Go back

KISAH MISTIS MENYANTAP DAGING BUAYA DI KAMPUNG DAYAK KENYAH "TRAGIS" (EPS 383)

0m 0s

KISAH MISTIS MENYANTAP DAGING BUAYA DI KAMPUNG DAYAK KENYAH "TRAGIS" (EPS 383)

Transkripsi ini menceritakan mitos dan kepercayaan Suku Dayak Kenyah di Kalimantan mengenai hubungan istimewa antara manusia dan buaya. Menurut Mbak Ana, seorang gadis Dayak Kenyah yang menjadi narasumber, buaya dianggap sebagai leluhur atau saudara mereka. Kepercayaan ini berawal dari kisah nenek moyang di mana seorang kakek menyelamatkan anak buaya yang tersangkut di jaringnya. Sebagai balasan, induk buaya membuat perjanjian bahwa buaya tidak akan mengganggu keluarga suku Kenyah di sungai, dan sebaliknya suku Kenyah dilarang memburu atau memakan daging buaya. Pantangan ini menjadi hukum adat yang dipegang teguh hingga kini. Konflik utama terjadi ketika seorang pendatang bernama Bambang dari luar Kalimantan menangkap dan memotong anak buaya untuk dikonsumsi. Akibatnya, ia dan teman-temannya mengalami kerasukan massal oleh induk buaya. Bambang yang kerasukan berbicara dalam bahasa Kenyah dan akhirnya menghilang ke danau setelah menyampaikan pesan "nyawa dibayar nyawa." Jasadnya ditemukan lima hari kemudian dalam kondisi hancur, menyerupai kondisi anak buaya yang ia potong. Kisah ini diperkuat oleh cerita lain tentang seorang warga yang jasadnya diantarkan utuh oleh buaya setelah sebulan hanyut di Sungai Malinau. Pesan moralnya adalah pentingnya menghormati adat dan kepercayaan lokal bagi para pendatang.

