Go back

Kalau Lo Mau HIDUP Lo Tertinggal Terus, SKIP Aja Video Ini! | SUARA BERKELAS #177

0m 0s

Kalau Lo Mau HIDUP Lo Tertinggal Terus, SKIP Aja Video Ini! | SUARA BERKELAS #177

Dalam podcast "Suara Berkelas", Farhan, seorang pengusaha muda dan kreator edukasi, berbagi wawasan tentang pola pikir, kesuksesan, dan kehidupan. Ia menekankan pentingnya berpikir berbasis data dalam setiap keputusan, karena data memperkuat argumen dan mencegah mudah terpengaruh oleh orang lain. Farhan juga membahas bahwa ketakutan sering kali diwariskan dari orang tua, dan ia belajar memisahkan ketakutan tersebut dari ketakutannya sendiri, yang menjadi titik balik untuk berani mencoba usaha baru setelah beberapa kali gagal. Ia mendefinisikan kegagalan sebagai data atau percobaan yang bisa dievaluasi, bukan akhir segalanya. Sukses baginya kini berarti kebebasan waktu dan pilihan, bukan sekadar uang. Tentang perbandingan sosial, Farhan mengakui bahwa membandingkan diri tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa dikelola dengan memberi label pada emosi dan fokus pada perkembangan diri sendiri. Ia juga membahas pertemanan yang memiliki masa dan perlu dipilah berdasarkan kecocokan energi, serta pentingnya menetapkan batasan. Produktivitas Farhan dijaga melalui rutinitas pagi tanpa HP, menetapkan satu "highlight" harian, dan membagi tujuan besar menjadi langkah kecil. Ia juga menekankan konsistensi dalam berkarya dengan selalu mempertanyakan apakah konten sesuai tujuan. Dalam hal finansial, ia menerapkan dana darurat, asuransi, dan investasi terbagi. Terakhir, ia menyarankan untuk berbagi mimpi kepada orang lain sebagai bentuk komitmen moral untuk mewujudkannya, karena bisa membuka peluang kolaborasi baru.

