Go back

Episode Ryan Adriandhy

68m 14s

Episode Ryan Adriandhy

Percakapan ini terutama membahas filosofi dan proses di balik pembuatan film animasi "Jumbo". Pembicara menekankan bahwa animasi adalah medium film yang serius, sehingga dalam produksinya ia menerapkan sistem dan kru layaknya film live-action, termasuk menggunakan editor, sutradara, dan artis film. Tujuannya adalah menciptakan animasi yang berbeda dan berkualitas. Motivasi utama adalah memenuhi kebutuhan hiburan keluarga di Indonesia, dengan menyediakan film yang bisa dinikmati bersama oleh anak-anak dan orang dewasa, mengisi kekosongan tontonan yang sesuai untuk semua usia. Diskusi kemudian beralih ke proyek film berikutnya yang diadaptasi dari novel, bercerita dari sudut pandang seorang anak berusia 6 tahun di Surabaya tahun 1968. Pendekatannya unik: film ini bukan tentang akurasi sejarah, tetapi tentang bagaimana seorang anak memandang dan mengingat dunianya—penuh imajinasi, warna, dan persepsi yang membesar. Kolaborasi dengan musisi untuk lagu tema juga dibahas, yang terinspirasi dari pengalaman personal dan berbentuk doa antar generasi. Terakhir, dibahas tantangan produksi dengan pemain anak-anak, di mana tim berusaha menciptakan suasana nyaman dan seperti bermain agar mereka tidak merasa sedang bekerja.

