Episode 1: Rahasia Mengenali Diri di Usia 20-an Menurut Ilmu Psikologi ft. Ayank Irma
55m 6s
Podcast "In Our 20s" membahas tantangan hidup di usia dua puluhan, khususnya kebingungan menentukan tujuan hidup serta mengelola emosi seperti frustrasi dan depresi. Frustrasi digambarkan sebagai respons wajar terhadap kegagalan mencapai harapan, sementara depresi merupakan gangguan psikologis yang lebih kompleks dengan faktor genetik, trauma masa kecil, atau tekanan sosial. Untuk mengatasinya, penting mengenali pemicu emosi, menerima perasaan, memprosesnya secara sehat, dan membangun sistem dukungan. Diskusi juga mencakup FOMO (fear of missing out) yang sering muncul akibat perbandingan sosial dan kurangnya konsep diri, serta pentingnya menetapkan ekspektasi realistis dengan menilai kemampuan diri dan menyiapkan rencana alternatif. Podcast ini menekankan bahwa navigasi hidup di usia 20-an membutuhkan pengenalan diri, regulasi emosi, dan dukungan dari lingkungan atau profesional ketika diperlukan.
biasanya mereka yang mengalami depresi ini ada kaitannya juga dengan warisan jenaptik dari keluarga. Jadi ran in the bloodstool, self-sabotage itu bisa jadi waktu kecil, dikembainya kan ya khasusku. Waktu kecil dia terus sering disalah-salahkan sama lingkungan. Kalau kita tahu, kita butuh apresiasi, ya kita yang harus merayakan yang sendiri. [Selamatkan] [Selamatkan] Hai teman-teman semua, welcome to in our 20 spot cast. Woohoo! [Selamatkan] Oke, so this podcast is navigating life in our 20s, find your way one step at a time. Aku jihan, dan aku rafis, dan kita berdua akan menjadi host untuk podcast in our 20s ini. Nah sebelum kita mulai, aku mau cerita sedikit. Kenapa sih, akhirnya kita membuat media dan juga podcast in our 20s ini? Sebenernya kita berangkat dari satu kerasahan. Jadi kita sempat survey ke sekitar 100 lebih teman-teman kita di umur 20 han. Dan kebanyakan dari mereka tuh ngerasa bahwa di umur 20 han. Mereka tuh sebenernya banyak banget harus bikin decision-decision yang penting di dup mereka. Decision tentang karir, decision tentang love life, decision tentang banyak hal lainnya gitu. Tapi sering kali mungkin teman-teman yang mantan yang umur 20 han juga relat, kita tuh masih bingung gitu. Kaya kita nih, aranya harus kemana, apa yang harus kita lakukan gitu. Makadari itu, aku dan rafis gitu di sini. Kita mikir kenapa kita gak bikin sebuah podcast dimana kita bisa. At least kita bisa kasih nih insat-insat untuk teman-teman navigating your life in your 20s. Ya, sekarang kita mau langsung cari kunci jawabannya nih untuk menjawab semua kerasahan kerasahan di usia 20 yang tadi sempat jahan bilang. Sekarang kita sudah ke datangan seorang sikolog, coach, trainer dan juga CEO dari klinik ruang tumbuh. Tolong selamat datang ke A yang Irma. - Eee, hallo! - Oke, gini, kayak gini seorang sikolog. - Sikolog, coach, trainer. - Trainer. Dan juga salah satu eh, memang CEO dari ruang bertimbu ya. - Ruan, klinik ruang tumbuh. - Klinik ruang bertimbu. - Oke. - Hehehe. - Walaupun di cerita ini, ini kak sehari-hari sekarang kasi bukannya, apa sih? - Oke, pertama, makasih ya, di PCD pertama, aku di unang ke sini, ya. Terus kemudian, sekarang aktivitasnya apa yang pasti praktik, praktik sebagai si kolok klinis. Jadi, biasa seminggu tiga kali praktik, terus kemudian konsultan juga di beberapa sekolah yang terkait dengan pendidikan. Lalu juga, aktiv di organisasi, permpuan, dan yang pasti jadi ibu juga. Terus kemudian, mengolak klinik dan pasti juga, ya, seperti ini, gitu ya, ketemu-sempen-temen, untuk sikoeidukasi sih. - Oke. Bayi-due, pertama kali, aku tau ke ayang, gitu ya. Aku ngeliat konten ke ayang, tuh lewat di eksplor aku. - Wow! - Dan waktu itu, kebetulan ke ayangkan sering-sering, ya, kak di Instagram, gitu. Dan aku ngeliat, oh, kayanya ini salah satu masalah yang sebenarnya relat, gitu sama aku di umur 20 han. Dan pas kemarin akhirnya kita mikir gimana kalau kita bikin in-hour 20 ini, aku mikir kayaknya sosok-sok ini cocok banget untuk jadi tamu pertama, gitu. - Iya. - Dan mungkin aku sedikit cerita, gitu ya, untuk topik pertama sebagai pembuka, gitu ya, pisol-dibembuka, salah satu. Pas kita, jadi itu kemarin kita sempat buka g-form. - Oh, okay. - Dan diisi sama teman-teman kita tadi 100 orang lebih, dan rata-rata itu tuh banyak yang bilang sebenarnya in general, mereka tuh bingung kayak apa yang mereka tuh harus kejar, jadi mereka tuh benar-benar bingung, life propose-nya tuh apasikan, gitu. - Jadi, juga di dukaya masih belum tau nih, apa yang kita kemana? - Benar, jadi kayak di episode kali ini kita mau coba bahas, gitu ya. Mungkin kita coba mengulitis sedikit-dikit, gitu kayak gimana sih cara kita mulai figuring out our life propose, karena seperti yang aku pelajari, itu kan, ketika kita mungkin bingung sebenarnya salah satu caranya, adalah kita finding our life propose, gitu. Nah, tapi mungkin mau berangkat dulu dari satu perasaan yang paling sering di rasakan, gitu kan. Jadi, salah satu yang mereka ceritam, mereka paling sering rasakan, adalah mereka sering rasa frustasi dan depressi. Nah, mungkin kita bisa berangkat dari situ. Kenapa sika orang-orang rata-rata di umur 20 han, mereka ngerasa frustasi dan depressi, mungkin apa sih berbedaan 2 perasaan itu dan apa penyebabnya? - Okay, ini menarik banget, dan bassinya juga banyak di alami ya, sama temen-temen, kita di Ushia-Ushia 20 tahun, makanya juga ada yang namanya live quarter crisis, gitu kan, kebinguan-kebingungan. Nah, ini kita perlu untuk membedakan dulu. Jadi kan, kalau selama ini kita tautnya frustrasi, sama depressi itu, sama-sama mengakibatkan perasaan kewalahan gilisan, gak aman ya. Jadi kalau frustrasi itu, sebetulnya adalah emusia normal wajar di alami oleh setiap orang, gitu ya. Karena itu adalah bentuk respon, respon kita terhadap sebuah stress. Nah, umumnya seferusrasi ini muncul ketika ada harapan, ada tujuan, itu tidak tercapai. Jadi, seinfatnya memang situasi onal saat itu kejadian yang seperti apa, "Lalu gak bisa kita capai, kemudian mengakibatkan kita menjadi gilisa, gak aman ya." Nah, di situ lah sebelumnya frustrasi, untuk frustrasi misalnya gagal interview kerja putus cinta, patahati, patahati juga bisa banyak, karena keluarga, karena teman dan sebagainya. Sementara kalau yang namanya depressi itu adalah sebuah masalah, gitu gangguan secara psicologi, dan itu sangat kompleks. Karena ada faktor biologi-snya, kemudian ada faktor psicologi sama faktor sosialnya. Nah, faktor biologi itu apa? Nah, biasanya mereka yang mengalami depressi ini, ada kaitanya juga dengan warisan jenaptik dari keluarga. Jadi, rani ini bloods itu, jadi bisa aja mungkin orang tua-nya ada yang memang riyoyatnya panik, cemah, atau mungkin