Go back

Cara JATUH CINTA LAGI Dengan Dirimu Sendiri di Tahun 2026! | SUARA BERKELAS #118

0m 0s

Cara JATUH CINTA LAGI Dengan Dirimu Sendiri di Tahun 2026! | SUARA BERKELAS #118

Pembicara 1, seorang communication trainer, berbagi tentang perjalanan mengatasi insecurity, terutama dalam kehadiran digital. Awalnya, ia merasa tidak percaya diri saat membuat konten karena terobsesi dengan validasi eksternal seperti jumlah penonton. Namun, setelah melakukan "inner work," ia menyadari bahwa kunci kepercayaan diri adalah memvalidasi diri sendiri dan kembali pada niat awal, yaitu menebarkan manfaat, bukan mengejar popularitas. Ia menekankan bahwa empati tidak berarti harus setuju dengan semua pendapat orang lain, melainkan menghargai perbedaan sudut pandang. Pembicara 2 menambahkan bahwa insecurity sering muncul dari pola pikir yang terbentuk sejak kecil, yang disebut "personal CV." Nilai-nilai seperti "diam itu emas" atau "harus selalu ranking satu" dapat terbawa hingga dewasa dan menyebabkan rasa takut gagal atau overthinking. Untuk mengatasinya, kita perlu merevisi nilai-nilai tersebut agar lebih relevan dengan kehidupan saat ini. Tips praktis yang diberikan termasuk memulai percakapan dengan bahasa tubuh sederhana, seperti mengangkat alis sambil tersenyum, tanpa takut ditolak. Intinya, kepercayaan diri bukanlah bakat bawaan, melainkan hasil dari latihan dan keberanian untuk memulai, meskipun ada risiko kegagalan. Dengan fokus pada niat dan nilai-nilai positif, kita bisa menebarkan energi baik ke lingkungan sekitar.

