Go back

Eps. 29 Sejak Kapan Muncul Globalisasi?

38m 48s

Eps. 29 Sejak Kapan Muncul Globalisasi?

Transkripsi membahas perdebatan definisi globalisasi, yang sering disederhanakan sebagai kambing hitam untuk perubahan sosial. Tiga perspektif utama dijelaskan. Pertama, pandangan kontemporer melihat globalisasi sebagai fenomena baru dimulai tahun 1950-1970, dipicu kemajuan teknologi seperti televisi dan microchip yang memacu perkembangan ICT, ekonomi, serta transformasi sosial. Hal ini dianggap mengurangi kedaulatan negara karena munculnya tata kelola global dan masyarakat pasca-industri yang berfokus sektor jasa. Kedua, pandangan historis berpendapat globalisasi telah ada sejak Abad Penjelajahan (abad ke-14), dengan contoh penyebaran kopi dari Ethiopia ke seluruh dunia. Pola kapitalisme dan dominasi pemilik modal dianggap tetap sama, hanya aktor dan alatnya yang berubah. Ketiga, pandangan modernis menekankan globalisasi sebagai transformasi mendalam yang mengubah struktur sosial-ekonomi secara fundamental, bukan sekadar transisi atau perluasan. Debat ini menunjukkan bahwa globalisasi adalah konsep multidimensi dengan akar dan dampak yang kompleks.