gengguan-gengguan lain. Kemudian, di pengaruhi sama psicologi, semisal, perasaan rendah diri, terus kemudian ketidak mampuan mengatasi stress, regulasi emosi yang rendah, menajem mensurasi yang gak bagus, atau pengalaman trauma dimasak kecil, inner child mungkin kalau ada yang familiar, gitu bisa memengaruhi. Faktor sosial, ya, contoh, misalnya intimidasi, buli yang dipergolan sosial, di medieval sosial, atau di perjalan hal-hal itu lah yang mengakibatkan si depressif. Dan biasanya kalau depressif itu indikator waktu yang panjang, jadi kesediannya berbulan-bulan. Kalau frustrasi karena situasi, di saat itu mengalami ketegangan, mentok, gitu yang gak bisa mencapai apa yang diginkan dia marah, tapi kemudian biasanya dia tetep bisa meragulit dan melancutkan hidup. Sementara kalau depressi itu panjang waktu-nya, indukator waktu-nya panjang. Fustrasi, potensial gak bisa jadi depressi, bisa. Kalau misalnya, dia gak memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik itu. Oke, berarti kalau yang aku tangkap frustrasi itu, dia mungkin bisa dibelang lebih jangka pendek. Jadi dia mau menuntung base, ya, ketika ada sesuatu yang mau kita capai, tidak tercapai, akhirnya kita frustasi. Tapi ketika depressi ini lebih jangka panjang, satu bisa jadi frustrasinya ini komponding, ada terus-terusan, jadi dia presi, atau tadi bisa jadi faktor lain mungkin biologis, atau external problems tadi ya, the corner dan lain-lain. Berarti sebenarnya kalau misalnya frustasi itu kan dari sehari-hari gitu ya. Berarti kan sebenarnya kebanyakan juga itu yang lebih berat itu depressi gitu ya. Tapi pertama-tama gimana sih sebagai kita nih di umur 20 huan, ini kan perasaan yang terus-terusan dateng dan mengganggu gitu ya. Pertama gimana kita bisa menyortir dan menyeleksih apa yang kita rasa kanto sebagai apa ibernya, kita memetakan gitu perasaan kita, dan kedua gimana cara menanggulanginya gitu perasaan tersebut biar gak berlarut-larut dan ke mana-mana. Jadi kalau misalnya tadi si frustrasi, ya kita mengalami sebuah situasi dimana mendapatkan informasi atau alaran dari luar gitu ya, bahwa oh ini gak bisa kita achieve gitu kan. Pasih kan kita marah dong anger biasa yang sama takut, ya karena kalau takut itu sebetulnya adalah emosi paling primitif. Jadi kayak orang frustrasi itu kenapa sih karena takut dia takut apa, dia gak bisa aktualisasi diri dengan baik, gitu kan makanya di frustrasi dia gak bisa achieve dengan baik, gitu. Nah makanya dari semua hal yang harus dilakukan itu pertama adalah mengenali trigger. Jadi kita itu memang main body and soul gitu. Jadi harus tau tubuh ini beraksi karena apa? Pikiran ini biasanya responsif atau reaktif karena apa. Itu harus tau tuh misalnya ya, karena kalau tiapali gagal, aku tuh pasti marah-marah. Tiapali gagal aku tuh pasti akan curhat di met sauce misalnya. Hal hal itu berarti gagal itu pasti membuat saya menjadi reaktif. Dan setiap kali saya reaktif biasanya apa yang saya lakukan. Itu harus ditulusurin. Jadi kalau selama ini sika preaktifnya banyak yang buruk, banyak yang gak konstruktif, banyak yang gak saya. Dia harus kenali bahwa ini gak bener. Jadi kenali lalu kemudian yang kedua adalah menerima perasan itu. Jadi ya kita harus terima emosinya kalau kita gagal, emosinya biasanya apa? Bersih kita apa? Biasanya kalau gagal. Sedihnya apa? Oke saya sedih. Kemudian kita memperoses rasa sedihnya. Memperoses itu artinya apa? Itu butuh waktu gitu kan. Jadi ke sedian itu butuh waktu.
Kalau misalnya kesedian yang nggak di process di dalam Mi, "ok, saya sedih, bankas saya harus melakukan sesuatu, mungkin saya telefon temen, mungkin saya butuh tidur, mungkin saya nonton Netflix, mungkin saya makan sesuatu yang comfort." Itu pasti akan luping terus, kayak snowball, kalau kita nggak bisa accept dan memproces. Lalu kemudian kita harus punya menaging stress yang cukup baik. Itu penting lah, jadi belajar untuk tidak reaktif terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Itu penting banget karena most of the times, semua yang di luar kita, kita nggak punya kemampuan untuk bisa membuat itu aman sama kita semua. Itu yang paling penting. Sampai juga cari dukungan sih, itu penting banget. Moverstrasi atau misalnya stress atau apapun harus punya support system. Jadi kalau menurutkan ternyata, katanya kita itu sebetulnya perlu sekitar dua orang dalam hidup. Setidaknya dua orang. Untuk temen cerita. Wicis kalau yang satu lagi nggak bisa, ada sisangga satu nih, bisa menurutkan gaya-gaya. Jadi ternyata itu sangat, sangat dihanjurkan. Kalau misalnya ada komunitas, ada organisasi, seperti ini itu bagus banget. Jadi karena kita nggak ngerasa kita sendiri ya, kita nggak ngerasa kita kesepian. Sampai akhirnya kalau beberapa tahapan tadi sudah kita coba lakukan, ternyata nggak worse, kita memang harus cari dukungan atau bantuan dari profesional hidup. Jadi beberapa tahapannya sih seperti itu. Oke, jadi kalau yang aku thumbs up yang pertama, kita kena li dolu triggernya. What trigger is us? Terus habis itu kita cek, ya tadi kan kita udah mengenai check triggernya. Terus habis itu kita terima dulu emosinya. Oke emosinya apa sih sedih, mara kita terima? Setelah terima, kita pikirin sekarang kita mau salurinnya kemana, tapi kita fokus salurinnya kalau bisa kehaling baik. - At least tidak melukai diri sendiri, gitu. - Dary Online. - Benur. - Oke, berarti tidak melukai diri sendiri dan orang lain. - Biar itu, baru setelah itu yang tidak kalah penting juga, kita punya mindset bahwa kita cuma bisa kontrol apa yang kita bisa kontrol. Jadi fokus di situ baru kita cari support. - Ya. - Baru kalau itu kira-kira tidak bisa akhirnya fokus cari bantuan profesional gitu, - Ya. - Wacu sebesar ini kesinya sih kalau kita ya. - Satunya. - Oke. Anjanya perjalanan nih ya. Dan itu memang harus dihayaatin sih, gitu. Dan itu ada skill kan. Itu kan nggak inborn, emosinya nggak dari layar sih. - Ya, jadi penyak kemampuan untuk regulet itu semua kan. Jadi berasarkan pengalaman dan pembelajaran itu silat di hand. - Oke, kalau mungkin sebelum moving on to next question, ya kan. Berarti kan tadi frustasi itu, salah satunya karena nggak achieve sesuatu. - Ya, salah satunya kegagalan. - Tapi kalau misalnya nggak achieve sesuatu, pasti kita udah set expectasi, - Bahan. - Tapi arai yang ditara terlalu terlalu berbeda. - Oke. - Terlalu berbeda. - Boleh nggak shari. Mungkin tipsnya gitu untuk kita bisa ngeset expectasi terhadap realita yang nanti yang ternyata jadi gitu. - Ini menarik nih. Soalnya aku mau pabili satu buku yang jenisnya. - Wow. - Ya, aku udah kemingsunnya. - Ya, yang kemingsunnya. - Ya, kemingsunnya gitu. Tentang harapan dan nasa kecewasi. Karena memang keleinku tuh banyak banget isu terkait dengan expectasi. Dan