Teori intraksionisme simboli menjelaskan bagaimana manusia membangun dan memahami realitas melalui simbol-simbol dalam interaksi sosial. Menurut teori ini, manusia dibedakan dari binatang karena kemampuan berpikir dan menggunakan simbol, yang memungkinkan mereka mengartikan situasi dan bertindak secara khusus. Simbol tidak hanya mengarahkan tindakan, tapi juga dapat dimanipulasi dan diubah sesuai konteks, seperti perubahan makna kata-kata gaul. Proses ini membentuk identitas individu melalui tahap-tahap: imitasi (fly state), peran sosial (game state), dan pembentukan identitas yang stabil (generalize order). Selain itu, individu memposisikan diri sebagai subjek (pemilik keputusan) dan objek (yang terpengaruh), sehingga membutuhkan kontrol sosial untuk menjaga keberlanjutan identitasnya. Teori ini didasarkan pada filsafat pragmatisme dan bihafiorisme, yang menekankan bahwa realitas diciptakan melalui tindakan, pengetahuan berasal dari kegunaan, dan manusia bersifat kreatif dan aktif. Tokoh utamanya, George Herbert Mead, memperkenalkan konsep bahwa komunikasi sosial terjadi melalui simbol, dan proses pengembangan diri terjadi melalui interaksi dengan lingkungan dan orang lain. Teori ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari simbol, dan bahwa makna dan tindakan sosial terbentuk secara dinamis melalui pengalaman dan interaksi.
Halo, semuanya sobat sosialogi kopi, apa kabar semuanya semuanya sehat selalu dalam kondisi yang
hit, dalam kondisi yang tentunya ceria dan juga tidak dalam kondisi yang sakit.
Oleh karena itu tetap jaga keseratan, dan juga patuhi protokol keseratan, ya itu penting banget sobat sosialogi kopi.
Karena memang dalam situasi kondisi yang tidak menentu saat ini, dimana pandemi COVID-19 terus berkembang,
terus bermutasi, gain virus-nya, terus juga kita masih melakukan berbagai macam uji coba vaksinya,
dan juga masyarakat sekarang sudah mulai terbelas, sudah mulai terdikotomi antara yang percaya dan tidak percaya dengan keberadaan COVID-19.
Terlepas dari perdebatan di kotomi masyarakat itu tetap kita harus jaga keseratan.
Oke, nah hari ini, gue mau jelasin satu materi mengenai teori intrakshionisme simboli. Nah, teori intrakshionisme simboli ini ada beberapa tokohnya,
itu salah satunya adalah josar batmi dan airfing gopement.
Nah, pada kesempatan kali ini, gue mau jelasin mengenai pemikirannya josar batmi, salah satu tokoh dari intrakshionisme simboli.
Nah, oke, kita sebelum bahas tentang komikiran tokoh dari josar batmi ini, terlebih dahulu gue mau menjelaskan tentang peninsipdasar dari teori intrakshionisme simboli ini.
Nah, yang pertama, manusia itu dibekali kemampuan berfikir tidak seperti binatang.
Jadi, menurut teori ini, yang menurut teori IS ini, bahwa hakikatnya itu karena manusia dibekali kemampuan berfikir, maka dia bisa mengenangkan pengetahuannya.
Nah, oleh cara itu lah, kemudian peninsipdasar yang kedua, kemampuan berfikir manusia itu dibentuk oleh intrakshionisme simboli.
Jadi, semakin kita banyak berintrakshionisme sosial dengan orang lain, maka kemampuan berfikir kita akan terus berkembang.
Nah, kemudian peninsipdasar yang ketiga adalah di dalam intrakshionisme sosial, manusia mempelajari arti dan juga simbol yang memukinkan mereka menggunakan kemampuan berfikir mereka.
Nah, dengan berintrakshionisme sosial, ini kita kemudian jadi tahun ya, mengenai arti simbol tertentu yang ada dalam kehidupan masyarakat.
Jadi, kalau misalnya kita nggak berintrak, si kalau katana gaul jaman sekarang, kita namanya ku perkudet, kurang pergaulan, kurang update, kita nggak tahu tuh.
Arti simbol-symbol tertentu yang lagi ngahit, yang lagi viral di masyarakat, misalnya yang kemarin.
Sempet viral, kata anjay, yang kemudian jadi perdebatan, jadi polomik di masyarakat, bahwa kata-nya nanti akan di bidar nakan, karena itu berkonotasi menghina.