Transcription

10181 Words, 62119 Characters

Indonesian
Pembicara 1 Orang yang ngeklaim dirinya sebagai seorang pemalu KPD berarti kita harus percaya orang itu sudah sangat mahir untuk jadi pemalu s 3 pemalu p hd pemalu kenapa pemalu itu kumpulan perilaku bila lu ketika aku mulai jatuh cinta lagi sama diriku sendiri, aku akan dengan mudah membuat lingkungan di sekitarku jatuh cinta dalam tanda kutip nyaman. Empati kita enggak harus selalu setuju ya sama orang lain. Bukan berarti karena aku berempati sama kamu. Aku harus setuju sama semua statementmu sehingga aku jadi merasa bahwa apa yang aku katakan ini enggak ada. Harganya juga enggak begitu juga empati tuh. Kita hanya menghargai bahwa ada point of you lain selain apa yang kita punya. And thats okay. Nah kita terjebak di satu fenomena yang namanya fundamental atribut error. Aku mulai ngerasa ada yang aneh sama relasi ku dengan uang ketika ada beberapa indikator indikator perilaku berulang yang akur rasa ini aneh yang 1. Aku males bertransaksi. Dalam arti sekalipun itu kewajiban aku tunda kalau kita nabung membawa rasa takut ah sisiin uang ah takut ada apa apa? Aduh takut nanti kalau pengen ini enggak ada yang ketabung itu bukan cuma uangnya tapi rasa takutnya juga. Makanya aku berusaha saving and spending with love with happiness sehingga aku nggak menabung rasa takut itu sendiri. Pembicara 2 Halo semuanya kembali lagi di podcast suara berkelas hari ini aku happy sekali teman teman karena kita kereta tangan tamu berkelas ada kak di aris kita. Akhirnya suara berkelas. Pembicara 1 Akhirnya oh di sini tempat produksi podcast itu. Pembicara 2 Yang intimate itu yang terlalu serius kata orang. Pembicara 1 Makasih loh sudah ngundang aku ke situ. Pembicara 2 Bilang sebelumnya ada suami, keadaan datang ke sini, masak dan temannya alurita akhirnya. Pembicara 1 Ke sini. Pembicara 2 Oke kadea mungkin orang belum tahu, tapi aku juga bisa bilang ini aku ketika ketemu dea 1 kali sebulan lalu di acaranya aludita itu punya kesan yang positif sekali. Ini orang kayak percaya diri sekali gitu ya aku enggak tahu aura itu seperti apa aku gambarkan, tapi aku nangkapnya ini orang yang mungkin sudah lama menghadapi fase e security nya, terus dia berhasil melewati fase itu dan sekarang udah ketemu dengan versi dia yang paling percaya diri gitu. Seperti apa prosesnya dan sampai hari ini? What is your because insecurity? Pembicara 1 Bilang buat yang belum tahu, mungkin bilal juga enggak tahu aku tuh pekerjaannya ngajarin orang untuk percaya diri ya. Jadi memang sebagai seorang communication trainer aku kliennya corporate bertemu dengan ratusan orang di dunia nyata aku mengajar meminta mereka untuk memberikan apa ya? Pelajaran sharing tentang bagaimana menjadi jauh lebih percaya diri bagaimana ngomong yang enak, bagaimana ngomong yang efektif terutama di dunia korporat. Terus apakah orang yang ngajarin orang percaya diri itu selalu percaya diri? Jawabannya itu enggak aku kalau misalnya disuruh bilang untuk ngomong di depan ratusan orang secara langsung ribuan orang sekalipun. Aku jawabannya aku enggak takut. Aku yakin aku bisa. Tapi kalau bila tanya ke aku tadi uh apa my biggest inchurity itu kehadiran digital bila. Kehadiranku secara digital menjadi hal yang menurut aku sempat jadi insecurity co. Gitu kenapa? Kalau ngomong di depan banyak orang langsung aku. Oh lets go bisa. Tapi ketika turn out untuk bikin konten aku upload content gitu ya. Ternyata aku menemukan bahwa ada sisi diriku yang merasa kalau misal kontennya itu vlog kontennya gak nyampe ke orang ga tepat sasaran. Kontennya gak viral dalam tanda kutip aku jadi kayak ngerasa. Oh kayaknya bikin konten its not mying deh. Kayaknya gue enggak bisa deh bikin konten deh kayaknya kerjaan gue emang korporat aja deh, jadi trainer aja deh enggak usah jadi konten creator dan lain sebagainya. Aku kulit bilang itu trigger kan enggak mungkin dong datang. Tiba tiba pemikiran kayak gitu, trigger aku kuliik dan sampai akhirnya ternyata si dea ini sempat ada di fase house validasi eksternal ingin dilihat ingin disukai. Ingin dianggap keberadaannya dan itu termanifestasi lewat uh. Kalau lex di sosial media nya sedikit rungsi kalau misalnya kontennya enggak fyp ngerasanya kayak oh im not good 6 dan segala macam sampai akhirnya aku coba do my inner work enggak beres nih dalam arti kata harus dibenarin nih pemikiran kayak gini. Dan ujung ujungnya ya benar. Kita enggak butuh kan validasi sebenarnya dari orang lain yang kita butuhkan adalah melihat diri kita sendiri. Kita percaya sama diri kita sendiri. Kita menganggap diri kita sendiri dan itu cukup karena waktu aku mulai. Memvalidasi diriku sendiri bilang dunia luar ngikutin. Ya kan karena our inner world itu kan reflek. To other world juga jadi masih dalam perjalanan untuk bisa semakin apa ya memvalidasi diri. Tapi aku rasa aku sudah ada di tahap yang paling tidak sadar lah dengan insecurity itu. Gitu kalau bilang. Pembicara 2 Pertanyaan yang dibalik tiba tiba nih orangnya. Tapi tapi aku suka sekali pernyataan inner work kita itu merefleksikan dunia di luar kita gitu. Aku juga pernah di fase kayak kok. Di luar itu serba serba enggak bagus ya serba buruk gitu ya. Padahal aku refleksi lagi. Ternyata di dalam aku juga lagi enggak bersih lagi koto kotornya gitu. Kalau dunia itu indah. Berarti di dalam hukum juga indah. Aku pernah di fase seperti itu. Persis sama kayak kadea gitu ketika aku bikin konten dan konten yang enggak ramai. Padahal valuenya bagus. Aku ngerasa kok ada yang kurang ya. Ternyata selama ini aku cuma melihat indikator keberhasilan konten cuma dari sisi numbers atau viewersnya. Padahal bukan itu poinnya kan? Poinnya tersampaikan ke audiens enggak apa yang kita ingin kasih valuenya gitu ya. Pembicara 1 Niat awal kita apa? Untuk mulai ini aku selalu kembali lagi ke niat gitu semuanya aku lakukan intentional. Sekarang bukan semata mata aku pengen um hadir di digital tuh supaya memenuhi pr supaya konsisten konten setiap hari atau supaya dapat viewer like followers yang banyak. Tapi aku coba balik lagi. Aku punya satu nilai bilang yang aku pegang teguh dari dulu sampai dengan sekarang. Dalam bahasa jawa itu urap ikut hidup itu harus membawa cahaya hidup harus membawa kebermanfaatan. So apapun yang aku lakukan harus ada dinilai itu. Ketika aku mengajar, aku memposisikan diriku untuk menebarkan cahaya ke orang. Lalu aku mikir kenapa enggak itu juga dipake pada saat aku bikin konten intensinya bukan lagi aku mengejar popularitas, bukan lagi mengejar fame bukan mengejar angka, tapi aku menebar cahaya menebar kabar manfaatan menebar ilmu yang bermanfaat. Semoga jadi amalan jariyah kan penginnya begitu gitu. Pembicara 2 Sekarang kita balik ke sisi komunikasi yang berhubungan dengan kepercayaan diri. Di awal tadi aku berpikir bahwa kok bisa seorang dia tuh ketemu orang, mungkin mungkin dalamnya belum tentu happy happy terus tapi tetap menebarkan sisi happy itu sehingga orang orang yang mungkin lagi enggak happy juga dapat energi happy nya gitu. Gimana bisa jadi seperti itu? Apakah ada teknik simpel atau memang latihan keras yang dilakuin selama ini? Pembicara 1 Kalau pertanyaannya itu bilang uh gimana, apakah selalu happy? Terus tentu tidak di dalam sini pasti juga ada macam macam. Pembicara 2 Gitu ya pasti. Pembicara 1 Cuma pada saat aku berpikir bahwa oh, aku mau ketemu orang ini orang enggak enggak enggak punya hak untuk menerima basian apa yang terjadi di dalam dong? Iya dong, ketika aku ketemu bilal, maka aku harus dalam keadaan netral. Tapi bagaimana ya caranya supaya tetap terlihat percaya diri supaya bisa menebarkan energi positif supaya bisa kelihatan enak aja gitu dilihatnya. Balik lagi ke poin awal tadi bilal. Enak dulu di dalamnya dan aku menemukan bahwa ketika aku mulai jatuh cinta lagi sama diriku sendiri, aku akan dengan mudah membuat lingkungan di sekitarku jatuh cinta dalam tanda kutip nyaman pada keberadaanku di sekitarnya. Ujung ujungnya inner work lagi bilang. Jadi ya kalau misalnya teman teman mau percaya diri ketemu sama orang baru ini mungkin juga jadi trik ya mau bisa ngomong sama orang baru mau nyaman ketemu orang orang tuh bisa nyaman ketemu sama kamu. Yang 1 gak usah belajar dulu deh tehnik komunikasi gimana cara ngomongnya gimana artikulasinya gimana intonasinya coba praktekkan dulu ke diri kita sendiri. Dalam arti kita kalau ketemu orang itu selalu mempersiapkan diri. Wah gua mau harus ngomong apa ya pake intonasi yang seperti apa ya gue harus um apa memilih katanya gimana supaya enggak salah right? Tapi coba kita tanya. Kalau elu ngomong sama diri lo sendiri itu kedengarannya kayak apa? Karena percaya atau enggak kita adalah orang yang mulutnya paling jahat sama diri kita sendiri. Karena kita enggak ada yang dengar bilallah. Kalau kita ngebatin kita kalau mau 4 diri sendiri yang dengar cuma kita jadi bebas unfilter mau ngomong apa juga bebas. Masalahnya yang kita batin itu tetap kedengaran sama telinga kita dong dibawa ke alam bawah sadar dong dianggap sebagai sebuah kenyataan dong. Dan itu yang terjadian terefleksi lewat energi yang kita bawa. Setiap kita ketemu orang lain dar gimana orang mau nyaman gimana orang mau ngelihat kita sosok yang percaya diri kalau sebenarnya kita enggak percaya percaya amat sama diri kita sendiri. Pembicara 2 Aku ada moment gimana beberapa kali LC naik pesawat tiba tiba kan di samping waktu kita enggak kenal orangnya siapa gitu. Jadi aku kasih kayak safel meeting believe nya pasti label kepala aku bahwa aku introvert, jadi aku harus nunggu dia yang respon dulu atau dia yang menyapa dulu gitu ya. Di posisi itu aku terus berpikir dan aku membisikkan di kepala aku bahwa aku menyapa biar ada komunikasi biar siapa tahu dia orangnya kemudian jadi teman kan kita enggak pernah tahu kan? Pembicara 1 Ya. Pembicara 2 Kita enggak pernah tahu gimana caranya atau teknik simpel apa yang bisa seorang dea sampaikan ke aku dan ke teman teman di sini yang mungkin sebenarnya kita mau ngobrol sama orang. Atau kita tahu kalau orang ini sebenarnya mau juga ngobrol sama kita, tapi tanggung jawab di kita untuk open discussion sama dia gitu gimana gimana? Pembicara 1 Pasti kalian sendiri sudah tahu jawabannya apa dong do it. Orang tuh berpikir ketika ngobrol sama orang baru harus tiba tiba ngomongin isu negara harus tiba tiba isu global kagak enggak harus ngomong yang seperti itu. Enggak harus kayak kesannya harus pakai topik yang sangat amat bermutu nih untuk bisa membuka conversation sama orang enggak kalau misal mau tips mudahnya bahkan kita bisa pakai non verbal