Go back

Amalkan Ini Apapun Yg Kau Minta Allah Akan Kabulkan Jika itu Kau Butuhkan - Ust Adi Hidayat

22m 38s

Amalkan Ini Apapun Yg Kau Minta Allah Akan Kabulkan Jika itu Kau Butuhkan - Ust Adi Hidayat

The transcription emphasizes the importance of making strong prayers with the intention of worship. It provides examples of how to pray for the betterment of oneself and others, focusing on spiritual well-being rather than material gains. The story of Prophet Ayub illustrates the importance of patience during trials and the significance of seeking help through prayer and faith. It highlights the power of direct and sincere supplication to Allah, especially during acts of worship, which leads to quick responses and blessings.

Transcription

3195 Words, 21439 Characters

Jadi saya mengajurkan pertama coba malam dan malam itu lebih menyentuh. Suah sananya tidak seram eh siang. Di kalau kita menunakan soalat bermohon dalam sujud itu cepat sekali. Saya berikan remus cepatnya. Satu, coba ananda atau sahabat saya ini, saya mohonkan kepada Allah diberi kekuatan untuk bangun malam. Di malam hari anda bermohon kepada Allah. Cara memohonnya, satu, anda bisa punaikan, satu dalam sujud soalat tanghanjit. Isharat ini ada dikurang sorah ke 73 ayat yang ke 6, itu tentang soalat bangun malam. Kemudian, dalam sujudnya itu ada dikurang sorah ke 48 ayat 29. Jadi anda bangkit tunangkan soalat. Malam hari anda bermohon kepada Allah. Kenapa malam? Di jauh dikurang sorah 73 ayat ke 6. Inna na shia telayri. Dia asyeduhat awa akwamukilah. Sunggu, kalau anda bisa bangkit di malam hari, soalat di malam hari, maka bangun malam itu asyeduhat. Kali mat-kali matnya lebih menyentuh kepada jiwa. Wa akwamukilah dan setiap perkatan yang kita keluarkan lebih kuat tertahanan kepada jiwa. Di ketika anda bisa bangun malam, dah percaya silahkan. Bangun malam tunangkan soalat berdua. Itu akan lain dengan siapat siang. Ada kekuatan tertentu ini. Lalu dalam sujud untuk menghonkan. Apa darilihnya, kurang seorang 48 ayat ke 29. Mohamed dan Rasulullah, walaidina maahu asyidda, walaidil kufar, ruhhana, ubaianahum. Tarahum, rukah sujada. Yabtaguna, fadbaminahullah, iwa didwana. Tarahum, umat, umat, Muhammed itu anda akan lihat di arajin ruku dan sujudnya. Dan dalam ruku dan sujud khusus yang saat sujud, dia bermohon kepada Allah, dan sepahana huatah anda segala kawutamaan kawutaman dunia dan akhratnya. Jadi ada yang membedakkan antara doa dalam sujud, dengan doa doa di luar dia. Kalau anda sedang sujud kata kurang, minta yang paling utama, jangan minta yang biasa. Di kalau anda sedang kuliah, minta nilai yang utama. Minta ilmu yang utama. Kalau anda sedang berkerja, minta riski yang paling utama. Kalau anda di rumah tangga, minta keberkahan yang paling utama. Jangan nanggung. Termasuk kalau minta surga, minta surga yang paling utama. Jangan nanggung. Mohon, minta, minta. Nanti dah anda permintaan yang paling indah, kecuali memohon kepada Allah, sepahana huatah dalam kasus ini, supaya orang tua mendapat hidayah dah di Allah, sepahana huatah. Tak ada yang bisa dipertaruhkan, dibandingkan dengan orang tua mendapat hidayah, dibandingkan dengan riski di siangat untuk mendapatkan dalam kehidupan. Uang tidak ada sekarang, besok bisa di cari, tapi hidayah dah dimana kita bisa menanti. Pahamnya. Jadi bagian. Jadi minta kepada Allah. Nah, kemudian bahasa doa itu, saya ajarkan kepada antum, tolong