Pedahal, kalau dalam interaksi, anak-anak nongkrong, anak-anak gaul, anak-anak nongkinongki, kata anjay ini kan bahasa persatuan anak gaul se-Indonesia yang dimana ya, kata anjay ya, nggak punya konotasi negatif dalam arti menghina, ya, ini sebagai bahasa harian.
Dan kemudian berkembanglah dari kata anjay itu ada anjayannya, ya, dan lain sebagainya.
Nah, lekarnya itu lah, semakin individu itu berinteraksi, makin dia akan semakin bisa mempelajari satu arti dan simbol tertentu yang kemudian itu menjadi dasar mereka untuk mengambangkan kemampuan berfikirnya.
Oke, itu tadi prinsip yang ke tiga, nah prinsip yang berikutnya yang kemepat itu bahwa makna dan simbol ini memukinkan manusia melanjutkan tindakan khusus dan berinteraksi.
Jadi, dengan ada makna dan simbol tertentu ini membuat manusia kemudian akan lakukan satu eksekusi tindakan tertentunya, ya, saya ambil contoh misalnya, ya, kalau misalnya kalian lihat di depan rumah kalian atau digang rumah kalian, ya,
tiba-tiba yang biasanya kalian bahwa motor legenda dengan kenal potnya sangat ngering sekali, ya, kenal potreshing, ya, yang decibel suaranya itu bisa sampai ke dengeran 2RT ya,
tiba-tiba pada saat di hari ini kalian lihat ada bendaera kuning, ada bendaera kuning di depan rumah tetangga kalian.
Nah, gira-gira apa yang akan kalian lakukan?
Nah, pasti yang akan kalian lakukan yang tadinya, sehari-hari kalian ngebeber ngebetot itu penal potreshing yang sampai ke dengeran kedua RT ya,
kalian akan mematikan sepeda motor legenda kalian ke subut, terus kemudian mendorongnya.
Tujuhnya buat apa supaya tidak melukai atau tidak mengganggu, tetangga kalian yang sedang berduka.
Nah, itu maksudnya dari makna dan simbol ini kemudian memungkinkan manusia melanjutkan kindakan khusus dan berinteraksi-nya.
Jadi, banyak sekali simbol tersentu yang ada dalam kehidupan kita yang kemudian ketika kita lihat, gak perlu ada orang yang menilaskan tentang satu prestiwa atau satu momentum kejadian di tempat itu.
Kita dengan melihat simbol tersentu sudah paham dan kemudian kita akan menghujutkannya dalam kindakan kita.
Nah, itu yang dimaksud point ke empat. Nah, prinsip dasar yang kelima, manusia mampu mengubah arti dan simbol yang digunakan dalam kindakan serta-interaksi berdasarkan penapsiran mereka tersituasi.
Contoh misalnya, kalau lu pada lagi nongkron, lagi nongkinongki, sambil ngebak, sambil noki, piat, sambil mudut, terus kemudian temen lu tiba-tiba asik semuanya pada main games, main mobile legend.
Main reboot atau main games lainnya main tetris mungkin, dan tiba-tiba lu di campakan gitu saja, sementara temen-temen lu pada lagi asik yang game, main game mobile dan yang subagainya.
Nah, sebenarnya, lu bisa memaknai bahwa kondisi niyatan kalian monongkron, itu sebenarnya dan kondisi yang semu itu.
Jadi, sebenarnya ga ada keinginan untuk nongkron, karena mereka pada akhirnya ketika nongkron yang malah asik dengan duniannya sendiri.
Itu yang kemudian membuat kita menapisikan bahwa kegiatan pertemuan kita, kegiatan yang membosankan, itu yang kemudian kita bisa merubah situasi kondisi itu.
Ya, misalnya kita marah sama temen-kita, negor, temen-kita, atau bisa juga kita kemudian meninggalkan tempat nongkron itu, yang kemudian temen kita akan menapisikan kenapa sih dia pergi dari tempat nongkron yang mungkin dia marah atau kecewa kita asik main games.
Nah, itu yang dimaksud dengan manusia ini mampu mengubahati dan simbol yang digunakan dan tindakan serta interaksi berdasaran menapisiran mereka.
Nah, itu salah satu contoh dari situasi kondisi ketika sebuah maknanya dan simbol kemudian kita ola kembali dan kemudian kita tapsirkan berdasaran situasi.
Nah, prinsipdasar yang berikutnya yang kenal, itu manusia mampu membuat kebijakan modifikasi dan perubahan karena kemampuan berinteraksi dengan dirinya sendiri dan menimbulkan peluang tindakan pilihan atas tindakannya.
