Transkripsi ini mengeksplorasi dinamika politik Indonesia pada pertengahan 1960-an, yang ditandai dengan sistem Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Sukarno. Kekuasaan terpusat pada tiga pihak: Sukarno sebagai penyeimbang, Angkatan Darat yang semakin kuat secara politik dan ekonomi, serta PKI yang memiliki basis massa besar namun terjebak dalam jalur parlementer yang dibubarkan. Ketegangan antara militer dan PKI terus memanas. Pada 1 Oktober 1965, meletus Gerakan 30 September (G30S), sebuah peristiwa singkat yang penuh kontradiksi. Pasukan kecil menduduki Lapangan Merdeka dan menyiarkan pesan tentang penggagalan "Dewan Jenderal" serta perlindungan terhadap Sukarno, namun kenyataannya tujuh perwira tinggi dibunuh dan operasi berantakan dengan cepat. Peristiwa ini menjadi misteri dengan banyak teori. Versi resmi Orde Baru menuduh PKI sebagai dalang tunggal. Teori Cornell Paper menyebutnya sebagai konflik internal Angkatan Darat. Harold Crouch berargumen bahwa inisiatif datang dari perwira militer progresif dengan dukungan PKI. Sementara teori konspirasi mengusung gagasan bahwa G30S sengaja dirancang gagal sebagai dalih untuk menghancurkan PKI. Transkripsi menyimpulkan bahwa G30S merupakan titik balik dramatis yang mengakhiri keseimbangan kekuasaan Sukarno dan membuka jalan bagi naiknya rezim militeristik Orde Baru, dengan banyak pertanyaan yang masih belum terjawab.
Box to box Media Network. Bayangkan saat ini kamu lagi berada di Jakarta pada tahun 60. Tepatnya pada hari jumat 1 Oktober 1965. Sekitar pokok 7 pagi kamu sedang menghirup udara segar di Ibu Kota. Belum banyak gedung tinggi. Masih sedikit orang yang memiliki kendaraan pribadi. Jalanan lengang, tidak ada lalu lalang kemacetan. Bayangkan kamu baru saja selesai serapan. Sedang bersantai sambil menengarkan beritap pagi di radio. Kemudian terdengar lah sebuah kabar. Pertama kali mendengarnya kamu mungkin merasa tidak ada keanahan. Biasa saja. Berita radio yang dibawahkan oleh seorang penyer, yang suaranya sudah akrap ditalingamu. Hanya saja topiknya lumayan berat, tentang konflik diangkatan darat. Dalam waktu kurang dari 24 jam, sejarah Indonesia perlahan bergerak dramatis. Berubah menjadi begitu drastis. Selamat datang di potnya sejarah bersama gue Mutli Lirong Sastro. Episod kali ini akan membahas satu tahun paling penting dalam sejarah Indonesia. Tahu yang sangat menentukan. Tapi juga sekali gue sangat membingungkan. Ini dia 19.65. Terlalu banyak misteri. Tekat-teki bahkan konspirasi yang meliputi gerakan 30 September. Apa motivasi utamanya? Apa benar ada dewan general yang ingin mengku data sukarno? Lantas, kenapa militer dibawah suharto balik menuduh G30S dan menambahkan embell-embell PKI sebagai pelaku ku data? Kalau ku data PKI itu gagal, mengapa sukarno perlahan-lahan justru kehilangan kendali atas negara? Mengapa justru kemudian terbentuk rezim diktator militaristik yang bertahan sampai 3d kada? Jadi, siapa yang mengku data siapa? Pertanyaan pertanyaan tadi mungkin bisa bikin kita over thinking tujuh hari tujum alam. Sebelum berusaha mencari tahu tentang prestiwanya, ada baiknya kita perlu mengurai segala kerotan yang ada dengan memetahkan beberapa aktor yang terkait. Mari kembali ketangga 5 Juli 19-5 9. Satu karnoah mengumumkan decrit presiden. Lewat decrit 19-5 9, Indonesia memasuki periode baru, demokrasi terpimpin. Perlahan-lahan terjadi pemusatan kekuasaan, Dewan konstituan terdibubarkan dan UUD-45 kembali berlaku. Puncak dari semua itu, ada lah pengukuhan status presiden seumur hidup buat sukarno lewat tap MPRS. Secara singkat, rangkayan kebutusan politik itu diletar belakangi oleh beberapa kondisi. Ada berbagai akci bersenjata yang menantang pemerintahan pusat, mulai dari DETE sampai PRAE permesta. Sementara di dalam konstituanta, terus terjadi perdibatan senit, antara golongan agama, kolompok nasionalis, dan juga perwakilan partai komunis yang tak kunjung mencapai kata spakat dalam rumuskan princip negara. Sukarnoah jadi merasa tidak puas dengan demokrasi liberal. Sukarno dari situ kemudian ketol mengkampanyakan nasakom sebagai pilar utama dari demokrasi terpimpin. Nasakom Nasionalis agama komunis. Sebuah ramuan ambisius yang ingin mempersatukan tiga ide dan kekuatan besar di perlemen. Dalam lapangan kekuasaan apa yang terjadi tidak lha persis demikian. Politik Indonesia pada era 60 han lebih banyak ditentukan oleh tiga pihak ini. Sukarno, militer, dan PKI. Keterlibatan militer dalam politik Indonesia sudah bukan rahasia lagi. Ini semua sudah terjadi jauh sebelum 2 fungsi abri. Presituat 17 Oktober 1952 jadi salah satu penandanya. Saat itu kepala staf angkat-andarat, Abdul Haris Nasution, memobilisasi protest dan mengarakan moncong mereka ke depan istana. Mereka ingin DPRS dibubarkan oleh sukarno. Mereka menganggap perlemen telah mencampuri urusan angkat-andarat terlalu jauh. Meskipun tidak berhasil, pelahan-lahan tentara dapat mendesakan agendanya kepada sukarno. Pada era 50 dan 60 han sukarno sangat membutuhkan militer. Pertama untuk menghadapi gerakan bersenjata di dalam negri seperti di ITI dan PRI permesta. Kedua sukarno juga butuh tentara