casher. Untuk membuka kalau kita itu welcome. Caranya gimana simply ini mungkin untuk teman teman yang yang introvert gitu ya ini enggak menguras energi kok cara ini, tapi kita bisa mencoba ini untuk bisa terlihat ramah dan juga untuk bisa membuka peluang kita ngobrol sama orang baru. Ini papasan sama orang di bandara kita lagi antri terus kita duduk di jendela yang di tengah udah ada orang nih kan biasanya orangnya akan berdiri dulu dong untuk kita masuk paling kita bilang apa sih permisi pak? Makasih pak gitu ya. Tapi sebelum kata itu keluar dari kita coba untuk 1 angkat alis kita sambil senyum ke dia. Enggak usah ngomong bilal enggak susah kan. Di situ kesannya kita welcome untuk ngobrol, karena bisa jadi orang baru itu juga ada di posisi kita. Iya enggak ada di posisi kita yang aduh kagak mulai enggak ya dan lain sebagainya. Kenapa enggak kita jadi orang yang mulai duluan? Dan kalaupun ada penolakan dari orang lain enggak apa apa juga bukan berarti mulai saat itu terus kamu memutuskan untuk oke mulai sekarang karena gue ya ditolak, gue enggak akan lagi deh. Enggakjak ngomong orang sembarangan enggak gitu juga. Jadi enggak rugi kan ngangkat alis sambil senyum. Pembicara 2 Aku setuju sekali dikata kata takut ditolak takut gagal. Takut dikacangin dan takut takut itu yang kemudian. Duplikasi ke takut berikutnya sehingga leseh besok aku tiba tiba naik pesawat lagi. Aku ketemu dengan orang. Aku akan mengulangi hal yang sama. Tapi ketika aku mencoba untuk kayak tadi duit atau sesimpel, aku senyum dan memperkenalkan halo saya bilang. Tidak ada penyesalan sebenarnya ya. Pembicara 1 Dan kita enggak tahu ke mana ini akan membawa kita loh sebelah kita ini siapa opportunity apa atau obrolan apa yang akan kita dapat. Kita enggak akan pernah tahu jadinya ya udah ya enggak rugi juga kan? Dan worst case skenarionya apa sih kalau ditolak? Puskesmas skenarionya apa? Kalau misalnya kita dikacangin. Pembicara 2 Enggak ada. Pembicara 1 Ya kalaupun ngerasa kagok ngerasa awkward ngerasa krick krik gitu ya flatnya 2 jam doang. Habis itu enggak ketemu lagi. Iya enggak sih ya? So do it. Pembicara 2 Kalau masuk ke dunia. Panggung atau memang harus dituntun tentang pilih di depan umum. Pasti ada rasa juga takut dianggap aneh dianggap gagal dianggap. Kalau tiba tiba seorang dea yang tadi katanya aku pede aja gitu ngomong di depan publik tiba tiba disuruh maju ke panggung. Aku pede aja beda sama bentuk ketika harus bikin konten gitu untuk orang yang enggak pede nih. Sesuai dengan pengalaman kamu harusnya seperti apa dan apa yang bikin mereka kemudian bisa lebih percaya diri sesimpel ketemu orang sampai di level ngomong di depan ribuan. Pembicara 1 Orang. Kalau ada orang yang ngeklaim dirinya sebagai seorang pemalu gak pede? Berarti kita harus percaya orang itu sudah sangat mahir untuk jadi pemalu. S 3 pemalu. Tapi HD pemalu kenapa pemalu itu kumpulan perilaku bila berarti kalau dia sudah mengklaim dirinya sebagai seorang pemalu berarti dia sudah mempraktekkan perilaku perilaku orang malu dalam jangka waktu tertentu. Masalahnya dipraktekkannya berapa lama perilaku orang malu apa sih menghindari kontak mata. Menghindari basa basi. Enggak mau membuka percakapan duluan dan lain sebagainya gitu ya? Perilaku itu diterapkan 5 tahun. 10 tahun. Atau seumur hidup gimana? Enggak jago bilal. Dan kenapa kok dia orang orang, teman teman kita yang menganggap dirinya pemalu melakukan perilaku itu itu enggak datang tiba tiba bilang. Bilang punya CV enggak punya CV kita mostly seputar educational background, pengalaman skill pencapaian ya. Dan CV itu bisa bikin kita dapat pekerjaan truk, tapi untuk bertahan di satu pekerjaan kita butuh sifillah. CV ini namanya personal CV. Isinya adalah nilai nilai. Believe kepercayaan yang kita bawa. Yang kita download. Daripada masa pengasuhan kita waktu kecil. Dan kita jadikan pedoman hidup hingga saat ini. Hm so ini yang selalu aku bawakan di kelas kelas trainingku bersama dengan Kementerian bersama dengan uh perusahaan perusahaan swasta maupun uh badan usaha milik negara. Aku ajak mereka bilang untuk bedah personal cv nya bukan profesional cv nya personal cv nya nilai nilai apa yang tertanam di masa kecil terkait komunikasi yang membentuk diri kita. Jadi seperti hari ini contohnya gimana sih mbakde? Ada anak yang waktu kecil itu. Tidak mendapat ruang untuk berbicara. Karena kalau beropini tandanya ngelawan. Karena kalau beropini enggak boleh masih kecil ini urusan orang tua. Ya. Berakhir menjadi anak yang oh silent is goald. Silent is gold believe ini dibawa bilang sampai dia besar. Sampai dia dewasa. Akhirnya di lingkungan profesional dia memilih silent is gold gue enggak layak untuk ngomong, jadi gue enggak bisa ngomong ada orang yang dicintai karena berprestasi. Kalau ranking satu berarti anak mama kalau enggak ranking enggak ya enggak tahu anak siapa. Tumbuh besar jadi apa sih? Bilang over achiever benar enggak sih orang yang over achiever mostly akan overthinker. Takut gagal soalnya takut mengecewakan orang tersayang. Akhirnya apa wuh sebelum mulai sesuatu pertimbangannya banyak oh mau bikin konten nih antar dulu deh bikin skripnya dulu deh antar dulu deh sewa studio dulu deh entar dulu deh nunggu hp nya baru deh menunda nunda nunda nunda nunda bukan karena dia enggak percaya diri, tapi karya dia pengin hasilnya benar benar oke banget. Tapi enggak mulai juga. Akhirnya ada orang juga yang waktu kecilnya pengabaian diabaikan dititipin ke neneknya dititipin ke tantenya membawa nilai i am not enough he eh. Akhirnya apa waktu besar di dunia kerja di dunia profesional saat harus manggung dalam tanda kutip di karir mereka masing masing, mereka ngerasa enggak selayak itu. Lah ini kan ada nilai nilai yang kita download di masa kita diasuh pada saat kecil. Masalahnya kita terapkan nih kita bawa dan kita anggap benar. Kalau profesional cv aja kita upgrade terus. Masa iya personal cv enggak? Ya enggak sih? Karena nilai nilai sudah enggak relevan, sudah beda dan sudah enggak sama. Jadi kemarin baru saja bila aku ngisi di salah satu Kementerian, aku minta mereka menjawab 3 pertanyaan yang untuk menggali sip uh personal CV ini. Ada peserta yang mengaku bahwa ketika kecil dia itu terpaksa harus menurut karena anak yang baik adalah anak yang nurut which is good. Maksudnya oh iya oke lalu pak akhirnya saya sadar terbawa sampai sekarang saya ada di tahap yang sulit untuk mengambil keputusan. Posisinya leader loh bilang. Ini tercermin lewat kehidupan profesional dan juga personal saya. Bahkan dikomplain sama istrinya karena dia enggak bisa ngambil keputusan dengan cepat. Ada kan orang orang. Pembicara 2 Seperti itu pasti. Pembicara 1 Dapetnya dari mana? Nggak ujug ujug dapatnya dari apa yang kita download pada saat masa pemasuhan di waktu kecil. Pembicara 2 Gitu dari orang luar tidak bisa melihat personal cv itu. Pembicara 1 Kita bisa. Pembicara 2 Membedahnya kita bisa merevisinya. Aku sempat sempat setuju sekali ketika aku bertemu dengan teman temanku yang memang jadi SDSMPSMA itu memang harus reni satu gitu. Dan fakta lapangan ketika aku ketemu sekarang masih overthinking untuk memulai sesuatu gitu. Ternyata ada orang seperti itu ya, dan aku tidak pernah membedah dari kacamata jangka panjang kayak personal CV aku cuma ngelihat. Oh mungkin dia pernah sekali 2 kali gagal. Ternyata itu rentetan jangka panjang dari SDSMPSMA sampai di usia dewasa. Pembicara 1 Ya dan masalahnya belum diupgrade saja personal CV nya begitu udah di upgrade nilai nilai yang sudah tidak relevan lagi di hari ini. Kita setara aja sama aja gitu. Kita bisa upgrade itu selayaknya kita upgrade profesional CV kita. Pembicara 2 Keberanian sih untuk upgrade kayak keberanian untuk bisa beradaptasi dengan perubahan zaman, karena sebanyak apa orang orang yang berpotensi menurut aku. Dan kalau potensinya itu dikawinkan dengan sesimpel berkarya dan konten. Jadi itu orang itu sering sekali ketemu orang berpotensi seperti itu ya. Dan di fase ketika orang over achiever tadi ada perasaan yang pernah kurasakan juga gitu. Misalnya karena kita selalu di puncak lacing, kita selalu duduk diberikan satu ketika tiba tiba kita jatuh ke mereka 2 itu gagal. Kita perasa sih paling gagal. Akhirnya aku berus berusaha beradaptasi dengan POV bahwa aku dari peningkat 101 upgrade ke berkat 100 itu lebih happy rasanya kan? Padahal 2 keseratus jauh. Pembicara 1 Sekali. Pembicara 2 Tapi feel ketika kita dewan mentality berani untuk memulai lagi, itu justru lebih happy dibandingkan harus terus terusan di satu terus tiba tiba jatuh 2 kita merasa gagal. Pembicara 1 Dan kita nyaman di satu itu kan sesuatu yang terkondisikan bilang. Pembicara 2 Hm. Pembicara 1 Enggak ada dari awal kita enggak mengenal bahwa satu itu tuh paling bagus. Satu itu tuh paling oke satu itu tuh paling bombastis kita enggak punya enggak punya konsep itu awalnya, tapi itu kan dikondisikan gitu. Jadi karena oke kita paham, ini bukan berarti kita menyalahkan bagaimana kita diasuh di masa lalu. Ya bilang dalam arti apa yang dilakukan oleh keluarga, orang tua ataupun lingkungan pengasuhan kita itu udah yang terbaik yang. Bisa lakukan pada saat itu di tengah keterbatasan resource dan lain sebagainya. Bisa jadi ketidaksempurnaan yang kita anggap. Mereka lakukan kepada kita itu adalah bentuk cinta tertingginya mereka bisa jadi. Jadi bukan tugas kita lagi untuk menyalahkan. Ini salah siapa? Kenapa gue jadi begini? Tapi gimana kita akhirnya merevisi nilai nilai tadi yang kita rasa udah enggak relevan lagi deh kayaknya gitu. Pembicara 2 Gimana obrolan kami tadi seru ya. Bagi kamu yang mau nonton offline podcast suara berkelas kita ada special event khusus untuk teman teman berkelas yang serius mau join penasaran bisa klik link di deskripsi sampai jumpa. Itu sangat relate kalau kita omongin dapat tentang perintis kali ya kayak orang orang yang menjadi kecil diberi kenyamanan dan ketika dunia menampar mereka di fase dewasa malah kaget gitu. Ya mungkin kita ketawakan karena kita sama sama merintis dan bagi teman teman yang enggak tahu juga. Karya juga katanya pernah punya hubungan yang spesial sekali dengan uang dan bagi teman teman yang menonton ini, aku rasa sangat relate. Gimana seorang dea sekarang yang juga seorang perintis. Mendefinisikan hubungan dia dengan uang gitu. Apakah dulu pernah konflik banget dengan uang dan sekarang sudah baikan sehingga lebih awet? Dan seperti apa proses dan fasenya dengan uang? Pembicara 1 Aku baru mesra kembali sama uang itu di 2 tahun terakhir. Selama hidupku ya bilang baru 2 tahun terakhir itu aku benar benar