Transcription

3807 Words, 26843 Characters

Indonesian
Halo semuanya, kali ini kita ketemu dengan satu perdebatan lagi. Ya itu perdebatan mengenai apa itu globalisasi. Ini mungkin kata yang banyak sekali digunakan di dunia populer dalam budaya-budaya populer dan mungkin oleh beberapa kalangan juga sering kali digunakan untuk sebagai kambing hitam atau penjelasan singkat untuk semua semua yang terlalu rumit untuk dipikirkan pokoknya gara-gara globalisasi saja. Dan anak ke kecanduan handphone globalisasi ini, kecanduan game online globalisasi ini. Sabai konon katanya, ancaman ideologi bang saat terbesar adalah globalisasi lagi. Mungkin temutan pernah mengalami itu ketika sedang menenal hal yang baru, teknologi biasanya yang baru. Kemudian asik dengan teknologinya sedang eksplor teknologi itu, kemudian apa-apa ibu mungkin keluarga atau orang-orang, dan segitar di bilang itu karena globalisasi. Well, they're not entirely wrong, tapi karena kita kan bingui ya kalau semua itu soal globalisasi. Jadi yang bukan globalisasi itu apa? Kalau semua adalah hasil dari globalisasi, berarti globalisasi itu tidak ada valuenya. Karena ya jadi hal yang biasa, terus semuanya juga hasil dari globalisasi. Buat apa dari globalisasi, dari sedi-sedi mengenai globalisasi. Itu pengantar yang akan. Itu lah terbelakang yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini. Ketama kita jelaskan dulu, kita sepakat di dulu, kita gunakan dulu definisi yang clear dan sistematis mengenai apa itu globalisasi. Kira-kira pertanyaan yang muncul ketika ngomong globalisasi dan kaitanya dengan teknologi yang baru tadi, kira-kira jaman orang tua kita kaknya nekit, mungkin buyu-buyu kita sebelumnya ada ga sih, fenomenya ada sebedungan globalisasi. Kalau ada bentuknya apa? Kalau enggak berarti globalisasi itu, fenomenya yang baru mulainya kapan. Itu pada yang pertanyaan yang akan kita discussikan kali ini. Pertama apakah globalisasi, fenomenya yang baru, sekali lagi, japannya banyak as usual. Kita coba hindari metanarasi, kita coba hindari satu kebenaran tunggal. Kita ambil dari banyak sudut mandang yang pertama di Yes One. Orang-orang kontemporaris. Orang-orang kontemporaris ini pada dasarnya ngomong globalisasi itu baru, baru banget kapan mulainya. Bagaimana mereka bisa sebut tahun mulainya itu transisi antara tahun 1950, sampai 1970. Kenapa di antara itu? Karena tahun 50, an awal itu pertama ada jaringan televisi yang disiarkan. Logika televisi kan ada satu konten creator kalau sekarang bahasanya. Itu station TV, perusahaan media-nya. Dan dia bikin satu konten, satu diputan, mungkin waktu itu, satu berita, mungkin satu karya journalistik. Kemudian dia siarkan di jaringan beritanya di tangkap oleh orang banyak tidak cuma di satu wilayah. Menyebar, kemudian bisa konten itu bisa dienikmat oleh banyak orang. Setelah itu bisa jadi akan berdampak terhadap transformasi sosial di lingkungan tersebut, terhadap di lingkungan orang yang menangkat pesan dan mendekmatikan kontennya. Tahun 50 itu terjadi. Kemudian yang paling ikonik mungkin tahun 59, kalau tidak salah, ketika itu, kalau temen-temen nonton MIB, MIB yang ke 3, kalau tidak salah, yang ketiga yang si wil Smith-nya balik lagi ke masa lalu. Tahun ekep kanaf rau itu tahun berapa ya? 6,5-6,5-6, sorry, ekep mixed up. Di tahun tahun itu, yang malah ekep ini adalah ada satu keluarga yang senang nonton TV berwarna. Kemudian menonton peluncuran apolo, peluncuran pesawat, ulang alik pesawat, pesawat luar angkasa yang akan membawa astronaut ke bulan. Itu kan yang paling aik dan masih banyak yang digunakan di sebagian referensi budaya-budaya populer sampai sekarang. Ada, ada jaringan itu. Satu konten-kirator dengan satu kontek sosial, atar belakang sosial politik ekonominia, dia buat konten beritas gale-matchem, yang tidak mungkin lepas dari kontek sosial dirinya. Kemudian dibuatlah satu konten itu, dia publish sehingga bisa di dimatih banyak orang. Dan orang karena itu teknologi baru biasanya terjadi apa yang disebut dengan kancurosok. Jadi orang kaget, "Oh, bisa begini ya sekarang?" Sebelumnya kan tidak bisa. Sebelumnya saya cuma dengan beritanya saja dengan dari radio, saya tidak tahu visualnya waktu itu tahun 50-luan. Saya tidak tahu gambaran yang biasanya ada, saya baca di koran musahkan. Dan korangkan persebaran informasi tidak secepat broadcast televisi. Kemudian, tahun 50-luan, sampai tahun 60-luan akhir itu terjadi, tahun 70-luan. Ada satu penemuan teknologi yang akan mengubah kehidupan sosial, politik ekonomi ke depan. Ada satu teknologi yang akan mengubah kehidupan sosial, dan ada teknologi nano. Saya tidak mengubah