811 TERNYATA SELAMA INI BU HAJI BAIK KARNA MAU MENJADIKAN ANAK SAYA TUMBAL PESUGIHANNYA
77m 53s
Kesaksian Teh Yuli berpusat pada pengalamannya tinggal di sebuah kosan di Subang yang dimiliki oleh seorang Buhaji yang diduga kuat melakukan praktik pesugihan. Lingkungan kosan dianggap angker, dengan adanya makam tidak umum di belakangnya yang hanya berisi beberapa batu nisan. Berbagai kejadian mistis terjadi, seperti suara langkah dengan gelang kaki di tengah malam dan penampakan sosok menyeramkan yang dilihat penghuni kosan lain, menyebabkan mereka kabur. Saat sedang hamil, Teh Yuli diajak Buhaji dan istrinya ke Garut untuk suatu keperluan yang ternyata adalah ritual malam. Mereka membawa kambing, berziarah ke makam leluhur Buhaji di tengah hutan pada pukul 00.00, dan melakukan doa-doa. Cerita ini dibagikan dalam konteks channel Lentera Malam yang juga menyoroti bencana banjir bandang di Indonesia dan mengajak penonton untuk berdonasi. Keseluruhan narasi menggambarkan ketidaknyamanan dan ketakutan tinggal di tempat yang dianggap memiliki aura negatif, terutama dalam kondisi rentan seperti kehamilan.
[Tempat di atas] Koliat itu ada ibu-ibu memang di taras permisi bu. Ini bisa lagi nyari kosan-mu gitu. Oh ya masih ada di belakang yang kosong gitu. Eh ikut aja sih. Itu lewat chanting rumah ke belakang. Kurang lebih di situ, kayak 60 kamer ada itu. Puan yang luas banget. Lelah mati ada makam juga. Tapi yang ditutupan sempat yang bikin aku aneh itu banget. Itu bukan pemakaman, oh umum makamnya tuh hanya sekitar kaya lima atau meneh sang gitu. Dan misalnya itu bukan yang misan bagus, kayak makan terawak gitu. Bukan kaya misan cuma batu. Itu sampai garut itu sekitar yang 10 alam. Dan yang barang-barang mau mandi aja dulu. Nanti habis mandi kita yang 12 mau nangjak nih. Nangjak mana buh aja kita mau zihah lah kesana gitu. Malu malam gitu. Iya, itu nangal-nang. Terus masuk hutan. Itu sekitarnya itu pohon gitu. Itu begitu kita nyampek. Dari pohon-pohon itu banyak banget pada turun. Nah yang bikin aku heran tuh bang. Kita mau berdol, tapi buh aja itu ngeluarin kaya beda, dipstick, kepunyak di atas kaya, dan bodi gitu. Ditaro di sampai misan. Itu aku melayang rasa badan aku melian gitu. Kayak mau almual gitu ya. Dan aku baru ingat itu. Aku dah telat 10 hari ya. Ditaro di 10 hari. Terus aku boleh terspekternya tak positif. Iya, berarti kemarin waktu ikut jarah itu sementara mila dong gitu. Gimana ya rasanya nge-cost di tempat yang pemiliknya itu di duga kuat melakukan pesukian. Dan pada saat itu pula, kondisinya naru sempur kita ini itu sedang mengandung atau hampil. Nah, penasaran sama ceritanya, langsung aja kita tanya sama naru sempurnya di sini udah ada namanya Teh Yuli. Jadi langsung aja kita sempur. Teh Yuli apa kabar Teh? Alhamdulillah sehat. Sehat ya. Alhamdulillah. Ini Teh Yuli ini pernah tinggal di sebuah kosan yang katanya itu pemiliknya melakukan. - Melaakukan pesukian. - Iya. Betul deh. Iya betul. Bola ceritans sedikit kenapa bisa Teh Yuli itu berpendapat kalau memang kosan ini itu melakukan pesukian. Jadi ini karena waktu itu aku pernah diajak jarah sama ibuk kos itu. Teman-teman kemakan di atas sedikit di tengah hutan. Itu yang disekitar makam itu monyet sama isinya. Di monyet besar-besar itu banyak banget disitu. Nah, tabah lagi, dengar kabar dari varga sekitar kalau buh aja itu pesugian. - Kudis itu udah banyak yang tahu. - Iya, banyak yang tahu. Dan kalau tahu aku melakus disitu itu mereka pada bilang, "Isit tata beramian?" "Nggak takut deh." Dan pada saat nge-cos itu katanya Teh Yuli dalam keadaan hamil, guys. Dan ada beberapa sikap dari pemiliknya ya? - Iya. - Itu agak-agakannya gitu ya? Iya, jadi waktu aku dah hamil, itu buh aja itu baik banget banget. Empoknya dia bikin makanan apa juga aku dikasih, atau kalau aku lagi libur ada di kosan juga aku diajak makanan di rumah dia. Kedeng-kedeng diajak jalan-jalan atau dia punya baik aja. Ya aku liat itu ke temen kos yang lain aku belum pernah liat ada anak yang diajak jalan sama bau aja atau dikasih apa sama bau aja itu aku belum pernah liat dan belum datau. - Oh. - Nggak kekakuti bener-bener baik. - Kenapa? - Kenapa? Dia aku menilai bau aja ya baik, ya aku juga baik aja. Oke, oke. Oke, kalau dari gue sih pernah sangat banget nih ceritalan kapnya, karena ini keadaan ini lagi hamil dan nge-cos di kempet pusuh gihat. Dan gue temen-temen yang pernah saran juga, simap videi sampai habis seperti biasa, kalau pengen jadi narah sembel juga, seperti Teh Yuli kalian bisa langsung aja ke Instagramnya lendar malam, di @lendarmalam.de atau hubungi nomor yang ada di boi ini, lalu kalian kirim voice note-nya. Oke, guys, kayak lagi buat pasukan lendar malam yang penasaran sama ceritalan kepteh Yuli mengenai kosan yang katanya pecugihan di derah subang, tonton videi sampai habis dan tanpa pas-basi lagi. Sakin bisa rikita mulai. Banjir Bandang melanda beberapa wilayah di Indonesia aku. Susia, sumat terbarat, sumat laut arah dan aja. Dan musibah bincang ini banyak memakan korban jiwa, ilangan tempat tinggal, bahkan sulit, pemenuhi kebutuhan, pokok untuk bertahan hidup di tengah kondisi yang kritis. Lalu untuk membantu dan sedikit meringgankan beban saudar-saudar kita lendar malam, mengajak teman-teman untuk menyesikan sedikit rejeki dan berdoa nasi bersama lendar malam. Dan buat teman-teman yang ingin berdoa nasi, bisa langsung aja kunjungi link kita bisa dot com di bawah ini atau linknya itu gue taruh di caption atau deskripsi ya guys. Persama lendar malam mari kita penduli sesama saudara kita di Indonesia. Jadi waktu tahun 2013, pulang October, saya kan ngelemar kerja di pabrik Garmin di Subang bang. Karena saya waktu itu tinggal di kebumen, punya anak dua saya di kebumen, jadi mau gak mau saya harusnya kos di Subang ya, ya anak tetap sekolah di kebumen. Saya berangkat ke Subang dari kebumen naik bis di antar sama suami. Nggak pedi Subang kurang lebih waktu itu jempat sorry. Kita sempat mampir di warung makan seberang padrik yang bakalnya aku keliadis itu. Sempat makan di situ sama suami, terus sambil cari-cari impok nanya kos-kosan ke ibu warung. Ya aku tanya ke ibu warung bu. Saya lagi nyari kosan bu, di arah. Ini ada gak yang dia bu yang daked ke sini, kalau ada kosan itu, terus ibu warungnya gak sih tau ini teh disebelah, disebelah warung ini kos-kosan itu. Aku liat itu ada ibu-ibu memang di taras lagi, kayak lagi deduk sante gitu. Itu umurannya sekitar 60 tahun, tapi badannya masih segera. Kolitnya agak galak gitu ya, main noir gitu, dan dannya menurut pakai lipsticks gitu ya. Jadi yang bener-bener pananya merah gitu. Perhiasannya, gue digedai banyak gitu, di paketnya. Pake dastar, terus sambutnya diiket digulung ke belakang. Terlagi itu di taras. Terlagi itu sama suami permisi bu, terus menggak naik, gimana gitu? Ini gue siar lagi nyari kosan bu, kebarnya dari ibu warung katanya disini ada kosan itu. Ya ikut aja, terus dia. Dia jalan aku serung ikutin dia dari belakang gitu ya. Itu lewat samping rumah ke belakang, sampai ke temukan rasa, terus ke ambis itu, masuk ke arah kosong yang luas banget. Bener-bener luas. Pohnya luas banget. Banyak ya. Oke, terus maksudnya ke belakang lagi, sampai kita ngelangatin ada makam juga, terus ke belakang lagi. Baru lah kita masuk halaman rumah gedek banget. Jadi ada rumah gedek banget, halamannya luas. Kita masuk ke belakang gervang. Itu kosan ku ada disini. Jadi kosannya itu 7 kamer, letter L, 4 dan 3. Nah disini aku seru milih sama buah ji. Mok nah yang mau milih yang mana katanya begitu. Oke, aku tertarik, kamer yang diujung L. Diujung L. Ya, disini itu tuh aku lihat, suasanya ada, jadi kayak di depan kamer itu ada pohon manggak besar. Terus posisinya kan dipodjuk, ngga kelewatan orang yang balak-balak di kita. Tapi, ngelik kamera itu, tapi nggak boleh sama selami. Jangan bilang yang ini, yang ini terang katanya selan gitu. Ernya aku milih yang itu, aku ngerut sama selan. Yang ini aja buah ji. Oh ya udah nggak papan-papan, bahwa baji sebulannya berapa ya gitu. 300 leng itu, saya belum bawa wang tapi baji, boleh gak dp dulu, boleh nggak papan, nanti di bayarnya habis neng-gadian juga nggak papan-papan. Terus, yang ini ya, makasih ya buah ji. Iya, ya, sok neng mau beres-beres itu, buah ji tinggal ke rumah dulu ya. Dia ngerus ke rumah besar itu. Jadi, kereta nya rumah besar itu, rumah tinggalnya buah ji. Nih, buah ji tinggal di rumah besar itu. Ini rumahnya tuh berhadapan langsung dengan kamer kospo. Oke. Alamannya luas, pohon-pohonnya banyak, ada pohon gede-gede, apon, manggak ada, rambutan, ada, terus, aku lihat pohon-jang, bu ada, pokonnya luas lah alamannya, banyak pohon gede-gede. Terus itu aku estirahat, dia gak ke dalam, sama-sama kejubah. Jadi, kosannya itu, hanya ada,
