Go back

Feminism in The Islamic World

83m 29s

Feminism in The Islamic World

Dalam podcast ini, pembicara memperkenalkan materi kelanjutan tentang feminisme dalam dunia Muslim. Ia mengawali dengan mengingatkan pendengar untuk tetap berada di rumah selama pandemi, lalu beralih ke inti pembahasan. Fokus utama adalah pada kontroversi seputar posisi perempuan dalam agama, seperti kasus Amina Wadud yang menjadi imam salat. Pembicara menegaskan bahwa perdebatan ini bukanlah tentang Al-Qur'an sebagai kitab suci yang ilahi, melainkan tentang bagaimana teks tersebut ditafsirkan. Ia menyoroti bahwa banyak tafsir klasik, yang sering dijadikan rujukan, dipengaruhi oleh budaya patriarki yang kuat di dunia Arab dan sekitarnya. Akibatnya, penafsiran tersebut cenderung mensubordinasikan perempuan, baik dalam kehidupan pribadi maupun publik. Para feminis Muslim, menurutnya, tidak menolak ulama klasik seperti At-Tabari atau Ibnu Katsir, tetapi mereka mengkritik metode penafsiran yang bias. Sebagai solusi, mereka memperkenalkan pendekatan baru seperti tafsir tematik (maudhu'i) dan hermeneutika, yang dianggap lebih adil dalam melihat posisi perempuan. Pembicara juga menyinggung pengaruh kisah Israiliyat dalam tafsir klasik, terutama terkait penciptaan perempuan. Ia menekankan bahwa berbicara tentang agama, tafsir, dan hadis bukanlah hal yang tabu, asalkan dilakukan dengan kritis dan membandingkan berbagai sumber. Tujuannya adalah untuk membuka ruang dialog yang lebih inklusif dan setara dalam memahami ajaran Islam.