kemudian ketidak mampu untuk accept kalau ternyata tuh fail gitu kan. Nah jadi tipsnya sebenarnya apa sih yang pertama memi cek realita. Cek realita tuh apa sih. Jadi ketika kita memiliki harapan terhadap sesuatu atau sesu orang, biasanya gitu ya. Itu kita cek realita-nya gitu. Artinya apakah ini mampu nggak sih ukurannya kita bisa nggak sesuai dengan kapasitas kita, - Nggak kompetensi kita, nggak gitu kan. Jadi harus punya daya ukur gitu. Karena ini beda, karena kalau mimpik, mimpik kan bisa imaginatif. - Kalau mimpik kan kita memang membebasin, imam cek suatu. - Iya, seuruh asu-wasu. Bakail kita disuruh bermimpi. Lalu kan turunannya gitu biasanya kan kita cita-cita ya kan. Lalu ada harapan dan lain sebagainya. Kita boleh berharap harapan itu membuat kita optimis tapi kemudian cek realitasnya. Ketika kita menginginkan ini dan itu apakah kompetensi kita kemampuan kita, sumber daya kita itu mampu nggak untuk bisa delivering kita menuju si harapan. Kemudian yang kedua kita harus punya kalau aku si penganut yang harus ada plan B. Kalau peru ya plannya sampai Z, gitu kan. Karena kita nggak pernah tahu pada saat kita di perjalanan, Lalu mungkin ada tantangan, hambatan, mungkin bukan dari kita tapi dari yang lain-lain. Kita harus tetep punya plan itu. Karena perencanan itu penting dalam tadi ya. Karena kita istilahnya wisdomnya nanti tujuan hidup apa sih gitu kan. Itu kan tadi ya makna hidup. Jadi memang harus cek juga realitasnya. Terus kemudian, tadi ya mengukur ini kemampuan kita untuk mencapai itu entah itu orang atau yang lain. Terus kemudian kalau aku juga pakai swatih itu. Jadi pakai straying weakness ya kan. Opportunity, streetnya apa itu penting. Jadi kekuatan kita tuh apa. Karena strategik analisasi dengan seperti itu ternyata itu cukup membantu. Karena kalau harapan aja lalu kemudian kita nggak petakan, itu jadi bingung kan. Keturu teman buat orang-orang yang selama ini tuh kayak spontan. Ya kan ada orang-orang yang mau ngis-monpan aja gitu. Tapi spontan itu juga perluntung di navigasi supaya ketika nanti tidak tercapai, saya udah punya plan yang lain. Lalu kemudian bersiap dengan kegagalan gitu. Karena ya ya, terutamu untuk orang-orang yang profakcioni, kan itu susah banget gana-gana terima bahwa kita bakalan bisa ada keselitanya. Kita kan pengennya semua tercapai harapan itu tapi ya tadi menerima apa-bila ternyata expectasi itu tidak seperti apa yang kita sudah targetkan. Dan kemudian yang terakhir adalah bonshu back, jadi kalau fail, melinting lagi lah gitu belajar yang gagannya yang menerima harapan ini tidak tidak bisa tercapai. Jangan jangan memang kita-nya kurang effort. Jangan jangan memang engganya beda nih, POV-nya gitu kan. Nah itu sih sebetulnya supaya tadi nggak sampai mengalami gangguan secara mental gitu. Biar tadi nggak menuju frustasi, depresi tadi ya. - Nah, nah, nah. - Oke, tapi. - Accepting lagi lagi. - Accept itu harus. - Karena kita tuh egonya ini. - Manti hand banget ya kayaknya. Kita ngerti manusia itu kan ada ego ya. Nah, apalagi kalau misalnya kita dibesarkan di pengasuhan yang salah atau keliru gitu ya. Karena mungkin ketidak-fahaman orang tua kita. Maka egonya tuh kadang-kadang yang teriyak gitu. Egonya ingin dividing terus, jadi ketika nggak gal pun, dia kaya sama diri sendiri dia nggak bisa accept akhirnya dia pakai self-blaming. - Betul. - Self-blaming terus kemudian self-harmi semua yang berubungan sama tadi ya. Yang merusak diri sendiri gitu pada akhirnya gitu kan. - Oke, yes, thank you, Kak. Oke, ini ada lagi nih yang pertanyaan atau dari curhatan-curhatan orang. Ini terkait kalau tadi kan kita berbicara ekspektasi juga gitu. Nah, tapi ternyata ketika kita melihat achievement orang-orang lain, kadang kita juga kadang suka fomok itu isil aja, feroff misik, apa itu? Nah, itu apakah berubungan juga tuh kadang-kadang social pressure atau tekanan-tekanan dari sekitar kita? - Iya, fomok itu diusia remaja menengah sampai akhirnya di masa awal itu adalah fenomena yang paling sering. Jadi kalau ada yang mengalami itu, dia nggak sendirian. Karena kebanyakan memang mengalami ketakutan misalnya kehilangan moment menyenangkan atau kehilangan situasi dimana dia harusnya, harusnya gue tuh di situ, harusnya gue ngikutin di terima nya gitu ya. Nah, ada ketakutan itu. Jadi fomok itu memang basicnya fierce gitu ya, si rasa takut dan takut itu tadi ya. Kita udah bahas itu adalah sebuah emosi paling primitif. Nah, ketakutan tadi itu juga karena banyak penyabapnya. - Nah, kenapa dia nggak speli itu? Pertama juga karena dia nggak punya cukup percaya diri. Lalu dia mungkin juga self-value nya rendah. Jadi dia menilai dirinya itu selalu kurang. Kalau pun ternyata dia berhasil melakukan sesuatu, bisa jadi itu karena faktor lak aja. Bukan karena saya memang mampu di situ. Ya, mungkin itu salah saatnya imposter syndrome ya. - Yes. - Jadi yang fomok itu diantaranya juga ternyata mereka yang suka mempertahanya kan kapa belitas diri sendiri. Itu akibatnya dia terserang imposter syndrome juga. Terus kemudian biasanya yang fomok itu juga beberapa ya. Kalau dari pengalaman praktekku, adalah orang-orang yang profakcionis. - Mereka itu itu profakcionis. - Mereka itu itu profakcionis sih. - Ya, karena kalau dia nggak ikut sesuatu yang misalnya hype, trend, dan sebagai gaynya, lalu kemudian dia melihat situasi sosialnya, lalu itu secara nggak sadar, dia melakukan perbandingan diri, kan secara sosial. Dia bisa kok gua nggak. Ya, kok dia ngelakuin itu kok gua nggak. Ya, gitu. Nah, itu yang kemudian mendorong dia akhirnya yang nggak mau tahu gitu. Jadi dia mau melakukan itu padahal, mungkin bukan kompetensinya. - Iya. - Mungkin dia sebenernya nggak minat juga, cuma karena dia pengen terlibat dan pengen nggak ketinggalan gitu ya. Nah itu juga. Sama orang-orang yang memang nggak punya keajagan terkait dengan self-concept. Jadi, konsep dirinya itu konsep tentang dirinya. Nggak jajak gitu kan. Gua tuh kuatnya apa, apa yang masih harus diagret, nah itu. Jadi setiap orang kan harus ada peta konsep. Nah, jadi kalau dia nggak punya konsep dirinya, akhirnya dia teromang ambil tuh galau. Kalau misalnya ada sesuatu hal yang konformitas nih,