Transcription

5339 Words, 32204 Characters

Indonesian
0:11 Pembicara 1 Dengan. Buka baju dia tuh bulat seperti buaya dia. Dia mencari air mang dia berusaha mencari air di mana ada air seperti orang kerasukan dia kerasukan buaya itu terus teman temannya heran lah ini kenapa gitu kok tiba tiba kayak buaya gitu kan? 0:29 Dan kebetulan orang ini kan bukan orang kenyaman orang ini orang di luar. Kalimantan yang enggak sama sekali bisa bahasa kenya pas kerasukan itu dia menggunakan bahasa kenyaman. Jadi si buaya itu mengantarkannya menggunakan dan menaruhkan mayatnya itu di atas kepalanya gitu. 0:58 Mereka manggil si buaya menggunakan ritual untuk pemanggilan buayanya. Dan si buaya itu muncul. Mereka tanya kamu temuin di mana saya temui di hulu sungai, kata bayinya itu bayinya ngomong menggunakan tubuh manusia. 1:14 Dia merasuki tubuh manusia itu. 1:17 Pembicara 2 Mitos tentang buaya di pulau Kalimantan yang tak akan memangsa warga lokal sangatlah berkaitan erat dengan sejarah suku dayak kenya. Sehingga larangan untuk memburu buaya menjadi suatu pantangan yang tak boleh dilanggar. 1:35 Kisah hubungan buaya dan suku dayak kenya dipaparkan langsung oleh mbak ana. 1:43 Pembicara 3 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam sobat malam mencekam sobat TM di mana pun sobat berada hari ini masih konten dan kisah nyata dari Kalimantan Timur ya mengaid dan tim berada di Samarinda. 1:58 Kali ini di depan kita sudah ada narsum ini masih gadis nih yaitu mbak ana mbak ana adalah seorang gadis dayak kenyah ya betul ya. Asli original. 2:14 Baik kita kenalan dulu ke mbak nana apa kabar mbak? 2:18 Pembicara 1 Nana. 2:19 Pembicara 3 Sehat ya. 2:20 Pembicara 1 Sehat sehat. 2:21 Pembicara 3 Mudah mudahan mbak ana. Ikhlas berbagi kisahnya di malam mencekam nih karena banyak juga orang orang yang di Jawa sana di pulau pulau lain yang belum tahu tentang mitos di lingkungan dayak kenyah ya kita belum tahu nih apa aja yang. 2:39 Bisa membuat orang takut bisa membuat orang senang. Pokoknya tentang dunia gaib yang ada di dayak kenya. Mbak ana aktivitas apa nih sekarang? 2:51 Pembicara 1 Lagi kuliah masih kuliah ya? Marketing. 2:56 Pembicara 3 Masih lama beresnya. 2:58 Pembicara 1 2 tahun lagi sih. 2:59 Pembicara 3 2 tahun lagi oke nah sobat malah mencekam. Inilah mbak ana jadi beliau adalah keturunan dari dayak kenya. Hari ini mau berkisah kepada kita membagikan kisah kisah mitos yang menurut orang mitos. Tapi ternyata itu nyata adanya. 3:17 Mana katanya mbak nana ini tadi kita ngobrol di belakang seorang indigo juga ya sensitif terhadap hal hal. 3:24 Pembicara 1 Ghaib. 3:26 Pembicara 3 Kira kira ini kan tempat angker nih sekolah terbengkalai apa yang dirasain mbak nana. 3:32 Pembicara 1 Tadi dari awal pintu masuk ya dari gerbang depan. Itu sudah ngerasain. Kalau awalnya nih di sini banyak malu kalusnya terus pas semakin mendekat itu makin ngerasain kalau mereka tuh dekat di sini ada di sekitar kita aja. 3:47 Pas berhenti aku langsung ngelihat bangunannya, lebih tepatnya bangunan yang ujung sih. Yang ada di. 3:54 Pembicara 3 Ujung ke sekolah itu ya? 3:56 Pembicara 1 Itu terasa banget hawanya terus tadi pas duduk juga sempat ngelihat ada perempuan yang ngintip dari balik jendela. Tadi. 4:06 Pembicara 3 Di sini di sekitar kita ini. 4:08 Pembicara 1 Ada sih mas. Tepatnya di pohon. 4:12 Pembicara 3 Di pohon ini ya. Tapi udah izin enggak apa apa ya. 4:17 Pembicara 1 Biasa. 4:18 Pembicara 3 Nah sobat jangan ke mana mana jangan skip videonya. Kita akan nonton bersama kisah dari mbak anak malah mencekam. Semakin malam semakin mencekam mbak anak. 4:44 Pembicara 1 Jadi gini mang di desa kita, tepatnya di Kalimantan utara. Di desa dayak kenyah itu percaya banget sama buaya itu dianggap sebagai leluhurnya. Karena pernah ada sejarah dulu nenek moyang kita itu kan dulu waktu di kampung lama itu sering mencari ikan menggunakan jaring memang. 5:09 Nah. Pada waktu itu, kebetulan kakek ini lagi memasang jaring di sungai. Tidak tahu kenapa tiba tiba anak buaya ada nyangkut nang di jaringnya. Nah pas kakek itu ngangkat jarinya dilihat anak buaya itu lagi kaya berusaha menarik membebaskan diri dari jaringan waktu itu. 5:30 Terus si kakek ini ambil lah bahwa ke. Darat dibebaskanlah dibebaskannya lah anak buaya ini pelan pelan dari jaringnya. Terus dia ngomong menggunakan bahasa kenya. Dia ngomong kayak gini. 5:46 Kenapa bisa kamu nyangkut di jaring kakek kakek masang jaring di sini untuk nangkap ikan seperti itu kan? Tapi menggunakan masakan nyaman. Nah ndak lama setelah kaki itu ngomong seperti itu ke anak buaya itu tiba tiba gelembung besar itu muncul mang dari sungai. 6:04 Itu gelembungnya gede banget sampai kakek itu sempat ketakutan ini kenapa gitu? Sedangkan posisinya kakek itu lagi megang anak buaya itu terus tiba tiba muncullah sosok buaya besar. 2 ekor buaya besar itu muncul pas di gelembungnya tuh. 6:21 Terus si kakek takut sempat takut karena takutnya si buaya ini salah paham kalau dia mau ngambil anaknya itu. Nah dalam masalah itu si buaya makin mendekat nih mang makin mendekat ke tepian. Terus si kakek mendekat juga tanpa rasa ragu karena si kakek ngerasa saya tidak niat jahat saya niatnya baik untuk nolong anaknya gitu kan. 6:42 Terus si kakek ngomong menggunakan bahasa kenya juga ke induk buayanya. Dia ngomong kalau saya tadi nyelamatin anaknya yang nyangkut di jaring saya dan saya selamatin bukan saya mau ambil seperti itu. Terus si buaya langsung netizen air mata gitu mang. 7:00 Itu ibu buayanya langsung netizen air mata. Nah selang berapa waktu kakek ini nurunin lah turunin anak buahnya ke sungai untuk balikin ke ibunya. Nah, sebelum si buaya ini pergi menyelam. Si buaya ini sempat. 