ada ruang tamu yang berpungsi buat tidur juga, misalnya hanya dari ruang itu, dan belakangnya itu udah kamer-mande, plus dipajoknya bisa untuk dapur gitu, bisa untuk masa. Jadi antara ruang itu dengan kamer-mande itu disekat timbok, tapi timboknya gak sampai atap. Jadi dari timbok ke atap masih ada sekitar setengah netara. Jadi bang, kamer-kosan ku itu terpisah dari area kosen yang tadi kita lewatin, kalau yang depan itu memang area kosen yang bener-bener kamer ini banyak banget. Itu punya buh aja juga. Itu punya buh aja banget. Jadi kamer-kosan ku itu ada di area halaman rumahnya buh aja. Jadi terpisah dari yang tadi, dan waktu aku ke situ itu belum ada pengennya, mas Kosong. Aku yang satu-satunya yang tinggal disik. Tapi kalau yang kosen-satunya lagi itu penuh. Iya, itu penuh. Itu penuh. Masih punya buh aja. Tapi waktu itu bang, sempat yang bikin aku aneh itu bang. Makam yang di belakang kosen itu bang. Itu bukan pemakaman umum kaya-nya kan ya, sangat kuliah waktu itu. Makam itu hanya sekitar kaya lima atau nmesan itu. Dan nmesannya itu bukan yang nmesan bagus, kaya makan terawar itu bukan. Kaya nmesan cuma batu. Masih batu baru tulis, kan? Tapi bukan yang bagus gitu, juga batu. Itu aku rada. Gak tau kaya rada aneh aja ke itu. Kalau lihat makan itu itu. Jadi aku pikir sih waktu itu karena adaknya itu di belakang kosen. Terus masih di area rumahnya gue aja itu. Pekirku ya, mungkin makan keluar, ya itu lah. Makan keluar dannya gue aja. Jadi gue aja ini punya anak dua bang. Pempuan, teh deh sama teh iyo. Itu tinggalnya di rumah depan yang pertama kali aku lihat. Lalu duduk di taras itu. Jadi rumahnya itu dua dengan model yang sama dan tipo yang sama. Tipa ling depan. Berdampingan gitu. Kita masuk lah ke dalam kamar, ya beres-beres. Dan malam itu tuh aku masih di temanin sama Suami Kubang. Jadi Suami Kub masih meninap disitu besok paginya. Aku melayunkat kerja. Suami Kubulang ke Cirobon. Karena Suami Kub itu kerjanya di Cirobon bang. Jadi sovirt. Jadi jarang pulang aku tinggal sendiri yang di subang. Sekitar dua minggu kemudian itu Suami ngabarin kalau mau pulang ke subang gitu. Tapi karena bener-bener buang naiq disini malam dari Cirobon jam 9. Ketika bilang nanti paling sempat subang jam 2an mah. Terus aku putusin bati dur dulu sama 2.5 pulang. Aku tidur waktu itu malam minggu. Terus sekitar jam stengah 2 malam tuh. Aku kaya dengan suara orang setengah lari. Tapi suara itu kaya orang pakai gelang kaki bang. Jadi kaya kringcing kringcing kringcing kringcing kayak gitu. Liga ritmenya tuh ritme orang setengah lari. Kringcing kringcing kringcing. Itu arahnya dari samping kamar kosku. Lari ke lewat depan kamar. Langsung ke arah L itu. Terus ilang. Ke arah kamar yang L itu. Terus ilang disitu sebaranya. Aku kaya suara apa gitu ya. Mokaya orang lari pakai gelang kaki. Tapi aku gak berani tuh bang penasaran tapi gak berani ngintip lewat gue. Deng itu aku gak berani. Jadi penasaran tapi takut gitu. Adian lagi aku lagi takut ya. Ya dingung itu suara apa. Jem jem sudah menekati jam 2 itu. Terus ada suara orang itu pintu gitu. Alukan jam 2 ini suami aku bukan ya gitu. Sempa ini sempet telpon gitu. Terus telpon diangkat sama suami aku. Mah buka ini aku udah di depan pintu gitu. Dan depan pintu. Liga berarti suami aku. Yang ditlewat, warling ternyata dia benar. Aku buka. Lalu aku tanya, "Pah, kau gak kena ngeram nahtarnya?" Ya tadi naik ojek itu. Tukang ojeknya sampai makan udah gak berani kesini. Gak mau katanya takut. Jadi apa seru turun di depan makam itu? Makam yang tadi kelewatan itu agak di belakang kosan. Oh jadi jangan kaki kesini ya. Tapi itu tadi di kosan depan tuh anak-anak pada ramai temah. Ada apa ya? Dia asam mungkin malem ingguh kan suka malek kan aku bilang gitu. Terus oh ya udah. Cengacirita, hari senen paginya aku berangkat kejap suami aku balik kecerobon seperti biasa. Aku ketemu sama di maya-maya itu anak yang tinggal di kosan itu di kosan depan itu. Nah ketemu sama maya, si mayatannya. Data, masih yang kokos di situ, masih. Kenapa gitu may. Terus, itu tadi memang gak tau waktu malem ingguh itu. Ada waktu dia dia tahu itu. Anak-anak sampai pada ketakutan. Kenapa jadian apa itu tetet? Jangan setengah dua malem kita lagi pada malekan. Itu dari arah rumahnya sih, tehende, hari. Itu ngalewatin kita kita sampai ke arah kosan tetet. Apa sih gitu? Itu temah lukting dibesar. Itu gambutnya goandur, matanya merah. Ada taringnya, itu lantai. Kak kita lagi pada makronya pada ketakutan, nelak anak itu. Terus gimana? Kita kabur malem itu juga. Kabur ke mana? Nyarik kosan lain. Sekarang kamu udah gak di situ. Nggak. Aku udah ngelusurasi mayat itu ke inget. Terus arah yang aku udah ngelusur, arah yang kerencing-kerencing itu kan. Jamnya mirip, jam setengah dua ya. Aku mengajet-nya kan apa itu ya gitu. Jangan ngomong aku sama si mayat itu. Terus sehingga cerita, pulang kerja hari itu, pulang kerja sekitar jam 5. Aku udah nyampe kosan. Itu aku di telefon sama, tetet lagi di mana. Di kosan, teh gimana teh? Bisa mahalnya ke sini gitu. Aku diseruh main kerumanya teh. Terus, ya deh nanti insya Allah, kita aku gak abis maju itu. Aku abis mandi-mandi dan sebagianya abis maju. Main aku kerumah teh. Tampai jam 7 malem, aku lihat anak kosan yang depan itu, yang udah pada kabur itu datang. Beritiga cowok. Kerumahnya sih, teh iyo, teh iyo itu kakanya teh teh. Yang rumah sebelahnya teh teh. Yang berbijar dua itu. Nah itu datang ke situ. Dan disitu itu udah ada buh haji. Terus teh iyo sama suami nya teh iyo. Itu keliatan dari ruang-tamunya teh neh. Karena ruang-tamunya berdampingan gitu. Nah keliatan, disitu. Itu aku lihat buh haji tuh kayak marah-marah. Bagi kan memang pembaunya tuh begitu bang. Jadi ngomongnya itu kencang terus suaranya tinggi. Itu sundanya, sundanya kasar. Jadi waktu itu aku denger bentuk-bentuk anak itu pakai bahasa sunda kasar jadi sambil menunjuk-nunjuk gitu. Dan itu setelah itu sih suami nya teh iyo itu. Nampar anak salah satu anak itu. Itu di tampar sama suami nya teh iyo itu. Aku ngekaget ya. Terus aku ngomong ke ternyata. Ternyata itu kenapa di tampar itu stendanya bilang. Ternyata itu gak tau itu pada kabur, temat-temat malem minggu tuh gitu. Kabur bimana? Ya ceritanya macam-macin lah. Nyaritanya gak entang-tang buhaji kok orang-orang tuh. Katanya waktu itu liat penampakan lah gitu. Terus buhaji kan gak terin mata ya gitu. Harusnya kalau mau pindah, bina aja ngelusan sekarang ceritanya gak gitu. Oh ya. Terus belakang gitu. Terus belakang itu aku gak lama juga liat. Si anak-anak kita yang berteri-teri itu. Terus kaya minta maaf gitu ya ke buhaji. Sepada pulang lah mereka. Dan situ aku juga gak lama terus pulang ke kosan. Tiga mingguan setelah itu. Itu libur waktu itu libur tiga haru berterutur satu minggu. Selain itu aku libur anak kesan yang lain kan bisa kalau libur itu suka mudik. Tapi aku gak mudik di kosan aja. Aku lagi santa ya gitu. Lagipun itu orang di kosan sekitar 10 pagi. Kita timbati bahwa buhaji itu menggil-bagil. Nah yang-nah gitu. Tampil ketepin tuh. Nah yang-nah yang aku buka. Ya gimana buhaji? Nah gak pulang. Gak buhaji. Okal gak pulang lah ikut aja ke buhaji. Tahu buhaji mau kegarut sama ketastik. Itu ngejalan-jalan nih. Tembang di kosan bosan itu tadi. Terus aku fikir ya juga gitu ya. Terus pulangnya kapan buh. Terus pulangnya malam seneng gitu. Udahnya pesi ini lagi. Ya udah buh. Bentara aku mau ikut dulu sama selami ya bu. Jadi nanti kalau iya aku kabarin. Udah kalau iya menanti penya setengah 4 ke depan aja. Kapan aja ke rumah ternyata. Oh iya bu. Ya sebuah jika pergi aku telefon ke Suami. Minta hijin tadi hijinkan waktu itu sama selami. Ini sehingga cerita setengah 4 aku ke depan ke rumahnya ternyata. Itu mobilnya buhaji itu udah stand by di depan rumahnya ternyata. Tapi baga sinya masih buka. Dan aku lihat waktu aku dateng itu ada kambing jantan satu ekor. Kambingnya udah ada tanduknya itu. Udah di ikut kakinya depan belakang. Lagi di masukkin ke dalam karung sama sopirnya buhaji. Aki di masukin ke dalam karung, te sampa-tiba. Kak tu sampai cuma kelihatan.