Gawalan sosial dia, dia layak kondisi itu, dia merasa dia akan ketinggalan. Tapi kalau konsep dirinya positif, dia gak akan berdua nih, orang lain mau ngelakuin apa, yang gue gak harus ikut itu, karena saya adalah pribadi unik dan berbeda. Dan dengan kestimaan saya, saya bisa menjadi sesuatu orang tanpa harus ikut-ikutan. Nah itu sih sebenarnya. Jadi betul-betul harus aktualisasi diri dulu gitu yang serang-berutuh. Spaya gak, kalau sekarang banyak banget, konser-konser misalnya. Ya, sebetul. Mungkin dia gak ada ngering lagunya, tapi kayak. Aku nonton dia gitu, pada usaha-financi yang gak. Mungkin gitu. Jadi dia kayak mengorbankan banyak hal untuk sesuatu supaya gak ketinggalan. Iya. Si sesuatu yang saat itu, jadi pembicaraan, ya kan. Banyak sih kayak gitu yang ngomaden konsekonser ketauk gak lagunya gak. [Gelok] Yang penting post dimetos, orang lain kemudian memfalli dasi, nah itu gak unik kembali. Dapat likes, dapet love, dapet comment, gitu kan. Itu terfalli dasi. Nah, sementara kalau orang-orang yang kuat, identitasnya kuat konsepnya, dia gak akan ikut-ikut atas keliitu. Itu gitu. Aku jadi ada satu pertanyaan, nika tambahan sedikit gitu ya. Jadi karena kebetulan aku tuh begrona di market ting, jadi salah satu yang aku pelajari itu, sebenernya in general, Indonesia tuh salah satu negara yang fomunya, tuh paling tinggi, kompertu kayak negara di aeropa, atau di blend, atau di jerman, makan aku punya temen-temen yang di jerman, gitu, demoment mereka di sana. Kayak, ya udah social media gak, metar sebenernya, "Kau udah gak ngeliatin orang lain, gak apain gitu?" Nah, dan aku mikir, kayaknya, it has something to do with our society, gitu, the peer pressure. Nah, menurut ke ayang sendiri, gimana sih sekarang society dan environment, kita ini yang shabde, fomu, fomut things, ini, itu. Oke, mungkin aku trecing dulu ya, sebenernya budaya Indonesia tuh bagus banget, kebersamaan, bener gak kebersamaan, go-tongro yang tolong-menolong, gitu ya, jadi dari kecil itu, kita jadi, jadi ini itu kan, gitu ya, jadi harus, apa berkelompok, gitu ya, harus ikut apa, kita nanti ikut, gitu ya, kebersamaan, kebersamaan yang dari kecil, kita diajar kan. Tapi jarang banget yang agar-agianin, tanda, "Balupun kita bersama lain, tapi kita adalah individu yang berbeda." Itu ya, kayak, membalajarin tentang konsep diri, anak, agar intentang kamu tuh berbeda, unik, keluar biasa, kamu punya kungulan ini, itu jarang banget memang, diorang tuh, orang tuh dulu ya, harusnya sih kalau sekarang, dengan adanya pet sos, terkait sama pelantin dan sebagainya, orang tuh jauh lebih bisa belajar, nah, jadi kebersamaan dan gotung royang itu, akhirnya munculkan rasa, ingin selalu sama-sama. Nah, gitu. Hanya aja makin kesini, issuenya genzy, gitu. [Rusik] Itu jadi kayak, "Ya, udah, lo harus ikut terus sama-sama, karena kalau nggak sama-sama, nggak ikut itu, lo nggak selesai dari tas, lo nggak setiap awal, lo nggak bagian dari tim kita, makanya kenapa, ada banyak prilaku buli yang, yang berkelongpokan, gitu ya, jadi, itu karena, ya, kebersamaan itu, konformitas itu menjadi sesuatu yang mungkin dari kecil, "Ya, udah harus bareng-bareng, harus bareng-bareng." Sins itu, ternyata, "Nggak kita lakukan bareng-bareng, ngikutin, teren, lo jadi outside, dan lo tuh nggak asik, gitu, kan?" Nah, itu sih sebenernya, jadi, melihatnya, tuh lebih ke Engel, bagus, karena kita diajarkan budaya kebersamaan, gotung royang, tapi di sisi lain, kalau nggak di magna, dengan baik, makanya itu bisa jadi salah, yang gihayatin juga salah, kan? Oke, berarti, biar bareng ya, udah di, apa, kayak, kok tadi, konser, walaupun susah, apa ya, mungkin, untuk collecting, uangnya buat bareng, konser yang penting, temen gue berangkat, misalnya, ke luar mengeri buat konser, gue harus ikut, gitu. Biar bareng-bareng aja, gitu, kan? kayak gitu sih. [Rok] Oke, berarti, kalau ini secara social media, kan, kalau misalnya, kita ngomong konser lagi, gitu. Ya, itu kan, fomunya karena, ngeliat orang ngepost, orang ngepost gitu, kan? Berti, seberapa besar pengaruh social media itu, jadi gitu, kan? Sangat besar, ya. Mosutnya, ya, karena pertama, kan, kita udah hidup di era digital, ya, jadi, tadi, mungkin kita balik-alagi kepada si, kenapa orang sekarang, itu gampang-bangan stress. Kenapa orang sekarang, gampang-bangan terbaik sama situasi? Karena memang, pengaruh salah-satunya, itu teknologi informasi media sosial. Apalagi, memang Indonesia kan pengguna, tertinggi juga, ya, diasi atenggara, ya, terkait sama media sosial, gitu, kan? Jadi memang, media sosial itu istilahnya adalah buat orang-orang yang ingin tetap terfalli dasi, ingin, diaku-ikabradanya. Karena gini kita kan, pasti setiap orang itu ada rasa ingin di lihat. Ya kan? Ada rasa, gitu, ya, ingin di lihat, ingin teraku itu ada rasa, nah, kalau beberapa orang memang gak cukup diaku-inya, dari sisi internal, misalnya, families, friends, dan lain-signanya, maka salah satu potensial dia untuk teraku itu di media sosial. Karena kita bahkan ketemu banyak orang yang gak dengannya, kita juga nanggan, kan? Terus kemudian dia apresiasi kita. Nah, di situ saja, jadi kayak dofaminnya ini, hormon yang kesenangan di dalam otak kita, kayak, di laik sekali, dua kali di komentar, dan lalu dia kayak mencari-cari kesenangan, oh, berarti saya sumber kesenangannya bisa dari met sos. Itu makanya tadi, ya, banyak lah, misalnya konten-kreator yang, yang kadang-kadang mungkin, cuma daily life aja, tapi dari situ dia dapat banyak apresiasi, dapat komentar, dapat like dofaminnya, itu bekerjanya seperti itu, si hormon bahagiannya dia di dalam otaknya. Jadi kesana, nah, makanya jangan sampai jadi chandung media sosial. Karena akhirnya dia merasa bahwa sumber bahagiannya dia, itu selalu dari met sos. Wans, dia gak pakai met sosnya gilisakan, karena dofaminnya itu kesenangannya gak teresalurkan, gitu. Seram sih, karena keren temen juga banyak banget sekarang. Aku punya beberapa kes gitu loh, jadi kesnya itu memang adiksi terhadap media sosial, karena otaknya teroccupasi, teroccuparti, itu kayak stak aja kekuncit, sama notif-notif yang masuk. - Yes. - Gitu. Dan dia punya met sos, itu sampai beberapa mula. - Waw, beberapa account, ya. - Beberapa akun, ya beberapa met sos, gitu. Jadi lebih dari 45 met sos, gitu ya. Jadi itu dan remaja ya, akhirnya dia kekuncit, pikirannya untuk terus checking up met sos. - Ya, what's new, gitu. - Ya, what's new, supaya apa? Supaya gue gak foamu, ya kan? - Iya. - Gitu. Tapi mungkin selain dofamin tadi ya, mungkin apa efek senangnya. Kadang sos met pun jadi rasa banyak muncul rasa iri ngeliat pencapain orang. - Benar. - Keren-keren gimana sih kecernya kita biar mindful, gitu. - Iya. - Ketika lihat sos met, apalagi ngeliat pencapain orang, gitu. Kalau aku sih selalu saran ini, sih kalau buat temen-temen nih yang. Nih, makanya kita perlu berkesadaran ya, pada saat menggunakan met sos. Kalau misalnya kita lihat satu postingan, prasahan kita tidak enak. Misalnya kita jadi ada kebencian. - Ya. - Kita bisa ngubuh rakyat, gue suka. - Kita yang munipulah. - Oh, gitu ya. - Ya kan, gulit gulit gitu, kan? - Iya. Jadi netizen seperti itu, jadi kalau kita lihat postingan, lalu kemudian kita tuh ada muncul prasahan. Emosi negatif, tapi bukan yang memacuk kita untuk. "Aku juga bisa, gue pasti