Go back

Gospel Hope In Restless World Wk.7 - Ps Michael Chrisdion

from Gibeon Church Surabaya

53m 36s

Gospel Hope In Restless World Wk.7 - Ps Michael Chrisdion

Dalam refleksi ayat Habakkuk 3:17-19, kehilangan tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan sebagai peluang untuk memahami kehadiran Tuhan yang sebenarnya. Kehilangan mengungkapkan apa yang selama ini menjadi sandaran iman kita—misalnya, kekayaan, keamanan, atau keberhasilan—yang justru menunjukkan kecenderungan manusia untuk menempatkan kepercayaan pada hal-hal material. Dalam kehilangan itu, pernyataan "Aku bersuka cita di dalam Tuhan" menjadi nyata, karena iman tidak lagi dibangun pada hasil atau perubahan kondisi, melainkan pada kehadiran Tuhan sendiri. Ini adalah bentuk kedewasaan rohani: mengenali bahwa Tuhan bukan sekadar pemberi, tetapi kehidupan yang tak tergoyahkan. Kehilangan tidak menghilangkan kepercayaan, melainkan memperjelas bahwa kekuatan sejati berasal dari Kristus. Dalam kelemahan, kekuatan Tuhan menjadi terasa, seperti kaki rusa yang memungkinkan berjalan di medan curam. Injil bukan hanya tentang keselamatan atau kebahagiaan di masa depan, tetapi tentang kembali kepada Tuhan sebagai keindahan yang lebih besar dari semuanya. Maka, menghadapi kehilangan bukan berarti kehilangan harapan, melainkan menemukan bahwa Tuhan sendiri adalah harta terbesar, yang tidak pernah meninggalkan kita. Dalam kehadiran Kristus, setiap kehilangan menjadi peluang untuk mencintai, mengasihi, dan mempercayai Tuhan secara utuh.