kehidupan sosial. Tapi entingnya teknologi itu memungkinkan hal-hal yang teman-teman gunakan sekarang dari gadget. Kemudian teknologi kita lagi mutakir yang sekarang itu berkembang. Jadi orang setelah muncul microchip, muncul perkembangan ICT, Information Communication Technology yang sangat pesat sehingga kita ada di tetek ini sekarang. Kita dengan bisa dengan mudah, mendenguati informasi, kita bisa dengan mudah, terhubung dengan masyarakat di belahan dunial lain, bahkan atau di negara lain. Bahkan tidak cuma masyarakatnya saja. Kita bisa tahu kegiatan pemimpin dunial lain melalui apa sosial media mereka, melalui publikasi mereka. Itu yang terjadi. Kita bahkan sudah naltram sedang abahin sekarang, di atasnya di atas naltram dan selab tweet yang luar biasa aktif di Twitter. Terpaksa di teman-teman mendenguati atau tidak tweetnya. Nah, kemudian dari situ mulai berkembang berkembang, argument orang-orang kontemploraris adalah Perkembangan teknologi itu akhirnya membawa perkembangan ekonomi. Orang biasa hubung, kemudian ada automatisasi industri dan segala macem. Ada kemudian sambil pada masyarakat post-industri, terakhirnya kita bahas masyarakat post-industri, sambil pada ekonomi-development, akunya pada satu titik dia berdampak terhadap sosial transformation, transformasi sosial. Akurnya mengubah cara hidup orang, mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat menuju satu model keberagaman. Apaya dimunculkan dari perkembangan teknologi tadi, sampai pada sosial transformation tadi, konsumen-sini apa? Konsumen-sini yang menurut orang-orang kontemploraris adalah yang pertama, dengan masyarakat gampang sekali terhubung, berkembangan iCT yang pesat kemudian secara nilai juga semakin mengurut ke satu keseragaman nilai, kenaci omai tahun 95 dia bilang bahwa akan ada obsolasi off-nation state. Negara itu tidak lagi relevant menurut omai dan orang-orang kontemploraris. Kenapa karena toh semua kegiatan ekonomi sekarang diambil Ali oleh apa suasta? Negara itu tidak punya lagi kontrol terhadap perekonomian, negara tidak punya negara itu tidak menurut kenaci omai sekalagi negara itu tidak lagi memegang atau melakukan perekonom kegiatan ekonomi yang real. Tidak memproduksi tidak menguasai manufaktur dan segala macam. Negara itu, akhirnya jadi regulator, memudian, dia dan dia tidak memegang, tidak memegang lagi kuasa terhadap ekonomi karena semua di serahkan terhadap negara itu memasar khas liberalism itu merut omai. Negara itu fungsinya tidak lagi memegang saja di toporang banyak, itu fungsinya sudah dikantikan di dalam suasta karena semua pekerjaan sekarang tidak lagi dikasih negara, karena dikasihnya sama suasta itu kan. Kenyai kegiatan omai. Kemudian turun lagi yang disemput dengan perkembangan ICT yang pesatadi juga memujulkan satu diskusi baru mengenai Ruh mengenai new audiences of Simulakran. Zhang Baudi Ratt, bahwa susah sekali namanya. Bau, Dree Lard. Ya, post-modernism. Dan memang bahwa social interactions, social interactions, sekarang itu tidak lagi based on empirical truth, tapi mediated truth, jadi kebenaran yang dimediasi oleh siapa oleh media, apa yang kita percaya sebagai benar, itu adalah apa yang kita lihat dimediah, kita lihat di kanak-kanak informasi, di sosial media, kaitan hati dengan hoax, dan segala macam, luar phenomena kekinian, tapi Bau Dree Lard ngomong ini tahun 8-8-4 kalau tidak salah. Discusi ini menghengat tahun tahun sekian. Mereka media tetrut, dan Simulakran, itu biasanya Beyond State Control, jadi, setihti itu tidak punya lagi kwasang untuk menghalau informasi. Untuk mafilter informasi beberapa negara mungkin masih merupakan kontrol ketat-tatara informasi, tapi, mungkin karena penulis dan penggagas idinya ini orang dari kebudayaan barat dan akutit, yang dia alami, berbeda dengan dia alami di negara-negara di wilayah timur, misalkan. Jadi dia bilang bahwa, "It's Beyond State Control, negara sudah tidak bisa memfilter informasi lagi, kalau saya butuh berjadang dengan orang yang ada di belahan dunia lain, dulu harus lewat negara, dulu yang menyampaikan aspirasi kita ke dunia internaisional itu negara, sekarang tidak ada kanal lain, namanya misalkan media. Makanya media disebut The Fort Pillars of Democracy, Pillar Kempat dari demokrasi. Karena dia menyediakan saluran untuk menyampaikan aspirasi, menyambungkan antara masyarakat di bawah dengan apa yang ada di dunia internaisional, dalam konteksi ini begitu. Orang jadi saling tahu dan hubungan sosial itu jadi menggelobel. Kaya kaya begitu, yang ketiga dari sisi politik, Merikel Calder bilang, sekarang lo banyak, kenapa nya global governance, pemerintahan