untuk melaksenakan kepentingan politik luar negrinya seperti trikora dan duikora. Lebih jauh lagi, peneliti asal Amerika Serikat Daniel Lef menyoroti dua kebijakan yang menguntungkan angkat-andarat. Bahkan dua kebijakan ini dibuat sebelum masa demokrasi terpimpin. Pertama, undang-undang keadaan darurat perang pada marat 1957 dan kedua, nasionalisasi perusahaan belanda sejak december 1957. Kedua-nya memberi keleluasaan bagi angkat-andarat dalam bidang politik dan ekonomi. Secara politik, panglima ade dapat kewonangan seperti membuatasi pers, menahan tokoh tertentu, sampai memberlakukan undang-undang tak tertulis di wilayah yang di tetapkan sebagai darurat perang. Secara ekonomi panglima ade ke bagian jabatan di berbagai perusahaan belanda. Dari perkebunan, sampai fabric yang telah di nasionalisasi. Dengan dua keistimeu antadi, angkat-andarat mulai menancapkan kukunya di tengah-tengah publik. Memasuki masa 60-an, angkat-andarat memiliki serikat buruh soksi, golongan functional golkar, surat kabarangkatan bersenjata dan berita juda. Mereka juga berafiliasi dengan budayawan antikomunis, birat-mosuk itu yang memperakar saya manifest ke budayaan. Banyak pengawat menilai angkat-andarat telah menjelma sebagai negara di dalam negara. Tapi, di sisi lain, sebenarnya angkat-andarat sedang berusaha membayang bayangi suatu partai besar. Mereka adalah partai komunis Indonesia. [MUSIK] Setelah porak-poranda pasca prestiwa mandyun 48, di panus antara edit bersama kader muda peka lainnya, berusaha kembali membangan partai dari renuntuhan. PKI di bawah edit memilih untuk menampu jalan politik legal parlamentar. Keputusan yang sangat berbeda dengan partai komunis lain. Kebanyakan partai komunis di asia kalah itu memilih melakukan perlahuhanan bersenjata. Aidit punya kalkulasinya sendiri, salah satunya adalah teritori Indonesia yang berbentuk kepulawan. Terisolasinya jawa akan jadi kelemahan, jika ingin melakukan geril ya. Tidak ada daerah belakang yang siap mendukung, jika pasukan terpojok. Vietnam setidaknya pungiati hongkok, yang bisa membekap mereka di wilayah belakang. Kurang dari 5 tahun, PKI sukses meraup 6 juta suara. Ini menempatkan mereka pada posisi ke 4 di pemilu 55. Recept sukses PKI secara gari sebesar adalah apa yang dikerjakan partai sesuai dengan kebutuhan masyarakat kelai itu? Pimpinan muda PKI melaksanakan program jalan baru musuh, yang itu menjadikan partai sebagai front nasional. Discliling front nasional terdapat semacam ormas-ormas dari berbagai bidang yang berkaitan dengan PKI. Mulai dari pendidikan, serikat buruh, gerakan perempuan, sampai lembaga kebudayaan. Bayi kader partai maupun anggota ormas diminta untuk turba, alias turun ke bawah. Sebuah program agar para kader melibatkan diri di antara hidup para buruh dan petani. Mereka juga dituntut untuk dapat memmecahkan masalah yang ada. Hal ini berbeda jauh dengan karakter kader partai lain, yang cenderung elitis, karena didominasi kelas menengah perkotaan. Dari situlah PKI mendapatkan glembungan pendukung yang besar dan militan. Masalahnya, dekorit 19.9 berdampak besar bagi PKI. Di integrasikannya komunisme di dalam nasakom, sekilas terlihat menjadi kemenangan kecil. Padahal sebaliknya, demokrasi terpimpin malah membuat PKI terjebat. PKI sudah menemput jalur legal parlamenter, tapi parlament dibubarkan. Di sisi lain, PKI berhadapan dengan angkatan darat. Konflik antara kedua nya, nggak melulu soal ideologi yang abstract. Kadang ada juga yang praktikal. Misalnya, serikat buruh PKI sering mengorganisasi Aksi Mogok di perusahaan yang komisarisnya adalah panglima angkatan darat. PKI berasaran tan, karena yang memusuhinya memiliki pasukan dan persenjataan. Sebagai solusinya, PKI memilih untuk mendukung sukarno dalam demokrasi terpimpin. Hubungan sukarno dan PKI tidak semata soal pemerian perlindungan. Mereka juga punya kesamaan kepentingan. Misalnya, dalam politik luar negeri. Mereka menentang apa yang disebut sukarno sebagai nekolim. Neo-colonialisme dan imperialisme. Meskipun begitu, kebijakan sukarno tidak selamanya memihak, atau menguntungkan PKI. Misalnya, dalam hal jabatan di kabinet. Sukarno memberi jabatan yang tidak sestratigis mendagri atau pospos ekonomi. Sukarno juga berhati-hati dengan tidak langsung memberikan approval terkait ide untuk membentuk angkatan kelima. Dia mempertimbangkan tentangan dari angkatan darat. Setelah memutakan tiga aktor tadi. Sukarno, militer, terutama angkatan darat dan juga PKI. Kita mendapatis sebuah gambaran kasar di nami kapolitik Indonesia pada tahun 60. Ali-ali menjadi diktator yang bebas bertita semawnya. Sukarno lebih terlihat seperti suarang pengendara spedaro da satu, yang berusaha menyembangkan PKI di sisi kiri dan angkatan darat di sisi kanan. Mari kita tekankan analogi soal sukarno sebagai pengendara spedaro da satu. Mau sebesar apapun basis masa PKI, atau selengkap dan sejanggi apapun persenjataan angkatan darat, sukarno tetaplah sang pengendara spedanya. Dia yang menjalankan roda pemerintahan. Masalahnya pada pertengahan 60. Ada beberapa kondisi yang membuat keseimbangan itu oling. Ada inflasi besar-besaran, kasus korupsi, konfrontasi