berteman. Mesra dengan uang sebelumnya ketika dengar kata uang tek. Yang aku pikir langsung. Ada sensasi tubuh kayak. Di dada dan di kepala langsung pusing. Padahal banknya anda bilang. Pembicara 2 Padahal uang adanya. Pembicara 1 Padahal uangnya ada. Aku mulai ngerasa ada yang aneh sama relasi ku dengan uang ketika ada beberapa indikator indikator perilaku berulang yang aku rasa ini aneh yang 1 aku males bertransaksi. Dalam arti sekalipun itu kewajiban aku tunda bilang. Contohnya bayar mbak bayar listrik bayar modem bayar tagihan aku tunda. Uangnya ada oke bilang dan aneh halnya lagi hal yang wajib malah lo tunda padahal lo tahu lo akan ngeluarin itu juga. Pembicara 2 Wah pernah ngerasain itu. Pembicara 1 Ya itu satu yang 2 buka m banking. Pusing. Dalam arti bilal baru masukin kode masuk m banking kepalanya rasanya udah berat. Dan yang 3 yang pasti kita semua mungkin juga pernah merasakannya enggak suka ngelihat angka di saldo berkurang. Iya. Kalau angka depannya berubah, rasanya tuh kayak ah. Ini nggak beres buat aku bilang. Kenapa? Karena aku ngerasanya aku tidak menikmati hidup ini. Kenapa aku ngerasanya dikungkung rasa takut rasa kurang sampai akhirnya aku coba gimana ya cara untuk menyembuhkan relasiku dengan uang aku coba berbagai cara aku sampai ambil uh n lp untuk diriku, bukan untuk praktek tapi untuk diriku sendiri. Aku ambil hipnoterapi. Gimana caranya relasi dengan uang ini membaik ujung ujungnya aku dipertemukan dengan personal cv tentang keuangan. Di mana ada nilai nilai yang aku download pada saat kecil? Tentang uang yang aku anggap benar dan aku bawa hingga aku dewasa contohnya. Kita hidup harus prihatin ya. Kita harus irit ya kita cari orang tua cari uang itu susah kaki jadi kepala kepala jadi kaki untuk nyekolahin kamu dan lain sebagainya. Duh nggak punya uang. Mau beli ini enggak punya uang. Simply bilang aku dan suamiku 2 orang berbeda 2 luka berbeda tentang uang. Aku adalah tipe orang yang kalau makan di restoran hanya pesan satu menu. Dan satu minum. Sedangkan suamiku ketika pergi ke restoran dia pesan hidangan pembuka. Dia pesan main course, dia pesan dessert dia pesan minum. Itu manifestasi dari luka yang berbeda. Untuk lukaku aku memang terbiasa ya minum tuh enggak aneh aneh es teh manis aja bilang kalau ada minuman warna warni passion fruit tea apa no es teh manis di situ aku mulai ngerasa kayaknya ada sesuatu yang aneh deh dari relasiku sama uang uangnya ada, tapi aku selalu merasa kurang terus aku perbaiki dan ketemu adalah blis blisis lama. Akhirnya aku ganti believe nya. Aku ganti kalau dulu pernah di keadaan susah. Sekarang udah enggak? Kalau dulu mungkin teman teman ada yang merasa kecilnya hidupnya miskin misalnya. Kan sekarang sudah beda. Hidupnya sama dulu. Jadi memberi jarak sama dulu dan sekarang itu juga salah satu upaya ku untuk bisa menyembuhkan apa memperbaiki relasiku sama uang karena. Sekarang kamu bisa ngobrol sama suamiku suamiku sampai kaget bahwa aku jadi orang yang berbeda. Dulu aku selalu aduh sayang ah uangnya mau beli apa mikir gitu sayang uangnya ternyata dulu aku lebih sayang sama uangku bilang. Enggak sayang sama aku. Aku pengin apa sih? Bilang aku enggak tiba tiba pengin beli helikopter bilang aku cuma pengin misalnya makan apa pengin skincare pengin baju enggak tiba tiba aku ah beli perkebunan ah enggak juga gitu. Pembicara 2 Tapi itu masih tertahan terus ya event beli skincare diri sendiri. Pembicara 1 Dan mengalah tanpa ada yang nyuruh. Pembicara 2 Mengalah tanpa ada yang nyuruh. Pembicara 1 Ah beli untuk anak aku akan sangat royal. A oh misalnya anakku ada buku baru. Oke aku belikan untuk orang lain royal banget. Nyatanya aku nanti aja gampang. Gampangnya ini yang enggak pernah kejadian. Enggak pernah check out karena ya udah ngalah tanpa dia nyuruh suamiku enggak pernah nyuruh aku untuk kurang kurangin belanjanya enggak? Nah itu karena relasi yang aku rasa buruk dan akhirnya setelah aku coba perbaiki relasiku dengan uang, balik lagi bilang ini tentang bagaimana aku memprioritaskan diri sendiri aja sih. Memberikan yang terbaik bukan cuma untuk orang lain, tapi untuk diri aku sendiri juga. Pembicara 2 3 hal yang menurut aku juga sangat relate ke aku pribadi ya. Malas banget bertransaksi, padahal itu premier ya itu keputihan kebutuhan inti yang 2 ketika buka m banking ya itu kayaknya pusing banget karena tidak nyaman gitu harus buka m banking dan kita tahu selalu kita segini kalau ada kurang tiba tiba kita bisa emosi. Yang 3. Ketika kita melihat saldo kita berkurang berarti ada yang salah dengan hidup kita. Apakah aku melakukan kesalahan ya? Sehingga saldo aku kurang ya itu pernah di fase youtube gitu dan 3 hal ini sangat lihat bagi orang orang yang sebenarnya punya luka dengan uang kan, tapi transisi siapa yang kemudian bikin dea itu lebih dewasa terhadap uang dan punya relasi yang lebih bagus dengan uang? Apakah karena dorongan suami? Atau terlatih ngelihat suami yang lebih royal gitu ya? Atau memang tadi memang kata kata kuncinya ketika mulai memprioritaskan diri sendiri doang atau ada hal lain? Pembicara 1 Banyak resourcenya untuk bisa sampai ke tahap ini. Mulai dari baca buku, mulai dari melihat suamiku mulai dari tumbuh bersama, mulai dari banyaklah ikut. Apa pilihan pilihan pemulihan gitu? Yang lucu di statement yang nomor satu, bila lo yang tadi kita menunda yang menunda itu. Uh uangnya ada? Kewajiban. Kenapa ya kita tunda itu sempat jadi pertanyaanku kenapa aku menunda apa yang lagi aku tunda? Karena bukan berarti aku nunda. Bahkan aku bisa nunda uh kayaknya 3:00 aja deh transfernya. Pembicara 2 Ya aku malah gitu juga ya. Pembicara 1 Whats the point? Apa ternyata aku langsung. Waktu aku mikir begitu, aku langsung dipertemukan sama satu buku. We need your artmy macney dia bilang gini orang yang menunda itu bukan orang yang malas, orang yang menunda itu orang yang takut. Pertanyaannya kamu lagi lari dari apa? Pembicara 2 Saya kita takut kehilangan. Pembicara 1 Kita takut kerasa enggak aman bilang. Aku enggak tahu kalau bilang tapi kalau aku aku merasa aku takut. Di ada di posisi yang enggak secure enggak save. Sehingga itu ngelead untuk akhirnya menunda barang 2 jam bilal perasaan itu ditunda oh ternyata ya jadi sadar ternyata aku tuh takut. Aku sedang lari dari perasaan takut tidak aman. Gitu dan ya sudah aku punya. Aku sempat juga ngeliat gitu ya buku. Podcast seputar uang dan segala macam uang itu kan cair dia bilang. Dan ya emang hukum alamnya sudah begitu. Yang cair memang harus mengalir. Memang harus kalau ditampung doang gini enggak akan nambah juga. Enggak akan terus jadi luber juga enggak. Kalau makin kencang kita tampungnya juga enggak akan ngapa ngapain uangnya memang uh segala sesuatu yang cair memang harus mengalir dari situ ketika aku bertransaksi ketika aku saving itu base nya udah bukan lagi fear tapi base nya. Love. Jangan pikir kalau kita bisa nabung. Itu udah checklist berarti hubungan kita terhadap uang sudah beres enggak bilang kita harus lihat perasaan apa yang ikut waktu kita nabung. Kalau kita nabung membawa rasa takut uh sisihin uang ah takut ada apa apa? Takut ada apa apa? Aduh takut nanti kalau pengen ini enggak ada yang ketabung itu bukan cuma uangnya tapi rasa takutnya juga. Kalau spending takut ya okelah. Tapi kalau saving kadang kita juga takut. Makanya aku berusaha saving and spending with love with happiness sehingga aku enggak menabung rasa takut itu sendiri. Menurut aku itu sangat krusial membentuk aku sekarang berelasi dengan baik dengan uang. Ada beberapa cara yang aku lakukan bilal untuk menjaga state ini supaya tetap stabil. Dan ini mungkin kalau teman teman dengar akan terdengar halu. Tapi ini membantu aku. Jadi kalau kamu mau praktekkan juga ya kenapa enggak yang 1 aku selalu bawa uang cash. Pembicara 2 Yes. Pembicara 1 Berapapun jumlahnya, aku selalu bawa uang cash. Kita sekarang hidup di era digital di mana kita terbiasa. Cashless. Dan kadang suka terlontar di mulut kita. Duh gue enggak ada duit nih gue enggak ada cash nih. Hmm ada enggak duitnya ada kan sebenarnya tapi enggak kelihatan. Bentuk uang cash itu sebenarnya supaya aku ngerasa aman bahwa aku bawa uang. Aku punya uang ada nih kelihatan. Itu satu yang 2. Adalah aku. Karena ada uang cash ini aku membiasakan diri untuk mahir memberi. Pembicara 2 Hmm mau. Pembicara 1 Kasih tips bisa ada uang cash ada pak ogah kasih lebih bisa mau beli di warung mungkin atau di pedagang kaki 5 ya enggak ada kerisnya bisa karena uang cash ini mahir untuk membeli dan yang 3 ketika aku mengeluarkan uang berapapun jumlahnya itu bilal aku selalu bilang dalam hati. Uang ini aku keluarkan untuk kebaikan. Dan akan kembali padaku 10 kali lipat. Ini diatur sendiri mantranya mau 10 kali lipat 100 kali lipat terserah. Tapi yang biasa aku lakukan gitu bilang 10 kali lipat percaya atau enggak? Dan semuanya ringan banget. Bila habis itu uang jadi suka sama aku uang jadi datang karena aku punya vibrasi yang sama sama dia. Pembicara 2 Gitu wow itu sekali karena aku juga baru mengalami ini 2 atau 3 tahun terakhir kali ya. Karena aku juga sebelum merantau ke Jakarta sangat sensitif dengan uang gitu. Misal orang tua tiba tiba request ini aku malah kenapa harus aku kayak gitu tuh itu ada perasaan perasaan yang sebenarnya bukan karena orang tua ya, tapi karena aku dengan uangnya gitu. Tapi berjalan waktu karena orang orang terdekat aku pasangan aku juga orang yang mungkin kayak tadi kadang ke masyarakat mereka tuh ternyata lebih wise dengan uang. Akhirnya aku belajar bahwa. Ternyata memang semakin kita spending untuk kebaikan itu memang akan datang dalam bentuk kebaikan dan lebih tak terduga lagi. Kita enggak bisa mengkalkulatorkan itu gitu. Pembicara 1 Kalkulatornya tuhan tuh udah enggak ada yang ngalahin, bahkan itu yang sempat jadi perbincanganku dengan suamiku suamiku bilang santai saja bu nanti ada rezekinya orang yang enggak punya relasi baik dengan uang dibilang kayak gitu. Its not make sense dari mana itu, tapi ketika kita coba memperbaiki ya memang akan ada rezeki itu dan rezeki itu tuh selalu bentuknya macam macam. Pembicara 2 Setuju setuju tidak melulu bentuk fisik uang itu ya. Pembicara 1 Itu yang kita harus peka juga bahwa keberlimpahan datang lewat berbagai bentuk. Pembicara 2 Tapi kalau hari ini. Sudah di fase bijak sekali spending your money atau seperti apa? Dan kalau iya the best way to spend your money di usia 2 puluhan atau 3 puluhan dari kacamata seorang dea atau dea yang sekarang ketemu dengan dea yang 5 atau 7 tahun yang lalu. Advice keuangan yang paling sehat ke dia itu harusnya seperti