Jadi, simbol-simbol ini bisa di modifikasi oleh si individu dan tentunya ini berdasarkan kemampuan dia berinteraksi dengan dirinya sendiri.
Jadi, kalau misalnya kalian tahu ini ada gambar toilet, nah toilet itu gambarnya gambar perempuan.
Nah, kalian ini adalah laki-laki, tapi kalian sudah kebeletnya kebelet mau pipis.
Ya, nah kebelet pipis, tapi nantri banget nih, ya kan, nantri banget di tempat toilet pria. Nah, karena sudah diujung tando, kemudian kalian lingak-selinguk lihat kalau set perempuan ini kosong nggak ada orang.
Ya sudah, kalian terabas deh, masuk ke toilet perempuan untuk melancarkan hasil.
kebelet kalian, nah itu yang di maksud dengan kita kemudian ketika lihat symbol, kita bisa
memodifikasi berdasarkan kemampun kita berintraksi dengan situasi dan kondisi, jadi kita
tahu nih oh, gak ada orang dan sepik, ya toilet prempon ini, gue pake dulu kan sebenarnya,
oke, nah itu yang di maksud prinsit dasar kesibut lalu prinsit dasar yang ke tujuh yang berikutnya
adalah bahwa pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan memutuk kelompok dan
masyarakat na ini, lebih makrola gini bro, nah kalau dalam konteks satu tindakan dan
interaksi yang terus menerus dia menjaditin dakan kolektif, nah ini padahak kikatnya kemudian
membentuk kelompok dan masyarakat yang berkaitan dengan identitas sosialnya, ya, contoh sedarhana
kalau misalnya satu individu awalnya mabuk-mabukkan, terus kemudian diikuti di individu lain, jadi
mabuk-mabukkan juga, terus menerus kayak gitu, ya, lambat kelompok kemudian masyarakat itu
membentuk pola tindakan, ya, kini bahwa mabuk-mabukkan itu bukan tindakan negatif,
nah makanya gak heran kenapa ada individu-individu atau kelompok-kelompok yang menolak tentang
adanya LGBT di Indonesia, ya, walaupun LGBT itu dilakukan oleh hanya beberapa individu saja,
nah di keuatir, kan kalau misalnya itu diikuti oleh individu-individu yang lain,
ini akan menjadi tindakan yang collected dan kemudian bangsa Indonesia itu tidak beda jauh
dengan bangsa lain yang kemudian menysakan LGBT, karena wargan-wargan negara-nya pun
banyak yang melakukan tindakan LGBT, nah itu yang kemudian dikewataikan oleh masyarakat
yang kontra dengan LGBT, nah itu tadi kaitanya dengan pola symbol yang kemudian
nanti jadi tindakan collectip membentuk kelompok dan masyarakat, nah berikutnya,
ya, akar utama dari IS ini tidak lepas dari akar filsapat pragmatisme dan dihaviolismo
skologi, karena memang tokotamanya yang merintis tentang teori intrak semua symbolik
ini si Josh Erbot mit sebenarnya adalah seorang berlater belakang skologi, ya, nah,
oke dalam aliran pragmatisme ini berasum si bahwa realitas diciptakan secara aktif,
ya, dengan tindakan dalam dunian yang hata, nah maksudnya apa ya, bahwa realitas itu
diciptakan secara aktif dengan tindakan dalam duniannya tak, jadi yang namanya realitas
itu terjadi bukan dalam bentuk kalem pikiran, tetapi dia dibentuk dalam sebuah tindakan
yang memang bisa diamati, bisa dilihat, yang konteksnya sebenarnya itu di duniannya
tanah manusia, jadi alam pikiran itu dianggap bukan sebuah realitas, ya,
lalu yang berikutnya, ingatan dan pengetahuan di dasarkan pada duniannya
tanah terbukti berguna bagi manusia, jadi kita bisa mengingat sesuatu hal,
pengetahuan itu kemudian terus menerus digunakan, ya, ketika dia bermanfaat bagi manusia,
ya, jadi kalau misalnya sesuatu ingatan atau pengetahuan yang tidak berguna bagi manusia,
maka dia akan ditigalkan, akan dilupakan, nah yang berikutnya,
ya, manusia ini mendekinisikan objek sosial atau fisik sosialnya menurut utilitasnya,
ya, menurut kegunaannya, nah, jadi ketika kita melihat suatu objek sosial,
