Transkrip podcast ini membahas makna persahabatan dalam konteks Alkitab, khususnya dari Yohanes 15:12-17. Yesus menegaskan bahwa persahabatan dengan-Nya tidak bersifat simetris, melainkan dimulai oleh Dia, karena Dia memilih kita. Persahabatan ini didasarkan pada kasih yang berkorban, seperti gembala yang menyerahkan domba-dombanya, dan menjadi fondasi bagi kita untuk menghampiri sesama percaya. Di tengah zaman modern yang menekankan teman digital, banyak orang tetap merasa kesepian, menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk kebersamaan. Kehilangan teman atau kesepian menjadi titik refleksi bahwa kebutuhan akan sahabat yang nyata terpenuhi melalui hubungan dengan Yesus. Dengan persahabatan ini, kita tidak hanya mendekati Tuhan, tetapi juga diundang untuk membangun kebersamaan yang autentik dengan sesama percaya. Tuhan merancang manusia untuk hidup dalam komunitas, sehingga persahabatan dengan Yesus menjadi jembatan menuju kehidupan yang penuh kasih, keberanian, dan kehadiran yang nyata. Dengan memahami ini, kita diundang untuk mengubah kesendirian menjadi keheningan yang aktif, berdoa, dan berhubungan dengan sesama dalam kebersamaan yang sejati.
SELO
SELO
Saat ini saudara sedang mendengarkan podcast stresa app,
podcast ini berisi penyampaian firman Tuhan
yang bukan hanya akan memperluas pemahaman timan
namun juga akan menentrasformasi kehidupan saudara
kami berdoa dan kami percaya saudara akan diberkati
dari stresa app malang seramat mendengarkan
SELO
sunggu satu sukacita bisa berada dengan bapa ibu
saudara di tempat ini pada pagi hari ini
pagi hari ini dosen saya memulai kuliah dengan berkata
semangat, kita sudah kuliah selama 1 bulan
wah lumayan juga ya
dan kemudian dia melancutkan semangat
masih ada 10 minggu lagi
seru-seru waktu dengeri toras selama seperti itu ya
dan sebagai murid yang baik
saya juga ingin menyemangat, murid-murid saya yang ada di tempat ini
semangat, sudah hampir setengah semester
semangat, minggu depan berkata semester
saatnya bayar utang, bayar utang bacaan
bayar utang tugas dan tentu saja bayar utang tidur
mari kita sama-sama membelajari firman Tuhan
satu hari ini yang diambil dari Johanas
pasal yang ke 15, paksa selainnya bisa
Johanas pasal yang ke 15, kita ngambaca bersama-sama
mulai dari ayat yang ke 12 hingga ayat yang ke 17
Johanas pasal yang ke 15, ayat yang ke 12,
hingga ke 17, demikian bunyi firman Tuhan
sebacakan bagi kita sekarang
ini lah perintahku, itu supaya kamu
sering mengasihi seperti aku telah mengasihi kamu
tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih
seorang yang memberikan yang wanya untuk sahabat-sahabatnya
kamu adalah sahabatku
jika kamu berbuat apa yang aku perintahkan kepada kamu
aku tidak menyebut kamu lagi ambah
sebab pambat tidak tahu apa yang diperbuat oleh Tuhan
tetapi aku menyebut kamu sahabat karena aku
tenang memberitahukan kepada kamu segar sesuatu
yang telahku dengar daripada aku
bukan kamu yang memilih aku
tetapi aku lah yang memilih kamu
dan aku telah menetapkan kamu
supaya kamu pergi dan menghasilkan buah
dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta
kepada bapa dalam nama aku
diberikannya kepada kamu
ini lah perintahku kepada kamu
kasih hilah
seorang akan yang lain
bapa ibu sederian di kasih Tuhan
pada tahun 2014 ada sebuah kampanya di sosial media
yang dilakasanakan oleh sebuah
ceriti mental-ceriti organisation
bernama Riting Mental Itness
illness
jodul kampanya-nya adalah
fine mic
seru-seru ini bukan seperti
finding world though
tetapi justru-serius mencari fine mic
kalau kita lakukan ini di saat
pasti kita akan mudah menemukan mic
bukan?
ada pakaian mic
di sini
seru-seru fine mic
ini adalah satu kampanya
sosial media yang kemudian
menjadi sangat heboh
politisi-politisi
salah beritis-salah beritis
pada ikutan
itu fine mic
what happened with mic
seru-seru ternyata di balik kampanya
ini ada seorang yang bernama
Johnny Benjamin
yang pada tahun 2008
6 tahun sebelum kampanya
ini dilakukan
dia memulai tahun baru itu
dengan naik
atas water-lu bridge
di London
dan setelah semua
pergumulannya
perjuangannya
dengan mental illness
dan diakno seterakir
adalah bahwa dia
skiso
efektif
bukan cuma sisof friend
kemudian dia memutuskan
why
not just end this life
mari ketamati
saja dengan terjun jadi cembatan
suruh-suruh ketika
dia berdiri
datasan ada begitu
banyak orang yang kemudian
panik, panggil polisi
dan kemudian berusia
ternyak
atau juga ada banyak orang yang
cuma sekedar lewat
island care
mati-mati aja
tapi di antara
semua itu
ada satu orang yang kemudian
berhenti
gak ternyak
gak panggil
gak marah-marah
tapi cuma
ngejak hombro
suruh-suruh Johnny Benjamin
mencari takkan bahwa orang
ini
disemai
ngejak hombro
dia as if
ada satu
genuine relationship
dan satu pesaan yang
maik
ini terus sampai
kan adalah
"It's gonna be better."
