Go back

Episode 5: Kesalahan Personal Branding yang Sering Dilakukan di Umur 20-an ft. Stephanie Regina

69m 36s

Episode 5: Kesalahan Personal Branding yang Sering Dilakukan di Umur 20-an ft. Stephanie Regina

Pembicaraan ini membahas pentingnya personal branding, terutama bagi generasi muda di usia 20-an. Personal branding didefinisikan sebagai upaya mengomunikasikan kontribusi atau nilai yang dapat kita tawarkan kepada orang lain. Proses ini melibatkan dua aspek utama: branding yang berfokus pada pembentukan identitas dan persepsi diri, serta marketing sebagai cara untuk memperkuat dan menyebarkan persepsi tersebut. Personal branding membantu membedakan diri di antara banyak orang, membuka peluang karier, kemitraan, atau bisnis, karena orang lain menjadi tahu kemampuan dan keunikan yang kita miliki. Untuk memulai, penting terlebih dahulu mengenali diri sendiri melalui kualitas pribadi, keterampilan, dan pengalaman hidup. Setelah itu, kita dapat berbagi nilai tersebut secara konsisten, misalnya melalui konten di media sosial. Pembicara juga menekankan bahwa imposter syndrome adalah hal wajar, tetapi jangan sampai menghalangi langkah awal. Dengan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki dan konsisten berbagi, personal branding dapat menjadi alat navigasi yang efektif dalam menghadapi tantangan di usia muda.