suatu fisik sosial, ya, kita selalu melihat berdasarkan fungsinya,
ya, berdasarkan kegunaannya, ya, contoh misalnya tangan,
kenapa kita sebut dia dengan tangan, karena kita udah mempercepsikan tangan itu
adalah satu anotomi tubuh manusia yang memiliki fungsin untuk memegang,
ya, memegang bareng-bareng tertentu, ya, atau melakukan aktivitas kegiatan yang siapatnya menyintu,
ya, nah itu kemudian kenapa tangan kita sebut dengan kepala,
ya, karena kita sudah terperumentasi dengan fungsinya, ya, kayak itu, ya, terkait dengan utilitas,
nah, berikutnya pemahaman atas individu didasarkan pada prilakunya dalam kenyataannya,
nah, pemahaman atas individu didasarkan pada prilakunya dalam kenyataannya,
ini maksudnya adalah bahwa semakin kita mengalami satu prestiwa empiris
semua pengalaman yang nyata, itu akan semakin terus menguat di dalam pikiran manusia,
nah, itu asumsi dari firsapat pragmatisme, nah, asumsi yang berikutnya, ya, itu bihafiorisme,
ya, nah, kalau bihafiorisme, ini menganggap bahwa prilaku manusia itu tidak sama dengan prilaku hewan,
kemudian tindakan manusia didasarkan oleh proses mentalnya,
dan kemudian yang ketiga manusia merupakan aktor yang kreatif,
jadi, karena di aktor yang kreatif, dia membutuhkan pengetahuan yang terus menurus berkembang,
contoh sederhana pakean, pakean kita terus berkembang dari tahun 1960,
sampai tahun 2020, yang terus berkembang,
sementara hewan, sampai jaman nabi Adam, sampai saat ini,
yang namanya hewan burung, ingin lahirkan yang tetap disangkarnya,
yang merupakan rajutan dari ranting-ranting pohon atau lidi-lidian,
nggak ada tuh, saykor burung, membuat rumah yang berbahan baku,
dari hebat-batak-batu-batak di chat warna warni,
ya, kenapa, karena memang dia secara prilaku tidak sama dengan hewan,
kemudian dia nggak punya kemampuan berfikir yang berkembang seperti layaknya manusia,
ya, nah itu tadi, asumsi dari bihafiorisme,
nah, berikutnya kita langsung masuk ke tokonya,
kokonya, nah, tokonya, ya, itu just herbert mit,
nah, just herbert mit sendiri, ini lahir di soat Harley masa suset,
pada 27 pb, tahun 1983, nah dia ini mendapat gelar sarjana muda,
di tahun 1983, di Oberlin College,
lalu kemudian di tahun 1987, dia menuruskan kuliah,
di unifista-servat dan unifista-slab di Jermanah,
setelah lulus, ia kemudian menjadi dosen di unifista-smisi gen pada tahun 1981,
dan kemudian dia pindah ke unifista CKGO tahun 1984,
atas undangan, John Dewey, nah,
just herbert mit, ini merupakan alutama dari teori intras mesin boleh,
bisa dibilang, teori intras mesin boleh ini,
dikenal karena contribusi dari just herbert mit,
dan ini yang kemudian dimapankan menjadi teori bermazap
CKGO, jadi CKGO itu terkenal dengan
macap intras mesin boleh, kalau harvat itu,
macapnya yang terkenal adalah functionalisme struktural,
nah, sumbang sih besar pemikiran ni, dipaparkan dalam karyanya
mindset on society yang kemudian di publikasi kan,
di tahun 1934, yang sebenarnya,
buku mindset on society ini bukan,
buku yang ditulis oleh dosen herbert mit sendiri,
tetapi buku ini ditulis oleh
cetetan-cetatan menghasil suami suanya,
just herbert mit, yang kemudian dikumpulin lasi,
atau dikumpulkan menjadi sebuah buku.
Mit meninggal di tahun 1931, di rumah sakit,
akibat gagal jantung yang dideritanya.
Nah, kemudian,
dalam kontac memikirannya mit,
mit menganggap bahwa komunikasi manusia itu
belangsung melalui pertukaran symbol,
serta pemaknaan, symbol-symbol tersebut.
Bagi mit, dalam intrakshma symbolik,
idedasarnya adalah symbol.
Jadi, karena symbol ini adalah suatu konsek mulia,
yang kemudian membedakan manusia dari binatang.
