Pembicara merespons keluhan seorang pemuda berusia 23 tahun yang merasa tidak bersemangat dalam pekerjaannya, hanya menghitung waktu hingga jam pulang. Pembicara menekankan bahwa perasaan tersebut sangat wajar karena kebanyakan orang memulai karir dari level entry-level dengan tugas-tugas yang mungkin membosankan atau repetitif, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Ia menjelaskan bahwa karier bersifat berjenjang dan membutuhkan proses, mirip dengan sekolah tetapi di lingkungan kantor.
Pembicara menyarankan untuk mengubah pola pikir: alih-alih fokus pada jam pulang, sebaiknya berkonsentrasi pada cara menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Hal ini akan membantu bertahan di pekerjaan, mendapatkan kepercayaan untuk tugas yang lebih menarik, dan meningkatkan gaji. Ia juga menyarankan untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, meskipun idealnya menggabungkan kemampuan dan minat. Pembicara menekankan bahwa dunia kerja membutuhkan kesabaran, dan dengan konsistensi bekerja secara baik, hasil positif akan datang dalam waktu sekitar tiga tahun. Pengalaman pribadinya sebagai sales freelance juga dijadikan contoh untuk memperkuat argumen tersebut.
Pembicara 1
Selamat datang di sinar hidup lain Indonesia maya kayaknya gue bakal ngomel nih di episode kali ini nih ada seorang.
Pemuda.
Umur 23 tahun tuh ditengahnya apa sih guys?
Genzy enggak sih?
Tapi dia bilang gini bagaimana cara bersemangat setiap harinya?
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh bang panji.
Semoga bang panji dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan keberkahan.
Perkenalkan nama saya f umur saya 23 tahun.
Mau tanya bagaimana caranya untuk terus semangat setiap harinya, terutama dalam pekerjaan.
Karena ketika gua memulai hari ini orang kadang pakai saya kadang pake gue nama saya f gue mau tanya ketika gue memulai hari saya cuma menghitung berapa jam lagi sampai ketemu 5:00.
Karena ketika gue memulai hari, saya hanya cuma menghitung beberapa jam lagi menuju 5:00.
Dan berapa hari lagi gue sampai ketemu hari Minggu gue berharap itu bukan berarti gue enggak bersyukur.
Menurut bambi, apa yang salah ya dan apa yang harus gue lakukan.
Terima kasih bang panji sudah membaca email ini, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Gue tuh yang ngomong itu, tapi okelah jadi begini.
F.
Yang lu rasakan itu sangat sangat wajar.
Sangat sangat wajar.
Memang kebanyakan orang berpikir ketika lulus sekolah dia bahagia bisa melakukan apapun yang dia mau.
Realitanya, tapi tidak seperti itu lulus sekolah sekitar 5 sampai 10 tahun 1 itu lu kayak sekolah.
Tapi di sebuah kantor.
Kenapa gue bilang seperti itu?
Karena semua orang di level itu pasti akan ngelakuin pekerjaan yang sifatnya banal sifatnya.
Apa yang masih di level rendah mungkin membosankan.
Mungkin menyebalkan bos berlapis lapis di atas lo rbt.
Tapi bukan cuma lo yang kayak gitu di seluruh dunia juga kayak gitu.
Betul betul tentu akan lebih bahagia kalau lo bisa bekerja di dunia yang lu bisa atau dunia yang lu suka.
Apalagi keduanya tentu.
Tapi itu pun bukan berarti langsung bahagia karena kalaupun bekerja di dunia yang lu bisa atau dunia yang lu suka lo tetap masuk di entry level lu masuk tetap di bagian yang enggak seru.
Contoh aja deh.
Gue coba untuk jelasin dulu ya.
Idealnya.
Elu tahu apa yang lu bisa lu tahu apa yang lu suka lu kerja di dunia perpotongannya, misalnya lu bisanya jurnalisme karena lu kuliah jurnalistik gitu.
Misalnya ya lalu lu sukanya sepakbola, maka idealnya lu bekerja sebagai jurnalis di media sepak bola.
Iya kan ya?
Walaupun sering kali enggak seperti itu, seringkali lu cuma suka bisanya jurnalisme.
Habis itu lu kerja di misalnya trubus tentang tanaman lu enggak perlu ditanaman, tapi memang juga kerja gitu ya atau lu sukanya sepak bola lu sukanya bukan bisanya sepak bola lu sukanya sepak bola lu kerja di situ sebagai misalnya sales lah untuk cari iklan di media tersebut lu enggak tahu caranya jadi sales lu enggak bisa caranya jadi sales tapi lu suka dunia bola gitu kebanyakan orang seperti itu lebih banyak lagi orang yang.
Bekerja di dunia yang dia tidak bisa dan dia tidak suka akhirnya jadi bete.
Namun kalaupun kalaupun lu ketemu dunia yang lu bisa dan dunia yang lu suka dan dunia perpotongannya kerja di situ pun enggak kemudian membuat lo langsung jadi bahagia dan jadi hebat.
Kenapa?