Transcription

9149 Words, 52913 Characters

Indonesian
Pembicara 1 Lu pernah kasih ketemu orang tapi lu exhaused banget sebenarnya dia baik gitu tapi lu pulang lu capek banget. Pembicara 2 Ya pernah pernah. Pembicara 1 Itu itu berarti ya enggak cocok saja energinya kan ada yang lo tuh emang lo orangnya enggak suka ngomong berarti sama dia tuh senang ngomong itu ketakutan dia apa orang tuanya dia dia bakal hidup sepanjang masa di bawah ketakutan orang tuanya dia jadi dia enggak pernah nyoba apa yang dia mau sebenarnya. Oh gua mau berhenti membandingkan diri gue itu enggak bisa jadi kapan kapan dia bakal datang? How paling mungkin kita lakukan sebagai manusia adalah labeling the emotion. Kita kasih nama gitu. Oh kita lagi ngerasain ini nih kebanyakan orang ngerasain doang, tapi enggak sadar kalau dia lagi ngerasain itu jadi ganti deh daripada lu hemat lo naikin kamu itu benar benar merubah perspektif gue dan itu baru berubah di 2024. Di situ gua lebih menikmati hidup dan benar efeknya. Pembicara 2 Halo semuanya kembali lagi di podcast suara berkelas hari ini aku happy sekali karena kita kedatangan tamu berkelas anak muda berprestasi yang bakal bikin teman teman di sini lebih cerdas setelah nonton video ini. Ada farhan. Pembicara 1 Halo halo semua. Pembicara 2 Welcome to show. Pembicara 1 Weh. Pembicara 2 Ketika nih. Farhan aku tahu kamu masih muda banget ya. Tapi kamu punya audience yang besar sekali gitu loh. Nah bagi yang menonton ini tapi belum kena farhan siapa farhan dengan bahas yang sangat mudah dipahami. Pembicara 1 Oke. Sebenarnya sih aku tuh orangnya suka mikir. Jadi sebenarnya di audience itu miki pengennya orang orang tuh mikir ya sudah ini nih caraku berpikir jadi entah itu aku bikin bisnis atau ngajar matematika fisika karena itu yang biasa dilakukan juga ya penginnya tuh berbagi cara berpikir aja jadi dispede of the achievement juga pinginnya tuh berbagi cara berpikirnya aja pengin orang orang tuh berpikir dengan hal yang sama. Dengan logika yang sama gitu. Pembicara 2 Kenapa kamu suka orang itu berpikir gitu apa apa yang istimewa dikata berpikir itu sendiri. Pembicara 1 Gini kebanyakan keputusan itu kan enggak data driven orang lakukan jadi argumentasinya itu enggak kuat. Jadi ketika kita beropini, tapi enggak ada data di balik itu ya sebenarnya itu 0 apapun itu ya mungkin orang berpikir data driven itu diambil di decision making tingkat bisnis. Atau apa sesimpel sebenarnya kita mau milih makan a atau makan b tuh sebenarnya perlu data kan. Jadi kalau kita pilih makanan b kita tuh enggak ada data nya orang bilang. Lu kenapa enggak ambil makanan a saja ya? Lu enggak enggak kuat gitu dengan pendirian lu arah lu enggak ada backup itu. Jadi data itu penting untuk mempertahankan keputusan kita. Jadi kalau kita enggak punya data, kita enggak bisa cara cara berpikir kita salah gitu ya ya kita enggak bisa mempertahankan itu, makanya orang tuh sering arah itu tuh gampang dibelokin sama omongan orang. Misalnya kita sudah punya plan a tiba tiba orang ngomong b kita ikutnya jadi b ya gara gara kita enggak punya data yang kuat. Pembicara 2 Itu sih. Make sense, tapi di usia kami mudah sekali menurut aku ya. Terlalu cepat enggak sih? Pembicara 1 2 4 2 4 tahun ini 2 5 apakah? Pembicara 2 Terlalu cepat kayak audiensnya. Mungkin incomenya atau hal yang selama ini orang pikir itu kayak kapan aku seperti farhan gitu dipisi kamu sekarang gimana? Pembicara 1 Ngerasa sih ngerasanya sih beberapa. Iya sih agak agak cepat income karir gitu ya. Kayak orang bilang normal tuh dapat uang segini nih di umur berapa? Cuma di situ yang ngelihatnya bonus aja sih. Kadang kadang aku percaya bahwa ketika kita lebih banyak nyoba itu bakal dapat kesempatan kan. Jadi hidup ini kan kayak ngelempar koin kalau di matematika itu ada peluang sawerabilitas semakin banyak kita ngelempar koin semakin banyak juga peluang kita tuh dapat apa yang kita mau kan. Nah jadi semakin banyak nyoba. Semakin banyak juga kemungkinan kemudian itu dapat. Nah ya mungkin plusnya dulu pas kuliah tuh sering nyoba banyak hal dan akhirnya ya eurk nya itu sekarang ya wah gitu ya. Padahal sebenarnya kan ada kerja keras yang enggak kelihatan juga ya enggak dilihat orang juga begitu. Pembicara 2 Sih poin menarik yang itu ketika aku bilang lempar poin tadi which is aku sering berdebat dengan orang tentang kata kata beruntung gitu ada yang bilang kayak beruntung itu berarti dari sisi previleks doang. Oke, aku lebih senang melihat beruntung itu kayak lempar koin tadi. Mungkin 100 kali gue lempar koin ada di koin ke puluhan gitu ya keberuntungan. Pembicara 1 Betul betul. Pembicara 2 Dan orang bisa aja mengeluh karena memang aksinya yang sedikit gitu. Hempar koinnya tuh jarang sekali dan sesuai dia hanya ngelihat orang. Wah kok dia lebih cepat lebih maju. Pembicara 1 Ya mungkin orang gagal 2 kali ada yang nyoba tuh ratusan kali gagalnya 99 kali gitu ya dia berasa cuma kali, tapi sekalian berhasil tuh beng gitu tinggi gitu itu yang bikin apa ya grafiknya jadi mentok ke atas kan? Ada €1 moment satu wow momen di hidup dia yang tiba tiba kebuka sebuah pintu itu sih aku rasakan sih sebenarnya. Pembicara 2 Kapan eureka momen kamu dibukakan pintu itu? Pembicara 1 2020 uh jadi. Dulu tuh ini hal buruk sih sebenarnya ya jadi dulu tuh aku buka joki. Pembicara 2 Joki skripsi. Pembicara 1 Tugas enggak jadi tugas pas itu karena dulu kelas 10 itu kelas satu SMA ya itu sudah belajar materi materi kelas 11 dan kelas 12 karena sering ikut lomba lomba matematika, jadi sudah pahamlah materi materi kelas 12. Nah jadi dulu buka itu di tingkat regional. Ya ya di suatu kota itu buka joki dari situ dapat uang. Ternyata ngerasa. Bikin uang itu tuh enggak perlu diberi. Ya enggak harus garus sarjana dulu nih buat bikin uang masa itu terbentuk saat kuliah. Jadi aku enggak enggak nunggu kuliah selesai dulu baru making luny gitu. Oh bisa nih sambil ngapain kek di 2020. Dari dulu tuh orang tua itu enggak pernah menyarankan buka usaha wirausaha tuh paling antilah karena uh orang tua orang tuaku tuh backgroundnya di BUMN ya stable bener bener ya. Aman lah dicover semuanya sama negara. Jadi ketika ada anaknya yang coba melintasi hal yang berbeda gitu ya enggak usah pasti omongannya tuh pasti ya ya nanti enggak stabil, nanti rugi nanti bangkrut gimana tuh? Nah dari situ. Aku percaya bahwa ketakutan tuh warisan jadi orang tua kita tuh sebenarnya mewariskan ketakutan dia ke kita. Nah. Itu adalah 2 hal yang berbeda tuh. Ketakutan kita sama ketakutan orang tua. Nah ketika itu aku mikir ini ketakutan aku buat buka usaha nih ketakutan orang tua apa ketakutan aku sendiri karena aku belum pernah nyoba kenapa aku takut gitu kan ya? Akhirnya coba deh start start easy deh uh pas itu kita uh pasti aku ikut startup kampus jadi kita buka sebuah usahalah terus juga. Usaha itu gagal terus 3 bulan lagi coba lagi foto box foto box itu belum ada. Belum banyak foto box fotobox itu juga gagal dan akhirnya kita buka platform try out dan itu berhasil. Nah di beberapa percobaan lah, jadi dari situ percaya bahwa oh ini dia sebenarnya takutnya orang tua bukan takutnya aku. Nah itulah juru ke momen di mana berhasil memisahkan mana ketakutan orang tuaku mana ketakutan aku di situ aku coba berani kan wah coba deh ini kan ketakutan orang tua aku bukannya tur aku aku belum pernah. Cobain itu di situ boom. Nah orang kan selalu percaya untuk membuka pintu itu butuh sedikit restaing kita ambil sebuah resiko yang kita tuh sebenarnya takut nih. Coba deh keluar deh dikit deh itu tuh pasti akan belajar sesuatu dari sana. Pembicara 2 Gitu sih. Aku suka sekali ketika kamu bilang bahwa ketakutan itu sebenarnya warisan ya kayak semua orang bilang aku ahli waris dari keluargaku. Tapi versi ahli waris ini bisa jadi traumanya orang tua tiba tiba kebawa ke kita dan itu juga. Menerisikan bagaimana hidup kita hari ini itu itu yang berbahaya sekali ya. Tapi kita enggak ada momen jeda atau refleksi untuk berpikir, apakah ini orang tua ku ya? Atau apakah ini aku sendiri ya bagus. Pembicara 1 Ya kalau ngomongnya itu dari kecil kan kalimat itu tuh dari kecil kita terima ya pasti sudah jadi diri kita sendiri. Jadi lama lama kita tuh mikir itu adalah hal yang paling benar. Gimana kalau semua orang enggak berpikir secara logika gitu? Gimana orang enggak berpikir dengan jernih bahwa itu ketakutan dia. Apa orang tuanya dia dia bakal hidup sepanjang masa di bawah ketakutan orang tuanya. Dia jadi dia enggak pernah nyoba apa yang dia mau sebenarnya. Pembicara 2 Lah tadi ya kamu menyebutkan kata kata gagal termasuk ketika buka foto bu dan lain lain. How do define gagal itu sendiri gitu? Apakah berbeda dari 2 3 tahun lalu atau sekarang? Gagalnya justru sebagai pembelajaran atau gimana? Pembicara 1 Gagal 1 kali sih uh seram sih uh. Maksudnya ngerasa. Wah dunia ini hancur. Mungkin kegagalan terbesar yang benar benar parah ya. Dulu covid coba main saham. Pembicara 2 Oke. Pembicara 1 Cowok main saham investasi lah karena dulu taunya nabung sama investasi yang paling rendah itu deposito kan risiko paling rendah. Coba deh ke saham. Pas covid semuanya hancur kan. Nah dari situ rugi uh 