kalau antum minta dalam berdoa, cari bahasa yang kuat, yang menyentuk. Koran surah ke tujuh ayat 255, wajah koran, rabbaka, fi nafsika, tador ruwan, wajah, wajah, waduh dah lijah, libinal, koul. Hayah, sebut. Mohon kepada Allah, sepahana huatah. Ya fi nafsika, wajah koran, minta kepada Allah, dengan dorongan diri yang kuat dalam jiwa kita. Di kalau mau minta, minta sepenuh jiwa, dengan bahasa bahasa yang menyentuk. Cebahan temperatikan habisakaria ketika bermohon kepada Allah, liat kelimatnya. Ya Koran surah ke 19, dari ayat 3, sampai dengan ayat ke 9nya lah. Ya paling atas, kanan-kanan atas sampai dengan kebawahnya. Nanti di kabulkan di ayat 11, sampai dengan 13 ya. Poin saya, liat sini, kalau rabbi ini, wahanele alzmumini, washta alarak susah iba, walaam takum bidu ayah kerabisakia. Itu hayah Allah. Hambat tidak pernah putus harapan dalam bermohon kepada Allah. Perangkatakan hamba-mustahil punya keturunan. Tapi ya, hamba-yakin hanya enkau yang tidak punya batas dalam pemanuhan. Han yang enkau yang tidak punya batas dalam pengabulan. Han yang enkau yang tidak punya batas dalam kuasa. Hambat telah bermohon kepada ngusampai fisik hamba-leti, ramut hamba-memuti, tapi hamba tidak punya putus harapan. Tidak pernah putus harapan dalam jawaban dan kuasa-mu. Kalau kepada yang mahati tidak punya batas saja, kalau sampai saat ini belum dikabulkan juga, mauhan tunjukkan kepada hamba-leti, mancara apa lagi hamba-mustahil memohon? Maka ketika kalimat itu mengalir, saya kasih gambaran nuginya. Han yang minta di depan depan rumah anda, cuman lima detik. Pa, kasipa, bu, kasibu, lima detik dikasihkan. Belum tentu. lima hari di depan rumah anda. Pa, kasipa, bu, kasibu dikasihkan. Keterhaluan ke langsung langsung. Minimal supaya dia pergi. Minimal. Untung saja manusia, manusia yang tidak punya sifat rahim bisa membeli. Masa Allah yang punya sifat rahim tidak memberi. Makannya ketika sesuatu orang memohon dengan kalimat yang kuat, Allah kabulkan. Dan hebatnya, kapan kalimat itu dimohonkan, saat-solat. Dalil yang mana, kurang surah ketiga, alai amrang ayat 38, sampai ayat 39, paling kanan sebelah atas. Dia tunaikan dimehrab. Dia memohon kepada Allah. Dia terkalimatnya. Kudah di kadang, Zakariah rabah. Dimehrab itu lah nabi Zakariah bermohon kepada rabdiah. Kalau rabbi hablimin, langsung ke turni atang panjiba. Innaka semi-oddua. Duhai Allah, mahu niah rab. Mereka mengatakan semua setidah mungkin punya keturunan. Makan saya bermohon kepada mu yang tidak punya batas dalam kemungkinan. Hambayakin yang sama innaka semi-oddua. Kau yang mahaman dengan dudukah ambat. Kalo pada yang tidak punya batas, pada yang mahaman dengan dudukah ambil di kabulkan juga lantas kepada siapa lagi. Hama-musting memohon iarab. Memohon iarab. Indah teman-teman. Minta di ketika anda memohonkan dengan bahasa yang kuat. Itu pengambilan itu cepat. Dia mengatuk pintu arah. Memohonkan iarab. Memohon iarab. Ibu saya mengandung saya dalam nalahnya. Bertarung dengan kematian iarab. Ayah saya mencari peluh keringat yang untuk memberikan kebaikan bagi saya satu bu yarat. Saya memohon kepada bu yarat. Berikan kesempatan yang Allah. Agar saya dapat membahangkan kedua orang tuan saya. Memohon yang Allah berikan jalan sepai kedua yang dapat hidayah. Kalo satukan kami dengan kandak mengundi dunia iarab. Kalo satukan di kami Allah. Kalo tetapnya jadi ibu saya Allah. Kalo pilih dia jadi ayah saya