Go back

Eps. 158 Katanya Temen, Kok Gitu Sih?

53m 32s

Eps. 158 Katanya Temen, Kok Gitu Sih?

Dalam sebuah obrolan santai di tempat kopi, sekelompok teman mendiskusikan berbagai topik yang berkaitan dengan hubungan asmara dan dinamika pertemanan. Mereka mengamati bahwa dalam setiap kelompok pertemanan, ada tipe-tipe tertentu, seperti orang yang protektif terhadap pasangannya dan selalu ingin pasangannya dikenal oleh teman-temannya, serta tipe yang suka "menikung" atau mendekati mantan teman. Salah satu peserta berbagi pengalaman pahit ketika ia menjalin hubungan dengan mantan teman dekatnya, yang menyebabkan ketegangan dan jarak dalam pertemanan mereka. Meskipun hubungan itu berakhir, dampaknya masih terasa dan membuatnya lebih berhati-hati dalam memilih pasangan. Mereka juga membahas peran teman sebagai mediator dalam konflik asmara, yang seringkali rumit karena bisa menimbulkan bias atau bahkan pengkhianatan. Dilema muncul ketika seorang teman harus bersikap netral di antara dua pihak yang bertikai. Selain itu, perbandingan antara pasangan dan mantan sering menjadi sumber konflik, terutama ketika emosi sedang memuncak. Diskusi ini menunjukkan bahwa hubungan asmara dan pertemanan seringkali saling terkait dan bisa menimbulkan situasi yang rumit, membutuhkan kebijaksanaan dan komunikasi yang baik untuk menjaga keharmonisan di antara semua pihak.