tanpa negara, pemerintahan tanpa institusi, institusi tidak berbentuk rigid, tapi bentuknya sistem tata kelelawan ilay, dan itu sistem-system begitu banyak sekali mempengaruhi kebijakan negara. Jadi negara tidak sepenuhnya sofrin, negara tidak sepenuhnya berdawlat, terus dirinya sendiri untuk mengatur dirinya sendiri, tapi ada, sekarang ada aspek lain nih solidaritas lagi. Ada aspek lain nih namanya global governance, setata kelola nilai di level international. Misiakan, bentuknya rezim, rezim international, protokol kioto yang disusun untuk mengontrol, untuk mengcetakan, yang disusun untuk mengontrol gas buangan emisi, gas emisia itu gas buangan emisi, sinamanya, emisi gas itu lah, jadi beda lagi, emisi gas, bahwa produksi dari asil industri negara agar dibawah 2 persen. Menurut negara tidak patuh dengan itu, akhirnya dia dikucilkan dari pergalan international. Amberi gas rikat pernah mengalami itu dengan tebanyak tekanan, akhirnya dia gabung lagi dengan protokol kioto. Itu yang di-sampai kan oleh orang-orang kontemporaris, globalisations, itu membuat negara tidak lagi relevant, tidak lagi, sorry, atau tidak lagi, bukan tidak lagi relevant, kayaknya. Membuat negara tidak berkuasa penuh untuk mengatur, melakukan fungsi governance ke dalam, tiga di kan oleh instrument-instrument globalisasi yang tadi. Kemudian, indikator selanjutnya, dari bahasin, dari perkembangan teknologi tadi adalah, kalau pernah denger beberapa penulis futuristik, futuristiknya namanya. Avintoflor, kemudian Daniel Bell, dua itu yang terkenal. Mereka bilang ada fenomenya namanya post-industrial society, konsep tahun 70 sekian, pengamatan Avintoflor dan Daniel Bell, bergerak bilang bahwa masyarakat itu dari jaman permutif sampai sekarang ada tiga fase, pertama masyarakat agrarian, yang fokusnya bercak-cak tanam, bergeser kemudian ada revolusi industri, menjadi masyarakat yang fokus di industri, membuat sesuatu, industri manufaktur, khususnya, merakit membuat autom, efisienci, efisienci produksi yang dikejar, kemudian setelah ada perkembangan microchip dan segala macem, dan ICT masyarakat mulai bergeser. Masyarakat mulai bergeser dari industrials society, yang fokusnya adalah manufaktur, bergeser menjadi post-industrial society yang fokusnya dari service sektor. Ciri nya menurut Avintoflor dan Daniel Bell adalah services, service sektor generate small wealth and manufacture. Dan itu kita, kita alami sekarang, banyak automated ekonomi process, teman-teman mau beli apa, segala macem, tinggal klik, di ekomorus, kemudian sekarang, yang industri-industri yang sedang berkembangan, adalah industri yang di service, distribusi ekomorus, netflix, Disney, Facebook, Facebook, enggak, dia bukan manufaktur. Dia fokusnya di service, sosial media dan segala macem yang jadi unik, koron dan segala macem itu, semua fokusnya di service. Dan itu merut Avintoflor adalah hasil dari globalisations yang memunculkan post-industrial society yang sudah tidak bisa lagi di kontrol leh state. Logika dari itu samsetap, logika dari pemikir-pemikir kontemporaris adalah globalisasi, menghasilkan perkembangan teknologi. Akhirnya sampai pada sosial perkembangan ekonomi, strep perkembangan teknologi, menghasilkan perkembangan ekonomi, menghasilkan lagi kelas firmasi sosial. Oke, itu perspektif yang pertama. Kemudian di selalu, karena judunya adalah perdebatan, selalu ada orang yang tidak sepakat, karena tidak ada yang benar-benar benar, toh. Setelah itu ada kelompok pemikir yang mempertanyakan bahwa bentar-benar-benar. Kalau globalisasi itu menghasilkan perkembangan teknologi informasi dan perkembangan teknologi di sarah umum, yang menghasilkan globalisasi itu apa? Kalau globalisasi itu mulai tahun 50 dan 70, yang menghasilkan globalisasi di tahun sekit-segitu itu apa? Kalau japanya teknologi informasi perkembangan teknologi lagi, berarti kan saya klik kelekan muter, kan gak logih, segerinya. Yang seharusnya muncul adalah hubungan kausal, artinya sebab akibat globalisasi menyebabkan muncul teknologi informasi. Jadi, memunculkan globalisasi harusnya ada sebab yang lain agar tidak confusing. Di situ, orang-orang istorisis ngomong nah, kita tambahkan sekarang, kita kawun terus sekarang globalisasi yang tahun 50 dan 70 itu itu tidak muncul dari ruang hampa, artinya ada sejarahnya. Nakanya, mereka disebut orang istorisis, karena melihatnya kebelakang. Globalisasi itu tidak muncul tahun 50 dan 70, globalisasi itu munculnya pertama, tahun 400. Kenapa demikian? Karena ada h of discovery, tahun 400 itu kan, gencarnya gencarnya orang untuk melakukan penjelasan samudratu. Orang, kita kenal disini, fast-code