lebih, maksudnya bisa gue gak bisa." Yang kan itu positif, ya. Ada sebuah tayangan, lalu kita manfaatkan untuk optimalisasi diri. Tapi kalau itu ada lalu kemudian muncul, iri hati dan benci denki, menurut gue sih, unfollow. Unfollow, gitu. Karena gak sehat. Jadi gak sehat. Tapi kan kita orangnya kan penasaran ya. Kita suka, suka. Stalking, pengen tau, kepona. Kita harus jaga banget, bonderis kita, gitu. Jadi ya, udah jaga diri, jaga supaya emosinya, jadi gak negatif. Karena akan ngaru dominonya ke pekerjaan atau offline, gitu ya. Jadi kegidupannya, kan? - Kan terpengaruh. - Jadi kalau saran gue, once kalau temen-temen ngeliat, emosinya udah gak enak. Muncul rasa kebencian, iri dan kemudian net, udah unfollow aja. Unfollow hide dan nice bagaimana. Itu cara yang healthy. Jadi polo aja. - Ansel lo, kan kita kontrol, gitu. - Iya, gitu. Bisa kita kontrol kan. Karena kalau gak ya, tadi akan mengurasi energi kita gitu. Oke, kayak, tadi kayak juga sempat bilang itu imposter, - kayaknya tadi ya. - Imposter syndrome. Iya, imposter syndrome. Nah ini apakah dia correlate sama self-sabotage, gitu. Jadi misalnya dia. misalnya kalau aku, akan aktive di performa art, jadi banyak audisi-audisi gitu. Tapi selalu takut audisi, karena kayak. - Ayang lain lebih bagus. - Iya, iya. Jadi ya, not too thin skill dari sendiri, gitu. Jadi kalau self-sabotage itu kan sebenarnya perilaku ya. Jadi perilaku dimana kita membatasi access diri ini untuk lebih berkembang dengan lebih baik, gitu. Dan salah satunya memang diri, itu ada keraguda gue. Nah, syndrome imposter ini kan. Bukan gangguan. Tapi ini sebuah. apa, fenomenas secara psikologi yang bisa dialami sesuara. Ketika dia merasa bahwa tidirnya itu tidak punya kompetensi, tidak percaya diri, dan dia mungkin lebih. kalau pun dia berhasil, dia questioning kedirinya sendiri. Nggak, ini sebenarnya karena gue lagi beruntung aja. - Gitu, kan? - Terus kayak kayak. - Karena awal itu lagi baik, - Iya. - Gitu, kan? - Nah, di sana sebenarnya dia. udah memang kompetensinya itu bagus gitu, kan? Itu biasanya, selesai sabotage itu bisa jadi waktu kecil, dikembangnya kan ya, kasusku. - Oh, kan? - Lu itu nggak bisa. Pasa gini aja sih, gitu. Apa, harusnya kamu bisa loh, dapet sehat tuh. Kenapa matematikan cuma 8, cuma sembilan, gitu kan. Padahal dia ambun udah e-for. Nah, jadi waktu kecil dia sering disalah-salahin sama lingkungan, dan sama orang-orang doainya, sama gurunya, sama kakaknya.
Dan sebagainya akhirnya di proses penghayaannya bahwa dia tuh gak cukup baik, gak cukup ok, gak cukup optimal. Sehingga ketika dia di perjalanan hidupnya mencapai prestasi pun, dia selalu menganggap itu karena faktor external. Bukan karena saya bisa. Tapi karena lak karena, ya itu karena guru aku aja yang sering ingetin gitu. Tapi bukan karena dia. Lalu kemudian ya tadi sabotasi dirinya akhirnya selain imposternya muncul dia akhirnya pandun dan undangkan gitu. Karena apa menghindari sumber stressnya? Yang tau kayak kayak deadline kerjaan atau di deskripsi, ya kan? Itu adalah proses menundai dia karena dia gak mau berhadapan sama sumber stressnya ke wajibannya itu. Karena pasti juga nanti, hasilnya gak bagus. Jadi dia udah overtinking di luar dengan yang nanti mungkin akan terjadi pada itu adalah skenario, udah lambi kiranya sendiri kan? Dia makeup the stories, sehingga dia jadi-nya saya gak mengadapi itu deh, menengar saya menghindar. Karena kan bahaya kalau kayak pekar jalan atau kemudian skripsi akhirnya itu yang bikin jadi tertundar lama. Karena once dia udah nanti aja kita kan itu akan lupingnya ya begitu terus. Jadi dia ketakutan terus gitu lama-lama akhirnya dia gak perform gitu kan? Tapi sebetulnya gimana cara kita betul-betul bisa identifai diri kita tuh lagi self sabotage. Karena kan kalau dari yang kayak jelasin, berarti kita tuh, "We believe if that's all the external factor." Jadi kita gak tau kalau kita tuh lagi self sabotage itu. Mankanya aku selalu menyerangkan sih kalau pada saat kucing juga ya dia harus belajar identifai serengnya. Minta itu sifatnya atau prilakunya atau ketampilannya dan juga emusinya misalnya, "Ka aku sereng aku tuh sebenarnya kalau ketemu-amau orang aku tuh mampu loh untuk menengarkan dengan tenang." Atau sereng gitu kan? Jadi dia harus identifikasi dulu nih apa yang ada dalam dirinya ya. Terus seringnya tadi sisi omberbeta, weaknessnya dia lack of time management ya kan misalnya. Aku tuh kadang-kadang yang kayak kan suka magrana. Itu kan red flex ya. Magerana in terms of untuk relaxing sama menghindar dari pekerjaan atau tugas itu kan beda tipis banget di magrnya magr apa nih. Nah itu dia harus kenali dulu gitu. Terus kemudian kita harus belajar bahwa kalau aku tuh selalu bilang bahwa Tuhan itu tuh sudah kasih kita banyak banget hardware ya. Maksudnya misalnya miliaran cara otah, lalu sensorik sebenarnya itu membuat kita berkompet tan. Asalkan kita mau wiling tuh latihan. Karena kayak tadi ya untuk bisa sampai tahapan master yang something kita perlu latihan mau nggak untuk bersusah-susah itu. Jadi lebih kepenset sih supaya apa kita nggak dilenda tadi sabutas sendiri itu. Oke lah dulu orang tua kita nggak ngajarin gimana caranya apresiasi diri. Nah kalau kita tahu kita butuh apresiasi ya kita yang harus merayakan yang sendiri. Itu kan harusnya ya. Ya nunggu sih apa gitu kan. Saya lebutin, nantak kayak misalnya play apa. Apa namanya dating dengan diri sendiri itu kan penting ya play did sama diri sendiri itu penting. Nah itu salah satu bentuk kita merayakan halal kecil. Sehingga kita nggak lagi melukai diri sendiri, melukai perasaan sendiri dengan sabutas, sabutas tadi gitu. Jadi salah satu caranya adalah merayakan diri sendiri itu penting banget. - Mereka meringsi sendiri itu. - Ya bener. - Karena sebalu pas sih. - Ya bener. - Ya bener. - Sehingga nggak gitu. Aku pun juga gitu ya kan kan kan mis di situ pada hari ini tuh terlihat tau udah ini loh gitu kan. Terus ngapain, ya udah akhirnya ngerayanya apa cukup belakang. Terima kasih ya du. Terima kasih ya ya. Itu aja itu udah kayak wah banget sih gitu. Karena nungguin orang lain untuk lo tuh hembat ya lo tuh keren. Kan kan kan kan kita nggak lo putih gitu ya dari orang. Pasangan kita pun juga kan kan kan kan kan kan kan. - Gitu untuk kasih gitu kan. Jadi udah diri sendiri aja gitu. - Cukup banget gitu manis. - Cukup banget. - Oke. Nah tadi kan kita udah ngobrolin nih ya tentang tadi apat tentang frustasi depresi, nasan kita seari hari. Terus tadi juga kita masuk ke fomu dan akhirnya kita juga ngomongin self-sabutage gitu. Nah neksnya aku mau nanya nih beratikan neksnya apa sih yang kita bisa lakukan gitu kan. Dan salah satu yang banyak banget diresahin gitu ya in general itu banyak banget orang yang nanya