Go back

(cerpen) Lelaki yang Menderita bila Dipuji - Ahmad Tohari

16m 51s

(cerpen) Lelaki yang Menderita bila Dipuji - Ahmad Tohari

Mardanu, seorang pensiunan tentara, terus-menerus merasa risi dengan pujian yang diterimanya atas hal-hal biasa seperti pensiun yang lancar, kesehatan, atau anak-anak yang mandiri. Ia percaya pujian hanya pantas untuk prestasi heroik. Kenangan akan mimpi masa mudanya tentang pertempuran epik semakin menguatkan perasaan ini, karena karier nyatanya hanya diisi tugas administratif yang datar. Perasaan hampa ini berlangsung hingga suatu hari, ia melepas burung kutilang peliharaannya ke alam bebas. Tindakan ini disaksikan oleh seorang anak kecil bernama Manik, yang kemudian memujinya dengan tulus dan spontan karena telah membebaskan burung itu agar bisa bernyanyi di pepohonan. Pujian polos dari Manik ini terasa berbeda; ia tidak lagi merasa tersindir, melainkan lega dan akhirnya bisa menerima penghargaan itu. Cerita ini menggambarkan pencarian makna dan pengakuan, yang akhirnya ditemukan dalam tindakan sederhana penuh kebebasan dan respons tulus dari seorang anak.