1 kali itu rugi itu bukan rugi uh tenaga tapi rugi materiil ber berupa uang itu 1 kali. Mungkin rugi tenaga tuh kayak ya sudah gitu ya kalau rugi materiil tuh lebih kerasa oh ini uang yang sudah gue kumpulin tiba tiba hilang. Nah itu inget banget. Di salah satu emiten rugi tajam banget ke bawah dan dulu berpikirnya pakai sankos fel sih ya aku kesalahan berpikir kan di mana ketika kita sudah invest ke situ kita invest lagi supaya ya kan udah invest kita invest lagi deh supaya naik nih ya everyst down lah bahasa apa di investasi kita, kita terus ya akhirnya makin dalam kan itu kegagalan 1 yang benar benar membuat apa ya bisa dibilang tabungan selama ini yang kekumpul dari usaha usaha sebelumnya. Hilang dalam beberapa Minggu. Jadi benar benar mau bangkit lagi pun malas gitu. Nah dari situ aku belajar sebenarnya dalam kegagalan ya udah ini pembelajaran aja. Aku anggap tuh uang belajar walaupun gede ya itu uang belajar karena aku di usia yang muda untuk dapat uang segitu juga susah ya bahasanya kalau start dari zero lagi ya enggak ada salahnya dong masih banyak nih masih banyak waktu ya sudah akhirnya coba bangkit lagi dan usaha lagi dan ya. Akhirnya berjalan berjalan aja sampai sekarang bahkan masih investasi. Jadi lebih lebih mentalnya. Lebih kuat lah untuk investasi. Jadi memang. Kalau mendefinisikan gagal aku nganggapnya. Sekarang tuh gagal tuh sebagai data, jadi ketika gagal ya sudah berarti hal itu sudah enggak worth apa yang perlu dirubah, apa yang perlu dievaluasi? Nah serunya sih sekarang kegagalan nganggepnya udah jadi variabel aja udah jadi oh ini percobaan 3 gagal oh ini percobaan 4 jadi sudah enggak mendefinkan itu oh ini gagal tuh enggak ini lebih ke percobaan ke sekian bahasanya pilot project lah gitu jadi kalau yes oke kalau no ya udah kita coba yang lain gitu. Lebih kayak gitu. Pembicara 2 Sih los subversion kalau kata orang ketika lu dapat 100 juta happy tapi enggak biasa aja gitu pasti hilang 100 juta tuh perasaannya lebih emosional, lebih stress gitu. Jadi gitulah kehidupan terutama kalau berkaitan dengan uang ya psikologi keuangan gagal sebagai data kalau kita zoom out lagi ya gagal itu memang bagian atau partikel partikel dari kehidupan itu sendiri which is itu bisa membawa farhan ke farhan sekarang gitu oke aku gagal karena saham tadi thesuai aku mau mengambil pelajaran seb. Data untuk kalau coba lagi ke depan mungkin lebih kritis lebih pakai data yang akurat ya di balik sekarang how do you defines success itu sendiri? Pembicara 1 Mungkin uh pengertian suksesnya juga ganti ganti sih kalau dulu ya mikirnya anak muda umur 19 apa sih? Sukses ya punya uang ya kan punya uang yang banyak. Nah sekarang karena makin sibuk rasanya tuh sukses tuh. Punya free time kebebasan. Nah kebebasan tuh luas juga kan? Artinya kebebasan lebih ke kita nentuin kapan kita istirahat kita nentuin kapan kita kerja kita nentuin kapan kita mau makan gitu jadi bagiku itu itu sebuah definisi dari sukses di mana kita tuh masih kalau saat ini kan belum ya masih kayak ada aturannya lah dia hidup tuh uh sebebas itu itu sukses jadi kita mau bangun 10:00 kayak 11 kek ya bahasa kerennya financial freedom lah. Nah itu sih jadi lebih ke kebebasan memilih karena dulu uh aku anggap ya. Kerja tuh pakem kerja tuh pakem di kantor gitu. Dan setelah punya uang mikir bahwa oh gue punya kebebasan nih untuk milih kerjaan dan rata rata fresh grad yang gue kan fresh graduate 2023 rata rata gue tuh coba obrolin itu karena kan karir itu adalah hal yang paling uh. Mereka tuh pusingin dulu ya pas reskrat ya coba ngobrol karir ya pas kita udah lulus kuliah rata rata tuh orang tuh udah punya satu tujuan tertentu oh gua punya mau ke perusahaan a mau ke perusahaan b? Gue coba bilang kayak. Lo kenapa enggak nyoba bikin ini deh ya gue enggak punya pilihan gitu di situ gue sadar bahwa orang tuh enggak semuanya tuh bisa bergerak bebas karena enggak ada safety net nya kan mereka ngerasa enggak aman nih kalau gue enggak ke situ itu yang membuat gue sadar bahwa kebebasan itu mahal itu itu definisi dari sukses bahwa ketika oh kita pengin nyoba a kita tuh enggak mikirin ke belakang gitu loh. Oh kita pengin nyobain a nanti gimana ya ini itu tuh enggak perlu dipikirin kalau lo memang sudah sukses gitu. Pembicara 2 Gitu parade kehidupan orang anggur sekarang tuh berdoa mereka bakal sibuk sekali. Para sibuk sekali berdoa supaya punya waktu luang untuk dirinya sendiri. Saya. Fardhux kehidupan ya. Tapi kan di usia 2 puluhan kita ngomongin gagal. Maksudnya udah pada umumnya gitu ya. Dan yang lebih pada umumnya lagi yaitu ketika ngomongin tentang membandingkan diri dengan orang lain. Ketika kita aku yakin ya ada teman teman sepantaran farah itu ngerasa bahwa. Wah gue secure nih ketemu farhan gitu. Gue farah lebih cepat sekali gitu, padahal mereka enggak tahu di balik itu ada waktu luangnya lu korbanin mungkin jam tidur mungkin effort belajar yang mereka enggak tahu gitu tapi masuk ke diri lu sendiri sekarang di tahap sekarang bagaimana lu ngelihat perbandingan itu sendiri dalam kehidupan ini? Pembicara 1 Hm jadi ini sebenarnya masalah diri gue juga uh, gua sering juga membandingkan diri sama orang yang lebih di atas ya. Nah gue coba kulit ini secara sign sign ya. Pembicara 2 Secara. Pembicara 1 Sains gue coba kulik gue sudah nyoba nyari banyak hal dan ternyata jawabannya itu untuk menghilangkannya tuh enggak ada jadi lo mau ngilangin. Lo membandingkan diri itu enggak bisa lo mau nilai oh gue mau berhenti membandingkan diri gue itu enggak bisa jadi kapan kapan dia bakal datang. Jadi kalau lo sadar dia tuh datang pas lu lagi oke oke aja kadang lo lagi oke oke aja tiba tiba eh gue ngebandin diri nih gitu. Nah jadi di situ gue lihat secara sains hal paling mungkin kita lakukan sebagai manusia adalah labeling the emotion, kita kasih nama gitu. OO kita lagi ngerasain ini nih kebanyakan orang ngerasain doang tapi ga sadar kalau dia lagi ngerasain itu gue gue coba kasih nama nih ke emosi ini. Oh gue lagi membandingkan diri. Nah dari situ kita bisa berpikir oh ketika kita udah mulai membandingkan diri, apa yang perlu kita lakukan nih kalau gue pribadi sebenarnya caranya beda beda ya kalau gue pribadi. Ketika gue udah mulai memberikan diri, ya sudah gue gue close sosmed gue close apapun yang lagi gue kerjain. Gue keluar gue ngopi atau gue ngapain ya apa ya doing mindfull activity lah. Nah itu yang gue lakuin. Jadi sebenarnya kalau kita ngomongin membandingkan diri itu enggak akan ada habis ya. Dan kalau kita ngomongin juga membandingkan diri itu gara gara sosial media sebenarnya salah sosial media pasal diri kita sih gitu kan menurut gue sih salah diri kitanya karena kita enggak enggak berpikir bahwa apa yang diposting di sosial media itu adalah hal yang sudah diedit 8 kali mungkin ya. Udah captionnya sudah dipikirin 3 jam terus kita lagi tiduran di kasur kita belum mandi duit pas pasan. Ngelihat itu langsung langsung insecure langsung membandingkan diri. Itu karena kita ngelihat hal yang sudah disuntik berkali kali. Kan kalau kita enggak posting sosial media, kita pun tentu ngelakuin hal yang sama. Ketika kita posting kita sudah edit beberapa kali. Caption kita pikirin banget kita mikirin kata teman teman kita, sama halnya kayak mereka yang posting gitu. Itu sih jadi enggak enggak not a good comparition sih ketika kita lihat di sosial media. Pembicara 2 Ya ada part dari bukunya farhan uncripted seni mereka salah langkah yang aku highlight. Perasaan tertinggal itu menyakitkan. Bukan karena hidup kita buruk, tetapi karena kita membandingkan ritme dan langkah hidup kita dengan kecepatannya. Kita kira dimiliki oleh orang lain. Aku headlight dengan kecepatan yang kita kira dimiliki oleh orang lain. Apa maksud kita kira dimiliki oleh orang lain. Pembicara 1 Jadi sebenarnya kan orang tuh punya tujuan beda beda ya gue enggak kalau gue ya gue pengennya impactul being impactul gitu ya ke banyak orang gue pengen achieve ini di usia sekian. Gua berkaca jadi uh, mungkin filosofi buku itu juga. Ini Antara manajer gue yang lama sama gue. Dulu manajer gue yang lama itu senang banget traveling ke luar negeri. Dia ngabisin hampir setengah tabungannya untuk ke luar negeri. Dia punya tujuan hidup di mana? Oh gua mau selagi gua hidup gua senang senang. Nah gua kebalikannya gua kayak lebih milih untuk saving gua lebih uangnya itu gua gua mikir kayak uang itu selalu harus diputar ini harus diputar diputar jadi kapan ngabisinnya kan sebenarnya? Jadi itu adalah 2 tipe orang yang berbeda dan lu enggak bisa paksain ini orang jadi elo dan lo jadi dia gitu enggak bisa jadi. Lintasannya beda, ekspektasi kita terhadap hidup juga beda kan? Nah ketika kita pengin kita ngelihat nih orang yang ibaratnya satu miliar di usia 19. Ya dia emang pengin itu dari kecil gitu lo pertanyaan pertanyaan gue ke lo sebenarnya pengin itu enggak sih? Kalau lo lo enggak pingin ya wajar kalau lo enggak dapat. Dan ketika kita pengin sesuatu, tentu kan kita ada step step untuk sampai sana kan? Kalau lu belum fix dengan tujuan lo gimana caranya lu bikin step step itu jadi step. Awalnya kan cari tujuan dulu ketika tujuan lo beda sama orang. Ngapain