Transcription

6079 Words, 41454 Characters

Indonesian
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat berjumpa kemarin dengan suara saya, dia Nura Rahman di Enker FM. Ini adalah serial podcast saya selanjutnya untuk matakulah peritikal diri. Tiga terisissa 3 serial podcast lagi, 3 dengan ini yang terisissa tentunya tinggal 2 materi lagi, yang akan kita habiskan di 2 pakaian di bulan Juni ini. Saya akan menyapar dulu semuanya apakah bar. Maafkan semuanya, kebar ini tentu mudah mudahan baik peks saja. Kita akan menang melawan pandemi COVID-19 secepatnya mudah mudahan, teruslah berdua, berada di rumah, kalau tidak ada keperluan untuk keluar, supaya kita tetap selamat sehat tetap saja. Terakhirnya, materi untuk pertemuan yang sudah diselesaikan, itu tempatnya tempatnya mudah mudahan. Terakhirnya, semua kelas, ada hari kami kemarin, dan berbekaah dari beragam membahasan, yang ada di kelas dari kita melalui keagi tentunya. Ada banyak sekali permasalahan yang diungkap, permasalahan yang dikemukakan, dan selalu berkali-kali menarik sekali, kejian mengenai feminism di selamik war, atau feminism di muslim war, ini. Saya akhirnya berasa tertentang untuk terus membaca, dan terus membaca lagi, dan menelusuri kembali jajak-jajak, dan memikiran dari aminabadu dan fatih-mamilat ni si yang kita bahas. Setelah beragam di sekusi kita kesanakan, ada pengen sekali permasalahan sudah saya bilang tadi, dan ketunya saya tidak bisa mengurai satu persatu permasalahan yang sudah kita kaji bersama, seperti biasa saya paling hanya akan memberikan rancuman, atau kacang atau pentuk penjabahanan kehadap kajian, feminism di muslim war, ini. Mereka tangan-tangan tadi tentunya membuat saya juga, saya sudah bilang yang berasa lagi banyak sumber, banyak pukuk. Saya harus membuat, ya, semacam pengumuman di story, saya bahwa, terlalu bersabar atau mohon bersabar untuk podcast, untuk feminisi menemusi rancuman, saya harus membaca lagi kesuluhan kegasan, kita ambah dengan membaca beragam buku, beragam kita berserakan di rumah saya, belum lagi buku-buku yang dalam bentuk ibu pada F, belum lagi mendadak munduh, termasuk kita tetap, itu adalah satu pukaya saya untuk pertapkan sistem, berusaha sepaksimah mungkin untuk profesional, karena, ya, ini semacam diseklayi merlagia, karena apapun bentuknya penilasan saya, saya tetap harus berhati-hati pada teori yang dijelasan oleh saya. Itu adalah bentuk profesional dari sorang bosan, dari sorang, dengan jalan-anus rancuman, tentunya dengan pembacaan yang kritis tetap, namanya juga ini matakulah kritikal di hari, jadi, saya akan mulakan berposisi, tentunya seperti biasa, berposisi di tokoh-tokoh itu, sambil tetap membacaan se-sara kritis tentunya. Seperti yang sudah saya mengkapkan di penyataan, atau setiori teori yang sudah lagu, atau yang sudah dibahas di pertemuan-pertemuan lalu, saya juga tetap berpihat pada teori teori itu, saya terus membaca secara kritis tentunya, dan memberikan komentar pada saya sebagai pembaca tentunya. Saya sedap cukup di sklimernya, mari kita berkelana di H&M The Machine World. Bagi anda pembelajar kritikafiri, anda seperti biasa, sudah saya siapkan slideshow, dan agak berbeda dengan slideshow sebelumnya, saya disini menggunakan bentuk pernyataan, bukan poin bentuk pernyataan sebagai bagian dari kasam, dan perroces membacaan saya terhadap kami nama juga dan fatih memenisi. Dan anda bisa langsung membuka slideshow saya, kafa terveti saya, kalau anda membukaannya di top, dan misalnya di telefon juga, di mana telefon anda memiliki aplikasi PowerPoint, anda bisa mengklik satu-satunya gambar di kafa slideshow saya, dan ke umumannya gambar gambar itu tidak hasil bagian anda, ada orang yang ada perempuan berkudung, segan berlari, kalau ada aplikasi seperti ini, ada perempuan berkudung, dan berkudung, dan sedang protesnya demo atau apa ada yang menjadi demo, ini yang dulu pernah viral perampuan acek, yang pertahuan viral di media sosial dan pernah juga di viral kan oleh, kalau tiyasalah, oleh usabnya sup manusurnya saya lupa lagi namanya, seorang bremum perampuan dari acek dan bawahnya ada sapo pp, perampuan berkudung, semuanya yang berkudung tapi mungkin ada yang menggolitik dan kemudian langsung membuat anda merasa heran sekali-gus mungkin kaget dan entah apa mungkin di benar-benar Anda ketika melihat gambar ini gambar ini adalah seorang perampuan berkudung, kemudian menggunakan baju kurung atau jilbat lalu tampak seperti sedang menjadi imam, soalat, bagi lakilak dan perampuan kalau Anda menelusuri ini adalah Amina Wadud pernah seperti ini Amina Wadud pernah menjadi imam jumpat di Amerika Selikat ketika tidak ada seorang pun yang bisa menjadi imam jumpat pada saat itu Anda mungkin terakhir-akhir dan kemudian bisa jadi kaget dan bisa jadi laksung menyalahkan wah itu salah, itu bisa dan sebagai ini Anda yang menatap apa pun Anda yang kategorinya sunni atau ahli sunah hojama baik dari kalangan hanavi, hampali, maliki, mokon syafi ini pasti langsung menjar, cuma hakim ini menelai bahwa itu salah tidak boleh, lakang bisa jadi mungkin ada dari Anda yang bilang itu haran termasalahnya adalah apakah yang kemudian Anda nilai itu sudah betul-betul merupakan bagian dari proses pembaican Anda terhadap hukum-hukum islam secara kesuluhan ini yang menjadi masalah, bagi kita semua, sepanjang pengatahuan saya tidak ada satu ayat pun di alkuan yang mengdidak bolehkan perampuan menjadi imam salah yang menjadi masalah adalah lagi-lagi terakhir dengan beragian sorak penafsiuran dari beragam ayat alkuan dan tetunya di tambah dengan hadis-hadis serosuruh ini yang menjadi dasar yang kemudian harus kita tempatkan, kita dudukkan sebagai duduk persoalan, sebagai permasaran klusial, bagi topik kita, feminism ini muslim buli ini makanya kemudian saya mengabil gambar yang cukup kontroversial karena disini l atak dari bagian mana perampuan itu di posisikan di dalam agama, perampuan di posisikan di dalam pemikiran atau tafsil terhadap alkuan dan hadis atau sunah rasuluh, seolah-olah masalah kembali ke dalam adama tidak boleh, misalnya untuk menjadi masalah dan sebagainya, atau bahkan ada yang mungkin dari anak sebagian, dan juga yang mungkin saja masih terbilang, masih terbilang ada yang mungkin belum tahu, atau misalnya tidak ada yang pernah memberi tahu, atau tidak pernah membaca, atau apa, bahwa perempuan itu boleh selacom ad, di misjid boleh, itu, jadi jangan heren kalau misalnya anda pergi ke satu tempat, apa lagi misalnya keluar lebih, kemudian mencuba, perempuan selacom ad, tidak masalah dan tidak apa-apa, sebagian lagi, dari konteks permasaran yang sering, soallah-soallah bahwa perempuan bukan disitu tempatnya, soallah perempuan bukan, atau tidak layak berada disitu, jadi banyak sekali tak sih, banyak sekali fiki yang kemudian dianggap, dianggap, dicurikan oleh para ulama kontemporer, saya lebih, lebih cendurung enak, menggunakan kata sarjana, sarjana kontemporer, yang ulama itu kan alim orang yang berbilmu, ulama sarjana, sekalar bahasa inggrisnya, jadi ulama sarjana salah, atau ulama klasik-sarjana, klasik di sama saja, ya saya menggunakan