Go back

7 Prinsip Etika Berpikir dan Berpendapat

0m 0s

7 Prinsip Etika Berpikir dan Berpendapat

Pembicaraan diawali dengan tips menggambar: melambat justru meningkatkan akurasi dan menghindari kesalahan berulang. Diskusi kemudian beralih ke tema utama, yaitu nilai-nilai (value) yang ingin dibangun dalam komunitas Malaka Books, melampaui sekadar kerangka berpikir logis dan ilmiah. Dijelaskan bahwa meski telah fokus pada literasi dan pemikiran kritis selama bertahun-tahun, ada ranah nilai seperti prinsip, norma, dan adab yang perlu dieksplorasi. Komunitas ini dirancang sebagai gerakan budaya, bukan sekadar perusahaan, dengan tujuan menciptakan ruang bagi orang-orang yang sejalan. Tujuh janji komunitas diperkenalkan, menekankan sikap tidak takut ragu, mengakui ketidaktahuan, mencari ketepatan bukan kecepatan, terbuka pada ide baru, bersedia dikoreksi, mendengarkan sebelum menyimpulkan, dan mempertanggungjawabkan keputusan. Pembicara menjelaskan bahwa keraguan sering kali ditakutkan karena dianggap menandakan kebodohan atau ketidakpintaran, padahal justru menunjukkan kedewasaan intelektual dan kesiapan belajar. Contoh dari pengalaman kuliah dan sains diangkat untuk menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik selalu terbuka untuk diperbaiki, dan kepastian mutlak justru dapat menyesatkan. Intinya, komunitas ingin mendorong lingkungan di mana keraguan dihargai sebagai bagian dari pertumbuhan dan integritas berpikir.