sih lo bandingin diri lo sama orang yang punya tujuan hidup beda itu kayak orang satu mau kebudapes satu mau ke Singapura ya lo masa bandingin diri lo yang mau ke Singapura sama orang yang mau ke budapes gitu. Itu adalah hal yang berbeda. Jadi lagi lagi sebenarnya enaknya membandingkan diri. Itu kan sama diri kita sendiri. Itu kita punya parameter jadinya. Oh, kalau kita tahun lalu lebih kurang daripada tahun kita yang sekarang, oh berarti kita menurun nih grafiknya. Tapi kalau kita bandingin sama orang lain, grafikkan enggak jelas tuh Antara kita nurun apa naiknya enggak tahu, paling enak sama diri sendiri. Oh 3 bulan yang lalu gue segini nih 6 bulan yang lalu segini, jadi itu hal yang paling gampang di track matriks yang paling gampang untuk diri sendiri adalah diri kita sendiri. Gitu. Pembicara 2 Dan ketika lu bilang tadi kayak sebenarnya lu pengin ngasih satu m itu lu pengin satu m itu atau lu pengin dihargai dengan lu punya satu m gitu kan beda konteks gitu ya itu. Pembicara 1 Itu banyak gitu kan faktornya. Jadi lo harus tahu dulu apa sih yang mau luf gitu kan. Nah untuk tahu itu kan. Bahkan menurut gue gue pun bakal ganti ganti lagi. Mungkin 2 8 tujuan gue tips berganti karena dinamis kan tujuan hidup lu. Makanya enaknya kan ambil tujuan hidup tuh kayak per 6 bulan atau per tahun. Jadi ya lu lebih gampang untuk ke civito terus sih. Pembicara 2 Apa 7 hidupnya berubah tiba tiba dalam jumlah tahun terakhir gitu. Wih boleh hak kecil boleh ke hal yang. Pembicara 1 Lebih besar dulu dulu gue pikir itu adalah semuanya finansial. Di 2020 2001 gue mati matian kerjain hal intinya ada uangnya gitu jadi matriks hidup gua tuh adalah uang sekian uang sekian uang sekian itu itu metriks. Nah sekarang metriksnya ganti lagi karena sudah bikin startup kita tuh ada daerah daerah yang pengin kita cover secara pendidikan itu tuh tercover jadi tetap angka tapi angkanya itu lebih ke impact gitu. Seberapa impact itu kita untuk Indonesia oh 1% 2% nah angka itu yang paling kita naikin uh itu mungkin ya berubah seiring waktu. Nah mungkin enggak tahu nih habis s 2 nanti tiba tiba mikirnya apa atau apa itu tuh enggak tahu. Jadi dinamis sih, tapi saat ini ya karena fokusnya di bisnis ya ngerjainnya impact di bisnisnya juga. Pembicara 2 Gitu bilang tadi finansial itu sendiri. Kalau ada dwi putar putar putar kalau pribadinya paling enggak dulu ya oke dilihat di di level apa tuh pelit itu? Pembicara 1 Ini menarik sih gue pelitnya parah oke. Jadi dulu gue. Ada cerita sama teman teman lagi ke ke ini ke curug dulu ke curug di Bogor. Nah ini obrolan sebenarnya udah 3 tahun setelah curug nah kemarin dia bilang duh itu param pelit banget tuh dulu dia kita pada makan mie dia enggak makan mie. Dia enggak mau karena bukan dia enggak lapar apa coba emang dia mau enggak mau keluarin duitnya gue kayak mikir lagi eh segitunya ya padahal makan mie doang nah padahal di situ sudah punya duit, sudah punya duit sudah ratusan juta dan gue ngerasa kayak mie kan cuma puluhan ribu kan gue sulit itu ya duit ya terus dulu juga gue sempat ngekost itu kosan benar benar parah sih maksudnya untuk lu income sekian harusnya lo enggak ngekost di situ, jadi sempat trowing back. Uh kayak oh hidup gue yang dulu tuh kok kok sedih banget ya dilihat dilihat gitu. Nah sebenarnya titik baliknya adalah gue juga tulis di buku itu di bab keuangan gue ada mention hemat itu ada batasnya, tapi kalau upgrade diri enggak ada batasnya. Sebenarnya kata kata itu dari mentor gue dulu. Jadi gue lagi nongkrong di Senopati pas itu. Gue lagi bayar vale ya Senopati vale kan agak agak ya gitu lah ya gue bilang parkir doang bentar masa 35.000. Terus uh si mentor gue bilang ya kalau lo enggak mau bayar situ ya lu enggak usah nongkrong di Senopati gitu. Iya sih, jadi deh han lo coba deh lo kan entrepreneur nih. Lo tuh enggak ada gaji bulanan. Lo kenapa enggak enggak berpikir bahwa lo tuh kerja lebih keras kan? Outputnya lebih banyak. Tapi coba deh lu living the way you one lo tuh mau hidup tuh kayak gini jadi semakin uh los pending lu. Lebih gencar lagi nyari uangnya karena semakin banyak lo kerja ya lo kinnya lebih banyak. Jadi ganti deh daripada lo hemat. Lu naikin income lu itu benar benar merubah perspektif gue dan itu baru berubah di 2024. Di situ gue lebih menikmati hidup dan benar efeknya kayak gue senang dengan apa yang gue nikmati sekarang. Dan gue tahu ketika gue nikmatin ini gue harus kerja juga. Gue harus kerja lebih keras untuk ini. Dan itu benar benar nyata itu gue tulus juga di buku itu. Jadi benar benar. Ini adalah inside yang gue enggak pernah dapatin dari umur nol tahun sampai 20 23. Berarti ya itu gua baru dapat di umur 2 3 dan itu benar benar changing cara berpikir gue. Pembicara 2 Asking berarti memang dari rumah sendiri itu tidak ada edukasi finansial langsung dari orang tua. Karena memang tadi lu bilang kayak karyawan BUMN juga. Pembicara 1 Bokap tuh ekonom jadi dia kerjaannya di kantor tuh menghitung resiko kekuatan which is orang seperti itu akan menghindari banyak resiko kan iya kan? Jadi ya kalau bisa kita harus ada saving sekian atau apa ya itu semuanya terstruktur. Dan gue setuju sebenarnya gue setuju. Tapi atsom point ketika lo income lo sekian berhak dong lu buat menikmati hidup gitu gitu. Jadi ya kalau dari sisi orang tua sebenarnya banyak edukasi tuh dari sisi. Investasi jadi investasi itu. Adalah cara lo nge grow uang yang terparkir. Nah itu sebenarnya dari orang tua dari kecil cuma investasi spesifiknya enggak dikasih tahu mereka cenderung main di low risk. Nah gue lah yang orang yang satu satunya di keluarga yang berani main di high risk gitu. Pembicara 2 Dan tadi juga rilis ketika lu bilang tentang fase politik itu emang bukan berarti kita enggak ada uang biasanya, tapi karena kita emang dari kecil itu punya warisan terhadap trauma keuangan. Resiko resiko yang pernah kita dengar dari orang tua kita sehingga jauh banget loh letusan juta sama mie cuma puluh hari itu jauh banget. Tapi kita takut sekali. Kayak opportunity cost opportunity cost itu bisa hilang karena kita makan mi sekali gitu. Aku pernah relate seperti itu. Ketika apa sih kuliah gitu? Pembicara 1 Karena mi di puncak mie di sana kan harganya 20 ribuan maksudnya kayak gitu ya mie ketika kita udah turun mienya harganya sudah beda. Kenapa gua enggak makan mi di bawah? Pembicara 2 Kenapa makan mie? Pembicara 1 Gitu kan sama sama mie tapi harganya berapa kali lipat. Tapi kan ada ya kita harus nunggu lagi lo makan di bawah, terus juga gue harus ke sana gitu gitu kenapa enggak sekalian di situ? Itu yang enggak kepikiran dulu. Pembicara 2 Iya iya atau aku ketika 1 kali naik pesawat juga pas kuliah awal itu aku mikir kok mahal banget ya makanan di bandara ya? Mending aku beli makanan di luar itu tuh. Biasanya anak anak rantau perintis itu bakal bertemu sama luka uang itu ketika bersama kali mencoba hal baru sih. Pertanyaan sederhana, farhan ketika kamu di fase farhan sekarang pastinya ada harganya harus dibayar, termasuk enggak ada waktu lagi tuh nongkrong sesering gitu sama teman teman gitu atau ada fase di mana kita overthinking karena kita kan perlahan mungkin akan meninggalkan lingkungan lama dan kita bakal belajar di lingkungan yang baru sehingga kita ngerasa bahwa apakah aku akan dianggap sombong ya karena ninggalin lingkungan yang lama, padahal untuk. Tanda kutip save improvement itu nggak apa apa itu hal yang wajar. Di fase apa, kamu sudah mulai memikirkan tentang weng ada waktu nih untuk berteman gitu atau di tahap mana kamu kamu udah mulai ngaudit nih kan pasti banyak orang yang pengin kenalan sama farhan gitu gimana dalam konteks farhan itu memahami pertemanan sekarang. Pembicara 1 Oke sebenarnya gue pernah diomongin dulu pas kuliah karena gue kuliah sambil kerja kan jadi lumayan jarang nongkrong jarang ada. Nah, tapi ya kita sudah temanan kita temanan enggak ada beef cuma diomongin aja kan omongan enggak harus selalu buruk kan ya? Lebih ke pertanyaan saja omongannya kayak kenapa ya dia tuh enggak pernah apalagi gue teknik ya teknik tuh harus kayak nyatu gitu gitu. Nah gue tuh sering hilang di angkatan karena ya gue pulang kuliah tuh harus ngerjain kerjaan jadi banyak hal yang harus gue kerjain dan gue percaya. Kita harus mengorbankan itu. Kalau gue percaya adalah ada karir, ada kesehatan keluarga dan pertemanan lo tuh harus uh bahasanya harus bunuh 2 di Antara 4 itu untuk sukses banget gitu dan plan gua adalah gua sukses pengin sukses banget gitu. Jadi gue coba ambil ya karir gua sama uh kesehatan gue itu 2 hal yang menurut gue yang harus gue prioritasin saat itu. Jadinya untuk keluarga dan temen ya jarang ketemu jarang nongkrong hal hal seperti itu dan. Gue percaya hubungan tuh enggak ada yang bertahan. Selamanya gitu kecuali keluarga atau pasangan ya. Seperti temanan tuh ada masaknya gitu dan orang bilang ada yang 1 selamanya. Oke itu satu gitu, tapi lo banyak dong teman yang lo temanan 3 tahun habis itu lu enggak pernah ketemu lagi lo temanan pas kuliah lu sudah enggak pernah ketemu lagi emang menurut gue itu normal banget ketika teman tuh ada masanya jadi teman kan ada teman inti kita ada teman