eps 24 - SUDAHKAH KITA BERSYUKUR? | Silaturahmi Aa Gym dengan Sahabat Berprofesi Guru Honorer
40m 31s
Pembicara menekankan pentingnya niat ikhlas dan kasih sayang dalam mengajar, karena pahala akan terus mengalir meskipun guru telah meninggal. Kesuksesan guru diukur dari keberhasilan muridnya menjadi lebih baik, bukan dari pujian. Contoh nyata diberikan melalui kisah guru honorer seperti Pak Uas dan Pak Dani, yang meskipun menerima gaji kecil (Rp200.000–Rp600.000 per bulan), tetap istiqomah mengajar dengan hati. Mereka percaya bahwa rezeki datang dari Allah, bukan dari sekolah saja. Seorang guru wanita juga berbagi pengalaman mengajar di daerah terpencil dengan akses sulit, di mana ia mengajar tanpa pamrih dan menerima rezeki dalam bentuk bahan makanan. Semua kisah ini menegaskan bahwa keikhlasan, kesabaran, dan kasih sayang adalah kunci utama dalam mendidik, serta bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat benar akan mendatangkan keberkahan, baik di dunia maupun akhirat.
"Yukum ahsan wamala, wahual azizur gofur." Allah masalah, "Saya dina Muhammadinwalaah Ali, "Wa sahabah, bihih, ajbahin." Sahabat-sahabat, terus kalian, "Waman ahau, debilai minasiatan de-redim, "Waman ahsan, ukaulah, mim mandaah, ilah Allah." Ada kahya yang lebih baik, perkataannya selain daripada orang yang menyero orang kejalan Allah. Yang azan, itu juga menyero ke opadaan. Soal hatat, tapi yang mengajar guru kalau niat dan caranya benar, ini luar biasa. Menda lah ala khairan barang siapa yang menunjukkan satu kejalan kebaikan, maka baginya Allah memberikan pahala yang sama dengan orang yang mengamalkannya. Ada seorang yang kuliah S2, tekatnya adalah mengajar pahud mengapa, karena saya ingin mengajar anak-anak lebih awal untuk mengenal Allah, mengenal Islam. Sehingga selama mereka beramal, ya mudah-mudahan antipahalannya mengalir. Anakunya but, namah Allah Bismillah, Alhamdulillah, Bacafatiha, Bacafuraan, setiap Bacafura, setiap soal hatat, pahalannya mengali kepada orang yang mengajarkannya. Nah, ini lah keuntungannya menjadi seorang guru. Ya itu, kalau dia mengajar dengan ihlas maka pahala yang diprolah oleh anak-didiknya, akan mengali kepada gurunya juga tanpa mengurangi pahala anak-didiknya yang mengamalkannya. Sehingga kalau kita lihat siapa yang masuk Islam dulu, abu bakar asidik tidak akan terkejar oleh siapapun, karena banyak orang yang mendapatkan hidayah, lewat beliau dan terus, turun, temurun hidayah itu datang dan itu akan mendapatkan pahala siapapun yang mengajarnya lebih awal. Berbahagia lah siapapun yang ditaklirkan jadi guru dan mengajar dengan benar dengan ihlas. Nah, masalahnya sekarang, adalah tidak semua guru dicatatkan jadi amal soal. Kuala pun mengajarkan ilmu agama tidak semua guru jadi pahala yang mengali resampai dikubur nanti. Pada hal kalau kita meninggal, salah satu yang akan datang mengalir pahalannya diadat terputus dikubur kita adalah ilmu yang manfaat. Katak kuncinya agar sesuatu bisa menjadi amal itu hanya dua saja. Satu niatnya lelahita ala yang kedua caranya benar. Apa sih yang terpenting dari seorang guru? Ya, itu yang paling penting niat, niat seorang guru itu harus benar-benar ingin sekali membantu agar muridnya bisa mengenal, bisa dapat ilmu, bisa lebih sukses, lebih bahagia, lebih beriman, lebih berama. Jadi kesuksesan seorang guru adalah bukan ketika pujian datang kepadadirinya tapi kesuksesan seorang guru ketika yang diajarinya menjadi sukses. Jadi kalau di kelas, nila pelajarannya jelek semua sedang gurunya bintar, akhirnya ada masalah kenapa ini nilai matematik dua semua, tiga semua, sekolah sedang gurunya. Nilainya paling bagus, sekarang guru berarti guru ini belum bisa ngajar. Kesuksesan seorang guru adalah