Karena lu pasti masuk entry level dulu tadi kan gue bilangnya bisa jadi lu bisanya jurnalisme sukanya sepakbola ketika lo masuk ke dunia media sepak bola lo masih di level bawah.
Lu enggak langsung dikirim liputan ke Inggris dikirim liputan Piala Dunia dikirim liputan Piala Asia enggak kayak gitu?
Siapa yang lu lu mulai dari bawah lu di bawah dulu lu mulai melakukan pekerjaan pekerjaan yang bisa digantikan sama EI shooting nanti emang itu perannya memang kayak sekolah tapi di kantor.
Kenapa?
Karena karir itu berjenjang dan semua orang mulai dari bawah.
Semua orang akan mulai dari bawah, pasti bosan pasti capek pasti ngelihat jam semua kayak gitu enggak cuma di Indonesia, di Amerika juga seperti itu bahkan keris rock.
Punya jokes soal itu.
Dia bilang gue pernah punya pekerjaan pekerjaan sama karir itu hal yang berbeda kerja itu.
Kalau lu punya kerjaan lu punya job waktu itu lama banget kalau lo punya karier waktu berasa cepat sekali.
Dia dia cerita soal dia dia dulu kerjanya tukang.
Buka kulit lobster.
Sejak kerjanya scripting lobster.
Pembicara 2
Itu script script, script, script, script, script, script, script, script script.
Pembicara 1
Di lihat jam.
Oke. 15 menit berlalu gue akan fokus.
Dengan pekerjaan gua.
Dan ketika gue cek pasti waktu sudah berlalu.
Lama sudah script.
Pembicara 2
Script scrubscribe script siap siap siap siap siap siap.
Pembicara 1
Oke waktu itu sudah berlalu lama.
Coba aku lihat ternyata baru lewat 20 menit emang kayak gitu.
Jangankan lu gua aja juga kayak gitu.
Pekerjaan 1 gue gue tuh sebagai sales di sebuah perusahaan advertising itu real job 1 gue itu pun gue sebagai freelance gue dibayar per project.
Kalau project gue tembus, gue dapat komisi dari.
Job tersebut.
Harusnya sih enggak ya?
Harusnya sudah digaji tapi gue fresh grad pengin nyari kerjaan ya sudah lah ya gue masuk aja dulu hari 1 Minggu 1 membosankan sekali.
Bahkan kalau gue beli jujur sampai selesai juga sebenarnya membosankan.
Tapi ya gue jalanin aja karena gue tahu siapa.
Gue berharap langsung jadi kreatif director sebuah agency.
Siapa gue berharap jadi sales?
Director, sebuah agency.
Gue yang gila kalau gue berpikir wah gue akan langsung bikin deal sama perusahaan gede seperti pada zaman itu ya perusahaan gede itu kayak blackberry nokia.
Wah gila kali siapa gue?
Semua dimulai dari awal.
Tadi kan lu bilang kan gue berharap itu bukan berarti gue enggak bersyukur enggak enggak bukan lu enggak bersyukur lu tolol aja emang semua orang kerjanya kayak gitu men.
Menurut gua apa yang salah?
Yang salah tuh ekspektasi lu.
Lewatin aja ini?
Lewatin aja ini?
Suatu hari lo akan baik baik aja.
Suatu hari lo akan menyadari bahwa.
Emang proses yang lagi lu jalanin sekarang ini harus dilaluiin.
Yang penting sekarang dengan pekerjaan yang belum punya lu pikirin gimana caranya kerjanya benar.
Kan lu bilang kan ketika gue memulai hari gue cuma ngitung berapa jam lagi sampai ketemu 5:00?
Nah lu ganti tuh ketika memulai hari lu berpikir gimana caranya kerjaan gue bener.
Tahukah kenapa?
Karena kalau lu fokusnya cuma menghitung hari kerjaan lu bisa jadi jelek entar udah dipecat nanti lu enggak punya kerjaan.
Nganggur itu capek tahu mendingan capek kerja daripada capek nganggur capek kerja atlet ada duitnya capek nganggur memakan dari apa loh ngemis minta orang tua sudah gede lu.
Fokus fokus sama apa yang mesti dilakuin memulai hari.
Jangan ngitung berapa jam lagi sampai ketemu 5:00 memulai hari mikir gimana caranya gua kerjanya bagus karena kalau gua kerjanya bagus a gue bisa bertahan di kerjaan gua sehingga gue dapat gaji dan b gue bisa cepat dipercaya sama hal hal yang lebih baik lagi sehingga gaji gua lebih besar lagi sehingga pekerjaan gua lebih menarik lagi sehingga kerjaan gua lebih menantang lagi.
Gitu, kalaupun ada yang mau lo lakukan.
Coba lo pikirkan apakah lu bekerja di dunia yang lu bisa?
Dan dunia lu suka.
Kalau gue boleh milih minimalnya dunia yang lu bisa karena buat apa lo kerja di dunia yang lu suka tapi kompetensinya enggak ada dipecat juga ujung ujungnya.
Ada tuh gua ada orang yang senang banget stand up kerja di gue dikasih role.
Enggak bisa jadi pecah juga ujungnya.
Jadi.
