Go back

Episode 2 (Part 1): Ngomongin Passion, Karir, hingga Growth Mindset & Habit di umur 20-an ft. Iqbal Hariadi

61m 4s

Episode 2 (Part 1): Ngomongin Passion, Karir, hingga Growth Mindset & Habit di umur 20-an ft. Iqbal Hariadi

Pembicaraan berfokus pada pentingnya usia 20-an sebagai masa untuk bekerja keras, mengeksplorasi passion, dan mengambil keputusan yang berdampak jangka panjang. Narasumber, Kaik Bal Hariani, berbagi pengalaman pribadinya yang berawal dari latar belakang biologi namun beralih ke dunia media dan sosial setelah menyadari ketidakcocokan karir sebagai ilmuwan. Ia menekankan peran intuisi dalam pengambilan keputusan, seperti bergabung dengan platform "Kita Bisa" yang kini menjadi komunitas amal terbesar di Indonesia. Kaik Bal juga menyoroti pengorbanan seperti jam kerja panjang dan dedikasi ekstra di awal karir sebagai kunci kesuksesannya saat ini. Ia berpendapat bahwa di usia 20-an, kerja keras sering kali lebih penting daripada mengejar keseimbangan kerja-hidup, karena fase ini adalah waktu untuk "menabur" sebagai investasi masa depan. Diskusi juga menyentuh topik self-growth, di mana konflik internal dan ketidaknyamanan justru dapat menjadi pendorong perkembangan pribadi jika dihadapi dan didamaikan dengan baik.