kepalanya ada orang kita. Jadi, taruh di bagasi. Nah, jadi, pahajiknya itu lagi nyiapin karyung satu. Itu istinya buhabuhan penuh. Pahajik lagi yang ikatkan karyung. Asal saya itu, di masukkan bagasi. Helinya, bagi ngeri aku masuk. Bagi masuk diluang, terus aku masuk, itu ke mobil. Panyi yang berangkatnya. Ya, kita sekitar jambat. Berangkat lah kita ke garut. Itu sampai garut itu sekitar jamb, sebelum alam. Itu yang pe di salah satu rumah. Kayaknya rumah itu kayak udah di pelosok banget. Soalnya aku di jalan tuh kayak nancak dan udah jauh dari kota. Nah itu, yang pe-lavi situ, mobil parkir di halaman. Itu rumahnya tuh yang, bahlawannya cuma rumah-rumang gitu ya. Terus kelar lah selami istri. Beraknya tuh kayak nyambut, buhajuh tuh kayak istimewa banget. Kayak ke datangan tamu, istimewa gitu. "Bahajuh, ada makam diluangnya, ke temul lagi." Teru nanti selaman biasa gitu. "Ai, masuk, masuk, masuk." Kita seru masuk ke dalam. Terus, udah di situ, udah di siapin sebuah hanyah. Aku eku dan sebagainya udah dibikin nenminum juga. Terus kita ngobrol-ngobrol gitu. Akhirnya, bahajuh tuh, kenyur aku mandi. Nang barangkali mau mandi gitu. Mande aja dulu. Nanti habis mandi. Kita jambah 12 mau nancak nih gitu. Nancak kemana, bahajuh. Kita mau zihah rah kesana gitu. Malam, malam. Iya, itu malam-malam. Dan nunggu jambah 12 malam itu. Terus, jambah segini, buhajuh. Eh, nenggak, apa, bahajuh udah biasa gitu. Terus, oh iya, ya, akhirnya aku mandi. Terus, seiman di, kita semta ngobrol-ngobrol lagi sedentar. Terus, jambah 12, bahajuh, nah, udah jambah 12 ayah yang garangkat gitu. Kita nurut aja ya, gitu. Jadi, waktu itu yang garangkat, bahajuh, bahajuh. Terus, bahapa yang terlalu rumah itu, mungkin kerabatnya mungkin ya, karena udah akrab banget gitu. Itu terus aku. Terangkat, nanti kita jambah 12 itu dari rumah itu masih nancak lagi. Jadi, kayak kanan kiri itu, aku udah ngeliat rumah lagi. Dekai hutan-hutan, aja gelap gitu. Itu juga cahayanya cuma dari Santa. Jadi, si bahapa tadi itu bahwa Santa. Dia jalan paling depan, terus buhajuh, terus aku terus bahajuh. Itu jalan kurang lebih ada 15 menit. Terus kita sampai di satu makam. Itu benaran cuma satu, bukan pemakan, banyak aku liat sih. Aku nggak ngelewatin makan-makan yang lain gitu. Itu di bawah pohon-kredit gitu, pohon-kredit. Waktu itu aku masuk ke area itu kayak, "Ya, heran, ya takut, mau nanya tuh, ya gak nyanyi, benaran ini, ziaran gitu ya, tengah malam." Terus enak, kita duduk mengelilingin makan gitu. Ini nang, duduk sini-ninang gitu. Aku duduk sebelahnya bahan sih. Aku tengok kanan giri gitu ya, aku ngasihkan ini pohon apa gitu, aku nengok atas, gue ngelap banget ya, bang. Jadi gak kelihatan cuma aku, kira-kira kayaknya ponderingin gitu. Terus, di situ kita berdoa seperti, seperti pada umumnya berdoa pacabaca ayat gitu ya, tahliol gitu. Sekurang lebih sepang aja, selesai doa, ayunin, udah selesai kita turun lagi. Nah waktu turun itu aku sempat nanya ke buh-haji. Buh-haji itu tadi makan siapa. Terus buh-haji bilang, "Temakan leluhur buh-haji, nih." "Oh buh-haji, udah biasa buh-haji kalau biar aja mesegin nih." "Ya udah biasa, gitu, jadi gak usah takut nih, udah biasa buh-haji mah." Turun aja, kita balik lagi ke rumah yang tadi. Buh-haji bilang, "Kitai sedihat aja dulu, nih." Nanti sebuah bangun, habis sebuah kita lanjut ke tasik malaya. Terus kita istirahat semua, jang-sebuah itu kita bangun. Kita jam limaan, kita lanjut nih perjalanan, pamit sama di tuan rumah tadi. Nah dari situ, bang, kita tau kalau rumah itu, pasisnya udah kayak di atas buh-haji. Jadi jalan-jalan kampung, jadi kayak udah agar usak gitu, gak aspal yang mulus itu. Saku, bisa liat ke bawah kan jam lima kan udah agar-agar. Bisa liat ke bawah itu, maka yang gak tau itu kotagarut, ya itu pemukiran, poin di bawah ramai, banyak rumah gitu. Kita jalan tuh lumayan jauh, sampai ke jalan rakyatnya, lumayan jauh. Ayrnya, sekitar jam 7, kita udah masuk jalan rakyat, sekitar jam 7, itu. Bagi ngajak berhenti di pinggir jalan, nah kita berhenti dulu, kita makan budur ayam, kata bagi gitu. Oh ya, buh, berhenti lah di pinggir jalan, "Bagi turun, aku pas mau turun, aku nyari senda lagi, bagi udah turun-duan sama pahajiknya." "Aggin nyari senda mau turun, so pilih nih, tanya bang aku." Tata, tata, "Napa ini ikut-ikut, buh-haji?" "Yasanya mau diadak, mang itu, lagi liber, ya ikut aja, yang mang kenapa gitu." "Yakin rakyatnya mau ikut-ikut, tangkai, buh-haji?" "Yasanya gitu, ikut-ikut, tangkai, ikut-ikut, tangkai, apa?" "Cis oper belum sempat, jaman nih baru senyum-senyum aja." "Aku di panggir sama baji." "Naksud ini, nah ini buber ayamnya udah jadi, gitu." "Laku turun, ada removir, kita makan budur ayam." "Dah, itu selesai makan budur ayam, kita lanjut terjalanan." Sekitar jam setengah 9, kita nyampaik di perkampungan, itu senda jauh dari jalan rakyat juga, udah masuk kampung, gitu. Jadi itu mobil parkir di salah satu halaman rumah, tapi bukan itu yang ditujuk, gitu, kita disambut sama Suami Istri, itu lain lagi bukan pahuni rumah itu, gitu. Itu juga sama kedatangan bohad itu kayak bener-bener istimewa, gitu. Sambutannya tuh hangat banget gitu. Itu barang-barang yang tadi dibagas itu kayak buat, terus camping turun, tuh banget disitu. Baru diturun, di rumah kedua ini. - Iya. - Oke. Yang tadi malem-menggak, tapi. Diskita jalan, itu keluar dari sampaikular dari perkampungan, terus masuk hutan, punya jauh itu jalan kaki, terus sampai ke kayak hutan, gitu. Terus di tengah hutan itu, baru lah kita ketemu sama rumah panggu dari bambu. Nah, itu kelihatannya Suami Istri tadi tinggalnya disitu. Kurang lebih itu umurnya, Suami Istri itu, kita kayak sebaian sama pahajilah, mungkin antara 60-70 tahun itu. Jadi bagi itu sampai itu, itu camping yang dibawak sama sopi itu, hanya dibuka, kan dibuka di keluar dari karung, gitu. Nah, itu dibawak sama si bapak kerabatnya buat itu, dibawak ke belakang rumah, bang. Terus kita diajak masuk ke dalam rumah sama Istri. Jadi itu kita disuguin makanan segala macam, udah sedia disitu, dibikin minum, sempat ngobrol juga, nah kira-kira setengah dua belas, itu kita disuruh makan, nah itu kata bagi, "Neng, sini, neng, makan, neng, ini." Jadi ibu masak camping yang tadi kita bawa neng, gitu. Jadi lagi camping itu kelihatannya dibalak ke belakang, itu disembelih sama si bapak itu, terus di masak sama ibu, kita terus makan. Nah, setelah makan sekitar jem setengah satu, itu kita berangkat nancak, nah itu. Karung yang isi buah-buahan dibawak di panggul sama pahagi ke atas. Itu yang berangkat si bapak kerabatnya bahagi itu, pahagi-buahagi aku, "Berangkat, kita dari situ." Nah itu bener-bener yang masih di dalam hutan, itu nancak jalannya, itu sampai ketemu sungai. Jadi sungai itu nggak, akhirnya itu nggak dalam, cuma banyak batu-batu kali, gitu ya. Mereka ada air tergurnya, sungai itu. Adis itu kita berhenti, terus bahagit, "Neng, mandi hula disini, kita mandi dulu nih, disini." Kira intem, mandi itu yang mandinya belum ke air, bahagit itu disitu ngelapas bahagit itu, gitu. Bakajarit, jadi akhirnya pake kembankan, terus jalan menuju salah satu batu besar, itu di bawah air persis itu ada batu besar. Bahagit itu ke situ duduk di atas batu itu. Jadi posisinya duduk, air itu di punggungnya bahagit, gitu. Duduk begini, akhir di sini bahagit, sambil begini, sambil begini, terus sambutnya di lepas segalungannya dibini, itu digini. Disus, kita 15 menitan, mungkin ya. Dia tuh kayak menik-mati aja, akhirnya jatuh di punggungnya. Terus 15 menit, dia balik ke pinggir sungai, aku nunggu di pinggir sungai, terus bahagitnya yang mandi, bahagit lagi mandi, terus bahagit, "Nyo lo aku nang, nanti habis bahagit, nang mandi, iya." Otisnya itu, "Bahagit, gue hajit, nggak lasanya nggak ikut mandi lah, gitu." "Neng, nggak apa, gitu." "Takut bahagit, takut apa, takutnya debat tujah, itu dari Ahtasa, iya." "Menggak nggak apa, buh hajit, udah selen mandi, disini, dan nurut aja mandi aja." Disini itu, neng, bisa buat bengsi, gitu, kata buh hajit, gitu. Terus akhirnya, kota, iya, dan nurut aja. Dikus, dikasih aku, dikasih kayak, sambuh hajit, kayak kering dari tasnya lagi, dikasih aku seru pakai-kain itu. Aku pakai, terus aku, ke bahagit, apakah itu bahagit udah selesai? Aku dituntun sama buh hajit, dituntun jalan dari batu ke batu, gitu, iya, sampai ke batu besar itu. Daneng duduk aja disini, aku duduk, lu disini di posisi yang sama sama bahagit, terus buh hajinya balik lagi. Aku duduk, itu, akhirnya itu jatuh di punggung itu, rasanya udah kayak punggung digubungin, ya, udah digini.