7:17 Mengatakan ekornya ke sungai menyiram si kakek menggunakan ekornya mang. Dia menyiram si kakek dengan ekornya sampai si kakek ini basah kuyup mang karena siraman dari buaya itu tadi. Nah di situlah terjadi perjanjian Antara si kakek dengan si buaya bahwa buaya mengartikan siramannya itu kayak bagianmu bagianku bagianku bagianmu. 7:39 Jadi jika ada keluargamu yang ada di sungai tidak akan saya ganggu. Begitupun jika ada keluargamu yang ke sungai tidak mengganggu keluarga saya seperti itu terjadi perjanjiannya waktu itu. Nah jadi kita sampai sekarang percaya sama mitos itu. Memang kalau buaya itu saudara kita punya ikatan kuat dengan kita suku daya kenya gitu. 8:00 Makanya kita di sana dilarang. Dilarang banget untuk enggak makan daging buaya kemana pun kita pergi enggak boleh yang cicipin daging buaya itu karena kita sudah seperti saudara ikatannya kayak gitu. 8:28 Pernah nih memang kejadian orang dari luar pulau Kalimantan sebut aja namanya Bambang si Bambang ini dari keluar keluar kali Kalimantan yang merantau ke Kalimantan. Nah si Bambang ini enggak enggak cukup tahu ya gimana adat dan kepercayaan orang di desa tersebut. 8:49 Jadi selama. Sebulan dia tinggal di desa kami di desa Kalimantan. Dia dan teman temannya itu kebetulan suka sekali makan makanan ekstrim seperti daging buaya. Itu kan sudah biasa ya di kota kota makan saatnya buaya seperti itu. 9:08 Nah pas mereka ber uh merantau ke desa kami. Waktu itu mereka pengin sekali makan daging buaya. Terjadilah waktu itu mereka lagi wisata ke salah satu sungai dan mereka lihat anak buaya yang lagi nyantai di tepian lagi berjemur. 9:23 Nah mereka. Mereka senang wah ada santapan nih gitu terus si Bambang tadi punya ide kalau kita ambil aja maksudnya kita potong aja gitu kan nanti takutnya dia malah ganggu kita. Nah pikirannya seperti itu terus si Bambang tadi mengambil pukulan, tepatnya bareng tajam gitu ya untuk tangkap si buaya itu, jadi mereka kayak pegang kaki tangan anak buaya itu terus bawa naik ke darat. 9:51 Dan itu tanpa sepengetahuan orang desa mang. Mereka bawa. Jauh dari desa. Kebetulan mereka tuh tinggalnya kayak dimash gitu mess mess yang ada di perusahaan. Nah mereka bawa ke sana, mereka sempat kurung anak buy nya kurang lebih seharian mereka kurung dalam dalam gudang sebelum mereka potong. 10:14 Nah setelah itu sebenarnya selama mereka kurung satu harian itu seorang ibu di desa kami sempat kerasukan mama induk buaya dia kerasukan. Dia bilang minta tolong selamatin anak saya. Tapi karena kami tidak tahu tidak tahu dan tidak ada yang lihat juga bahwa mereka ada ambil anak buaya itu. 10:34 Jadi kami enggak tahu nolongnya ke mana nih gitu jadi. Si ibu tadi cuma ngasih tahu kalau dia sempat kerasukan induk buaya yang minta tolong anaknya diselamatin itu aja. Nah setelah itu keesokan harinya si Bambang dan teman teman ini motong anak buaya itu mereka belah perutnya terus dipotong potong yang tadinya mau mereka jadikan santapan mereka. 10:57 Nah sebelum mereka jadikan santapan di situ mereka ngerasa panas banget mang badan mereka kayak panas banget kayak butuh air pengin pengin berendam aja gitu. Jadi mereka enggak jadi masak itu daging buaya, tapi mereka sudah potong. Nah mereka bilang ya sudah nanti saja kita simpan dulu kita makan yang ada dulu mereka simpan lah daging buaya yang mereka potong itu, kemudian pas mereka tidur malamnya. 11:22 Keesokan harinya si Bambang itu kerasukan mang pagi pagi pagi pagi banget sekitar jam tujuan lah dia itu kerasukan. Masukkan induk buaya itu dia sambil berjalan seperti buaya merayap dan dengan. 11:40 Buka baju dia tuh bulat. Seperti buaya dia mencari air nan. Dia berusaha mencari air di mana ada air seperti orang kerasukan dia kerasukan buaya itu terus teman temannya heran lah ini kenapa gitu kok tiba tiba kayak buaya gitu kan? 11:55 Dan kebetulan orang ini kan bukan orang kenyaman orang ini orang di luar. Kalimantan yang enggak sama sekali bisa bahasa kenya pas kerasukan itu dia menggunakan bahasa kenyam. Dia menggunakan bahasa kenya sama teman temannya. Kurang lebih dialognya kayak gini mang. 12:12 Ikem al anaknya. Jika kumania ikam mutunus jadi. Ino ya ikem tikya akhir tikem jadi kurang lebih kayak gitu mang. 12:26 Pembicara 3 Apa itu artinya kira kira? 12:28 Pembicara 1 Dia bilang kayak kalian ngambil anak saya, padahal saya tidak mengganggu kalian. Apa yang kalian buat ke anak saya? Saya akan lakuin itu ke kalian. Nyawa harus dibela nyawa itu yang diucapkan oleh ibu buaya itu pas dia kerasukan. 12:45 Nah setelah itu dia kembali pulih lagi mang. Si Bambang tadi kembali pulih lagi yang baik lagi dia di situ. Sempat heran loh kok saya kok saya kayak bahasa kuyup gitu dia ngomong gitu terus teman temannya ceritain kamu tadi loh kayak kerasukan gitu kamu pakai bahasa apa kita enggak ngerti gitu kan? 13:05 Nah salah satu dari temannya Bambang itu sempat ketakutan mang dia sudah ketakutan, wah jangan jangan ada yang kami langgar nih di desa ini kayak gitu kan mang. Terus dia memberanikan diri untuk ngomong ke orang desa mang temannya si Bambang tadi sebut aja namanya budi nasi budi ini memberanikan diri untuk ngomong ke orang desa. 13:24 Pergilah si budi tadi ke desa, dia menemui sesepuh desa orang tua yang di desa itu nada dia menceritakan bahwa mereka menemukan anak buaya yang lagi santai di tepian sungai. Terus mereka ambil tanpa berpikir bahwa itu sebenarnya hal fatal yang dilakukan di desa tersebut. 13:44 Mereka ambil mereka bawa anak buaya ini ke mess yang jauh dari sungai itu. Mereka bawa yang mereka siap potong pada esok harinya pas dia menceritakan itu ternyata. Si ibu yang dia datangin untuk menceritakan itu ternyata itu ibu yang kerasukan kemarin. 