main kita ada teman yang di momen itu kayak lo lagi. Mungkin kalau lo pernah di di barak TNI gitu ya karena gue pernah ya lu punya teman di situ saat itu pas udah selesai baris berbaris terus udah selesai pulang ke rumah lagi ya lu enggak pernah kontakan lagi ya sudah lu saat itu berteman tapi enggak selamanya. Jadi gue ngerasa elonya tuh bertumbuh. Tapi belum tentu teman teman lo gitu kan. Lo ya pasti bertumbuh lo tuh pasti bertumbuh. Belum tentu teman teman lu jadi ketika lu bertumbuh, lu akan menemui lingkungan baru lagi, lingkungan baru lagi, lingkungan baru lagi dan teman teman lama lo yang mungkin sudah enggak sevisi ya udah tapi bukan berarti berantem gitu kan bukan berarti berantem. Pembicara 2 Bukan berarti berantem. Pembicara 1 Ya kita sudah enggak on wone moment saja. Tapi kalau kapan kapan lo mau rich out dan main ya sudah gitu bukan berarti kita berantem. Tapi untuk cowok ya harus lebih simplify ya dalam berteman ya. Karena kalau cewek itu enggak ngobrol berapa Minggu mereka sudah kayak ngerasa. Oh lu BT ya sama gue ya kalau cowok kayaknya ya sudah gitu kan cowok tuh paham sih mungkin itu. Pembicara 2 Nah itu aku suka sekali kata kata bukan berarti berteman kayak. Aku sering bilang ini ke teman temanku kalau misalnya kamu ngeliat orang sukses, kenapa kamu harus merasa gagal? Kan? Karena enggak ses hitam putih itu kehidupan ini gitu kayak kamu enggak catatan selama sebulan apakah kamu berantem enggak kan enggak ada kata kata berantem misalnya, kan kamu cuma kayak lagi sibuk sama prioritas kamu. Pembicara 1 Sendiri ya kita kita fokus sama tujuan kita ya mereka fokus sama tujuan mereka itu 2 hal yang berbeda. Pembicara 2 Ya betul. Pembicara 1 Sebenarnya ini menarik juga sih. Aku ada tulis di buku ya ada tadi kan ngomongin ini karena pertanyaannya gimana? Caranya memilah orang kan? Menurutku tuh memilah tuh bukan berarti. Low baik oke gue terima lo jahat enggak gue enggak terima bukan gitu lebih ke lo cocok enggak sih? Jadi cocok itu bukan berarti baik jahat ya lo baik belum tentu cocok sama gue gitu untuk berteman. Nah jadi gue gue ada tulis di sini energi cek lo pernah kasih ketemu orang tapi lu exchange banget sebenarnya dia baik gitu tapi lu pulang lu capek banget. Pembicara 2 Ya pernah pernah. Pembicara 1 Itu itu berarti ya enggak cocok aja energinya kan ada yang lo tuh emang lo orangnya. Enggak suka ngomong, tapi sama dia tuh seneng ngomong. Jadi kan itu 2 hal yang berbeda kan itu itu tanda 1 terus yang 2 itu gue gue punya rules namanya friendship prayit jadi. Lo tuh bagi teman teman lo ada teman inti teman, aktivitas teman momen kadang ya teman kita main padel teman kita main tenis, teman kita main gof itu bukan berarti teman main kita juga itu kayak ya kita satu olahraga nih. Tapi kalau nongkrong ngopi kayaknya kayak enggak cocok deh. Nah itu tuh adalah hal yang berbeda karena gua ngerasain nih apalagi kritikan kerja gue tuh agak bingung merespon. Uh misalnya gua lagi nongkrong sama teman teman gue, teman teman gue ini satu kantor gitu, gue itu enggak satu kantor sama mereka. Mereka tuh ngeluhin bosnya bla bla bla bla bla bla bla bla. Jadi gue tuh lebih cenderung mendengarkan kan banyak mendengarkan tanpa memberikan opini karena satu ya gue enggak ada, enggak ada apa ya di. Pembicara 2 Situ juga terus. Pembicara 1 Juga gue enggak tahu orangnya ya gue cenderung mendengarkan dan kadang tuh exoosting bagi gue. Paham gue kayak. Gue ngerasa obrolan kita tuh kayaknya membuat energi gue tuh tertarik gitu. Beda sama teman teman gue yang sesama entrepreneur. Mungkin bidangnya jauh banget ya dia tuh di bidang apa gitu gue di bidang apa ada nyambungnya lah kayak lo ngerasa enggak sih KPI karyawan susah buat bentuknya itu jadi ada irisan yang gue ngerasa oh kita nyambung nih, at least gua ngobrol sama lu tuh gue senang karena ada satu hal yang sama. Mungkin kalau pas tingkat SMA kan ya? Semua orang sama gitu loh. Iya kita kita belajar matematika ya lo juga belajar matematika. Gue lihat fiskal, tapi ketika kerja tuh ada orang yang kerjanya di mana ada yang di mana. Jadi itu adalah hal yang kurang nyambung gitu. Kadang itu itu yang gue rasain. Makanya gue coba membagi mana teman uh inti gue, mana teman aktivitas gue, mana teman yang ada di momen itu doang. Nah terus 3 tuh gue tuh selalu pakai boundary starter sente jadi gue ketika ngobrol sama orang tuh kayak 1 kali gue udah kata kata pamungkas untuk nilainya mereka gitu. Nah uh gua tuh ketika sudah agak akrab gitu ya. Ngobrol gitu ya. Misalnya, gua lagi WFC. Gue bilang ke mereka kayak eh gue ada kerjaan nih agak agen. Boleh enggak gue laptopan dulu. Nah ketika gue laptopan misalnya, mereka tuh enggak ada 30 menit atau 45 menit. Mereka tuh ngajak gue ngobrol lagi spesifik tentang apa? Which is gue terdistraksi. Gue ngerasa lu enggak cocok aja sama gue karena gue mencari orang yang mengerti mana boundaries sih. Jadi ketika lo FC kan lo kalau sering WFC lu sadar sama teman yang cocok untuk diajak WFC, ada yang enggak walaupun sama sama buka laptop sebenarnya. Karena WFC itu bisa jadi enggak produktif karena lo ngobrol lama kan sesuai judulnya aja WFC work ada worknya kan ya kalau lo enggak work lu berarti lu cuma talk from cafe aja bukan work from cafe kan itu salah satunya sih yang gue coba bikin sistem di diri gue bahwa oh next time gua kalau WFC kayaknya enggak bagus deh sama dia, tapi bukan berarti gue enggak temenan lagi lagi gue bukan enggak temenan, tapi untuk WFC kayaknya enggak oh kalau kita ngobrol biasa tanpa laptop konteksnya kita memang. Enggak bawa laptop ya? Emang kita pengen nongkrong ya udah lot lo ngomong gue bales gue dengerin gue, ngomong lo dengerin gitu kan beda ketika kalau SCM memang harus fokus kan. Pembicara 2 Gitu sekali sekarang banyak orang yang kayak memaksakan teman kantornya. Harus jadi teman dia lari bareng kerjain sesuatu bareng di luar kantor gitu. Itu bukan bukan definisi teman yang simpel sebenarnya itu kayak mempribet gitu loh. Ada course yang pernah lu pasti pernah dengar ini yang dibilang kayak teman kampus lu teman kantor lu. Uh atau siapa yang lu kenal ya yang punya kontak sama lo itu bukan berarti teman lu kan kayak bedain teman kampus kan teman kantor yang lain. Pembicara 1 Bukan berarti mereka jahat. Tapi. Pembicara 2 Bukan mereka bukan jahat dan bukan berarti kita musuhan. Kalau kita enggak ajak mereka tiba tiba yang tadinya kita ngopi bareng nih wfc bareng besok ada main tenis bareng enggak kita ajak nih karena kita udah tahu nih ini orang enggak bisa main tenis dan teman teman tenis kita harusnya butuh teman temannya lebih pro gitu. Pembicara 1 Dan enggak semua individu menerima itu kadang. Pembicara 2 Ya itu justru itu seleksinya di sana. Kayak misalnya aku ajak hard conversation enggak semua orang tuh siap dengan hard conversation karena emang ada seleksi alamnya. Tadi kan lu kayak WFC nih WFC terus tiba tiba pengin lagi fokus 1 jam deh sendiri. Tiba tiba ada ke distract gitu. Hari hari varane sendiri gimana? Bisa tetap produktif di tengah kesibukan dan segala macam. Pembicara 1 Kok gue ya. Gue intinya 60 menit di pagi hari itu adalah hal yang penting bagi banget bagi gue. Pembicara 2 Enggak ada yang bisa ganggu. Pembicara 1 Jadi kalau itu hancur hari itu hancur jadi pagi itu kalau kita sudah enggak bagus. Gue yakin diri gue enggak akan bagus sampai akhir jadi gue sebisa mungkin pagi hari itu gue tuh punya kebiasaan HP itu gue matiin. Tapi negatif ya gua saya enggak bangun. Alarmnya mati juga. Akhirnya gua ganti pakai alarm yang baker itu yang yang gue keren gede. Nah gue ganti dengan itu. Gue punya masalah ketika gue bangun tidur gue buka HP menurut gue itu adalah masalah banget di diri gue. Gue enggak tahu banyak orang juga ngerasain atau enggak. Gue rasa ketika gue bangun tidur buka HP. Gue jadi capek paginya dan kita capek itu terus terusan sampai malam dan gua enggak mau itu terjadi. Jadi kalau gue ditanya bagaimana caranya? Stay produktif adalah sistem mined sih sistem 1 dalam bangun tidur itu harus clear clear dalam arti kayak lo coba mindful apa yang lo senang gitu. Kalau gue sih senangnya ya gue nulis jurnaling sih bagi gue kayak nulis random pas pagi itu narik inspirasi aja dari otak gue. Uh dan gue punya tujuan di hari itu. Nah dulu gua tuh punya 7 sepanjang uh kadang tuh yang kelar tuh 2 dari 23 dari 18 kadang nah gue ngerasa kayak gagal gitu dalam hari itu, jadi gua enggak punya trigger untuk ngelakuin hal itu besok ya sampailah. Gue tuh baca satu buku. Judulnya tuh make time nah itu gue coba kutip juga gue taruh di buku gue make time tuh bilang lo tuh enggak perlu ada goals jangka panjang enggak perlu ada go gol jangka pendek lu goalsnya itu di tengah gitu di Antara 2 itu. Terus juga pas per hari nya lo pastiin bahwa ketika lo ngelakuin itu lo tetap senang. Jadi lu punya highlight dalam hidup lo dalam hari hari lo jadi highlight itu juga enggak harus yang keren, katanya gitu dicontoh itu dia bilang dia itu belajar satu lagu baru pakai gitar dan itu ya kalau dari ngomongnya dari segi segi karir ya dia kan uh dia kan sebuah dia seorang karyawan, tugas dia itu bahas bahasanya email dari segi karir ya itu