jujur ketika muridnya ini menjadi orang yang lebih baik dari pada dirinya mahasya Allah. Nilai penting sekali hadirin untuk dipahami sehingga kalau kita ditakbirkan jadi guru, maka hati kita lahir batin kita, pikiran kita tuh sunggu-sungguh, memberikan yang terbaik, kada kesuksesan kita tuh adalah mengantarkan anak bedik kita menjadi lebih baik. Sama seorang pemimpin juga, pemimpin yang baik itu adalah yang menghasilkan para pemimpin-pemimpin lainnya. Orang tua kalau orang tua nya dipujih berarti belum sukses, kesuksesan orang tua adalah mengantarkan anak-anaknya menjadi lebih baik dari dirinya. Jadi kalau sekarang kita dipujih orang sebetulnya yang sukses kepada kita tuh adalah saria atnya ya orang tua dan guru-guru kita yang mengantarkan kita bisa seperti ini. Naka suksesan kita itu berapa banyak yang saria ati kita hantarkan menjadi lebih baik dengan apa yang bisa kita didikan kepada orang lain. Nasa-bata-saba, aku sekalian guru ada yang menyebut guru itu singkatan dari digugu dan ditiru artinya dipatuhi dan ditauladani. Kekuatan seorang guru yang asli itu adalah ketika sama antara perbual perkataan, perbual tanpa dan hati. Nah ketika sama perkataan, perbual tanpa dan hati maka seorang guru ini punya tenaga yang luar biasa karena muridnya itu akan melihat, akan mendengar dan merasakan bahwa guru ini benar ini. Dan hati seperti apa yang dimiliki oleh seorang guru, ya itu hati yang penuh kasih sayang dan ketulusan. Jadi kalau teman-teman melihat tayangan yang sering ata yang kan tentang singkat itu bagaimana singkat saja begitu menyayangi, begitu merindukan ibu ini. Pas diada sesuatu itu adalah dari ketulusan dan kasih sayang. Nah ini senjata utaman guru ini adalah kasih sayang melimpah ini sekalik yang murid-muridnya ini sukses ini. Sekali murid-muridnya ini punya iman yang tego, punya aklak mulia, punya ilmu yang manfaat, punya masa depan. Pokoknya kalau hatinya itu ingin dan betul-betul tanpa pameri. Ini udah top sekalik ini kalau seorang guru benar-benar kasih sayang dan keiklasannya mendalam di hatinya itu akan memanjar dari wajahnya, memanjar dari tutur katanya, memanjar dari sikapnya. Pokoknya kasih sayang dan ketulusan. Ini pahaduk akan menayangkan lagi tentang singkat sebenarnya. Ini harusnya mencari lagi tayangan-tayangan lain tetapi setidanya tayangan ini untuk bisa jalan tafakur saja. Bagaimana mungkin singkat, binatang, binatang buas, bisa lulu perasaannya apa rahasiannya. Ini kita lihat ya sudah perperluan silakan. Siapa? Kalau sudah siap, boleh tahu air. Nga lihat tanpa. Nga lihat. Bagaimana singkat itu binatang dan binatang buas. Ini ada 5 tahun tidak jumpa, bisa memeluk dengan penuh kering-duan dan kasih sayang ibu ini punya apa ini. Sehingga singkat, binatang, saja bisa lulu, merindukan dan menyayanginya. Nah ini adalah irhamuman, seorang air yang mengkuman, sama. Sayang yang dibungi, maka yang dilangit, akan menyayang imu dan kalau Allah sudah melihat ambahnya ini penuh. Si sayang penuh ketulusan, nanti Allah yang membulak balik hati para murid, para santri untuk menyayanginya. Bagaimana binatang buas sekali pun, terdapat bisa merindukan dan menyayanginya. Inilah rahasiannya yang akhirah Rasulullah contohkan, Rasulullah itu semuanya pakai hati, ngajarnya pakai hati, dah wahajian pakai hati, memberikan contohnya pakai hati, sehingga tembus ke hati. Karena hati itu tidak bisa disentu kejuali oleh hati lagi, hati yang bagaimana, hati yang tulu, dan penuh kasih sayang. Nah mudah-mudahan, para guru ini sekarang kan, maaf ya guru Honore, nanti kita akan tanya seperti bagaimana keadaannya, dari bincang-bincang kita mudah-mudahan akan memjadi hikmah bagi kita semua. Bagi paharup, sekarang judul kita alal dengan guru Honore Ria.