"You will be better."
suruh-suruh
ajakan itu
kemudian si maik
ini bilang
"Why don't you go down?"
kenapa kamu
gak turun
dan kita go for coffee?
suruh-suruh
Johnny Benjamin
merasakan ada
satu ketulusan
di dalamnya
dan dia kemudian turun.
namun sayangnya
karena sudah cukup pebo
ketika dia turun
dia diaman
kan oleh polisi
dan bukannya
perginopi
suruh-suruh
2018
singkat
singkat cerita
selama 6 tahun
dia menjalani
pengobatan
dan dia merasa jauh lebih baik
dan di tahun
2014 itu
dia kemudian bilang
"I owe this maik."
"I want to find him."
"I want to find him."
"I want to find him."
"I want to find him."
suruh-suruh
ketika kampanya
ini di buka
dalam waktu
dua minggu
akhirnya munculah
sang maik.
yang ternyata
bernama
Neil
Labour.
Memilang
"I don't know how"
gimana ceritanya
saya bisa berpikir
voy itu adalah maik
fadal nama
sebenarnya adalah
Neil Labour.
Yang menarik
sederah sederah.
ceritanya
tidak berakhir di sini.
tetapi Johnny Benjamin
yang Neil Labour
kemudian menjadi
best friends.
mereka beneran
berginopi
tahun 2014 itu
dan mereka
jadi best friends
yang sekarang ke mana-mana
mereka mengkompanyakan
mental health issue.
Terus suruh ceritanya
sangat indah
dari stranger
to best friend.
dari almost that
to promoting life.
suruh-suruh
yohana
15 yang kita baca
ini
tidak terseting
di dekat
di atas jembatan.
tetapi kita bisa melihat
kita bisa mengingatkan
diri kita
boi yohana
15 yang tadi kita baca
ini juga ada
seting Duang Sa kematian.
suruh-suruh
yohana
semenci kita
kan kisah kenang
kapan Yusus.
dan yohana
si mambelas ini
adalah bagian
dari kuliah
terakhir Yusus
atau aparum
discourse.
yang ini
murah dari yohana
13 di mana Yusus,
kemudian mencuci
kaki murid-muridnya
kemudian diakhiri
di dalam yohana 17 di mana
berdoa
untuk murid-muridnya.
oh suruh-suruh
kesannya
masih
dua pasal lagi.
tetapi
kalau kita perhatikan
ketika di ayat
pasal 14 di kata
kan bangun
14-31.
bangunlah
marilah kita pergi
dari sini.
ini menunjukkan ada
satu penguaman waktu
di mana mereka
sedang berjalan.
dan kemudian mereka
masuk berdoa.
disis just
between hours.
sebelumnya
susah tangkap
dan mati.
suruh-suruh
karena itu kita
bisa memahami
kalau aparum
discourse.
pesan-pesan terakhir.
wajangan wajangan
Yusus ini
sangat serius.
dia mengingatkan
kepada aparum muridnya
apa artinya
melayan.
dia memodelkan
mencucik khaki.
dia mengingatkan
voodyroma
bapak podam
yang tempat tinggal
ada pengharapan.
dia menjaljikan
akan datangnya
penghibur di dalam
ulan 17.
tapi satu hal
yang menarik.
di dalam
ulan 17 ini
di tiba-tiba
berbicara tentang
friendship.
kalau kita menduga
bahwa ini
adalah pertama kalinya
Yusus berbicara
tentang friendship.
let's think again.
karena di dalam
perjanjian baru
kata friend
atau feelings
diadari
29 kali
kemunculannya
di dalam perjanjian
baru.
18 di antaranya
terkait dengan
Yusus.
sesudah-sudah
yang menariknya
Yusus
bukan hanya tiba-tiba
belok berbicara
di tentang sahabat.
tapi
Yusus berbicara dengan
cara yang sedikit aneh.
misalnya
tadi dikatakan
kamu adalah sahabatku
kalau kamu berbuat
apa yang aku perintahkan
kepada kamu.
Is this friendship?
Or is this
bully?
tadi dikatakan aku
bukan kamu
yang memilih aku
tetapi akulah yang
memilih kamu.
Suruh-suruh dari
kacamata kita
orang modern.
Yang merasa kita
tahu aparatnya
friendship.
Apa yang dikatakan
Yusus ini
menarik
dan mengundang
tanya-tanya?
tapi
suruh-suruh kita
memang perlu
memahami bahwa
persahabatan
itauerkan
oleh Yusus
adalah
persahabatan
yang berbeda.
Suruh-suruh
kalau kita lihat
ketika
Yusus berkata di dalam
ayat ke 14 kamu
adalah
sahabatku
dan ayat ke 16
bukan kamu
yang memilih aku.
Maka jelas
bahwa persahabatan
ini diinitiasi
oleh Yusus.
Bukan kita
dan persahabatan
ini di mulai oleh
Yusus dan
bukan hanya itu.
Tetapi bahwa
persahabatan ini
sifatnya
asimetrical.
John Piper
terus mengatkan
bodhidalam
persahabatan
itauerkan
Yusus
ini sifatnya
bukan
on the same level.
Tetapi ini
asimetrical
karena Yusus yang
memulai,
Yusus yang
menginitiasi
kepada kita.
Dan apa
kondisi kita
saat itu?
Kondisi kita
adalah hamba.
Ini kemudian di perjelas
di dalam ayat ke 15
ketika dikatakan aku
tidak menyebut kamu lagi hamba.
Ini jelas
memperlihatkan bodhidalam
yang punya
otoritas
untuk mengkemudian mengupgrade
dari hamba.
Jadi teman.
Itulah sebabnya
dia yang
meinitiasi.
Dan itu
walaupun dia yang menginitiasi, persahabatan ini tetap asyimetrikel tidak sama.
Yisus berkata aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu api diperbuat aletuannya.
Tetapi aku menyebut kamu sahabat karena aku telah memberitaukan kepada kamu
segala sesuatu yang telah aku dengar dari babaku.