enggak menunjang itu belajar gitar kan. Tapi ketika belajar satu lagu dengan gitar itu dia sentrang. Dia senang karena dia anggap hari itu adalah hari yang sukses karena dia sudah ngelakuin satu highlight dia. Nah dari situ gua percaya bahwa oh kayaknya gua perlu deh satu highlight dalam hidup gue sehari sehari hari tuh hal yang mungkin gue kerjain either itu bikin gue lega atau either bikin gue senang. Nah itu yang coba gue terapin gitu, tapi kalau dibilang apakah gue produktif setiap hari ya jujur saja gue enggak produktif setiap hari. Pembicara 2 Orang ngelihat produktif selalu ups fadil ada ups and down nya itu poin menarik ya mencentang. Aku dalam konteks orang tadi itu kayak suatu hari tanpa WC gym atau lari pagi itu kayak ada yang missing kayak hariku sampai malam itu kayak apa yang kurang hari ini ya? Pembicara 1 Walaupun sudah banyak ngelakuin. Pembicara 2 Hurder padahal kayak hal hal positifnya tapi kayak dari mungkin enggak enggak cuma pikir aku. Tapi tubuh aku yang kasih sinyalnya itu kayak kamu. Mungkin tadi pagi enggak enggak enggak training atau enggak lari atau apapun itu itu kayak kasih kode dan ternyata ya kayak ada yang kurang ya. Pembicara 1 Padahal sudah produktif juga tetap kita tetap mengakhiri hari itu enggak happy kayak. Pembicara 2 Kayak aku lupa quote siapa yang bilang ini um salah satu hal yang bikin laki laki stress itu ketika mereka tahu bahwa waktunya yang berharga itu terbuah sia sia saja gitu. Nah dia harusnya tahu waktu dia yang dia pakai itu ada outputnya, ketemu teman atau something gitu. Terus di akhir hari mereka menyesal tuh karena memang mereka tahu nih banyak terbuang terdistraksi itu banyak sekali. Farhan itu sendiri konsisten kan di konte edukasi itu dan banyak kreator sekarang kehilangan jati dirinya ketika berkarya gitu gimana? Secara simpel tetap bisa konsisten dan masih relevan di zaman sekarang gak cuma dari sisi ke audiensnya, tapi lebih ke. Tual likup yang lebih besar tadi bisa jadi bang mustard atau ada komunitas yang lebih besar gimana caranya? Pembicara 1 Sebenarnya satu sih ya gusinya cuma punya tujuan saja. Kalau kita sudah punya tujuan goals tertentu dalam hidup kita. Kita tuh pasti bisa konsisten. Kadang tuh orang enggak yakin juga dengan tujuan itu. Nah itu si problemnya ketika kita percaya ya sama mimpi kita orang lain enggak percaya kita jadi ikutan enggak percaya alasannya apalagi lagi yang enggak cukup data untuk itu uh lagi lagi ketika kita sudah punya goals, kita udah punya data yang memperkuat, kenapa kita bisa sampai sana kita tinggal bikin step step untuk sampai sana, nah tinggal kita kerjain setiap hari aja itu. Cold konsisten kan nah kalau aku sendiri misalnya ya di edukasi gitu ya di konten creating di bidang edukasi. Kadang tuh pengen lah riding the weave beberapa tren. Cuma kadang kan edukasi enggak nyambung gitu dengan hal itu. Lantas, apakah aku harus riding the wave? Apa enggak ya itu ada pilihan lagi kan kita berpikir lagi ini masih nyambung enggak sih sama edukasi apa apa enggak? Dan aku selalu punya pertanyaan ketika bikin konten. Ini konten kalau enggak ada yang nonton. Gue mau bikin enggak ya? Kalau gue mau berarti sesuai sama tujuan gue. Kalau ternyata enggak ada yang mau which is itu enggak nyambung sama tujuan gue itu sih itu itu line di mana gue bedain mana yang sesuai sama tujuan gue memang enggak. Jadi kalau gue bikin suatu tren set. Gue mikir oh ini kalau enggak ada yang nonton bakal gue hapus apa enggak ya kalau bakal gue hapus ya berarti itu ya simply enggak ada hubungannya sama tujuan gue ya gue cuma pengin ini video supaya viral aja. Pembicara 2 Gitu ya ya terus sesimple kayak kita mau jualan sesuatu ya. Entar seminggu kemudian kita hapus enggak apa apa sih. Pembicara 1 Sama kalau mungkin di bisnis gue tuh selalu punya untuk konsisten ya gua punya namanya seven sprint. Jadi dalam 7 hari itu gua sudah tahu harus ngapain aja. Jadi nanti direncanain ulang di hari Minggu. Dia Senin ngapain Selasa ngapain itu tuh ada kita pakai aplikasi kan? Jadi bisa di kayak grafik overlap nanti sendiri sama ini apa gitu gitu. Nah itu yang bikin konsisten jadi ada. Sesuatu yang kita sudah tahu, mau kita kerjain apa jadi pas di hari itu kita tuh enggak bingung lagi karena kebanyakan orang tuh enggak ngerjain karena mereka tuh enggak tahu mau ngerjain apa. Padahal banyak nih ya. Kita ngomongin deh. Pengen bikin buku. Kalau kita mikirnya pengin bikin buku itu perjalanan yang panjang. Tapi kalau kita tahu nih Senin kita 3 paragraf bab satu Selasa berapa paragraf jadi kita tuh menyelesaikan step by step kan jadi pelan pelan. Nah itu yang penting juga untuk jaga konsistensi ya. Jadi jangan berpikir on a bigger picture, oh kita mau buka perusahaan itu susah banget ya kalau kita bikin dari awal tuh oh kita cari marketnya dulu deh, oh kita cari masalahnya dulu deh apa yang bisa diselesaikan sama produk gitu itu hal yang lebih kecil kan? Nah itu bisa dibagi bagi. Harinya itu yang bikin orang tuh kerjain terus kan. Pembicara 2 Make. Sebelum kita masukin. Lu bisa lihat kamera ini ada teman teman lu yang nonton ini ada orang orang yang sangat dekat sama farhan atau audiens yang selama ini ikuti farhan dan mereka lagi di tahap overthinking nih mau masuk kuliah tapi enggak tahu harus ngapain atau lagi di fase baru lulus kuliah. Tapi enggak tahu harus ngapain lu mau nyampaiin apa ke mereka. Pembicara 1 Oke ini gue terus juga di buku ini. Sebenarnya seni mereka salah langkah jadi kesalahan itu tuh bukan akhir dari segalanya. Mungkin yang kebanyakan sekarang orang kel. Di audience gue itu untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Jadi ketika mereka gagal ujian utbk namanya ya atau sn t sekarang mereka ngerasa hidup itu hancur. Mereka tuh enggak bisa. Ngelanjutin hidup kadang kan hidup pasti panjang. Ada karier ada low pensiun ada low punya anak ada lo punya istri itu panjang banget. Masa iya sih gara gara lo gagal masuk ptn hidup lo berakhir apa artinya orang yang masuk pts? Orang yang masuk kuliah swasta memang mereka sebuah gagal enggak juga kan jadi lagi lagi ketika satu mimpi kita yang benar benar kita pengin dan itu enggak works di kita. Pasti ada jalan lain dan jalan lain itu belum tentu lebih buruk daripada apa yang kita rencanakan. Bisa saja lebih baik itu nyata kalau boleh sedikit cerita gue 2019 pengen masuk uh kesan sekolah tinggi akuntansi negara dan gua try out selalu juara satu pas hari h gue gagal dan itu benar benar ngancurin hidup gue dan akhirnya itu adalah dari 19 ya berarti 7 tahun yang lalu. Apakah gue nyesel dengan hidup gue yang sekarang enggak? Gue jauh lebih senang dengan hidup gue yang sekarang. Mungkin kalau gue pikir gue ambil jalur itu, mungkin gue enggak sehappy sekarang jadi lagi lagi ketika kita gagal di satu hal, bisa aja tuhan kasih jalur lain yang bikin benar benar kita lebih senang dalam hidup itu sih. Pembicara 2 Gimana obrolan tadi seru banget ya. Nah bagi teman teman yang mau hidup sehat bareng mau lebih bugar kita akan bikin event hiroks berkelas di mana kalian bakal bertemu dengan teman teman suara berkelas lainnya untuk olahraga hera bareng. Ada aku juga di sana dan kalian bakal ngomongin tentang mindset obrolin tentang apa pun yang di mana tujuannya untuk bisa improvement dan kita bisa berkembang bareng bareng di event hirocs tersebut. Tunggu apalagi langsung saja join hairok berkelas dengan klik link di deskripsi. Sampai jumpa. 3 pertanyaan varan dari teman teman suara berkelas. Pembicara 1 Oke. Pembicara 2 Pertanyaan 1 dari gr SSMJWT second account biasanya menurut kakak farhan, gimana cara menghilangkan overthinking saat mau mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman di usiaku yang masih 21 tahun? Pembicara 1 Oke ini menarik jadi balik lagi ya orang tua kerja 20 tahun di bidang manajemen risiko. Jadi apa pun risikonya itu harus dihilangkan ya. Jadi setiap pada risiko harus diblok dulu nih ini orang uh supaya enggak beresiko kan. Itu turun temurun dong, jadinya ke anak juga begitu dan gue akhirnya terbentuk seperti itu. Setiap ada resiko gue mikirnya panjang. Dan itu terjadi pas bikin bisnis 1 kali. Banyak banget hal yang gua pikirin. Padahal the easy use way. Buat bikin bisnis adalah start dulu. Satu dulu lihat speechnya Marzuki mars kerburg kan bikin Facebook pas itu ya dan gede banget. Dia bilang dia tuh sebenarnya enggak ngerti cara bikinnya, tapi yang dia tahu dia mulai dulu. Itu benar benar oh iya juga ya. Terus ada co founder di perusahaan saat ini dia bilang kayak. Lo tuh kalau punya masalah ya udah tinggal diselesaiin lu enggak usah mikirin sebelumnya dulu kan lu enggak tahu masalahnya bakal terjadi apa enggak tahu ya jadi ketika ada masalah ya sudah nanti kita selesain that how you build business kerjain mulai ketika ada masalah ya kita selesaiin sudah selesai lanjut lari lagi ada masalah kerjain lagi. Its how you build business kan? Nah ini analoginya tuh seperti ini aku dapat sih dari podcast luar dia bilang. Ketika kita pengen terbang, kita tuh enggak usah nyiapin pesawat dulu di bawah, tapi itu terbang dulu kita rakit di atas pesawatnya. Jadi lama lama jadi pesawat yang utuh baru