Jadi yang tidak termasuk, kata gori yang kita judulkan, menahan diri, silakan siapa dulu yang akan bicara sekarang? Oh, para pendengah di radio, ya silakan melanjutkan dengan acara lain dari ustad Ah Mohon Ecin melanjutkan dengan para guru ini, tupa uas, ada uas tuh? Iya, silakan uas. Siapa uas? Siapa uas? Silakan pa uas, ini namanya asli uas ya. Minkan digunakan pa. Minkan digunikan pa, mikro punnya. Iya, ujian ahis semester. Oh ini ujian namanya ujian ahis semester, bukan ustad ablussomad. Semuanya yang mempanguas. Mekumsalamah. Dari mana bapa ini? Saya tinggal di Cikotok, ah, Lebak Banten. Oh, masyoloh jauh ya dari Sari. Ya, saya mayan aham, ya, saya ikut acara ini gimana ceritanya nih? Begini, ah, tadi malam saya bersama temen-temen alumni PPG 2019, Discusi tentang Webinar di Win Banten, Win Sultan Maulana Senung di Banten. Terus dikasih iklannya itu, ah, nih katakan kawas buat besok lagi, wah, cacok banget. Dulan saya memang sekarang lagi bergerak di Guru-Guru Honor, ah. Oh, ya, selahkan. Gimana ceritanya nih? Alam bilang saya mengajar di SMP Negri satu atap sembilan Ciba Bar, kabupaten Lebak, yang berdiri tahun 2007, sekolahnya Negri ada di Pugunungan terpencil, dan ketika saya masuk ke sana, Alam bilang saya pernah mesan tren, gitu ya, 4 tahun, terus saya disuruh ngabdi kelampung, terus ruf pulang, pas pulang. Alam bilang, 2006 saya langsung ikah sama orang tua, negat gitu. Padahal S1 belum beresat. - Terus, ya, sekarang, jadi Guru apa sekarang Guru Honor, eh, atau. - Masya Honor, eh, ah. - Sudah berapa tahun, sudah berapa tahun jadi Guru Honor, eh. - Sebetulnya saya ngajar dari semenjak lulus dari pesantrin, dari 2003, cuma karena itu dia yasan 3 tahun, terus dari, disokolah Negri saya dari 2007, sekolah, lama kali berdiri. - Dapelah setaun, belum diangkat-angkat juga. - Belum ah. - Kalau Guru Honor, itu berapa boleh tahu Honor,
nya tegimana itu disebut Honor, itu? - Kami disebut Honor itu ya, karena cuma di kasih SK sama kepala sekolah aja. - Oh, bukan oleh pemerintah ya. - Bukan. - Jadi yang nge-gaji-nya itu siapa itu temahnya kalau bicara gaji ya. - Dari. - Nah, sekolah. - Sekolah dari bantuan operasional sekolah itu, - Iya, iya, iya. - Tapi, lama-lalu sebagain mana yang disampaikan oleh A A tadi, saya pertama masuk sana memang masih keterbatasan dan keterbalak, jadi pola fikir masyarakatnya, biasalah masih jauh dari peduli dengan penidikan. Jadi yang dulu-nya tidak sekolah bukan Aib, sekarang tidak sekolah jadi Aibah. - Jadi pernasinya. - Nah, sewa tuak itu saya dengan istri, sama-sama disana. Tadinya saya aja yang agar itu masih kurang guru akhirnya istri juga jadi ikut gajar. Langsung saya ditodong, suruh jadi kurikulum. - Sampe sekarang? - Pegang kurikulum, ya, nge-jar agama, kudon later belakang saya akan penidikan dari terbiasa. Ya, nembillah sampai sekarang saya istikoma dan dengan gaji 12 ribu per jam di bayar per tiga bulan sekalian. - Dari dana bawa 12 ribu per jam. - Dibayar. - Jamnya jamati, ya. - Jamnya jamati. Jadi kalau satu minggu saya ngajar, misalkan 12 jam, ya, kersen 2 pelajaran, najar penidikan agama Islam dan budi-bekerti dan senibudaya, pernah juga ngejarbasa Inggris 12 jam. Jadi kalau 12 jam, kali 20 ribu, kan itu 400 sekian, ya. Kali 3-3 bulan. Jadi 3-3 bulan gaji saya itu 400 sekian dulu. Tapi alam bilah dengan kesabaran ketekunan Allah punya rejekilai, asbap saya ngejar di Cihambali, di SMP itu, dengan berbagai ganti kepalaskola, sampai sekarang alam bilah, usaha jalan. - Usaha jalan, ya, usaha apa? - Di Furniture. - Oh, jadi bayangkan kalau gaji dari sekolah ma-nge seberapa, ya, tapi kan rejeki, mebukan dari sekolah aja, rejeki ma-dari Allah, ya. Harus dibedakan antara gaji dengan rejeki, kalau menganggap rejekinya dari sekolah ya, udah, batirnya menguncidiri. Bukunya masih kelihatannya masih hidup, ya, apa uas ini ya? - Alam bilah anas. - Masih makan, ga? Apa yang kurang dari Allah, coba dengan gaji sekitu ada yang kurang dari Allah? - Tidak ada, keberkahan yang saya dapatkan. - Ah, si Allah. - Apara hasiannya, apara hasiannya nih, dengan. - Hasiannya, rasiannya ya, mengajar anak, satu niat karena ada awal, dan yang kedua dengan hatiah. - Oh, cocok