gamma, kesini, kemudian orang portugis, ke spanyol dan apa, orang-orang gujarat persiya yang sampai sini, di literatur saya, kita kenal mereka berdagang kesini, kuda menyebarkan agama, menyebarkan nilai budaya dan seterusnya ada seterusnya. Itu titik awal globalisasi. Itu titik awal penjelasan antarbila ya, itu jadi satu hal yang kaman jadi satu hal yang umum. Jadi orang-orang berlomba ke sana, buktinya ada beberapa produk ada beberapa barang yang saat itu diperdagangkan tahun 11, itu sampai sekarang masih berasal dari wilay, satu wilayah. Ada satu produk yang diperdagangkan sampai sekarang dan jadi produk global di nikmati dihampir semua negara, kayaknya di semua negara deh. Dan setiap masih harakat punya cara nikmati nyasendiri. Tapi asal benda ini, asal produk ini dari satu wilayah terpencil namanya Ethiopia. Orang itu adalah kopi. Perjalanan kopi itu bagi orang-orang historis itu semen gambarkan bagaimana globalisasi itu muncul tahun 3400, kemudian sampai sekarang tetap polanya sama, tapi modelnya saja bergeser. Bagi orang-orang historis. Mereka masuk dari cerita mengenai kopi-kopi, itu ditemukan pertama di Ethiopia sekitar abad ke-10 ke-11. Kemudian, disana ditemukan ada satu wilayah masih harakat yang mendekmati kopi dengan belum diseduh dulu, kayaknya. Kemudian dibawa oleh orang yang mengujung Ethiopia, berdagang kesana dibawa kemudian sampai ke Yaman, kemudian ke Makkah, kemudian sampai kemudian ke Makkah itu konon kabarnya, kopi-sia pertama ditemukan di sana. Kopi diketahui bisa diseduh di bruh itu di Yaman tahun abad ke-12. Baru ditemukan di Ethiopia ya, belum. Kemudian kerjaan otoman menaklukan Yaman abad ke-16. Kemudian dibawa itu kopi, dibugakan di dinikmati ternyata enak, dibugakan satu tempat khusus, kaffee, kaffeeshop di Istanbul tahun 1550. 4. Bergeser terus sejarah tahun 1552. Bahkan kopi itu digunakan kop kelemen kedilapan untuk membaptis orang. Mengusir sehatan maksudnya, sorry. Kemudian bergulit terus kopi-sia pertama di Europa ada di Oxford tahun 1950. Kemudian diperantis tahun 1899 sampai gede sekarang gede ser ke West Java di bawah orang-orang belanda tahun 1707, di bawah lagi kekari Bayan tahun 1723, ke balik lagi ke Europa boom booming tahun 1727. Kemudian first pelentasian yang ada di Brasil yang kita kenal sekarang sebagai penghasil kopi terbesar dunia tahun 1727. Di sana. Jadi tidak asli berhasil. Asli nya adalah Ethiopia. Sampai kembali asli, sampai di mana-mana sekarang tahun 171, Starbucks dibuka sampai sekarang sekitar sudah lebih dari kekanya lebih dari 80 negara yang ada Starbucks-nya sekarang. Jadi global norms Ngopie itu jadi global norms diambudaya punya acara sendiri merikmati kopi. Dari produk yang ceritanya dari satu wilayah terpencil namanya Ethiopia tahun 17200, 1300, dibawa oleh orang-orang penjelajah akhirnya mendahari produk komoritas global. Oke. Di situ argument historisis masuknya dari situ. Merikah ngomong, bawa. Belah-belah dari kopi tadi globalisasi itu, nggak baru, kita sudah. Jadi global mulai tak abad ke 14 HSh of Discovery itu, kalau katanya si Paul Hirsch tahun 1997. Merikah ngomong itu? Nah, contoh lain. tahun 1661, eksport dan investasi itu juga sebuming sekarang cuma modelnya saja beda sekarang, maka saham segala macem pakai tinggal klik dan bisa dipantos di apsa adulah pakai kertas dulu dateng ke satu tempat beding segala macem tapi produksi, tapi polanya sama ada memilik model ada yang punya duit bisa investasi berdia investasi di sektor-sektor yang manufaktur tadi. Tapi polanya tetep ada orang kaya tetep ada orangnya pemilik model dan investasi. Bedanya cuma alatnya. Alat dan aktornya saja yang beda sama kapitalismnya, sama kapitalismnya, sama kopi yang dari petani di Ethiopia tadi itu tidak bisa dinikmati di Ethiopia sendiri. Starback sampai sekarang belum ada di Ethiopia. Di Amerika, eh sorry, di Afrika, itu baru kalau tidak salah, ada 3-4 baru 3-4 negara yang punya Starback seaprika selatan kalau tidak salah, ya dimaruhku dan setunya mesir maybe, pernah di sehat itu. Ada 4 dari sekian 10 negara yang ada di Afrika selatan. Maksudnya apa? Tetep saja polanya kapitalism tetep saja yang bisa menguasai model produksi, alat produksi dan komoditasnya punya model kopi itu selain tidak asalnya dari Ethiopia, tapi dikembangkan di banyak negara yang bombawa adalah orang-orang penjelasnya yang punya model dikembangkan dari orang-orang yang punya model diperuntukan, di beli, di konsumsi sama orang-orang yang punya model kelas-kelas menengah. Orang-orang yang menanam itu sejak awal, jose tidak bisa mengkonsumsi produk yang telah dikembangkan tadi. Sama saja, dulu juga