apa? Lu harusnya spending di mana gitu. Pembicara 1 Mungkin ini akan jadi aneh karena mungkin orang orang akan mengencorage. Dirinya untuk menabung atau berinvestasi. Cuma kalau aku harus ketemu dia versi yang lama, at least versi pada saat umur 2 puluhan awal lah ya. Aku akan bilang ke dia kalau kamu mau beli sesuatu beli. Hmm pilih. Beli ada kan uangnya beli. Karena orang yang kaya kita ga akan boros bilang. Kita orang yang gak bisa boros. Justru kebalikannya bisa pelit dan parahnya pelitnya sama diri sendiri gitu loh. Jadi kalau aku ketemu dia lagi yang lagi galau perkara mau beli sepatu. Dia nunggu. Kira kira ntar aja deh kalau diskon gitu kan? Padahal pas nanti diskon ya belum tentu ada tuh sepatu kan aku akan ngomong sama dia beli beli beli selama duitnya ada selama kita lakukan itu berkesadaran selama kita butuh beli udah beli. Beli. Dan itu yang aku lakukan sekarang. Mungkin berkesadaran pasti. Pembicara 2 Kalau tanya ke versi dea sekarang nih yang yang yang sekarang mindfull ya yang sekarang dia sadar sekarang dia sehat waras. Apa rencananya? Ketika melihat 2026 dan apa refleksi dia ketika melihat 2025? Apakah ada fase fase yang ingin dihilangkan di 2025 untuk kemudian di upgrade lagi di 2026 dan. Gimana secara seorang dea untuk bisa melakukan transisi yang sehat 2025 ke 2026. Karena semua orang kan ngomongin tentang resolusi resolusi resolusi dan aku sempat ketemu konten yang k dea enggak cuma ngomongnya resolusi, tapi kita harus melakukan refleksi juga kan di 2 du 2025 gitu seperti apa itu? Apakah ada kaitannya dengan uang kepercayaan diri dan lain lain? Pembicara 1 Kalau misalnya ngomongin resolusi kita enggak bisa cuma. Berhenti pada hasil. Atau berhenti pada outcomenya mau apa mau rumah, mau mobil, mau jabatan tertentu, mau berapa uang enggak terkotak kotak hanya sampai di situ dong, tapi yang ini bikin jadi menarik adalah ternyata kita bisa mem merencanakan satu tahun ke depan itu seperti apa lewat berbagai lapis uh dimensi kehidupan kita enggak cuma pencapaian kita, tapi mulai dari hal hal. Se uh sedetail bagaimana kita berpenampilan, bagaimana kita membawa diri, bagaimana cara kita menyayangi diri kita? Spending uangnya mau ke mana me time nya, mau ke mana dan lain sebagainya. Kalau boleh cerita tahun 2025 ini adalah tahun terbaikku seumur hidup bilang. Tapi aku enggak chief apa apa. Dalam arti enggak ada sesuatu yang aku naik panggung terima piala no enggak? Aku pernah dapat piala aku pernah jalan di panggung internasional. Aku pernah jadi perempuan tercantik di masanya. Tapi pada saat itu menurut aku bukan tahun terbaikku. Aku pernah ada di stasiun TV untuk mengisi sitkom reguler setiap weekend. Aku pernah ada di post moment moment di mana nampaknya itu momen terbaik seseorang. Tapi ternyata enggak. Justru tahun ini 2025 adalah tahun terbaik di hidupku dan aku pengen. Menjadikan 2026 tahun yang terbaik juga. Makanya aku kenapa kemarin sempat bikin satu konten. Menurut aku itu aku beneran. Konten intuisi malam hari aku kepikiran paginya aku langsung take dan langsung aku upload dan ramai juga. Di situ aku cuma bikin membagikan ritual apa yang aku lakukan di tahun 2024 yang aku lakukan untuk menyambut 2025 sehingga bisa jadi tahun terbaik which is terbukti di aku 1 tru bila reflection. Apa yang bisa kita pelajari, tapi bukan cuma apa yang bisa kita pelajari. Apa kemenangan kita di tahun ini juga penting. Orang kalau berefleksi banyak berpikir bahwa berarti yang buruk buruknya nih yang harus aku cek no no no, yang baiknya juga harus dicek dong unit to give yourself appreciation to untuk hal hal sederhana yang berbau keberhasilan. Reflection, your winning moment, your lowest moment, and then your old version of you. Ya nggak mau dibawa ke 2026 apa? Dan mengawali dan mengakhiri refleksi itu dengan kalau aku sih dengan gratitude letter surat, terima kasih untuk tahun ini. Pembicara 2 Clue atau cara simpel atau hint untuk siapapun yang masih enggak kebayang kredit turun itu seperti apa? Atau teknik penulisan seorang dea yang meringankan kita yang sambil nonton podcast ini sampai dibanding ini mereka sem ambil catatan mereka catat gratis leather mereka. Pembicara 1 Anggaplah 2025 ina orang. Pembicara 2 Anggaplah 2025 ini orang oke. Pembicara 1 Ketemu kita. Kita mau bilang apa sama dia? Pembicara 2 Uh. Pembicara 1 Terima kasih. Mau bilang terima kasih atas apa yang sudah diberikan. Terima kasih atas pelajaran apa yang sudah diajarkan. Dan apa yang kiranya membuat dia spesial di mata kita karena pasti ada sceos chaosnya satu tahun pasti ada momen dimana kita bisa mengapresiasi tahun itu sama layaknya sama orang senyebel. Nyebelinnya tuh orang pasti ada sisi positifnya juga tuh orang. Pembicara 2 Right. Pembicara 1 Jadi simply hanya dengan menganggap dia orang. Mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah dia berikan. Coba cari tahu tentang mungkin ada pelajaran pelajaran tersembunyi yang kita dapat juga di tahun ini. We need to say thank you to. Dan yang terakhir ya udah. Apa? Hal positif apa yang menggambarkan tahun ini? Itupun aja udah cukup bilal. Dan kita bisa jumping karena the ritual. Pembicara 2 Aku juga bisa simpulkan seorang daya sangat happy dan bersyukur di tahun 2025 itu karena kamu kayaknya banyak memenangkan hal hal di iner kamu lagi kan balik lagi ke poin inner wol tadi gitu ya karena kalau dari sisi. Dunia luarnya mungkin yang tadi dicapaian mungkin piala mungkin panggung yang megah dan segala macam. Tapi kalau aku pernah di fase happy sekali dengan diri aku justru bukan. Persis yang kayak kamu bilang bukan di fase 2025 nih banyak piala viewsnya tinggi audionya luar biasa enggak gitu juga. Aku ingat fase fase ketika merintis dari nol yang nobody nows my world itu justru itu titik terhappy loh kayak kalau diingat lagi wah kayaknya saya atau momen momen suffering itu seru sekali gitu, tapi pada saat itu kan kayak aku enggak tahu kemana tapi berat sekali hidup ini gitu ya dan itu apresiasi yang kita rasakan ketika sudah di puncak justru apresiasi yang. Beranjak tadi. Pembicara 1 Merapi tadi jadi jadi mengapresiasi momen merakit itu kan. Pembicara 2 Is it any goals di 2026 apakah ini lebih dekat dengan diri sendiri atau ada hal lain yang ingin dicapai? Apakah nulis atau apapun itu? Pembicara 1 2026 gol intensi aku mungkin mungkin. Lucu ya buat beberapa orang, aku mau jadi lebih santai. Pembicara 2 Lebih. Pembicara 1 Santai aku mau jadi lebih santai. Aku mau jadi lebih tenang. Aku mau jadi lebih berm aku mau jadi lebih punya vibrasi yang sama dengan keberlimpahan dan aku mau semakin bisa membagikan cahaya ke banyak orang lewat berbagai cara. Lewat berbagai platform. Nah dengan goals itu sebenarnya bisa diturunkan lewat berbagai aktivitas dan bilal aku datang ke sini. Aku ngisi podcast bersama dengan gila. Aku bikin konten aku misalnya mencoba bikin produk digital. Aku bikin kelas online, nah itu termanifestasi lewat perilaku perilaku kecil yang double. Iya dong. Pembicara 2 Santai tapi bisa duel. Pembicara 1 Dalam arti ketika gini bilang aku pengin santai dalam arti aku punya ritme kerjaku sendiri. Aku tidak mau ngoyo aku tidak mau di 2026 which is sudah aku lakukan di 2025 aku enggak mau ngoyo aku mau berserah ke mana ini akan membawaku tapi aku akan tetap tetap berusaha. Dan goals intinya adalah sebenarnya aku ingin menebar manfaat kejauh lebih banyak orang lagi. Selama ini aku merasa aku sudah cukup memberi manfaat diundang ke Kementerian ngajar manfaat diundang ke perusahaan apa ngajar manfaat bikin konten ngajar manfaat ternyata setelah dipikir pikir banyak cara untuk nebar manfaat itu enggak berhenti sampai di situ aja dan itu tantangan untuk aku untuk mau belajar hal baru lagi, mulai dari belajar gimana cara ngonten yang benar sih sebenarnya. Bilal dulu aku bikin konten Instagram tv bilal Instagram tv itu enggak ada editan enggak ada. Enggak bilal Instagram tv bilang. Pembicara 2 Beneran. Pembicara 1 Yes bilang dan itu works banget pada tahun itu 2020 ya works sekali dan aku mulai ngonten tuh dia tahun 2020 itu yang beneran ngonten untuk bikin public speaking speaking. Tapi. Sekarang. Aku bisa ngaku bahwa selama ini cara yang aku pakai nggak berubah dari 2020. Niatku mau sharing jatuhnya jadi boring bilang. Karena aku enggak ngerti perubahannya ini tuh gimana? Jadi aku pengin 2026 pun aku jadi jauh lebih banyak bisa belajar supaya bisa menebar manfaat ke orang yang lebih luas lagi. Pembicara 2 Ada satu manfaat ya ketika aku konsumsi konten yang akad ya itu ketika ngomongin tentang. Analogi sepatu gitu sesi aku pakai ukuran sepatu aku 40 tapi ada temanku ya ukuran 36 aku memaksakan diriku untuk masuk ke sepatu dia 36. Tapi ternyata sakit juga kayak aku pakai aku luka gitu. Bisa jabarkan ke kita ke orang orang yang mungkin tidak paham analogi itu dan konteksnya kehidupan seperti apa konteksnya ke cara kita berempati terhadap dunia seperti apa gitu? Pembicara 1 Kalau teman teman mungkin sudah pernah lihat podcast kontenku yang bilang sebutkan aku di situ bilang bahwa kalau ukuran kaki aku 39, aku enggak bisa memaksakan orang dengan ukuran kaki 36 untuk nyaman pakai sepatu aku true. Dan kalaupun ukuran kaki kita sama aku yang suka pakai heels enggak bisa memaksa bilang untuk pakai heels semua orang pakai sepatu, tapi bukan berarti satu sepatu cocok untuk dipakai sama semua orang. Itu analogi sederhana untuk aku kemarin menjelaskan empati empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri kita di posisinya orang lain. Empati beda sama simpati. Simpati kita hanya merasa kasihan saja merasa iba thats it cukup kalau empati di dalamnya ada actionnya bilang. Gitu itu yang membedakan terus maksudnya gimana mba? Dia terkait dengan empati empati kita enggak harus selalu setuju ya sama orang lain. Bukan berarti karena aku berempati sama kamu, aku harus setuju sama semua statementmu sehingga aku jadi merasa bahwa apa yang aku katakan ini enggak ada. Harganya juga enggak begitu juga empati itu kita hanya menghargai bahwa ada poin of you lain selain apa yang kita punya. And thats okay. Nah kita terjebak di satu fenomena yang namanya fundamental atribution error. Di mana kita selalu menganggap diri kita itu kompleks, sedangkan orang lain itu simple. Misal ada orang yang. Kantor itu marah aja. Kita akan melihat orang itu langsung kita pukul rata. Ya emang dia karakternya begitu ya emang dia pemarah. Tapi kalau kita ada di posisi yang marah marah itu. Kita akan buat bahwa kita tuh marah. Ada alasannya. Sedangkan nampaknya alasan itu tuh tidak dimiliki orang lain. Orang lain enggak berhak untuk