Transcription

10304 Words, 64048 Characters

Indonesian
Jadi kalau brand-ding itu biasanya lebih ngobentuk ke identitasnya. Pengalamannya aku pengen orang waktu ke temu aku, apa sih yang mereka rasakan? Itu banyak banget elemennya gitu ya, cara kita ngomong, wangi kita hari ini, nah hal seperti itu gimana caranya kamu mau mendapatkan opportuniti. Kalau kamu aja gak pernah kasih tau kayak, opportuniti apa yang bisa di tahun kan ke kamu? Jadi personal brand itu membantu orang lain untuk tau, apa yang kamu bisa pandari buzikan balik lagi ke situ? Sebenernya imposter syndrome itu satu hal yang sangat mungkin terjadi. Tapi baiknya kita sadari dan kayak, mungkin kita sadari dan kita aku kayak, oh emang aku gak juga juga banget sih, tapi at least I would like to start with what I have. Hai guys, welcome back to in our 20s, Navigating live in our 20s, one step at a time. Alright, kita kembali lagi tentunya dengan topik-topik yang pasti yang menarik. Dan juga akan membantu kita ya buat terus melangkani step-by-step buat bisa improvet terus yang pasinya. Menerikannya. Dan kali ini kita sudah kedatangan sosok yang pasinya akan memberikan kita banyak pelajaran ya. Jadi sekarang kita mau membahas tentang kalau dari aku pribadi sih ini sangat penting ya di kehidupan. Apalagi di Usia-usia 20 an awal dan juga mungkin saat mencari kerja, itu kayaknya penting banget ya. Benar. Oke, pasang aja kita sambut. Sebelum itu. Oh, apa tuh? Nah hari ini agak special nih, karena. Jadi aku personalnya, karena mungkin teman-teman kalau nonton in our 20s, tau ya aku tuh di bilang marketing ya kerjanya. Dan aku tuh kemarin sebelum saya sih hari ini, itu aku cerita-cerita kayak hari ini, hari kami sih ini, aku mau shooting lagi lah gitu bahas personal branding. Terus kayak tebak siapa-tapu-nya, tebak-tebak-tebak-tebak kan gitu. Dan ducunya ternyata beberapa tuh yang benar loh. Wow. Karena katanya oh ini sering banget, level di F&F-nya peguh. Terus kayak oh ya pokoknya kalau misalnya aku ngobong-blog-blog juga yang lain, karena aku kan konsultasi ya tentang-tentang topiknya gitu. Terus intinya selalu aku bilang kayak, ini tuh terkenal si "Cici-Cici" ini. Terkenal sama suatu hook-content kontennya yang orang-orang tuh kalau misalnya, tau nggak si "Cici-Cici" ini ini ini. Orang-orang tuh pasti kayak, "Oh tau, tau, tau, tau." gitu. Kalau gitu langsung aja kita sambut, tau hari ini, "Cihani." Wow. Wow. Wow. Cuman ini. Biasanya terkenalnya, "Cihani." Sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini. Tahu betul. Taji. Thank you so much for coming. Thank you so much for having me. Happy banget bisa ada di sini. Gata wujian sekarang. So you've got. Kamu kenal, tuh karafi. Terkenal. Gimana nih? Cihani, kan mungkin orang-orang tuh, tau-nya adalah Cihani. Cihani, sini, sini, sini, gitu ya yang sering lewat, di TikTok dan diri lo segitu ya. Tapi boleh nggak cikah ya. Perkenalin lagi sebenarnya, Cihani ini siapa dan sebenarnya sehari-harit apa sih yang dilakukan gitu. Oke. Jadi, salam kenal semua ini, nama aku "Hani" sebenarnya kalau sekarang full-timenya itu founder dari halokah grup Indonesia yang di dalamnya itu ada halokatoks, ada media dan juga training, sama satu lagi itu ada halokah creative yang adalah kesehatan dan juga agency. Full-timenya di situ, on the side, betul tadi bikin konten, mengilang-mangil orang di TikTok. Oh, gitu ya. Terus abis itu juga barang sama partner, barang sama Suami, ada F&B Business yang base di Jogja, ada coffee shop dan juga ada bakni. Gif. Wow. Wow. Harit ini, aku tertarik banget sama obrolan hari ini dan juga ravi tertarik banget. Karena kita tukang, ini jadi berarti akan menjadi episode 5 di mana, di segment kita ini tuh. Kita ngebahas kita ibaratnya mangil-mangil. Biasanya kan gini. Biasanya kalau kita ngomongin podcast itu, kita datengin dulu tamunya, baru kita pikir apa yang bisa kita obrolin nama dia. Nah, kalau diin awal 20 ini, approachnya kita balik. Jadi kita tarik dulu kayak apa yang kira-kira teman-teman di umur 20 han itu butuhkan, resahkan dan pikirin terus maksudnya kegalan mereka tu apa. Kita bikin topiknya, baru kita undang siapa nih yang cocok ngebahuain tentang si topik ini. Bener. Dan kali ini tuh, topiknya tuh sesuatu yang orang-orang tuh sebenernya mereka butuhin, tapi kadang tuh mereka tuh gak bener-bener ngerti apa yang sebenernya mereka butuhkan gitu tentang si hal ini gitu. WC, seharah ini kita bakal ngomongin tentang personal branding. Mungkin simply ini karena banyak kerasahan orang-orang juga ya, ditanya kayak, sebenernya kamu tuh siapa sih, mungkin dari pertanyaan seseimpel itu aja, karena kita gak tau mau jawabnya apa gitu. Ya, ya, ya. Mungkin boleh di sharing, kan. Personal branding itu sebenernya gimana? Oke. Jadi kalau jawaban cepat dan singkatnya, di halok itu, aku selalu bilang personal branding, itu adalah sebuah kegiatan, untuk kita memunikasikan apa sih yang kita bisa contribusikan buat orang-orang di sekitar kita. Itu dulu. Jadi macam-macam, karena definisinya macam-macam tapi kalau kita percaya hal tersebut, jadi ada dua kegiatannya. Yang pertama itu tentang komunikasi dan yang kedua, poin pentingnya itu tentang kontribusi. Apa yang kita bagaimana cara kita mengomunikasikan, apa yang kita bisa kontribusikan? Kenapa? Karena yang kita percaya juga di haloknya, semua orang itu lahir ke dunia, mereka tuh ada perannya. - Terima kasih. - Entah itu di tipinnya dalam bentuk talenta, di tipinnya dalam bentuk energy, di tipin dalam bentuk charita, pengalaman apa pun itu. Nah, itu semua tuh, kalau aku seringnya butuhnya kayak, kita sebagai manusia, sebenarnya bertemu jawab loh, untuk membagikan hal tersebut orang-orang di sekitar kita, karena di tipinnya buat kita. Nah personal branding itu, sebenarnya salah satu tos yang kita bisa gunakan untuk tadi mengasih tahu orang. Ya kan, sebenarnya sederhana sih kayak gitu. - Ya sih, berarti, persoalan branding itu bukan sebatas kayak siapa kita nyajah, tapi tadi baralan juga sampai ke dam pak gitu ya. - Betul, bahkan di mulainya itu, ya tadi bener sih, berangkat itu dari kita harus cari tau dulu nih. Apa sih? Ya kan siapa sih kita apa yang kita bisa lakukan, apa yang di tipin sama kita, apa storynya, apa value kita, nah itu semua diramu, jadi personal brand statement, atau jadi unit sekitar lah yang tadi ditanya. Kayak, sebenarnya kamu tuh siapa sih kamu mengajarnya apa? - Bener. - Nah ada tuh nanti mulain kita bisa bahas ya. Jadi ada satu pegangan yang harapannya, ini membantu kita untuk nanti di kehidupan umur 20 loan kita ini, itu jadi lebih banyak, lebih mudah, menafigasi, ini harus okalkan atau nggak ya. Atau ini harus akusia atau nggak ya, hal asperti itu tuh harapannya jadi lebih gampang ngafil terai, karena kita udah tau ujungnya kita mau ngejarnya apa. - Oke jadi personal branding adalah mengkomunikasikan apa yang kita kontribusikan, atau yang bisa kita kontribusikan gitu ya. Nah kalau kita tarik nih personal storynya cihani gitu, dengan sekarang ngebilt personal branding ya, besar gitu ya. Backgroundnya tuh apa sih kemosnya? Apa yang akhirnya membuat cihani waktu itu kayak? Kayaknya, saya mau tersedartkan, kan salah satu implementasinya making content. - Betul. - Kalau personal storynya tuh di cihani, waktu itu seperti apa? - Oke personal storynya adalah karena lagi pandemi sih, yang benar-benar kayak akhirnya, oke, serius nih mau bikin content. Jadi aku itu dari kuliah, kuliahnya kuliah branding, terus masuk kerja di FMCG, Jurusan itu juga bukannya. Mukan Jurusan, di visinya marketing branding juga, dan memang suka banget gitu ya, tentang branding, marketing, dan lain sebagainya. Nah awalnya itu cuma sebenernya lebih banyak sharing kegiatan sariri-hari aja di kantor itu nggak pahin, dan memang itu related ke branding. Waktu lagi pandemi banyak teman-teman yang isi lainnya tuh jadi terbak pandemi dan atau mungkin mulai untuk bikin business online. Ya kan, karena di betapa kita semua di rumah tuh sekali. - Iya. - Apa ini ya? - Bisa jual cemilan, apa kayak cek kecilan aja gitu business online. Nah, ada beberapa teman-teman tuh yang akhirnya nanya, kayak kan kamu kan di branding nih. Kayak gimana sih kalau mau bikin sos map? Kayak bikin logo, gimana sih bikin logo? Kayak gitu loh, pertanyaan yang simple, yang karena mereka tau-nya hany tuh iya memang jurusan branding, dan sekarang kerjainya di brand. Nah akhirnya pengalaman-pengalaman inilah yang aku merasa, oh ternyata, orang-orang kayaknya udah mulai nangkap deh. Aku tuh di dunia branding. Pusri-usih, aku coba share-share, kalau ada deka yang masuk aku screenshot, aku share di story, dan itu kan ngegulung ya. - Iya. - Tampak lama, tambah banyak yang nanya, akhirnya bikin lah waktu itu halokat toks. Jadi kalau ditanya berangkat dari mana, sebenarnya berangkat dari aku ngerasa aku punya sesuatu yang tadi orang lain ternyata butuh. Karena banyak banget aku yang ini diantara kita, hal-hal yang kita rasa, ah ini membiasa aja sebenarnya tiap hari lo kayak gini kok, buat aku kayak ah marketing mix 40, buat kajian juga, pasti kan kayak, ah masih nggak tau gitu loh. Ya kan. Tapi enggak tau-tengeng kita yang backgroundnya, engineering mungkin, kebukatan mungkin, dan mereka tiba-tiba ngubuk awal shop, itu kan sesuatu yang kayak, ah bener juga ya terata harus pikir ini, bukan cuma produknya harus beda, aku mau jual di harga berapa ya, jualnya gimana cara ini yang pekerah konsumen promosinya seperti apa? Itu tuh yang pasti ada, dan kalau kita cari, iternya, kita bisa ya bermanfaat buat orang gitu. - Dan kan, jadi kayak mikir ada sesuatu yang orang tuh kayaknya, perlu tau atau kayaknya orang-orang juga pengen tau gitu, kita ternyata punya lo sesotong yang bisa di share, kan lo gitu cihani nesiar, kalau personal storynya dari situ betul. Nah, ini lucu nih, membuka obrolan kita, tentanya kita basnya personal branding. Tapi salah satu yang biasanya orang tanya, itu balik lagi ini, kita ngomongin kan mungkin teman-teman banyak yang apa nggak ada di dunia marketing dan branding. Betul. Apa sih berbedaannya marketing dan branding? Kenapa namanya personal branding? Kenapa bukan personal marketing? Oke, menarik sukar. Oke, kenapa personal branding? Karena sebenarnya branding itu kayak payung besarnya, marketing itu salah satu kegiatan yang kita perlakukan juga, waktu kita lagi melakuin kegiatan branding. Jadi kalau branding itu biasanya lebih ngobentuk ke identitasnya. Pengalamannya, aku pengen orang waktu ke temu aku, apa sih yang mereka rasakan? Itu banyak banget tuh elementnya gitu ya, cara kita ngomong, wangi kita hari ini, livs tekan kita gulakan, ungin kalau wanita, itu semakin membentuk persepsi. Itu bagian dari branding. Nah, marketing itu adalah lebih kegiatan