begitu, sekarang juga begitu. Kita sudah menjelaskan dengan global dengan 14 sentaris. Menurut orang-orang historis. Kemudian yang berbeda petrennya adalah bisa dilihadari ada satu teuran yang kontratif cycle. Jadi setiap 30 tahun sekali, akan ada pergeseran apa yang disebut dengan leading sector. Jadi komoditas yang jadi komoditas global yang paling berharga waktu itu. Sektor-sektor industri yang paling berkembang di tahun-tahun itu. Mesakan, dia tarik ke belakang sampai tahun 1931-1961 disana printing industri yang jadi yang paling berkembang. Kemudian bergeser industri kompas industri navigasi karena ada penjelajahan tadi bergeser terus-terus, terus sampai tahun dia berdeksi dari tahun 2009-1973 sampai tahun 2000 yang paling berkembang adalah industri ICT dan networking. Yang berbeda itu saja, komoditasnya bisa beda tapi polanya sama. Tetap saja ada yang menguasai model, ada yang tidak bisa mengakses factor produksi sama saja. Itu argument orang-orang historisis. aktor dan tuznya yang atau modelnya yang berbeda. Essensinya sama. Kemudian, set kalau ada orang ribut, kanan kiri berdebat, ekstrim, notak kanan dan notak kiri, biasanya ada yang coba ambil posisi tengah. Di debat ini juga ada ada yang disebut dengan orang-orang modernis. Di asum si dasar orang modernis ini, globalisasi itu bukan transisi tapi transformasi. Kalau orang-orang konten warri tadi ngomong-ngomong globalisasi itu adalah infansi, infansion. Kalau orang-orang historisis tadi ngomong itu se transisi, karena aktor dan tuznya saja yang berbeda, essensinya sama. Orang-orang modernis ngomong, "enggak ini transformasi, bukan transisi, bukan infansi, mereka masuknya dari 4 aspects dari modernitas. Jadi asum si dasar dari asum si dasar dari modernis ini adalah globalisasi itu cuma penabalan dari modernitas saja. Infansi yang ditemukan sekarang itu prinsipnya sudah ada sejak lama. Sejak dulu. Tapi sekarang makin canggi, makin canggi. Akhirnya aspek-aspek modernitasnya semakin kental kita saja, semakin kuat. Dia belajar dari kasus uang. Duit uang. Itu pertama kali yang terikor sejarah adalah tahun 165 sehih. Duit itu dekalwarkan. Dulu bahkan belum ada mengwarkan, duit itu di chat di buark. Oleh orang yang perlu, itu untuk kiaspayment bentuknya. Bentuknya. Dulu sebelum ada duit kita memasih tembarte. Barte dulu, kemudian orang merasa tidak efektif kalau sekarang harus pakai barang yang besar. Di satu aktor politik, satu desa misalkan, satu kekuasaan politik itu, mereka keluarkan alat tukar. Namanya, duit sudah pakai ini saja. Tapi nanti, yang menjagani lain dan mengkonversi itu, saya sebagai kepala desa saya tidak kepala suku. Jual-beli, jual-beli, saling tukar. Akhirnya, berkembang, otoritas politik juga juga tidak cuma di kepala suku, tapi bergeser lagi ke konsep, apa namanya, kerajahan, selain itu kerajahan mengwarkan duit sendiri, alat tukar sendiri belum ada konsep bang, itu baru 1948, negara terbentuk, jadi yang mengwarkan duit adalah negara. Duit waktu itu tidak cuma jadi alat tuk, tapi juga identitas nasional. Jadi orang pegang duit itu berarti diakui sebagai warga negara tertentu. Kopis apa-apanya duit itu, karena perutu karan-awang belum semasif sekarang. Dan duit itu berlakunya teritorial, sampai sekarang. Duit yang sifatnya kertas koin itu berlakunya teritorial. Dan itu dikeluarkan oleh pemerintah untuk meragulasi apa yang jadi kuasanya pemerintah ke dalam, ke dalam negara maksudnya. Dan duit itu kan selalu nomin-lanya berkembang ya ada naik, ada enturun, tergantung, tergantung ke kondisi ekonomi, kondisi apapolitik juga, dan seterusnya. Mereen orang-orang modernis bilang, "Ah, dulu tahun 1700, duitnya pakai duit begini, tetap diisio oleh negara, sekarang kita punya namanya global money, bentuknya misalkan kartu kredit, bentuknya virtual, mola dari gopeo foos segala macam itu, kemudian paypal master kart mengginan segala macam, yang mengeluarkan bukan lagi negara, tapi private yang bekerjasama dengan negara, kredit payment. Tidak lagi terbatas di apa namanya teritori. Kalau pegang satu kartu itu bisa pakai di sini, bisa pakai di negara lain, di wilayah, bulan dunialan, yang lain, dan segala macem, dan tidak mengenal identitas lagi. Kalo dulu orang yang bisa pegang coin master misalkan itu dari serata sosial tertentu, tapi sekarang, kartu kredit itu bisa diakses, kalangan sosial, ambir semuanya selama memunuhi serat administrasi, jadi tidak harus dari bangsauan, tidak harus dari apa, darah biru, misalkan. Bisa diakses selama punya sebab struktur ekonomi, wah bahasannya berat banget. Selama punya kondisi finansial yang pas. Di situ menurut orang-orang modernis, itu