14:04 Yang dikerasuki oleh ibu biaya itu yang sempat bilang tolongin anak saya jadi si ibu langsung memberhentikan pembicaraannya. Oh ternyata kalian tuna katanya kayak gitu sama anak itu. Kenapa bu? Saya sudah tahu tanpa kamu menceritakan saya sudah tahu dia ngomong kayak gitu bahwa saya ke sana bisa katanya ya sudah bu kita berangkat ke mes jadi dibawalah sibuk ini. 14:27 Tapi sebelum berangkat ibu ini minta ditemanin sama orang orang desa. Ada beberapa orang yang temanin ke sana. Nah pas mereka berangkat ke sana. Mereka tanya mana anak buayanya? Ternyata anaknya tadi udah dipotong. Dan mereka lihat daging bayi itu dipotong di situ. 14:43 Si ibu dan teman teman yang dia bawa juga. Mereka tersenyum karena mereka sudah tahu kayak balasannya ini seperti apa. Terus ibu ini bertanya ke budi kenapa? Karena memanggil saya kalian minta bantuan apa gini bu? 14:59 Si Bambang teman kami kerasukan dari tadi malam. Di situ udah kerasukan kayak buaya. Dia menggunakan bahasa yang kami tidak ngerti, kata Budi. Oh ya kata ibunya tolong coba bawa Bambang kesini gitu. Napas dibawah si Bambang disitu di situ dia langsung kerasukan lagi pas ketemu ibu ini dia langsung kerasukan lagi. 15:20 Dia langsung buka baju seperti buaya. Dia berjalan jalan seperti buaya seperti itu kan terus dia berbahasa kenyah lagi sama ibu itu, dia bilang ini ini mereka ini idaya hujan anak kayak matai seperti itu dan artinya ini mereka yang membunuh anak saya. 15:39 Ini mereka yang memotong tubuh anak saya. Nah, selama waktu itu ibu itu langsung ngelihat mereka dan teman temannya. Kalian tahu hal apa yang kalian lakuin? Kata ibunya seperti itu. Mereka bilang kami tidak tahu bu kami cuman mau makan daging buaya. 15:56 Mereka ngomong kayak gitu dan ibu itu di situ sempat tersenyum. Dia bilang kalian harus siap kehilangan salah satu dari kalian. Karena hal itu yang diminta oleh si induk buaya ini. Kalau tidak dia akan mengganggu kalian terus sampai kapanpun dan mau kalian keluar pulau Kalimantan lagi pun dia bakalan ngikutin kalian itu bakal diganggu terus ibu ini ngingatin mereka. 16:20 Nah pulanglah sih ibu ini pulang ke desa. Tibalah malam hari di situ mereka kerasukannya massal. Mereka semua dirasuki oleh induk buaya itu berempat. Empatnya itu merayap seperti buaya. 16:48 Mereka panggil lain lagi orang orang desa itu terjadi kerasukan di mes terus kerasukannya aneh banget gitu kok kayak buaya gitu ya jalannya kayak gitu kan terus pergilah lagi mereka ke sana ibu ibu ini tadi mereka lihat terus apa maumu mereka ngomong kan pakai basah kenya terus dia bilang aku mau nyawa dibayar nyawa kan sudah saya ingatkan seperti itu, kata si indoknya. 17:12 Terus. Ibu ini ngomong ke salah satu dari teman mereka. Salah satu dari mereka pasti ada yang enggak kembali nyawanya seperti itu. Dan di situ mereka sempat ketakutan. Memang orang orang di situ sempat ketakutan kayak wah ini. 17:27 Ngeri banget apa sih yang mereka buat sampai segitunya kayak gitu kan? Nah yang 4 4 yang kerasukan ini tadi. 3 tiganya pulih 3 tiganya sembuh. Maksudnya enggak kerasukan lagi mang. Tapi yang satu ini tadi si Bambang dia masih kerasukan, dia masih kerasukan dan makin parah. 17:47 Dia sampai menggaruk garuk badannya itu sampai luka luka. Tapi orang di situ enggak bisa buat apa apa mau panggil dukun sekalipun orang pintar sekalipun sudah enggak bisa apa apa, karena itu sudah perjanjiannya dengan si buaya bahwa salah satu dari mereka bakal tidak ada yang selamat. 18:03 Jadi mau nggak mau mereka harus merelakan seperti itu. Dan teman teman si Bambang ini pun telepon ke keluarganya si Bambang dan keluarga yang si Bambang ini sempat naikkan untuk ngirim dukun pinter dari pulau Kalimantan. Tapi si ibu bilang lebih hebat mana sih di pulau kalima, orang yang dari luar pulau atau yang dari dalam Kalimantan ini aja saya saja angkat tangan kalau sudah berurusan sama leluhur, kata ibu itu. 18:29 Jadi daripada buang buang biaya, mending kalian relakan saja, kata ibu itu karena mau gimanapun dia selamat, dia enggak akan kembali lagi. Nah, setelah itu simak si Bambang ini kerasukannya itu dia lari berjalan itu tengah malam bang kejadiannya mungkin sekitar 2:00 malam gitu. 18:48 Dia itu berjalan ke danau yang kebetulan ada di sekitar situ mang. Dia berjanji mereka itu ngikutin dia ramai ramai memang sampai ditahan tahan kakinya. Tapi enggak enggak bisa karena dia kuat banget dan kencang banget jalannya kayak buaya itu lari ke arah danau itu terus sebelum dia nyemplungin dirinya ke danau, dia tuh menghadap ke orang orang itu. 19:08 Dia bilang dia pamit kalau dia mau pergi dia pamit kalau dia menggantikan posisi anak yang tadi mereka potong seperti itu terus. Dia sempat bilang tolong titipkan salam ke keluarganya itu aja yang sempat dia ucapin kata terakhirnya. 19:23 Setelah itu dia nyemplung ke danau itu. Nah orang orang langsung berusaha nyariin wah ke mana dia ke mana dia kok tiba tiba hilang dana itu kebetulan enggak enggak besar mang kek kolam ikan aja nggak gede banget danaunya. 19:38 Nah disitu orang orang, teman temannya, orang orang yang ada di situ langsung nyariin kan untuk nemuin jasadnya aja gitu. Nah selang beberapa waktu itu sampai 8:00 pagi itu kan sudah berapa jam ya dari malam tembus ke 8 pagi itu orang masih nyariin dia, tapi enggak ketemu mayatnya terus itu masih dicari cari sampai. 