Karl Marx: Manusia yang Menggadaikan Mantelnya untuk Membakar Dunia
83m 51s
Bagian pertama membahas masa muda Karl Marx dari kelahiran hingga 1841, menekankan pengaruh konversi agama ayahnya yang pragmatis terhadap identitas dan kemarahan Marx pada otoritas. Awalnya seorang mahasiswa nakal dan penyair romantik yang terobsesi pada tunangannya, Jenny, Marx kemudian beralih ke filsafat Hegel di Berlin. Di sana, ia bergabung dengan Hegelian Muda yang membalikkan dialektika Hegel untuk tujuan radikal. Namun, harapan karir akademisnya hancur ketika mentor seperti Bruno Bauer dipecat oleh rezim reaksioner Prusia. Beralih ke jurnalisme, liputannya tentang kasus "pencurian kayu" menyadarkannya bahwa hukum dan negara melayani kepentingan pemilik modal, bukan keadilan. Di Paris, pertemuan dengan Friedrich Engels—yang membawa data langsung tentang penderitaan buruh industri—mengubah arah pemikirannya. Kolaborasi mereka menghasilkan analisis tentang alienasi dalam kapitalisme, di mana pekerja terasing dari produk, aktivitas, esensi manusia, dan sesamanya. Perjalanan ini mengubah Marx dari filsuf kontemplatif menjadi revolusioner yang bertekad mengubah dunia, seperti tercermin dalam tesisnya bahwa filsafat harus bertindak, bukan hanya menafsirkan.
Selamat datang di pembahasan mendalam kita untuk beberapa pertemuan ke depan kita akan menulisurkan lorong-lorong gelap kehidupan seorang pria yang namanya sampai hari ini pun masih mengguncang dunia. Judul seri biografi ini nabi dari soho. Nah, di bagian pertama ini kita akan kembali jauh, jauh sebelum janggut lebat dan das kapital itu ada. Kita akan kembali ke awal mulanya ke masa muda Karl Marx dari tahun 18-18 sampai 1841. Jadi lupakan dulu deh citarasang pemikir tua itu. Kita akan bertemu dengan seorang anak laki-laki yang identitasnya bisa dibilang retak. Soorang mahasisuali yang doyan berdua dan seorang penyakir yang terbakar amara. Mari kita mulai, sumber-sumberandah membawa kita kekota trier di Prusia tahun 18-18. Kalau kita amikirin Marx, kan yang kebayang itu mungkin pabrik-pabrik suram di London atau barika ada revolusi di Paris. Tapi ternyata, dia lahir di kota tua yang tenang di tepi sungai Mosiel. Di klingin kebunangur. Beda banget ya, gambarannya. Sangat berbeda, trier itu kota yang dama, tapi di dalam rumah keluarga Marx sendiri ada semacam perang yang tak terlihat sebuah krisis identitas yang mendalam. Dan itu semua berpusab pada ayahnya Heinrich Marx. Nah Heinrich ini figure yang menarik sekali. Dia seorang pengacara berlihan, seorang rationalis pencarahan, pengagum falter, tapi dia lahir dengan nama "hersel". Dari garis keturunan rabiahudi yang sangat, sangat panjang, dan terhormat. Dan menjadi seorang yahu di Prusia, pada masa itu, bahkan buat pengacara sukses sekali pun, itu masalah besar. Masalah yang menentukan hidup dan mati sebuah karir. Betul. Jadi, selah era napoleon selesai, Prusia itu kembali jadi reaksioner. Mereka bikin hukum yang melarang orang yang hudim memegang jabatan publik atau jadi pengacara negara. Coba bayangkan deh posisi Heinrich. Di satu sisi, ada warisan leluhur agamanya. Di sisi lain, ada profesi yang dia bangun susah apa yang untuk keluarganya. Dia dipaksa memilih. Pilihan yang mustahil, ya? Jadi apa yang dia lakukan? Dia melakukan apa yang banyak orang pragmatis lakukan pada masanya. Dia menyerah. Dia meninggalkan judaisme, agaman dan etmoyangnya. Dia buang namah Hershell dan jadi Heinrich. Di baptis jadi protestan luteran. Dan gak lama seluruh keluarganya, termasuk kari yang waktu itu masih 6 tahun, ikuti baptis. Sejarah lahiria, masalahnya selusai. Tapi secara psikologis, wah, ini meninggalkan luka yang dalam. Gimana dampaknya buat anak sekecil itu, melihat ayahnya sendiri melakukan hal seperti itu? Apa ini akar kemarahannya? Ini pelajaran pertama-nya tentang kekuasaan. Dan pelajaranya itu, apa ya? Sangat brutal. Coba bayangkan, anda tumbuh besar, melihat ayah anda, sosok yang harusnya jadi pilar moral, ternyata harus melakukan sebuah. Ya, kemudian fikan yang dilegalkan oleh negara. Jadi dia hidup dalam keluarga yang secara budaya, sebetulnya iyahu di. Betul. Tradisinya, internalnya semua iyahu di. Tapi di depan umum, harus pura-pura jadi Kristen. Ini bukan sekedar ganti agama loh. Ini pelajaran bahwa negara dan institusi, itu punya kuasa untuk masuk kerana paling privat. Dan memaksa orang menyangkal jatidirinya sendiri? Tepat, demi bertahan hidup. Ayahnya mungkin melihat itu sebagai komprom yang perlu. Tapi buat anak yang idealis, itu adalah sebuah pohianatan yang dipaksakan. Jadi, dia melihat sistem memaksa orang yang paling dihormati, untuk berbohong. Tepat sekali, kemarahan marks pada otoritas itu nggak lahir dari buku-buku teori di perpustakaan. Lahirnya, diruang tamunya sendiri, dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, gimana struktur kekuasaan bisa membengkokkan orang baik. Jadi, itu benihnya. Itu lah benih ketindak percayaannya pada semua institusi yang mapan. Jadi, benih kemarahan pada sistem itu dari tanam sejak kecil ya. Tapi ananya, lehdakan pertamanya saturnajah itu bukan ke arah politikkan, jujur sangat personal dan terus terang liar. Benar sekali, sebelum jadi field soft, dia itu mau jadi pujang nggak. Diusia 17, Ayahnya kirim dia ke universitas bond buat belajar hukum. Harapannya yang ikutin jajaknya. Tapi, marks muda punya ide lain. Punya ide lain, betul. Lupa kan deh citra pemikir serius diruang bacak. Marks di bond itu perwujudan semangat romantisme, berapi api, sentimental, dan sangat tidak disiplin. Cetatan universitasnya lebih mirip cetatan kriminal dari pada cetatan akademis. Tertulis di sana dia gabung klop minum namanya Trierta Fern Club. Yang intinya itu, gang masiswa dari kampung halamanya. Perna di tahun polisi kampus karena mahbuk-mabukan dan membuat kegaduan di malam hari. Bakan sampai terlibat doel pedang. Ya, doel itu hal yang umum di kalangan masis wajjerman waktu itu semacam penanda 100. Dan dari salah satu doel itu, dia dapat bekas luka kecil yang permainan, tepat di atas mata kirinya. Wow. Sudah-sudah Ayahnya dari periode ini luar biasa. Isinya itu campuran antara putus asa, marah, koatir. Hendrik ngeluh soal pengeluaran kal yang gila-gilaan, gaya hidupnya yang kacau. Dan gimana anaknya yang berilihan ini koko, kayaknya nyanyain bakatnya? Hanya untuk berantem dan minum-minum. Betul. Tapi di balik semua kenakalan itu ada obsesilain yang membakar juhanya. Dan itu jelas bukan hukum. Bukan sama sekali, obsesi utamanya itu jadi penyaiir besar. Seluruh gairah kemarahan energi yang meluap-luap itu, dia tuangkan kepuisi. Puluhan puisi yang sangat dramatis penuh citarabada kehanjuran kosmik penciptaan kembali. Dan semua itu cuma buat satu orang, Jenny von Westfelen. Cinta sejatinya. Dan Jenny ini bukan gari sebyasa. Dia putri seorang barun prusia tetangganya di trier, dikenal sebagai gari secantik di Kota Dan. 4 tahun lebih tua dari Marx. Kubungan mereka itu skandal kecil, kan? Anak Borjuis berlatar ya hudi, tunangan diam diam sama putri bangsauan. Dan karum umum ujanya. Baginya, Jenny itu segalanya. Betul. Pulisinya untuk Jenny itu bukan sekedar raiwan remaja, itu manifestasi dari ambisinya yang luar biasa besar. Coba deh dengerkan kutipan ini. Ini menunjukkan pola pikirnya jauh sebelum dianggung mengomongin proletariat. Oke. Aku ingin mencengkram Tuhan dan meramukkan dunia ini menjadi puing-puing. Jika dunia kuhancur, aku akan membangunya kembali. Lebih indah di atas renuntuhan itu. Meramukkan dunia dan membangunya kembali. DNA revolutionarnya sudah ada di sana ya, tapi masih dalam bentuk puisi. Persis. Bedanya apa sih kemarahan poetis ini dengan kemarahan politiknya nanti? Nah itu dia pertanyaannya. Itu perbedaan kuncinya. Sebagai penyai romantik, dia lihat dirinya itu jenius tunggal, pahlawan baironic, yang bisa mengubah dunia lewat kekuatan kata-kata-nya. Perjuangannya itu personal, kosmik, melawan Tuhan atau takdir. Nanti, setelah dia terjun kefil safat, dia sadar masalahnya itu bukan dewa-dewa dilangit. Tapi struktur material yang sangat nyata di bumi. Musuhnya bukan lagi takdir, tapi sistem ekonomi. Dan senjatanya bukan lagi metaforapuitis. Tapi analisi sekelas yang tajam. Gairahnya sama, senjatanya yang berubah total. Dan prubahan itu dimulai waktu ayahnya sudah muak dengan kelakuannya di bond. Dia dipindahkan ke link kungan yang lebih serius, universitas Berlin yang dingin dan intelektual. Di sana, dia menemukan arena pertarungan baru. Berlin saat itu pusat intelektual jerman. Dan di universitasnya ada hantu dari seorang field suferaksasa yang baru saja meninggal. George Wilhelm Friedrich Hegel. Filsafat Hegel itu begitu dominan, begitu comprehensive, jadi Anda gak bisa menghindar. Harus dilawan atau diikutin? Betul. Awalnya Marx menolakan, dia masih coba nulis puisi dan rama. Masih dengan jiwa penyakirnya? Masih. Tapi dia merasa karyanya itu hampa dan kal. Gairah saja gak cukup. Dalam sebuah surat yang panjang dan emosional banget ke ayahnya, dia gakku udah membakar semua puisinya dan memutuskan untuk terjun total ke dalam samudra pemikiran Hegel. Dan dia gak bernang sendirian. Di Berlin, dia menemukan kelompoknya. Sebuah klub diskusir radical benama Dr. Klub. Klub, Dr. Kedengarannya kayak kelompok study biasa ya, tapi isinya bukan mahasih suab biasa. Mereka ini para yang Hegelian, atau Hegelian muda. Siapa sebenarnya mereka ini? Mereka itu anak-anak nakal dalam fiosafa Jerman. Murid murid Hegel yang berilihan seperti Bruno Bauer dan Ludwich Feuerbach, yang mengambil sistem pemikiran guru mereka dan apa yang membalikannya untuk tujuan yang sangat radical. Oke, ini bagian yang penting. Gimana mungkin fiosafa dipakaian untuk memenarkan monarki? Bisa di balik jadi senjata untuk melawannya? Bukan kayak itu kontradiktif. Dan apa sih metode di alektika Hegel yang mereka balikkan itu? Tentu. Gini loh, coba bayangkan Hegel melihat sejarah itu sebagai tangga yang terus naik. Ada sebuah ide atau kondisi sosial, itu tesis. Lalu muncul lawannya, kontradik sinya, itu antitesis. Oke. Nah, dari konflik kedua-nya, lahirlah tingkatan baru yang lebih tinggi, yang mengatasi kedua-nya, itu sintesis. Bagih Hegel, seorang konservatif, puncak tangga itu ya, negara perusia saat itu, lengkap dengan raja dan gredjanya, itu sintesi sertinggi. Jadi, menurut Hegel,