Transcription

8867 Words, 52591 Characters

Indonesian
Umur 20-an itu waktu nabur gitu. Waktu yang mengeluk kerja keras gitu. Waktu 20-an itu yang mengeluk harusnya kerja keras. Apalagi kalau lu ngerasa lu klu lu banget sama hidup di situ. - Betul. - Lu gak tahu apa-apa ya, berarti ya kerja lu. - Menar, menar. - Dets di onlyway lu bisa menemukan itu. Naga kerja sekeras itu pada walaul 20-an. Lebih dari yang diminta, lebih yang dari yang saharusnya dan asli selesai, gue gak akan nyampe sekarang sih dan apakah yang gue capek sekarang wartet, beri wartet ya. - Hai semua, balik lagi ke dalam walaul 20-an. Semuanya menonton walaul 20-an. - Walaul 20-an. - Oke, aku rafis dan partnerku. - Jahan. - So, sekarang kita sudah kedatangan kamu yang pasinya akan membahas mengenai life purpose in our 20s juga dan akan membahas lebih lanjut mengenai passion, kemudian habit dan juga hari ini, speciel kita juga akan membahas masuk ke topik kerasian chip ya. - Menar. - Mungkin sebelum kita mulai kita ceritasi dikit kalian tentang in our 20s. Lagipun kita mau sedikit cerita, sebenarnya kenapa si akhirnya podcast ini dan mungkin media to platform in our 20s ini ada. Jadi sebenarnya simpel sih, berangkat dari satu kerasahan ya itu, kita ngeliat bahwa sebenarnya ratarata orang-orang di umur 20-an itu mereka mulai memasuki, fase, dimana mereka harus mengambil banyak yang penting dalam hidup mereka yang akan impactin secara jangka panjang. Tapi kebanyakan juga kita, karena kita masih di umur 20-an juga, ratarata bingung gitu kayak which steps to take, atau gimana sih caranya untuk membuat decision-decision ini. Akhirnya kita mikir gimana kalau misalnya kita bikin sebuah platform, dimana ya, objektifnya satu, membantu orang untuk menemukan jawaban mereka. Dan makanya hari ini lagi-lagi kita kedatangan kamu ya. Betul, yang tentunya bakal mengulik tadi kerasahan kerasahan diusia 20 tahun gitu ya. Oke nah, kosus kali ini kita akan membahas mengenai self-growth. Tadi aku juga udah sempat mencihan jahan kita juga membahas mengenai passion, kemburan habit, dan kosus hari ini, relationship, dan kita sudah kedatangan sosok yang akan membahas mulai dari bagian terwar sampai kita kulik bagian dalamnya. Kita sudah kedatangan, "Please welcome Kaik Bal Hariani." - Yee, hello, Kapis, al-Jahan. - Hello, Kaik Bal, terkabakannya. - Good, terima kasih terima kasih. - Aham, Bila. Nah, Kaik Bal ini adalah CEO dari Proud Project, kemudian VP juga dari kita bisa. Dan penulis juga nih, yang aku tahu, penulis buku 30 impactful life hacks betul. - Ya. - Oke, nah mungkin boleh dikenalin dulu dikat. Tadi kan udah banyak tuh, aku mencandarisi, "Oh, Kemenulis juga." Nah, Kaik Bal Hariani siapa sih? Oke. Ya, thank you. Sempatannya, benar sih tadi kita ngobrol di luar juga ya. Gue, sebenarnya, gue suka makyatope yang berbeda aja, kalo ketemu orang tergantung konteks ya apa. Gue pakai tovi yang beda gitu ya. Tapi secara umum sebenarnya, gue aktiviti sehari-hari satu. Ya, gue ngelihat media, namanya Proud Project. Jadi, buat anak muda, tempat kita saling sharing cerita dan saling sharing safe space lah. Buat kita saling sharing cerita dan perspektif gitu ya. Ada onlinenya dan kita punya komuniti juga itu di Proud Project. Nah, Proud Project ini sebenarnya juga bagian dari gue itu dari tahun 2015 bangun kita bisa. Kita bisa platform tolong- tolong terbesar di Indonesia. Saat ini selain mungkin temen-temen banyak yang udah familiar sama kita bisa dengan donasinya. Tapi sekarang kita tahun kemarin, kita baru aja at-tahun ini. Awal tahun ini kita baru aja ngeloncing ulang satu program tolong-telon-telon yang baru. Itu asuransi namanya saling jaga. Oh. Itu nanti, kalo temen-temen penasaran itu hal baru lagi, kalo nambah lagi itu, jadi banyak lagi nanti. Nanti temen-temen cek aja di saling jaga. Tapi selain itu gue sehari-hari juga jadi konten creator gue nulis di konten-dinsagram gue banyak konten-content tulisan. Terus gue udah nulis tiga buku. Satu judul buku nya namanya bertumbuh itu gue nulis bareng sama 4-5. Itu kita nulis tentang lesans lelun dan wisdom wisdom yang kita dapatkan menjalani quarter life crisis. Itu judulnya bertumbuh. Terus yang kedua gue nulis sama partner gue juga dulu temen-kuliah di biologi kita nulis buku. Judulnya World of Life itu sebenarnya buku anak kalo anak-anak pengen dikenalin ke science gitu terutama biologi. Tama yang terbaru tahun lalu gue nulis buku judulnya tertimpa kevolahak itu bentuknya ibu. Gitu saat ini udah dibaca alhamdulillah udah dibaca seribuan orang. - Wow. - Gitu sih itu mungkin kalo yang sehari-hari tapi selain itu gue juga sehariri sebagai suami dan ayah. Oh ya betul tadi lu paman sen kayaknya sebagai seorang ayah kepular rumah tangga gitu ya. Nah tapi yang jadi menarik nih tadi kita sepatnya ngobrol di luar juga bahwa kayak balitu juusur backgroundnya adalah seorang masis-sob biologi gitu ya. - Lelah. - Tapi akhirnya saat ini berkecimpung di media kemudian getter, community terus juga ada platform yang sangat besar gitu impactnya di sosial gitu ya. Kira-kira apa yang akhirnya mendasari what makes you you right now gitu? Apa reason dibalik itu semua dari mulai perjalanannya backgroundnya biologi kemudian sekarang terbagi waktu nya yang pasinya banyak. Mungkin kesariannya langsung ke bagi gitu pecaf focus konsentrasinya gitu apa yang mendasari itu semua. - Menarik pertanyaannya. Gue mungkin tarik dari tadi ya bahwa di umur 20 an tuh kan banyak banget keputusan-keputusan yang kita ambil gitu ya. - Ya kalau what makes me me ya basically sebenarnya every decision that I have made gitu kan in the last 10 years gue sekarang umur 31 gitu ya lagi jalanin umur 31. Nah kalau dalam konteksnya gue mungkin beberapa decision yang memengaruhi itu satu. Ya gue tuh banyak sebenarnya in the last 10 years. Benjalanin 20 an tuh gue banyak sangat banyak mingikuti kata hati. Gue orangnya sangat driven by hati dan intuisi gitu gue gak terlalu gue gak terlalu bukan gak terlalu ya. Gue selalu mengadepankan intuisi dibandingkan rational gitu jadi kayak biasanya gue hati gue kemana terus gue mencari rationalisasi yang menjastifikasi bilihannya itu. Nah salah satunya misalnya sebenarnya gue kuliah dulu ngambil biolog itu pilihan pertama gue gue dulu biologi ui itu pilihan pertama gue biasanya kalau orang masuk biologi atau mipat tuh kadang dia pilihan kedua itu biasanya masuk ke doktoran tapi gak masuk ke akhirnya masuk biologi gitu. Itu banyak temen gue kayak gitu tapi kalau gue sebenarnya dari awal pilihan gue ke biologi. Alasannya adalah karena memang gue suka biologi dan yang mungkin inspirasi gue masuk biolog itu diantaranya adalah satu Spider-Man. Oh, Spider-Man adalah film yang paling biologi. Peter Parker tuh, no? Iya, gitu. Iya, gitu. Biologi musuhnya juga lizard, oktopus, doktor oktopus, Sandman yang diantanya nyampur sama pasir gitu jadi kayak gue fascinated banget lah. Ngikutin Spider-Man, Peter Parker ya, napp biologi deh gitu. Most dipenliti gitu ya. Peneliti gitu kayak gitu. Itu kayak gue keren gitu. Itu satu. Terus kedua dulu tuh waktu kecil gue suka nonton BBC Animal Planet gitu. Gak tau yang mungkin temen-temen yang tau David Attenborough gitu yang menaratori. BBC yang suka dia suka tiba-tiba ada di tengah hutan, mengagantung di atas hutan, di belakangnya orang-utahan gitu. Dia sebagai host acara tapi menaraskan cerita-cerita alam lah gitu. Nah dulu tuh gue obses banget gue pengen nih jadi host. Jadi sebenernya gue udah punya gue obsesing gue sebenernya di media tapi spesifik di biologi pada saat itu gitu. Terus sekarang ga langsung manifest. Benar gue jadi kayak gue sebenernya salah satu mimpi gue yang mungkin saat ini di pendam dulu tapi ga tau siapa tau ke depan ada jalannya gue pengen jadi host acara-acara alam gitu. Oh, sampe sekarang. So sampe sekarang masih ada keinginan. Mungkin ga ambisi tapi kayak keinginannya ada gitu. Nah itu sih yang akhirnya bikin gue masuk biologi tapi sehingga cerita selah gue masuk biologi gue ngikutin kata-hatiku juga jalanin sekoliannya dan segala macam 3 tahun gue menemukan faktor bahwa ya sebenernya gue ga cocok. Kalau gue berkarir sebagai seorang scientist gitu. Gue ngerasa karakter gue ga cocok aja. Science itu harus sabar, harus konsisten banget di satu tempat, harus telah attend dan nalain karakter gue ga cocok aja kalo gue harus berkarir seperti itu. Akhirnya gue agak ada rationalitasnya tapi gue akhirnya mengikutin kata-hatiku ya gue mau explore hal lain. Nah dari situ di tahun tahun terakhir gue kuliah gue mengexplor banyak hal di antaranya yang gue explore adalah dunia interpandasip, dunia digital startup. Akhirnya pelan-pelan kebuka jalan kebuka pintu gue ketemu sama orang-orang yang akhirnya membuka jalan karir gue sampai saat ini gitu ya. Mishantanya misalnya gue dulu waktu kuliah 2013 gue masih kuliah gue ketemu sama Timi. dari kita bisa waktu itu baru banget mulai, baru dia mulai sendiri banget gitu. Dan