19:57 Ke 3 harinya pun mayatnya belum ditemuin di danau itu. Orang orang sampai panggil pawang panggil dukun dukun tapi udah enggak bisa mayatnya enggak ditemuin karena hari itu udah mulai viral kan mang ceritanya di kampung. Jadi kita kepo dong mau liat ada apa sih? 20:14 Kok bisa sampai segitunya gitu? Jadi kita juga kepo danaunya yang mana? Karena kita belum pernah jalan ke mess daerah mesanakan mang nah pas kita pergi. Ternyata di sana tuh ramai banget udah. Ramai benar benar ramai banget dan ada orang orang pintar juga di pinggiran pinggiran danau dan mereka sampai bilang tunggu aja sampai habis merasanya si ibu itu yang lepasin nyawa si Bambang gitu sampai dia ngelepasin sendiri kayak gitu. 20:42 Terus orang orang kayak udah mulai letih kayak gitu kan udah mulai kayak nyerah. Aduh kita mau cari sampai kapan ini loh danaunya kecil aja enggak bakal ketemu juga kalau memang si ibu ibu buaya tadi enggak melepaskan jasad di Bambang kayak gitu. 20:58 Nah pada hari 4 itu belum ditemukan terus di hari 5 itu pencarian sudah berkurang. Ya sudah enggak lagi pakai orang pintar seperti itu. Nah tiba tiba jasadnya ini nongol ngomong. Nah jasad ini nongol tapi dengan posisi tubuhnya itu hancur banget. 21:19 Hancur hancur hancurnya kayak yang terjadi ke anak buay yang tadi mereka lakukan. Jasadnya itu ditemukan. Korban dibagi temang dan diketahui kan di dalam dana itu enggak ada buaya mang cuma ikan ikan kecil yang dipelihara ikan ikan nila dan ikan nila pun enggak mungkin kan mang makan jasad sampai segitunya itu enggak mungkin dan setelah itu diberi tahu lah kepada orang orang desa jasadnya ditemukan dengan kondisi demikian, terus orang orang kayak ya sudah direlakan saja sudah itu sudah risiko yang memang sudah dijelaskan dari awal. 21:56 Nah setelah jenazah yang ditemukan di bawah jenazah itu. Di mas perusahaan yang ada di situ. Setelah dievakuasi mereka mau berangkatkan jenazah itu. Pas difotokan jenazahnya dikirim ke keluarganya keluarganya sangat nggak terima karena mereka pikir bahwa orang di sana yang melakukan hal yang seperti itu. 22:20 Padahal jelas jelas banyak saksi yang menyaksikan kalau si Bambang tadi yang kerasukan buaya sampai ke danau jadi seperti itu. Jadi mereka yang menjelaskan ke keluarganya waktu itu pas jasadnya mainnya sudah diberangkatkan ke pulau luar Kalimantan. 22:38 Jadi si ibu itu mengingatkan mereka mang dems itu untuk nggak sembarangan berburu buaya di desa itu karena kepercayaan di desa itu. Kalau bilang buaya itu masih termasuk keluarga atau leluhur mereka. 22:52 Pembicara 3 Itu kalau boleh tahu mas apa di situ. 22:55 Pembicara 1 Mess perusahaan yang ada di tambang. 22:58 Pembicara 3 Sanam. 22:59 Pembicara 1 Iya tambang batu bara yang ada di. 23:01 Pembicara 3 Sana rumahnya enggak jauh dari situ dari TKP itu. 23:05 Pembicara 1 Mungkin ada. Sejak mana dari iya? 23:10 Pembicara 3 Mbak ano datang ke situ ya? 23:11 Pembicara 1 Waktu pencarian itu sempat ke sana karena viral. 23:15 Pembicara 3 Berarti ini ada di media ya kalau begitu ya. 23:18 Pembicara 1 Kalau media sih yang gamal karena di sana itu jaringannya enggak? Enggak kayak di kota namanya pelosokkan kan bang jadi orang belum update update orang enggak buat story story itu waktu itu enggak ada. 23:44 Dulu pernah ada juga. Saya tahu waktu itu kabar dari teman saya kalau omnya hanyut di sungai waktu mereka pergi nyelam. Itu kisaran tahun 2019. 24:00 Nah kebetulan saya waktu itu sama teman saya pulang dari tempat magang kita pulang, terus kita lihat nih di rumahnya kok rame ples pas ditanya kata anaknya si om itu. Bapak anjut di tempat mereka nyelam cari ikan tadi malam. 24:19 Terus kita kaget memang dengarnya. Nah setelah itu langsung heboh lah di di desa itu heboh pencarian pencarian si om yang hilang itu. Nah dicari cari selama 3 hari enggak ketemu juga tanda tandanya pun enggak ketemu menggunakan orang orang pintar juga mereka enggak bisa. 24:37 Soalnya orang orang pintar di situ pada kayak enggak tahu kalau yang hilang di sungai gitu. Jadi mereka pakai pawang buaya nanya ke buaya kamu ada makan orang ini enggak enggak buaya buaya di situ juga enggak tahu karena mereka enggak ada makan orang itu. 24:53 Nah kebetulan orang yang hanyut itu orang desa sana mang. Orang di desa tempat kami tinggal di sana orang kenyah juga. Nah bicarilah seminggu pencarian juga belum mau ketemu belum mada tanda tanda juga dari tempat tkp mereka pergi nyelam sampai di mereka telusuri sungai mainan juga enggak ada. 25:16 Seminggu 2 Minggu itu orang sudah mulai pasrah orang sudah mulai kayak. Ya sudah kita kuburkan saja baju bajunya. Tapi walaupun jasadnya belum ketemu nih, karena keluarga juga sudah mulai kasihan sama warga warga yang nyari terus kan selama 2 Minggu, tapi belum ada tanda tanda mereka. 25:35 Kuburkanlah baju bajunya aja. Nah 3 Minggu mereka masih berusaha mencari walaupun orang orang di situ yang membantuin udah mulai sedikit ya. Masuklah di satu bulan. Itu orang orang sudah pada enggak ada nyari sama sekali satu bulan lebih orang sudah enggak ada nyari. 25:51 Intinya kayak sudah pasrah. Nah tiba tiba di satu desa sebelah desa kami sebut saja namanya desa. Nah di situ mereka tiba tiba digegerkan karena ditemukan mayat. 26:11 Nah mayat itu ditemukan di tepian dengan kondisi tubuh yang. Bagus yang enggak ada bekas di makan makan ikan pokoknya masih utuh. Tubuhnya masih utuh banget. Nah diinfokan lah ke orang orang di sekitar desa itu kan kalau ada nih ditemukan mayat hilang. 26:30 Nah keluarga yang merasa uh kehilangan keluarganya yang hanyut. Kemarin mereka sempat berpikir masa itu dia, tapi kok itu utuh gitu kan harusnya kalau udah sebulanan lebih sudah enggak utuh dong kalau di dalam air ya? Sudah pasti sudah hancur tubuhnya kayak gitu. 26:47 Tapi mereka ya sudah kita apa sarannya kita mencoba kita cek orangnya terus mereka ke tempat penemuan mayat itu. Mereka lihat kalau itu adalah keluarga mereka yang hanyut itu. Nah papa rupanya sebelum mayat itu ditemukan nenek nenek yang kebetulan jualan sayur mang di tepian sungai di dekat tepian. 