Dan lu gini gitu. Terus, ya, oleh ini sakit banget gitu ya. Nertamu kan mungkin aku gak biasa ya, jadi kayak gak nyaman malah gitu. Harusnya gak lama aku paling 5 menit. Terus, udah ah takut gitu. Aku naik kepinggir, udah naik gitu. Udah berhagia, udah aku cairnya gitu. Oh ya udah tuh nge-papah senang penting, udah mandik, kata berhagia. Terus, aku salin lagi, pakai baju, anehnya aja naik ngancak lagi. Terus itu ternanya aku lagi masih di tengah utan gitu ya. Iya, iya. Sampai, kurang lebih ada setengah jam dari situ ya, dari sengah itu. Itu kita ketemu gubuk di tengah utan itu ada gubuk dua beranun damping, berjajaran gitu. Itu aku nanya nih sama buh hajik. Ini di tengah utan, ini ada gubuk yang buh hajik emang usuka di yang kesini. Eh, nih disini, tekal omal emang rame, nih, perang beneran gitu. Kata bingung ya, maksudnya rame, terang bingung apa gitu. Rame gimana? Terang benteran gimana, terang gede lampu gitu ya di tengah utan. Cuma gak nanya ke buh hajik cuma bingung sendiri aja. Terus, anehnya buh hajik bilang, nih, si atah di gening. Pemahnya diajah kesini sama buh hajik gitu. Atah di tuh, cucunya buh hajik. Anaknya si tai il, anaknya bahajian pertama, omor segitar dua lima an gitu ya. Di atah di geng, penah, nang, diajah kesini sama buh hajik itu tadi nyamat aku, gitu. Tapi pas nyobain gini disini sama alam itu, katanya terang beneran nih. Di atah di tinggal sama buh hajik disini sendiri aneh. Eh, terang yapa, terang beneran rame kalau malam ngetanya gitu. Terus dari situ. Masih dengan kebingungan nih aku ya. Jalan lagi, nah itu ada makam lagi, agak disini. Nggak jauh dari gubuk itu tuh, makam di bawah pohon gede juga. Nah itu sekitarnya itu pohon gede gede gitu. Itu, ah, begitu kita nyampaik situ. Dari pohon pohon itu, monyet itu banyak banget pada turun. Datang nyamparin ke buh hajik nih. Jadi banyak banget pohonnya kayak emar kayak itu di datangin buh hajik itu kayak anak kecil ke datangin ibunya tuh. Aduh, pada seneng gitu ya. Kayak nyampainnya itu yang kayak pada seneng banget gitu. Terus akhirnya di turunin bahwa an karum tadi yang bahwaan. Nah turunin disitu dibuka sama pahajik aja. Sok, sok makan, sok makan, makan gitu. Kayak, kan kecil gitu. Sok makan, sok makan gitu. Manyat menyadih itu pada berubut kan pada makan buh-buh. Nah ada situ, semantara menyadih pada berubut kita, kemakan itu. Duduk lagi, dia kelihling. Oke itu, posisi buh hajid, duduk disamping nisan. Terus aku disampingnya buh hajid. Nah nisan itu bukan nisan yang bagus, yang bertuliskan. Kita bukan nisan kayak batu aja. Jadi kayak makan itu kayak makan tua gitu ya. Terus nggak ada nisannya, cuma batu. Pas di bagian nisan itu pakai batu aja. Kita mau berdua, tapi buh hajid tuh ngeluarin kayak beda, dip-stik, kepunyak di atas kayak nbo di itu. Di taruh di samping nisan. Terus waktu itu buh hajid juga sempat nanya. Kau kata, nang, bahwa benar-benar nggak. Oh ya, kalau nggak balat, mas. Besok lagi, kalau ikut buh hajid, bahwa beda, ya itu. Satu, batu. Bahwa beda, ya buh tak ya, aja waktu itu. Terus kita berdua biasa gitu. Nah terus, sabis berdua itu selesai. Bual git, bual git masih belum selesai gitu. Tapi aku nggak jelas dia baca apa gitu ya. Terus, kira-kira mungkin ada 10 menit gitu. Kita sambil meram gitu ya, berdua gitu. Terus diambil lagi lah itu bedak itu, mas. - Oh diambil lagi? - Iya, diambil pangke itu. Nggak diambil lagi, ketas. Nah, terus, abis itu kita turun lah dari situ selesai. Itu nang, udah turun, ya. Terus turun sampai di rumah yang tadi panggung itu. Kake itu agak kayak radiah keselayok gitu ya. Udah mungkin jalan ke jauhan, ya. Ini jalan nancak, kan nggak biasa juga. Mungkin, jelasnya kayak udah kram gitu, ya. Radiah keselayok sempat istirahat sebentar di rumah yang tadi. Terus, wadinya juga nanya gimana-nanya masih bisa jalan, kan. Kayaknya masih bisa gue ada, dari situ kita jalan sambil agak pincang sih. Tapi belum bengkak waktu itu. Jalan balik ke mobil, nah itu pamit kita sama yang rumah yang ditempatin buat parkir mobil. Itu kelihatannya juga udah akurup sambil lagi, udah sering ketemu gitu. Nah, bangpulang dulu, ya, makasih udah di sini gitu. Ya, makasih tempangannya gitu, makasihnya udah boleh di sini. Ya, makasih nggak apa-apa. Atinya, makasih sempat gitu, lah, makasih itu kayak udah akurup gitu. Terus, akhirnya kita dari situ berangkat lah. Kita pulang ke sebang. Nah, nyan, pe-sebang waktu itu sekitar yang sembilan malam. Nyan pe-sebang itu turun dari mobil tuh udah ke susahan, nah ternyata kaki kebengkak. Mungkin karena dibawah duduk jauh juga habis keselayol gitu ya. Tampak aku dibantu sama buh-haji, nih dibantu sama buh-haji di papa gitu. Jalan ke kamarku tuh dari parkir ngogarasi. Aku di papa sama buh-haji sampai ke kamarku. Terus, ke papa nyan, dia tinggal sendiri aja. Mepapa buh-haji. Tanya buh-haji, udah ya buh-haji ke rumah dulu ya, iya buh. Beboh-haji ke rumahnya, terus aku. Udah pintu-tutut, sambil pincang, tuh aku nyan-nyanya pengen mandi gitu. Ke kamar mandi, tuh aku lihat, wah bak mandi tuh kering, kayak udah airnya udah bener-bener kayak bak mandi, gak-bener nanti pakai. Padahal aku inget banget sebelum pergi itu, pas air tuh penuh bak mandi tuh. Karena aku dah terbiasa kalau berangkat kerja, juga bak mandi tuh selesai tak panuh hinde loh gitu. Itu kok kering gitu, gak ada airnya sama sekali. Terus apa-apa, apa-apa gitu, cuma karena udah malah, aku dah capek juga airnya, udah lah besok ada mandi-nya. Dan aku tidur aja waktu terserahat. Itu besok paginya harus ini, aku masih libur, masih sempat meja ini juga kaki. Nah, singkat cerita, satu minggu setelah itu. Itu aku melayang rasa badan aku meliang gitu. Dan aku baru inget itu, aku dah telat 10 hari ya. Dah telat 10 hari. Terus aku beli tas tak ya, kan meyakinkan ini hamil atau apa-apa gitu ya. Aku beli tas pek ternya, tak positi. Terus aku telpang ngesel amikul, ngasih kabar, aku hamil, lagi terasa minggu. Eh, berarti kemarin waktu ikut jara itu lama. Posisi lah, hamil dong gitu. Iya, iya, iya, iya, ah ya, apa gitu. Masih, ya, aku tuh gak papaya, apa-apa. Oh, itu perjalanan-jalanan benar-benar nancak gitu ya. Tempaya mandi di air terbun gitu. Untuk gak kenapa- kenapa, gitu. Ya, jalan hamil-nya, gitu. Nah, minggu berikutnya, itu aku libur lagi. Dan aku sejak kelihat itu belum penamu di A. Jadi aku libur lagi di kosen juga, lagi liburan. Itu lagi jamurin baju waktu itu jam sekitar jam 8 pagi. Hari minggu, lagi jamurin baju. Bu haji, lagi duduk-duh, duduk, titeras rumah. Adi titeras rumahnya. Bu haji tuh berhadapan banget dengan kamar kuah. Diteras tuh duduk di kurusnya, kita ya kurusnya tuh kayak satu set mejaknya bender dari kayu atau kayak gini nih. Mungkin mereka berhati-tunger. Baru tahu, gitu. Berhati-tunger. Ngerokoknya itu cerut tuh yang beda itu. Tapi yang nelinting sendiri itu. Ya, sampai mereka berhati-tunger. Neliatin aku jamurin baju. Nah, udah serapan belum, gitu. Nanya aku serapan. Belum haji gitu. Sin serapannya di rumah-bahaji aja. Bagi itu udah masa ketanya. Iya, bu haji nanti nyalisain jamurin baju dulu. Terus selesai jamur baju. Aku nyamparin lakas itu. Bu haji masih duduk di tera setiap. Hai-hai-hai, kadapur-hai-kodapur. Dia aja, aku kedapur. Nah, di dapur, bu haji lagi nyapin serapan. Kita yang ambilin serapan di taruh di meja. Nah, itu bang pas kita lagi makan barang sama bu haji. Itu bu haji tuh juga sambil nanya bang sama aku. Nanya-nanya soal suami aku, soal keluarga aku. Kita kayak detila banget gitu. Lanya tuh, neng. Soami neng tepan orang carobonnya neng. Iya, bu haji. Hai orang carobon teh. Biasanya seneng ngaguru elmu yang neng. Ngaguru elmu bagi-ngagutnya wadir. Iya, orang carobon tuh kan seneng kayak. yari kebisaan gitu. Bisaan kayak ilmu-ilmu ke saktian lah. Pangga bisa wabakannya manin gitu. Aku rancang bu haji kayaknya selan itu banget kayak gitu. Aku bilang gitu. Soami neng teh watannya nang. Jadi watannya apa? Aku kayak gitu ngaya bu haji kok sampai nanya sampai ke watan. Terus aku jawab. Gata bu haji kalau saya. Aku gak faham tuh yang gitu-gitu apa cerita gitu. Karena kalau soal bu haji itu bagi aku rasih banget. Yang jangan cerita, orang-orang itu. Terus, wah, kurang faham bu haji kalau soal itu. Kalau neng apa neng watannya. Nampak neng watan itu juga. Maksudnya watan-watan itu, kita udah tau-nya tanggal akhir aja. Oh, kalau ibu neng gimana neng di kebumin ya? Iya bu haji.