Kalaupun ada yang mesti lakuin lu pikirin lu bisa enggak nih ngerjain ini kebisaan lu apa?
Paling gampang sih, kebiasaan lu adalah apa yang lu dapatkan semasa kuliah ya atau semasa SMK itu kebisaan itu kompetensi kerjaan lu sesuai enggak dengan kompetensi lu.
Kalau enggak ya cari yang sesuai lah ntar lu dipecat.
Kalau iya ya sudah antepin aja jalanin aja.
Terusin aja emang ini prosesnya.
Lu masuk sekolah waktu sd sampai.
Sma juga gitu kan lu sebenarnya males lu pengin pulang sekolah buru buru pulang sekolah kan ya sama.
Lulus dari kerjaan juga masih kayak gitu.
Lulus dari kuliahan juga masih kayak gitu dikerjaan mesti kayak gitu.
Cuma bedanya sekarang lu bisa dapat gaji.
Kalau kemarin kan lu nyari nilai sekarang lu nyari gaji kemarin lu juga bosan kan anda cepat cepat pulang sekolah tapi lo berpikir gimana caranya nilai gue tetep bagus kalau nggak gue DO kan?
Nah sama lu juga pengen buru buru pulang, tapi lu berpikir gimana caranya kerjanya bagus kalau enggak lu dipecat.
Memang begini dunia pekerjaan.
Welcome to the real world f umru baru 23 tahunnya long way to go long with the go antepin aja.
Prediksi gue dalam waktu 3 tahun kalau lu kerjanya bener hal hal baik akan datang buat lu.
Okeituajadariguemakasihbanyakuntukyanglainsilahkankirimkanemailkesinarwhealthy@gmail.com.
Semoga email lu gue bacain di kesempatan berikutnya dan email bisa menjawab keresahan banyak orang.
Thank you bye.
Podcast Summary
Key Points:
Perasaan bosan dan tidak bersemangat dalam pekerjaan adalah hal yang wajar, terutama di level awal karir.
Karier berjenjang dan semua orang umumnya memulai dari pekerjaan dasar yang mungkin membosankan, baik di dalam maupun luar negeri.
Fokus pada menyelesaikan pekerjaan dengan baik lebih penting daripada menghitung waktu hingga jam pulang, agar bisa bertahan dan berkembang.
Idealnya bekerja di bidang yang sesuai dengan kemampuan dan minat, tetapi jika tidak, setidaknya pilih bidang yang sesuai dengan kompetensi.
Dunia kerja nyata membutuhkan proses dan kesabaran, di mana konsistensi dalam bekerja dengan baik akan membawa hasil positif dalam jangka panjang.
Summary:
Pembicara merespons keluhan seorang pemuda berusia 23 tahun yang merasa tidak bersemangat dalam pekerjaannya, hanya menghitung waktu hingga jam pulang. Pembicara menekankan bahwa perasaan tersebut sangat wajar karena kebanyakan orang memulai karir dari level entry-level dengan tugas-tugas yang mungkin membosankan atau repetitif, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Ia menjelaskan bahwa karier bersifat berjenjang dan membutuhkan proses, mirip dengan sekolah tetapi di lingkungan kantor.
Pembicara menyarankan untuk mengubah pola pikir: alih-alih fokus pada jam pulang, sebaiknya berkonsentrasi pada cara menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Hal ini akan membantu bertahan di pekerjaan, mendapatkan kepercayaan untuk tugas yang lebih menarik, dan meningkatkan gaji. Ia juga menyarankan untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, meskipun idealnya menggabungkan kemampuan dan minat. Pembicara menekankan bahwa dunia kerja membutuhkan kesabaran, dan dengan konsistensi bekerja secara baik, hasil positif akan datang dalam waktu sekitar tiga tahun. Pengalaman pribadinya sebagai sales freelance juga dijadikan contoh untuk memperkuat argumen tersebut.
FAQs
Fokuslah pada bagaimana cara menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bukan menghitung jam hingga pulang. Dengan bekerja dengan benar, Anda dapat bertahan dan berpeluang mendapatkan tanggung jawab yang lebih menarik.
Ya, sangat wajar merasa bosan di level awal karena pekerjaan seringkali bersifat rutin dan membosankan. Semua orang umumnya memulai karir dari bawah dan mengalami fase serupa.
Ekspektasi Anda mungkin terlalu tinggi; fokus pada jam kerja dapat membuat kinerja menurun. Alihkan pikiran untuk meningkatkan kualitas pekerjaan agar lebih produktif dan aman dari risiko pemecatan.
Pilih pekerjaan di bidang yang Anda kuasai atau minati, idealnya di persimpangan keduanya. Namun, bahkan di bidang yang disukai, fase awal tetap melibatkan tugas-tugas dasar yang mungkin membosankan.
Pekerjaan terasa lama dan membosankan, sementara karir terasa lebih cepat karena ada tujuan jangka panjang. Memulai dari bawah adalah bagian alami dari membangun karir.
Cari pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi Anda untuk menghindari kinerja buruk. Jika sudah sesuai, jalani prosesnya dengan sabar karena ini adalah tahap normal dalam dunia kerja.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.