisa ke-op serve gitu, belum ada alatnya Hubble sih kalau nggak cuman. Pada saat itu itu berarti super natural, terus sekarang jadi natural, karena udah bisa ke-op serve. Nah oke, varied super thing, karena sebenernya gini. Kan apa ya? Ini curangnya agak curang dikit sih emang. Jadi saat itu dikit sih, saat itu dikit sih, saat itu dikit sih. Jadi saat itu dikit sih, saat itu dikit sih. Tapi itu kan bisa dikit sih. Tapi kita tahu mas caram model ini pasti itu ada gitu kan. Matematik lead use loh itu pasti ada gitu. Kerala tipitas, kejadiannya nggak ada, ini kita nggak tau nih. Benda yang suka. Tapi itu akhirnya terbutih ya kalau ada. Tapi masih nggak ambang cepatnya. Jaya, tapi mendekati itu keriatannya. Masanya dimensinya, ya atau memang cepatnya relativ, ya tetap mau nangpil lupang. Ada di dibekupsi kamu di rent lah di kampus. Kalau nggak tau, nggak tahu nggak. Mata kerita kalau nggak biar si kondoran. Ada video yang kayak gitu kan. Tapi kita yang kecepatan di kata di cahaya keriatan apa sih nih. Masa lagah-lagah yang ahgul. Pak namanya saya yang perega. Peradangan itu. Apakah ada karak-karak di depan? Coba namanya. Ada namanya itu kan. Loren, sementara silo-ren. Nah jadi sesuai dengan model konserasi lo, orangnya lagi. Romings ya. Ini masuk dalam box nggak tau atau yang nggak tau nih. Natin. Satu bilang. Akhirnya. Akhirnya akan satu minifek wadat percaya kawadat. Nah itu, ingat gue. Itu konserasi lo, orangnya. Any way, nah jadi ya udah bagian setinya, clear, clear ngasih. Clear nih. Iya, gue tuh sih mesin soal natural, nanggir, segal macam udah super ya. Tapi mungkin ya ini, ini berikutnya yang next step. Jadi simpelannya lah, kalau dibagian tanah ini. Karena emperi kal ini. Entadil lo gis udah jelas bisa nge-lanah. Ini, karena emperi kal, siang-siang, pilih transifikasi. Klaim ini. Shoot we do. Eh, kita coba. Apa so far nih simpelannya? Do scientific investigation for all the claims. Clams itu. Rana-rana apa pun itu? Shoot we do that. Or else, ya cukup yang gini lo, atau shoot we, misang ga boleh ga? Kalau aku lagi lebih ke arah di sini sih, kalau misalnya kita mau misah impun. Namc just not sure, bahwa kita kompeten untuk membuat tuh secara aku lah gitu. Pemisahan nih. Jangan-jangan justru, kita kayak lebih sehingga bahkan ketipu gitu. Ini sebenernya rana-rana, tapi gede-gede tau udah mau membatasi aku ini berwarna natural nih. Akhirnya kita ketipu, jualtanya, ikutin dimaskan yang gitu. Dia akan biar nih, "Keh, ikut ikut sama saya, saya bisa ganda yang duit." Nah kan, ga ga ga ga otak aku misalnya udah misalnya nih, "Oh ini nih gue nana natural, gue nana natural." Udah ga perlu lagi, keleminya benar atau ga? Akhirnya aku ketipu, 2 milih hari. Nah kan, kegini kan, jadi dia merubikan ya. Nah, jadi kalau gue mau nanti dari management risk ko eh, gue ga mau nanti risk ko gini ya. Yang gue ga mau pemerintah misalnya. Karena justru dengan ada yang sendanda di depannya gue mau misalnya nih itu, omat dan seguas nih nih belum nantuk, bisa mau kaper itu nga benar gitu. Akhirnya yang safenya, lu juju, kayak gue kaper semua yang dalam natural. Itu dia, itu gue juga gitu, gue ga tau kalo super natural tuh terdekinisin gitu. Iya, ya kan? Iya kan? Iya yang ada yang natural natural aja gitu. Iya, gitu kan. Minkbangnya gue natural aja. Iya, gitu kan. Mereme, what's your stance? Tapi ada setelah gitu tanya. Ada ga hal yang dulunya super natural nih kategorisnya, eh terus kebutik. Uih, gila nih jadi natural dulu. Gak definisi super natural. Iya, jadi. Ya gue mau makin bahasnya terdekin untuk orang itu. Iya, ya gue sih gini, ya well, ya evi claim, evi claim tentang apa pun. Ya, ada itu ada di dalam off-sub-robial universe. Kayak, kita kena off-sub-dite nih. Evidence, gini. Gak gue gini, itu. Exept go, jadi ya, exepted gitu ya. Or kalo misalnya whatever claim yang kita gini, ya, iral fun bagi gue. Iya, karena kan, ya itu dia gue bilang infisible pingin core gue, ada spagetin monster nih. Spagetin monster nih. Spagetin monster gue monster, blah-blah. And banyak lagi gitu, ribuan gitu, mitah submitasi yang ada luar sana. Iya, nah. Mini bahwa berasupan hatur. Oh, binang-binang itu punya. Ada ketika kita lahir ini, ada internet nih yang luar-luar-luar-luar-luar-luar. Terus gue, ya, ya, ya, ya. It's like all these things, ya. Bagi gue, ujumnya gitu, urutin. Sebenernya kok penting claim itu buat. Tadi nolong beswatu. Ujurnatus urutin, ya kan? Iya. Matematik kemodelnya, ya kan. Gue, pedig-plakmatik person yang di dalam hari ini. Iya itu. Urutin, sebenernya kok penting, yang penting-penting. Check. Dan dia dulu benar juga kan, ini dari apa, dalam rana ini kan? Iya gue cukup dalamin lah yang mau rana fisikan yang segala macam. Dan kemudian, buk-kalo rana itu bukan rana yang gue kuasain pun. Kan ada apa ya? Ada level off kredibilitilah buat yang ngomong tuh gimana gitu? Sanjit kejurnal, misalnya levelnya, misalnya bukti, seberapa, tekst bukt, levelnya segala. Perti reviewnya, pislah kusan, blah-blah-blah. Kuala pun gue ga master di bidang itu. Tapi at least gue tau deh. Ini cukup di level 8 ga sih gitu. Semua informasi ini bisa di level 8 ga sih. Ya kan kalau untuk kayak untuk kebutuhan hidup orang biasa rakyat jelatak