dua hal itu, dua-dua nya, pakai ulama, pakai diksi ulama dan juga mungkin pakai diksi juga sarjana, atau sekolah, baik kita terus kan, jadi permasaran permasaran, ragan permasaran yang seperti itu yang kemudian, di dalam beragam corak tafsi, dianggap, dicurikan, men sub-ordinasi kan, perempuangan, kita, ini di duper masalahnya, jadi di duper masalahnya ada di salah satu nya, salah satu nya yang saya lihat misalnya, dikong beragim yang utama, di dalam salah satu nya ada di kiroat, ada di proses pembacaran, ada di bagaimana kemudian membacar ayat arpuran dan kemudian memberikan penapsiran ayat itu, dan kemudian memlebar tidak hanya dalam fiki ibadah misalnya, tapi dalam fiki muhamala di dalam hubungan privaten publik misalnya, di dalam bahkan sampai pada proses penciptaan, itu argument-argument kesetaran di argument-argument kesetaran gender diungkapkan oleh para feminismuslimini, Kalo apakah para Femis Muslim ini tidak mendesarkan pada sahaja nasar jana klasik atau ulama-ulama klasik? sama saya Mereka juga mendasarkan yang kemudian notabainya mereka laki-laki, sarjana-sarlana klasik ini. Para bufasin-bufasin klasik, dan yang paling banyak dikenal ini, ada ato bari, misalnya, yang menjadi, sujukan utama, salah satu sujukan utama dari tafsir, klasik misalnya, atau bari. Kemudian ada imukan siir, ya, wujud ada tafsir jalan lain misalnya, jalan lain di jalan buat, jalan lain. Dan banyak lagi. Jadi permasahan terkait dengan penabstiran ini, salah satunya adalah di pengaluhi oleh proses membacaan. Selain tetunya di pengaluhi oleh tradisi, kurangkan tradisi yang melibatkan ruang likop kehidupan dari para mufasih itu sendiri. Ditu, hasir pembacaan terhadap beragam tekst yang lain tentunya juga, beragam tradisi beragam tekst, dan beragam konteks yang dihadapi, yang di pahami, yang kemudian dijadikan tradisi oleh sarjana-sarlana itu, sarjana-sarlana klasik itu. Lagi-lagi di kerecikalki auri kita tidak akan menudukan posisi hitam putihnya. Lagi-lagi pertanyaan- pertanyaan kerecikalki auri itu adalah iya gitu, betul keh seperti itu, jangan-jangan seperti itu. Saya ingin menudukan kembali bahwa berbicara mengenai agama itu tidak tabu. Berbicara mengenai tafsid itu tidak tabu. Berbicara mengenai akuran itu tidak tabu. Berbicara mengenai hadis itu tidak tabu. Tidak di yang tabu di dalam membahas semua objek, ilmu. Tidak di yang tabu, yang kemudian menjahat diperhatikan adalah bahwa bagaimana kemudian kita banyak membahat jahat. Membandingkan raga produk ilmu yang kemudian bersumber dari objek yang sama. Jadi orang banyak menafsi ke dalam akuran, sama objeknya akuran tetapi kemudian kenapa misalnya beberapa tafsiran dari autobari misalnya agak berbeda di dalam akuran itu. Berbicara mengenai imnukasir misalnya. Berbicara mengenai agak berbeda di dalam jalan lain misalnya. Bahkan beberapa tafsiran dari atau banyak tafsiran dari atobari imnukasir jalan lain misalnya itu keratis sangat berbeda di dalam tafsiran dari sarjana kontaporai misalnya. Saya angap sarjana kontaporai itu, atau misalnya banyak orang menganggap bahwa pembeharuan di dalam misalnya misalnya itu kan tidak tertutup hanya di sarjana-sajana klasiks aja. Istihar itu, pintu istihar itu masih selalu akan terbuka. Bahkan saya mengikuti dari kategori penkategorian dari harunasiótion misalnya, Muhammad Abdul misalnya itu kerat tafsir di dalam tafsir almanara. Itu sangat berbeda dengan sarjana-sajana pendahuluan yang termasuk jalan lain, itu kan itu berbeda. Bahkan yang sama-sama pembeharu pun, Muhammad Abdul mengesai utub misalnya itu berbeda. So, tafsirnya. Jadi salah satu permasalahan utama dari raga-kritik para feminism Muslim itu adalah bukan alkurannya. Berikutnya tetap menganggap bahwa alkurannya itu Divine. Itu suci abadi, itu mengandung betul-betul itu adalah kalam Tuhan. Yang menjadi masalah adalah bukan tekstnya, bukan alkurannya sebagai wahyutuhannya tetapi adalah bagi mana cara menafsirkan tekst atau wahyutuhan itu yang kemudian, banyak di pengalui oleh nuansa budaya yang dicurigai oleh para feminism sebagai patriarki itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia arah itu adalah tradisinya, patriarkinya kental banget. Termasuk jangan kan di arah, termasuk patriarki itu dihagir di semua tempat, jadi di belahan dunia. Bakan di Eropa patriarki itu sangat kental. Dikita di Indonesia juga patriarki itu sangat kental, sebagainya. Sehingga banyak dicurigai oleh para feminismuslim, banyak dari para sanjana, para taraf si, para ahli taraf si, para mufas si, para ahli hadis dan sebagainya itu menafsirkan tekst alkuran, menafsirkan alkuran, menafsirkan al-hadis. Itu banyak di pengalui oleh sentiment gender. Sentiment gender bahwa melalit, kalau Fatima Mertisi dilangnya melalit, orang-orang elit dari kau melaki-laki itu menafsirkan atau sarjana sarjana melalit-laki itu yang kemudian membawa masalah. Itu dapak-dapak-corataf siernya itu sangat kental-kental kelelakianya itu sehingga peremuan dianggap selalu menjadi bagian dari. Yang kedua atau yang keberapa, tersobordinasi selalu tersobordinasi di dalam baik kehidupan pribadi, mau pun kehidupan publik. Jadi seperti itu, jadi kita dudukkan dulu persoalan yang jelasnya. Bukan berarti parafeminismuslim itu sangat radical diberal dan sebagainya, bukan berarti seperti itu juga. Tapi mereka juga tetap mendasarkan, atau menggirakan, mendasarkan membandingkan beragam, hafsi-redal, melalit itu. Mereka merujuk juga, atau bari, mereka merujuk, ibu kasih, jalan lain, misalnya. Dan mereka juga mencoba untuk memberikan kontribusi penafsurannya sendiri dengan metode yang lain. Dalam konteks kejian taksir di masa ini, tentunya banyak sekali metode yang bisa dipake, tapi ini permasalannya. Para saljana salaf itu, menekan serat yang ketat. Serat-serat untuk menjadi mufasir itu sangat ketat. Kewahkan, ada sekitar 12 serat yang sangat ketat, terkaitin dengan mentalitas. Banyak-banyak yang terkaitin dengan mentalitas. Kalau anda membaca membahas via ulum al-kurannya, menakul kota, itu kalau tidak salah ada 12 serat. Ini mulai dari kuatnya akida kemudian faham bahasa aram, paham hukum-hukum, udahl-apak, kaki dah-kaki dah bahasa aram. dan menafsirkan ala kuda anda, menafsirkan ala kuda anda, dan ala hadis, dan macam-macamah, ada sekitar dua bila seharat kalau ngerasalah untuk menjadi seorang menifasir. Dan para pembeharu, saat jenis-sat jenis konten pererari ini, itu bukan menolak ya, bukan menolak tetapi, bukan menolak salah-salah itu, atau bukan menolak metode-metode tetafsir yang umum digunakan, kan yang umum digunakan, kalau anda mengikuti perkolahan olo-molekur ahin, itu kan ada ada 3 ya, yang umum digunakan oleh paramufasir, ada yang maturnya itu tetafsir tahlili, yang umum biasa digunakan oleh paramufasir keselamatan, kelasifasir keselamatan, kelasifasir, atau dari dimukasir, jalan semuanya itu menggunakan metode tetafsir, yang membehas dari awal surah sampai akhir surah dari al-Fatiha, sampai anas itu, 30-309 jibahas. Bologun tentunya ada kecenderungan beberapa, menghasir juga yang tidak terlalu banyak membahas satu ayat, misalnya tetapi cukup detil membahas ayat