kayak how to figure out gitu. - What they actually like or what they actually good at or what they actually want to do yang gitu gitu. - Hmm. Nah mungkin salah satu yang aku pelajari juga gitu ya kalau ngomongin sekitar creating start-up itu kan. - Adik namanya kita tuh harus a-bit testing dulu. - Iya. - Kita nyari mana sih yang marah ketpil, mana sih yang cocok gitu kan. Apakah ini juga apply dalam kita menemukan jadi diri kita gitu dan gimana sih kan pola pikirnya. - Iya jadi kayak misalnya e-bit testing tuh kan kayak semacam metah 4 alah ya masuk e-metah 4 pada saat kita ingin menemukan apa yang paling sute belah. Makin kita gitu kan biasanya itu lebih ke nanti transformasi perubahan kan mau ke pasti sekarang lebih baik dong ya gitu kan. Nah jadi isilnya kalau kita testingnya pakai adulu berarti mungkin itu tipunya yang konventional terhadisional ya udah gagal ya udah deh gitu menok gitu kan. Sebenarnya kalau pakai yang testing yang lebih mungkin itu lebih ke yang modern growth mindset ya kan. Sebenarnya kalau e mungkin itu pilihannya adalah yang fix ya udah gagal ya gagal aja gitu kan. Sebenarnya kalau yang pakai perenjanaan pakai testing benya ya tadi yang modern kemudian growth terus kemudian cari ini di terusuri gitu kan. Apakah yang sekiranya ini memungkinkan kita untuk berhasil. Nah kalau apa yang dirakukan biasanya sih untuk bisa grow lebih positif tentang diri terutama gitu ya cari dulu apa yang paling kita suka insi. In case misalnya aku kerja nih tapi sebenarnya aku ga suka kerjaannya gitu kan. Kami bisa gitu ya dari situ karena kan desakan ekonomi ya misalnya banyak tuh yang kayak gitu ya jadi desakan ekonomi. Terus kemudian dia mau ga mau kerja di tempat itu pada sebenarnya dia ga suka sama kerjaannya. Tapi kan dia harus finding the ways dari situ apa yang paling dia sukain. Karena bariklah gitu kita mengerjakan sesuatu itu ada emosi yang bekerja. Emosi itu mempengaruhi minat. Nah minat itu yang mendorong kita untuk termotivasi ya. Bawa-bawa mungkin kerjaannya saat itu kita ga terasa suka tapi ternyata link kongan kerjaannya itu joyful pokoknya menyenangkan deh. Kita pasti akan tetap tuntah sendiri itu ya. Jadi cari dulu sebenarnya apa yang paling kita sukain, telus urin itu. Terus kemudian eksplorasi memang ga deng lahin. Jadi eksplorasi itu memang mencoba gitu kan. Mencoba berbagai hal pengalaman baru di situ lah kita jadi tau ternyata di bidang-bidang itu kita bisa loh. Untuk bisa berkembang ya. Jadi kita akan belajar banyak hal dari situ. Terus kemudian belajar bikin perancanaan siten dengan analisa tadiya SWOT itu penting banget. Karena itu bagian kita berencana kan masa depan kita kan tujur hidupnya mau apa. Karena hidup ini pasti ada kebermaktan dong gitu kan ga egois lah. Karena kita sendiri juga ga kan bisa gimana gimana gitu kan tanpa kadiran orang lain kan. Jadi gintinya pakai tadi sebabnya sepatutnya di sini bagaimana ya. Mana yang paling memungkinkan kita untuk grob bertumbuh. Sehingga di situ lah nanti kita menemukan tadi hidup yang kita inginkan lo yang seperti apa sih. Dan biasanya virtue, virtue tentang hidupan itu bosli rata-rata di atas usia 40 tahun. Jadi kebijak sanaan mengenai hidup itu ternyata di temukannya jejaknya tuh. Ujiannya 40 tahun. Makan ya 20 seitu ya itu bosli kebanyakan eksploratif. Makan ya dia kan ga lo ya diung sama tekanan sosial. Apalagi kayak feromina sandwiching generation, ya akan harus support orang tua, supporting keluarga juga. Dia hanya sendiri juga masih belum ful banget dari segi macam-macam. Itu yang bikin dia jadi kewalaan kan. Jadi memang bikin planning, tas duduk ini, terus kemudian nilai mana yang resikonya paling kecil ya kan. Supaya ketika kita mengerjakan itu, kita mencapai apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup. Sorry, mungkin boleh sedikit nih. Apakah ebit testing dalam kehidupan itu bisa terukur waktu, let's say in terms of pekar jahan, mungkin 1-3 bulan awal itu memang belum ada. Apakah attach saja. Ya belum bisa menghaya, tiba-ngat ya. Itu akan bisa diukru waktu atau gimana. Itu sangat subjektif ya, jadi karena kan personal banget gitu. Jadi pada intinya kita boleh. Kita boleh untuk bisa membuat target waktu di situ. Tapi balik lagi waktu itu hanya media.
Ya karena yang membuat kita menjadi tahu sebenarnya diri ini bisa gro itu kan kita
nya sendiri kemawan kita. Nasih waktu itu hanya media ini di 3 bulan ini lu udah ngelakuin apa di 3 bulan ini udah ada gak sih sedikit yang bertumbuh dari diri dan lu sehat gitu. Nah itu checking upnya kayak gitu. Nah itu juga yang enggak masalah. Jadi kalau bikin target waktu itu adalah sebuah media untuk mengukur. Makanya kenapa kalau disetep pekerjaan kan 3 bulan gitu ya dengan harapan. Karena di terapi secara psikologi juga kan yang enggak waktu itu sekitar 4 bulan untuk perbaikan sebuah perilaku. Kalau misalnya di Peru dia pertama 3-4 bulan ternyata belum ada perbaikan masuk peryode kedua. Dan itu kan kita bisa renew. Mekornya nanti mungkin mungkin bukan yang ini. Mungkin kita coba yang ini lagi gitu kan. Sampai benar-benar mendapatkan kecamanan akhirnya ada progres kan gitu. Walaupun sekitanya apa pun ya progres adalah progres kan. Dia gak stuck list itu gitu. Oke. Nah selanjutnya nih kak bahas tadi tentang Roadmap terus habis itu mungkin memmepping live plan gitu ya. Salah satu yang kayanya tuh kebanyakan orang-orang di umur 20. Karena mereka ngerasa kayak misalnya mereka ngerasa kok udah umur 24-25 tapi baru bisa satu hal gitu. Baru bisa sedikit gitu. Kera-kera orang tuh mindsetnya kayak harusnya udah bisa banyak hal gitu. Padahal kan sebenernya namanya itu kan apa ya Roadmap. Roadmap yang banyak ada hal yang diplajari gitu kan. Dan tadi ada kata-kata yang aku kota juga dari kaya yang itu rata-kata orang baru-baru wise gitu ya baru mungkin bener-bener jajak jatidinya umur 40. Jadi what kind of mindset sih ya sebenernya yang harus kita trapin gitu di umur 20. Tapi ya walaupun sebenernya jalannya dikit-dikit sebenernya gak papah banget gitu. Jadi kaya what kind of mindset yang harus kita percaya dan tadi misalnya ada gak sih kak framework untuk membuat live plan tadi kan salah satu ya misalnya suat gitu. Salah satu juga kan misalnya kita sering baca itu iki guy gitu. Apa sih mungkin yang kaya paling-paling mudah bisa detrap untuk dipercaya balik lagi sama orang-orang di mundur 10. Ketika mereka masih figuring out banyak hal gitu. Aku sih selalu mendorong teman-teman untuk bikin live cool itu berdasarkan 3 hal. Yang general, yang kan terus kemudian yang spesifik, kemudian yang very personal gitu. Jadi in general itu dia mengapain sih dengan hidupnya. Misalnya, kaku pengen banget bantu orang bermanfaat itu kan in general. Terus spesifiknya apa gitu