kayak gue gitu ya kayak. Ya julaya gue selama ini nih, menjalannya hidup gue yang gue kebutuhan segala macam ya. Belum ada sih ke Perluan yang belum berhors banget, bukan jurnal lagi mana gitu. Karena udah bayak banget, semerer terseger gitu ya, yang masuknya. Dia juga udah menyerapi semacam intisari atau simpulannya ini. Gue udah bisa ngejaj based on logical structurenya sama matematiknya modeling, udah itu sih. Kau gitu. Lalu komennya meresonin nih. Kalo gue punya komen banget. Orang penduli. Lagia dia itu jadi nih ya, jadi gini. Misalnya nih ya, dia percaya nih. Tuhan tuh gini-gini-gini-gini-gini. Sekal macam belum, aku encik-konskonsknya ini, dulu, dulu, dulu. Nah, dari situ dia berdampak ada oprocil di kosting. Kalo dia percaya, dia semakin abih cdfg sampai z. Ya. Nah ini oprocilnya kwasit-ing gini. Dia bisa menakon hal yang lain. Iya, itu kan. Untuk mau. Iya, jisru itu ada sepapun maka orang penduli gitu. Nggak tinggal. Jadi ya, jadi. Ya siapa sulah. Ya, yang bilang itu udah gini ya, tersebut apa yang gue rugari ini. Tapi ini adalah real case. Real case. Real case, karena ketika dia ngambil paket A gitu kan. Si paket A ini ada seribu prems. Nah, kalo prems ini itu harus dia, misalnya di prems ini, dia ga cek bener atau salahnya atau real case. Terus mau dia ada konsek kedu pani harus pria apa. Menterikan apakah dia menjadi begitu, bukannya pakai harus kaya gini-gini mana? Apa yang gue harus ngapain? Dan sebagai sebagainya apa yang boleh apa yang gak boleh buat-bual. Itu menjadi banyak. Dan ini bisa jadi bagi mereka. Kau percaya di kost. Buat sebagainya semua. Tapi untuk, ya, kalau gue mau buang gitu udah, yang gue masih takut. Maksud takut, karena udah hukumannya nih di panah lain nih. Semuanya. Itu apa yang terjadi di pembakannya? Jadi, ya, singga. Ya udah ngeran nih gimana? Ay, begini peduli lah. Oh, sorry ini, sorry ini, sorry ini, sorry ini juga macam belak-belak gitu. Ya, gini sih. Ya, bisa kayaknya gue masih dengan stand-stand, yang berita di bagi kita bahas. Iya, tapi gue dulu karena keluarga gue cukup sekolah di. Pertechnikan gitu ya, perseayan gitu. Jadi gue mau mandang sesuatu itu, kadang-kadang di jisin yang gue pakai itu, benar-benar serkan. Residen yang, Residen yang di side-deficing gue udah tau, gitu secara natural dari kecil gue udah jen begini begini. Maksudnya, kalau nyalanin asya, begini kalau misalkan kebandung. Ya, natural itu tumbuh jadi sistem satu gue, karena orang tua gue udah nelati santifik resum ding dari kecil gitu. Nah, nah ini sebenarnya, yang jadi masalah gue tuh mikirin kayak gini. Ada gue belajar fisika. Dia makin mempertanyakan, kan? Makin mempertanyakan, kan sambil makinnya, karena apa gila, ini ga mungkin kalau belak-belak-belak. Nah itu yang jadi masalah-salah ini mana gitu? Yang yang selama ini gue lagi pikirin tapi mostnya ini belum jadi sesuatu yang dia pegang, jadi sotoidialism, jadi mostnya gitu. Jadi stens, oke yang tadi lebih lang dia melaksa ingga kalau dia percaya dia melakukan sampai sehat belum sampai dia decision-sama-sama. Cuma nih yang gue lihat adalah semakin mempelajari itu semua, ya gitu kalau ada yang harahin dia makin terjurumus ke dalam pikir-nya sendiri gitu kan makin mikir. Bo, ini gak mungkin kalau gini-gini gitu. Nah jadi tadi gue masih bingung nih dengan konsep gimana caranya orang belajar sesuatu itu tadi jangan mengimanin lagi. Jangan mengimanin, atau mengimanin, pertanyaan yang lagi gimana? Ya sebenernya kita mulai pertanyaan ini dulu kan. Yang yang kita mulai, gue ada yang ini yang mempelajari, kita harus mempelajari logikal dan investiasi yang lain. Kita harus mempelajari logikal dan mempelajari logikal dan mempelajari logikal. Kalau ada konsep yang yang kan, kalau gue eksep, ada paket-paket nih, beli nya sepaket nih, ada seribu hal yang mereka harus lakuin atau ga boleh lakuin dan bela-bela. Kalau gue buat di antifik investigation, terlihatnya oke, oh ya udah buang aja gitu, terlihatnya terlihatnya iralavan atau emang gak berlandas, plannya. Seribu paket nih, misi gue buang, ya bisa gue buang, jadi kita duduk itu, kalau ga bisa atau ga, kalau kamu jelas kan, kita harus mempelajari logikal. Ya kita harus mempelajari logikal. Ya bebas terserah orang, mau ambil paket tapi ga tau da serda-sernya, karena ketakutan tadi atas apa? Dunia yang alama lain yang sekarang sebenarnya iralavan, karena kita juga ga bisa usah, serah lah aja. Soalnya kalau gue stens gue jelas, itu dua itu tolak belakang banget. Dan itu udah diiamin lagi, beli talah pasti hasil lagi gitu. Tapi Indonesia masalah begitu udah, ya tadi gue bilang orang belajar pakai emang dulu gitu, jadi masalah. Karena masalahnya mungkin karena manusia ini kan, kayak mereka ngerasa, kita tuh manusia gak tau apa-apa gitu. Ada sesuatu yang jauh lu bisa dari kita, yang kita gak tau, jadi, ya walaupun ini sekarang kita belum bisa usah, mungkin ratusan juta tahun kemudian atau kapan itu bisa ada usah. Jadi ya udah, si ketakutan itu masih ada akhirnya ya udah gue terima aja, ini ada gitu, sialam yang belum terjang kau sekarang. Nah, itu sangat bagus untuk mencari kemudian kemudian. Karena ketadikannya kita usahnya di dunia kita pribadi masing-masing. Nah itu di dunia pribadi