kita sudah sampai di puncak. Selasai. Tepat, nah para hegelian muda datang dan paket tangga yang sama, tapi mereka bilang, "Tunggu dulu, negara perusia ini bukan puncak. Ini adalah tesis baru yang menindas dan irasional. Kritis kradikal kami adalah antitesisnya. Dan dari pertarungan ini akan lahir sintesis baru, masyarakat yang benar-benar bebas dari monarki dan agama. Mereka mengambil mesinnya hegel dan mengarahkannya kembali ke penciptanya. Betul, sebuah pembajakan intelektual yang luar biasa. Dan bagi Marx, ini seperti menemukan kunci alam semesta. Ini sebuah pencarahan. Dia akhirnya sadar, puisi itu ada batasnya. Betul, kata-kata indah nggak bisa mengubah struktur kekuasaan. Di sini, dia menemukan senjata yang jauh lebih tajam, lebih kuat, dan lebih mematikan. Fil safat kritis. Fil safat, ditangan para hegelian muda, bukan lagi alat untuk menafsirkan dunia, tapi palu untuk menghancurkannya. Dan semenat pemberontakan barunya ini tercula sepenunya dalam disertasi doktoralnya. Yang totiknya bukan hukum atau ekonomi, tapi Filsov Yunani Kuno, kok jauh sekali dari politik. Judulnya memang tentang Fil safat, demokratus dan epikurus, tapi pilihan pahlawannya itu sangat politis. Dikata pengantarnya, dia memuja prometius. Ditan yang mencuri api dari para dewa. Betul untuk diberikan kepada manusia. Dan sebagai hukumannya, dia dirantai di batuk arang, hatinya dipatuk ke lang setiap hari. Bagi Marx, prometius itu prototipa Filsov Sejati. Pemberontaksur Gawi yang menentang segala bentuk otoritas. Kutipan dari disertasinya merangkum semangat barunya dengan sempurna. Aku benci semua dewa. Itu sebuah deklarasi perang. Bukan cuma terhadap dewa disurga, tapi juga dewa di bumi. Raja, greja, negara. Dengan gelar doktor ditangan dan sempangat prometius di dada, sepertinya jalan menuju karir akademi terbuka labor untuknya. Tapi ternyata tidak. Realitas politik kembali menghantamnya. Dan kali ini lebih keras. Raja perusia yang baru, frederik William IV adalah seorang reaksioner Sejati. Dia muak dengan para pemikir radikal ini. Dianggap mengganggu. Menggerogoti fondasi kerajaannya. Pemerintah mulai menimda keras para hegelian muda. Sensor diperketat. Ruang kebibasan intelektual yang sempat terbuka, sekarang dibanding sampai tertutup rapat. Dan puncaknya adalah apa yang terjadi pada mentor dan sahabatnya? Bruno Bauer. Itu fondis mati bagi karir akademi Smartx. Bruno Bauer, yang diharapkan bisa kasih marks posisi di universitas, dipecat karena pandangan atasnya yang belak-belakan. Dengan dipecatnya Bauer, Pinto itu tertentu selamanya. Jadi dipecatnya Bruno Bauer itu moment yang secara definitiv mengahiri harapan marks di dunia akademi. Itu paku terakhir di petimatinya, betul. Tapi sejujurnya ya, dengan karakter marks yang selat konfrontatif dan ga kenal kompromi, Pinto itu mungkin ga akan pernah terbuka lebar juga untuknya. Hmm, bener juga. System universitas perusia fat itu kan mencari kepatuhan, bukan pemberontak. Pemecatan Bauer hanya mempercipat yang tak terhindarkan. Hasilnya, di tahun 1841, karlemarks adalah seorang Dr. Phil Safat usia 23 tahun. Punya gelar, tapi ga punya pekerjaan. Ga punya uang, tapi tunangan sama putri bangsauan yang keluarganya makin ga sabar. Dan yang terpenting, dia dipenuhi amarah yang semakin besar terhadap sistem yang baru saja menolaknya. Semua teorinya tentang negara sebagai alat penindas, ini jadi pengalaman pribadi yang pahit, mimpi akademi siya Hanjur. Yang melihat langsung bagaimana negara membongkam pemikiran kritis. Betul, jadi ketika satu pintu tertutup, dia cari pintu lain. Dia memutuskan berali dari menarang gading universitas yang menolaknya, ke duniannya tayang keras. Dia terjun ke dunian jurnalisme. Senjata barunya, Phil Safat kritis akan dia gunakan bukan lagi di ruang seminar, tapi dihalaman depan surat kabar. Perjalanan kita di bagian pertama ini bernanti di sebuah persimpangan krusial. Gayrah sang penyair romantik telah dipatahkan oleh realitas politik yang kejam. Seorang pemikir baru, yang lebih tajam, lebih dingin dan jauh lebih marah, mulai terbentuk dari puing-puing mimpinya. Teman tidur sang penyair telah mati, sang revolutioner telah lahir. Selanjutnya, ia akan bertemu dengan pria yang akan mendana iperangnya. Oke, kita lanjutkan lagi penulusuran kita. Di pembahasan sebelumnya, kita akan meninggalkan Karl Marx sebagai seorang mahasis warra dikal. Nah, sekarang lupakan dulu citra mahasis wa idealis di menarang gading Phil Safat. Marx sudah terjun ke duniannya, tak? Dia jadi editor sebuah surat kabar radical di kolon, reinitid saytung? Betul, dia sudah masuk ke medan perang yang sesungguhnya. Jadi pertanyaan utama kita kali ini adalah, apasi yang mengubah seorang Phil Suf menjadi revolusioner. Momen apa yang mendorongnya dari sekedar? Katakanlah menafsirkan dunia menjadi hasrat untuk mengubahnya. Itu pertanyaan kuncinya. Dan joobanya ada di perjalanannya dari ruang redaksi yang panas di Jerman, sampai ke kafe kafe berasap di Paris. Oke, mari kita mulai dari sana. Kolon, tahun 1842. Marx usiannya baru 24, jadi editor reinitid saytung. Di bawah dia, katanya koran ini jadi suara opposisi paling berani dan circulasinya meroket. Betul, tapi titik baliknya, moment pemicu yang memubah segalanya itu datang dari isu yang keliatannya spele banget. Apa itu? Kasus pencurian kayu. Tunggu-tunggu. Pencurian kayu. Dari semua isu politik besar saat itu, kenapa justru kasus remeh ini? Justru karena itu. Gini, coba ada bayangkan situasinya ya. Selama berabat-abat, ada hak-adat yang mengijinkan petani miskin mengambil ranting-ranting kayu yang jatuh dihutan. Oke, untuk kayu bakar kan? - Iya. - Untuk bertahan hidup. Tapi kemudian, hutan-hutan ini di privatisasi, hak-adat itu di hapus. Tiba-tiba seorang nenek yang mengutranti itu dianggap kriminal. Nah, parliament rein saat itu mau mengesahkan undang-undang yang hukumannya kejam sekali untuk teja hatan ini. Jadi ini bukan lagi debat fil safat yang abstract. Ini penderitaannya, ta yang dia lihat langsung. Tepat sekali. Dan ini menghantam keyakinan fundamentalnya. Waktu itu kan, Marx itu masih seorang hegilian. Maksudnya, dia masih percaya kalau negara dan hukum itu representasi keadilan tertinggi, sesuatu yang neutral. Persis. Dia percaya negara itu peruju dan akal dan moralitas. Tapi di kasus ini, dia lihat dengan mata kepala sendiri, negara sama sekali nggak neutral. Negara, lewat hukumnya, jadi alat bagi para pemilik tana untuk meningdas orang miskin. Jadi, kesadaran pahitnya itu muncul di situ. Benar, dia sampai pada kesimpulan yang sangat tajam, hukum tidak membila manusia, hukum membila kayu. Momen itu bisa dibilang, menghancurkan seluruh bangunan fil safat hegel di kepalaannya. Dan penanyanya pasti jadi makin tajam setelah itu. Begitu tajamnya, sampai tsar Nikola satu dari Rusia secara pribadi protes keraja perusia karena tulisan tulisannya. Wow, sampai segitunya. Pengangguran dan terpaksa mengasinkan diri, pilihannya jatuh ke Paris. Paris tahun 1844. Kota Cahaya, tapi juga kawah idei ideal dan tempat pelarian politik. Betul. Dan disana lah, disebuah tempat bernama kaffedlar-regis, terjadi pertomuan yang sangat menentukan. Marks bertemu lagi dengan Friedrich Engels. Nah, ini bagian yang menarikkan, kontrasnya luar biasa kan? Di satu sisi ada Marks, intellektual yahudi yang hidup dari utang, perawakannya pendek, penampilannya berantakan. Sementara Engels itu kebalikannya. Tinggi, atletis, pandai bergau, dan ini eronit terbesarnya, dia anak seorang pemilik pabrik tekstil superkaya dari Manchester. Mereka seperti dua kepingan puzzle yang gak mungkin nyambung. Apa yang bikin mereka klop? Kita an bereka itu semacam alkimi yang sempurna. Engels membawa sesuatu yang tidak dimiliki Marks, data mentah dari jantung revolusi industri. Data mentah seperti apa maksudnya? Engels baru saja menghabiskan dua tahun di Manchester mengurus bisnis ayahnya. Tapi dia gak cuma di kantor. Dia turun langsung ke pabrik-pabrik pengab, kelorong-lorong kumuh, dan mendokumentasikan kehidupan kelas pekerja. Jadi dia melihat langsung kondisi di lapangan. Dan dia menuliskannya dalam buku yang mengguncang, di kondisi di dalam kelas di England. Isinya bukan teori, tapi faktif faktif brutal. Anak-anak kerja 12 jam sehari, orang tinggal di ruang bawah tanah. Engels membawa bukti dari tekapi. Oke, saya coba bayangkan. Jadi, Engels ini datang bahwa setum puklapuran dari lapangan? Betul. Sementara, Marks datang dengan kerangka teoritisnya semacam ilmu forensik untuk menganalisi semua bukti itu. Analogi yang sangat bagus, persis begitu. Engels menunjukkan apa yang perjadi, Marks menjelaskan mengapa itu terjadi. Dari percakapan mereka selama 10 hari di Paris itu lah, bisa di bilang, Marks is melahir. Dan dari pertemuan itu, apa yang dia besar pertama terbentuk? Sumber anda menyoroti ekonomik dan filosopikal manuskrips of 1884. Di sana ada konsep kunci, alienasi. Benar, dan penting untuk dipahami alianasi versi marks ini bukan sekedar