27:10 Dia cerita bahwa dia melihat sosok buaya besar. Dia mengantarkan jasadnya ke tepian. Jadi si buaya itu mengantarkannya menggunakan dan menaruhkan mayatnya itu di atas kepalanya gitu. 27:34 Dibawahnya lah ke tepian sampai di daratan baru baya itu pergi lagi. Itu nenek itu yang saksiin nenek itu sendiri yang saksiin. Jadi nenek itu ceritakannya kepada keluarga. Jadi keluarga baru ada rasa kayak. 27:50 Oh si oh dia yang nolong oh nenek kita juga yang nolong, jadi mereka bilang kayak gitu, terus pas mayatnya sudah dibawa ke rumah duka. Sekeluarga ini keluarga intinya pergi ke sungai mereka manggil si buaya itu. 28:06 Mereka manggil si buaya menggunakan ritual. Untuk pemanggilan buayanya. Dan si buaya itu muncul. Mereka tanya kamu temuin di mana saya temui di hulu sungai kata bayinya. Itu buaya ngomong menggunakan tubuh manusia. 28:21 Dia merasuki tubuh manusia itu. Terus saya temen di hulu sungai, katanya. Agak lama karena perjalanan jauh sungai malino itu kan panjang kek sungai Mahakam juga. Besar panjang jadi si buaya itu berusaha membawa si jasadnya. 28:39 Ini tadi dekat ke desa tempat om itu tinggal. Nah mereka mereka berterima kasih kepada buaya itu. Terus mereka tanya, kamu mau apa? Mau ayam kata mereka gitu terus baya itu bilang enggak saya membantu keluarga saya, katanya. 28:55 Karena dia juga bagian keluarga saya kalian bagian keluarga saya, makanya saya membantu, katanya seperti itu. Terus nggak lama si buaya itu kembali ke tempatnya. Dia kembali menyelam lagi. Terus mereka pergilah mengubur si om itu tadi. Jadi si buaya itu sebenarnya enggak enggak jahat juga kalau kita enggak mengganggu ya. 29:16 Jadi sesepuh desa itu. Ngomonglah ke masyarakat yang ada di situ waktu itu dia ngomong kalau ya itu tuh leluhur kita ya nolongin sudah kita percaya juga dari dulu dari cerita nenek moyang kita kalau buaya itu punya hubungan yang erat dengan kita gitu, jadi di situ diangkat lagi ceritanya kalau kita. 29:39 Suku kenya ini. Dikenal sama buaya itu anak anaknya. Nah kenapa kenapa begitu? Karena dari cerita nenek moyang kita dulu, kalau buaya itu mendengar suku kenyah berjalan di sungai itu, dia mendengar suara. 29:57 Klink klink klinik seperti yang dipake perempuan gadis dayak kalo pas lagi menari. Iya seperti itu jadi nenek moyang kita cerita kalau orang kenyah jalan ke sungai atau mandi di sungai itu mereka mendengar itu buaya buaya itu jadi mereka enggak mengganggu kalau mereka berganggap oh itu keluarga kita seperti itu. 30:17 Itu yang dipercaya dari nenek moyang kita sampai sekarang sih kita percaya hal itu. Dan juga ada juga cerita kan orang orang di desa kami itu senang banget ya nyari nyari ikan tuh nyelam ke sungai mereka nyelam. Pas mereka nyelamat itu mereka sering ketemu buaya mang. 30:32 Nah buaya buaya itu bukan buaya kecil tapi buaya buaya besar yang seharusnya kita kalau ketemu kita lari kan karena biasanya buaya buaya itu kan langsung menerkam ya kebanyakan seperti itu kan di luar desa kami banyak kejadian seperti itu. Iya tapi anehnya di sana tuh enggak seperti itu mang nah kebetulan yang sering pergi menyelam ini kan termasuk ada keluarga juga jadi kakak kakak saya itu menceritakan kalau mereka pernah pergi menyelam. 30:59 Nah pas mereka sebelum menyelam. Karena kondisinya gelap banget ya di tengah tengah sungai itu gelap banget yang mereka andil kan cuma senter kecil. Nah pas sebelum menyelam dia tuh menyentter nyenter sekitar sungai nya dia ketemu kayak matah merah gitu yang memandang karena mereka lah ini apaan pas dia nyinter lagi kan itu gede banget buayanya dia ngomong kalau buayanya besar banget, dia sampai sebenarnya takut ada rasa takut ya kan pasti kita manusiawi takut lah ketemu buaya nah dia takut terus tapi dalam hatinya berpikir. 31:32 Enggak ini loh leluhur kami kayak gitu kan terus mereka dia ngomong nek kami mau carikan kami cuman mau minta ikan di sini bukan mau. Buat macam macam seperti itu. Jadi kami ijinnya nih untuk nyelam di sini seharian katanya. 31:48 Ya sudah dia ngomong seperti itu. Si buaya itu menghilang lagi menghilang. Dia enggak ada ketemu lagi nih pas desain desain enggak ada lagi matanya, ya udah mereka, lanjut nyelam selamanya nyelam itu mereka enggak ada jujur, mereka enggak ada rasa takut, katanya. Mereka enjoy aja dia nyelam biasa aja gitu nyelamnya enggak ada rasa takut, ibaratnya kayak enggak ada buaya gitu. 32:07 Nah pas mereka kembali ke permukaan. Mereka dapat banyak ikan. Banyak banget ikan yang mereka dapat itu gede gede. Nah keesokan paginya pas mereka mau balik mereka lagi simpul simpun mereka kaget. Terkejut lah itu kok ada buaya di samping kita. 32:25 Jadi dari tadi malam dia di situ mantauin kita gitu mang mereka terkejut kan jadi kayak aduh gimana ini kita kayak arah cepat cepat nih pergi dari sini mereka baru pergi tapi buayanya santai aja buayanya malah ngelihatin mereka aja sambil simpulan simpun kayak gitu kan mang terus mereka bercanda buayanya kayak ya nek kami dapat ikannya segini aja nek kamu ambilnya segini aja mereka kayak gitu kan ngomong sama buahnya. 32:50 Nenek mau ikan katanya sama nenek sama buaya itu kan. Banyak ya langsung menghindar bayinya langsung kembali lagi ke sungai gitu kan langsung nyelam. Mungkin neneknya enggak mau kali ya kata mereka ya sudah saja mereka kembali ke perahu. Mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang. 33:06 Jadi ceritanya tuh. Si buaya ini tuh sering kedapatan pas sebagai nyelam itu enggak pernah ganggu orang orang di sana mang jadi pas kita lagi nyelam atau pas kita lagi mandi itu sering banget enggak nemu buaya di pinggir sungai atau lagi berenang itu enggak pernah ganggu orang di sana enggak agresif kayak buaya buaya yang pernah kita dapat cerita dari desa desa luar itu yang langsung menerkam orang orang di sana. 33:29 Pembicara 3 Enggak pernah ada kejadian. 