orang emang-emang masing, bisa jadi dia gak tau masalah tuh kalau dia nyungstuk atau apa itu resa dia, kan? Kalau aku sih ga harus konsisten sih. Iya, tapi itu resa dia, itu hat. Ya, itu hat. Ini dia ada di alam natural ini. Apa pun yang dia langsung, dia napas aja dan panggilnya natural ini, kan? Itu kenapa, itu kenapa, itu bagus untuk introduksinya. Itu kemudian kita berkentari. Nah, sebelum masuk ke TV, di dalam pragmatik awal, pragmatik awal untuk semua ini, itu masih masing-masing. Ya, tadi kan ada stif. Ada klame-klame-klame-klame yang kemudian dia bisa jadi klame itu dimanin dulu. Di dimanin dulu. Kenapa, karena ada konsekuan siang harus dilakukan yang biar lakuin dan ada ukuman ini. Tapi bukan di sekarang, atau di sekarang. Apa yang kamu stansu di ini? Pragmatik ke stans ini, ini sejasian untuk orang, untuk adus, sejasian-sejasian, untuk adus. Atau lonya gimana? Terseja sinfor people gimana? Kaya belum lah, saya dah. Dulu aja. Nah, jadi ini adalah hal yang udah, kayak 11 tahun jadi masalah gue gitu. Karena ya, tadi, di sisi yang gue akan stitik apapun gitu kan. Gunanya apa? Epeknya apa gitu? Nah, balik lagi tadi, sesuatu yang kita imanin, ada efeknya gak kalau kita imanin itu. Terus ada kruginnya gak kalau kita tidak imanin itu. Besarkan kita tadi, gue belajar fisik itu. Gue imanin itu dulu. Sehingga pas gue imanin, munculkan pertayanan-perlayan pada saat gue menjalani itu, menjalani ilmu itu, etc. Nah, pada saat gue udah petrisennya, "Oke, maksens, oke, maksens, oke." Ahernya yang tadinya gue imanin, gue jadi, "Oke, ini benar juga nih." Teriyata secara pemukti, secara gue udah pikir-pikir lagi siar nalarnya udah benar semua. Nah, pada akhirnya, besisnya yang gue buat, kalau berdasarkan yang tadinya gue imanin itu. Nah, setelah itu kan nalarnya udah kebentuk di kepala gue, sehingga gue mengambil besisnya dari itu. Nah, merupanya gue udah sah, karena apa? Gue gak cuma mengimanin-manin doang, udah ketemu nih, risoninya apa gitu? Sedangkan claims, claims, claims, claims you, justify it, justify it. Sedantan hal-hal yang gue banyak tau, hal-hal yang udah nih di imanin aja dulu, nanti tau-tau lu gak mengimanin-manin-manin-manin-manin-manin, terus lu rugi gitu, misalkan. Itu gimana gitu, karena lu gak tau fungtiannya yang misalkan. Oke, misalkan lu urusan seru-gar dan raka deh, kita langsung eksitu. Nah, sebenarnya itu juga masih jadi pikiran gue yang, "Ai jir, kalau ada gimana ya?" Itu masih jadi pikiran menghantui gue gitu. Nah, tapi makin cinema-nya ini gue liat, gue cari pola-nya gitu. Ada gak sih pengaruhnya misalkan doang. Gue berdua segala macam ada gak sih pengaruhnya terhadap aktualnya nanti gitu pada saat yang gue doain, misalkan. Gue pengen adom gitu, nanti atir jadi gak sih gitu. Nah itu gue pelajari, tau-tau-tau terjadi lagi-terjadi lagi dari mana sih datengnya. Gue berarti dua tuh bener gitu. Nah itu kan bisa jadi masalah ya setuhal yang kita di atom gitu. Atom kita gak bisa liat, dua aja kita gak bisa liat. Tapi atom polanya ada, misalkan dua polanya ada. Nah itu itu kan jadi teori sendiri ke pola gue, "Oh doa tuh valid gitu." Nah, tapi itu juga jadi gue jadi mikir lagi, "Oh kalau doakan gue gak sama psikologis gue ya, gue jadi ketringger buat melakukan itu." Nah itu kalau gue gak tau karolak-karol orang-orang yang menganggap dua itu sebagai, "Oh doa gue berdua aja, nanti ada rejikinya gitu misalkan." Itu gue gak tau kalau gitu gimana gitu. Tapi kalau gue, gue hoopsesuatu gue berharap suatu gitu. Gue pengen masuk kita ibe. Tapi gue tau langkah-langkah konkretnya buat masuk sana. Nah sih gak, mengenai gue sih dengan gue-ngen gue sama mikirin dua, tapi gue melakukan langkah konkretnya. Iya sama aja gitu sama, sama melakukan dua itu. Belok-belok langkah, hoopsnya gak tau apa yang penyituh. Peminggal yang ngomong. Makan itu itu adalah apa badai dalam otak gue deh dulu gitu. Tambah sekarang. Untungnya sekarang. Untungnya sekarang. Apa itu ini jawabannya? Untungnya sekarang udah lebih terang. Untungnya paling gue sekarang, atau gue sih buk sekarang ini gak? Nah, gue sih berdua lagi. Nah disat gue. Bukan berarti salah satu tiks lah. Bukin, nota tuh. Bukin, nota tuh. Kalau lu berstanya. Kalo lu berstanya. Cari aja yang lain bahan-bahan lain. Kalau lu gak sih buk mikir, jadi aneh nih. Kalau gue, gue tuh kan ngatar belakangnya dari keluarga yang sangat kristiannya. Paman gue peneta jadi emang dari. Iya, paman gue peneta gb. Jadi satu keluarga gue itu keluarga besar dari bokap. Kristian banget. Tapi dari bokap gue, Saluh ngejarin lu, di dalam beriman, butuh ikmat gitu. Waktu itu ada pendeta yang kota bahwa waktu awal-awal koronak itu dia bilang. Kalian biangan takut sama koronak. Tenaga aja kita semua orang beriman, koronak itu punya mata. Dia tidak bisa meniat orang yang beriman gitu. Nyokap gue tuh, ihan nih setuju- setuju kayak gitu kan. Iya kita orang percaya pasti gak bakal diserang virus koronak bokap gue. Mw dimana-mana rakan ya nyokap gue. Kalau itu dalam beragama harus punya ikmat. Lihat aja ternyata binggu depan, gereja di tutup. Geregah koronak gitu kan. Jadi kalau menurut gue, Iya, mesti gue apa ya? Gue tau-tah gue tau-tah gue dusak. Mau udah satu-tah gue tau ya. Gue