dengan yang ada disampaikan, ya? - Jadi memang betul kalau kita mengajar anak dengan teladan, anak baru denger motor kita saja, udah langsung lari masuk kelas. - Hmm. - Aja pernah ada gitu guru yang istilahnya, ya mungkin bukan dengan hati, tapi sampai anak ada yang berani, gitu, nge-pesin ban motor guru-nya, gitu. - Oh, duit, tahun, tahun. - Tidak sama saya, Alam bilah, sampai sekarang saya belum pernah, gitu, pulang sekolah, dijekat sama anak-anak, di jembatan, atau di tengah jalan, gitu, belum pernah, Alam bilah. - Kalau singga aja bisa lulu, apalagi anak manusia, ya, seharusnya, ya. - Betul. - Baya, terima kasih, Paoas, ada pesan pesen, nih, buat temen-temen. - Pesan pesen buat temen-temen mungkin, niatkan kita apapun status kita, mursipun honor, belasan tahun. Karena memang saya udah 37 tahun, sesuai dengan undang-undang, yang usia 35 tahun kata, sehingga bisa test CPNS, tapi menunggu repisi undang-undang, atau pun ada kebaikan hati dari president dengan kepres PNS tanpa test, baru kita mungkin diangkatin, tapi. - Alah, dong, kalau saya pede fikiran, yang penting, di situasi aloh aja. - Amin, betul, Alah. - Daan yang menjamin lahir batin mahaloh, bukan siapa siapa benar, ya. - Da pun ya anak, pulang. - Da 3. - Tuh, kurang apa, gak jip 400 ribu anak, 3 gimana, - Nah, adulah, ya, - Ada, ada 2, jadi kan. - Oh, no, mobil, 2. - Jadi, pelambung gak per kepanasian lagi. - Istri juga lagi, lalu, sekarang, - Lagi, di situasi aloh. - Jadi, ya, ya, - Lagi, di situasi aloh yang atur, ya. - Iya. - Dima kasih, Pak Uwa, - Senang Han, ya. - Terima kasih, Pak Uwa. - Dima kasih, Pak Uwa. - Dari tahun lagi. - Iya, Pak Uwa. - Oh, on. - Di. - Terima kasih, Alhamdulillah, Jaja Kalo-Koer. Pak Faruk selanjutnya. - Baik selanjutnya, - Ada yang sudah present Ahmat Dani Akbar Wijaya, - Silah terbiknya di jalan kan? - Wow, dari mana nih? Kita cari yang plosok juga boleh, nih? - Selamat pagi, Pak Uwa. - Iya, selamat lalu, - Marah matulah berokatu. - Boa, alaikum, - Mus-salam, - Marah matulah berokatu. - Ini siapa ini Ahmat Dani, ya? - Iya, tapi bukan musiknya. - Ah, sama aja wajahnya mirip. - Mereka lagi, gue tuh aneh. - Baik terima kasih, Pak Uwa. - Dani dari mana ini? - Saya dari subangan, - di pabuaran. - Wow, sulah mana jauh itu, Teh? - Jauh, rosok, - rosok utara. - Rosok, ya? - Kau ini, - Iya, iya. - Kaliatannya, - dekat begini, nih? - Dekat, karena kanau loh, mungkin. - Terima kasih. - Jadi gimana, - Pak Uwa, - Dani itu Guru Honore juga? - Iya, sama asya, - udah hampir lima tahun, - mungkin ya di SMA, - negri satu pabuaran. - Terus, - ngajar apa? - Nggak, - Nggak, - rebas Indonesia. - Oh, - harus bagus nih, - bicardannya, - so, - kapa yang mau disampaikan, - apa suka dukanya jadi Guru Honore? - Suka dukanya, ya, - memang kalau dari segi ekonomik, - tu kan kita harus - benar-benar menyembangkan gitu, ya? - menyembangkan yang menurutnya, - antara kebutuhan, - dan, - yang gak seberapa gitu, - kalau Honore, ya? - Tapi alam Lila, - selama ini lima tahun, - jadi Guru Honore, - yang kerasa walaupun gak jika, - seberapa gitu gak seberapa, - tapi alam Lila, - kalau kasih kecukupan yang sangat kebar biasa, mungkin. - Oh, gitu, ya? - Gimana ceritanya, - tuh cebab, - kalau maaf ya, - saya tidak bermaksud, - sebetulnya ingin tahu - gaji orang lain tuh, - kurang bagus, - kalau mau diceritakan, - boleh kalau gak juga, - gak apa-apa. - Jadi awal itu pertama ngajar, - aja 20 jam, - tuh sama,
sama jahmati, dikaya seperti pawas, dus saya cuma digajin nama ratus ribu, per bulan. Nama ratus ribu per bulan, ya, wadahal tiap hari nantol sendiri. - Yang pangkwasan diri. - Yang pangkwasan diri, jadi kalau di itung, pangkwasa hari, bencinya tuh 20 ribu, kalau di kali 20 hari perjara, nah sejarah matematik kamanusia mungkin ga cukup, ya, nama ratus ribu itu. Ya kan kalau 20 hari, 400 ribu, 20 kali 20, ya, berarti cuma 200 ribu, sebulan dia hidup, ya, penghasilan. - Kayak kelihatannya ga meninggal nih, Pak Aman ya? - Tantam Lulilah masih awlok pasir jekia. Itu baju bagus, rambut masih naim plok, yang ada atas. - Masih lah, nah. - Gimana ceritanya ada jekinya aloh cukupi lewat mana nih? - Ya aloh cukupi mungkin. - Dia saya juga ga