Episode 11 (Part 1): Cara Menghadapi Duka dan Kehilangan di Umur 20-an ft. Dr. Andreas Kurniawan
0m 0s
Pembicaraan berpusat pada pemahaman tentang duka, khususnya pada usia dua puluhan. Duka didefinisikan sebagai periode memproses kehilangan atau perubahan, yang sering kali dipicu oleh hal-hal seperti putus cinta, kehilangan pekerjaan, atau perpisahan, bukan hanya kematian. Proses berduka bukanlah tahapan linear (penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, penerimaan) yang berurutan, melainkan lebih seperti daun-daun yang bertebaran; seseorang bisa mengalami berbagai emosi tersebut secara acak dan berulang. Setiap orang mengekspresikan duka secara berbeda (misalnya, dengan menangis, bekerja keras, atau traveling) karena mekanisme coping yang dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Masalahnya, banyak keluarga dan masyarakat menganggap duka sebagai topik tabu, melarang ekspresi kesedihan yang panjang, sehingga emosi terpendam dan tidak tersembuhkan. Kunci untuk menghadapi duka adalah dengan memprosesnya: mengakui perasaan, duduk bersama rasa sakit tersebut tanpa terburu-buru untuk meredam atau melupakannya, karena duka adalah proses evolusi emosi yang tidak pernah benar-benar berakhir, tetapi dapat dikelola seiring waktu.
Pembicara 1
Anggaplah ini sebuah pohon dengan setiap daun itu ada namanya ada daun yang denial, ada daun yang anger, daun bargaining, depression and acceptance.
Lalu anggaplah ada suatu angin yang sangat kencang dan daunnya itu tuh rontok semuanya.
Maka kita berjalan di atas tanah dengan banyak daun daun tersebut.
Bisa jadi hari ini kita nginjak daun yang denial.
Kayaknya salah denny enggak mungkin nih pas ada yang salah nih langkah lagi tahu tahu kita jadi marah.
Terus tahu tahu besoknya kita langsung accept ya sudahlah mau gimana lagi, tapi besoknya denanya lagi sebentar.
Tapi kayaknya enggak mungkin deh gitu.
Nah, jadi itu yang lebih masuk akal bukan suatu proses yang linear tetapi wajah berduka itu bisa muncul dalam berbagai bentuk.
Makanya ada yang mungkin dengan nangis ada yang mungkin dengan bekerja keras ada yang mungkin dengan traveling, ada yang dengan langsung mencari lagi penggantinya.
Sayangnya ya kita sering berada di dalam situasi di mana keluarga itu terbiasa untuk udah enggak boleh ngomongin tentang kematian.
Duka itu sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.
Enggak boleh nangis terlalu lama.
Jangan mengeluh.
Jangan mempertanyakan tuhan kenapa ini?
Kenapa tuhan jahat itu akhirnya membuat orang orang jadi meredam itu, tetapi enggak menyembuhkan.
Padahal yang dia perlukan adalah memproses duka tersebut dan dia memproses tentang kena p ini terjadi selama ini.
Memang enggak salah kalau seseorang menghindari suatu rasa sakit.
Cuma selama kita menghindari itu, kita enggak akan menyelesaikannya.
Jadi kalau mau untuk mulai memproses sit with the feelings.
Pembicara 2
Duduk dengan perasaan tersebut dan kita kenali kita coba untuk oke, aku lagi merasakan ini.
Pembicara 1
Enggak perlu buru buru diredakan.
Enggak perlu untuk oke ini harus segera mereda.
Enggak usah nah.
Pembicara 3
Halo semuanya.
Welcome back to in our twenty navigating life in n our twenty one step ate who lebih?
Oke setelah lama enggak syuting podcast di nawar twenty mungkin FYI teman teman ini shooting podcast in our twenty 1 di tahun 2025.
Mungkin teman teman udah banyak yang nanyain kapan podcastnya keluar lagi kapan podcastnya keluar lagi seperti yang teman teman tahu in our twenty akhir 2002 4 sampai awal 2002 5 lagi banyak banget agenda mungkin teman teman banyak yang datang ke event kita.
Banyak juga yang nonton rekaman rekaman event kita banyak juga yang lagi beli atau lagi ngerjain buku jurnal yang in our twenty.
Intinya lagi banyak banget agenda, tapi akhirnya sekarang kita menemukan waktu lagi untuk syuting lagi podcast inur twenty supaya teman teman bisa balik lagi belajar di podcast kita di in our twenty.
Nah biasanya mungkin teman teman ngelihat aku berdua sama raffi, tapi hari ini aku sendiri dulu tapi enggak apa apa karena enggak akan mengurangi excitement nya aku untuk ngobrol hari ini.
Nah untuk hari ini sebenarnya ada.
Menurut aku bahasan yang sangat menarik.
Ada 2 bahasan besar sebenarnya hari ini yaitu bahasan yang 1.
Mungkin teman teman banyak yang merasakan tapi belum terlalu banyak dibicarakan dan yang 2 menurut aku bahasan yang benar benar teman teman teman di umur 2 puluhan ngomongin banget setiap harinya gitu.
Nah hari ini aku ditemani sama satu guest satu tamu yang spesial banget.
Mungkin kalau teman teman yang suka ke Gramedia suka ke toko buku, mungkin sudah suka lihat bukunya gitu.
Nah aku sendiri juga baru akhir akhir ini mau baca bukunya dan ternyata.
Aku ngerasa bukunya ini benar benar cocok banget untuk kita teman teman di umur 2 puluhan gitu.
Langsung saja kita sambut untuk guys.
Hari ini dokter Andreas hai dokter.
Pembicara 1
Dan halo juga buat semua teman teman usia 2 puluhan.
Pembicara 3
Halo dokter gimana kabarnya?
Pembicara 1
Baik baik luar biasa sehat senang sekali ya.
Tadi aku mendengarkan bahwa sudah lama episodenya mungkin tertunda baru hari ini kebanggaan banget untuk bisa hadir dan mengisi berbagi dengan teman teman usia 2 puluhan sekarang.
Pembicara 3
Ya thank you banget.
Dokter andrea oke ini kan hari ini nih dokter Andreas kalau kita bisa lihat di belakang kita kan udah ada buku yang tertampang nih ya.
Nah mungkin sebelumnya boleh cerita dulu enggak dokter Andreas, mungkin kita akan memperkenalkannya sebagai penulis.
Tapi sebenarnya dokter Andreas ini sehari hari apa saja sih dokter kesibukannya?
Pembicara 1
Saya seorang psikiater dan juga yang kebetulan menulis juga gitu.
Jadi sehari hari memang saya menangani massal masal terkait dengan pikiran, perasaan perilaku.
Kalau kita ngomong psikiater biasakan orang mikirnya ih kalau psikiater berarti gila gitu kan benar juga tapi itu ekstrim ujung banget aku lebih banyak menangani kondisi yang sehari hari yang dialami oleh teman teman yang milenial.
Satu yang yang seumuran denganku juga.
Jadi aku banyak tenang.
Ini kasus kasus terkait remajaan dewasa muda, depresi cemas, sulit, tidur, patah hati, bingung kerja kuliah lagi atau enggak dan lain lainnya.
Karena itu justru sangat dekat dengan kita dan banyak orang orang yang mungkin butuh untuk bercerita.
Tetapi enggak tahu mau cerita ke mana gitu.
Dan aku ternyata kebetulan banyak kesempatan untuk ngobrol dengan teman teman usia 2 puluhan juga sehingga ya sedikit banyak mengga moga bisa share ya ke teman teman usia 2 puluhan tentang.
Apa topik yang mau yang lagi in saat ini?
Pembicara 3
Nih.
Kalau sebagai kan berarti sehari harinya dokter andre sebagai psikiater gitu ya boleh dishare sedikit.
Enggak sih?
Dokter kayak salah satu case yang paling sering muncul atau ockyuring tuh?
In general apa sih biasanya?
Pembicara 1
Wah menarik ya kalau untuk usia 2 puluhan 3 puluhan pasti enggak jauh jauh dari relationship pertemanan sama percinta ya relationship pertemanan sama kerja nah 3 itu karena memang ini isu yang lagi relevan banget kalau yang untuk relationship ya biasanya tentang.
Kapan melanjutkan pernikahan atau enggak cocok atau enggak ya pasangannya toxic dengan sekarang kan banyak label label ya NPD gitu dan lain lainnya.
Du dari dulu sebenarnya isu ini sudah ada, tetapi sekarang orang jadi lebih open untuk membicarakan itu.
Nah kalau mengenai persahabatan, biasanya tuh ketika mereka mulai ngerasa kok sejak ini selesai kuliah jadi terpisah ya circle nya jadi mulai ngerasa ditinggalkan atau mungkin membandingkan dengan teman teman yang lainnya.