Surah-surah disini, Yisus pengen menekankan bahwa ketika berbicara tentang sahabatan hamba,
fokusnya bukan soal pembebasan, bukan soal freedom, tapi soal knowledge,
soal bahwa sekarang sebagai soarang sahabat, kita punya akses lebih,
para murid saat itu punya akses direk pada tuhan alab apa.
Oleh karena itu segala surah ayat ini 14-15-16 ini menolong kita untuk memahami,
bahwa ketika kemudian Yisus berkata di dalam et 14, kamu adalah sahabat ku,
jika kamu berbuat apa yang ku printahkan kepada kamu,
Yisus si deskada berbicara tentang siarat.
Tetapi Yisus berbicara tentang hasil.
Surah-surah ayat sebelumnya dan L.A.I memang memisahkan mulai dari et 19,
jadi satu perikop dengan ayat ke 17.
Soal mengingatkan kita pengen memperlihatkan bahwa Yisus memodelkan relasinya dengan bapak.
Dan relasinya dengan bapak adalah dia menuruti, dia tinggal di dalam kasih, bapak.
Dan dia takat kepada bapak.
Dia menuruti printah bapak.
Love and obedience.
Dan ditulai yang kemudian dipakai oleh Yisus ketika dia memangil kita,
budak-budaknya ini, hambah-hambahnya ini menjadi sahabat.
Dia memangil ke di dalam kasihnya dan kemudian mengundang obedience.
Surah-surah John Pieper sekali lagi berkata, "This is not the price, so be his friends."
Ketahatan itu bukan harga yang harus dibayar untuk bisa jadi sahabatnya.
Tetapi ketahatan itu justru menjadi buktik bahwa kita sudah jadi sahabatnya.
Surah-surah persahabatan ini di initiation oleh sangkristus, sangtuan,
yang berbicara kepada kita hambah-hambahnya.
"Hey, kita bukan cuman soal tuan dan hambah, tapi kita juga sahabat.
Kita teman, dia menginiti asinya."
Surah-surah pikir, kita perlu juga mengingatkan bahwa bukan berarti kemudian kita tidak lagi hambah.
Tetapi penakanan kita bukan hanya hambah.
Relasi kita bukan yang soal, relasi pekerjaan yang transksional,
tapi dari relasi persahabatan.
Surah-surah komentar berkata bahwa "friends" dan persahabatan itu satu permainan kata,
"feelos" dan "feelio."
Satu permainan kata karena "friends" adalah orang yang dicintai.
Singga ketika Jesus memanggil kita hambah, dia menyatakan aku mengasih engkau.
Bukan cuman soal relasi pekerjaan yang teratuan dengan hambah.
Tetapi dari relasi kasi di dalamnya.
Dan bukan hanya itu.
Jika kita memperatikan lebih dalam ini sampai kan dalam mati ketiga belas.
Tidak ada kasi yang lebih besar daripada kasi seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabatnya.
Hices berbicara tentang kematiannya bagaimana dia memberikan nyawanya.
Surah-surah disini, Tuhan tidak sedang mengini repatrus.
Yang di dalam pasal tiga belas saat tiga perutuhi berkata, "Aku akan memberikan nyawa untukmu."
Enggak? Tuhan tidak sedang mengini repatrus.
Tetapi Tuhan sedang menengatkan aplenikatakan ketika dia berbicara tentang kembala yang baik.
Gembala yang baik menyerahkan nyawanya untuk dombah dombahnya.
Dan bukan hanya di kembala yang baik menyerahkan nyawanya untuk dombah dombahnya sahabat yang baik pun.
Menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Efect yang terjadi setelah nyawanya diberikan untuk sahabat-sahabatnya adalah akses kepada alah Bapa.
Surah-surah cepat kalau sampai berhenti di sana.
Tidak kaya itu sesuatu yang familiar untuk kita.
Yusus datang untuk mati, untuk kita.
Sinha kita punya akses kepada alah Bapa.
Anis-andat gospel.
Surah-surah persahabat-sahabatnya ditawarkan oleh Yusus bukan hanya diinitiasi dan bersifat asymmetrikel.
Tetapi, the friendship itself is the gospel.
Di dalam maling ini sesuatu dengan Justin Early, di dalam bukunya Mate for People.
Dia berkata, "Jesus frames the story of salvation."
Yusus mencita-kan, trita penyelamatan itu in terms of friendship.
Dan itu adalah sesuatu yang most astounding and comforting.
Sesuatu yang luar biasa dan sangat menghibur.
Lebih jauh dia berkata bahwa the gospel of our salvation in Jesus is not just reflective.
Bukannyanya mencerminkan.
Tapi itulah persahabatan.
Surah-surah keselatat, "Degdatang anisus yang mati untuk kita bukannya mencerminkan."
Apa yang akan dilakukan oleh seorang sahabat?
Tetapi the gospel of salvation,
"It is friendship. Why?"
Karena mesatnya sama.
The friendship of Jesus means bahwa satu cara untuk menimpulkan gue sepelah dalam bahwa Jesus.
Tuhanisus kenal kita sepenuhnya.
And loves us anyway.
Dan bukan kami mengituinjil bahwa kita yang masih berdosa.
Dia tetap datang untuk kita.
Dan bukan kami sebabnya Roma berkata bahwa ketika kita masih berdosa, dia mati untuk kita.
Dia sudah mati dikesali untuk kita.
Dan di dalam friendship ini pesan yang sama disampaikan.
Bahwa Tuhan tahu apa yang kita lakukan.
Tuhan tahu siapa kita dan tetap datang untuk kita.
Sudah-sura friendship adalah sesuatu yang sangat penting.
Arisotala berkata bahwa tanpa teman tidak ada seorang yang mau hidup,
bahkan meskipun dia memiliki segala sesuatunya.
Sudah-sura sias luis kemudian berkata bahwa di dalam ancient world, di dalam jaman dulu itu,
Friendship adalah "The happiest thing, the most fully human of all loves."