kebetulan waktu itu gue masih kuliah pun karena tadi gue cerita gue udah memutuskan gue gak akan berkari di dunia science gue udah mulai explore hal-hal lain salah satu yang gue explore ketika gue diperpustakan kampus adalah gue nyari-nyari berusing tentang kerat vending di luar negeri karena di Indonesia waktu itu masih sangat sedikit atau baru mulai kita bisa juga baru mulai banget gitu. Jadi pas ngobrol sama ketemu sama timi ngobrol, oh dia juga kaget gitu karena kok ada anak kuliah yang tau tentang kerat vending gitu karena pada saat itu di Indonesia belum ada, ya kita ngobrol cocok dan segala macam, "Singkat cerita akhirnya gue diajak gabung kita bisa." Aw waktu itu gue apa namanya waktu gue join kita masih berempat, termasuk dua kovounder timi dan fikra. Fast forward, singkat cerita gue jalan ini kita bisa 10 tahun sampai hati ini. Alhamdulillah kita bisa berthahan 10 tahun bangun brand-nya sampai saat ini Alhamdulillah jadi yang paling dipercaya untuk tolong-tolong-menolong di Indonesia sekarang kita memfasilitas satu kebaikan pendetik gitu. - Pedatik ya hitu aja. - Pedatik. - Jadi kalau balik ke pertanyaannya, what makes me me? Ya mungkin kalau cerita panjang banget layan, naftih bisa kulik tapi kalau gue agak, ya mungkin karena usia 20 han itu juga banyak kulisnya, enak. - Betul. - Hawas kulis, udah time juga gitu tapi gue tipa orang yang. Gak tau ya gue gak bisa kalau gak ikutin katahati gitu sih. I don't know if people can relate to this or not, tapi kalau ditanya apa yang bawa gue kesini salah satu nyayi gitu sih. - MbTianya pasti ada NFnya. - Iya kayaknya ya gue dalam enggak. - Gue dalam lupa ya. - Enggak ada. - Enak. - Iya kayaknya gitu deh. Tapi gue inget gue pernah ngambil di jadah berapa tahun terus beda gitu. Tapi gue lupa bedanya apa. Tapi kayaknya enak itu campainer bukan sih? - Iya. - Iya, ya. - Iya kayaknya gue itu nih. - Oke. Menarik-menarik. Berarti tadi brangkatnya sebenarnya dari biologi, terus habis itu akhirnya karena kulis cari-cari-cari-cari dan akhirnya masuk ke kita bisa kalau aku liat teruntutannya itu kan kalau nya berangkat dari kita bisa terus akhirnya mas ikbal kan dari dulu sempat podcast ting juga bikin podcast terus habis itu nulis juga. - Iya. - Dari dulu mungkin orang-orang masih kita zaman block mas ikbal udah mulai nulis sampai akhirnya sekarang ramanya di Instagram nulis juga di Instagram dan breakthrough juga gitu. Dan akhirnya sekarang jadi mas ikbal yang sekarang berdua di sini gitu. Nah mungkin tapi yang jarang ditanyakan gitu dan jarang dibahas di konten gitu after all this time nih mas melewati itu semua. - Apa yang kamu rasa sekarang? - Gue tuh suka banget kata gue teropsasi sama kata better. Lebih baik gitu ya. Dan gue teropsasi karena kata better tuh somehow menurut gue apa ya menunjukkan dua hal sekali gitu. - Tapi gue juga hopeful gue bisa lebih baik lagi besok gitu dan fokusnya selalu ke diri gue sendiri sih kayak gue pengen lebih baik gue pengalahin di hari kemarin gitu. Hari besok gue harus lebih baik dari hari ini gitu. Jadi kalau tadi ditanya apa yang perasan gue tentang hari ini, gue rasa hidup gue lebih baik gue berangkat dari keluarga yang tidak berprivileh gitu ya. Tidak bahasa kasar gue ya. Tidak miskin untuk bisa apply biasi suar tidak mampu tapi juga tidak berkejupan sehingga gue tetap harus gue butuh biasi suar gitu gue juga pas. Gue sur 5 dengan biasi suar juga gitu. Dan loking back gue ngerasa gue dari tempat yang jauh lebih baik dari ketika gue memulai gitu di banyak hal dalam aspek kehidupan gitu ya. Jadi gue sih sangat grateful. Tapi gue juga suka sama kata gue masih berpangat. Iya itu nunjukkan humble gitu ya. Tapi pengen kepo juga nih kan prosesnya tuh lama yang mungkin aja sih ada aja orang yang tiba-tiba klik, oh dia tiba-tiba jadi sukses gitu. Tapi kan kalau kayak bal cerita kan tadi ada prosesnya. Bologa di sharing kira-kira dalam perjalanannya tuh ada gak sih hal-hal yang akhirnya dikorban kan melukukannya penting sih untuk kita pelajari juga gitu. Karena kan kita gak tau nih buat meningbang apakah kalau misalnya tadi in terms of kind of the opposite of the biologi gitu kan itu kan akhirnya jadi di tinggal kan mungkin gak sepenuhnya tapi sebagian besar di tinggal kan ya. Jadi kira ada gak hal-hal yang kayak gitu. Yang dikorban kan ya. Untuk menjadik baik banget saat ini. Mungkin pengorbanan paling berasa adalah gue ngerasa gue di early 20 han gue. Terutama mungkin setelah kuliah lah ya. Atau di akhir-akhir kuliah dan abis itu mulai awal kerja. Itu gue sangat hasil sih kayak gue biha kerja sampai jam 11 malem tuh masih di pan laptop gitu. 11 malem jam 1 malem mungkin masih kerja gitu. Wikern pun masih kerja juga masih nulis, masih bikin konten, masih kalau bisa ketemu orang-ketemu orang dan segala macam yang tuh biar nis gue juga sangat. Gue merasa gue enjoy itu gue gak gue pada saat awal-awal karir gue gak merasa gue punya beban ah gila capek banget nih dan segala macam gue gak rasa gue jalanin apa yang gue suka gitu. Tapi ya, excessnya atau sacrifice nya pengorbanannya adalah ya waktu dan tenaga yang sebenarnya setelah gue pikir-pikir ya. Gila juga ya dulu gue segitunya gitu. Tapi gue rasa kalau gue gak segitunya kayaknya gak akan sampai ke apa yang gue punya saat ini sih gitu. Dan mungkin nih konteksa lebih ke ini ya kan di temen-temen 20 han lately banyaklah conversasi soal balancing, life, dan lainnya. Yang kalau gue berkaca sama pengalaman gue tadi agaknya gue gak akan bisa dapet apa yang gue inginkan apa lagi gue berangkat dari keluarga yang tidak berprivileh. Kalau gue gak kerja keras-keras itu gitu. Jadi gue gue selalu ngerasa umur 20 hantu apa ya kalau misalnya pakai framework apa namanya tabur-tuai gitu ya. Umur 20 hantu waktu nabur gitu. Waktu yang mengelu kerja keras gitu waktu satu-satunya waktu dimana lu pun masih punya ruang dan space untuk bener-bener kerja cape, begadang lu mungkin belum punya tanggungan bisa jadi gitu ya atau tanggungan lu belum besar karena lu belum punya keluarga. Ya gue ga harus punya tanggungan. Ya gue ngerasa diawala-wala-wala karin gue juga gak yang terlalu mikirin kayak gue harus kayak temen gue nih yang biwa menutu apa gitu ya kayak gue gak terlalu mikirin itu gitu jadi bener-bener gue gak punya papan yang gue perlu gue kayaknya gak ada yang hilang deh kalau gue kerja keras gimana gitu jadi gue hasil-hasil hasil hasil aja gitu. Gue tepah orang yang percaya ya 20 hantu yang mengelu harusnya kerja keras apa lagi kalau lu ngerasa lu klu lu banget sama hidup gitu. Lu gak tau apa ya berarti ya kerja lu ada lu nyoba banyak hal gitu ya. That's the only way lu bisa menemukan gitu. Naga gue tuh sebenernya suka gemes aja sih gue atau ya mungkin bisa jadi ada yang gas tujuh ya tapi gue suka gemes ikan kalau ada anak 20 hantu. Dia bukan dari keluarga privilatch lu pengen banyak hal tapi lu selalu kayak "Aduh, cape ini yang kerja harus wikian gak sehati." Gaji segini gitu kayak gue gaji segini disuruh ngerjain lebih gak mau gitu kayak menerguan-menerguan gak masuk akal. Gak masuk akal dalam arti ya in ideal world harusnya gak kayak gitu. Tapi kan lu baru mulai, karir gitu lu baru bangun. Baru bener-bener bangun gitu dan kalau lu gak kerja keras lebih dari yang lain apa lagi yang bisa lu perjuangkan gitu. Apa lagi yang bisa bikin lu ungel dan dapat sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin gitu kalau bukan kerja keras. Kerja yang dikerasin gitu sih. Betul kan ini nih simple question sih tapi berarti sekarang kan ada sektek yang umur 20 han bilang work-life balance itu harus ya kalau di masik bal berarti sektek ya sebenernya di umur 20 han kita gak harus work-life balance gitu. Nah tapi pertanyaan ya adalah menurut masik bal. - Wartit? - Wartit, very worth it. Boat gue very worth it. I wouldn't be here definitely. I wouldn't be here kalau gue prioritas work-life balance kayak gue pulang jam 5, 10, 10 pulang gitu kayak. I think karir gue kan staknan gitu. Apakah orang yang kerja keras pasti karir nanya gak juga gitu. Tapi apakah kalau gue. Ini quasusnya gue gak tau di orang lain bisa jadi beda kasus gitu. Tapi kalau dikasih saya, kalau gue ga kerja. segera itu pada awal-awal 20 han, lebih dari mental, lebih yang dari seharusnya dan silah macam, gue gak akan nyampai sekarang sih dan apakah yang gue capek sekarang wartet, berwartet gitu. Dan maksud gue, ini, dan merego ini bisa di challenge ya, maksudnya siapa pun bisa mencari lancar argomeni ini? Tapi merego, merego, misalnya salah satu anek dota paling gampang, ada lelu cari foto, mark juga berawal-awal, terus mark juga berkesekaran pas udah bilionir, dan lebih fit mana badan nih, lebih fit belakang kan, ketika ada yang udah punya. Ini baru muncul disini, kayaknya di FFFG gue mas. Iya, dia baru, ini yang tampilannya baru, jadi ada jago tanda segala macam, tapi bahkan sebelum itu pun kan, ya mungkin baru last 3 years, gitu kayak dia mau yang kejim apa sih, gue mau ke badannya