Kalau dulu kan waktu kuliah kayaknya semuanya jalannya sama ya.
Paling yang satu ada lebih berprestasi per gimana mana.
Tapi begitu masuk dunia kerja kan tiba tiba wah langsung tuh dunia nyata langsung timpang banget Antara satu orang dengan orang lainnya.
Ini juga ternyata membuat kecemasan juga bikin overthinking insecurity juga ketika tentang pekerjaan tadi itu adalah kebanyakan mereka kan mulai masuk dari dunia pendidikan ke dunia kerja.
Nah yang beruntung mungkin merasa bahwa aku menemukan menemukan passionku.
Tapi enggak banyak juga yang dok kayaknya gue salah deh kuliah gitu kayaknya salah ngambil jurusan nih gitu.
Pembicara 3
Oke oke oke berarti sebenarnya valid.
Ya bisa dibilang kalau memang di umur 2 puluhan dari case case nya itu salah satu yang sering oke ring adalah sebenarnya kan platform kenapa inoure twenty ini dibikin adalah satu problem kita lihat di umur 2 puluhan tuh bingung dan yang 2 adalah karena bingung itu jadi banyak output yang tadi sempat dimention overthinking and saya itu berarti sering muncul juga ya case kayak gitu.
Pembicara 1
Dan aku menemukan bahwa kita yang usia 2 puluhan itu teman usia 2 puluhan itu sangat lapar dengan informasi.
Problemnya adalah karena sangat lapar jadinya informasi apa pun tuh dimakan belum tentu akurat.
Pembicara 2
Ya.
Pembicara 1
Jadi apapun yang misalnya ada yang disebutkan bahwa hati hati ketika kamu melihat teman kamu enggak bisa punya teman jangka panjang itu artinya dia toxic.
Nah jadi terlalu cepat untuk ngejudge kayak gitu.
Padahal kan belum tentu.
Sama juga ketika pekerjaan misalnya.
Dikatakan kalau kamu di pekerjaan itu passionate, maka kamu enggak akan lelah mengerjakannya.
Padahal kan enggak juga enggak seperti itu.
Pembicara 3
Oke oke oke menarik jadi sebenarnya casenya banyak macam macam.
Tapi kalau tadi gitu ya kita tarik satu benang merahnya adalah kebingungan dan akhirnya tadi beberapa outputnya itu seperti itu gitu.
Nah kita tuh sebenarnya ini episode akan masuk ke episode ke 11.
Jadi sebenarnya di 10 episode sebelumnya itu kita udah banyak mengupas menguliti tentang kebingungan.
Tapi kayaknya yang hari ini bakal kita obrolin menurut aku bahasan yang sama sekali belum kita bahas nih di podcast podcast ini norwenti which berangkatnya adalah dari buku yang aku lagi pegang.
Yang mega best seller yaitu seorang pria yang melalui duka dengan mencicipi iring.
Nah ini sebenarnya beberapa hari ini aku lagi baca banget nih dok terus mungkin aku cerita sedikit juga ya.
Menurutku bahasan hari ini akan menarik banget karena personally aku sendiri juga salah satu di umur 2 puluhan jadi aku tuh pertengahan 20 aku 24 jadi umurnya lagi goyang goyangnya gitu ya.
Dan salah satu yang sebenarnya aku bingung dalam menghadapinya, tapi enggak banyak dibahas.
Itu adalah tentang menghadapi duka.
Tapi mungkin duka itu kan kadang orang mikirnya adalah duka itu harus kehilangan orang meninggal gitu.
Tapi sebenarnya kalau yang aku hadapi dan orang orang sekitar hadapi itu adalah banyak juga kedugaan kedugaan yang tidak selalu orang meninggal gitu.
Kita kehilangan teman kita kehilangan pasangan gitu.
Nah, tapi sebelumnya aku mau nanya dulu nih dok kenapa sih akhirnya di buku yang 1 ini di buku yang seorang pria yang melalui duka dengan mencuci piring ini ngebahasnya tentang duka.
Why specifically tentang duka?
Pembicara 1
Biasanya kalau menulis itu terkait keresahan pribadi.
Nah ini kebetulan keresahan saya ya.
Saya kehilangan ayah waktu saya usia 30 tahun dan kehilangan anak saya di tahun 2021, jadi sekitar 4 tahun lalu.
Sekarang itu berarti waktu saya usia 34 kira kira ya 3. 34 dan ternyata duka itu kan teorinya banyak waktu saya juga pendidikan belajar ada duka stage of grie dan lain lain yang bawa ya duka pasti berlalu kita badai pasti lewat ternyata pas dijalani enggak segampang itu gitu ternyata hancur hancuran juga.
Dan dari situ ketika saya menemukan ada keresahan Antara pengalaman pribadi dibandingkan dengan teori yang ada, kok enggak selalu sejalan?
Akhirnya saya mencoba untuk mengolah dengan cara saya sendiri dan tentu saja ya bukan dengan kemampuan sendiri doang.
Saya juga diskusi dengan guru, guru dengan teman teman dan ternyata saya banyak mendapatkan insight atau ilmu ilmu justru dari pasien atau klien yang saya tumit tiap hari.
Dari pengalaman itu cerita dengan mereka, saya jadi menemukan kok ada cerita cerita yang berulang.
Nah, akhirnya daripada saya mengulang ngulang cerita yang sama kepada klien yang ketemu.
Saya pikir gimana kalau saya mencoba untuk menuliskannya supaya bisa menjangkau lebih banyak lagi.
Tadinya ini project iseng gitu.
Pembicara 2
Kayak ya sudahlah.
Pembicara 1
Siapa tahu bisa ngebantu teman teman yang mengalami kedukaan?
Apalagi kan setting ini ditulisnya waktu masa masa covid sebenarnya setelah covid ya walaupun ayah dan anak saya tidak meninggal karena terkait dengan covid, tetapi pada masa itu kan banyak sekali mengalami kehilangan dan ternyata banyak yang merasa relate.
Dan saya pun betul sekali tadi seperti yang jihan katakan, saya menemukan bahwa duka itu enggak selalu berhubungan dengan kepergian seseorang dalam hal nyawa atau meninggal dunia.
Kehilangan intinya itu ya.
Nah, kehilangan yang berat seperti kehilangan teman yang pergi tempat yang jauh ke luar negeri.
Misalnya, kita tetap bisa untuk berkomunikasi.
Video call kan gampang, tapi tetap saja loh kehilangan sosok dia itu menyakitkan sekali atau pasangan ya kehilangan pasangan itu.
Rasanya banyak yang mengatakan waduh rasanya sangat.
Sangat sakit seolah olah kayak sama seperti ditinggalkan kematian begitu jadi memang duka itu luas luas sekali.
Pembicara 3
Kan kalau aku baca dari bukunya nih dok sebenarnya kan?
Kadang kan orang tuh juga.
Balik lagi ya ketika duka mungkin salah satu emosi yang erat kaitannya itu kan sedih.
Dan jadinya tuh kadang ketika orang sedih dan berduka, orang tuh bingung untuk mendefinisikan.
Sebenarnya ini tuh yang dirasakan apa dan sebenarnya duka itu apa dan yang aku bacakan di bukunya sendiri, dokter Andreas berusaha untuk mendefinisikan beberapa kali tentang duka.
Tapi sebenarnya mungkin kalau saat ini gitu ya aku tanya lagi, sebenarnya menurut dokter Andreas sendiri gitu duka itu definisi duka itu apa sih?
Pembicara 1
Duka itu belum pernah ada benar definisi yang sangat kaku banget ya kalau kita cari di KBBI misalnya, akan ditemukan bahwa kesediaan mendalam biasanya berhubungan dengan kematian.
Gitu saya meminjam penjelasan duka itu dari teman saya, dokter jimmy.
Beliau pernah membaca dan dibagikan ke saya dan sampai sekarang saya masih pegang duka adalah cinta yang kehilangan objeknya.
Jadi kita pernah mencintai sesuatu sangat mendalam sangat besar.
Tiba tiba objeknya ini hilang.
Lalu kita masih ngotot untuk mencari objek tersebut sehingga itulah proses duka.
Nah kalau di buku saya menuliskan duka itu adalah sebuah periode waktu di mana kita memproses dan menyadari sesuatu itu bakal berubah.
Dalam hal ini dari ada menjadi enggak ada oke kalau kita gabungkan, berarti duka adalah perubahan perubahan dari ada menjadi enggak ada dan yang jadi sulit adalah kita seringkali berpikir aku pengin situasi seperti.
Pembicara 2
Dulu.
Pembicara 1
Lagi sebelum orang ini pergi sebelum orang ini meninggal.
Dan itu tidak bisa karena tadi unsurnya aja udah tentang perubahan dan kehilangan sesuatu.