yang lain, misalnya itu tergateng dari preferensi. Misalnya di Indonesia, misalnya ada menghasir tangku mohabad hasbiasi digi, bukan pas biasa digi dosen kita ya. Ini tangku mohabad hasbiasi digi dari A.C. Beliau menolis tetafsir, terus saya berukul lagi tetafsir, yang tetafsir apa, yang namanya tetafsir. Itu misalnya lebih tergantung, misalnya preferensi penjelasannya lebih kehukum, karena kebetulan beliau adalah ahli fiki. Tengku mohabad hasbiasi digi, ini salah seorang guru besar di B.I.I.N, yang menang kali jaga yogyakarta. Kalo tidak salah, kalo tidak salah di A.I.I.N, dulu A.I.N sekarang, puin suing kali jaga yogyakarta. Nah seperti itu, itu metode tetafsir takilih, yang kedua dan metode tetafsir ijmali itu, ini harusnya antara pada dan kusmahnya. Pak Ujang, Pak Ujang Sejatman yang jelasinnya. Kalo saya, seorang pakar paksa yang jempa darah biasanya. Yang tetafsir ijmali sama seperti tanah ini, cuma agar inkas, cuma agar inkas. Yang ketiga misalnya, yang kontemporary, biasanya itu dari sering, dan sering munculnya mulai haba 19. Itu tetafsir mau duduk, atau tetafsir tetamatik. Kurasi habisanya, itu menolis sebuah 7.000, kawasan al-Kuhan, tetafsir mau duduk, atau tetafsir tematik, ketahsir berbagai perusahaan rumah. Saya juga nanti akan menyandai, bukan apa penjelasan saya, gue sini. Ini tetafsir mau duduk, terlalu satu contohnya, wahawasan al-Kuhan dari kegrosi hadad, tapi kegrosi had juga menolis tetafsir al-Misbah, tetafsir al-Misbah, yang sama saja, itu mengegunakan itu dari tahun ini, itu yang 30.000, itu semuanya. Orang Indonesia cukup banyak. Dulu pendahku, sebelum Kurasihab, ada hamka juga, hamkam melistafsir al-Azhar. 30.000 juga, itu pake metode tahili juga, yang pake metode mau duduk, memang masih, masih jarang, atau kalau hari ini, banyaknya disuruh pake mau duduk. Sebagi contoh juga, misalnya, fazur Rahman, sebagai seorang sarjana, atau ulama kontemporeri, masih hidup kalau tidak salah, fazur Rahman, di Amerika Serikat, menjadi guru disert di universitas apa yang saya lupal lagi. Fazur Rahman salah satunya, misalnya menolis major themes in Kur'an, temat-temat umum, temat-temat mayor, temat-temat pokok, di dalam al-Kur'an. Mereka menggunakan metode tahili mau duduk. Ada penciptaan manusia, manusia sebagai individua, manusia sebagai society, dan sebagainya. manusia di dalam masyarakat, manusia di masyarakat, misalnya sebagai ini. Dan, pebahasan mengenai perumpuan, misalnya, yang coraknya lebih agak, bukan agak, lebih adil, dalam melihat posisi perumpuan, itu ada di judul men, in-sasaiti itu. Kalau di wawasan akurannya Kur'annya, kehabis itu ada di perumpuan, bagian ketiga, wawasan akuran, metang manusia di masyarakat, ada perumpuan. Nah ini sama ambir-ambir, sama lah dengan fazur Rahman, pola-polaknya. Nah seperti itu. Jadi, kita dudukkan lagi per masalahnya, persoalnya adalah yang digvityk oleh parafeminis, muslim, itu bukan akuran, bukan alahadisnya. Heltavi, tafsil, terhadap alahadis itu. Sehingga, pola-polah hari ini, kalau misalnya menggunakan sem melihat kembali buku metodologi penelitian agama, karya Prof. Iwam Suddeh, dari win malang, ini mantan rektor win malang, lo tidak salah. Ketuduan saya punya bukunya, metodologi menelitian agama. Itu banyak sekali yang bisa dipangkai hari ini, menggunakan metod-metod konten barat, salah satunya, menyerah meniatika untuk menafsirkan al-kur'an. Lalu, ada muncul pertanyaan. Apakah har meniatika ini, ini kan datangnya dari baharat. Awal mulanya dari chorat-tafs apa, penafsiran atas baibe, atas akitam, atas perjanjian, baru, injil lain. Apakah ini tidak mengganggu originalitas dari arkur'an? Pertanya-anya, saya balikkan begini, apakah metod-tafsir tahli-li-ijbali, mahodongin juga? Tidak terbebas dari itu, tidak terbebas apakah, metod-metod-tafsir, juga tidak terbebas dari permasalahan itu. Apakah nyanyakan, bisa di balik seperti itu juga? Ya, kalau anda, atau kalau misalnya ada dari anda, atau si apapun, ya mudah mudahan, tidak ada, ya? Yang tidak bisa menerima ini semua ya, ya kan silakan di tinggal, kan saja, tidak menjadi masalah, atau tidak menjadi rugi itu. Ini tidak bisa harminyatikan tidak bisa untuk alak-alakur arhemiatikan itu untuk baibe, tidak bisa di terima, ada metod-tafsir itu, metod-tafsir, ya seperti mana-mana melukkutan, misalnya mengungkapkan begini-begini, seperti apa, itu, itu kasih, misalnya menggunuh begini-begini, sebagainya. Satu hal yang mungkin perlu diingat adalah bahwa, di dalam process, membuat atau menafsirkan alaf loan, tafsir tafsir jamang dulu, tafsir tafsir pasik juga, sarjana-sajjana pasik juga, pasik kelas kolaris, Itu banyak yang dianggap terpengaruf oleh Hayat-Hayat Israelian. Walaupun dengan metode tafsir yang cenderung dalam tanah petik mungkin lebih islami ya karena, karena datang dari atodan apa, karena lahir dari process untuk memahami ala kur an itu sendiri dari kalangan muslim sendiri. Ya Hayat-Hayat Israelian di beberapa sesuatu mungkin bisa menabahkan pengetahuan bener kita, karena tidak dapat dipunki di bahwa ada kisah nabi issa, ada kisah nabi mussa, ada kisah nabi brohim, yang notab ini bangsa Israel, tradisi tradisi mereka juga, banyak cukup banyak di jelakkan di dalam Ayat-Hayat-Hayat Lukuran. Seperti itu, tapi misalnya yang menjadi masalah adalah banyak juga Ayat-Hayat Israelian yang kemudian dijadikan sandaran untuk menabstirikan ala kur an terutama dalam hal atau dalam pantex perampuan. Gitu salah satunya dalam proses penciptaan perampuan. Gitu, jadi kita dudukan seperti itu dulu. Nah akhirnya saya kemudian menelah banyak sekali terjemahan. Dalam inggris saya akan mencoba, apa ya bukan mencoba. Kebetulan saya tidak mencartumkan di slideshow saya. Saya tidak mengkrimasut screen shot, atau tangkapan layar, saya tidak menangkap layar, dan tidak menyeretakannya di sini. Saya membaca beragam terjemah inggris, alkuan terjemah inggris. Yang pertama adalah dari marah-maduk piktol, seorang keberkebangsaan inggris, muslim. Awalnya bukan, tapi menjadi mahalaf, kemudian muslim, dan meningkat dalam keadaan muslim, juga juga seorang seseorang, mungkin ada yang sudah kenal, ada yang belum. Kemudian saya membaca juga yang cukup masur di kalangan serjana hari ini. Mungkin sangat masur, karena terjemahan inggris ini diakui sebagai terjemahan yang ini, diakui sebagai terjemahan yang cukup, atau yang paling, kalau saya si mengatakannya cukup, kalau tidak mengatakan paling. Cukup otoritatif dan grapis tentatif, itu terjemahan dari Abdullah Yusuf Ali. Kemudian saya membaca juga selain dari marah-maduk piktol, Abdullah Yusuf Ali, yang lebih kontempler dari MIS Abdul Halim, kemudian juga dari talali-tani, dan beberapa yang lain juga masih seorang baca yang lain juga. Menemukan beragam perbedaan, yang ini dalam menterjemahkan beberapa ayat yang ada kaitanya dengan konteks perampuan, untuk pencitaan perampuan misalnya. Anis ayat satu, anis ayat satu. Dunia ayatnya di dalam arah, ada daksin, adalah senerai R. Maritahi, iya ayat satu, anis ayat satu. Semelainlah, memang lohim, iya nasu tak orang bakom lovi, khala kokong minap siwa hidat, minap siwa hidatin, wahkala