33:33 Pembicara 1 Terbukti banget. 33:34 Pembicara 3 Itu yang meninggal itu siapa? Maksudnya sedang melakukan apa? 33:39 Pembicara 1 Nah, waktu itu mereka lagi menyelamang. Waktu yang hanyut itu ya iya waktu itu mereka lagi menyelam. Nah si om ini tadi kebawa hanyut karena tiba tiba waktu itu ada banjir banjir yang tiba tiba datang gitu. 33:51 Pembicara 3 Enggak marah. 33:52 Pembicara 1 Iya tiba tiba jadi dia kebawa kebawa oleh arus air itu. Makanya dia hanyut bukan karena buaya enggak waktu itu bukan. 34:00 Pembicara 3 Bukan disembunyikan buaya. 34:02 Pembicara 1 Karena sama sekali enggak ada gigitan, enggak ada apa apa. 34:06 Pembicara 3 Justru diantarkan oleh bua buaya tadi. 34:08 Pembicara 1 Buaya tadi yang bantu untuk menemukan si mayat. 34:10 Pembicara 3 Boleh tahu itu sungainya sungai apa? 34:13 Pembicara 1 Sungai malinau. 34:14 Pembicara 3 Malinau yang kejadian cerita yang diawal juga sungai. 34:17 Pembicara 1 Iya sama sungai mainan juga. 34:19 Pembicara 3 Mungkin ada pesan pesan untuk pendatang atau orang orang yang belum tahu sungai malinau ini dari mbak ana bareng kali ada yang ingin disampaikan supaya lebih berhati hati ya. 34:32 Pembicara 1 Jadi untuk mungkin teman teman yang dari pulau dari luar pulau Kalimantan yang berkunjung ataupun yang merantau ke daerah Kalimantan, tepatnya di sungai malino karena. Di sungai malino itu terdapat desa desa. Beberapa desa suku dayak kenyah juga dayak yang berbeda sup mereka itu mempercayai mempercayai bahwa buaya itu leluhur mereka sama seperti daya kenya seperti itu. 34:58 Jadi buat teman teman yang berkunjung untuk tidak sembarangan untuk tetap hati hati dan untuk mempelajari sih untuk cari tahu juga kan lebih dalam gimana sih adat yang dipegang oleh suku suku disana, apa kepercayaan mereka dan. 35:13 Mitos mitos yang mereka percaya itu seperti apa larangannya seperti apa itu harus kita cari tahu dulu jadi kita nggak sembarangan gitu untuk melakukan hal hal yang aneh. Hal hal bodoh yang biasa kita lakukan di luar pulau seperti itu sih. Jadi pesannya yang kayak gitu. 35:28 Pembicara 3 Baik terima kasih mbak ana ini kisahnya luar biasa menurut saya meski kita tidak ada di tkp ya tidak ke sana. Dari gambaran kisah ini kita sudah mendapat informasi bahwa buaya yang di sana itu bukan buaya sembarangan ya. 35:44 Desanya mbak anna ini sudah maju. 35:49 Pembicara 1 Untuk sekarang sudah maju dan jaringan itu baru masuk di tahun ini. 35:54 Pembicara 3 Sudah bagus ya four. 35:55 Pembicara 1 G itu baru masuk tahun ini. 35:58 Pembicara 3 Kalau jalan jalannya. 35:59 Pembicara 1 Jalannya belum mulus sih kalau sampai ke kampung ke desa desanya belum. 36:04 Pembicara 3 Wisata apa aja di sana kalau yang bisa dikunjungi wisatawan? Nah. 36:07 Pembicara 1 Kebetulan di desa saya itu desa wisata. Di sana ada air terjun ya. Wisatanya lebih tepat kayak terjun sih. Ada air terjun kembar itu disebut air terjun kembar karena air terjunnya ada 2 itu kembar di seperti goa gitu, tapi air terjunnya ada kembar. 36:25 Seperti terus ada juga eye terjun martin. Bila itu air terjunnya tinggi banget mom. Tapi jujur saya belum pernah sana sih dekat ya. Tapi saya belum merasa ke sana karena saya takut. Saya takut pacat. Dan di sana kan? 36:39 Pembicara 3 Masih sulit ini apa namanya aksesnya? 36:42 Pembicara 1 Iya masih sulit dan saya enggak berani ke sana. Tapi di sana sudah banyak orang orang luar juga yang pernah eksplor ke sana untuk ke wisata wisatanya. 36:51 Pembicara 3 Berhati hati iya ada larangan. 36:53 Pembicara 1 Juga pasti ada larangan untuk tempat tempat seperti itu. 36:56 Pembicara 3 Oke baik terima kasih mbak ana kita harus berpisah nih dan akan jumpa lagi di video selanjutnya. Terima kasih sobat mengemencam, akhirnya mengayuh undur diri dari Kalimantan Timur Samarinda assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Suku Dayak Kenyah di Kalimantan percaya bahwa buaya adalah leluhur mereka berdasarkan perjanjian antara seorang kakek dan seekor buaya yang terjadi saat kakek tersebut menyelamatkan anak buaya dari jaring ikan.
  2. Perjanjian tersebut berisi kesepakatan bahwa buaya tidak akan mengganggu keluarga suku Kenyah di sungai, dan sebaliknya suku Kenyah dilarang mengganggu buaya atau memakan dagingnya.
  3. Seorang pendatang bernama Bambang dari luar Kalimantan melanggar pantangan dengan menangkap, mengurung, dan memotong anak buaya untuk dikonsumsi bersama teman-temannya.
  4. Seorang ibu di desa sempat kerasukan induk buaya yang memohon pertolongan untuk menyelamatkan anaknya, namun tidak ada yang mengetahui lokasi anak buaya tersebut.
  5. Bambang kemudian kerasukan induk buaya, merayap seperti buaya, dan berbicara dalam bahasa Kenyah meskipun ia tidak menguasai bahasa tersebut, menyampaikan ancaman "nyawa dibayar nyawa."
  6. Meskipun tiga teman Bambang pulih setelah kerasukan massal, Bambang terus kerasukan hingga akhirnya melarikan diri ke danau dan menghilang setelah berpamitan kepada teman-temannya.
  7. Jasad Bambang ditemukan lima hari kemudian dalam kondisi hancur menyerupai kondisi anak buaya yang ia potong, dan tidak ada buaya di danau tersebut.
  8. Kisah lain menceritakan seorang warga suku Kenyah yang hanyut di Sungai Malinau dan jasadnya ditemukan utuh setelah sebulan karena diantarkan oleh buaya ke tepian sungai sebagai bentuk pertolongan sesama keluarga.