Makanya pada orang orang yang lagi berproses untuk menjalani duka.
Saya bilang ke mereka bahwa ini adalah prosesmu sendiri.
Tapi jangan dibayangkan bahwa di masa depan kita bakal lupa atau kita bakal menerima dalam tuh yang udah aku enggak kepikiran lagi sama sekali.
Enggak mungkin seperti itu.
Pembicara 3
Jadi sebenarnya bahkan proses berduka itu karena kan gini.
Salah satu ketika orang proses berduka adalah mereka mikir akan ada finish lainnya di mana mereka selesai dan mereka udah melepas rasa duka itu.
Tapi tadi yang aku dengar dari dokter Andreas dan aku baca dari bukunya sebenarnya enggak akan ada.
Pernah kata selesai dari berduka itu sendiri.
Pembicara 1
Ya.
Ya kenapa?
Karena gini kalau misalnya aku mengatakan bahwa aku sedih karena anakku meninggal berarti sampai 10 tahun 20 tahun ke depan aku masih boleh untuk sedih karena anakku masih meninggal.
Kecuali kalau tiba tiba anakku hidup lagi ya aku enggak boleh sedih lagi.
Tapi kan kenyataannya orang yang sudah pergi dia pergi selamanya.
Kalau terkait dengan duka yang meninggal ya dan berarti kita boleh dong untuk sedih terus terusan.
Tapi yang kita harapkan dari waktu ke waktu sedih ini berevolusi.
Kalau sebelumnya ketika saya sedih bisa menangis sampai berjam jam dan enggak bisa bekerja, ya nanti diharapkan waktunya lebih pendek, mungkin hanya di bulan tertentu, di tanggal tertentu, atau ketika mendengarkan lagu tertentu dan kita bisa mengkontent supaya tadi yang nangisnya berjam jam ini mungkin bisa jadi hanya berlangsung beberapa menit kita mengalami duka tersebut.
Kita sedih kita menangis lalu setelah itu hapus air mata dan kita kembali moving on dengan kehidupan kita.
Pembicara 3
Oke oke oke ini semakin dalam ngomongin tentang duka.
Mungkin ini salah satu common question atau banyak pertanyaan yang ditanyakan orang atau dibingungkan orang?
Cuma karena aku beberapa bulan lalu balik lagi ya mungkin masuk ke salah satu fase berduka juga walaupun aku tahu teorinya, tapi aku tetap berusaha terus terusan mencari kayak fase fase berduka tuh apa ajanya gitu jadi.
Di share enggak sih?
Dok sebenarnya mungkin ya mungkin enggak based on teori banget, tapi based on mungkin dokter Andreas ketika mengalami dan ngebantu klien klien juga gitu.
Kayak biasanya tuh fase fase berduka tuh apa aja sih?
Pembicara 1
Kalau kita omongin tentang fase berduka yang paling populer, mungkin kan tentang Elizabeth kubler rose yang tentang five stages of griff.
Nah ini aku di setiap kesempatan aku akan berusaha untuk meluruskan ya bahwa.
Itu tidak selinear yang kita bayangkan, bahkan penulisnya sendiri penciptanya sendiri elit kublos mengatakan bahwa dia agak menyesal membuat teori tersebut.
Awalnya teori itu sebenarnya adalah tahap ketika kita menerima kabar buruk.
Oke, jadi ketika kita menerima kabar misalnya, seseorang yang dikatakan kamu memiliki penyakit yang berat, cancer misalnya atau stroke, mereka akan melalui tahap tahapan tadi ada dari anger dari eh dari syok atau denial.
Habis itu anger bergaining depression lalu acceptance.
Nah, tapi ketika kita membawa ini ke konsep duka, jadi orang mengira bahwa ini tahapannya linear.
Jadi kan oh saya senang lagi fase marah, berarti setelah ini saya akan dipress.
Setelah itu saya bakal jadi mungkin bergaining saya akan nanti menjadi mungkin jadi acceptance atau mungkin balik lagi.
Jadi seolah olah mereka berpikir ini maju mundur, padahal yang lebih mungkin ada lagi nih.
Anggaplah ini sebuah pohon dengan setiap daun itu ada namanya ada daun yang denial, ada daun yang anger, daun bargaining, depression, and.
Lalu anggaplah ada suatu angin yang sangat kencang dan daun itu rontok semuanya.
Maka kita berjalan di atas tanah dengan banyak daun daun tersebut.
Bisa jadi hari ini kita nginjak daun yang denial.
Kayaknya salah deni nggak mungkin nih pasti ada yang salah nih.
Langkah lagi tahu tahu kita jadi marah terus tahu tahu besoknya kita langsung accept ya sudahlah mau gimana lagi, tapi besoknya deni lagi sebentar, tapi kayaknya enggak mungkin deh gitu.
Nah jadi itu yang lebih masuk akal bukan suatu proses yang linear tetapi.
Wajah berduka itu bisa muncul dalam berbagai bentuk.
Makanya ada yang mungkin dengan nangis.
Ada yang mungkin dengan bekerja keras.
Ada yang mungkin dengan traveling.
Ada yang dengan langsung mencari lagi penggantinya.
Itu semua adalah wajah berduka yang akan kalau kita teman tuh taylor untuk masing masing orang ya, tapi orang memiliki caranya sendiri dan enggak ada cara yang benar ataupun salah untuk menjalani itu.
Pembicara 3
Itu tadi aku menarik mau ngegali sedikit tentang wajah berduka orang orang tuh beda beda gitu which is itu bener sih karena.
Kadang bisa jadi aku ketemu sama orang yang sama sama berduka.
Tapi cara cara menghadapinya beda beda gitu ya.
Tapi boleh cerita sedikit enggak sih dok atau mungkin dishare sedikit gitu.
Kenapa wajah berduka orang tuh beda beda sih apa kira kira yang biasanya itu melatar belakangi cara orang tuh menghadapi berdukanya tuh beda.
Pembicara 1
Beda.
Sekali ya kalau kita ngomongin tentang ini, kan gimana kita menghadapi sesuatu berarti kita kan menyebutkan coping mekanisme dalam istilah jiwa ya psikolog itu psikiatri coping mekanisme adalah bagaimana kita berhadapan dengan suatu stressor.
Sebagai contoh, ada orang yang ketika dia mobilnya kecelakaan, dia bisa bercanda tentang itu ada orang yang ketika dia kecelakaan langsung overthinking banget langsung aduh ini pasti salahku dan lain lainnya.
Nah, yang membentuk seseorang ini jadi akan bercanda atau overthinking itu adalah pengalaman di masa lalunya.
Gimana dia dibesarkan gimana dia berlangsung dengan orang orang?
Apa buku yang dia baca, apa film yang dia tonton?
Dan ini pun membuat 2 anak dalam satu rumah dibesarkan orang tua yang sama.
Bisa jadi coping mekanismenya berbeda.
Nah, itu juga menyebabkan akhirnya wajah berduka setiap orang pun berbeda.
Sayangnya ya kita sering berada di dalam situasi di mana keluarga itu terbiasa untuk udah enggak boleh ngomongin tentang kematian.
Duka itu sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.
Enggak boleh nangis terlalu lama.
Jangan mengeluh.
Jangan mempertanyakan tuhan kenapa ini?
Kenapa tuhan jahat itu akhirnya membuat orang orang jadi meredam itu, tetapi enggak menyembuhkan.
Padahal yang dia perlukan adalah memproses duka tersebut dan dia memproses tentang kena p ini terjadi dalam beberapa hal.
Aku sering kali mendengarkan pasien pasien bertanya tentang kalau tuhan itu sudah kenapa sih tuhan itu jahat, tapi bukan berarti dia mau untuk ngertadat.
Doakan suatu pertanyaan yang sangat wajar.
Nah yang kita butuhkan adalah ketika seseorang bercerita menyampaikan rasa sakitnya, kita jangan buru buru di bisnis, jangan buru sudah enggak usah mikir gitu, justru kita dengarkan.
Berikan dia waktu untuk memproses duka tersebut dan itulah memang pekerjaan saya.
Akhirnya kalau orang menanyakan wah lu jadi psikiater yang nangin kedugaan ngomong apa?
Terus saya bilang saya enggak ngomong apa apa saya dengerin.
Karena mereka sudah sering mendengarkan dari orang orang lain tentang kamu.
Harusnya begini cara berdukanya, sedangkan mereka jadi kehilangan cara berduka mereka sendiri.
Pembicara 3
Hm ini menarik lagi aku mau lanjut ngedik lebih dalam lagi tentang memproses berduka.
Karena salah satu kalau kita ngomongin kan kalau yang aku baca juga di bukunya gitu.