Jadi, kalau bagi mit, yang membedakan manusia
adalah adanya konstruksi dari symbol,
yang dimana symbol itu kemudian punya makna
dan kemudian diinterpretasikan oleh manusia.
Nah, symbol ini muncul akibat dari kebutuhan
setiap individu untuk berintraksi dengan orang lain.
Ya?
Apa?
Gue ambil contoh misalnya,
lampu lalu lintas.
Nggak mungkin kan 24 jam,
polisi kemudian,
berdiri terus menurus ngatur lalu lintas.
Kemudian hadirlah yang namanya lampu lalu lintas.
Ada merah kuning hijau,
yang kemudian punya maknanya masing-masing.
Nah, lampu lalu lintas itu sebagai symbol,
yang mengatur kehidupan masyarakat dalam berlalu lintas.
Jadi, nggak protok polisi 24 jam,
mengatur lalu lintas.
Jokup dengan hadirnya lampu lalu lintas,
ini kemudian mengatur,
karena berlalu lintas masyarakat.
Nah, kemudian, ya, bagi mit,
dalam proses berintraksi,
pasti ada suatu tindakan atau perbuatan,
yang diawali dengan pemikiran.
Nah, jadi sebelum ada tindakan,
tentu di awali dengan pemikiran.
Nah, oleh karai tulah dalam bukunya,
yang main seven society,
mit berpendapat bahwa,
bukan pikiran yang pertama kali muncul,
melayinkan masyarakatlah yang terlalu muncul
dan baru diikuti pemikiran yang muncul
pada dalam diri masyarakat tersebut.
Nah, ada beberapa konsep penting
dalam pemikiran yang mit,
ada prioritas sosial,
tindakan sekap isarat,
symbol-simbol signifikan,
pikiran diri dan masyarakat.
Nah, apa sih yang dimaksud dengan prioritas sosial?
Nah, bagi mit, prioritas sosial itu,
maksudnya adalah bahwa kelompok sosial muncul
lebih dulu dan kelompok sosial
menghasilkan perkembangan mental
dan kesadaran diri.
Nah, yang berikutnya, ya,
tindakan. Nah, bagi mit, ya,
tindakan manusia itu tidak sama dengan binatang.
karena manusia itu dibakali kemampuan berfikir yang terus berkembang
Lalu kemudian ada sikap pisarat
Sikap pisarat menolot mid ini bagian dari tindakan sosial
Yang dimana tindakan sosial ini punya motive
kemudian sikap isarat ini pun dia punya makna
Dan itu yang kemudian nanti motive dan makna itu diinterpretasikan oleh individu yang lain
Nah kemudian simul-simul signifikan
Nah simul-simul signifikan
Ini maksnya adalah bahwa gerak isarat yang diciptakan manusia dan menjadi respon atas individu pada manusia
Lalu kemudian pikiran
Nah pikiran menolot mid ini adalah bagian dari proses percakapan individu dengan dirinya sendiri
Lalu ada diri
kemampuan menjadi kan subject at object dengan aktivitas dan hubungan sosialnya
Jadi bagi mid diri berhubungan dengan dialektis dengan pikiran sosialnya
Nah lalu kemudian ada masyarakat
Masyarakat menolot mid adalah bagian dari proses sosial tanpa henti yang mendau lui pikiran dan diri dari si individu itu
Kayak itu tadi berapa konsep dari pemikirannya si George Herbert Mid
Itu perorita sosial tindakan sikap isarat simul-simul signifikan pikiran diri dan masyarakat
Oke berikutnya dalam proses terbentunya tindakan menolot mid ini ada 4 tahapan
Pementukan tindakan ada impuls, prosesi, manipulasi dan konsumsi
Nah impuls di sini maksnya setiap tindakan manusia itu adanya rangsangan, adanya dorongan dulu
Misalnya kita lapar
Nah kondisi lapar itu tentu bagian dari impuls
Nah kemudian ketika kita lapar naik impuls ini menjadi prosesesi
Nah prosesesi ini maksnya adalah kira-kira kalau misalkan saya lapar saya enaknya makan apa
Nasi kami, erbus, cilokkuak atau misalnya lahubulat atau mau makan rendang ketoprak dan lain sebagainya
Nah ini kemudian di prosesikan dalam pikiran kita