Transcription

6519 Words, 43050 Characters

Indonesian
Nah kita ada di dalam korba berseri kita yang terakhir ini ya, minggu ini adalah yang terakhir. Gospel Hope in Restless World. Exposisi kita pabakuk ini adalah minggu yang ketuju. Dan saya akan memberikan judul kepada korba saya hari ini adalah, "What if your greatest loss is God's greatest grace?" Bagaimana jika justru di balik kehilangan terbesar kita? Tuhan sedang mengejarkan kasih karunya yang terbesar juga bagi saudara. Nah kita akan melihat habaku 3 ayat 17 sampai 19, ini adalah 3 ayat terakhir dari kita pabakuk dan kita akan membacanya bergantian. Kita mulai dulu ayat 17, saya baca alam 11, sudah ada baca 19. 1, 2, 3, sekalipun pohon arah tidak berbungan, pohon angkur tidak berbuah, hasil poin zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing dombatra halau dari kurungan dan tidak adalah membusapi dalam kandang. Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beri-ari di dalam alah yang menyelamatkan aku. 19, alah Tuhanku itu kekuatanku yang membuat kakiku seperti rusa, yang membiarkan aku berjeja di bukit-bukitku, berbagilah orang yang mendengar firman Tuhan, memelihara lemhatinya dan melakukan dalam hidupnya. Nah sudah saya akan memulai dengan sebuah observasi, sudah. Saya memperhatikan sesuatu sejak saya kecil, ada sesuatu yang saya notis bahwa, 'We're always being taught, kita selalu diajarin, how to be successful, how to grow, how to lead, menjadi leader yang hebat, how to build, how to be smart, how to be efficient, how to be rich, ya kita diajarkan bagaimana membangun usaha, mengolong-olong keuangan, mempersiapkan masa depan, menjadi orang tua yang baik, kita diajarkan semua itu. Dan bahkan kalau sudah perhadikan kita berusaha untuk membuat hidup ini menjadi stabil dengan sistem yang kita buat di skilleting kita. Nah kalau sudah pergi ke grame dia, sudah lihat youtube, melihat seminar-semina, semua podcast-podcast yang ada, semua berbicara tentang hal ini, ga ada yang salah, tetapi begini suruh. Masalahnya kita mulai berpikir, kalau aku berhasil membangun semuanya dengan baik, maka hidupku akan aman, hidupku akan sekir, dan tanpa sadar, perlahan-lahan, hati kita mulai berkeser, bukan lagi bersandar kepada Tuhan tetapi kepada sistem yang kita buat. Kita berpikir kalau aku punya financial planning yang baik, I have emergency fun, aku make sure bahwa aku medical check up setiap tahun, aku make sure my investasiku itu bagus, asuran siku bagus, aku punya retirement plan, aku akan aman. Sekali lagi semuanya baik, karena saya pun juga mempunyai itu tetapi ada satu mata pelajaran, ada satu topik yang jarang sekali dibicara kan, yang ga pernah ada podcast tentang ini, ga ada buku jarang lah, buku yang tentang ini, karena begini, "Nobody teaches us how to lose, bagaimana kita face loss, bagaimana kita menghadapi kehilangan, ga ada podcast, bagaimana kita bisa kehilangan ke sehatan, ga ada?" "Bagaimana kita bisa kehilangan mimpi kita?" "Sodara hal-hal ini tidak pernah diajar kan?" "Bagaimana kalau kita kehilangan semua yang kamu bangun tadi dan mimpimukan das?" "Bagaimana kehilangan orang yang kamu cintai?" Kamu ga pernah belajar tentang hal ini? Padahal kalau kita mau pasti, kalau mau satu hal yang pasti dalam hidup cepat atau lambat, kita semua pasti akan kehilangan sesuatu. Betul-betul? All of us! Sudara hal-hal, saya ga mau pesimis tetapi saya mau mengajak kita realistis. Karena al-kitab juga realistis. Jesus berkata di Johan 16, 33 di dalam dunia kamu akan mendrita. Bukan kamu ada kemungkinan, ga? Kamu akan mendrita, kenapa? Karena kita hidup di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan rusak karena dosa. Kita hidup di dalam World Fallen. Jadi kehilangan itu datang dalam hidup kita tanpa diundang. Sudara kalau sudah lihat orang hidupnya berubah gara-gara membaca satu hasil laboratorium. Betul? Orang hidupnya berubah mendapatkan telpon tengah malam tentang kabar buruk. Orang hidupnya berubah karena satu kecelakaan, arah hidupnya bisa berubah. Orang hidupnya masa depannya keluarganya berubah gara-gara. Surat pehaka. Ke hidupan cintamu bisa berubah gara-gara satu percakapan waktu kamu dibutus. Orang tua dan anak bisa gak enakkan suami dan istri bisa gak enakkan gara-gara satu percakapan dan dalam beberapa jam seluruh arh hidup kita berubah. Nah pertanyaannya begini sudah kalau semua yang kamu bangun, apa yang tersisa? Apa yang masih menopang kita? Menurut saya itu lah pertanyaan habaku. Menurut saya itu lah yang kita bisa pelajari dari habaku. Nah saya akan memberikan sedikit-rekat kepada sudara. Berminggu pertama habaku membawa pergumulannya kepada Tuhan. Dan Tuhan sakannya kan dia. That's why week one is when God seems silent. Dan di sini kita belajar bahwa orang kristin bukan orang yang cukup, apura-apura kuat. Tetapi orang-orang yang jujur dan bisa membawa pergumulan dan ketakutan kita kepada Tuhan. Kemudian minggu kedua kita belajar pada waktu Tuhan memberikan jawapan ini tidak sesuai. Habaku berpikir Tuhan akan mengirimkan revival. Tuhan akan mengirimkan tro bosan. Tetapi yang terjadi adalah Tuhan mengirimkan babel. When God's answer doesn't make sense, ternyata jawapan Tuhan gak masuk akal. Di sini lah habaku untuk belajar percaya. Meskipun dia itu saat itu bergumul. Dan dia mempercaya keadaulatan Tuhan bahwa keadaulatan Tuhan itu ternyata baik. Dan kita mula ke week three bagaimana dia trusting God in the waiting waktu menantikan Tuhan. Belajar untuk mempercaya meskipun kita gak paham semuanya. Kemudian minggu kedua, "When faith is all you get, what you have left is only faith." Kemudian, habaku diperduh hadapkan dengan babel yang penuh dengan keserakahan, haus ke kuasaan, penuh dengan korupsi, penuh dengan kebobrokan. Mirip-mirip bangsa kita saat ini sudah ada ya. When enough is never enough. Kemudian, habaku dihadapkan dengan ingatan bagaimana Tuhan setiha di mesir mengeluarkan bangsa Israel. Setiha memlihadah bangsa Israel di dalam padang gurun. Bagaimana Tuhan itu begitu setiha, memlihadah bangsa Israel. Ini menunjukkan bagaimana habaku mengingat liturgical remembrance supaya mereka melihat Tuhan besar lagi, indah lagi. Bagaimana kita memandang ke indahan ke mulian alah. Sudah kalau kita melihat perjalanan habaku ini, hari ini terakhir kita akan melihat tiga hal, yang pertama. Ketika semua berkat yang diberikan Tuhan itu hilang. Bagaimana hidup mau? Kemudian kedua, ketika Tuhan menjadi lebih berharga dari semua pemberiannya. Dan ini ketika bagaimana injil yang menjadi lebih indah itu memberi kekuatan yang tak tergoyakan. Kita mulai dengan yang pertama, ketika semua berkat yang diberikan Tuhan itu hilang. When the blessings disappear, yang siap belajar katakan yes. Oke, kalau kita baca itu 17, sekarang kalau sudah baca itu 17, ada list. Ada daftar yang habaku sampaikan. Pohon arah tidak berbunga. Pohon anggur tidak berbuhan. Pohon zaitun mengcewakan. Di sini adalah ladang-ladang, ada kambing doba, dan juga ada lembu sapi. Nah, ayat ini sekilas seperti daftar kerugian. Seperti sesuatu orang yang menghitung satu persatu apa yang sudah hilang. Tapi saya rasa habakuk tidak hanya membuat daftar secara sembarangan. Ini lah keindahan al-kitap, artinya begini. Semakin kita