Jadi kasih yang terbaik itu yang dulu dia sangat di apresiasi oleh orang ancient world
adalah kasih persahabatan.
Sudah-sura itu adalah "The crown of life, the school of virtue."
Tetapi kemudian sias luis juga melancutkan.
Tetapi lihat bagaimana Friendship itu sekarang.
Sudah semakin menurut-menurut-menurut.
Friendship yang tadinya begitu sakra dan begitu sesuatu yang sangat besar.
Sekarang jadi sangat casual seperti ku teman-muka, teman-mukita bagaikan roti dan mentega.
Sekesual itu.
Singga buat orang yang makan roti yang gak pakai mentega, it doesn't matter.
Sudah-sura telah sebenarnya bahwa memang Friendship yang memang dulunya diluluhkan.
Lihat bagaimana jaman sekarang sudah makan beri bukan?
Mulai dengan Facebook yang mengubah Friends yang tahu itu menjadi First.
Satu kata kerja "I friend you" dan Friends itu menjadi natural.
Sudah-sura teman anak saya yang pertama itu kuliah sekolah di 2 tempat di Wesley dan sekolah online.
Tetapi di dalam tiap recakapan dia selalu memedakan Real Friends.
Tetemen yang ada di Wesley yang bisa lihat dengan online Friends.
Sudah-sura lihat apa yang dunia lakukan.
Mereka buruh saham memblur.
The beauty of Friendship.
Jadi sesuatu yang Real and Natural.
Sesuatu yang kita bisa juice.
Sesuatu yang bisa tidak terlihat.
Sudah-sura.
Singga "I, ke walaupun sekarang kita punya begitu banyak Friends."
Tapi kita pun semua kesepian.
Sudah-sura Dr. Vivek Murthy di dalam salah satu research yang berkata bahwa Loneliness is an epidemic.
Loneliness adalah satu penyakit jaman sekarang yang merajal ya lah.
Singga sebenarnya kita tidak perlu malu kalau kita berkata kita kesepian.
"Why? That is happening right now. Mayoritas di antara kita sadar tidak sadar mau mengakui atau tidak "We are lonely."
And the danger is bahayanya adalah Loneliness ini dikatakan sebagai infisible sesuatu yang tidak terlihat.
Oh, ditutupi dengan berkata aku introvert, kasuka berteman.
Ditutupi dengan berkata aku gak butuh teman aku hanya untuk membutuhkan yang lain.
Sudah-sura Loneliness is an detected, but it's hidden pain.
Singga walaupun kita ada di tengah banyak orang, di tengah banyak Friends yang kita bisa sebutkan real asapun natil.
The pain is real, we are lonely.
Oleh karena itu Sudah-sura di dalam kontek sinimikian,
Tawaran yusus bawadiyah adalah sahabat kita, itu adalah satu jawapan yang sangat real.
Surah-surah Jesus tau bahwa lowliness is not just the issue of the modern life.
Tetapi, bahwa lowliness itu adalah efek dari keberdozan manusia.
Also, Surah ingat kau waktu Tuhan membuat semua pencipaan ini dengan sangat baik.
Dan kemudian apa yang dikatakan pertama kali, itis not good?
Ketika dia melihat Adam sendiri, bukan?
Oh, Surah-surah betul, solusi yang diberikan kemudian adalah pasangan hidup.
Tetapi dihat, statementnya adalah tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.
Surah-surah permasalahannya jelas tidak baik, bahwa manusia itu seorang diri saja.
Team Alan Gardner di dalam bukunya mengatakan disi step problem datuhan sendiri cipakan.
The problem of manusia tidak bisa seorang diri.
Surah-surah ketika solusi ketika kemudian manusia itu jatuh di dalam dosa.
Yang pertama kali mereka lakukan adalah mereka bersembunyi, bukan?
Adam dan Hawa yang bersatu kemudian mereka membatasi diri di dalam isolasi,
di dalam isolasi dan mereka kesepian.
Dan Surah-surah bahkan, kain pun ketika digambarkan bagaimana dia beralasi dengan habil,
dikatakan wajahnya turun ada satu ketepisahan, ada satu isolasi yang memisakan dia dari saudaranya.
Dan kutukan itu yang terus, terus berjalan sampai sekarang.
Surah-surah disi, original disi, adalah bahwa tidak baik manusia itu seorang diri.
Itu sebabnya jasin adalah berkata, "We are made for people."
Tetapi kemudian, di dalam disi, di dalam disi manusia berteman,
konsep teman itu di blur, dikacau balau kan.
Singga walaupun rasa kita punya teman, kita tetap kesepian.
Walaupun kita rasa punya teman, kita tetap terisolasi dan kita tetap bersembunyi.
Oleh karena itu datangnya isus ke dunia, ketika dia berkata, "Ung kau adalah sahabatku."
Mari kita lihat bagaimana isus datang terdalam bersembunyian kita.
Menjulur kantangannya yang berkata, "I know you're hiding."
Tetapi aku yang memilih kamu untuk menjadi sahabatku.
"This is the gospel."
"This is the friendship."
Yang isus datang bagi kita.
Yang isus berikan bagi kita.
Boleh ini dari satu pesan untuk kita keselamatan itu diberikan dalam bentuk sebuah persahabatan.
Surah-surah jika demi-kian lalu bagaimana kita bisa merasponi isus.
Saya rasa sebagai orang-orang yang tinggal di seminari, "Oh kita tahu, Boyesus adalah sahabat kita."
Kita tahu bahwa kita punya teman, teman yang sokain, desafeir, jisus, kita tahu.
Tapi apa artinya itu untuk kita?
Bisa kas orang ambatuhan merasa kasepian.
Bisa kas orang seminari yang tinggal di dalam asrama dengan kamar 4-5 orang bisa merasa kasepian.
Bisa kas orang yang tahu, Boyesus isis frenta tak merasa kasepian.