Transcription

10091 Words, 55003 Characters

Indonesian
[Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] [Muah] - Iya gitu. - Di depok nih mas, nge-kid. - Iya gitu. - Perlukan kembali. - Iya gitu. - Itu sebetulnya abis itu - Riding sama. - Tapi berarti yang kalau misalnya film-an, misalnya orang art, nah kalau beda film-an, biasanya orang artnya, ya itu udah di film-ini, di film-ini. Kalau itu, tuh kan gembars-emua dong, tuh kan gambar. - Mereka apa namanya? - Anemator. - Ada dimator semua dong, bukan orang art film gitu. - Ada ada ada. - Iya. - Nggak, gak mekapin di dunia itu. - Iya. - Di lamin, layar di bedakin. - Nggak, gak mekapin. - Gambar kartunya dacil gitu, entar di yang. - Gak. - Yang gak gitu. - Ya kan, kalau animasi itu kan semuanya yang di dalam film itu harus dibuat. - Ya, kalau film-kini kan lu ngerakam nih. - Iya. - Orangnya aktori ada, sarding-nya ada, - Gak ada. - Itu semua yang harus dibuat. Ya, nah cuma dari awal-awal film-an, itu yang gue, apa ya. Gue mau hon, gitu, memereka ya, kalau lu percaya ini filmnya ke gue, boleh gak animasi ini jangan kayak animasi yang lain. Ternyata, karena menurut gue, animasi tetep film. - Iya. - Mas Gipun dia. - Anemasi. - Makan animasi tapi dia film. - Jadi, boleh gak gue di bantu sama kerunya keru film. - Oh, jadi beneran lu, gak? - Iya, jadi gue minta editornya film penuh disanskripet systemnya kayak film dan pakai art film. - Ada director juga. - Cuman beda, cuma lihat gambar aja. - Bukan yang lihat gambar dan ngebangunya di software. - Oh. - Bukan ngebangunya set gitu. Ngebangunya set itu di software. - Iya, dia-dia-dia di software gitu. - Iya, ya, ada yang ngerjain, ada yang tuh kan gambar ya itu. - Kalo makannya beda ya. - Iya. - Sejumpu ya. - Iya. - Karena tempatnya tuh ada kayak rumah. Udah ada tuh yang jual rumah kartun, ada ada. - Ada-ada aja, kita gak. - Sudah apa, jual rumah kartun? - Ada-ada. Dia ngeri di. - Di pada gambar, di pada gambar. - Di pada toko, ada toko toko toko kartun, ada toko di online, gitu yang udah jual aset. - Oh, oh. - Tiga di aset 3D. - Tidak. - Aset 3D, jadi. - Tidak. - Di rumah, pohon, pohon atau rumah atau bajah atau apa gitu. Tapi. - Tapi gak apain. - Iya makanya, ketika, kan belang-belang tong gitu kan. - Iya. - Style nya, jadi-nya. Jadi kita. - Oh. - Kalau jumbukan harus dibikin yang kerasa satu gitu. - Tadi yang kan di segamba gak apain? - Itu kan murah, jok loh. - Tadi toko. - Itu semua yang gambar ya. - Gak lah. - Lalu gak bisa gambar. - Gak bisa. - Gak bisa. - Gak bisa. - Ini yang gunung. - Iya. - Itu matari, ternanya gitu. - Tadi. - Sawa. - Cuma bisa itu, kan. - Jadi saya itu, kan. - Orang meledak banget. - Gila kali. - Gak, dia bisa, tapi. - Masih tak, tapi ada bagi-bagi ini gitu. - Iya, naya. - Gak bergabis, kan? - Gak bisa. - Gak bisa. - Di baga-gakis satu, gitu. - Gak bisa. - Gak di enggak. - Gak nang, gak nang. - Gak nang. - Gak nang. - Gak nang. - Gak nang. - Gak nang. - Gak nang. - Gak nang. - Cuma, cuma. - Gak nang. - Terus. - Terus. - Gila nih. - Gak nang. - Gimana tadi? - Iya itu apa. - Gak, gue approval aja sih, karena kan Google udah punya bayangannya filmnya kan seperti apa. - Iya, ya. - Emang director lah ya. - Iya, gitu. Jadi udah gue cari kerjasamanya sama sih production designernya itu. - Si timnya lo yang milih-milih juga berarti. - Iya. - Gue milih tim dari seluruh Indonesia, gitu. Gue jalan-jalan nyari studio-studio independent gitu. - Oh, ya. - Ada lulusan SMK juga gitu. - Banyak di studio independent itu di Indonesia. - Banyak banget. - Banyak. - Di dari arah gitu ya. - Di sukar jabu, jabu, jabu, tabila. - Iya, di malang. - Di suarabaya, di jokja. - Kanjuk ada kanjuk. - Bela mesehan aku. - Bela mesehan aku. - Cima hi banyak tuh. - Gak mulai sari. - Kalau kata siapa sih ya? - Ya pertanyaannya tuh apa sih? - Masa orang kanjir. - Iya kanjir. - Kanjur, kanjur. - Kanjur, kanjur. - Maksud buruk baru, kan kanjur. - Yang kanjur, kanjur. - Trenil. - Ada fiap. - Apa apa? - Tak gimakai dia wudah ini. - Iya. - Tapi apa, misalnya lu kan waktu, lu temen sekolah di Amerika ya? - Iya, ya. - Biasi suar, waktu itu. - Kuliahnya, kuliahnya. - Iya, kuliahnya. - Gak gak teka. - Gak gak. - Lebih bagus, kulteknya. - Gak gak gak. - Kuliah S2-2. - Itu memang judusannya. - Anima sih, judusannya, anima sih. Film dan animasi. - Oh, specific. - Banyak, ngulanya. - Banyak. - Walaunya lah. - Gue gak gitu, merupakan 20 lobel. - Dari berbagai negara itu. - Dari berbagai negara. - Dimana yang tempatan? - Rochester, namak kotanya. - Rocha-star. - Dia New York, tapi New York bukan New York. - Bukan New York City, bukan New York Avenger Spider-Man itu New York, atasan dikit. - Ini kayak kau patent gitu. - Kau patent. - Kau patent. - Kau patent. - Oh, umpuk, New York, kan? - Iya, iya. Itu apa dari iberberagain macam negara berarti biasa suar semua itu. - Kalau yang bayar sendiri. Tapi memang kita kumpulan masiswa international. - Kayak itu sitcom class international, tau gak lu? - Ah, kayak gitu. - Oke, itu jadi ada air. - Aferika selatan, ada-ada-ada. - Ada. - Aferika saman, ada. - Oh. - Ada dari India, dari China, dari Indonesia, Philippines. - Dan itu lusana-lusanya. Akhirnya kerja di studio-studio. - Ada yang iya, ada yang bikin sendiri. Jujur sih gue. - Udah gak berubungan sama. - Mereka. - Tapi mereka pasti bangga, ya. Kalau tau, lo bikin. Karena gue dengar lagunya aja penadinya yang nemu orang korea. - Iya, komen rusaan. Karena 18 februari, komen rinta yang serentak di korsal. - Oh, gitu, jujumbo. - Jumbo. - Iya. - Nama mereka yang padanya. Siapa itu itu temen lu yang itu? - Raya, nih. - Raya. - Tidak orang boleh pasti bangga, nih. Raya. - Raya. - Iya, dan gue bilang, nama gue mau ditulisnya bisa. Raya, tapi nama gue rian sebenarnya. - Iya, iya, iya. - Tepaynya bangga, Raya. - Kalau, lalu, lalu sekolah berapa lama? - Tiga stengah. - Tiga stengah tau. - Itu apa aja sih yang dipadarian? - Pagin tau. - Iya. - Paya. - Isebener lebih ke teknisi. - Gambar, nih. - Gambar, ya. Sebener teknis bercerita, teknis ngedirek, gitu. - Oh, jujumbo, gitu, nya. - Iya, beneran semua component kreatifnya, bikin film tuh gimana, gitu. - Oh, jujur emang langsung ke, nih bikin film gitu ya. - Jadi gue pikir tuh belajar gambar gitu, lo, ya. - Gambar kayak biar orang bisa lari. - Ini, galari nih. - Itu ya juga. Itu, karena ada jurosannya ada tiga, supaya penjuruan itu ada tiga, ada dua dimensi, itu kan yang kayak anime, - kayak kartun-kartun, gitu, ada tiga dimensi, ada yang stop motion. - Lo apa? - Gue tuh di. - Oh, tuh di. Cuman terata filmnya yang berhasil teridi. - Iya, iya. - Gue sebenernya gak jago teridi. Gue mengakunya, gue gak mau gak jago teridi. Cuman gue tau banyak orang yang jago teridi dan gue punya visi yang bagus untuk digikin teridi, jadi tinggal ngedairek orang aja gitu. - Karena film gue sebelumnya yang prognosis, gak mau gak mau tanggal. - Iya, iya, iya, iya. - Tahu gak. - Tahu gak. - Tahu di. - Iya, gue gak. - Kasi tau ya, kasi tau ya. - Gue kalo film kartun, gitu, gue gak. - Kartun, kartun, kartun, gue gak. - Gak, gak, gak. - Gak, gak, gak. - Gak, gak, gak. - Maksud gak, gak, gak, gak. - Tunggu, gak. - Anak, gak, gak. - Maksud, gak. - Anak, gak. - Maksud, gak. - Iya, gak, gak. - Lo aja. - Anak, gue gak tau yang tau, pasti dia. - Lo aja tangglet tau. - Kau gue gak tau tangglet? - Iya, gue, anak gue udah menbuah tangglet. - Tungglet, tangglet. - Aduh sih, busing. - Oh tangglet. - Tungglet. - Tungglet. - Tungglet. - Gak, gak. - Gue luat. - Yang lagunya enak sih tangglet. - Anak. - Anak. - Anak. - Anak. - Temanan kita kayak gitu, kayak disini sih. - Iya, kan disini sih. - Iya, mau ya. - Nah, liat tangglet. - Mau apa gak gak enak? - Tungglet. - Tungglet. - Tungglet. - Tungglet. - Iya, Tungglet. - Aho, baca, apa? Baca apa? - Baca apa tadi? - Tangglet. Tangglet, gue. Tangglet. Tangglet. Tangglerang. - Abut tersikata deh, kata. - Iya, gak, gak, gak. - Tangglet nih, nih. Iya, anak gue tuh, kalo anak gue suka banget, film, film, film, film. Animasi gitu gitu, disini, itu di pasir nonton semua tuh. - Dan biasa memang lagu lagunya sih yang bikin mereka pada suka tuh lagu lagu film. - Animasi tuh bagus. - Iya. Dan akhirnya memang lu dari pas jumbo nih bikin, lu akan tau, oke gue akan bikin terus, bahkan, bahkan nasi apa benar belum tau lu ga warah. - Gak, sebenernya lebih kepadak, karena lu dan anak-anak lu dan ada orang diwasa kayak lu nonton sendiri, ada yang anak-anak sendiri. Gue, gue sadar karena jumbo itu gue sadar, angserit keluarga Indonesia butuh iburannya gitu. - Butuh ada film yang keluarga bisa nonton bahwa, karena gue pernah lihat langsung gitu. Kita kan memang film lagi berkembang banget ya. - Dan sekarang jujur gue tuh seneng banget bisa berkontribusi di perfileman Indonesia tuh sekarang. Karena dibandingin 10-15 tahun lalu, kan lu tau lah banyak film yang juga bikin asal-asalan. Sekarang, orang tau kan mana yang dibikin asal, orang ga kan nonton, orang penonton itu udah punya owasa. - Orang gue ngelorin duit, bayar tiket, gue bayar parkir, bayar bensin, kalau gue ke bios ke film yang ga warstit, apa yang, ada yang bisa entah di HP di rumah gitu. - Nah, cuma gue ngeliat ada keluarga ngantri, gue ngeliat nih ada keluarga ngantri tiket. - Bapai bu anak. - Bapai bu anak, anaknya disuruh main keding dong. - Aton disuruh jalan-jalan, ga bisa ikut masuk, karena film yang ga ada semua. - Masih itu jadi ini, bahapa ibu nya nonton titani. - Semilan tu, judong tu. - Jangan ke serbending dong. - Iya, ada yang, arke, apa lagi tuh? - Lalu bending dong. - Di cematan satu. - Kami siar dong. - Yang tinggi tuh, ya, ada yang tinggi tuh. - Ya udah, nah, sebuah jadi kaya ihko jadi gini, atau bahkan ya dia akhirnya dibawa masuk nonton yang retingnya bukan reting dia. - Akhirnya ga gilih sah di dalam, buka iPad, ganggu penonton gitu gitu kan? - Rompet. Rompet. Rompet. - Lu tau pulau, nih. - Ini takutnya. - Bapapa, Bapapa. - Bapapa, Bapapa, Bapapa, Bapapa. - Lu dikirkan musik sekali. - Ini, ini. - Alangnya, Rompet. - Bapapa, main musik sekali. - Tentu ya, karak-karak itu, gue jadi kaya. - Nah, gue tuh kaya berfingiri gini ya, gue sama-sama sama, ga berfingiri gini. - Profil man Indonesia kan butuh Regen Rasi. - Ya. - Ini, ini, becandanya aja ya, misalnya tiba-tiba besok nih semua producer, semua suterada yang kita suka, dan kita tau, tiba-tiba meninggal semua. Misalnya berkita gitu. - Terus, ya, virus, suterada. - Virus, suterada. - Sotit, virus, sotit. - Kenanya suterada, rado. -Sopit. -Tentu untuk buat comedy konsa atau? -Tus ya, apa yang bikin film gitu, maksudnya. -Ya. Semantara, gak ada anak-anak yang bisa masuk ke bioskop, terus kelihat film Indonesia dan "Oh, gue bisa ya gitu." Ahorisnya gue bisa ninta kalau gue udah gede bikin ini, jadi ini gitu. Jadi pengen ngasih itu dan rata pas di jumbo, semuanya. Nonton bahkan bukan anak-anak doang gitu. -Gak ada-gak. -Nampak ku cing. -Ampak cinta. -Yah! -Wah! -Wah! -Wah! -Wah! -Miam! -Miam! -Miam! -Gitu. -Pener. -Persi ku cinya. -Tak ada ku cing mojokan di sosok. -Nah! -Nah! -Gitu kan? -Andi bajokan. -Nah, gak boleh disini. -Nah boleh disini. -Ala! -Mah! -Mah! -Aaah! -Gutin gaum baku disanget itu. -Banyak kan langis. -Gutin cusin bukan. -Bukan. -Nonton dulu. Nonton jumbo. -Banyak. -Pisa nanti yang muteren