Pembicaraan ini menjelaskan perbedaan mendasar antara selling, marketing, dan branding berdasarkan pengalaman nyata. Selling bertujuan mencapai transaksi cepat dengan alat seperti diskon, bonus, atau hadiah (contoh: program 1 gram emas di Sakura Film), tetapi sering mengorbankan profit dan hanya menghasilkan harga terendah (rock bottom price). Sebaliknya, marketing dan branding berfokus pada menciptakan pelanggan setia jangka panjang. Branding, khususnya, membangun nilai (value) dan ikatan emosional melalui konsistensi (seperti kampanye berulang "Sakura Film" atau konsep "Pinom"), membuat konsumen rela membayar premium. Pengalaman di Sakura Film menunjukkan peralihan strategi dari selling ke branding berhasil membalikkan pangsa pasar dari 30% menjadi 70%. Kesimpulannya, selling cocok untuk produk siklus pendek atau perolehan pelanggan awal, sementara branding vital untuk produk siklus panjang dan loyalitas. Keduanya dapat dipadukan, di mana program selling (seperti "buy one get one free") dapat menjadi pengantar untuk membangun pengalaman dan akhirnya brand yang kuat.
[MUZELA] Salamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Oke, malam ini saya pengen siarin tentang pemahaman marketing, selling, and branding. Ini nampaknya masih rancuni buat teman-teman milimia. Jadi, salah olah, selling itu tujuan yang paling utama. Pada selling itu instrument, pada jamannya. Hanya instrument untuk mendapatkan kes secara cepat. Jadi saya jelaskan juga, si koresikonya. Jadi, kalau selama ini, klien yang saya hubungin, itu rata-rata mereka menggunakan marketingnya. Jadi, jarang sekali ya, mengubungi saya anjol to selling. Salih itu menjadi ini. Tapi, saya punya gagangan 100 mobil hijang. Kemudian, saya kena bersama direktor Toyota. Terus mereka kasih saya hijang palom di jualin 100 ini. Terus kalau 100 itu terjual habis, maka selesai ini sudah. Terus, setelah selesai, itu kalau seling. Tapi, kalau marketing itu, dia akan lanjut. Jadi, nggak cuman sekali jual 100 jangan selesai. Tapi lebih lanjut. Nah, ini saya alami ketika saya kerja di sakura film itu. Ada karena dia nggak bikin sendiri filmnya. Seharusnya itu di cepang. Jadi, selanjutnya, dia cuma pedaga nanti atau maklun. Nah, ketika maklun ini, datang lah barang. Terus, semerian, datang film cahaya 100 ribu bis. Terus dijual 30 bulan habis datang lagi, 100 ribu lagi. Kemudian, jual lagi habis datang lagi, 100 ribu lagi. Nah, itu ada dua pilihan seturnya. Menggunakan marketing atau menggunakan seling. Kalau menggunakan seling, artinya setiap 100 ribu habis, yaudah selesai busisnya. Terus, 100 ribu lagi datang jual lagi. Jadi, ada series of saling. Saling tidak nanti. Saling, saling, saling, saling. Setiap saling, lebih asa, saling itu kan mengajarkan nadiyaya. Kongga abonus. Discon. Kesbek. Poh Cicilan. O waktu di perusahaan sakura film itu, hadiahnya itu. Satu kilogram mass. Palai zaman itu ya. Itu anuh. Jadi, itu anuh itu 30 bulan. Kita bikin program satu kilogram mass. Udah ni, 30 bulan lagi, satu kilogram mass lagi. 30 bulan lagi, satu kilogram mass lagi. Jadi, itu ada program seling. Ketika mereka nimpor kamera dari jina. Itu dia import seburih-buruh. Seburih-buruh. Nah, seburih-buruh itu digerancarkan habis sama waktu 30 bulan. Lalu. Lancinnya saya sarankan pas 10 ramadan. Jadi, pas orang itu mau mudik itu. Pas orang mau mudik itu dia dapat biaya. Nah, waktu japa tiara itu, kita per asumsi orang itu kan beli. Perlagi-tah. Nah. Perlagi-tah itu di beli untuk pemantu pelangkampung. Pada zaman itu, jauh katanya banyak sarit memantung. Setiap rumbat tangga, pas serah memantung. Dan pasti pas mudik pelangkampung. Dengar-engar-engar-ngar itu kayak kayak kayak banget. Kemasuk, beli