paminhe, zeu jah, wahkala paminhe, iya nasu tak orang bakom lovi, wahkala paminhe, wahkala paminhe, wahkala paminhe, iya nasu, wahkala paminhe, iya nasu tak orang bakom lovi, iya nasu tak orang bakom lovi, iya nasu tak orang bakom lovi, seruan untuk seluruh manusia. Di Abdulohyus Ali misalnya, saya menemukan, maaf, saya menemukan beberapa perbedaan dari terjomah terjomah ini. Di terjomah Indonesia, kita saya baca. Ya, iya nasu wahis kalian manusia, kita kurab bakom lovi bertakwala kalian semua kepada Tuhanmu, alatih yang kala kokum, yang menciptakan kamu, minna psih wahida, dari diri yang satu, lo kala kaminhe, dan dari padanya, minhe zau jah diciptakan istri-nya. Ini yang terjemahan Indonesia depan, ya. Istri-nya. Dan dari padanya, Allah mengambilkan rakil- rakil dengan perompon yang banyak-banyak. Rijalan-kati ruwan-nisah, sampai di situ dulu, ada lakos sampai di situ dulu. Yang menjadi permasalahan, tetik permasalahan, adalah takai dengan diksinna psih wahida. Jadi, untuk terjomahan Indonesia dari depan atau dari kemenahag, kita menemukan bahwa napsi wahida, diri yang satu, itu dikategorikan Adam, karena di pahami zau jah, lo kala kok zau jah, itu istri-nya seperti itu. Itu untuk terjomahan Indonesia. Kita lihat, ada besa sebetulnya, ada yang lainnya, ya, yang Adulah Yusuf Ali, silakan di luar saja, di situ. O main-kind, terhadapkan kepada Lord God, yang membuatmu dari orang yang kira, ini miripya, membuatnya, seperti nature yang membuat, dan dari mereka, ternyata yang membuatmu, dan dari sini saja, ini sudah kelihatan, ini mirip dengan yang terjeman Indonesia bahwa, disini diungkapan single person. Tapi pada hal, yang dimaksud kemudian naps, disini juga, Adulah Yusuf Ali menerangkan di komentarnya di bawah, single, self-person, living person, yang akan membuatmu, tersebagiannya. Dan kemudian, Partikal men, yang akan mencari, bukan orang yang tersebut, tapi sebabnya, nature similar day, yang ini kemudian yang soal-olah, bagi, bagi, sebagian kalangan, pulamah-ulamahal ini misalnya. Kurosi hab juga memandang bahwa, napsi wahidah, itu napsi-bisitu bukan, bukan adam, tetapi, lebih ke spirit misalnya, gitu. Ini lebih, menggambarkan equality yang kesamaan. Kurosi hab benar serkan seperti itu, dan beliau juga menyendarkan, ketafsi alamanarnya Muhammad Abduhu dan Rasul-Ghiduh, gitu. Jadi, silakan dirihan, sedaksi kalimat di Anisa Y1 di terkaitan penciptaan perambuhan jadi banyak sekali layang kemudian bisa kita gali yang kemudian memang corat-corat ini berbeda, corat terjemahnya yang nota dunek ujung-jungnya taksannya juga jadi berbeda itu kita lihat yang terjemahan dari marmadupik tol dan MIS Abdul Halim ini lebih MIS Abdul Halim ini lebih netral ya MIS Abdul Halim bilang "People we" bukan yang ini besbentar mana ya anda pun yang dari MIS Abdul Halim ini saya yang ini yang diatkui oleh bukan diatkui, maksudnya otoritas terjemahnya diatkui oleh banyak masyarakat muslim di Amerika Serikat bahasanya bagus dari MIS Abdul Halim bahagiannya begini "People be mindful of your Lord who created you from a single soul" so bah tadi yang yang Abdul Halim menapsilakan atau menerjemakan napsi wahidai di single person sekarang di MIS Abdul Halim dia menuriskannya "who created you from a single soul" dan dari it bukan his made dari the pair countless men jadi jadi ada perbedaan kan ada perbedaan di dalam membaca menapsilakan bahwa napsi wahidai dan napsi di sini adalah terjemahnya yang seperti ini yang kemudian digunakan oleh parafeminismuslim untuk untuk mengapa dan menyatakan bahwa ini lebih-lebih lebih ikual itu proses penciptaan ada air proses pencipta manusia itu laki-laki-laki maupun puan sama dari dari jenis yang sama dan jenis yang sama itu apa itu misteri Tuhan Tuhan yang tahu apa kaya itu itu tana dan sebagai misteri Tuhan kita tidak masuk di situ jadi caraktif seri yang kemudian lebih maskulin itu dihilang kanditu di serang itu karena memang bahasa-bahasa napsi wahidai itu adalah yang pertama digelil jiwa beritahu makanya di tafsir yang dibnukasir misalnya ketika menafsirkan wakala kominhazau jah di bawahnya di yungkapkan setiha wa diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk ketika Adam sedang tidur saat Adam terbangun dia merasa kaget setelah melihatnya dan lu yang langsung jatuh cinta ke padanya ini kan kalau anda mengamati ini adalah sama dengan yang ada di baiber di jenisis kita bekerja dian bab dua ayat dua ayat dua ayat dua ayat saya berbuali dua ayat dua satu dan lu yang langsung diberi di jenisis di bawahnya di bawahnya di jenisis dan dia berbuali di jenisis di bawahnya di jenisis dan dua ayat di bawahnya di jenisis menidurkan Adam dan di jenisis dan Adam tertidur dan di jenisis dan dua ayat mengambil salah satu tular risuknya dan di jenisisis dan kuda nutupkan kembaridaginya ayat dua dua ayat dan di jenisis di bawahnya di jenisis di bawahnya di jenisis dan dua ayat dari laki-laki itu dia buang menjadi perembuang itu dia buang menjadi perembuang yang berubah dan bawahnya kehadapan Adam ini apa jadi ini saya selalu merasa ini berarti ibnukasir terpengaruh oleh ayat- ayat di Israel iya dalam serikan ini gitu loh likelah anda masih percaya dengan bahwa yang perembuan terutama bahwa mejaduh saya itu di simputnya tulang risuk gitu ya ya, belati anda percaya dengan bai belum betul misalnya ada hadis yang apa menyatakan bahwa dan ini lo hadis sohi ya bahwa perembuan itu tercipta dari turang risuk tapi ada alapan atuh polikot min dilahin seperti itu reaksinya dan senanya ada lagi tapi ada hadis lagi yang lain sohif juga itu armer atuh yang pertama polikot min dilahin yang kedua kan dilahin ulama-ulama terdahulu sajana salahaf, sajana klasik punaf serik ini tuh secara cerali letter terakh tercipta dari tulang risuk itu bula yang kemudian di bahas oleh koresihan ya, koresihan lebih cenderung seperti muhamadah itu, seperti Rasul Drido di Lentaksir Almanar bahwa itu jadi begini, di Lentaksir Almanar berpahal alman 30-30 yang saya kutipkan dari koresihan owasa ala kuran seandainya tidak tercantung kisah kejadian ada menunjahwa dalam kita perjajan lama seperti redat si jatas yang saya bacakan barusan langsung dari koresi bahaybal yang kejadian ini saya pendapat yang menyatakan bahwa ini tadi ciptakan dari tulang risuk ada yang tidak pernahkan terlintas dalam benat seorang muslim jadi itu ini silakan ada mau percaya yang mana apakah anda masih mempercaya ibnukasir? ia mau fasir itu soalnya keimananya kuat dia tapi apakah betul memang seperti itu di dalam benar-benar kenal aku reantok kenapa kamu dihan hari ini Muhammad Abdul misal bukan hari ini abad 19 menuju abad 20 Muhammad Abdul itu dimisir dan Rasul Drido muridnya itu kolaborasi si Tafsir Almanar itu kolaborasi antara asuh Muhammad Abdul siah Muhammad Abdul dan muridnya Muhammad Rasul Drido itu tapi Muhammad Abdul dan Rasul Drido menafsirkan lebih nafs itu adalah Ruh itu dan tidak mempercaya i adanya tulang risuk dan udah litur langsung rakyat lagi. Nah silakan mau percaya yang mana? Silakan dipilih. Kalau anda mau percaya masih atau masih yakin dengan tafsi dimokas, ya tarfsi jalan-jalan yang