berperasaan galau atau melangkolis ya? Oke, jadi bukan perasaan personal. Mukan. Ini adalah sebuah kondisi objektif, faktas sosial yang diciptakan oleh kerja di bawah kapitalisme. Dia membaginya jadi mempatinkatan. Mpatinkatan? Oke, mari kita berdasarkan satu-satu yang pertama terasing dari produk yang dia buat. Bagaimana bisa? Gini, bayangkan pekerja di fabrik-perakitan ponsel. Dia pasang satu komponen yang sama ribuan kali sehari. Ponsel itu hasil kerjanya, tapi ponsel itu bukan miliknya. Dan dia tidak akan pernah bisa membelinya dengan upahnya. Tepat, semakin banyak dia berproduksi semakin miskin dia secara relatif. Prodok itu jadi kekuatan asing yang menentangnya. Itu lah ke terasingan dari produk. Paham. Lalu yang kedua, terasing dari aktivitas kerjanya sendiri. Nah, pekerjaan itu bukan lagi ekspresi diri, tapi pekerjaan yang meniksa, sesuatu yang external. Pekerja itu baru merasa menjadi dirinya sendiri setelah jam kerja selesai. Kerjanya mengwasongkan, bukan menuhi. Itu lah ke terasingan dari aktivitas kerja. Oke, dan yang ketiga, dari esensi kemanusiannya, ini agak filosofisnya. Sedikit. Marks bilang, yang membedakan kita dari hewan adalah potensi kreatif kita, yang dia sebut speci-sibing. Kita bisa membangun, mencita. Nah, di bawah kapitalisme, potensi kreatif itu direduksi jadi sekedar alat untuk bertahan hidup. Jadi kreatifitas kita cuma jadi alat untuk memberkaya orang lain? Ya, itu keterasingan dari esensi kemanusian kita. Dan yang terakhir, akibat dari semua itu? Mhmm. Manusia terasing dari sesama manusia. Rekan kerja jadi sayangan, atasan jadi penguasa, hubungan antar manusia jadi sekedar transaksi untung rugi. Jadi ini bukan cuma kredit ikonomi, ini pembelan terhadap kemanusian. Kesadaran ini lah yang akhirnya melahirkan kalimatnya yang paling terkenal itu kan? Betul, setahun kemudian di thesis on fire back, dia menulis deklarasi perangnya. Para field sof, hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara. Padahal yang terpenting adalah mengubahnya. Ini adalah titik di mana tujuannya bukan lagi kontemplasi, melainkan praksis, aksi revolusioner. Dan aksi itu tidak menunggulama. Setelah di usir lagi dari Paris, Marx dan Engels pindah ke brusels. Di sini mereka bukan lagi sekedar teoretikus. Mereka jadi aktifis politik, organisator. Mereka bergabung dengan kelompok rahasia, benama "Leak of the just" atau "Liga ke adilan". Liga ke adilan? Kedengaranya seperti. Hah, nama kelompok di komik. Siapa mereka? Haha, yah. Anggutannya kebanyakan pekerja imigranjerman. Penjahit, tukang kayu. Awalnya ideologi mereka agak kabur. Campuran sosialisme utopis, gitu, selogen mereka semua manusia bersaudara. Lalu Marx dan Engels datang dan mengubah semuanya. Mereka melakukannya dengan cara yang paling mereka kuasai. Berdebat. Mereka berargumian kalau perubahan itu gak datang dari niat baik, tapi dari perjuangan kelas. Penarum mereka begitu besar, sampai Liga ini suju untuk dirombak total. Dan lahirlah Liga Komunis, Komunis League. Tepat, namanya diubah dan yang paling penting, slogannya diganti. Dari semua manusia bersaudara menjadi seruan perang yang jauh lebih lugas. Kaumburu seluruh dunia bersatulah. Persis. Gerakan baru, slogan baru, tentu butuh sebuah manifesto. Pernyataan sikap yang jelas. Dan pada Kongres kedua Liga Komunis di London, akhir 1847, tugas itu jatuh ketangan Marx dan Engels. Mereka ditugaskan menyesun sebuah dokument yang menguraikan pandangan gerakan itu, sebuah tenggat waktu di tetap kan. Tapi setiap tanya tidak berjalan lancer ya? Sama sekali tidak. Ternyata, Marx ini seorang penundan undaulung. Ha ha ha, seorang prokrastinator. Betul, sebulan lewat, naskah itu gak kunjung datang. Dia malah sibuk berdebat dengan field suflain. Sampai Komite Pusat Liga di London, Marah, dan mengirim surat teguran keras. Mengancam akan ada tindakan di siplindar. Jadi bahkan seorang pemikir revolusiun er pun masih kena sempurat karena telat mengumpulkan tugas. Sengat manusiawi. Sangat. Akhirnya, di deskal oleh ultimatum itu, Marx mengambil penanya. Dan kalimat membuka yang akan jadi salah satu yang paling menggunceng dalam sejarah politik pun di tulis. Sesosok hantu menghantu ieropa. Hantu komunisme. Tintanya masih basah, sumbu revolusi telah dinyalakan. Dan dokument itu meledak, memicu glombang revolusi di seluruh eropa. Bergabunglah dengan kami di pembahasan selanjutnya untuk melihat bagaimana ledakan itu terjadi. Sementara itu, ada satu hal untuk undar nungkan. Jika seorang pemikir hari ini sampai pada kesimpulan yang sama dengan Marx, bahwa yang terpenting adalah mengubah dunia, kira-kira seperti apa wujud tindakan mereka di abad ke 2021 ini. Oke, kita lanjut lagi menulisuri kehidupan Karl Marx. Di episode sebelumnya, kita banyak bahas dia sebagai seorang filsof, seorang pemikir. Betul, yang merumuskan ide ideal di ruang kerjanya. Tapi sekarang, kita masuk ketahun 1848. Dan ditau ini, eh, eropa benar-benar meledak. Benar-benar meledak. Ini bukan lagi soal teori. Ini soal barikade di jalanan. Kepat, tahun 1848 itu kan dikenal sebagai musim-semi para bangsa. Glombang revolusi itu menyebar kaya api. Dari Paris, keberlin, wina, budapes, hampir seluruh benua. Dan di tengah kekacawan ini lah, kita akan melihat sisi lain dari Marx. Sisi yang sama sekali berbeda. Kita akan fokus pada dua tahun yang sangat crucial 1848 dan 1849. Di sini lah, sang filsof turun dari menaraga dingya dan menjadi seorang pejuang. Jadi, kita akan lihat bagaimana ide ideal di atulis di ujil langsung di lapangannya. Di tengah pertemuran. Betul. Rincana kita untuk pembahaskan ali ini adalah memulai dari sebuah pamflap yang dicetak secara rahasia di London. Lalu, kita akan terjun ke pusat revolusi di Jerman, menyaksikan sebuah drama di ruang pengadilan dan diakhiri dengan sebuah perjalanan yang mengubah hidupnya selamanya. Sebuah perjalanan yang tragis. Siap. Mari kita mulai. Mari. Oke, kita mulai dari London. Feburi 1848. Tepat sebelum revolusi besar itu meletus. Katanya ada sebuah dokument penting yang sedang di siapkan. Bisa digambarkan suas ananya ini kayak operasi rahasia gitu. Ya, bisa di bilang begitu. Bayangkan sebuah percetakan kecil milik imigan Jerman di London. Suas ananya pasti tegang. Mereka sedang mencetak pamflap pesanan dari kelompok revolusian air bawah tanah yang sangat kecil. Namanya Liga Komunis. Dokumen itu Manifest Their Communistician Partai. Ato yang kita kenal sekarang sebagai Manifest O Komunis. Tepat. Kalau denger Katamanifest O yang kebayang itu dokument politik yang panjang, kering. Nah, ini dia. Sama sekali tidak. Ini poin yang penting banget untuk dipahami. Text ini yang ditulis mark sebagai penulis utama dengan bantuan engels, itu bukan buku teori tebul untuk para profesor. Bukan ya. Bukan. Tujuannya adalah menjadi apa yang bisa kita sebut, bomb Molotov dalam bentuk text. Bomb Molotov dalam bentuk text. Saya suka istilah itu. Ya kan? Di design agar singkat, membakar dan mudah di sebar di kalangan pegerja. Isinya itu panggilan perang. Kalimat pembukannya saja sudah sangat terkenal dan punya nuan sayang agak menyerangkan ya. Ada hantu berkeliaran di Europa, hantu komunisme. Betul. Kenapa dia memilih kata hantu? Pilihan kata hantu atau spektar, itu jenius secara retorika. Coba pikirkan. Hantu itu kan sesuatu yang tidak bisa ditangkap. Tidak bisa ditembak, tidak bisa dipinjara. Persis. Kehadirannya terasa, menakutkan dan melintasih batas-batas negara. Dengan satu kalimat itu, Mark selanjut membingkai idinya sebagai kekuatan tak berwujud yang menghantui para penguasa, para raja, kaisar, dan kelas pemilik modal di seluruh Europa. Jadi anjamannya bukan lagi fisik, tapi ideologis. Tepat. Dan di dalam pamflet yang katanya ringkas ini, ada satu ide yang sangat provokatif, gagasan bahwa kelas pekerja yang iya sebut proletariat, pada akhirnya akan menjadi penggali liang kubur bagi kelas penguasa. Benar. Dan ide ini radikal banget pada masanya. Marks berargumen, bahwa sistem kapitalis, dengan sendirinya, menciptakan kelas yang pada akhirnya akan menghancurkannya. Jadi, kaum burjuis ini seperti menciptakan algojo bagi di mereka sendiri. Tepat sekali, kaum burjuis sukar apemilik fabrik dan modal mereka butuh kaum proletar untuk bekerja. Tapi dengan mengumpulkan mereka dalam jumlah besar di fabrik fabric dan kota, kaum burjuis secara tidak sadar memberi mereka kekuatan kolektif dan kesadaran untuk melawan. Tunggu, saat kita bicara burjuis di kontes ini, kita bicara tentang kelas pemilik modal ya. Para industrialis, pemilik fabrik, bangkir? Ya, betul. Mereka adalah kekuatan ekonomi baru yang sedang naik dauns saat itu menggantikan aristokrasi lama. Dan yang membuat manifesto ini begitu meledad, adalah soal waktu. Waktu maksudnya? Tekx ini baru saja selesai di cetak dan mulai disebar ketika revolusi berjalanan.