ini. -Bah apa itu? -Udah gak jatuh kan? -Eya! -Bukan kaca mau, mil jaman dulu. -Mah! -Jangan ngekaran ngajuh kayak gitu. -Dipilam jajonnya aja, jangan. -Ada! -Kuta! -Papa tadi apa itu? -Lalu. -Lalu kayaknya. -Ratin! -Ada, jangan ngobrol aja. -Kaju sakin. -Yau, lu. -Yah kan? -Ya, ubu. -Pubungan anak dan orang tua ya. -Kapa lagi? -Lagunya sih. -Ita kayak menguatkan orang di masa. -Ey, nyanyi anak kecil. -Diriknya dari bapaknya. -Dari bunya. -Taka sama masin bapaknya juga, Andil. -Wapanya Andil. -Dilan nanti aja. -Kalan nanti. -Eya! -Tentang, gue awalnya gak mengaratin pasmati. -Uy, bagus banget ya. -Tak, gue juga gak di bikin lagu. -Tak, libat barang sama, -barang sama Lala Yamanino kan. -Ina list lyric itu Ninno. -Ooo. -Nini cerita personalnya Ninno sih. -Den dia mereka ada pernah cerita juga di Instagramnya sendiri bahwa -Wato di Tawarin Nulis. -Tagabung sama jumbo nulis lagu itu. -Ana apa sebab? -Amen, minum, minum, minum. -Gakul lagi, ngubah ya, ada bioskop diginiin. -Yah nonton kucing. -Tidak tiba-tiba, deh. -Tolong bomb. -Eya, apa gue bomb? -Tolong ada, ada, ada. -Boleh, boleh. -Owala. -Tau, mereng-mereng bomb. -Tapal, mereng-mereng bomb. -Ikoot. -Ninno tuh baru aja kehelangan bapaknya waktu itu. -Ooo, oke. -Pas dia ada nger cerita jumbo, -Nggak lagunya, dia nawarin, -nggak kayak lagu pop ya, -saya jadi bukan first-revers gitu. -Jadi lagunya tuh sejalan doang habis. -Oh, itu gitu ya. -Lagunya gitu, dan lagunya tuh bentuknya -doa dari orang tua ke anak gitu. -Kana dia, -kana dia ngerasa ada doa dari amar humbapannya ke dia, -dan dia pengen sampai ini tuh ke anaknya juga, -ya, gitu list itu. -Iy, bener itu. -Paknesanya bagus banget ya. -Dah itu jadi kolaborasi yang kelopis kali, -sampai ayara, -ya, tidak di buli, memang karya yang baik, -kakirnya mendapatkan hasil yang baik. -Kahat orangnya itu nggak perlu, -tidak perlu gimik apa-apa, -duang mau dungu, -duang gimik apa-apa, -duang. -Gua ambil jadi manusia perunggu. -Bukan silver banget. -Nggak kan silver kan kalau nomor 2, -mas omar satu, -duang menurut sih, -domar 3 sekarang. -Lah, terus, -init akhirnya, -du juga nge. -Tau ini, -lu bikin film lagi. -Begi film lagi, -dengan mau mengisi -pengisi ruang emosional -dengan sama yang gue liat di jumbo kemarin terhibur. -Ya. -Gua pengen mereka, -tau ini bisa kebios ke pelagik gitu, -tapi dengan cerita yang baru gitu. -Ya, ini dia yang di Kau Satu. -Dikau Satu. -Nama. -Tuh, nama anak. -Ini nama anak, -nama karakter utamanya, -nama nama. -Nama nama. -Anak umur 6 tahun, -atnis campuran gitu, -ibunya sabu-nu satu ngerap timur. -Sabu. -Iya. -Ada nama sabur. -Ada nama sabur. -Gakut lagi, -tepanya ke turnan tiang hoa di sorabaya gitu. -Oh. -Di filmnya era 1968, -akhir 6 buluhan, -setingnya di sorabaya gitu. -Dia diada selesai dari novel. -Jet surat banget di dia, -dan saat tahun 1968. -Yang menarik ya, -init ceritanya tuh dari buku Nyapun -itu sudut pandang dia, -nalihadunya. -Dia itu, -nama nama nama. -Dia umur 6 dan kita bisa -nada ngerapan, -pon of you dia, -isik kepala dia, -dia nalihad kejadian, -pris-tewa, -pris-tewa orang diwasa di sekitar dia, -adah yang berantem, -adah yang apa, -adah yang macam-macam, -tapi kan yang liat anak umur 6. -Yah. -Jet ini menarik banget punya -punya imaginasi, -punya kepala osan gitu. -Nah. -Pas gue bacan novel itu terata banyak banget -yang suka dan gue -pas mencari tau, -karena nolis di bureda gaudyamu. -Nama nama. -Tertata pas pandemi itu banyak suka dikiri. -Tertata ada. -Yah. -Yah. -Musikalisasi fisi. -Tertata banyak, -anak-anak sekolah itu yang di suaruh baca ini di sekolahnya. -Oh. -Dah mereka nolis-urat -ke penolisnya ke bureda gitu di balasin satu-satu. -Oh. -Yah gitu. -Nah ada apa kabar? -Baya. -Baya. -Baya. -Korang nolis ini. -Atau dikenal bilang susah. -Yah kanakan apa? -Yah kanakan. -Petan tau. -Kan musik jadi musik gak boleh, -todoh ada mobil mingirur, -Apa itu ya. -Tiang listri kita ganti kayak gitu. -Yah ada satu film yang kayak gitu juga, -jadi tahun 1990 itu aja ada yang ke stolongan, -ada mobil jazz lewatnya gitu. -Kaya gitu-kita konsusur. -Nah ini jadi makanya dunia-nya kita buat. -Kita kita bener-bener buat. -Jadi-jadi. -Gua akhirnya memutuskan karena kita punya karakter nawila -dangan penuh imaginasi dan penuh pandangannya sendiri. -Gua gak bikin film sejarah. -Gua gak nyari ke akuratan sejarah gitu. -Mama Fem, salah kayak. -Oh, kayak film biografi. -Gua gak nyari itu. -Ju teruk, ini jadi gue bukan film anak umur 6 di Surabaya tahun 60 tahun. -Gua bikin film tentang bagaimana Surabaya tahun 60 tahun di lihat anak umur 6. -Oh. -Jadi kersuai lagi di lho, inget kasih waktu nelok kecil ya. -Lho, ada di setiap tempat lo inget sesuatu pas lho udah gede. -Lho cuma bisa lihat itu kan lewat foto. -Yah. -Memori lho kan. -Pas lho lihat di foto, -Yah sih kayak gini ya. -Tapi dulu prasam sih gue gak gini deh. -Yah. -Lepih seru. -Dunia kayaknya gede deh. -Saya kan, saya nge-dung SD gue dulu dunia gue gitu. -Dari UKS sampai apa yang gitu kan. -Bak itu jadi alum nilo dateng kecil-anumnya. -Yah, gitu kar gitu. -Jadi semuanya tuh serba dapat apa ya. -Kacap embesar gitu. -Yang warna semakin warna warni, yang ini semakin ini, -Nagot trit duniannya bilang itu kayak gitu bukan Surabaya seperti Asli. -Aslinya kayak gimana. -Tapi Surabaya yang diingat uila seperti apa. -Rawan tapi ada dong, rawan. -Ada ada, rawan. -Jaw sampai gak ada itu lu. -Ada satanya, rawan. -Ada satanya. -Dah, rawan-rawan. -Kalo gue tim itu gue. -Loh masih pakai rata sih. -Nagot. -Nagot gue setuju, gue setuju. -Gus setuju rawan, pakai to rata sih. -Tua rata sih, rata sih. -Nagot udah, kurupu kurupu udah. -Wajib gitu. -Tenso kurupu kayak di celup kayak ada. -Girupu maksudnya. -Besar ada suaranya. -Ada ada. -Nomah bener-nya, bak. -Nggak enggak ada suar. -Gumah, makan. -Kalupu kalau dikasih kuah, dia ngelip-ngelip itu sebutnya. -Tak, tak, tak, tak, tak. -Ditel, liat. -Getep-getep. -Getep-getep. -Jugah tau. -Nggak dia, iya, iya, doang. -Dia, iya, doang. -Nggak, masih penontonnya tau. -Dah, nilong, oh gue gak perlu detail su detail itu, lah. -Nggak apa-apa gitu ya? -Nggak, josur su detail itu. Tapi gue punya, punya fisi kreatif sendiri gitu. -Ya, ya, ya. Misalnya kayak, kuecucur. Kuecucur di mata wilak kayak apa sih? -Tak, kuecucur lah. -Kana terlalu, karena ternyata, wilak sendiri bukunya itu transpirasi dari masa kecilnya bureda. Jadi, pas bureda sepakat ini gue filmin, gue dikasih liat albumnya, dikasih liat foto-nya gitu-gitu. Orang-orang yang ada dalam ceritanya tuh ada orang aslinya. -Tak, kok, koknya tuh ada orang aslinya. -Adah, ada orang asin. Tapi, maksudnya dari masa kecil bureda, jaman, wilanya sendiri, wilak gitu. -Okey, oke. Itu maksudnya gitu, nah, dia sepasi wilak. -Oh, gitu. -Nah, ini yang menarik, karena lo lalu melihat disernya, dia masuk sekolah dia kasih tau maksudnya diketawain dia. Karena, maksudnya ini nggak umum pada saat itu. -Ampak sekarang gitu, loh. -Tak, terberapa saja. -Jadi, apa lagi? -Apa lagi, apa lagi? -Yap, ngga lagi. -Adah, apa lagi? -Apa lagi, ngga sama, apa lagi? -Tak, tapi film ini pokoknya, ya lo, bayangin aja suitar-dara animasi di suaruh bikin live-action gitu. -Ngga ke bayang sih ya, tapi. -Mulai trailernya. -Obelom. -Ya, belum niatnya. -Dia pas mulai trailer, dia bilang selamat datang di dunia. -Eh, no, udah, udah. -Udah, udah, udah, udah, udah. -Udah, udah, udah. -Cemang gue lupa. -Lupa. -Tapi udah liat, udah liat gue. -Yah, gitu. -Nah, kan, nih, nih ada, ada dua milut gue sih perioda itu, sama lo kan berarti pemain lo anak kecil. -Yah, dempat orang. -Tabik kan banyak lagi, temen-temen takalik. -Yah, empat orang. -Tus, sisanya temen-temen sekolanya, ekstrasnya. -Yah, betul. -Ada berapa, anak kecil? -Tota, antutan. -O, mutat kan itu. -Kalo suiting itu susah banget, -Anak kecil ya. -Anak kecil, kan? -Mutnya, mungkin ini, -Tus kan, kadang, gimana ngasih tahunnya gitu. -Nasih lu gimana ya? awal dari mulai produksi kita satu tim produksi sebabkan pokoknya suiting ini harus senyaman mungkin buat mereka dan mereka nggak kerasa kerja mereka kerasa kayak main dan keru ini semua harus jadi temen puluh, oke ya masalah nggak pada cadar di kamiran, pada cadar "Alo, mau makan tayulnya gak?" "Nggak juga gak juga aja, gak aja aja, udah gitu gitu" tapi ya bener, kita di produksi itu gari ngerokok oke ya, kita sediain waktu setengah jam buat tidursi yang oh iya, nggak pernah kan lu produksi, film kan tidursi yang - Tempatnya sudah tempat ya? - Kamu meramin di depan. - Kami tidak ingin kan? - Orang turmen liat. - Orang memakai. Orang. - Hei, mereka memakai, mereka memakai, mereka memakai. - Memakai nggak nih? - Hei, mereka memakai. Orang lain tinggalkan, Pak. Gini. - Harus tengah jam. Dan itu semua, gue. - Kamu selesai. Sampai kru, sampai kasi. - Loh? - Itu juga. - Sama, sama. - Oh iya. - Dan abis itu sama producer ruang telannya di sulap jadi. - Burung. - Burung. - Sulap di burung di haram, Pak. - Terlalu, atar- atar, sulap di tipi, Pak. - Jadi pre-igral, jadi pre-igral. - Oh iya. - Iya, jadi kasih, dikasih yang proses, tak emko lembola gitu-gitu. - Enak amat. - Itu jempa yang ke rumahnya tuh, Pak. - Mata indai kelembali. - Kru, enak, temat itu. Di pokoknya dari awal kita ngajak temenan aja. Dan untungnya mereka profesional sih. - Karena-kana itu profesional banget gitu. - Dan mereka tuh kan kita punya editor on location. - Iya. - Jadi setiap ada gambar yang udah di langsung sampai. - Jadi draft bikin editing kan. Jadi mereka bisa lihat anak-anak itu lihat. Jadi mereka paham mereka tuh acting buat bikin adegan apa gitu. Dan kadang-kadang mereka pinter gitu kayak. - Aru aku jawabnya ke cepitannya om ya. - Itu. - Mau deh tek lagi gitu. - Oh gitu. Pinter pinter. Pinter, bisa ngafal skri, pengerti. - Yang ternyata lu lihat sederih. - Oh, ini kayaknya. Kita ulang aja di awal nih. - Semua produk sih ini om nih. - Eh bener. - Bener, tak? Eh memain nawila. - Itu kan pemain satu lagi. - Namak karakternya Farida temannya. - Iya. - Dia gue gak tau ya IQnya berapa. Jadi dia ngafalin di alok dia. Tapi dia afal di aloknya Farida juga satu film. - Oh, oke. - Terus dia bilang gitu. Om bole gak shootingnya ngulang lagi. Tapi kali ini aku jadi Farida. Jadi mau bikin satu film yang ngulang tapi dia gak dipemuhin. - Oh dia kan di antih ini. - Iya. - Terus seluruh jawabnya gimana? - Yang gala. Yang udah lah ya lu. - Mbak ngekasin lo gana-gana. - Gak kan lo lo gana-gana. - Kau boleh gak kumul nih. Tapi aku jadi Farida. - Lepang nganak kecil ya. - Tapi jangan kecil. - Ya, jika aku habis aja kayak. - Jangan gila, lelih. - Di bang ke lu baik-baik kamu. - Halo. - Jadi kalau sederih apa sih yang nabila ini? Dia menceritakan ada satu anak umurn 6 tahun hidup di sebuah gang di Surabaya. Dan dia ngerasa duniannya udah sempurna. Dia gak tau bahwa hidup itu akan berubah di pala dia. - Setiap hari akan gini terus. - Iya, iya. Gue akan ikut ma-gua kepasar dikasih minum soda jeruk gratis sama ada cici. - Di situ, namanya cimin. - Iya. Gue akan main sama 3 sahabat gue, dulu Farida sama but. Gak kan ada yang berubah hidup akan selamanya begini. - Salah doktor. - Oke. - Salah doktor. - Sampai tiba-tiba suatu hari. Sahabatnya kenal kecil akan gitu. Karena ganya itu pinggir real kretah. - Oh, keselebat kretah. - Kerebat kretah. Sahabat