Transcription

1342 Words, 9391 Characters

Indonesian
[MUSIK] Lelaki yang menderita, bila di puji. Ditu list oleh Ahmad Tohari dibacakan Gerolfara. Mardanu seperti kebanyakan Lelaki senang gila di puji. Tetapi akhir-akhir ini di amrasa risi bahkan seperti terbubani. Puji yang menurut Mardanu kurang beralasan sering di terimanya. Ketika bertemu teman-teman untuk mengambil uang pensiun, ada sejian bila. Ini Mardanu, satsusnya teman kita yang uangnya di terimautoh, karena tak punya utang. Puji yang itu sering diirinya acungan jumbal. Ketika berolah raga jalan kaki pagi hari mengelilingi alun-alun, orang pun memujinya. Bapak Mardanu memang hip-hop, usiannya 75 tahun, tapi buat danya tampak masih seger. Perjalan teka dan kedua kaki tetap kekar. Kedua anak Mardanu yang satu menjadi pemilikios kelontong dan satu nya lagi jadi sopertur kesemmen. Juga jadi Bahan Puji yang. Pemarjan terhatun pas mengenang kat anak-anak hingga semua menjadi orang mandiri. Malah sekor belum kuti lang yang diplih haram Mardanu, tak lupa jadi Bahan Puji. Pukul bukan Pemarjanu yang memlihara, berungkuti lang itu tak akan demikian link jah dan cerayawet kiconya. Mardanu tidak mengerti. Mengapa hanya karena umang pensiun yang utuh, badani yang sehat, anak yang mapan, bahkan burung piara an membuat orang sering memujinya. Bukan kaitu hal biasa yang semua orang bisa melakukannya bilang mau. Bagi Mardanu, pujian hanya batas diberikan, hanya pantas diberikan kepada orang yang telah melakukan pekerjaan luar biasa dan berharga dalam kehidupan. Mardanu merasa belum pernah melakukan pekerjaan seperti itu, dari sejak muda sampai menjadi kakak kakak di sebelum berbuat jasa apapun. Ini yang membuatnya mendelitar kanap pujian itu seperti menyindir-nyindir. 60 tahun yang lalu ketika bersekolah, di-nding ruang kelasnya di gantungi gambar pahlawan. Juga, para toko bangsa. Tentu saja mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa, bagi bangsanya. Mardanu juga tahu, dari cerita orang orang, pamannya sendiri adalah seorang penjuang yang gukur di midan perang kemerdikaan. Orang orang sering memujim diang paman, cerita tentang sangpaman kemudian dikembangkan sendiri oleh Mardanu, menjadi bayangan ke pahlawan, seorang penjuang muda dengan petil bersangkur, ikat kepala pita merah putih, maju dengan gagah menyerang musuh, lalu roboh ketana dan gukur sambil memeluk ibup tertiwi. Mardanu amat terkesan oleh kisah ke pahlawanan itu. Maka Mardanu kemudian mendaptarkan diri masuk tentara pada usia 19. Ija hanya SMP, dan dia di terima sebagai prajurit tamta. Ke gambirannya meluap-luap ketika dia terpilih dan mendapat tugas sebagai penimbak artileri pertahanan udara. Dia berduber-duber dan melelayakan air mata ketika untuk pertama kali di lati menimbakan senjatanya. 10 peluru besar akan menghambur ke langit dalam waktu satu detik. Saat musuh pasti akan mudak kemudian rontok bila terkena tembakan senjata yang hidbat ini selalu demikian yang dibayangkan Mardanu. Bayangan itu sering terbawa ke alami. Suatu malam dalam tidurnya Mardanu mendapat perintah siaga tempur. Persiapan hanya setengah menit, Saat musuh akan datang dari utara. Mardanu melumpat dan meraih senjata artilerinya. Tengahnya berkehringat, jaringnya lekat pada tuas pelatuk, matanya menatap tajam ke langit utara, ternyata di rumah Saat yang segra muncul sambil menabur tentara payung. Mardanu menarik tuas pelatuk dan datusan peluru menghambur ke angkasa dalam hidungan detik. Ya Tuhan, Saat musuh itu mendadak oleh dan mengeluarkan api, terbakar, menukik dan terus menukik. Tentara payung masih berlancat dan dariput pesawat dan Mardanu mengarahkan tembakan yang kesana. Ya Tuhan, tiga parasut yang sudah mengambang mendadak kunciplagi kenal, penjangan peluru Mardanu. Tiga perajurit musuh meluncur bebasnya tuh kebumi. Tubu mereka pasti akan lulantak begitu terbanting ketana. Mardanu habir bersorak namun tertahan oleh kedatangan pesawat musuh yang kedua. Mardanu memberundungnya lagi, kenal namun pesawat itu sempat menimbakan peluru kendali yang meledat hanya 3 meter di sampingnya. Tubu Mardanu terlempar keudara oleh kekuatan ledat peluru itu dan jatuh ke langkah mertidur sambil menjemkar ambantal. Ketika ter sadar, Mardanu kecaya warat. Mengapa pertempuran hebat itu hanya ada dalam mimpi. Andai kata itu peristiwanyata maka dia telah melakukan pekerjaan besar dan luar biasa. Bila demikian Mardanu mau dipuci, mau juga menarik maupun harga kan. Mungkin demikian, Mardanu selalu mengenang dan mengawetkan mimpi itu dalam ingatannya. Apalagi sampai Mardanu dipindah tugaskan kebedang administrasi teritorial 5 tahun kemudian. Perang dan serangan udara musuh tidak pernah terciwati. Pekerjianat administrasi adalah hal biasa yang begitu datar dan tak ada ni la istimewa. Untung, Mardanu hanya 4 tahun menjalankan tugas itu, lalu tanpa terasa masa per siapan pensiun datang. Mardanu mendapat tugas baru menjadi anggota komandoraian militer di kecamatannya. Di desa tempat di atinggal, Mardanu juga bertugas