tau, ya, yang kerasa cukup, agak disampa, yang bisa menikah, gitu ya bisa resipsi, gitu. - Oh, kasih kerjakin dari jarang yang ga disangka aja gitu, Pak. - Jadi udah nikah ini sekarang? - Di dalam Lulilah baru 2 tahun. - Alhamdulillah. Ternyata dengan uang 200 ribu juga ada, ya, Jodoh ya. - Ya, Alhamdulillah, masih awlok. - Apa nih? - Apa yang bisa diambil dari semua ini Kayak Kenaan apa nih, ya? - Kayak Kenaan pertama bahwa Rejaki memang bukan dari sekolah, tapi aloh yang jamin. - Masih aloh. - Terseba yang Jauh ya, ayah. - Owa Rejaki itu aloh yang aturnya dan aloh yang mahak ya. Kemudian yang menghidukan juga bukan sekolah, gitu ya, tapi karena aloh yang menghidukan kita, Kemudian aloh yang menentukan apa yang akan terjadi ke depan, menikah itu juga aloh yang menentukan, abukan Rejaki itu ya. - Iya, bener. Maaf sama yang 200 ribu sebulan, Gajini. Tapi dah aloh. Sampai sekarang udah nikah ada aja Rejaki, ya? - Alhamdulillah bahkan setelah menikah itu yang saya rasakan minhais julaya, tersitup benar-a. - Masih aloh. - Dari jalan, jadi sangat rasa juga ya. - Ya karena Istri juga kan udah ada Rejaki-nya masa sebuah udah udah nikah jadi pada ilang Rejaki-nya, ya? - Malah makin bertambah. - Alhamdulillah. - Alhamdulillah itu yang tadi dengan 600 ribu ayah, nah kebetulan, saya masuk ke, apa namanya, Honor Propin sih itu. - Jadi berapa? - Nah tadi jalan, 600 ribu setelah menikah itu jadi 2 juta 500 alhamdulillah. - Alhamdulillah, cukup, 2 juta stengah untuk berumat-angak. - Cukup, Alhamdulillah sekarang, ya, doakan buat temen-temen semua biar bisa punya rumah. Sekarang masih nonton, ya? - Oh, malah jadi kontraktor ya. - Iya, sama alhamdulillah. - Dau, katanya terima kasih ada pesan-pesan buat para pemirsan yang menimak. Pesan-pesan buat temen-temen semua, tetap istikomah, mengajar dengan hati, menyatkan kanalo, dan yakin bahwa diantara murid-murid yang kita ajar, itu akan menjadi salah satu yang menarik kita ke surga. - Wah, mahasya Allah, mahasya Allah, mahasya Allah. Terima kasih. Terima kasih ya, Pahmat Dani, ya? - Salamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam kepada Guru-guru lain dan para muridnya, ya? Alhamdulillah, aduh seneng dengernya, ya? Baik, siapa lagi nih? - Pahat Faruk. - Baik. Berikutnya yang sudah resen di sini, hanal namak akunya Vivo, sebelum 19 keselurga 2 silakan dikit-kit-kit-kit-kit-kit-kit. - Saya dapat siapa atau ibu siapa silakan biknya di nyalakan. Sudah diberi akses. - Ya, terima kasih, Pahat Dani, selamat malam layakum warahmatullahi wabarakatuh. - Wahalaikumus, Salam warahmatullahi wabarakatuh, ya? Silakan, maaf ya, ada kalau ibu-ibu mengakusnya detayakan juga, gak apa-apa ya? - Ijian memperkenalkan diri, ya? - Saya liat dari kabupaten bantung selatan, SSG yang ketan 37. - Oh, guru juga nih, han? - Isao, velok. - Baik. - Terima kasih. - Dari au misi, saya tidak bernihat untuk mengajar dulu, Tua. Cuman pas waktu jalan-jalan ke atas, itu liat ada ibu-ibu yang lagi mengajar di TK dalam kondisi hamil, terus sambil bawah anak kecil. - Maksya Allah. - Ya, dari situ tuh, hati tetur gerak, Tua. Pengen, membantu, gitu. Jadi, gak ada niat untuk ngajar sih sebelumnya. Cuman niat untuk membantu aja, nah dari situ, saya memperanikan diri untuk datang ke tempat beliau, dan menawarkan diri sekalian aplikasi apa yang didapat selama di diklat. - Bo, izin, kan? Saya bisa membantu, gitu. Dalam keatahan hamil, ibu tersebut mungkin, ya? Dalam hari penantian melahirkan, gitu, "Tidak ada guru penetbing." Jadi, digunung, "Agg, ada guru penamping, cuma satu gurunya dalam keatahan hamil, Tua." - Dan itu, simurid-muridnya, apa sih, untuk kesekolah itu jalan kaki, kadang-kadang tanpa alas kalau mau sinmujan, gitu, "Agg, karena licin." Terus posisi sekolah itu berada di puncak, kalau misalnya saya kesana, "Akses itu bisa naik motor, tapi kalau pulang itu harus di doar, gitu, "Agg, karena gak bisa naik, gitu, sakin naiknya." - Malu? - Iya, kan, bukan, bukan, "Ujian suka disimpan motor itu dibawah, gitu, minta di tiparkir ke warung terdekat." Karena kalau misalkan saya gak hadir, kasian, gitu, anak-anak tuh sudah had, mudah datam ke sekolah, "Gada guru, gitu." - Mereen, cuma satu guru, ini