Summary:

Transkripsi ini menceritakan mitos dan kepercayaan Suku Dayak Kenyah di Kalimantan mengenai hubungan istimewa antara manusia dan buaya. Menurut Mbak Ana, seorang gadis Dayak Kenyah yang menjadi narasumber, buaya dianggap sebagai leluhur atau saudara mereka. Kepercayaan ini berawal dari kisah nenek moyang di mana seorang kakek menyelamatkan anak buaya yang tersangkut di jaringnya. Sebagai balasan, induk buaya membuat perjanjian bahwa buaya tidak akan mengganggu keluarga suku Kenyah di sungai, dan sebaliknya suku Kenyah dilarang memburu atau memakan daging buaya. Pantangan ini menjadi hukum adat yang dipegang teguh hingga kini.

Konflik utama terjadi ketika seorang pendatang bernama Bambang dari luar Kalimantan menangkap dan memotong anak buaya untuk dikonsumsi. Akibatnya, ia dan teman-temannya mengalami kerasukan massal oleh induk buaya. Bambang yang kerasukan berbicara dalam bahasa Kenyah dan akhirnya menghilang ke danau setelah menyampaikan pesan "nyawa dibayar nyawa." Jasadnya ditemukan lima hari kemudian dalam kondisi hancur, menyerupai kondisi anak buaya yang ia potong. Kisah ini diperkuat oleh cerita lain tentang seorang warga yang jasadnya diantarkan utuh oleh buaya setelah sebulan hanyut di Sungai Malinau. Pesan moralnya adalah pentingnya menghormati adat dan kepercayaan lokal bagi para pendatang.

FAQs

Menurut cerita leluhur, buaya mengenali suara gelang kaki gadis Kenyah yang berjalan atau mandi di sungai. Suara itu membuat buaya menganggap orang Kenyah sebagai keluarga, sehingga mereka tidak mengganggu.

Mereka menggunakan ritual pemanggilan buaya. Setelah ritual dilakukan, buaya akan muncul dan dapat merasuki tubuh manusia untuk berbicara.

Pendatang sebaiknya mempelajari adat, kepercayaan, dan larangan yang dipegang suku setempat. Jangan sembarangan melakukan hal yang dianggap tabu, seperti berburu buaya.

Menurut kepercayaan setempat, jasadnya sengaja tidak ditemukan sampai induk buaya melepaskan 'nyawa' korban. Kondisi jasad yang hancur disebut mirip dengan anak buaya yang ia potong.

Tidak pernah. Warga yang meninggal di sungai biasanya karena kecelakaan seperti terseret banjir, bukan karena diserang buaya.

Jasadnya ditemukan utuh di desa sebelah setelah seekor buaya besar mengantarkannya ke tepian. Buaya itu menaruh mayat di atas kepalanya sebagai bentuk pertolongan sesama keluarga.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.