Sohow bagaimana kita bisa mengambil isus, merasponi panggilan isus.
Tawaran isus itu menjadi sahabatnya.
Yang pertama, mari kita mulai dengan mengakui bahwa kita kasepian.
Surah-surah Elizabeth Aliyot di dalambukunya depat on flown linus perkata.
Mari turn your loan linus into solitude.
Surah-surah apa bedanya loan linus and solitude?
Dua-duanya sama-sama sendirian bukan?
Tetapi loan linus adalah sebuah kesendirian yang sebenarnya kita tidak inginkan.
Sebuah kesendirian yang kita di dalamnya, kita bersambunyi.
Kita menyimunyikan diri kita tidak menyatakan.
Tetapi solitude adalah satu kondisi sendirian yang secara aktif kita pilih.
Secara aktif kita jalani untuk satu tujuan.
Oleh karena itu Aliyot, kemudian mengundang kita mari turn your loan linus.
Satu kesendirian yang terasing.
Satu kesendirian yang tersembunyi.
Jadi satu kesendirian yang aktif.
Secara-surah solitude dimana kita secara aktif menyendiri.
Atau mungkin kita di saat lebih dekat dengan sebutan loan with God.
Itu adalah solitude.
Dan bukan hanya di sana.
Kita turn our solitude into prayer.
Secara-surah ini ada satu ajakan yang sangat ralovan untuk kita.
Ada kangkaus ke sepihan hari ini.
Ada kadi tengah segala pemahaman kita bohisus datang sebagai sahabat.
We do still feel lonely.
Ada kadi antara kita yang kemudian merasa di dalam kebesingan,
kesipukan hidup asram ini sebenarnya.
We are lonely.
Ada kadi antara kita selama minggu-minggu ini sebenarnya hanya berjuang
untuk menutupi bahwa sahaya tidak sepihan.
Hari ini pesan itu disampaikan sekali lagi kepada kita sekalian.
Jesus calls us his friend.
Dia adir disini bersahaman dengan kita.
Menapuk pundakmu dan berkata ayo.
Menakui ini temanmu.
Aku ini sahabatmu.
Dan mari kita responi itu dengan terus secara aktif mengambil waktu dengan dia.
Bagaimana jika ternyata jawapan kepada loan linis bukanlah more screen time?
More songs, more movie.
Tapi bagaimana jika ternyata jawapan kepada loan linis?
Ada lagi kita ke masuk ke dalam kesindiran itu dengan aktif.
We put down our phones.
Kita cabut lagu itu.
Dan kita bilang ini aku tuan.
Meresponi bersahabatanmu.
Seru-seru di dalam konteks kita mari di dalam kesindirian kita.
Infitasi itu sekali lagi diberikan kepada kita.
Jesus memberikan pertahat bersahabatan itu.
Maka kita meresponinya.
Dan masuk ke dalam solitude.
Dan berdoa secara aktif.
Batwit.
That is not the end.
Seluruh seluruh mari kita ingat bahwa ayat 13-16 ini.
Diapit oleh ayat 12-17 yang menyampaikan pesan yang sama.
Di dalam ayat 12, katakan sepaya kamu saling mengasihi seperti aku,
telah mengasih kamu dan diapit dengan kasih hilah seorang akan yang lain.
Sudah-sudah kenapa printah, kenapa tawaran persahabatan yang tadi rasanya eksklusif
dan persenal.
Ini diapit di dalam printah untuk saling.
Relasi horizontal.
Saling mengasihi.
Sudah-sudah ini mengingatkan kita.
Bewa ternyata.
Persahabatan dengan Jesus itu,
bukan hal-hal saja.
Sudah-sudah James Earlywood lewat sekali lagi berkata.
Oh, dia bilang dengan sangat berhati-hati.
Mungkin ini tertengar seperti herosi.
Tapi walaupun kita sudah bertemanangan Tuhan.
Walaupun kita sudah bersahapat dengan Tuhan.
Kita masih bisa kesepihan.
Karena sekali lagi coba ingat.
Tika Tuhan berkata kepada Adam,
itu tidak baik untuk seorang manusia.
Ada sendiri saja.
Ada siapa dengan Adam saat itu?
Ada Tuhan.
Tuhan sang pencipta langit dan bumi yang menciptakan teman-taman.
Ada visitu.
Tapi jawapan yang diberikan Tuhan kepada masalah bauti,
tidak baik seorang manusia itu sendiri saja.
Bukan dirinya, hadir lebih.
Tapi dia mengirimkan manusia lain.
Sudah-sudah James Earlywood lewat sekali berkata.
It is crucial.
Sangat penting untuk melihat bahwa kita bisa menjadi kesepihan walaupun sudah ada Tuhan.
No.
Itu bukan artinya bahwa Tuhan itu tidak cukup.
Tetapi jujur ini menunjukkan generasi tini kemurahan-hatinya bagaimana Tuhan
design us to meet people.
Tuhan memang dari awalnya sudah mendesain,
tidak bisa kesendirian saja, tidak bisa kesendirian dengan dia saja.
Dia design us for people.
Dan kita tidak bisa merlasakan alami alah.
Sampai kita bisa mengalami dia bersama dengan orang lain.
Osura-sura di depan.
di dalam nada yang sama, Dain Ortlan di dalam bukunye Jental Anloli berkata sangat kejam
kalau sampai kita berpikir, persahabatan sesama manusia itu tidak lagi ralafan
ketika seorang itu sudah menyebisahabatnya Christus.
"No, God has made us for fellowship, for union on heart with other people."
"Sura-sura, tawaran persahabatan yang diberikan Jesus kepada kita diberikan dalam kontek supaya kita bisa menjadi sahabat kepada orang lain."
Dain coba ingat lagi, ketika Jesus berkata di dalam met 16 bukan kamu yang memilih aku tetapi aku lah yang memilih kamu, kamu di sini bukan hanya satu orang murid, bukan?