itu yang ibu hamil itu. - Iya, itu itu ibu hamil, ya, sekaligus guru mandrasa, gitu, "Adi borong, kalau dari spag itu, dari jam 8 pagi sampai jam 10, jam 10 itu ngajar di teka, nah, dari jam 1 yang sampai, "Ejak dari badah asar, sampai jam 5 sore itu mandrasa." Jadi semuanya tuh beliau yang handle, gitu, "Agg." - Itu sekolah siapa, sekolah apa, itu te? - Itu namanya sekolah teka anur insani, gitu, "Agg." Saya disitu di-tawarkan untuk malamar, jadi guru, tapi kan dari apa, saya niat tuh pengen bantu, gitu, jadi saya sampai sekarang, udah, ya, Alhamdulillah, udah baru setelah lebih di teka tersebut, saya tanpa lamaaran ngajar, ya, insaulah, lila hitahala gitu, pengen membantu. - Hmm, atau nggak dapat gaji juga mungkin ya? - Alhamdulillah, kalau misalkan orang tua belakipan-panein, suka ada yang bawah sampu, gitu, kacang, sayur sayuran, kayak gitu, ya, kau rejakima, dimanajakan, kata juga rejak itu, bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang kita berikan, gitu, ya. Nah, itu saya suka aplikasikan, itu suka ingat, kalau apa yang, apa sih, tau siahkantu, insaulah, di aplikasikan, di sekolah tuh. Jadi, di klates, S.G. itu, saya praktikan juga di sekolah kayak. - Wow. - Terus, buang sampah pada tampatnya, si anak-kanak tuh, jadi sebelum masuk tuh, saya bariskan Bertet, mulu mengucap dulu, gitu. - Wow, semua pelajaran di pesantren S.S.G. dulu di praktikan, itu senang bersekolanya bersi doang sekarang, ya? - Ya, Alhamdulillah. Ya, cuman itu aja, saya banyak kandalannya tuh, kadang, gitu, kalau musim ujan, si anak-anak tuh, sekaligus, saya tuh baris B.S. gitu, sekali, bersi-bersi, padakal atas, pakai sendal, kadang, ya, kurang layak, gitu, buat pelajaran, anak-anak. Ya, cuman senangnya tuh, ya, Alhamdulillah, walaupun tanpa gaji sepe seharapun, gitu, ya, insa Allah, dari jaki-ma, Allah yang ngasih, memang tidak terduga juga, dari mana, gitu, jalannya, adalah Alhamdulillah, gitu. Jadi bukan, uang aja, gitu, "Akau rejaki itu." - Iya. Kita bisa berbuat kebaikan juga rejaki, kita bisa nolong orang rejaki, kita bisa najar anak-anak. Apalagi ini digunuh, ya, Allah. Itu anak-anak, ada berapa sekarang, sekelas itu? - Satu kelas itu, segitar 40 orang. - Ah, du, penudangan. - Iya, Alhamdulillah, kalau sekolah itu, karena jauh ke mana-mana, dari terpencil. Jadi, otomatis, sekolahnya semua kesitu. - Maaf, ya Allah. Ya Allah, punya siapa, itu, siara-i atnya sekolah itu. - Itu, itu, punya, namanya punya ibu rima, gitu. - Dulu, itu awal. Katanya, apa sih bergabung ngejarnya di sekolah SD, cuma sekarang memisahkan diri, jadi rumahnya itu sebagian dipake untuk, apa menampung anak-anak sekolah, gitu. Kadangkan mereka juga kalau SPP gitu, kadang berpabulan, gitu, anggap, ngepadang.
dan bahaya kan sementara gurukan dari situ mungkin yang ngajak, apa gajiannya. Mani akan nanti pedesahan kan terbatas gitu, apa sepanjang keceraman bertani. Jadi tidak memaksa juga beliau itu, jadi ya seri donya lagi tuh. Rubiah sama si Allah, si Allah, ya Allah, ini mahal akhirat ya. Apa yang dirasakan dengan mengajar seperti ini di tempat yang sulit, tanpa gaji apa yang dirasakan. Alhamdulillah banyak keberkahannya sama, apa sih banyak yang tidak terduga gitu, rejeki itu. Mahal si Allah, yakin ya, bahwa aloh menjamin trijski ya. Saul o ka. Ada yang kurang tidak pemberian dari aloh selama ini. Tidak, Alhamdulillah bahkan saat koron apa kami tetap bisa makan. Pasti Allah tidak menyini, akun Allah melihat, Allah menyaksikan segalanya dan Allah satu-satunya yang menjamin trijski hampanya. Jangan angga perjeki itu hanya dalam bentuk uang, rejeki itu dalam bentuk, niqmat iman, niqmat bisa beramal, niqmat bisa berdauha, niqmat, seharah, niqmat bisa istikoma, masyarakat. Terima kasih ya, Tay. Dan terima kasih sudah memperaptakan pelajaran di esantrisi apguna ini menginspirasi. Kita ada sekitar 13.000 SSG yang sudah terlati, seyogiannya meniruh ini. Ada pesan pesan yang lain yang bisa disampaikan untuk temen-temen para pengajar lainnya, bu? Ya, buat para temen-temen guru Honoreer, yakinlah, jangan mengharapkan imbalan dari manusia, mengharapkan imbalan dari awlo saja. Dan kita akan tugasnya cuma berihtiar, kalau hasil, sulakan lagi