komunikasinya. Bagaimana kita ngasih tau orang tadi gitu ya bahwa, kalau misalnya kamu butuh konsultasi terkait social media, kontak aku ya. Eh, kalau kamu butuh MC, kontak aku ya. Nah, itu kegiatan marketingnya tuh. Bagaimana kita utiliza social media, kontan apa yang kita posting dengan siapa kita bergawal, datang ke acara nappur kingapah, itu marketingnya. Oke. Jadi branding adalah upaya kita membangun persepsi diri kita sendiri dulu. Beberu ketika orang udah tau opersepsinya, misalnya dia ngeliat cihani gitu, cihani opersepsinya adalah, "Nih orang jago marketing nih, jago branding gitu." Terus abis itu marketing adalah effort yang dilakukan, mungkin kalau kita biasanya sebut tuh mengamplifikasi efek persepsinya gitu ya, jadi biar. Misalnya kalau kita mankan-kannya kan, kadang tuh salah persepsinya adalah, biasanya banyak orang ngomongin personal branding itu, tentang harus posting-posting-posting. Pada hal sebenarnya, yes, that's part of it. Tapi sebenarnya tadi kalau yang dari cihani bilang, sebenarnya kalau kita ngomongin personal brandingnya dulu, kita fokusnya adalah, kita tuh mau dikenal persepsinya itu, kita dipersepsikan siapa siapa siapa yang kita lakukan. Baru marketing, kita ambilifikasinya gitu, tadi kayak misalnya, apakah ngonten atau kita taruh muka, kita di bilbo, cihani jagunya marketing Indonesia. Itu marketingnya gitu ya. Mertau, betul sekali. Dan mungkin kalau aku boleh menambahkan, sebenarnya setapnya juga penting. Jadi yang benar tadi kayak, jangan kebalik, jangan keburu-buru malah cari, panggungnya dulu, pengen viralnya dulu. Baru abis itu kayak sebenarnya aku tapi penuh mau ngapain ya. Kalau balik lagi kan, siapa orang cari beda-beda, tapi kalau personal brand yang aku percaya dan biasanya aku share ke orang lain, caranya itu tuh harus dari diri kita sendiri dulu. Cari tahu dulu apa yang mau kita kontribusi kan baru cari-cara untuk mengkomunikasikan hal tersebut. - Mhmm. - Tidak. Setapnya adalah branding dulu, baru marketingnya gitu. Ini menarik satu lagi follow-up question dari hal ini, adalah kan biasanya kalau kita ngomongin di branding dan marketing, kita ngomongin misalnya brand atau perusahaan gitu. Tadi kebanyakan kan misalnya fokusnya ngelakuin marketing, tapi ketika mereka lupa sama branding atau persepsi dirinya siapa, jadi de moment marketingnya ini stock, ya udah ibernya mungkin sekarang kalau kita lihat, misalnya orang-orang yang udah viral-viral, tapi de moment dia udah gak viral, dia udah gak dibutuhin lagi, misalnya. Nah ini apakah sama dengan personal, apakah itu hal yang tadi sama juga ketika personal, misalnya kita gak fokus bangun persepsinya dulu, jadi nya yang impeknya jadi gimana gitu. Betul. Menurut aku bangun business branding sama personal branding tuh, framework atau cara berfikirnya banyak banget yang mirip. Mhmm. Sama banget kayak sama halnya kalau misalnya kita bangun brand, kita bikin konten terus viral, tapi kan pertanyaan selanjutnya setelah viral, terus kenapa apakah ada conversion? Nah kan sebenarnya penting juga gitu, kan ada conversion, ya. Kalau di personal brand, sama kalau kita viral-viral aja, tapi brand bisa gak kayak, "Aku pengen deh di asosiasikan dengan dia." Kenapa? Karena aku ngerasa value dia sama disama value brand aku. Dari situ kan sebenarnya baru masuk tuh kayak ada brand endorsement, ada brand deals dan lain sebagainya. Bahkan kayak kadang-kadang kalau misalnya brandingnya, strong banget gitu ya, followersnya gak usah banyak, tapi actually brand tetap mau tap in. Iya. Gitu, malah brand belum-belom banget untuk tap in. Wah, kalau bisa secepatnya nih, kita kerja barang sama dia. Karena kita lihat kontennya curated banget, valuenya oke banget, dan belum banyak yang tap in, malah kayak. Jadi belum-belom banget, tapi kalau viral-viral-viral, tapi kayak apa ya mau ngakat dari sisi mana ya, agak bingung gitu. Oke, oke- oke. Sebelum kita beda lebih lanjut nih, tadi kan kita udah nanya tentang begron ya, atau misalnya personal reason, cihani melakukan personal branding, tapi kalau personal opinion menurut cihani sendiri, kayak kenapa sih personal branding ini penting gitu. Oke. Kenapa personal branding ini penting? Karena personal branding itu membantu kamu, tadi untuk bisa mengkomunikasikan, sebenarnya yang kamu bisa apa? Balik lagi sih, sama aja gitu loh. Jadi di antara sepuluribu orang yang ada di sekitar kamu, keunikan kamu apa- kamu bisanya apa? Aku bisa tawarin kamu apa-percogniti apa, ya itu cara salah satu cara yang kita bisa lo kondor ya dengan membawa personal brand. Nah, kalau misalnya aku pribadi, pengalaman aku gitu ya, bawa personal brand ini sangat membantu aku, baik waktu aku di kerjaan, ataupun sekarang aku sudah menjadi anteprener. Waktu di kerjaan, ya kan kayak pertama bawa personal brand di luar dari kerjaan kita, kita bisa jadi dapat, saya tesu. Ya kan, saya tesu tentu kayak macam-macam loh. Kayak bisa dapat brand deal, atau mungkin tawarin spaking event, atau mungkin bisa tiba-tiba dapat nge-talking apa, kayak gitu itu sebenarnya kan bagian dari kerjaki juga ya. Paktu masih berkerja, dan di kantor pun kita jadi bisa dikenal di luar dari roo kita aja. M.S.A.L dulu, atau aku masih kerja, aku tuh emfang, emsi panggilan. Ya itu ya. Gapapa, kalau enggak dulu di level saya, bagaimana cara saya ngobrol sama si I.O. Kalau bukan saya jadi emsi, jadi panggilan. Nah, itu bagian dari memuat personal brand. Kalau di dunia kerja, jadi ada uniknessnya juga, dan tadi bisa dapat setahat hasil. Terus kalau misalnya sudah menjadi antaprenar, awal-awal bangun halokak, kan, enggak ada yang tau halokak. Tapi mereka tahu, akunya gitu mungkin. Nah itu jadi mempermudah untuk pertama, mendapatkan teman-teman intern di awal. Jadi ada yang mau gak intern. Terus saya bisitu mendapatkan klien-klien di awal, part-tership di awal juga ya, karena foundernya bagaimana personal brand. Itu jadi pening banget sih. Tapi keera-keera gimana sih, caranya kita tuh supaya ketriger gitu. Untuk segarama lag ini, teriata kan tadi personal brand ini cukup penting, bahkan bisa menunjang dalam pekerjaan juga gitu. Keera-keera apa sih? Nintin banget deh. Keera-keera apa sedang, gue cari-carah untuk mendeskrivesi karnia. Kayak kadang-kadang kita suka apa lagi mungkin ya, di omur-omur 20 an itu, karena hobinya membandingkan diri dengan orang lain. Untunya. Bagaimana sosmed itu dia udah kayak gitu ya, dia udah nyampe seperti itu ya, dan masih kok gue gini-gini aja. Ya mungkin salah-satunya itu. Kayak soalnya gak ada yang tahu apa yang kamu bisa lakukan. Kenapa? Karena kamu gak pernah share itu ke orang-orang di sekitar kamu. Kayak gak mungkin dong, ada tiba-tiba. Gak mungkin dong hari ini, teman-teman mengundang aku ke sini kalau sebelumnya aku gak pernah share bahwa aku tertarik di dunia persenal brand. Ya kan. Nah hal seperti itu gimana caranya kamu mau mendapatkan opportunity. Kalau kamu aja gak pernah kasih tahu kayak, opportunity apa yang bisa di tahun kan ke kamu. Jadi persenal brand itu membantu orang lain untuk tahu apa yang kamu bisa penteri buzikan balik lagi ke situ. Ya, ya. Dan saat kamu lagi tiduran, kamu lagi nguskrol. Itu ada orang lain yang lagi bikin konten, yang lagi baca buku, ngerangku, mikirin dia mau nge-share apa. Dia membagikan value apa buat audiensnya. Ya, ya lari jokinya ngikut ke yang sering berbagi. Value dong. Itu gimana cukup ini gak cukup? - Cukup. - Ya, ya. Comment ya, coba. Jadi gue udah, gue udah selalu berenang. - And it's free. - Yep. - Yep. - Ya, ya. - Ya, udah bener-bener kamu. - Pakai handphone device sama pun yang kamu punya. Share aja mulai dari yang sederhana. Share di InstaStory, gitu, let's say 24 jam juga ilang. Abis itu start bikin konten. Jadi kayak bener-bener coba dulu. Asin antik ketagihan. Itu. Kadang ini strugglenya mau coba nih sebenarnya. - Betul. - Curat sedikit. Lajahnya kan aku penyanyi gitu ya. Tapi kan kalau sekarang mau bikin konten, kalau nyanyikan diaulu, udah, sayangnya itu udah banyak banget gitu. - Betul. - Kayak gimana sih caranya tuh bener-bener bisa identify branding kita, - Oke. - Kompah 2 others gitu. Ya, ini menarik. Jadi kalau di Halokah, berikut lagi biasanya kita share namanya frameworknya itu adalah identity mix. Jadi ada empat hal yang kita bisa cari tau tentang diri kita sendiri. Dan kalau ini digabung-gabungin, itu bisa harapannya membentuk our unique selling proposition. - Oh, ya, ya. - Jadi udah cuma brandnya punya USB, ya, teman-teman kamu juga harus punya USB. Nampak kali itu apa aja yang pertama adalah your personal qualities. Jadi. segala sesuatu yang start with IM lah. Kayak kamu ini karakter seperti apa, orangnya kayak gimana, apa yang kamu suka, apa yang kamu gak suka, itu kamu harus kenali lagi. Yang kedua yang paling gampang diidentifaya adalah your skill. Bisa jadi sesuatu yang relatif ke perjagaan kamu sekarang, ke hobi kamu atau ke pendidikan kamu sebelumnya. Jadi skill kamu lah hard skill atau soft skill. Yang ketiga itu adalah your experience. Pengalaman kamu baik yang menyenangkan ataupun yang challenging. Itu nah ini juga aku pertama kali FIP di TikTok. Itu bukan bahas marketing. Aku pertama kali FIP di TikTok adalah aku share, aku resign dari pekerjaan aku, aku lagi pandemi. Dan waktu itu rol aku sudah brain manager tapi kayak lo kok resign gitu. Itu FIP. Nah kebetulan karena aku resign dari brain manager rolenya, orang-orang jadi tau kayak oh berarti orang ini harusnya bisa marketing nih, bisa branding. Baru gak gulung idaknya. Jadi your experience ini tuh sebenarnya banyak yang sering rasa, ah, ya udah lah pengalamannya cuma gini aja, padahal enggal lo. Pengalaman kamu gagal pun bisa diceritain, bisa jadi learning harapannya buat orang lain. Malu yang kempat itu adalah your value, your belief, dan juga sebenarnya lebih ke your energy. Ya kan. Karena tadi misalnya penyanyi. Penyanyi banyak. Banyak banget gitu. Jadi kita coba gagamung ini. Oke penyanyi, tapi ada pengalaman yang unik ya. Misalnya kita tau nih salah satu penyanyi Indonesia yang pernah menang juala satu di kompetisi global juga. Itu kan udah langsung unik tuh, penyanyi banyak, tapi yang pernah menang global dan menang juga di Indonesia, makin dikit. Lebih menguruchoknya. Terus di tambah lagi nih. Nanti coba komen lagi ya, siapa lagi? Tambah lagi nih gitu tadi, uniquenessnya dari CC value, dari CC energy. Ternyata dia kalau dipanggung kayak keren di facantik gitu, tapi kalau di belakang lain, "Nah orangnya lucu banget, becanda mulu unik kan?" Jadi kayak siapa lagi penyanyi yang tadi udah menang, ajang luar negeri, ajang Indonesia, terus profesional, tapi ternyata aslinya lucu banget. Oke gitu. Itu udah pasir udah langsung murucut tuh, lebih unik lagi. Tapi berarti kalau kayak gitu, apakah