masih menyeretakan pendapat itu tulang resuk silakan. Toh, buktinya tanya itu diambil dari Hollywood Bible, diambil dari perjanjian lama. Ini bukan pernyataan saya ya. Maksudnya ini bukan semata-mata sayang-arang, bahwa ada perjalan-jalan lama, atau saya sudah membaca dia perjanjian lama di King James Version, yang Hollywood Bible ini. Ini sudah, ini memang ada. Makanya kemudian kurasi, juga mengungkapkan seperti itu, seperti yang diukapan ada Muhammad Abdul dan Trasidudo. seperti itu. Jadi, tekstek yang seperti itu lagi-lagi yang kemudian, di serang, dikritik. Oh, leh. Para feminis gitu. Jadi para feminis ini juga bukan cuma perampuan tetapi laki-laki juga saya anggap sebagai para feminis yang mendahulu, yang ada kerakan-kerakan feminisme Islam, sehmohabar abduh misalnya dengan tafsi yang lebih neutral, lebih egalitair. Itu saya nyatakan sebagai bagian dari apa feminis, atau gagasan feminisme-nya sudah muncul gitu, ke setaraan jendanya sudah ada. Ketika. Tiga bagaimana kita kemudian memilai dan memilih, mana yang kemudian mau kita ikuti tafsi-nya? mana yang mau kita ikuti, rujukan tafsi-nya? Makanya Amina Wardud, ada boleh langsung membuka selain so, saya. Itu mengguni lebih menggunakan hermeni atikal model. Ya, namun itu terkenal akuran. Saya sudah membaca hampir keseluruhan dari buku dari Amina Wardud yang yang bab satunya diambil di buku saya itu. Dan betul hermeni atik itu ada lebih kek konteks metodinya, Gliambat dan Woodview, Walatan Shau. Apa yang saya menggunakan baru-sang, dengan membandingkan itu, itu juga itu model hermeni atik. Jadi, hermeni atik masih terkenal dengan sebuah sebuah kuala halikul, yang menggunakan kemudian memilai situasi terkenal di dalam halikul, yang menunjukkan yang menunjukkan terkenal di atikal model hermeni atikal model, itu terkenal menunjukkan menunjukkan menunjukkan terkenal di atikal model hermeni atikal terkenal di atikal model hermeni atikal dan berikanan di dalam komensi. Setelah kemudian membandingkan kemudian membandingkan kemudian membandingkan kemudian penjiptaan perpua termasuk di yang lain-lainya terkait dengan arijaluk awamun aranisa itu itu kan konteksnya bukan arijal dalam pengertian rakil-laki umum tetapi arijal dalam pengertian sebagai suami dia danah private itu loin itu kenapa disebut kawang kawangnya di sini lebih lebih apa kalau kurasi hamsi lebih menilai bahwa ini bukan bukan pemimpin yang pemimpin yang memesukam memelitah bukan tetapi yang melindungi gitu itu dari koresihab dan yang lain-lainya lah jadi ini lebih dari itu juga di buka-apkan misalnya di buku rasal di umar hargumian keselteran jendel jendel bukunya pun dia juga di buku saya itu nasubahan misalnya dan buku-buku yang di Indonesia itu udah udah mulut banyak ya, udah mulut banyak yang terkait dengan itu nambe gitu lah ya kalau itu untuk hermenuetik jadi bagaimana konteks dari al-Quran ketika diturunkan yang kemudian sering di dalam Mate Dotaf sir yang homomnya di simut asba bunuh itu juga di diungkap grammar itu di gelastin secara rinsi hampir satu per satu oleh amina wadud di lemar bahasa arah tetabah seredaksi kalimatnya kemudian worldview wel tancaung visong to mold gitu ya word vision ini pandangan dunia dari al-Quran itu melihat kompleksitas masalah pada saat itu dan pada saat sekarang gitu ini yang kemudian tidak ada di dalam model-model taf sir yang lama ini yang kemudian rego-darasi taf sirnya yang diperbaharui seperti itu dan itu dibolehkan metode-metode di takdir seperti itu dibolehkan saya merujuk dari Prof. Imams Supri-Yogo metode-penolitian sosial agama saya bukunya terbitan rosyakaliannya pandung dibolehkan gitu seperti itu jadi itu istahan selalu terbuka lah melatis saya yang gelast mempunyikan ke ilumuhannya untuk kalau misalnya menggunakan harminyatik harminyatiknya memang dipergunakan dengan baik tidak ada itu kan yang menjadi masalah yang menjadi masalahkan penyitiran satu ayat untuk kepentingan tertentu ini yang yang berbahaya gitu yang menjadi masalahkan itu nah oleh karnanya ini juga kompleksitas kemmasalahannya di difatir mengambil nasi itu harus dijelaskan ketika kok hari ini orang-orang menyebut hijam untuk cara berfakean yang sarin yang berfake yang berpakean berpakean yang sarin gitu apakah memang hijam diksi yang terpaknya ada kalau membaca yang ada di buku saya itu yang hanya sebagai kecil dari bukunya yang berjidur apa sih yang interputation atau apa saya lupa lagi ini saya punya terjebahan di Indonesia ini wabil dan mislam terhistoric dan terjebkelasakit di judul bahasa Indonesia yang berjalan mislam ini fatir membebasing itu jadi di judukan dulu permasalahannya lagi ini kontaks hijab ini kontaks hijab ini komplexnya salah satunya kenapa saya sebutkan komplex karena berkaitan dengan kisah dari pernikahan Rasulullah S.M. dengan Zainab Bintijahsi silakan anda search Zainab Bintijahsi seperti apa ceritanya tetapi tidak mencari dengan tips dari saya jangan mencari dengan tulisan dari pada orientalis tulisan dari kalau anda mau membaca yang terkaitan kisah Zainab Bintijahsi harus dari sumber yang terpercayalah karena banyak di siktir yang kemudian merucuk bahwa Rasulullah salah misalnya menghubi hidup katanya apa gila saksi yang terpungan sebagai ini sudah berisir terkaitan kemudian nambah lagi itu Zainab Bintijahsi dan itu juga dalam sepupubli bintus sepupuro suruhlah jadi kalau anda membaca yang kisah itu yang ayah tentang hijab ayah tentang hijab itu yang di bahas habis-habisan oleh fatih manberisi yang terkaitan pernikahan Rasulullah dengan Zainab Bintijahsi itu ayah suruhlah al-azad ayah 53 itu kan hijab itu membayatasi bukan membayatasi perempuan dari ruang publik tapi membayatasi antara terlaki-laki membayatasi antara Rasulullah dan menganaskin malik yang yang masih ada pada saat itu. dan batin-batin masih meru juga atau bari untuk kita lupasinya. Seperti itu, jadi duduk dulu permasalahannya, sejauh dan di kelas-kelas itu kembaring saya menyinggu anda harus membaca dulu secara jelas, makanya dari hijab jilebab dan kelimar pengertiannya dulu saja. Jadi hijab itu bukan jilebab bukan simar sebetulnya. Dalam konteks ayat ini, karena ayat hijab itu, itu cuma ayat itu untuk. seperti konteks hijab yang sebetul-betulnya hijam itu. Jilebab itu kan baju kurungnya yang tadi si Arab itu, baju kurung sedangkan simar itu yang geruh dong. Dislike sosial, anda bisa prasumati koparasi kan? Ayat yang tanggir, babi itu di al-Azad, di 5-9. Sedangkan ayat yang tanggir, mari itu di. sura 24, suruh 12, suruh, atas seluruh penjaga. Suruh, suruh, atas itu anur. Suruh anur ayat 31. Dan Fatimah Meresi mengenangkan bahwa ada 3 dimensi konsep hijab, visual, spesial, depikong, dan itu sangat-sangat historis. Related, directed, dido personal life, orosurullah selesai-salaam, terkait dengan mempertikahan video itu tadi. Yaita tahun itu, tahun yang begitu membuat kacau kehidupan, terkait, sehingga banyak hal yang perjadi, kesanya menarik, kalau anda memiliki buku sejarah hidup Muhammad, atau Hayat Muhammad, karya Muhammad Husain Haikal, ada satu bag khusus yang menceritakan, pernikahan Rasulullah dengan jenis Zainan Binti Jahsi ini. Ini buku Hayat Muhammad ini 718 halaman, terkait untuk membuat jenis Zainan Binti Jahsi ini. Jadi, ayat tetang hijab itu tak terkait dengan itu. Jadi, silakan dibacang asbagung musuhnya di spesial dimension. Kemudian yang menjelimah salah, kata Fatimah Meresi adalah kenapa hari ini di hal terkaitan menarik dari jenis Zainan Binti Jahsi ini. Kata Senama melindungi perambu under dupluh bahan, perubahan dari dunia barat, perubahan berat dan sebagainya. 