bentuk penabalan dari penabalan basannya, bahasa mereka penabalan tik globalisations, tik moderniti. Jadi semuanya bergeser, jadi yang awalnya duit itu diisun negara, geser ke suasta, awalnya jadi national identitas, sekarang jadi kosmopolit, itu semua orang bisa pegang, yang awalnya base on territory, sekarang, tidak juga, sekarang bisa berlaku global. Itu semua, karena moderniti, menurut mereka itu adalah bagian dari modernitas, yang berperan dalam globalisasi, semakin tembal moderniti, semakin global masyarakat, dan sekali lagi semakin globalisasi itu jadi, jadi ini yang penting, jadi asprek yang penting, dalam debat antara, penapal mereka jadi penting, di antara debat antara kontemporaris dengan historiasis. Nama mereka masuk lagi, kalau si kontemporaris tadi ngomong dari aspek, mostly dari aspek social interaction, kemudian si historiasi ngomong dari aspek ekonomi, si transformasi nalis ngomong, kalau di politik, kak gitu, di politik argument kami, yang mendominasi moderniti, mereka masuk dari 4 aspek, dari modernitas. Ada pertama, military power, kedua industri, ketiga surveillance, atau terjemang kasarnya, apa yang surveillance? Surveillance adalah pengawasan. Wah, ya, pengawasan. Keempat adalah kapitalism. 4 aspek ini menurut orang-orang transformasi nalis, jadi aspek penting dalam modernitas, yang disebut modern itu, kalau military powernya naik, industrinya berkembang, surveillancenya, apa namanya bagus, kemudian kapitalismnya jalan. Itu, kemudian kata orang-orang, kata orang-orang modernis, sekarang, 4 aspek tadi itu di level global, karena ada ni globalisation, ini bertransformasi. Jadi ada sekarang, ada namanya World Military Order, ada Net, NATO, kemudian ada dulu, jaman-jaman, operandunya ada pak Tawar Sawa, kemudian bahkan UN pun punya, tanah kutip shoulder, AU juga punya, dan seterusnya ada seterusnya. Sekarang military itu tidak cuma ada punya oleh negara, tapi dia punya juga oleh suasta, tapi dia punya juga oleh institusi di atas negara, tanah kutip maksudnya. Sekarang military itu tidak cuma ada punya negara, tapi juga institusi di luar negara juga punya militir. Kemudian ada World Capitalist Economy. Sekarang capitalism itu tidak hanya berlaku di dalam negara, tapi sudah lintas bantas negara, itu yang terjadi, yang ketiga, nasian state, adanya nasian state kejadian penanda modernitas, karena dulu, surveillance itu dilakukan secara tidak terukur, yang bisa melakukan surveillance pengawasan, jadi yang jalan antar politiknya masih tradisional dengan adanya nasian state, sudah lebih terstruktur, terkonset, dan sistematis, dan terkontrol pada satu pada detectre tentu. Kemudian dari capitalisme, kalau dulu capitalisme itu di satu negara, sekarang tidak. Sekarang ada, namanya International Labor Dificience. Jadi, pembagian kerja dengan pekerja dan buruh, itu tidak lagi terbatas di satu negara, tapi bisa lintas bantas negara. Selakan, kalau belajar fordism dulu, misalkan mobil, sistem produkcinya jadi sangat spesialisasi. Banyak di produksi di China, kemudian buruhnya dari Indonesia, buruh perakitnya, terus kemudian asperpat yang leh yang lain, dari mana-mana-mana, guna dirakitnya di Europa, misalkan. Akhirnya, capitalisme itu tidak. System produkci itu tidak lagi berada di satu negara, tapi berada secara International. Jadi, lintas bantas negara. Buruh dan process produkci itu, sekarang, ketika ada merinitas, karena ada sistem yang bekerja, kemudian ada modernitas di bidang, peralatannya juga, teknologi, kamu di-anke sadaran, akan bangsa-pasa yang bangsa-pasa dan filter produkci yang lebih murah di level internaisional, itu juga membuat adanya International Labour Dificience. Itu kira-kira debatnya dari 3 perspektif tadi, kontemporaris, historis, dan di tengahnya oleh modernis. Semoga, teman-teman dapat gambaran dari masing-masing perspektifnya. Terima kasih, bye-bye.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Globalisasi sering disalahartikan sebagai penyebab tunggal perubahan sosial dan teknologi, padahal konsepnya kompleks.
  2. Pandangan kontemporer menekankan globalisasi sebagai fenomena baru (1950-1970) yang didorong teknologi seperti TV dan microchip, mengubah ekonomi, sosial, dan mengurangi peran negara.
  3. Pandangan historis berargumen globalisasi sudah ada sejak Abad Penjelajahan (abad ke-14), dengan pola perdagangan dan penyebaran budaya seperti kopi, di mana esensi kapitalisme tetap sama meski aktor dan alat berubah.
  4. Pandangan modernis melihat globalisasi sebagai transformasi mendalam, bukan sekadar transisi atau perluasan, yang mengubah struktur sosial dan ekonomi secara fundamental.