ngeliat ya, dalam beragama itu sebenarnya tujuannya ya. Gimana caranya kita sebaik manusia itu dalam berkehidupan sariri hari? Bisa apa ya? Bisa baik lagi tuh. Gak ngerugiin orang lain dan gak ngerugiin diri sendiri juga. Way of life lah, agama tentang way of life. Jadi gue gak terlalu yang gimana-gimana kesurga dan raka yang penting gue di kehidupan gue sariri hari. Gue gak nyusain orang lain dan gue bisa apa ya? Bisa apa-bener lah apa yang gue lakukan disusih. Girdulan kamu coba? What your take? Ini kan kamu enak nih yang di Indonesia, jarang- jarang orang hidup dengan later belakang gue agama. Kuran dia islam dalam katholiknya dalam bokapnya, tapi dia udah dulunya, dalam gue ngomong-ngomali sebagai gitu, suka gak tau apa yang ini. - Iya, kok dia. - Kalo gue yang malu ya? - Gak, selalu bilang, gue selalu bilang, ini orang dua, saat udah mau esai, ini dia bukan terakhir, dia mengenalai, dia isi otaknya gak ada. - Gak pernah gelapnya. - Gak pernah. - Iya, gila. - Gak ada permisi nya. - Bukan posi. - Kalau udah terkenal ini mereka, sampe yang kenal nih kayak gini. - Kenal, kan? - Kenal. - Keduk, kan? - Ini baik-baik gue, gue jasin, ini background-nya esai, itu keluarga nya tuh yang terima, yang ternekovs, tapi gue udah fisi kari-ari udah banyak-banyak-banyak-banyak, agak mirip sama gue yang dari kecil, memang oh, lot of discussion, gue madegou, misnu gitu kan. Itu ditanyain semua hal tuh kenapa- kenapa- kenapa, dikasih lab, seperti yang bens sendiri, dia segala macam scientific blah-blah yang fisi kan masih biologi, fisi kan segala macam, gue tuh nyobens nih, nih luar, kimi nya, mula, mula, mula, macam udah udah gak lama nya, itu semua nya, speda motor, wah, udah kenyang, jadi bagi gue tuh, science tuh bukan apa-apa yang ada terus di buku, gitu, gue bakal kadang-kadang suka gak tau apa yang gue terus buku, - Iya, sama buat. - Exactly kan, jadi fisi, fisi kata, serihan gue, nih, nyata nih gue, nih, meladak, tapi segala macam itu, gak tau gitu kan, tapi ya, tapi, pas sebaja buku, wah, jingin nih gue pelangkat, - Ah, gue, gue, gitu gue, tamiya tuh smp gitu, ke hatulas 2 smp, ke atik di lapan, gitu, mantamiya, gue belum lah, jar teorinya tapi elektromagnetic, gitu kan, motor gitu, gak apa, giling, di nama, gitu kan. Batre di wala gini mundur gitu, - Ah, gitu ya, gini, gini, gini, gini, - Iya, maksudnya. - Jadi, - Amang gue, ya, - Nah, jadi, - Jadi, ya, ini gue, nih gue baground, ya, gue sama smirip di baground gini, gitu, jadi, berhubut-berhubut, apa, ketika kita bertami ya gitu kan, "Lu, pareng ga, ngasain apa, ukuran, kayak misa, benau nih, gimana cara, bisa, oh, oh, oh, pas sebelum kita tau asam dengan FRM kayak gitu. - Jadi, - Jadi, - Pasti banget juga, - Pasti banget, apa, segala mesti, kita pelajarin, langsung di praktek gitu kan, - Coba di praktek itu, dan memudian rumus-rumus itu, kita pelajar, - Dakananin, tapi gitu, udah tau, - Karena udah pernah percobaan itu semua gitu, gak, gini. - Ingluting kalau gue juga, - Kami kala reaksi, gue sering yang banyak-banyak macam, gitu, kayak gula di bakar lah, terus memudian, apa, maka, - Porsesia fisikal change-ya, sepap segala macam reaksi, - Gini, reaksi kebuka itu untuk, - Gini. - Yang bisa pakai barang-barang - Saari gol, - Cobain, - Nah, begitu, SMA, - Bukan, gini ya, lu, - Cuman dari SMA, waktu SMA, SMA, - SMA, bahkan gue sekarang nyupuin, - Gini, gitu, - Gue punya buku, - Sribus satu, - Cobaan, - Bukain, segala, - Sama-sep, - Dalapan di rumah, - Influ-lin biologi gitu kan, - Puka-camba tumbuh, gini, tumbuhnya ke mana-arai ke mana segaunya, itu seru-seru ngapus gitu kan, jadi, bagi gue, - Tuh science itu, bukan cuma ada di buku, tapi nyata, gue pegang, gue rasa, gitu, - Kita ada science gitu. - Kita ada science, kita ada science, - Jadi, agar gue kebakan lah, - Lama-lah, segaunya, ada FKFK, - Oh, ke si Ram HCL, - Pahguah, - Berming-guming gue itu kayak kebermeng, gitu, gini, - Gini, apa ya, - Gini, itu real, - Jadi bukan iman nih, kalau gue, - Iya, gitu, jadi, itu real. - Nah, gitu, bagaimana dikat sih, - Otak tapi, problem, sangat penting, - Jadi, kita besar, kita gue udah, gue masih besar di kolor kayak gini, - Jadi ya, udah, - Terus, risennya, - Ini biata nih, - Nah, sekarang kamu nih, gimana nih, - With your black and white blood, - And then, what's your stand for, - And your suggestion for people, - Or, you know, - Correl, eh, Correl, - Correl, sir, connect, - Interact, - Distinging in java, - Ragnatical life, - And that, - Nah, - Hmm, - Anjang juga ya, - Tanya nih, - Apa lagi jauh banget nih, - Imis aja, - Itu jauh banget, - Jauh banget, - Lanya, misalnya, - Iya, astujuh, gitu, - Iya, - Iya, idem, gitu, - Otak banget gelap, gitu, - Eh, apa ya, - Apa nih, - Betul, - Gue lu pake, - Tidak, di, - Tidak, di, - di kan, - Ini kan ada orang, - Yang, - Biasanya, - dan ada banyak premise, - yang diimani, - Oh, ya, - karena ada konsep konsep, - Iya, - Kalau itu ini gimana ya, - Eh, - kaya pot juga ya, - Iya kalau, - Kalau gue sih, - Sebejas, - mungkin, - Iya kalau yang mau lo butub banget ya, - harus ada, - Iya mungkin, - Pilih yang, - Ini lah, - yang paling efficient lah, - Iya, - Resusnya locationnya paling minim lah, - Untuk pengajaran yang semua