Suka di arah di arah nggak kayak buh aja lif nanti. Terus, setelah saya sih mengenggak, ibu tuh paling jarah kalau ikut perembangan jami hanna jatur perembangan ibu-ibu pengajian gitu, ternah jarah ke malisong o, ada pengalian kalau jarah kemakan tertentu kayak baji sih. Tertah seneng nggak pernah baji. Oh gitu, disambil model gitu, ternyata. Bagi nanya gini, kakutuh. Nah, nah, nek suka denger cerita-cerita tentang baji, nggak ada yang sih nih, kata. Terus cerita apa buh aja ya? Kan saya emang nggak pernah main kemana-mana kalau libur, jadi kosan saya di mana gitu. Diskata buh aja tuh. Ya barang-kali orang-orang ini suka, orang-orang sini suka cerita tentang buh aja ya, kata. Soalnya nih, neng, rumahnya buh aja nih, kenapa nih di tambok keliling, kata. Jadi, arah- arahnya buh aja tuh memang tamboknya tinggi banget, keliling, terus jadi nggak bisa niliat rumah, tetangga, tengah bisa. Itu teneng karena buh aja tuh jengkel sama orang-orang sini, kata. Terutamanya, belakang kemah buh aja tuh, pernah. Oh, ngarang-ngarang cerita yang nggak, nggak gitu cerita ke orang-orang tuh, kata-nya ternyata. Liat mah luktinggi besar, terus matanya merah, rambutnya jabrik, kata-nya lagi ini hujan-hujan giri-humis, pas mahal giri di depan tarasnya buh aja, kata-nya udah buh aja, di banding gue, sekalian gitu ya, biar nggak bisa liat kesini gitu. Mga tuh nggak pernah dengar kayak gitu, ini mah barang-kali, ada orang mau nggak, nggak tentang ngaji, bahasa percaya yang enang gitu, nggak sadih dengerin, karena paling kayak serik gitu, selalanya buh aja tuh, kan bukan orang berpendidikan, tapi sukses yang enang ya gitu. Iya, ya, paling juga kayak gitu, ya, bu serik gitu. Iya enang gitu, kenapa aja buh aja, kan nggak, nggak. Liat aku dengerin yang gitu-gitu gitu, gitu, aku bilang gitu. Senkat cerita, ya setiap aku libur itu, bah aja tuh sering aja aku makan di rumah dia, bahkan kadang-kadang dia yang kalo bikin, ya, dia bikin makanan apa, gorengan lah apa, kadang-kadang dia ngenterin ke kosan ku, nih, ini bah aja bikin gorengan gitu, dikasih, sekadiat panen-rambutan juga aku, dikirin minta satu-kerasak, nyobain nih, rambutan buh aja gitu, ya, ras itu. Iya, kan, selama di situ aku belum pernah pulang gitu, jadi setiap minggu libur aku selalu di kosan. Iya, kan, suami ku juga sering telefon, no kalau aku libur ya, sering telefon aku suka cerita juga gitu sering dikasih sama buh aja, sering diajak makan, gitu ya. Oke, buh aja tuh berperil aku sangat-sangk baik, setelah jarak itu. Iya, benar. Iya. Itu, punya baik yang menurut suami ku itu kayak, kok bisa gitu, kok baik banget sama mama gitu, gitu. Satu ya, aku cerita ke suami itu kayak suami itu kayak mama jantar leket sih gitu, ga tau, yang ga tau suami punya pikiran apa ya, sebab pasanya itu cuma mau jantar leket sih sama buh aja gitu, ya, ras, yang ga pahasnya sama buh aja juga baik sih, gitu, ga, gak gimana gitu, aku, ya, yang aja suami itu gitu, ya, terus ya, aku juga gak ini sih gak punya pikiran yang, gak gitu, aku anggap buat itu baik, jadi aku juga ya, baik aja sama dia gitu, nah, sampai, sering ke cerita nih, semingguan setelah itu, ya, udah aku malam-malam, lagi tidur nih, sekitar jam setengah dua atau jam dua malam, itu aku kebangun garagara dengan gaduh di atas plahuan, jadi di atas aku kebangun tempat aku tidak digaguh banget kayak suara kucing berkelay gitu, cuma kayak lebih gede-dede kucing gitu, sampai aku tuh kebangun tuh, tak dengarin gitu ya, suara apa, tapi lama-lama terus, gak ada aku tuh ini kalau suara tikus, kok gede banget gitu, tapi kalau kucing masuknya dari mana, sedangkan rukusan aku itu atapnya asbest, dikasih plahuan, berarti cuma ke halang kayu udah menggang, gak ada ruang gitu, ya takut, ya ada merinding-merindingnya gitu, ada yang suara kayak gitu, tapi tanya-tanya ini suara apa gitu, terus, lagi masih-masih antara takut dan bingung, aku ke air ke kamar mandi, sampai kamar mandi, kita aku lihat kayak bekas telapak kaki kanan kiri gitu, tapi gak tau itu ke lapak apa, di-diding kanan mandi, jadi dari bawah sampai ke plahuan, itu begini ke lapaknya kanan kiri gitu, cuma aku lihat ini tuh, ini kayak ke lapak-kaya ke lapak basah habis kenal air ke lap, aku lihat ini tuh, ke lapak apa gitu, kalau kucing kok gede banget, gede-dede dari ke lapak kaki kucing, tapi aku gak, gak ketemu tuh, ini ke lapak apa itu, gak mau pikir gitu, gak punya juga anak apa-apa, punya masih bingung lagi ke lapak apa, ini tinggi ya gitu, ini, yang-yang ada hubungnya dengan yang tak disuaraga, dua gitu, nah itu aku malam itu, terus, nanti saya tidak aku lah, mikirin itu suara apa dan terlapak kaki apa gitu, yang lain penting jangan-ganggu, telah kejadian itu, mulai ada rasa kayak kurangnya man gitu, jadi, kayak kurang tidur ya, udah mulai, mau tidur itu ada rasa-rasa pakut gitu ya, jadi, sampai temen kerja aku itu bilang, "Tetih, oh sekarang marah dah kurusan, kata nyamanah, calong lagi matanya gitu, pikir, ya mungkin karena kurang tidur itu ya, terus, sekitar waktu aku hamil, udah 7 bulan, gede-nya, singkatnya udah 7 bulan, itu ada anak baru, di Padre, anak baru, namanya sulis, depan ngantain baru, dan dia, nanya tentang kosang, kakul gitu, nyelagi nyari kosang, benar, ada kosang ga, gitu, yang masih kosang, ya, disebelahku ga sih kosang, yang kos nih, sampai ngukajif gitu, terus, ya udah balik nanti, istirah aku ke tulangnya gitu, ya, kan kalau istra terlihat, aku pasti ke ulang ke kosang, dia ikut sulis itu ikut ke kosang, ya, sampai di kosang, aku, aku, temu-india ke buhajif gitu, buh, ini ada temen-buh lagi nyari kosang gitu, oh, yang nangksok milih, memang yang mana gitu, kata buhajif, lainnya dia milih yang kamera sebelahku persis, tapi, itu, ari ada kosang, jadi, depan-nihnya cuma aku udah wang, dia ada ria kosang gitu, kata sulis, bajis saya mau yang ini, tapi, bayarnya nanti, ya, nanti sorry, aku kaksin lagi barang suami gitu, ah, cuma waktu itu nasi DP aja ke buhajif, tanya jadi gitu, ya nih, ga papan, nah, pulang kerja, sulis pulang kerja barang aku, terus suami nya datangnya sul nih, tapi udah balik barang-barang, ya, gitu, nah, terus, ah, ke situ, sekalian pindahan gitu, ya, dia harinya, di lunasian, sekalian, dan sulis untuk satu bulan, nah, disitu, kita sering perangkat dan pulang-barang kerja, akhirnya ya, nah, itu, waktu itu penahap pulang kerja, lembur, karena mungkin, satu mingguan, superlah itu, ya, sekitar satu minggu setelah itu, tu pulang kerja lembur, sekitar jam sen, dilan malem, pulang barang sulis, nah, itu, pas, ngelewatin makam, yang belakang kosang itu, itu aku kayak rasa, merindingnya itu yang nggak berbiasa gitu, kayak biasanya, itu setiap, berangkat dan pulang kan pas sila-lama, kalau pulang kerja norma, kan kita jam 5-10, nah, itu kan, lembur, jam 9-10, aku terlalu kasih tuh kayak, merinding banget, ya, merinding yang bener-bener, ini ada apa gitu, ya, tapi kan, nggak ini, nggak berani, gimana gitu, nggak berani tanggok apa gitu, dan itu, listus aja, yang cepat list, aja aku, oh, jalan ke kosan itu, udah, ini tuh udah nggak koruk-korongan gitu, udah campur takut gitu, ya, kayak, pokoknya, takutnya bener-bener, itu nggak kayak, merindingnya itu bener-bener gitu, nah, kebetulan, begitu nyampaikan kosan itu, mati langku, masuk ke kosan, di solis itu, ikut masuk ke kamar ku gitu, nggak ke kamarnya, ya, deh ikut kamar ku bun, baliknya di sini dulu, gitu, lagi mati langku, yang nggak berani sendiri, yang, yang nggak papan, jadi, disini aja dulu, nah, itu, pada waktu, baru masuk, kan aku, sempat nyalan-nyalan dulu, nih, ah, sebelum, sebelum tutup pintu, tiaku nyalan-nyalan dulu, abis itu, aku mau notup pintu, itu di depan pintu kamar, iya, pas aku mau notup gitu, di depan pintu kamar, di aku liat permputan, bajunya putih, itu rambutnya, panjangnya itu sampai tetangga. iya, wajahnya tuh punya seram gitu, yang matanya, merah ngeliat ke aku, deh depan pintu kamar, itu al, aku, asafi, lah hal-hal aja, aku langsung tutup pintu, iya, kebered gitu, tak, itu selesam pak-kakit, bunat kenapa gitu, disini, depan, ada yang permputan, ambutnya panjang, gede aku bilang gitu, terus, cerius, mana, dia gitu, mana aku takut, gitu, aku disini ya, sampai selamikku pulang, disini ya, selesamikku, yang tala member juga, agitnya belum pulang, sampai selamikku pulang, ya, disini ada dulu, kita naman yang aku juga, enak disitu, kita kutaku tanya berdua menemat-ilang pul, gitu, ya, nunggu suami sulis pulang, enak disini tarjam, mungkin setengah 10, atau jang-sepuluh itu, suami sulis datang, datang, terus sulis pulang, dan aku, ga bisa tidurlah, itu alam itu, pokoknya setelah, ziarah itu, dan setelah aku, darinya, ah, hamil itu, itu, udah, ga nyaman aja aku, jadi, saya ngekurang tidur, gitu, ya, aneh, temal itu juga aku, ga kan,