Pertama meletus di Paris, ini bukan sesuatu yang direncana kan, tapi sebuah kebetulan sejarah yang sempurna. Jadi manifesto tidak menyebabkan revolusi? Bukan. Tapi ia datang tepat pada saat yang tepat untuk memberikan bahasa, tujuan, dan kerangka berfikir pada kemarahan yang sudah meluap di jalanan. Jadi, tekst ini menjadi semacam bahan bakar intelektual untuk api yang sudah terlanjur berkober. Betul. Dan saat api itu membesar, maks sendiri tidak tinggal dia mendilang dan kan? Tentu tidak. Dia bukan tipe pemikir yang cuma mau nonton dari kejauhan. Begitu dengan kabar barikade di dirikan di Paris dan revolusi menyebar ke Jarman, dia tahu dimana tempatnya saharusnya berada. Dia pulang? Dia segera berkemas, meninggalkan pengasingan yang relatif aman dan pulang ke Jarman. Dia tidak pergi kepinggiran, tapi langsung kejantung revolusi di wilayah rain, tepatnya di kotak kolon. Wow, jadi citra filsof diperpustakaan itu langsung hany. Tentu ya? Apa yang dia lakukan di kolon? Apa dia ikut angkat senjata? Senjatanya sedikit berbeda. Di kolon, senjatanya adalah mesin cetak. Dia mendidikan surat kabar harian yang sangat radical, namanya "Noya reinishesaitung". Dengan subjudul, organ demokrasi. Tepat. Dan jangan bayangkan ini seperti kantor berita modern. Ini lebih mirit markas komando, propaganda revolutioner. Suasananya sangat. sangat tegang. Tegang seperti apa? Menurut berbagai sumber, kantor surat kabar itu kayak markas militer yang sedang dikepung. Para editor-nya, bahwa pistol untuk jaga-jaga. - Bahwa pistol? - Ya. Mark sendiri sebagai pemimpin redaksi, dikabarkan selalu meletakan sepucuk pistol di atas mejanya. Ini bukan untuk gaya-gaya an, kan? Tentu bukan. Ini ancaman nyata. Polis irahasia perusia bisa menyerbukan tor mereka kapan saja. Ini adalah jurnalisme yang dilakukan di bohat-todongan senjata, secara harfia. Pasti butuh biaya besar. - Dari mana dia dapat uang? - Nah. Ini adalah bagian yang menunjukkan pengurbanan personalnya. Marks, baru saja menerima warisan yang cukup besar dari ayahnya. - Oh ya? - Jumlah yang seharusnya bisa menjamin kehidupan yang nyaman untuk istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Tapi. Tapi alih-alih menggunakannya untuk keluarga, dia menghabiskan hampir seluruh warisan-nya untuk dua hal. Menjaga agar surat kabar tetap terbit, dan yang lebih ekstrim lagi. - Apa itu? - Membeli senjata unta. - Untuk para pemberontak. Dia benar-benar mempertaruhkan segalanya, huang, kebebasan, dan nyawanya. Kita sudah lihat apa yang Marks lakukan, dia bertempur lewat tulisan. Tapi bagaimana dengan sahabatnya, verdri Engels? Apa dia cuma di kantor juga? Peran Engels, jauh lebih langsung. Dia tidak hanya menulis artikal-artikal berilihan tentang strategi militeru untuk surat kabar itu. - Lalu? - Engels benar-benar memperaktikan apa yang ia tulis. Dia bergabung dengan milisi pemberontak di Jerman bagian barad daya, dan ikut bertempur dalam beberapa pertempuran. Dia benar-benar ada di Garis Depan. - Wow. - Karena keahlihan dan pengalamannya ini lah, Marks memberinya julukan sayang yang melekat sumur hidupnya. Sang general. Jadi yang satu general di Medan Perang Katakata, yang satu lagi general di Medan Perang Sungguhan. Apa tujuan akhir mereka dengan surat kabar ini di Jerman? Strategi mereka melalui noi Reini Shesaitung, sangat jelas. Mereka mendorong Garis Demokratie yang paling radical untuk melawan monarki otokratis berusia. Mereka mencoba menyiatukan semua kelompok begitu. Betul. Liberal, demokrat, sosialis, semua dibawah satu tujuan bersama. Tujuan akhir yang mereka tuliskan adalah menciptakan republik Jerman yang tunggal dan tak terpisahkan. Namun, sejarah mencetat, bahwa musim semi perabangsa ini tidak bertahan lama. Api revolusi itu akhirnya padam. Apa yang terjadi? Seperti banyak revolusi lainnya ya, glombang semangat awal akhirnya berhadapan dengan kekuatan negara yang jauh lebih terorganisir dan brutal. Menjalan tahun 1889, tentara kerajaan berasil merbut kembali kendali. Kota demi kota. Barika ada dihancurkan, para pemimpin revolusi di tangkap atau di bunuh, dan tentu saja Marx. Menjadit target utama? Tepat. Sebagai otak di balik surat kabar paling radical di Jerman, dia jadi target utama pemerintah perusia. Dia akhirnya ditangkap dan diseret ke pengadilan dikelon. Dia ditangkap. Ditu du menghasut pemberontakan bersenjata. Dia ada panmonarchi perusia. Ini ke dengerannya seperti akhir dari segalanya, kan? Betul. Situasinya sangat genting. Tuduhan seperti itu bisa berujung hukuman mati. Tapi, disini lah terjadi salah satu moment paling dramatis dan tidak terduga dalam hidupnya. Oke. Diruang sidang, dia ada panpara hakim dan juri, Marx tidak bersikap seperti terdakwa pada umumnya. Dia tidak memuhen ampun, tidak membeli diri dengan cara yang defensive. Lalu apa yang dia lakukan? Dia justru membalikan keadaan. Dia mengubah kursi terdakwa menjadi podiumnya. Menjadi panggungnya. Tepat. Selama berjam-jam, dia memberikan pedato yang sangat cerdas dan berapia pik kepada para juri. Dia tidak bicara soal kasusnya. Tapi dia menguliah him reka tentang sejarah perjongan kelas, tentang konflik antara tatanan sosial yang lama dengan yang baru. Dia pada dasarnya menempatkan seluruh sistem peradilan perusia sebagai terdakwa. Persis seperti itu. Dan bagaimana reaksi para juri terhadap kuliah dadakan ini? Hasilnya benar-benar di luar jugaan. Para juri, yang sebagian besar adalah warga kelas menengah biasa, bukan simpatisan komunis. Ternyata begitu terpesona oleh logika, kecerdasan, dan karisma Marx. - Mereka terpesona. - Sangat. Mereka melihatnya bukan sebagai penjahat berbahaya, tapi sebagai seorang pemikir brillian. Jadi, mereka membebaskannya dari semua tuduhan. Tunggu dulu, dibabaskan. - Begitu saja? - Iya. Laporan dari masa itu bahkan menyebutkan bahwa ketua juri secara pribadi, menghampiri Marx setelah sidang dan bertrimakasi atas cerama yang sangat mencerahkan. Luar biasa, dia memenangkan persidangan dengan mengubahnya menjadi ruang kelas. Tapi rasanya kemenangan ini tidak bertahan lama. Tepat. Dan ini moment yang sangat penting. Ini menunjukkan bahwa kekuatan argument bisa memenangkan hati rakiat juri itu representasinya. Tapi. Tapi. Padahal akhirnya, argument sebagai apapun tidak bergaya melawan kekuatan negara yang reprasif. Pemerintah perusia mungkin kalau di pengadilan, tapi mereka membegang kekuasan. Jadi mereka tidak bisa menjarakan ya? Jadi mereka melakukan hal lain, mereka mengusirnya. Sunat perintah pengusiran dikeluarkan, kewarganegaran perusiannya di cabut, dan dalam sekejap, Karl Marx rasmi menjadi manusia tanpa negara, stateless. Sebuah kemenangan moral yang berujung pada kekalahan politik total, bagaimana dengan surat kabarnya? Di paksa tutup, tapi sebagai aktif perlawanan terakhir, mereka melakukan sesuatu yang jadi legendah. Untuk edisi terakhir pada 19.000-1849, seluruh halaman surat kabar itu di cetak dengan. Tinta Mera. Seluruhnya dengan tinta Mera. Mera Dara. Itu adalah symbol perpisahannya menantang. Symbol Dara para Pejuang Revolusi yang telah gugur. Sekali gue sebuah janji bahwa perjuangan belum berakhir. Benar. Di halaman depan yang Mera menyalah itu, mereka menolis pesan perpisahan kepada para pekerja kolon, yang ditutup dengan kalimat. Katak-katak terakhir kami akan selalu dan dimana saja. Eman si pasi kelas pekerja. Sebuah akhir yang sangat politis dan dramatis untuk petualangannya di Jerman, ya? Ya, sangat heroik. Tapi pada akhirnya, itu hanya tinta di atas kertas. Realitas pahit berikutnya sudah menunggunya, kan? Benar. Ini membawa kita kemuman yang paling menentukan dalam hidupnya. Pengasingan. Ya, kita berali ke Agustus 1849. Bayangkan Marx yang baru saja diusir dari tanah kelahirannya, berdiri di pelabuhan Kalais, prancis. Dia menatap ke seberang selat yang berkabut, ke arah tebing putido for di Inggris, dia benar-benar terpoh jok. Tepat, Jerman sudah tertutup baginya. Dia sempat mencoba berlindung di Paris, tapi pemerintah prancis memberinya pilihan kejamp. Dia asingkan kedairah rawat terpencil di pedalaman atau pergi dari negara itu. Belginya juga sudah menutupin itu. Rapat-rapat. Jadi, dia benar-benar tidak punya tempat tujuan lain. Sama sekali. Ini adalah titik ternah dalam hidupnya sampai saat itu. Dia miskin, tidak punya rumah. Dan yang paling para, dia tidak punya negara. Tidak punya paspor, tidak punya hak di mana pun. Dan London adalah satu-satunya pilihan terakhir. Satu-satunya tempat tersisa di Europa yang masih memenerima para pemerontak, pembangkang politik, orang-orang buangan seperti-nya. Jadi saat dia naik keperahu yang akan membawanya ke London, apa yang ada di pikirannya? Apa dia merasa ini adalah akhir dari segalanya? Justeru sebaliknya, menurut catatan dan surat-suratnya, dia sangat yakin bahwa pengasingannya ini hanya sementara. Sementara? Ya, mungkin hanya beberapa minggu, atau paling lama beberapa bulan. Dia masih dipenuhi sembangat revolusi dan percaya penuh bahwa gulombang pemerontakan di Europa akan segera berkobar kembali. Dia pikir dia akan segera dipanggil pulang sebagai pahlawa. Dia tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa dia tidak akan pernah melihat jerman lagi. Dia sama sekali tidak tahu. Dia tidak menyadari bahwa pengasingan yang dia kirah hanya sementara ini akan berlangsung selama si sahidupnya. Dia tidak menyadarinya saat itu, tapi dia sedang berjalan lurus masuk ke dalam sebuah perangkap. Perangkap ke miskinan, penyakit, dan peneritaan. Perangkap soho. Revolusi telah gagal, sekarang ke laparan dimulai. di bagian empat. Dan ini meninggalkan sebuah pertanyaan penuh.