persoana learning itu terpatok di skill saja? Ya kan jadi branding kita. Nah sebenernya nggak juga. Gimana tuh? Jadi kita bisa mulai dari yang paling belakang. Sangat beruntung teman-teman menurut aku yang di jaman ini terakhir lucu. Wow. Ya kan. Teman-teman yang ada ngasih orang-orang yang kayak, pokoknya kalau ada dia, dia napa sih itu penketawa. Iya. Dia nggak ngapain tapi itu penketawain. Nah itu berangkatnya dari yang tadi, Euro value, or your energy. Jadi topiknya bisa bahas sama-sama, tapi pokoknya kalau dia ngomong, tu kenapa lucu banget sih. Itu kan sebenernya juga rjeki ya. Biar orang ketawa, bikin orang happy. Nah itu bisa berangkatnya dari situ tuh, feeling apa sih yang orang lain rasakan. Waktu ngeliat konten kita atau ngobrol sama kita. Iya. Ada juga yang berangkatnya itu dari, "Aduh, ternang banget deh kalau ngobrol saya di sini kayak, "Uh, ada mungh kita." Iya, punya kaya bisa jadi unik neslo. Iya kan. Ada banget orangnya kayak kalau diket sama dia, itu rasanya pengen jurat gitu. Bisa. Maksudnya benar-benar dari hal-hal kecil yang ada di diri kita aja gitu. Bisa start. Bahkan kadang-kadang yang bisa jadi unik nes kita, itu hal-hal yang kadang-kadang kita rasa, itu kelemahan kita loh. Aku pernah beberapa kali ngobrol sama orang yang kendala mereka waktu mereka mau start building darkeontan, ngerasa kakak orangnya bedok banget. Aku bilang kayak, "Medokin lagi kalau bisa." Di polin aja gitu. Bisa jadi yang paling bedok setiap kera. Jadi itu orang begitu melihat kamu kayak, "Wah, iya nih pokoknya kalau yang, misalnya dia juga itu kan pakai baju item terus, atau pakai hoodie terus, dan ngomong yang bedok bahasa tentang makat, udah pasti dia. Gitu loh. Jangan takut di maksimalin aja. Aduknya itu hidup di zaman yang benar-benar yur otantisi ti itu dihargain. Kalau kamu nyas sendiri juga bisa respat dat dan ngagap itu tuh keunikan aku bukan hour flow tapi hour uniqueness. Tapi itu benar banget sih karena kadang salah satu yang orang-orang pikirin adalah ketika mau ngebangun personal branding, itu sesuatu maksudnya presepsinya rata-rata kayak, "gua harus seperfect mungkin kelihatannya." Gitu. Udah, "Udah, "Udah, "Jaman." "Jaman, "Jaman, sekarang tuh kita pengennya kayak, eh, ternyata dia pernah gagal ya." Aku juga pernah gagal kita sama aku pengen tau apa yang naufy aku kamu dulu gagal, aku sekarang bisa bangkit. Kalau kita ngeliat orang yang sempurna banget tuh kadang-kadang kayak, cuma untuk dikagumi gitu loh. Laiwat dan aku jadi merasa aku juga berarti bisa, "Ya, saan, kamu ditung." Jadi gak cuma ador tapi ada connection. Iya, relevant. - Iya, banget. - Tidak juga ada feeling yang di rasa. Jadi berarti kalau misalnya nitt, tadi kan kita udah ngomongin berarti pertama untuk divining hour brand gitu untuk divining hour. Maksudnya kita mau dipersepsikan seperti apa itu tadi udah ada - C, 40, marketing, marketing. - Ada di bikini. Ada identiti nya. - Maksu, 40 identiti marketing mix gitu ya. Nah selanjutnya adalah tadi kan, itu menjadi starting point ya. - Bernyata kalau kita mau ngegaumber sesuatu, drafting sketch nya adalah pakai empat variable itu. - Betul. - Terus tapi ternyata setelah itu ada lagi hal-hal yang bisa mungkin mengapa ya, maksimalkan personal branding tersebut tadi maksanya membangun branding tersebut pertama being authentic gitu kan. Terus apalagi sih kan misalnya apalagi variable-farabel yang setelah cahani mungkin sebagai praktisional personal branding juga. - Ya. - Ternyata ini works lah gitu selain tadi being authentic. Terus apalagi. Yang kedua, sering-sering binta feedback. - Hmm. - Dan ini tuh lumayan apa ya? Jarang dilakukan sama orang. Jadi terata-tata kita sukanya tuh berasumsi. Kita kan suka banget mengasums-berasumsi dan menghakimi diri sendiri. Parahkan orang lain tuh belum tentu berfikir apa ya dengan sama dengan kita pikirkan kan. Jadi kalau misalnya kamu galau, kamu bingung, laksa misalnya kamu bikin konten kok. Filnya nggak. Naik naik ya, segitu-situ aja. Jangan asumsi dulu, tanya aja sama orang kayaknya. Ini aku marah yang kita bikin video ini. Menurut kamu, video nya menarik atau nggak. Kamu bakalan, kalau kamu bukan teman-teman aku, kamu bakalan-teman atau nggak. Kamu nangket nggak aku ngomong apa. Itu bisa feedback pertama yang dara kita tanya yang kedua. Sebenarnya kalau ada komen dan komennya itu juga ngasih kita masukkan. Jangan buruh-buruh kayak ngerasa ketak gitu loh. Jangan take it personally. Karena kadang-kadang mungkin orang itu ya. Emang pangin kasih feedback. Cuma caranya kan tidak selalu dengan sesuatu yang kita cocok. Cuma at least kalau itu memang feedback dan kita rasa ada bener-bener juga ya. Ya udah dia milay aja. Contohnya yang paling serah aku bilang kadang-kadang bikin konten for software. Tapi bagsaun lagunya tuh kenceng banget. Terus komennya gitu kan. "Beksaunnya kencengnya lagi kita." [Gelok] Nanti jan, ya, segitu. Tapi kan masih ya. Oh ya bener juga ya. Kayaknya lain kali aku volume di 20 aja, biar sore aku ke dengeran. Itu feedback kedua. Kita juga bisa kayak gitu sebener-rekan. Jadi, try untuk cari feedback secara aktif atau pun kalau nggak aktif di sadari. Karena suju-juhrnya waktu awal aku nonton, aku tuh nggak intonisionali, kayak, "Aku mau bikin tech-line." Sini, sini, sini, sini. Gak ada nggak kakak pikirin sama sekali. Jadi aku belum kayak bikin konten aja yang ada dalam pikiran aku waktu itu. Aku tuh pengen sebeket mungkin sama audien saku. Mujuh kalau misalnya ngobrol sama orang, biasanya kan kayak. Ya udah sini, sini, sini, dulu, dulu. Ay kita ngobrol gitu kan. Sebenernya tuh base dari situ, kayak ya udah sini, sini, sini. Kita ngobrol dulu. Nah terus habis itu yang aku sadari, komennya tuh semua selfok kayak. Aruh ke panggil banget sama sini-sininya. Kesini karena sini-sini-sini. Nak saya bikin konten, nggak pakai sini-sini di tadi. - Bagaimana nih? - Bagaimana nih sini-sininya? - Ya, gitu, kan. - Terus kayak. Oh ya udah berarti ini menarik ya buat audiens, ya udah disriusin di lanjutin. - Hmm, gitu. - Accepting feedback menerima dan paka sama feedback itu penting banget. Kalau kita lagi bawa nperusional brand. Ay sih, tapi kalau tadi. Cihani bilang kayak. "Kau, viewersnya nggak naik, naik, gitu, naik." Itu gimana secaranya kita buat. Untuk tetap konsisten, kan itu pasti susah banget. - Stuju. - Apakah nantinya kita mikir kayak. Kok kayaknya branding gue nggak worse gitu. Apakah gue harus seri branding atau gimana kayak gitu. Oke. Ha, ini setuju banget lagi, karena aku pun kadang-kadang masih ngerasa seperti itu gitu ya. Jatuhnya tuh offered tinkingnya. Lebih ke balik lagi personal. Apa gue nggak menarik ya? Nah, itu kan yang salah, tuh. - Ya. - Ya kan. Jadi harus dipisahin dulu kalau misalnya kontan itu. bisa works atau nggak works. Sudah ada banyak banget aspeknya. Bisa jadi. Oh, atau tiga detik pertamanya tuh yang salah. Terlalu general, nggak menarik. Bisa jadi tadi, audio-nya kekencangan, kan. Bisa lagi juga kayak "Oh, angle yang ngebosernin kan. har di tambahir effect dan lain sebagainya." Jadi memang harus trial and error. Hmm. Harus sih, even aku pun sampai sekarang tuh masih terlain error. Aku di TikTok, followersnya udah serang seribu plus gitu kan. Cuma kadang-kadang tuh ada aja yang kontan itu, 2 ribu. fusenya. Jadi buat. Tepen teman, jahat sedih, ga apa-apa. Ga mau banget, biar ini aja. Ya udah, ya, makanya kenapa kalo virusnya 1200? - Gak kenapa? - Minta, menar, menar, menar, menar. - Tep, kerja gitu, sari hari. - Minta. Ya udah. Di coba lagi, kalo ngerasa kayak. Ah, aku tapi ga mau nih, juala kelatannya virusnya dikit. Mungkin di delayed, kalo misalnya ngerasa, gak cocok. - Iya. - Atau kamu kerjain lagi, ulangnya lagi, tapi tadi. Apanya yang ditui, ya. - Mhmm. - Karena banyak banget aspeknya, tapi tadi, jangan serang personal. Kayaknya aku memang gaba-gakad deh. Jangan aku nih, tapi kayak kontennya apa yang bisa diulik. - Oke, oke. - Atau dua komunikatnya, ya. - Betul. Betul pertama tadi untuk memaksimalkan personal branding-nya, tadi yang pertama. Ini kita memungkunkan persepsinya dulu, yang pertama adalah being authentic. Karena ternyata sekarang zamannya, justru yang semakin authentic, yang semakin. Bikin orang tuh pay attention, gitu. Terus yang kedua, adalah tadi berarti. Asking for feedback. Biasanya kan banyak yang kayak. Ya, yaudah aja satu arah gitu. Tapi sekarang sama sih di branding juga kan semakin interactive, semakin dua ara, semakin orang. Komen, itu justru semakin kayak. Kita berarti di depan, gitu. Yang ketiga adalah tadi berarti yang terakhir. - Oh, aku. - Apa lagi? Yang terakhir, jangan berusaha menyenangkan semua orang. - Ah, oke. - Ini yang agak susah ya. - Yap, ya betul. Jangan bahkan dulu aku di kasih. wa jangannya. expek orang akan ada yang gak suka sama konten kamu. - Oh. - Jadi kita kamam dengan sebuah konten yang kita udah siap, konten ini akan. divid back in, mungkin akan ada hittersnya, mungkin akan ada yang gak suka, dan gak apa-apa. Kalau tergiatah, gak ada hitters, kita happy buji tuh hantar, tapi kalau ada kita kayak. "Oke, aku udah diforit." Gitu lo kayak evang. Karena memang tidak ada konten yang sempurna, tidak ada konten yang bisa menyenangkan semua orang. Kalau konten kamu selalu menyenangkan semua orang, berarti kamu gak punya opini. - Hmm. - Eh, gitu aja. - Yap. - Yap, ya, ya. Dan gimana sih cara yang menyenangkan semua orang, mau nyebeda-beda? Nah, itu dia karena kamu terebisa menyenangkan semua orang, mungkin kalau aku boleh lanjut sedikit. setelah tadi kamu menentukan identity mix. Next, saya bisa kamu melakukan adalah membuat personal branding statement. - Hmm. - Nah, secara sederhana personal branding statement ini, kamu tentuin. kamu tuh pengen ngobrol sama siapa. Bisi klik, kreatinya urnis gitu kan. - Yup. - Nah, pengen ngobrol sama siapa ini, tapi kalau di personal brand. kalau aku sering bilangnya menurut kamu, kamu paling bisa berkontribusi untuk siapa. - Hmm. - Karena misalnya, apa ini? - Aku kan, 20 tahun. - Iya, ya. - Ahir. - Nah, mungkin aku paling merasa, aku paling bisa membawah value itu. untuk teman-teman yang di 20 awal. - Hmm. - Itu loh, karena ya, benar aku sudah melalui fasua itu. Jadi aku bisa bilang kayak, "Iy yang ngerti kok aku juga dulu kayak gitu, lanjutnya aja, it's okay." Nah, kayaknya aku gak bisa nih melakukan hal itu untuk teman-teman yang menurut dia di umur 40-50, kayak gitu kan ya. - Oke. - Nah, jadi yang pertama, kamu tuh pengen ngobrol sama siapa. Yang kedua, kamu tuh pengen melakukan perubahan apa di hidup mereka. Kayak kontribusi apa yang kamu pengen kasih di orang tersebut. Bisa jadi sesimpal gitu, aku pengen orang kalau nonton kontan aku merasa termotifasi untuk bangun personal brand. - Tidak. - Atau