20th century understanding of hijab, disitian justify by may elite intellect tools to be the separation between women and the public space. Jadi, ayat tetang hijab itu perambuhan, disitupi semuanya, tubuh ini, dan kemudian dikembalikan ke private life. Jadi, ini yang kemudian di coba untuk di-dikonsuksi oleh Fatimah Meresi. Kau kenapa seperti itu? Banyak orang akhirnya hari ini, tradisi salak, muncul kembali dan kemudian memakai buruk kok, memakai ini kok dan sebagainya dan kemudian banyak yang saya sering melihat bukan julid ini tetapi memakai melihat realitas bahwa mereka selalu tertutup, dan yang mengkomodian selananya pada cingkaran semua, yang laki-laki, dan hitam hitam, ya saya pikir, "Dini, ini ada apa?" Jadi, ini kayaknya terkait juga dikenkritikkan tajam dari Fatimah Meresi ini. Waman isten kanfa ini, duvel, dan kemudian di perjalanan melalikan melalikan terkaitnya terkaitnya di dikenkritikkan. Jadi, seolah-olah dengan kata hitjam, apalagi dengan sudah diambil-ambil hitjam-sart ini, jadi, pada hal, banyak orang Indonesia memahami hitjam itu adalah kuru dong, pada hal kuru dong itu adalah kemer, bukan hitjam, bukan hitam, ini yang kemudian perlu kita banyak lebih lanjut. Aku rancang lebih joseperti itu. Baiklah, satu lagi, mungkin anda yang dari pesan tren pernah membaca atau pernah mengaji kita mengkukut duly Jane, phi bayani hukupil Zhou Jane, karya dari Shaky Manawawil Bandani. Jadi, kalau anda membaca terjemahannya dan anda misalnya pernah melihat story via Aza, saya pernah mempunyai ini. Jadi, hampir redaksi-redaksi di kita ini yang awalnya yang menitujukan untuk etika berumah tangga, tapi banyak sekali, isinya mengubah ordinasi kan perungkuan. Ini yang kemudian, saya nyatakan kembali lagi-lagi tak stek yang seperti ini, lah yang yang dikritisi oleh parafeminismuslim. Parafeminismuslim, saya nyatakan lagi, parafeminismuslim tidak pernah mengkritisi Al-Quran. Mereka tidak pernah mengubah ayat. Mereka tidak pernah mengubah hadis. Yang mereka perbasaan, yang mereka ingin kritik, ingin ubah adalah cara menafsir dari Al-Quran itu sendiri, yang sangat dipanggil, sangat kental dengan apa budaya-patri lagi. Dan tentunya sangat dipanggari oleh berlagan kerosvoksi yang sangat bias jender. Makanya, Zahitina Subahan, misalnya, seorang profesor di Yian-Win Surabaya, itu menolis buku dengan jidua tafzer kebencian. Nah, tafzer kebencian itu pembasan mengenai betapa masih banyak sekali di buku-yitri, seorang profesor di Yian-Win Surabaya, itu masih banyak sekali taks-taksi yang kemudian atas nama Agama melikarkan sup ordinasi dan bias jender. Sudahnya, sepenuh ruang dan tentunya sangat bias jender. Seperti itu, terlalu lebih. Jom akasi, sudah panjang sekali, itu 2 jam supaya pikir. Ini, apa-apa lah? Oh, 1 jam setengah mau? Tidak, tidak, tidak, tidak 2 jamnya. Satu jam 18 menit. Apa-apa? Jemik, komprasif, nas. Oh ya, tadi barusan saya bilang, saya berusaha saya bilang bahwa fabara, familias muslim tidak pernah mengubahkan bahkan di grup dia, saya membandingkan dengan ahmadi ya, sahaja, ahmadi ya, yang nyatanya tadi, angap sesat, boleh kebanyakan kalangan muslim-sunih seluruh duni, he. Karena mengapa, menganggap bahwa Mirza Gula Mahman di Kodian, India, itu seorang nabi, bahkan terjemahan yang di tulis oleh Ula Mahmadi ya, itu mau layak share Ali, saya baca terjemahannya, terjemahan ke Inggrisnya, itu di beberapa redact saya yang saya baca, itu tidak ada bedanya, jadi tidak ada tidak ada jadah yang baik, tidak ada ada kan ahmadi ya juga, mereka juga mengimani akuran yang sama, tetap ternyata ya. Jadi, ya, di dalam redacti kasih Ali lagi-lagi, kita harus melihat Semangat bahwa kebenaran itu betul-betul meliktuhan. Kembenaran itu tidak akan pernah bisa dicapai mutlak oleh manusia. Manusia yang menduga. Tafsir yang begitu tebal, beberapa puluh jelid, beberapa belas jelid, karya-karya paramung fasir, itu apa isinya? Itu adalah dukaan. Itu adalah hipotesis oh mungkin ini yang dimaksud Allah. Mungkin ini yang dimaksud Tuhan. Kali itu saja. Sultunya sederhana. Itu. Ya kalau misalnya menganggap bahwa tafsir saya, tafsir kami, tafsir yang ini tafsir yang paling benar, ia tuh hanggang kalau begitu. Sultunya itu terima kasih. Dan mudahkan bisa memberikan setetest pengetahuan dari saya yang tidak terlalu pinta mereka jika untuk penjelaskan tentunya mungkin. Kalau pun buku-buku berserakan ini, tapi baca dari hari kamis ya, baca dari hari kamis banyak sekali, artikel jurnal yang saya baca buku-buku berserakan dan sebagainya, al-kur'an terjemahan, itu sudah empat al-kur'an terjemahan yang saya baca. Tapi tetap saja tidak si cara, tidak bisa serah kontrahensi. Membahas ya, karena memang ini dibatasi juga untuk, sebenarnya untuk mendukung gagasan-gagasan dari Amina Wadud dan Fatimah Mernisi. Sengaja saya tadi membahasin Amina Wadud dulu, karena saya ingin mudukkan permasalahan dari konteks kritik para feminis ini. Saya ingin contoh yang kemudian diambil, salah satu-nya adalah apa yang diprojektkan, dari Fatimah Mernisi, itu dikonsokkan hidup salah satu contohnya. Terima kasih, atas terhatian anda, mudah-hudahan anda tidak bosan dengan mendengarkan saya walaupun panjang-panjang, cukup panjang-panjang. Sudah mudah tetap setiap dengan fortke sayas sampai dua pekan ke depan, masih ada dobkan ke depan, masih ada dua maksud di ke depan. Dan tetap saya tetap ceria ya. Memang maaf atas ke dalam kurangan saya yang benar-entang dari Allah seperti pengetahuan yang sangat kecil, dari Allah yang salahnya itu adalah itu adalah ego saya sebagai manusia. Terima kasih, maaf sekali lagi. Walaupun mingkun, habila hidup ikual hidaya, selamu anehkuam dan berharap matallah, Allah rakaatuh.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Podcast ini merupakan serial kelanjutan dari mata kuliah "Kritikal Diri" yang membahas feminisme dalam dunia Muslim.
  2. Pembicara menekankan pentingnya membaca secara kritis, terutama terhadap isu-isu kontroversial seperti perempuan menjadi imam salat, yang dicontohkan oleh Amina Wadud.
  3. Masalah utama dalam diskusi feminisme Muslim bukanlah Al-Qur'an sebagai wahyu Tuhan, melainkan cara penafsiran (tafsir) terhadap teks suci yang kerap dipengaruhi budaya patriarki.
  4. Para feminis Muslim tidak menolak ulama klasik (seperti At-Tabari, Ibnu Katsir, Al-Jalalain), tetapi mereka mengkritik penafsiran yang bias gender dan mengusulkan metode tafsir baru, seperti tafsir tematik (maudhu'i) dan hermeneutika.
  5. Perbedaan tafsir antara sarjana klasik dan kontemporer disebabkan oleh konteks budaya, tradisi, dan latar belakang penafsir, termasuk pengaruh kisah-kisah Israiliyat dalam penafsiran tentang perempuan.