dengan Malaysia yang makin memanas. Aksi sepihak dan ganyang setan desa yang kencar dilakukan kader militan PKI. Kesehatan sukarno juga sempat memburuk pada awal 1995. Ini membuat banyak pihak resah. Pertengahan 1965 berada desa sedesus dewan general di angkatan darat yang disebut ingin mendong kel sukarno. Desa sedesus itulah yang membawa kita pada gerakan 30 september. Sejatinya, aksi yang dilakukan kerakan 30 september sangat singkat, tapi penuh keruhatan. Pada pagi hari satu oktober, beberapa pasukan menduduk istasian RRE. Pasukan itu memaksa penyer RRE membacakan satu dokument. Uniknya dokument tersebut tidak berisi sebuah deklarasi. Melain kan, naskah berita yang ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Sangpengiar terkesan sedang melaksanakan pekerjaannya seperti biasa. Soal-olah tidak ada skumpulan regu bersenjata di sekelilingnya. Ini adalah awal dari rangka yang prestiwa membingungkan lainnya. Pasukan G30S dikabarkan telah menggagalkan upaya kudeta dewan general. Mereka juga mengatakan presiden sukarno telah selamat dalam lindungan gerakan 30 september. Tapi pernyataan tadi tidak sesuai dengan kenyataan. 6 general yang mereka culik dan 1 orang ajudan sudah tewas. 1 orang general berhasil kabur. Gerakan 30 september juga belum bertemu dengan sukarno. Apalagi membawaannya dalam perlindungan. Berikjen supar jo di temani 2 orang komandan menunggu presiden sukarno di depan istana sejak pagi hari. Sementara 2 batalion pasukan mendukit 3 sisi lapangan merdeka. Ini lah keganjilan lainnya. Gerakan yang berniat melindungi presiden dari kudeta malah tidak tahu dimana keberadaan sang presiden. Ternyata sukarno bermalam di rumah salah satu istrinya. Ketika ingin kembali ke istana pengawal presiden terkejut dengan keberadaan pasukan yang tadi kenal. Sesuai procedur sukarno dilarikan ke halim Perdana Kusuma. Berikjen supar jo baru dapat bertemu sukarno di halim sekitar pukul 10 pagi. Itupun setelah dijemput dengan helikopter oleh let call Herwart Mojo. Dalam pertemuan tersebut presiden sukarno meminta supar jo untuk mengakhiri semuanya. Sukarno tidak ingin ada pertumpahan darah. Ketak sukarno kalau pertemuran meluas yang untuk menghanekolim. Sat itu sukarno mungkin sudah menduga. Adanya korban jiwa dari salah satu general yang diculik. Berikjen supar jo pertindak patuh. Dia tidak membantah mengancam atau memaksa agar sukarno mau mendukung gay 30 sisi. Dia masih menempatkan sukarno sebagai pemimpin tertinggi. Namun, beberapa saat kemudian suara berbeda malah terdengar dari pemancar radio. Pengumuman kedua dari gay 30 s yang diberikan pada siang hari. Kali ini berisi tentang daftar susunan Dewan Revolusi yang disebut laman demisioner Kabinet sukarno. Lagi-lagi mengundang tanya. Bagaimana bisa? Di satu tempat ada anggota gerakan yang patuh dan masih menghargai kedudukan presiden? Tapi di tempat lain, ada anggota gerakan yang mendemisionerkan kabinetnya. Siang itu, sukarno juga memberintahkan majian peranotor exosamudro untuk menjadi caretaker ahmatiani sebagai menpengat. Tapi majian suharto menghalangi majian peranotor untuk pergi ke halim. Pada siang yang kacau itu, presiden sukarno seakan tidak berdaya mengandalikan situasi sesuai kohonangannya. Hari makin sore. Ternyata pasukan G30S makin menipis. Ini terjadi karena batalion 5-30 dari jawati mur, melakukan desersi atau mengundurkan diri dari tugas. Alasan desersi itu amat sederhana. Makanan. Selama seharian, mereka tidak makan apa-apa. Sekitar pukul 4 sore, mereka menyerahkan diri ke markas Kostrad dengan majian suharto yang terletak di si si timur lapangan merdeka. Ananya, sejak awal operasi tidak ada pasukan yang menjaga si si timur tersebut. Batalion 454 dari jawat tengah tidak ikut ikutan berubah luan. Tapi mereka tidak kuat untuk bertahan sendirian. Jalan sore hari, komandan pun menarik pasukannya. Dengan itu, majian suharto bisa dengan mudah mengosongkan lapangan merdeka tanpa satu buter peluru. Tanpa perlawanan berarti mereka juga menguasai RRE sekitar pukul 6 sore. Sebenarnya masih ada rangka yang presti walaian, mulai dari yang terjadi di sekitar halim dan aksi di jawati mur. Tapi kendali suharto atas RRE sudah menjadi pertanda awal, bahwa gerakan 30 september berakhir gagal. Jadi apa sebenarnya gerakan 30 september itu? Setiap claim dan tuduhan atasnya saling bertentangan. Jika mereka mengklaim ingin melindungi sukarno, kenapa mendemisioner kabinetnya? Tapi kalau disebut ku deta, ku deta atas siapa? Sukarno tidak mereka inchar secara langsung, malah jeneralang katandarat. Pasukan yang terlibat g30s juga sangat kecil. Mereka cuma menuduki lapangan merdeka. Tidak berselihwarannya tank di Jakarta juga jadi hal ganjil. Tank adalah kendaran paling lazim, yang digunakan untuk melakukan ku deta. Untuk berusaha mengatasi ke ganjilan yang ada dalam g30s, ada empat versi atau teori yang umum mendikunakan. Sebelum itu, pertama-tama kami ingin mengugurkan satu teori. Teori ini menuding sukarno sebagai dalam g30s. Antenit dig, sebagai salah satu pengusungnya. Sudah banyak yang mengkritik teori ini. Dig cuma mendesarkan argument pada bukti interrogasi ajudan sukarno, yaitu bambang