misalnya kayak, "Oh aku pengen orang kalau misalnya nonton kontan aku atau kenal sama aku, mereka jadi tau gimana sih caranya tampil lebih percaya diri." - Hmm. - Kayak gitu. Nah, yang ketiga, ini juga nanti mungkin kita bisa bahas pilih platform yang kamu rasa cocok untuk kamu ngebangun personal brand kamu. Atau pilih cara-nya. Dan, "And one I say platform, sebenarnya tau aku gak cuma ngomongin tentang sosial media." - Hmm. - Menurut aku, "Building Haloka," itu juga platform aku untuk share about this. - Iya. - Itu dengan punya training, dengan punya haloka, teman-teman halokat tim. Itu juga platform aku untuk sebenarnya share tentang hal ini. Jadi platform itu bisa online, bisa offline. Tapi kamu punya wadah yang kamu rasa, "Oh aku bisa ketemu sama orang-orang yang tadi aku mau ajak ngobrol." - Oke. - Dan melakukan apa yang aku ingin bagikan, melalui tempat wadah ini. - Begitu. - Nah, ini lanjut nih berarti ketopik selanjutnya. - Oh, tadi karena udah semua. Karena udah. - Langsung lanjut. Karena udah dibahas sama Cihane juga, lanjut nih. Tadi berarti kan kita ngomongin, tadi kan kita ngobak gitu. Ada branding dan ada marketing. - Yes. - Personal branding, kita bahas personal marketing juga. - Which is brandingnya dulu apa. - Hmm. - Dan tadi ada dua framework yang udah di share gitu. Dan sekarang kita ngomongin marketingnya. Oke, kalau kita udah tahun nih apa nih? - Kira-kira. - Kan nih, teman-teman sambil nonton, kayak. - Samil nulikan, kayak. - Oh, udah tiga gini. - Gini, gini. - Cato, tiga. - Nah, Maxnya berarti balik lagi tadi. Yang Cihane sempat sempat sempat. - Mungkin. - Balik lagi caranya. - Cara. - Untuk kita ngomongin marketingnya, itu nggak cuman satu gitu kan. - Bener. - Kalau kita ngomongin, apa aja sih sebenernya cara-cara yang bisa kita lakukan, untuk mengapplikasikan tadi personal branding itu. - Oke. Mungkin kalau secara sederhana, enaknya aku bagi dua aja kali ya. Bergambang secara online dan secara offline. Mau yang mana dulu? Oh, ini. - Mungkin online dulu kali ya. - Online dulu. - Online dulu. - Iya, oke. Nah, kalau bisa secara online, kan sekarang social media udah bakal mga teka. - Kau punya berapa social media? - Dua. Dua. - Insana gram di pahalingin. - Oh, platformnya. - 1, 2, 3, 4. - X-pad. - Iya. - 5. - Soti, faigin nggak percana. - Oh. - Bihans, bians. - Gini. - Nggak. - Libu. - Nah, gitu, gitu kan. - Oh, yang mana-mana-mana. - Sebenernya kalau karafi, faada berapa? - Aku mempatung. - Ada mempat. - Iya. - Tetet juga di sebenernya udah banyak, kan? - Mulu nya, ne. Aku juga sebenernya 4 lah. Nah, jadi pertanyaan yang sering aku dapatkan, kalau misalnya kita mau main platform online, adalah, "Akut aku harus aktif, apakah aku harus punya platform sebanyak banyaknya?" - Aktif di sumuanya, gitu. - Betul. Nah, kalau aku sebenernya, type yang menganut kepercayaan bahwa lebih baik, platformnya tidak terlalu banyak, tapi kamu bisa benar-benar intens dan dekat sama audiens kamu di situ. Itu balik lagi di disclaimer. Ini fokusnya kalau kamu bangun personal brand, mungkin tadi untuk karir atau untuk bisnis gitu ya. - Iya. - Sebagai bisnis honor gitu, let's say. Kalau untuk teman-teman keOL atau influencer, itu beda lagi, karena kan itu bagian dari pekerjaan. Berarti memang mungkin harus aktif di banyak tempat. Cuma kalau misalnya kayak kita aja, gitu mungkin ya kayak, "Oh aku cuma ya pengen bauan personal brand, nggak fokus utama yang bukan jadi influencer aktif.OL." Nah, tadi sih, merutaku, pilih satu atau dua platform yang kamu rasa kamu bisa menjej, kamu bisa dekat sama audiens kamu, kamu bisa balasin komen, dan kamu bisa update regularly. - Tapi kalau dari personal experience kehani, let's say sekarang kan top 3, top 3nya sos metan, misalnya ada Instagram tiktok sama Twitter, turun juga masih ramai. Gimana caranya kita memilih platform yang kira-kira benar-benar suatu kita berkata. - Oke, nah sebenarnya ketiga platform tersebut, itu juga objektive beda-beda. Kalau misalnya di Instagram, biasanya objektivnya itu lebih ke engagement. Phone hours kita di Instagram itu pastik, kayak bukan pastik, mostly yang kita beneran kenal. Temen-temen, sementara, temen kuliah, temen kerja, kita kenalan gaginya, nanti kita follow-follow-an. Jadi biasanya ke dekatan itu lebih dalam dan memang tujuannya kita, aku pengen tahu update kehidupan kamu. - Itu. - Nah, senangan kalatik, itu sebenarnya karena memang algoritmennya itu base on interest or topic. Jadi kayak lebih emang expose apa sih, eksperti, atau interest kita. Audiensnya bisa random, bisa macam-macam. Tapi wanting, we know for sure, they like what we talk about. Topicnya mereka cocok sama kita. Nah, kalau di Twitter, atau di ex-nya juga agar berbeda gitu ya. Karena konsepnya itu, kalau dari Twitter, ya sharing opinion, lebih ke tulisan gitu kan. Sama lebih ke yang sifatnya live aja. Kalau kita ada gempak, kita ga mungkin cari di Instagram, kan? - Iya. - Pasti pertama kali, nyari kayak info gempak. - Bener. - Itu kayak ke Twitter jadi yang live yang cepat-cepat aja. Jadi memang, fokusnya tuh tujuannya beda-beda. Tapi, bener-bener aku, kayak kalau sekarang sih, aku paling aktif itu combo ya di Instagram dan di TikTok. TikTok untuk tadi build awareness dan expertise. Dan di TikTok, aku bener-bener memang, ya udah fokusnya ngomongin tentang marketing dan branding. Sedangkan kalau di Instagram, aku fokusnya itu, aku sebagai halohani yang kayak aku founder dari halokah, aku juga mungkin sharing content, aku juga mungkin suka makeup, aku gini lebih asahoe human gitu loh. Kalau berarti kalau di TikTok, itu konten orientat. Jadi karena dia itu kan itu, sebenernya perkontent kan kan. Karena kadang event pick yang orang yang follow kita, setelah aku tuh bahkan ketika kita upload konten, followers kita belum tentu dapat konten kita. Karena di lemparnya, kayak FEP yang masyif orang-orang stranger, biasanya liat kan. Itu betul, tapi kalau biasanya di share ke kita dulu, sedikit, detas ting gitu. Kalau misalnya bagus baru di share lagi, kalau FEP yang lebih luas. Oke, nah, tapi TikTok itu. itu mendataksi topiknya. Kayak orang ini suka ngomongin persenal brand nih. Ya udah dia kancarin audiens yang suka ngeserca atau connect dan interact sama konten-konten. Persenal brand nih. Oke. Makan ya aku kalau ngesernya bukan persenal brand di TikTok, susah banget naik. Hmm. Itu yang karena mungkin biasanya TikToknya barin kontennya ke suka persenal brand di biti baku update make up. Gitu, let's say orang-orang ini kayak, "Aku make up." Oh. Oke. Oke, oke. Itu yang online. Hmm. Sekarang offline. offline. Oke. Jadi beri cukuplah teman-teman. Kita sudah selesai masa pandeminya sudah bisa ketemu sama orang. Nah, perbanyaklah kalau bisa networking ketemu sama orang. Itu kalau bisa secara langsung lebih baik. Nata kalau misalnya nggak make effort untuk datang ke event- event yang memungkinkan kamu untuk networking. Hmm. Oke gitu. Jadi semuanya itu butuh effort gitu ya. Kita tidak mungkin tiba-tiba kita yang didatangin gitu. Atau misalnya kayak ketemu di jalan resong. Sengetah salaman langsung. Teman-teman itu nggak bisa. Jadi emang harus ada effortnya cari kesempatannya. Dan kalau misalnya ini kamu udah tau "Oh aku suka banget nih sama orang ini." Karena cara pikirnya atau sama karirnya ada yang aku tanya kan. Ya udah coba dulu untuk dia kira-kira ada ngehajarin mana nggak ya? Hmm. Itu atau misalnya ada temen aku yang kenang sama dia ya. Bisa di river nggak ya? Kayak itu gitu sih kalau misalnya offline. Tapi lebih banyak jauh ini ke komunitas. Komunitas juga penting. Dan tidak harus yang "Ah ini mulut nih edukasi mulut." Nggak. Komunitas lari. Minta stenis. Main goal of gitu. Oke. Kan biasanya kalau networking. Itu kan. Bagi lagi ya sekarang kan salah satu kebanyakan self-climnya orang umur 20 lan adalah, "Ih tapi gue introvert, gue takut, gue networking." Nah, termasuk aku. Jadi aku tuh tipikal orang yang introvert ini juga introvert. Jadi kalau aku misalnya kan seringnya ada kayak diundang kayak dateng ke komentar ini acara ini. Tapi kayak ketika dateng tuh first alarmnya adalah kabur-kabur-kabur gitu. Nah itu ada nggak sih ke sebenernya tips and tricks ya, despite kayak "Oke introvert ya kalau extrovert." Mungkin lebih enak ya. Kayak tetep dapat asensi dari networking dan gebangun personal branding di event atau komunitasnya itu tanpa mau kabur step saat gitu. Oke. Ini coba saya bayangkan yang terlalu asu. Mampak lagi gitu. Aku ngerti banget sih. Mungkin kayak ada tadi gitu, rasanya aku, "Fagin saya keluar saja ada di ruangan ini." Karena kan yang asuvert pun, "Fagin kayak gitu sih." Jadi mungkin tipsnya dari aku kalau misalnya kamu merasa kamu introvert. Kamu cairi orang extrovert aja deh. Mungkin kayak spot the extrovert in the room. Oh, extens. Ya kan. Karena biasanya merasa nggak kan kayak "Ee, halo!" Jadi kalau tinggal ngikut aja kayak "Ee, halo juga." Atau mungkin bisa juga sih fun di other introvert in the room. Tapi bingung kan mungkin kalau introvert atau introvert kayak "Hello, halo." - Udah bajar gitu. - Udah dada-dada di. Dia tak hasil mungkin gitu. Jadi ya gitu sih. Tapi merut aku temen-temen introvert itu juga sebenarnya keren banget loh. Karena aku selalu merasa mereka adalah pendengarin sebenarnya memperhatikan. Jadi jangan juga, karena kita ngerasa mungkin takut atau gimana. Terus waktu kita lagi ada kesempatan atau lagi kita main handphone. Jangan walaupun kamu ganger ting, dengerin aja. Partisi pasilah dalam ketawa gitu. Ya kan. Jadi emang nggak mesti, kalau nggak mesti kita berusaha untuk salulung omong. Tapi dengan oh, kelihatannya dia tentif ya diklatannya mendengar keren itu juga salah satu bentuk respect dan komunikasi nonverbal yang sangat baik. Orang akan notis kok kalau misalnya oh dia nih kemarin waktu kita lengal-lal melabur dia ngering-gering. Tapi kalau offline tadi net working, join community dan lain-lain gitu. Jadi cihannya ada sempat mention juga salah satu caranya sebenarnya bisa juga building projects atau misalnya building program gitu kayak. Salah satunya kan cihannya bikin halok atau salah satu effort dari yang membangun personal branding secara keseluruhan. Gua nih, ahm, marketing dan branding gitu ya. Ya itu kalau kayak gitu, bisa ya apa proses berfikirnya gimana dan cara. Ya orang-orang bisa implementasi gimana. Karena menurutku ini relate juga untuk beberapa orang. Maksudnya ada beberapa orang yang udah gari misalnya kayak kita gitu. Betul, baru saya mau bilang. Oh saya ingin. Keren banget. Keren kan cian projectnya. Dan ini kan sebenarnya salah satu, berangkatnya juga salah satu kayak kayaknya pengen dari kenal sesuatu. Kalau aku misalnya kesnya di luar dari cuman marketing gitu untuk carin nis yang lebih