deh kita lancar terbangnya itu menarik sih walaupun secara apa ya secara asli itu enggak mungkin ya kita terbang enggak tanpa pesawat, tapi ya itu analoginya menurut gue menarik dan gue ambil filosofi itu jadi gue stop overthinking sebelum supaya sebelum gue misalnya memulai sesuatu, ya sudahlah, coba dulu karena kalaupun gagal ya gue belajar. Daripada gue benar benar enggak ngapa ngapain jadi gue enggak tahu kan gue berasal, apa enggak di situ itu sih. Pembicara 2 Wristopher more imajination dan reality kan? Dan overthinking a buy itu harusnya pas udah aksi sih enggak overthinking belum berarti kan biasanya enggak ada hasil apa apa pas overthinking kuda aksi berarti overthinking untuk apalagi yang mau diupgrade kali ya. Hm kita ke pertanyaan 2 dari underscore pieco pico, how do you maintain financial disiplin di spide having a biasing and successwal karir gimana caranya lebih tak bisa maintain uh kedisiplinan dalam finansial daripada lo terlalu sibuk menjar karir dalam segala macam oke. Pembicara 1 Kalo gue finansial cukup rapi uh, jadi gue punya dana darurat dan darurat. Intinya kalau gue bangkrut gue masih hidup. Kalau gue 8 bulan mostly kan orang bilangnya 6 bulan gue 8 bulan lebih save lah lebih save bulan lebih save 2 bulan jadi uh biaya hidup gue dikali 8 gue udah punya tabungannya dan itu tabungannya terparkir aja enggak diinvestasikan. Ya emang kapan kapan kalau darut bisa diambil secara liquid terus asuransi itu layer 2 yang menurut gue penting juga karena gue pernah operasi patah tulang tulang dan ini 300 juta dan 300 juta itu juga dibayarin sama kantor saat itu karena gue masih kantor. Saat itulah gue relice bahwa eh kalau bayar sendiri parah juga ya. Nah, jadi asuransi itu cukup penting. Itu salah satu disiplin finansial juga bagi gue dan yang 3 adalah gue investasi. Jadi investasi itu enggak harus besar ya, tapi yang penting uang yang terparkir itu bekerja uh kalau gua juga uh bagi bagi lagi bagi bagi kantong lah bahasanya. Ada yang di lowest di deposito ada yang di middle race di reksa dana yang di saham. Gue cukup simpel sih hill match sama low jadi low ini ya benar benar deposito bank aja ya udah gue dapat 5% per tahun ya kalau di saham kan uh beberapa kali ya gue harus coba pantau ya dan gua analisa. Nah kalau gue sendiri screening saham dulu sempat perhari gue sempat jadi trader perhari gitu, trader banget gitu ya dan itu exhausting karena gua juga punya bisnis kan? Akhirnya gua tentuin itu per 3 bulan. Jadi gue baca grafiknya itu lebih agak panjang. Nah jadi itu gua coba jadwalkan uh sebulan tuh 2 kali untuk screening saham apa aja dan gua coba baca grafik ya secara teknikal aja dan fundamentalnya sedikit sedikit itu sih cara gue jaga disiplin terkait finansial itu aja. Pembicara 2 Tanggal finansial yang harusnya orang aware kali ya terutama di 2 puluhan ya karena ada juga beberapa teman temanku yang event dari darurat enggak ada tiba tiba langsung ke high risk gitu ya itu kan itu banyak orang cacing. Pembicara 1 Cacing naga naga iya benar benar alright. Pembicara 2 Kita ke pertanyaan 3 pertanyaan 3 dari ente undereskop amalia gimana cara kavarhan bagi waktu kerja? Berbisnis dengan menyiapkan s 2 ke luar negeri. Pembicara 1 Um oke mungkin kita tarik po v ini agak sama dengan pas kuliah sambil kerja gitu jadi. Uh aku punya hidup itu. Membagi dalam beberapa komitmen. Jadi saat ini komitmen adalah karir sama upgrade diri. Kalau dulu pas uh kuliah, komitmen itu kuliah kerja sama abdul diri ah komitmen itu kan harus 10 semuanya jadi prioritas tuh tinggal diganti ganti aja per harinya kan? Nah saat ini karena cuma uh kerja sama abdul diri. Itu harus punya waktu untuk upgrade diri dan harus punya waktu untuk kerja kan? Nah, upgrade diri ini sudah ditentukan dari awal tahun. Biasanya ditentukan itu di Desember. Mau belajar skill baru apa? Nah dulu tuh kesalahan berpikirnya adalah aku bisa belajar 8 skill 10 skill setahun tuh enggak sekarang itu belajar skillnya cuma 2 tahun ini 2026. Nah tiba tiba memang dari 2000. 2 5 udah pengin s 2 bukan mbak. Kebetulan 2002 5 November kemarin keterima lpdp. Dan juga dapat LWA dari NUS nah itu kan sambil kerja tuh di 2025 menjalankannya. Nah di 2025 itu belum sedewasa 2026 2026 berpikir bahwa oh kita tuh skill 2 aja deh. Nah dulu 2025 itu masih ideal di 6 dulu belajar skill baru, nah skill baru ini enggak harus teknis yang enggak harus belajar drum atau apa lebih ke dulu belajar uh cara pakai ads. Dulu salah satu itu ketika 6 itu ditambahin lah sama satu kejar s 2. Nah kan udah full ya. Satu ketika ada satu hal baru di luar schedule kita, kita harus korbanin satu yang korbanin weekend sih, jadi setiap Minggu itu full dari pagi sampai malam. Cari tahu gimana caranya kita s 2 karena kan s 2 itu salah satu part sulitnya adalah. Applynya kemana sih kita daftar apa sih itu susahnya kalau di luar negeri, jadi apa sih yang perlu disiapkan ya satu ayat terus juga essay segala macam nah itu full Minggu jadi setiap minggunya di hari Minggu itu adalah hari hari farhan untuk kerjain s 2. Nah jadi konsistennya di situ jadi enggak ada waktu waktu tertentu kayak pulang kerja gitu enggak ada boleh juga sebenarnya kalau mau ditaruh di 7:00 malam setiap 7:00 malam terserah lah kalau aku works nya di weekend, jadi aku memisahkan. Dari hari itu udah selesai weekdays selesai weekend fokus s 2 di situ. Terbagi bagilah kan ada esa ada ills itu dicoba formulanya di rubah rubah lah formulanya itu contohnya kayak iolds i als tuh belajar 20 menit itu untuk listening 20 menitnya lagi buat reading, nah itu dibagi bagi lagi itu teknis lah. Tapi intinya di hari Minggu itu khusus untuk s 2. Gitu. Pembicara 2 Ya. Wow. The worst advice yang pernah lu terima. Pembicara 1 Ini mungkin enggak bisa cocok di semua orang ya, tapi urusan advice yang gue terima adalah lu kalau punya mimpi lu jangan kasih tahu orang menurut gue itu words bagi gue. Pembicara 2 Lo kalau punya mimpi jangan kasih tahu orang. Pembicara 1 Menurut gue enggak apa apa kasih tahu. Karena gue pernah baca komitmen itu komitmen fee itu tuh enggak harus uang, kadang omongan ketika lo sudah kasih tahu plan lu dan plan lu enggak terjadi. Lu tuh malu. Jadi ketika lo sudah kasih tahu lo mati matian untuk kerjain itu plan. Jadi bagi gue itu adalah komitmen tapi dalam bentuk lain bukan uang gitu, tapi omongan lu. Jadi ketika lu sudah punya mimpi, lokasi tahu ke orang. Lo akan secara enggak langsung mengejar itu lo kerjain itu. Pembicara 2 Wow ini aku bisa lihat dari 2 kacamata ya kacamata 1 orang bisa kasih advice itu karena mereka mungkin pernah kayak ada orang yang menghujat mereka meremehkan mereka di awal kacamata 2 yaitu kemarin aku naik grab. Abang grab itu bilang ke aku ya mas saya selain nge grab saya gini gini gini gara gara dia bilang gini gini gini. Akhirnya aku minta WA dia aku kasih project ke dia itu dari se simple dia dia mas aku lagi belajar ini nih aku lagi pengen banget ini dan kebetulan aku lagi ngerjain project itu langsung jadi menurut aku kadang mimpi kita kalau kita bicara yang ke orang bisa jadi itu drasi kita itu calon relasi untuk calon klien kita. Pembicara 1 Ada kolaborasi baru. Pembicara 2 Jadinya itu hal menarik sih dari kacamata yang 2 ya kan kata kata 1 bisa jadi adalah orang enggak suka. Wow thank you banget varan udah suara berkelas happy sekali dan bagi teman teman yang mau belajar lebih detail farah sudah nulis buku asripted seni merayakan salah langkah dari bukunya. Kalau mau belajar langsung langsung saja kita bakal terulingnya di deskripsi saya terus terima kasih fan thank you, makasih semuanya.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Farhan, seorang pengusaha muda dan kreator edukasi, membahas pentingnya berpikir berbasis data dalam pengambilan keputusan, baik dalam bisnis maupun kehidupan sehari-hari.
  2. Ketakutan sering kali diwariskan dari orang tua, dan penting untuk memisahkan ketakutan tersebut dari ketakutan kita sendiri agar bisa berani mencoba hal baru.
  3. Kegagalan dipandang sebagai data dan bagian dari proses pembelajaran, bukan akhir dari segalanya; setiap kegagalan adalah percobaan yang bisa dievaluasi.
  4. Definisi sukses berubah dari sekadar memiliki uang menjadi memiliki kebebasan waktu dan pilihan hidup.
  5. Membandingkan diri dengan orang lain tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi bisa dikelola dengan memberi label pada emosi dan fokus pada perkembangan diri sendiri.
  6. Pertemanan memiliki "masa" dan perlu dipilah berdasarkan kecocokan energi, bukan hanya baik atau buruk; penting untuk menetapkan batasan (boundaries).
  7. Produktivitas dijaga melalui sistem seperti rutinitas pagi tanpa HP, menetapkan satu "highlight" harian, dan membagi tujuan menjadi langkah-langkah kecil.
  8. Konsistensi dalam berkarya didasarkan pada tujuan yang jelas; jika sebuah konten tidak sesuai tujuan, sebaiknya tidak dibuat.
  9. Disiplin finansial meliputi dana darurat, asuransi, dan investasi yang dibagi ke berbagai instrumen risiko. 1
  10. Saran terbaik yang diterima Farhan adalah berbagi mimpi kepada orang lain, karena hal itu menjadi komitmen moral untuk mewujudkannya.