memperhatikan, semakin kita menemukan bawa tidak ada satu katapun di dalam al-kitap, yang ditulis secara kebetulan. Nah, saya akan masukkan di dalam list ya sudah. Kalau sudah lihat listnya adalah pohon arah, pohon anggur, anggur, pohon zaitun, ladang, kambing doba, dan lembu. Nah, kenapa kok habakuk menyebut ini semua? Kenapa nggak ada rumah? Kenapa nggak istana? Kenapa nggak mas? Baru-baru aja 74 kilo mas di temukan di sebuah rumah. Kenapa nggak mas gitu loh guys? Selingan-selingan-selingan. Kenapa bukan keluarga? Kenapa kok ingga disembut? Kenapa hanya namhal ini saja ini sebut? Nah mungkin waktu kita membaca ayat ini sebagai daftar pendritahan. Tapi sebenarnya habakuk bukan sedang menghitung kerugian. Dia sedang menyebut satu persatu. Kenapa? Karena begini sudah. Bagi orang israel, kenan hal ini bukan sekedar aset. Bukan sekedar harta. Bukan sekedar hal hal yang mereka banggakan. Tapi semua itu adalah bahasa perjanjian. Kavenen. Mengkanya kalau sudah berbaca diulangan pasal 7, ulangan pasal 8, pasal 11, pasal 28, sudah berakan melihat bagaimana daftar itu mirip sekali. Tuan berjanji kalau bangsa israel hidup di dalam perjanjian-jian tuan. Ketananya akan menghasilkan maka ladang akan subur pohon. Angbur akan berbuah minyak zaitun akan melimpah, ternak akan berkembang. Jadi suruh kehidupan mereka akan dipenuhi dengan tanda-tanda, bahasa perjanjian pembeliharaan alah. Jadi ketika habakuk mengatakan buat namahan. "Hilang, dia gak cuman hanya bilang aku kehilangan beberapa aset." Tapi dia mengatakan sesuatu yang lebih dalam. Apa itu aku kehilangan seluruh tanda bahwa ala sedang memberkati bangsa kita. Coba saya kasih contoh satu. Sekalipun pohon ara tidak berbunga. Kali atanya sederhana, tapi bagi orang Israel, kalimat itu sangat signifikan karena pohon ara adalah symbol kehidupan yang damai. Pohon ara bukan sekedar pohon buah. Tetapi pohon ara itu adalah symbol damai. Dalam mika pasal 4 di gambar kan bawa pada zaman damai. Shalom setiap orang akan duduk di bawah pohon arahnya. Nah kalau pohon arahnya aja gak berbunga, artinya hidup-tenang, hidup aman, damai, sekarang sudah gak ada lagi. Apa yang normal karena bangsa isah selalu di sertai dan diplih hara oleh Tuhan itu sudah hilang. Jadi itu ceritanya sudah kan. Dan yang menarik adalah saya gak akan spentan satu-satunya, tetapi secara cepat aja. Ini kalau listnya seperti ini, perhatikan list ini dikatakan pohon anggur tidak berbuh. Anggur melambangkan suka cita. Masih ingin pada waktu Jesus memberikan bujisat air menjadi anggur. Kenapa itu suka citanya ilang? Suka cita artinya, bukan hanya untuk pes, tetapi symbol kelimpahan dan perayaan. Jadi habatus dan berkata bukan hanya makanan yang hilang, itu pohon arah, tetapi suka cita dari bangsa itu pun hilang. Kemudian apa lagi? Pond Zaitun. Hasil Pond Zaitun mengcewakan. Pond Zaitun itu ada, karena ada minyak Zaitun. Dan minyak Zaitun itu dipakai dalam semua aspek kehidupan untuk masa pakai olive oil itu. Zaitun, untuk penerangan pakai minyak itu. Untuk pengobatan pakai minyak itu. Untuk pengurapi untuk minyak itu. Untuk ibadah pakai minyak itu. Lapa yankan kalau minyak Zaitun yang gagal, bukan hanya ekonomi yang terganggu, tetapi seluruh rit mak kehidupan bangsa israil ikut terganggu, karena ibadah pun jadi nggak lancar, karena nggak punya minyak Zaitun itu. Lalu dikatakan ladang-ladang menghasilkan bahan makanan. Prenti tidak lagi menghasilkan bahan makanan artinya ada ke laparan ekonominasiional runtu cadangan makanan habis, sons familiar, yang mirip-mirip sama kita. Kemudian kambing dombal terhalau dari kurungan. Ini menarik karena dombal itu bukan hanya sumber penghasilan. Dombal dipakit sebagai korban persembahan di dalam ibadah. Artinya kehidupan ibadah pun itu terkenat dampanya. Dan dikatakan lembu sapi. Kenapa kok kambing dombal sama lembu sapi di sebut? Itu kan ternak saja. Sudah tidak ada lembu, itu artinya tidak ada temaga kerja. Artinya apa? Tractor zaman itu adalah lembu. Jadi kalau lembu hilang, ia jelas pertaniannya juga akan hancur. Jadi kalau kita kumpulkan semua habaku sedang berkata begini, habaku bukan hanya kehilangan miliknya, tetapi kehilangan semua symbol bahwa hidupnya sedang diberkati tuhan, dan saat ini berkat itu hilang. Dia telah menggunakan segalanya, di sini habaku relat sama kita sudah. Di sini, lama dulu saya sekitar perlu berhenti sejenak. Kenapa? Karena saya rasa habaku bukan hanya bicara tentang Israel, habaku sedang bicara tentang saudara dan saya. Sudah banyak dari kita menyamakan perkatalah dengan kehidupan yang nyaman. Dan yang menyedikan banyak orang Kristen berpikir seperti itu dan Mimbar Mimbar Greja sering mengkotbakan botanda diberkat itu hal. Itu pasti dengan perkat jasmani, sehat, kaya secara materi. Betul-betul secara kalau kita ngomong, oh, kasih karunnya tuh hal. Oh, perkatuhan itu selalu ada hubungannya apa, duit. Saluh hubungannya apa? Perkat jasmani. Kalau usah kulang car, oh, tuhan sedang memberkati. Oh, kalau aku sehat, operarti perkenaanan tuhan atas hidupku. Kalau karir kunaik, oh, tuhan berarti sedang menyertai. Oh, kalau doa aku dicawa, operarti memang aku ini adalah orang yang perkenaan dia dapet tuhannya. Sebaliknya kalau sakit, kalau kehilangan, kalau usah jatuh, kalau doa belum dicawa, langsung di bilang apa? Kenapa, kamu ada doa saya? Kenapa, kamu kurang perpuluhannya? Oh, kenapa? Kamu belum mengambuni dia ya? Selalu dicarik, sehingga apa konotasinya itu seperti itu sudah. Nah ini menyediakan sekali, kenapa? Perhatikan baik-baik, cara berbikir seperti itu, kelihatannya sangat rohani. Padahal sebenarnya itu lebih dekat dengan filosofi dunia, daripada kepada Injil sudah. Kalau sudah lihat dunia, ngomong apa, budaya dunia. Oh, my life is secure if my family is good. Kalau aku punya tabungan, aku punya pekerjaan bagus, pisnis ku baik, kalau usahaku terus berkembang, kalau saya tetap sehat, my life is secure. Itu budaya dunia. Apa bedanya sudah, karena korruptor juga begitu. Orang dunia juga begitu, orang jahat juga begitu. Apa bedanya orang Kristen dengan orang dunia? Dunia juga begitu. Karena kalau kita membasiskan ke Kristenan kita berdasarkan itu, tanpa sadar kita sudah membangun rasa aman pada hal-hal itu. Pukan pada tuhannya sudah saya pernah terganggu oleh kresib sebuah komen. Wow, kita waktu di Amerika itu pergi ke sebuah konferens, ya, pergi ke sebuah konferens, somehow ini konferensinya itu kayak, apa ya? Gaul banget lah, orang-orang Kristen, gaul-gaul gitu lah. Tentang relevant gitu ya. Wow, waktu kesana itu ya, banyak orang-orang kanteng-kanteng, cantik-jantik, sehat-sehat, terus bajunya keren-keren semua. Terus ada satu, salah satu ambat tuhan itu ngomong gini. Luar piyasa memang keturunan-keturunan ilahi semua ini. Dalam mati saya, kalau ga keren, jelek, kurang kaya, keturunan saya tanda. Keturunan ilahi itu kalau kanteng, cantik, wow. Keti-keti badanya, terus sukses, kaya, oh itu keturunan ilahi. Jadi gini lu sebenernya. Saya mau supaya kita ini sadar. Jangan menjadikan perkat tuhan, sebagai bukti boh tuhan itu mengasih kita. Karena kalau itu ukurannya, maka Salip Kristus sulit dicelaskan, saudara. Pegi mana dengan Jesus? Jesus kehilangan semuanya. Apakah tuhan ga berkenaan sama dia? Cus terus