Kamu di sini adalah ke-11 muridnya.
Persahabatan itu ditawarkan kepada semua sebelah seburid.
Dan seben, surah ketika dikatakan aku telah menetapkan kamu untuk pergi dan menghasilkan buah.
Itu mengingatkan kita kepada etang terdelaapan, perintah bahwa jika kamu berbuat banyak, berbuah banyak, maka kamu dalam muridku.
Surah-sura dua kata buah di sini mengingatkan kepada kita.
Bahwa para graf ini, bahwa perkatan Jesus ini masih menjadi bagian, dari ucapannya isus, aku lah pokok anggur yang benar.
Apa maksudnya?
Pokok anggur yang benarnya satu, isus krisus.
Cabangnya banyak, banyak.
Pokok anggurnya satu, cabangnya tidak hanya satu.
Pokok anggur ini menawarkan persahabatan kepada semua, cabang-cabang, tapi mari bayangkan kalau cabang itu kemudian berpikir, "Eh, aku cabang lebih kuat, berbuah banyak, minggir kamu cabang yang lebih kring."
Surah-sura tidak bisa begitu, bukan?
Jusul kita membayangkan ketika semua cabang itu keluar dari sang, pokok anggur yang benar, mereka akan saring support, dan sama mereka akan saring berbagi nutrisi, saring menguatkan membawa buah yang diharapkan.
Singga mungkin kalau saya bisa terjemahkan, kalau saya menakan bahasa yang sangat sederhana, ketika Jesus berkata kamu adalah sahabat,ku saring mengasihi.
"Hei, aku pokok anggur yang benar, dan kalian, sama brengci, sama cabang yang akur, jangan saring mematakan, tapi saring mengasihi."
Surah-surah Jesus di sini berkata bahwa ketika kamu menerima pertawaran persahabatanku.
Itu tidak akan pernah untuk menjadi jawapan kepada Loh Linus, tetapi itu adalah fondasi kepada semua persahabatan lain yang tetap harus dikejar, yang tetap harus dikejarkan.
Persahabatan dengan kita dengan Jesus adalah dasar, adalah startar yang mendorong kita untuk berteman dengan orang lain.
Surah-surah dikasih Tuhan, sampai di sini kita mungkin berpikir, tapi cik, yang namanya temenannya itu karena ada linkar eksklusifitasnya.
Betul, pertamanan ada linkar eksklusifitasnya, tapi sekarang pertanyaannya siapa yang di eksklusifitasnya?
Siapa yang tidak terlibat di dalam linkar eksklusifitas ini? Kalau surah-surah mau tahu, jauh banget di dalami kebusti, itu kemepat.
Dikatakan tidak tahu ke kamu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan alah.
Jadi barang siapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadi kandirinya musuh alah.
Surah-surah lihat ada satu lawannya di sana, yang bersahabat dengan dunia adalah musuh alah.
Jadi barang siapa yang hendak menjadi sahabat dunia, menjadi kandirinya musuh alah, dan ini adalah linkar eksklusifitasnya.
Linkar yang sahabat adalah Jesus, sangpe kok angur yang menarangkan semua carangnya, yang tidak termasuk di dalam linkar persahabatan eksklusif ini adalah dunia.
Bukan sesama orang Kristen, bukan sesama sahabat sahabat Kristus.
Persahabatan kita dengan Jesus betul itu eksklusif, tetapi yang di eksklus adalah dunia, bukan sesama sahabat Kristus.
Surah-surah betul bahwa di dalam pertemanan ada linkar yang berbeda, bukan kaya itu juga yang kita lihat di dalam dua belas mertisus, ada tiga orang yang terlalu selalu dekat di bawah kemana-mana.
Tetapi menarik bawah kemudian, Jesus punya butlas harus itu pun juga teman, ada linkar teman yang luas.
Surah-surah, dalam matis 26-50, ketika Yudhas iskariot datang untuk menangka pisus, ingat kasur darap yang kemudian isus katakan.
Dia berkata, "Hay teman untuk ditukah menggoda datang."
Surah-surah lain dengan tepat membedakan antara sahabat dengan teman bagaimana ketika Yusus memanggal Yudhas itu.
Karena memang betul, semua ini translate sebagai sahabat adalah filos, france.
Tetapi khusus ketika dia memanggal Yudhas, "Hay teman untuk ditukah menggoda datang, itu menggunakan kata teman yang berbeda."
Yang menjukkan ada satu linkar yang berbeda, ada satu distens yang berbeda, tetapi Yusus juga memanggal dia musuh.
Surah-surah yang pesaap yang yang sampai kanadalah sebagai sesama sahabat kristus, kita pun harus berteman.
Surah-surah kadang saya sedih ketika menengar mahasis oyan bilang, "Oh, yang mana, Cik? Aku gak kenal dia."
Padahal sudah bertahun tahun satu asrama barang.
Atau lebih uniknya lagi ketika satu kali saya menengar dan mahasis oyan berkata, "Oh, yang itu, Cik, aku sih gak pernah ngomong langsung sama orangnya."
Tetapi aku temen diinggainya.
Surah-surah somehow saya merasa sahabat dengan konsep asramanya, dengan makan barang, tidur barang, pergi planan barang dan semuanya kerja bakti barang dan semua barang.
Tidak pernah dimaksutkan setelah 4 setengah tahun kita keluar, dengan hanya temenan on Facebook, or Instagram.
Saya ingat ketika saya jadi mahasis oer. Ketika saya masuk tingkat satu sekenal, all the way, sampai masih soskripsi. Ketika saya masih soskripsi, sekenal, all the way, sampai tingkat satu.
"Oh, lingkarnya berbeda, ada lingkar yang dekat, dari tiap masa, ada yang lebih dekat, daripada yang lain."