Transcription

10495 Words, 55742 Characters

Indonesian
Eh besok kali ini lah ada beda nih kayaknya Karena gue bortamakalih terkaman di studio ada yang main PS Ada yang lain jelenjaya di sofa kayak J-tongkrongan aja nih kayak botke spotke spotke Oh betulnya selamat datang di botke spotke sperecanda bener gue anjas lagi dan sekarang gue kemanin teman-teman gue yang gue mengangkap ya dia itu adalah mereka ini adalah expert di bidang yang masih masing-masing itu masalah cinta Anjah Ada batak, apakah batak? Ya, lho gue batak Anjink jangan sogan, tung soru ngentang Gak mau soar ini ya, jadi apa lagi sih? Sari gue yang makserak anjah, lu masih mikirin kesan gue, jadi diaanjink bener-bener sih kan, dia tuh mikirin eksposurnya gitu nih ya gitu, gue bisa dapat biarkan, gue bisa kan dapat memikir banget sih, ngasib Yank gituin jas, apa ada spekulasi lain, apa gak apa? Pak kok cokat tau atau tau-kat tauan dan juga ada, sulay gue main kenakan lu, ah i sulay hari satu apa nih, sulay aja kan? suara ini Motor,,, yang sangat post-tending dan tidak berlalu bukan kayakita tau orang ngangku leat ça ada iodeают ini dia akan dim Peki разм由inmeye i collaborate kan di matakah? kayak di batak batahin kayak di batak batahin gak sih cipai nih belum dia cakap omberotus selalu mau mau terus emang emang emang minta mau dia cakap omberomin mau apa sama juga dan sekarang kita masih temanin sama anggur mereka bukan anggur mereka anggur ketan kita terima kasih orang tua sudah men sponsori episod kali ini gak gue ralat kalo misalnya gue mau sponsori orang itu minta ada duit nih gak ada kali ini pakai sucannya gak tau nih kayak kalo udah ngomongin tonkron ga najik apa yang biasanya coole aku kan saat ngomong kronk apa yang biasanya coole obrolin pas agilan ngomong agilan mirami kalau menurut gue ga nanya gue belum nanya lu ga tiga sih serah serahnya gimana ga tiga kereta yang ngomong kronk apa yang biasanya apa yang biasanya lu apa beruntah ke biasanya biasanya sih masalah cinta lu jengu-jengnya pas ke situ sih oh gitu biasanya ini awalnya ngomongin masalah teman-teman lu dulu awalnya biasanya baru nanti ke cinta cintaan baru nanti ada yang bersingungan nih biasanya gitu lu ngomong silah itu apa yang sama lu jengu lu jengu lu jengu lu jengu lu jengu kalau umur-umuran kita sekarang nanya ke kapa lu gimana nika udah gimana kanala sama cemu gitu ya ya ya itu sih itu kronk lu gitu ga sih kronk lu gimana ya ya ya kanan-anan satu serah kanan-anan itu kapa yang masalah kanan-anan itu tapi apa yang harus kamu mengenak gue ga ya ya kanan-anan itu tuh ga ex-ide kanan-anan itu kanan-anan itu kanan-anan itu kayak keren ya tapi apa yang mau ya kayak hot-goominin ya kanan-anan itu kayak gue bagus aja apa yang lagi sih mau lu cari tak oh ya oke itu sih keren doa nulah aja balik yaa yaa yaa tapi kita kaya biasa ke buah denong kronk yaa yaa pulang masa kalau lu yang biasa denong kronk apa sih enggak berlinen lebih ya tetep pasti yang pasti gawe ya nah sebenernya oh ya sih penerah yaa kayak ini lah kepilihan-pilihan lu oh sosialai ya kanan umur segini kan pasti kaitanya sama itu kumput sana - Utus sana apa, putus sana apa? - Iya benar. Karena kita belajar di teman-teman lah. Masa kalau gue nyapain sederhana cuma keren kalau. Iya benar, gue suju sih. Apa bedanya kopas aja gitu. Kalo, selalu pul, sebenernya gak apa sih ya apa yang lu mau mungin bulu tapi gak apa. [Kolong akan jadi luar] - Tidak, ga pencis, ya kan. - M-m-m-m itu. - Gitu. - Kaya suara lah, kaya cerita hidup. Iya benar sih. - Social life, biasanya. - Iya, social life. Karena kita biasanya juga ngenkron tuh biasanya, apa ya, konsisional lila. - Ya, kita biasanya ngomong benar-benar yang kadang tuh gak di-gadi. - Godir canai. - Godir canai. - Nencanai, tiba-tiba lu, pada kesini gak, kesini gak. - Mhm. - Tengoknya, lu ga informasi nih, sualnya punya tempat kopi di buber. - Iya. - Kalo, gue udah kebaimat, ada di-tik ini. - Iya. - Tik di mana? Ini di basas sih. - Iya. Ada-ada tempat-tepat kopi yang mur, gue sih ya. Pemahain enak lah, untuk ngomongnya. - Iya, enak. - Kopinya enak. - Iya, enak. - Nungkongnya enak. - Lai kita biasanya ngomong disitu kan, ngomong-ngomong, lu apa-ngomong tempatnya sang kepai ya? - Iya, sang kepai lah. - Sengetalahan. - Tapi kita biasanya ngomong disitu lah. - Ya, apa lu kalau ujan? - Iya, bojung. - Iya, pokoknya, emang ini ya, konsep gitu lah ya. - Iya. - Industriol gitu, gert? - Unfinish gitu, unfinish. - Never finish. - Never finish, never finish. - Never finish, never finish, bro. - Emang masalah bahacit, ya? - Emang masalah bahacit. - Iya, benar-benar. - Iya, benar-benar. - Ya, apa? - Ada lah konsep yang hide and gimg gitu kan? - Oh, ya, ya, ya. - Tapi ini ga hide dan ga mau tau? - Tau. - Ini bukan hide dan gimg di pinggir jalan, ya? - Ini yang bukan hide dan gimg di pinggir jalan, ya? - Naja hide dan gimg di awal. - Laka tapi jalan, kan? - Kapu paten, ya? - Iya, kan? - Hide dan gimg. - Berhentas lah. - Itu biasanya konten-konten tiktok yang kayak misalnya. - Lu tau ga sih tempat kopi enak yang jalan-jalan jauh, ya? - Ini tempat kopi enak. - Garapi, garapi. - Garapi, kalau misalnya bisa anak-anak bogor, ya? - Ya, ya, ya. - Pake kodofocer bercanda, dapat diskondubu 5% ya. - Iya. Minumannya juga dipatang 20%. [Rusik] - Sekarang sih sih. - Nah, enak-enak sih. Tami biasanya apa yang kita obrol di garapi tak? Kalau gue sih biasanya, biasanya sih dateng tuh nanya in-anak-anak satu-satuh biasanya. - Ol, mesosak kiri itu lupa gini, tolong. - Oh, iya. - Pake enak-an, berending-nu di kilak-kiri, ya? - Iya, orang paling kiri lah, biasanya. - Jangan lupa kehabaruh gimana itu? - Iya. - Ketukur kekubangan. - Wah, ting gitu, kayak udah never finish gitu, yang gitu. - Apsi. - Kurang, kayak, kurang. - Gapas. - Gapas. - Gapas, kayak. - Oke, ngobrolin. Banyak hal, paling, tapi berlujungnya, ngomongin. Lu hidup lu, gimana, kelebitannya. Kaya kaya kediannya gimana, pacar lu siapa, sekarang. - Kau dapetin tinggal buat lu, ya? - Oh, kalau gue ya. - Tidak mau disikat lagi, cairnya. - Iya, ya. - Takaannya antin dipercimpangan, ya, anjing, udah diama teman gue kan gitu. - Iya. Tapi ini menarikannya batak emang tipekal. Alik kita tau ya, ada rata-rata. Orang-orang di togrongan kita tuh yang punya tipekal tipekal, kalau misalnya kita punya bahwa pacar ketonggrongan, atau misalnya kita punya cewek, kenalan baru dan segala. Macam emang, batak ini adalah orang yang kayak gitu ya, yang bisa menikong gitu ya. - Danikong, namanya silo turahami, emang silo turahai marjaja, gavinar, bener. - Tapi memang emang sias. - Nekongnya alus. - Lu setuju, emang nekongnya, rada alus. Kayak, naian-naian dulu kan. Tapi memang pasti biasa ada emang tak, emang biasa tipekal kayak gitu tuh biasa ada di togrongan cowok. - Oh ya, emang. - Karena pasti ada, karena gue juga merasa, ada protectif kan. Gue tipekal orang yang kamu sanong grong sama cowok, biasanya gue boba pacar gue. - Oh ya. - Ya kan. Gue pengen itu kenal aja lu, mau pacar gue, pacar gue jujuh kan lama togrongan gue biar. Merasa safety lah ketika gue nong grong. Kedepannya tau kamu bisa gue nong grong sama siapa. Nah, tapi gue tuh melihat emang ada nih tipekal orang yang kalau misalnya cowok ya. Ada tipekal cowok yang kalau misalnya di togrongan tuh yang kayak gitu tak kayak emsa chaper nih misalama cowok. Orang atau misalnya emsa ada, ini ngolain japa ya. - Engga, ngolain sama cowok. - Kulur, ngolain sama cowok. - Ya, ini kesakaran lah yang merasa serangan. - Masa yang, matang lu bertinggang lah tinggu. - Ya, ini kan. - Orang gak bisa lihat, ini gak ini bohong ya. - Masa ada itu. - Iya, ya. - Masa ada niliki tipekal umum. - Tipekal umum tuh ya, kayak gini kan. - Berangan-angan lah, anggang-angan. - Iya, itu biasa ketemu ga sih orang-orang kayak gini. Gini tuh biasa ada di togrongan lu. Kalau misalnya di togrongan gue kayak sekolah gue setelah gue, sementara, "Ya, mereka kan rata-rata, "basing mereka banyak duit gitu lu." Mereka tuh emang nyari cewe dari basingnya, dari hartanya gitu. - Oh, ngolain cewe. - Gue banyak nih. Jadi nanti, "Oh, ini cewe pasti mau mau gue gitu gitu." Ini omongan lu selakcernya ada ngesisnya deh. Kalo bilang, kalo bilang lah, - Sesele deh ada di tipekal orang kayak gini nih. - Ada kan? Ada, ada. Nah, lu carah lu menyi kapinya gimana biasanya. Ketika lu misalnya, "Bah gue, gue coek aja lebih ke coek aja." Maksudnya ini hidup lu ya, udah lu jalanin aja. Cuman kalo lu udah nyenggul gue ya, bahar lu kan gitu. Kalo misalnya dia tiba-tiba gue buat cewe gue. Terutih-tiba-tiba nanti dia ngogodein cewe gue nih. - Baya misalnya. - Iya gitu. - Atas gimana apa yang bakal lu, ketika dia menggoda cewele? - Iya, lu dia kok udah balik. - Iya, ya. - Temen itu. - Temen itu. - Ketika di lu. - Iya, gue balik nih. - Yang menihkan. - Iya, lu tau ga sih nih, ini kan udah pacar gue lagi. - Kalo pernah tabiat, pernah dia kok di situ. - Kalo gimana gimana gimana gimana gimana gimana gimana? - Jadi, sebabnya kayak nongkur sama-ngkur sama-ngkur sama dibekasi, gitu. - Ha lu teras. - Ini ramai ber-10 hans gitu temen-teman, ya. - Sekolah, 10 hans aja kayak 10 tengah gitu ya. - Iya. - Pokoknya ada satu orang. - Sulu seberbah, ada orang gak bojan lehen gitu ya. - Sulu? - Iya. - Tungan banget bahas raki nengeng. - Iya. - Bata tadi rumah ya, Jig. - Iya, jika yang jelas dong. - Iya