premise-rimis nih, - Itu kalau misalnya, - Dari, - Kalau yang mau butubat, - kalau misalnya yang nggak eh, - ngatuh sih kalau gue nanti, - ya kalau, - apa ya, - masih kebutuhan untuk absin itu, - gue itu nih, - gak ngerti, - setiap sih, - kalau misalnya, - kalau, - gue itu nangerti, - kalau misalnya, - gue itu nangerti, - kalau misalnya, - gak ada kebutuhan, - jadi gue pengen mengimanin, - taruh pokoknya, - yang pernah gue nangerti, - gue nangerti, - supaya, - karena ada kebutuhan, - kan, - karena ada oportunity, - karena ada oportunity, - karena ada oportunity, букв從 chair lain karena mereka Coffee atau swing distracted tapi bukanAF, jadiocracy terdalan awak sudah ada ada apa yang asmarik sealed jadi saya untuk mendatakan amananya bener спасибо aku你的 rocky karena ini si Pat esikologi kalau itu bisa jadi si Patnya apa namanya? aku ada 20-30 buka yang harus dibaca aku tahu itu, aku tidak tahu apa yang dia tahu aku tidak tahu apa yang dia tahu aku tahu apa yang dia tahu mungkin ini kali keberadan unikor yang itu yang lah buktinya tapi ini takut ini tanpa belajar ini gitu ini tuh lah, karena ada unikor di punakanan gue gue udah tau gue, unikor gue udah, gue udah menanguh jadi gue sih gak pernah ya namanya gue gak pernah ngesel karena itu di sekolah belajar, pasifnya belum enggak sih tapi intik konsep berifasif, fahabilit, itu sih yang simple aja ya lo gimana sih tau suatu kleng itu bener-bener diakset yang sebenarnya, sih gak, dia udah tinggal di terap kan aja ya mungkin apa yang ini sebut dan kamu enggak sehat misalnya ini suatu kleng ini gimana sih, gue tau ini bener atau nggak kan nah, dengan itu kan berarti gue harus bisa mengujit terbalik maka kayak contohnya misalnya waktu itu ada orang misalnya ngomong, oh ya waktu itu ya contohnya boleh gue ada yang homong bahwa kamu tuh bisa masak, kalau gak bisa masak misalnya gak bisa masak, misalnya ini, bias ini jago masak tapi misalnya gak kan pasifai kan, gue tuh ya nah itu tuh pasifikasi segerhana aja kayak masanya perlu belajar apa, teori apa yang perlu lu baca gitu ngomong banget aja gitu, gak ya, ya udah dihatip lo, ya udah tuh pasif, ya udah gue ya, ya udah dihatip ya tau, wakah, gak tau, ini gak mengheli proses itu belajar kalau ada satu kleng apa yang mau pasifai tuh ngomong karyfai itu itu besi ke tasjari dan ala emesia 20% di galup sens kornya lo gimana sih, ya udah diharius ya tau, itu besi kebijan gitu, aja udah kleng, kleng, kleng kalau ada data ini, nah ini, terpasifai kan, gitu ya, atau apa yang menurutkan, apa yang menurutkan, apa yang menurutkan kok kita 30%, 20% untuk besok-besok itu ya berarti aku tasjari gak pukul test, gak perlu latihan ya, ya, atau lo gitu, perfect, or tanpa, lo berajar banyak sih ya kayak yang gak tau sih udah dari SD ya, ya tadi konversesian gue sama budi gue tuh kira-kira pas 6SD tapi gue masih inget banget, kira-kira nyokap gue juga sering banget ngomong itu kemana-mana nyokap gue soal bernyanyi, nah itu sih kan, ya logika ya mau di lauan ya gue itu, dia tuh hidupnya nyokapnya nyokap gue ya gitu ceritam lo, tanggit tuh, kira-kira gue jok kayak gitu dan kayaknya mungkin gue, budi gue, atau em, mungkin jadi omongin keluarga segala macam lah, bahwa gue batin ngawain atau something gitu kan, kayak gak soalan-or something cuman nyokap gue, kindle on my side lah gitu misalnya kayak dia ngatanya, ya itu, ferver aja gue mikir kayak gitu ya emang sih kan sih ya, lo bikin glamping kayak gini, udah gue pasif aja dan, agak gue gak pernah belajar di sekolah, topa pun, itu kayak ya udah, ya tinggal ngikutin aja udah glamping kayak gini, tinggal ngikutin aja alur dari glamping itu sendiri gitu, nah sementara ceritam tanggulik segala macam itu kan, ya gue juga bacak yang di majalah waktu ngajalah bobo atau apa gitu kayaknya dulu-dua jam SD gitu ada kayak kaperiko, gini-gini gue tuh, selalu gue melatin itu yang paling gue heran ini yang saya bilang sama dia, kaperiko orangnya pendia gitu gue ga ngelihat apa yang gue pikir, gue serta gue pengyan dari mana itu gue. Satu, gue pikir gue mikir apa ya, orang sekali yang dia pendium dia pendium selusturusnya selama-lama. Nah akhirnya gue udah ijelifasi, saya kan, claimnya gitu. Karena kan, "It's a There's No Stopping" musik ini. Ada gak sih "Variable Natural" yang bisa men stop sesuara untuk dia bisa selama-lama jadi kayak gitu-dua gak bakal berubah. Kan gak ada kan? Jadi "It's in the realm of possibility" untuk seorang itu akan mengalami personality merbeda nih tru different era atau tru different years of their life. Nah sementara, Zodia korang kan gak berubah ya, kalau sekali lelahir sebaik aprik, kan masa lebih-betih banget mur 17-20. Mungkin gak mungkin gak, lu kaprikannya selama apa ya, abadunya berakhir, kaprikannya terus Nah, artinya kan inkosistendong antara si variable independent, ya dengan si variable dependent gitu Mendus, ya jadinya gue gak, ini gak mungkin nih itu Chance, udah like lihut untuk kriya bener, menimbangnya gitu Dan itu tangpah harus belajar, apa mau diplajar, gitu untuk menalarin kan, kan? - Ya, gue gak ada yang perlu belajar - Nah, gue ini natural, people itu dead career Tapi memang ada kesalahan dalam kulture kita dan sekolah forma, which is, ya