Transcription

14323 Words, 86062 Characters

Indonesian
Pembicara 1 Ada uh salah satu uh audiensnya nanya gitu. Gimana caranya supaya kita gambarnya bisa lebih cepat. Gitu saya kan karena kebutuhan kerjaan gitu dia bilang cara untuk kamu gambar lebih cepat itu untuk gambar lebih pelan karena kadang kadang kita gambar pengin cepat cepat akhirnya salah kita rindu salah kita rindu ridho ridho akhirnya malah jadi panjang, tapi ketika kita slow down kita jadi semakin akurat dalam gambar sekali bisa jadi. Pembicara 2 Welcome back di malca box di sini bareng gue kan cita dan ada. Pembicara 1 Havi gali muria seperti biasa ya. Pembicara 2 Kania dan ebi akan menemani kalian membicarakan kalau di mal kabs itu kita ngomongin buku literasi um. Kadang kadang ya pemikiran ide ide ya yang berkembang di masyarakat. Dan kultur gitu pop culture juga. Pembicara 1 Pokoknya yang berhubungan dengan berpikir ya bisa dibilang dan literasi. Iya iya absolutely. Pembicara 2 Nah hari ini gue mungkin kasih opening dulu kali ya. Pembicara 1 Biar boleh. Pembicara 2 Konteksnya gini gue dan EB itu kan bikin buku judulnya makanya mikir. Nah jadi tentang mikir dan isinya memang friendwork framework berpikir gitu tentang decision making tentang gimana kita mengolah informasi, mengolah pilihan, mengolah prioritas kerjaan kerjaan dan. Segala macam dan gue sendiri selama mungkin kira kira 6 7 tahun belakangan gitu kan fokus banget di issue kognitif dan mikir dan rasionalitas gimana kita belajar berpikir, logis, berpikir scientific dan lain sebagainya. Nah salah satu yang kemudian banyak yang nanya adalah uh kacang emang dengan kita mikir gitu cukup ya buat hidup. Pembicara 1 Oke cukup ya? Pembicara 2 Dengan bisa mikir logis mikir scientific dan mikir rasional atau dan empati juga itu sudah sudah cukup. Belum this that all gitu. Ikut pertanyaan itu. Nah gue bilang jujur itu belum gitu. Memang ada scoope yang belum terbahas di situ dan memang kita koridornya memang belum masuk ke situ aja. Pembicara 1 Ya emang emang beda koridor. Pembicara 2 Bukan berarti kita enggak punya pemikiran tentang itu. Nah, itu adalah domain nilai atau value. Pembicara 1 Value value dan sebenarnya jadi nambahin ya selama ini juga. Menurut gua uh gua gua pun banyak bahas soal yaitu kerangka berpikir dan sebagainya. Dan waktu itu sempat ada salah satu. Gue bilang bahwa dia kadang suka noid gitu ketika nanya ke gua, gua selalu bilang tergantung jawabannya karena memang tergantung mulu. Pembicara 2 Gitu. Pembicara 1 Karena gua tuh hampir enggak mau apa ya impose value gua ke orang lain ketika mereka bertanya, karena gua selalu kasih ini formulanya ini frameworknya. Kalian figure it out on your own. Makanya gue bilang tergantung kamu, tujuannya apa kamu maunya apa kamu valuenya apa gitu. Tapi doesnt mean gua enggak punya set of value dan gua emang rada jarang ngomongin itu gitu ya? Menurut gue kita berdua juga rada jarang sih oh mungkin kalau misal benar benar merhatiin implisitly sudah bisa. Pembicara 2 Sebenarnya kali ya? Pembicara 1 Baunya apa kan? Pembicara 2 Ke sebenarnya itu kan keluar di dalam konsekuensi ketika kita membentuk opini tentang sesuatu. Ya sebenarnya itu bisa ditarik konsekuensinya, tapi tidak secara eksplisit. Iya dari kayak lu bilang iya, jadi kami mau mengambil space ini. Hari ini kita ngobrol untuk ngomongnya. Coba yuk dalam itu nih sebelum lebih jauh mungkin buat teman teman yang belum familiar dengan istilah value dan nilai itu sebenarnya tentang baik. Buruk lah ya good and bad jadi tentang. Pembicara 1 Prinsip. Pembicara 2 Prinsip yang dalam bahasa Indonesia biasanya orang nyebutnya prinsip. Norma ya terhadap nah ini yang juga sering diomongin di mana mana soal adab dan ilmu. Nah kalau bisa dibilang kita mungkin selama ini lebih sebah se ilmu. Nah hari ini kita mau bahas hadapnya adabnya part adab nya kita menurut. Pembicara 1 Kami dan lebih lebih dari itu mungkin ini juga uh apa ya? Ini juga adalah value yang kita pengen cerminkan di malaka box ya kan ya bukan hanya kita pribadi, tapi tentunya adalah refleksi dari value value kita bersama juga. Gitu, karena kayaknya ketika kita mau bikin malaka kabuk kita enggak mau ini cuman jadi kayak company aja yang di manaya adalah tentunya visi, misi dan sebagainya. Tapi kita juga pengin mikirin komunitas. Seperti apa sih yang pengin kita produksi dari malaka buku sini gitu? Pembicara 2 Kita lebih tepatnya mungkin kayak its a movement dalam konteks ada culture yang pengin kita bangun. Pembicara 1 Benar bareng bareng dia. Pembicara 2 Masyarakat iya. Pembicara 1 Orangnya orang orangnya seperti apa sih? Dan mungkin ketika nanti kita akan bahas di episode ini dan menurut gue ini gue excited banget. Menurut gue ini episode yang penting banget uh kalau misalnya kalian feel resonate dengan apa yang kita omongin, mungkin memang malah kabuks ini untuk kalian gitu. Pembicara 2 For you. Pembicara 1 Yes and feel free to discuss about it. Ya nanti kita lebih bahas lebih banyak lah ya. Pembicara 2 Langsung kali ya sudah jangan bright in. Pembicara 1 Jadi sebenarnya di mana tembok kita sudah tuangin nih value value kita di buklet ini yang waktu itu pas grand launching kita ada bacain bersama gitu ya kita ada bacain bersama ini. Jadi di dalam buklat ini sebenarnya ada 7 janji tulisannya. Uh pada diri sendiri yang beraspirasi menjadi manusia berita. Nah di setiap 7 poin ini sebenarnya kita elaborasi lagi di sini. Dan kalau misalnya kalian waktu itu yang ikut ke grand launching kalian dapat ya ini semua dapat. Tapi kalau misalnya belum sempat waktu itu ikut grand launching bisa didapatin di mana sih kan. Pembicara 2 Di official store malabowo siapa teman teman beli merchandise malah books itu bisa dapat india ada banyaklah bantu package yang bisa. Pembicara 1 Anda bisa lah kalau misalnya kalian tertarik nah tapi kita akan bahas yang ada di sini. Oke gimana nih kita mau bahasnya kan enak. Pembicara 2 Langsung saja kali ya di sini ada 7 butir ya janji kita bacain 7 butirnya dulu enggak ya? Atau langsung saja satu satu kita overview itu. Pembicara 1 Mungkin bacain dulu, tapi baru kita satu satu gitu kali. Pembicara 2 Ya boleh gantian kali ya oke ya biar lucu. Pembicara 1 Biar kayak waktu itu juga ya? Pembicara 2 Dari lu dulu bi. Pembicara 1 Oke nomor satu adalah saya tidak takut ragu. Pembicara 2 2 saya tidak takut mengaku tidak atau belum tahu. Pembicara 1 3 saya tidak mencari jawaban cepat, melainkan tepat. Pembicara 2 4 saya terbuka untuk mengeksplorasi ide dengan rasa ingin tahu. Bukan sok tahu. Pembicara 1 5 saya terbuka untuk dibuktikan salah dan mengubah pandangan. Pembicara 2 6 saya siap menyimak, mendengarkan dan mencari tahu sebelum menyimpulkan. Pembicara 1 Dan 7 saya siap mempertanggung jawabkan setiap kesimpulan sikap dan penilaian. Pembicara 2 Oke. Pembicara 1 Nah kita mulai dari satu nih satu. Pembicara 2 Saya tidak takut ragu kenapa istilahnya tidak takut. Mungkin orang kayak memang orang biasanya selama ini takut ya untuk ragu. Pembicara 1 Jadi menurut gua tuh ada ketakutan untuk ragu sih, tapi tentunya mungkin enggak di semua aspek ya ada banyak hal hal yang ketika kalau kita. Kadang tuh suka secara enggak sengaja juga. Tiba tiba find out bahwa diri kita tuh defensive banget nih soal ini. Nah setiap orang tuh kan ada red button yang bisa dibilang ya yang ketika oh itu ternyata gue. Kalau misalnya disinggung soal ini gua langsung meledak nih atau kayak langsung ada reaksi emosi yang gimana banget yang kita defensif banget jadi senang. Pembicara 2 Kita megang sesuatu tuh kita yakin pokoknya harus yakin. Pokoknya enak. Pembicara 1 Benar gitu mas sebenarnya sikap kayak gitu dari pengalaman gua. Itu adalah signal bahwa kita tuh enggak secure sama itu dan kita takut dibikin ragu di aspek itu gitu. Soalnya kalau misalnya kita secure ya dipertanyakan atau ada orang yang meragukan, atau kita bahkan dibikin ragu itu kita santai karena memang kita sudah yakin udah secure dan kita enggak takut ragu di situ. Kayak contohnya nih misalnya gua punya. Kepercayaan bahwa roti itu enggak enak gitu misalnya. Nah tiba tiba ada orang yang ngasih gue roti yang enak gitu. Gue enggak akan defensif kan ya? Soalnya gue enggak takut. Pembicara 2 Enggak mungkin girang roti enak gitu ya. Pembicara 1 Mungkin ada roti enak gitu atau kayak gua gua cobain beneran enak gua kayak enggak enggak enak gitu kan ngerti ya. Nah tapi kalau untuk hal hal yang gua sebenarnya rada takut untuk dibikin ragu itu biasanya gua akan defensif. Pembicara 2 Ya mungkin lebih konkrit dari itu. Itu contoh abstrak yang sudah apa ya simpel gitu kan atau apa pasti bisa nangkap teknologi nya. Tapi gua mau cerita pengalaman yang real. Juga ya boleh boleh maksudnya. Nah zaman gue kuliah gue kan kuliahnya di visit ya. Jadi banyak banget mendiskusikan ide ide ide, kepercayaan, kepercayaan, ideologi, ideologi dari berbagai macam bentuk ya berbagai macam bentuk dan dan perspektif gitu. Nah gue tuh dulu punya lah banyak pandangan pandangan yang gue pegang gitu kan ini menurut gue kayak gini nih yang benar gitu. Dan salah satu ide yang pernah uh waktu dulu gua pegang gitu. Gue tuh menganggap harusnya orang tuh secara sebagai individu gitu ya itu enggak perlu diatur di ruang publik. Salah satu bentuk aturannya adalah kewajiban mengenakan helm. Pembicara 1 Oke. Pembicara 2 Ya. Menurut gue negara tuh enggak berhak mengatur orang harus pakai helm karena helm karena kepala orang kan kepala dia ya kenapa jadi negara yang ngatur kayak gitu? Nah tapi gue kan punya prinsip ini dari kecil ya maksudnya gue memang selalu orangnya enggak takut untuk ragu gitu. I am not gua enggak pernah afride untuk duling myself gitu dan gua enggak pernah ada attachment pada apa yang gue anggap benar, karena gue selalu mikirnya adalah ya kalau ternyata ada evidence yang lebih kuat, ya sudah gua ganti gitu kan? Nah, jadi waktu itu gua ngobrol sama dosen gue gitu kan? Itu kan tahun 2 ya kuliah jadi gua masih kecil. Biasa lah kalau masih kecil kan pengetahuannya masih sedikit ya banyak iklannya. Jadi pasti kalau bikin stand tuh naif katanya ekstrim ya karena kita cenderung enggak ngelihat. Kompleksitasnya gitu belum lihat kompleksitasnya. Jadi waktu itu gue dengan sangat PD nya gitu kan bikin paper tapi paper gue nilainya bagus karena paper itu dinilai bukan dari benar atau enggaknya. Kesimpulan bukan, tapi gue sangat sangat elaborate dalam menjelaskan argumen gue. Kenapa? Menurut gue harusnya negara tidak boleh wajibkan helmy. Pembicara 1 Veryce. Pembicara 2 Thing terus dosen gue ini filsafat kontemporer mata kuliahnya dosen gue mas daniel hutagalung gue ngobrol sama dia karena dia. Menganggap pikiran gue seru nih dan seru untuk diganggu. Menurut dia, seru untuk diganggu. Pembicara 1 Gue bisa paham itu. Pembicara 2 So lawstory share gue enggak bisa ceritain conversation panjangnya karena conversation cafe 3 jam, tapi intinya adalah di situ. Akhirnya gue menemukan banyak kemungkinan yang membuat bahwa oh iya ya berarti ada sebenarnya ada uh reason nya nih yang bisa menjadi dasar kenapa negara harus diperbolehkan untuk melakukan ini? Salah satu contohnya adalah ketika terjadi kecelakaan. Helm itu menurunkan risiko kematian jauh dibanding kalau enggak pakai karena dia biasanya resiko kematian tinggi itu datang dari benturan di kepala dan apalagi kalau itu fatal benturannya gitu kan ya akhirnya meninggal. Nah, dalam konteks ini filsafat hukum ya ketika dia mau melakukan judgement atas kasus kecelakaan itu, jauh lebih baik kalau orangnya tidak ada yang meninggal di situ di dalam kasusnya karena sehingga jadinya perspektifnya bisa diambil. Oke ya kan aktor aktor yang terlibatnya itu semuanya ada bisa menjadi withness ya. Nah, tapi ketika semakin banyak yang meninggal dalam suatu kejadian seperti itu, semakin sulit kita menemukan kebenaran dan membongkar. Akhirnya keadilannya gitu kan kalau dalam konteks pengadilan jadi sistem peradilan, jadi itu secara filsafatnya diskusinya seperti itu. Tapi poin gue adalah ketika dosen gue menceritakan case itu itu salah satu contoh argumennya dia banyak lagi contoh contoh argumen argumen yang lainnya, gue sama sekali enggak ada attachment bahwa. Stans ini harus benar dong gitu maksudnya. Harusnya. Gue enggak nyaman dengerin ini misalnya gitu. Tapi. Pembicara 1 Ternyata lu santai aja gue santai. Pembicara 2 Saja gue tuh enggak pernah. Nah yang paling lucu itu ketika misalnya gua punya opini itu terus opini gue ternyata oh ternyata salah nih gitu ya. Terus ada netizen gitu sama orang yang kayak nah gimana nih gitu gimana nih kak? Ternyata salah terus gua kayak gimana apanya ya udah salah kan tinggal salah. Pembicara 1 Tapi ini sebenarnya poin yang ada soal. Pembicara 2 Nya tadi gua salah oh iya ya gua terlalu simplistik nih ngelihat nih ya sudah gua tinggal ya sudah berarti salah gua koreksi gitu. Pembicara 1 Benar dan sebenarnya ini juga sih yang soal keraguan ya menurut gua resistensi orang yang tidak mau merasa ragu atau terlihat ragu itu karena dia enggak mau kelihatan bodoh. Karena menurut gua untuk banyak orang rasa pasti atau sikap orang yang ngomong sesuatu dengan kepastian itu tuh sering diquientin ke kepintaran. Pembicara 2 Ke mastery. Pembicara 1 Iya kan, kita kan kadang kalau misalnya ngelihat orang dia ngomongnya itu. Uh pasti banget gitu kayak yakin banget itu kayak ini orang no something nih gitu kan kayak ini ini nge signal kepintaran untuk for a lot of people. Nah, makanya untuk itu dari mereka banyak yang enggak mau terlihat ragu. Karena nggak mau kelihatan bodoh gitu. Pembicara 2 Ini kalau menjawab mungkin gini tuh enggak ini ya enggak nyaman gitu loh. Pembicara 1 Kalau beberapa orang mungkin itu justru signal signal kayak. Pembicara 2 Ukuran sih sebenarnya apa kurang si? Pembicara 1 Isinya atau enggak punya pendirian gitu loh kan. Pembicara 2 Ini juga dalam konteks ini, gue jadi ingat ya bicara lo ngangkat soal kayaknya kelihatan lebih pintar dan lebih bagus kalau yakin gitu. Itu juga salah satu yang menarik dalam diskusi terkait scientific thinking. Karena gue kan selalu ngajakin kita scientic thinking ya gitu dan pasti nih ada nih kritik yang lawannya tuh kayak gini uh. Ngapain sih chan ngajarin sesuatu yang enggak pasti? Gitu karena kalau dalam science kan memang kita enggak bisa bilang dong sesuatu absolutely through gitu kan kita enggak bisa bilang misalnya temuan temuan research ini sekarang tahun 2026 bisa enggak dibuktikan salah 