Allah. Kalo satukan saya atli dunia iarab. Maka memohon yang Allah. Yangan pisahkan kami saatnya. Ya Allah, satukan kami saatnya kan. Seperti yang kau satukan kami saat di dunia. Saya tidak kuat ketika melihat air mata ibnak. Saya tidak maukan dalam merahkan. Saya tidak kuat ketika di pisahkan dengan ayah saya Allah. Ya kan dengan semua usaha saya ii iarab. Saya sudah tahun. Saya sudah membaca Al-Quran. Saya sudah membahangkan putus arapan tina juga kokapulkan. Maka mengutunjukkan kepanak saya. Ini kan cara apalagi saya masih bermohon kepanak. Minta. Minta. Itu kuat. Itu kuat. Bu spahil bagi Allah yang punya siapa terakhman dan rahmen tina memberikan jawaman terbaik. Bu spahil. Saya yakin teman-teman. Anda punya kesulitan apapun. Doa itu senyata kita. Alat kita mendapatkan kepada Allah sebahagian. Mohonkan dengan bahasa yang kuat. Yang lembut. Dan yang ketiga yang terakhir, sihat doa itu kalau ingin cepat dikambulikan arakan pada kepentingan ibadah. Teratikan nabi ayub al-ahisalam. Kurang surah keduapulis satu ayat 83-84. Paling kehilis belata. Dan kalimat yang dibuka dengan fatah. Fatah itu dari kata fatah. Sesuatu yang terbuka. Jika ada kisah di masalah lu, dibuka dengan fatah. Itu artinya kisah itu dibuka sebagai petunjuk bagi masa generasi setelahnya. Bisa bagi Allah mengatakan waayubu. Tapi di sini, Allah memulai dengan fatah. Waayubat. Caram membacanya. Dan kami buka kisah ayung untuk menjadi inspirasi bagi orang-orang generasi setelahnya yang punya masalah dengan diri-beliau. Masalah yang sama dengan yang dialam. Lihat, "It nada, rambahu, ini masanya beruang untuk arhama rahimin kuat sekali." Ayub al-ahisalam. Nabi Rasul. Dekat dengan Allah. Sangat disayang oleh Allah. Suruhganya cilastrenjamin. Tapi status beliau sebagai nabi Rasul yang sangat disayang itu tidak menghantikan fitrah kehidupan untuk mendapatkan ujian. Nabi pun di uj. Anda bayangkan nabi di uj, Rasul di uj, yang paling disayang Allah di uj. Anda nabi bukan, Rasul bukan, dan belum tentu Allah sayang-andas seperti Allah sayang nabi ayuh. Terus Anda nama uj di uj. Anda siapa? Durasinya, jadi ujian itu fitrah dalam kehidupan. Justu Anda harus naran kalau selama hidup, Anda nga di uj. Berarti Anda sedang tidak menjangan di kehidupan. Cuman Anda merasa hidup. Pahamnya, orang hidup itu pasti dapat ujian. Jadi kalau seharian nangga di uj, berarti Anda harus bertahannya, sebetulnya saya masih hidup apa-nggak. L thisnya, ti. Ujiannya dahsyan. Hanya tiga hari. Tapi melalukan seluruh dalam kehidupannya. Satu di uj, status kehidupannya dengan haruta habis kesolohannya. Habis terbakar, hewan mati dan sebagainya. Setan mengira, akan keluar dari ketatan pada Allah. Ternyata yang terjadi, maink dua kali lipat ketatannya. Ujian kedua, masuk pada keluarganya. Semua anak-anaknya wafat, sehari dua belas anak. Mengeluh, tidak meningkat ketatannya. Tiga, diberikan penyakit. Ya, penyakit. Yang kiraknya, tidak pernah di alami orang sebelumnya, tidak akan dirasakan orang setelahnya. Hati-hati ya, saya ingin tegaskan saya belum mendapat diri wayat yang valit tentang jenis penyakit. Kalau di korang, tidak sebutkan jenisnya, ini artinya bukan untuk di cari jenisnya, tapi untuk diambili hitmahnya. Jadi, antom tidak perlu kreatif mengarang jenis penyakitnya. Belas ya, dabi ayuh, terkenal penyakit, kulit, oh, kena belatung, belatungnya banyak lagi. Bagi itu, mula soalat dicapit dulu belatungnya. Sudah