wujanarko. Menurut asvi warman Adam, dokument itu lemah. Karena wujanarko mengaku mendapat paksaan saat interrogasi. Dig juga tidak pernah mengonfirmasinya kepada wujanarko, pada dia sering berkunjung ke Indonesia. Selain metodologi, alur logikannya juga fatal. Kalau memang sukarno mencurigai para general terutama ahmatiani, sukarno tidak perlu berbelit-belit perencanakan plot pencolikan. Dia bisa sahaja langsung memachatiani, atau menguji kembali ke setihan sangmen banget. Sebelumnya, sukarno pernah memanggil yani ke Istana pada 22 May 1965. Kita kembali lagi ke 4 teori yang umum digunakan untuk membedah G30S. Pertama adalah penjelasan dari militer. Sejak October 19-65, angkatan darat sudah menuduh G30S sebagai akala-akalan PKI untuk merebut kekuasaan. Ini terlihat dalam memberitaan media masa yang sudah ada di bawah pengawasan tentara. PKI dilukiskan sebagai pihak yang bertanggung jawab dengan bumbu-bumbu terjadinya penyeksaan, penyelatan, pencungkilan mata, bahkan adanya penarit langjang. Belakangan, hasil otopsi para general mengungkapkan bahwa tidak terjadinya penyeksaan sebagai mana yang kerap diberitakan. Masalah lainnya adalah, tudingan PKI sebagai dalang tunggal, gagal mencelaskan terlalu banyaknya keterlibatan perwira militer di dalam akti tersebut. Let call untung, kolonelatif, brickchain supar jo, ketiganya datang dari latar belakang angkatan darat. Seiring berjalannya waktu, memasuki masa orde baru, reizim suharto tetap menunjuk PKI sebagai dalang tunggal, meski detailnya berubah. Hasil interrogasi dan pengadilan menemukan, adanya birok khusus PKI yang diketwai oleh siam kamaruzaman dengan asistennya pono. Kemudian didarasikan, bahwa birok khusus PKI telah menyusupi militer. Orde baru terus menggarap cerita ini termasuk dalam buku yang ditulis oleh nugrohon otosusanto dan ismail sale, yang kelak diadaptasi jadi film Garapan Arifin Channel. Banyak yang mepertanyakan narasi tunggal orde baru ini, terungkapulah bahwa dalam interrogasi sering terjadi paksaan dan penyeksaan. Intellectual Indonesia dan NIL Dakide, menyebut interrogasi yang ada, bukanlah upaya fakt finding atau pencarian fakta. Melayinkan opinian crowd rating activities, menyesuaikan fakta dengan skenario yang sudah ada di benak para interrogator. Yaitu PKI adalah dalangnya. Teori kedua datang dari Cornell Typer, yang ditulis oleh Ben Anderson dan Ruth McVee. Mereka memakai pendekatan kultural, argumiannya didesarkan dari pernyataan kelompok G30S itu sendiri. Yaitu urusan internal angkatan darat. Anderson dan McVee menyoroti fakta, bahwa perwila yang terlibat G30S, kebanyakan berasal dari kodam di penogoro yang meliputi jawat tengah. Menurut versi ini ada ketidak sukaan kelompok perwira muda di penogoro dengan gaya hidup general angkatan darat di Jakarta, yang dianggap dekadan, korup, probarat, dan menghalangi kebijakan sukarno. Menurut versi ini PKI bukanlah dalang. Melayinkan pihak yang terjurumus dalam akci yang tidak mereka pahami. Kelemahan teori ini tidak menjelaskan mengapa operasinya berantahkan pada hal didesan oleh tentara. Lalu beberapa yang terlibat memang berasal dari di penogoro, tapi ada juga aprik ceng supar jo dari sili wangi dan mayor suyono dari awri. Bagaimana orang dari latar belakang berbeda itu bisa berjumpa dan mau bekerja sama? Cornell Papers ditulis sebagai preliminary analysis, atau analysis awal yang ditulis cepat, pada januari 1966 dan baru terbit pada 1971. Keterbatasan bahan dan sumber mengakibatkan analisis di dalamnya juga terbatas. Ben Anderson juga kerap merefici pandangannya setiap ada temuan baru. Teori ketiga berasal dari Harold Crouch, dalam bukunya di Army and Politics in Indonesia. Pertama-tama Crouch mengkritik penjelasan nunggu Rohonoto Susanto dan Ismail Saleh, yang mengacap perwila militer dalam G30S itu simpatisan yang tunduk pada perintah PKI. Menurutnya Cornell, jika para perwira asal patuh kepada partai. Tidak ada bukti bahwa mereka adalah simpatisan PKI, tapi ada kemungkinan perwira yang disebut Crouch Progressive ini berkolaborasi dengan PKI lewat birok susu. Inti Argument Crouch adalah mah milup tidak membuktikan PKI sebagai dalam utama. Menurut Crouch, perwira militer yang mengambil iniciatif G30S dan PKI hanya berperans sebagai pemain pendukung. Tapi kelemahan teori Crouch ini tidak menjelaskan, kenapa operasi yang diinitiasi militer bisa begitu berantahkan? Lalu, bagaimana bisa para perwira militer yang berbeda latar belakang itu juga melibatkan PKI sebagai pendukung? Kenapa mereka tidak melakukan operasinya sendiri saja? Akhirnya kita sampai ke teori ke 4. Mungkin ini yang paling mengejutkan, karena penuh dengan plot twist. Menurut versi ini, G30S adalah sebuah aksi yang dirancang untuk gagal, agar bisa dijadikan alasan menghadjar PKI. Ada aktor militer yang menyelipkan agen gandanya. Shyam kamar uzaman yang mengaku mengapalai birok susu PKI adalah tertuduhnya. Shyam dicurigai, karena sosoknya yang tidak banyak dikenal oleh angkota PKI. Selama menjalani persidangan, Shyam juga entengsa jabuk suara dan menyeret banyak nama. Teori ini dikembangkan oleh sosio lock wherever time. Selain curiga pada Shyam, wartime