sebaliknya di situ lakasi ala dinyatakan secara sempurna. Sudah al-kita berkali-kali menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ayuh kehilangan semuanya, namun ala tetap berkenaan ke padanya, paulus berkali-kali di penjara, paulus bahkan bukan lagi liburan. Kapalnya karam, bukan sekali. Tetapi apa? Tiga-kali. Dan yang ketiga pada waktu kapalnya karam, dia tuh lagi membulin ranting untuk bikin api unggun, untuk mengapa membuat dirinya hangat. Waktu dia ambil ranting dikit-kit ular. Kalau saya jadi paulus. Eskak tuhan tuhanan. Betul-betul. Lu kena orang kan bilang begini kan? Kalau itu memang kena tuhanan di tuhan pasti lancarkan. Soapang-apang. Soapang-apang. Paulus, kalau karam, tiga-kali. Pernaga, orang mikir. Lu, lu, lu. Iki jangan-jangan bukan kena tuhan kamu jadi misionaris. Betul nggak? Tapi, liat dua pertingga dari perjanjian baru yang menulis ya, pa. Paulus. Dan dia katakan aku belajar mencukupkan diri. Tuhan berkenan nggak sama paulus? Berkenan. Habakkuk juga begitu kehilangan seluruh tanda berkat perjanjian. Namun justru di situ dia berjumpa dengan tuhan. Jadi jangan kaitkan, bahwa kalau kamu diberkati itu pasti ada berkenan-han tuhan. Belum tentu. Sudah kegunungkawi juga bisa dapet berkat sebenarnya. Sudah ada korupsik liatannya diberkati tuhan. Tapi itu bukan ukurannya. Justru sudah berhati kan? Ini adalah wujud kasih karunya tuhan. Kalau kita diicin kan tuhan untuk kehilangan sesuatu. When God allows you and me to experience loss, it could be His grace. Kenapa? Karena loss kehilangan itu mengungkapkan apa yang menjadi berhalamu. Lost doesn't create idols, but lost, reveals idols. Kehilangan tidak menciptakan berhala. Namun kehilangan itu mengungkapkan hal-hal yang menjadi pijakan imanmu. Sandaran hatimu. Tumpuan dari hidupmu. Mungkin selama ini tersembunyi. Serbayangkan sebuah rumah di tepi pantai yang keliatannya kokoh pada waktu hari baik. Tapi pada waktu bad di situ lah. Fundasi ke kokohannya di nyatakan apakah itu benar-benar kuat. Atau tidak begitu juga pendritahan. Begitu juga kehilangan. Pendritahan tidak menciptakan penyembahan. Tetapi pendritahan memperlihatkan apa yang selama ini kita sembah. CS Lewis di dalam bukunya, "The problem of pain." Dia berkata begini, "God whisper to us in our pleasures." "Speaks in our conscience." "Bershouts in our pains and suffering." Dalam kenyamanan tuan berbisik, melalui hati nuran ituan bicara. Tapi dalam pendritahan, tuan berteria. Dan rasa sakit dan pendritahan itu lah. Megafon yang tuan. Untuk mengejutkan cihua manusia yang telah tuli. Sudara apa yang hilang dan apa reaksi kita pada waktu hal itu hilang? Itu menyinkapkan apa yang kita sembah. Sekali lagi kehilangan tidak menciptakan. kita akan penyembahan, kehilangan menyinkapkan penyembahan kita. Selama hidupmu berjalan baik-baik saja, kita sering kalian gak tahu apa sih yang sebenarnya menjadi sandaran hati mu. Tapi ketika itu mulai di usik, ketika itu mulai diambil, baru kita sadar. Ya ampun ternyata aku ini menyembah, mamon ya. Oh ternyata aku ini menaruh iman kepada hal-hal yang salah ya. Nah pertanyaannya hanya hari ini kamu paling takut kehilangan apa? Cangan cepet-cewart. Biasanya kalau cepet-cewap, jawab banyak kristernya nih. Yisus gitu. Musul gitu, benar-benar. Tapi kalau sudah remo jujur, adutuhan kalau aku kehilangan itu aku ancur. Membuat hidupku terasa tidak layak untuk dijalani. Di situ lah biasanya sudah menemukan. Oh ternyata pusat penyembahan aku ini masih menyimpan. Jadi reflektifnya begini sudah apakah tuan tetap baik? Ketika semua tanda, kebaikannya ya itu berkat-perkat yang selama ini kamu nikmati, hilang. Sudah ini menubahkan pertanyaan terbesar habaku apakah tuan tetap baik ketika hidup habaku tidak lagi terlihat seperti diberkati. Dan kita semua cepat atau lambat akan menghadapi pertanyaan itu. Nah puji tuan habaku tidak berhenti di ayat 17, ada satu kata yang mengubah akhirnya dari arah kita. Dikatakan begini, kata-kata ini penyambung, "YET!" Namun, "YET! I will rejoice in the Lord, YET!" Saya membayakan ayat ini kalau di film kan kamera berhenti beberapa detik di ayat 17, ladangnya tandush. Kandangnya kosong. Gak ada suara, "Mmmm, gitu gak ada suara." Terus lalu habaku mengangkat kepalanya seperti film Korea. Terus dia bilang, "YET! I will rejoice! Kenapa? Karena ternyata kehilangan bukanlah akhir dari cerita. Di sini lagi kita perlu tahu bahwa kata namun di sini adalah cembatan dari kehilangan menuju kepada penyambahan. So that in this life, you will have to find this bridge. Kita semua harus menemukan cembatan ini. Karena satu hari sudah akan melihat, selama ini kamu ini membangun hidumu, atas apa? Dan waktu semuanya tuh hilang, pisang gak kamu bilang. Namun, tetapi aku akan tetap bersuka cita di dalam tuhan. Cembatan itu adalah cembatan yang membawa kita dari kehilangan menuju kepada penyambahan. Habaku tidak menyangkala penderitaan tetapi dia juga tidak membesar-besarkan penderitaan. Dia menempatkan penderitaan di bawah terang siapa ala itu. Itulah yang membedakan optimisme dunia dengan iman Kristen. Optimisme dunia akan berkata, "Oh semuanya pasti akan baik-baik saja." Semua baik-baik saja itu optimisme dunia. Tapi iman Kristen, aku gak tahu semuanya baik-baik saja atau tidak. Tapi aku tahu, tuhan tetap baik dalam hidupku. Mungkin semuanya belum tentu baik-baik saja. Tapi aku tahu, tuhan tetap baik. Mungkin kajar aku gak berubah. Tapi aku tahu siapa yang gak berubah, tuhan tidak pernah berubah dalam hidupku. Dan dia menyertai aku. Yang setuju katakan, men. Ini cembatan yang perlu sudah datangkan di jalan perjalanan iman, muah. Kita masuk dalam mempunyian kedua. Ketika tuhan menjadi lebih berharga dari semua pemberiannya. Sudahnya kalau sudah membaca kita babaku. Habaku di bawah tuhan dalam perjalanan iman. Kalau kita peradikan di awal kita babaku. Habaku itu lebih sibuk mencari apa entuhan lakukan tuhan. Tolong bang Samu ini gimana? Jadi, habaku fokusnya adalah karya tuhan. Apa entuhan lakukan? Tetapi di akhir kita, habaku mengubah. Habaku menemukan siapa alah itu. Fokusnya adalah alah itu sendiri. Siapa alah itu? Nah kalau sudah peradikan di sini, coba kita lihat. Baca sama-sama. 1, 2, 3. Namun aku akan apa? Persorak-sorak di dalam tuhan. Terjemahan yang lain, aku akan bersuka cita di dalam tuhan. Basi inggrisnya, aku akan rejuice in the Lord. Nah ini beda sekali dengan begini. Aku akan bersorak-sorak karena apa yang tuhan lakukan. Beda. Aku akan bersorak-sorak di dalam tuhan. Itu beda sama aku akan bersorak-sorak karena pertolongan tuhan. Beda sekali. Saya kasih ilustrasia. Saya bersuka cita. Kalau saya bersuka cita yang begini. Saya bersuka cita karena istri saya memberikan hadiah cemtangan mewah dan mobil mewah. I waste, it's real. Tapi kalau itu yang menjadi suka cita saya, makasung bersuka cita saya adalah peberiannya. Tapi kalau saya katakan begini. Saya bersuka cita di dalam istri saya, meskipun ada hadiah yang mahal-mahal. Cuma dikasih raon soto dan kecupan di Biti. Itu mendorong saya sudah cukup kenapa. Karena saya bersuka cita bukan karena peberiannya dia. Tapi aku bersuka cita karena pribadi istri saya. Nah, yang menarik adalah dikatakan "I rejoice in the Lord." "Bukan I rejoice of what the Lord has