Kadang kalau misalnya orang baru menghadapi sesuatu tadi stressor atau misalnya kejadian dan akhirnya bisa dibilang masuk fase berduka.
Salah satu yang di awal itu kan sebenarnya kalau ditulis di bukunya di sini adalah banyaknya.
Seringnya emosinya bingung bingung itu.
Nah ketika bingung kan sebenarnya orang akan mencari cara gimana cara memprosesnya dan kalau yang aku lihat bahkan.
Mungkin aku sendiri mengalami.
Kadang sering ada di fase kayak kita enggak tahu cara memprosesnya gimana?
Nah, mungkin sebagai mungkin sebagai dokter Andreas psikiater yang sering mengalami duka gitu.
Biasanya gimana sih um cara apa ya mengajak orang atau misalnya ya mengajak gitu ya untuk orang itu memproses dukanya gitu.
Apa sih yang diproses gitu?
Pembicara 1
Yang paling utama adalah jangan dihindari.
Seringkali kan kita pengin menghindari suatu perasaan dan saya pun mengakui itu juga yang terjadi gitu.
Waktu ayah saya meninggal dulu, saya enggak mau membahas tentang itu karena menyakitkan.
Saya enggak mau untuk masuk ke kamar ayah saya.
Baju bajunya dibiarkan di situ dan ternyata hal yang sama juga terjadi setelah anak saya meninggal butuh waktu sekitar 6 bulan lebih untuk kami akhirnya mulai membereskan baju bajunya hero baju baju anak kami itu butuh waktu untuk itu dan selama ini memang enggak salah kalau seseorang menghindari suatu rasa sakit.
Cuma selama kita menghindari itu kita enggak akan menyelesaikannya.
Jadi kalau mau untuk mulai memproses.
Sit with the feelings.
Pembicara 2
Duduk dengan perasaan tersebut dan kita kenali kita coba untuk oke, aku lagi merasakan ini.
Pembicara 1
Nggak perlu buru buru diredakan, enggak perlu untuk oke ini harus segera mereda.
Enggak usah.
Nah, beberapa orang terbantu dengan menulis dengan jurnaling beberapa orang kebantu ketika mereka mungkin membaca konten di sosial media, beberapa dengan dengan membaca buku.
Makanya juga ada beberapa pembaca yang mengatakan bahwa buku ini buku cuci piring membantu mereka untuk memproses duka tersebut, dan mereka mengatakan bahwa oh, buku ini ajaib.
Dan menurut saya enggak kamu bisa memproses itu karena di waktu tersebut kamu duduk sit with your feelings dan kamu membaca itu.
Jadi yang hebat adalah kamu karena kamu berani duduk dan berhadapan.
Kebetulan buku ini cuma media dan buku ini bisa digantikan dengan apapun.
Bisa jadi seorang teman yang berbicara.
Bisa jadi sebuah film.
Bisa jadi tuh mungkin sebuah jurnal yang dia tuliskan sendiri jadi berbagai cara.
Kebetulan buku ini salah satunya.
Pembicara 3
Oke oke nah ini menarik banget karena salah satu karena balik lagi ya, karena aku juga karena aku berduka dan akhirnya aku juga sih psikiater gitu.
Sebenarnya ketika aku berduka aku awalnya pasti aku malu gitu.
Aku bilang aku ke psikiater karena putus putus cinta gitu cuma salah satu yang aku lakukan adalah kalau aku enggak ngomong itu dan aku enggak share ke teman teman aku ya aku terus akan mengulang look orang orang malu untuk seaking professional help ketika yang mengalami sesuatu yang tidak baik baik saja untuk dirinya gitu.
Dan salah satu yang aku diajarin juga sama psikiaterku itu adalah yang 1 memang sit with feelings.
Tapi kan kadang kan ketika sit with feelings waktu itu yang aku alami juga adalah oke sit with feelings, tapi yang susah adalah duduk mengharap emosi tapi enggak mau diterima.
Makanya waktu itu salah satu yang aku diajari adalah tentang radikal acceptance gitu.
Gimana caranya mencept nah boleh di elaborate enggak sih?
Dok kayak tadi kita oke kita diajarin untuk sit with our feelings ngadepin feelings nya, tapi gimana akhirnya kita bisa menerima dengan sehat perasaan karena kan mungkin kalau menerima perasaan senang tuh enak.
Tapi perasaan sedih mungkin sampai sekarang saja aku sudah berbulan bulan masih kabur kaburan gimana sebenarnya?
Quote and quote tutorialnya menerima dengan baik perasaan yang sedih atau berduka atau buruk itu.
Pembicara 1
Aku suka tuh konsep radikal acceptance ya menerima tanpa bertanya kenapa itu sebenarnya konsep dalam DBT dialtical behaviour therapy.
Aku melakukan pendekatan dengan cara CT itu acceptance and komitmen terapi kita menyebutnya.
Pembicara 2
Act dalam act itu ada 2 tahap yaitu accept dan komit.
Pembicara 1
Acceptance ini yang kita akan ajarkan kepada klien kepada pasien karena banyak orang yang menyalah artikan penerimaan ya kan?
Kita seringnya dengar misalnya di keluarga atau media sosial.
Udah terima aja pasrah aja betul memang itu sebagian dari penerimaan lah yaitu acceptance of reality.
Nah, jadi kalau kita tanya mulai dari mana?
Mulai dari acceptance of reality menerima suatu fakta dalam hal missaya meninggal berarti kita menerima faktanya di tanggal sekian di jam sekian orang ini sudah enggak bersama kita lagi.
Mengenai patah hati ya, kita perlu menerima fakta bahwa di hari tersebut tanggal tersebut jam tersebut orang ini mengucapkan sesuatu.
Bahkan ini juga bisa terjadi.
Misalnya pasangannya diketahui selingkuh wah sangat tersakiti.
Dia perlu menerima fakta bahwa itu terjadi, tapi bukan berarti menerima membiarkan itu terus terjadi.
Maka step 1 adalah.
Pembicara 2
Accept dulu acceptance 2 baru komitmen.
Kalau komitmen ini kita akan menanyakan ke diri kita sendiri, apa sih yang menjadi value kita?
Apa yang penting bagi kita ada orang orang yang mungkin valuenya adalah memaafkan membiarkan memberikan kesempatan 2 sehingga ketika dia diselingkuhin dia ya sudah aku menerima itu dan aku memberikan kesempatan lagi orang lain yang valuenya adalah tentang kemandirian, tentang dignity, tentang harga diri.
Bisa jadi ketika diselingkuhin dia menerima fakta.
Bahwa pasangannya selingkuh lalu action dia berikutnya adalah dia berpisah.
Berpisah pun perlu diawali dengan menerima fakta bahwa itu terjadi.
Oke, nah itulah kenapa dorong yang ketika patah hati mereka perlu menerima fakta bahwa itu terjadi.
Lalu komitmennya berbeda beda.
Ada orang yang komitmennya akan mungkin menyalahkan diri sendiri dulu.
Ada orang yang naik gunung, komitmennya adalah experience hal baru.
Ada yang mungkin oh aku mau balas dendam aku mau bikin badanku bagus supaya dia menyesal.
Ada yang mungkin ya sudahlah umur segini aku mau untuk fokus kerja dulu masing masing itu benar karena valuenya tiap orang akan berbeda.
Apa yang penting bagi mereka bakal berbeda.
Nah, kadang kadang kita meminta untuk mengecek nih value kamu ini kamu menyalahkan diri sendiri, mau enggak kita coba untuk otak atik valuenya mau enggak kita mempertanyakan value tersebut?
Jangan jangan bukan salah kamu.
Begitu jadi yang kita set adalah valuenya dulu karena banyak sekali ketika orang berduka ya valuenya juga ikutan ini ya goyah juga tiba tiba bingung apa yang harus dilakukan dalam hidupnya, apa yang harus dipegang dalam hidupnya.
Pembicara 3
Sedikit follow up question kira kira biasanya tadi kan berarti sebenarnya kadang ketika kita patah hati atau misalnya mungkin case nya patah hati atau berduka gitu valuenya bisa ke geser gitu.
Nah dan tadi ada kata kata coba kita otak atik valuenya ibaratnya kalau aku tangkapnya adalah kita lurusin lagi value kamu tuh apa?
Nah biasanya how to explore kayak gimana caranya kita bisa menemukan kembali atau kita bisa stick with that value itu.
Pembicara 2
Oke wah thank you nih.
Bagus banget nih follow up questionnya.
Aku enggak terlalu mungkin bilang ke passion bu aku meluruskan karena meluruskan seolah olah aku tahu apa yang benar dan yang dilakukan salah aku ngajak mereka untuk membuat jadi crystal clear tentang seperti apa sih dia mau hidup.
Jadi gimana caranya?