juga mengutip pengakuan kolonel Latif. Sebelum aksi pencurikan para general, Latif mengaku pernah 2 kali bertemu suharto. Pertama pada 29 september, waktu itu lahatif berkunjung ke rumah suharto. Di sana Latif menanyakan sual kebenaran isu dewan general. Suharto mencawap bahwa dirinya juga mendengar isu dewan general yang ingin melakukan kudeta dari bekas anak buahnya diokia karta, bernama su bagio. Tapi suharto masih ingin menelusuri kebenarannya. Pembicaraan kemudian dialihkan karena sedang ada banyak tamu. Keterangan ini berbeda dengan pernyataan suharto setelah G30S. Dia mengatakan dewan general, hanyalah dewan yang mengurus perihal kepangkatan dan suharto sendiri berada di dalamnya. Pertemuan kedua terjadi pada malam hari 30 september di RSPAD. Suharto mengakui pertemuan ini benar terjadi. Di dalam buku Arnold Brakman yang terbit pada tahun 69, Latif disebut datang ke RSPAD bermaksud untuk mencenguk tomi suharto yang ketumpahan suh. Tapi ketengar suharto itu berubah. Dalam mawan cara yang dimodidarshe pigel, edisi 27 Junis 1970, suharto mengklaim bahwa Latif hendak membunuhnya. Keterangan yang tidak konsisten itu mendatangkan kecurigaan. Latif sendiri menyebut bahwa dia memang bermaksud mencenguk tomi. Tapi dia juga memberi tahu suharto, bahwa malam itu akan ada akti yang mendahulu di dewan general. Suharto diams aja tidak memberikan reaksi. Latif sebagai bawahan menganggap diamnya suharto sebagai perstujuan. Dalam persidangannya, Latif sempat meminta suharto dan istrinya tin untuk menjadi saksi. Tapi permintaan itu ditolak. World time lalu menjalin kepingan informasi lainnya. Suharto ternyata juga dekat dengan untung yang juga mantan anak buahnya. Dari dua informasi ini, terbuka kemungkinan alasan mengapak kostrat yang ada di sisi timur lapangan merdeka tidak dijaga oleh pasukan. Kemungkinan Latif dan Untung menganggap suharto ada di biak mereka. Sementara itu, World time balik menuding suharto sebagai salah satu diantara pervirat hingga militer yang merancang g30s lewat agen ganda. Trutama siam. Selain siam, belakangan ini spekulasi suh al-agen ganda juga diarahkan kepada latinan satu dul arif yang bertanggung jawab dalam pristi wapen colikan. Setelah g30s, dul arif tak jelas rimbanya. Dia disebut lah di exokusimati. Menurut lat call herwat mojo, dul arif adalah anak angkat dari alimur topo. Alimur topo sendiri adalah ahli inteligen yang jadi salah satu perancang orde baru. Dia adalah tanggan kanan siap lagi kalau bukan suharto. Teori soal adanya agen ganda ini sekilas menjawab kenapa operasi g30s berjalan bantakan. Tapi tetap saja ada kelemahan, bagaimana tepatnya kita bisa membutikan adanya agen ganda. Lalu, kalau benarat para pervirating gimilitar sedang berkonspirasi, kenapa sampai tega mengorbankan terkan sejawatnya untuk dijulik? Kemungkinan yang paling sesuai dengan alur berpikir wartime adalah suharto sendiri yang merancang semuanya. Tapi wartime tidak membuat kelem tersebut. Pendurutnya, seandainya suharto tidak terlibat, tetap saja dia mencari gakan dan bersalah. Karena membiarkan atasannya terhancam sebuah rencana komplot yang membahayakan. Empat teori tadi mungkin masih belum cukup pemuaskan. Paparan John Rousa dalam dalih pembunahan masal dapat membantu memberikan beberapa titik terang. Kita memang tidak bisa menempatkannya sebagai kesimpulan final. Tapi studi Rousa mampu menghantar untuk lebih maju. Rousa menganalisis beberapa dokument termasuk dokument amadekas rikat yang telah dideklasifikasi. Ini kemewahan yang tidak dimiliki peneliti sebelumnya. Rousa bertolak dari dokument supar Joe yang mengevaluasi kegagalan g30s. Singkatnya kegagalan itu terjadi karena g30. Karena g30s tidak dijelankan sebagai mana operasi militer pada mesti nya. Garis komando tidak jelas bagaimana. Pengambil keputusan tidak jelas siapa. Di dalam operasi saat kanakan terbagi atas beberapa kelompok. Pembegin kerja tidak efektif dan tidak adanya rencana jika operasi gagal. Pengaturan logistik tidak terpenuhi, kegagalan memafatkan situasi dan banyak lagi. Supar Joe juga menyoroti dalam akci penculikan. Prajurit yang memimpin regupriolitas bukan prajurit yang paling berpengalaman dan berbakat. Ini cukup menjawab kenapa operasi paling penting dari g30s malah berlangsung amburadul. Padahirnya M.T. Hariono, Ahmatiani, D.I. Panjaitan, Tewas. Ahana Sution lepas. Selanjutnya Rusa berusaha membedah sosok-sosok di balik layar. Hasil penulus orangnya mengarah kepada informasi, bahwa benar Shyam dan Virokusus turut terlibat dalam akci g30s. Shyam sendiri bukan ageng-ganda. Melayan kan sosok kepercayaan edit sejak 50-an. Ketika itu Shyam pernah membantu edit masuk ke Jakarta pas caprice diwamadion 48. Virokusus juga wujudnya benar ada, tapi mereka bukan organisasi gelap yang kusus dibentuk untuk menyusup ke dalam militer. Padahir masa awal kemerdekaan adalah hal yang umum, jika partai memiliki jaringan di dalam tentara. Ada pun hubungan mereka bersifat setara. Jaringan partai memanfaatkan informasi dari para perwira, sebaliknya para perwira memanfaatkan informasi dari jaringan partai. Namun, Virokusus ini tidak dikenal banyak oleh angkota partai. Menurut