kamera atau sekarang habisnya. Nah, kemudian, kita pakai hirunya para memantung nih. Batu itu, kita pakai papagial marhom sama pasangannya baistar. Matirinya saya bikin. Harapotikian, jadi merke di. Baca berulang kali, tujapan berkali-kali. Dan ini salah-salahin, supaya di korreksi-salahin korreksi. Namanya finon, kita bilangnya. Papagio, supaya kamera baru nih namanya finon. Opinon. Bukan pinon, finon. Opinon. Bukan pinon, Pak. Finon. Berkali-kali diulang sampai, orang itu menangkap. Dan ikan-ikannya mengiturua? Nggak pakai apa-apa. Nah, kita iklannya begitu. Teranyata, spurnik butuh habis. Dalam waktu satu minggu, para menincarakan orang pulang motik, Tersemudian, kameranya di tinggal di kampung, Terus balik kecara-tap lagi. Paternya atat, ceritanya terpali. Ini Thanks to Pak Ammarum, Papagio. Netalu harbiasa, silasinya. Plihatnya dari situ, Si sakura film ini, Karena satu brosannya, mereka mau lemikir oleh ya. Bisa juga tanpa salingnya. Tanpa hadiah, satu geluh ramas, ternyata, kameranya laku. Bakan ketika beripit odork ke Hong Kong, Itu karena Paprika rubahannya. Tukain gitu, diupakan tergrat-grat. Itu kan, nggak ada lagi, udah tutup, udah ada dimark. Jadi, yang ingin saya sampaikan, Purusan itu kayaknya belajar. Papak tanpa hadiah, tanpa em. Emming-eming gitu, tanpa ember-ember itu ternyata. Bisa saling juga gitu. Kalau kita menggunakan kopli writing yang benar. Waktu itu saya ada heart shell dalam soal merak. Dan soal merak bukan heart shell dengan hadiah. Nah, kemudian, Walaiklah mereka bilang, "Pisang nggak ini diterapkan di sakura film?" Eh, kita coba aja, Pak. Palu, kita bikin sakura film dari sampaikan beroke. Ya, isinya cuman tadi, mengulang merak tadi. Isinya cuma dari sampaikan meroke, pilih sakura film. Jadi, memunggui kalau orang padang, bilangnya sakura film berancak bana. Terus kalau orang papua, bilangnya sakura film sakura film mau. Kalau orang madura, bilangnya, "Boah kalau saya pilih sakura." Jadi, itu merupakan kampanya branding. Mengulang-ulang sakura ini terus. Sama kayak dari konsep pinom tadi. Cuman kalau pinom pakai salah, mau mongki ulang-ulang, kalau ini tiulang-ulang, boleh sih hubungan saya berbeda-beda-beda. Tanpa kita sadari, kita selesai ke "Invincing Swift" sakura channel. Nah, ternyata, malah, dan berbaliklah. Kalau tadi-nya itu 70% market dikuasai puji film. 30% market dikuasai oleh sakura film. Bebalik nih. 70% sakura film. 40% puji film. Nah, baru mereka sadar nih tentang, wah, ini ternyata, pakai kampanya branding ini lebih menguntungkan. Kenapa? Saya bilangnya, "Ya, kampanya branding melerikan pelangan." Sementara film itu kan, kameranya satu. Orang punya kamera satu. Tapi diisi film terus kan. Akhirnya mereka sadar branding. Sadar branding, itu semua dia, begitu branding mereka malah mikirnya. Dua sih sebetulnya mereka pikirin awal. Yang pertama produknya, sakura film itu, ini apakah perlu produk ring satu produk saja, yang ukuran 358. Yang kedua, harga, harga. Jadi mereka paling mati banget, harga dari branding ini. Kenapa? Karena ketika finelikin pun juga. Orang nggak ini, nggak pindah merak. Nah, itu. Dah kembali ke harga tadi, itu saya bilang sama bosnya. waktu itu sudah jamannya, emasnya jamannya pahar tono. Karena selain itu dikantikan adiknya, pahal lupman namanya lupman halim. Pahal lim. Nah, saya bilang pak, pak yang marketing juga. Itu marketing itu, waktu itu masih empat, ya. Product price, place promotion. Nah, branding ini termasuk marketing promotion pada jamannya. Jadi lewat iklan. Eklon TV masih murah. Dan waktu itu masih TV aritok. TV aritkoan. Yang boleh beri kelar belum ada itu. RTTI, belum ada orang tahun 68. Nah. Dan ini, akhirnya mereka menerahkan yang