jadi bagus dan lain, gitu, dan jadi kelihatan lebih fit. Termasuknya misalnya Jeff Bezos, cari dia foto Jeff Bezos yang ada itu kan, foto Amazon yang terkenal banget tuh yang dia meja, itu terus belakangnya Amazon yang terpaksa di ati lop itu, itu kan, jelak banget dia kan kayak bapak-bapak buncet, 3-3 puluhan dia kan mulai 30 puluhannya, sama jen itu dia mulai 30 puluhan, bapak-bapak buncet gitu, ya, ya kan imagine gitu dia bangun bisnis gila-gilaan, mungkin malam masih kerja dan segala macam, dan dia gak punya waktu untuk, ya tadi ya so called work life balance gitu, tapi once Amazonnya take off dan lain, dia jadi punya waktu lebih, untuk waktu dan resor lebih, mungkin 2-2 lebih juga untuk bapak-bapak jim mungkin menghair coach dan segala macam, dan lu liat foto terbarunya yang dia kayak, bulk banget gitu kan, very fit, very healthy kayak, udah kayak di korbun cerit, itu lah dia ini nyakan, ya itu anak total ya, anak total, but again apakah harus kayak gitu, I don't think so, dari sum apakah saat itu satu-satunya cara menjalani 20-han, definite link gak gitu, tapi buat gue gak tau cara lain, dari apa yang udah gue jalanin gitu, kalau dari pengalaman gue ya itu cara yang gue tau gitu. Tapi menarik banget sih ada sektor work life balance, ada sektor yang bener-bener hasil, tapi kayak ini akan jadi next question, tapi sebelum masuk ke question itu, agak KPO, tadi kalau masih kembal bilang hasil gitu, hasil tuh kan gak akan selalu in line sama happiness, ya, dan I think it's affect aja gitu, kalau hasil pasti akan selalu ada rasa berat gitu untuk menjalaninya, bahkan ini kalau boleh ngutip dari tweetnya masih kebalnya, sepatut bilang, sempat tidak berdamai sama kekuatan diri sendiri, bahkan berfigur kalau kekuatan yang dimilih, gitu gak sekaran dan jadi nya ingin hal-hal lain yang pengen dicoba gitu. Tapi universe selalu narik untuk kembali ke hal yang sama dan I'm impactful dan good at it. Ahernya berdama, kemudian menerima dan menggunakan sebaik-baiknya, dan hasilnya adalah self-growth molessat. Nah mungkin ini menjadi topik yang enak banget gitu di bahas. Kenapa akhirnya dari ketakutan diri sendiri, kemudian rasa tidak berdamai terhadap diri sendiri, itu bisa menjadi impact yang sangat baik untuk self-growth. Gue percaya self-growth mulainya dari self-awareness. Kalau kita mau growth secara karya mau growth secara kehidupan, relationship dan lain-lain, lu harus kenal diri-lus diri kan? Dan yang jadi challenge anak diusia 20 Han, terutama kita yang udah terpapar sama sosmed adalah itu sangat hart untuk fokus sama diri sendiri karena kita selalu terpapar orang lain gitu. Every time kita buka Instagram, kita lihat stories orang lain, kita lihat hidup orang lain yang sebenarnya hidup orang lain itu kan cuplikan kan? Imangkanya kita stories ponin kita ambil yang keren-keren gitu. Dan itu akan posting stories lagi, shooting ini gak orang pasilnya, "Ya keren banget gitu." Tapi kan dia gak liat gue, kasih nih naik gojek, lepek-lepekannya, dan dia macam kan. Itu anak dotel lain. Tapi poinnya susah banget memang untuk anak 20 Han, apalagi lu lagi kriis, sesuuh lagi gak. Lu lagi mencari dia di sebenarnya kan? Tapi memang tendensi kita diusia 20 Han, ketika kita lagi gak tahu diri kita siapa, kita pengen tahu diri kita siapa. First intuitionnya adalah kita lihat orang lain. Dia temen gue udah dapetin ini gitu. Temen gue dia lulus dulu, temen gue dapet kerja, setahun udah di level itu bro. Udah dapet mobil dinas gitu kan. Sekarang macam-macam gitu kan. Ya sebenarnya balik ke tadi, sebenarnya tidak in-line dengan bahwa self-grot itu harusnya dimulai dengan self awareness. Kalau self-grot mau dimulai dengan self awareness, berarti fokus utama anak 20 Han harusnya fokus mengenal diri sendiri. Nah karena kalau kita mau, ya kalau di marketing aja kan, misalnya kayak "We cannot grow something we cannot measure kan." Ya, kita harus ditauduh lo major menya apa? Nah, major menorangkan tiap orang beda-beda. Dan harusnya kita fokusnya ke major menya kita sendiri gitu. Kayak contoh tadi nih gue selalu kayak nih contoh anak dota aja. Gue tahun 2017, mungkin karena kira-kira 2017 lah ya 2017. Gue dikita bisa itu, tadi kan gue bilang gue mulai dikita bisa itu kita bermetat. Terus 2017 itu udah agak bertumbuh lah. Kira-kira mungkin kita udah, mungkin 20 Han orang. Belasan tuh 20 Han orang gue lupa persisnya. Tapi intinya di situ gue udah punya tim. Salah satu tim gue anak magang, gue ingin banget. Karena gue dulu nginap di kantor, pada saat itu gue nginap di kantor, malam-malam gue jam 9 masih kerja, salah satu tim gue anak magang ijin pulang. Mas pulang ya pulang duluan. Oke, terus dia turun ke bawah nih, kantor yang gilaan tidur. Gue lihat ke jendela, dia turun ke bawah. Dia masuk ke mobilnya, terus dia keluar pulang gitu. Terus gue mikir kayak, ini gue menyejar ya gue tau ga jadi dia berapa. Gue pada situ belum punya mobil. Gue kayak gue punya anak magang, anak magang ini punya mobil gitu. Gue kayak gue terus mempertanyakan diri gitu kayak, ini gue ngapain dia disini gitu. Dan maksudnya dalam kontek situ, akhirnya gue terkernak gue membandingan diri gue sama orang lain, meja man yang ga sama. Jadi gue tenggelam dalam perbandingan yang sebenernya ga, ga Apple to Apple. Dan gue malah ternkenggelam dalam perasaan yang kalah gitu, yang ga enak gitu. Gimana sih lu kayak, gimana gue 20 dolar, ini gue kok belum sukses ya, ibaratnya gitu lah, kalau dia ada motek itu kayak, gue disiniya belum punya mobil gitu. Anak gue, apa tim gue anak magang, udah punya mobil, gimana nih gitu kan? Padahal sebenernya kan meja-manya aja beda gitu. Garis startnya beda dan lain gitu ya. Dan mungkin happiness, atau prioritas kesuksesan gue pada saat itu belum mobil misalnya. Ada hal lain yang, again balik lagi makanya, harusnya fokusnya ke diri sendiri gitu. Nah, jadi, apa namanya, ya fokus ke diri sendiri, kenali diri sendiri, kenali tuh berarti kenali lu strengthnya apa, kekuatannya apa, kelemahannya apa, kalau belum ada kekuatannya, lu mencari kan, gira-gira potensi yang bisa jadi kekuatan lu, apa potensi-potensi kelemahan lu, apa, dan lain, antik, dari situ kalau lu udah kenal, sebenarnya menumbuhkan sesuatu itu jadi lebih mudah. Karena kita tahu kan apa yang penting buat kita dan apa yang nggak gitu. Apa ya, tadi pertanyaan apa, kalau gue sambungin. Lebih ke ini sih. Dari tadi, tuyeteng-tadi itu, mungkin lebih kayak prosesnya, gimana akhirnya berdama, kenapa bisa menculkan self-grotes yang jadi bersat gitu. Ya, ya. Gira-sa tidak berdama. Ya, oke. Nah, dari situ, gue tuh memang di umur 20-an, bahkan sampai sekarang, sekarang gue self-awareness itu harus dilakukan terus-mendirusnya. Lu harus kenal diri lu, perubahannya dan lain-lain. Gue tuh banyak melakukan eksersa-sasai untuk mengenal diri sendiri gitu. Meregu ada banyak lah eksersaai yang temen-temen nanti bisa Google cari gitu ya. Ya sebenarnya, hal-hal ya cukup popular, kayak ngambil test, Nfp apa? MBTI. Mabak itu, meskipun itu nggak exeksayan, tapi kayak gitu-gitu membantu lah, ambil amal kayak gitu. atau kayak nanti temen-temen cari, eksersaai untuk mencari live value lu apa. Karena live value orang bisa jadi beda-beda. Bersi beda-beda. Bersi beda-beda. Ada orang yang mungkin memperioritaskan, misalnya, pride gitu. Ada orang yang memperioritaskan pis kedamayan gitu. Ada orang yang memperioritaskan grut misalnya. Ada orang yang memperioritaskan stabiliti. Nah itu kan live value, core live value yang tiap orang bisa jadi beda-beda. Bersi beda-beda ya. Yang, ketika lu membandikan diri lu sama orang lain, dia gila ya, dia kerja terus, duitnya banyak dan segal macam, sementara gue pengen duit banyak juga, tapi gue ngapain kerja. Mungkin busy jadi, kira core live value nya beda gitu. Shingga ketika lu bandingin, jadi, gak akan ketemu jawabannya, karena yang dari awal udah beda startnya gitu. Nah, ada banyak hal yang bisa lu lakukan untuk mengenal diri sendiri, tapi balik ke yang tweet tadi. Ya, dalam konteks gue, misalnya ketika gue mengenal oke, strength gue, menulis misalnya. Nah itu konteks gue ngatuh itu sebenarnya konteksnya salah satu, terigar ed lah, aku ninstagram gue. Jadi, aku ninstagram gue, ya gue sebagai seorang konten creator, gue ngerasa gue punya banyak tipe konten gitu kan. Nah dulu, kira-kira mungkin pas pandemi lah, dua, tiga tahun yang lalu, gue tuh udah mulai bikin konten. konten tulis tangan seperti yang gue tulis belakang. Tapi terus et serten point, ini mungkin agak, gak bawa di spil di kedisi di sini. Gue bikin konten itu kontennya ramai grotnya bagus dan lain. Terus singkat cerita ada satu kejadian di mana gue di hujat netizen lah. Saya gak, kira gue berhenti bikin konten seperti itu. Apa ini nya? Jadi, cari sendiri lah ya. Tapi tini gue berhenti bikin konten seperti itu. Padahal gue tau itu strength gue. Itu kalau gue menilai diri gue. Jadi strength gue tuh 10-10 gitu. Skornya. Pede banget di situ gitu. Bagus