untuk underrenungkan. Kita baru saja menyaksikan Marx sang revolutionir, yang mepertarukan nyawa dan seluruh artanya. Di land dan nanti, kita akan bertemu dengan Marx yang sama sekali berbeda, seorang penyintas. Apa yang terjadi ketika seorang pemikir besar yang ingin mengubah dunia, justru harus berjuang setiap hari hanya untuk bisa membeli roti bagi anak-anaknya? Itu lah, yang akan kita telusuris lanjutnya. Selama datang di pembahasan kita, hari ini kita masuk ke babak yang mungkin paling kelam, ya, paling menyakitkan dalam biografi Karl Marx. Kita gak akan bicara soal revolutionir yang menang di podium, tapi soal seorang pria yang sedang dihancurkan oleh kehidupan, hari demi hari. Kita akan masuk ke London tahun 1850. Sebuah dekat dek yang isinya cuma kemiscinen penyakit dan teragi di keluarga yang rasanya gak masuk akal. Misi kita hari ini adalah untuk mencoba memahami gimana penderitaan yang begitu ekstrim, justru menempa sebuah pemikirannya akan mengguncang dunia. Tepat sekali, ini periode yang crucial banget. Di sini lah kemarahan Marx yang tadinya katakan lah teoretis abstract soal kapitalisma, berubah jadi sesuatu yang sangat-sangat pribadi, jadi sebuah dendam. Dan kita punya sumber-sumber yang luar biasa untuk ini, mulai dari laporan mata-matapolisi yang ngawasin di astiap saat, sampai surat-surat pribadi-nya yang aduh begitu memilukan. Semua ini akan kita pakai untuk menjawab satu pertanyaan inti. Bagaimana penderitaan pribadi yang tak terbayangkan, membentuk salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah. Das Kapital. Oke, mari kita mulai dengan latarnya. Kalau kita sebut London, mungkin yang kebayangkan Big Ben, Istana Baking Hem, Kota Yang Megah gitu ya, tapi London tempat Marx dan keluarganya terdampar di tahun 1850, itu bukan London yang sama, kan? Jauh. Jauh sekali dari itu, lupakan London Kartu Post. Ini lebih mirip perkampungan kumu dari novel Charles Dickens yang jadi nyata. Coba bayangin deh, kabut tebal yang bukan cuma dingin. Tapi baunya jelaga dan kotoran, bikin sesek nappas. Wabah Kualaira bisa menyapu satu distrik dalam semalam dan kemiskinan. Ini bukan kemiskinan biasa, tapi kemiskinan absolut. Ada di setiap sudut. Nah, di sini lah keluarga Marx tinggal. Dia partamen sempit dengan 2 kamar di 28 din Street Soho. Saat itu, Soho adalah salah satu distrik termiskin terpadat dan paling gak sehat di seluruh Europa. Dan yang luar biasa, kita gak perlu membayangkan seperti apa kondisi di dalam apartemen itu. Kita tahu persis. Dan bukan dari buku harian, tapi dari laporan mata mata. Ini beneran. Beneran, pemerintah perusia itu takut banget sama Marx. Jadi mereka kirim agen buat ngawasin dia. Laporan dari mata mata ini di tahun 1852, itu melukiskan gambaran yang mengerikan. Di Anulis, apartemennya itu kacau balau. Asap tembakau dari cerut murah Marx itu tebel banget, sampai susah napas dan mata perih. Perabotannya rusak semua, ada kursi yang kakinya cuma 3. Mainan anak-anak berserahkan di lantai yang kotor, dan dimana-mana, di meja, di kursi, di lantai. Ada tumpukan manuskrip buku, cangkir tepecah, semuanya di lapisi debu tebal. Laporan itu menyimpulkan, ini bukan rumah seorang terpelajar, tapi sarang keputus asaan. Gila sekali, hidup dalam kondisi seperti itu pasti udah berat ya. Tapi dari sumber-sumber ini, kayaknya yang paling menghancurkan bagi Marx itu bukan cuma soal gak punya uang buat makan. Ada level penderitaan lain yang lebih dalam, soal harga diri, soal kehinahan. Betul, itu poin yang penting banget. Ini bukan cuma kemiskinan, tapi penghinahan yang konstan. Ada cerita-cerita spesifik di surat-suratnya, misalnya ada saat-sat dimana dia harus menggadai kan mantelnya. Satu-satunya mantel yang dia punya, dimusim dingin landen yang berutal itu. Cuma buat bisa beli beberapa kilogram kentang dan roti. Menggadai kan mantel dimusim dingin, itu aja udah susah dibayangin. Dan ada yang lebih para. Kadang, pas mantelnya udah digadai, dia harus menggadai kan sepatunya. Bayangin deh, ironi yang kejam-gangat disini. Soorang pemikir genius yang otaknya lagi merumuskan teori ekonomi yang akan mengubah dunia, secara fisik terperangkap di dalam kamarnya yang kumu. Dia gak bisa keperpustakan buat reset, hanya karena dia gak punya sepatu atau mantel yang layak buat keluar rumah. Terpenjara oleh kemiskinannya sendiri. Dan, ya, seperti yang selain terjadi, kemiskinan absolut kayak gini sering kali bahwa tamulain yang jauh lebih kejam dari sekedar lapar atau malu. Ya, kematian. Soho itu sarang penyakit. Sanitasi hampir gak ada, air minum terjemar limbah, itu tempat berkembang biak yang sempurna buat TBC, tipus, kolera, dan anak-anak keluarga max yang kondisi fisiknya udah lemah karena kurang gisikronis jadi korban yang paling rentan. Terai jadi pertama datang di tahun 1850. Meninggalnya bayi lagi-laki mereka, Buido. Ini pukulan pertama yang benar-benar telak bagi mereka. Betul, dan sayangnya itu baru permulaan. Cuma dua tahun kemudian, pas paskah 1852, pukulan yang jauh lebih brutal menimpa mereka. Putri mereka yang baru berumbur satu tahun, Francisco jatuh sakit para karena bronkitis. Selamat tiga hari tiga malam, bayi itu berjuang untuk setiap tarikan nafas, sementara Marx dan Istrinya Jenny, ganti dan menggendongnya, Mondar Mandir tanpa henti di ruangan sempit itu mencoba menenangkanya. Ahirnya, di hari minggu paskah tubuh kecil itu menyerah. Di titu ini lah ceritanya jadi semakin gak tertahan kan. Di sini, kita lihat wajah kemiskinan yang paling mengerikan dan brutal. Waktu Francisco meninggal, jenaza kecilnya terbarin di kamer belakang. Tapi masalahnya, keluarga Marx gak punya uang sama sekali, no, bahkan gak cukup buat beli peti marti yang paling murah sekali pun. Coba dabaiankan ngerinya situasi ini. Anak Anda baru aja meninggal dan jasatnya terbarin di ruangan yang sama tempat anda dan anak-anak Anda yang lain tidur dan makan. Karena Anda terlalu miskin buat menguburkannya. Itu saya gak bisa bayangin terus apa yang mereka lakukan. Marx panik total, dialari kesana kemarin, di lingkungannya, netuk pintu para pengungsi jerman dan prancis lainnya, memohon pinjaman. Ditolak berkali-kali. Ahirnya, ada seorang tetangga, pengungsi dari prancis yang juga miskin, merasa iba. Dia mempulin semua uang yang dia punya dan memberikannya pada Marx. Pinjaman sebesar 2 ponzkirling. Uang itu cuma cukup buat beli peti mati kayu sederhana yang paling murah. Kestrinya Jennifer Westfalen, yang kan asalnya dari keluarga bangsauan prusia, dan tinggalin segalanya buat nikah sama Marx, dia nulis sesuatu tentang ini di buku hariannya kan? Ya, dan itu salah satu kutipan paling memulukan. Dia nulis, bayi kami yang malang, tidak punya tempat tidur bayi saat dia lahir. Dan bahkan tempat peristi rahatan terakhirnya pun, harus dibayar dengan uang sedekah. Hari itu, Marx jalan sendiri yang dibelakan peti mati kecil itu menuju pemakaman umum buat kau miskin. Para penulis biografinya setuju, di sini lah sesuatu dalam dirinya patah dan berubah selamanya. Kemarahan intelektualnya terhadap sistem kapitalis, kini jadi dendam yang membara. Di benaknya, sistem ini lah yang secara langsung udah membunuh anaknya. Tapi nirah ke pribadi Marx ternyata, masih punya satu tingkat lagi yang lebih dalam. Benar, nasi belum selesai sama dia, teragai di puncaknya, yang benar-benar menghancurkan juhanya terjadi 3 tahun kemudian di tahun 1855. Ya itu kematian putra kesayangannya yang berumur 8 tahun Edgar. Marx punya panggilan sayang untuknya. Mush. Apa yang bikin hubungan mereka begitu istimewa? Edgar itu anak yang cerdas, linca, penusemangat, dan satu-satunya orang di dunia yang berani marahin ayahnya. Marx yang bisa debat sengit sama kemikir terbesar Europa, bakal lulu dihadapan putrannya. Ada cerita gimana Marx bisa lagi nulis manuskripnya yang paling rumit, terus Edgar masuk dan bilang, "Mur, berintin nulis, ayu main." Dan Marx bakal langsung meletakan penanya, turun ke lantai dan main kudak-udahan sama Edgar di punggungnya. Edgar itu segalanya, bodh dia. Harapannya masa depannya? "Walu Edgar jatuh sakit?" Dia di diagnosis TBCusus penyakit yang umung banget di kalangan anak-anak miskin waktu itu. Penyakit ini mematikan secara perlahan dan menyakitkan. Begituh Edgar sakit para, Marx berhenti dari semua pegerjainya. Dia nggak lagi keperpustakaan, dia berubah jadi perawat penuh waktu. Siang dan malam dia duduk disamping tempat tidur putrannya, baca cerita, pegang tangannya, melakukan apapun buat bikin dia nyaman, sementara dia harus pasrah nonton putrannya perlahan-lahan layu di depan matanya. Tanggal namapril, 1855, Edgar meninggal dalam pelukan ayahnya. "Kali ini kehancurannya total." Total. Laporan dari teman-temannya bilang dia nyaris gila karena kesedihan. Ada sebuah cerita, meskipun agak sulit di verifikasi, bahwa pas pemakaman dalam puncak putus asalnya, dia lompat keliang lahat yang terbuka, ingin ikut dikubur bareng putrannya. Sebelum sahabatnya, Frederick Engels menariknya keluar.
Surat yang dia tulis buat engel setelah itu, itu bener-bener dokument tentang kancuran suarang manusia. Bener sekali, beberapa hari setelahnya dia nulis surat yang terkenal itu, dia bilang. Kematian anak ini telah menghancurkan hatiku dan mengoyak otaku. Aku merasa soal-olah aku baru saja di kubur hidup hidup. Sejak saat itu, teman-temannya notis perubahan fisik yang drastis. Rambut Marx yang hitam legam mulai memutih dengan cepat. Tatapannya yang dulu berapi-api jadi lebih keras, lebih dingin. Dia soal kehilangan ke percayaannya pada kemungkinan adanya kebahagian beribadi di dunia ini. Jadi setelah teragia dikaya gitu, setelah kehilangan segalanya, gimana sesuatu orang bisa bangkit lagi? Apa yang dia lakukan buat menyelurkan semua duka dan kemarahan yang luar dia saya itu pelariannya apa? Buat Marx, pelariannya bukan alprohol atau kaputus asaan pasif. Pelariannya cuma satu. Bukan segera kerja biasa, tapi kerja yang obsesif, gila dan tanpa henti. Itu satu-satunya cara dia bisa bertahan supaya ga gila. Dan pusat dari pelarian itu adalah sebuah tempat yang sangat kontras dengan rumahnya. Kontras yang luar biasa tajamnya? Setiap bagi, dia bakal jalan kaki dari apartemennya yang kumuh, busing, gelap, dan penuh kenangan menyakitkan di soho menuju sebuah tempat suci baginya. Ruang Baca Beritish Museum yang megah dan tenang. Jadi musium itu jadi suakannya. Tepat, rumahnya adalah neraka pribadi yang penuh tangisan, penyakit, dan kemiskinan. Ruang Baca Museum adalah surga intelektualnya, di sana hangat, terang, dan yang paling tenting suni. Ini satu-satunya tempat di mana dia bisa lari dari kesedihannya dan menenggelamkan dirinya sepenuhnya dalam pekerjaan. Selama bertahun tahun, dia dikenal sama para staff. Dia duduk di meja yang sama setiap hari, meja G7. Disana lah, dikelingi ribuan buku, dia mulai ngumpulin amonisi buat perangnya. Amonisi seperti apa yang dia kumpulkan disana? Ux, ini adalah lapuran resmi pemerintah