- Harwan itu rasanya, gak tahu sampai tidur itu yang bener-bener ngantuk, gak ketahan akhirnya ketiduran gitu. Tertahul tahu dah subuh gitu ya, bangun. Dan itu dari kejadian itu segerang lebih tiga mingguan. - Dan masuk ke lapang bulan dong? - Iya, itu udah masuk kandungan-lapan bulan. Dah solis itu waktu itu harim minggu. Aku lagi libur solis itu, aku liat kok. Beberes gitu. Beberes kamar. Kayak mau pindah hantu. Ada ibunya solis datang ke pagi-pagi tiga sembilanan. Ini juga sempatnya, aku tanya gitu. Ya, bu, terus salaman. Tumpen bu, gitu. Dah kangennya sama solis kita ke sempat bilang gitu. Ini se solisnya mau pindahan. Mau pindahan. Aku sampai nungeh ke kamar jelusnya. - Dis, kamu pindahan? - Iya bu, gitu. - Cinta sini bu, gitu. Aku tadi tarik tangannya sama solis. Masuk ke kamar kok. Jadi akhirnya yang bayberes ibunya sama suami ini gitu. Solisnya itu narik aku. Tangan aku masuk ke kamar kok. Pindah. Mak apia aku, gala anjut deh, ngokos list ininya. Aku dengannya manggang. Bun gitu. Kenapa gitu, gitu. Barang kali mendapinya salah makaf ya gitu ceritain deh. Salamnya apa? Muka bukan soal bunda ini gitu. Solis bilang gitu. Ada apa sih, kan? Aku tuh sebenarnya pengen cerita sama bunda dari kemarin-kemarin cuma. Aku takut dengannya ketakutan gitu. Terus memang ada apa gitu. Jadi bun selama disini itu. Aku serung diat yang aneh-aneh gitu. Jadi kayak aku pernah bun waktu itu malem-alem tuh. Di bawah pohon manggai itu bun. Dia nonjuk ke pohon manggai yang di depan kamar yang di ujung L. Yang waktu pertama kali aku seru melihat. Aku nakser kamera itu. Nah, bun tuh depan pohon manggai itu bun. Di bawah pohon manggai aku liat. Naki laki wajahnya seram bun matanya merah. Tinggid deh. Prabutnya jadut. Terus terpunnya bertaruh. Dia ngeliatin ke arah aku. Kut, dari situ tuh bun, deh hangganya manggai selesinya. Ngaku sedih disini kemakan, "Dat terlendir aku bayar bun satu bulan." Jadi aku berusaha dalam hatatan yang penting. Yang dengan gue gitu, selis bilang gitu. Nah pernah lagi bun. Malem-malem aku habis keluar sama suami kok naik mata. Waktu pas mau masuk gerban kwasan. Papasan sama buh haji, buh haji mau pergi gitu. Nah itu bun aku liat tuh. Di punggungnya buh haji bun. Aku liat ada monyet besar. Iya, Iya. Duduk di punggungnya mulhaji. Itu monyet itu matanya merah ngeliatin ke aku kayak marah bun. Aku takut banget, segera bun ke. Jadi aku cerita ke namanya suami kok. Nah, anjay habisin ini. Dah kita pindah aja gitu. Tapi pada saatnya suaminya sulis juga ngeri ke atanya. Mga itu cuma sulis aja. Jadi sulis cerita ke suami. Ayrinya suaminya kan motosin untuk udah jangan lanjut gitu. Jadi ini kayaknya gak merecen kwasan gitu. Terus makanya aku kayaknya mau vindah aja bun gitu. Iya, jadi buda sendiri ya, dong. Ya, buda yang ngati-ati ya. Benakan lagi hamil gitu. Ya udah deh kalau kita kong juga tihati ya. Ya, ini sih ngat cerita. Pergilah sulis cerita. Panggit juga ke bulah di sini gitu. Famih baik-baik. Terus waktu itu, namasalah gitu boleh sama buah jika ini. Ya, ini setala sulis pergi. Aku lagi di dalam nih. Di dalam kamar. Itu aku masih dalam suasa naya yang tanda-tanya gitu ya. Oja tanda-tanya tentang ceritanya sulis itu lah. Jadi aku inget-inget lagi itu cerita sulis itu. Kau ini ceritanya kok kayaknya ada nyambung nyambungnya dengan yang anak-anak liat tengah malang itu gitu. Kan ini sama gitu yang di liatnya tuh. Tinggi besar, ambutnya jabrik gitu. Matanya merah gitu. Ya, terus aku inget lagi, akhirnya sama suara yang kerencing gitu lah. Iya. Apa ini ada hubungannya gitu ya. Tanya waktu itu kan, arahnya dari samping gerbang kwasan. Kau yang el itu gitu ya. Ya, sedangkan aku inget-inget lagi. Itu selama aku tinggal di situ setiap magri. Itu aku liat berhagi dari rumahnya dia, itu bahwa kayak dupa dupa. Itu ke arah kan dari itu. Ke arah kamar yang el itu. Itu setiap magri. Setiap habis magri. Kasi itu dan di situ dia kayak baca wiri. Apa cuma kalau dari kamar aku, kedengeran cuma ga jelas itu bacaan apa. Ya kayak orang mirid dan tuh, kayak kita dan misalnya, "Nolose bener-bener misalnya gitu ya, aku ga jelas itu yang diucapin apa." Di bahagia itu setiap malam itu. Jadi pernah ngeliat momentnya secara jelas. Secara jelas. Iya, berkali-kali. Jadi bisa aku simpelkan setiap malam. Karena, karena kan, kamar itu berhadap pen banget kan, sama rumahnya gue aja. Natus, yang ziarah itu itu juga setiap bulan kan. Jadi ziarah itu, bahagia itu setiap bulan, bahwa kanbing dan sedalam macam hasil kebunnya di at. Itu. Nah, risitu, bahkan kalau misalnya buh hadinya ga sempat gitu ya, kan bahagian itu orang sibuk, ya jadi kayak sibuk, "Dah itu ngeradaten-ngeradaten baju atau ngutang-utangin uang gitu ya." Itu, dia sering pergi-pergi itu, narkin utang gitu ya. Nah itu, kalau bahagian ga sempat itu, di ated itu, yang diseruh kesana berangkat ziarah. Jadi, kayak ated itu, udah kepercayaannya buh hadit banget gitu. Terus, nah itu, aku ingat-ingat gitu kan. Tampah gak karuan dong, nah ini sebenarnya ada apa gitu ya? Terus, aku lagi takut-takutnya itu, tiba-tiba bahagia datang-atuk bentuk aja. Nah, nah gitu ya, aku buka, iya buk gitu. Nah, buh hadit udah ada petukan mong-mong buat anaknya enak gitu. Tahu-tahu gitu, buh hadit. Terus aku kembakah gitu ya. Bu, saya kan, belum nyuruh buh hadit, nih hari itu kan mong-mong gitu. Saya juga belum jelas nih mong ngelahirin di mana buh. Eh, nah entah, padaksanya dibidan sini, aku mong setiap bulan padaksanya di bidan dekat, cita-sita aja gitu, dieras gitu. Nah, jadi kalau bisa manang ngelahirinnya juga, disini nih, kata buh hadit. Terus, sesuai sebenarnya pengennya segerah gilahirinnya di kebumen buh hadit, ketungguan sama orang tua gitu. Patah buh hadit, eh, nah, nah, nyari kerja tu susah. Jadi kalau bisa menenghabis kegerahirin kerja aja lagi disini, gitu. Tengok aja buh hadit, angkung jawab, tetah ada buh hadit ini, kan itu tuh kan mong-mongnya gitu. Bisa dipercaya, nah yang bayarannya cuma 430 bulan waktu itu gitu. Aku tanya-tanya dalam hadit, kok buh hadit keger banget, pengen aku ngelahirin disini gitu. Terus, lagi gitu, terus aku bilang aja. Ya nanti lalu, nanti saya obrolin lagi sama selangit gitu. Ya udah neng, nanti, pakonnya mah, yang penting neng, ngelahirin disini aja ya gitu. Ya buh gitu. Dah pergi lah buh hadit. Perasaan pada saat itu gimana? Apolognya antara semakin, semakin ini aja, semakin tanda tanya, semakin gede gitu. Cura gede ke buh hadit itu, bukan cura gede, jadi lebih ke, ini ada apa sebenarnya gitu. Oh bingung, bingung ya, apakah? Kayak tanda tanya aja gitu. Jadi kejadian, jadi kejadian gitu, kejadian gitu. Dah, itu dari situ, aku tuh ke luar ah gitu. Nah aku siang segitar jam satu, aku ke luar. Nihatnya sih mau sambil, cari udara segari, ya aku terus ke luar. Apakah itu aku mau ke warung yang, sebelah kostan yang pertama kali aku makan? Di situ. Cuma tutup, jadi aku agak kesana lagi, ke warung agak jauh gitu. Nah, selan yang pesitu. Aku pesen S, aku minum, kita bila duduk. Dia tanya aku sama, "Bapa warung agak itu." Tetah, noko sedih mana gitu. Terus aku jalan, noko sedih buhadji pak gitu. Buhadji itu, ya gitu. Eh, tetah, beranihan gitu. Buhadwarung itu tau tau bilang gitu. Kenapa yang yang pake gitu? Tetah yang gak tau, kan? Ketau apa gitu? Buhadji itu, pesudih antal, tetah gitu. Buhadwarung itu bilang gitu. Terus aku, terus itu kan aku, ada kayafa gitu, ya rasanya itu, ya denger- denger kayak gitu. Terus pesudih antal, gimana pak gitu? Ya, tetah, tak kasih tau ya, buhadji itu dulu, ya elapnya banyak tetah, ada sepuluhan lebih. Mobil elap. Mobil elap, mobil kutan umum, balik senekan elapnya. Nah, itu tetah, sopilnya itu kecelakaan lagi, kecelakaan lagi. Tampai tinggal si satu orang. Nah, aku inget satu orang itu, sopil yang waktu itu kita bahwa zihara. Nah, itu tuh sopil elapnya buhadji itu. Oke. Nah, terus dimana pak gitu? Ya, terus tetah, tau gak itu ada makan di belakang kusan gitu? Ya, tau, itu katanya makan keluarga gitu ya. Ketah, bapar warungnya, itu tuh, nah yang, jadi setiap nantahun tuh, ada aja keluarga nya buhadji itu yang, ini gala. Nah, dari situ, aku mulai. Ya, lah jangan-jangan, benar-benar ini buhadji pesugian gitu ya. Aku terus, ya, dengan surah bapain itu, takut nirin-tingetnya, terus aku inget segala kejadian yang aku alami, disitu aku inget semua, sampai si bapar warung itu bilang gini. Tete, tete, tete, tete kan lagi hamil. Diasanya, nih, tete, diasanya, kalau orang pesugian itu, balik seneng nih, sama janin gitu.