banget gitu. Dan udah terbukti waktu itu pun kayak performa cep bagus dan lain. Tis gue tinggal kan itu karena gue berfikir kayaknya kalau gue punya strength yang lain, yang misalnya gue ngomong di depan kamera, pas gede macam itu kayaknya lebih bagus, lebih kelihatan oke dan segala macam. Sampai ada titik di mana mungkin beberapa pas ramah dan kemarin gue, mulain nulis kayak gitu loh. Internsok balik lagi gede banget gitu. Apa performa cep bagus. Gue juga happy bikinnya orang-orang juga terbanyak yang terbantu dan lain. Dan di situ gue remindet bahwa oh ya sebenernya ini bukan al-baru. Bukan sesuatu yang baru tapi gue udah tau bahwa ini strength gue terus gue memutuskan untuk mengabai kan itu gitu. Terima kasih. Karena gue berfikir ngeliat orang lain. Kayaknya kalau gue strength kayak gitu gue lebih bagus gitu. Sehingga akhirnya sebenernya gampangnya kalau gue waktu itu gak meninggal kan mungkin sekarang udah lama, udah gede banget gitu. Tapi karena gue tidak berdama bahkan sama kekuatan gue sendiri, akhirnya self-growth gue staknan dan ketika gue berdama oke kekuatan gue ini gue akan fokus ke kekuatan gue dulu sebelum mencari kekuatan atau mengambangkan kekuatan strength yang lain. Ya udah terata malasat gitu. Jadi berkali tetap dari awal itu harus ada penerimahan diri. Pengembalan dulu baru penerimahan diri. Betul. Karena mungkin banyak juga orang orang yang kayak day no, themselves atau mereka udah aware bahwa kekuatan mereka tuh di A gitu. Tapi mungkin mereka either gengsin, atau mereka malu atau mereka takut, atau mereka ada keawatan yang keawatan tertentu, sehingga mereka ada gak deh gue gak mau disini deh gue yang lain aja gitu. Jadinya menutup ke diri. Jadinya potensi dirinya terhantar. Iya, mungkin contoh anecdote yang kita mungkin tahu juga kayak misalnya di kuliah. Orang mau milih pilihan juru sana kuliah pun kan banyak yang kayak gitu kan. Dia tahu udah dikasih tau sama gue rubakannya atau hasil assessmentnya lo tuh strengthnya di matematika misalnya gitu. Lo tuh strengthnya disayahin sih ada tapi tapi gue apa. Saya maunya yang akhirnya anak visip bu gitu ya lebih gawun gitu, lebih keren, temen-temen gue yang top-top takhir semuanya di visip gitu akhirnya dia maksain diri ke visip. Malang gak ada petian bagus visalnya gitu contohin lah, anak dot lah ya. Vertikan. Vertikan. Vertikan yang keras juga nih kerjaan samaan. Oke, tapi ini jadi menarik banget. Tapi kalau misalnya tadi kita balik lagi, ke yang tadi mas ada sektek, Work-Life Balance gitu. Nah kan tadi mas ikbal juga bilang ada orang yang bener-bener pengen kerja misalnya 9-2-5 Untang jam 5 keluar gitu. Mungkin ini terkait juga tadi keinginan tau hasrat untuk bekerja pada satu bidang gitu. Tapi kira-kira, kepangsi kita bisa tau kalau kita itu ternyata emang bener-bener petian di pekerjaan itu gitu. Kalau tadi dari cerita masih ikbal kan. Kalau kita bisa aja tuh udah 10 tahun gitu kan. Itu prosesnya gak cepat gitu, gak instant. Gimana kapan kita tau kalau itu memang ternyata satu bidang yang memang kita inginkan gitu. Wow. Hmm, wah, gue punya jawaban tapi gue gak tau pakar jawaban ini scientifically proven. Oh no, gitu ya kayak, It's very evidence based on my perspective. Yes, that's on your case aja. Based on my case. Mungkin beberapa indikator yang bisa diinilai adalah ketika yang mungkin atemen-temen tau juga dan bisa cari frame work yang namanya ikigai gitu kan. Ketika ada persinggungan antara apa yang lu suka mengerjakan hal tersebut. Terus ternyata itu bisa dibayar, ternyata itu berdampak. Ternyata itu berdampak buat orang lain dan di value gitu ya. Di nilai orang mahu memberikan harga terhadap hal tersebut. Dan lu nya sendiri full feeling juga happy dengan apa yang dikerjakan gitu. Mungkin tuh salah satu indikator ya. Ketika ada hal yang lulakukan tuh ternyata kayak gitu. Itu mungkin satu hal. Terus kedua gue juga merasa mungkin salah satu indikatornya adalah. Ini sih gue suka ada ngerin panji. Terus panji sering banget bilang semua kerjaan tuh capek. Tapi cari kerjaan yang capeknya bikin lu bahagia gitu. Kalau kerjaan yang suksesnya bikin lu bahagia kayaknya semua kerjaan. Kalau sukses pasti bikin kita happy gitu. Tapi kan semua kerjaan capek kan. Dan hal simpel yang kedengarannya tolong tapi memang banyak anak muda, anak 20 hantidah mau menyadari adalah ya gak ada kerjaan yang ga capek gitu. Kayak anak 20 itu ga panggup banget kayak ngeliat ada gue capek bangetnya kerja jadi marketing gungan. Gue ngeliat itu sih jahan hotspotnya kayaknya ga ampang. Cuma ngomong-ngomong dan segala. Ya kan sebenarnya capek gitu. capek juga gitu. Kerjaan ga rian ga capek gitu. Tapi yang enak atau sweet spotnya adalah ketika kerjaan yang capeknya bikin lu happy juga gitu. Itu sih kayaknya ya. Nah tapi pasti prosesnya ga langsung ketemu gitu. Itu ga itu prosesnya langsung ketemu. Jadi memang hal paring rational adalah ya kalo lu belum tahu, ya lu explore banyak hal gitu. Lu nyobanya banyak hal. Mungkin kan ada orang-orang yang emang ada kita di antara kita yang emang kita udah punya tendensi gitu ya. Kita udah tau yang kita suka atau kita enjoy atau yang membuat kita merasa full field tuh apa gitu. Tapi banyak juga yang mungkin dari awal memang kelulis sama sekali gitu. Yang apa, kalo kuluh sama sekali ya lu hajar yang ada di depan lu aja dulu kesempatan apa yang ada di depan lu. Lu coba gitu. Kalo ternyata ga cocok, ya coba lagi hal lain gitu. Itu hal ya lu hajar yang sangat. Yang sangat wajar untuk dilakukan diusia 20 hany gitu. - Naisi. - May exploration banyak hal. Benda. Karena kan sekarang banyak banget orang yang bermain set, gue harus kerja sesuai dengan patient gue gitu. - Ya. - Tapi kadang juusru baru cobain kayak tiga bulan, pindah, tiga bulan, pindah gitu. Apakah patient itu akhirnya akan seluset jalan sama karir pet gitu? Gak juga karena gini juga sih. Sebenarnya ideal banget ketika kerjaan-kerjaan bidang-perkerjaan kita, itu udah memanuhi semua kebutuhan kita. Jadi kayak secara financial, oke secara hati kita juga patient ada full fielding juga tenang dan segala macam itu. Boko yang work-love bailin terlaluatnya dapat juga dan segala macam itu ideal banget. Tapi apakah semua kondisi ideal itu bisa dapatkan kan, ga juga? Nah, sebenarnya makin kesini itu, gue melihat memperhatikan banyak temen-temen gue atau banyak link-haran gue, atau orang yang gue kenal itu, malah sebenarnya itu kebutuhan-kebutuhan ini, itu ga harus ada di satu pekerjaan. Karena banyak juga contoh nih ya, ada temen gue yang kerjanya PNS. And it's a boring job lah, manurut di bahkan merut di anih. Boring job aja, tapi it pay to hell gitu kayak gajinya oke. Gue aman gitu kayak jam 5, gue tengpulang gitu. Terus di rumah dia punya business. Dia di businessnya, businessnya sesuatu yang dia lakukan dengan happy. Yang dia suka, ya. Yang dia suka, ya gitu. Ga harus gue digini banget, jadi dia juga bilang kayak gue ga pengen ini, gue di Unicorn nor World Ever yang berapa ini nyampa revenue nyampa. Yang dia memang datang segala macam. Jadi, balatnya gue kerja supaya gue bisa nafkain keluarga gue dengan oke, dengan standar yang menurut gue oke. Terus, passion project gue, ibaratnya, ya karena gue pulangnya bisa jam 5 tank dan kerjanya boring. Jadi gue ga pusing di kerjaan di kantor, ya pulang-kulang gue bisa ngapain passion buat yang gue gitu. Atau ya kayak kita kan juga kayak kerjaan kantor dan kita bikin konten. Itu kan bikin konten pun kan buat kita ga kerjaan sebenarnya ga full di kerjaan. Raa ada rasa kerjaan ya juga, tapi mungkin kita lebih passionnya kerjaan konten, misalnya di pada ngeljain kantor. Wichest lain juga, gitu jadi sebenarnya kontisi ideal di kerjaan passionnya di situ, di situ dan sekalian macam iki-gai di situ ideal itu surga banget. Tapi kalau pun, ga sebenarnya ada banyak alternatif-alternatif lain, dimana hal-hal yang kita butuhkan itu ga harus ada di satu tempat gitu. Terus sih. Dan mungkin dengan online dan anakan kan juga sekarang kulturenya juga sangat biasa ya ketika lu punya banyak topi gitu kan. Maksudnya juga ya, bisa ya jahan orang marketing ya humans, juga ya guys podcast-ter juga gitu. Ya udah disuswakian aja masih-masink memberikan ke bahagian atau memberikan benefit yang berbeda-beda gitu kan. Dirk Mueh tetap bisa jalan juga gitu. Itu idealnya memang juga bisa kebagi gitu untuk full filmannya. Tapi ga tau dia mas. Kadang orang itu masih suka mispercep sih antar passion kembali juga talent. Ini tuh hal yang berbeda atau sama sih? Sebelum gue kasih perspektif gue, ya gue tuh tipet orang yang sebenarnya suka merasa kayaknya istilah istilah ini gak perlu terlalu di pusing kan. Gue tipet yang kayak gitu gitu. Lu paksian apa ya gitu kayak. Ejotok kemarin gue di Instagram gue nulis, ada gue nulis soal, ada orang yang merasa konten gue toxic positivity gitu. Gue vers response gue adalah apa sih? Stila apa lagi gitu kayak gue bukan gak pengen tau itu artinya apa gitu kayak kenapa harus