besar. Oh ini gitu. Akannya bikin ini gitu. Namisalnya kalau di cihani sendiri itu misalnya proses mungkin tot proses dalam developing atau misalnya creating project ini seperti apa. Dan untuk memaksimalkan ketika projectnya itu udah ada supaya. Posalnya realit gitu salah personal branding gitu. Oke. Oke. Mungkin kalau misalnya berarti ini jatuhnya kayak passion project dong. Ya kan jadi sesuatu yang kita lakukan on top of what we already do. Oke. Mulai lah dari sesuatu yang benar-benar kalau bisa cukup effortless untuk kamu. Jadi sesuatu yang kamu bisa, sesuatu yang kamu punya atau sesuatu yang memang menjadi interes kamu. Berangkatnya dari situ dulu, cari tahunnya dari situ dulu dan yang tadi kalau bisa mungkin sebenarnya cari orang-orang yang juga punya keresahan atau nit yang sama. Oke gitu kan. Makara kalau misalnya mungkin udah ada ketemu orangnya bisa saling melangkapi, bisa saling kasih ide. Baru habis itu lanjut mikir kayak apa yang kita bisa lakukan. Yang mungkin tadi dibutuhin sama orang lain sebenarnya berangkatnya kayak gitu juga sih. Naks prosesnya mungkin bisa ngobrol-ngobrol. Mantasih semua ide itu butuh divalidasi kan. Ideprojeknya itu juga mungkin boleh divalidasi itu kayak kalau misalnya mungkin berawal dari podcast ini gitu juga kayak apa. Ya orang-orang di umur 20-an itu paling banyak kegalahuan. Oke gitu. Terus kegalahannya. Topiknya apa ya? Coba untuk di breakdown. Oh gini-ginini. Dafa tuh 10 season gitu. Jadi mau saya plan ahead juga ngebayangin kira-kira ini tuh bisa dibawahnya seperti apa ya kebayangnya. Terus baru habis itu mulai lah. Di palatnya aja, di projek kecilan. Terus habis itu jangan mikirin cuan dulu di awal. Benda-benda mikirin kayak ini, projek ini bisa giving added value ga untuk orang bisa saling. Yang sama-sama seperablim ga kalau misalnya bisa, ya coba di lanjutin, coba di bikin platformnya biar tadi sebenarnya amplifikasi orang lain lebih banyak tahu. Karena sebenarnya kalau di halokah itu itu itu itu yang dari begini. Jadi halokah itu pertama kali aku mulainya waktu-waktu masih kerjaya di kantoran waktu itu pandemi. Terus tadi punya kerasahan spesifikli tentang branding. Dan akhirnya bikinlah halokatoks yang vokus utamanya itu wuutlah itu democratize branding for non-marketers. Utamanya itu dulu tuh. Terus kita cari eternyata. Benda-nya ada di mana-ada orang-orang yang memang mereka tuh pengen bimbisnis, pengen bangun persenau, beran, tapi yang rica ranya. Dan ada orang-orang yang on my side, yang kayak, wah ini main kita lakukan sariri hari. Kalau bikin sosial sama dia kayak gini, "Mah, bisa lah kita kayaknya udah beberapa kali bikin." Ya udah, yang salah aku kan saya bikinin wu-binarnya. Eh, ayo, sharing. Oh udah jadi-jeerin platform mitang-apengah yang sharing happy karena ngerasa hidupnya bisa bermanfaat buat orang. - Rampaknya. - Benar yang ngering juga happy karena ngerasa, oh ini memang yang aku butuhin. Itu, coba tuh satu bikin, satu bikin, oke, oke, oke, oke. Terus jangan lupa juga berat aku komunikit your vision. - Iya. - Itu karena orang itu tergerak juga banyak banget sebenarnya orang yang tergerak karena perpa satu visionnya sama aja. - Hmm. - Kayak gitu. Nah, makanya diawala-awal halok-hal itu juga pujuhannya bisa dapat speaker yang serbisa banget gitu ya, sempat undang koernas. Kuala keras ini juga. Kresno yang menolohnya gitu. Sesimpun, karena mungkin mereka ngerasa. "Oke, melalui platform ini, aku ngerasa." Velunya sama nih, aku juga punya kerasahan untuk bisa bantu orang. Ya udah deh coba sharing nang sori taling waktu itu daripada bagiannya. Ya udah. Tau nya udah dirisit tuh. Balik lagi. Dari sharing, kalau nggak sharing, nggak tau. Kalau nggak tau, gimana orang mau bantu. Bagaimana? Binar, binar, binar, binar. Tapi tadi aku cukup tertarik sih dengan set manjihani yang bilang. "Jangan ekspekt Juan Dulu" gitu. Bertanya itu salah satu hal yang harusnya tidak kita lakukan. Jadi kita tau ngeset ekspektasi yang cukup tinggi. Tapi kira-kira ada hal-hal lain nggak cik. Kira-kira menjadi kesalahan-kesalahan bagi para pemulai untuk membantu persawa benda. Oke. Tadi mungkin aku menanggap yang ini Cuan Dulu gitu ya. Di awal itu jangan mikirin Cuan Dulu. Karena tadi pokoknya fokusnya kita ngasih giving added value dulu. Tapi menurut aku penting juga. Kalau misalnya memang kita mau seriusin, kita harus tau nih tapi kira-kira bisa menghasilkan Cuan Dulu. Lawat cara mana ya? Itu juga boleh. Apa yang kalau seperti saya? Baya dia harus dide resain terus oke saya. Mereka setihe kesinikan harus tau dong. Ujujnya buat dibawa kemana. Cuma awal-awal. Tadi balik lagi. Faluasi lagi, bener-ada atau gak marketnya, dan lain sebagainya. Kesalahan lainnya, menurut aku yang mungkin kalau aku reflak-bek ke diri aku sendiri gitu ya. Kayak di Halokat atau ngomong berusaha sama teman-teman, salahnya di mana? Menurut aku adalah kita. Apa ya? Kayak mungkin merasa apa sih namanya? Rendah diri itu, impostor syndrome. Merasa kayak. Ya sebenarnya hidup saya gitu. Skill juga, yaudah deh gitu. Benar-benar. Setiap di tahun, dengernya. Cuma capek. Ya kan, ini akhir hidup nih. Terus dihantar-siap apa-apa. Seterutnya impostor syndrome itu satu hal yang sangat mungkin terjadi. Tapi baiknya kita sadari dan kayak mungkin kita sadari dan kita aku. Tapi kayak, oh emang, aku nggak juga juga banget sih. Tapi at least I would like to start with what I have. It's okay, I can improve along the way. Kayak gitu. Semaranya gitu. Jangan berna merasa kamu tuh tidak spesial, tidak berguna, tidak bisa ngapain. Karena impact kecil pun tuh tepimpak loh. Kadang-kadang kita gitu ya. Kita suka tidur menjadari itu kalau kita bishear sesuatu. Ada yang ngedem kita, kebarin nanya kayak, ya namaku ada yang ngedem. Itu kita rasa biasa aja. Ada hal itu sebenarnya dia lagi kelaperan di kosan, bingung makanan. - Dia inget-inget kita. - Iya, bener-bener. Bener-bener. Berdak di kan kayak, oh orang udah mulai anak kefingin aku suka share tentang makanan saya hap atau makanan anak kosan. Pagal tuva. Wari dari situ akhirnya, ya dia coba sharing cerit makanan aja. Jadi futur, bisa boleh bisa. Jadi hal-hal kecil-kecil itu di shukuri, bisa dari. Dan ya udah di jalanin aja di shukuri gitu loh. Jangan ngerasa kecil terus. Karena kalau kamu ngerasa kecil terus, kamu benar-benar kecil terus, kamu gak kan. Perna bisa berkembang terus. Apalagi nih paling gemes ya. Kalau udah di bilangan sama temennya. Eh kamu tuh, papiris begini bagus banget tau. Muka lah. - Muka lah. - Muka lah. Banyaknya lebih jago. Eh jangan tau. Lantih kalau malekat denger. Iya. Di aham di aham. Ya udah aku kasih aja di yang beneran. Lu habis begini mana? Seramat kan? Jadi kalau ada yang mau mujik kita, kita sadari. Kita hamin semoga ya bisa duberter. Tapi ya gitu, sampe lentap menyadari memang banyak yang bisa diimproven. Tapi kayak ya udah di shukuri aja apa yang bisa saya share. Oke. Dan bahkan kalau misalnya kadang-kad ada juga misalnya, oke kalau misalnya case nya rendah diri dia sebenarnya udah kelihatannya bisa apa aja gue apa tapi dia rendah diri atau salsa butj atau impast versin room. Tapi pun kalau misalnya dia ternyata kan banyak juga yang kayak. Tapi gue beneran ga bisa apa-apa gitu misalnya kayak gitu. Always, akan selalu ada room untuk sebenarnya trial itu kan. Kak maksudnya di coba aja. Kadang soalnya gini misalnya case case toman umur 20 hanya. Kadang jadi mereka gini mereka beneran nyari. Kayak gue bisa ngomongin apa ya. Apaguari saya coba ngomongin hal. Apapak misalnya apa. Jadi kan mereka kan mencoba mencari. Karena mereka rasa ada kayak gue beneran ga. Ga tertarik Allah. Ya. Ya. Tapi ketika mereka trial kuncinya adalah tadi ya udah coba aja dulu gitu. Dan tapi at the end of the day pasti, we will always have something to share kan. Sebenernya at the end of the day. Betul. Sebenernya itu aja gue udah langsung pikiran jadi konten. 30 hari mencari bakat saya gitu misalnya. Jadi konten, hari ini aku coba masak. Teraat aku ga suka guys. Besok aku coba acting. Teraat aku ga ga guys. Bisa di jadikan konten gitu lah. Anyway. Tapi nah ini buat teman-teman yang mungkin tadi merasa aku masih dalam masa pencarian nih. Gut bagus banget aku support. Terutamanya tentang kan. Kalau misalnya kamu sudah punya keinginan untuk mencoba. Harus berarti tidak semua orang juga punya keinginan untuk. Oke aku sadar mungkin sekarang aku belum tau mau ngomongin apa. Belum tau bisa bergantung bersiapah tapi kayak aku mau cari tau. Itu udah. Oke banget. Nah on the side gitu ya. Untuk teman-teman yang memang masih mencari aku selalu bilang mungkin kalau belum ketemu skill ni atat topik ni bangun lah karakternya. Karena bagian dari persenal branding itu adalah kredibiliti. Kalau misalnya kamu belum bisa dikenal sebagai jahan yang jago banget marketing gitu kan ya. Ya sanggainya kamu dikenal dulu ni sebagai jahan yang pantang menyerah. Yang profesional yang beritaun jawab di kasih kerja napapun bisa enkinal sebagai ravif yang lucu dihidalkan yang kayak. Oke dia sebenarnya belum tau nih kayak tapi orangnya tuh sangat menyenangkan kalau ada dia di tim. Orang tuh jadi semangat gitu. Jadi at least kamu harapannya akan diinvolve dengan opportunity-opportunity yang harapannya next ya. Oh terata ini opportunity yang aku bisa kembaliin gitu. Tapi kalau ngomong ngebilt branding diri sendiri terus juga dengan terms orang orang yang masih belum tau nih bakatnya apa kan kadang-kadang suka kayak aduh nyontek yang konten ini dulu ya gitu. Nyontek branding orang dulu. Jadi kan gak trute yourself gitu tapi gimana sih caranya kita tetap penjaga si authenticity nya itu. Oke semuanya balik lagi ke dirasain aja. Tapi udah udah di coba atau belum. Belum ya berarti gak bisa bilang itu passion itu tuh gak yang kamu bangun tidur pagi-pagi ngerasa saya fashion-nya di bagian kopi. Gagitu passion itu tuh kamu coba dari kamu coba kamu suka dari kamu suka kamu ngerasa "i, bisa nih ada cumannya di business in." Pasin lo lo jadi passion. Kayak gitu kan jadi harus di coba dulu di rasa nah sebenernya tadi juga gitu ya kalau misalnya kayak bagian dari prosesnya aku pengen tau orang orang ini tuh ngelakuin apa sih terus aku coba. Alal itu sebenernya gak papan juga lo. Mala itu juga aku masih merasa itu ada effort nya gitu kan. Tetepan aprogras gitu ya. Bener nah di coba dulu di rasa oh kayaknya aku cocok nih bener nih di bagian marketing. Ya udah baru balik lagi tadi masukin ke identity mix tapi marketing aku tuh uniknya kemana ya. Even kayak oh oh ya udah kan ya udah bahas marketing banyak. Tapi marketing husus untuk fashion muslim misalnya. Wah itu kan udah nish banget tuh. Belum banyak yang bahas. Laksa kayak gitu jadi coba-coba dulu. Pemakin dalam, makin lama, makin di dalamin. Laksa