2027 bisnis bisa enggak dibuktikan salah 2020 bisa. Nah kira kira orang benarnya kalau kayak gitu ngapain kita ikutin diajak mencela yang celana dia aja bisa salah kayak gitu bisa anak kan karena sesuatu itu menyimpan potensi salah dia menjadi buruk, padahal menurut. Pembicara 1 Gua enggak. Pembicara 2 Itu suruh thats what bahkan that what make it good gitu menurut bahkan dasar make it good bahwa. Lu punya space untuk bisa dibuktikan salah dengan metode yang jelas juga dengan dasar yang jelas juga justru itu kekuatannya gitu. Menurut gua justru thats not doakness of science dan scientific. Pembicara 1 Dia bisa terus diimprove dia bisa dan maksudnya walaupun misalnya knowledge ini di. Pembicara 2 Ya. Pembicara 1 Dan bahkan misalnya knowledge ini terbukti salah gitu ya itu bukan berarti proses untuk uncover dan menemukan knowledge ini itu semuanya 100%. Pembicara 2 Jadi. Pembicara 1 Sia sia. Pembicara 2 Jadi sia sia jadi. Pembicara 1 Karena untuk kita bisa bilang oh, ternyata ini eror disini atau ini salah di sini proses yang ini gitu. Dan banyak hal di society kita juga ya semua hal hal hebat dan transmatif itu kan dibangun atas ribuan solusi, solusi atau ide ide yang enggak sempurna gitu sebenarnya yang saling diimprove a satu sama lain. Memang jarang ya sesuatu yang langsung tiba tiba semuanya benar gitu. Pembicara 2 Jadi dan apalagi ketika di kompere dengan misalnya hal lain yang ya menjangkan untuk jadi maksudnya ini cuman rasanya doang kayak pasti gitu. Padahal ini apa basisnya untuk bilang pasti benar. Pembicara 1 Jadi memang selalu harus ada health. Terus off apa ya namanya uh humanity not in knowledge gitu yang yang di mana kayak untuk sekarang kita tahu hal ini nih, tapi kita harus selalu terbuka untuk ini bisa berubah kalau misalnya ada evidence evidence baru yang nge disprove itu gitu kan? Pembicara 2 Sebenarnya dipointment kita bahas itu sendiri. Jadi nanti kita. Pembicara 1 Nah, tapi ini ada poinnya yang menurut gua bagus. Uh kenapa kenapa kita taruh tidak takut ragu karena menurut gua ketakutan akan keraguan itu sendiri. Sesuatu yang bikin banyak orang enggak mau belajar lagi sih karena pengen udah kelihatan pintar enggak mau kelihatan. Ah, masih ada penuh keraguan atau kurang pintar. Ini nih barrier untuk belajar gitu, padahal ini kita tulis ragu adalah tanda kita masih hidup atau mau bertumbuh. Itu bener banget sih um itu salah satu hal yang gua pelajarin juga pas di universitas gitu ya ini soal keraguan soal daud ini banyak banget yang gue pelajarin itu. Di universitas salah satu profesor gue bilang dan itu 1 kali yang gue dengar gitu ya bahwa dia bilang justru orang yang paling groundded sama pengetahuan dia itu yang paling secure dan enggak takut sama keraguan orang lain. Gitu. Tapi justru kalau orang yang paling takut akan keraguan itu sebenarnya dia yang paling shallow nanti knowledge ya dan karena knowledge nya masih sangat shell ya dia pegangan banget gitu loh. Dia enggak mau dibuktikan itu salah gitu. Nah, jadi orang yang paling insecure yang paling takut sama keraguan itu sebenarnya knowledge nya yang paling shalo gitu itu yang 1 dan yang 2 juga dia bilang keraguan itu. Selama kita terus belajar, ini jatuh juga. Yang gua pelajarin juga ya selama kita terus bertumbuh belajar encounter pengetahuan baru apa segala ya kita pasti akan ada keraguan keraguan pertanyaan, pertanyaan itu sendiri gitu loh kan. Pembicara 2 Jadi maksud lo bahkan dalam proses belajar itu sendiri ya takut untuk ragu tuh jadi hambatan enggak sih? Jadi harusnya lu enggak perlu kawatnya. Pembicara 1 Jangan. Pembicara 2 Halaman 1 dan halaman 2 ini bisa jadi salah dia 10 gitu ya jadi. Pembicara 1 Keraguan ini nih bukannya men bukannya barrier untuk lu ketika belajar sesuatu yang baru. Tapi ketika lu sudah belajar sesuatu itu kan kadang harus ada proses unlearning. Belajar ulang atau ternyata lu harus improve atau modifikasi. Nah ini nih di sini barriernya. Gitu yang di mana lu sudah belajar sesuatu, lu sudah mau cengkram itu saja lu enggak mau dibikin ragu di situ. Pembicara 2 Kayak tadi misalnya dalam konteks yang gue bilang tentang scientific thinking dan science yang bisa salah gitu kan. Ya gue iya dia memang bisa salah terus kan mereka ya terus ngapain dipegang, iya kan? Kita tahu itu yang terbaik sekarang. Maksudnya saat ini pengetahuan terbaik yang kita punya itu dengan dasar ini ini ini ini, tapi bisa enggak ternyata 2 tahun lagi kita menemukan rata rata salah nih ya bisa aja sih, tapi kan itu berdasarkan 4 tahun kita sekarang ya kalau kayak gitu ngapain kita ikutin ya karena sekarang yang kita. Pembicara 1 Bisa dibilangin. Pembicara 2 Itu gitu. Pembicara 1 Enggak ngikutin tahu enggak tahu sama sekali. Mungkin di sini gitu. Ini tahu ini, tapi rada mungkin dan salah akurasinya enggak mungkin bisa jadi kadang 80% atau 50% enggak harus selalu 100% itu ada di sini ya artinya yang mending kita tahu ini dibanding enggak tahu sama sekali juga. Pembicara 2 Iya kayak contohnya soal yang newton sama einstein itu yang soal relativitas dan gravitasi gitu hukum gaya lah ini hanya gaya newton ya kan orang seakan akan. Ya newton nih runtuh nih gitu padahal mungkin secara penjelasan mekanismenya dia enggak akurat gitu ya karena ternyata ditemukan akurasi yang lebih tinggi dalam penjelasannya. Si einstein gitu, tapi. Kan sebenarnya formulanya sendiri ternyata works di bumi gitu kan susah extend ternyata works di benda pada masa segini di konteks seperti ini ternyata works berarti kan ada degree of truth yang dicapai lewat observasi. Pembicara 1 Benar walau bukan. Pembicara 2 Berarti bukan berarti tiba tiba langsung ya kalau asalkan basisnya jelas very unlightly. Kebenarannya tuh totally rong gitu maksudnya totally ngaco kan dia? Apa yang dia observe kan bukan hayalan gitu kan dia. Langsung di dunia nyata berarti kan kalaupun misalnya oh salah nih ya salahnya bisa dijelaskan gitu kenapa benar misalnya oh ternyata inkonsisten kalau di masa level planet enggak berlaku lagi. Nah what happens there gitu kan about it mau yang lebih akurat lain. Pembicara 1 Proses untuk membuktikan itu salah. Itu adalah produksi ilmu pengetahuan yang baru lagi gitu yang tidak mungkin dicapai tante si ilmu pengetahuan itu ada dulu gitu kan dan kita pelajarin dulu gitu. Jadi tetap ada valuenya walaupun mungkin dia ternyata diprove enggak akurat itu. Pembicara 2 Yang lebih penting lagi adalah kalau buat gue sesimpel ini sih kita kan dalam hidup ini enggak mengontrol time line ya maksudnya waktu itu terus berjalan. Dan kadang kita butuh menggunakan informasi untuk bikin keputusan untuk kesimpulan, untuk apa akhirnya kita cuma bisa mengambil informasi terbaik yang bisa kita ambil sekarang. Nah, tapi bukan berarti kita berhenti menguji lagi informasi itu kan poinnya itu kan, tapi sebenarnya enggak apa apa. Misalnya sekarang yang kita tahu baru ini nih ya sudah dengan sejauh yang kita tahu ya ini yang kita pahami sekarang. Pembicara 1 Iya sama saja lah kayak misalnya tentang uh, teknologi atau metode untuk prediksi bencana alam gitu. Apakah ketika kita pakai itu akurasi? Sudah pasti 100% bencana alam dengan terjadi kan enggak? Itu kan dalam probabilitas gitu kan? Tapi kan kalau begitu ya kak buat apa? Kan belum tentu saja. Iya iya uh uh uh. Pembicara 2 Tetap ada kemungkinan. Uh, tapi bukan berarti kita enggak pakai juga informasi itu. Walaupun ada ruang untuk ragu ya. Thats the idea tentang. Pembicara 1 Nomor. Pembicara 2 2 untuk ragu ya. Tidak takut mengaku. Enggak atau belum tahu? Pembicara 1 Ya. Pembicara 2 Ini juga sebenarnya mirip gimana 1. Biasanya uh ya enggak tahu ya kalau misalnya kalau misalnya orang kadang kadang enggak tahu bidang itu tapi terus beropini panjang tentang itu mungkin ya kadang kadang kayak enggak tahu ya ke trigger untuk. Pembicara 1 Nah ini nih menurut gua relevan banget di dunia sosmed kita sekarang ya yang di mana menurut gua ngerasa tuh dengan kehadiran tipe sosmed yang kayak sekarang yang di mana? Uh event habis itu isu isu tuh yang selalu apa hadir tuh begitu cepat gitu ya kita semua diekspect untuk punya stand satu pendirian atau opini secepat itu kenapa ya? Karena isu lain udah ngantri nih opini lu apa ayo lu kalau misalnya bukan di sisi gua lu di sisi sana gitu kayak ini ayo opini lu apa opini lu apa opini lu apa dan ini kan akhirnya jadi bikin orang orang tuh ogah banget kan bilang bahwa gue belum tahu gitu im still deciding im. Processing. Pembicara 2 Ya kadang kadang juga ya dianggap salah sih bi masalah. Iya dibilangpun orang yang mau bilang gitu, tapi kemudian dia dihantam gitu kan? Pembicara 1 Iya dia lu harus educate lu. Pembicara 2 Harus educate yourself ya iya gua justru karena gua mau mengajukannya. Gua belum tahu nih gimana kan gitu. Kadang kadang gimana ya? Jadi gue pernah loh ada dalam satu forum sampai gue kaget sama jawabannya gitu. Jadi kan gue bilang bahwa kalau kita mau mengomentari suatu kebijakan. Ya kita mesti paham dulu dong kebijakannya gitu kan. Jadi gue bilang kadang kadang memang uh sulit tuh ketika kita harus uh mengkritisi atau menguji produk kebijakan yang memang kompleks misalnya kayak produk hukum undang undang gitu kan ratusan pasal terus. Gua backgroundnya bukan hukum gitu kan mungkin gua enggak tahu nih cara baca antar pasalnya gitu kan uh bahwa pasal ini bacanya enggak gini nih, tapi kan kayak gitu gitu banyak banyak untuk memahami itu. Nah jadi gue bilang. Jadi sebenarnya memang ya kita butuh waktu sih untuk memproses produk seperti ini gitu. Pembicara 1 Kan ya sesimple juga, misalnya ketika kita bilang gue belum tahu nih ini complicated gue harus lebih look in tweet orangnya terbilang ribet amat sih udah pasti begini lah gitu misalnya. Pembicara 2 Kan nah terus jawabannya tuh gini terus jawabannya kayak gini loh ya enggak perlu dong kalau misalnya sesuatu itu urgent ya harus disampaiin langsung gitu. Dia bilang ya enggak bukan soal gini. Gua tahu misalnya ini urgensinya sekarang nih soalnya sudah mau. Lu misalnya gitu kan dulu paripurna atau apa ya? Iya. Tapi kan lah gimana caranya gua tahu gua mau mendukung atau enggak, sedangkan gua belum baca produknya, makanya kan gini ya ini yang paling lucu gini demokrasi itu mahal gitu gue selalu bilang nih di mana mana demokrasi itu sistem yang mahal, coba bayangin ya misal kita semua mau berpartisipasi untuk mengawasi jalannya negara, ya kan demokrasi kan konsepnya seperti itu, kita harus fair dong mengatakan bahwa ketika kita mau mengawasi sesuatu produk hukum, ya kita harus. Baca kan masa sih kita kita enggak baca misalnya nih kita pun undang undangnya kita enggak baca terus kita komen nih menurut gua kita undang undang. Pembicara 1 Ini. Pembicara 2 Salah sih right enggak kan? Nah berarti kan ada waktu yang harus diinvest dia membaca itu misalnya lihat saya lu butuh 3 jam 4 jam. Nah kalau dibilang ya sudah jangan lu enggak usah baca lu ikutin aja semua suara massa sudah ke situ, nah gue selesai massa yang mana? Pembicara 1 Enggak da karena kita iya dan atau atau kayak gini misalnya. Pembicara 2 Misalnya tinggi gitu. Pembicara 1 Misalnya kayak kadang juga mereka tuh uh atau bukan mereka. Kadang tuh banyak orang juga bilang gini kayak misalnya soal isu, misalnya soal isu dulu, misalnya uh rupks lah dulu misalnya lets say itu kan pks pks ya TPKSPPKS akhirnya berubah jt. Pembicara 2 Ya pks tadinya tapi. Pembicara 1 Ini gua ngomongin pas masih pks itu kan sebenarnya banyak itu kan soal kekerasan seksual ya. Kan orang tuh pasti ketika lu bilang misalnya kayak bentar nih gua harus kaji gua harus baca dulu gitu. Orang baru bilang ngapain ya orang soal kekerasan? Emangnya lu mendukung untuk itu untuk tidak melindungi perempuan? Ya bukan gitu maksudnya ini kan kita enggak tahu. Pasalnya di dalamnya apaan aja maksudnya gitu nah. Pembicara 2 Jadi judulnya begitu isinya justru enggak berpihak pada perempuan yang menjadi korban dalam. Pembicara 1 Konteks ini kan netizen atau banyak orang tuh se mikirnya gitu kan ngapain sih ribet amat ya ini kan untuk membela perempuan dari kekerasan seksual gitu. Jadi kenapa lu enggak dukung? Dukung aja lah gitu ya. Tapi kan ini masalahnya banyak kita harus take time untuk baca dulu. Nah itu salah satu contoh, tapi maksudnya banyak di isu isu yang lebih yang kompleks juga tuh treatmentnya sama gitu loh yang gua lihat jadi orang tuh takut untuk bilang mereka belum tahu atau mereka belum berani ambil stand gitu loh kan? Pembicara 2 Gue sering banget juga dikasih asumsi yang orang ngiranya gue punya pandangan tentang sesuatu. Padahal stands gue adalah gue enggak tahu gitu. Pembicara 1 Misalnya. Pembicara 2 Kayak gue ditanya menurut lu alien ada enggak? Pembicara 1 Oke itu bilang enggak tahu, enggak tahu maksudnya gue belum tahu artinya lu enggak percaya alien kan gitu kan? Pembicara 2 Kayak artinya lu bilang alien enggak ada dong, berarti lu bilang alien gue enggak tahu gitu gue bisa gue enggak tahu deh network yang itu dats why gua enggak punya konsekuensi dari tidak iya dari adanya gitu ya kan? Pembicara 1 Kayak gitu kan maksudnya iya iya iya. Pembicara 2 Bahwa misalnya gini kalau lu percaya alien itu ada lu lu punya lapangan UFO misalnya di rumah lu nah sehingga lu enggak bangun lapangan UFO dong kalau lu enggak tahu kan untuk dia untuk dia landing kan lu enggak bikin nih landing landing apa namanya feld lah ya kan? Misalnya kan saya kayak gitu. Nah nanti dia bilang oh berarti lu anggap kalian enggak ada dong enggak gue bilang gue enggak tahu gitu loh. Gua enggak tahu hands gua enggak bisa berinventasi membangun. Tempat dia landingin benar gitu karena ini terlalu mahal untuk gue bayar. Sedangkan gue belum tahu dia nih ada atau enggak gitu. Jadi gue enggak punya stand tentang dia ada atau enggak gue enggak tahu gitu gitu loh. Nah kayak gitu ya gue enggak tahu gitu. Pembicara 1 Benar. Pembicara 2 Dipaksa gitu loh harus. Enggak coba deh lu pikir. Tapi menurut lo enggak gue sudah jawab nih enggak gua enggak tahu dia bilang gua enggak tahu ada oh enggak gitu. Gue enggak tahu. Pembicara 1 Nah ini kan jadi ada kultur yang demanding itu ya dari masyarakat harus. Nah tapi ada satu unsur juga lagi yang menurut gua soal orang jadi takut ngaku enggak tahu atau belum tahu itu tuh lagi lagi gengsi ya yang di mana lagi lagi kalau misalnya bilang enggak tahu atau belum tahu otomatis dicapai oh. Bodoh gitu atau misalnya ya artinya kok lu bisa enggak tahu sih atau misalnya di. Pembicara 2 Tapi kalau sekarang. Pembicara 