soalat di pasang lagi, pada kerjaan. Nggak ada kerjaan. Belas ya, tapi penyakit ini, tidak diterita orang sebelumnya, tidak akan dirasakan orang setelahnya. Poinnya adalah, biat-bai-bai. Beri uji dengan kesenangan, konon 20 tahun, ujian itu, sakit, anak meninggal, dua beras, harta habis semuun, 7 tahun berlalu. Istinya datang. Bahasa kita, "Pah, mahu nak kepadahamah, sembuhkan penyakit." Istinya hebat. Tidak minta kaya. Coba kalau ibu istinya, jadi istinya nabi ayuh. Mengpung bahan-bahan ambik, kapan lagi jadi nampik. Maksud Allah. Pah, minta sembuh, ayah, please punya anak lagi. Tiga. Istinya nabi ayuh, karena tarbihnya jalan, bahasa kemanusia aja darhana, minta sembuh. Minta sembuh. Apa jawab suaminya? Kata suaminya, berapa lama kita di ujian kesenangan? 20 tahun. Berapa lama kita di ujian dengan hal yang kita anggap kurang berjanangkan? 7 tahun. Nanti saja, kalau ujian yang ini, sudah sebanding dengan senangnya kita selama 20 tahun, baru saya bermohon kepada Allah untuk disembuhkan. Saya malu. Bada 7 tahun, sudah bermohon kepada Allah, malu belum sebanding dengan kena imatanya yang pernah kita rai. Kena nak. Terima kasih agak, kaya dah yang ketiga. Begitu, penyakit itu mulai mengganggu nabi ayuh untuk menunakan ibadah. Ini poinnya. Saat penyakit datang, ibadah di tunakan yaman, itu tidak ada masalah. Minta. Tapi ketika mulai mengganggu, mengganggu itu durun bahasa harapnya. Durun sudah ada gangguan fisik, sudah tak nyaman ibadah dan sebagainya. Makan mulai nak bermohon kepada Allah. Ya, liat kalimatnya. Irna ada rabbi, ambil masnih, duruaan, taraham rakingin. Ya Allah. Penyakit ini, sudah mengganggu saya untuk bisa fokus beribadah kepada Allah. Mengganggu ke khusuan saya untuk beribadah kepada Allah. Makan mohon ya Allah, hanya yang kau yang paling sayang kepada saya. Sambuhkan saya ya Allah. Agar bisa nyaman lagi ibadah kepada Allah. Kalau pada yang paling sayang saja, kepada saya tidak menyembuhkan, nantas kepada siapa lagi saya mesin memohon. Anda tahu apa yang terjadi, bagi tu beliau memohonkan dengan kalimat yang kuat, dengan bahasa menyentuh, dengan tujuan untuk ibadah, kalimatnya turun langsung, ayat 84nya. Vastajabna. Kami jawab, kami kabulkan doanya. Lihat. Vastajabna. Kami jawab. Kami sembuhkan kemudian. Penyakitnya, lihat kalimatnya. Ini yang paling indah. Kemudian, kami kembalikan ke luarganya. Waatainahum. Mis dahum. Ya? Waatainahum. Kami kembalikan lagi ke luarganya. Dan yang paling indah, yang semisalnya, wanis dahum maafum. Rahmahcan min indah. wanis dahum maafum. Lihat, baik-baik. Tadi nabiyaya punya anak berapa? 12. Bagi tu disembuhkan mohon kepada Allah, dengan tujuan ibadah, dengan bahasa yang menyentu turun jawaban. Kami sembuhkan penyakitnya, satu sembuh. Ini poinnya. Yang kedua, kami kembalikan ke luarganya. Maksudnya, telah sembuh. Ya, nabiyaya berhubungan dengan istinya, melahirkan lagi istinya. Bagit-belahir, kembar, kembar, kembar, kembar. Bukan cuman kembar. wanis dahum maafum, dua kali lipat dari sebelumnya. Tadi dua belas, bagit-belah sembuh, dapat anak berapa? 