Setelah kemudian di prosesikan kemudian tahap yang berikutnya di manipulasi
Nah manipulasi kira-kira kalau misalnya gue makan cilokkuak
Kira-kira itu kenyang ga ya, kira-kira itu sehat gawea buat badan gue
Nah ini terjadi dialog yang berkaitan dengan apakah dia ada punya
Kalau kulasi untung rubinya buat tiri kita
Nah setelah kita udah menentukan
Tapi gue mau makan yang ga berat-berat, yang ga bikin gemuk
Gue berarti mau makan salah, salah dua kis
Setelah udah salah dua kita kemudian melakukan konsumsi di sini
Kemudian kita mengexcusi dari impuls, prosesesi dan manipulasi dalam bentuk indahkan
Nah itu terbentuknya tindakan dari impuls, prosesesi, manipulasi dan konsumsi
Nah pikiran yang konsep yang berikutnya dari mit itu main
Ya tuh pikiran menurut mit ya, main itu atau pikiran bersyipat sosial
Maksudnya bahwa dia berkembang karena melalui prosesin teraksi sosial
Jadi kalau misalnya kita kudet kuper ya
Maka main kita itu ga akan berkembang dengan baik atau dengan luas
Oleh karena itu penting sekali berinteraksi dengan orang banyak
Remasuk berinteraksi dengan keluarga kita juga bagian penting dari mengembangkan main kita
Nah kemudian selain bersyipat sosial, main ini merupakan tindakan yang menggunakan simbol-symbol
Dan mengarakan simbol-symbol sebut menuju self, menuju diri
Jadi dalam pikiran dia akan mengolah berbagai macam simbol-symbol
Yang kemudian simbol-symbol ini nanti akan menuju terhadap pembentukan diri kita
Nah pembentukan diri kita ini nanti ga lepas dari bagaimana kita memposiskan diri kita di dalam bertindak
Nah dengan main simbol kemudian bisa di manipulasi
Jadi yang tadi udah gua jelaskan bahwa ketika kita melihat satu simbol, ini bisa kita manipulasi
Nah kemudian aktifitas main berupa komunikasi dengan orang lain mau pun diri sendiri
Jadi kita bisa melakukan tindakan interkomunikasi atau pun interkomunikasi
Oleh karena itu lah penting sekali kita berduga tidak hanya berdialok atau berkomunikasi dengan orang lain
Penting juga kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri
Karena itu bagian dari main kita atau merawat main kita agar lebih sehat lagi
Berikutnya ada self ini terbagi jadi dua
Itu ada i sebagai subjek, ada ini sebagai objek
Nah maksud dari i sebagai subjek, ini maksudnya adalah bahwa tanggapan sepontan individu terhadap orang lain atau situasi
Dan kemudian i sebagai subjek ini bagian dari sumber utama yang baru dalam proses sosial
Seorang individu dan kemudian juga dalam konteks yang lain, i sebagai subjek ini adalah sesuatu yang bicari mengenai definisi diri keperibadian dengan definitiv
Ini kita menentukan tentang keperibadian atau karakter diri kita
Jadi konsep i sebagai subjek ini sebenarnya bicara tentang diri kita
Di diri kita, sebagai mana kita ingin membentuk diri kita, nah oleh karena itu lah, i sebagai subjek ini bersipat kreatif
Jadi bersipat kreatif ini, kadang tiap individu kan punya karakter istik keperibadian yang berbeda satu sama lain
Karena memang i sebagai subjeknya pun berbeda proses dia berkembangnya pun berbeda
Misal contoh sederhana, ada orang yang disuruh jualan indomie, nah suruh jualan indomie dia dalam satu hari, gak laku
Lalu dia langsung ngedrop, langsung sedih
Tapi ada individu lain yang juga disuruh jualan indomie satu hari, indomie juga gak laku tapi dia gak ngedrop
Dia tetap semangat berjualan untuk kesokan harinya, nah kenapa antara individu yang tadi yang pertama ngedrop yang kedua ini tetap semangat
Karena masing-masing ay sebagai subjeknya ini berbeda, kenapa berbeda?