pokoknya ada satu orang yang gak boh pasangan. - Diannya yang biasanya yang kayak lunya ya. - Yang kayak lunya ya. - Ah, apa sih? - Eh, memang yang nyari mangsan ya lah. - Mangsan ya lah. Abis itu ya udah. Tapi yang tunggu yang bukan CWG yang di-nya di-nya di-nya di-nya di-nya di-nya. - Tapi itu kayak gitu. Cuman gue kasih tau kayak, lu gak tau apa itu duk punya teman lu gitu kayak. - Oke. - Bacuknya dia kayak, ya, ya, sebelum jenur kuning, blah-blah-blah gitu gitu. - Itu kok tersinai. - Itu kok tersinai. - Tukot tersinai. - Tukot tersinai. - Tukot tersinai. - Anjah lu, gitu. - Lu kasih tau bi gantung lah. - Iya, 10 kali perempuan bi gantung lah karena duitnya. - Parah muka yang membiasa aja. - Okay. - Itu dengerin pes. Lu tiba-tiba lagi gitu lah. Teman lu yang tiba-tiba yang kayak suka. - Ya kayak tadi sih, batak bilang, sebelum jenur kuning, melengkung. - Iya. - Itu masih bisa menikung gitu gitu, masih ada. - Ada-ada. - Eh ya, maksudnya gue nyampa nih ini bukan berarti. - Kata kan lu benar sepenuhnya. - Iya bener. - Apa yang kita berhensi itu semua pinil. - Bicak buat deh gitu. - Eh, marah-marah aneh, kita banget. - Nah, terus. - Jadi gimana ya? - Nah, terus. Jadi gimana ya? - Nice info. - Iya, tapi. - Nggak, jadi banyak intinya gini. Kata kan lu gue dibantu sama-sama kawan lah. - Oke. - Di bantu gitu karena gue sempat putus gitu ya. - Tapi masih pengen berarti. - Boleh ceritalu. - Iya, jadi kita di gue emang ya. - Gak tau gue suka di ceritasi apa aja. - Meseke gue. - Ini gue. - Ini lu. - Ada kawan akhirnya dibantu. - Jadi intinya lu punya cewe dan ada oputus. - Oputus. - Dan gue punya kawan dekat dan tuh sama tematis cewe ini juga kenal juga. - Oh ya, nerd. - Nah, di atu perlu, ibaratnya kayak pihak ketiga gitu. - Oh, mediasi. - Mediasi. - Kenapa analoginya? - Mediasi. - Kenapa analoginya? - Medi agol. - Barra, felisi, kan. - Iya, tapi kayak gitu. - Nah, selama itu di atu ngeban tuh gue proses untuk apa yang ngobrol lah. - Oh ya, mediasi. - Tapi ternyata di belakang. - Oh. - Oh. - Di belakang ada apa? - Di belakang ada. - Ada, ada. - Itu lah korang lebih kayak gitu. - Itu sakit sih, tapi. - Iya lumayan lah. - Oke, kayak terkenang lah. - Iya, itu sekolah gue, cuman kayak kayak kayak. - Oh, ya udah. - Itu merusak. - Terus ambil, merusak. - Ya, terus ambil, merusak. - Ayy, aku suka ngaji. - Ayy, Shayak, kita kena ga temennya. - Kek, ga ga ga? - Ya, ini gue lagi, tahun, ya. Tapi ya. gue kayak. ya, gue lo tanya banget sih. Iya, iya. Tapi emang gue kayak, kalo misalnya gue merasa kan ada di posisi sule ya. - Iya, kayak gue merasa. - Iya, gue merasa. - Saki-saki banget ya. - Even temen nekkert ya. - Tanya atau temen bisa menyakiti kita ya? - Oh julas. - Talu ada cerita juga, pokok kayak gitu, pokok? - Ah. - Ada ceritakan, waktu ceritanya. - Oh, bahwa. - Ya, banyak-cokanya, waktu. - Wah. ya. - Ga ga mau gue ga ga ga ada. - Oh, gue ada masalah lu, ya. - Ya, meninggal lo. - Misalnya ga berubah-ubah saja. - Ya, sih. ya. - Masa sih gue kasih luan. - Gua. - Iya, enak. - Gak ga. - Gak ga. - Esau saya jadi. - Iya, ya. - Gak sih kalo gue ga ada. kalo cerit gue di rebut teman. - Nggak ada gue ga pernah. - Gak pernah ya. - Gak pernah gue. - Paling lu yang rebut ceritanya. - Iya. - Iya. - Iya. - Tapi kita ga coo. - Iya. Kita coo nih, kita tunggu rangan, kita coo. - Gitu kan, itu juga banyak banget bersinggungan sama hal-hal yang kita di gitu kan. - Hmm. - Masalah cewe dan segala macam lu pernah ga tapi berantem sama teman lu pribadi atau. - Teman lu lu ngeliat, teman lu berantem sama temannya ga. - Perkara masalah cewe. - Bakan sampai pukul-pukulan. - Oh, gue punya cerita. cerita sih. - Jadi pasisnya saya mahal ya. - Oh, saya mahal. - Tentu sih. - Posisinya ini teman gue dulu. - Mantak. - Dia pacaran udah putus gitu kan. - Posisinya gimana gimana sih. - Iya, dia. dia pacaran nih. - Paca namanya satu cewe. - Tapi sebut aja misalnya namanya si Bella. - Iya, namanya dariuela. dariuela. - Oh, wira ya. - Iya. - Iya. - Iya teman lu. - Mereka sama. - Mereka sama. - Pocok. - Pocok. - Pocok. - Pocok. - Pocok. - Pocok. - Iya. - Iya. - Terus. - Gak. - Iya. gue. gue dulu mikri. - Ketak. - Lu udah putus ya. - Lu punya. - Lu punya. - Iya. - Iya. - Dia udah putus ya. - Berarti kan ini cewe juga udah. - Nggak ada. - Nasa. - Taka-taka kan ya. - Lada raga apa. ya udah gue pacarin lah gitu. - Dangan. notabanya ini mantannya temen gue. - Oh ya. - Cuman. setelah itu. setelah itu doa berjalan. - Terini atau nggak bagus. maksud karena. - Gue. jadi. gue punya gap antara temen gue ini gitu. - Iya. - Gak bagus gimana. - Tengokasnya tanya. - Jadi ada gap ada gap. - Jadi masanya yang nakhati. - Iya. - Pada. jadi kita. jadi gap prangdingin gitu lah. - Lu kok. - Kalau udah tau nggak bagus. - Kita balon juta. - Iya. - Karena gue positif tinggi. - Gak. - Iya. - Terima nih. itu martingnya. - Tapi. tapi kok ada kejadian kedua gitu loh. - Oh. kejadian kedua. - Bati tuh jatuhnya hampir aja. - Iya. - Ayo tuh hampir loh. bangsa. - Ayo tuh lu boi. - Ayo. - Tapi yang kedua kan ya. - Nggak kenapa napa. - Eh. 3 kali ding klut 3 ga. - Jatuh. - Mas. - Makan di klut 4, cakanya. - Jadi hampir dan. - Tampem bener. - Gue nanti. - Mungkin tipa gue. - Mata-mata gue itu sama. - Nggak. - Gue menariknya. - Menariknya adalah kenapa. - Gue engan banyak di tipikal orang itu. - Iya. - Macam tentang permasala percintan. - Gue tuh tipikal orang yang ketika misalnya. - Lihat saya lu punya cewek. - Iya. - Gue tonin cewek lu cakap dan segala macam. - Dan segala apa-apa dan baik dan segala macam. - Tusah putus sama lu. - Iya. - Gue bukan orang yang bakal mau mulai hubungan lagi. - Dengan. - Simantannya temen gue. - Gue punya prinsip. - Kalau udah. - Mantannya temen gue bukan berarti. - Sekandar segala. - Nggak. - Nggak. - Tapi. - Gue menjaga. - Borden lain gue. - Temen gue yang kayak lu bakal tadi bilang ke lu dan wila jadi ada singgu ngapurang. - Iya. - Cuma gue bakal menjahuh itu. - Gue bukan tipikal yang gitu. - Tapi lu memang ada ya. - Gue yang kayak gitu. - Gue tung. - Mungkin dulu ya. - Iya. - Mungkin kayak. - Oh udah lani mungkin temen gue karena udah putus. - Iya. - Udah gitu lu mau. - Terus cewek ini pun. - Putusnya baik baik. - Gitu lama temen gue. - Gue kirain. - Iya. - Kan ini kan pikiran gue waktu masih. - Wana kayak semal lah. - Iya. - Nah masalah gitu. - Ternya itu pas gue jalanin. - Jadi ada 2 kubu gitu loh. - Mokah kubu yang proses sama lama. - Iya ada kubu yang merama-merama viragi. - Gitu. - Tapi sebut lama lah. - Nah. - Gapapa. - Tapi kubu ini ngelebur lagi setelah gue putus. - Dan namanya cewek siapa lepapu. - Ah dambang ya bambang. - Bambang. - Bambang. - Bambang. - Oh. - Cuma. - Balu gak. - Balu gak sih. - Iya. - Tapi yang mau tipikal orang yang. - Gak masalah ketika. - Nuh masalah. - Event itu misalnya mantan lo. - Maksa lu. - Maksa lu. - Dia ketika namanya cipa. - Maksa lu gak masalah. - Karena ada ada. - Ada kayak gini juga. - Kapan putus sih. - Ada. - Cueknya lo majem sedit lo. - Lui. - Tahu yang ketemu sejada ya. - Platungan lo gak bisa lo langjing. - Bisi kiri lo. - Keloar gini. - Bala. - Cepat cinta lu ketemu. - Maksa gini. - Bagi kita. - Gini. - Gini. - Kalo nek motor bisa gelap umetnya. - Bata kekibat bi Takjil. - Cepatnya yang nereema. - Kayaknya pita. - Enggak lang. - Lepetnya seperti versai. - Enggak. - Lui juga. - Tepikal gitu. - Taman lo punya pacar. - Daputus mantanan. - Lu mau masuk. - Apakah lu gak. - Kalo misalnya ngomong masuk. - Tapi. - Sengganya gini. - Ada. - Menurut gue itu kan. - Sudahnya menurut gue donya. - Benda kalo misalnya lu bilang. - Ada yang. - Pemenolak itu. - Tapi ada yang menurut gue itu. - Dan dorongan dalam lu doang. - Iya. - Lengkaya gitu. - Nah kalo misalnya gue. - Gak akan menggiri. - Tapi kalo misalnya memang ada sesuatu. - Setidaknya gue berusaha untuk bilang dulu. - Kayaknya ga berjing gitu. - Oh iya. - Panyakan karena gue pernah ada kesalahan. - Kaya gitu dan gue ga mokuh lang. - Jadi pasti kalo misalnya emang pun. - Di sotus athama. - Siapa mantan lang. - Iya. - Kalo orang yang perempat terhamat teman. - Ya pasti gue ada berjingnya. - Eh gimana kabar. - Sehat. - Oh sehat ya udah. - Tapi kalo langjut gue. - Itu sama aja kayak gue. - Iya. - Bual anjutnya. - Anjut. - Anj, explisit tapi. - Misalnya lu bilang lah. - Misalnya kayak gue dek dint. - Mantan lo ya. - Sori nih. - Bukan ya blablabla. - Semacam gitu kan. - Ketika misalnya cohnya bilang tidak. - Ah. - Lu bakal apa yang lu hau di lu. - Bakal langjutin lu pacar ramah dia. - Kalo orang ga bisa. - Seuurta apa gue banding-banding kan. - Temennya kadang. - Mantan-temennya tuh. - Ada temen yang misalnya. - Dekat baba. - Iya. - Itu gak harusnya kesana kalo gue. - Oh. - Jadi lu milinya. - Ketika gue misalnya cewa ini. - Kalo misalnya ga ngoper temanan ya. - Toh di yang ga ada keteket batam gue. - Tidak mau ngomong. - Iya. - Bukan ya tapi tidak. - Manikir kan ya cuma. - Iya. - Pemememem. - Cuman. - Ya bisa lah gitu. - Iya. - Lepik-mikir ya. - Lebih banyak mana. - Seventajnya lah ya. - Ya. - Kalo gue malah. - Anti gue udah. - Punya temen gitu ya. - Udah mantan. - Oh mungkin sama kayak gue ya. - Iya gue malas ya. - Udah. - Kaya ya. - Iya. - Iya. - Jadi. - Paca gitu. - Karena gue juga. - Tapi kalian meminimalisir gitu lo. - Degat sama pacar. - Temen untuk. - Iya. - Dekat itu kan ya. - Kau