Summary:

Dalam podcast "Suara Berkelas", Farhan, seorang pengusaha muda dan kreator edukasi, berbagi wawasan tentang pola pikir, kesuksesan, dan kehidupan. Ia menekankan pentingnya berpikir berbasis data dalam setiap keputusan, karena data memperkuat argumen dan mencegah mudah terpengaruh oleh orang lain. Farhan juga membahas bahwa ketakutan sering kali diwariskan dari orang tua, dan ia belajar memisahkan ketakutan tersebut dari ketakutannya sendiri, yang menjadi titik balik untuk berani mencoba usaha baru setelah beberapa kali gagal.

Ia mendefinisikan kegagalan sebagai data atau percobaan yang bisa dievaluasi, bukan akhir segalanya. Sukses baginya kini berarti kebebasan waktu dan pilihan, bukan sekadar uang. Tentang perbandingan sosial, Farhan mengakui bahwa membandingkan diri tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa dikelola dengan memberi label pada emosi dan fokus pada perkembangan diri sendiri. Ia juga membahas pertemanan yang memiliki masa dan perlu dipilah berdasarkan kecocokan energi, serta pentingnya menetapkan batasan.

Produktivitas Farhan dijaga melalui rutinitas pagi tanpa HP, menetapkan satu "highlight" harian, dan membagi tujuan besar menjadi langkah kecil. Ia juga menekankan konsistensi dalam berkarya dengan selalu mempertanyakan apakah konten sesuai tujuan. Dalam hal finansial, ia menerapkan dana darurat, asuransi, dan investasi terbagi. Terakhir, ia menyarankan untuk berbagi mimpi kepada orang lain sebagai bentuk komitmen moral untuk mewujudkannya, karena bisa membuka peluang kolaborasi baru.

FAQs

Labeling the emotion adalah memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan, misalnya 'aku sedang membandingkan diri'. Dengan menyadari dan memberi label, kita bisa lebih mudah mengambil tindakan, seperti menutup media sosial atau melakukan aktivitas mindfulness.

Farhan membagi hidupnya menjadi beberapa komitmen dan memprioritaskannya per hari. Untuk S2, ia mengkhususkan hari Minggu penuh dari pagi sampai malam untuk riset dan persiapan, sementara weekdays fokus pada pekerjaan.

Farhan membagi teman menjadi teman inti, teman aktivitas, dan teman momen. Ia juga melakukan 'energy check'—jika bertemu seseorang membuat kita lelah, berarti energi kita tidak cocok, bukan berarti orang itu jahat.

Menurut Farhan, memberi tahu orang lain tentang mimpi kita bisa menjadi bentuk komitmen. Ketika kita sudah mengumumkan rencana, kita akan malu jika tidak mewujudkannya, sehingga lebih termotivasi untuk bekerja keras. Selain itu, bisa membuka peluang kolaborasi atau bantuan dari orang lain.

Highlight adalah satu hal utama yang ingin dicapai dalam sehari, tidak harus besar atau berhubungan dengan karier. Contohnya belajar satu lagu baru dengan gitar. Dengan fokus pada satu highlight, kita merasa hari itu sukses dan tetap termotivasi untuk hari berikutnya.

Farhan selalu bertanya pada dirinya sendiri: 'Kalau konten ini tidak ada yang menonton, apakah saya tetap mau membuatnya?' Jika jawabannya ya, berarti itu sesuai dengan tujuannya. Jika tidak, berarti hanya mengejar viralitas, yang tidak sejalan dengan misi edukasinya.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.