belum marketing. Jadi, memarakannya pertama prosesan selling itu. Nah, itu sangat, karena saya bisa bikin film, saya bisa bikin barang. Dia cuma bisa kulakan itu. Dijual dengan incentive thrust. Pagit itu, karena branding, mereka merasa apa namanya merasa merasa diperuntung, apa, ya. Ini jam Rolex, ya. Mereka dari konstruksi harga. Ini ibaris akurofilum, saya bilang, ini HPP-nya harga atau beli. Kita ambah dengan operasional. Jadi harga HPP, diambah harga operasional. Biasanya 12 kali di patnya, jadi harga firomnya, misalnya 50 ribu. Ini untuk operasional 5 ribu gitu, akhirnya. Kemudian nah, ini profit, profitnya 5 ribu lagi. Jadi harga ini 50 ribu. Betulnya 50 ribu. Tapi, karena ada unsur brand, maka ada unsur value. Unsur value, yang mengakibakan orang itu bersedia hanya payar produknya saja, payar operasional juga, payar profitnya juga. Dan di tambah dengan harga firyuu, ini contengannya kalau kita bunakan brand-ding. Itu mendapatkan premium price. Ini kalau kita menggunakan konsep brand-ding-nya. Jadi namanya ini brand magic kalau saya suka. Magic magic anjasi, nggak magic beneran. Nah, kita keser sedikit. Ini jamnya. HP-pnya segitu. Angkos operasinya juga sama. Kemudian ada profit. Nah, kemudian kita melakukan saling yang dilakukan oleh hadiah 1 gram mas itu, maka terjadilah saling. Dimana saling ini, mengandalkan kakabaru, kemudian bonus, kemudian apatuh hadiah, kemudian ada diskon kaspekt jilan ini. Nah, saling ini, untuk umberchapak, counteraction, umberchapak closing untuk menarik kas mengurangi profit dan juga cos of money. Ini akibat dari saling. Sehingga terjadi kemudian, yang kita dapat adalah rock bottom price. Artinya, kita tidak mendapatkan tambahan value seperti ini. Tapi yang ada, kita malah custru turun, karena ada cos dari bala promosionnya itu. Jadi, saya ceracin begini sama brionya ini. Jadi, lebih baik kita membangun brand agar supaya terjadi value, sehingga konsumen itu persiap barbe mahal, anak kontengannya branding itu, konsumen bersetihnya membayar lebih karena ada value. Sementara kalau saling, itu, konsumen mendapatkan benefit, tapi memurangi profit dari fia pengesahannya. Sehingga yang dapat adalah rock bottom price. Nah, ini, yang saya alami tahun 78,000, lama banget ya. 87, dimana, kemudian, diputuskan oleh, oleh mereka, kalau begitu, kita kampanya branding-nya cepat di. Oh, boleh. Sehingga, apa namanya, program-satuk irugrama itu dikurangi. Nah, biasanya, karena organisasi itu awalnya reorganisasi saling, rasnya itu dah ke saling. Itu yang saya bilang bahwa, gak cuman konsumen yang percaya kepada bonus kepada deskonya salamacom, bahaya, satu program mas, tapi juga, internal. Jadi, yang namanya, para manager itu, udah keranjur percaya, sama, sama adia-adia ini. Jadi, mereka bertenver-tenver sendiri. Jadi, saya, jadi serang angkarnya, saya termasuk yang, sudah memuntikan bahwa, tanpa, memberikan adia, kita bisa bahkan menjual video. Waktu itu, felunnya satu sakura film, rancak bana, sakura film, lebih indah dari warna aslinya. Itu yang terbangun. Jadi, orang yang cari lebih indah, berapa pun, dia baik aku, untuk sakura film. Jadi, sampai ada dua versi, yang standar, sama yang lebih indah. Dan, dengian aku yang beringin, yang mengetin ya. Nah, ini adalah kekuatan dari benda-deng. Jadi, nah, untuk menyampaikan program kita itu, apakah program benda, atau program selling, itu, kita resaul tujuannya. Jadi, kalau branding itu, tujuannya menciptakan pelangan. Pelangan itu adalah, pembeli, yang pulih lagi-pulih lagi. Tanpa ada promosi. Itu pelangan. Jadi, kalau saya puka adopsin gata-guria, akan lebih jelas lagi. Mengapa, kita putuh promosi. Di semua organisasi kelihan saya itu, ada bagian sales, dan