adukan masalah kita dengan masalah. - Patuhannya. - Pasaannya gitu kan ya. - Misalnya lu lagi berantun ini tak kamu pacar lu gitu kan. - Iya. - Tusa gue kenal lu dan gue kenal CWL lu. - Iya. - Ini sering acap kali terjadi kota kota besar ya. - Iya. - Kaya misalnya tiba. - Ya kaya tiba-tiba. - Tiba-tiba di. - Iya. - CWL lu misalnya minta pendapatnya. - Iya. - Lu ke gua gitu kan. - Gue juga. - Jadi kan subjectif dong. - Gue harus benar-sebelah kemana nih. - Benar gitu. - Gimana netralis keleman. - Jadi gua mungkin lebih menet. lebih ngambil jalan. - Ginda dari. - Untuk karasi itu soalnya. - Jadi ya. - Mungkin buat-buat kalo emang lu pengen nanti ketaman-mantan. - Mantannya temen. - Mungkin emang jalannya. - Sula ya bisa dipakai gitu ya. - Untuk lu bisa. - Bila misalnya. - Cuman itu jadi. - Kalo menurut gua itu dileme aja. - Sula ya. - Biasanya nih misalnya lu. - Paca. - Lu misalnya mantan lu. - Paca-mantaman lu gitu. - Biasanya tuh. - Yang terjadi ketika. - Leberantem. itu jadi ada perbandingan antara lu atau atau teman lu, atau sebaliknya gitu loh. - Kalau. - Ini lulasakan kemarin kan? - Ini kejawab sias. - Oh ya. Karena nanti itu bakal keluar karena kalau lu berantem, otomatis kan di luar kesadaran lu ya, karena lu emosi gitu kan. - Kalau baki ini sih gitu ya. - Iya kayak kol beda sih sama ini gitu. - Kayak ini gitu, jeninya. - Tapi komod gue itu sih, si, si, si, lalu saya cahaya wanyanya, ya. Itu salah, memang. - Itu kayak salah cahaya wanyanya sih, misalnya nggak. Itu nggak, nggak, nggak, nggak, nggak, nggak, - Pemanyoritas sejadilah. - Iya. Cuman nggak bisa dipungkir itu kadang-kadang gitu. Jadi otomatis teman lu, nanti makin tak udah jauh, - tamaja ulang gitu. - Iya. Itu. Kalau gue sih alasan terbesar gue kenapa gue tidak mau. milih, milih untuk jalan lagi sama mantannya pacar gue. Eh mantannya pacar temen gue. Karena gue menjaga perasan sicewainya juga sih, satu bukan cuma seru adap temennya. Karena gue punya mantan nih yang lu tau semua dan itu jadi mantannya temen-temen. - Nah, nah, nah. - Iya, nah, nah. Itu tuh gue merasa kayak sicewain itu. gimana ya, di nilai julek gitu sama tahun kerangan gue gitu. Karena koni muttersi gitu dan segala macam. - Dan nyatnya nggak muttersi. - Iya, hal-hal-hal yang kayak gitu. Itu yang juga harus dihindari gitu loh. Kayak kan kasih yang juga ya, bukan masuknya dan segala macam. Tetep lebih dari bologle lain kita sama temen ngejaga itu. Tapi kayak kasih yang juga. - Imensinya dia jadi berkurang lah, ibara. - Iya. - Tepannya anjus kok ini sama ini. - Iya. - Ini cifu, defen kemeng, dia tadi mikir gini ya. - Jadi. - Gila mau makinlah. - Gila mau makinlah. - Gila mau makinlah. - Makinlah. - Makinlah. - Makinlah. - Makinlah. - Makinlah. - Iya, iya. Apa yang gue tantang nggak pulang. Lu saba-saba gitu. Ada waktu nya ada waktu. - Makinlah. - Makin bisa di cara baik-baik gitu. - Nggak. - Nggak. Dia sayap lagi ya hubuman cowok dan cewek di Tongk Rangan tuh apa sih biasanya? - Gungkannya. - Gungkannya. - Sari pendapat lagi. - Menurut live web itu harus ada atau nggak? Menurut lu deh. - Fweb dimana di Tongk Rangan? - Di Tongk Rangan. Misalnya nih lu ngebahas Fweb dan menurut lu apakah. lu di Tongk Rangan tuh menghalalkan Fweb atau pacaran gitu loh. Gue tuh biar nes nggak. Karena adon si where I eat gitu kan. Gue nggak bakalan berak di tempat gue makan. - Makin gak ada bener. - Gue nggak apa yang gue ngasih. Ngasi sesuatu yang negatif di tempat yang gue sebenarnya pengen nyari hal-hal yang senang-senang positif dan segal macam. Karena kan lu tau banyak tuh yang kayak Tongk Rangan-anang sekarang kan cowok cewek. Mereka ONS ya biasanya lu temen gue ya udah ONES ONES aja. - Gak tuh komstus jenagal masih salah ya. - Salah. - Yewu. - Salah. - Sejauhnya bahasnya kamu. - Macara ya. - Salah. - Gue suka maksudnya. - Gue sama suka. - Gak maen ya. Tapi senar aku misalnya gue pribadi sih ya gue merasakan hal itu. Gue bakal sebagai misal temen gue nih misal lu tak ya. - Gue terus contohnya ya. - Iya misal lu misal. - Kita lo tau Tongk Rangan. - Karena bata gitu alih saya sangat umum. - Iya, iya. - Bata gini bata gini misal siap aja. - Bata gini toku co. - Iya, toku. - Iya gue minta toku tuh. - Bukan bukan fadliya. - Iya, iya. - Walaupun cepul gini aja terus gini. Walaupun misal lu lu ya. - Lu nih tak ya. Terus ya misal anggap tuh hapes nih cewek lah. - Iya. - Iya. - Ya kan kamu sama lu gak bisa kembali ya. - Enggap lah hapes ya. - Kalau misalnya siapa gitu virak gitu ya. - Tata. - Data. - Gue suka kebaian. - Terima kasih lah. - Terima kasih lah. Terima kasih lah. Saya lupa cewek gitu. Saluh o yang eslan gitu di luar kita dan segala macam. Gue bakalan gue yang ngerlain lu nya sih kayaknya. Tak kayaknya gue lebih milih lu sebagai teman gue dan segala macam. Macam toko tuh ya lu nanti sama hapes dan segala macam berantem kayak gitu-gitu. Cuma kan itu sesuatu hal yang gak bisa kita kontra. Ya karena nge-nya lu gak tau gitu. - Iya sesuatu. - Iya gue buannya bisa kontrol kan. Tapi ya mak ya tugas teman yang berarti meminginkan aja kan. - Tapi sebatas itu doang tapi ketika ke depannya emang lu mau melakukan dengan masalah konser. - Ya lu juga sih. - Haku lu gitu ya. - Itu setelah lu sih. - Setelahnya gue udah mengujutkan ke wajiban gue sih sebagai teman. - Tapi itu begini deh misalnya. Kita kan punya background yang kurang lebih sama ya. - Iya. - Semua apa ya. Semua apa ya. Semua apa ya. Bakal lu lebih lama lagi. Nah, kita kan cenderung berkumpul sama yang sejenis. - Karena dicawu. - Terus kemudian ke dunia luar lah, desat lain itu. Terus ada kan kongkrongan ya secara umum emang ada kongkrongan yang ada cewet. Dan itu memang satu kongkrongan. - Dan itu emang acap terkadi ya. - Dan itu wajar. Nah kalau lu ngeliat itu kayak apa. - Oh gue pertama ke aguk sih. - Kalo di kita pas ada cewet masalah. - Bati kita masukin ngomongin tuh kongkrongan ya pas kita tuh. - Anak nih gitu. - Anak nih gitu. - Gue kagu karena gue gak tau ya. Mungkin karena gue, kongkrongan gue dari SD, S&P semuanya cewet. - Iya gue juga tipik. - Iya gitu. - Cooes semua, pas gue ngomong kong sama temen-temen gue yang baru ini. Mereka ada temen cewennya mereka ajak gitu. - Bukan pacar temen. - Itu temen. - Mereka tuh taci gitu taci. - Taci gitu taci. Taci taci. - Cooes, cooes yang pegang. - Menel, menel, apa sih? - Dia ngeramen lu biasa aja. - Iya, iya. - Terus kayak dia nyerana malu. - Gue tuh yang kayak, sebenarnya cout tuh juga bisa blapen aja sih gak aja. - Cuma cewet dong gitu. - Karena kita terbiasa di tanggungan cout semua. - Iya. - Tidak ada cek. - Kita gak ngeliat muka deh. - Iya. - Ini buatnya punya. - Sangat ngomong dia. - Mereka tuh ga mau monggi. - Mereka tuh ga mau sedikit. - Wah, hajar, ga ngateng. - Ga ngateng. - Mereka ngateng. - Mereka ngateng. - Mereka ngateng. - Mereka ngateng. - Soalnya teman gue ngera, teman gue ngeliat gue kayak lu kenapa nyerat gitu. - Ayo juga kadang dilih kayakki ketika sama tanggungan cewet gitu kan. - Apa lagi gue gak kenal gitu. Kalo gue sih emang di awal-awar radai nih ya. - Apa sih? - Tidak kaku ya. - Beda lah gitu. - Mongong juga jadi kayak gitu kan. - Tapi kadang pas sikit bantem-bantem gue juga minggu. - Ayo udah lini orang gantung ya kan. - Ini kayak yo udah. - Tapi gue emang awal pas sikit nongkrong macem-matchem. - Aku emang kaku banget sih. - Iya, aku lah. - Gimana caranya kapin dan segala macem. Tapi kita lelan nih ya, lelanin baik duin. - Iya, bener. - Jalanin dan segala macem baki gitu ya. Kalo lu juga semang, gerasin gak kan? - Kalo gue mas sikit aja SMA. - Iya. - Kita yang harus dimana bertemu dengan lauan cenis. - Tapi ternyata tida dan nongkrong bener-bener sekalah. - Gitu kan, gitu kan. - Oh banget kan. - Ika co-wee doa. - Gue mau lagi nih senjas. Gue lebih aneh sama co-o yang nongkrong sama co-o-co-o semua nih. Bawa cewe nya. - Hmm. - Kalo gue temen gue bawa cewe, gue gak masalah. Cuman, kalo gue pribadi gitu gue gak pengen bawa cewe gue. - Oh iya iya. - Gue malas aja gitu. - Kalo nongkrong maco ya, nongkrong maco. - Nah, bener. - Kalo gue ga. - Bener. - Gue tipikal yang kayak kadang gini nipul. - Misalnya gue ga misalnya gue lagi nongkrong mantem nongco nih ya. - Hmm. - Karena itu kalo ga bocewe. - Gibet anjing pas nongkrong. - Iya, nongkrong. - Iya. - Iya, kan. - Iya, kan. - Video call di mana? - Iya kan. - Wapen pasas di bawah juga tamat di bed. - Bener. - Iya, terus lo aku ini tuh. Tapi kadang gue tuh orangnya tipik yang gesme nih. Gini lu juga banyak ada orang-orang yang lu suka. Tahu kalo misalnya banyak yang orang yang flexible, dan mengiakan semua hal gitu kan. - Iya, bener. Karena itu bisa dibedakan sama hal-hal yang kayak lu punya matrix bawahnya dulu nipul. Tipikal cewe lu kayak gimana lu harus tau dulu. Misalnya kalo gue punya dulu misalnya mantan-mantan gue misalnya tipikal yang ga bisa dibawa. - Bawa ya gue nongkrong-nongkrong aja gitu kan. - Iya. - Coba kalo misalnya mang sekarang gue misalnya punya cewe yang gue bisa bawah gitu. Jadi kayak ada asada kayak bener-bener layar yang lu harus ngerti dulu sih kalo misalnya ut. - Tipikal gue kayak gini, tipikal tau krongan yang bisa dibawa cewe tuh kayak gini. - Iya. - Itu sih jadi ya ada banyak pertimbang. - Lo harus ngerti cewe lu dulu sih sih. - Tuh, baru misalnya kalo gue, gue aja yang gampengin bawah cewe. - Gampengin