Tetapi setidaknya saya pernah ngomong sama semuanya.
Dan saya tahu namanya.
Dan sampai sekarang saya bilang, "Uy, di temen saya, satu alam mata."
Kalau karena itu bagi saya sangat menyediakan dan sangat ironis, sangat menarik sekali, ketika sekarang yang saya dengar dari mahasis oer.
Nggak tahu, Cik. Nggak tahu yang mana orangnya.
Nggak tahu, Cik. Atau bahkan kalau sampai ada yang sudah kenal, tapi berpura-pura tidak kenal, karena buang muka.
Sura-sura mungkin ada diandera kita yang merasa, yang penting saya sekolah, Cik.
Yang meningsa sahabat di Kristus, yang meningsa yang kena masalah, dan saya lulus dengan amanda mahis jatara.
Sedere-sedere, bukan cuma itu yang Tuhan Nau, Tuhan mengabrit level kita dari hamam jadi sahabat, supaya kita pun jadi sahabat dengan sama sahabat-sahabat lain.
Saya percaya sahabat di design dalam konteks komunal yang seperti ini, supaya relasi personal kita dengan Tuhan bisa di aplikasikan di dalam konteks komunal, berkenalan bersama.
Sura-sura bukan, ketika kita memilih datang untuk saat kita tahu, bahwa kita bukan hanya sekedar untuk belajar secara koknitif dan nilai, tapi juga belajar bagaimana untuk berteman dengan sesama sahabat-sahabat Kristus.
Ketika di dalam persahabatan dengan sesama sahabat Kristus ini kita bisa mengalami Kristus, kita bisa mengalami pembentukan karakter dan ketika kita bisa belajar berteman, dan ketika nanti kita masuk peladang, kita bisa menawarkan persahabatan itu kepada dunia yang kesepihan.
Sura-sura mungkin ada genera kita yang berkata, aku introvertik. Sura-sura, boleh tolong di pelajari dulu, apa sebenarnya arti introvert bukan?
Pada mulanya introvert ini berbicet tentang bagaimana sesuatu orang mendahapat emang charts emosi, bahwa baterai sosial.
Introfer sama sekali tidak pernah dimaksudkan untuk tidak bersosialisasi, tidak bisa bersosialisasi, tidak butuh teman.
Kalau kita tidak tahu itu, boleh tanya sama teman saya ketika saya jemput dia dan teman-temannya.
Tidak dalam mobil itu mereka kemudian bilang ini.
"It's a need funny," dia bilang.
Kita sendiri semua introfer, tapi ternyata kita semua juga butuh teman.
Kita cuma butuh teman yang lebih dalam.
Dan setuju surah introfer tetap mengenggat, kita tetap harus bersahabat dengan sesama-sahabat krisus bukan.
Kemun kita tidak kemudian kita yang berkata, "Aduj, susah."
Kita terasa issue.
Rasanya tidak bisa percaya orang.
Rasanya sakit, ini terlalu poxik.
Oke.
Tapi mari kita ingat.
Ujapan yusus tentang sahabat ini disampaikan ketika yusus tahu bahwa 3 orang
in-reserkelnya akan tidur, instead of praying with him.
Perjalanan yusus tentang sahabat ini disampaikan di dalam konteks yusus tahu
bahwa petrus akan menghianat idea.
Yusus tahu persahabatan yang dia tawarkan ini.
Tidakkan langsung diri asponin dengan baik dan sempurna.
But still, dia menawarkannya.
Surah-surah saya bengat membagikan hal ini bukan karena semata-mata dari konsol saya.
Yang rindu, agama hasiswa bisa lebih bersahabat dengan sesama-sahabat-sahabat kristus.
Tapi tema ini telah menjadi pergumulan saya selama satu tahun terakhir.
Bulan januari 2024, saya kehilangan seorang teman bekat.
Saya masuk dengan kehilangan adalah improper good bye.
Tidak sempat berkata good bye secara langsung.
Jadi tengaja menempenuh teknologi tidak ada lagi komunikasi.
Kehilangan seorang teman yang sangat bekat dengan cara yang tidak mengenakan
dan putus komunikasi at all sunggu sangat sakitnya di dalam sini.
Dan kemudian saya berdua.
God, I need a friend.
Surah-surah ini bukan pertama kalinya saya berdua untuk seorang teman.
Siap kali kami pindah studi terhanjut, saya selalu berdua.
Oh seorang teman.
Tuhan selalu menjawab dengan cara yang luar biasa.
Saya ketemu dengan seorang Indonesia di tengah jalan yang akhirnya menjadi teman bekat.
Saya ketemu dengan tetangga yang akhirnya menjadi teman bekat.
Tetapi setelah kehilangan 2024 itu setiap kali saya berdua.
Jauh banya selalu.
I am your friend.
Dan saya selalu mengenai saya.
But I need a real friend.
Sekali lagi saya berdua keat.
I need a friend.
Dan Tuhan selalu mengenai saya.
I am your friend.
Dan saya mulai berpikir, there's something wrong in me.
Saya berdua, Tuhan jawab, tapi kenapa saya tapis.
Singga ketika satu kali kemudian Tuhan berkata, "I am I not your friend."
Kemudian saya bilang, "Okay, I want to be your friend."
Sejak saat itu, saya membiasakan diri.
Ketika memang mungkin tidak desuara apapun,
saya tidak menstimulasi diri saya dengan podcast lagu ataupun yang lainnya.
Saya membiasakan diri untuk memoleh hari dengan duduk,
menatap keluar dan ngobrol sama sahabat saya semua apa yang saya pikirkan.
Singga sesunggung berasa, "Oh, actually,
this loneliness has turned to a solitude."
Dan ini lah artinya untuk punya seorang sahabat bernama Jesus.
Tapi menariknya sudah sedera.
Berapa bulan terakhir, saya merasa di kemudian memdo orong saya.
Make friends.