Karena proses tumbuh mentalnya mainnya pun berbeda
Jadi oleh karena itu lah, proses sosial tiap individu itu akan berbeda
Ada orang yang di uji baru serintik hujan udah ngedrop, tetapi ada orang yang di uji sebesar badai tetap dia hadapi
Nah ini karena tiap-tiap individu punya proses mental yang berbeda satu sama lain
Nah berikutnya ini sebagai objek, nah koncert ini sebagai objek disini maksudnya adalah bahwa tanggapan tidak langsung individut terhadap orang lain
Jadi dia sebenarnya kalau misalnya sebagai objek ini, dia ini memungkinkan bahwa dirinya tidak dibentuk secara definitif
Jadi dia melihat bahwa orang lain itu bisa mempengaruh diri dia
Dan itu yang kemudian dia harus melakukan kontrol sosial terhadap pengaruh orang lain itu
Jadi misalnya segerhana kayak gini, lu semua non krong sama temen-temen lu yang padang roko, nah dari kecil dari SD misalnya sampai SMA lu tuh gak punya kebiasaan ngerokok bahkan di keluarga lu
Nyokap, bokap, ngerokok, AKNNN, Changqing, itu gak ngerokok
Dan lu pun memang gak ngerokok, tapi kemudian lu non krong sama temen kuliah, yang mayoritas pada ngerokok
Nah pertanyaannya adalah apakah lu juga akan ikutan merokok sementara sebelumnya lu gak pernah merokok
Nah itu yang kemudian lu jadi kontrol sosial lu, ya jadi kontrol sosial diri lu sendiri
Kalau lu ternyata kemudian kontrol sosial lu adalah, oke gue memungkong ini bagian dari solidaritas ya udah itu artinya mis sebagai, oke
Nah atau misalnya, oke gue gak ngerokok gue tetep nongkrong, tetep nongkin nongkin sama temen gue, tapi gue gak mau ngerokok
Nah itu pun bagian dari kontrol sosial, jadi kontrol sosial itu adalah proses kita menempatkan keperibadan definitiv kita
Beredasaran situasi kondisi realitas eksternal kita, ya dan itu semuanya balik lagi kepada diri kita bro
Oke itu mis sebagai, oke ya, nah berikutnya ya, tiga tahapan pembentukan self, nah tiga tahapan pembentukan self ini ada fly state, game state dan generalize order
Nah fly state di sini yang dimana kemudian banyak di beberapa buku buku text SMA pemikirannya Josh Herbert mit ini ditambah-tambah ya
Dia ada 4-5 dan 6 pedahal kalau dari bukunya mid sendiri yang main self and society ini hanya tiga fly state, game state dan generalize order
Nah tahapan yang pertama adalah tahap dimana seorang individu atau anak sedang membangun dirinya dengan belajar menjadi sujek dan sekaligus objek
Yang melalui proses merespon segala apa yang iya ketahui, jadi dia tahap yang pertama fly state ini
Si individu ini, sekedar dia melakukan proses terpengaruh ini, ya dia ingin melakukan yang namanya imitasi
Nah lalu kemudian dari imitasi ini dia ngikutin, dia niruin masuk ke game state, nah dia berdialok nih
Berdialok kira-kira ini profile orang lain ini cocok ya sama profile gue yang nanti bagian dari cita-cita atau keinginan gue, nah game state ini tahap dimana individu mulai, mampu memahinkan orang kalian peran dan menemukan apa yang akan dilakukannya dengan melihat peran orang lain
dari waktu kecil, gue pengen cita-cita jadi polisi, cita-cita mau jadi doktor, cita-cita mau jadi koky, cita-cita mau jadi insinur, ya.
Nah, terus kemudian berkembang, "Ah kayaknya gue gak bisa deh buat jadi insinur, gak bisa buat jadi polisi, kayaknya gak oke deh."
Kayaknya gue menemukan jadi diri gue, gue mau jadi seorang sosialok, gue mau jadi guru.
Oke, nah itu yang di tahap yang game set, jadi sudah ada dihalok antara diri kita dengan realitas, proses imitasi sosial dulu pernah kita lakukan.
Nah, sampai kemudian terbentuk lah identitas kita yang sebenarnya itu tahap yang terakhir, dia itu generalize order.
Tahap dimana individu sudah terbentuk bangunan ke privadain dirinya atau sikapnya, ya.
Nah itu tadi sekilas tentang pemikirannya Josh Harbert-Mid, tentunya apa yang gue sampe kan masih sangat terbatas kali.
Oleh karena itu buat sobat-sobat sosialogi kopi, mungkin bisa baca referensi referensi tambahan lainnya mengenai Josh Harbert-Mid.
Yang jelas Josh Harbert-Mid ini merupakan salah satu toko dari majepsikago yang mengambangkan dan mengontribusi dalam mengambangkan teori intrakshionisme simbolik dan kemudian dikuti oleh toko-toko lainnya lagi.
Nah, dan gue pribadi merupakan orang yang sangat menyenangin dengan teori ini, karena buat gue memang kehidupan manusia itu gak lepas dari simbol-symbol tertentu.