inggis yang ditil banget tentang kondisi sosial dan ekonomi. Lapuran tentang kondisi mengerikan di fabric textile. Tentang pekerja anak umur 6 tahun yang kerja 14 jam sehari. Tentang ke lapuran dan penyakit yang disebabkan langsung oleh kondisi kerja yang buruk. Diangga lagi cuma bertheori dari kepalanya sendiri. Dia sekarang lagi ngumpulin bukti, fakta, data statistik, buat ngebuktian secara ilmiah kejahatan dari sistem yang paling dia benci. Dan rutinitas kerjaannya jadi semakin ekstrim ya. Gila, dari jam 9 pagi sampai musium tutup jam 7 malem, terus dia pulang ke apartemen yang sempit buat lanjut nulis, sering kali sampai jam 3-4 pagi. Dan buat nahan lapar dan kantuk, bahan bakarnya ya, cerutum murah yang diaisap terus menerus. Gaya hidup yang mengerikan ini, stress, kurang gizi, kurang tidur, nikotin konstan, mulai yang rusak tubuhnya dari dalam keluar. Dan di sini lah peneritaan fisiknya di mulai, yang juga jadi bagian dari legenda durinya. Ya, tubuhnya mulai membusuk. Dia menderita penyakit liver cronis, tapi yang paling meniksa itu bisul-bisul yang sakit banget, karbungkel yang tumbuh di sku jurtubuhnya, terutama di punggung dan pantatnya. Bisul-bisul ini kadang para banget sampai dia gak bisa duduk, bahan gak bisa berbarang. Dia terpaksan nulis sambil berdiri berjam-jam, nahan rasa sakit yang luar biasa. Dan bahkan dalam peneritaan fisiknya itu, dia masih melihatnya sebagai bagian dari pertarungannya. Ada kutipan tekenalnya soal bisul-bisul ini? Ada, dia pernah nulis dengan penudendam ke Engels. Bagaimana pun juga, aku berharap kaumbur juis akan mengingat bisul-bisulku ini sampai hari kehamat. Dia merasa soal-soal peneritaan fisiknya, pembusukan tubuhnya itu adalah manifestasi fisik dari sistem burjuis yang busuk yang lagi di analisis. Apa yang paling menarik di sini adalah, bagaimana menurut sumber-sumber ini, peneritaan fisik dan mentalnya jusru memi ciotrobosan intelektualnya? Bih atau surplus value? Secera sederhana, ini gagasan bahwa keuntungan kapitalis itu berasal dari nilai lebih yang diciptakan oleh tenaga kerja buruh, yang kemudian diambil oleh pemilik modal dan ga dibayarkan keburuh itu sendiri. Soal-olah rasa sakitnya, baik fisik maupun emosional, jadi bahan bakar langsung buat penemuan teoretisnya. Jadi, kalau kita ranku, perjalanan mengerikan di Dekadai ini, teragia di soho telah mengubah kal mark secara fundamental. Susok yang kita kenal sebelumnya, soal-olah udah mati dan dilahirkan kembali jadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Benar, bisa di bilang ada beberapa versi mark yang mati di Dinstreet. Penyayar romantis dari masa mudanya, mati, terkubur barang putranya Edgar, revolusi onir berapi-api yang berdiri di barikade pas revolusi 1848, dia juga udah lanyap. Semangat optimis itu udah padam. Hulu, apa yang tercisa? Siapa yang keluar dari puing-puing itu? Yang tercisa adalah seorang ilmu-uan dingin. Soaran pria yang hatinya udah mengeras jadi batu, menisakan hanya intellect aja yang terfokus pada satu tujuan tunggal. Yaitu membuktikan secara ilmiah dengan data dan logika yang tak terbantahkan, bagaimana dan mengapa kapitalisme menghancurkan umat manusia. Dan di tengah semua peneritaan yang tak terkatakan itu, dia lagi nulis sebuah naskarak sasa. Sebuah buku yang oleh keluarganya sendiri disebut sebagai buku terkutuk, karena buku itu mencita seluruh hidupnya, kesehatannya dan sisa-sisa kebahagian mereka. Naskar itu kelak akan dikenal dunia sebagai das kapital. Dia telah kehilangan anak-anaknya, dia telah kehilangan kesehatannya. Kini dari puing-puing kehidupannya, dia akan melepaskan sebuah monster ke dunia. Monster seperti apa itu? Dan apa dampaknya? Bergabunglah bersama kami di bagian lima untuk menyaksikan kelahiran das kapital dan gempain tereksitual yang ditimbulkannya. Sambil menunggu, kami tinggalkan satu pemikiran untuk undernungkan. Ketika kita melihat peneritaan personal yang begitu dalam, yang lahirkan sebuah karya besar, kita harus bertanya pada diri sendiri. Bisa kesebuah ide yang lahir dari rasa sakit dan dendam pribadi yang begitu membara menjadi sepenuhnya objektif dan ilmiah? Atau apakah setiap halamannya? Setiap argumentnya, selamanya akan tercetak dengan kepedihan seorang ayah yang sedang berduka? Selamat datang kembali di seri biografik kita, kali ini kita masuk ke bagian kelima. Dan ini adalah baba yang paling kelam dalam hidup marks. Lupa kandulu dia gambaran revolusi oner muda yang penuh energi. Coba bayangkan ini, seorang priatua, rambutnya sudah berubah, sakit sakitan, terkurung di sebuah ruangan pengab di London, dia sedang berpacu dengan waktu. Dan mungkin dengan kematiannya sendiri untuk menyelesaikan sebuah karya monster. Kita ada di perioda antara tahun 1984 dan 1872. Misip pembasan kita kali ini adalah untuk menelusurin raka pribadi yang marks alami seat menulis mahal karya-nya daskapital. Kita akan lihat bagaimana rasa sakit fisiknya yang luar biasa itu, justru membentuk cara dia menggambarkan sistem yang ingin dia hancurkan. Dan bagaimana sebuah pemberontakan berdarah di Paris, tiba-tiba mengubahnya dari seorang pemikir tak di kenal, menjadi orang paling terkenal, sekali gus ya paling di Benchi di seluruh Europa. Ini periode yang penuh sekali dengan paradox. Sejarah intelektual ini puncaknya. Dia sedang menyesun argumannya yang paling rumit, paling abadi. Tapi secara fisik, dia sedang hancur, benar-benar hancur. Jadi yang kita lihat di sini adalah persilangan yang mengerikan. Ada horror yang terjadi di tubuhnya dan ada horror ekonomi yang sedang dianalysis. Pendritahan pribadi-nya itu jadi semacam lensa, mungkin mikroskop untuk melihat pendritahan sebuah sistem. Oke, mari kita mulai dari situ ya dari horror yang paling personal. Sumber-sumper kita melukiskan gambaran yang sangat jelas. Mejanya berantakan ruangan penuh asap cerutumura dan di tengah semua itu, Marx sedang berjuang menyelesaikan apa yang dia sebut buku terkutuk ini. Tapi masalahnya tubuhnya sendiri soal alah-olah memberontak. Dia diserang penyakit kulit yang luar biasa menyakitkan, carbon-cals. Bisa tolong jelaskan apa sebenarnya carbon-cals ini? Karena ini bukan sekedar jarawat biasa, kan? Oh, sama sekali bukan. Jauh lebih para. Bayangkan saja, bisul-bisul yang sangat besar, meradang, penunana, dan muncul di sekujur tubuh. Sumber-sumper menyebutkan ini ada di punggungnya, di ketiyak, tapi yang paling para dan paling meniksa itu ada di area selangkangan dan bokongnya. Astaga. Rasa sakitnya itu katanya seperti ada barra api di bawah kulit. Ini yang membuatnya tidak bisa duduk berjam-jam. Jadi, mahakaryanya yang begitu tebal dan rumit itu, sebagai besar ditulis sambil berdiri, atau sambil berbarang miring menahan rasa sakit. Itu detail yang luar biasa, dia secara fisik di sikssa saat menulis tentang penyeksaan ekonomi. Ada satu kutipan dari suratnya ke engels yang benar-benar menunjukkan umur gelapnya yang has itu. Dia menulis apapun yang terjadi, aku berharap kaum burjuis akan mengingat bisul-bisulku ini sampai hari keamat. Pertanyaannya apakah ini cuma detail biografi yang menyedihkan? Atau ada kaitan yang lebih dalam antara bisul ini dengan teori yang sedang ia tulis? Tentu saja. Dan itu pertanyaan kuncinya. Ini bukan sekedar kebetulan. Bagi marks, bisul-bisul ini jadi metafora hidup. Dia merasa tubuhnya sendiri sedang membusuk dari dalam. Mengluarkan kotoran, mengluarkan rachun. Dan itu cerminan sempurna dari pandangannya tentang sempurna.
sistem kapitalisma. Jadi dia melihat sistem itu seperti itu buh yang sakit. Tepat, sebuah sistem yang juga membusuk dari dalam, yang menghasilkan krisis dan peneritaan sebagai produk sampingan yang tidak bisa dihindari. Rasas sakit pribadi-nya itu memberinya bahasa, memberinya perspektif untuk mengambarkan rasas sakit kolekatif kelas pekerja. Dia tidak hanya memikirkan eksploitasi, dia merasakannya di setiap pori-pori tubuhnya. Jadi peneritaannya menjadi bahan bakar intelektual. Dan setelah bertahun-tahun reset ke miskinan dan penyakit, akhirnya pada tahun 1867, jelit pertama das kapital terbit. Saya harus akui kalau denger das kapital yang kebayang itu grafik dan tabel ekonomi yang membosankan. Tapi sumber-sumber kita menggambarkannya hampir seperti novel horror gotik. Apa maksudnya itu? Kenapa sebuah buku ekonomi isinya penumetafora sual hantu dan vampir? Ha ha ha ha ha. Ya, karena Marx ingin menunjukkan sesuatu yang fundamental. Di balik permukaan kapitalisme yang kelihatannya rational, angka pasar untuk rugi, ada sesuatu yang sangat irasional, sesuatu yang mistis dan menakutkan. Dia sengaja pakai bahasa horror untuk menyadarkan kita, bahwa kita ini hidup di dunia yang tersihir. Coba kita bedah dua konsep intinya yang paling gotik, yang pertama, fetisisme komoditas. Fetisisme komoditas namanya saja sudah aneh. Apa itu? Marx memulainya dengan kalimat yang sangat provokatif. Dia bilang komoditas itu benda yang aneh, penuh dengan trick metafisika dan teologi, maksudnya begini. Di bawah kapitalisme, hubungan sosial antarmanusia, itu secara misterius berubah jadi hubungan antar benda. Oke, contohnya gimana? Anda pergi ke Toko, lihat sebuah ponsel, Anda tidak melihat ribuan orang yang menambang mineralnya, merakit komponernya, mengirimnya. Anda tidak melihat jam kerja mereka, keringat mereka, upah mereka, yang Anda lihat hanya benda itu dan harganya. So, lo olah nih layi ponsel itu memang ada di dalam ponsel itu sendiri ya? Persis, bukan dari kerja manusia dibaliknya. Jadi, kerja manusia jadi tidak terlihat, jadi hantu dalam masin. Dan benda-benda yang kita ciptakan ini malah seolah-olah punya kehandak sendiri yang mengendalikan kita lewat pasar. Depat sekali, benda-benda jadi hidup dan manusia jadi seperti benda. Itu lah sihir hitam kapitalisme menurut marks. Tapi, dibalik sihir itu ada kejahatan yang lebih konkret. Dan ini membawa kita kejantung analisisnya. Kemonster utamanya, nilai lebih, atau sur plus value. Oke, ini dia. Koncept yang paling sering dibicarakan, tapi mungkin paling sulit di pahami. Bagaimana pencurian tersembunyi ini bekerja? Begini cara marks menjelaskannya. So orang kapitalis membeli satu-satunya komoditas di pasar yang punya kemampuan ajay. Kemampuan untuk mencitakan nilai lebih dari dirinya sendiri. Komoditas itu adalah. Tenaga kerja. Labor power. Tenaga kerja, oke. Bekerja di bayar upah, katakanlah, cukup untuk makan, bayar sewa, dan kembali kerja besok. Menurut marks, nilai upah itu mungkin bisa dihasilkan oleh si bekerja dalam, katakanlah, 4 jam kerja, pertama. Tapi kan gak ada yang kerja cuma 4 jam sehari pada masa itu? Persis. Bekerja itu di kontrak untuk kerja 8-10 bahkan 12 jam. Jadi apa yang terjadi di jam ke 5, 6-7 dan seterusnya? Dia terus bekerja. Dia terus bekerja, terus menciptakan nilai. Tapi nilai yang iya ciptakan di jam-jam ekstra itu tidak kembali ke padanya dalam bentuk upah. Nilai itu diambil seluruhnya oleh si pemilik modal. Itu lah yang disebut