pengakuan yang didapat Rusa dari wawancara dan dokument, Virokusus lebih sering bekerja untuk ketua DNID. Lantas yang jadi pertanyaan dan sulit diungkapkan adalah, jika siang sebagai tangan kanan ID terlibat, sejauh apa ID terlibat, dan bagaimana posisi PKI. Pertanyaan tadi sulit dipecahkan, karena IDID sudah di eksekosimati tanpa pernah memberikan pernyataan apapun. Cara lainnya adalah dengan mengumpulkan kepingan informasi. Ada pun, ini lah kepingan informasi yang bisa dilangkai Rusa yang kami coba untuk sajikan sebagai berikut. [MUSIK] Isu Dewan Jandral yang disebut ingin mengkudeta sukar no membuat ID terisau. Demokrasi terpimpin telah membuat PKI jadi terlalu bergantung pada sukar no, karena dua kondisi. Pemilota ada, senjata tapunya. Mereka merasaran tan, jika sukar no langsar. IDID pun dia adapkan pada dua pilihan. Menunggu Aksi Dewan Jandral benar terjadi, atau berusaha mendahului Aksi mereka. IDID seperti-nya lebih memilih mendahului, karena secara kalkulasi, lebih menguntungkan. Jika sukar no dicopot, partai akan kualahan menghadapi angkatan darat secara langsung. Selain itu, kalau mereka berhasil mendahului dan membuktikan adanya Dewan Jandral, PKI bisa tampil sebagai penyokong utama kekuatan nasakom. Aksi mendahului itu agaknya adalah penculikan, yang nantinya para Jandral akan diadapkan kepada presiden sukar no. Harapannya mereka akan dipecat. Tapi operasi paling penting tersebut, malah gagal. Tiga orang Jandral Tewas, satu lepas. Yang masih jadi pertanyaan adalah siapa yang memberintahkan untuk maya kesekusi tiga orang Jandral yang ditangkap dalam kondisi selamat. Ada pun dalam merancang operasi yang sifatnya sangat rahasia, adi tidak bisa melibatkan komites central atau partai secara luas. Jika itu dilakukan, informasi akan rentan bocor. Tak cuma partai yang memiliki jaringan dalam militer, tapi sebaliknya militer juga menanam intel di dalam partai. Belum lagi ada faktal lain, bahwa salah satu target sasaran operasi, Jandral S. Parman adalah adiknya anggota polit biro PKI Sakirman. Untuk itu, edit kemungkinan besar hanya berkordinasi dengan segelinter orang yang dia percaya. Masalahnya edit dalam operasi penting ini terlalu menggantungkan dirinya kepada siam. So orang yang dalam persidangan tidak tampak sebagai kader setiap PKI. Rusa menduga siam hanyalah orang yang bersetia kepada edit karena menghormati sosok mimpinannya. Menurut pandangan supar jo, siam bukan sosok cerdas, tapi orang yang terus mengucap man terap penuh wishful thinking. Siam berucap, kalau revolusi berhasil nanti pasti banyak yang ikut. Padahal dia tidak mempersiapkan apa yang terjadi jika gagal. Terbuka kemungkinan bahwa selama ini edit bersander pada orang yang tidak mampu memasuk informasi dan perencanaan yang baik. Mungkin kondisi serupa juga terjadi dalam hubungan siam kepada para perwira. Mengingat siam adalah perantara antara edit dan perwira. Al-hasil, perencana aksi mendahului itu gagal karena perencanaannya memang berentakan. Garis komando yang tidak jelas dan terdapat dua kelompok. Antara kelompok perwira militer dan personial biruku suspeka i. Tidak ada sosok pengambil keputusan secara tunggal. Ini juga membuka kemungkinan ketika sukar no meminta brick chain supar jo untuk mengentikan aksi. Kelompok biruku susp malah ingin terus melancutkannya dengan mengumumkan susunan dewan revolusi yang mendemisjoner kabinet sukar no. Meski John Rosa menunjukkan interpretasi atas keterlibatan siam, biruku suspeka i dan edit, dia tetap menolak tu doang orde baru. Dia berkesimpulan bahwa Pka i terlebih sebagai partai bukan lah dalamnya. Sebab edit merhasiakannya dan hanya melibatkan beberapa orang di dalam partai. Sebagai elustrasi dari kami, kondisi ini berbeda. Dengan misalnya pemberontakan Pka i pada 1926, yang memang keputusan bersama dari partai untuk melawan pemerintah kolonial. Lebih lanjutnya, bagi rusa dalam gerakan 30 september ini tidak ada dalang sama sekali. Argumiannya kira-kira begini. Adanya dalang mengesiaratkan sebuah operasi dengan komando yang jelas dan yang paling penting adanya pusat pengambil keputusan tunggal. Dalam g30s, yang terjadi adalah sebaliknya. Bagi kami, istilah dalang juga menyimpan keanehan. Ternyataan bahwa kelompok itu menamakan diri mereka sebagai gerakan 30 september, seharusnya sudah cukup jadi informasi. Bahwa yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya adalah kelompok gerakan 30 september itu sendiri. Untuk itu, keterangan sudisman dalam urayan tanggung jawab agaknya dapat dipercaya. Beberapa Tokoh Pka i terlibat, tapi Pka i sebagai partai tidak terlibat. [MUSIK] Keraikan 30 september bukanlah suatu prestiwa yang perdiris diri. Kita tidak bisa mengingat satu hal, sambil melupakan hal lain yang masih dalam satu rangkayan. Inilah yang juga jadi intih bahasan buku, dali pembunuhan masal. John Rosang tidak cuma berusaha menguraikan keruatan g30s sebagai akti dan mengulik aktor aktor yang ada. Dia juga menghadirkan konteks global, yang itu suasana perangdingin. Lewat temuan dokument Amerika Serikat yang telah dideklasifikasi, Rosang mendapatkan rangkayan informasi menarik. Keterlibatan Amerika bukan