Karena aku mengajak mereka untuk visualize untuk duduk sebentar, kadang ngajak untuk jawab, pejamkan mata.
Coba bayangkan yang sering adalah bayangkan versi diri kamu yang lebih bijaksana dari sekarang.
Kadang kadang ku ajak dia bayangkan 6 tahun dari sekarang 10 tahun dari sekarang.
Berarti buat teman teman yang ini inour twenty ya mungkin membayangkan versi dirinya sudah usia 30 atau 4 puluhan tahun.
Kita ngajak untuk membayangkan kira kira di umur tersebut ketika kamu sudah lebih bijaksana, lebih pintar, lebih kaya ya lebih banyak.
Koneksi lebih damai kira kira membayangkan seperti apa sih orangnya?
Nah, setelah kita punya gambaran yang cukup clear tentang itu, crystal clear image baru kita akan tanyakan apa yang akan kamu lakukan untuk mencapai ke titik tersebut.
Karena tadi kalau misal orang mengatakan bahwa aku diputusin aku misalnya diselingkuhin terus aku sekarang aku memohon mohon mengemis cinta, coba kita bayangkan apakah 10 20 ton dari sekarang kamu masih membayangkan dirimu masih mengemis cinta koran tersebut?
Kemungkinan enggak?
Kemudian kita akan membayangkan oh aku yang di masa depan sudah bersama keluarga yang membuatku bahagia atau bisa jadi oh, aku ternyata bisa mandiri.
Aku punya pasangan, tapi aku ke mana mana bisa sendiri.
Kalau kita sudah punya value yang clear seperti itu baru kita tanyakan.
Sekarang ambillah setiap langkah yang mendekatkan kita menuju value tersebut bukan yang menjauhi.
Pembicara 3
Oke oke oke, aku jadi sambil sekalian kayak lagi sesi terapi gitu oke.
Pembicara 2
Ketampar kiri kanannya.
Pembicara 3
Oh iya benar juga gitu oke oke oke.
Nah ini mumpung dok lagi bahasannya adalah patah hati gitu ya kenapa mungkin aku bahasnya juga agak patah hati karena kan aku kan juga nonton podcastnya dokter Andreas sebelumnya sama Raditya dika dan di situ kan dibahas tentang duka tentang kehilangan gitu ya dan casenya mungkin kehilangan orang yang meninggal gitu.
Nah kalau di ino twenty tuh dok mungkin tetap case ini menurut aku banyak yang merasakan.
Tapi kita tuh biasanya ada salah satu community event bulanan dan di situ tuh biasanya kita ngajak sesama umur 2 puluhan aja itu tuh saling sharing dan sebenarnya balik lagi tadi mungkin sempat dishare juga.
Mostly umur di umur 2 puluhan gitu ya?
Salah satu yang paling berat itu sebenarnya patah hati gitu.
Nah mungkin ini kayaknya dokter Andreas belum pernah bahas gitu ya mungkin di podcast lain gitu pernah dokter Andreas sendiri, mungkin 1 tama pernah enggak sih ngalamin patah hati dan apakah itu patah hatinya sesuatu yang besar dan akhirnya sampai apa gitu ngelakuin sesuatu gitu.
Pembicara 2
Nah sebelum aku bahas itu ya betul sekali di usia 2 puluhan itu memang cinta itu topik.
Yang penting kalau kita ngikutin teorinya erik erikson jadi ada psiko social stages of hums eri erik erikson mengatakan bahwa di setiap umur itu kelompok umur ada tugasnya.
Contoh di usia kelompok remaja sekitar 12 sampai dengan 20 tahun itu tugasnya adalah untuk menemukan identity, artinya dia pengin jadi seperti apa dia suka musik, apa dia enggak suka, apa mau jadi apa itu sudah kebentuk di situ.
Di usia 2 1 sampai 39 tahun yang orang orang menduga oh ini fasenya bekerja ternyata enggak.
Ternyata di fase usia tersebut sampai 39 itu adalah ketika mencari intimacy atau isolation.
Artinya ketika mereka bisa melalui masa tersebut dengan baik, mereka bakal menemukan intimacy mereka bakal menemukan cinta dan merasa nyaman ketika mereka tidak berhasil.
Melalui itu akan terjadi isolation.
Dia akan merasa tidak bergabung dengan kelompok merasa tidak diterima gitu jadi.
Buat teman teman in our tools yang merasa duh kok umur 2 puluhan masih patah hati receh banget.
Justru memang itu momentnya itu moment moment yang paling penting itu adalah tugas kita untuk menemukan cinta di usia tersebut.
Nah kalau aku sendiri kebetulan ya ini simpelnya sih aku jadi psikiater gara gara patah hati itu kalau ditarik tarik sebenarnya begitu.
Pembicara 3
Ya gimana tuh dok cerita saja.
Pembicara 2
Tapi kejadiannya ini bukan justru waktu bukan usia 2 puluhan.
Tapi jauh sebelum itu enggak jauh jauh banget sih waktu SMA.
SMA itu berarti umur sekitar aku 17 atau 18 waktu ya?
Jadi intinya ya biasalah percintaan remaja kan gitu mencintai seseorang.
Aku suka sama dia ternyata oh berbalas cintanya senang gitu akhirnya menemukan.
Aku menemukan cinta sejatiku.
Aku membayangkan aku bakal bersama dengan dia.
Kita akan mengalahkan dunia gitu lah ya model model remaja kan.
Tiba tiba pasangan yang mau mengalahkan dunia ini dipisahkan oleh beasiswa pendidikan ke luar negeri.
Tiba tiba dia ada pendidikan ke luar negeri ke Singapura dan waktu itu tahunnya masih tahun 2000. 4 2005 di mana internet itu masih barang langka.
Jadi waktu itu di usia kami saat itu dengan tahun 2 ribuan awal pindah negara itu sama dengan tidak bisa berkomunikasi.
Bisa sih komunikasi waktu itu susah banget.
Kita mesti mencari cara untuk waktu itu video call dengan skype teleponnya masih telepon internasional begitu dan waktu itu saya mengalami pathati karena tadinya kan memiliki perasaan.
Wah aku bisa kok kami bisa nih mengalahkan dunia cinta kami tidak akan lekang dimakan zaman.
Sekitar sebulan kemudian putus.
Ternyata selamanya itu adalah sekitar 30 hari gitu kan kayak aku cinta kamu selamanya 30 hari lah kira kira gitu ya definisi baru guys itu.
Tapi dampak itu adalah aku benar benar waktu itu down dampaknya itu berat banget, jadi kehilangan kayak nih.
Mau ngapain lagi sih dalam hidup untungnya tetap bisa menjalani sehari hari pendidikan dengan baik.
Cuma ya gitu, akhirnya sudah yang penting jalan saja dan aku mulai menyadari jauh bertahun tahun kemudian anjir kayak gue deh, presi deh dulu deh gitu, baru menyadari bertahun tahun kemudian dan saat itulah aku itu menyadarinya.
Waktu sudah masuk pendidikan kedokteran.
Begitu mempelajari tentang bentar ini kok yang diceritakan dalam gejala gejala depresi ini mirip Andreas dulu nih.
Dan aku menyadari aku tanpa sadar mengalami masa depresi saat itu tanpa pernah mengetahui.
Waktu itu kan pengetahuan tangsa mental minim banget boro boro ke psikiater waktu itu boro boro ke psikolog kayaknya beromong emak aku mau ke psikiater psikolog kayaknya langsung dikurung di kamar gitu kan kamu ngapain gitu?
Nah saat itulah aku menyadari wah ternyata ini masalah isu yang sangat sangat umum.
Untungnya waktu itu aku juga bisa bangkit karena ada teman yang ngebantu ya kita ngobrol ngobrol kita bisa untuk ngembangin diri, melakukan hobi bersama, tapi butuh waktu beberapa bulan untuk recover dari situ dan dari situlah aku jadi berpikir kalau isu ini terjadi padaku jangan jangan terjadi juga pada orang orang yang lain, cuma mereka selama ini enggak tahu saja.
Lalu ketika menjalani proses pendidikan di kedokteran kan kami ketemu dengan banyak kasus ketemu dengan.
Sebagai orang terus mulai menyadari.
Iya nih kayaknya nih salah satu isu yang relevan deh, dan ini sesuatu yang harusnya bisa untuk dibicarakan tanpa rasa malu.
Kita enggak malu ketika kita lagi naik motor, jatuh patah kaki lagi, main basket jatuh, patah tangan kita enggak malu malah kita bangga yeh gue lagi main basket jatuh tangan gue patah kenapa patah hati kita harus.
Pembicara 3
Malu.
Pembicara 2
Ya kan, hanya karena itu enggak kelihatan seolah olah enggak valid perasaan tersebut gitu lah.