kretah dia diopnama berkolah satu temennya. Terus temen yang dua lagi di sekolahin. - Jidah. - Dengar di sekolahin aja di sekolahin karena. - Namun dia gak sekolahin nih? - Dia gak sekolah. - Oke, itu. - Oh, gak sekolah. Awalnya yang sekolah duluan itu yang keserembat kretah. Namanya si dul. - Oh. - Anak betawi. - Anak betawi. - Anak betawi. - Matalo udah gira kewakum. - Itu yang sekolahin. - Iya. - Iya. - Siutat lah sekolah. - Iya. - Iya, maksudnya. - Iya, maksudnya. - Jidah, sekolah duluan. - Iya. - Jadi juga gue buruh nyandar lagi. - Iya, maksudnya. - Nah, terus. Tapi dia gak bisa baca si dul itu. - Dan sekolah gak bisa baca. - Iya, jadi kayak lebih lama dari temen-temenin lah. Jadi, kenal kecelakan itu kan gak bisa baca rambu. - Oh. - Kanak, era. - Awas ada. - Sula. - Ada bapak. - Oke. - Awas ada sulet. - Gap apa-apa pun? Bapaknya kreatak. - Iya. - Waduh. - Waduh. - Awas. - Ada, ada. - Nah. - Ada sinopsis, ya. Ada sinopsis, ya. Ayah, dia kesepian, karena temen yang dua lagi di surusnya. - Iya. - Di sendiri tadi. - Di pernumpah. - Di sendiri. - Itu, yaudah. Ayah, dia untuk supaya di qualah dia. Yaudah, supaya. Kembali seperti semula, rutinitas gue, gue sekolah juga deh. - Ayah, namanya sekolah karena. - Ya, masalah. - Dan terata sekolah itu tidak seperti yang dia bayangkan. - Sorry, sorry. Yand, sorry. Sampai sini. - Kami merahkan nggak sekolah karena ekonomika kondisinya atau apa? - Karena masih kecil, belum harus. - Yaman itu, ya. Jaman itu. - Bela mau ada wajib belajar. - Oh. - Kau ada sekolah kalau mau aja. - Gede deh lu. - Dan apa kayak nggak ada paut gitu-gitu ya? - Ada, nggak ada. - Oh. - Jadi emang mungkin naksongnya senak. - Kalau mau sukur, nggak mau yaudah gitu. Jadi gitu sekolah, jangan mau gitu. - Dan ibunya wilasi, namanya emangnya wilai ini, ngga jarin wilai baca dan nulis di rumah. Jadi dia ngerasa nggak apa-apa nana gue sekolah udah gue agar. - Jika. - Lian ngomong ada dialog lia lo juga. Datang pagi cuma buat nanyi-nanyi. Nggak apain gitu. Ada dialog itu dari ibunya gitu. - Iya. - Nah, tapi akhirnya, akhirnya intinya dia sekolah. Terata dunia sekolah tidak seperti bayangan. Dia bayangkan sama di rumah gitu. Ada perturlan, ada apa, ada apa. - Ada naksonaka. - Ya. - Gede, lem. Ini nye dikasih lem. - Bisa lem. - Serina, waktu itu ada temennya dia taruh dia kesemari ya. Dia kesemari. - Ada, ada. - Gitu. - Sadam namanya temennya. - Dan tapi, tapi cerita ini kita persumbakan lewat cara pandang anak-anak. - Iya, iya. - Nah itu cuma lo yang bisa sih ya. - Gue nggak. - Masasih. - Iya, iya. - Denger ya. - Tuh. - Tumat. - Tumat tuh gimana? - Nggak apa. - Tumat. - Tumat. - Iya. - Sembu ga itu yang ketamera kretanya. - Seperti kretanya itu diapa itu. Masih ini saya tuh dihukup, dihukup ga ya. - Itu kan dia. - Karena pasal perlapis ya. - Pasal itu aja lanai terus kan ya. - Ini kan dia bersahal itu. - Ini gini. - Ini gini. Ini kan yang nonton pasti ada yang belum baca bukunya. - Iya. - Dan luar nggak apa. - Ada yang ngebaj. Indinya gede, ternyata tanpa di duga. - Engga apa lu? - Tahu udah ga setiap. - Tampah di duga. - Ada. - Ada yang nonton. - Ada lagunya. - Ada lagunya di film ini yang tereta. Jadi gini. Kan film ini adalah penggambaran prasaan prasaan nawila, prasaan anak-anak dan sudut pandang mereka. - Iya. - Ada satu moment yang hanya bisa disampaikan nawila lewat nyanyi. - Iya. - Itu erden nyanyi. - Ini betul begini lagi. - Amal Ali ilmaninu lagi. - Wah, ini lagunya pasti enak lagi. - Ini. - Nawila. Kamu ternyata senar nada. - Iya. - Kamu. - Teman ditabrak ke retar. Yang dua lagi saya kola. - Dulbut Farida. - Kua saam, ya. - Juga pak dan ma. - Aku baca di rumah dia. - Kopi resign. - Estes berhasil. Estes tapenas. - Naboya, nasi goren korang kaya. - Bami malah dinamika. - Kis gor berulain yang matang. - Berapa hari? - 26. - 26 hari. - Sebulan. - Lu, gue lihat terakhir nangis. - Iya, iya. - Kan setan nih film kedua juga sebenarnya. - Oke. - Gue tidak menyangka, yang apa lagi? - Gue tidak menyangka hasilnya sebagus itu. - Oh. - Gue suka ngomongnya. - Gue yang lebih banget. - Gue, gue dapat diopenya di su Gandhi yang bikin petongan Syirina yang bikin laskat pelangi. Yang sebenarnya bikin gue kaya, "Oh, film anak bisa bagus di Indonesia, kan dua film itu." - Iya. - Dan gue, gue, gue, happy banget, payadi terima kasih. Gue jadi kolaborasi yang payadi su Gandhi. Terus artnya, amat antarini handa-handa, terus saun yang bawa, terus, gue pokoknya semua deh kaya gue dapat avenjur segitu. - Iya orang-orangnya tidak. - Dan, dan, dapet aktor-aktor yang juga kolaboratif banget gitu. - Gue nangis karena gue tuh takut. Karena, lu bayangin, film pertama gue 5 tahun. Di batik-batik kasih film kedua 5 bulan. - Engcious gue kaya. Gue akan punya banyak waktu ga ya buat revisi, buat apa gitu. Semuanya, kalau animasikan bisa gue, "Oh takutik." - Iya, bisa gue takutik, ampai per frame bahkan, disini dia nge-dip, disini dia nge-dip, disini dia nge-dip apain gitu. Kalau gini kan gue harus, kejar kejalan nomatahari, lo tau ga, kejalan nomatahari, nah gue udah tuh kan banyak main di luar, autor, anak-anak gitu kan main klare-k main layang kan, gitu gimana kalau, cewa-cewa segala macem. - Belum ekstrasnya kan ada, ya, itu udah ngeliat disini lagi gitu. - Jangan ekstrasnya gue jujur aja. Si anak itu sering banget lelak kamera. - Oh iya. - Ya, ini tak aduh, mata ya. - Ula, ya, kemudian lihat kamera yang saya yang. Kamu lagi apa, Nabilah? [Gelkira lalu] [Gelkira lalu] Kamu kenapa? Nabilah! Situ dia tak berkredit! [Gelkira lalu] Oh! Sendi ya! [Gelkira lalu] Aintiknya kau perbezaan! [Gelkira lalu] - Ya namanya nggak sengat ya? - Ya, itu kan Reflegg! - Motio, judulnya gue, ya. - Motio, mau minit sikit keras. - Motio, boleh. Sikit kalu Isomuni. - Pempatnya jawa. - Iya. - Oh. - Sikit kalu kalu kalu tau itu kaki ku? Isomuni, Isomuni. - Isomuni itu luang. - Mani! - Mani! - Moni itu bunyi. - Kaki ku bisa bunyi? Jadi, jadi idea sih, idul. - Anak betah, isu ga? - Awet! - Kata bunyinya beda, menikmati bunyinya. - Awet! Awet! Awet! - Bunyinya ada makanya tinggi. - Semuanya sih ya. - Awet! - Ya, ya, ya. - Lakinnya judulnya, sih keisah-moni yang terhadap dul. Kaki nya, oh kaki nya kata berak, jadi bisa bunyi. - Oh. - Ada dia, ada dia. - Kaki nya di kanti ya. - Iya. - Oka hormonika, jadi. - Iya. - Mani! - Mani! - Gitu! - Gitu! - Mani! - Mani! Terlalu manis ya, awalan terlalu manis. - Kakas leng. - Terlalu manis. - Oke, hormonika. - Aduh caffek. - Dan dia dong, dan dan apa itu, dong. - Nah, ya, untuk nyari karakternya. - Si Nauila ini udah ada di kebayangan pala lu. - Osi ini nih yang tepat, apalun, - Iya, ya. - Pertanyaan itu nyari. - Ya, kanak itu. - Gak, kesting. - Kesting. - Susah nggak? Maksud gue lama nggak dapetnya? - Alhamdulillah nggak. - Gak, ya. - Gue nyari yang bisa baca, bisa dengerin direkshin, terus ngatak put sama binatang. Karena Nauila tuh punya ayam. - Mereka yang dia berani ga berinteraksi emai, maksudnya dan sih. - Pembarangan, namanya siapa yang nama? - Luisa Adreno. - Itu mudah apa? - Nam. - Oh susuan nam. - Iya, jadi lahirin pas COVID. - Oh, ya, susu rata kuah. - Iya. - Oh, nanggul, nama. - Iya, nam. - Kalau mau di nanggirin dua. - Maksud gue, boleh, kan. - Kesting. - Tapi kebayangan baca. - Sampit, bisa sempurna. - Sampit, kenapa kretanya bisa kretanya. - Kretanya bisa. - Ketahper kretanya. - Gosa yang nganan, eh. - Lu udah itu aja. - Tapi ga kenapa gue tawar yang gitu. Karena kemarin kita pereskol udah ga bilang. Ini film Nauila pertama ini pembukaan. - Tapi mau ada Dinofelad yang kedua juga? - Mereka lebih 3. - Lapa seorangnya gini, ganti nabila. - Yang ga ganti dong. - Kan gue cuma hawar yang anak lu itu teman, bukan Dinofelad. - Oh iya, yang berlaku. - Mereka pernah kretanya tadi ya. - Iya. - Yang kedua mikrolet. - Ada yang tawar yang kedua, Nauila End The Chamber of Secret. - Repot. - Jadi nombi. - Jadi film pertama ini pembuka dari dunia Nauila yang lebih besar. - Oh kretanya. - Tapi lu apa sih yang yang membuat lu kayak akhirnya masuk banget ke dunia anak-anak? Gue tau lu tuh suka, jaman dulu tuh, deh suduh suka animasi. Ini kan, ini tentanya yang pohasa. Gue inget salah satu terita lu. Lu jom waktu masih kecil. Lu pernah nih cab bulan pohasa. Dia mulai jam 4 atau 5 gitu nonton Toy Story. Pokoknya jadi ngepasin sampai. - Beduk. - Beduk. - Itu dia apa hari sebuah ngefilmnya? - Di ngefilme. - Ngefilme sebuah ngefilmnya. - Sama filmnya sama? - Filmnya sama. - Toy Story 2. - Toy Story 2. - Difici di. Karena gue gak tau carang mau buri yang lain, atau itu kan kayak gitu lah ngefil atau mendulu. - Mohan susu. - Gue biar supaya. - Nah gue moktor atau. - Nonton tuh sama 30 hari gitu. - Nah sekarang kalo lo mau gue ceritain gue bisa nge-1 film nih. - Tak kedua ya. - Poverotnya mana? - Nge-2. - Nah ini kan ada yang kempat ada yang kelima. - Iya. - Lu happy gak? - Monod gue sih berenti di 3 ya. - Iya, ya. - Di 3 tuh udah klima. - Di 3 tuh yang. - Ananya kali ini. - Ananya di kuliah. - Ananya lu dikasih kok nih. - Iya. - Oyesi itu udah. - Iya. - Udah terakhir sih. - Empat tuh setadinya gue kayak gak pernah lah. Tapi terlata pas bikin bagus. - 4 lozo ya. - Di galozo. - Di galozo. - Empat yang bisa di. - Bitar manri ya gitu. - Oh, ya. - Yang sendok ya. - Yang sendok ya. - Dalimah. - Tunggu. - Gak tau lu ngelusah. - Iya. - Luka aja udah banyak. - Nah lu. Gue pikir tadinya tuh hanya. Oh nih ya, biasa orang dewasa. Tapi emang suka. - Suka apa? - Anasi kayak gitu gitu. Tapi itu nato lu. Beneran intu banget ke dunia anak-anak lagi tuh ya. - Mungkin karena. Gue kayaknya gak sepenuhnya pernah. Gue pernah dewasa deh gue. Gue kayak masih ada juga. - Gak anak-anak itu masih terjaga gitu. Mungkinnya lebih anak kecil kita tau ya. - Gue pertilinan. - Ya, ya. - Ayo, gue pertilinan. - Ayo, gue lihat. - Pakecita. - Anak kecil. Lama deh waktu ya. - Lu kan lu bener. - Iya. - Nampak lu aja. - Nampak. - Kata pen. - Kata pen. Homo, dengerin orang di Potonghulu. Gak ada isinya. - Itu nak kecil. - Iya, gue tuh kayak pengen aja bikin. Gue bayang bikin film-film. Kayak yang dulu gue nik matin waktu kecil gitu. Yang bikin gue. - Rekol. - Iya, yang bikin. Karena gini dulu aja ada film kayak gitu. Gue jadi pengen bikin film, kan? - Iya. - Gitu. Nagup pengen aja film Indonesia nanti ada juga dari 10 juta yang nonton jumbo. Ada yang satu yang. - Lu juga menjadi animator, ah. - Iya. Gue pengen jadi aktor, ah gitu. Nah itu. Apaya menurut gue, itu ada regenerasi tadi. Perlu ada nanti aktor aktor raktor baru, suter darbaru, producer baru. Gitu kan. Mereka harus. Harus juga terpapar film Indonesia yang baik gitu. - Iya, ya. - Kalau anda masih kan salah satu favorit lu, tolong sorry, Batih. - Iya. - Kalau yang. - Apa kita jibutnya? - Laksa action. - Nah, naka. - Sil apa? Kalau film yang gue suka. - Bungat. - Erbat. - Iya, itu gitu, supaya. - Nonton juga gue. - Erbat. Luci ya, gue nonton main basket, kan? Gue suka padingten, gue suka. - Oh padingten. - Si beruang itu, ya. Tinggal sama keluarga itu, tuh bachuk bagus. - Ah, ya, ya. - Ini jadi. - Si Nabilah ini akan tayang. - Lebaran. Lebaran. Dan menjadi gue berharap menjadi perayaan terbesar buat keluarga. - Iya, bareng-barang, liya. - Nggak, tapi ini kan. - Lebarannya, karena gue suka ini, jatah ngal berapa, tepatnya. - Iya, kalau