ada label baru ini gitu. Tapi poinnya kalau balik ke passion. Karena maksud gue soalnya diskusi soal passion ini tuh kayak it's been a while juga gitu. Oleh sih gue inget banget dari zaman gue kuliah gue juga baca buku soal passion. Dulu buku nya rene suar duno. Kalian tau gak ya? Gak itu buku zaman gue sih apa ya. Jadi lu itu passion is whatever lah gue lupa. Tapi bahkan maksudnya sih mas Renipun yang menulis itu 10 tahun kemudian merafisi apa yang dia tulis gitu. Jadi merafisi gue lupa ya begin apa yang dia refisit tapi poinnya emang diskusi ini tuh fluid banget. Nah cuma kalau balik ke pertanyaan lo apakah passion dan talent itu berbeda. Semuanya kan bisa jadi berbeda gitu. Gue lupa deh passion itu kalau gak salah artikata literal nya. Hasrat. Hasrat ke inen gitu. Oke, enggak jadi ada passion itu kalau gak salah korak mewamur. Kalau gue gak salah itu tuh asal dari bahasa Yunani atau apa gitu ya. Yang artinya tuh mau berkorban atau mau terluka gitu lah. Wow, sedip itu ya terlalu. Jadi ibaratnya sebenarnya ini tuh untuk meman-man deskripsi kan sesuatu yang kalau gue melakukan ini harus mengorbankan diri gue gak ada masalah gitu. Jadi bukan kalau gue gak salah ya, kok kayaknya bisa dicek dulu. Tapi kalau gue gak salah sebenarnya arti awal bahasa Yunani itu itu, gitu mengarahnya kesitu. Bawa ini sesuatu yang makanya kalau di film ini kan ada film passion of Christ kan. Passion of the Christ, cerita tentang Jesus, yang berkorban gitu kan. Yang ibarat. Menderita. Menderita paham. Ja klik. Jadi passion itu sebenarnya asal katanya menderita bukan menyukai kan. Sesuatu yang gue suka banget gitu. Sebenarnya asal katanya secara definitiv passion itu artinya sesuatu yang lu tetap lakukan walauluh harus menderita. Berdara ada akhir. Bukan masalah gue menderita karena gue sangat mencintai gitu. Nah sehingga sebenarnya apa yang jadi passion lu berbeda dengan apa yang jadi talent lu. Sangat bisa gitu. Dan tidak harus sama gitu kalau sama bagus banget. Tapi pun sama sesuatu kalau ada jadi kerjaannya aja. Lu tetap harus punya mainan untuk ini. Ya lu bayangin lah kayak misalnya jasno limit gitu suka main game. Ketika dia udah jadi gamer kerjaannya tiap hari main game, menurut lu healing dia main game gak? Engga sih. Engga pasti cari hal lain. Nah nah nah nah nah nah. Oh oke. Jadi tapi, tapi balik lagi kalau gue tanah-tanah ngosy 20 Han kayak sebenarnya gak hanya 20 Han ya. Ini juga menarik menurut gue. Karena kan link karan gue udah diusia 30 Han kan. Orang-orang diusia 30 Han juga masih banyak yang clueless. Ini. Ada di clueless kayaknya adalah kata abad diuntuk semua umur gitu sih. Kita berali dari satu clueless nes ke clueless nes yang lain gitu. Atau bahkan bisa jadi clueless nes yang sama masih bertahan diusia yang sama gitu. Dan itu sesuatu yang mered gue secara populasi umum normal gitu. Idealnya sih tidak. Tapi kalau masih ada pun sebenarnya banyak yang masih di situasi yang sama. Nah kalau telan, ya telan kan sebenarnya apa yang lu bisa kerjakan kan. Iya. Dan kalau konteksnya misalnya untuk bertahan hidup ya. Dan karena bisa mengerjakan itu kita dibayar untuk melakukan hal itu. Kalau telan kita berbeda dari passion kita gak ada masalah sama sekali juga, ya kan bisa terlalu serif. Ya telan dia ngerjakan di pan ester sebut gitu. Dia orang keuangan, dia pan esti bidang keuangan gitu. Ya telan dia di situ gitu. Apa dia sangat menyukai apa yang dia kerjakan gak juga. Mereka dia rela meneritah untuk ngerjakan hal itu sebut. Terbuka hal lagi ya. Ya gue cukup kenal dia untuk dia kayaknya kalau ngerjakan itu meneritah banget dia gak akan kerjakan itu gitu. Tapi akhirnya dia mencari penyaluran. Ya mainan dia di tempat lain gitu. Ya sih menarik. Kerba yang menjadi. Kerba yang keba yang keba yang keba yang keba yang. Oke, tadi kan ini kita ngomongin mas bigger picture nya ya. Kita ngomongin tadi apa esyan, tersebut situ kayak self awareness. Terus mungkin kita ngobangin ngomongin tentang diri kita nih di bawah ke mana gitu. Tentang kan? At the end of the day kalau kata quotes itu kayak kita ada sum of our actions gitu kan. Mengkanya salah satu yang meters adalah habits kita gitu. Ghibitnya bisa di bilang kayak at the end ya, "We are defined by our habits" gitu kan. Nah sebenernya kalau personal case nya mas ikbal nih mas. Balik lagi beratikan bisa di bilang mas ikbal yang sekarang ini sum of habits nya mas ikbal gitu. Tapi kalau bisa di bilang mas bisa dikulik kayak apa sih satu habit yang paling lekat, mungkin yang lain kan ada banyak yang melangkuk kayak habit itu muncul ilang-ilang gitu. Tapi satu yang paling konsisten yang make you who you are today tuh apa sih mas. Nulis sih. Nulis. Dan gue merasa menulis tuh harusnya tadi kalau kita balik ke self awareness ya. Menulis tuh harusnya jadi habit semua orang. Bukan untuk jadi content dan di publish ke orang ya. Tapi menulis untuk diri sendiri. Karena nulis tuh satu aktiviti yang menurut gue paling mindful untuk membuat kita ngenal diri sendiri. Dan mungkin kalau anak zaman sekarang kan banyak islayan, offer thinking gitu, offer T of VT. Sal satu membuat offer thinking tuh nulis gitu. Karena kita kan sering banget pusing memikirkan skenari-skenari di kepala kita. Tapi kalau lu tulisin sebenarnya ternyata, ngambil kerjaan di Jakarta, tegupin da ke Bandung atau tegupin da kemalang ya. Kalau di malang nanti kayaknya gue jauh di ronotua gue belum tentu suka makanan jawa. Gue kayaknya gak bisa gue gak suka cewet malang ya. Jadi panjang. Kalau Bandung kayaknya onko sih masih oke lah. Tapi sebenarnya kalau lu tulisin kayaknya di tabelin gitu bentar jadi gitu. Atau apa pun yang ada di otak lu keluar jadi maksaya terpetakan. Mungkin masalahnya gak langsung tau apa solusnya gak langsung tauan juga. Tapi ternyata masalah lu tidak sel offer thinking gitu. Ternyata lu tidak perlu di offer thinking yang segitu. Nah gue sangat terbiasa untuk menulis sejak lama. Dan menulisnya pun tujuan awalnya adalah supaya gue gak gila di kepala gue gitu. Jadi gue punya kebiasan salah satunya belakangan gue tau istelahnya morning pages namanya. Ada habit namanya morning pages. Itu ada satu seniman di US kalau gue gak salah yang dia memperkenalkan habit ini. Habit ini tuh simple banget. Satu apa lagi? Abis lu melakukan aktivitas yang perlu lakukan kalau misalnya lu muslim ya. Lu selacubuh kalau misalnya ada yang meditasi. Mungkin mereka meditasi dan segal macam. The first thing yang lu lakukan adalah lu duduk. Lu ambil buku atau satu kertas lu tulis apa pun yang ada di kepala lu pada pagi itu. And it doesn't have to be keluar jadi tulisan yang paragraf whatever gitu ya. Bisa jadi ya memang apa yang apa pun yang muncul di kepala lu gitu. Kayak misalnya di kepala lu. Gue lu gak tau apa model isa apa ya? Ya dia lu tulis ya. Gue gak tau lagi model isa apa ya. Kepala gue lagi. Bosong nih ini gue gak apa ini ya. Gue sering banget manulis itu gitu. Gue punya buku journal gue udah banyak. Dan banyak sampahnya gitu. Tapi habit itu gue lakukan secara konsisten gak melulu di pagi hari ya. Tapi gue gak ada gue juga lupa paginya tapi gue ngerasa gue pusing, gue ngerasa gue lagi ada masalah dan segala macam itu gue nulis. Gue tumpah kan. Mungkin kata nulis pun kayak terasa ini kali ya apa. Intimidating buat banyak orang-orang kayak oh rato segala segala. Padahal sebenernya gue cuma umpahin aja apa yang ada di kepala gue gitu. Dan secara scientific pun menulis itu punya diampak psikologis visual. kalau begitu yang berbeda dibandingkan dengan ngertik. Kalau lu ngertik, apapun yang lu ketik sebenernya tidak ada tekanan emosi. Lu nulis kelimat sedih sama kelimat. - Sama. - Tapi kalau lu nulis kelimat, ada yang ditetken. Ada yang ini saya ga, itu tuh ngaruk ke otak juga. Ada itu sama meditatif, eksorcise juga. Namakanya mungkin salah satu hal yang kalau bisa ada satu hal aja habit yang perlu lakukan. Mereka gue nulis, nulis jurnal. Dan nulis jurnal tuh bentuknya macam-macam. Bisa kayak yang tadi gue bilang, ada yang namanya gratis jurnal. Lu tiap pagi atau tiap malam sebelum tidur. Lu nulis satu hal yang lu cukuri hari ini. Masa ga ada sih satu hal yang lu cukuri hari ini. Satu kalimat aja. Paling berapa kata gitu, itu dia tidak ada yang harus ke luar jadi tulisan juga. Tapi kalau lu tiap hari melakukan itu, lu terbiak perfokus pada hal hal yang lu cukuri. Ada gratis jurnal. Atau ya lu bisa juga apa jurnal tuh kalau lu cari di Google ada jurnal proms. Ada banyak pertanyaan pertanyaan yang bisa jadi pemicun. - Kenan. - Untuk lu pertanyaannya apa? Terus lu tulisin hal tersebut gitu. Itu sangat membantu sih. Makinlah kita makin kenal otoreta di rige gue. Ada yang kota kaya gue ya. Gue makin kenal otoreta gue tuh ga suka nih kalau bisa kayak gini. Gue kenal itu suka kayak gini. Gue tereta strait gue di sini ya gitu. Dan susahnya, dan susahnya. - Itu sih. - Nah, berarti salah satu habit yang balik lagi selalu konsisten dan dilakukan sampai sekarang adalah tadi