Tapi waktu awalnya aku belum berencana.
Oke deh, aku mau menjadi psikiater yang berhubungan dengan kedudukan atau patah hari enggak masih berpikirnya.
Aku masih mau menjadi psikiater umum dulu aja, karena menurutku jiwa manusia itu menarik ya psiki atau pikiran manusia, perasaan manusia itu menarik sekali dan.
Aku baru kebentuk tentang mau menjadi apa dalam hidupku itu kurasa tepat di usia sekitar 30 tahun ya jadi.
Pembicara 1
Sudah di.
Pembicara 2
Ujung karena tadinya waktu kan kita menjalani pendidikan spesialis itu cukup lama ya 4 tahun aku menjalin dari tahun waktu aku usia 26 tahun masuk pendidikan psikiatri.
Waktu itu pun masih belum kebayang mau menjadi psikiater seperti apa.
Kalau jadi psikiater sudah kebayang tapi belum tahu mau menjadi seperti apa.
Waktu itu sempat mikir oh mungkin aku bakal jadi dosen mungkin bakal ngajar.
Mungkin aku bakal jadi ketemu dengan pasien banyak 2008 aku usia 30 papa meninggal karena stroke waktu itu mulai itu merasa ya sudah deh aku berarti banyak jalan hidup yang tertutup.
Tadinya aku bisa untuk menjadi dosen, tapi sering jadi enggak bisa karena ya menjadi dosen di Indonesia.
Kayaknya incomenya agak kurang ya agak sulit untuk hidup ketika aku menjadi seseorang yang perlu untuk menanggung hidup keluarga.
Akhirnya aku memutuskan oke, aku meninggalkan mimpiku menjadi guru menjadi dosen dan aku berpraktek secara mandiri saat itu pun masih belum kebentuk.
Masih mikirnya.
Ya sudahlah aku akan menjadi psikiater yang friendly untuk generasi generasi muda karena banyak juga keluhan bahwa oh psikiaternya atau psikolognya usia terlalu jauh.
Jadi mereka merasa kayak cerita sama mama atau papanya kalau denganku ada berapa yang bilang kayak ngomong sama koko sendiri gitu, ada yang bilang saya pilih dokter karena enggak kayak dokter gitu kan?
Nah baru di beberapa tahun setelah aku selesai pendidikan 3 tahun kemudian baru deh anakku meninggal dan saat itu.
Mungkin aku lebih mengarahkan kayaknya aku bakal mendalami tentang rasa sakit, tentang kedugaan, tentang kesedihan.
Jadi buat teman teman yang sekarang bingung nih ya aku belum tahu hidupku mau ngapain ya mungkin memang belum lengkap datanya potongan puzzlenya belum lengkap dan aku sendiri kan baru kurasa baru menemukan potongan puzzle yang cukup cukup akhir itu di sekitar 3 tahun yang lalu, setelah anakku meninggal selaku menulis buku.
Tapi sebelum itu benar i have no clue about my life, aku enggak terus ngapain, jadi buat teman teman jangan merasa ketinggalan, jangan merasa.
Khawatir sekarang kamu lagi ngumpulin kok potongan potongan puzzle tersebut dan kamu merangkai satu persatu termasuk ya.
Dengan mengikuti ini kan podcast inur twenty sini juga ngumpulin potongan potongan puzzle tersebut.
Pembicara 3
Karena benar sih make sense juga tadi kalau diceritain baru ketemu baru mau tahu tujuan hidupnya apa tuh di umur 30 karena banyak sekarang orang orang tuh rushing kayak karena mungkin sekarang lebih digital banget ya.
Jadi orang orang lihat di sosmed kayak waduh 3 harusnya sudah tahu dong umur hidupnya mau ngapain 2 4 harusnya udah mau nikah dong yang kayak.
Pembicara 2
Gitu gitu udah jadi CEO gitu kan 2 6 punya.
Bisnis itu benar benar bahaya karena kita jadinya punya ekspektasi yang enggak realistis.
Pembicara 3
Nah, satu lagi pertanyaan tentang patah hati gitu ya, karena ini mungkin lagi topiknya lagi asik juga di sini kan balik lagi ya duka itu kan mungkin kalau yang aku rasa dan aku pelajari kan spektrumnya kan besar banget gitu ya.
Kalau berduka yang kehilangan orang atau meninggal gitu itu kan kita mungkin sudah enggak ketemu lagi.
Tapi kalau kita ngomongin patah hati sebenarnya kan orangnya tuh enggak meninggal tapi orangnya masih ada.
Tapi kan kita tetap bilang solid berdukanya karena kita udah ya tadi ada yang berubah gitu, ada sesuatu yang berubah satu aku mau nanya biasanya di case case nya gitu dan mungkin dari dokter Andreas melihat sebagai psikiater tuh apa perbedaan Antara 2 ini dan yang 2?
Apakah coping mekanismenya tuh berbeda atau gimana dok?
Pembicara 2
Kita punya istilah untuk itu menyebutnya paradoksikel.
Ya paradoksikolog grive adalah suatu kondisi ketika orangnya masih ada, tapi seolah olah sudah tidak ada ya termasuk kan digosting istilah gosting itu kan go hantu karena seolah olah ini kayak udah kayak hantu tapi orang yang masih ada nah enggak bisa dibilang juga ini lebih mudah.
Bahkan dalam beberapa kondisi ini lebih berat.
Karena ketika seseorang itu enggak ada karena meninggal dunia, kita sangat tersakiti.
Tapi setidaknya kita tahu bahwa kita enggak punya pilihan lain.
Sedangkan dalam situasi ini mungkin sakitnya tidak sebesar ketika seseorang ditinggalkan karena nyawanya sudah selesai, tapi akan jadi terus sakit.
Karena waduh mungkin ada yang bisa kulakukan.
Harusnya aku bisa begini, jangan jangan masih bisa untuk baik dan seterusnya.
Jadi akhirnya ini menjadi sangat panjang dan enggak selesai selesai.
Sedangkan tadi kan tugas kita ketika berduka adalah gimana untuk memahami, memproses dan moving on with our lifes.
Nah ini jadi susah untuk moving on with our live karena kita masih membayangkan hidup bersama dengan orang tersebut.
Begitu jadi itu yang aku ajak untuk pahamnya adalah sekarang pun kamu berduka.
Tapi tadi berdukanya memang bentuknya unik.
Paradoksikel grive berbeda enggak cara kopinya pada dasarnya sama sih sama sama perlu mengakui accept fakta bahwa orang ini sudah tidak mau lagi melanjutkan hidup bersama dengan kita.
Bedanya yang satu tidak mau melanjutkan hidup, yang satu tidak bisa melanjutkan hidup bersama dengan kita.
Setelah itu.
Ya, komit tentang kamu mau bagaimana menjalani hidup dan the resis the same?
Pembicara 3
Oke menarik dapat satu lagi inside tentang tadi si para dokikal griff itu.
Nah selanjutnya aku mau bahas nih dok kan di buku ini gitu ya kan?
Salah satu yang menarik banget adalah.
Casenya filosofi yang diangkat adalah menghadapi berduka, tapi dengan mencuci piring menurut aku pasti aku pas lihat bertanya tanya gitu.
Makanya aku langsung ngecek bagian page dan chapter tentang ini, tapi aku yakin banyak juga orang yang bertanya tanya dan menurut aku ini filosofi yang menarik untuk dibahas.
Boleh dishare enggak sih?
Dok kayak kenapa cuci piring yang diangkat?
Pembicara 2
Random ya random banget idenya ini sebenarnya dari ketika aku tadi belajar tentang acceptance and komitmen terapi ketika belajar act salah satu yang diajarkan oleh guru kami adalah gimana untuk belajar mindfulness dalam sehari hari in everyday activity.
Sebenarnya dia juga mengajarkan nih coba kita dengan makan permen coba dengan membuat teh di gelas yang bening salah satu dengan mencuci piring.
Dia bilang, karena ketika kita mencuci piring itu kita belajar banyak sekali mulai dari piring yang dari kering atau sudah berkerak jadi basah.
Kita merasakan ada sabun kita merasakan licin dan lain lain itu katanya.
Pengalaman yang sangat banyak untuk sensori kita dan pada saat itu kita bisa untuk fokus hanya di situ saja.
Nah, kebetulan ketika saya melakukan itu kan belajar waktu juga pasti apaan sih ini kenapa sih harus begini gitu kan?
Dan aku merasa eh bentar kok ini menarik ya, aku menemukan banyak filosofi kesamaan yang 1 mulai dari ya kan?
Makanya tahapannya dari 1 kita selesai makan dulu kita perlu menyingkirkan sisa sisa makanan ke tempat sampah.
Terus aku berpikir seandainya adalah sisa sisa kenangan, bukankah dia punya tempatnya?