1 Tenda lah ya. Pembicara 2 Sekarang tapi lebih banyak yang point 2 tadi sih contoh lo yang kok lo bisa enggak tahu sih kayak gini. Pembicara 1 Iya kalau dunia sudah. Pembicara 2 Yang dia ngapain tuh algoritm itu kan bubble banget ya. Jadi sebenarnya kadang kadang kalau teman teman ngelihat sesuatu sudah ramai banget diomongin tuh belum tentu di timeline orang lain kayak. Pembicara 1 Gitu maksudnya gini sama kayak. Just because lu bisa tanya AI atau lu udah baca beberapa headline itu belum berarti lu tahu tentang sebuah isu kan kayak untuk lu paham itu kan sebenarnya ini tim. Pembicara 2 Juga. Pembicara 1 Dan jadi pas gue di kuliah juga ya di US itu tuh itu 1 kali gue encounter profesor profesor gue yang supposedly udah mempelajari sebuah pelajaran yang bertahun tahun yang mengajar sebagai profesor gitu ya ketiak ditanya sama muridnya dan dia enggak tahu ini secara gamblang saja kan bilang oh gue. Tahu cobaan kan gue riset dulu gue gue cari tahu dulu ya minta email lu dong. Nah habis itu t 3 hari setelah itu baru dia email students nya jawabannya gitu setelah dia cari tahu. Nah tapi kalau misalnya in the end you menurut dia dia enggak tahu atau dia enggak punya opini ya dia bilang gitu secara santai dan menurut gue justru itu nunjukin level kepercayaan diri yang luar biasa gitu kan terhadap uh ilmu pengetahuannya dia. Dan dia enggak buat buat jawaban supaya kelihatan pintar. Padahal sebenarnya dia enggak tahu. Menurut dia, sikap enggak tahu itu adalah sesuatu yang sangat normal. Ya manusia enggak harus tahu semuanya kok gitu. Dan kalau misalnya kita pengen cari tahu ya kita bilang untuk sekarang saya belum tahu, coba give me time. Let me learn about it dulu gitu. Pembicara 2 Iya sebenarnya ya menjawab, enggak tahu hal hal yang kita enggak tahu itu harusnya menjadi common disensi aja sih gitu ya menjadi menjadi adab. Dasar aja ya sebagai manusia gitu jangan. Kemudian kita malah mengarang informasi sendiri ya. Pembicara 1 Kadang kadang itu. Pembicara 2 Bingung juga ya kalau orang suka kayak misalnya kalau ada konsep konsep yang banyak lah di sosial media, kadang kadang misalnya ngomongin cewek cowok cewek kayak gini gini gini cowok gini, padahal basis pengetahuannya tuh. Ternyata kalau ditanya ini referensi apa ya? Enggak tahu sih kayaknya gitu saja ya kalau enggak apa apa disapai gitu maksudnya gue bingung deh lu kalau enggak tahu tentang ini, harusnya kan ya gua enggak tahu dong, bukan bikin cerita panjang lebar tentang itu. Based on i dont know what that? Pembicara 1 Maksudnya gini maksudnya cerita panjang lebar soal itu seolah olah itu fakta gitu kan ya bukan beda cerita ya ngomong menurut gua dugaan. Pembicara 2 Gue menduga kayaknya ada seperti ini gitu, masih enggak apa apa. Ini kan kayak ngasih tahu orang seakan akan itu fakta lapangannya seperti itu. Ternyata kalau dikejar sebenarnya gua enggak tahu sih ya kalau enggak tahu kenapa ngomongnya bisa banyak banget ya tentang itu gitu. Itu kan gawat banget gitu sama kayak tadi soal kebijakan itu lucu banget sih. Gua sering kayak misalnya gua nanya lu. Lu tapi udah udah liat yang ini gitu, misalnya kayak penjelasan yang ini gitu tentang si kebijakan tersebut ternyata belum gitu. Tapi kok udah beropini panjang banget tentang itu gitu. Pembicara 1 Kan dan sangat yakin. Adalah fakta gitu ya. Pembicara 2 Harusnya kan kita uh memahami dulu dong. Nah memang ada juga kritik yang kayak misalnya bilang ya kalau enggak sempat gimana chan ini kan sudah uh kita sudah genting gini gini ya, tapi gimana ya? Oke maksud gue challenge nya betul valid gitu problemnya ada, tapi bukan berarti yang lo ambil juga tidak ada problem gitu kan yang pilihan yang lo ambil untuk orang harusnya diajarin tidak perlu baca langsung ambil sikap. Pembicara 1 Enggak bisa pilih salah satunya kan itu. Pembicara 2 Juga bisa fatal juga karena loh orang. Yang sering banget kok kejadian di mana ketika dibaca dibaca ulang gitu kan loh ternyata enggak seperti yang dituliskan di mana mana misalnya gitu kan kan miring banget kayak gitu dalam konteks kebijakan. Dalam konteks uh isu misalnya ada statement siapa yang baru baru ini gue juga baru ngobrolin sama mb gitu kan ada statement orang yang padahal maksudnya bukan itu terus sudah ramai di mana mana. Pembicara 1 Ya sering banget lah kayaknya. Pembicara 2 Tuh ngejelas orang ini satu dia ekspertisi jelas. Integritasnya jelas dan omongannya sebenarnya valid. Valid aja tapi potongan di mana mana. Pembicara 1 Itu. Wah itu sudah. Pembicara 2 Ingat ngaco ngaco gitu gitu kan lah tapi orang sudah nyimpulin aja kayak gitu kan sering kali terjadi seperti itu. Jadi itu juga bukan solusi juga gitu. Maksudnya itu juga bukan weut problem. Nah kalau dibilang kayak ya kalau kayak gitu enggak sempat lah, jangan malah sempat kita apa namanya ngelakuin perubahan kalau misalnya semua hal harus dipahami dulu ya enggak semua hal yang harus dipahami ada. Apa yang menjadi relevan film? Pembicara 1 Benar benar. Pembicara 2 Benar tersebut bukan harus paham semua hal sih gitu. Pembicara 1 Iya iya iya. Pembicara 2 Belum mau omongin ya itu itu ya harus paham kalau enggak gimana caranya gue punya opini terhadap sesuatu yang gue enggak paham. Tapi gue harus beropini tentang ini gitu ya. Pembicara 1 Enggak harus semuanya diopi. Itu kan gitu ya sebenarnya. Pembicara 2 Dibilangnya ada desakan dari bawah ini. Kehidupan publik nih gini gini ya itu. Makanya gue bilang memang demokrasi itu ti bukan sistem yang izin gitu, bukan sistem yang mudah gitu memang. Pembicara 1 Perlu banyak investment. Pembicara 2 Investment gitu itu kan ibarat gue selalu kasih contoh itu kayak lu punya rumah ya lu punya asisten rumah tangga misalnya yang membantu lu gitu kan di rumah. Nah orang ini kan kapasitasnya adalah membantu lu merunning rumah lu ya terus ketika misalnya orang ini tidak perform, ternyata ada misalnya apalah yang belum diselesaikan. Nah ujungnya itu siapa yang bisa? Mengurus itu kan lu lagi kan balik. Akhirnya lu ngelihat bahwa oh ini kok enggak dikerjain ya misalnya gitu. Terus ternyata bahwa orang itu harus diganti. Siapa lagi yang ngerjain lagi lu lagi kan? Nah demokrasi itu kayak gitu gitu bahaya iya ketika betul bahwa lu menggaji orang orang untuk jadi pemerintah segala macam iya. Tapi sekarang kalau mereka enggak perform terus baliknya kan ke kita lagi, pasti kan memang itu kan kecuali lu kalau dalam diktatorsip kan ya sudah dia ngurus semuanya sendiri, kita enggak ngurusin dia kan, jadi ibarat kita kayak taruh asisten dan asisten ini kita kasih otoritas penuh untuk terserah orang yang rumah ini kayak gimana, nah habis itu kita tinggal kan, tapi kalau demokrasi kan enggak kalau demokr. Pasti kan memang loh memang kita menggaji dia untuk bekerja, tapi kita juga yang mengawasi kita juga yang kalau misalnya dia harus diganti kita yang ngeganti gitu. Jadi memang its high investment system gitu, jadi enggak ada juga jalan untuk lari dari itu gitu dengan uh ya enggak perlu dong paham karena ini buru buru ya enggak bisa gimana maksudnya memang enggak bisa dong, masa kita enggak paham langsung bikin opini. Nah paling paling banter ya di wakilin gitu kan misalnya makanya kita berkomunitas tuh. Misalnya bikin asosiasi ya kan bikin organisasi masyarakat. Nah itu kan tujuannya nanti diorganisasi itu kita bisa punya orang orang yang misalnya meriset itunya dan segala macam nah, tapi kan again tetap dibangun pemahamannya. Menurut gue sih spiritnya itu. Pembicara 1 Ya spiritnya itu benar dan mungkin kalau kalau soal demokrasi itu rada gede ya mungkin kalau misalnya kita tarik ke yang lebih everyday soal misalnya di kerjaan gitu, gue sering banget dapat uh dm atau misalnya pertanyaan gitu ya sesimple kayak dia cerita nih rasul ada pertanyaan uh pokoknya intinya salah enggak sih kak? Aku belum tahu soal ini gitu atau misalnya aku malu uh aku takut banget diketahuan bahwa aku enggak tahu soal ini gitu. Pembicara 2 All right. Pembicara 1 Nah itu tuh jadi maksudnya. Itu kan sikap sikap ketakutan yang seperti itu. Itu yang apa ya lagi lagi jadi barrier untuk kita belajar atau bahkan bukan cuman itu enggak belajar akhirnya kita karena takut kita enggak mau ngaku ke diri sendiri bahwa kita enggak tahu kita sok tahu kan jadinya terus kita lakuin saja kita ajar aja akhirnya salah, akhirnya salah kena tegur dan dan sebagainya akhirnya berantakan dan sebagainya. Padahal seharusnya kalau diklarify dulu instruction nya dari awal itu bisa bikin prosesnya lebih smooth. Pembicara 2 Iya gue nyebutnya itu aman culture. Hm jadi setiap apa jawabannya aman. Pembicara 1 Benar padahal sebenarnya. Pembicara 2 Enggak tahu. Yang diminta sebenarnya sudah tahu. Pembicara 1 Ini akhirnya dilakuin sendiri dengan dengan dugaannya sendiri amannya sendiri. Iya akhirnya ngaco senam ada gitu kan. Pembicara 2 Gue selalu kalau on boarding orang ya gitu kalau baru masuk gitu kan masuk ke dalam tim itu salah satu hal 1 yang selalu gue highlight sih kalau enggak tahu nanya kalau enggak tahu konfirmasi kalau enggak tahu klarifikasi kurang enggak tahu jalan benar. Pembicara 1 Benar dan maksud gue tuh gue gue paham lah. Mungkin enggak semua bos tuh kayak. Ya gitu yang di mana ketika ditanya mau kejelasan lagi ada bosnya kayak gitu saja nanya ada yang memang yang kayak gitu, yang bikin orang jadi kayak gini. Pembicara 2 Nanyanya. Pembicara 1 Mungkin enggak harus ke bosnya tuh dalam artian kayak benar benar tahu penyanyi itu. Atau kalau enggak salah nyari tahu atau misalnya Google misalnya saya kamu misalnya disuruh bikin presentasi soal apa gitu? Bingung nih gimana cara bikin present saya yang bagus kan sebenarnya di source. Pembicara 2 Bisa di tahun. Pembicara 1 Sendiri gitu ya? Nah tapi kan untuk kita melangkah dan mencari tahu dan belajar lagi harus ada level di mana kita mengakui dulu ke diri sendiri bahwa gua enggak tahu nih, tapi kan kadang ada orang yang bahkan di situ aja ada mental blog nih kayak enggak gua pasti tahu gua pasti tahu gitu, akhirnya dia jalan aja gitu. Nah jadi salah ngaco gitu. Pembicara 2 Kan ya akhirnya kan jadi kerja 2 kali. Iya gara gara itu. Pembicara 1 Dan di sini kan, makanya kita juga bilang woy there is no shame in ex ad meeting kita enggak tahu apa apa ya, soalnya toh dunia terus berubah, pengetahuan terus bertambah dan kita juga terus tumpuh. Waktu itu gua pernah dikasih perumpamaan sama profesor gua yang jujur ngebas gue sama gua yang dibilang kenapa kita harusnya enggak simpul gitu ketika kita enggak tahu sesuatu, dia bilang ibarat misalnya ada kotak nih ibarat kotak ini isinya semua pengetahuan di dunia yang udah ketahuan ya belum lagi yang undcover gitu. Sudah ketahuan. Nah kita pikirin orang yang paling pintar deh yang menurut kita siapa gitu misalnya einstein gitu kan einstein pintar banget lah ya sudah pasti lebih pintar dari kita gitu. Einstein tuh paling cuman tahu pengetahuan tentang seluruh dunia tuh segini. Gitu jadi yang einstein pun yang sepintar itu. Enggak tahu tuh masih segini gitu. Jadi misalnya dia berapa 1% kali ya 99% tuh masih enggak tahu. Nah einstein aja kita bagi kita dan manusia manusia biasa. Nah itu jadi kayak enggak mungkin seseorang tuh tahu segalanya. Jadi kalau kita kita ngaku kita belum tahu. Justru itu pintu gerbang dimana kita bisa belajar lebih lagi kan? Pembicara 2 Dari enggak tahu bisa jadi tahu dari masa tahu semuanya ya apalagi next step nih pasti udah tinggal ke bukti salah aja tuh nanti satu. Pembicara 1 Satunya. Enggak ada bukti salah enggak mau gue salah ya enggak gue benar kok. Pembicara 2 Itu ada ada poin lain lagi tuh. Pembicara 1 Ada. Pembicara 2 Yang ngebahas itu kita ke butir 3 sekarang. Pembicara 1 Tidak mencari jawaban cepat, melainkan yang tepat. Ya ini nih. Ini nih gue bacain elaborasinya ya. Kami tidak nyaman dengan jawaban yang tampak rapi, tapi tidak jelas dasar kebenarannya. Kami percaya berpikir itu kerja untuk menghasilkan bijaksanaan dan karena itu layak diperjuangkan. Kami menolak berpikir hitam putih di dunia yang jelas bergradasi. Kami menolak kemarahan yang timbul dari kemalasan berpikir. Kami menolak kesimpulan yang datang terlalu cepat. Pembicara 2 Iya. Pembicara 1 Itu yang tadi sebagian dari semuanya bahas ya. Pembicara 2 Kemarahan datang dari kemarahan. Sangat berpikir tuh. Pembicara 1 Banyak banget lu punya example enggak yang bisa dishare. Pembicara 2 Aduh yang bisa dishare enggak ada yang enggak bisa di share sejuta contohnya. Banyak banget sih contohnya sebenarnya. Tapi sulit nih bicarakan kita mikir dulu apa ya? Pembicara 1 Mungkin kalau misalnya yang soal ini ya uh menolak berpikir hitam putih di dunia yang jelas bergradasi itu tadi sebenarnya nyambung dari yang lu share. Jadi misalnya dari pengalaman gua soal kita ambil kebijakan publik soal ruu gitu ya. Kadang tuh orang pengin berpikir hitam putih terhadap sesuatu yang sekompleks misalnya rancangan undang undang yang di mana itu? Pasalnya sih banyak gitu kan ya seringkali kan orang nanya jadi kak kakak nih. Dukung apa tolak gitu. Nah itu kan hitam putih banget kan? Padahal kan sebenarnya sering kali apalagi soal kebijakan publik itu enggak sesimpel itu gitu yang di mana bukan gag jarang banget ada sebuah peraturan yang semuanya 100% jelek atau 100% bagus gitu. Seringkali yang gua temuin tuh misalnya. Secara prinsip kita butuh nih update atau kita butuh kerangka undang undang ini. Tapi ketika kita telah lebih lanjut, oh ada misalnya 5 pasal yang bermasalah. Yang mungkin multitafsir yang di mana harus direvisi. Tapi selain 5 itu pasal pasal yang lain itu bagus dan emang kita butuh. Nah artinya ketika apa uh konklusi masyarakat. Oh artinya tolak dong enggak bisa gitu juga. Oh jadi artinya dukung enggak gitu juga gitu, harusnya posisinya apa kita dukung revisi 5 pasal itu. Nah tapi itu tuh kepanjangan bohong untuk kebanyakan orang kan ketika dijelasin kayak gitu dia kayak ribet banget sih kak, jadi kakak dukung apa nolak gitu, nah itu kan hitam putih. Yang padahal stansenya gua itu tuh rada di tengah tengah gitu yang di mana secara prinsip gue menurut gue undang undang ini dibutuhin. Tapi 5 art pasal ini harus direvisi dan revisinya ABCD spesifik dengan kayak gini. Pasal lainnya gua dukung gitu. Nah itu kan. Nggak sesimpel dukungan atau tolak gitu loh kan. Pembicara 2 Ya gue selalu bilang, memang proses berpikir itu habit ya jadi step by stepnya memang enggak bisa kalau kita dalam keseharian dalam hal hal kecil saja sudah terbiasa dengan kemalasan