nilai lebih. Kerja tadi bayar yang jadi satu-satunya sumber keuntungan. Jadi eksploitasinya tersembunyi di balik kontra kerja yang kelihatannya adil. Tepat. Dari situlah, muncul metafora yang paling kuat dan paling mengerikan dalam keseluruan buku itu. Marks mengambarkan modal bukan sekedar uang atau mesin. Tapi sebagai antitas hidup yang haus darah. Saya kan kutip langsung dari daskapital. Modal adalah kerja mati yang seperti vampir hanya hidup dengan menghisap kerja hidup dan semakin iya hidup semakin banyak kerja yang iya hisap. Dan metafora vampir itu genius vali kenapa? Karena vampir tidak menciptakan apa-apa. Iya hanya menghisap kehidupan yang sudah ada untuk melanggankan keberadaannya yang mati. Itu lah gambaran modal menurut dia. Persis. Dalam panangannya, modal itu sendiri tidak produktif. Hanya ternaga kerja lah yang produktif. Modal hanya parasit. Parasit yang menghisap nilai yang diciptakan oleh ternaga kerja untuk terus tumbuh lebih besar. Jadi, daskapital itu pada dasarnya buku otopsi masyarakat. Marks sedang membedah mayatnya untuk menunjukkan bagaimana sang vampir secara sistematis mengorbankan yang hidup demi yang mati. Analisisnya memang mengerikan. Tapi yang sering dilupakan, Marks bukan cuma seorang akan demisi diperpustakaan. Dia juga ada di medan perang politik yang sesungguhnya, kan? Maksud saya, di periode yang sama, dia sedang mencoba mengorganisir para pemburuh vampir. Tepat sekali, pada tahun 1984, dia jadi figure central dalam pendirian asosiasi pekerja internasional dikenal sebagai internasionalnya pertama. Ini upaya ambisius pertama untuk menyatukan gerakan buruh dari berbagai negara. Inggris, prancis, cerman, semua di bawah satu payung. Dan teori-nya tidak ditulis di menaragading. Banyak perdebatan senit di dalam internasionalnya, misalnya perjuangan untuk hari kerja 8 jam, itu langsung masuk ke dalam bab-bap di deskapital. Tapi organisasi ini juga penuh konflik internal kan? Saya baca di salah satu sumber kita soal persaingannya dengan seorang anarkis russia. Ah, anda bicara soal Mikael Bakunin. Ya, ini salah satu konflik paling menentukan. Bakunin itu revolutionir yang karismatik, berapi-api, tapi dia sangat tidak percaya pada segala bentuk negara atau otoritas terpusat. Dia menuduh Marx-Autoriter. Betul, bahkan ada kutipan terkenal, dimana Bakunin menjuluki Marx sebagai Bismarck dari sosialisme. Menyamakannya dengan kansler jerman yang tangan bersih itu. Perseteruan mereka pada akhirnya ikut menghancurkan internasionali dari dalam. Pertarungan antara sosialisme yang terorganisir dan anarkisme yang anti-autoritas. Jadi, bahkan di antara kaum revolutionir sendiri pertempuran terus terjadi dan pertempuran terbesar dari semuanya meletus bukan diruang rapat, tapi di jalanan Paris pada tahun 1871, Komune Paris. Bia, ini moment yang mengubah segalanya. Setelah perancis kalah perang dari prussia, para pekerja di Paris menolak untuk menyerah. Mereka mengangkat senjata, mengusir pemerintah, dan mengambil alih kota. Mereka mendirikan pemerintahan mereka sendiri, Komune Paris. Dari London, Marx menyaksikan semua ini dengan napa seterahan. Baginya, ini moment bersejarah. Dia menyebutnya sebagai upaya para pekerja untuk menyerbu surga. Apa sih yang mereka lakukan di Paris yang membuat Marx begitu bersemangat? Selama 72 hari, mereka menciptakan sebuah eksperimen radical dalam demokrasi. Mereka menghapus tentara profesional, menggantinya dengan milisirakiat, semua pejabat di pilih langsung dan bisa dipecat kapan saja. Mereka memisahkan gerija dari negara. Wow! Mereka mengambil alih pabrik-pabrik yang ditinggalkan pemiliknya dan menyerahkannya kepada para pekerja untuk dijelankan secara kooperatif. Bagi Marx ini adalah contohnya tata pertama dari apa yang iya sebut kediktaturan proletariat, sebuah pemerintahan oleh dan untuk kelas pekerja. Tapi surga itu tidak bertahan lama. Akhirnya sangat tragis dan berdarah. Sangat, pemerintah perancis yang terusir dengan dukungan diam-diam dari musuh mereka, perusia, mengumpulkan pasukan dan menyerbu Paris. Apa yang kerja di selanjutnya adalah pembantayan masal, dikenal sebagai minggu berdarah. Puluhan ribu pendukung komune, pria, wanita, anak-anak, di eksekusi di jalanan. Mimpi itu di tengalamkan dalam darah. Tunggu, jadi setelah komune dihancurkan, apa dampaknya bagi Marx secara pribadi? Dia akan cuma mengamati dari London? Nah, di sini lah peranya berubah drastis. Segera setelah komune jatu, Marx menulis salah satu pamphletnya yang paling berapi-api. The Civil War in France. Ini bukan analisis dingin. Ini adalah pembelan yang penuh gairah terhadap komune dan kecaman pedas terhadap para pembantanya. Jadi, satu pamphlet pendek itu membuatnya lebih terkenal daripada buku setebal daskapital yang iya tulis bertahun tahun. Kenapa begitu? Pertanyaan Bahbus. Karena daskapital itu teori tis, padat sulit di tembus. Tapi, The Civil War in France adalah amuni si politik murni. Di saat seluruh surat kabar Eropa mengutuk para komunar sebagai grombulan barbar, Marx justru memuji mereka sebagai martir dan pelopor dunia baru. Dia memihak secara terang-terangan. Tanpa kompromi. Itu layam membuat kaum burjuis dan pemerintah di seluruh Eropa, melihatnya bukan lagi sebagai pemikir eccentric, tapi ancaman nyata. Mereka menobatkannya sebagai arsitek intellectual di balik pemerontakan itu. Dia dijuliki Dr. Terror Mera dalam konspirasi internasional yang mengancam peradaban. Di sini lah letak ironi terbesar dalam hidupnya bukan? Setelah puluhan tahun hidup dalam kemiskinan dan ketidajalasan, namanya akhirnya dikenal di seluruh dunia. Tapi ketenaran itu datang sebagai seorang monster, sebagai musuh publik nomor satu.
dan semua ini terjadi saat kesihatannya jusru makin hancur, sebuah ironi yang sangat kejam. Dia telah membedah sang vampir, tapi proses itu seolah telah menghisap seluruh sisa kehidupannya sendiri. Dia tidak pernah punya kekuatan lagi untuk menyelesaikan jilit kedua dan ketiga daskapital secara utuh. Naskanas kata bal yang belum selesai itu nantinya akan disatukan dan ditermitkan oleh sahabatnya. Engels. Setelah kematiannya. Betul, karya terbesarnya akan selamanya menjadi monster yang belum selesai dalam hidupnya sendiri. Dia melepaskan ide yang luar biasa besar, ke dunia, tapi dia sendiri tidak hidup untuk melihat bentuk finalnya. Dan ada satu pergeseran menarik yang dicatat sumber-sumber kita di tahun-tahir hidupnya. Seiring kesihatannya yang terus menurun, energinya tidak lagi cukup untuk hidup pikok analisis fabric dan ekonomi industri. Fokus intellektualnya mulai bergeser. Kemana, di fabric keladang gandung dari mesin warp ketana? Mungkin tidak ini juga sih. Soal aulah setelah menghabiskan puluhan tahun membedah mesin artifisial kapitalisme yang menggerikan itu, di akhir hidupnya dia kembali memandang bumi itu sendiri. Mungkin dia mencari bentuk komunitas yang lebih tua, lebih organic, mencari secercaharapan atau alternatif di luar monster industri yang telah iya gambarkan dengan begitu menakutkan. Vampir itu telah terungkap, rahasia gelapnya tentang bagaimana ia menghisap kerja hidup telah dibongkar kehadapan dunia. Tapi sang pemburu vampir itu sendiri sedang secarat, dengan tubuh yang hancur dan bekerjaan yang belum selesai, apa yang akan terjadi pada warisan monster intellektual yang telah iya lepaskan? Bergabunglah dengan kami di bagian terakhir untuk menemukan jawabannya. Selamat datang kembali. Untuk penelusuran kita kali ini, kita akan membahas babak terakhir dari sebuah kehidupan yang mengguncang dunia. Betul. Tapi lupakan dulu sang revolutionir muda yang berapi-api itu, kita akan fokus kesangpah mikir di senjah hidupnya. Kita berada di London, di tahun tahun terakhir era fiktoria yang kelabu. Sumbersumber kita hari ini adalah tumpukan biografi, catatan pribadi-nya, surat-surat dan juga analisismoderen terhadap naskal yang iyatinggalkan. Dan tujuan kita adalah untuk membongkar sebuah misteri, kan? Gimana seorang pria yang mengubah arah sejarah? Justru mengahiri hidupnya dalam keheningan yang. ya, nyaris total. Benar. Kita akan melihat tragedi pribadi-nya, wawasan terakhirnya yang paling mengejutkan, dan bagaimana sebuah warisan monumental justru dimulai dari sebuah pemakaman yang sepi? Ini adalah kisah tentang akhir dari perjalanan Karl Marx. Oke, kita mulai dari tahun 1870 Han, di mata publik aeropa namanya itu jadi momok. Oh, ya. Mereka menjulukinya Dr. Terror Merah, hantu yang dianggap menginspirasi komune Paris. Sebuah pemberontakan radical, kau memperkerja yang sempat menguasai Paris carasinkat dan brutal. Tapi sumbersumber kita melukiskan gambaran yang sangat berbeda, di balik pintu rumahnya di Madeland Park Road, citar rak sasa intelektual itu. Runtuh. Benar. Yang ada di rumah itu hanyalah seorang priatua yang leh, yang tubuhnya sudah menyerah. Surat-suratnya itu penuh dengan keluhan soal penyakit. Paru-parunya rusak para, ya. Parah. Dia terus-terusan kena bronkitis kronis, terus radang selaput dada yang membuatnya kesakitan luar biasa. Belum lagi bisul-bisul dan livery yang bermasalah. Singat-uwa itu bisa dibilang sudah kehilangan au manya. Dan ini bukan cuma sual fisikan kelahan itu sepertinya merembas kepikirannya juga. Ini yang menurut saya paling tragis. Iya, iya. Di mejanya, ada tumpukan naskah yang berantakan. Itu druff untuk daskapital vol.2 dan 3. Kari agungnya tidak perasus saya. Dan otaknya pun mulai melambat. Kemampuannya untuk menyatukan ide-ide besar seperti dulu sudah jauh berkurang. Fredrick Engel sahabatnya sampai frustrasi. Betul. Dalam surat-suratnya Engel terus memohon selesaikan buku itu demi tuhan. Tapi energi Marx sudah terkuras habis. Dia tahu dia nggak akan bisa menyelesaikannya. Dia tahu. Bayangkan, rencana besarnya di tahun 1857 untuk menolis enam buku itu semua tinggal mimpi. Soal olah gunung es yang ingin iya pahat, hanya puncaknya saja yang berhasil iya selesaikan. Depat, sisanya terkubur dalam tumbuhkan catatan yang kacau. Publik melihat monster. Tapi di balik pintu, yang ada adalah seorang pria yang kalah, melawan keterbatasannya sendiri. Dia kehabisan dua hal paling crucial. Waktu dan tenaga. Oke, nah disini lah sumber-sumber kita menunjukkan sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Ini bagian yang menarik. Ada mitos bawah di akhir hidupnya mesin intelektualnya sudah benar-benar mati. Tapi ternyata, tidak. Pikiranya tidak berhenti melayinkan berali fokus. Betul. Cata-tata terakhirnya menunjukkan sebuah obsesi baru yang ame. Ilmu Alam. Dia melahap buku-buku geologi, botani, dan terutama, Kimia pertanian. Dia mempelajari karya seorang alih Kimia Jerman, justis phone Libik, soal kru sakantana. Dan apa yang dia temukan di sana membuatnya terkejut? Ini seperti kepingan pazar terakhir yang melengkapi seluruh teorinya. Jadi, dia tiba-tiba sadar. Dia sadar kalau kapitalisme punya satu korban lagi selain kaum buruh. Bumi itu sendiri. Dari sini lah, dia merumuskan