gue bawah cewe. Mungkin ada beberapa rasian di angkur-angkur. - Tapi kita bisa ngomong cewe. - Iya, cipul misalnya bawah cewe. - Tentu sih di rosti. - Di rosti. - Di rosti. - Tentu sih kalo lu di bawah ke tengkurangan cewe lu misalnya. - Kebalik. - Oh gue ga mau. - Gama salah. Sola dia ya. - Gama salah. - Oh, ya mau gue. - Tapi di pisa. - Gue malah ga mau. - Gue ga mau. - Gak nampin, tagit lu. Kamu kenapa sih ga pernah bawah. - Gue oke, mau ga mau kanal ini ya kayak gimana. Bukan ga mau kanal nih. - Kanal makan malah. - Nah itu tuh gue senang, gue senang, gue biasanya. - Kanal banyak ga ngerti ya. Sola kalo gue mau ngomongin pacaran ini beda lagi bahasa nih. - Iya. - Gak apa ya jamin-jamin. Tapi kalo gue mau ngomongin pacaran gitu tuh, kadang tuh tipikal orang pacaran tuh banyak tuh ya. Tusah ada yang butuh tipikal pacaran yang butuh validasi. - Iya. - Entah itu file dasil lu social media lu upload barang, - dan segala macam antar cukup itu cukup. - Tentu sih. - Itu cukup. Itu cukup. Itu misalnya beberapa orang cukup tapi ada juga butuh validasi dengan bener-bener orang yang real, data menemang lu. - Kalo nongkor orang mulu sih yang menemang lu. - Ajak gue do. - Oke gitu itu butuh validasi yang hal-hal kayak gitu dan segala macam itu tuh banyak batik pikalnya. Dan gitu juga ga bisa nahan orang kayak gitu gitu lu. Mungkin memang cewel lu atau lu tuh tipikal orang yang ga si lu nya ga butuh validasi. - Tapi ada juga yang emang pengen tau teman lu doang. - Oke. - Oke. - Lu tuh main namanya siapa aja lu ga apain sih. - One-slu udah bawah dia ketapa orang malu. - Iya. - Dia udah ga ini one sih. - Bawa apa? - Dia udah bawah dia ketapa orang. - Iya. - Nah nih setelahnya dia ga mengenang orang lagi. - Karena dia udah tau lu cuma main gini. - Kali yo city itu tinggi. - Iya ya. - Pemenang saran. - Insukuritinya tinggi bener. - Gue ngomong kuri city ya. - Gak bisa. - Oh gue udah kayak. - Anjik banget. - Pada pake headphone loh. - Akadil lanjin. - Anjil. - Anjil lah. - Anjil lah. - Anjat tuh mau mulut. - Iya. - Tapi emang tukur orang itu biasanya kayak gitu kan. - Iya. - Fariatif jadinya. Nah kadang tuh emang jadi banyak apa ya. Pernanya banyak challenge gitu loh kayak. Temen gue kayak tipikal kayak gini. Ada yang satu lagi tipikal kayak gini. Soalnya banyak nih setan setan di Tungkur orang tuh banyak. - Oh ya. - Misak kayak batakan tipikal setannya cewek gitu kan ya. - Iya. - Iya misak. - Komsa gue, lalu disini saat kokoh gitu kan ya. - Iya. - Kocipungan kita cilah sabungan. - Tidak. - Tidak. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya misak cewek misalnya dia suka, disuka kalau kita kepunyak. Cara dia misalnya punya cara lain misalnya setan setan. Orang tuh banyak yang kayak gitu gitu kan. Lu apa sih yang gak bisa lu tolerin dari setannya temen-temen di Tungkur orang kan. Gue sih set sejauh ini semuanya gue tolerin sih. Jadi jas karena menurut gue kalau kita nongkrong, ya gak bukan hal yang kita omongin tuh semuanya ada yang serius. Cuman kalau misalnya bisa becandan kayak "Oh iya lu ampe tadi gak terlalu mementer gue biasa aja." Nanti kalau gue jelasin ke cewek gue atau cewek nanya tadi apaan. Canda gitu doang udah. - Iya. - Karena bukan tipo cewek yang ribet juga cewek gue jadi kayak yang penting lu cewek selu main nam amasi apa. dia video kalo gue sekali udah, selesai klerur udah gitu loh, mongsen gue jadi gak segitunya gitu loh ngeluduh menit kok, tapi gue nanya jelas ya kesepan kena tau ya kok nanya apa ya apa yang gak bisa lutar, helik dari setan tongkronan gak ada, makanya gue nangka karena lu juga tiba-tiba, kalau orangnya flasibu ya santai aja bukan hal yang harus dikasih tau apa, pagi tuh setan-setan tongkronan kan paling becandaan, doang sebenernya itu doang tapi kan ada kan setan yang tongkronan tuh kayak gue bilang tadi gue bahas kalau gue sih gak tolerin ketika misalnya tongkronan gue tuh yang narco banget gitu ya yang sabu gitu kan, gue tuh gak bakal mau nongkrong sama, situ kekukannya gue tipik kalo orang yang ayo, anggot, toko tekebawa, makanya gue makas diri ya ya dia lo jingat gue mau minima lisir lah yang hal-hal kayak gitu kan, untuk arah-rah sana, makanya gue kayaknya kalau buat nongkrong, gue buat happy happy ketemu gitu kan, di luar dan segala macam oklah tapi yang intense untuk nongkrong, kenyaknya gak, itu satan buat gue bahaya, sesuatu yang gak gue tolerin, kalo lu semua kayak gitu juga apa gimana? kalo gue sama sinar kok banget, cuma selain itu gue, bebas-bbas aja sih lu mau ngapain ya, selalanya ya, gue udah amat gue sama-sama karena itu kan, kaya tanya sama aku, aku mau sama, ya - Mada hawatir. - Kok ga tata? - Mending cipul aja gitu ya. - Iya, yang nger. Sato ya gitu, bio contoh satu aja gitu. - Enel nggak? - Karena, karena. - Ya, menurut gue. - Iya, nanti kalo misalnya. gelaknya di gerbuk nih gitu misalnya. kan biasanya kan mereka netes juga gitu lu ngerti gitu. - Lu jelas kalo lu emang nggak gitu. - Tapi nonkronin, eno. Walaupun gue dari TKP misalnya. apas gitu misalnya, ya, udah gitu lu. - Kalo sama sama satu sih, semaranya sama yang Do Mcton atau Do Mcton ga sih lu tuh? - Mcton ga sih lu. - Mengerti? - Ngeturut ngambakasi ngomongin Do Mcton, maknya gak sih? - Anj, anj. - Duh, anj. - Maksa ada yang cowok gitu ya misalnya ngikutin kompsa dari cewek gitu. Nggak yang benar-benar Do yang bareng Mcton. - Wow. - Nah gue tuh gak suka tuh, maknya gitu. - Yang ini gitu. - Iya. - Gue ga, gue ga. - Ya, misalnya. - Apa pusing. - Apa juga bisa yang jadi sosohiro gitu ga sih. - Mande-mancing. - Oh. - Caper, caper. - Iya. - Kalo ngambakasi bahasa ij. - Do Mcton. - Gue baru dengerin. - Gak ngambakasi. - Iya, tapi gue gak suka tuh tipekalkan. - Gak gitu, mungkin kan gak satu vrequensi kali sama gue ya. - Cita cita. - Perna ga punya ton kerangan tuh, sebuah bura. - Oh, bura, gue pernah bura. - Karena. - Jadi, karena ya tadi masalah cewek, kalau gue. - Most likely ya, mak masalah cewek. - Masalah cewek, bura. Jadi, ya tadi berkubu gitu lho nyes. Berkubu jadi yang ini gak suka, kubu angga suka kubu, kubu ga suka kubu. - Bubar, udah bubar, bener-bener bubar. - Kan ngon kron lagi ya. - Kan ngon kron lagi. - Bapak lama. - Gue ada kemini nombulanan. - Wapen sih ceweknya, makasih ceweknya masih pacaran sama waktu putih sih ya. - Udah putus nih, tapi kita gak ngon kron lagi. - Oh. - Jadi, malah warung yang tempat kita ngon kron. Malah kayak, ngicep gitu kayak nyari. - Ngeri. - Kalo nombadan ngon kron kron sih gitu. Karena kan otomatis kan, dari dia, kita kan ngon kron disitu ya. Dia dapat duitama duitama. - Tepat duitama. - Iya, gitu. - Bener-bener hilang udah. - Oh, juga pernah nih gitu. Masa lapan yang bisa dapat. - Mereka nago juga yang kayak gitu. - Lu kan punya mix sendiri ya. - Kenapa lu menjak minum orang aja. - Bapak kayak gitu kan. - Kira-kira kan. - Kira-kira aja. - Terus batak tuh kayak. - Iya, pakai aja pakai. - Oh, buk aja. - Kita walu pernah, penatong kron kan lo bubar. - Mereka pernah. - Kenapa? - Sama-sama. - Masa cewek. - Iya, gue pas nih ya. - Biasanya kayak gitu. - Singgungannya, biasanya kayak gitu sih. - Gue sih bener-bener haal cipul bakal ngomong lain, bukan cewek. Karena kalau misalnya, most likely bukan masalah cewek, ada masalah uang. - Iya, iya. - Biasanya itu. - Lu lu lu, itu masalah uang. - Masalah uang. - Masalah uang. - Masalah uang. - Lu masalah uang, biasanya. - Iya, karena gue juga pernah punya-panya tong kron kan ya. - Berantem tuh masalah uang gitu. - Wapun sekarang udah selesai gitu kan. - Pake udah gue sukip deh kalau busy-sus busy sama teman. - Iya, gue busy. - Ada masalah. - Emak kenapa lu ada masalah apa, bu? - Iya, udah gitu lah. - Kalau mengenal apa? - Ya, udah. - Bisa sih ya, lu berbisa sama teman dan ada kres kres. - Iya, ada kres padal ya. - Sudah bisa diselesai gitu, gak perlu. - Apa, gak perlu gak teman lagi cuma. - Iya, mau yang begitu ya, udah ya. - Iya, iya. - Selesai aja. - Nah gue bingungkan kalau misalnya pacar tuh, eh cewek tuh ada mantan pacar lah ya. Ada mantan gitu, ada mantan. Kalau teman, gue merasa tidak ada mantan teman. - Gue gak ada mantan teman. - Gue gak merasa ada mantan teman. Lu menemener yang, ah nih mantan teman. - Gue atau emang lu yang totaling gak mau temenan lagi atau yang kigimansi kalau misalnya ada punya masalah sama teman tuh? - Gue tuh berusaris, rich dia jas. - Jadi ngacanya. - Iphone dia punya masalah sama lu. - Iphone dia punya masalah sama gue. - Saya apa emang tak batit tuh? - Iya, ya. - Ya, ya. - Ya, ya. - Resoloknya, pokoknya gue, dan dia nutupin dia kayak, gue gak, gue gak kasi lama lu tak gitu. - Mau manya sian jengini. - Iya, ya. - Gue gak lah. - Nikahannya, oh, ya. - Oh, boleh sama sama dia. - Gue rupa sama dia cinta yang kita ganti. - Gue gak, gak tenguk nikahnya aja, ya aja, lu pok gue yang kita ngomong. - Di bilang fedua, misalnya ini kok gue nganjing. - Eh, ini botkis, misalnya benar-benar. - Eh, ya. - Ada nikahan anak albayan lah. - Orang juga gak to, oh, ya, siapa, ya. - Eh, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ya. - Buk gue nungan aja. - Nika anak albayan lah, gue ngomong-ngomong. - Mungkin nantah, orang kan kita lah. - Rokola gue, rokoma, chipul, chipul nanya, dari reke gue kayak, lupunya masalah. - Pasi menya gitu. - Oh, makasak nikah. - Eh, makasak nikah. - Ah, makasak nikah. - Orang juga gak