sama awlo. Dan yakin kalau rejeki itu bukan dari satu sumpar, dan kita akan dari mengajar. Pernah ada yang berlagi, niatkan untuk mengamakan ilmu kita. Kalau mengajar dengan iklas itu terasa sama anak itu gampang, nurut, kita cuma mengharapkan imbalan dari orang. Pasti anak mereka merasakan juga. Karena kalau mengajar dengan hati itu, dari hati itu, kuti ke hati lagi. Terima kasih, terima kasih ada bu guru. Ini katak-katanya sederhana, tetapi sangat bermakna. Bahawa kalau kita mengajar dengan tulus, anak-ananya juga dibuat oleh awlo lebih menyayangi, gurunya dan bisa merasakan saratnya. Tapi kalau hanya mengajar karena cari duniawi, jangan heran, anak-ananya juga oleh awlo dibuat. Jadi kurang respect mungkin ya. Terima kasih, semoga Allah menerima semua kebaikannya dan menginspirasi bagi kami. Ya, kamu mau nomen pisanya, sing istirin. Kalau kasih orang, apa, salah iku, maruhatulah, maruhatulah. Maha-laiikumusalaamuhrumatulloh waruhu kata waduh. Nema Alhamdulillah, asa kecepat, baik selanjutnya. Ya, saya rasa seperti ini boleh komentar di tulis. Kalau ada yang bisa disampaikan ya. Oh silahkan, oh dari silahkan musiti puji dari kebuben. Sepertinya silahkan musiti puji, miknya dia lakak. Terima kasih, semuanya. Perkenalkan saya, si ti puji asli ti A dari kebuben. Ya, terima kasih, ibu si ti, mesyalah. Saya guru, ktt di sekolah suasa, semka suasa A. Saya dulu ngejar, mola tahun 2007, saya punya pengalaman dapat honor yang tidak rutin tiapulan, kadang sampai beberapa bulan belum dikasih. Tapi atas Injien Allah, terus saya mengambil hikma dari sumah itu A. Mhmm, gitu ya, bo, masya. Jadi dari honor saya yang tidak rutin, akhirnya saya memutuskan untuk ambil kuliah S2. Mhmm. Ya, jadi karena waktu itu, kejis saya sekitar satu juta 500, tapi kalau diambil tiapulan, mungkin ya dalam sebulan itu akan habis. Nah, karena dari bihak sekolahan, tidak memberikan tiapulan, akhirnya saya ngambil honornya ketika mau bayar SPB gitu, alah hasil, saya bisa selesai, study S2 saya. Oh, jadi selesai, saya bisa kuliah, selesai ini saya reatnya justru, karena gaji yang ditunda yang bisa jadi. Ya, betul, kadang kalau, ya betul, kadang kalau kita berfikir, kita sudah pekerja, kalau tidak diberikan hatnya tiapulan, kalau kita berfikir dengan journey, pasti ada hikmannya pasti, ada sesuatu yang baik, daripada semua ini seperti itu. Masyul, terus kalau itu hari-harinya, makanya apa itu kalau tiga bulan sekali itu? Itu saya punya usaha juga. Nah akhirnya ada usaha ya, aloh berikan. Ya memang. Saya punya usaha kontor, terus di rumah saya juga membuka pimpinan belajar. Iya, pimpinan belajar itu memang awal, saya buka itu pernihat ingin membantu, teman-teman guru Honore A, saya perihatin dengan guru Honore yang gajinnya mungkin sebulan, gak nyapet 200 A. Oh ada yang begitu ya, bu. Ada itu ya, Gangguh-Rugul SD itu, saya tanyakan sebulan berapa, 150 itu pun harus berangka siap hari, oh wow, kalau kita melihat mereka yang berada diperkai, yang berada di posisi kurang lebih baik dari kita, saya kini kita akan lebih banyak bersyukur gitu ya. Ada ini gimana 200 ribu sebulan, Uncle sendiri ya, aloh kebayang pahalannya gitu. Ya itu akhirnya saya awalnya, saya hanya menerima pimpinan belajar, khusus mahal saya, tapi terus saya membuka di rumah, saya rikrot beberapa guru Honore di rumah saya untuk memimpin siswa yang daftar lah di tempat saya. Alhamdulillah, sampai sekarang siswanya semakin bertambah. Tapi karena pandemi ini memang, teman-teman saya liburkan juga, karena siswanya cukup banyak, saya pakut itu menembuhkan gerumunan di jadik. Baik, apa hikmah yang ibu dapatkan dari semua ini itu? Bikmanya kita hanya berkantung pada Allah. Berkantung pada Allah. Bukan kita kepada pimpinan, bukan kepada yasan, bukan kepada kepala sepolah. Tapi Allah pasti sudah tahu apa yang kita butuhkan. Insya Allah. Maksya Allah, Allah pasti sudah tahu. Dan ternyata di bantuan kesulitan atau gaji terbatas itu, malah Allah memberikan peluang-peluang, peluang-peluang, ladang usaha yang lain, adak diri. Jadi, di gelakan lu. Pimpinan belajar juga saya menyerankan kepada teman-teman, ayo kita sisikan rejeki kita, kita tabum untuk korban, mungkin kalau dilihat