punya alasan tertentu. Nah ini yang bikin kita enggak empati kan sebenarnya itu kita shortcut untuk menganggap orang lain tuh ya udah simpel aja kalau dia marah ya emang dia orangnya begitu. Kalau misalnya dia menolak diajak pergi atau hangout ya emang dia enggak asik tanpa mencari tahu sebenarnya. Apa yang terjadi sih di balik itu gitu pasti akan ada alasannya kan? Gitu empati dan musuhnya sebenarnya empati itu adalah asamtion. Pembicara 2 Assalamtion. Pembicara 1 Kita suka berasumsi bilang sama orang. Bukannya berempati. Dalam arti kadang kadang kita belum nanya kita udah punya keputusan di dalam kepala bahwa orang tersebut tuh sedang mengalami AO orang tersebut marah o orang tersebut tuh b, tapi kita enggak nanya. Nggak punya keberanian untuk kaya asap wasian. Sebenarnya apa yang dia rasakan butuh apa dari saya. Saya bisa bantu apa kamu mau saya hadir saja atau saya beri advice? Action action itu kan yang nggak ada di simpati. Kalau di empati ada nah kita shortcut aja oh dia lagi bete. Oh ya udah lagi BT lagi bete emang gitu bete mutan. Katanya simple. Padahal enggak gitu. Ada buku yang aku baca, aku lupa judulnya apa, tapi dia bilang gini orang lain tidak jauh lebih spesial darimu dan begitu juga kamu tidak jauh lebih spesial daripada orang lain. Karena kita tuh sama sama spesial. Pembicara 2 Ya. Pembicara 1 Orang yang enggak berempati beranggapan bahwa dirinya spesial orang lain. B biasa aja gitu aku. Pembicara 2 Suka suka sekali empati versus asumsi. Karena aku juga tipe orang yang pernah sangat sangat berasumsi terhadap orang lain gitu. Misalnya ketika aku ngelihat pelayanan di restoran yang kayak gugu banget gitu ya kayak gimana kenapa siapa nih orang tipe seperti ini ngapain kerja gitu ya? Tapi semakin banyak dewasaku sadar kita enggak pernah tahu itu hari 1 dia kita pernah tahu dia beneran magang dan memang kita enggak pernah tahu dia hari itu lagi virus sekali mengalami fase fase yang buruk sekali di rumahnya. Tapi dengan kita berempati. Kita berpikir seperti tadi yang aku pikirkan. Kita jadi melihat dunia lebih indah juga. Pembicara 1 Jadi ini ini ujung ujungnya ngaruh juga ke bagaimana kita ini tadi bilal meningkatkan vibrasi kita dengan keberlimpahan orang yang. Gampang ngomel. Baik itu dalam hati ngomelnya ngobatin vibrasi dirinya rendah. Gimana sih gitu aja kok enggak bisa gimana sih? Niat kerja enggak sih? Itu kan dumbel duble dalam hati kan sebenarnya kan vibrasinya kita turun juga dan kalau kita mau meningkatkan vibrasi diri kita simply dengan bilang oh oh. Misal pelayannya mungkin di restoran rada rada lelet oke. Ada orang yang nyerempet misalnya ya udah hampir ketabrak. Oke mungkin dia buru buru ya. Dan itu yang pada akhirnya selain bikin berempati, kita pun dapat manfaatnya untuk menjaga vibrasi kita supaya enggak bocor ke mana mana. Pembicara 2 Di zaman kreator ekonomi kayak sekarang semua orang lomba lomba untuk hasil incuan dari dunia digital. Tapi faktanya enggak semua orang tahu bahwa kita bisa menghasilkan uang dari satu website builder doang. Kita bisa jualan kelas bikin di tahap produk bu konsultasi sampai bikin ebook bikin tulisan tulisan atau karya karya kita dijual langsung dan orang semua bisa ke sana untuk langsung check out di sana. Jadi kita bisa sambil tiduran 20 4 jam kita tidak harus mengontrol website builder tersebut, tapi uang bisa termasuk dari karya kita. Aku bakal kasih solusinya. Solusinya ada di link ID atau link kit dan aku udah pakai linked sejak tahun 2022 dan itu memudahkan sekali kalau kita sebagai kreator menghasilkan uang dan semua orang bisa akses karya kamu di sana. Misalnya kamu penulis kayak aku, kamu bisa bikin ebook even orang orang bisa konsultasi sama kamu dengan bikin appointment di sana dan mereka bisa menentukan jawalnya disesuaikan dengan jadwal kita sebagai. Bahkan yang menariknya, meskipun kamu belum punya produk digitalmu sendiri, kamu bisa affiliate produk orang di lingkit dan itu luar biasa banget. Banyak kritocrato di luar sana enggak punya produk sendiri, tapi bisa hasil 2 digit 3 digit per bulan di LinkedIn. So begitu teman teman yang belum bikin linkitnya tunggu apa lagi langsung bikin sekarang. 3 pertanyaan dari teman teman suara berkelas untuk kak dari aris kita pertanyaan 1 nama Instagramnya enggak bisa dipencet? Iya kami bisa cek benaran adonannya. Pembicara 1 Enggak bisa dipencet ya bagus dia namanya. Pembicara 2 Gimana kalau kita punya impian yang jauh dan terbalik dari ekspektasi orang tua kita, tapi mereka sebenarnya sayang sama kita dan khawatir. Makanya mereka tidak setuju dengan impian kita. Terima kasih. Pembicara 1 Sebenarnya mungkin pertanyaan ini lebih cocok dijawab sama bilal kali ya dalam menurut aku coba kalau kamu tanya sama aku enggak bisa dipencet aku akan tetap jawab juga nanti mungkin bilang mau nambahin juga boleh. Dia menanyakan pertanyaan yang dia tuh sudah tahu juga jawabannya sebenarnya. Kadang bentuk penolakan dari orang tua memang bisa. Jadi adalah bentuk kasih sayang. Benar enggak sih yang tadi aku bilang bahwa mungkin uh ketidaksempurnaan orang tua kita itu bentuk cinta tertinggi mereka yang mereka tahu itu. So kalau aku pribadi uh ditanya seperti itu yang bisa aku sarankan adalah coba dikomunikasikan mereka itu. Khawatir mereka itu tidak mengizinkan. Bukan hanya semata mata mereka rese, tapi mereka tidak tahu. Enggak tahu tentang apa mimpi mimpimu sebenarnya mimpimu jauh ia sejauh apa. Mimpinya dijabarkan ke mereka dalam arti apa maksudnya dijabarkan itu harus pro dan kontranya. Ya bukan hanya pro nya doang. Kadang kita ketika meminta persetujuan dari orang tua kita tuh kita hanya memberikan yang pro nya saja. Oh ini tuh bagusnya begini loh mah ini kalau begini begini loh bu dan lain sebagainya. Tapi kan kalau kita mau benar benar menenangkan mereka juga kita mau memberikan reassurance bahwa aku sudah tahu pro kontranya. Tenang, ini semua terprediksi misalnya seperti itu ya, mereka akan jauh lebih tenang juga kok. Jadi menurut aku, seberapa sering seberapa pernah kamu mengkomunikasikan mimpi besarmu itu sama orang tua? Karena kalau yang dikomunikasikan hanya di permukaan mereka bisa jadi enggak tahu bilal. Mimpinya apa sebesar apa? Bagaimana caranya sampai ke sana? Jangan jangan mereka sebenarnya. Setelah tahu jadi tahu bagaimana cara mensupport kamu. Jadi mungkin selama ini mereka bilang enggak, karena mereka enggak tahu saja detail dari mimpinya. Dan aku sih sangat menyarankan untuk tidak mengesampingkan hati nurani masing masing. Kadang kita tuh udah punya jawabannya gitu, tapi karena uh kadang kita terlalu ada noise dari eksternal. Jadinya kita mengesampingkan suara hati kita sendiri. Menurut aku tetap harus didengerin juga sambil kita berupaya untuk bisa mengkomunikasikan itu ke orang tua. Menurut bilang gimana? Pembicara 2 Kalau aku selama ini beneran memang orang tua tuh maunya aku ke sesuatu yang serius kayak Kementerian ke pns. Pembicara 1 Jadi klien klienku ya. Pembicara 2 Ayahku pns juga kan? Jadi ya maksudnya aku setuju sekali nggak kata katakan dea tadi yang terbaik versi yang ada di kepala mereka kan enggak salah juga. Pembicara 1 Gitu karena. Pembicara 2 Kasih sayang orang tua besar sekali pada anaknya dan itu yang terbaik untuk anak anaknya gitu. Tapi kan mereka tidak banyak opsi ya, sedangkan kita yang di industri sekarang ini sangat banyak opsi dan kita tahu harusnya kemampuan dan potensi kita gali diri sendiri itu harusnya seperti apa. Jadi waktu itu aku enggak komunikasikan detail, cuma aku bilang bahwa aku mau nunda dulu kalau memang mau daftar yang kayak mereka sarankan. Tapi punya waktu sambil aku ingin membuktikan bahwa kerjaan aku atau apa pun yang aku rintis ini bakal buah hasil enggak harus panjang lebar kayak aku bilang 2 tahun deh. Akhirnya ketika sudah mulai perlahan terlewatkan fase itu, aku membuktikan juga dan mereka enggak ada protes lagi nih kayak enggak ada menyarankan lagi gitu, terserah benar itu kata kata yang benar sekali kayak lo lakuin aja lu beraksi aja entar kemudian hasilnya bakal kelihatan dan mereka tuh enggak bisa bantah gitu. Iya itu membuktikan juga bahwa kita punya integritas punya keseriusan dengan apa yang kita omongin tadi kan? Pembicara 1 Dan itu berakar dari mendengarkan kata hati juga kan? Pembicara 2 Mendengarkan kata hati. Kita ke pertanyaan 2 pertanyaan 2 dari underscore ka 0 1 2 1. Pembicara 1 Susah sekali ya. Pembicara 2 Istri ini kayaknya bukan second account account 6 kayaknya. Pembicara 1 Six account ini. Pembicara 2 Dia nanya. Apakah ada 3 buku non fiksi yang mengubah cara pandang seorang k dea? Kalau ada aku penasaran. Terima kasih. Pembicara 1 Menurut aku tuh enggak ada buku yang jelek bilal enggak ada satu pun buku yang jelek, tinggal buku yang aku baca tuh menjawab keresahanku atau enggak jadi kan adik kan kita suka ngereview review buku kayak menurut aku semua buku fiksi non fiction semuanya bagus. Tinggal seberapa menjawab keresahan kita momennya pas enggak pas kita lagi baca buku itu dan kalau ditanya 3 aku punya rekomendasi yang 1 itu manifas. Pembicara 2 Buku. Pembicara 1 Dari roxy nveosi kalau enggak salah manifest warnanya oranye. Pembicara 2 Yang tulisannya. Pembicara 1 Itu aku baca di tahun 2024 dan punya sumbangsih besar buat aku untuk menjadikan 2025 tahun terbaikku. Itu. Bahasanya sangat mudah dipahami. Aku enggak tahu sudah ada versi bahasa indonesianya atau belum, tapi waktu itu aku memang beli yang berbahasa Inggris, tapi sangat mudah untuk dipahami. Pembicara 2 Penggalan 5 kalimat di sana. Pembicara 1 Kembali lagi bahwa kita bukan hanya apa yang kita pikirkan, tapi apa yang kita rasakan dalam arti kalau kita sedang menyambut tahun depan nih 2026 gitu menyambut tahun 2026. Yang harus kita yang harus kita persiapkan itu bukan hanya kita mau jadi apa, tapi rasa apa yang mau kita bawa. Dalam arti misal aku ingin menjadi tadi sosok yang lebih bisa menebar manfaat ke orang lain. Gitu berarti apa yang harus aku lakukan? Oh berarti aku harus mencoba banyak hal baru mulai dari datang ke podcast, mulai dari mulai menulis dan lain sebagainya. Kira kira orang itu. Atau rasa yang dia bawa setiap kali dia melakukan hal hal itu tuh apa? Oh dia pasti rasanya happy rasanya ringan joy bangga rasa itu kan harus diembodi juga. Dan ketika kita sudah mengemudi perasa itu ya udah makin ringan aja. Jadi si buku itu mengajarkan aku tentang membuat version your vuture self version. Mau jadi versi terbaik yang seperti apa? Mulai dari perasaan sampai dengan tindak. Kitab sejuta umat yang semua orang membacanya. Aku enggak tahu apakah teman teman membacanya