sekadar isu atau konspirasi belakang. Kira-kira begini lah kami mencoba merangkumnya. Pada pertengahan 50 han, Amerika menghawaterkan politik luar negeri sukar no. Mereka merasa sukar no yang mengaku non-block terlalu condong kekiri dan gaalak kepada blok barat. Di sisi lain, Amerika Serikat juga menghawaterkan pertumbuhan PKI setelah pemilu lima-lima. Mereka khawatir ketika sedang berfokus pada perang Vietnam, Indonesia malah menjadi negara komunis. Playbook yang dia sedi pakai Amerika untuk menghadapi negara komunis di Asia adalah memmecah belah. Korea Utara, Korea Selatan, Vietnam Utara, Vietnam Selatan. Kebutulan pada masa itu, ada ketidak puasan dari beberapa perwira militer, baik di sumatra dan berbagai wilayah Indonesia Timur. Pada awalnya, para perwira tersebut, sebatas menuntut autonomi yang lebih besar. Tapi, Amerika melihatnya sebagai pintu masuk disintegrasi atau memmecah belah Indonesia. Amerika Serikat mulai mendukung dengan memberikan dana dan facilitas tempur kepada perre permesta. Strategi itu pada akhirnya gagal dan Amerika pun mulai menyatkan strategi pengganti. Dalam dokumen National Security Council pada januari 19.5.9, Amerika Serikat mulai melihat beberapa panglima angkatan darat Indonesia sebagai partner potensial dalam menghadapi kekuatan komunis di Indonesia. Dari situ mulai terjalan kerja sama informal, sampai bantuan seperti insentif uang, perancangan program, dan proyek dari Amerika Serikat kepada angkatan darat untuk membayang bayangi PKI. Amerika juga mulai menyakakan usaha menyinkirkan PKI dan Sukarno dari pantas politik. Mereka sadar, serangan langsung kepada PKI atau Sukarno tidak akan berbohasil karena kedua nya sangat populer. Di bentuklah siasat provokasi kepada PKI agar melakukan tindakan kegapah. Satu Komisi dari National Security Council pada March 19.65 menyitu juji sebuah proposal. Di antaranya mengenai operasi black leather atau surat kaleng dan operasi operasi media yang menjebak PKI untuk iakin bahwa akan terjadi kudeta. Dalam uragan jundrusa, Amerika memang tidak secara langsung merancang G30S sebagai operasi yang akan gagal. Sulit untuk membayangkan, Amerika mau mengurbankan terkan antikomunisnya menjadi korban mencolikan. Tapi, Amerika serikat lama-merancang kondisi yang membuat PKI mau melakukan akci lebih dulu, sehingga ketendarat memiliki alasan untuk menyerang balik musuh mereka bersama. Tidak sebatas pada itu, keterlibatan aktif Amerika juga terlihat pada peristiwa setelahnya. Ya itu pembunuhan masal besar-besaran yang terjadi selama sekitar 5 bulan. Amerika memberi teknologi radiolapangan ke markas kostrat di Jakarta dan uang dalam jumlah besar untuk kesatuan akci pengganyangan Gestapo. Semua itu dilakukan untuk menghabisi orang-orang yang kemungkinan besar tidak mengetahui apalagi terlibat dalam akci penculikan para general. Bagi rakyat yang melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa Amerika itu melakukan penculikan, melakukan pembunuhan, melakukan pembakaran di desanya, tidak mungkin dikatakan kalau mereka tidak salah. Orde baru sampai pemerintahan hari ini, cenderung masih menganggap akci kekerasan dan pembunuhan masal pada pertengahan 60an sebagai benturan antar kelompok masyarakat yang sifatnya horizontal. Selain studi John Rusa, beberapa penelitian terkini sudah banyak membentahnya. Mereka punya but penyangkalan yang ada cuma bentuk penolakan tanggung jawab. Jeffrey Robinson, dalam dekilling season, menunjukkan bagaimana peran aktif militer dalam memprovokasi dan mengorka strasi kekerasan di berbagai tempat. Penelitian Jess Melvin terbaru mendapatkan bahan langsung dari arsip militer di Aceh. Dia mengungkap benar ada peran aktif militer. Dari mengomendoi langsung, sampai secara tidak langsung dengan menggalang kampanya untuk menghabisi orang-orang PKI. Suasana hari itu dibentuk seakanakan sedang terjadi perang. Dari arsip setebal tiga ribohalaman, Jess Melvin juga menemukan bahwa sudah ada kontak dari suharto kepada general isak juarsa di Aceh melalui telegram pada pagi hari 1 Oktober 1965. Kontak itu menyebutkan bahwa terjadi kudeta di Jakarta. Ini cukup mengherankan. Mengingat pada waktu itu belum ada pengumuman soal pandemi seonaran kabinet sukarno. Temuan Jess Melvin pun jadi berkaitan dengan tincuan rusa bahwa suharto kemungkinan besar mengetahui, rencana pimpinan tinggi angkatan darat dan Amerika serikat untuk memprovokasi PKI agar mereka bisa melakukan akti balasan. Kalau kita membaca penelitian Jess Melvin di Aceh dan Grace Laksana dijawati mur, kita juga akan melihat bagaimana kekerasan terstruktur dikipasi sentiment agama dan rasial. Bagaimana orang dihakimi sebagai kafir Ateis dan kekerasan berbasis etnis kepada warga Indonesia keturunan Tion Hoa meluas ke berbagai tempat. Lebih dari sekitar 500 ribu orang jadi korban pembunuhan. Biasanya mereka ditangkap lebih dulu, digumpulkan ke tempat sepi dan tidak pernah pulang lagi. Kolonel Sarwo Edi bahkan menyebut ada 3 juta orang PKI yang dia abisi. Mereka bukan cuma angka, mereka manusia. Hanya propaganda berlebihan yang bisa membenarkan kekerasan yang telah terjadi. Hanya propaganda berlebihan yang