kita ngomong lebar ini, antar. - Iya. - Lebarannya ngapain. - Apa pun ngeran ngomong lebaran? - Punggannya lebaran itu tayang apa, ga dong? - Gak jadi nunggu sih, dan is bat. - Iya. - Bapanya udah stand by gini. - Puter, kan? - Puter, kan? - Gini, gini, gini. - Karena teman-teman ini kita. - Tentang. - Eh, terserai. - Iya, besok, Lebarannya. - Iya. - Dulu. - Ha. - Tentang, teman-teman ini kita tepingnya. - Sebelum benar, puasa. - Iya, kan? - Nah, sampai saat ini kita masih ada yang. - Dan tau, ada yang kami. - Ada yang kami. - Aby sekarang ini, puasa aja belum tau. - Iya, ya. - Bermetau, gua tepang. - Iya, ya. - Oke, udah kecil. - Kalau ga besok, lu saja. - Puasa aja, eh, kalau ga lu saja, abis besok, kan? - Iya, ya. - Iya, tak ngapain. - Tah, ya, tah. - Ah, baharat. - Punggannya lebaran, film lebaran, gue ga tau, ya mungkin. - Mungkin bisa diatur, tarang kalian, adi, sesuai pas lebaran kapan. - Kanya lah, 18-18, deh. - Kapan 18-18? - Tapan 18-18. - Tapi pasti kan kalau kayak gitu, gala nya sebelumnya dong. - Iya. - Seminggu, sebelumnya pas ya ada special screening apa gitu-gitu. - Kita diunah dulu. - Diunah, buat ya. - Tapi pakai, pakai pakeyannya yang paling anak kecil ya. - Banyak. - Banyak. - Anak hashtagnya jadi anak-anak. - Ihh, nampang, aja. - Iya, apa, kan? - Dudet, apa hari, mungkin. - Ga dikamp suar, gamparnya. - Gak terpake bagi. - Karena anak-anak yang belum balik kan belum mau jip sola, kan lu udah kayak gitu, kan lu gak sola, jadi udah. - Gak terpake, deh. - Di-di-di. - Itu terlalu kenal, kayaknya, walaupun. - Jadi hashtagnya itu, hashtagnya. - hashtagnya jadi anak-anak. - Jadi anak-anak. - Ya, karena banyak orang yang udah lupa, gimana, terpaksa sama. - Apa, jiwa anak-anakannya, ya, ya? - Haire lupa bahagia. - Ihh, tu, lu, lu, ngerasnya. - Orang biar jadi gampang muruh, gampang marah, karena gak terkoneksi sama, - kekana-kanakannya, di ya. - Terenuh, yaan. - Terenuh, yaan. - Apa contohnya? Yang, mesti ta harusnya lu jadi anak-anak. - Lu masih waktu kecil, gak terlalu mikirin orang mikir apa deh? - Iya, sih. - Iya kan. - Jadi lu punya rasa ingin tau tuh gak ketahan opini orang. - Gue mau belajar ini, ah, ngeron orang bilang apa ya? - Iya. - Gue pengen nyobak, karin baru, ah, tar keluarga gue bilang apa itu kan orang diwasa banget gitu. - Penuh ketakutan gitu, itu sih. - Oh, benar deh ga? - Jadinya memang kita harus, bati kita bener lah. - Iya, bener. - Karena anak kecil, gampang di bikin bahagia, gak perlu ribet, apa, sama hal-hal, nah itu, karena itu, kalau ini, kalau ini gak anak kecil bukan nih. Kita, dapet uang nih, apa uang. Karena kalau yang orang diwasa mungkin, - Infestasi, bikin studio. - Iya, misalnya. - Bili alat. - Jangan jalan. - Iya, itu. - Itu anak kecil, ya. - Akhirnya. - Akhirnya, anak kecil banget, ya. - Iya, itu kan, anak kecil. - Harusnya kan lu. - Iya. - Lu nya teke deh. - Tabung gitu ya. - Iya, infest, apa. - Itu anak kecil ya. - Iya kecil, enak kecil. - Jadi, nah, wila ya, teman-teman nih ya, sudah akan tayang di bulas kop ya. Di hari, lebaran ya. - Iya, lebaran. - Kayaknya, lah pambelas, maharat kayaknya ya. - Iya, kita harus kita harus kita lah pambel. - Mantak viran. - Nah, ini kayaknya bakal manjang lagi nih kayak jumbo nih. - Amin. - Amin, namin, namin. - Kan, biasanya kita nonton sama keluarga lu, nonton-nonton. - Karena nih bisa buat, itu buat kita anak-kana ke dalam diri kita. - Iya. - Waktu sih jumbo yang paling lu kayak, kayak, anjir mereka bikin nobar, ada gak? - Siapa anak dimana? - Itu yang di prokertanya, waktunya 40 angkot. - 40 angkot. - Mereka bayar 40 angkot itu kayak stand. - Anaknya berhent 40. - Anaknya 40. - Satang kata anak. Susama kan setelah kan tienen kamu Samah ini aku jaudah tidak had Notes Adakah aku ya tersendakan ke Ing Un ак Apa itu di depan pun? Sayang kondahun Agak juga Sepération Karena lagunya sih bukan cuma airnya kan proven kan di korea pun - Buding lagunya kan - Anak kecil, kan? Iya, terharu banget gue - Uah lucu-luucu lagi - Iya Dan kayaknya udah tercapet ya, yang saya lebih pengen bikin anak-anak yang nisah pengen jadi bikin jadi animato, atau pesekal sama macam - Pasir udah ada yang ngomong - Perti udah ya, beneran jadi gue ya - Enghan dong - Bener-bener cepai - Kan yang baru lahir - Atau, atau bapai punya masyarakat yang bilangnya Kayak masyarakat bisa gak jadi nasi gitu, ada yang gitu gak? Gak, gak, adanya, adanya bang, saya boleh gak wancar, bang Banyak banget yang saya skripsi ngak cumpu gitu - Oh - Saya skripsi bikin menurutnya cumpu Sama ada yang cuma ngasih terima kasih bang Saya bertahun tahun dari awal masuk SMA Susah banget nganyakin yang orang tua saya mau kuliah animasi Tapi begitu ngeliat cumpu, mereka ngerti gitu Oh ini yang mau anak gue kuliahin gitu Karena anaknya bilang ke orang tua aja, "Mah saya mau bikin cumpu dua" - Yee-eh, kemarian. - Ya, kalau itu saya mau bikin sten, jumbo. - Sten, jumbo. - Ah, menurutlah orang anak yang sekarang mantan, - yang masih muda sampai yang jadi kello harusnya kalau kuliah ke luar Amerika. - Engga-engga. Tapi di sini, amat ada sekolahnya, banyak. Itu ikajik bagus. - Ada di animasi gitu? - Oh, animasi kalau film ya. Animasi banyak. Ya, ini ini. Intinya jangan terpaku sama software atau equipment. Orang itu kadang, gini, saya jumbo tuh ya, ngobrol-ngobrol gitu ke pebicara ke sekolah-sekolah. Yang ditanya gitu, software, bahwa komputernya berapa sih ini-nya gitu-gitu. Inditanya tuh alatnya gitu. Padahal bukan itu, - karena kemampuan berceritanya harus dilati. - Hmm. Lu mau bikin pake apa pun kalau kamu mau berceritanya kurang ya, filmnya nggak bagus juga gitu. Tapi kalau dibalik ya, kalau ceritanya bagus tapi nggak mari jelik. Toh istori satu kan gitu. - Menterutlah jelik itu? - Lu nonton lagi deh. Gampere, sekarang lu nonton lagi atau ceritanya? Gampere lebih jelik dari PS1. - Oh ya ya. - Dan berceritanya, karena karakternya masih, - detuntah sekarang tuh masih kayak oh ya gitu. - Tapi nggak mari jauh banget, - emang nggak mau gampere sekarang. - Jauh banget ya. Karena kayaknya jujur ya, gue jaman kecil tuh suka bikin apa. - Awet jago gampere. - Kan menestik gue nih deh. - Gua tau dia jago gampere. - Awet gampere apa jago? - Gak bagus tapi ya. - Iya. - Gak bagus, lu ya. - Bisa gak baru. - Gue, gue, gue, apaan di, gue, apaan. Semarin atah, kayak gue itu. Nah tapi bikin untuk gerak tuh, ngangerti tuh. Kayak gimana ya biar kan dikituin ya. - Iya, dikituin. - Iya, dikituin. - Iya. - Banyak observasi sih liat video-video, orang jalan tuh gimana sih. Karena kalau jalan kita tau layan, misalnya kaki-kaki kiri gitu. Tapi semua orang tuh nggak ada yang jalan-jalan sama. Satu orang pun nggak ada yang jalan-jalan sama. Lalu, media beda jalan nih. - Oh ya. - Dan kadang-kadang gini. Misalnya kayak anak-anak kuliah animasi ya. - Gue mau mau mau manin, gue nampak sih. - Iya. Lu kerbasis sekarang lagi belajar. Cara bikin, nyambutnya adalah wak cycle. Cyklus jalan gitu. Tapi kalau lu cuma belajarin itu lu nggak kan jadi pencerita. Karena kalau misalnya gue bilang, orang ini jalan karena dia kebelet pipis, orang ini jalan karena dia baru terima telefon istrinya kecelakan. Itu beda jalan. Ada orang yang jalan terpaksa, dia pasti pengen tidur tapi harus ngangkat keel-for. Jalannya beda lagi gitu. Jadi jangan menganimasikan gerat, tapi animasikan cerita. - Oh. - Jadi. - Waya kan, maksudnya kayak. - Iya, iya. - Jangan, gue bisa nganimasikan orang lompat nggak ceritanya apa? Dia lompat kenapa? Maka yang lu animasikan itu nyah gitu. - Oh, kan, liey. - Biri do, biar hidup. - Kenapa, tiba. - Kalau sih, gue pengen anak gue belajar. - Gak ya, lu kan dapet biasa suat. Itu susah nggak taranya gimana. - Tengok gue biasa. Setuatu karena ngurut gue karena gue terlibat aktif di stand up sih. Jadi misalnya non-formal itu keisi gitu. Jadi pasasnya, ngurut gue ya. - Emal lu bilang gue senap ngomong median? - Iya. - Gue bilang gue. - Founder gitu gitu. - Oh iya. - Kan ditanya resumai kan? Dan ditanya pas memancar hitakan mimpi gue, jadi bisa punya struktur karena kita nulis kan, - Nulis gitu. - Jadi pas di interview enak gitu. - Tapi ada interviewnya lagi. - Ada ada interviewnya lagi. - Kenapa gue harus bayarin lu sekolah gitu. - Iya kenapa nggak apa? - Iya gitu. - Maksud makin lu ngapannya. - Iya, wendir. - Maksud makin dikitu, ngapuh lu apa gitu. - Iya juga sih ya. - Pakirnya. - Iya. - Gapu ngomong ya deh. - Pakirnya gaapu ngomong. - Berarti yang. - Gak gue bilang nih. - Waktu interview gue bilang, saya dari Indonesia. Indonesia itu budaya berceritanya kuat banget gue bilang. Orang nongkrong itu cerita. Lu tuh bisa dake sama orang karena apa? - Nongkrong. - Gue berulakan cerit juga gitu. 7-11 bangkrut kenapa? - Cerita. - Karena orang cuma beri satu plasi. - Yang ngok-engok. - Plasi, berapa ya? - Plasi. - Plasi. - Yang kan namanya kok nih itu sih dulu nih. - Plasi. - Selamat pagi. - Selamat pagi. - Lu tau ga? On panji penangan setelah kita kan. Bangkrutnya 7-11 masuk majalah. Time diliput salah satu yang mengkontribusi kan itu di Indonesia. Karena cuma di Indonesia si 7-11 tuh keluar dari konsep awalnya. konsep awalnya ditukan grep-engku. - Lu beli lu cabu. - Tabu. - Ga ada yang nongkrong. - Iya. - Jadi cuma Indonesia yang 7-11 ada meja, ada kursi. Airea orang beli satu serpi yang nongkrong 10 orang. - Iya, iya. - Rugi mereka. - Ya, muter gitu. - Iya, ya. Airea ga, revinyunya para lagi itu. - Iya, iya. - Nah, i gue bilang gitu bahwa kayak kita tuh banyak banget. Batik aja cerita. Candi ada rilif kan. - Iya. - Itu cerita. Gue bilang gitu. Lu tau lagian dacan di perambanan gitu. Itu kan bando-bando wasso pengen nih kehin nerojung. Nerojung, nerojung, nero minta Candi. Minta Candi doang lo. Dia nelah minta Candi pakai rilif. - Iya, iya, iya. - Si Anjin nih, dia ngeri rilif kan dia. - Iya, iya. - Dua epost tuh. - Iya, iya. - Candi ngeri rilif. - Oh iya di pengek ini, iya. - Berarti kan? Berarti kan? Monek hain cewet secantik rojo-rojo berangaja masih pengen cerita gitu. Ya orang Indonesia tuh suka banget cerita ngelot gue. Nego bilang, sayang banget kalo animasi ga di eksplor di Indonesia. Jadi lu bayarin gue, gue bayar sekolah gue balik gue bikin animasi di Indonesia gitu. - Mokeren. - Kalau kita pas kita. - Terus ternyata deh gini. Lu udah tuakan nih interviewernya. Apa? - Nuh, nuh, nuh. - Gak nuh. Ya kalo bilang kita nih. Kita mengapelai sedih onjara. Jauh banyak pertisama. Itu kayak kena ketawa nih. - Ini kayaknya. - Jauh banyak rian, rian di lu. - Lu pada di lu. - Rian di lu. - Rian di lu. - Rian di lu. - Kanda tu. - Pandu. - Candi. - Ketemuran. - Pandu. - Pandu. - Pandu wassa. - Iya. - Apa lagi yang ditanya merin? - Yang apa sih interview apa lagi yang ditanya merin? - Ya itu dua yang lu bak. Kan kan gue harus pulang. - Lu balik mau cepetakan dampak apa. - Oh gitu. - Itu. - Itu gue bilang gue. - Sekarang gak ngomong gue. Bagaista nih ini jumbo G. - Pelukasih ke mereka. - Nge mereka nonton juga. - Oh iya. - Bangga ngomongnya. - Bangga. - Mereen gue diundang gitu. - Kayak. - Kayak kasih jadi kayak. - Sanrik. - Engga ke kedutan. - Oke. - Enak sih nih. - Yang kalau capek kan matanya ke duduk. - Kedutan. - Ketemuran. - Kampusung gak ngundang lian? - Apa? - Kampusung gak. - Ada gimil tapi gue belum bisa kesana. Dia nanya film