Oke itu dari gue sekian untuk materi hari ini, terima kasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast sosialogi kopi dan gue gak bosen-bosennya ingetin buat tetap jaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan, dimana pun kita berada.
Oke, sekian dari gue, terima kasih sampai ketemu di segment berikutnya salam sosialogi kopi.
[MENGENI]
Podcast Summary
Key Points:
Teori intraksionisme simboli menjelaskan bahwa manusia membedakan diri dari binatang karena kemampuan berpikir dan penggunaan simbol dalam interaksi sosial.
Simbol-simbol membentuk makna yang memungkinkan individu mengambil tindakan dan berinteraksi secara khusus, seperti mematikan motor saat melihat benda kuning di depan rumah.
Makna dan simbol dapat diubah atau dimanipulasi sesuai dengan situasi dan penilaian individu, seperti perubahan makna kata "ajay" dari bahasa gaul menjadi bermakna negatif.
Interaksi sosial yang terus-menerus membentuk kelompok dan masyarakat, misalnya ketika kebiasaan mabuk menyebar dan menciptakan sikap kolektif kontra terhadap LGBT.
Teori ini didasarkan pada pragmatisme dan bihafiorisme, menekankan bahwa realitas diciptakan melalui tindakan, pengetahuan berasal dari kegunaan, dan manusia bersifat kreatif dan aktif dalam memahami diri dan lingkungan.
Proses pembentukan diri (self) melalui tiga tahap
Individu memposisikan diri sebagai subjek (pengambil keputusan) dan objek (terpengaruh oleh lingkungan), sehingga membutuhkan kontrol sosial untuk mempertahankan identitas.
Tokoh utama teori ini adalah George Herbert Mead, yang menyatakan bahwa komunikasi manusia berjalan melalui pertukaran simbol dan pemahaman bersama.
Summary:
Teori intraksionisme simboli menjelaskan bagaimana manusia membangun dan memahami realitas melalui simbol-simbol dalam interaksi sosial. Menurut teori ini, manusia dibedakan dari binatang karena kemampuan berpikir dan menggunakan simbol, yang memungkinkan mereka mengartikan situasi dan bertindak secara khusus. Simbol tidak hanya mengarahkan tindakan, tapi juga dapat dimanipulasi dan diubah sesuai konteks, seperti perubahan makna kata-kata gaul.
Proses ini membentuk identitas individu melalui tahap-tahap: imitasi (fly state), peran sosial (game state), dan pembentukan identitas yang stabil (generalize order). Selain itu, individu memposisikan diri sebagai subjek (pemilik keputusan) dan objek (yang terpengaruh), sehingga membutuhkan kontrol sosial untuk menjaga keberlanjutan identitasnya. Teori ini didasarkan pada filsafat pragmatisme dan bihafiorisme, yang menekankan bahwa realitas diciptakan melalui tindakan, pengetahuan berasal dari kegunaan, dan manusia bersifat kreatif dan aktif.
Tokoh utamanya, George Herbert Mead, memperkenalkan konsep bahwa komunikasi sosial terjadi melalui simbol, dan proses pengembangan diri terjadi melalui interaksi dengan lingkungan dan orang lain. Teori ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari simbol, dan bahwa makna dan tindakan sosial terbentuk secara dinamis melalui pengalaman dan interaksi.
FAQs
Teori intrakshionisme simboli menyatakan bahwa manusia memahami dan berinteraksi dengan dunia melalui simbol-simbol, dan bahwa kemampuan berpikir manusia berkembang melalui interaksi sosial.
Tokoh utama dalam teori ini adalah George Herbert Mead, yang mengusulkan bahwa simbol-simbol membedakan manusia dari binatang dan memungkinkan pengembangan identitas sosial.
Simbol memberikan makna yang memungkinkan manusia mengambil tindakan tertentu, seperti mematikan motor saat melihat benda kuning di depan rumah tetangga yang sedang berduka.
Ya, manusia dapat mengubah makna simbol sesuai situasi, seperti saat merasa bosan di waktu nongkrong, yang kemudian bisa diubah menjadi aktivitas lain seperti bermain game.
Dalam teori Mead, 'self' terdiri dari dua bagian: subjek (tanggapan spontan terhadap lingkungan) dan objek (tanggapan tidak langsung terhadap pengaruh orang lain).
Pembentukan identitas diri melalui tiga tahap: fly state (imitasi), game state (memahami peran orang lain), dan generalize order (terbentuknya identitas diri yang stabil).
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.