berpikir. Susah diissue yang besar diharapkan untuk berpikir lebih dalam, pikir lebih dalam dan mempertimbangkan uh kompleksitas tadi misalnya ya enggak hitam putih nggak cuma ini atau ini. Tapi ya ada 100 variabel lagi di tengahnya. Misalnya itu kan memang enggak bisa tiba tiba di isu ini langsung begitu dari hal hal kecil kita sudah punya kebiasaan belum gitu. Pembicara 1 Mungkin enggak harus ngomongin ruu gitu ya mungkin sehari hari tentang sesak, tentang teman deh tentang teman. Kadang kan kita. Lihat perilaku teman kita atau teman kita ngelakuin sesuatu terus kita langsung bikin konklusi kan. Oh artinya dia jahat dia suka sama gue gitu atau oh artinya dia sudah enggak mau temenan sama gue gitu itu kan very one dimentional ya yang padahal sebenarnya. Pembicara 2 Jawaban cepat bukan tepat benar. Atau dari mana itu tepat dan. Pembicara 1 Atau itu yang apa? Kemarahan dari kemalasan berpikir gitu. Misalnya teman kita melakukan sesuatu yang bikin kita marah. Habis itu kita otomatis bilang dia pengin jahatin gua gitu, padahal kan dibalik sebuah aksi interpretasinya tuh bisa macem macem banget dan biasanya manusia itu kompleks ya yang di mana ada uninten dot konsekuence ada yang maksudnya begini, tapi ternyata pernah aku gini dan itu jadi banyak banget sebenarnya. Penjelasannya uh, i think kita harus kasih ruang untuk. About people juga sih sesama dari kita dan. Pembicara 2 Buat anies buat anything. Bukan berarti semua ini juga biasanya jadi ekstrim ya kayak anjur kalau kayak gitu kapan gue bikin decisioner dong candeng kalau semua hal mikirnya lama banget kan? Kadang kadang gitu ya pertanyaan ya enggak enggak semua hal mesin mikirnya lama banget. Wah ini kan sebenarnya spiritnya nih gitu ya spiritnya adalah kita pengin. Punya jawaban tepat itu intinya kita spiritnya adalah gua bisa enggak ya dapat jawaban tepat dengan cara seperti ini. Gitu kalau gue langsung jam tuh conclusion ya kan loncat ke kesimpulan setiap kali gue nerima itu salah ya mbak kira kira salah ujungnya juga ya buat apa tadi malah tambah panjang tuh biasanya masalahnya iya tapi soal uh enggak tahu tapi jalan akhirnya kerjanya 3 kali. Padahal kalau di awal nanya dulu kerjanya satu. Pembicara 1 Kali kayak. Pembicara 2 Gitu gitu. Jadi sebenarnya kadang kadang kita mikir sesuatu tuh lebih simpel kayak gini, tapi ujungnya malah enggak simpel itu gua sering ngasih contoh soal komunikasi dengan orang lain karena gue dulu paling sering nih kayak gini. Gua mikir pakai KEK mata gue pakai POV gue sendiri nih bahwa ngejelasin hal seperti ini ya ini yang paling simpel gitu. Jadi gua ngomong ke orang lain cucet gitu kan saat setelah gitu. Hasilnya miskom sejuta layar. Pembicara 1 Tuh ya miskomers enggak maksud gue begini. Pembicara 2 Begini salahnya ini akhirnya iya tadinya 3 jadi gini. Harusnya kalau gue mau efektif 3 step gitu kan gue laris nyaris simpel satu step satu step gara gara gua salah itu 1000 step akhirnya gue ngebenarin miskom yang ini ada miss kom di sininya lagi ngelebar. Pembicara 1 Belum lagi karena miskom itu sudah ada decision yang di bidang konsekuensi dan konsekuensinya harus sebenarnya lu revisi ininya apa segala ya jadi cepat. Pembicara 2 Itu kadang kadang kita ada ilusi gitu. Kan nah ini kita nyampe nih gini aja caranya satset gitu kan sate gue orangnya sate kan ya sate selalu salah kita enggak andunya 3 kali lipat lebih panjang. Pembicara 1 Total paling contoh paling gampang tuh. Kalau misalnya lu ngerasa sudah mau sakit lu sudah mau sakit. Lu pikir aduh gue enggak bisa nih kalau gue istirahat dulu nanti kerjaan gue a banned semuanya jangan gue berantakan, gue enggak bisa istirahat, akhirnya dipaksain terus kan akhirnya benaran sakit harus bethess masuk rumah sakit. Pembicara 2 2 Minggu gitu. Pembicara 1 Padahal yang kalau misalnya dia pas kemarin. Satu nari satu hari udah bener. Pembicara 2 Besoknya aman. Pembicara 1 Nah itu kan artinya memang ilsinya itu ya. Pembicara 2 Si boy yang cepat itu tepat juga gitu. Padahal padahal enggak selalu enggak selalu dengan kadang kadang benar benar sebaliknya. Bukan cuman dia kurang tepat, tapi sangat tidak tepat dan sangat dioposit of tepat. Iya akhirnya konsekuensinya jadi lebih panjang lagi benar dan akhirnya itu again bukan berarti kayak oh berarti gue kalau mau milih sarapan gue mikir dulu panjang ya enggak gitu ya maksudnya is not like yang akan semua hal itu ini. Its the spirenting. Pembicara 1 Dan kompleksitas ini gitu kalau milih sarapan ya kayak compleksanya. Pembicara 2 Iya itu spirit loh. Kita harus selalu ngeh dalam suatu hal itu bukan cuma ada degree of kecepatan, tapi ada degree of ketepatan gitu. Jadi kita pertimbangin nih ini. Oke ini kelihatannya cepat sih, jawaban ini gitu ya, tapi tepat enggak. Pembicara 1 Benar nih gua pernah bilang ini gua enggak tahu lu setuju apa enggak menurut gue tuh kebanyakan orang akhirnya bisa bikin pemikiran untuk kesimpulan yang ngaco. Itu bukan karena dia bodoh atau kurang informasi, tapi karena dia cepat cepat aja sih. Pembicara 2 Ada iya memang ada. Kadang kadang kayak kecepatan. Pembicara 1 Sih iya sebenarnya. Pembicara 2 Kalau gue sendiri sering malah dulu dulu banyaklah yang kayak pengalaman. Iya gue kecepatan ini. Pembicara 1 Sebenarnya kalau pelan pelan pelan pelan pelan lo down sodown tuh bisa nyampai dengan tepat gitu. Kesimpulan soal kesimpulan. Pembicara 2 Reaksi juga enggak sih? Bi ini kita tuh reaksi. Pembicara 1 World apa gerubah? Pembicara 2 Grup malah tambah panjang iya. Harusnya tenang dulu. Pembicara 1 Nah. Pembicara 2 Mikir dulu gue lebih baik. Pembicara 1 Tuh pernah jadi moderator di kelas gambar gitu ya. Jadi ini ada salah satu instruksi. Gue enggak pernah lupa loh ini. And i think dia tuh ngomong spesifik tentang gambar, tapi menurut gue ini nih aplikasinya bisa ke mana mana including di sini diproses berpikir. Dia bilang gini ada uh salah satu uh audiensnya nanya gitu. Gimana caranya supaya kita gambarnya bisa lebih cepat gitu. Saya kan karena kebutuhan kerjaan gitu dia bilang cara untuk kamu gambar lebih cepat itu untuk gambar lebih perlahan. Karena kadang kadang kita gambar pencepet cepet akhirnya salah kita rindu salah kita rindu ridho ridho akhirnya malah jadi panjang. Tapi ketika kita slow down, kita jadi semakin akurat dalam gambar sekali bisa jadi gitu dan justru uh ketika ditotal time ya itu yang ketika ketika kita slow down justru gambarnya jadi lebih cepat. Dia ngomong itu dan menurut gua wow itu such with them ya yang sangat bisa diaplikasiin kebanyakan including di proses berfikir ini. Gitu. Pembicara 2 Including di dalam proses perdagangan internasional sholat arif. Iya sholat tarif kan gitu kan. Tiba tiba kita udah deal, tiba tiba besoknya diandu tarifnya. Pembicara 1 Kalau itu strategi enggak sih? Oh dari dari sisi Indonesia. Sorry sorry gue dari sini. Pembicara 2 Mau dia mau untung untungnya mau begini mau begitu untung untung saja kitanya kecepatan kan saat. Pembicara 1 Si paling cepat si, paling cepat sih paling dapat beliau. Selamat malam sih tidak ada yang 1 4 seperti apa ya? Pembicara 2 Tapi kan kita bisa lihat bahwa orang orang lain dikenal yang saya. Pembicara 1 Ingin si paling satgas. Subscribe nya di hal yang salah. Pembicara 2 2 kali lipat tarifnya cuma sakitnya itu lain jawaban cepat dan tepat. Jangan cepat doang oke. Selanjutnya terbuka untuk mengeksplorasi ide dengan rasa ingin tahu, bukan sok tahu. Nah kalau ini konteksnya lebih ke. Katika lu punya suatu sikap. Ya terbuka untuk mendengar yang ngelawan tuh kira kira kayak gimana sih pandangannya gitu ya? Jadi jangan cuma dari pandangan yang dari sisi kita aja gitu kan sebenarnya gitu sih simpelnya. Pembicara 1 Simpelnya gitu atau kalau misalnya lu pernah dengar the saying yang menurut gue ini bener banget ketika kita ngobrol sama orang yang mungkin kita enggak 100% setuju gitu ya. Uh kita tuh harusnya mendengarkan untuk memahami bukan mendengarkan untuk siap siap ngebales apa gitu kecuali kalian di debat. Pembicara 2 Iya iya iya itu beda. Pembicara 1 Misalnya memang lagi beragi ya dan memahami itu bukan berarti artinya setuju ya? Jadi mendengarkan untuk memahami, bukan untuk setuju dan bukan juga cuman untuk bikin balasannya apa gitu? Itu menurut gua adalah tension yang seharusnya susah. Apa jarang ya di. Di demonstrate gitu loh. Pembicara 2 Ya itu kultur yang memang uh butuh effort untuk dibangun sih gue sendiri. Maksudnya kita mengalami perjalanan lah ya untuk belajar. Jadi sampai situ pasti di awalnya tuh kayak ada nature untuk resistance gitu. Dan ya bodoh amat pokoknya gue mikirnya kayak gini gitu kan terus kita bertumbuh dengan itu ya dalam beberapa tahun hidup kita gitu kan baru akhirnya kita menemukan titik. Oh iya, harusnya gini ya dengarin orang, tapi sebenarnya gini sih bi menarik juga pas lu bilang tadi. Kita dengerin jangan buat ngedepan aja gitu kan. Tapi dengerin untuk memahami sebenarnya ada ilusi juga sih di situ bahwa kita ngerasa dengan kita bikin argumen kita gitu kan kayak gimana untuk mendebat sesuatu. Kita mikir itu adalah suatu cara yang efektif untuk mendebat, padahal untuk mendebat itu justru yang paling efektif adalah kalau kita memahami. Pembicara 1 Dan bertanya. Pembicara 2 Memahami orang memahami silawannya kan sebenarnya. Pembicara 1 Ya supaya kita bisa balasannya tepat gitu. Pembicara 2 Bahkan untuk menjawab itu titik 1 itu tetap memahami benar benar benar ada ilusi seakan akan enggak perlu. Enggak perlu paham gue masuk. Nah padahal enggak jauh banget lo tuh bisa jadi justru jelek kalau lu enggak. Pembicara 1 Paham gitu kan? Pembicara 2 Justru lu harusnya paham dulu nih dia seperti apa cara mikirnya seperti apa interestnya apa segala segala macam. Pembicara 1 Baru. Kadang kandung gebu gebu nih. Ini kayak yang response kayak hebat yang ngetreat thread tuh tahulah gue yang barusan lagi film enggak sih? Ya itu itu lawan yang ngomong apa dia balas apa. Pembicara 2 Ini perlu diketahui teman teman konteksnya kita syuting tanggal 13 Maret 2020. Pembicara 1 6 iya bisa dilihat lah ya. Siapa yang viral sekarang? Itu terlalu buru buru, ini buru buru terlalu menggebu gebu juga. Pembicara 2 Itu kayaknya sulit untuk membuka mengeksplorasi ide ya. Jangan kan mengeksplorasi ide itu orang ngomong 2 kata langsung dipotong itu. Itu pembohongan sejarah bang bentar dulu bang ini kan baru 2 kata. Pembicara 1 Sampai uratnya kelihatan. Pembicara 2 Kan baru 2 kata omnya bang sawer. Pembicara 1 Coba sabar sabar. Pembicara 2 Ini ini contoh pelanggaran butir 4. Pembicara 1 Nah kita panggilnya kita enggak mau jadi orang bangun komunitas yang isinya orang orang yang seperti itu. Makanya kita masuk. Pembicara 2 Di sini dan ini by the way bukan gue dan ebi ngasih tahu orang lain suruh kayak gini ya ini gue dan mby juga. Pembicara 1 Ini janji ke diri. Pembicara 2 Kita sendiri juga elise yang kita pengin kita expired to be juga bahwa kalau kita ada salah pelanggaran terhadap butir butir ini teman teman bisa fl out. Mau gini sih chan ini kalau langkah kolam butir 6. Gitu. Terus anda komen kita isinya gitu a big girl ini butir 2 ya butir duanya diingat ya. Pembicara 1 Kakak enggak bingung tolong. Pembicara 2 Sekarang kita lanjut butir 5 bi. Pembicara 1 Oke nah ini terbuka untuk dibuktikan salah dan mengubah pandangan. Saya tahu ini memang paling sakit ya memang sakit sakit enggak gampang. Gua pun juga kadang of course struggle gitu enggak? Enggak ada manusia yang agnostic terhadap segala sesuatu sehingga mereka chill. Pembicara 2 Katanya orang enggak ngerti agnostik maksudnya uh. Pembicara 1 Bukan selalu tentang agama bisnis ya. Pembicara 2 Indifant nya apa indifant bahwa indifant. Pembicara 1 Enggak punya pendirian netral ya. Pembicara 2 Tapi yang fraksi apa ya enggak peduli atau bukan? Pembicara 1 Dulu kayak bodoh amat lah. Pembicara 2 Bodoh amat orang enggak ada reaksi kali ya enggak ada reaksi apapun. Pembicara 1 Iya, jadi ketika pandangannya terbukti salah gitu loh itu kalimat di gue udah ribet ya itu ya enggak salah sih, tapi enggak apa apa. Pembicara 2 Ya jelasin dulu. Pembicara 1 Gue yakin kalian paham gue yakin kalian bisa memahami ya saya maksud ya. Pembicara 2 Enggak apa apa evi di sini yakin gitu enggak? Pembicara 1 Ragu tidak akan diklaim jadi aneh aneh. Cuman iya yang maksud gua tuh kayak ini pasti sakit gitu karena banyak dari kita ya pegang sesuatu adalah gitu ada tateman uh jadi ketika dibuktiin salah tuh apalagi tentang hal hal yang kita attach itu pasti sakit itu perlu waktu dan mungkin perlu proses gitu ya sebelum kita akhirnya mungkin ke bukti salahnya hari ini nih baru bisa nerima mungkin tahun depan gitu itu juga bisa gitu ya dan gua pun uh dalam beberapa hal. Ada gitu yang gua alami yang di mana gua akhirnya mengubah total sesuatu yang menurut gua sentral dalam diri gua atau sesuatu yang gua dulu pikir begini itu tuh prosesnya bisa sampai tahunan gua. Pembicara 2 Jujur gua belum pernah. Mengalami bukan enggak pernah mengalami salah overse. Gua pernah mengalami pandangan gua salah terus dikoreksi cuman gua tuh soalnya dulu enggak punya ability untuk bonding dengan ide batu ide jadi gua tuh ide ide tuh memang ini justru itulah yang adil dan gue sangat indifance sekarang lu ada. Pembicara 1 Sekarang kayak ada friends itu TV yang bagus gitu misalnya. Pembicara 2 Iya sekarang lebih ada. Pembicara 1 Oke. Pembicara 2 Bukan mungkin enggak sampai ekstrim banget gimana, tapi sudah lebih ada gitu dibanding dulu. Kalau dulu itu gua kan enggak punya bonding dengan anything anything or anyone. Smary enggak pernah mengalami kayak contoh ya pemikiran gue yang berubah total banget adalah tentang peduli orang lain. Pembicara 1 Gue. Pembicara 2 Dulu mikirnya adalah gue enggak usah peduli orang lain. Jadi nanti orang lain enggak ganggu hidup gua gitu. Padahal efek yang terjadi di kenyataan hidup gua adalah sepanjang hidup gua mengalami gua dibully misalnya. Ya gua ditata gua dibenci diomongin yang aneh aneh. Difitnah terus uh omongan gua di salah pahami apa terus akhirnya jadi ada cyber attack. Pokoknya gua enggak peduli orang efeknya bukan orang enggak enggak peduliin gue juga. Pembicara 1 Jadi kayak gitu kan? Nah. Pembicara 2 Itu kan sebenarnya pandangan gua juga berubah total tuh. Karena terus sebenarnya gua kita sense nya kuat banget soal itu bahwa gua bahkan hampir kayak secara intentional being oblivus gitu. Jadi di satu sisi gua ada natural tendancy untuk tidak terlalu peduli. Iya. Tapi along the way gue memang punya