Tempatnya bukannya tempat sampah, tapi di masa lalu ya kita perlu menempatkan itu sesuai dengan lokasinya.
Bukan membuangnya tapi sesuai dengan lokasinya.
Nah lalu proses lain lagi.
Aku melihat bahwa ini kok berkerak menempel itu melihat tentang filosofi air terus tentang sabun itu membersihkan itu membuat lunak.
Akhirnya aku menemukan bahwa kita tuh belajar dari alam dan belajar dari kehidupan kita sehari hari.
Nah kebetulan sih menemukan dalam cuci piring dan ketika mulai mempros itu ih kok menarik ya kayak.
Akhirnya kan muncul satu kalimat yang kalau orang nanya apa sih hubungannya ya berdua itu kayak mencuci piring, enggak ada yang mau melakukannya, tetapi suatu saat kita harus melakukannya karena kita perlu tetap menggunakan piring itu, kita tetap perlu menggunakan hati kita untuk hidup lagi gitu dan ada juga kan di bukit juga saya jelaskan tentang filosofi lainnya kayak tutorial menyusun puzzle.
Hidup tuh kayak kita nyusun puzzle yaitu ada kadang kadang yang bikin kita jadi kecewa adalah kita ngotot nih ada potongan puzzle dan kita rasa wah aku suka potongan puzzle ini dia harus berada di tengah nih terus kita paksain padahal dia bukan di situ posisinya.
Padahal dia mungkin memang benar dirangkaian kehidupan kita di rangkaian gambar itu, tapi bukan di tengah ketika kita paksakan, dia harus berada di situ.
Akhirnya dia bisa merusak sekelilingnya.
Oke dan seringkali kan ketika kita misalnya jatuh cinta pada seorang orang ini pergi nggak bisa.
Harus dia nih dia harus di pusat dari kehidupan saya.
Jangan jangan dia memang perlu ada, tapi agak di pinggir kiri atas dikit itu.
Jangan jangan cuma sebagai pelengkap sedikit bisa jadi seperti itu.
Nah itulah kita perlu untuk menerima fakta orang ini.
Potongan ini memang ada dalam hidup kita, tapi tidak di situ.
Pembicara 3
Oke ada satu follow up question dok tadi kan sempat bahas dan yang pas aku baca di bukunya juga adalah ketika tadi bahas tentang cuci piring, sebenarnya ada banyak bahasan juga tentang mindfulness dan ini juga salah satu yang aku cukup banyak ditekanin dan aku cukup lama sebenarnya terapi tentang mindfulness ini kayaknya bisa 2 bulan 3 bulan sendiri tuh fokus mindfulness.
Nah apa sih dok hubungannya tentang mindfulness kan orang kan selama ini cuma taunya oh mindfulness itu kita lebih mindfulness menjalani sehari hari.
Tapi yang aku rasa dan setelah aku menjalani terapi mindfulness tuh lumayan sangat signifikan terhadap gimana cara aku menghadapi berduka.
Nah sebenarnya kalau dari ilmunya tuh apa sih dok hubungannya mindfulness sama kita menghadapi itu tadi berduka patah hati dan lain lain.
Pembicara 2
Ketika kita berduka atau patah hati ya kita enggak hidup di masa kini kita seringnya nyangkut.
Di masa lalu kita membayangkan, aduh, seharusnya waktu itu aku bisa begini.
Harusnya waktu itu membawanya ke sini.
Harusnya waktu itu aku ngomong begini atau pikiran kita jalan jalan ke masa depan nanti gimana ya di masa depan tanpa ada dia gimana ya di masa depan bisa enggak ya balikan sama dia 2 kondisi ini sama sama enggak dipresent moment.
Sedangkan mindfulness mengecek kita untuk hadir di saat ini.
Ya di mana kita nggak hidup di masa lalu kita ngidup di masa depan.
Pada saat ini sadari bahwa ada kamu, dan misalnya kalau merasa kesepian kita rasakan kesepian tersebut.
Oh aku lagi merasa sepi lalu kita mencoba untuk memahami rasa sepi ini mengatakan apa sih?
Oh aku butuh teman.
Aku butuh seorang buat ngobrol lihat sekeliling kita ada nih teman buat ejak ngobrol here and no nya ada nih jadi mindfulness tuh bukan kita menjadi melupakan sesuatu.
Bukan kita untuk positif thinking enggak, melainkan kita melihat bahwa di kita hidup di masa kini dengan segala resource yang ada.
Ketika seseorang yang lagi berduka ya dia mungkin mengatakan bahwa aku teringat tentang keluargaku yang meninggal atau teringat tentang pasanganku yang meninggalkan aku.
Aku akan mengatakan ya seperasan itu valid ya, dan aku ngajak dia untuk yuk kita lihat perasaan tersebut kita rasakan, lalu aku ajak tarik ke masa kini saat ini ya kamu lagi di sini nih kamu lagi enggak berada di masa itu, jadi kita tetap mengakui perasaannya, cuma kita seperti kayak penonton yang melihat ke masa lalu ya oh iya ada tuh perasaan kayak gitu kayak kita menonton sebuah film toh.
Ada nih film ini ada, tapi kita tidak hadir di situ.
Pembicara 3
Oke dok nah salah satu ketika kita lagi ngomongin tentang berduka, tentang kehilangan gitu.
Salah satu yang sering banget terjadi.
Bahkan di aku sendiri juga terjadi.
Itu adalah sering nyalahin diri sendiri.
Jadi ketika misalnya habis kehilangan sesuatu kayak.
Kenapa ya dulu gue nggak lebih baik itu ketika misalnya masih ada gitu misalnya, atau kenapa ya dulu enggak sebenarnya sebenarnya sih menurut aku pikirannya kebanyakan lebih ke kayak why diden i do better dulu gitu dan banyak kesalahan kesalahan kayak.
Apa mungkin dia misalnya kalau aku patah hati gitu ya mungkin pertanyaan pertanyaan kayak apa dia pergi karena aku yang kurang baik atau misalnya kayaknya dulu aku banyak salah gitu.
Menurutku in general, ketika orang menghadapi seperti atau kehilangan atau sesuatu berubah banyak menyalahkan diri sendiri.
Nah gimana sih caranya kita bisa practicing self compassion atau gimana caranya kita stop self blaming dan akhirnya kita maafin diri kita sendiri gitu.
Pembicara 2
Ada 2 pendekatan untuk aku menjelaskan ini dan 2 ini sangat berlawanan sekali ya yang 1 dengan cara yang lebih lemah lembut.
Aku akan mengatakan kepada seorang yang mengalami kayak gitu.
You dido know any better pada saat itu ya kamu kan enggak tahu pada saat itu yang kamu lakukan saat itu paling masuk akal oke?
Entah waktu itu kamu tidak ngajak ngomong dia kamu waktu itu enggak mengantar dia ke 1 tempat ke rumah sakit tertentu.
Pada saat itu kamu belum punya data tersebut.
Jadi bersikaplah baik ke dirimu sendiri karena waktu itu kamu belum punya pengetahuan tersebut dan bukan salahmu.
Ya biasanya tuh yang lebih lemah lembut, tapi aku sukanya justru yang lebih agak nampar sedikit.
Aku kan bilang begini itu dasarnya kesombongan loh kesombongan kamu bahwa kamu berpikir kamu tuh pusat dunia, semua yang terjadi di dunia itu adalah gara gara kamu, kamu merasa kamu punya kekuatan untuk menentukan hubungan.
Kamu kamu punya kekuatan untuk menentukan nyawa orang tua kamu.
Kamu punya kekuatan untuk menentukan nyawa anak kamu.
Sadarilah bahwa kita enggak sekuat itu.
Nah aku lebih suka gitu karena lebih nampar tuh.
Jadi dasarnya kesombongan yang kamu merasa kamu sesak itu sampai bisa menentukan nasib dunia.
Nah kita tetap berjalan bersama dunia.
Tentu saja kita punya peran di dunia ini, tapi kita tidak sekuat itu, maka bagi bagi kesalahannya kamu punya kesalahan sedikit, tapi yang lain juga ada peran di sini dan daripada ngomong kesalahan aku lebih suka bilang ya saat itu peran kita adalah seperti itu.
Aku pun kadang kadang masih berpikir kalau dulu aku bawa anakku atau aku bawa papaku ke luar negeri gitu mungkin akan masih selamat.
Tapi lagu lihat itu kesombonganku.
Aku berpikir wah aku sekuat itu sampai kalau anak ini ku bawa 1 rumah sakit di luar negeri, balik balik bakal jadi sembuh dan sehat kan enggak seperti itu juga.
Nah jadi di situ ujung ujungnya sama bersikaplah baik ke diri sendiri karena saat itu you didnt know any better.