done." Aku bersuka cita di dalam tuhan. Bukan bersuka cita karena tuhan mengembalikan panen. Aku bersuka cita bukan karena tuhan mengalakan babel. Babel bukan. Karena babelnya masih dateng. Babelnya berkala. Nah sudah berhatikan. Orang Kristen sering kali masih gini. Aku bersuka cita karena tu, aku dijawab. Aku bersuka cita karena anak aku sembuh. Aku bersuka cita karena pisnisku di berkati. Perhatikan, kalau kamu masih seperti itu, puasar suka cita kamu masih berada pada apa yang tuhan lakukan buat kamu. Habaku berkata aku bersuka cita di dalam tuhan. Artinya objek suka cita habaku berubah. Pusat suka citanya tidak lagi berada dari apa yang tuhan lakukan. Tetapi busat suka citanya adalah pribadi tuhan sendiri. Artinya apa? Sekali pun tuhan belum mengubah keadaannya. Aku masih punya tuhan. Dan itu menjadi suka cita aku. Dan ternyata itu cukup. Yang itu juga takkan amen. Ini layan namanya kedewasaan Rohani. Di situ lah ke indahannya. Karena apa? Di pasal satu, habaku bilang begini. God changed my circumstances. God changed my life. Di awal kita, habaku lebih tertertarek sama apa yang tuhan bisa lakukan buat dia. Buat bangsanya. Buat keadaannya. Tetapi di pasal 3, habaku berkata, "God, you are my life. You are my salvation." Habakkuk melihat bahwa Allah sendiri lebih indah dari semua pekerjaannya. Di sinilah Mujizad kita, habakkuk, Mujizad kita, habakkuk tidak terjadi ketika tuhan mengubah keadaannya. Melayan kan ketika tuhan menjadi hartanya yang paling berharga. Sudah ini lah pola al-kitab di dalam membawa tokoh-tokoh al-kitab dalam perjalanan imannya. Sudah bisa lihat cerita-cerita seperti ini. Nah mungkin awal-awal perjalanan iman kita. Kita pun ikut tuhan, kenapa? Karena tuhan menolong kita. Ga ada yang salah. Karena tuhan setiha, amen. Karena tuhan menjawab tuamu, amen. Tapi seiringnya berjalan dengan waktu. Seiring dengan perubahan musim hidup. Rokudus membawa kita di dalam perjalanan iman, Sudah. Akan ada kalanya saat berkat itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Ada kalanya di mana saat Addo Amus akan akan tidak dicawap. Ada kalanya saat terobosan yang kamu tunggu-tunggu tidak kunjung data. Apakah Sudahara masih bisa melihat bahwa tuhan tetap setiha? Apakah Sudahara masih bisa bersyukur? Waktu Sudahara belum sembuh. Po penyeritaannya sempurna. Ini yang bisa kita lihat di habakuk. Dan habakuk bukan hanya satu-satunya. Coba sudah baca yang lain. Saya kasih satu jontol aja. Kalau sudah baca masmur 73, saya pernah mengkot bahkan ini masmur 73. Itu bicara tentang asaf. Sudah masih ingat asaf. Asaf menjalani perjalanan yang sama awalnya dia iri sama orang fasik. Dia iri kok bisa. Orang jahat korupsi. Orang yang menindas kok kaya sekali. Perababanya kita suka iri terhadap itu semua. Kenapa karena kita mengukur persis seperti asaf. Mengukur hidup kita berdasarkan keadaan kita. Tapi waktu dia masuk dalam hadiratuhan. Dia melihat bahwa tuhan sendiri itu lebih indah. Perspektingnya berubah. Dia berkata apa? "Whom have I in heaven perju?" Siapa kerangan ada pada kudisurga? Selain anggau. Selain anggau tidak ada yang ku ingin di bumi. Dia tidak menginginkan yang lain. Siapa kerangan yang ada di surga selain anggau? Nggak ada yang dia inginkan. Wow, what a great verse. Ini lain dimaksud dengan menempat kan tuhan sebagai harta yang terbesar. Sudahnya Jesus sendiri memberikan petunjuknya. Kalau sudah berbaca, Jonas 50/14. Itu lagu sekolah minggu. Jesus Bogotan. Carangnya, wow sekolah minggu semua ya. Buji tuhan yang belum Kristen dulu waktu masih kecil. Tapi dikatakan apa? Baca sama-sama ya? 1, 2, 3 tinggal di dalam aku dan apa? Aku di dalam kamu sama seperti ranting, tidak dapat berbuah, jadi dirinya sendiri. Kalau iya tidak tinggal pada pokok anggur. Demikian juga kamu tidak perubah si kalau kamu tidak tinggal di dalam aku. Nah, Jesus berkata apa? Tinggal di dalam aku, dia tidak bilang gini. Tinggal di dalam perkatku, gak kan? Jesus gak bilang apa? Tinggal di dalam mujisatku, dia tidak bilang gini. Dia bilang apa? Tinggal di dalam aku, Jesus pokok kita caranya. Nah, kita maunya apa? Buahnya, perkatnya, jawapan doanya, terobosannya. Dan kita pikir kalau kita dapat buah, itu adalah tanda sumber, kita hidup. Salah! Kita perlukan tinggal di dalam dia, tersuka kita, di dalam dia. Sering kali, kita kejar buah, kita kejar hasil. Jesus balikkan semuanya. Tinggal di dalam aku, buah itu akan datang dengan sendirinya. Musimnya, waktunya belum tentu sesuai dengan apa yang kamu mau, tapi ternang aja. Buah itu pasti datang, tetapi yang penting adalah tinggal di dalamku. Sudah rasa, saya rasa salah satu penyakit terbesar kita. Karena budaya kita mengajarkan apa? Ini lu sudah masalahnya. Budaya kita mengajarkan bahwa nilai segala sesuatu, itu ditentukan oleh manfaatnya. Kalau sesuatu berguna, sesuatu memberikan hasil, kita pertahan kan. Kalau sesuatu, itu ternyata tidak lagi berguna. Tidak lagi menghasil kan? Maka kita tinggal kan. Shingga apa? Kalau ini kita bahwa ke dalam kehidupan Rohanin kita, tanpa sadar kita memperlakukan tuhan hanya sebagai dia itu bermanfaat. Perguna, perfaitah. Kita memperlakukan tuhan seperti seorang konsumer, memperlakukan tokoh atau pemberijasa, itu konsumerism. Konsumerism kristianati. Konsumerism kaltjar akan berkata-kata gini, "You've got to improve your life. You've got to build your better life." Tapi, the gospel is different in jelbeda, find your life in God alone. Tisitu ada kehidupan. Kalau sudah ada pake yang konsumer kristian, "You've got to improve my life. Pake mana kalau Tuhan tidak menjawab doa Mu?" Kalau Tuhan tidak memberikati usahamu, apakah dia masih berguna bagi Mu? Habakkuk menghancurkan cara berbikir seperti itu. Dia berkata di Aidu 17, "Aku kehilangan semuanya, tapi aku tetap punya satu hal. Aku tidak kehilangan Tuhan." Dan Tuhan adalah suka cita. "I rejoice in the Lord." Dan ternyata itu cukup. Yang setuju kata kan, Amen. Saya rasa kul dari kita, Habakkuk, dan kul dari kotpa ini. Sepakit kita menyadari botuhan ingin mengubahati kita. Kata kan sama-sama Tuhan ingin mengubahati saya. Tuhan ingin mengubahati saya. Kata kan pada kanan kiri Mu. Tapi jangan ngomong ini, Tuhan ingin mengubahati Mu, bukan? Ngomong, Tuhan ingin mengubahati saya. Ayo ngomong-omong, Huhan ingin mengubahati saya. Mulai dari saudara dulu, Amen, saudara. Itu Tuhan ingin mengubahati saudara. Nah, pertanyaannya begini. Pake mana Hati kita berubah? Karena jujur ya, sopos hingga seneng duit. Betul? Siapa yang gak seneng mas itu? Perababanya, "Wih, tujuh, belum 4 kg, cahaya nere." Masuk berangka sekolah enak. Ya kan? Mungkin sudah berpikir seperti itu ya? Ya? Wang tumpu-tumpuan gitu ya? Seperti paman gobeir, sudah rakan itu. Tidur di atasnya, luar biasa sekali gitu. Pake mana Hati kita bisa berubah? Pake mana, sesuatu orang berenti, menjadikan materi berkat, uang, mas, sebagai pusat hidup kita? Kimana caranya supaya kita gak cinta dunia? Yang pasti, gak bisa dengan wilpower, gak bisa dengan kemawan keras. Gak bisa dengan printah, gak bisa dipaksa. Gak bisa dengan, "Jangan cinta uang, you will know." Sudah tahu semua film-film itu Netflix itu. Menunjukkan, "Wuh, jangan cinta uang, jangan cinta uang." Tapi akhirnya ada yang bilang banget. Lebih enak, pastur, nangis