ada bagian marketing. Dan, malah ada yang menyebut di bagian marketing itu, ada namanya brand manager. Nah, kembali ke cerita tadi. Akhirnya, management ini sadar. Branding itu menciptakan pelangan. Cococ banget nih, sama sakura film. Karena, satu kamera, itu orsisi film berkali-kali. Shingga, dia butuh pelangan. Kameranya mungkin pembeli. Dia butuh pembeli. Shingga untuk jualan kamera, butuh program selling. Tapi kalau jualan filmnya, butuh program branding. Nah, ini mereka udah mulai pada tahamutnya. mulai pada waham. Jadi, dia perusahaan koko begitu ya. Mengapa saya tertarik terjadi toko sakura film itu? Karena, saya jatah nil ke rumah itu. Karena, karena, itu namanya itu loh. Saya tulis di kartu namanya, kreatif persen lukin untuk kreatif kotaian. Akhirnya, mereka hajar saya. Bukan itu, jualan mereka ya, untuk bahwa ni jensi bad mereka. Jadi, mereka begini
很好 si jensi. Saya banduin membangun. Jadi, saya, waktu itu jadi, si "Ojuka" tahun 2017 ya, si "Ojuka" jadi kreatif seri terjuka. Jadi, akan ekskutif juga. Jadi, kovir terjuka, jadi, film dari terjuka wah dan berangka-perangka pelakannya. Ini kecil, burusannya kecil. Ya, betul. Branding mencetakan pelanggan, sering mencetakan pembeli. Nah, akhirnya si ketemu ni, di semua perusahaan yang saya vayanin. Memang ada, ada yang departement marketing dan ada departement sering. Merikan bersih, makut program itu, dan piasanya dua-dua di jalan kan. Program marketing itu lebih kepada inupasi product, dan tertinggarga. Program bending itu adalah brand loyalty ya. Kalau kita sebagai brand, dan kemudian program selling itu adalah untuk mendapatkan kes ya. Jadi, kalau produk Anda itu cangganya pendek, pakai selling aja, apa-apa. Kalau kalau cangga panjang, ya, pakai branding itu. Itu yang dilakukan yang lain saya. Jadi, bukan pilih selah satu. Dua-dua yang masih di pakai. Pengalaman saya, mengalaman saya seperti itu. Sehingga gak berarti apa namanya sekarang lebih gagah dari marketing, atau sekarang lebih gagah dari branding gak juga. Karena branding itu mungkin membangunya lama. Tapi, kalau sekali kebangun, itu lama juga anuhnya efeknya. Karena di saya begini. Tata-tata makriya, makri saya makkan itu lapat tahun di Indonesia. Itu ketika tahun 1997 itu, kita punya menggunakan program marketing dan program selling. Program marketing, saya kata-kata tadi itu innovasi produk. Jadi, dilihat dari taket marketing kita dan pasar kita. Itu McDonald itu, perangnya itu setiap big end. Perangnya masih apa, sama restaurant paswut yang lain. restaurant paswut yang lain. Yang juga menjual yang paswut juga. Jadi, setiap big end itu ternyata terjadi perang. Rabutan, family. Karena semuanya mengkling sebagai family restaurant. Mau pergeking, mau makri, mau KFC itu semua, mengklinginnya family restaurant. Diasanya, big end itu adalah saat di mana para bapak ini mentrik keluarganya. Itu berputang, disamping yang makan berate. Memang dari pembukaan mereka, menunjukkan bapak-bapak perang memang di big end. Big end itu jumah chapter Minggu, biru. Tapi sampe kamis itu merah. Artinya tidak menutup biaya Prasi. Tapi ketika big end boom, menutup biaya Prasi Minggu. Karena perang yang seperti itu, maka, maka tinggal harus agresif. Harus, setiap big end dia bikin produk baru. Atau paling tidak, bikin produk undangan baru. Karena sebenarnya, udah ada anginya. Boom, menunya ada jadi yang yang dilakukan itu, adalah menambahkan menu-menu baru untuk undangan sebarang-barang datang. Makanya di maksud itu ada opata silah. Marketing brings in consumer. Operation bring back customer. Kalau sudah kembali itu namanya customer. Nah, mau ditilang pelangan. Karena ada dua kali balik itu sudah pelangan. Ya. Ini terjehop