udah - Lu kayak matikan kira-kira gitu - Nomatikan itu, yang normal ya sebenernya kita melakukan itu Tapi dimatikan dengan saya, "Yudah, udah ngurut aja sih gak pengen sih banyak-macin" Harap-harapin sekolah pun sejani gitu Oh ya, berarti kulture, ya berarti kalau kita bisa nantang tadi kulture, how we grew up, gitu Masih tempat kita tumpuh gitu, ikul cereduh manggu sih gak kayak gitu Dan ketika ada kulture di sekolah atau di luar manapun itu yang gak kayak gitu, gue go against it Dan gue juga gak tekan apa kayak gitu, tapi kayak. Apa ya, gue gak gini Ada dapak yang sekenifikannya dari kesimpulan yang bener-keput senya bener gitu Gue ngerasain ada hubungan yang sangat-sangat mungkin hampir interdependent lah ya Jadi kayak kalau gue pengen-keput senya bener, gue butuh kesimpulan yang bener-keput senya bener gitu Nah mungkin kalau orang lain hidupnya lebih pribilih sendiri gue ya, mungkin gak ada masalah hidupnya Jadi gak terlalu penting nih buat tinggi yang gue senada apa Nah kalau gue ga, gue hidup nih, skin, terus nyokap gue tuh sendiri ya Jadi gue harus jagain dua ada gue lagi, kita cuma bertiga, cair-cairnya, buca-bucah gitu Ya gue harus kalo kulit banget dong, kalo misalnya risiko, gue harus mikir banget risiko sebenarnya apa-besanya risiko - Kalo misalnya gue gak gambok pander gitu - No room for error, ya? - Kayak gitu kan, ikut segitu dong Terus kayak misalnya makanan ya kan, kita brempat nih, gue harus bener-bener punya pertungan apakah uang segini, kalo seminggu itu cukup patung gak Nah itu masalah gak rubah, ketika gue salahnya tuh membekit gitu kan, gue gak makan sarit gitu Jadi gue gak ada korelas yang sangat tinggi nih antara gue punya prames bener-keput senya, gue bisa ngobong bener Akhirnya nih life, I think adjustment, life, I think it's my fault, bener atau gaknya suatu claim, gue gak mikir lagi mau kacar orang lagi, mana? Mereka mau gue di bulu atau mau gue udah mat gitu, gue udah di bawah, daripada beying, apa ya, acurat gitu Dia being acurat tuh ya, itu life, I think it's my fault, nih life, gitu Mau ini kosnya misalnya gue ngelawan tadi, gue ngelawan normal atau apa, terselepon tapi gue ngerasa akurasi nih yang paling haruh terhadap keputusan keputusan yang gue Ada gak setuhal keputusan yang lo bikin based on your belief artinya, ini belum tau terjadi, tapi lo percaya lo deh Terus lo melakukan itu? Gak aja, dan mungkin itu juga ini ya, itu biasa sebenernya itu bisa jadi merubikan Karena masih gitu ya, di beberapa kes mungkin sangat bisa merubikan gue ya, karena gue gak cukup prames gitu untuk menarik simpelan ini Tapi gue gak ambil sebenernya itu, tapi untuk melakukan hal lainnya lebih gede, mungkin gue tuh kesimpelan itu Ya kayak misalnya yang terkait dengan gini, kayak dengan geografi, ini kan gue gak tocin atau ada dimana Yang mungkin itu udah pernah harus lama ini dulu, tapi gue sendiri gak nganggit lo, tapi gue gak mau nganggit lo, tapi gue gak mau belif in geografi gitu Ya, kalau gue pribadi nih, gue baik, Anda hal yang gue mau teskan satu based on your belief aja Belif apa intuasion agak beda, sorry Nah ini nih, coba lo definisi nih, kayaknya, kayaknya, gue jadi panjang nih, gue secara secara kayaknya, belif in geografi, mungkin next kali ya Ini gue gak tau di exactly definisinya coba lo induksi nih, jadi gue jalan satu kampung, kata gue nanya ke orang, kata orang itu Mas jangan belokanan, belokanan, turunannya curam, terus ada bulu bang-bulu banget kalau macam Gue percaya, morang itu, oke gue ngobal belokanan, terus gue mau jual lagi, ada du belokan, jadi gue bingung, gimana nih belokannya, gue nanya lagi, itu gue ngobal ke orang itu Gue nanya lagi, ada orang-ada orang di situ, kalau gue dulu panam-panapate di suban, kalau ke tempat ini, lu apa nih Kalau cini-jini lebih dekat, tapi katanya di situ curam dan rubam itu, ah apa-apa mas, lebih dekat lah, gini Nah gue bingung kan ya, gue harus percaya masih apa? Oh, kalau itu, oke gue bisa jawab ini, gue sering-nya cukup sering lama ada pistolasi kayak gini Gue biasanya pakainya itu ngan fisiko, gue itu ngan risinya, jadi kalau misalnya gue ga tau, tapi gue butuh ngan-an berkeputusan yang detik gitu Iya, gue bakal do safe choice, nah kalau misalnya kayak ngikutin yang baru san, jalan berubah atau baku- baku segaram macam itu, kalau misalnya gini Kalau misalnya terata jalan nih salah, gue butuh, gue kosnya apa gitu, ya ya, itu di Nah kalau misalnya cuma niruh jalan berubah atau berbatu atau butuh, gue sih ga, salah, tapi kalau siap, siap, siap, juurang, mungkin itu gue bakal niruh gue ga sangat butuh choice Jadi gue ga ada risiko nya, kayak gimana nih, kalau misalnya emang, ya, ovcourse, so many times gitu, gue mungkin dalam hidup kita, kita sengam di keputusan, sengam ini juga, gue udah belum kita belum tau gitu Tapi kita sengam-seng, ngetik itu juga, ya udah gue bakal nanggan misalnya if choice, kalau kayak gitu, gue bakal nanggan risiko nya Kalau misalnya gue bisa explore choice yang paling optimal tadi, misalnya omak, simpala banget, salah kanan nih, tapi risiko nya kalo dia salah, misalnya gue mati, nah gue ga bakal ambil bolokin itu adalah maksimal choice based on claim yang ada Jadi premise yang di omong itu