yang buat tumbalnya itu loh, tumbal orang pusugain tuh paling seneng kalau janganin terutama kalau laki-laki gitu. Terus deh, itu apa? Tata-tata kenal-kenal gitu. Kalau janganin laki-laki yang letannya ke mislagi atau jumat kliwan itu, kalau untuk tumbal itu, saya sempurna langet, kata ndapak lari. Aku denger itu langsung dikiran tuh ke LAPL. Aku tengok penggir warung tuh kebetulan di temok ada hak kalender. Aku tuh segalanya bahwa warungnya tak pun ternyata, aku berkak kalender. Ngecek HAPL, aku bener-bener dari kasih tau udah nge-sangat-bener. Itu tepat banget di hari ke mislagi. Jadi malas set-malas setnya itu malam jumat kliwan. Dan kan doangnya laki-laki. Fillingnya suami laki-laki, tapi aku belum USG. Cuma suami udah berkilling ini kayaknya laki-laki-laki. Gak tau mungkin dari aktifnya gitu ya. Aku tambah di doang, ngerus itu ya, tambah bener-bener yang kayak lemmas ketika itu. Aku bagi-bagi itu dengan kayak begitu liat kalender tuh. Ya, Allah, dikoli sapa segi itu ya gitu. Aku dah pikirannya udah, ini takut jalan-yanku kenapa-napa gitu. Karena aku juga ngalang halamin kejadian yang macam-macam disitu, tambah lagi ceritanya bahwa warung seperti itu. Terus kejadian sulis yang liat hal-hal yang berhubungan sama yang selama ini terjadi. Nahilnya aku tuh dari situ. Motocin untuk telpon ke suami kok. Terus pak balahnya numpang disini dulu ya. Ya balah ini aku mau telpon suami kok kayaknya udah nge-berani nih pulang ke kwasan gitu. Ya sebaiknya sineng pinala jangan disitu katabak-bakah rungu gitu. Aku telpon ke suami. Mampah kayaknya mamah muku langjede gitu. Terus aku ke ceritanya kejadian her itu dari sulis pin dan terus buh aja yang tau tau dah nyariin orang buat memungan aku gitu. Terus sama ceritasi bahwa warungnya ceritanya sama aku sebahani kok. Ya sebahani kok tuh yang kelihatan kayak havatir banget kan ya. Ya dah-ya dah-ya aja. Mama jantakut, deh kalau nge-berani ke kwasan numpang duduk aja dulu disitu di warung. Papah ke situ sekarang juga. Itu selamanya kok langsung cabut dari ceritanya. Metin kok orang lebih diangpatan lah ketanyaan tes ini. Ya aku tunggu disitu. Nasa mentara aku nge-berani itu aku telpon orang tua. Telpon tuh bapak aku di kebumin. Aku cerita pak, gini mau pulang gitu. Kenapa aku tiba-tiba pulang kata lapan gitu. Ada apa gitu, nge-sake-ta gitu. Mga, yul itu kayak ngalamin hal-hal yang. Ya aku ceritanya ke babakku ya, aku yang aku alamin di kwasan gini-gini. Tus kata, babak itu kayak dengerin gitu. Terus, airnya oh, yaudah gini aja. Nanti kalau pulang, kamu kalau bisa turun di gua sunyaragi. Gua sunyaragi itu ada di sirbon, itu. Aku kurang tau waktu itu, babakku kenapa nyuruh aku turun disitu. Cuma aku nurut aja gitu. Ya pak gitu, nanti dari situ baru nyambung bis yang jurus yang kebumin kata babakku. Ya aku sambil babak cahaya aja kalau di perjalanan ya jangan putus badadu aja. Ya pak gitu, doain yulis selamat ya. Ya insala Allah selamat, napa aku bilang gitu. Nah, gak lama, selain itu, setengah jam, jam itu datang. Terus, babak gimana gitu. Bila balalga, gimana ya? Jadi baju tuh udah ngadim masukin tas, udah. Di-gambol aja pakai ini, pakai sepera. Di-gambol, terus gimana pak gitu. Dan nanti aja, jadis ceritanya kata suami ku gitu. Usanya kita tangit ke bapak warungnya. Pak mau pangit Pak, kita mau pulang ke kebumin Pak. Oh ya, ati-ati ya, di dalam gitu, di bapak warungnya. Oh gak ke kosan tuh. Saya gak ke kosan, suami doang yang kosan, suami langsung ke kosan, langsung berseberes. Ya, jadi aku selalu nunggu di warung. Kenapa aku udah gak berani ya ke kosan? Ya, mungkin suami ku juga kan, mungkin takut jadi apa-apa gitu ya. Nyuruh aku nunggu disini. Betul ya, gak ketemu buaj ya. Aku udah gak ketemu di luar. Gampang minta. Nah itu ceritanya kita naiq anko, ya, di dalam anko, itu baru lah suami ku ceritanya. Karena aku tanya, gimana pak-apa tadi gitu. Terus, tanya itu waktu pak-apa lagi berseberes-beres baju. Buah gitu, tau-tau udah di belakang lah. Nah di belakang suami ku. Terus gimana gitu. Sempat kayak, kayak, udah kayak mau marah gitu. Nah, nanya ke papah tu, dan adanya nada tinggi. Gimana? Nah, mau ke mana ini ku? Bagi-bagi ini beresin semua gitu ya. Terus, mau pulang buajia gitu. Maksudnya pulang gimana ini gitu, nanya. Dan adanya nada tinggi. Maksudnya pulang gimana, apa itu? Pengen ini aja, buajia, pengen pulang dulu. Pulang dulu selamanya. Apa mau kesini lagi kata buajia gitu? Mana, ti juga kesini lagi kata suami ku gitu. Oh, keren mau pulang selamanya. Aisinnya mana gitu? Lagik ke warung bu, selamanya. Guilang gitu. Terus nada disitu kata suami ku. Karena ini pamitnya hanya pulang sementara gitu ya. Bakal balik lagi. Jadi akhirnya kan suami ku. Barang-barang ga dibahul, ha? Sama-sama suami ku. Oke. Dannya pamit sampai kunci kwasan itu juga masih seru bawah. Itu sama buah di gitu. Dan dibawa aja kuncinya kan nanti kesini lagi gitu. Pahaya bu, apa yang gitu. Banyak, hamjila, aman gitu. Terus yang dia alam lila gitu, gak kenapa-kenapa. Tapi kita jadi barang-barang sejidin gak ada yang kebawa. Iya. Iya. Iya. Iya. Iya. Terus singkat cerita. Kita turunan nih gue asunya lagi tempat singkat disitu istirahat sementara. Baru lanjut negat bis yang jelusan kekebungen. Uh-uh. Nah, sampai kebumen waktu itu sebuah. Disitu kita sempet ngobrol juga sama bapak. Aku sempetannya ke bapak. Bar. Uh-uh. Kenapa kok suruh turun disunya lagi gitu. Terus bapak bilang gini. Ya, kalau disunya lagi itu kan metosnya orang chirabawan gitu. Misalnya akan pasti tau lah katakan orang chirabawan gitu. Itu kan kalau kaya ilmu hitam atau semacam kaya pellet, santai atau apa yang berbawah ilmu hitam gitu ya. Itu lenturu semua kalau udah lewat gue senyar lagi kata bapak gitu. Ya, ya bener gak bener-bener pak gitu, seanggit-bener mengiyakan. Nah, terus itu tuh yang aku masih antara percaya dan unga yang penting maku gak. Gak apa-apa gitu kan kalau temat, ada buhadinya baik sama aku gitu ya. Aku baik aja gitu. Oke. Tapi aku ngerti sih gimana perasaan te, Yuli. Jadi perasaan te, Yuli itu lega juga. Ya. Tapi itu tetap bingung gitu. Tetap-tap masih. Bingung ya. Sampai sekarang, bahkan sampai sekarang tuh kaya gak lo kok bisa ya gitu. Ada kejadian kayak gitu gitu ternyata, pesugian itu nyata gitu. Jadi antara percaya dan gak tapi harus percaya gitu. Dan alhamdulillah gak terjadi apa-apa sama anakku gitu ya aku masih sempat pergi dari situ sebelum ada apa-apa gitu. Nah itu mengajutkannya lagi aku melahirkan itu tepat di tanggal HPL. Tepat di tanggal HP apa-apa, ada dua anak sebelumnya itu lahirnya itu yang satu maju tiga hari yang satunya menderus malisat HPL. Anakku yang ketiga ini tepat banget di FL. Jadi aku melahirkan itu sama suami masih sempat. Lagi-lagi. Lagi-lagi. Yang di bawah? Ya. Itu sekarang enak kelas 5 alhamdulillah. Lagi-lagi, ya tadi sempat ketemu ya. Namanya siapa? Akbar. Ini mungkin video juga bakal jadi senjara dan bisa dilihat sama aku barai kalau nanti besar ya. Aku tuh apresiasi banget terhadap perjuangan seorang ibu, ibu yuli ya. Kalau temen-temen tanpa sadar, mendengar ceritanya. Pagi hamil sendiri ya. Pisa buah kos yang di mana kosanya itu juga banyak orang-orang di sekitarnya mencuri gaya bahwa pemiliknya itu melakukan persoingihan. Kebayang. Jadi sangat-sangat respect untuk bu yuli atau dauli dan juga ibu-yubu yang lagi hamil sih lama aja ya. Semoga perjuangan itu di balas dengan baik oleh kanak. Akbar, liat nih bar. Ibu ini cerita nih. Oke, nanti kau udah itu kasih abber. Biar liat di galangin bu ya ceritanya ya. Kau udah tayang. Gokil, gokil. Cendiria libu ya. Iya jadi dikasan itu aku bener-bener sendiri yang kosong semua. Karena Suami itu memang kerjadi semua. Kaya juga di Jirbon. Iya jadi sopir, trut. Jadi ke super jarang pun. Iya gak nemennya. Yang, jarang pun langkah. Ya, ya. Ritek, ritek. Oke, kita lanjut pertanyaan aku yang pertama ini sih, Teh. Bagaimana dengan kosongnya apakah teh dan juga Suami itu sempat balik lagi kosongnya? Jadi waktu sampai rumah itu Suami langsung nyuruh aku ganti nomor. Mungkin menghindari hal yang gak diinginkan. Jadi aku langsung ganti nomor. Dan sejak saat itu udah gak tahu kabar buh haji. Gak ada. Maksudnya, gak ada, udah gak ada kejadian apa-apa ya. Selepas itu, aku udah gak ngalamin apa-apa langsung delilah.