ini. Kalo sudah punya pelangan berarti sudah brandi. Sudah punya brand. Karena brand itu pras. Brand itu love. Brand itu ikatan emosi. Brand itu banyaklah. Tapi sifatnya sport itu. Kalau branding itu bisa pakai product, pakai service, pakai komunikasi, iklan, pakai kreatgin juga bisa branding, loco, bisa. Macam-macam kalau sudah ikut untuk siap saya tahu, ada masa brand apa, branding apa. Itu dah tahu. Jadi, tidak perlu dicilasin lagi. Yang saya ingin saya itu, adalah perusahaan besar itu kalau melakukan business. Maka tiga piran itu harus ada. Bukan cuma satu piran tiga wang. Bukan cuman saling itu wang, ya. Jadi, kecuali kalannya memang pedagan ya pedagan itu tidak punya barang, iya barang apa saja yang di depan mata bujah di jual, ya. Kita jualnya itu butunya adalah saling. Barang habis cari barang lain untuk saling lagi. Ini sama cerita begini, di Mac itu kalau ada pembukaan toko, pembukaan listo, itu di buar namanya Grand Opening. Grand Opening Tugar gede-gedean, yang diumbang jago ribuan orang datang, di situ dikasih listkon. Karena Grand Opening. Itu jual listkan atau apa itu jual listkol itu agar supaya orang beli, mengkonsumsi dan mendapatkan eksperience, mendapatkan pengalaman dari yang dia makan. Garip pengalaman itu lah mulak tim mulai, buncul branding. Buncula branding itu ketika sehingga Grand Opening di skon pada waktu Grand Opening itu disuputnya branding. Karena apa menghasilkan brand lewat eksperience supaya tau ya tetap-tap ya. Setelah orang itu makan di waktu Grand Opening dikasih kopon. kopon, kopon, koponnya belai begini. Di next phase Anda mendapatkan 20%. Jadi kala anda balik lagi Anda mendapatkan 20%. Komodian diperialkan ini bagi-totian nukardin kopon dikap 2%, dikap 2%, dikap 2%, dikap 3%, supaya dia bergaki. Ketika dia sudah balik lagi, balik lagi, balik lagi. Itu udah dikanya sudah di di dikik oleh rasa mektik. Itu program selling yang kemudian membangun brand. Jadi saya yang memahun brand itu bukan suatu yang di desain itu itu nggak. Branding itu akipat. Akipat dari program itu timbulah kedekatan. Kedekatan. Jadi udah atau rasa mektik, udah balik lagi. Ketika dia balik yang kempak sudah dari kasih. Kupon itu nggak apa, dia sudah menjadi pelanggan. Yang meskipun KFC-nya si kupon, dia nggak akan KFC. Karena karena sudah rasa itu sudah melokat di liganya dan juga di otaknya. Kalau isiannya masjid, produknya yang mengenin. Itu masjidnya begini. Jadi masjid mengajarkan istilahnya sangat simple, tapi itu processnya seperti ini. Itu sape-rapekan lagi tahun 2003. Ketika saya launching ya. Launching. Bukan mencari cash nggak launching bukrim. Ya. Nah, dengan pegiran tetentu akhirnya waktu itu kelihan saya mengatakan Pak Bi. Bajet iklannya atau bajet promosinya. Itu sama pesarnya dengan silas yang ada dapat. Jadi kalau silasnya itu lima puluh em. Maka Bajet promosinya lima puluh em. Itu itu ah okey oh gitu. Perusaha menggunakan konsepnya sama dengan mektik ini. Kita kasih experience dulu. Nah, ketika ano, ketika launching bukrim itu, konsepnya adalah kita marah butni. Waktu itu ketika di tanya, saya bilang, "Pak, kalau mau masuk, paling enak itu, paling gampang itu yang yang yang paling banyak di pake. Yang paling banyak di pake itu apa? Sabun Jujud Miring. Waktu itu pake Sabun Jolek. Sabun Jolek. Karena Sabun Jolek itu murah dan. "Yak pada nasi Jolek?" Ya, tiap bari pasti di Jolek itu. Nah, itu bagian daripada ritua dari konsumen. Nah, yang kita rebut ini, marketnya wings. Ada wing-spiru, ada sabun ekonomi, ada dandut, ya. Ada di kamera itu. Yang sudah menguasai satu koma dua trilion, dari pasak yang bezannya satu senat trilion. Jadi, apa ramanya, kita kevit menghadapi golayar. Perikannya itu, saya