Summary:

Transkripsi membahas perdebatan definisi globalisasi, yang sering disederhanakan sebagai kambing hitam untuk perubahan sosial. Tiga perspektif utama dijelaskan. Pertama, pandangan kontemporer melihat globalisasi sebagai fenomena baru dimulai tahun 1950-1970, dipicu kemajuan teknologi seperti televisi dan microchip yang memacu perkembangan ICT, ekonomi, serta transformasi sosial.

Hal ini dianggap mengurangi kedaulatan negara karena munculnya tata kelola global dan masyarakat pasca-industri yang berfokus sektor jasa. Kedua, pandangan historis berpendapat globalisasi telah ada sejak Abad Penjelajahan (abad ke-14), dengan contoh penyebaran kopi dari Ethiopia ke seluruh dunia. Pola kapitalisme dan dominasi pemilik modal dianggap tetap sama, hanya aktor dan alatnya yang berubah.

Ketiga, pandangan modernis menekankan globalisasi sebagai transformasi mendalam yang mengubah struktur sosial-ekonomi secara fundamental, bukan sekadar transisi atau perluasan. Debat ini menunjukkan bahwa globalisasi adalah konsep multidimensi dengan akar dan dampak yang kompleks.

FAQs

Globalisasi adalah fenomena baru yang dimulai sekitar tahun 1950-1970, dipicu oleh kemajuan teknologi seperti televisi dan ICT, yang menghubungkan orang secara global dan mengubah aspek sosial, ekonomi, dan politik.

Perkembangan teknologi, terutama televisi dan ICT, memungkinkan penyebaran informasi yang cepat dan menghubungkan masyarakat di berbagai belahan dunia, mendorong transformasi sosial dan ekonomi.

Menurut pandangan kontemporer, globalisasi mengurangi kendali penuh negara dalam tata kelola ekonomi dan informasi karena meningkatnya peran sektor swasta dan arus informasi yang melintasi batas negara.

Masyarakat pasca-industri adalah fase di mana ekonomi bergeser dari manufaktur ke sektor jasa, seperti e-commerce dan media digital, sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan globalisasi.

Pandangan historis berpendapat bahwa globalisasi sudah ada sejak abad ke-14 dengan Zaman Penjelajahan, di mana komoditas seperti kopi menyebar secara global melalui perdagangan dan pertukaran budaya.

Pandangan kontemporer menekankan globalisasi sebagai fenomena baru yang didorong teknologi, sementara pandangan historis melihatnya sebagai kelanjutan pola lama dengan aktor dan alat yang berubah.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.