gue bisa di puternya kampus gue di sana. - Engga gue bilang antide gue tanya ke diserbuturnya dulu gitu. - Keren banget. Ada yang lo tau yang dari situ yang bikin kari atau kenal juga. - Temen takatan lo atau atau atau ya. - Kakalas ada apa? - Dosanya sih. - Itu gak apa bikin apa deh. - Dosanya dia udah tua banget. Dia masih. - Sincar bikin. - Toman. - Toman Jerry Choi. - Oh iya. - Iya bro. - Toman. - Toman. - Tapi itu. - Tapi dia masih punya. - Kan dulu gambar yang ngepagi komputer kayak kertas sezusi scan kan. Dia masih ingin gambar asinya. - Masih mereka ingin sama. - Dia boleh. - Itu coklo. - Iya coklo cok. - Iya dia figurain gitu lah. - Kau lu tau kartun South Park ga? - Tau. - Ketawan banget. Apa namanya? Jadi dosen gue itu terata pas South Park belum dapat investor, belum bisa release di TV. Itu kan mereka bikin pilot, pilot episode yang buat boju alannya kan. - Dosen gue tuh ngerjain pilot episode tapi dulu kan kayaknya South Park tuh kayak cutout. - Iya kan. - Iya kayaknya. - Dia ngabigin pake komputer dulu waktu jualan kaya investor itu beneran pake pepper. - O kertas importasi. - Oh diku, diku, diku, di tarotaro gitu. - Swamp motion, bro di? - Iya, stop motion, always stop motion. Terus kertasin dosen gue tuh dia jadikan vendor gitu lah. Jadi animator yang ikut bantuin ngerjain pilot itu buat di investor. Terus dia ngerasa, "Ah ini gak akan laku nih gitu." - Di buang. - Oh iya. - Dia di buang itu terata South Parknya booming, jadi rugi. Saan dais itu dia simper di saat bisa, bisa mahal banget ya. - Oh South Park kok kertasin. - Keraatnya ya. - Apa relasinya Arjan? - Iya lah lo kan nao. - Iya kan nao-kan nao pasit. Temen gua ada yang akhirnya masuk kartun network ngerjain gambol. - Kartun gambol, no gitu. - Kalau gak tau gue. - Kalau gak tau gue. - Tapi kartun nekort sih tau. - Iya. - Iya, spes tun. - Pastu ngerjain. - Ada channel yang berurut. - Oh spes tun. - Jadi ngungi pesto tun. - Pesto tun tanggelet kan lah. - Malam bahas yang kereja saya memang berlegai-legai. - Oh spes tun. - Itu ya kita gak bisa kayak gini-ngini peste kereja kita kayak. - Kenapa gua neri malu? - Ini sir, oke. - Kita. - Karena gue gak makan. - Bagi haram kan? - Doki dia. - Tapi. - Gue mau cinta boleh ya. - Jadi saya nyeri belanja alat masak. - Iya. - Alat masak. - Terus gua nemu ibu-ibu asia, udah tua, agak-agak-agak. Perubayan. - Iya gitu, layak. - Iya. Dia kayaknya inggrisnya gabagus. Terus dia lagi ke susahan, ngejelasin ke pelayan tokoh, asko-nya gitu. Dia punya risarangan. - Oh. - Sariangan. Terus, gue kata dia kayak susah banget. Gue gak bantu, tapi gue denger deh. - Tepah deh, gue gak bantu. - Apa? Nudul Stay Water Go. - Benar sih. - Nudul. - Dia mencoba. - Dia mencoba, gak bantu. - Nudul Stay Water Go. - Sari nya. - Kata beri. - Sari nya. - Maka gitu-kita. - Terutuh dari. - Sari nya. - Ayo, aneh. - Ayo, aneh. - Tapi gue nangke peterita orangnya kan. - Iya. - Ayo. - Ajar nudul Stay Water Go. - Tudul Stay Water Go. - Tewat ya. - Sihan, si jumbukan 5 tahun. - Mhmm. - Berarti ada indung. - Mungkin aja lu udah mulai sekarang ada project buat. - Iya, mulai. - Gak tau boleh ngomong apa gak ya? - Ya, apa kalau pun iya? - Gue tidak bisa konfermasi atau menyangkal. - Tapi kalau pun iya, skripnya harus dari tahun ini, - Relesia 2030. - Oke, penerang sama. - Oke, oke, oke. - Dengar cara yang sama. - Tapi itu betul kesabaran banget, 5 tahun. - Itu orang ngelawarin karya lu tuh masih kayak, - Minta lu. - Itu jujur. - Itu jujur. - Gue pas ngejian jumbo. - Oke, anjir orang cepet banget ya, bikin film. - Oke, baru rilih sini. Film ada film lagi, tapi direk-rek dia juga. - Iya, iya. - cepet banget bikin film gitu. - Selama gue bikin jumbo, - enggak, sasonko bikin 5 film. - Iya, iya. - Dutu kayak ada gini kan? - Tahu tunggu nih, enggak. - Tahu tunggu. - Enggak, enggak. - Iya, gitu, enggak. - Tahu tungga, enggak. - Anjir entar berhasil. - Iya gitu. - Yang paling susah itu ini, kayak komort gue. - Dia kan denger lagu jumbo itu dulu, kan, dan enak kan lagunya. - Iya, bener. - Dia harus nahan 5 tahun gitu. - Engganyan nih. - Iya. - Kalatnya ngapain? Kalat. - Kinta menggoda. - Aku pun terkadang ada enggak, enggak. - Engganyan nih, lu ga enak lagi ini. - Kalat citas, ya. - Itu nahan itu susah. - Ah, enggak. - Gue akhirnya dengerin-enegren, dengerin sendiri, kayak orang gila. - Oh, itu udah lama juga. - Gup gertera, ya terakhir. - Dari 2020-202-2 tahun lagu-nahan ini ga lupa tahun tapi tetep aja kayak aduh. - Kahan deh ini semua orang bisa nyanyi gitu gue berdua gitu. - Tapi itu memang tidak bisa dipercepatkan. Apa misalnya di kodiduan lagi mau bisa lebih cepat? - Tenologi sana gitu, misalnya. - Kalau sekalanya layar labor, layar labor ya dengan kualitas yang harusnya kan berharapnya jumbo 2. - Eh, iya. - Yus, deh. - Kalau bikin lanjut dan jumbo, yang lebih bagus dong. - Hai, hai, hai. - Yolah, yolah, yolah, yolah, yolah. - Ya, yolah, yolah. - Gak, ada sehat yang lebih bagus, ini kan pasti ada reset teknologinya yang kita menambahin apa. - Eh, ya, keberian kalau se-sehat-sehat jumbo di produksi itu kita udah dicepatin lo. - Oh, lihat sih lo. - Lihat sih lo mau anak ya. - Hmm. - 2016 yang pertama. - Film kedua ya, 2024. - Oh, lepah tahun. - Emak animasi selama itu nyantai ya, nih. - Ya kalau, ya kalau detailnya banyak dan pengen gambarnya segitu. - Jadi kayak. - Perambingkan HP kali lah yang bertur. - Dari keganggu. - Masa keganggu, gara-gara itu. - Ya, bener, tak apa-apa. - Gapang banget kedistri HP. - Kalau mau dipercepat paling dipercepat nambulan. - Gak gini, kan buruh-buruhnya. - Oh, cuman sekarang ya, jadi gambar awal bagus tengah, tengah tu udah. - Gapas. - Gapas. - Gapas, gambar muka jadi belok. - Jadi gak kan tambuh. - Ya, lo nyantai, lo nonton stago ors, ga? - Ayam mana? - Ayam mana aja ya, masutnya? - Ya, yai, yai. - Urutan ceritanya, relisnya 45 nangkun. - Ya, ya, ya. - Tauun 201, 1, 2, 3. Abis itu, 7, 8, 9. Jadi, kan sebernya kalau lo mau nonton ceritanya ngurut, kan 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9. - Tapi, cuman, tiga, 1, 2, 3. - Uy, bagus. 4, 6, tiba-tiba jadul. - Ya kan, 7, 8, 9, bagus banget gitu. - Gue enggak tahin sih nontonnya. - Karena. - Ya kan pesa lambar, gitu kan. - Ja, jampil, jam-jaman itu. - Yuh, yuh, yuh, yuh. - Ada gitaris padi kan, gitu kan? - Ya, ya, ya. - Heusnya menarik sekali ya. Tadi ya, bahwa mungkin akan ada projek dari Riyang. - Ya. - Tapi nabila dulu ya. - Nabila, ya, nabila. - Ini yang kita tunggu untuk mengupakan. - Yang yang kita tunggu pada para, nabila. - Ya, ini cocok sekali untuk ditonton barang keluarga. - Warga. - Lo barang dengan nonton. - Karena memang abis lebaran tuh, udah bingung tuh gue hari ketiga apa. Gala macam, naya, ini, butuh yang kayak gini nih. - Hama keluarga. - Gulin, gulin, udah. - Pasok udah. - Dapas di basok naini nih. Ada alasan nambah, ada manak-anak. Enaknya adalah abis nonton bisa ngobrol banget. - Bernaya. - Jadi tak itu tuh. - Bernaya. - Dan akhirnya bikin nonton lagi. Jumbo nggak ada gana gitu. Gana gue nonton nih. Anak gue bilang tuh, gue lupa tuh yang mana ngobrol mau isri. - Lupa, anak gue yang mana? Lupa isri lu yang mana? - Lupa apa? Yang gue bahas tuh, maksudnya. - Masuk-ralu masuk, maksudnya. - Masuk-ralu masuk. - Masuk-ralu masuk. - Pilih banget yang bareng juga. - Iya, yang parah banget. - Kan gue lu dia. - Iya. - Tak kan dia akan dapat aktor terbaik ketanya. - Iya, pilih. - Pilih, kapan aku pulang. - Oke. - Pilih. - Terlupa. - Apa tadi? - Harit jadi diskusi dan harit nonton lagi. - Nah itu yang gue haratnya terjadi diskusi. - Diskusi, terus kayak, - Iya tadi apa ya? - Lupa tuh, lupa nonton lagi. - Gue lupa apa di diskusi, saya namanak-anak gue mau isri. Harit memutuskan tuh, harit nonton lagi. - Nonton lagi itu ceba yuk, bener gak itu. Di nawi lainnya gue harapnya nah, kayak gitu terjadi lagi. - Ini tuh itu nganyi film musikal, kok sih? - Gak. - Filmnya gak musikal, tapi itu di gue bilang ada prasa nawila di satu persetiva yang cuma bisa dia sampaikan dengan bernyanyi. - Bernyanyi. - Tapi dinyanyi, akhirnya dici. - Oh, kayaknya. - Libur terlalti baik, kok sih. - Libur. Pasin novemberin, kan. - Lama buat intro-nya. - Walaupun tindah, walaupun tindah. - Raka lah anak kecil lagi, biarlah. - Tapi salah, walaupun tindah. - Tunggu leit. Tunggu leit. Tunggu leit. - Tapi ya. - Harap kamu tindah. - Tunggu leit. - Ya, mirip lah kayak tanglet ya. - Sama ya. - Sama ya. - Oke, deh kalau gitu. - Ada pesan gak buat teman-teman yang mungkin mau nonton nawila. Apa yang harus tonton novella dulu atau? - Gak harus baca novella dulu. - Nonton juga nge-papa, tapi gue cukup yakin yang membaca juga. Yang udah baca, pas nonton juga kan seneng. Karena ceritanya setiah seneng bukunya yang nomor satu. - Anjoh. - Jadi jangan lupa lebaran nonton nawila dan rasakan lagi jadi anak-anak. - Apa kayak yang saat ini antil lo orang gini juga? Apa yang yang ini? - Iya benar. - Gak udah gue stand by aja deh. - Gak ngas stand by aja. - Iya lah lu, aneh banget ya dia. - Harap filmnya. - Kan ini begini cepet. - Gak ngacap kan itu kan kan. - Iya, kan. - Liburan gue udah giri kan kanan 5 tahun. - Iya tetap hain tapi kan lu sinta itu tentungku mentara ya. - Iya, iya iya iya. - Iya gak sihat apa. - Gak sihat apa. - Iya gak sihat apa. - Nah di, mungkin akan ada rochio juga ya dari Rian. - Iya. - Ada mungkin yang pengketemun satu pertanyaan terakhir nih. - Hmm. - Loh kan pernah jalan jitu. Gak kalau jumbo scan-skan lu ngobigin apa tuh. - Special show. - Iya. - Itu gimana? - Insha Allah akhir tahun ini. - Tapi tadi kabarin ya. - Iya. - Sekarang kalau anak sekarang ya mungkin lu gak gitu nikuti nih. Kalau orang bikin spesiasu, pembukannya tuh podcast. - Iya bener. - Sekarang gitu. - Gitu. - Iya. - Pembukannya tuh podcast. - Iya. - Dan jadi podcast yang ramah anak. - Iya. - Bukan kita udah. - Bukan kita dong. - Iya udah. - Conti itu keren hape ya. - Keren apa ya? - Pasti menurut. - Oke, kalau gitu. - Iya, yang Sunis ya. - Terima kasih. - Buat semua pakenya. - Terima kasih. - Ya, kita lagi lah ya. - Duhin lah. - Biar banyak banyak. - Untuk menemukan lagi ala pembelas marat di bioskop. - Terima kasih. - Dada. - Dada.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Pembicaraan berfokus pada proses kreatif dan filosofi di balik pembuatan film animasi, khususnya film "Jumbo", dengan penekanan bahwa animasi adalah bentuk film yang serius dan memerlukan pendekatan layaknya produksi film live-action.
  2. Diskusi mengungkap pentingnya menciptakan film keluarga yang menghibur dan dapat dinikmati bersama di Indonesia, sebagai respons terhadap kurangnya tontonan yang sesuai untuk semua usia.
  3. Percakapan juga menyentuh proyek film mendatang yang diadaptasi dari novel, menceritakan perspektif unik seorang anak berusia 6 tahun di Surabaya era 1960-an, dengan pendekatan visual yang berdasarkan memori dan imajinasi anak, bukan akurasi historis semata.
  4. Kolaborasi dengan musisi seperti Lala Yamanino untuk lagu tema digambarkan sebagai proses yang personal dan bermakna, menyampaikan pesan antar generasi.
  5. Tantangan dan pendekatan khusus dalam bekerja dengan pemain anak-anak dalam produksi film live-action dijelaskan, dengan prioritas pada kenyamanan dan pengalaman yang menyenangkan bagi mereka.