tanya-anya, oh, melawan golayar itu di budget lu berapa, kevinan target social ini 50 MB. Betih, promosinya, 50 MB juga. Oh, itu semangat saya. Oh, iya. Tapi, dengan jatatan, kalau saya sangat diampai ya, sudah begitu. Jadi, lu nantangin gue nih. Saya bilang begitu. Akhirnya, saya lahirkan konsep buku by one cat one free. By one cat one free ke program sales, bukan program branding. Saya nyontik itu, programnya Mac 3. Jadi, dikasih promo supaya orang experience. Jadi, pakannya kita pukul by one cat one free. Dia tanya. Dia tanya ranya di mana, papi? Kalau di Jakarta, karena papriknya di Jakarta nih. Di Jakarta, bahwa sudah berapa. Marketnya berat banget. Kita nyarang di Zorabaya saja. Sekalihan nyarang papriknya ring sana-sana. Oke, pak itu. Jadi, di Jakarta telefon, ini kita mau keserah, nyarang di Zorabaya, supaya biayanya tidak memberatkan, gimana kalau kita bikin paprik di Zorabaya? Udah. So, kampang itu. Mereka ada ngomong itu, luar biasa. Akhirnya, ya, apa yang ini? Akhirnya, pilih paprik, sapun pilih di Zorabaya. Supaya, disibusinya itu tidak terlalu mahal. Perahalah kita dengan pukul by one cat one free. Pilih satu dapertua, cuma pukul kring yang bisa. Pukul, pukul, pukul. Serah untuk pasar. Itu yang namanya pesaing menjadi matilankah. Menjadi matilankah. Ini human policy. Prop to be wingscop family. Oh, okay. Kita pernah perangnya. Nah, wingsh ini matilankah. Kenapa? Kutin ini kita. Selatih kita. Kalo dia ngikutin nilis satu dapertua, kita kan cuma nilis satu dapertua, ya berhati kan? Jadi korbanin cuma 25M. Semuanya, wingsh utrak satu kemahan dua triliun. Kalo satu dapertua, berapa nilis? 600M. Nah, selagi mereka bungu, kita serang terus. Apa yang saya ingin sampe kan adalah dengan program sales, anda bisa membangun branding. Melakukan branding, untuk membangun brand. Melalui experience jadi, ipu-ipu itu, pulih sabundolek, barang-barang nak terlalu membedakan, cuma sabundolek kita itu, kita bikin lebih wangi, lebih banyak pusahnya. Sehingga experiencenya itu, nyangkut. Jadi, kemahiran terlalu banyak, terlalu banyak pusahnya. Akhirnya, sabundolek 2pc itu, perapa-apa di pakanya. 2 minggu. 2 minggu, udah raya pengplung, boom, oke, berhati. Or comes to your sandals. Nih sandal berdua-dua-dua. Semuanya, udah raya belum. Kita perkira kan, masyarakat surabu ya, sudah, sudah apa namanya, sudah lahial. Kita cabut, kan? Ya, kita cabut di masa, sampai tahun. Tidak itu kalau, pesan gak kecil, gak bisa gitu. Nah, saya bilang, buku itu kotongnya satu. Perlukan plis satu berdua itu, sebetulnya, anda ngasih hatiah. Bukan seharga, bukan seharga jualnya sih buku, tapi hape pengnya buku. Jadi, ini adalah, konsep, bagaimana sehingga sama brand-ing, itu selalu mendukung. Tidak, tidak. Tidak kotongnya. Padahal tertentu, ya. Saya paling antih melakukan, melakukan program sehingga, karena, soal alat brand-ingnya, gak jalan-jalan. Nih jalan-jalan. Soal alat brand-ingnya, gak jalan-jalan. Karena, brand-ing itu kan membuat pembeli itu, berlaki-beli lagi, karena pelanggan. Ini ada rembatus tahun, kita dapat, markasianin, 40%. Itu, saya ditepuk, mau ujurkan. Terima kasih, oh, begitu. Jadi, ini kelihatan. Jadi, brand-ing itu, gak harus, logunya bagus. Kalau orang itu menjadi, keren ketika di kalsinya ada logunya, buat lo, gue bagus. Itu, dah pasti itu. Nah, ikilah, atau antideas itu, itu 10 milion, itu untuk membuat logunya, karena, akan menjadi kan, marketing 3.0, jadi diri dari orang itu. Itu wajib dibuatin bagus, so, oh, kalau Ella, siapa lo makan? Oke, ini ada orang guman bagus ini. Selling menciptakan experience, experience menciptakan kasemar, kasemar berarti sudah brand-ing. Yes! Itu, perangguman yang sangat kebat. Jadi, itu kerja sama