jadi pertimbangan lu? Ya jadi pertimbangan, itu kan emang itu sendiri kan, claim yang itu sendiri kan, tapi gue ga pikir itu kodeleisi, itu lebih like, ya, itu kayaknya itu, ya itu itu di available option yang kita punya aja sih, misalnya gue taking in alternatives juga lah, itu juga bukan Irfan Avalsi gitu, mencari atau natif yang diluar dari realistik, realistik option sih yang ada kan, ya ga mungkin juga Benar karena menurut bahas tadi earlier. Jadi yang nomatnya udah origami impe Technology N my到了 ke teman. Aku harus berlepaskan se Он었어요. Melek ku Gimme良! Soalnya dia pahaya karena dia dengar naya orang dengan 쫟 tropicalnya. Jadi gue jadinya dari kecil, josek liat konsekvensi. Jadi bukan apa yang boleh, tapi selalu liat konsekvensi. Nah, ini kogeling, ini kogeling, ini kogeling, ini kogeling. Terus, saya di klikkan ke dalam seorang konsekvensi. Jadi dalam tanah konsekvensi. Itu gue selalu. Dan bahkan gue akhirnya men set main on standar. Maksudnya, profeksian atau temennya yura atau patekondo. Aman, gue ga kenal, tapi gue menang. Gue ga kenal, kenal, kenal. Nah dari thinking in terms of perfection tadi. Jadi gue mengelimin, saya mengilangi ini rumah for error. Sehingga sekecil mungkin rumah for error jadi. Nah, untuk membuktukan sampeksana. Bduhnya mendalam irialitasnya. Itu sehak kurap mungkin. Jadi butuhnya tinggi banget. Ya, cinta kasus, kayak tamiya. Gimana, waktu itu ada pertandingan yang berberut-berut terbaik. Gue hanya tiga kali, apapun-papal. Tapi berberenang sampai lo bener-bener stabil gitu di sana. Nah itu paling kencang, harus paling kencang, harus stabil, harus ga maksudnya. Gue ga boleh kuwari-kuwari diaruh. Itu ngannya harus gue cover the basis. Dan banyak lagi dalam kasus-kasus dalam hidup gue yang gue mesti. Apa? Bing perfect gitu. Bing perfect gitu. Nah dalam, dalam trying to be perfect ini itu. Nah ini, mulut gue ada, ada, ada apa ya? Ada IMSE keluarga gue lagi tuh. Ada keluarga gue om gue, segala macam yang. Yang undernya mungkin yaudah, yaudah itu ada ekspektor. Ada ada alek-beluntungan, ada ekspektor. Ada atapala mujizat, lapala namanya segala. Bulannya lagi bener nih. Nah apa lah gitu kan? Nah kalau gue, gue ngeliat itu anerk lain, gue karena. Hal kayak gitu bisa apa-apa yang dapat sekolah gitu. Kalau kita yang masih akan ada hatapan, akan ada nolong atau apa segala macam itu. Apa ya gimana ya? Nggak ga cover the basis gitu. Ya yang gak bingur responsibil, gak bingur 100% responsibil. Iya, itu periyaraan, itu. Dan kemudian ketika gue air juga terjak gitu. Dan gue suka kesel nih, orang-orang. Gak sih kalau. All this cover all the basis perfect gitu. Ya, saya itu bias-perfect responsibil gitu. As close as perfection as possible. Nah ini, karena kan, ya, karena kan kalau misalnya, sekarang gue ngajar gitu. Oh, karena kanak siap nulai TBK gitu. Ya udah mengandalkan ya hokila gitu. Ya, ya, ya, ya, ya, ya. Kita tak dicuruh. Nah ini. Ya, insteket apa yang kamu menengah lu masternya. Maksudnya, maksudnya. Ya, ya, ya, ya. Jadi, saya rasa untuk semua level. Teruli understand the reality dengan patah yang kurat. Itu bisa sangat membantu, bikin action plan yang benar-benar. Akurat banget gitu. Ya. Dan mungkin, rest itu, iya waktu itu gue apakah. Apa yang ini? Kemakanya. Ya, ya. Ya, ya, ya. Kemaknya, apa yang kamu asyik? Apa ini? Panitian, nah. Panitian, bikin broker. Proken yang ke segaram macam, "Bleh, bila?" "Yaradar ada rigid sih." "Ridat-ridat, rigid, rigid." Terus sesuai yang reafitasnya, "Nggak ada harapan-harapan tuh." "Kita berharap, ya udah?" "Nanti ke depan sponsor, ya udah." "Tinggal, ya udah." "Do aja, gitu." Ya bisa ini, memang cara jamsnya udah dijamin pasti ada setapnya apa ya? Betulnya apa nih, untuk maksudnya. - Ya, saya seri setelah kita bisa nge-bisahnya, tidak bisa pasti di-in, misalnya dia oke apa-nggak. Atau setatih, setiap sticking, otornya itu adalah 5 yang kita perus, satu oke gitu. Oke, dengan setiapnya, kalau kita harus berlapang kita perus, tidak bisa pakean, kayak gitu gitu. Nah, kebetulan juga, ya, gue mendalam, "of course" atau "the world of probability" dan "statistix". Dan gue suka itu dari JSMP, mungkin. Jadinya, risk management jadi inherent di gue untuk kakulating risk, safe choice, bubble blood, gitu. Nah, itu padahana, apa itu? - Ya. - Any comment for the dating yang bisa menggunakan, ya, ini buat yang lain juga bisa silahkan. - Ya, sampai disini sih, gue rasa yang paling pentingnya, ujung-yungnya sebenarnya tinggal konsistencia aja ya. Gue sih paling mau sih itu sama orang-orang yang di sini. Dia kepemerintah, kasih temperadilan itu expect the highest standard of the evidence ever, gitu. Untuk suatu claim itu bisa terima, gitu kan. Tapi kenapa dia nggak menerapkan itu dalam hidupnya, ya? Jadi gue nggak, "Ina strap gue mau nonton kayak ini gitu ya, jadi gue pengen net please know ya, kalau misalnya lo expect membuat kebijakan itu membuat keputusan keputusan hidupnya yang berdasarkan waktu-factor natural angelus, evidence based girl macam. Ya, lo juga dari rumahnya juga sekali, gitu, dalam hidup personal, apa-apa yang dihidur, gitu, "Skai, gitu, "Dong, karena apa, karena semua yang lo putuskan di rana natural ini, akan selalu pengen dapak