to, abang siapa. - Mungkin nantah, kan. - Jadi, itu kayak gitu, ya. - Oh, lu di kresna, lu, kok. - Eh, itu makasak nikah. - Itu makasak nikah. - Si batok sama kresna. - Oh, gak, gak. - Sebenarnya, besok gue ga, di botkis abang ya, di ngomong. - Oh, udah gitu. Jadi, disitu, ngomongnya gue mampu, gue minta mampu. - Jadi, sorry gue, gue, lu, lu nih orang biar punya persepsi. - Oke. - Iya. - Iya kan, momennya tuh, saya masih cipul bang saat ini. - Iya, sama temen-temennya. - Terima kasih. - Terima kasih. - Terima kasih. - Iya, merayakan pada nanya masalah gue sama dia gitu. - Oh, jadi sebelumnya, lu udah punya masalah. - Iya. - Masalah gue. - Makinin masalah. - Amat sebut lah si B, nih. - Iya. - Oke, terus. - Nah, karena anak-anak kepo ya, dia nanya langsung ke gue. - Karena, karena gak liat lu, jadi gak sering ngomong. - Oh, ya. - Oh, ya. - Mereka pun, pas di tempat itu gak ngomong bro. - Oh, dingin lah. - Momennya dari situ anak-anak nanya, momennya anak ini keluar juga. - Nisi A ini keluar lah. - Oke. - Si A ini keluar cipul ngomong. - Oke, terus. - Uai, lu berantem, berdua, bintamah melabai kan gitu. - Oh, ya. - Mereka orang ini masih gak dinayalkan. - Gung, gung, gung, berantem. - Iya, ya, gue yang. - Gung, cipul isinya lah nih. - Iya, dia yang ngomong. - Gue. - Eh, gue sempat gak pernah begitu anji. - Iya. - Aih, gue gak pernah begitu anji. - Iya, entingnya. - Terus. - Gue minta maaf. - Amat dia. - Gue. - Walaupun gue ngerasa gue gak salah gue minta maaf kayak udah dari pada kita berantem. - Ini masalah udah lama gue bilang gitu. - Terus sama amat sekarang kayak baik-baik aja. - Iya, menurut dia sih. - Iya, gue ngerasa baik-baik aja. - Cuman dia masih. - Oh, ya sih. - Tanya kita gak bisa kontrol sama gak. - Iya, makanya gue udah lah gitu. - Iya, ya. - Lalu penal ya ada masalah tentang teman gitu lu. - Pena apa lu, tipikal orang yang memaafkan. - Kalo misalnya, makafin. - Iya berusaha lah, berusaha. - Cuman pasti ada beberapa sikap mungkin sampai prilaku itu yang pasti berubah. - Iya, gue sih. - Karena tergantung dari besarnya sih masalah kita bisa terima. - Mereka, dan menurut gue itu hal yang wajar sih. Jadi, pasti di sini, jadi misalnya biasanya ngomro dari abay cek. - Yang ngomro cuma ada orang. - Emang ngomro, emang ngomro. - Gak juga. - Gak kan, ini tuh anggapannya sewarah gue lah. - Oh, ya gitu. - Lidik. - Oraju, lidik. - Ini ikon sedih, kan? - Iya, iya, benam. - Tapi emang tiba-tiba, iya, iya, iya, iya. - Udah lah lu mencoba untuk memafkan, melupakan. Tapi lu berusaha untuk tidak merich lagi atau iya. - Gak, beruku, gak sama sekali. - Maksudnya, pascudah dari sana, kalo masalahnya menurut gue, gue gak bisa terima. - Kata. - Atau makan maafin itu gak langsung ya? - Iya, iya. - Suju gue kan ya, beda ya, perincian orang kan ada yang kayak. - Agak permasahan gue mungkin cukup untuk di-ay, iya, iya, iya, iya. - Udah lah, ngga pabak, kodi-ay gitu. - Atau makan ada yang orang kayak. - Adi-ani dalam negang-negang gue perincipe gue nih, gue gak mau tentenan lagi. - Mantan temen. - Gue gak pesing gak. Gue biasanya sebenernya kecuman. Emangnya karena permasalanan itu tadi ya, emaslah kuang, - Itu dia seki, ya udah gue juga seki pahaya, kalo gue mau ngomongin. - Hayu, gak juga ya, udah terlalu. - Iya. - Tuman gue jadinya, ya udah cukup aja, cukup tau aja gitu. - Iya, ya udah udah, gue ga kecualan, ga mau si gue. - Emang kayaknya tipikal orang, kayak misalnya emang yang. - Emang kadang tuh ga bergunabut kita, ya gitu ya udah aja gitu. - Dets kalo lu gimana mau nges? - Kalo gue tuh emang tipikal yang. - Kadang stujus gue sama lu kayak emang-emang itu susah yang emang affinnya. Minta maaf tuh lebih gampang, deh pada emang affin kan. - Minta lu, gue lebih stuju gitu. Gue punya beberapa masalah sama temen gue yang mungkin, dari masalah uang, bahkan masalah cinta dan segala macam. Karena gue tipikal orang yang bodoh amat ya, flexibel juga. Gue dinilai orang tuh, kadang gue malah gak menyimpan sesuatu gitu. Malah kebalikan gue, orang yang. mereka tuh mikir gue tuh bisa dikendali kan lah, misalnya kan gue tuh mikirnya jauh dalah anjus orangnya haji, gitu kan. - Santai, santai. - Jauh yang selamacom. Nah kadang tuh gue malah yang yang menyimpan sesuatu nya gitu loh. Kadang kayak. "Ah, udah lah, tapi gue dari pada itu menjadi penyakit hati ya." "Penyakit hati itu bahaya banget." "Mak kayak gue mikirnya udah hajiya, tapi kadang itu malah." - Tapi kalau jadi di sini lebih gue sama beberapa orang gitu, bahkan sama temen-temen teket gue di belakang lebih gue banget tuh gak pencimafin yang kayak gini-gini. Tapi gue memang tipikal kalau misalnya minta temen gue suka mati temen dan dia masih bermanfaat buat gue, bakal gue bakal gue deketin. Tapi kalau yang bener-bener liat trolley gue bener-bener pakai bahasa jaksa, literlidya udah gak bermanfaat sama sekali sih. - Tapi kalau misalnya bermanfaat kan saling, lu maksudnya manfaat hanya untuk diri lu atau lu ngasih juga berusaha sih. - Kalau gue udah penajit sedraih ujung-ujung jadi gue istu gue sendiri sih. - Jadi makanya manfaat buat gue aja. - Gak saya mesehat ya gue pas si gue sangat bener-bener gue banget bilang kalau misalnya gue punya manfaat butial gitu. Tapi kalau misalnya emang udah yang literlidya kayak di-udah bener-bener dalam lah buat nyaketin, nyaketin gitu ya. Gue bener-bener kalau misalnya gue gak bisa ngasih manfaat buat gue sama sekali. - Ya udah. - Gue mtingan gon sih gue juga gue juga butuh manfaat dari lu soalnya gitu. Karena emang gak tuh ya ternyek-rekort orang tuh bahaya soalnya jadi bisa mikirin kita ke halam bos order gitu kalau misalnya, "Nya kadir orangnya kigiri gitu ya." - Mujem ngapun gue tau itu salah ya. Apalagi di pertemahanan tapi ya secara di dalam sung, "Yang usah lu mikir lah kalau misalnya udah lu bilang ini temen, jalan makanan hal-hal yang diluar nalar gitu." "Gak kalau misalnya gue gak tait, "Ah batak anjing gitu." - Maks gue gitu. - Iya, oke gitu. - Karena kita semua tau kalau batas anjing. - Iya, iya. - Emang gitu, batas anjing. - Dan kita tau, "Maksa semua batas anjing tapi gue misalnya udah sampai hal-hal yang mergost cara kita punya apa sih namanya?" - Bonding tuh apa sih ya yang bonding. - Kayaknya ikatan lah ya. - Iya, gue memestik. - Iya, selamat macam yang kayak bisa dilampauis - suatu masalah. - Iya. - Uang. - Uang. - Masalah prinsip kecewa dan segala gue udah yang kaya. - Uang udah yang kaya. - Iya. - Dengkala gue udah orang gak dengkala kan. Nah buat masalah uang prinsip dan segala macam gitu kan ya. - Iya, gue udah nge-dengkala. - Misalnya, saya nih hape sebawa kemen nih, ya kan? - Iya, kita gak bakal menjatuhkan hape sih kematemen ya. - Gak lah, gak. - Nah, yang kegitu tuh yang gak harus dikasih tau gitu loh, kita udah punya. - Udah ngerti. - Iya, yang hal-hal kayak gitu, tapi kan ada juga tongkrongan-tongkrongan. Ada orang-orang beberapa di tongkrongan yang kadang itu, hal-hal kayak gitu, malah gak ngerti. - Iya, gue ke sana becanda dan segala macam, kita gede kasih yang hape sih. - Iya. - Karena kita gak tau sudut pandang orang lain kan. - Iya. - Kalau kita ngomongin gitu. - Makin manfaat itu gue gak ngerti lah. - Makin ya, hal-hal kayak gitu gak bisa kita kontro. - Iya. - Apa lagi ini tongkrongan nih? - Tongkrongan. - Nantak-nantak orang tuan gak sih, yang ini. - Nantak-nantak. - Itu kayak SD, kan? - Kaya SD, kan? - Iya. - Apikin, bubukin orang ya. - Gak, tapi yang paling parah itu kerjaan sih, ya. - Kalau mau gue. - Kalau mau gue nantak. - Kalau mau gue, kan. - Gue, kan. - Gue, kan. - Gur, kan. - Iya. - Iya, jadi di umur kita yang sekarang ini, pasti yang. -. diang terlihat. - Ini berat, ini yang masalah di lu yang lumberat kan lah ya. - Yang terlihat-lihat gitu kan? Pasti lu kerja di mana? Apak, oh do ga julu berapa gitu. Pasti kita nangkurongan pasti teman-teman lu tahu apa ya? - Programnya 20 sekarang gitu loh maksud gue. - Iya. - Di saat lu stak aja nih, bukan karena lu gak mau gitu loh. - Karena memang kesematannya belum ada. - Pasti pasannya belum ada. Nah ini tuh yang bikin jadi kayak tenam mental sendiri, jadi pas teman-teman lu pada ceritain. Gue kerja gini-ginini, wah anginin, projik gue, melelu. Lu cuma bisa ceritain, ya gue gak ngapain. - Pasti, bahas gaji ya, kayak. - Tidak, pengalaman lu dari kasur ke West. - Selepas ya, ya lu. - Iya, ya. - Lu jadi cuma jadi pendengar dong dan ujung-ujungnya kan kalau kayak gitu kayak, "Eku balik aja dulu nih sih gitu, ya." - Iya, yang ngatin-ngatin. - Padahal mereka juga gak sebenarnya mereka ngobas gitu, bukan untuk ngejatoin kita emang karena lagi ngobrol ini. Tapi ada di bikal ditongurongan tuh yang ngenyi kayak kontol gitu tuh ada tak. - Kondas autonya gitu ya? - Iya kayak, gue lo kerja ini ya. - Ada angin, ya kan? - Lu kerja sama dirinya sendiri. - Iya, pasti ya. Tapi, man, gue gak pernah ngerasain itu sih. Mau segera gue gak tau sih dia kayak gimana gue gak tau. - Cuma lu, pas dia ngomongin itu gue. - Apa sih, - Kap lo yang kalau misalnya tunjukkan ketika misalnya teman-teman lese bahas. - Pasti kerja nih. - Kita tau kalau misalnya belum misalnya. - Tapi kita yang gak bermasuk untuk ngejatoin. - Iya, ya ngerti-ngerti. - Apa yang bakal lu lakukan misalnya? - Gue lebih diam sih, just. Mau sih kayak gue gak ngerti-ngerti, teman-teman gue dulu. Biasanya kan mereka nanti ada yang notis