standz gitu bahwa sponsornya masih terlalu peduli sih ya orang gitu emang gue enggak mau peduli sih gua bodoh amat gua aja wanna be meet i wanna think like oh how i think gitu jadi kayak gua cuma mau jadi diri gue mikir sesuai dengan apa yang gua mau dan gua mau hidup sesuai dengan apa yang gua mau dan gua enggak mau peduli orang lain mau ngapain bodoh amat nah kayak gitu tuh barry strong stan sebagai tapi. Ketika itu gue dibuktikan salah gue enggak ada rasa apapun gitu. Maksudnya saya enggak ada bonding dengan ide itu gitu sama kayak tadi soal helm. Walaupun itu case yang ini banget ya abstrak banget, tapi turunannya tuh panjang kayak gue tuh banyak banget berubah soal banyak hal yang ternyata oh negara perlu ngurus sih ya lu tuh gue sangat sangat small state lah. Pembicara 1 Gayanya. Pembicara 2 Sangat sangat negara enggak usah enggak usah gini enggak usah enggak usah ngatur ini enggak usah terlalu terlalu hampir enggak ada enggak ada. Enggak ada apa namanya kehadiran negara gitu. Gua hampir kayak hampir di oposit of negara harus hadir negara tidak perlu hadir ya terlalu terlalu ekstrim ya kan? Pembicara 1 Tapi. Pembicara 2 Kan akhirnya gue banyak tuh berubah di situ, tapi enggak ada lu enggak rasa iya. Nah jadi kayak tes again nih prinsip ini di gue kayaknya dari lahir nih maksudnya di poin 5 ini secara otomatis secara natural gue enggak bisa bonding, bahkan dengan. Emang ya kalau ada bukti yang salah ya sudah gitu kalau. Pembicara 1 Gua mungkin yang bisa gue share. Yang paling sakit tuh yang gua kebukti salah tuh pemikiran dan relationship gua sama idealisme ya yang di mana dulu mungkin pas gua masih kuliah gitu kan gua punya sebuah image terhadap diri gua dan terhadap idealisme gua dan gimana? Menurut gua seseorang harus menghidupi idealismenya gitu dan dan itu tuh kan itu sebuah value yang sangat sangat sentral ya di hidup gua yang menurut gua artinya. Oh gua sebagai seseorang yang ABCD harusnya kalau mau menjalankan idealisme gua gua harus begini nih dan terutama salah satu poinnya itu tuh kayak gua ngerasa kalau misalnya gua tuh kayak sebal banget ketika idealisme gua tuh kebentur sama realita gitu loh kan yang di mana untuk gua ngejar itu? Oh ternyata jalan ke sananya tuh gua butuh uang jalan ke sana nya. Pembicara 2 Tadinya lu mikir lu enggak lu enggak salah gitu. Pembicara 1 Ternyata butuh gitu ngerti enggak sih? Dan menurut gue tuh kayak. Gua kalau misalnya jalan ke sana yang harus rada kompromi atau misalnya harus ada ambil uh hal hal yang lebih pragmatis lah itu tuh kayak gua ngehianatin diri gitu. Rasa eh yang dimana harusnya harusnya tuh enggak gini gitu harusnya tuh kan kenyataan tuh enggak gini gitu. Harusnya tuh gua sebagai seseorang yang kayak begini tuh gua harusnya begini begini begini apalagi kayak kalau misalnya gua. Apalagi kalau misalnya gini kalau misalnya gua ngerjain sesuatu yang gua passionate about gua dulu punya keyakinan bahwa ketika itu gua duitin itu gua ngekorupsi atau ngotorin hal itulah gitu. Nah itu tuh sangat sentral. Gua enggak tahu itu datang dari mana uh tapi. Pembicara 2 Punya believe itulah waktu itu. Pembicara 1 Dan jadi ketika akhirnya kan kebentur reality gua enggak bisa lah gerak tanpa uang gitu. Pembicara 2 Kan semua butuh oke. Pembicara 1 Butuh logis itu gua bayar orang kayak gimana gitu dan itu tuh gua tuh ke yang ngerasa. Ngerasa kayak aduh gua ngkhianatinati gitu nah. Tapi habis itu sebuah proses lah yang gue bilang tadi bertahun tahun ada gua waktu itu salah satu hal yang paling bikin gua sadar juga. Dan kalau enggak salah di salah satu booknya, kita gua ngomongin dikit deh yang soal relationship gua sama uang tuh uh yang di booklet yang berapa followers 1 kita tuh yang gua bilang uh ada yang ngomong ke gua di mana uh kalau misalnya gua enggak bis, kalau kita enggak bisa taker of ourself and orang orangnya sekitar kita uh. Bold banget kita ngerasa bisa ngubah dunia gitu. Nah itu tantangan dia booklet ebook. Pembicara 2 Seperti itu kita kasih ke sekian orang 1. Pembicara 1 Yang win akun kita. Pembicara 2 Malah ID nah jadi member di situ. Pembicara 1 Nah di situ tuh kayak jadi banyaklah cerita cerita point of contact dan kebentur realita yang akhirnya gue sadar. Oh ternyata yang selama ini gue cap idealisme. Itu childishness gue saja sebenarnya dan keogahan gue untuk berubah dan rima realita gitu dan dan ya gua harus pisahin Antara yang what is my real idealisme dibanding kayak it sesuatu yang gua pakai sebagai tameng supaya gue enggak mau nerima realita aja sebenarnya gitu wah itu prosesnya sakit banget itu benar benar ngerasa kayak gua world view nya keputter balik ya bisa dibilang. Itu luar biasa sih itu uh its a experience lah. Jadi menurut gua. Ini sakit. Pembicara 2 Gua lumayan multi tensi diskursus uh beberapa tokoh perempuan gitu di Amerika yang mereka bilangnya apa ya kayak. Um mungkin. Eks feminis gitu in way. Tapi ya sebenarnya mereka masih feminis sih menurut gue, tapi kayak different strain lah of femins femin berbeda dengan yang tadinya. Nah mereka ini mengalami perjalanan seperti yang kayak lu alamin. Tapi gua rasa jauh lebih sakit kali. Karena kan kalau ideologi yang kayak gini kan memang tadinya benar benar full bloon seluruh hidupnya tuh kan. Pembicara 1 Gue juga rada. Pembicara 2 Seluruh hidupnya enggak sih? Emang gua. Pembicara 1 Mendefinisikan diri gue. Seorang yang idealis gitu dulu kan benar. Pembicara 2 Benar benar benar mereka juga kayak. Pembicara 1 Gitu dan gua tuh sampai kayak oh gua ingat banget kayak sampai pas SMA. Uh guru sma gua tuh pernah ngomong guru Inggris gue bahasa Inggris gua gua. Pembicara 2 Enggak pernah aku cari dulu ya nama orang yang gua gua lupa ya. Pembicara 1 Lanjut lagi uh kita lagi baca gua ingat banget baca. Oh my god, gua lupa lagi judul buku ya cuman ini tentang seorang tendaki gunung gitu lah nadia itu um ngedaki gunung dia pengin sampai uh puncaknya kan? Nah dia tuh sudah map out gitu. Uh untuk saya nyampe puncak, saya harus ambil jalan ini gitu. Tapi selama dia manjat tiba tiba ternyata jalanannya itu tuh enggak ideal atau ada keblok apa, atau misalnya enggak ada pijakannya, jadi dia harus turun dulu, dia ambil jalur lain gitu loh. Terus eh ternyata ini gagal lagi. Dia turun lagi, dia nyari jalan lain. Nah di situ tuh guru gua bilang dalam hidup kalian mungkin bisa pegang keras sama mimpi atau idealisme kamu, tapi sama kayak si bocah ini kadang kal. Harus turun lagi cari jalan lain untuk nyampe ke puncak gunung yang kalian pengen capai dan kalian harus kompromi gitu. Dia bilang nah di situ otak smp sma gua tuh enggak bisa terima kan? Padahal menurut gua itu adalah metafora yang sangat sangat tepat gitu ya yang ketika memang tujuan kita puncak gunung ya kalau misalnya jalan kita yang kita pilih ternyata emang enggak memungkinkan kita untuk nyampe ya kita harus scale down cari jalan lain mutar lagi dulu dan cari jalan yang tepat gitu. Nah tapi dulu tuh gue enggak terima. Gue pikir masa sih idealisme harus dikompromi gitu kan? Pembicara 2 Lu punya stans itu sudah lah four years dan itu oh berarti lu juga konteksnya mirip kayak mereka nih si nih. Luis perry mui. Pembicara 1 Watch. Pembicara 2 Feri harington ya coba boleh di cek wrist perry sama merry harrington gue. Lumayan menarik gitu loh ketika mereka muncul. Karena kan Amerika tuh beberapa tahun sangat sangat didominasi oleh salah satu jenis pemikirannya. Begini gitu. Dan mereka nih tadinya di situ juga sama gitu dengan yang lain. Tapi mereka akhirnya comm out bahwa gue enggak begitu lagi mikirnya. Dan kenapa gue enggak mikir gitu lagi dan mereka cerita perjalanannya dan itu mereka cerita seberapa sakitnya ketika oh ternyata gue salah ya kapannya. Pembicara 1 Perjalanan ngelihat bahwa oh ternyata gue tuh sesalah itu gitu dan apalagi gua udah bikin keputusan keputusan berdasarkan ideologi itu gitu kan dan. Gua waktu itu pernah baca. Dia bilang tuh emang setiap pengetahuan baru itu adalah kematian pengetahuan lama dan gua itu rasanya rasanya kayak mati kayak birth gitu, apalagi sesuatu yang sentral ya yang kayak gua bilang tadi. Pembicara 2 Relatable sih pasti buat banyak orang menurut. Pembicara 1 Gue ya, makanya menurut gue emang terbuka udah dibuktikan salah dan ngubah pandangan tuh susah gitu emang gue enggak bilang gue sudah bisa juga dan and that soalnya ini ditaruh sebagai aspirasi gitu kan? Karena emang menurut gua, kualitas inilah yang memungkinkan kita terus bertumbuh. Dan karena setelah gua membetulkan itu, di situlah baru di mana idealisme gua benar benar bisa terpancar gitu loh kan sebelumnya yang kayak gua bilang idealisme gua tercampur aduk sama childbisness revusle untuk menerima kenya. Keadaan sekarang dengan gua singkirin yang tadi tadi itu akhirnya gua bisa lihat idealisme gua tuh gimana supaya lebih fungsional dan bisa terealisasikan gitu kan? Dan maksudnya kalau misalnya emang apa ya? Orientasi kita adalah kita pengen mengetahui sesuatu yang benar. Seharusnya ketika kita dibuktikan salah itu sesuatu yang. Pembicara 2 Dirinya. Pembicara 1 Senang iya karena ternyata reason to selebrate justru ternyata kita sudah makin akurat gitu. Ternyata ada yang tadinya kita enggak ketahuan nih ada kesalahan terdiagnosa dan dibenarin gitu kan? Tapi gua tahu itu sangat enggak natural dan gua ngerasain banget sih sakit ya itu. Pembicara 2 Ada satu perubahan pandangan gua juga yang lumayan ini. Tapi balik lagi ya, gua enggak mengalami proses emosionalnya. Tapi prosesnya tuh juga lumayan berbalik. Nah tapi gue mau bilang saja ini enggak bisa gue ceritain. Benar nanti kalau lu ada acara yang off air kita ada milih ungrade atau? Pembicara 1 Apa sih off air bisa lebih bebas kali ya? Pembicara 2 Kayak i will tell you ya kita masuk ke butir 6 siap menyimak, mendengarkan dan mencari tahu sebelum menyimpulkan ini relevan banget di era clear ekonomi. Pembicara 1 Clipper ekonomi cliper ekonomi banget. Pembicara 2 Itu benar benar repot jadi orang nyimaknya 10 detik. Commentnya 30 nih. Jadi nyimak dengar dan nyari tahu tuh sudah sangat langka menurut gue sekarang nih jangankan apa namanya mau sampai merespons dengan begini begini begini dengan penuh konsideration ya saya nyimaknya dulu deh gitu. Karena sekarang kan orang tuh ngomong 1 jam dipotong 12 detik dan itu udah langsung direspon gitu dan berbagai macam. Pembicara 1 Seolah olah 12 detik itu merepresentasikan seluruh pemikirannya. Dia yang sangat kompleks tentang isu yang sangat kompleks yang dimana uh ahli sudah berdebat selama ratusan tahun juga gitu. Ya benar. Pembicara 2 Oh yang tadi lagi lagi perdebatan yang ramai. Hari ini orang baru ngomong 5 tempat kata 5 ini kok mau nih santet lu tahu saya mau ngomong aku khusus sayur halo. Aku ngomong dulu dong. Seringku ya karena gue lo sudah ngalamin belum di mana lu ngomong di forum atau apa ngomongnya sebenarnya aslinya panjang terus sedikit. Pembicara 1 Tapi enggak sesering dulu ya. Pembicara 2 Dia tahu jadi gue gini. Gue selalu nganggap itu. Kalau sekarang itu occupational haser aja cuman tentu saja menurut gue itu enggak ideal gitu bukan apa apa, tapi gue ngerasa kenapa ya kita jadi kita jadi menganggap musuh orang orang yang sebenarnya harusnya bukan musuh kita, karena sebenarnya kita aming for the same thing gitu. Terus habis itu kita membuat konflik yang sebenarnya harusnya enggak ada gitu, karena sebenarnya kita enggak berbeda pandangan gitu gara gara potongan itu gitu. Jadi kan sebenarnya sudut semua ini gitu. Pembicara 1 Yang didebatkan gitu kan? Pembicara 2 Gue dengerin ini. Pembicara 1 Lah ya justru anda 100%. Pembicara 2 Setuju dengan semua yang diomongin dan gue gue pikir lagi apa yang gue omongin ada enggak berseberangan itu enggak ada gua jadi omongin. Pembicara 1 Cuma selalu dipercaya sih gue lihat di perdebatan. Pembicara 2 Nah kalau dipotong 10 detik memang jadi iya jadi seakan akan kita. Pembicara 1 Bener ya karena. Pembicara 2 Dari omongan 1 jam ya lu simak 10 detik, nah itu kan susah. Belum lagi kalau di klip itu kalimatnya sebenarnya enggak tersambung gitu potongan di depan, di tengah di belakang gabungin di 15 detik 30 detik dari omongan 40 menit misalnya. Pembicara 1 Iya dan menurut gue ini ini kombo ya ini kombo dari yang semua yang kita sudah omongin 1 sikap kita pengen kelihatan pintar terus lu ngerasa harus bikin kesimpulan cepat cepat. Akhirnya ya semua itu proses mencari tahu mendengarkan itu tuh di skip gitu karena emang udah pengin nyampe ke proses yang dimana kita berargumentasi atau bikin opini supaya dibilang sama orang wih pintar gitu kan insentifnya kan itu. Pembicara 2 Iya, tapi mungkin iya benar juga ya insentif dari sisi medianya kan juga memang mendapatkan engagement yang bagus punya tadi gue bilang kan clip perekonomian, nah itu di mana ini repotnya gimana ya? Kita sebagai market mau enggak mau, memang juga harus punya perubahan perilaku gitu kan dan. Pembicara 1 Maksudnya gini kayak ngomongnya algoritma sosial media ya algoritma sosial media itu sangat mereward. Take hot take. Yah yang sangat hitam putih yang sangat ekstrem dibanding yang nuance yang yang lebih kayak ini begini. Tapi begini yang kompleks gitu loh ini. Padahal hampir semua isu penting itu sebenarnya kompleks yang perlu ditreat dengan treatment holistik seperti itu gitu. Pembicara 2 Memang salah satu kekhawatiran gue dengan dunia modern gitu. Pembicara 1 Ya ini first gue frustated banget sih on the saya menurut gue ini sangat woring. Pembicara 2 Gitu gue juga. Makanya ini kan salah satu memang keresahan kami berdua gitu dan mungkin buat teman teman lain juga ya. Bahwa di dunia modern ini semua tuh menjadi instan kan? Dan salah satunya adalah bahkan sampai ke feeling itu harus instan gitu. Jadinya orang ketika membuat sebuah konten sebuah informasi, dia didesain untuk mentrigger feeling secara instan. Nah untuk mendapatkan feeling itu cepat dalam waktu 5 detik harus sudah ada feelingnya nih. Nah akhirnya informasinya kan depres kan. Akhirnya jadinya di di di apa namanya dipadetin sampai disering banget gitu kan sampai ibarat kalau lu pakai bareng lu plastiknya di divakung gitu karena sampai rapat banget ini hilang banyak sebenarnya gitu informasinya dan di situlah kita mau menyimak pun jadinya udah ke latih habitnya enggak menyimak gitu kebangun kulturnya tidak perlu menyimak gitu karena insentif sistemnya adalah. Semakin lu tidak menyimak, semakin besar insentifnya karena gamenya seperti itu. Pembicara 1 Gitu. Pembicara 2 