Selling, sama brand-ing seperti itu. Kalau, misalnya, ada kedialin ngamau, pakai Selling ngamau, karena, dia sudah mempunyai budget khusus empat brand-ing. Ada yang beliau, brand-ing apa? Harga, dia teras tufeliau. Itu dibuat semua brand-ing. Tungan tujuan nanti, akhirnya, brand-ing-nya, program-nya mengecil, orang sudah loyal. Jadi, kayak, maksudnya tadi, begitu, orang sudah loyal, udah. Nah, dalam, ini yang mak di, pengalaman ceritme di itu, setelah kita tiga tahun itu, bergelut sama produk-baru, setiap weekend, produk-baru, setiap weekend, kita ceritakan produk-baru, camping-baru, setiap weekend, camping-baru, ternyata maksudnya, maksudnya, maksudnya, maksudnya, maksudnya, ternyata maksudnya, maksudnya, maksudnya, maksudnya, ternyata maksudnya, setiap weekend, bergelut sama, setiap weekend, bergelut sama, setiap weekend, bergelut sama, bergelut sama, setiap weekend, bergelut sama, setiap weekend, setiap weekend, bergelut sama, setiap weekend, bergelut sama, setiap weekend, bergelut sama, setiap weekend, dari klien saya bahwa Tosi EO must be the creative director, keren bukan main itu. Awalnya dari politik kendo, politik keren Pak Chandra itu memilih, berusahaan saya, waktu itu kan itu. Because Tosi EO is the creative director, i is the problem suffer. Keren habis apa kerennya? Nguar ini banyak, liang-liang itu pada tahun. Bayar Pak Pi satu orang aja udah, soal saya semahulusan. Nah itu yang saya bilang lain, Pak. Jadi ada klien glen besar saya yang menjadi klien mak. Kliennya itu menjadi besar. Jadi panggungan pemgak sejarahnya Pak Pi. Tapi ada juga klien glen itu kecil yang jadi milestone. Perjalanan menuju. Jadi gak semuanya lelain mak juga. Nah yang milestone itu beberapa saya tangan ini, tapi bawa-bawa saya lepas itu. Nah saya pengen meniung dikit tentang kopi raitingnya. Memang kopi raiting untuk sales tidak sambar dengan kopi raiting untuk branding. Itu memang ada bedanya. Kalau sekarang bilang iklan, itu referensinya itu iklan Facebook. Itu masuknya iklan mini. Klan mini gambar kecil, gambar kecil. Terus ada tulisannya di bawahnya, captionnya. Jadi cuman saya namanya iklan itu ya video. Cuman turut kasnya. Yang sekarang mungkin yang menyerupai itu iklan YouTube. Yang agak umbedakan itu pendekatannya. Kalau yang generasi ex ke atas ke boomers itu, masih mirip ya, kayak dulu. Tapi kalau yang generasi saya masih, tapi kok generasi zep sampai ke milinya. Bahkan post milinya itu agak anuh buat saya, agak asing buat saya. Pendekatannya itu berita. Terlalu banyak apa ya? Berani banget main-mainnya gitu. Jadi mereka senengkannya lupa bahwa pisis isterinya. Jadi enggak semuanya dijertiakan dengan main-main. Gua lo pun pada jaman saya dulu, David Guilfield juga mengatakan bahwa The best copywriting is humor. Jadi kalau orang itu bisa tertawa, itu artinya copywriting ini bener. Tertawa itu symbolisasi dari reaksi. Di kol atau impact. Kalau copywriting anda tidak punya impact, maka tidak ada reaksi. Kalau copywriting yang jadil mempunyai impact, orang itu akan membeli. Mereka ada yang punya, ada yang punya. Jadi, itu ingin saya sampaikan. Dan iklan itu, enggak jelik-jelik amat. Saya membesarkan penyapurusahan, penyapurin itu karena iklan juga gitu. Saya cuma pakai organik. Saya kan ragum saja bahwa. Tonggak dari bagaimana bisnis itu marketing. Suka-suka marketing. Karena marketing itu yang mendifinisikan produk, menyusah darga. Kemudian mereka distribusi dan juga memberikan promosi. Kalau mau bisnisnya itu dikelawali pelanggan, maka bangun dah brain. Kalau mau anda setiap hari itu membeli baru. Nah, kelawalah dengan sering. Ada produk yang tidak perlu pelanggan. Kalau anda coba peti mati, mungkin anda tidak perlu. Tak