12 kali dua, 24. Kalau membahas orang dulu, jangan disambahkan dengan orang sekarang. Oh, saya tiyat di kalau sekarang, kalau enggak dua empat, orang dulu, 24. Ya. Bagi ini, bab terpisah. Kembalikan sini. Hebatnya, bagiturni di kabulkan, lahmatan minan dina, sebagai rahmat dari kami, yang ketiga, tadi maaf, tadi kan, tiga ujiannya, baik sakit, lahilang, anak meninggal, keluarga habisnya, kecuali istri, liat baik-baik sakit, jadi sembuh. keluarga kembali dua kali lipat, yang paling menarik, yang tadinya, beliau jatuh fakir habis semua artanya. Karena saat hidupnya, orang yang paling termawan, yang paling baik dan semaganya, dan kanon disembutkan di kampung beliau tinggal itu, orang-orangnya sangat begitu perhatian. Di antara perhatiannya, kalau ada orang sakit sembuh, dah datang membawa sesuatu untuk diberikan. Jadi bagiturni mendengar, nabi ayam sembuh, orang sekampung dah tanggung bawah arta. Kasi lagi, kasi lagi, kasi lagi, kaya dua kali lipat dari sebelumnya. Masha'Allah, dua kali lipat. Perhatikan, pehala sabar, pehalakanah, pehala istikoma. Kalau ada yang bagi ini, antumpun mau sakit itu. Cuman sayang ketahal koran. Tidak akan penuh di dirita orang sebelumnya. Tidak dirasakan orang setelahnya. Tapi liat bahasa koran, dia baik, wadi kralil ayat. Ujung ayat yang paling indah. Ayat 84nya, ujung ayatnya, wadi kralil ayat. Kali mat ini kita panak udah matafsiin. Menjadipengah. Bagi kita semua yang hidup masa setelah ayu. Dia dah hasap orangnya. Wadi kral, dan kisah ini, mesti menjadi pengingat di lahab hidin untuk hambah-hambah, Allah yang salah, yang punya masalah yang sama dengan ayu, dan mengamalkan apa yang ni kerjakan oleh ayu. Maka kami akan berikan yang serupan dengan ayu. Pada penyakit yang sama saya, Allah akan berikan kesembuhan yang sama. Sedangkan penyakit ini di dirita orang setelahnya. Jadi kalau ayu bisa disembuhkan alihisah, masakan tu yang penyakit kita tidak seperti nabi ayu, tidak bisa mendapatkan itu. Maka liat amalannya. Apa diantara amalannya, satu konaah mendari apa yang tetapkan Allah, sebuah nahu atal. Hatunnya dengan mengeluh. Masih beruntungan tu yang dipilih sakit bukan orang lain. Bukan gak sakit bisa mengampuni dosa. Ketikaan temberi stikman, cuba liat semakin kencang tinggi penyakit, semakin bekatan tu dengan Allah. Dulu anggam sebelum sakit, jauh, sakit kecil, baru astagfirullah, sakit merat. baru tahan jut. Kali silahkan, kemarin kemana saja? Sekarang tahan jut. Sekarang puasa. Sekarang fikir. Sekarang bacak kuran. Kadang-kadang liat penyakit. Pahala Allah ingin berikan. Bukan karena sakitnya. Pahala antum yang belum dapat. Kalau sudah diberikan sakit, tuar biasa beratnya juga. Lok terasa nasi ni juga belum bisa bermohon. Belum bisa memberikan yang terbaik, ingat kai dahnya. Kalau mahluk sudah mengangkat tangannya, itu pertanda dari sangkali, Allah sebuah nahu atal, agar anda cepat kembali kepada ini. Kalau semua sudah angkat tangan, sudah henap semua, give up itu pandal langsung dari Allah supaya anda langsung memohon kepada Allah tanpa perantara. Itu poinnya. Karena Allah setahmen cinta yang dah. Bakan anda cepat respon itu. Tinkat-kanibah dah tinkat-kanibah dah. Bukan kai sakit mengampur dirusah. Stick far, stick far, stick far. Ada jamah kita saat pertama saya datang kebakasi di Ujjala Allah dengan penyakit. Padahal baru ikut sekali kejian. Satu dari peramugari. Sti wordis dia. Masha Allah. Satu kejian datang. Saya siang kedua, beliau tidak ada. Kemudian saya menerangkan dalam kejian akhwat us dimet di belakang ada yang terisak. Kenapa saya bilang? Teman kita uskan masak kritis pada baru ikut pengajian. Oh, baik. Uskan mengandua. InsyaAllah, kita doakan. Terlanjutkan dulu. Nanti dia akhirnya kita doakan. Kemudian mau berakhir. Ada semakin