Summary:

Dalam podcast ini, pembicara memperkenalkan materi kelanjutan tentang feminisme dalam dunia Muslim. Ia mengawali dengan mengingatkan pendengar untuk tetap berada di rumah selama pandemi, lalu beralih ke inti pembahasan. Fokus utama adalah pada kontroversi seputar posisi perempuan dalam agama, seperti kasus Amina Wadud yang menjadi imam salat.

Pembicara menegaskan bahwa perdebatan ini bukanlah tentang Al-Qur'an sebagai kitab suci yang ilahi, melainkan tentang bagaimana teks tersebut ditafsirkan. Ia menyoroti bahwa banyak tafsir klasik, yang sering dijadikan rujukan, dipengaruhi oleh budaya patriarki yang kuat di dunia Arab dan sekitarnya. Akibatnya, penafsiran tersebut cenderung mensubordinasikan perempuan, baik dalam kehidupan pribadi maupun publik.

Para feminis Muslim, menurutnya, tidak menolak ulama klasik seperti At-Tabari atau Ibnu Katsir, tetapi mereka mengkritik metode penafsiran yang bias. Sebagai solusi, mereka memperkenalkan pendekatan baru seperti tafsir tematik (maudhu'i) dan hermeneutika, yang dianggap lebih adil dalam melihat posisi perempuan. Pembicara juga menyinggung pengaruh kisah Israiliyat dalam tafsir klasik, terutama terkait penciptaan perempuan.

Ia menekankan bahwa berbicara tentang agama, tafsir, dan hadis bukanlah hal yang tabu, asalkan dilakukan dengan kritis dan membandingkan berbagai sumber. Tujuannya adalah untuk membuka ruang dialog yang lebih inklusif dan setara dalam memahami ajaran Islam.

FAQs

Topik utama podcast ini adalah feminisme dalam Islam (feminism in Muslim world), khususnya bagaimana posisi perempuan dalam agama, tafsir Al-Qur'an, dan hadis dikaji secara kritis.

Tidak, feminis Muslim tetap menganggap Al-Qur'an sebagai wahyu Tuhan yang suci dan abadi. Yang mereka kritik adalah cara penafsiran teks yang sering dipengaruhi budaya patriarki.

Gambar itu digunakan karena kontroversial dan menunjukkan bagaimana posisi perempuan dalam agama sering dinilai tanpa pemahaman mendalam tentang hukum Islam.

Tafsir klasik seperti At-Tabari dan Ibnu Katsir menggunakan metode tahlili (analitis ayat per ayat), sedangkan tafsir kontemporer seperti Fazlur Rahman menggunakan metode tematik (maudhu'i) untuk membahas tema-tema tertentu.

Ya, beberapa sarjana kontemporer menggunakan hermeneutika, meskipun ada yang khawatir mengganggu orisinalitas Al-Qur'an. Namun, metode tafsir klasik juga tidak sepenuhnya bebas dari pengaruh luar seperti Israiliyat.

Mereka mencurigai bahwa banyak tafsir klasik dipengaruhi oleh sentimen gender patriarki dari para mufasir laki-laki, sehingga perempuan sering disubordinasikan dalam kehidupan pribadi dan publik.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.