itu juga gak apa-apa. Tapi jangan skeptis dulu gitu loh jangan kamu coba dulu. Apalagi di uur 20 tahun apalagi kamu masih kuliah ya. Ketun, saatnya kamu mencoba segala hal dan. Bener. Cari tau yang kamu juga gak suka itu juga penting. Mengen cerita apa yang kamu suka doang tapi cerita apa yang saya gak suka ya ini. Gue udah jangan pagi gak apa juga gitu sih. Tadah di hangale gak suka bisa di kontenin juga gitu ya. Bener bener. Tidak gue harin mencari bakal gitu. Tato bener ada implement. Langsung komen ya. Tagi tahan ngelain. Sebenernya kurang lebih harinnya udah banyak banget sih. Kita ngomongin tentang tadi personal branding, personal marketing. Terus ada juga berbagai tips-tipsnya, komen mistakesnya gitu. Ya, ya. Mungkin kalau misalnya dari Cihani sendiri. Ini. Sebenernya sebelum ini ada case menarik sih. Aku mau coba tanya. Bengen. Jadi sebenernya gini C. Apa sebenernya ternyata kebanyakan penonton in our twenties itu adalah sebenernya malah justru tidak tinggal di ibu kota. Dan tidak terlalu mungkin kalau kita kan dijakartakan oh soes med soes med. Kalau temen-temen ini ternyata banyak karena komen-komen gitu ya. Ternyata mereka tidak terlalu yang apa banyak soes med dan misalnya posting posting lah. Maksudnya mereka lebih ya udah fokus hidup secara offline aja gitu. Nah. Tadi kan misalnya kita ngomongin scope besarnya adalah oke bisa ikutkan networking event atau misalnya ke komuniti gitu. Nah tapi kalau misalnya kita ngomongin nih misalnya temen-temen di umur 20 han yang mereka tuh balik lagi tadi apa tidak terlalu maksudnya dunia untuk dia mencari. How to did it be online? Terus tapi di offline juga mungkin temen-temen juga nggak bisa ikut network networking atau misalnya komuniti gitu. Mereka mau mulai membangun karir maksudnya membangun. Biasanya tipsnya apa sih chi yang kira-kira bisa mereka lakukan, which itu kan bener-bener bisanya dulukan. Mamanfaatkan apa pun yang ada di skitarnya gitu. Pertama no bro. - No bro, bisa dong. - Gusana networkingnya ngomong berleju sama orang orang gitu ya. Jadi kayak kamu nih ketemu di kampus, di kampus kuliah kamu. Terus misalnya kayak oh aku udah kebayang nih secara karir aku kayaknya tadi kayaknya punya interest di dunia marketing deh. Ya udah cari orang di sekitaran kampus yang kamu tahu mungkin lebih punya banyak pengalaman di dunia marketing. Mintar referensi, tanya kedosen kak. Apa kita punya ngasih alumni yang sekarang lagi kerja di FMCG atau misalnya lagi kerja di Kota ini dan fokusnya tuh benar-benar di digital marketing. Bolehnya nggak aku dikenalan mintan Omar Whatsappnya. Aku mau tanya tanya nih soalnya kayaknya aku tertarik di digital marketing tapi aku juga bener-bener nggak gitu ngerti kayak di jalan marketing di dunia kerja tuh kayak gimana. Jadi benar ya ngobrol aja, mintan di referensi in, tanya tanya sama orang untuk kerapi kiran kayak gitu sih. Itu yang paling sedihannya yang kepikiran di aku sekarang ya. - Yup, yup. - Terus gunakan resor siang ada berarti in my head sekarang kebayangnya aja buku mungkin. Buku-buku self-dev, aku tipa yang lumayan suka baca bukunya yang self-dev. -Mak, saya mau kebiasaan. -Mak, banyak banget sekarang website yang kamu bisa. -Kamu bisa ngobrol sama chat Gpt itu juga, nah ya. -Kaya, ya. -Aduh, biasanya orang kalau terkait marketing suka bagungnya, ngobrol tentang apa sih? -Benum-benum kebiasaan. -Kaya sekarang, inspirasinya, tapi 1 day harapannya itu bisa, tiba-tiba ke inget, eh, ada yang kayak gini ya. -Kaya gitu. Itu yang pertama pasti, kaya bisa nidek. Itu yang akan ada, yang kedua pasti tidak konsistan. -Ya. -Aduh, sibuk nih, apalagi kalau misalnya tadi kan sambil kerja juga, sambil ada ngebilt sesuatu yang lain. -Akan susah untuk konsistan bauan persenal berennya. -Yup. -Nah, ini tip dari aku, "Don't be too hard on yourself." -It's okay, balik lagi ya, kakakak kalau misalnya tujona akhirnya bukan untuk jadi influencer. -Atau kakok, kalau misalnya influencer atau kakok, "Ih harus jawab lebih disiplin." -Cuma kalau misalnya kita untuk kita, kembali sih pasti bedanya. -Yakan, yang emang kita tuh bukan benar-benar pengen jadi full time content creator. -Semurian, gak pahal banget. -Nggak pahal, aku pernah ngantain TikTok 3 bulan. -Oh, emang banget tuh. -Yah, lama banget. -Kara saya mencari jadi diri. -Nah, itu gak apa-apa, tapi once you feel like kamu udah siap, ya mungkin posting lagi dan udah mulai bisa diplamin. Jadi intinya itu kalau bisa sebenarnya becinc content. Jadi bikin content satu hari tiga, di post ini jangan langsung tiga-tiga nya. Tapi kayak, "du hari sekali, seganyi aman tuh satu minggu." -Kara lah lebih penting. -Kakak konsistan sih gitu loh. -Sama kayak kalau kita ngajem, bukan yang oke, pokoknya satu minggu saya, "Dah hari ini udah ngajem lima jam, abis itu gak ngajem lagi." -Nggak? -Beningan sejam-sejam sejam-sejam. Nah terus yang ketiga yang tadi aku bilang tuh, kayak kamu akan merasa, "guh, nonton gak apa ini ya?" Gue sebenarnya nonton buat ngomongin apa sih? Bingung gitu loh kayak, "Garang-garang kita di tengah nonton tuh soalnya." Ini sebenarnya nonton yang aku bikin tuh buat apa ya, siapa ya? Ini aku lagi beneran-wantan-wantan apa, cuma penciteran aja ya. -Nah kayak gitu. -Itulah kalau misalnya tips dari aku yang aku lakukan juga, biasanya aku journal link. -Ya sih. -Jurnal link di sadari dulu balik lagi apa yang kamu rasa in. Kenapa kamu mungkin ngerasa, "Kau, aku ngerasa benar-benar banget eh nonton." Itu banyak tuh macam-macam kalau dulu aku mungkin karena awal-awal bangun halokah, karena aku juga handle klien gitu ya, dan aku juga share tentang marketing. Jadi ada perasaan takut di judge. Kau kamu share di konten kamu kayak gini-gini tapi misalnya kayak benar-benar yang aku pakai halokah, gak works seperti yang kamu omongin ada perasaan takut juga kan. Jadi ya udah aku journal link kalau aku ngerasa itu problemnya. Waktu itu akhirnya aku tekakshiannya aku ngambil course lagi. Jadi aku belajar lagi, baca buku lagi, aku ngisi diri sendiri dulu. Jadi waktu sharein harapannya lebih pendek. Kayak gitu. Nari sih journal link karena sebelum selumnya kita juga sempat bas journal link gitu. Tapi kalau untuk in terms of personal branding sendiri, aku kayak apa deh misalnya teringkushian apa yang selalu kehani jawab di journal link. Ada gak kira-kira yang bisa di share? Kalau aku biasanya lebih ke itu sih ketakutannya. Kayak ketakutannya apa sih? Karena balik lagi nih yang tadi misalnya. Aku punya followers di teketok 111.0 plus. Tapi viewers aku 20.0. Sebenarnya ketakutannya itu lebih ke ego aja malu gitu. Ini jujur banget deh. Gak apa-apa? Aku bisa memungkai gini karena aku journal link. Memangkannya abis journal link itu aku juga tanggal lagi sama di sini. Ya terus emang kan apa? Kalau misalnya emang ternyata kontennya gak bagus. Yang apa-apa kan, bikin-tinggal bikin konten lagi. Isilah kayak gitu. Cuma itu satu hal yang aku sadari bahwa oh bisa segitunya ya. Kayak rasa malas atat aku tanggantan itu, alasan ini bisa macem-macem banget. Itu yang di cari tau. Dan harus jujur sama diri sendiri. Karena sebenarnya by the end of day. Gak apa-apa? Gak apa-apa? Benda rancuma kita doang yang takut. Gak ada orang yang ngeliatin konten niktok kita terus kayak benar-benar. Kayak, dia kondahnya jelak, "Eh gitu, gara-gara gitu." Terbesar yang saya prediksi akan di alami semua orang yang lagi sama brand. Tapi yang kesalahan terakhir itu ini banget sih. Karena mungkin kalau simpel-fahinya katakannya bisa kayak. Ya, gak pengen konten takut akrinc gitu. Ya, itu kayaknya orang di 120 hansi kayak. Ini nanti gue diomongin-gini-gini-gini. Tapi kalau journal link mungkin tadi bener-jadik kayak. Terus kenapa kalau orang ngomongin gitu? Mungkin malah jadi free world of mode. Benar-meningan diomongin daripada gak pernah diomongin sama sekali. Benar-benar-benar. Cepaja bikin konten, gak ada ngeliat, gak ada yang ngwarok gitu. Nama benar-benar-benar. Nama benar-benar-benar, gak ada yang komen. Pokoknya dimunan juga konten vis itu. Itu. Kalau dari kita sih kurang lebih banyak banget pertanyaan yang udah terjawab. Dan ini juga pertanyaannya. Bagi-bagi kita tuh selalu setiap mau shooting kita tanya sama temen-temen kayak. Kalian ada pertanyaan apa? Jadi, hopefully ini pertanyaan temen-temen udah terjawab sama Cihani. Amin. So, thank you so much Cihani for today's session. Sebelum kita mengakhirin saya seini. Padir-dari tadi ini, aku notiskan apa Cihani kalau misalnya job itu selalu kak gitu. Dan kayaknya ini aku dulu, selalu mikir. Pasti aku pernah di approach halokatok juga dan ngisi di sana. Pokoknya aku tuh dulu tuh sumpet kayak beberapa hari itu aku mikir kayak. Kenapa namanya halokat? Terus aku tebak-tebakkan gitu apakah halokat gini-ini gitu. Tapi aku sebenarnya udah dapat joban dari sebuah podcast na topi. Cihani cerita lagi gitu. Apakah itu berhubungan tadi? Cihani kalau aku letih selalu menggir semua orang kak. Dan namanya juga halokat. Apa sih hubungannya? Betul. Jadi halokat itu sebenarnya filosofinya dari halokat. Literalis seperti itu. Karena kita percaya bahwa meaningful conversation itu startsnya dari yang pak. Sesimali itu ngobrol halokat. Dan kenapa kita signifising itu kak. Ya karena halokat itu biasanya kita menandakan. Ya dia lebih senyor dari pada kita. Jadi kita menempatkan diri sebagai orang yang kita pengen tau lebih lanjut. Ada sesuatu yang aku pengen pelajari dari kamu. Ada sesuatu yang aku suka dari kamu. Makannya kita kayak halokat itu. Jadi banyak kasungan. Iya banyak-banyak kasungan. Oke. Itu untuk ksasi hari ini. Sekarang lagi, thank you so much Cihani. Siapa banyak? Kalau misalnya temen-temen, mungkin kebanyakan temen-temen udah tau. Tapi biasanya kita selalu kasih ruang untuk speaker. Kalau misalnya temen-temen mau nanya lebih lanjut. Atau misalnya mau console-console di DM-DM atau berlama Cihani secara online. Itu ada di mana saja sih. Boleh. Terima kasih banyak Cihani. Terima kasih. Dan buat menemangkan yang nonton nih pas si kata-kata depan itu depan itu. Kalau misalnya nanti, saya ada di Instagram dan TikTok. DM aja, aku baca. Tapi mungkin jalan-sung aku balas tapi nge-papar di Maja. Kalau misalnya nge-papar, semuanya aku jadi di TikTok. Jadi, hope to see you there. Semoga tetep bisa menjalin tali silaturah misalnya secara online di halohani ya. Di TikTok dan Instagram. Terima kasih. Kamu tanggal depan itu. Kata di lumayan banget, praktikable banget sih. Dan buat teman-teman sekali kita ingetin. Eh, sebelum mau terima kasih banyak banget ya. Kita tuh dapat banyak banget insai, banyak banget komen. Jusru dari curhatan teman-teman itu bisa kita ngat lagi buat jadi next topicnya. Jadi, stay tuned in our 20's and see you in our next episode. Bye bye. [MENGENI]