di ferari, daripada nangis di becah gitu. Sudah tahu itu susah kenapa karena Hati manusia selalu mencinta sesuatu. Sudah tahu dengan printah, bisa gak, misalnya. "Jangan merokok, menyebabkan kanker baru-baru." Kaliatan, "Tengguruan bolong, baru-baru kita semua." Apakah itu mencengah orang untuk merokok? Tidak. Seil serokok tetapi tinggi. Muda kasih kayak gitu, "Jangan!" "Dak berubah kenapa karena Hati selalu melekat kepada sesuatu?" Jadi pertanyaannya, apakah sudah mencinta atau tidak itu salah? Karena Sudah rapas di mencinta, masalahnya apa yang kamu cintai? "Jesus, amin, betul gak?" Nah ini, Sudah Thomas Chomer di dalam salah satu essaynya, "The explosive power of new affection." Dia bergata begini, "Hati gak bisa berubah karena kehilangan cinta yang lama." Cinta yang lama tuh harus digantikan. Karena kita menemukan cinta yang lebih besar. Kamu gak bisa berenti mencintai sesuatu hanya karena diperintah. Prendi, jangan cinta itu. Gak bisa. Kamu hanya akan bisa menemukan cinta yang lebih besar. Sehingga cinta yang lama itu kamu tinggalkan. Jadi gak bisa kita bilang, "Jangan cinta kesuksasan, jangan cinta uang, jangan cinta reputasi." Di sini lah, kenapa kok kita perlu denger injil setiap kali? Karena injil memperlihatkan keindahan kristus yang cau lebih indah daripada uang, yang cau lebih indah daripada kesuksasan fanah. Saat kanakan, kalau saya mau tunjukkan kepada sudara, itu seperti anak kecil yang suka sama mainan, tapi yang sudah usang. Saya masih ingin anak saya itu ceda daya, itu punya froggy. froggy-nya itu sambil dedel, sambil puluhkan di juci berkali-kali, karena kenal ilernya dia dan sang ijo-nya sudah budar. Sampai jadi ijo yang terang itu, dan menjadi ijo bosok. Sampai putihnya mangkat, tapi dia cinta-nya sama itu. Semoga antikan sesuatu yang baru itu gak mau. Saya bilang, "Nanti jadi belikan, terus sinofi gak bisa." Kamu harus tunjukkan ada sesuatu yang lebih nice, lebih bagus, lebih indah. Supaya dia tinggalkan itu. Nah begitu juga hati kita. Mungkin sudara seperti ini. Selama ini sudah repegang, ini perkara A, A, Sura, Buciduhannya. Kalau sudah lihat itu mainannya, itu sudah repegang, terus. Sudah gak tau dengat mainan itu, itu toxic. Mainan itu, chatnya racun buat hidup mu. Sampai akhirnya bapak di surga memberikan sesuatu yang cau lebih indah. Sampai akhirnya kamu tinggalkan itu. Peg itu juga hidup kita, Tuhan tidak hanya mau minta sudara stop menyebab berhalah. Tetapi Tuhan sudah menunjukkan poh kristus, poha salibnya, poha ala sendiri. Itu jauh lebih indah. Dari pada berhala-berhala yang menyiksa kita selama ini. Amen, Sura. Kita masuk dalam pohnya ketiga, ketika Injil yang indah itu memberi kekuatan yang tak terkoyakan. Sudara kalau kita belihat di Ayat 19, baca sama-sama Ayat 19 kali lagi. 1, 2, 3. Allah Tuhan ku itu apa? Kekuatan ku. Terus kemudian terusnya, ia membuat kaki ku, seperti kaki rusak, ia membiarkan aku, perjeja di bukit-bukit ku. Nah, kalimat ini, kalimat yang menarik mirip seperti airy joys in the Lord, Allah Tuhan ku itu kekuatan ku. Perhatikan, habaku gak berkata apa? Tuhan memberikan kekuatan kepada aku. Tuhan memberikan keselamatan kepada aku. Tuhan memberikan terobosan kepada aku. Tuhan memberikan pertolongan kepada aku. Dia gak ngomong gitu. Tetapi bilang apa? Tuhanlah kekuatan ku. Ini sangat berbeda. Apa bedanya? Ini perhatikan sudah. Perhatikan ini penting sekali. Kalau Tuhan hanya memberi kekuatan, maka fokus kita akan tertuju pada pemberian itu. Kalau Tuhan hanya memberikan terobosan, maka sudah akan fokus sama terobosannya. Kalau Tuhan hanya memberi ke-selamatan, maka sudah akan hanya fokus sama pemberian itu. Tetapi kalau Tuhan sendiri, Tuhanlah kekuatan ku. Tuhanlah ke-selamatan ku. Tuhanlah suka citaku. Maka fokus kita berpindah dari pemberiannya kepada pribadi-nya. Sudah ada itulah yang berpind berberubah di kita pabaku. Seherasa ini adalah kedewasaan Rohani, definisi kedewasaan Rohani. Akhirnya kita sadar, bahwa yang paling kita butuhkan, bukan pemberian Tuhan, bukan muji satu, bukan pertolongan Tuhan, meskipun itu pasti diberikan Tuhan. Ternyata yang paling kita butuhkan, adalah pribadi Tuhan sendiri. Dan kemudian habaku memakai sebuah gambaran yang sangat indah. Dia berkata begini, iya mama! Mbuat kaki ku seperti kaki rusa. Ya kan waktu saya bajen ini kopingu nih, "Ku gak keren rusa, kenapa gak sinak gitu loh, kenapa gak raja wali?" Ya kan, "Kugan terbang tinggi" ya kan gitu. Seperti raja wali, kan kenapa kok gak sinak, kudah, burung raja wali kan lebih keren, kenapa rusa? Sudah saya selitiki. Karena rusa kunung memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia hidup di tempat yang hampir mustahil. Di kunung yang sangat curam, di teping yang sangat berbatu, dimana bagi makhluk lain, itu sangat berbahaya. Hampir gak mungkin makhluk lain, itu bisa tinggal seperti itu. Tapi justru di sana, kaki rusa itu dapat berdiri dengan mantap. Kunungnya gak pernah berubah. Lairnya gak pernah jadi rata, tapi tuhan menguatkan kaki rusa itu. Supaya dia bisa berjalan di medan itu. Sudah nak disini lah kita itu orang kristang keliru memahami Tuhan. Kita sering berjual Tuhan, pindahkan kunung. Akhir-akhir ini banyak perdebatan tentang kunung pindah ya. Pake yang paham-paham saja ya, Tuhan. Iman sebesar kunung memindahkan biji sesawih. Kau kuala ayatnya dimana ya, Tuhan pindahkan kunung ini, Tuhan ubah. Kajan-kutuhan hilangkan masalahku. Pisa gak Tuhan ngelakuin, Pisa ada beberapa yang memang sama Tuhan dihilangkan. Dan kita percaya, Tuhan melakukan mujisat, tetapi sering kali begini. Sering kali, cara Tuhan bekerja, itu berbeda. Jadi tidak memidakan kunung, tapi dia membentuk kaki kita untuk melewati kunung-kunung itu. Dia menguatkan kaki sodarah untuk melewati kunung-kunung itu. Dia tidak selalu meredakan badai, tetapi dia membentuk iman. Siingga hati mu, siingga kebijak sanaan mu, itu dapat berjalan, dapat di tengah-tengah badai, sodarah gak takut, sodarah bisa menjalani badai itu. Dia tidak selalu mengangkat kita keluar dari lembah ke kelaman, even though I walk through the valley of the shadow of death, meskipun aku melewati lembah ke kelaman. I will fear no evil, aku tidak takut bahaya, why? Sebab dia bersertaku, dia berjalan bersama dengan kita melalui lembah ke kelaman itu. Sodarah di sini lah bedanya, itu yang daut katakan dan itu yang kita mungkin sedang alami. Sodarah kekuatan sejadi, bukanlah ketika hidup kita berjalan sesuai dengan keinginan kita. Tetapi ketika kristus, ketika alah menjadi cukup, bahkan ketika hidup kita tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Itu lah sebabnya Rasul Paulus dapat berkata di kuari 2,12/10. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat, kalimatnya terdengar kontradiktif, tapi Paulus dan berkata ketika semua sandaran kuruntuh, ketika semua pijakan kaki yang aku bangun itu, hancur di situ aku bersandar kepada kristus saja, dan pada waktu aku lemah, di situ kekuatan Tuhan jadi sempurna. Sodar Paulus berseruti gagali supaya utusan Iblis itu mundur dari pada dia, ada turi dalam daging, dan jawab Tuhan cukup lah kasih karunnya aku bagi. Sebab jostru dalam kelemanlah, kuasa Tuhan menjadi sempurna. Sodar, sering kali kita perlu jadi lemah supaya kuasa Tuhan dinyatakan dalam hidup sodar, supaya penyeritaan yang sempurna semakin bersinar di dalam ketidak pastian yang sering menghantui dirimu. Di sini lah keindahan injil, pekitunya atah, gospel connection, kalau sudah baca di habaku 3.19, alah Tuhan ku itu kekuatan ku. Habaku hidup ratusan tahun sebelum Jesus datang. Dia melihat alah sebagai kekuatannya, tapi habaku nggak ngeri, nggak pernah melihat bagi mana alah menyelamatkan umatnya dengan kekuatannya. Karena mungkin habaku berpikir alahkan datang seperti singa, yaudah alahkan datang seperti pahlawan ilahi, alahkan datang seperti seorang pernah kluk. Tetapi di sini lah injil begitu indah, kalau sudah baca tadi ayat 17, semua symbol perkat perjanjian, symbol kevenen tuh hilang. Gada pohon arah, ga ada suka cita, ga ada damai, ga ada ibadah, ga ada hasil ladang, tombal lembu. Ini habaku alami hanya symbolnya. Lemme ask you this, siapa yang alamin bukan hanya symbolnya? Siapa yang benar-benar mengalami? Toa berkat-berkat perjanjian itu benar-benar hilang. Jangan diambil dari dirinya, padahal dia adalah seorang yang menempati semua perjanjian. Taat untuk mengikuti perjanjiannya dengan alah. Siapa yang kehilangan perkat kevenen itu? Kalau habaku hanya kehilangan symbolnya, tapi dia benar-benar mengalami kutuknya. Dia lah Jesus Christus. Jesus Christus adalah anak yang sangat taat sama perjanjian dengan babanya. 100% taat hidup tanpa dosa. Taat sempurna, tetapi dia diperlakukan seperti seorang pendosa. Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi dosa untuk siapa. Karena kita disalip, dia ditolah, dia kehilangan kevenennya, dia kehilangan perkat perjanjiannya, dia dihina, dia diperlakukan seperti orang yang tidak diberkati, dia dipermalukan, dia ditilang jangis seperti seorang yang tidak punya perjanjian sama sekali. Dia ditinggalkan, Jesus Christus tidak hanya mengalami peneritaan, tetapi Jesus menjalani kutuk perjanjian dekavenan that we, yang kita langgar, that we break, dia yang tanggung, dan yang paling mengerikan dia berkata alaku, alaku, mengabangkau meninggalkan aku, dia ditinggalkan sepenuhnya. Padaljia adalah sesuatu orang yang mengikuti perjanjian secara sempurna. Siapa yang break, dekavenan, siapa yang melanggar perjanjian? Kita, saudara, saya, tetapi Jesus, yang menanggungnya. Rasul Balus berkata di Galadia 3-13, Christus telah menabus kita dari hukum taurat, dari kutuk hukum taurat, dengan apa? Dengan jalan menjadi kutuk karena kita. Christus bukan hanya menanggung peneritaan tetapi dia memikul menanggung kutuk perjanjian, semua yang seharusnya menjadi hukuman atas dosa kita, ditanggung olehnya. Itu yang Jesus lakukan, itu yang membuat cintanya lebih indah, itu yang membuat perjanjiannya sangat kekal, dibandingkan apa yang dunia tawarkan. Mungkin sudah bertanya. Kenapa kok begitu ribet? Kenapa tuhan harus susah-susah melakukan ini semua melalui Jesus, melalikari asalipnya? Untuk apa? Mungkin sudah jawab untuk dosa di ampuni. Yes! Tetapi pengampunan dosa itu adalah sarana untuk sesuatu yang lebih besar. Mungkin sudah menjawab supaya kita di adopsi, supaya kita diperbarui, di selamatkan. Yes! Tetapi keselamatkan adopsi diperbarui, itu hanya lasarana untuk menuju sesuatu yang lebih besar. Om mungkin supaya sakit kita semua, supaya kita diberkati. Yes! Tapi itu bukan tujuannya. Kenapa kok Jesus melakukan ini semua? Kenapa begini surah? Dulu kita musuh Allah. Tetapi sekarang kita diperdamaikan dengan Allah. Sekarang kamu bisa mendekat dan bersekutu dengan Tuhan lagi. Ini lah berkat yang terbesar. Bukan ketika hidup kita diberkati, itu berkat. Bukan waktu jauh amu di jawab. Yes, itu berkat juga. Bukan waktu kamu sembuh. Bukan waktu kamu masuk surga. Itu semua bonus. Tapi kenapa alam mengambuni kita? Supaya kita bisa kembali ke padanya. Kenapa kok Christus Rela mati? Supaya kita bisa diperdamaikan untuk bersekutu dengan Allah. Kembali. Itulah tujuan akhirnya. John Viper di dalam salah satu bukunya, "God is the gospel." Dia bilang begini. "The gospel is not merely the good news that we get to go to heaven." Injil bukan sekedar kabar baik, bahwa kita bisa masuk surga. "No, the gospel is the good news that we get God again." Injil adalah kabar baik, bahwa kita bisa mendapatkan Allah kembali. Do you know that feeling of loss sudah ada selalu terhilang kosong? Itu sebenarnya bukan uang yang sudah butuhkan. Bukan cinta pajar mu yang sudah butuhkan. So sudah ada butuh tuhan. Injil bukan hanya membawa kita kepada perkaraan alah Tetapi Injil membawa kita kepada alah sendiri Itulah yang di temukan oleh habahaguk Dan itulah yang dikenapi oleh Christus Berikan tebutangan buat-buat Lohana Amir Sudaranku That is the good news Mengkanya habahaguk perkaraan alah Aku bersuka cita I rejoice in the Lord Habahaguk sedang mendemukan apa yang telah dikenapi Sejarah semburnah di dalam Christus Karena berkata besar bukan apa yang Tuhan lakukan Bukan lagi pemberian Tuhan Tetapi berkata besar adalah alah sendiri bersama dengan kita Sudaranku mungkin Tuhan belum mengubah keadaan moh hari ini Tetapi saya berdua, kiranya hari ini Tuhan mengubah hati moh Amir Tuhan mengubah hati Sudara Dan ketika Christus menjadi harta terbesar moh Gak ada kehilangan yang mampu, mencuri suka cita moh Gak ada kehilangan yang membuat moh putus asah Kenapa? Karena Sudara punya Tuhan, Sudara punya Christus Yang mengasihi moh, yang memeluk moh, yang menopang moh Yang membutikan cintanya padamu Itu lah pengharapan injil Implikasinya, ayu baca sama-sama 1, 2, 3 Orang berinjil menghadapi kehilangan tanpa kehilangan pengharapan Mungkin hari ini ada beberapa dari Sudara yang kehilangan sesuatu Sudara, saya berdua supaya sudah tidak kehilangan pengharapan Kenapa? Sudara aminkan ini, amin kenapa? Karena apa? Ayu baca sama-sama, 1, 2, 3 Karena tahu, bahwa ada Christus yang tidak pernah meninggalkan moh Amin Sudara, ya berikutnya, berikutnya 1, 2, 3 Orang berinjil menikmati berkat Tuhan tanpa menggantikan Tuhan Dengan berkatnya, yang setuju katakan amin Kenapa? Karena sadar baca sama-sama Jesus Christus Tuhan adalah berkat terbesar Dalam hidupnya berikan tempat tangan sekali lagi buat Tuhan amin Jesus lah berkat kita yang terbesar Dan yang terakhir Sudara, mungkin Sudara ada dalam kelemahan sad ini Sudara bisa jujur sama Tuhan, baca sama-sama 1, 2, 3 Orang berinjil tidak pura-pura kuat dalam kelemahan dan keterbatasannya Kenapa? Karena tahu, justru dalam kelemahan lah Kuasa Christus menjadi kekuatannya Amin, mari sama-sama kita panggit berdiri Sudara berkati hari ini, amin Sudara, saya berdua supaya kita mernungkan injil bersama-sama Kita menyayakan lagu, "My world is not in what I own" Reflexionnya, kalau Tuhan mengijinkan satu hal yang paling kamu takutkan hilang Kalau itu benar-benar hilang hari ini, apa yang akan tersingkap Tentang pusat penyembahan hatimu Serahkan sama Tuhan, pertombad Abakah suka citarmu itu selama ini lebih banyak bergantung pada apa yang Tuhan lakukan Tuhan berikan atau pada pribadi Tuhan sendiri Saya berdua supaya sudah dapat melihat bau Tuhan terlebih indah daripada pemberiannya Dan kalau dunia melihat caramu menghadapi kehilangan, "How you face loss?" Apakah mereka melihat bahwa Christus benar-benar adalah hartamu yang paling berharga