di rana natural, bohong mungkin jangkaannya, mungkin nggak sebedri kalau kebijakan publik misalnya. Tapi tetap aja, akan ada manusia lain atau apa pun yang lainnya terdampak oleh keberadaan lo dan apa pun yang lo lakukan ini. Jadi, menurut gue harusnya, ya, setelah gue pikir sama dong, ketika pemerintah bikin kebijakan itu. Basisnya lo expect untuk berdasarkan data in jelas, dan konsekwenci natural angelus, gini-gini dari mana kesana-anak, gini, maka nih semejelas gini-gini. Ya, menurut gue apply that standard pada level yang paling personal juga, gitu. Namut gue, nggak, karena O2 itu nggak akan beda di kamar lo dengan dijalan raya, gitu. Ya, namanya O2, ya tetap aja, gitu. Ya, namanya gravitasnya, tetap aja, gitu. Artinya kan kalau misalnya lo menggunakan princip, natural tertentu di ruang publik, ya, ini harusnya berlaku sama aja, di ruang lain, gitu. Nah, ini adalah next topic sebenarnya tadi. Oke. Ini adalah next topic yang gue bicara, gitu. Kalau gitu harus next episode dong, ini kayaknya udah kepanyaan. Lu ngeditnya apa yang nanti? Nggak sih, ini nggak balik gue. Gue ada di daerbodo amat. Tetik kalau kita next episode, ini adalah intinya adalah, ini kan udah kita bicara nih apakah logis, lo lagi saya kepakaia pengen nana emberi kali, gimana juga menceng. Dan pada personal level, what kind of stance, shoot, road, blah, blah, bisa kita tanggung, blah, blah, blah. Stand up, tinggung, tata, tata, apa ini. The next part adalah, kita ini kan nggak sendiri yang niduk. Ex-ear existence, ser individual, punya daam pak orang lain. Your decision, your action, whatever itu. Karena lo hidup dunia yang natural, punya daam pak teredap dunia natural ini, gitu. Which is the orang lain yang ada, gitu. So, ya, udah dari situ, gimana cara kita melihat bagian situ, dan apa factor-factornya dan sebagainya, berarti yang setiap episode, gitu ya. Oke, siap. Terima kasih, oh. Terima kasih.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Logika formal berfokus pada validitas penalaran, bukan kebenaran isi premis.
  2. Iman berbasis kepercayaan tanpa bukti, berbeda dengan domain empiris yang membutuhkan verifikasi fakta.
  3. Menggunakan logika dalam agama dimungkinkan untuk menarik kesimpulan dari premis keimanan, tetapi premisnya sendiri tidak dapat diuji secara ilmiah.
  4. Sains menggabungkan logika dan empiris, sedangkan iman dan empiris adalah domain yang terpisah dan sulit dicampur.
  5. Banyak kebingungan muncul karena pencampuran logika formal dan informal, serta pertanyaan yang tidak tepat dalam konteks keimanan.

Summary:

Pembicaraan membahas hubungan antara logika dan keimanan, dimulai dengan penjelasan tentang empat domain pemikiran: logika, empiris, moral, dan estetika. Logika formal didefinisikan sebagai alat penalaran yang hanya menilai validitas argumen, terlepas dari kebenaran premisnya. Sementara itu, keimanan dalam agama berdasar pada percaya tanpa bukti, berbeda dengan domain empiris yang memerlukan korespondensi dengan fakta.

Diskusi menekankan bahwa meskipun logika dapat digunakan dalam agama untuk menarik kesimpulan dari premis keimanan, premis itu sendiri tidak dapat diuji secara ilmiah. Para peserta juga menyoroti bahwa sains merupakan kombinasi logika dan empiris, sedangkan iman dan empiris adalah dua domain yang berbeda dan sulit disatukan. Kebingungan sering timbul akibat pencampuran logika formal dan informal, serta pertanyaan yang tidak relevan dalam konteks keimanan, seperti mempertanyakan Tuhan dengan pendekatan empiris.

Kesimpulannya, logika dapat diterapkan dalam agama selama premisnya diterima sebagai bagian dari iman, tetapi pencampuran dengan empiris justru dapat mengurangi esensi kepercayaan itu sendiri.

FAQs

Logika formal berfokus pada struktur penalaran yang rigid dan aksiomatik, seperti dalam matematika. Sedangkan logika informal lebih fleksibel dan sering tercampur dengan elemen empiris atau konteks tertentu.

Logika dapat digunakan untuk menarik kesimpulan dari premis-premis dalam agama, namun premis itu sendiri berbasis iman dan tidak bisa diuji secara empiris. Jadi, penalaran logis dalam agama mungkin dilakukan, tetapi tidak untuk memvalidasi kebenaran iman.

Sains menggabungkan logika dan empirisme: ia membutuhkan fakta empiris yang terverifikasi, lalu menggunakan logika untuk merumuskan pola, membuat prediksi, dan menguji konsistensi. Jadi, sains adalah kombinasi dari kedua domain tersebut.

Tidak, iman justru didasarkan pada kepercayaan tanpa memerlukan bukti empiris atau logis. Jika seseorang mencari bukti untuk imannya, itu sudah bergeser ke ranah justifikasi yang lebih dekat dengan sains atau penalaran rasional.

Kebenaran logis dinilai dari validitas struktur penalaran, terlepas dari kebenaran premisnya. Sedangkan kebenaran empiris bergantung pada kesesuaian pernyataan dengan fakta di dunia nyata, yang disebut kebenaran korespondensi.

Karena banyak orang mencampuradukkan logika formal dengan penalaran informal yang melibatkan asumsi atau konteks empiris. Selain itu, istilah 'logis' sering dipakai secara longgar untuk berbagai cara berpikir, padahal logika murni hanya fokus pada struktur penalaran.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.