membuat ratusan ribu sampai juta on orang dianggap pantas menanggung delita atas hal yang bahkan belum tentu mereka ketahui. Dan kekerasan serta diskriminasi itu tidak cuma berbentuk pembunuhan. Ada kerja paksa di pulau buru, tanda dan cab untuk tahanan politik berserta keluarga dan keturunannya, pemberangusan dan pelarangan buku. Orang-orang yang terpisah dari keluarga ya, orang-orang yang tidak bisa kembali ketana airnya. Hari-hari itu semua orang mau PKI atau bukan, bisa ditangkap dengan toduhan terlibat G30S. Meski bukti yang ada tidak mencukupi. Ingat peranotorexos samudro yang kami sebut sebelumnya. Pada februari 1996, dia ditahan. Peranotore mendekam selama 15 tahun karena dituduh terlibat G30S. Pada hal, pada satu oktober, seharian peranotopatuh berada di bawah komando soharto di Kostrad. Pada masa-masa itu, nenggeri ini mengalami peralian yang begitu cepat. Perubahan 180°C. Dari orda yang disebut lama, menuju orda yang disebut baru. Dari garis politik anti-imperialisme, menjadi terbuka dan ramah pada model asing. Dan segala perubahannya ada di awali lewat salah satu pembentayan paling mengerikan di dunia. Itulah yang terjadi pada 1965. Kami menyajikan cerita ini bukan berniat untuk memutar balikkan sejarah atau pun memilai PKI. Sejarah yang disajikan selama ini penuh kegelapan dan krumitan. Yang kami lakukan adalah berusaha melacak apa yang terjadi pada tahun 1965. Tahun yang sangat menentukan, tapi sekali-gus membingungkan. Lewat berbagai studi terkini itu, kami menyajikan berbagai krisis dan pertentangan di nenggeri ini yang berujung pada jatunya korban. Para jendela yang jadi korban tewas karena ulah gerakan 30 September dan korban lainnya. Kerasusan ribu orang tak bersalah yang dituduh bertanggung jawab atas aksi yang belum tentu mereka ketahui. Gua emu tiap berasa strobamit sampai jumpa di episode prikutnya.
Podcast Summary
Key Points:
Transkripsi ini membahas konteks politik Indonesia tahun 1960-an, yang didominasi oleh tiga aktor utama: Sukarno, militer (khususnya Angkatan Darat), dan PKI, dalam sistem Demokrasi Terpimpin.
Gerakan 30 September (G30S) digambarkan sebagai peristiwa singkat namun penuh kebingungan, dengan berbagai versi dan teori yang saling bertentangan mengenai dalang dan motivasinya.
Empat teori utama yang dijelaskan untuk memahami G30S meliputi
Summary:
Transkripsi ini mengeksplorasi dinamika politik Indonesia pada pertengahan 1960-an, yang ditandai dengan sistem Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Sukarno. Kekuasaan terpusat pada tiga pihak: Sukarno sebagai penyeimbang, Angkatan Darat yang semakin kuat secara politik dan ekonomi, serta PKI yang memiliki basis massa besar namun terjebak dalam jalur parlementer yang dibubarkan. Ketegangan antara militer dan PKI terus memanas.
Pada 1 Oktober 1965, meletus Gerakan 30 September (G30S), sebuah peristiwa singkat yang penuh kontradiksi. Pasukan kecil menduduki Lapangan Merdeka dan menyiarkan pesan tentang penggagalan "Dewan Jenderal" serta perlindungan terhadap Sukarno, namun kenyataannya tujuh perwira tinggi dibunuh dan operasi berantakan dengan cepat. Peristiwa ini menjadi misteri dengan banyak teori.
Versi resmi Orde Baru menuduh PKI sebagai dalang tunggal. Teori Cornell Paper menyebutnya sebagai konflik internal Angkatan Darat. Harold Crouch berargumen bahwa inisiatif datang dari perwira militer progresif dengan dukungan PKI.
Sementara teori konspirasi mengusung gagasan bahwa G30S sengaja dirancang gagal sebagai dalih untuk menghancurkan PKI. Transkripsi menyimpulkan bahwa G30S merupakan titik balik dramatis yang mengakhiri keseimbangan kekuasaan Sukarno dan membuka jalan bagi naiknya rezim militeristik Orde Baru, dengan banyak pertanyaan yang masih belum terjawab.
FAQs
Gerakan 30 September adalah peristiwa pada 1 Oktober 1965 yang melibatkan penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal Angkatan Darat, yang kemudian memicu perubahan politik besar di Indonesia.
Tiga aktor utama adalah Presiden Sukarno, militer (terutama Angkatan Darat), dan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang saling berinteraksi dalam dinamika kekuasaan.
PKI terintegrasi dalam konsep Nasakom Sukarno, tetapi terjebak dalam sistem yang membubarkan parlemen, sehingga menghadapi konflik dengan Angkatan Darat sambil tetap mendukung Sukarno.
Militer mendapatkan keleluasaan politik dan ekonomi melalui Undang-Undang Keadaan Darurat Perang 1957 dan nasionalisasi perusahaan Belanda, yang memungkinkan intervensi dalam pemerintahan.
Ada empat teori umum: versi militer yang menyebut PKI sebagai dalang, teori Cornell Paper yang melihatnya sebagai konflik internal AD, analisis Harold Crouch tentang kolaborasi perwira militer dengan PKI, dan teori bahwa G30S dirancang untuk gagal guna menindak PKI.
Operasi ini gagal karena kurangnya koordinasi, desersi pasukan, ketidaktahuan lokasi Sukarno, dan pengambilalihan cepat oleh Mayor Jenderal Suharto yang menguasai RRI dan Lapangan Merdeka tanpa perlawanan berarti.
Chat with AI
Loading...
Pro features
Go deeper with this episode
Unlock creator-grade tools that turn any transcript into show notes and subtitle files.