Summary:

Percakapan ini terutama membahas filosofi dan proses di balik pembuatan film animasi "Jumbo". Pembicara menekankan bahwa animasi adalah medium film yang serius, sehingga dalam produksinya ia menerapkan sistem dan kru layaknya film live-action, termasuk menggunakan editor, sutradara, dan artis film. Tujuannya adalah menciptakan animasi yang berbeda dan berkualitas. Motivasi utama adalah memenuhi kebutuhan hiburan keluarga di Indonesia, dengan menyediakan film yang bisa dinikmati bersama oleh anak-anak dan orang dewasa, mengisi kekosongan tontonan yang sesuai untuk semua usia.

Diskusi kemudian beralih ke proyek film berikutnya yang diadaptasi dari novel, bercerita dari sudut pandang seorang anak berusia 6 tahun di Surabaya tahun 1968. Pendekatannya unik: film ini bukan tentang akurasi sejarah, tetapi tentang bagaimana seorang anak memandang dan mengingat dunianya—penuh imajinasi, warna, dan persepsi yang membesar. Kolaborasi dengan musisi untuk lagu tema juga dibahas, yang terinspirasi dari pengalaman personal dan berbentuk doa antar generasi. Terakhir, dibahas tantangan produksi dengan pemain anak-anak, di mana tim berusaha menciptakan suasana nyaman dan seperti bermain agar mereka tidak merasa sedang bekerja.