pencang tangisan. Kenapa? Uskan. Kami dapat berita. Kawan-kamisto di panggil Allah, suruh halah-halah. Kita akan indahin. Indahin. Indahin. Rajaun. Kemudian, Masha Allah. Anda tahu apa yang terjadi? Itu kami semalam jumat. Semalam jumatnya saya datang keromanya. Masha Allah. Bagi itu datang, kami tak ziyah. Lua rabiasa. Belasan, atau mungkin puluhan tahun dia berkaru dalam kehidupannya yang datang cuma bunganya. Tapi dia sekali ikut tak dim, yang datang jumah pengajiannya. Datang. Suaminya ikut datang. Istia ikut datang. Masha Allah. Dua rabiasa. Kami dapat beruntung perampuan ini. Bagi itu dia mau kembali kepada masanya. Kita tak bisa nolak anjal. Aja letung takkan bisa dipilih kapan anda perginya. Kapan anda kembalinya. Bisa dengan cara apapun. Tapi Allah berikan jalan terbaik untuk perampuan ini pulang. Apa yang terjadi? Allah berikan sakit. Dan Allah isualah si dirungah sakit. Supaya di situ, dia mendekat kepada Allah. Suah halah-halah. Dalam bahasa manusia. Tidak sembuh. Dalam bahasa. Nilai ke imanan kita. Hei, di jaga oleh Allah. Supaya tidak balik lagi menengar yang haram lagi. Malihat yang salah lagi. Mengatakan yang tidak baik lagi. Bergaul dengan orang-orang yang tidak baik lagi. Ditutup di situ sampai wafat yang kepada Allah. Suah halah-halah. Saya katakan bertepang peruntung ketika pulang. Dia sedar diampuni dari dosa dosanya. Ishahamlah. Dan dia tidak berbuat masyid lagi. Pertanyaannya. Maaf. Kita. Bagaimana cara kembalinya? Tentang apa yang terjadi? Ini meninggal. Tempatnya di sini. Ya. Saya katakan. Malai ikat mau datang menjemputnya wanya. Saya tidak tahu malam ini. Malai ikat mau ke mana. Tip. Tiba-tiba yang terjadi. Besoknya. Ini tempat kami tinggal. Malikat mau cuman. Lompat sekompleks ini. Ini yang meninggal. Ini ibu-ibu. Ini seorang bapa. Aktif di perusahaan macam-macam dan sebagainya. Kedaralah meninggal. Menengal-menengal pun bagus. Masya Allah. Dan ketika meninggal, keaktifannya di perusahaan hanya meninggalkan kerangan bunga. Yang paling hebat yang datang siapa. Orang-orang masyid dan mengatakan ustad tau. Kau ustad kalau itu perjuang subuh. Datang subuh datang subuh masya Allah. Untung, bagaimana cara kembalinya? Karena kita tidak bisa memilih. Untung bisa pulang duluan. Saya bisa belakangan. Atau di balik, saya belakangan. Untung duluan. Saya terjadi. Ya. Untung ketakan sama aja ustad boleh. Ya. Saya duluan sekalahan tum. Kenapa salah? Ya. Jadi. Minta dengan bahasa yang kuat. Mohon kepada Allah. Minta. Dan. Minta dengan. Tujuan itu. Ibadah. Ibadah. Ya. Arakan kesitu. Ya Allah, saya Mohon yang rap. Saya Mohon yarat. Saya Mohon berikan hidayah kepada kedua orang tua saya Allah. Saya Mohon supaya dengan itu semua saya bisa salah bersama mereka ya Allah. Bisa mengyumama mereka ya Allah. Bisa berhagi kebebiatullah. Bisa meningkatkan takua kepada ketika permohonan diarahkan pada ibadah lebih cepat di kabulkan dibandingkan dengan urusan dunia saja. Concept ini bisa dipakai dalam turunan kehidupan kita. Maaf. Untung, sering bermohon kepada Allah. Kenapa cuman minta dunia? Coba cik. Kebanyakan orang yang belum punya kendaraan, itu sukanya minta kendaraan. Kurang pak. Kurang angkap kalimatnya. Minta kendaraan tujukkan untuk kepentingan ibadah. Ya Arab. PTM, yaratnya cukup iaudah tempat saya Allah. Jalan kaki berhati Allah. Datang kajian sudah salah saya. Ya Arab, Mohon berikan kesempatan. Jadi kan ya Allah. Bagian dari kehidupan