- Kau udah selamat, udah aman sampai sekarang gitu. - Beda-beda aman ya. Pernah ada ga informasi kalau anak kos sebelumnya gitu ya, itu pernah aja ditumbar juga gitu. - Enggak sih. - Enggak pernah. - Enggak pernah dengan begitu, cuma yang aku denger itu dari anak anak kos itu, bahagia itu sebenarnya perkenal selit. - Jangan kan ngasih hasil panjang, jangan kan ngasih makan dan gitu. Jadi mereka mereka yang sudah lebih dulu disitu itu belum pernah dikasih apa-apa sama buah gitu. - Tapi kok ke aku baik banget gitu. - Eh itu dia, itu dia. Makaikan tadi aku sempet nanya berarti, buat itu berpilaku baiknya itu sepelah jarai. - Iya, iya. - Dan sih kan ada apa-apa aja gitu ya? - Tapi memang mungkin teman-teman berfikir kalau, "Ai, mungkin taiuli, Curi Gana aja, tapi kita tuh memang hidup itu harus punya rasa Curi Gaja juga, kadang Curi Gaja itu juga baik loh untuk ganti rikitas sendiri gitu. Karena kalau ga ada Curi Gaja, ya. - Iya. - Ya mungkin bahagia, ada hijadian gitu. - Ya masa mau nunggu aku ngelahirin disini. - Eh Rude ya. - Kalo bener ada apa-apa gimana kan? Jadi gak ada akbar dong gitu. - Iya, aku merek sekali lagi nonton disini. - Iya itu juga sebenarnya aku tipu yang gagang pangkercaya. Jadi maski pun, kalopun beneran iya itu ternyansifku tetap yang penting jangan yalakan gitu. - Iya, ya. - Kalo pun iya gitu. Cuma kan itu kondisinya udah bener-bener dari sini cerita begini, dari sini cerita begini, terus kejadian demi kejadian itu semuanya. - Baga intah. - Jadi yang dari situ aku yang jangan-jangan gitu. - Ya, dari situ. Tampah lagi yang paling bikin aku bener-bener yang ketakutan itu tanggal HPL yang pas banget dengan. - Kuton ya. - Kuton ya. - Cerita bapak larung. - Itu bener-bener yang bener-bener aku bikin lemas yang bener-bener takut terjadi apa-apa gitu. Kalo ema bener iya. Ya kan ya, kayak ini udah beneran harus bergini kayaknya gitu. - Tampah lagi aku mau udah bener-bener takut gak berani, udah gak berani balik lagi ke kosan itu. - Iya, ya. - Lalu kemudian Suami dari Tahili itu pernah ini ga sih kayak terpertanda gitu entah dari mimpi atau apa? - Nah itu pernah Suami itu pernah cerita waktu itu. Kayak dia pasisnya dicirbon waktu itu. Tapi dia tuh mimpi di datangin sama segelombolan monyet. Itu ada di antara mereka itu monyet yang paling besar itu matanya merah. Itu yang ke Suami itu bilang kamu yang jadi penghalangku gitu. Nah itu Suami itu pasisnya tidak itu. Data-data kayak mimpi cuma kayaknya kalau itu kan kayaknya tanya gitu. Dia kayak babacahan apa segelamacem terus pergi. Itu Suami pernah cerita kayak gitu. - Itu kalau di hubungan-bungan kan sebagainya ambung. - Sebelumnya ambung. Bakan kemungkinan untuk tapak yang ada di kamar mandi. - Nah itu. - Apakah sebesar itu? - Nah itu terlapak kayak itu setelah dengan cerita itu. Ayarnya itu kalau itu terlapak kayak mornyet aku masuk akal gitu. - Masuk akal. Terlapak kayak mornyet itu sebesar itu itu masuk akal. Karena waktu itu kuliah ini kalau kucing, udah segini kayaknya gitu. Tapi kan gak tau itu apa gitu ya. Itu baru aku hubungkan setelah sekian lama set ya. Benger cerita macam-macem dan baru aku hubungin sama lapak kayak itu. Aku baru mungkin itu juga lapak kayak mornyet. Dan ayang aku denger gaduh itu kalau itu mornyet mungkin karena suaranya aku orang lebih segitu. - Lalu kalau dari cerita tehulisi gak tau ya ini menurut tuh kemungkinan buat itu melakukan sugi yang mornyet ya. Kalau dia hubung-hubungkan dengan kejadian-kejadian itu dan waktu ziara juga kan kayak ketempat makam yang sekitarnya mornyet semua itu. - Kan mungkin, mungkin ya kita gak tau ya. Mungkin kan ada hubungannya gitu. Soalnya sualis liat-buh aja juga kayak di fungunya ada mornyet besar terus mimpi suami. - Iya, itu di datenginya juga mornyet. Dan itu marah-marah sampai ngatain kamu yang ngalangin aku gitu, terus yang itu. - Itu di itu. Teribak ngat ya. - Ini aku juga penasaran sih teh. Soal ketika tehuli dan juga keluarganya buaji itu sampai di Garut ya. - Apa kan ada kecurigaan saat itu ya dari gerak berik. Buaji suami nya gitu. - Engga sih. - Engga ada. - Engga ada. Aku waktu sampai Garut yang jab sepuluh malam itu. Kalau kecurigaan kebuah dia gak ada, aku cuma bingung aja. Bingung. Masa ya, ziarah kok tengah malam gini. - Jadi bilangnya, "Wa papa yang buaji udah biasa gitu." Aku bingung, tapi yang aku arahinnya ke, "Oh mungkin karena besoknya mau ketastik gitu." Jadi kan mungkin di Garutnya malam nanti pagi, kan kita ketastik mungkin gitu. Jadi aku gak ada kecurigaan apa-apa. - Sampai di tati bulsa, manggar ada cerigah. - Engga. Pegat masih bingung. - Tentu. - Kalau staiuli ya. - Engga ada gitu pikiran yang gile kebuah dia tuh gak ada sama sekali. Jadi benda-benda yang cuma kok bahadik, ketemu, "Jiarah tapi ngeluarin beda, klifs dikita." Aku gak punya pikiran yang macam-macam. - Iya, cuma mentok di bingung aja. Tandatannya sendiri. - Kalau yang pertama itu ada nama nisannya. Yang pertama, makan pertama. Yang kedua juga, gak ada kan ya. - Sama itu kayak macam apa, kayak makan tuat gitu. - Iya ya. - Cuma apa-apa tu batu aja. - Gak ada ya. - Gak ada ya. - Oke, taiuli terima kasih. - Sengesaman. - Terbagi pengalaman. Dan mungkin taiuli ada yang mau disampaikan gitu ya ke temen-temen mengenai pengalamannya. - Jadi memang ini benda sarkan pengalaman yang itu, pengalaman waktu hamil Akbar itu. - Gitu, mungkin selama kita hamil memang harus sangat-sangat berhati-hati, jangan berhati bedoa. - Intinya tetap harus selalu ingin sama nyeris gitu. - Ah, lo ingin, mungkin karena itu juga aku selamat sampai sekarang ya. - Ya, alhamdulillah. Yang penting untuk ibu-ibu hamil. Apalagi ibu-ibu yang hamil sambil bekerja semangat. - Iya, sambil bekerja semangat berhati-hati. - Iya, semoga anaknya. - Saya hat sambil lahir. - Ah, ini. - Ah, ini. - Oke, untuk video kali ini, gue rasa cukup gue jam melalui rilan termalam dan tai iulik isin pamit. Bye. [MUZI]
Podcast Summary
Key Points:
Narasumber (Teh Yuli) tinggal di kosan di Subang yang pemiliknya (Buhaji) diduga melakukan pesugihan.
Terdapat makam tidak biasa di belakang kosan, dan kejadian mistis seperti penampakan serta suara aneh dialami oleh penghuni.
Teh Yuli diajak Buhaji ke Garut untuk ritual malam, melibatkan kambing dan ziarah ke makam leluhur di tengah hutan.
Pengalaman ini terjadi saat Teh Yuli sedang hamil, menambah kesan menegangkan.
Cerita juga menyentuh bencana banjir bandang di Indonesia dan ajakan berdonasi melalui platform Lentera Malam.
Summary:
Kesaksian Teh Yuli berpusat pada pengalamannya tinggal di sebuah kosan di Subang yang dimiliki oleh seorang Buhaji yang diduga kuat melakukan praktik pesugihan. Lingkungan kosan dianggap angker, dengan adanya makam tidak umum di belakangnya yang hanya berisi beberapa batu nisan. Berbagai kejadian mistis terjadi, seperti suara langkah dengan gelang kaki di tengah malam dan penampakan sosok menyeramkan yang dilihat penghuni kosan lain, menyebabkan mereka kabur.
Saat sedang hamil, Teh Yuli diajak Buhaji dan istrinya ke Garut untuk suatu keperluan yang ternyata adalah ritual malam. 00, dan melakukan doa-doa. Cerita ini dibagikan dalam konteks channel Lentera Malam yang juga menyoroti bencana banjir bandang di Indonesia dan mengajak penonton untuk berdonasi.
Keseluruhan narasi menggambarkan ketidaknyamanan dan ketakutan tinggal di tempat yang dianggap memiliki aura negatif, terutama dalam kondisi rentan seperti kehamilan.
FAQs
Teh Yuli curiga karena diajak ritual ke makam oleh pemilik kos dan mendengar kabar dari warga sekitar bahwa pemilik kos tersebut melakukan pesugihan.
Teh Yuli sedang hamil saat tinggal di kosan itu dan mengalami beberapa kejadian aneh, termasuk mendengar suara misterius di malam hari.
Penghuni kos lain melihat penampakan menyeramkan seperti gambaran hantu dengan mata merah dan taring, sehingga mereka ketakutan dan memutuskan untuk kabur mencari kosan baru.
Pemilik kos marah dan memarahi penghuni yang kabur, bahkan suami dari kerabat pemilik kos menampar salah satu penghuni karena dianggap tidak sopan.
Teh Yuli diajak ke sebuah makam di Garut pada tengah malam untuk berdoa, dan pemilik kos menyebut itu adalah makam leluhurnya sebagai bagian dari ritual yang biasa dilakukan.
Kosan terletak di area luas dengan banyak pohon besar, ada makam kecil di belakangnya, dan terpisah dari kosan lain yang lebih ramai penghuninya.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.