tu satu-dua orang pasti notis kayak. Anjing nih salah nih ngomongin ini. - Biasanya gue sih. - Iya, biasanya lu. - Iya, batok langgor, jengkup-lenggor, jah. - Iya, ya kan. - Iya, ya. - Tak kalau gak ada yang notis, baru gue yang pergi. - Gue yang nge-lif sendiri lah. - Lu menunjukkan nasihat dan nyaman. - Iya, karena ya maksud gue, seharnya lu paham lah ada teman-lalu nih. - Iya, ada teman lu yang belum gitu loh. Sekolah sekadar kemanannya kayak gimana lu udah gimana perrogeris dulu. Itu makasih wajar maksud gue gitu loh. Cuma lu udah ngebalasnya panjang nih kayak. - Iya, gue projikan gue nge-lif sendiri. Gue nge-lif sendiri kayak gak salah. - Gak salah, tapi gue nge-lif sendiri. - Nah, rasak redan nyamanan itu timbul batak tu ya. - Timbul gak bisa dengan pertanyaan. - Kalau lu lu pernah ada rasak redan nyamanan ditonggerongan, entah lagi bahasa apa. - Lagi nonggerong apa. - Lu lebih terkait kalau bahasannya tentang materi gitu. - Iya, gitu kan. - Karena gini kan, itu kan standar yang gak ada abisnya. - Iya, gak ada abisnya. - Angkontribal lagi, itu gak bisa dientongkan. - Iya, tapi di bahas terus-tursan gitu. Dan itu ngebuat yang jadi kayak bahas yang lain aja. - Iya, iya, iya. - Mengen bahas ke miskinan kan. - Iya, iya, iya. - Mungkin bahas ke miskin dan tertawa. - Iya, udah. - Mungkin bahas ke miskin dan bahas. - Iya, iya. - Iya, iya. - Iya, lu apa, gue biasanya ke sentih. - Masih gue yang kem. - Sama mulu lanci. - Gak gue yang mematir materi gitu. Gua udah malas. Cuma gue penanyan jas kalau rakan yang suka bahas. - Iya, iya. - Yang dia itu sebenarnya pengen cerita pembelan dia ya. Pembelan dia itu pengen cerita. Pengen tahu kerja nurang tuh kayak gimana sih pengalaman dia, kerja disini tuh kayak gimana. Dia gitu gitu. Pembelan dia begitu. Cuma gue nangkapnya kulu kayak rada-rada. Semua ngapak kayak gimana gitu. - Iya, iya. - Gue kayak giri yang gue yang kadang sih yang mungkin gitu ya. Kadang kita yang gini-gini. - Iya, iya. - Kita yang gini. - Cuma bukan ke gue, cuman kesin ke temen gue yang gak bahpengasinan segi. - Iya. - Gue udah cukup aja, cukup tau aja gitu loh. Oh gue progress gue segini, gue kayak gini. - Tapi, tapi kadang gini ya sih kadang, misalnya itu tuh terkantungan disikolah misalnya kita berdua pul. - Iya. - Kita pengen itu. - Itu biasa. - Lebih penempatan gue gitu loh. - Intens gitu. - Enak banget. - Iya. - Gue penempatan gue. - Kalau udah. - Tungkongan gitu. - Ramet, namet. - Lu. - Bas. - Gawaian gue. - Iya, oke. - Gue udah pakein. - Gue api. - Tapi udah ya. - Gue bahas masalah cahaya, bahasalah tokrongan cowai. Kenapa cowotus lo ngabela orang yang sebenernya tuh dia gak minta dibela gitu. Kayak tadi cipu bilang, gue cuma gak enak aja sama temen gue yang pengasinan gak segitu. - Iya. - Seden temen itu gak minta lo. - Minta lo. - Iya. - Tapi itu kan apa cowot tuh tiba gitu ya. - Gak enak gitu loh, gak enak. - Gak enak. - Gak enak tapi kenapa ya? - Itu kayak bonding dari karena lo di temenan lama gak sih. - Kalau gue bisa jadi gitu. - Iya. - Jadi kayak lu tau nih temen lo tuh punya perasaan kayak gimana. - Dari teraut mukanya kayak enak banyak pikiran nih gitu. Lata sih tuh kayak karena lo di sering ngombro kali ya, lo di sering ngombro. - Karena gue juga tiba-tiba kalian kayak suka ngebela sesuat sesuat sesuat. - Iya. - Iya, ya. - Iya, ya. - Karena lo di sering ngombro lah. - Oh, temen lo itu cuma dimdim, dauang. - Iya. - Gue poh. - Kade cuma nimak nih tapi lo tau kayak. - Anjing nih orang nih. - Mungkin gue dia hebi, hebi gue ga lo. - Iya. - Iya. - Iya, kan. - Iya, kan. - Ketemang kan, kan. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Iya. - Garo kenapa ya? - Iya. - Ada jawabannya, ya sih. Gue ga nge-mejau banget. Ada jawabannya yang. Konkretnya kenapa kita selalu nge-bela? - Kenapa lu nge-bela temen lo yang ga lo di-bela sebenarnya? - Karena kalau mau keter-halu, - Iya. - Ini sih, keter-halur. - Iya. - Gak kalau mau ngin-sik, kan? - Iya. - Kadaan tuh ada aja orang yang sebenarnya kaya udah bonding. Tapi gue tau, kan? - Ga ada, bukan ga ada. Tapi gue tau di-bela dini. - Kak, tapi ya, mungkin karena kita bisa. Karena kita ngebayangin dia itu jadi kita. - Iya, mungkin. - Iya, mungkin. - Rili, sekali ya. - Iya. - Untut gue tuh kayak. yang paling penting ya. Anyi kalau gue, kita temen-ten. Misalnya, terus misalnya tak kita ada ketek-ketek misalnya ya. - Misalnya ya. - Iya, kan? Misalnya kita ada ket. Nah, terus, pas misalnya karena, karena misalnya kita ada ket, terus, jadi, nya gue bisa bayangin anjir. Gue ngga pengen temen gue di kandipasi. - Di kandipasi. - Iya. - Kabalikan mas Kipun, maksudnya gue misalnya sekarang lebih hebat dari lu gitu. - Iya, iya. - Iya, iya. - Iya, iya. - Si paling hebat lu. - Kalau gue mikire, egonya itu sih. Coba kan punya ego masing-masing ya. Jadi, kalau gue mikire, anjing ego dia, kasih ya nih temen-temennya pada kayak gini lu, kenain egonya sih temen gue ini. - Ga enak gitu lu. - Gue ga tau kan? - Gue juga merasakan hal yang sama ya. - Iya, kan? - Karena gue juga nge-bela temen gue yang sebenernya gak harus debil. Tapi gue melihat posisi nya bukan kayak sulit dengan cara yang tadi sulit bilang kalau. - Pertanya, pasisnya nge-bela. - Di posisi di banding-sikalah. - Macam gue ga tau ya kenapa tapi kayaknya gue cuma merasakan kayak gue dari kubu yang salah aja. Ketika gue menghubuli, lepas saya buli ya. Ketika gue ngomongin sesuatu yang sebenernya temen gue gak suka gitu misalnya. Gue kayak berasa di kubu yang salah gitu kayak. Kayaknya gue salah milipi hak gitu lu. Gue merasa kayaknya gue harus membeli temen gue gitu. Gue tapi gak tau nih masalah ini kan? Masalah hati ya biasa. - Iya, udah gak tau biasa gitu. - Do feeling, ya udah menyefeeling. Ya sebenernya coh tuh gak men feeling. - Ga, ga. - Iya. - Secara logis gue juga ngangat. Mungkin karena kita tuh kayak ya apa ya, apa ya. Kita tau nih sebenernya sesuatu yang diomongin tuh juga salah gitu. - Iya. - Saya misalnya lagi ngomongin masalah kerjaan nih. Kita, kita main ini role play ya. Batak misalnya lagi gak ga kerjaan nih. Terus kita ngomongin kerjaan pool gitu kan. Masuklah ya, dan segala macam. Terusnya lu bangga, ngobrol-angga, masuklah, masuklah. Macam gue tuh ngerasa mataku. - Kayak. - Diu enak gitu kan. - Sebenerah apa yang gue, gue bisa aja jamin ke obrol-angga misalnya kan. - Iya. - Gue bisa aja jamin ke obrol-angga, gue melepaskan batak. Tapi gue memilih untuk tidak, dan malah ngobrol-angga batak misalnya kayak gitu. - Iya, ya udah. - Itu misalnya cara gue tuh bukan yang kayak tidur. - Iya. - Eh, jangka usah ngomongin kerjaan lah. - Tapi gue lebih ganti tau pik ya. - Gue lebih ngomong kan gak. - Lu, kita tau mana, dan segala macam ya. - Gak kak, gak kak kok. Mungkin ya yang bisa gue ambil, mungkin karena emang kita juga gak intu ke pembincaraannya juga kali. - Mungkin sih. - Apa, apa? - Gak gak intu ke pembahannya, apa, dong apa dong? - Gak masalah itu. Ini kecurangan ya, ya. Lu mau kayak gitu ketemu-nunco loh. Tapi kalau lu mau kepacar lu, salah-salahan. Itu ego aku cargu kayaknya lagi kayak gini-gini sama seperti lu mau ketemu-nunco. Gak kayaknya temen gue capek lu. Tapi lu mau kepahannya tuh kecuala. - Itu pik yang gue ambil, tapi gue juga gak tau harus dibok ke mana, son. - Iya, gue gak mau. - Yang makanya itu dia kenapa CWJ itu. - Bukan sembel. Kalau temen cowok, pacarnya itu sangat ingin cedengan temen-temen cowoknya. Karena emang semuanya balkan itu lo tuh baik banget sama temen-temen cowok lu. Sampai lu dibegoiin mampus. - Gak tuin, gitu ya. - Gue juga dikitin, Jess. - Gue juga dikitin. - Maksudnya, sorry. Bejelas sih, apa jadi? - Kasih minggu. - Kasi minggu. Menurut gue, anehnya apa pun yang kalian tadi omongin, anehnya itu apa? Gimana kan masalah konteksnya, ketika gue punya temen nih. Gue merasa temen gue tuh gak harus dibela, tapi gue ngebela lagi. - Tuh, jadi itu ada rasa tadi lo bilang ego ada rasa. - Terpakan. - Perasaan ketemen lo, temen lagi lo. - Iya. Bahwa, otemen gue kayaknya lagi capek, makanya dia radak keiki itu. Padahal sebenernya untuk kasus yang sama, tapi untuk kecewek lo. Pacar lo, atau bahkan ketemen cewek lo. Lo tuh malah jadi jalanya lahir gitu. - Lo. - Lo gak paham, lo gak menggunakan prasan itu ke kasus yang sama, tapi ke pacar lo. Kalau gue, mikirnya pas lagi kecewek, Jess, ya gue mikirnya. - Jangan lo gis, coak, apa, Indah. - Si. Minual, lu mau gue nih ke temen lo juga pas kan prasahan, ga lo. - Iya, sih, wudah. - Iya, tapi lo sering. - Bungkit, bungkit. - Karena gue sering banget. - Gue sering nih gue belokin, kan maksudnya gue ngapain. - Gak apa, apa yang gue pesaknya ya? - Lu gak pesaknya, bener-bener jauh jauh, gak pesaknya, lu gak pesaknya. - Iya. - Gue udah, gue udah, gue udah, gue udah, selalu waktu lo abis. - Ya, lu lu. Misalnya, misalnya banget, tapi ini, gue banget ini. Ini kayak konteks di kepala gue aja. - Lu gak apa yang sih sama emal sama temen-temen lu gak podcast, sama gue jalan jalan soare susah banget. - Ajir, jeks, bing, but, fix, but, - sebuah jeninya begitu aja. - Gue di gittin, Jess. - Sebuah jeninya begitu, cuman. Abisot ini bakal gue tutup sampai disini lanjut kayak abisot kedua ya. Karena ini kepanyi jangan banget. Tapi abisot do tu masih serubat, karena pada berantem anjing, - dengerin jalan lo bah, abisot doanya. - Terima kasih. [Muah]