perlu brainnya karena orang sama mati sekali. Mungkin perlu program selling. Kalau anda mati hari ini, Dapet diskaling 50 persen. Siapa yang mau mati hari ini? Maaf ini berjanda agak vulgar nih. Tapi ya begitu lah. Keselatu yang menjadi peris sekali, itu anda butuh program selling. Kamera itu kan peris sekali untuk 5 tahun. Peragi ya, rumah itu peris sekali untuk siantawan. Butuh perangkan selling. Tapi kalau dia beli siap hari, siap bulan, dia beli. Maka yang anda butuhkan bukan bendaingkan, mereka harus jadikan pelanggan. Masih sekali untuk atunya sekali lagi saya sudah ingin disini. Wabilahi Tafrik Barjaya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Podcast Summary
Key Points:
Selling berfokus pada transaksi cepat dengan insentif seperti diskon dan hadiah, namun cenderung mengurangi profit dan menciptakan harga terendah.
Marketing dan branding bertujuan membangun hubungan jangka panjang, menciptakan pelanggan setia yang rela membayar lebih karena nilai (value) yang dirasakan.
Pengalaman pribadi di Sakura Film menunjukkan peralihan dari strategi selling ke branding berhasil membalikkan pangsa pasar, dari 30% menjadi 70%.
Branding membangun ikatan emosional melalui pengalaman konsisten (seperti iklan berulang atau experience produk), yang akhirnya menghasilkan loyalitas dan harga premium.
Dalam bisnis, kombinasi selling (untuk produk siklus pendek atau perkenalan awal) dan branding (untuk produk siklus panjang) sering diperlukan, di mana selling bisa menjadi pintu masuk untuk membangun brand.
Summary:
Pembicaraan ini menjelaskan perbedaan mendasar antara selling, marketing, dan branding berdasarkan pengalaman nyata. Selling bertujuan mencapai transaksi cepat dengan alat seperti diskon, bonus, atau hadiah (contoh: program 1 gram emas di Sakura Film), tetapi sering mengorbankan profit dan hanya menghasilkan harga terendah (rock bottom price). Sebaliknya, marketing dan branding berfokus pada menciptakan pelanggan setia jangka panjang.
Branding, khususnya, membangun nilai (value) dan ikatan emosional melalui konsistensi (seperti kampanye berulang "Sakura Film" atau konsep "Pinom"), membuat konsumen rela membayar premium. Pengalaman di Sakura Film menunjukkan peralihan strategi dari selling ke branding berhasil membalikkan pangsa pasar dari 30% menjadi 70%. Kesimpulannya, selling cocok untuk produk siklus pendek atau perolehan pelanggan awal, sementara branding vital untuk produk siklus panjang dan loyalitas.
Keduanya dapat dipadukan, di mana program selling (seperti "buy one get one free") dapat menjadi pengantar untuk membangun pengalaman dan akhirnya brand yang kuat.
FAQs
Selling berfokus pada penjualan cepat dengan insentif seperti diskon atau hadiah, sementara marketing bertujuan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan untuk penjualan berulang.
Branding menciptakan nilai tambah (value) yang membuat konsumen bersedia membayar lebih tinggi, menghasilkan harga premium dibandingkan hanya mengandalkan harga dasar dan operasional.
Contohnya Sakura Film yang awalnya menguasai 30% pasar, setelah kampanye branding berhasil menguasai 70% pasar karena pelanggan setia membeli film berulang kali.
Gunakan selling ketika produk memiliki siklus pendek atau untuk mencapai penjualan cepat dengan insentif, seperti dalam program 'grand opening' atau penjualan terbatas.
Selling sering mengurangi profit karena biaya promosi seperti diskon atau hadiah, sehingga menghasilkan harga terendah (rock bottom price) tanpa nilai tambah.
Tujuan branding adalah menciptakan pelanggan setia yang membeli berulang tanpa promosi, membangun ikatan emosional dan loyalitas terhadap merek.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.