FAQs

Dalam film live-action, elemen seperti aktor dan set sudah ada, sedangkan dalam animasi semua elemen harus dibuat dari awal. Namun, pembicara menekankan bahwa animasi tetap merupakan bentuk film yang memerlukan pendekatan kreatif serupa.

Pembicara memilih tim dari seluruh Indonesia dengan mencari studio-studio independen, termasuk melibatkan lulusan SMK, untuk memastikan kolaborasi yang beragam dan mendukung produksi lokal.

Pembicara mengambil jurusan film dan animasi di Rochester, New York, selama tiga setengah tahun, dengan fokus pada aspek teknis seperti gambar, penyutradaraan, dan komponen kreatif pembuatan film.

Pembicara menyadari bahwa keluarga Indonesia membutuhkan hiburan yang dapat dinikmati bersama, karena seringkali tidak ada film yang cocok untuk semua usia, menyebabkan ketidaknyamanan saat menonton di bioskop.

Lagu untuk 'Jumbo' dibuat bersama Lala Yamanino, terinspirasi dari pengalaman pribadinya kehilangan ayah, dengan lirik yang berisi doa dari orang tua kepada anak, menciptakan kolaborasi yang emosional dan autentik.

Film ini tidak fokus pada akurasi sejarah, tetapi menggambarkan Surabaya tahun 1960-an melalui sudut pandang imajinatif seorang anak berusia 6 tahun, berdasarkan novel yang terinspirasi masa kecil penulisnya.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.