misalnya interms itu adalah pekerjaannya, melalui pekerjaannya. Tapi di tresing misalnya, kaya, saya adalah marketing director. Tapi saya punya live coolnya adalah secara general bermanfaat. Tapi dengan marketing director itu ke bermanfaatannya yang mana? Itu harus di seluruhin gitu kan. Lalu secara personal nanti kepuasan macam mana yang saya inginkan. Misalnya dengan saya marketing, saya kasih tau orang mengenai penggunaan. Skin care ini misalnya gitu ya. Terus dia pake dan dia menemukan bawa ternyata dia lebih glowing, lebih kecid dan sebagainya. Berarti oh itu feedback ya saya adalah kepuasan secara personal gitu. Jadi sebenernya tiga itu aja dulu gitu. Jadi kita buka dulu ini tujuanmu, ngapain secara. Ya tadi kalau paling kliis banget ingin bermanfaat buat orang banyak gitu ya. Tapi turunannya tuh kadang-kadang gak spesifik. Betul. Dan kemudian pencapaian untuk peribadiannya apa nanti? Apa kepuasan macam apa lalu misalnya? Pokoknya nanti dengan itu pasti kan bonus dari inkamnya ada ke nanti kalau udah ada. Nanti ini buat orang tua aku misalnya umro. Itu aja udah goals juga kan dalam hidup dia gitu. Terus sama kalau aku satu lagi kebular, kan aku mindfulness trainer ya. Jadi belajar untuk tenang sih. Jadi mindfulness itu helpful banget deh. Jadi karena kita itu suka chaos kan di dalam kepala itu tuh gak sinkron. Jadi kayak misalnya kita lagi di sini nih kayak dirimu ngomrol gitu ya. Tapi sebenernya kan di sini udah muncul ya ada pertanyaan lain, ini pengen ditanyain gitu ya. Nah jadi kadang-kadang kita perlu untuk oke, focus dulu sama yang sekarang nih apa yang kamu kerjakan. Karena kalian sekarang aja beres kamu kerjakan itu dominonya ke depan tuh beres banget gitu. Jadi itu yang paling penting sih. Jadi setiap mengerjakan itu tensinya adalah focus dulu sama yang sekarang hidup-pikup di luar itu itu tidak bisa kita kontrol bikin life goals yang jelas seperti tadi lakukan. Jadi konsisten aja gitu. Bing konsisten. Itu penting banget diapa konsisten sih. Kamu commit menitu berat banget. Tapi once kita udah bisa kontin yang lanjut itu minimal nembulan aja ya. Itu udah helpful banget sih. Untuk memenjaga kewarasan kita. Konsisten ya. Pembekerami mudah tapi sebenarnya susah. Teorinya sih konsisten. Tapi pada saat nolakkuinnya itu harus beritahu lagi. Mengingat goals kita sih. Kita mengapain. Kita mengapain gitu. Satu pertanyaan follow-up dari ini. Dari topic ini yang aku terterih girmonannya. Itu tadi aku nangkap dari keayang. Oke salah satunya adalah kita bikin life goals. Tapi kayaknya ada beberapa penyebutan apakah itu fulfilling enough gak sih ketika kita ngajalannya. Dan mungkin salah satu yang setelah aku pikir-pikir. Mungkin iya banyak hal yang ketika orang ngejalanin berkata ngerasa gak puas karena gak ada fulfillment itu. Jadi sebenarnya apa sih ke yang kita cari? Mostnya is it validated gitu ya bahwa kita sebagai manusia itu kita kan selalu mencari fulfillment itu bahkan di pekerjaan kita. Dan apapun yang bisa kita, apaya kita petakan gitu prasahan kita, supaya kita bisa mengajar tuh rasa fulfillment itu apa sih yang harusnya? Ya, oke itu balik lagi tentang rasa cukup sih. Ya, orang itu punya kecukupan yang beda-beda. Jadi kayak ya udah nih cukupnya ya segini tapi cukup orang lain itu. Ini apa beda? Dan itu very subjective sih sebenarnya. Jadi rasa cukup itu sebenarnya balik lagi sih. Tadi ya tujuan kita mau ngapain. Ya kecukupan itu. Jadi kayak ngebandon orang itu ada rasa kepuasan dia cukup gitu. Sama satu lagi yang sering kali orang sing out gitu ya, mis out itu ngebidain antara needs and wants. Itu tuh kayak apa ya kan beda-nya tipis banget ya. Jadi apakah kita betul-betul butuh ini? Atau kita cuma hanya ke pengen banget. Wans kita ke pengen kita dapetin selesai, ga ada persana apa pun. Tapi kalau needs ketika kita dapetin itu, kalau needs itu kan berubungan sama survival ya. Ini tuh untuk kehidupan kita. Jadi makanya kenapa kalau di teorinya mas lu itu kan yang puncak tertingga adalah aktualisasi diri. Kecukupan itu dan nyampai disana ketika dia sudah bisa beraktualisasi diri. Mau jadi apa pun dan mengapain. Karena basic-basik nits awalnya itu semua sudah tercukupi. Itu ya misalnya kayak mengasal bilang kan yang pertama basic-mit selaya cukup istirahat, cukup makanya cukup istirahatnya cukup makanya. Ya kan terus cukup uangnya. Ya kan cukup kasih sayangnya. Lalu itu akan mementuk kecukupan secara harga dirinya. Dan ketika dia sudah merasa cukup dengan hal-hal tan di maka saya mulai nih. Saya bisa membantu orang. Nah aktualisasi dirinya adalah karena saya sudah cukup yang lain. Makan disini lah saya harus kebentu orang lain. Idrovisi itu mau kerjaannya, kah mau dari sisi sosialnya. Mua apa-kannya ini sudah cukup. Karena itu nits saya yang sudah terpenuhi gitu. Itu sih orang-orang tuh kan yang-orang juga. Wants nits. Ya. Suka agak nigong. Wants nitsi wants. Jadi ya itu harus dipedain mana yang kebudu. yang kebutuhan dan memang keihinan. Terakhir, tadi kalau kita ngomongin, kita tadi yang menjel-apai, yang mencari live plan, dan mau mengarakan hidup kita, sebenarnya mau kemana gitu. Adi dan sebenarnya, environment kan 3mm. - Bener banget. - Bener. Nah, menurut ke ayang sendiri, gitu 1, kontribusi environment, kita terhadap pembentukan diri kita, sebenarnya seperti apa, dan yang kedua, gimana cara baliklah kita di menjortir, memilah, memetakan what kind of environment, dan people yang tepat sih untuk kita. Oke. Yang pasti, lingguh kan, lingguh kan sosial itu punya kontribusi 60-80% terhadap pembentukan karakter keperibadian kita. Kan kan, keperibadian itu dinamis. Keperibadian itu berubah, tergantung pada bagaimana dia terus-terus ada di lingguh kan sosial itu apa nggak. Ya, itu bisa kan orang tua, kan pertemahan, biasanya kalau 2020 untuk pertemahanan terkelejarannya, itu sangat ambat memengaruhi, qualitas diri dan kesetan mental. Jadi kalau kita berada dalam satu lingguh kan sosial, dimana kita mengetahu, "Wih, lingguh kan sosial tersebut, sangat intimiditif." Terus kemudian kompetisi yang nggak sehat, kemudian kasih efeklesi, "You do" melemahkan kita yang intai,