menjadi bintara pembina desa. Selama menjalani tugas teritorial ini pun, Mardanu tidak pernah menemukan kesempatan melakukan sesuatu yang penting dan bermakna sampai dia pada umur 50 tahun. Pagi ini Mardanu berada di becak langganannya yang sedang meluncur ke kantor pos. Dia mau ambil uang pensiun. Cosim siabang becak sudah ubah nann, pipinya mulai leku ke dalam. Selama mengayu becak, nappasnya terdengar mekap-mekap, namun seperti biasa, dia mengajak Mardanu bercakap-cakap. Pahmar dan rumah senang ya, tiapulan tinggal langgan luang banyak di kantor pos. Katasik Cosim di antara tarikan apa-sini yang berant. Ini juga pujian yang terasa membawa bupet. Dia jadi ingat selama hidup belum pernah melakukan apa-apa. Selama jadi tentara belum pernah terlibat perang, bahkan belum juga pernah bekerja segera stokang becak di belakangnya. Sementara Cosim pernah bilang dirinya sudah beruntung bila sehari mendapat 15 riburupia. Beruntung karena dia sering mengalami dalam sehari tidak mendapatkan seru pihak pun. Masih bersama Cosim, pulang dari kantor pos, Mardanu singgah ke pasar untuk membeli pakang burung kutilangnya. Sampai di rumah, Cosim diberi nya uppah yang membuat tuh kambicaya itu tertawa. Kemudian terdengar kicau kutilang dikurungan yang tergantung di kaso yang peruma. Burung itu selalu berdingkah di lady di kati magicannya. Mardanu belum menaruh, pakang kewadanya di sisi-sikurungan. Dia ingin lebih lama menikmati tinggah burungnya. Mencetet, mengibaskan sayap dan vertentangkan ekorsamil melompat lompat. Mata Mardanu tidak berkecipp menatapi arahannya. Namun mendadak, dia harus menengok ke bawah. Karena ada spasang tangan mungil memenggangi kakinya. Itu tangan manik, cuci perempuan yang masih duduk di teman-kana-kanak. Itu burung apa, pak? Tanya manik, rasanya tahu terpancar di ujahnya yang sejati. Namanya burung kotilan. Baguskan, manik diam. Dia tetap menengadah. Mata-nya terus menatap ke dalam burungan. Jadi burung kotilan, kak. Aku sudah lama tahu burungnya, tapi baru sekarang tahu namanya. Itu aku bisa nyanyi. Nyanyi burung kotilan. Itu bagus. Paya lah ciju ku. Coba menyanyi. Kakak ingin dengar. Manik perdiri diam. Barangkali anak teka itu sedang mengingat cara bagaimana yang burungnya nyanyikan. Di pujuk panjang pakak burung kotilan bayani. Manik menyanyi sambil menari dan bertepuk-tepuk tangan. Gerakanya luci dan mengkemaskan. Citerah dunia anak-anak yang lama menawang. Mardanu terpesona dan terpesona. Nyanyian-yian cuci terasa merasuk dan mengendap dalam hatinya. Tangannya gemetaran. Manik terus menari dan menyanyi. Salah saya menari dan menyanyi, Mardanu merengku manik. Di pelu dan dirangku keadaannya. Di timang timang lalu diantar keibunya di kyosebeng jalan. Kembali dari sana Mardanu duduk di bangku, agak di bawah kurungan kutilannya. Di lama terdiam. Berkali-kali di tetapnya kutilang dalam kurungan dengan mata redub. Mardanu gelisa. Bangun dan duduk lagi. Bangun masuk ke rumah dan keluar lagi. Dalam terlinga terulang-ulang suara jujunya. Di pujuk pangcam paka. Buruk kutilang manyanyi. Wajah marah nomenekan. Kemudian dengan dur lagi. Lalu perlahan-lahan dia berdiri mendekati kurungan kutilang. Dengan tangan masih gemetar dia membuka pintunya. Kutilang itu seperti biasa. Pertingkah elok bila di dekati oleh pemeliharanya. Tetapi setelah Mardanu pergi, kutilang itu menjulurkan kepala keluarpin untuk kurungan yang sudah mengangat. Dia seperti bingung berhadapan dengan udara bebas. Tetapi akhirnya berung itu terbang ke arah pepohonan. Ketika manik datang lagi, ke rumah Mardanu, beberapa hari kemudian dia mendemukan kurungan itu sudah kosong. Di mana berung kutilang itu? Tanya manik dengan mata membulat. Sudah kakak lepas. Mungkin sekarang kutilang itu sedang bersama temannya di pepohonan. Kenapa kutilang itu di lepas? Matamani masih membulat. Ya supaya kutilang itu bisa bernyanyi di pepohonan cempaka. Seperti nyanyi, Mardanu matamani masih membulat. Biberinya bergerak-gerak. Nangun belum ada satu katapun yang keluar. Kutilang itu bisa bernyanyi di pujung mau. Itu memapiasa. Kake, bet, hebat banget. Aku suka kake. Aku suka kake. Mani melompat-ompat kebira. Mardanu terkesima oleh pujian-jujunya. Itu pujian pertama yang paling enak di dengar dan tidak membuatnya mendelita. Manik kembali berlinggat linggo dan bertepuk tangan. Dari mulutnya yang mengilter ulang nyanyian kekemarannya, Mardanu mengerigit mengiringi tarian-jujunya dengan tepuk tangan berirama. Untahlah, Mardanu rasa amat lega. Plong.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Mardanu merasa tidak nyaman dengan pujian yang sering diterimanya karena menganggap dirinya belum melakukan hal luar biasa.
  2. Mardanu memimpikan menjadi pahlawan dalam pertempuran, tetapi kenyataannya karier militernya diisi tugas administratif yang biasa saja.
  3. Peristiwa melepas burung kutilang peliharaannya dan respons bahagia dari seorang anak kecil, Manik, akhirnya memberinya kepuasan dan membuatnya bisa menerima pujian dengan lega.