Podcast Summary

Key Points:

  1. Diskusi santai di sebuah tempat kopi antara sekelompok teman yang membahas berbagai topik, terutama seputar hubungan asmara dan dinamika pertemanan.
  2. Pembicaraan menyoroti tipe-tipe orang dalam pertemanan, termasuk mereka yang protektif terhadap pasangan dan yang suka "menikung" atau mendekati mantan teman.
  3. Terdapat pengalaman pribadi tentang konflik akibat menjalin hubungan dengan mantan teman, yang menyebabkan jarak dan ketegangan dalam pertemanan.
  4. Peran mediasi teman dalam hubungan asmara seringkali rumit dan bisa berujung pada pengkhianatan atau kesalahpahaman.
  5. Topik perbandingan antara pasangan dan mantan, serta dilema ketika teman menjadi penengah dalam masalah percintaan, menjadi bagian penting dari obrolan.

Summary:

Dalam sebuah obrolan santai di tempat kopi, sekelompok teman mendiskusikan berbagai topik yang berkaitan dengan hubungan asmara dan dinamika pertemanan. Mereka mengamati bahwa dalam setiap kelompok pertemanan, ada tipe-tipe tertentu, seperti orang yang protektif terhadap pasangannya dan selalu ingin pasangannya dikenal oleh teman-temannya, serta tipe yang suka "menikung" atau mendekati mantan teman. Salah satu peserta berbagi pengalaman pahit ketika ia menjalin hubungan dengan mantan teman dekatnya, yang menyebabkan ketegangan dan jarak dalam pertemanan mereka.

Meskipun hubungan itu berakhir, dampaknya masih terasa dan membuatnya lebih berhati-hati dalam memilih pasangan. Mereka juga membahas peran teman sebagai mediator dalam konflik asmara, yang seringkali rumit karena bisa menimbulkan bias atau bahkan pengkhianatan. Dilema muncul ketika seorang teman harus bersikap netral di antara dua pihak yang bertikai.

Selain itu, perbandingan antara pasangan dan mantan sering menjadi sumber konflik, terutama ketika emosi sedang memuncak. Diskusi ini menunjukkan bahwa hubungan asmara dan pertemanan seringkali saling terkait dan bisa menimbulkan situasi yang rumit, membutuhkan kebijaksanaan dan komunikasi yang baik untuk menjaga keharmonisan di antara semua pihak.

FAQs

Topik utamanya adalah tentang masalah percintaan, dinamika pertemanan, dan bagaimana cowok biasanya membahas hal-hal tersebut saat nongkrong.

Tipekal cowok yang dibahas adalah mereka yang suka melindungi pacarnya saat nongkrong, atau sebaliknya, ada yang suka menggoda pacar teman dan mencari mangsa.

Ada yang berprinsip tidak akan menjalin hubungan dengan mantan teman, sementara yang lain menganggapnya bisa dilakukan asal ada komunikasi dan izin terlebih dahulu.

Mediasi adalah ketika seorang teman membantu proses rekonsiliasi atau komunikasi antara dua orang yang putus, namun terkadang ada maksud tersembunyi di belakangnya.

Biasanya dimulai dengan obrolan ringan tentang teman-teman, lalu berkembang ke masalah percintaan, kehidupan sosial, dan cerita-cerita pribadi yang 'never finish'.

Hide and seek merujuk pada konsep tempat kopi yang tersembunyi atau tidak di pinggir jalan, yang sering menjadi konten di TikTok.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.