Jadi uh emosi yang instan itu yang paling uh terinsentifkan. Pembicara 1 Iya dan ketidaksabaran itu dan attention spending semakin berkurang. Itu juga bikin kita semakin lama ya semakin enggak bisa nangkap ide ide kompleks enggak bisa merasakan perasaan perasaan feeling feeling yang dalam. Dan itu kan sangat sangat apa ya? Sangat sangat teribble gitu loh untuk peradaban kita ya. Karena mau enggak mau isu isu kita semakin kompleks uh habis itu juga hubungan antar manusia pun sangat kompleks itu. Dan ketika manusianya sudah enggak bisa menampung itu enggak punya kapasitasnya lagi ya hancur lagi saling salah paham, saling kita semua merasa tidak dimengerti isu isu yang sebenarnya. Uh apa ya perlu perlu solusi sama approach yang sangat sangat dari banyak arah gitu ya akhirnya direduksi. Jadi cuma ya ini mah isu ini aja gitu kenapa enggak dikeluarin? Nah itu kan jadi salah paham yang berlipat lipat yang akhirnya juga akar masalah yang enggak teridentifikasi dengan tepat solusinya boro boro gitu kan? Pembicara 2 Social trust juga turun. Pembicara 1 Social trust turun. Pembicara 2 Bahkan kepercayaan sosial kita satu sama lain tuh menjadi salah satu fondasi setiap masyarakat bisa bergerak pak ya um, kalau gue tuh selalu bilang gini teman teman, kalau memang kita adalah orang yang mau menyimak ya misalnya kita punya prinsipnya, oh, gua orangnya adalah orang yang mau menyimak. Kalau begitu, ketika teman teman ngelihat konten 10 detik bro ini tentang suatu dipotong dari opini panjang skip gitu loh, jangan kasih like jangan comment, jangan berinteraksi. Cuma kita harusnya kesimpulan kita adalah oh gue enggak tahu nih orang. Pembicara 1 Ngomong apa itu? Cuma picture nih. Tapi kan. Pembicara 2 Tahun 10 detik dari teman dia gue bisa nyimpulin apa enggak bisa. Pembicara 1 Gue enggak bisa dulu gua. Pembicara 2 Enggak tahu dan kalau misalnya gue enggak sepedul itu ya sudah gue enggak perlu gue skip aja kalau gue 10 itu gue cari dulu kontennya seperti apa, kalau enggak ada ya sudah gue skip gitu enggak ada, enggak ada yang bisa gue komentarin dari suatu omongan orang yang dipotong sedemikian rupa tinggal 10 detik kayak gitu loh, itu kan itu adalah. Common disencensi ya menurut gua, harusnya harusnya itu menjadi adab dasar kita sebagai masyarakat beradab. Kalau memang kita mau jadi masyarakat beradab ya kalau kita dengar ada omongan orang tinggal di screen jadi 10 detik kita enggak comment. Pembicara 1 Dan menurut gue aku baru ini nih sikap yang segala sesuatu pengen instan cepat cepat nyimpulin itu tuh bertolak belakang sama salah satu value yang paling penting dalam kalau misalnya kita pengin jadi lebih berpengetahuan ya itu rasa ingin tahu ya sama curiosity dan soalnya biasanya rasa ingin tahu curiosity. Penasaran itu adalah perasaan perasaan yang kalau kita ikutin akan. Ngedorong kita untuk ngulik sesuatu secara mendalam kan dan ketika kita ngulik, kita pelajari sesuatu secara mendalam. Kita baca sampai berjam jam benar benar kita pelajari. Disitulah baru knowledge equestion dan pemahaman itu terjadi gitu. Nah, tapi kan kalau misalnya pengin bikin opi kayak kita tuh pelajaran sesuatu bukan untuk benar benar me apa ya understand. Tapi untuk supaya bikin opini gitu. Itu kan ngeskip the whole process ya yang akhirnya kita enggak benar benar paham. Dan ini nih lagi lagi. Jadi apa ya yang bikin orang kepleset gitu dari benar benar. Knowledge aquesition ya karena. Pembicara 2 Gamenya begitu kan? Pembicara 1 Iya, makanya gue sebenarnya. Pembicara 2 Sistemnya makanya? Pembicara 1 Relationship banget sebenarnya sama sosial media ya. Kayak sosial media has been amazing yang di mana gue akhirnya bisa temanan makannya itu karena sosial media. Dan kita juga bangun media media kita itu karena sosial media yang. Pembicara 2 Kita bisa share kayak gini gede nilainya nilai. Pembicara 1 Tapi enggak bisa dipungkiri juga. Semakin ke sini algoritma insentif yang dibikin sama si platform platform ini itu juga bikin banyak unintended konsekuens yang gua sangat sangat tidak nyaman gitu loh dengan itu. Pembicara 2 Dan kami sih berharapnya dengan ada diskusi ini kita bisa bareng bareng sepakat untuk yuk kita sebagai marketnya tuh punya jangan gini yuk gitu. Jangan terus terusan mendorong insentif sistem seperti ini gitu kan? Karena its the angelus untuk masyarakat dan udah terbukti sebenarnya di masyarakat yang sudah lebih duluan kemajuan internet dan lain sebagainya. Misalnya saja Amerika gitu kan kita kan bisa lihat ya efeknya bagaimana ke percakapan percakapan. Benar benar mereka percakapan kebijakan mereka bahkan di dalam Pemilu mereka itu sebenarnya contoh nyata atau di mana karena dia masyarakat dia kan lebih dulu mengadopsi internet dan sosial media dan lain sebagainya lebih cepat ya ketika itu sudah sangat sangat advance dan orang sudah sangat terpapar dengan itu hasilnya jadi seperti itu ketika tidak ada rem untuk dari marketnya tuh kayak gua enggak mau nih di setir setir kayak gini. Sama para aktor aktor ekonomi ini kan gitu attention ekonomi gitu. Pembicara 1 Yes yes absolutely dan. Pembicara 2 Bukan berarti atas yang ekonomi enggak berada boleh ada, tapi kita syaratkan sebagai marketnya tuh attention kayak uh barang kayak apa sih yang mau kita kasih attention gitu. Pembicara 1 Kan iya maksudnya gini kayak gua lagi lagi gua enggak anti sosial media. Of course i love social media and i am very thankful for social media. Tapi yang maksudnya gue tuh dengan progress dan update dan kenyataan algoritma sekarang yang harus kita lakuin tuh gimana kita bisa mengatur strategi ya supaya kita tuh enggak terbawa arus banget sama apa yang dia insentifkan gitu. Saya enggak semua yang dia insentifkan tuh oke, bagaimana kita tetap bisa win the social media game, tapi on our own thirf gitu kan sebenarnya essentially. Gitu ya curhatan ya? Gua ini gua gua lagi kayak latery gua banget soal gini banget gitu dan ya ini ini sebenarnya kalau bisa dilanjutin bisa panjang mungkin kita bisa bikin satu episode soal ini cuman rentetannya juga menurut gue ini. So bikin orang jadi sinis jadi enggak ada harapan jadi dum dum scroll scrolling itu kan surat gitu, because ya sosial media juga enggak cuma ngereward sesuatu yang instant tapi sesuatu yang negatif dan ekstrim gitu itu kan sangat bahaya ya. Pembicara 2 Dan kita tuh sebenarnya kan orang mungkin mikirnya ini gara gara kita ngomongin mikir ngomongin framework mungkin framework decision mikir mungkin orang mikirnya kita tuh enggak enggak ada concern tentang kayak gini nih nilai nilai adap padahal that is like one of our core concerns bahkan gitu kan justru gue sama abi tuh yang benar benar sampai to the point ya frusted itu kepikiran banget bahwa ini gimana ya? Kehidupan modern tuh kacau banget nih apa namanya nilai nilai bersamanya tuh enggak. Enggak sehat gitu ya? Pembicara 1 You know whats kayak yang massing us up to soalnya kayak lu tahu kan kalau misalnya di fiksi itu kan ada 2 handra ya distopia sama yutopia selalu distopia tuh dunia yang hancur yang semuanya terble you tuh yang justru baik gitu kan. 2 duanya itu adalah rekayasa masa masa depan yang satu buruk satu baik kita hidup di masa yang menurut gua its distopia and utopia at the same time gitu teknologi bikin kehidupan kita yopis banget yang dimana kita aman banget nya semuanya. Tapi at the same time itu distopies sebenarnya yang ada unsur unsur ini. Jadi makanya kayak bingung gitu kita kayak kita stress soal ini, tapi at the same time juga kita menikmati ini gitu. Pembicara 2 Dalam konteks ini, misalnya teknologi, social media. Pembicara 1 Tadi ya pada saat yang. Pembicara 2 Sama itu membuat kita lebih mudah terkoneksi dan satu sama lain. Pembicara 1 Misalnya, kita jadi teman kan karena sosial media. Pembicara 2 Akhirnya kita lebih mudah menyebarkan ide ide yang baik. Tapi apa berasal yang sama kalau ada ide buruk juga. Jadi sudah menyebut juga gitu. Pembicara 1 Dan sosial media bikin orang orang ya tadi itu jadi lebih sinis jadi lebih gampang ke trigger jadi attention spendnya lebih pendek dan sebagainya gitu kayak its utopian this topian the same time gitu. Pembicara 2 Mengerikan nah sebenarnya. Pembicara 1 Makanya kita mudah. Pembicara 2 Mudahan ya dengan diskusi hari ini uh teman teman bisa lebih banyak lagi nih warrior untuk yuk kita bangun. Pembicara 1 Untuk i think the first steps untuk foto yang enggak sehat ini itu adalah kita menyadari sih. Pembicara 2 This is wrong. This is bad. Kita harus mengoreksi. Pembicara 1 Ini gitu atau ada ini dan yang what are you gonna do about that gitu kan? Iya oke terakhir terakhir. Siap mempatahkan Agung cawapkan setiap kesimpulan sikap dan penilaian. Menurut gua ini, sikap yang rada gangster dan untuk gue. Mungkin gue belum seberani ini se dibandingkannya gitu ya. Jadi gue tuh kadang gue punya kesimpulan sikap dan penilaian yang gue tuh belum belum nyaman share ke publik lah bisa dibilang makanya jadinya gua enggak gua enggak share gitu ya? Menurut gua on this topik on this aspek kan ya jauh lebih berani dari gua. Jadi gue belajar banyak dari kami ya ya. Pembicara 2 Sebenarnya pertanggungjawaban enggak selalu sometimes ya sometimes di public sometimes benar benar enggak harus dipublic juga tapi. Iya gue lebih apa ya? Mungkin anyway. Ya ada hal hal yang menurut gue juga urgent saja sih untuk gue sampaikan juga gitu. Cuman kan mempertanggung jawabkan di sini. Dalam artian ketika teman teman membuat sebuah kesimpulan ya punya dasar yang jelas saja sih untuk menarik kesimpulan itu kan sebenarnya intinya itu jangan apa ya? Bikin sikap dan pandangan enggak punya landasan yang jelas gitu terus ibaratnya throw the fire gitu. Kumpulan orang. Kabur iya enggak ada. Enggak ya enggak ada ini lah. Pembicara 1 Bertanggung jawaban balik ya ini. Pembicara 2 Sikapnya gimana sih gitu kan setelah ngelakuin kayak gini gitu. Jadi uh di era sebegitu bebasnya kita berpendapat ya, walaupun tentu ada beberapa isu restriksi berpendapat cuman kan pada umumnya ya cukup banyak kebebasan lah yang kita punya dan bukan cuman kebebasan, tapi juga platform yang mengamplifikasi itu gitu kan mengamplifikasi pendapat kita dengan begitu cepatnya. Ya harapannya butir 7 ini kan adalah kita punya masyarakat yang lebih punya kehati hatian gitu. Coushion ketika membuat pandangan emang udah punya dasar yang cukup. Pembicara 1 Ketika uh kita tuh berani untuk mempertanggung jawaban, artinya kan udah kita pikirin. Benar benar udah kita pelajarin benar benar gitu ya. Baru rasa berani mempertanggungjawabkan itu tumbuh gitu secara natural. Pembicara 2 Dan pada dasarnya sih menurut gue gini ini enggak harus sampai isu besar juga sih benar benar dari hal hal kecil aja sih dalam hidup kita sehari hari di mana kita punya suatu kesimpulan, suatu pandangan, suatu believe, suatu hal yang menurut kita harusnya dunia kayak gini. Harusnya gue kayak gini, harusnya orang kayak gini dan seterusnya ya setiap hal kecil itu dibiasain aja untuk gue harus bertanggung jawab atas ini gitu bener enggak ya kalau gue. Mendorong orang ngelakuin ini ini konsekuensinya ke mana ya gitu biasain kayak gitu enggak sesimpel kayak terus nanti kalau sudah salah kayak ya sudah gue kan cuma ngomong saja gue kan cuman gua kan cuma ngomong saja, iya enggak gitu dong spiritnya jangan kayak gitu jangan iya lah kan di siapa suruh dia ngikutin pendapat gue kayak gitu loh yang kayak ya iya. Benar sih maksudnya memang memang orang punya hak untuk ngikutin atau enggak benar mereka punya pilihan. Harusnya jangan ngikutin iya, tapi di sisi lain menurut gue i think its better menurut kami kalau kita semua juga punya spirit di mana ketika mau nyampaiin suatu pendapat ketika mau dorong orang ngelakuin sesuatu, mau campaign sesuatu kita juga memang dari awal sudah punya rasa tanggung jawab. Benar tuh bahwa ini nanti bisa nih konsekuensinya ke orang jadi berprilaku seperti ini dan kalau salah ya jangan cuma ngomong ya sudah kan itu gue cuma ngomong aja ke yang enggak tapi kayak oh ya. Sorry kemarin gue ngomong kayak gini ini salah, harusnya enggak kayak gini ya lu tetap ada ada spirit untuk gue pengen fixed the mistake lah kayak gitu ya langsung kayak tadi spiritnya adalah mindsetnya adalah ya bodo amat gue ngomong kan hak gue jadi terserah orang kayak gitu ya maksud gue betul hak sipilnya memang iya lu ngomong ya hak lu gitu kan lu mau ngasih pendapat apa hak lu tapi spirit dari kredo ini adalah. Kita pengin yang outcomes nya baik buat masyarakat kita punya mindset yang kayak gimana nih. Nah menurut kami tuh ya harusnya mindsetnya ya enggak gitu juga. Bukan berarti hanya karena lo berhak berbicara berarti lu bisa tidak bertanggung jawab berbicara gitu enggak sih? Bahwa menurut gue di luar dari hukum masih bisa ada nilai nilai yang mensupport hukum gitu bahwa hukum yang ada memberikan kita hak berpendapat. Iya, di sisi lain menurut gue kita bisa punya nilai nilai juga dimana kita bertanggung jawab atas pendapat kita gitu enggak sih? Ya bukan berarti itu harus dibatasin iya, tapi itu enggak dibatasin itu bebas lu terserah mau sama apa iya, tapi di sisi lain lu bisa punya nilai dalam diri lo di mana etiksnya adalah. Gue mau bertanggung jawab nih atas pendapat yang gue sampaiin atas sesuatu yang gua kampanyein sebenarnya kayak. Pembicara 1 Gitu i just think kalau misalnya semakin banyak orang yang mengambil nilai ini uh society kita sebagai keseluruhan akan menjadi lebih baik aja sih dan lebih produktif. Uh nah ini untuk penutup gue mau bacain kalimat penutupnya menurut gua bagus banget. Jika setelah membaca kamu jadi sedikit lebih lambat berkomentar, lebih banyak mendengar dan mencari tahu serta lebih hati hati menyimpulkan dan menentukan sikap itu sudah cukup malah kabuks bukan tempat untuk merasa paling benar, malahabuks adalah tempat untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik yang mengisi kehidupan dengan ketekunan berpikir dan kedalaman memaknai jika kamu mencari kepastian mutlak, ini bukan rumahmu. Tapi jika kamu percaya bahwa membangun sikap dan keputusan yang tepat adalah proses seumur hidup, selamat datang. So. Pembicara 2 That is abit. Pembicara 1 Hari ini let us know what you threing point. Apa yang paling rezeki sama kalian. Silahkan diskusi di kolom komentar uh dan thank you udah ngedengerin. Pembicara 2 Kalau ada tambahan enggak tahu ini tiba tiba jadi 8 butir. Sebenarnya 210 butir nonton bisa kasih input di kolom komen juga sampai ketemu dia setelah ini.