juga. Tapi aku yakinlah banyak yang sudah membaca dan kabar baiknya sudah ada bahasa indonesianya. The let them teori. Oh aku sudah beli di kindle. Pada saat itu. Karena masih ada perasaan perasaan. Ntar masa buku 500 ibu cek adik kingdel gitu ya oh ada nih 250.000 ya make sense beli di kindle baca susu. Haha aku membutuhkan ini ujungnya ke pelipis juga beli. Pembicara 2 Ke beli juga kayaknya fisiknya. Pembicara 1 Jadi punya 2 2 nya gimana nih? Udah deh pasti kalau let them bilang bacakan bacakan. Pembicara 2 Direkomendasiin sama malu juga waktu. Pembicara 1 Itu. Thats good. Berikut. Pembicara 2 Versi dia. Pembicara 1 Let me. Enggak berhenti di let them ya, jadi kita memang tidak bisa mengkontrol orang lain. Oke, kita terima perasaan orang, perilaku orang, perkataan orang let them. Tapi kan ternyata enggak hanya berhenti di let them ya bila di buku itu diajarin let me uh apa bring the power back to me ke hal yang bisa kita kendalikan. Nah menurut aku proses let me itu tuh banyak di skip sama kita. Mungkin untuk yang letnan sudah banyak orang yang sadar kayak ya sudahlah terserah ya sudah kalau kamu begitu ya sudah gitu. Tapi setelah ya udah kan ada ya udah yuk nih akunya gitu. Let me nya itu itu part yang menurut aku paling paling menggerakkan aku gitu. Pembicara 2 Terakhir. Pembicara 1 Dan yang terakhir ini buku sangat amat lucu kisahnya. Jadi dia tuh judulnya jore unique. Your unique part to welt. Pembicara 2 To welded. Pembicara 1 Karyanya erick john cambel bukunya ini. Bukunya ini aku beli via e commerce via amazon. Dari US aku kirim. Ke Jakarta harga buku dan ogirnya mahal dan ongkirnya bilal. Thank you. Jadi buku itu mengajarkan tentang bagaimana berasi yang baik sama uang. Bagaimana ketika uang itu banyak, bukan berarti kita jadi orang jahat kalau punya uang banyak. Kadang aku enggak tahu kamu atau teman teman, tapi ada dogma dogma yang bilang bahwa orang kaya tuh orang kaya tuh kalau orang kaya tuh gitu tuh kayak kesannya menjadi kaya tuh sesuatu yang negatif. Pembicara 2 Ya. Pembicara 1 Kayak menjadi kaya tuh seperti hal yang kaya enggak boleh gitu kita kaya karena nanti kayak begitu tuh. Begitu betul yang isi sendiri ya? Tapi di buku itu tuh diajarin bahwa uang itu adalah bahan bakar untuk kita. Uang bahan bakar untuk kita untuk bisa hidup di versi terbaik. Diri yang ujung ujungnya memberikan manfaat untuk orang lain juga. Jadi uang ibarat kata. Tulas aja yang bikin kita bisa berkarya, yang bikin kita bisa berdaya dan uang bukan satu satunya, tapi menjadi tools yang membantu kita untuk bisa. Punya hidup versi terbaik sehingga. Bisa menebar manfaat membawa manfaat untuk lebih banyak orang lain. Pembicara 2 Gitu iya siap sempat mikir juga ya. Kenapa dulu kalau ada suatu yang misalnya rumahnya gede sekali gitu atau mau bilang mewah gitu, kita langsung berasumsi bahwa. Oke ini pasti sesuatu yang bad gitu ya. Sesuatu yang negatif dilakukan oleh orang itu. Makanya dia kaya gitu. Setelah kita pikir pikir lagi bisa jadi ya memang karena Antara LV atau memang ada luka terhadap diri kita yang kita enggak kaya sehingga kita bisa menuduh orang itu seperti apa. Kenapa seperti itu gitu ya? Pembicara 1 Semua balik balik lagi dia bilang ke dalam diri kita. Pembicara 2 Kita ke pertanyaan 3 dari mai tsaa maia. Pernah nggak karya itu di titik krisis identitas diri enggak ngapa ngapain dan kalau iya dalam waktu berapa lama dan apa yang dilakuin untuk bisa bangkit kembali? Pembicara 1 Mari kita buka momen momen itu di mana aku sama sekali tidak menjadi apa apa dalam arti aku berhenti main sosial media. Aku berhenti ambil training. Aku berhenti bikin konten aku berhenti. Keluar rumah itu momen terendah banget dihidup aku. Uh uh, mungkin untuk beberapa orang ketika menjadi seorang ibu. Adalah momen yang paling membahagiakan aku juga, tapi di momen itu benar benar aku diuji bilal. Di mana? Uh perjalanannya nggak mudah saat menjadi seorang ibu 1 kali lalu aku didiagnosa postpartum depression atau depresi pasca melahirkan. Aku si over achiever ini yang terbiasa mendapatkan apa yang dia mau. Yang terbiasa semuanya itu serba perfect. Tiba tiba ada di lingkup motherhout yang unpredictable. Ternyata aku enggak bisa. Ternyata aku enggak bisa menerapkan over achiever itu di kehidupan menjadi seorang ibu karena semuanya unpredictable. Itu yang ngelihat aku hingga sampai akhirnya jadi terdiagnosa ppd semuanya penginnya perfect. Oh anak harus berat badannya. Oke anak harus DBF langsung beras feedingnya langsung ke aku enggak pakai dot enggak pakai support anak harus aku yang pegang jangan orang lain cikal bakal se over achiever ini nih si perfeksionis nih yang penginnya semua semua dia itu ngelip tuh sampai akhirnya aku terdiagnosa pos partum depresion belum lagi pada saat itu aku harus operasi abses. Payudara kanan dan payudara kiri jadi di payudara kiri ada benjolan besar asi sumbatan asi yang terkena bakteri. Karena uh pada saat itu nipple aku terluka karena proses menyusui bakteri masuk gumpalan asi berubah jadi nanah harus dioperasi dioperasi di bulan Desember. Yang sebelah kiri yang sebelah kanan di bulan Februari. Jadi aku waktu itu menyambut tahun yang cukup sulit. Tapi. Ternyata itu mengajarkan aku sesuatu bilal untuk detach untuk bisa tidak punya keterikatan dengan sesuatu di kasus aku itu. Contohnya power. Hm aku tadinya aku punya julukan gil aku punya julukan wanita udara yang ngasih julukan itu adalah orang bandara yang selalu ngelihat aku setiap hari setiap Minggu pasti ada momen aku ke bandara karena aku bisa aja ke Lampung ke riau itu aku pp saja. Seminggu berapa kali wah terbang ke sana ke mari ngisi training ke sana ke mari dan lain sebagainya. Momen aku harus di rumah punya peran baru punya. Beradaptasi dengan. Hal hal baru dan hal hal yang terjadi padaku di situ aku belajar bahwa oh ternyata memiliki keterikatan pada sesuatu itu yang ngelead aku untuk. Enggak happy. Jadi kalau aku mau happy ya sudah aku harus melepaskan keterikatan itu ya aku coba lepaskan keterikatanku dengan power yaudah enggak apa apa apa nih yang mau aku pilih nih pada saat itu ya apa yang mau aku pilih di momen terendah mau milih jadi ibu bekerja mau milih jadi ibu yang stay di rumah 2 duanya enggak ada yang salah bilang. Dalam arti enggak ada yang lebih baik juga. Tapi kan ini pilihan. Dan enggak ada yang nyuruh suamiku membebaskan orangtuaku juga membebaskan. Akhirnya aku yaudah aku fokus untuk 2 tahun. Full menjaga anakku aja. Walaupun itu pun menjadi momen yang tadi momen enggak ngapa ngapain enggak ngapa ngapain berarti momen enggak berkarya ya menjadi ibu mah ya ngapa ngapain banget cuma instan berkarya keluar. Mencapai sesuatu itu enggak, tapi aku fokus ke anakku di 2 tahun. Pembicara 2 Tapi setelah momen itu justru kayak refresh dan lebih segar kembali ketika memulai merintis berkarya lagi ya. Pembicara 1 Karena ini momen 2 tahun itu juga riset. Dalam arti kata kayak aku melakukan banyak hal untuk makin ngobrol sama diriku sendiri kayak ini aku kenapa sih dikasih sakit sakitan begini ini kenapa sih rasanya kok susah banget ini kenapa sih? Ternyata ya udah aku diingatkan untuk tidak terlalu banyak mengkontrol sesuatu. Ya sudah lepasin aja jangan terlalu banyak ngontrol anak 1 perintis pula. Ya kan peran tahu juga kalau bisa ngontrol semua nih udara juga kalau bisa aku ngontrol lakukan kontrol bilang. Ternyata nggak bisa. Nah itu aku di momen 2 tahun enggak ngapa ngapain itu aku diingatkan untuk oke. Melepaskan keterikatan pada apapun yang terlalu mesra. Nampaknya sama aku. Power. Daya apa berdaya gitu ya terus ingin mengontrol segala sesuatu. Aku melakukan banyak dipok justru ketika aku sedang ada di fase terendah yang enggak ngapa ngapain. Pembicara 2 Dampaknya dari bahwa harusnya itu kita landem letdam letdam. Sebelum kita tutup. The worst advice yang pernah. Dea dengar. Pembicara 1 Aku yakin 100% semua orang yang nonton suara berkelas hari ini yang mendengarkan juga dan termasuk bila pasti pernah mendengar statement ini. Kamu harus kuat ya. Kamu harus kuat ya enggak harus enggak apa apa. Kamu harus kuat ya, biasanya ini banyak nih rentetannya. Kamu harus kuat ya kamu kan contoh kamu kan jadi contoh kamu kan uh apa? Harapan kita pokoknya gitu lah. Intinya yang kamu harus kuat ya enggak ada pernah siapapun yang mengharuskan kamu untuk kuat selalu setiap hari. Karena apa wear human. Enggak bisa kita kuat terus dan aku karena terlalu mengimani kata kata aku harus kuat. Akhirnya aku selalu merepress setiap emosi. Emosi ku bilang aku beranggapan bahwa istirahat itu tuh adalah dosa. Aku beranggapan kalau aku tidak ngapa ngapain itu berarti aku adalah perempuan yang gagal, tidak produktif berarti aku salah no enggak. Dan aku merasa ketika aku sadar bahwa hidup ini penuh dengan dinamika, kadang bisa bersemangat. Kadang ada waktunya kita istirahat and thats okay gak papa. Itu menurut aku. Jadi siapa sih orang 1 yang nyuruh kita semangat terus yang nyuruh kita kuat terus. Karena kenyataannya kan enggak bisa. Apalagi untuk teman teman laki laki, teman teman laki laki lebih biz nya lebih besar kan kamu kan laki laki kamu harus kuat, enggak ada yang harusin seperti itu. Begitu juga dengan teman teman perempuan. Pembicara 2 Dari itu memang titik di mana seseorang harusnya vennable. Jika di fase terendah dia gitu, di situlah dia belajar. Pembicara 1 Justru ya mungkin ketika berhasil kamu akan merayakannya. Tapi ketika kamu gagal, kamu akan belajar sesuatu. Pembicara 2 Sekitar udah datang suara berkelas aku hepi sekali dan banyak hal yang aku petik hari ini. Pembicara 1 Terima kasih bilang sudah diajak ngobrol di sini. Senang sekali aku.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Rasa percaya diri dimulai dari hubungan dengan diri sendiri; ketika kita jatuh cinta pada diri sendiri, lingkungan sekitar akan merasakan kenyamanan.
  2. Empati tidak berarti harus setuju dengan semua pernyataan orang lain, melainkan menghargai sudut pandang yang berbeda.
  3. Insecurity sering muncul dari validasi eksternal, seperti jumlah penonton konten; solusinya adalah memvalidasi diri sendiri dan kembali pada niat awal.
  4. "Personal CV" berisi nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil dan memengaruhi perilaku dewasa, seperti rasa takut gagal atau sulit mengambil keputusan.
  5. Teknik sederhana untuk memulai percakapan dengan orang baru, seperti mengangkat alis sambil tersenyum, dapat membuka peluang tanpa perlu topik berat.
  6. Menyalahkan masa lalu tidak produktif; yang penting adalah merevisi nilai-nilai yang tidak relevan lagi agar lebih percaya diri.