Podcast Summary

Key Points:

  1. Personal branding adalah kegiatan mengomunikasikan kontribusi atau nilai yang dapat kita berikan kepada orang lain.
  2. Branding fokus pada pembentukan identitas dan persepsi diri, sedangkan marketing adalah upaya mengamplifikasi atau menyebarkan persepsi tersebut.
  3. Personal branding penting karena membantu membuka peluang, baik dalam karier maupun usaha, dengan membuat keunikan dan kemampuan kita dikenal.
  4. Langkah awal membangun personal branding dimulai dari mengenali diri sendiri (kualitas, keterampilan, pengalaman) sebelum berbagi ke publik.
  5. Imposter syndrome wajar terjadi, tetapi kita bisa memulai dengan apa yang dimiliki dan konsisten berbagi nilai.

Summary:

Pembicaraan ini membahas pentingnya personal branding, terutama bagi generasi muda di usia 20-an. Personal branding didefinisikan sebagai upaya mengomunikasikan kontribusi atau nilai yang dapat kita tawarkan kepada orang lain. Proses ini melibatkan dua aspek utama: branding yang berfokus pada pembentukan identitas dan persepsi diri, serta marketing sebagai cara untuk memperkuat dan menyebarkan persepsi tersebut. Personal branding membantu membedakan diri di antara banyak orang, membuka peluang karier, kemitraan, atau bisnis, karena orang lain menjadi tahu kemampuan dan keunikan yang kita miliki.

Untuk memulai, penting terlebih dahulu mengenali diri sendiri melalui kualitas pribadi, keterampilan, dan pengalaman hidup. Setelah itu, kita dapat berbagi nilai tersebut secara konsisten, misalnya melalui konten di media sosial. Pembicara juga menekankan bahwa imposter syndrome adalah hal wajar, tetapi jangan sampai menghalangi langkah awal. Dengan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki dan konsisten berbagi, personal branding dapat menjadi alat navigasi yang efektif dalam menghadapi tantangan di usia muda.

FAQs

Personal branding adalah kegiatan untuk mengomunikasikan apa yang bisa kita kontribusikan kepada orang-orang di sekitar kita. Ini melibatkan identitas diri dan bagaimana kita menyampaikan nilai yang kita miliki.

Personal branding membantu mengomunikasikan keunikan dan kemampuan kita, sehingga membuka peluang seperti pekerjaan, kolaborasi, atau bisnis. Di usia 20-an, ini dapat memperjelas arah karier dan meningkatkan kepercayaan diri.

Branding berfokus pada membentuk identitas dan persepsi tentang diri kita, seperti cara bicara atau nilai yang ditampilkan. Marketing adalah kegiatan komunikasi untuk memperkuat dan menyebarkan persepsi tersebut, misalnya melalui konten atau jaringan.

Mulailah dengan mengenali diri sendiri: kualitas pribadi, keterampilan, dan pengalaman. Kemudian, bagikan nilai tersebut secara konsisten, dimulai dari hal sederhana seperti media sosial, untuk membangun kepercayaan dan peluang.

Jika hanya fokus pada marketing tanpa membangun branding yang kuat, kita mungkin viral sementara tetapi tidak memiliki identitas yang jelas. Ini dapat mengurangi daya tarik jangka panjang dan peluang seperti kolaborasi atau konversi yang bermakna.

Personal branding mempermudah dikenal di luar peran kerja, menarik klien atau mitra, dan membangun kredibilitas. Misalnya, sebagai founder, personal brand dapat membantu merekrut tim atau mendapatkan pelanggan awal.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.