konsep yang baru dipelajari serius di abad ke 2021. Kerenetakan metabolisme. Tunggu dulu. Istilah itu terdengar sangat modern. Apa maksudnya pada saat itu? Menercatatannya. Nah, yang menarik di sini. Dia berargument bahwa kapitalisme itu secara fundamental memutus si klus alami antara manusia dan tana. Oke. Gini cara kerjanya. Dan ini sangat sederhana. Kotak-kota industri mencidut nutrisi dari pedesaan dalam menutuk makanan dan bahan mentah. Lalu nutrisi itu di konsumsi di kotak. Betul. Tapi sisa sisanya, limbah manusia dan industri tidak dikembalikan ketana untuk mencuburkannya lagi. Malah dibuang begitu saja kesungai seperti temps yang pada dasarnya jadi selokan raksasa. Jadi, si klusnya terkutus. Tana terus menurus diperas nutrisinya dan tidak pernah diberi makan kembali. Ini terdengar luar biasa relevant. Sangat. Ada satu kutipan dari capital yang soal-olah ditulis kemarin. Dia menulis. Semua kemajuan dalam pertanian kapitalis adalah kemajuan dalam seni. Bukan hanya merampok pekerja, tetapi juga merampok tana. Produksi kapitalis hanya mengambangkan teknik dengan cara melemahkan sumber-sumber asli dari segala kekayaan. Tana dan pekerja. Luar biasa. Jika kita hubungkan ini, dia pada dasarnya meramalkan krisis ekologi 150 tahun yang lalu. Wow. Dia paham. Kalau mengajar untung jangka pekerja dengan menggobankan ekologi itu resep bencana. Di akhir hidupnya, dia bukan lagi sekedar pemikir revolusi industri. Dia telah menjadi seorang ekosocialis awal. Dia sadar. Apagunanya revolusi kalau planet tempat kita berpijak sudah mati. Tepat. Sebuah pemikiran yang jauh melampaui zamannya. Namun, seginius apapun otaknya, ada satu masalah yang tidak bisa dia pecahkan. Kematian. Hmm. Dan di tahun 1881, kematian datang mengetuk pintunya dengan cara yang paling kejam. Bukan untuknya. Tapi untuk istrinya, Jennifer von Westfallen. Jennifer adalah cinta sejatinya. Seorang wanita bangsauan perusia yang meninggalkan segalanya untuk hidup bersama seorang radikal miskin dalam pengasingan. Dia adalah tiang penopang hidup marks. Dan saat itu, Jenny di diagnosis menerita kanker hati stadium akhir. Para saat yang hampir bersamaan, penyakit para ruparu marks kambuh dengan sangat para. Jadi mereka berdua terbarang sakit di kamar yang bersebelahan. Terlalu lemah untuk bertemu, hanya bisa mendengar batuk satu sama lain dari balik dinding. Sebuah gambaran yang. Hmm, menyedihkan sekali. Tapi putrim mereka, Eleanor, menulis tentang sebuah moment rakhir yang luar biasa menyintuh. Iya, Eleanor bercerita suatu pagi ayahnya merasa cukup kuat. Dengan sisa tenaganya, dia berjalan tertati-tati ke kamar ibunya. Eleanor menulis, dan ini kutipannya, mereka berdua kembali muda. Dia bukan lagi orang tua yang sakit dan ibu bukan lagi wanita yang sekarat. Mereka adalah kall dan Jenny muda yang dulu bertemu di trier. Untuk sesuatu, saat cinta mereka seperti mengalakan penyakit dan waktu. Itu pertemuan terakhir mereka, tanggal 2 december 1881, Jenny meninggal. Sat Enggels datang ke rumah itu, dia menemukan sahabatnya hancur. Enggels kemudian menulis, dia hanya bisa berkata pelan. Simor juga sudah mati hari ini. Mor adalah pengilan akra mereka untuk marks. Dan Enggels benar, semangat hidup marks memang ikut terkubur bersama Jenny. Dia lingkung putus asa. Ata saran doktor, dia mencoba mencari udara hangat untuk paru-parunya. Dia pergi ke Al-Jazair. Benar, dan di sana, di tengah keterasingan dan duka, dia melakukan sesuatu yang sangat symbolis, sesuatu yang mengejutkan semua orang. Dia mencukur habis janggut dan rambutnya yang ikonik. Janggut lebat yang menjadi citranya itu, hilang begitu saja. Foto dirinya dari Al-Jazair, menunjukkan seorang pria tua botak dengan tetapan kosong. Tindakan itu sangat kuat maknanya. Sangat kuat. Seolah-olah, sana bitelah melepaskan makotanya. Dia bukan lagi mark sang icon. Dia hanya kal, seorang dudah yang berduka, yang sedang menunggu gilirannya. Perjalanannya sudah selesai. Tapi teragedit,
Itu teriata belum selesai. Nasib masih ingin memberinya satu pukulan terakhir. Januari 1883. Sebuah telegram datang. Putri sulungnya yang paling iya sayangi, Jenny Kosselchan meninggal mendadak di Paris. Pukulan itu membuatnya hancur total. Dia kembali ke London, tapi jiwanya sudah tidak ada. Menurut pembantu setianya, Lengchen de Mutz, dia tidak punya air mata lagi. Dia hanya akan duduk perjaman-jam di Kursi Berlengan, favoritnya di dekat perapian, menatap api dalam diam. Menunggu. Dan akhir itu datang dengan sangat tenang. Para tanggal 14 marat 1883, sekitar pokul 2 siang, Lengchen naik ke ruang kerjanya. Dia menemukannya tertidur di Kursinya. Lengchen segera memanggil engel siang kebetulan sedang berkunjung. Engel semasuk ke ruangan, memegang dengut nadi sahabatnya. Tidak ada. Otak yang tidak pernah berfikir selama 64 tahun, akhirnya beristirahat. Karl Marx meninggal dunia, sendirian dengan tenang dalam tidurnya. Tiga hari kemudian 17 marat 1883, pemakaman Hyde London. Kalau anda kesana hari ini, anda akan melihat sebuah monument kepala raksasa dari Perunggu, sebuah tempat ziarah. Betul. Api pada hari itu, suas ananya sangat berbeda. Pemakamannya begitu sepi, begitu sederhana. Hanya ada sebelas orang yang hadir, sebelas orang. Coba bayangkan ironinya, sebelas orang untuk seorang menusia yang gagasannya, kelak akan di anut oleh miliaran orang. Disana ada engel, Lengchen, kedua putrinya yang tersisa dan beberapa rakan sosialis. Tidak ada upacara besar, tidak ada kramayan. Hanya kesunian dan ambil musim semilan dan yang dingin. Di tepil yang lahat itu lah Friedrich Engels memberikan pidatoper pisahannya singkat namun abadi. Sebuah pidatoyang merangkum kehilupan sahabatnya, dengan sangat kuat, sekaligus meramalkan masa depan warisannya dengan akurasi yang menakutkan. Dengan suara yang mungkin bergetar, Engels berkata pada tanggal 14 marat, pukul 3 kurang sepermpat sorry, pemikir terbesar yang masih hidup, berhenti berpikir, sama seperti darwin menemukan hukum perkembangan alam organik, marks menemukan hukum perkembangan sejarah manusia. Perbandingan dengan darwin itu sangat penting ya. Sangat. Engels tidak sedang membicarakan seorang nabi atau ideolog, dia menempatkan mark setara dengan darwin sebagai seorang ilmuannya menemukan hukum fudamental yang tersembunyi. Perjuangan kelas. Betul. Lalu Engels menutup pidatonya dengan sebuah nubuat yang luar biasa. Namanya akan hidup selamanya dan begitu juga karyanya. Dan nubuat itu terbukti benar, tapi dengan cara yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan. Ini memunculkan pertanyaan penting yang menghantui kita hingga hari ini. Hantunya memang terus hidup, tapi dalam bentuk apa? Apakah dia bertanggung jawab atas gulag di Siberia, atas ladang pembantayan di Kambuja, atas rezin-rezin totaliter abad ke 20 yang memakai namanya? Ato kadi hanya seorang ilmuannya memberi kita sebuah alat, sebuah lnsakriti untuk melihat kekuasaan dan eksploitasi, dan alat itu kemudian disalahgunakan secara mengerikan oleh orang lain. Sumber-sumber ini tidak memberikan jawabannya mudah. Mereka hanya menunjukkan kerumitannya, warisannya adalah sebuah medan pertempuran ideologi siang masih berlangsung. Manusia itu telah tiada, terkubur di Hygate. Tapi idinya, hantunya terus bergantayangan. Orangnya sudah mati, tapi pertanyaannya tetap ada. Siapa yang membayar kenyamanan anda dengan darah mereka? Tidurnya nyak, jika anda bisa. [MESA]
Podcast Summary
Key Points:
Latar belakang keluarga Karl Marx, khususnya konversi agama ayahnya dari Yahudi ke Kristen karena tekanan politik, membentuk pandangan kritisnya terhadap otoritas dan institusi sejak kecil.
Masa muda Marx diwarnai oleh semangat romantik, kenakalan akademis, dan obsesi menjadi penyair, sebelum beralih ke filsafat Hegelian yang radikal di Berlin.
Pengalaman pribadi, seperti penolakan karir akademis dan peliputan kasus "pencurian kayu," mengubah perspektifnya dari filsuf teoritis menjadi revolusioner yang fokus pada perubahan material.
Pertemuan dengan Friedrich Engels di Paris memberikan data empiris tentang kondisi buruh, yang digabungkan dengan kerangka teoritis Marx, melahirkan konsep kunci seperti alienasi dalam kapitalisme.
Summary:
Bagian pertama membahas masa muda Karl Marx dari kelahiran hingga 1841, menekankan pengaruh konversi agama ayahnya yang pragmatis terhadap identitas dan kemarahan Marx pada otoritas. Awalnya seorang mahasiswa nakal dan penyair romantik yang terobsesi pada tunangannya, Jenny, Marx kemudian beralih ke filsafat Hegel di Berlin. Di sana, ia bergabung dengan Hegelian Muda yang membalikkan dialektika Hegel untuk tujuan radikal.
Namun, harapan karir akademisnya hancur ketika mentor seperti Bruno Bauer dipecat oleh rezim reaksioner Prusia. Beralih ke jurnalisme, liputannya tentang kasus "pencurian kayu" menyadarkannya bahwa hukum dan negara melayani kepentingan pemilik modal, bukan keadilan. Di Paris, pertemuan dengan Friedrich Engels—yang membawa data langsung tentang penderitaan buruh industri—mengubah arah pemikirannya.
Kolaborasi mereka menghasilkan analisis tentang alienasi dalam kapitalisme, di mana pekerja terasing dari produk, aktivitas, esensi manusia, dan sesamanya. Perjalanan ini mengubah Marx dari filsuf kontemplatif menjadi revolusioner yang bertekad mengubah dunia, seperti tercermin dalam tesisnya bahwa filsafat harus bertindak, bukan hanya menafsirkan.
FAQs
Karl Marx lahir di kota Trier, Prusia, pada tahun 1818. Kota ini merupakan kota tua yang tenang di tepi sungai Mosel, berbeda dari citra industrial yang sering dikaitkan dengannya.
Konversi ayah Marx dari Yahudi ke Kristen Protestan untuk menjaga kariernya mengajarkan Marx bahwa negara dapat memaksa individu menyangkal identitasnya. Ini menanamkan benih ketidakpercayaan pada institusi mapan dan kemarahan terhadap sistem kekuasaan.
Di Universitas Bonn, Marx muda hidup sebagai mahasiswa romantik yang tidak disiplin. Dia bergabung dengan klub minum, terlibat perkelahian, dan menghabiskan waktu menulis puisi dramatis untuk tunangannya, Jenny von Westphalen, alih-alih fokus pada studi hukum.
Kelompok Hegelian Muda, seperti Bruno Bauer, membalikkan filsafat konservatif Hegel menjadi alat kritik radikal terhadap negara dan agama. Marx terinspirasi oleh metode dialektika mereka, yang memberinya kerangka intelektual untuk menganalisis dan menentang struktur kekuasaan.
Karir akademik Marx berakhir setelah mentor dan sahabatnya, Bruno Bauer, dipecat karena pandangan radikalnya oleh pemerintah Prusia yang reaksioner. Ini menutup pintu bagi Marx untuk mendapatkan posisi di universitas dan mendorongnya beralih ke jurnalisme.
Kasus 'pencurian kayu' di Rheinland menjadi titik balik. Marx menyadari bahwa hukum dan negara tidak netral, melainkan alat penindas yang melindungi kepentingan pemilik tanah. Ini menghancurkan keyakinannya pada negara Hegelian dan memicu hasrat untuk mengubah dunia.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.