Summary:

Pembicara 1, seorang communication trainer, berbagi tentang perjalanan mengatasi insecurity, terutama dalam kehadiran digital. Awalnya, ia merasa tidak percaya diri saat membuat konten karena terobsesi dengan validasi eksternal seperti jumlah penonton. Namun, setelah melakukan "inner work," ia menyadari bahwa kunci kepercayaan diri adalah memvalidasi diri sendiri dan kembali pada niat awal, yaitu menebarkan manfaat, bukan mengejar popularitas. Ia menekankan bahwa empati tidak berarti harus setuju dengan semua pendapat orang lain, melainkan menghargai perbedaan sudut pandang.

Pembicara 2 menambahkan bahwa insecurity sering muncul dari pola pikir yang terbentuk sejak kecil, yang disebut "personal CV." Nilai-nilai seperti "diam itu emas" atau "harus selalu ranking satu" dapat terbawa hingga dewasa dan menyebabkan rasa takut gagal atau overthinking. Untuk mengatasinya, kita perlu merevisi nilai-nilai tersebut agar lebih relevan dengan kehidupan saat ini.

Tips praktis yang diberikan termasuk memulai percakapan dengan bahasa tubuh sederhana, seperti mengangkat alis sambil tersenyum, tanpa takut ditolak. Intinya, kepercayaan diri bukanlah bakat bawaan, melainkan hasil dari latihan dan keberanian untuk memulai, meskipun ada risiko kegagalan. Dengan fokus pada niat dan nilai-nilai positif, kita bisa menebarkan energi baik ke lingkungan sekitar.

FAQs

Inner work adalah proses batin untuk memvalidasi diri sendiri, bukan bergantung pada validasi eksternal seperti like atau followers. Mulailah dengan mengenali dan merevisi keyakinan lama yang tidak relevan, seperti 'diam itu emas', serta menggantinya dengan nilai baru yang lebih sehat.

Gunakan teknik non-verbal sederhana seperti mengangkat alis sambil tersenyum untuk menunjukkan keterbukaan tanpa perlu banyak energi. Ingatlah bahwa risiko terburuk hanyalah penolakan sementara, bukan akhir dari segalanya.

Ini adalah kesalahan menilai bahwa rasa malas bertransaksi atau takut menabung semata-mata karena uang, padahal sebenarnya ada rasa takut yang ikut ditabung. Solusinya adalah menabung dan membelanjakan uang dengan perasaan cinta dan kebahagiaan, bukan ketakutan.

Identifikasi nilai-nilai lama dari masa kecil, seperti 'harus sempurna' atau 'diam itu emas', lalu ganti dengan keyakinan baru yang lebih adaptif. Ini bukan tentang menyalahkan masa lalu, melainkan merevisi keyakinan yang sudah tidak berguna di masa kini.

CV profesional berisi pengalaman dan keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan, sedangkan Personal CV berisi nilai-nilai dan keyakinan yang diunduh dari masa pengasuhan. Personal CV membentuk perilaku dan kepercayaan diri kita saat dewasa.

Karena mereka terbiasa dicintai karena prestasi sejak kecil, sehingga takut mengecewakan orang lain. Akibatnya, mereka menunda-nunda memulai sesuatu karena ingin hasil yang sempurna, bukan karena kurang percaya diri.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.