Nah, biasanya aku langsung aku pakai acara yang 1 dulu biasanya langsung.
Tapi begitu dia udah ngeyel ngeyel lah gitu.
Tapi aku salah langsung aku shift cara 2 dan akhirnya iya juga sih benar.
Pembicara 3
Benar benar lebih menampar yang 2.
Pembicara 2
Sih.
On datang lu sombong gitu kan.
Mundur dia.
Pembicara 3
Benar benar nara karena benar psikiaterku juga pakai cara lembut.
Jadi kayak dan benar sih kadang masih mikir kayak ya, tapi kayaknya sebenarnya biar masih bisa.
Tapi pas dapat yang tamparan itu benar langsung barusan kayak iya sih benar sih.
Pembicara 2
Kayaknya lagi.
Pembicara 3
Gimana lagi ya kayak gitu oke nah dok ini kan kita udah bahas tentang berduka banyak gitu ya dan menurutku balik lagi tadi cara orang menghadapi berduka tuh beda beda terus habis itu tadi cara acceptnya juga bisa beda beda gitu tapi.
Salah satu yang orang banyak tanyakan juga gitu ya aku pun sendiri tanyakan adalah oke ketika kita sudah memproses duka gitu gimana sih caranya kita bisa melanjutkan hidup walaupun mungkin untuk beberapa orang dukanya itu belum apa enggak akan pernah selesai dan akan selalu ada gimana sih caranya kita bisa melanjutkan hidup.
Pembicara 2
Ini seru nih ketika kita omong tata moving on ya banyak orang merasa bersalah ketika moving on karena dalam konsep mereka seolah olah moving on itu adalah meninggalkan sesuatu di masa lalu.
Seolah olah nih aku taruh kenanganku ingatanku di masa lalu dan aku melangkah ke masa depan.
Moving on ya aku sering saja adalah moving on itu adalah moving on with life.
Karena hidup terus berjalan.
Kamu bisa untuk stay di situ atau kamu bisa untuk ikut berjalan bersama hidup.
Tapi kita bisa loh membawa kenangan tentang orang tersebut dalam hati kita.
Nah sampai saat ini pun aku masih terus membawa kenangan tentang kepergian papaku ataupun anakku ataupun teman temanku yang sudah pergi duluan.
Dan aku membawa mereka.
Kadang kadang aku ingat kadang kadang enggak dan enggak apa apa kan kalau kita lagi enggak ingat dengan itu bukan berarti kita melupakan.
Cuma kebetulan di hari tersebut sedang tidak ada sesuatu yang mengingatkan kita.
Akan itu banyak orang yang merasa bersalah.
Dok aku kok jadi takut bakal lupa dengan wajah anakku.
Aku takut akan lupa dengan istriku atau suamiku enggak kok enggak bakal deh ya aku bisa pastikan enggak bakal kamu enggak bakal lupa.
Yang tadi kita terus membawa itu sambil menemukan kadang kadang aku suka menganggap gini ketika dia merasa tertrigger mendengarkan suara ambulans, tiba tiba deg degan terus melihat sesuatu lagu tertentu.
Aroma tertentu terus jadi sedih nangis.
Aku sering mengajak untuk mengubah cara berpikirnya.
Anggaplah itu dia sedang menyapa kamu.
Kan dia enggak bisa menyapa pakai halo akhirnya dia menyapa dengan tanda tanda di sekitar kita dengan suara ambulans.
Dengan aroma tertentu dengan lagu tertentu, anggap itu dia lagi menyapa kita.
Jadi ketika itu terjadi dengarkan sebentar dan kita menyapa balik dan terus moving on with life.
Pembicara 3
Oke berarti sebenarnya moving on tuh enggak apa apa gitu ya casenya dalam kehilangan karena bener sih kadang ada kalau salah satu yang aku baca juga adalah ketakutan orang ketika mereka moving on mereka ngerasa kayak mereka sudah ngelupain terus habis itu mereka kayak udah ninggalin itu di belakang gitu.
Padahal tadi casenya adalah moving on ya sebenarnya moving on with live gitu dan kadang tetap menjaga kayak yang salah satunya aku baca di buku itu kan salah satu cara orang tetap menjaga orang yang udah meninggal itu tetap.
Mereka adalah dengan apa alat alatnya masih ada gitu.
Barang barangnya masih ada.
Pembicara 2
Gitu dengan ritual ritual kayak berdoa, ada beberapa orang yang mungkin jadi kebiasaan untuk mengunjungi makam di tanggal tertentu.
Ada yang untuk mungkin meng melakukan hal hal lain.
Yang ada yang bikin tato itu berbagai cara untuk supaya mereka memastikan aku enggak bakal melupakan itu.
Pembicara 3
Oke oke nah ini mungkin kan kalau casenya kita berduka casenya misalnya orang yang kita sayang misalnya meninggal gitu.
Kalau misalnya casenya adalah justru kita mau berjalan gitu.
Moving on, casenya adalah misalnya patah hati dalam artian kita benar sudah mau moving on biasanya tipsnya atau cara memandangnya gimana sih?
Dok?
Pembicara 2
Oke kalau ini tadi gua bilang ya ini agak lebih sulit karena bagi dia ini belum selesai.
Ketika seseorang ini meninggal itu sudah selesai, maka biasanya aku mengajak untuk menemukan apa sih unfish businessnya itu.
Banyak tuh pertanyaan pertanyaan tentang ini belum selesai nih, harusnya begini harusnya begini dan itulah akhirnya jadi sesinya individual satu orang dengan orang lainnya beda, tapi intinya adalah kita mencoba untuk menyelesaikan tadi radikal acceptance perlu menerima fakta bahwa itu terjadi.
Podcast Summary
Key Points:
Duka bukan proses linear seperti lima tahap klasik, melainkan pengalaman yang berfluktuasi dan muncul dalam berbagai bentuk.
Setiap orang memiliki mekanisme coping yang unik dalam menghadapi duka, dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman hidup.
Masyarakat sering menabukan pembahasan duka, yang justru menghambat proses penyembuhan alami.
Duka didefinisikan sebagai cinta yang kehilangan objeknya atau periode memproses perubahan dari ada menjadi tiada, dan tidak memiliki "titik selesai".
Fokus utama adalah memproses perasaan duka dengan mengakui dan duduk bersama emosi tersebut, bukan terburu-buru meredamnya.
Summary:
Pembicaraan berpusat pada pemahaman tentang duka, khususnya pada usia dua puluhan. Duka didefinisikan sebagai periode memproses kehilangan atau perubahan, yang sering kali dipicu oleh hal-hal seperti putus cinta, kehilangan pekerjaan, atau perpisahan, bukan hanya kematian. Proses berduka bukanlah tahapan linear (penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, penerimaan) yang berurutan, melainkan lebih seperti daun-daun yang bertebaran; seseorang bisa mengalami berbagai emosi tersebut secara acak dan berulang.
Setiap orang mengekspresikan duka secara berbeda (misalnya, dengan menangis, bekerja keras, atau traveling) karena mekanisme coping yang dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Masalahnya, banyak keluarga dan masyarakat menganggap duka sebagai topik tabu, melarang ekspresi kesedihan yang panjang, sehingga emosi terpendam dan tidak tersembuhkan. Kunci untuk menghadapi duka adalah dengan memprosesnya: mengakui perasaan, duduk bersama rasa sakit tersebut tanpa terburu-buru untuk meredam atau melupakannya, karena duka adalah proses evolusi emosi yang tidak pernah benar-benar berakhir, tetapi dapat dikelola seiring waktu.
FAQs
Duka adalah cinta yang kehilangan objeknya, yaitu periode waktu di mana kita memproses perubahan dari ada menjadi tidak ada, sering kali karena kehilangan sesuatu yang sangat dicintai.
Tidak, proses berduka tidak linear. Ia bisa muncul dalam berbagai bentuk dan urutan yang berbeda-beda pada setiap orang, seperti daun-daun yang rontok dan terinjak secara acak.
Karena coping mechanism atau cara menghadapi stres dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, pola asuh, dan lingkungan, sehingga respons terhadap kehilangan pun bervariasi.
Tidak ada titik selesai mutlak, karena kehilangan bersifat permanen. Namun, intensitas dan durasi kesedihan dapat berevolusi seiring waktu menjadi lebih mudah dikelola.
Dengan duduk bersama perasaan, mengakui apa yang dirasakan, tanpa terburu-buru meredamnya. Proses ini membutuhkan waktu dan penerimaan bahwa berduka adalah hal yang wajar.
Tidak, duka bisa muncul dari berbagai bentuk kehilangan, seperti kehilangan pasangan, teman, atau perubahan hidup signifikan lainnya yang menimbulkan rasa kehilangan mendalam.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.