saya mendapatkan raihan dari surga dengan kendaraan yang mengantarkan saya pada penutadan ilmu yang baik. Saya ingin merubah hidup saya Allah. Saya ingin hidra Allah. Saya ingin lebih baik selatnya Allah. Saya ingin melajar. Saya tidak minta banyak ya Allah. Motor. Misalnya kan? Finta. Bukan bahasa yang baik. Itu biasanya. Lebih menarik. Ya. Dan biasanya lebih cepat menghasilkan suatu kebaikan. Ya. Buktu rumah. Jadi. Rumah satu miliar misalnya. Atau, taruh lah berapa, Mohon. Ya Allah. Saya sudah banyak penulikan selatnya. Sesuai dengan kuasam. Suai dengan puketahuan. Tapi Mohon ya Allah. Sampai saat ini saya belum punya kemampuan berzakat dengan maksimal ya Allah. Mohon sebelum mafat beri kesempatan saya berzakat. Mohon berikan 25 juta saja untuk berzakat. Maksa Allah. Zakat berapa persen? 2-5 juta itu berarti minta ni berapa? Suatu miliar. Baik ya. Untuk zakat 25 juta sisanya. Maksa Allah. Ayuh praktegan. Sekiranya malam-malam tahajud semua lagi ya Minta. Luar ya, sir. Saya jadi satu itu kemudian setelah berdua. Coba ikh tiarkan dengan ikh tiar-ikh tiar muamala halian. Apa di antaranya? Coba tutup peluang-peluang untuk bisa fokus ibu unda dan ayahandah itu kepada keyakinan-keyakinannya. Misal, hari-hari ahad saat dia mengat sesuatu ajak kemudian untuk keloah. Undang-teman-teman yang keranya baik punya akuak yang baik datang ke situ atau ibu undang-undang untuk mengunjunginya. Di situ diskutilah dengan kebaikan-kebaikan. Saling menyayangi, berikan hadiah terbaik, tunjukkan ahlak mulia dengan itu semua. Insya Allah, ada hidaya, insya Allah, hadiah dan tertuang dalam kehidupannya. Saya hanya bisa membantu berdua. Mudah-mudahan Allah, sebab Hana Huatala berikan yang terbaik dan apa yang bisa saya bantu silahkan disampaikan. Mudah-mudahan dengan ikh tiar itu Allah mengabulkannya insya Allah.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Minta dengan bahasa yang kuat saat berdoa untuk ibadah.
  2. Perumpamaan tentang Nabi Ayub dan kesabarannya dalam menghadapi ujian.
  3. Pentingnya memohon dengan tujuan ibadah dan keselamatan.
  4. Contoh-contoh permohonan yang disarankan untuk kepentingan ibadah.
  5. Kemampuan doa yang langsung dijawab saat beribadah.

Summary:

The transcription emphasizes the importance of making strong prayers with the intention of worship. It provides examples of how to pray for the betterment of oneself and others, focusing on spiritual well-being rather than material gains. The story of Prophet Ayub illustrates the importance of patience during trials and the significance of seeking help through prayer and faith.

It highlights the power of direct and sincere supplication to Allah, especially during acts of worship, which leads to quick responses and blessings.

FAQs

Coba mohon kepada Allah dengan kuat dan tulus saat sujud pada malam hari.

Berdoa di malam hari memiliki kekuatan tersendiri, seperti yang disebutkan dalam surah 73 ayat 6.

Doa di sujud sebaiknya meminta yang paling utama, bukan yang biasa.

Minta dengan bahasa yang kuat agar doa lebih cepat dikabulkan, seperti contohnya dalam kisah Nabi Ayub.

Minta kepada Allah dengan tujuan ibadah yang tulus dan kuat, seperti yang diajarkan dalam kisah Nabi Ayub.

Kesabaran dan istiqamah sangat penting saat diuji dalam hidup, karena Allah memberikan pahala yang besar bagi orang yang sabar dan istiqamah.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.