Podcast Summary

Key Points:

  1. Pentingnya melambat dalam menggambar untuk meningkatkan akurasi, bukan kecepatan.
  2. Diskusi tentang kerangka berpikir, logika, dan nilai-nilai (value) dalam konteks komunitas Malaka Books.
  3. Sembilan janji atau prinsip komunitas yang menekankan keraguan, keterbukaan, dan tanggung jawab intelektual.
  4. Penjelasan bahwa keraguan bukan kelemahan, melainkan tanda keinginan belajar dan keamanan dalam pengetahuan.
  5. Perbandingan antara kepastian yang semu dan pendekatan ilmiah yang terbuka terhadap revisi.

Summary:

Pembicaraan diawali dengan tips menggambar: melambat justru meningkatkan akurasi dan menghindari kesalahan berulang. Diskusi kemudian beralih ke tema utama, yaitu nilai-nilai (value) yang ingin dibangun dalam komunitas Malaka Books, melampaui sekadar kerangka berpikir logis dan ilmiah. Dijelaskan bahwa meski telah fokus pada literasi dan pemikiran kritis selama bertahun-tahun, ada ranah nilai seperti prinsip, norma, dan adab yang perlu dieksplorasi. Komunitas ini dirancang sebagai gerakan budaya, bukan sekadar perusahaan, dengan tujuan menciptakan ruang bagi orang-orang yang sejalan.

Tujuh janji komunitas diperkenalkan, menekankan sikap tidak takut ragu, mengakui ketidaktahuan, mencari ketepatan bukan kecepatan, terbuka pada ide baru, bersedia dikoreksi, mendengarkan sebelum menyimpulkan, dan mempertanggungjawabkan keputusan. Pembicara menjelaskan bahwa keraguan sering kali ditakutkan karena dianggap menandakan kebodohan atau ketidakpintaran, padahal justru menunjukkan kedewasaan intelektual dan kesiapan belajar. Contoh dari pengalaman kuliah dan sains diangkat untuk menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik selalu terbuka untuk diperbaiki, dan kepastian mutlak justru dapat menyesatkan. Intinya, komunitas ingin mendorong lingkungan di mana keraguan dihargai sebagai bagian dari pertumbuhan dan integritas berpikir.

FAQs

Untuk menggambar lebih cepat, sebaiknya Anda menggambar lebih pelan karena dengan melambat, akurasi gambar akan meningkat sehingga mengurangi kesalahan yang justru memakan waktu lebih lama.

Malaka Books membahas topik literasi, pemikiran, ide-ide masyarakat, budaya pop, serta kerangka berpikir seperti pengambilan keputusan dan pengolahan informasi.

Belum cukup, karena masih ada domain nilai atau value yang perlu dipertimbangkan, seperti prinsip, norma, dan empati, yang melengkapi aspek kognitif.

1. Saya tidak takut ragu. 2. Saya tidak takut mengaku tidak atau belum tahu. 3. Saya tidak mencari jawaban cepat, melainkan tepat. 4. Saya terbuka untuk mengeksplorasi ide dengan rasa ingin tahu, bukan sok tahu. 5. Saya terbuka untuk dibuktikan salah dan mengubah pandangan. 6. Saya siap menyimak, mendengarkan, dan mencari tahu sebelum menyimpulkan. 7. Saya siap mempertanggungjawabkan setiap kesimpulan, sikap, dan penilaian.

Tidak takut ragu memungkinkan kita belajar dan bertumbuh, karena keraguan adalah tanda keingintahuan dan keterbukaan terhadap pengetahuan baru, bukan kelemahan.

Buklet dapat diperoleh dengan membeli merchandise di official store Malaka Books atau melalui paket yang tersedia, terutama bagi yang tidak menghadiri grand launching.

Chat with AI

Loading...

Pro features

Go deeper with this episode

Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.