dari nomir, nah, kita dapatkan dari pimpinan belajar, misalkan 10400 ribu, tapi habis-laki-laki, sisikan 1,6600 ribu, jadi tiap tahun ada dua orang di antara guru pimpin yang bisa ikut korban A. Maksya Allah, Allah pasti sudah banyak tetap berbuat kebaikan, ya, masih terima kasih nibu waktu kita sudah ingat seminit lagi. Kawan-kawan sekalian pada guru yang baik, ada 100 guru yang masuk kurang lebih, ah, kurang, ah, mon maaf tidak bisa memberikan kesempatan kepada semua untuk berbicara, tetapi semoga yang menyampaikan ini sudah mau wakili, ya, luar biasa ini abaga A sendiri, ya, ini banyak juga, ya, yang masuk komentar yang pada nangis, menjadi rasa malu, yang selama ini ingat saja hanya ingin keliatan keren, tetapi ternyata kebahagian itu adalah justru dari keiklasan, ya, kita sudah dengar bagaimana gaji itu tidak menjadi jaminan dari Allah, kalau Allah buka dari pintu mana saja, ya, itu terima kasih ini sahabat-sahabatku yang baik, guru-guru, ah, mon maaf belum bisa memberikan kesempatan yang lebih banyak, muda-mudan ke depan kita bisa ulangi lagi acara seperti ini, Dan lagi.
Mohon ijin ini akan ditayang ulang karena ini bagus sekali yang disampaikan dari teman-teman ini. Ya boleh ditayang ulang ya. Kita akhirnya dengan doaid majlis, semuanya alukumlah. Buat biham di ka, asyidwa alah ilah antas, tagfiruka, muatubu ilaik. Sekali lagi terima kasih kepada yang sudah hadir, yang menyimak dari semua mediasi yang terima kasih kepada yang berbicara dan kepaharuk dan semua temen-mokni yang berilai ini. Salamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Maksud Allah, warahmatullahi wabarakatuh.
Podcast Summary
Key Points:
Pahala mengajar akan terus mengalir meskipun guru sudah meninggal, selama ilmu yang diajarkan bermanfaat.
Syarat utama agar mengajar menjadi amal jariyah adalah niat ikhlas karena Allah dan cara yang benar.
Kesuksesan seorang guru diukur dari keberhasilan muridnya menjadi lebih baik, bukan dari pujian yang diterima.
Kasih sayang dan ketulusan hati adalah senjata utama guru, karena hati hanya bisa disentuh oleh hati.
Kisah guru honorer menunjukkan bahwa rezeki tidak hanya dari gaji, tetapi dari Allah, dan kesabaran serta keikhlasan membawa keberkahan.
Summary:
Pembicara menekankan pentingnya niat ikhlas dan kasih sayang dalam mengajar, karena pahala akan terus mengalir meskipun guru telah meninggal. Kesuksesan guru diukur dari keberhasilan muridnya menjadi lebih baik, bukan dari pujian. 000 per bulan), tetap istiqomah mengajar dengan hati.
Mereka percaya bahwa rezeki datang dari Allah, bukan dari sekolah saja. Seorang guru wanita juga berbagi pengalaman mengajar di daerah terpencil dengan akses sulit, di mana ia mengajar tanpa pamrih dan menerima rezeki dalam bentuk bahan makanan. Semua kisah ini menegaskan bahwa keikhlasan, kesabaran, dan kasih sayang adalah kunci utama dalam mendidik, serta bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat benar akan mendatangkan keberkahan, baik di dunia maupun akhirat.
FAQs
Guru sukses adalah ketika muridnya menjadi lebih baik, bukan saat guru dipuji. Kesuksesan guru terletak pada kemampuannya mengantarkan anak didik menjadi lebih beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Kuncinya ada dua: niat karena Allah (ikhlas) dan cara yang benar. Jika guru mengajar dengan niat tulus dan cara yang tepat, pahala akan terus mengalir meskipun sudah meninggal.
Karena ilmu yang bermanfaat termasuk amal jariyah. Setiap kali murid mengamalkan ilmu yang diajarkan, pahalanya akan sampai kepada guru tanpa mengurangi pahala murid.
Guru honor adalah guru yang diangkat oleh kepala sekolah dengan SK dari sekolah, bukan dari pemerintah. Gajinya berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan biasanya sangat kecil.
Rezeki tidak hanya dari gaji, tapi dari Allah. Guru tersebut tetap istiqomah mengajar dengan niat ikhlas, dan Allah mencukupi kebutuhannya melalui usaha lain, seperti furniture.
Senjata utama guru adalah kasih sayang dan ketulusan. Hati yang penuh kasih sayang akan terpancar dari wajah, tutur kata, dan sikap, sehingga murid dapat merasakannya dan belajar dengan baik.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.