Summary:

Mardanu, seorang pensiunan tentara, terus-menerus merasa risi dengan pujian yang diterimanya atas hal-hal biasa seperti pensiun yang lancar, kesehatan, atau anak-anak yang mandiri. Ia percaya pujian hanya pantas untuk prestasi heroik. Kenangan akan mimpi masa mudanya tentang pertempuran epik semakin menguatkan perasaan ini, karena karier nyatanya hanya diisi tugas administratif yang datar.

Perasaan hampa ini berlangsung hingga suatu hari, ia melepas burung kutilang peliharaannya ke alam bebas. Tindakan ini disaksikan oleh seorang anak kecil bernama Manik, yang kemudian memujinya dengan tulus dan spontan karena telah membebaskan burung itu agar bisa bernyanyi di pepohonan. Pujian polos dari Manik ini terasa berbeda; ia tidak lagi merasa tersindir, melainkan lega dan akhirnya bisa menerima penghargaan itu.

Cerita ini menggambarkan pencarian makna dan pengakuan, yang akhirnya ditemukan dalam tindakan sederhana penuh kebebasan dan respons tulus dari seorang anak.

FAQs

Mardanu adalah seorang pensiunan tentara yang merasa pujian yang diterimanya tidak beralasan karena dia merasa belum pernah melakukan hal luar biasa dalam hidupnya.

Mardanu bermimpi terlibat dalam pertempuran heroik sebagai penembak artileri. Mimpi itu membuatnya berharap bisa melakukan sesuatu yang layak dipuji dalam kenyataan.

Mardanu melepaskan burung kutilangnya setelah terinspirasi oleh Manik, agar burung itu bisa bernyanyi dengan bebas di alam bersama teman-temannya.

Mardanu merasa lega dan senang karena pujian dari Manik terasa tulus dan tidak membuatnya tidak nyaman, berbeda dengan pujian-pujian sebelumnya.

Mardanu bertugas di bidang administrasi dan teritorial tanpa pernah mengalami pertempuran, sehingga dia merasa pekerjaannya biasa saja dan tidak istimewa.

Interaksi dengan Manik, terutama saat anak itu menyanyi dan memuji aksinya melepaskan burung, membuat Mardanu menyadari bahwa pujian bisa bermakna dan menyenangkan jika berasal dari ketulusan.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.