Podcast Summary

Key Points:

  1. Kehilangan bukan akhir, melainkan peluang untuk menemukan kekuatan dan kehadiran Tuhan yang sebenarnya.
  2. Ayat 17-19 tidak hanya menyebut kehilangan, tetapi mengungkapkan bahwa kehilangan mengungkapkan apa yang menjadi sandaran iman kita.
  3. Dalam kehilangan, kita belajar bahwa Tuhan bukan sekadar pemberi berkat, tetapi sendiri adalah sumber kehidupan, kekuatan, dan sukacita.
  4. Iman Kristen tidak bergantung pada keadaan atau hasil, tetapi pada keberadaan Tuhan yang tidak berubah.
  5. Kehilangan mengungkapkan kecenderungan manusia untuk menyembah hal-hal material, bukan Tuhan.
  6. Dalam kelemahan, kekuatan Tuhan menjadi terasa, dan kehidupan kita diperkuat oleh ketergantungan pada Kristus.
  7. Injil bukan hanya tentang pembebasan dari dosa, tetapi tentang kembali kepada Tuhan sebagai keindahan yang tak tergoyahkan.
  8. Orang percaya menghadapi kehilangan dengan kepercayaan bahwa Tuhan tetap hadir dan paling berharga, meski dunia berubah.

Summary:

Dalam refleksi ayat Habakkuk 3:17-19, kehilangan tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan sebagai peluang untuk memahami kehadiran Tuhan yang sebenarnya. Kehilangan mengungkapkan apa yang selama ini menjadi sandaran iman kita—misalnya, kekayaan, keamanan, atau keberhasilan—yang justru menunjukkan kecenderungan manusia untuk menempatkan kepercayaan pada hal-hal material. Dalam kehilangan itu, pernyataan "Aku bersuka cita di dalam Tuhan" menjadi nyata, karena iman tidak lagi dibangun pada hasil atau perubahan kondisi, melainkan pada kehadiran Tuhan sendiri.

Ini adalah bentuk kedewasaan rohani: mengenali bahwa Tuhan bukan sekadar pemberi, tetapi kehidupan yang tak tergoyahkan. Kehilangan tidak menghilangkan kepercayaan, melainkan memperjelas bahwa kekuatan sejati berasal dari Kristus. Dalam kelemahan, kekuatan Tuhan menjadi terasa, seperti kaki rusa yang memungkinkan berjalan di medan curam.

Injil bukan hanya tentang keselamatan atau kebahagiaan di masa depan, tetapi tentang kembali kepada Tuhan sebagai keindahan yang lebih besar dari semuanya. Maka, menghadapi kehilangan bukan berarti kehilangan harapan, melainkan menemukan bahwa Tuhan sendiri adalah harta terbesar, yang tidak pernah meninggalkan kita. Dalam kehadiran Kristus, setiap kehilangan menjadi peluang untuk mencintai, mengasihi, dan mempercayai Tuhan secara utuh.

FAQs

Kehilangan mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi sandaran iman kita. Saat kehilangan terjadi, kita sadar akan apa yang selama ini kita sembah dan percayai.

Ini berarti bersukacita bukan karena apa yang Tuhan lakukan, tetapi karena kehadiran Tuhan sendiri. Suasana sukacita ini tidak bergantung pada hasil atau keadaan dunia.

Dalam kehilangan, kita belajar untuk mempercayai Tuhan secara mendalam. Kekuatan iman tumbuh ketika kita tidak lagi bergantung pada kondisi dunia, tetapi pada keberadaan Tuhan.

Kehilangan simbol-simbol perjanjian menunjukkan bahwa kehidupan kita pernah diberkati secara mendalam. Kehilangan ini memperlihatkan bahwa kita perlu menggantikan kepercayaan pada dunia dengan kepercayaan pada Tuhan.

Optimisme dunia percaya semua akan baik-baik saja. Iman Kristen percaya bahwa meskipun kehidupan tidak selalu baik, Tuhan tetap baik dan memelihara kita.

Kehilangan itu mengungkapkan bahwa kepercayaan kita pada hal-hal materi dan hasil adalah palsu. Kita mulai menyadari bahwa kekuatan sejati berasal dari kehadiran Tuhan.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.