Saya bilang, "No, it hurts."
Tuhan bilang, "I'm still your friend.
Go, make friends."
Dan dengan kacamata itu,
dengan satu asyurans bahwa berapa pun teman yang saya akan kehilangan.
Berapa pun teman yang mungkin akan melukai saya?
I can still feel him as my best friend.
Dan dia di dalam kemuran hatinya memperlihatkan, "Ah,
do still have friends."
Mungkin tidak sedekat yang telah pergi.
Tetapi masih ada orang yang mencari saya benar-benar menganggung saya teman.
And it is very beautiful.
And this beauty is upingin tawarkan bagikan kepada kalian.
Jangan habiskan masa hidup mu di saat di dalam melonlinus in the tidings place.
Terimala persahabatan yang dia tawarkan dan persahabatlah dengan sahabat-sahabat Christus.
Mari kita berdoa.
Sementara musik mengalut dengan lubut, "What a friend we have in Jesus?"
Marisa mengajak kita berdoa bersama-sama.
Jika dia di antara kita yang merasa kesepian,
Jika dia di antara kita yang merasa sudah cukup tuhan.
Mari raih tangannya dan terima persahabatan yang dia tawarkan.
Jika dia di antara kita yang terlalu tersaakiti untuk bersahabat lagi.
Jika dia di antara kita yang merasa sudah semuanya kemunafikan.
Mari ingat kita membuat untuk orang lain.
Jika dia di antara kita membuat untuk orang lain.
Soldera baru saya mendengarkan firman tuhan yang kaki percaya akan menunggukan iman soldara
Sampai jumpa pada pokas espet-sahab berikutnya.
Podcast Summary
Key Points:
Yohanes 15
Yesus menggambarkan persahabatan sebagai bentuk kasih yang menyerahkan nyawa, seperti gembala yang menyerahkan domba-dombanya, menunjukkan bahwa kasih yang terbaik adalah kasih yang berkorban.
Persahabatan dengan Yesus menjadi dasar bagi kita untuk membentuk dan menghidupkan persahabatan dengan sesama orang percaya, bukan hanya eksklusif terhadap Yesus.
Dalam konteks modern, kebutuhan akan persahabatan yang autentik terancam oleh budaya yang menyamakan teman hanya sebagai koneksi digital, padahal manusia tetap merasa kesepian meski di tengah banyak teman.
Persahabatan dengan Yesus memperbaiki keberadaan manusia yang terasing, karena Tuhan menciptakan manusia untuk hidup dalam hubungan sosial dan kebersamaan.
Kehilangan teman atau kesepian dapat menjadi titik balik untuk memahami kebutuhan akan kehadiran Yesus sebagai sahabat yang tak pernah meninggalkan.
Tuhan merancang manusia untuk hidup dalam komunitas, sehingga persahabatan dengan sesama percaya menjadi sarana untuk mengalami Kristus secara nyata.
Persahabatan dengan Yesus bukan hanya penerimaan, tetapi juga perintah untuk mengasihani dan menghidupkan persahabatan yang sejati dengan orang lain.
Summary:
Transkrip podcast ini membahas makna persahabatan dalam konteks Alkitab, khususnya dari Yohanes 15:12-17. Yesus menegaskan bahwa persahabatan dengan-Nya tidak bersifat simetris, melainkan dimulai oleh Dia, karena Dia memilih kita. Persahabatan ini didasarkan pada kasih yang berkorban, seperti gembala yang menyerahkan domba-dombanya, dan menjadi fondasi bagi kita untuk menghampiri sesama percaya.
Di tengah zaman modern yang menekankan teman digital, banyak orang tetap merasa kesepian, menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk kebersamaan. Kehilangan teman atau kesepian menjadi titik refleksi bahwa kebutuhan akan sahabat yang nyata terpenuhi melalui hubungan dengan Yesus. Dengan persahabatan ini, kita tidak hanya mendekati Tuhan, tetapi juga diundang untuk membangun kebersamaan yang autentik dengan sesama percaya.
Tuhan merancang manusia untuk hidup dalam komunitas, sehingga persahabatan dengan Yesus menjadi jembatan menuju kehidupan yang penuh kasih, keberanian, dan kehadiran yang nyata. Dengan memahami ini, kita diundang untuk mengubah kesendirian menjadi keheningan yang aktif, berdoa, dan berhubungan dengan sesama dalam kebersamaan yang sejati.
FAQs
Persahabatan itu bukan relasi biasa, melainkan sebuah hubungan yang dimulai oleh Yesus, di mana Ia memilih kita sebagai sahabat, bukan karena kita memilih Ia. Ini menunjukkan kedekatan yang asimetris, dengan Yesus sebagai pemula dan sumber kasih.
Persahabatan ini memberikan akses kepada Allah Bapa, menunjukkan kasih yang tulus, dan menjadi fondasi untuk membangun hubungan yang sehat dengan sesama umat Kristus dan dunia.
Sahabat adalah seseorang yang mengasihi dengan memberikan nyawa, seperti Yesus yang mati untuk kita. Ini menunjukkan kasih yang mendalam dan eksklusif, bukan hanya relasi formal atau sosial.
Rasa kesepian tidak hilang hanya karena kita punya banyak teman. Persahabatan dengan Yesus memberikan kehadiran yang sejati, sehingga kita bisa merasa dihargai dan didengar oleh seseorang yang mencintai kita tanpa syarat.
Tidak. Persahabatan dengan Yesus justru menjadi dasar untuk kita berteman dengan sesama umat Kristus. Ia memperkuat kebutuhan akan hubungan yang dalam dan autentik, bukan hanya interaksi semu.
Kesendirian adalah kondisi yang dipilih secara sadar untuk refleksi atau doa, sedangkan kesepian adalah perasaan terasing meskipun berada di tengah banyak orang, yang menunjukkan kebutuhan akan kehadiran emosional.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.