Menurutku kita memang harus segra keluar dari yang quanta di. Misalnya, tapi itu pekerjaan aku, tapi sekarang gimana dirimu? Kamu sehat nyaman gak? Karena sehat itu mahal. Itu nadi ya. Jadi kan gana-gana, karena ngerasa kita butuh di situ, karena desa kan ekonomi. Tapi kita mengabai ke sehatan mental dan fisik kita. Jadi, cekin aplagi gitu. Jadi kalau once kita udah berada dalam pergauan apa pun namanya, tapi tidak support, tidak menengarkan, jading, jujur kita sering jadi bahan cadahan. Ya kan kita sering jadi bahan cadahan juga dalam pertemahan, walaupun sudah masuk ke buli intiminatif, tapi karena kita merasa, "Yaudah lah, papa, yaudah gak apa-apa gitu." Itu tuh gak saya hat sebenarnya. Ya jadi, "Canda-an-an-canda anyang sifatnya, sebenarnya sarkastik dan sebenarnya." Ya, sebenarnya banyak yang usun, apa saja kan? Fisikli dan mental ini. Halal seperti tadi itu harus dihindari gitu. Kita yang punya kandali sih, kita yang bisa kontrol situasi sosial macam apa yang ingin kita terlibat gitu. Jadi kalau misalnya kita sendiri menila itu, makanya harus jujur sih sama diri sendiri. Itu gak saya hat sih sebenarnya gitu. Tapi gimana Dona? Si tapi itu ngeblokada kita, kata-tapi tadi. Tapi kan saya harus gitu. Nah itu membelokada kita, sehingga kita jadi gak berdaya untuk keluar dari situ. Padahal aku selalu percaya, ketika kita keluar dari sebuah lingkungan sosial, yang buruk, yang banyak usun, yang gative, yang jajing, melemakan, brandi untuk keluar. Kita akan menarik hal-hal baik lain gitu. Kita berada dalam situasi tadi. Karena kita merasa ini lakumpulan yang tepat. Tapi sebenarnya itu gak bagus buat kesanatan-mayan, tapi kalau kita berani untuk siklinin, untuk seleksi, lalu kita keluar dari situ, memang gak nyaman kan. Karena ini kan konferjan kita, yang kita rasa mereka ngertiin pada sebenarnya, mungkin mereka gak bertumbuh, barang sama kita kan. Sebenarnya kita sedang menarik hal-hal baik lain gitu. Jadi cari lah mereka yang mau memberikan dukungan, panpang jaj, terus kemudian mau untuk bisa, ya tadi ada di saat susah senang. Bukan selalu nyalan-nyalan kita, itu sih yang paling penting gitu. Terus kemudian, temukan komunitas-komunitas baru sih. Karena gak ada-gada, jujur kebaikan itu beradanya, dia ternyata di luar circle kita yang sebenarnya gitu loh. Itu yang paling penting sih gitu. Jadi mungkin kalau suka banyak yang bilang law of attraction, itu bener ya kan? Betul. Aku sih memiliki keyakinan itu dan banyak banget sih sebenarnya. Ayuh, aku sih bilang manifesting, pertemahan, manifesting in, kamu manifesting mengenai pekerjaan. Karena itu kita merasa yakin dengan diri ini, maka pikiran biasanya itu akan mendorong kita ke arah apa yang sebenarnya ingin kita wujudkan. Ya makanya, tadi itu di alami ketika ada keyakinan gitu. Kita beli kita bisa, yang gak sabutas sendiri, terus kemudian punya harapan, hub itu bikin kita optimis tapi kita yakin. Tapi kita juga berkeyakinan. Kalau pun nanti ternyata tidak susu, why? Saya bisa melimai itu. Karena saya yakin itu adalah yang terbaik buat saya gitu kan? Jadi, unsur-unsur seperti tadi sih. Oke. Sep, kayaknya kita udah bahas banyak banget. - Banyak banget ya. - Terima kasih. - So banget ya. - Ini kan harusnya sih ini menjadi episode pertama pembuka yang akan sangat banyak bisa membantu orang. - Btr, ini hal-hal kecil yang kita bahas tapi sebenarnya meters in daily lagi gitu. Jadi mungkin kita mau ngocapin terima kasih banyak banget. - Ya. - Kekak ayah hari ini. - Terima kasih, saya. Super fun tapi sangat rich and inside possession. - Betul. Dan tadi untuk cara berfigurnya juga udah lumayan banyak kesarap sih gitu. Jadi nanti mungkin teman-teman bisa lihat quote-quote-quote sebagai kayak ayang tadi banyak banget sih itu yang sangat teriyog. - Jangan cuma di dengerin aja, lihat tapi di aplikasi kan. - Bener. - Karena kita dengerin banyak kita belajurnya tapi nggak di aplikasi kan. - Oke dan tadi juga kita udah denger banyak hinhin baru dari kayak innarcha, otras manif, asmungkin. Kalau ada kesempatan lagi, buset dan teman-teman gika, aplikasi in-out 20. Kita kulit lebih dalam lagi tentang hal-hal ini. Oke, terima kasih sekali lagi kayak ayang. So teman-teman buat 20 di luar sana, pasti masih punya banyak pertanyaan tonton kerasan dirinya sendiri boleh banget. Itu langsung curhat aja samain our 20 spot cast, boleh melalui komendari Instagram kita atau bisa langsung ke email kita. So, see you guys in our next episode. Bye-bye.
Podcast Summary
Key Points:
Depresi dan frustrasi adalah dua kondisi berbeda
Untuk mengelola emosi negatif, langkah-langkah penting meliputi mengenali pemicu, menerima perasaan, memproses emosi, mengelola stres, mencari dukungan sosial, dan jika perlu, meminta bantuan profesional.
FOMO (fear of missing out) sering dialami di usia 20-an akibat kurangnya konsep diri yang kuat, perfeksionisme, atau tekanan sosial, dan dapat dikurangi dengan aktualisasi diri dan fokus pada nilai pribadi.
Penting untuk menetapkan ekspektasi yang realistis dengan mengevaluasi kemampuan diri, membuat rencana cadangan, dan menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Summary:
Podcast "In Our 20s" membahas tantangan hidup di usia dua puluhan, khususnya kebingungan menentukan tujuan hidup serta mengelola emosi seperti frustrasi dan depresi. Frustrasi digambarkan sebagai respons wajar terhadap kegagalan mencapai harapan, sementara depresi merupakan gangguan psikologis yang lebih kompleks dengan faktor genetik, trauma masa kecil, atau tekanan sosial. Untuk mengatasinya, penting mengenali pemicu emosi, menerima perasaan, memprosesnya secara sehat, dan membangun sistem dukungan.
Diskusi juga mencakup FOMO (fear of missing out) yang sering muncul akibat perbandingan sosial dan kurangnya konsep diri, serta pentingnya menetapkan ekspektasi realistis dengan menilai kemampuan diri dan menyiapkan rencana alternatif. Podcast ini menekankan bahwa navigasi hidup di usia 20-an membutuhkan pengenalan diri, regulasi emosi, dan dukungan dari lingkungan atau profesional ketika diperlukan.
FAQs
Frustrasi adalah respons emosional normal terhadap stres saat harapan tidak tercapai, bersifat jangka pendek. Depresi adalah gangguan psikologis kompleks dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial, serta berlangsung lebih lama (berbulan-bulan).
Kenali pemicu emosi, terima perasaan yang muncul, dan proses emosi tersebut. Kelola stres dengan baik, cari dukungan sosial, dan jika perlu, minta bantuan profesional seperti psikolog.
Depresi dapat disebabkan oleh faktor genetik (riwayat keluarga), psikologis (seperti rendah diri atau trauma masa kecil), dan sosial (seperti intimidasi atau tekanan lingkungan).
Cek realitas dengan menilai kemampuan dan sumber daya diri, buat rencana cadangan (plan B), dan bersiaplah menerima kegagalan. Gunakan analisis SWOT untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan.
FOMO adalah ketakutan ketinggalan momen atau pengalaman yang dialami orang lain. Ini sering terjadi karena kurangnya kepercayaan diri, konsep diri yang lemah, atau tekanan sosial untuk mengikuti tren.
Kenali kekuatan dan keunikan diri sendiri, fokus pada aktualisasi diri, dan hindari membandingkan diri dengan orang lain. Konsep diri yang positif membantu tetap percaya diri tanpa harus ikut-ikutan.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.