nana nulis gitu. Nah, tapi ini kan habit yang akhirnya berhasil ini mas. Dan akhirnya membentuk mas ikbel sekarang. Tapi kan kalau case-nya adalah dan yang terjadi kayaknya hampir di semua orang itu tadi balik lagi on dia derset adalah 78-88% orang-orang tuh gagal membuat habit baru gitu kan. Nah, kalau di case-nya masih gbersen diri, wajik kita ngomongin on dia dersetnya pernah gak simas kayak punya sesuatu resolusion gitu ya. Kan kalau bayi data tuh di dimension juga orang-orangan tata-tata secepatau untuk bikin New Year's Resolution. Tapi 80% itu gagal di minggu ke 2 bulan februari kalau bayi data. Nah pernah gak mas ngalamin itu jadi punya resolusion dan gulus yang tangin banget pokoknya dengan tadi segala soft awareness dan lain-lain itu pengen ke sana gitu. Tapi akhirnya gagal gitu ngebengun habitnya gitu. - O banyak. - Salah satunya masih yang paling gitu. - Kayak, misalnya liu lebih bisa cek lah di Instagram gue baru banget tau di ini. - Awal tau di lila. Awal tau di ini gue bikin. Jadi gue sempat break bikin podcast. Terus gue mau mulai lagi. Awal tau di ini gue bikin video dan bikin podcast gue bilang kayak "Oke gue kan mulai podcast lagi gue makan bikin podcast weekly." And it goes. kayaknya 3 minggu. - Maksud itu p butuh gitu kayak. - Ya itu fail gitu. Terus apa ya apa lagi ya. Contoh lain misalnya even yang tadi gue bilang menulis pun beberapa kali gagal gitu. Begagal tuh maksudnya putus gitu, rantainya putus gitu. Harusnya tiap hari bisa lah tapi ada yang ke peklewat. Tadi gue cerita juga kan. Gue sebenarnya dan ini gue udah ngomong bulis di beberapa podcast atau di Instagram gue udah bilang kayak "Wah gue melagi nulis naskah buku baru nih keluar tahun 2023." Ketika gue ulang tahun ketika 30 gitu. Teriyata, sampai sekarang belum jadi gitu. Jadi sebenarnya banyak sih kalau ditanya ya. Nah tapi mendut gue satu hal yang jarang di bahas soal habit adalah simple rules yang gue terapkan di diri gue sendiri. Kalau gagal lanjutin lagi mulai lagi aja. Orang tuh kebanyakan kayak gue pengen lari ini tiap hari gitu kayak terus seminggu habis itu bulong seminggu gitu. Habis itu ngerasa "Ah udah deh kalau semua lagi lagi." Padahal sesimpel ya udah lumayan lagi interbulong mulai lagi. Bulong mulai lagi gue punya banyak banget habit yang kayak gitu. Dan mert gue secara quantitatif pun, definitly scorenya lebih besar dari pada lo 7 hari putus dan itu scorenya 7 gitu kan. Lo 7 hari putus libur 9 tapi terus lo mulai lagi 2 hari doang putus 9 lagi mulai lagi 2 hari doang. Itu scorenya lebih banyak dari yang 7 juga nih definitly gitu. Betih impactnya juga lebih bagus gitu. Jadi se-simple if you fail ya udah mulai lagi aja gitu. Oke, berarti kan ini kalau prinsipnya masik bal gitu. Kalau yang lagi fail lagi gagal gitu lagi brandy habitnya yang mulai lagi aja. Itu kan prinsipnya. Tapi kan salah satu bukunya masik balik kan gue bahas tuh banyak tuh 30 impactful habit gitu. Dan di tulisannya juga di itu punya juga gitu. Satu kerang ke framework untuk perhabitan ini mas yang menurut masik bal kayak paling praktikal tapi menurut masik bal juga impactful dan effektif inaf gitu. Untuk membangun habit. Satu start small, maket small, maket obvious gitu ya. Maket small, maket obvious. Ini juga dari atomic habit ya buku atomic habit. Or ada dua deh mungkin gue share ada dua ya. Satu secara flow tuh maket obvious. Gue lupa deh apa ya. Hingin tisi ada conteng kan? Yang maket obvious, maket easy, maket attractive. Oke, ya gue ulangnya. Ya jadi kalau yang based on buku atomic habit, ya satu maket obvious dan maket easy. Pokoknya di bikin gampang segampang mungkin gitu. Kalau misalnya lu mau ngulain nulis, udah gak usah sosoan nulis dua alaman gitu kayak. Udah satu kalimat gitu. Yang lu kayak tidak mungkin lu tidak bisa melakukan itu gitu. Kalau misalnya lari, misalnya lu mau bagun habit lari. Mungkin ga usah lari-lari jalan aja. Dan jalannya pun juga ga usah satu kilo gitu kayak jalan-jalan dua menit gitu. Yang ga mungkin masa dua menit lu gak bisa sih gitu ya. Udah fokus ke yang kecil dulu aja gitu. Yang obvious, yang kecil. Terus yang kedua adalah make it rewarding sih. Ada berasa lu sense of achievementnya. Namakanya ini gue tuh, gue berada konten juga. Gue tuh sangat suka dan sangat suportif ke orang-orang yang kalau orang lagar di posting. Ya pernah, naik-naik-naik. Karena itu tuh bikin di reward buat diri lu gitu. Lu merasa ada sense of achievement gitu. Harah lu orang kan ga ada yang liat lu kan. Dan mungkin lu jadi ngerasa itu itu not worth celebrating. Tapi, what's lu posting? Lu ngerasa kayak "Eh, dunia liat gue berasa mencapai ini." Oja sih itu juga memberikan kebahagian buat lu. Dan lu jadi pengen melakukan itu lagi gitu. Jadi, udah bikin gampang, mulai dari yang gampang, bikin ada sesuatu yang bisa jadi sense of achievement atau reward buat lu. Salah satu yang paling gampang, ya lu share ke orang gitu. Dengan itu kan, jadi lu bikin aku pengen lakukan lagi, lagi, lagi, lagi. Itu satu. Terus kedua ada frameworknya sih, atau make a habit juga. Namanya identity based habit. Jadi, gimana caranya kita bikin melakukan habit itu yang kita kejar bukan ingin jadi orang yang menulis satu halaman setiap hari. Atau yang lari satu kilometre setiap hari. Tapi yang kita kejar adalah identity-nya. Gue pengen jadi orang yang saya hat. Gue pengen jadi penulis. Gimana caranya gue apa sih yang bisa membuat gue jadi penulis? Gue menulis. Terus ketika gue semakin sering gue menulis, semakin gue yakin kalau gue adalah seorang penulis. Semakin gue yakin gue adalah seorang penulis, semakin sering gue menulis. Dan itu akhirnya jadi will gitu. Jadi rodai yang berfuternya. Itu contoh kalau diolara ga itu kayak gitu-juga. Makanya kenapa kayak misalnya lu, lu olara ga nih lu mulai dengan lu setiap hari lu jalan kaki 5 menit. Itu ya, misalnya. Jalan kaki 5 menit dan lu posting. Kalau di gue di Instagram, gue suka posting belum gue mulai lagi lagi. Itu morning, morning, walking, walking. Gue tulis tuh, morning, morning, morning, naat TBSC orang-orang pada lu. Gue, awalnya gue postingnya tiap hari. Tiap gue jalan gue tulis, morning, morning, walking, morning, morning, morning. Lama-lama orang pada notis, mereka pada ikutan mereka ga tek gue juga vis-toris ya gitu. Tapi poinnya tadi kalau balik dan ditebasi, habit kan? Akhirnya gue pengen jadi orang yang sehat kan. Gimana cara gue supaya gue jadi orang sehat? Gue mulai dengan gue jalan kaki setiap hari 5 menit. Gimana setelah gue jalan kaki 5 menit sehat hari? Gimana gue yakin bahwa dengan ini gue menjadi orang yang sehat? Gimana saya sehat gue posting? Shingga dengan gue posting, gue semakin menguatkan bahwa gue adalah orang yang sehat. Gue nunjukkan korang dan gue bikin gue diri gue makin percaya diri bahwa gue adalah orang yang sehat. Nah, semakin gue percaya diri gue orang yang sehat. Semakin gue ngerasa gue kan orang yang sehat ya. Kau hari ini gue belum jalan. Ya gue rujalan gitu. Nah, akhirnya gue jalan lagi, habis gue jalan gue, gue udah membutikan di bahwa gue adalah orang yang sehat. Gue rinforced lagi sih identity gue. Identity gue bahwa gue adalah orang yang sehat gue posting. Gitu, jatuh, nanti lama-lama dari 5 menit. Kayaknya gue pilih. - Lu punya waktu untuk 10 menit. - Iya, itu akhirnya nai. Dan sepatutnya apa yang terjadi dengan satu habit kok kalau temen lu ada yang ranner, pasti temen lu ada yang ranner. Dia kayak gitu juga kan, pasti kayak startnya lari, tetandar, kayak kayak kayak cef deh, doang lah. Terus lama lama dia jadi lari di GB, Kau, kayak kayaknya gue, gue ranner kayaknya sepatut ini ga cukup deh. - Ya, itu udah cukup deh. - Iya, itu udah bagus udah. - Iya, itu udah lama lama. - Iya, itu lama lama. - Semakin dia beli barang yang ini, semakin dia marikin force identitas. Dia sebagai seorang ranner. - Kaner, kan. - Semakin dia post, makin dia posting gue di Instagram, dia jadi feed banyak, kan ada rand-rand apa, dia lagi lari dan segala macam. - Makin dia, kayaknya gue udah post dengan lari gue terakhir dua big wheel lagi. - Gue hargul lagi gitu, kayak. - Lanjut lagi. Jadi ya, betul lah kan lama makin menggulung. - Lagi-lagi-lagi.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Masa usia 20-an adalah periode kritis untuk bekerja keras, menabung pengalaman, dan mengeksplorasi berbagai hal sebagai fondasi masa depan.
  2. Pentingnya mengikuti kata hati dan intuisi dalam mengambil keputusan besar, meski terkadang harus meninggalkan bidang yang sebelumnya ditekuni (seperti transisi dari biologi ke media dan sosial).
  3. Pengorbanan seperti waktu dan tenaga di usia 20-an sangat berharga untuk mencapai pertumbuhan pribadi dan kesuksesan, dengan penekanan bahwa kerja keras sering kali lebih prioritas daripada keseimbangan kerja-hidup di fase ini.
  4. Self-growth sering dimulai dari ketidaknyamanan, ketakutan, atau konflik internal, yang jika didamaikan dapat menjadi pendorong perkembangan yang signifikan.

Summary:

Pembicaraan berfokus pada pentingnya usia 20-an sebagai masa untuk bekerja keras, mengeksplorasi passion, dan mengambil keputusan yang berdampak jangka panjang. Narasumber, Kaik Bal Hariani, berbagi pengalaman pribadinya yang berawal dari latar belakang biologi namun beralih ke dunia media dan sosial setelah menyadari ketidakcocokan karir sebagai ilmuwan. Ia menekankan peran intuisi dalam pengambilan keputusan, seperti bergabung dengan platform "Kita Bisa" yang kini menjadi komunitas amal terbesar di Indonesia.

Kaik Bal juga menyoroti pengorbanan seperti jam kerja panjang dan dedikasi ekstra di awal karir sebagai kunci kesuksesannya saat ini. Ia berpendapat bahwa di usia 20-an, kerja keras sering kali lebih penting daripada mengejar keseimbangan kerja-hidup, karena fase ini adalah waktu untuk "menabur" sebagai investasi masa depan. Diskusi juga menyentuh topik self-growth, di mana konflik internal dan ketidaknyamanan justru dapat menjadi pendorong perkembangan pribadi jika dihadapi dan didamaikan dengan baik.

FAQs

Usia 20-an adalah masa untuk 'menabur' di mana Anda memiliki energi, waktu, dan sedikit tanggungan, sehingga ideal untuk fokus membangun fondasi karir dan pengalaman melalui kerja keras.

Cobalah berbagai hal dan eksplorasi passion, karena dengan mencoba banyak hal, Anda dapat menemukan apa yang benar-benar sesuai dengan minat dan kemampuan Anda.

Menurut narasumber, di usia 20-an kerja keras lebih diprioritaskan untuk mencapai tujuan, meskipun keseimbangan bisa dicapai sesuai konteks pribadi, tetapi pengorbanan waktu dan tenaga sering diperlukan.

Cari platform atau komunitas yang dapat membantu, seperti podcast atau media yang membahas pengalaman, untuk mendapatkan perspektif dan jawaban dari orang lain yang telah melalui fase serupa.

Intuisi dapat menjadi panduan penting; dengarkan kata hati dan gunakan rasionalisasi untuk mendukung pilihan tersebut, karena keputusan berdasarkan passion sering membawa ke arah yang tepat.

Pengorbanan umum meliputi waktu dan tenaga, seperti bekerja hingga larut malam atau di akhir pekan, yang dapat membawa hasil jangka panjang jika dijalani dengan passion.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.